Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Psikiatri dipenuhi oleh fenomenologi dan penelitian fenomena mental. Dokter
psikiatri harus belajar untuk menguasai observasi yang teliti dan penjelasan yang
mengungkapkan keterampilan termasuk belajar bahasa baru. Bagian bahasa didalam
psikiatri termasuk pengenalan dan definisi tanda dan gejala perilaku dan emosional.
Kegawatdaruratan Psikiatrik merupakan aplikasi klinis dari psikiatrik pada kondisi
darurat. Kondisi ini menuntut intervensi psikiatriks seperti percobaan bunuh diri,
penyalahgunaan obat, depresi, penyakit kejiwaan, kekerasan atau perubahan lainnya pada
perilaku. Pelayanan kegawatdaruratan psikiatrik dilakukan oleh para profesional di
bidang kedokteran, ilmu perawatan, psikologi dan pekerja sosial. Permintaan untuk
layanan kegawatdaruratan psikiatrik dengan cepat meningkat di seluruh dunia sejak tahun
1960-an, terutama di perkotaan.
Penatalaksanaan pada pasien kegawatdaruratan psikiatrik sangat kompleks. Para
profesional yang bekerja pada pelayanan kegawatdaruratan psikiatrik umumnya beresiko
tinggi mendapatkan kekerasan akibat keadaan mental pasien mereka. Pasien biasanya
datang atas kemauan pribadi mereka, dianjurkan oleh petugas kesehatan lainnya, atau
tanpa disengaja. Penatalaksanaan pasien yang menuntut intervensi psikiatrik pada
umumnya meliputi stabilisasi krisis dari masalah hidup pasien yang bisa meliputi gejala
atau kekacauan mental baik sifatnya kronis ataupun akut.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian kegawatdaruratan psikiatri?
2. Bagaimana etiologi kegawatdaruratan psikiatri?
3. Apa manifestasi klinis pada kegawatdaruratan psikiatri?
4. Bagaimana pathway pada kegawatdaruratan psikiatri?
5. Apa saja pemeriksaan dan penatalaksanaan pada kegawatdaruratan psikiatri?
6. Bagaimana konsep asuhan keperawatan kegawatdaruratan psikiatri?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian kegawatdaruratan psikiatri
2. Untuk mengetahui etiologi kegawatdaruratan psikiatri
3. Untuk mengetahui klinis pada kegawatdaruratan psikiatri
4. Untuk mengetahui pada kegawatdaruratan psikiatri
5. Untuk mengetahui pemeriksaan dan penatalaksanaan pada kegawatdaruratan psikiatri
6. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan kegawatdaruratan psikiatri

1|Page
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian
Keperawatan Gawat Darurat adalah pelayanan profesional yg didasarkan pada ilmu
keperawatan gawat darurat & tehnik keperawatan gawat darurat berbentuk pelayanan
bio-psiko-sosio- spiritual yang komprehensif ditujukan pada semua kelompok usia yang
sedang mengalami masalah kesehatan yang bersifat urgen , akut dan kritis akibat trauma,
proses kehidupan ataupun bencana.
Berdasarkan konsensus yang dikembangkan oleh American Psychiatric Association
(APA) menyebutkan bahwa kedaruratan psikiatri adalah gangguan yang bersifat akut,
baik pada pikiran, perilaku, atau hubungan sosial yang membutuhkan intervensi segera
yang didefinisikan oleh pasien, keluarga pasien, atau masyarakat. (Trent, 2013)
Kedaruratan psikiatri adalah suatu kondisi gangguan akut pada pikiran, perasaan,
perilaku, atau hubungan sosial yang membutuhkan suatu intervensi segera (Allen,
Forster, Zealberg, dan Currier, 2002).
Kedaruratan psikiatri merupakan cabang dari Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kedokteran
Kedaruratan, yang dibuat untuk menghadapi kasus kedaruratan yang memerlukan
intervensi psikiatrik. Tempat pelayanan kedaruratan psikiatri antara lain di rumah sakit
umum, rumah sakit jiwa, klinik dan sentra primer. Kasus kedaruratan psikiatrik meliputi
gangguan pikiran, perasaan dan perilaku yang memerlukan intervensi terapeutik segera,
antara lain: kondisi gaduh gelisah, tindak kekerasan, tentamen suicidum/percobaan
bunuh diri, gejala ekstra pyramidal akibat penggunaan obat, delirium. (Elvira, Sylvia D
dan Gitayanti Hadisukanto, 2010). Sehingga prinsip dari kedaruratan psikiatri adalah
kondisi darurat dan tindakan intensif yang segera.
Kedaruratan psikiatri merupakan cabang dari Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kedokteran
Kedaruratan, yang dibuat untuk menghadapi kasus kedaruratan yang memerlukan
intervensi psikiatrik. Tempat pelayanan kedaruratan psikiatri antara lain di rumah sakit
umum, rumah sakit jiwa, klinik dan sentra primer. (Elvira, Sylvia D dan Gitayanti
Hadisukanto, 2010)
Jadi Kegawatdaruratan Psikiatri adalah kondisi dimana kondisi psikis pasien
menjadi terganggu sehingga dibutuhkan intervensi segera dengan ilmu keperawatan
gawat darurat secara holisitik.

B. Etiologi
Penyebab kegawat daruratan psikiatrik adalah :
Bisa hal yang tidak berhubungan dengan kelainan organis (Psikosis, mania,
histeri
dissosiatif, gangguan panik dan sebagainya). Atau hal yang berhubungan

2|Page
dengan kelainan organis/delirium (trauma kapitis, drug abuse, stroke, kelainan
metabolik, sensitivitas terhadap obat dan sebagainya ).

Penyebab berdasarkan klasifikasi :


1. Gaduh Gelisah
Kegawatdaruratan psikiatrik gaduh gelisah dapat disebabkan oleh beberapa hal
sebagai berikut:
a. Psikosis (fungsional maupun organik).
Psikosis Fungsional : Psikosis reaktif, Skizofrenia, manik depresif, amok dan
sebagainya).
b. Psikosis Organik : Delirium, demensia, psikosis berhubungan dengan zat,
psikosis karena gangguan metabolik, psikosis karena trauma kepala maupun
infeksi pada otak, dan sebagainya).
c. Kecemasan Akut dengan/tanpa Panik.
d. Kebingungan post konvulsi.
e. Reaksi disosiasi & keadaan fugue
f. Ledakan amarah/temper tantrum.

2. Bunuh diri
Bunuh diri bisa disebabkan oleh:
a. Penyelesaian masalah frustasi. Karena kecewa dalam hubungan dengan orang lain,
benda/barang, tujuan yang tidak tercapai.
b. Balas dendam.
c. Memperoleh keadaan yang damai dan tentram.
d. Hilangnya rasa man dan kepastian akan statusnya.
e. Anggapan sebagai jalan keluar. Pada tindakan bunuh diri keinginan untuk mati
jauh lebih besar dari pada keinginan untuk hidup.

Disebabkan oleh banyak faktor antara lain:


a. Penyakit atau kondisi yang beresiko untuk terjadinya bunuh diri.
b. Insomnia berat.
c. Penggunaan alkohol dan obat-obatan.
d. Skizofrenia.
e. Penyakit Fisik.
f. Individu dengan orientasi homoseksual.
g. Gangguan Stres Pasca Trauma.
h. Riwayat keluarga bunuh diri.

3|Page
Faktor-faktor resiko untuk bunuh diri (Sadock, et al, 2007):
a. Jenis kelamin
Perempuan lebih banyak melakukan percobaan bunuh diri dibanding laki-laki. Akan
tetapi, keberhasilan bunuh diri lebih tinggi pada laki-laki. Hal
ini berkaitan dengan metode bunuh diri yang dipilih. 
Laki-laki lebih banyakdengan gantung diri, meloncat dari tempat tinggi, dengan
senjata api. Perempuan lebih banyak menggunakan obat – obatan atau racun.
b. Usia
Kasus bunuh diri meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Pada laki-laki,
angka bunuh diri tertinggi pada usia di atas 45 tahun sedangkan
pada perempuan angka bunuh diri tertinggi pada usia di atas 55 tahun. Orang yang
lebih tua lebih jarang melakukan percobaan bunuh diri, tetapi lebih sering berhasil.n.
 
c. Ras
Di Amerika Serikat ras kulit putih lebih banyak melakukan bunuh diridibanding ras
kulit hitam.
 
d. Status perkawinan
Pernikahan menurunkan angka bunuh diri, terutama jika terdapat anak dirumah.
Orang yang tidak pernah menikah dua kali lebih beresiko untuk bunuhdiri.
Perceraian meningkatkan resiko bunuh diri. Janda atau duda yang pasangannya telah
meninggal juga memiliki angka bunuh diri yang tinggi. 

e. Pekerjaan
Semakin tinggi status sosial semakin tinggi resiko bunuh diri, tetapi status sosial
yang rendah juga meningkatkan resiko bunuh diri.

3. Tindak Kekerasan
Adapun beberapa hal yang menyebabkan munculnya gangguan jiwa pada perilaku
kekerasan yang dipengaruhi oleh faktor presisposi dan faktor presipitasi. (Yosep,
2007)
1. Faktor predisposisi
a. Faktor psikologis
- Terdapat asumsi bahwa seseorang untuk mencapai suatu tujuan mengalami
hambatan akan timbul dorongan agresif yang memotivasi perilaku
kekerasan
- Berdasarkan penggunaan mekanisme koping individu dan masa kecil tidak
menyenangkan
- Frustasi
- Kekerasan dalam rumah tangga

4|Page
b. Faktor social budaya
Seseorang akan berespon terahdap peningkatan emosionalnya secara agresif
sesuai dengan respon yang dipelajari. Budaya juga dapat mempengaruhi
perilaku kekerasan. Adanya norma dapat membantu mendefinisikan ekspresi
marah yang dapat diterima dan yang tidak dapat diterima.
c. Faktor biologis
Adanya pemberian stimulus eletris ringan pada hipotalamus dapat
menimbulkan perilaku agresif sehingga akan menimbulkan mata terbuka
lebar, pupul berdilatasi, dan hendak menyerang objek yang ada disekitarnya

2. Faktor presipitasi
Secara umum seseorang akan marah jika dirinya merasa terancam baik berupa
injury fisik, psikis, atau ancaman konsep diri. Faktor pencetus :
a. Klien : kelemahan fisik, keputusasaam. Ketidakberdayaan, kehidupan yang
penuh dengan agresif, dan masa lalu yang tidak menyenangkan
b. Interaksi : penghinaan, kekerasan, kehilangan orang yang berarti, konflik,
merasa terancam baik internal dari permasalahan diri klien sendiri maupun
eksternal dari lingkungan
c. Lingkungan : panas, padat, bising.

C. Klasifikasi
Kasus kedaruratan psikiatrik meliputi gangguan pikiran, perasaan dan perilaku
yangmemerlukan intervensi terapeutik segera, antara lain: (Elvira, Sylvia D
danGitayanti Hadisukanto, 2010)
a. Kondisi gaduh gelisah 
Keadaan gaduh gelisah bukanlah diagnosis dalam arti kata sebenarnya,tetapi hanya
menunjuk pada suatu keadaan tertentu, suatu sindrom dengansekelompok gejala
tertentu. Keadaan gaduh gelisah dipakai sebagai sebutansementara untuk suatu
gambaran psikopatologis dengan ciri-ciri utama gaduh dangelisah. (Maramis dan
Maramis, 2009).

b. Tindak kekerasan (violence)


Violence atau tindak kekerasan adalah agresi fisik yang dilakukan oleh
seseorang terhadap orang lain. Jika hal itu diarahkan kepada dirinya sendiri,disebut
mutilasi diri atau tingkah laku bunuh diri (suicidal behavior). Tindak kekerasan
dapat timbul akibat berbagai gangguan psikiatrik, tetapi dapat pula terjadi pada
orang biasa yang tidak dapat mengatasi tekanan hidup sehari-haridengan cara yang
lebih baik.
Umumnya klien dengan Perilaku Kekerasan dibawa dengan paksa ke Rumah
sakit Jiwa. Sering tampak klien diikat secara tidak manusiawi disertai bentakan dan
pengawalan oleh sejumlah anggota keluarga bahkan polisi. Perilaku kekerasan

5|Page
adalah perilaku individu yang dapat membahayakan orang,diri sendiri baik secar
fisik, emosional, dan sexualitas ( Nanda, 2005). Perilaku kekerasan atau agresif
merupakan suatu bentuk perilaku yang
bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Berkowitz,
1993 dalam Depkes, 2000). Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul
sebagai respon terhadap kecemasan, kebutuhan yang tidak terpenuhi yang
dirasakan sebagai ancaman ( Stuart dan Sunden, 1997 ). Pengertian Perilaku
kekerasan merupakan suatu bentuk ekspresi kemarahan yang tidak sesuai dimana
seseorang melakukan tindakan-tindakan yang dapat membahayakan/mencederai
diri sendiri, orang lain bahkan dapat merusak lingkungan.

c. Tentamen Suicidum/percobaan bunuh diri


Bunuh diri atau suicide atau tentamen suicidum adalah kematian yangdiniatkan
dan dilakukan oleh seseorang terhadap dirinya sendiri (Elvira, Sylvia Ddan
Gitayanti Hadisukanto, 2010) atau segala perbuatan seseorang yang
dapatmengakhiri hidupnya sendiri dalam waktu singkat (Maramis dan Maramis,
2009).
Perilaku bunuh diri atau destruktif diri langsung terjadi terus menerus dan
intensif pada diri kehidupan seseorang. Perilaku yang tampak adalah berlebihan,
gejala atau ucapan verbal ingin bunuh diri, luka atau nyeri (Rawlin dan Heacock,
1993). Bunuh diri adalah setiap aktivitas yang jika tidak dicegah dapat mengarah
pada kematian (Gail w. Stuart, Keperawatan Jiwa,2007). Secara garis besar bunuh
diri dapat dibagi menjadi 3 kategori  besar yaitu;
1. Upaya bunuh diri (Suicide attempt) yaitu sengaja melakukan kegiatan menuju
bunuh diri, dan bila kegiatan itu sampai tuntas akan menyebabkan kematian
2. Isyarat bunuh diri (Suicide gesture) yaitu bunuh diri yang direncanakan untuk
usaha mempengaruhi perilaku orang lain.
3. Ancaman bunuh diri (Suicide threat) yaitu suatu peringatan baik secara
langsung atau tidak langsung, verbal atau nonverbal bahwa seseorang sedang
mengupayakan bunuh diri

Dikutip dari situs kesehatan mental epigee.org, berikut ini adalah tanda-tanda bunuh
diri yang mungkin terjadi:
1. Bicara mengenai kematian: Bicara tentang keinginan menghilang, melompat,
menembak diri sendiri atau ungkapan membahayakan diri.
2. Baru saja kehilangan: kematian, perceraian, putus dengan pacar atau kehilangan
pekerjaan, semuanya bisa mengarah pada pemikiran bunuh diri atau percobaan
bunuh diri. Kehilangan lainnya yang bisa menandakan bunuh diri termasuk
hilangnya keyakinan beragama dan hilangnya ketertarikan pada seseorang atau
pada aktivitas yang sebelumnya dinikmati.
3. Perubahan kepribadian: seseorang mungkin memperlihatkan tanda-tanda
kelelahan, keraguan atau kecemasan yang tidak biasa.

6|Page
4. Perubahan perilaku: kurangnya konsentrasi dalam bekerja, sekolah atau kegiatan
sehari-hari, seperti pekerjaan rumah tangga.
5. Perubahan pola tidur: tidur berlebihan, insomnia dan jenis gangguan tidur lainnya
bisa menjadi tanda-tanda dan gejala bunuh diri.
6. Perubahan kebiasaan makan: kehilangan nafsu makan atau bertambahnya nafsu
makan. Perubahan lain bisa termasuk penambahan atau penurunan berat badan.
7. Berkurangnya ketertarikan seksual: perubahan seperti ini bisa mencakup
impotensi, keterlambatan atau ketidakteraturan menstruasi.
8. Harga diri rendah: gejala bunuh diri ini bisa diperlihatkan melalui emosi seperti
malu, minder atau membenci diri sendiri.
9. Ketakutan atau kehilangan kendali: seseorang khawatir akan kehilangan jiwanya
dan khawatir membahayakan dirinya atau orang lain.
10. Kurangnya harapan akan masa depan: tanda bunuh diri lainnya adalah seseorang
merasa bahwa tidak ada harapan untuk masa depan dan segala hal tidak akan
pernah bertambah baik.

d. Gejala ekstra piramidal akibat penggunaan obat


Sindrom neuroleptik maligna adalah suatu sindrom toksik yang behubungandengan
penggunaan obat antipsikotik. Gejalanya meliputi : kekakuan otot,distonia, akinesia
mutisme dan agitasi.

D. Manifestasi Klinis
1. Gaduh/gelisah
Tanda dan gejala pada pasien yang mengalami gaduh gelisah diantaranya:
 Gelisah
 Mondar-mandir
 Berteriak-teriak
 Loncat-loncat
 Marah-marah
 Curiga
 Agresif
 Beringas
 Agitasi
 Gembira
 Bernyanyi
 Bicara kacau
 Mengganggu orang lain
 Tidak tidur beberapa hari
 Sulit berkomunikasi
2. Tindak Kekerasan
Gambaran klinis menurut Stuart dan Sundeen (1995) adalah sebagai berikut:

7|Page
 Muka merah
 Pandangan tajam
 Otot tegang
 Nada suara tinggi
 Berdebat
 Kadang memaksakan kehendak
 Stress
 Mengungkapkan secara verbal
 Menentang
 Emosi : tidak adekuat, tidak aman, rasa terganggu, marah (dendam), jengkel.
 Fisik : muka merah, pandangan tajam, nafas pendek, keringat, sakit
fisik,penyalahgunaan obat dan tekanan darah.
 Intelektual : mendominasi, bawel, sarkasme, berdebat, meremehkan.
 Spiritual : kemahakuasaan, kebajikan/kebenaran diri, keraguan, tidak
bermoral, kebejatan, kreativitas terhambat.
 Sosial : menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan dan humor.

3. Tentamen Suicidum/percobaan bunuh diri


 Pasien pernah mencoba bunuh diri 
 Keinginan bunuh diri dinyatakan secara terang-terangan maupun tidak, atau
berupa ancaman: “kamu tidak akan saya ganggu lebih lama lagi (sering
dikatakan pada keluarga
 Secara objektif terlihat adanya mood yang depresif atau cemas
 Baru mengalami kehilangan yang bermakna (pasangan, pekerjaan, hargadiri,
dan lain-lain)e.
 Perubahan perilaku yang tidak terduga: menyampaikan pesan-
pesan, pembicaraan serius dan mendalam dengan kerabat, membagi-
bagikanharta/barang-barang miliknya.
 Perubahan sikap yang mendadak: tiba-tiba gembira, marah atau menarik diri.

4. Gejala ekstra piramidal akibat penggunaan obat


 Diaforesis
 Disfagia
 Tremor
 Inkontinensia
 Penurunan kesadaran
 Takikardia
 Tekanan darah yang meningkat atau labil
 Leukositosis
 Bukti laboratorium adanya kerusakan otot rangka

8|Page
E. Pathway

9|Page
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Radiologi (Thorax)
2. EKG

G. Penatalaksanaan
Perawatan di kedaruratan psikiatri biasanya berfokus pada manajemen perilaku dan
gejala. Proses pengobatan dilakukan bersamaan dengan proses evaluasi (jika
pemberian terapi telah memungkinkan). Wawancara awal tidak hanya berfungsi untuk
memperoleh informasi diagnostik yang penting, tetapi juga untuk terapi. Dalam
melakukan proses evaluasi, bila fasilitas tidak memadai, dapat dilakukan perujukan
pada fasilitas kesehatan terdekat yang memiliki fasilitas yang cukup untuk
penatalaksanannya. (Sadock and Kaplan, 2009; Trent, 2013)
Modalitas terapi yang digunakan untuk seting kedaruratan psikiatri antara lain:
1) farmakoterapi,
2) seclusion (isolasi) dan restraint (fiksasi fisik), dan
3) psikoterapi. (Knox dan Holloman, 2011; Riba et al., 2010; Sadock and Kaplan,
2009).

a). Prehospital
Bila seseorang dalam keadaan gaduh gelisah dibawa kepada kita, pentingsekali
kita harus bersikap tenang. Dengan sikap yang meyakinkan, meskipun tentuwaspada,
dan kata-kata yang dapat menenteramkan pasien maupun
para pengantarnya, tidak jarang kita sudah dapat menguasai keadaan (Maramis danMa
ramis, 2009).
b). Intrahospital
Bila pasien masih diikat, sebaiknya ikatan itu disuruh dibuka sambil
tetap berbicara dengan pasien dengan beberapa orang memegangnya agar ia tidakmen
gamuk lagi. Biarpun pasien masih tetap dipegang dan dikekang, kita
berusahamemeriksanya secara fisik. Sedapat-dapatnya tentu perlu ditentukan
penyebabkeadaan gaduh gelisah itu dan mengobatinya secara etiologis bila
mungkin(Maramis dan Maramis, 2009).
Suntikan intramuskular suatu neuroleptikum yang mempunyai dosisterapeutik
tinggi (misalnya chlorpromazine HCL), pada umumnya sangat bergunauntu
mengendalikan psikomotorik yang meningkat. Bila tidak terdapat, makasuntikan
neuroleptikum yang mempunyai dosis terapeurik rendah, misalnyatrifluoperazine,
haloperidol (5–10mg), atau fluophenazine dapat juga
dipakai, biarpun efeknya tidak secepat neuroleptikum kelompok dosis terapeutik tingi.
Bila tidak ada juga, maka suatu tranquailaizer pun dapat dipakai, misalnya  diazepam
(5 –  10 mg), disuntik secara intravena, dengan mengingat bahwatranquilaizer bukan
suatu antipsikotikum seperti neuroleptika, meskipun kedua-duanya mempunyai efek
antitegang, anticemas dan antiagitasi (Maramis danMaramis, 2009).

10 | P a g e
Bila pasien sudah tenang dan mulai kooperatif,
maka pengobatan dengan neuroleptika dilanjutkan per oral (bila perlu suntikan jugada
pat diteruskan). Pemberian makanan dan cairan juga harus memadai.
Kita berusaha terus mencari penyebabnya,
bila belum diketahui, terutama bila didugasuatu sindrom otak organik yang akut. Bila
ditemukan, tentu diusahakan untukmengobatinya secara etiologis (Maramis dan
Maramis, 2009).

11 | P a g e
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Pengkajian awal
a. Pasien dengan gangguan mental organic diberikan obat dalam dosis teraupetik
minimal agar gejala penting tidak terselubung
b. Pasien dengan kondisi medis umum mengancam nyawa mula – mula tampilan
gejalanya seperti gangguan psikiatrik, terlebih dahulu harus diatasi kondisi medis
umumnya
2. Pemeriksaan
a. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan dengan sesegera mungkin untuk menyingkirkan
kegawatdaruratan yang terkait fungsi organic.
Pemeriksaan psikiatrik standar meliputi: riwayat perjalanan penyakit,
pemeriksaan status mental, pemeriksaan status fisik/neurologik dan jika perlu
pemeriksaan penunjang. Yang pertama dan terpenting yang harus dilakukan oeh
seorang dokter di unit gawat darurat adalah menilai tanda-tanda vital pasien.
Tekanan ddarah, suhu, nadi adalah sesuatu yang mudah diukur dan dapat
memberikan informasi bermakna. Misalnya seorang yang gaduh gelisah dan
mengalami halusinasi, demam, frekuensi nadi 120 per menit dan tekanan darah
meningkat, kemungkinan besar mengalami delirium dibandingkan dengan suatu
gangguan psikiatrik. Lima hal yang harus ditentukan sebelum menangani pasien
selanjutnya:

b. Pemeriksaan psikiatrik
1. Wawancara psikiatrik
a. Ajukan pertanyaan 1 yang bersifat terbuka
b. Amati penampilan, aktivitas psikomotor, pembicaraan, alam perasaan,
proses piker dan isi pikir pasien, di samping usaha memperole anamnesis.
c. Tunda keinginan untuk segera memulai penanganan atau mengambil
kesimpulan dengan maksud supaya segera memulai menolong pasien
berikutnya.
2. Pemeriksaan status mental
a. Selama pemeriksaan, evaluasi status mental pasien
b. Status mental dinilai dari :
ANAMNESA STATUS MENTAL
1) APPEARANCE (Penampilan) :
Postur tubuh , Kerapian , Status nutrisi , Tanda penggunaan obat/
alcohol, Selalu bawa senjata, Motorik , Pergerakan ,

12 | P a g e
Respon pada situasi tertentu: Kejam , Mencederai diri sendiri /
orang lain, Marah/ bermusuhan terhadap orang lain, Curiga , Tidak
kooperatif , Ketakutan, Kooperatif . Terbuka , Bersemangat
2) COGNITIF
Orientasi pasien terhadap: Orang dan Tempat , Memory,
Kemampuan membuat keputusan, Kemampuan menilai,
3) PERSEPTIONS (Persepsi)
Halusinasi
4) SPEECH
1. Cara pasien bereaksi terhadap pertanyaan
2. Cara pasien bergaul dengan petugas medik dan dengan keluarga
3. Kemampuannya menanggapi instruksi yang di berikan

5) THOUGHT
Pola pikir
6) MOOD
Suasana hati
Status mental selengkapnya dalam instalasi kegawatdaruratan psikiatrik, maka
perlu diobservasi tingkah laku dan penampilan, orientasi, keadaan afektif, isi dan
proses berpikir, persepsi, fungsi kognitif yang lebih tinggi
3. Pemeriksaan penunjang
Darah lengkap, urin lengkap, fungsi hati, fungsi ginjal, gula darah sewaktu,
elektrolit, elektrokardiograf,, toraks foto.

B. Diagnosa Keperawatan
Perilaku kekerasan pada diri sendiri
1. Harga diri rendah berhubungan dengan penyakit fisik,minder, dan malu.
2. Resiko Perilaku Kekerasan berhubungan dengan adanya ancaman fisik,psikis,dan
konsep diri.

C. Rencana Asuhan Keperawatan

1. Dx : Harga diri rendah


Tujuan : Klien memiliki konsep fisik yang positif dan dapat membina hubungan
saling percaya

13 | P a g e
Kriteria hasil :
Klien dapat menunjukan ekspresi wajah bersahabat, menunjukan rasa senang, ada
kontak, mau berjabat tangan, mau menyebut nama, mau menjawab salam

Intervensi Keperawatan
1. Bina hubungan saling percaya
2. Bersikap terbuka dan empati
3. Terima klien apa adanya
4. Tepati janji
5. Pertahankan kontak mata

2. Dx : Resiko perilaku kekerasan


Tujuan : perilaku kekerasan tidak terjadi dan klien dapat membina hubungan saling
percaya
Kriteria Hasil :
Klien menunjukan wajah cerah, tersenyum, mau berkenalan, kontak mata ada, mau
menceritakan perasaan yang dirasakan, mau menceritakan masalahnya

Intervensi Keperawatan
1. Beri salam di setiap interaksi
2. Perkenalkan nama, nama panggilan perawat, dan tujuan perawat berkenalan
3. Tanyakan dan panggilan kesukaan klien
4. Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi
5. Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien
6. Buat kontak interaksi yang jelas
7. Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien

14 | P a g e
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Kegawatdaruratan Psikiatri adalah kondisi dimana kondisi psikis pasien menjadi
terganggu sehingga dibutuhkan intervensi segera dengan ilmu keperawatan gawat
darurat secara holisitik.
Kedaruratan psikiatri dibagi dalam beberapa bagian diantaranya ialah bunuh
diri,gaduh atau gelisah dan penyalahgunaan napza. Bunuh diri adalah setiap aktivitas
yang jika tidak dicegah dapat mengarah pada kematian (Gail w. Stuart, Keperawatan
Jiwa,2007). Penyebab kegawat daruratan psikiatrik adalah : Bisa hal yang tidak
berhubungan dengan kelainan organis (Psikosis, mania, histeri dissosiatif,
gangguan panik dan sebagainya). Atau hal yang berhubungan dengan
kelainan organis/delirium (trauma kapitis, drug abuse, stroke, kelainan metabolik,
sensitivitas terhadap obat dan sebagainya).
Perawatan di kedaruratan psikiatri biasanya berfokus pada manajemen perilaku
dan gejala. Proses pengobatan dilakukan bersamaan dengan proses evaluasi (jika
pemberian terapi telah memungkinkan). Wawancara awal tidak hanya berfungsi untuk
memperoleh informasi diagnostik yang penting, tetapi juga untuk terapi. Dalam
melakukan proses evaluasi, bila fasilitas tidak memadai, dapat dilakukan perujukan
pada fasilitas kesehatan terdekat yang memiliki fasilitas yang cukup untuk
penatalaksanannya. (Sadock and Kaplan, 2009; Trent, 2013)
B. Saran
1. Selalu berfikiran positif akan segala hal
2. Selalu mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Esa
3. Menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan yang positif
4. Jangan mencoba-coba sesuatu yang tidak baik

15 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

 https://www.scribd.com/document/372409397/Makalah-Kegawatdaruratan-Psikiatri-
docx
 http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/43389/Chapter%20II.pdf?
sequence=4&isAllowed=y
 https://www.academia.edu/8140085/95114996-KEGAWATDARURATAN-
PSIKIATRI
 http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-
content/uploads/2017/11/RWAT3311_PRAKTEK-KLINIK-KEPERAWATAN-
GAWAT-DARURAT_BAB-1-5_FINAL.pdf
 http://docplayer.info/38105493-Penatalaksanaan-kegawat-daruratan-psikiatri.html
 https://nanopdf.com/download/7-format-pengkajian-igd_pdf
 https://www.scribd.com/document/357887728/ASKEP-Gadar-Jiwa-Pasien-
Pisikiatrik-PDF
 http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-pjs9ab995d1defull.pdf
 https://www.academia.edu/8678736/SGD_5_SGD3_KEGAWATDARURATAN_PSI
KIATRI
 http://rsj.babelprov.go.id/content/penanganan-gaduh-gelisah-pasien-gangguan-jiwa
 http://repository.ump.ac.id/986/3/DIAH%20PRABOWO%20HARDIYANTI
%20BAB%20II.pdf

16 | P a g e

Anda mungkin juga menyukai