Anda di halaman 1dari 8

BAHAN RETARDASI MENTAL

Menurut Mangunsong (2011) masyarakat seringemperlakukan anak retardasi mental bahan


tertawaan dan pembullyan karena dianggap anak yang aneh, idiot, konyol, dan orang tua mendapat
respon yang tidak layak. Stigma dalam masyarakat terus tumbuh dan dapat merugikan serta
memperburuk kondisi anak retardasi mental (Purnama, Yani, Sutini, 2016). Seseorang yang mendapat
stigma masyarakat dapat ditandai dengan seseorang diberi labeling, stereotip, separation, dan
mengalami diskriminasi (Link Phelan dalam Scheid & Brown, 2010).

Keluarga yang memiliki anak retardasi mental terutama orang tua selain stigma yang didapat
orang tua juga mengalami beban dalam kehidupannya (Wulandari, Soeharto, Setyoadi, 2016). Beban
keluarga merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan dalam keluarga dan yang dialami berupa
perawatan, pengasuhan, pendidikan yang membutuhkan biaya lebih besar, pengawasan kondisi anak
(Putra, Hamdani, Supriati,, 2017). Penelitian Purba (2018) bahwa meningkatnya beban memiliki anak
retardasi mental mempengaruhi masalah psikososial pada keluarga akibat stres dalam merawat,
ekonomi dan emosional.

Studi pendahuluan yang peneliti lakukan di SLB Negeri Semarang, jumlah siswa tingkat SD
retardasi mental sebanyak 93 anak. Dari hasil wawancara peneliti tersebut 3 orang tua belum bisa
menerima dan mengatakan malu, dikarenakan masyarakat menyebut bahwa anak retardasi mental idiot
dan aneh serta menjauhi dan mengejek anak retardasi mental, sehingga orang tua merasa dikucilkan. 1
orang tua mengatakan tidak memiliki rasa malu mempunyai anak retardasi mental, karena menurutnya
setiap anak memiliki kebebasan dalam bersosialisasi di masyarakat. 4 orang tua mengatakan adanya
rasa beban yang dialami keluarga terutama dalam pengeluaran biaya yang cukup besar, merawat dan
mendidik.
Menghadapi Anak dengan Retardasi Mental
Anak dengan retardasi mental seringkali dianggap sebagai pribadi yang inferior (lebih rendah)
dibandingkan dengan anak normal seusianya. Hal ini tampak dari bagaimana orang-orang di
sekitarnya memberikan ruang gerak yang terbatas pada kehidupan mereka sehari-hari. Selain itu
kurangnya penerimaan dari orang tua tak jarang menyebabkan perkembangan mereka semakin
terhambat. Padahal dengan latihan yang cukup dan dukungan yang kuat, penyandang retardasi
mental dapat hidup secara mandiri dan berkontribusi bagi lingkungan di sekitarnya. Karena
itulah, langkah awal yang paling mudah adalah dengan belajar memahami kondisi mereka. Yuk,
kita simak sedikit ulasan tentang retardasi mental!

Apa sih Retardasi Mental itu?

Istilah “retardasi mental” masih cukup asing di telinga sebagian besar masyarakat kita. Di dunia
pendidikan Indonesia, retardasi mental lebih dikenal sebagai “tuna grahita”. Retardasi mental
adalah sebuah kondisi di mana kemampuan intelektual seseorang di bawah rata-rata (IQ di
bawah 70) dan terdapat gangguan dalam perilaku adaptif 1. Perilaku adaptif merupakan
kemampuan seseorang dalam membina hubungan sosial dan menyelesaikan permasalahan
kehidupan sehari-hari (seperti menggunakan transportasi umum, menggunakan uang untuk
berbelanja, dsb). Dalam beberapa kasus, penyandang retardasi mental biasanya memiliki
gangguan lainnya, seperti misalnya down syndrome, fragile-x syndrome, dsb.

Nah, jika dilihat dari hasil tes IQ, penyandang retardasi mental dapat dibagi menjadi kategori
sebagai berikut:

1. Retardasi Mental Ringan (IQ 50-69)

Pada kategori ini, kesulitan utama yang ditemui adalah tugas-tugas akademik di sekolah.
Sebagian besar anak dengan retardasi mental memiliki perkembangan bahasa yang cukup untuk
aktivitas berbicara sehari-hari. Meskipun terbilang lambat tapi anak dapat mencapai ketrampilan
praktis dan rumah tangga untuk bisa hidup mandiri secara penuh.

2. Retardasi Mental Sedang (IQ 35-49)

Mengalami perkembangan bahasa yang bervariasi. Ada yang mencapai kemampuan komunikasi
secara  sederhana. Ada pula yang hanya mampu berkomunikasi seadanya untuk kebutuhan dasar
saja. Selain itu, cenderung memiliki prestasi akademik yang rendah.

3. Retardasi Mental Berat (IQ 20-34)

Memiliki kemampuan yang sama dengan kategori retardasi mental sedang. Umumnya menderita
gangguan fisik motorik (gerakan) yang mencolok.
4. Retardasi Mental Sangat Berat (IQ di bawah 20)

Pemahaman dan penggunaan kata sangat terbatas. Dengan latihan dan pengawasan yang tepat,
anak dengan retardasi mental dapat melakukan tugas praktis dan rumah tangga yang sederhana.

Anak dengan Retardasi Mental dapat Hidup Mandiri!

Dulunya, banyak pakar yang percaya bahwa anak dengan retardasi mental tidak dapat
mengalami peningkatan kemampuan dan sama sekali tidak bisa disembuhkan. Namun, saat ini
anggapan tersebut perlahan-lahan mulai diubah. Penanganan dan pendampingan yang tepat akan
anak dengan retardasi mental dapat bertindak secara mandiri. Bahkan tidak menutup
kemungkinan bahwa anak dengan retardasi mental kategori ringan dapat dilatih untuk mencapai
kemampuan layaknya orang normal.

Beberapa ahli mengatakan bahwa baik-buruknya perkembangan kemampuan anak dengan


retardasi mental sangat bergantung pada lingkungan di sekitarnya. Dalam hal ini, keluarga
memiliki peran paling besar untuk membantu anak menjadi mandiri. Orang tua dan saudara
harus mampu menerima kondisi keterbatasan anak untuk menerapkan pengasuhan yang tepat
sesuai kebutuhan mereka. Misalnya saja, anak dengan retardasi mental kategori ringan dapat
terus dilatih untuk bisa hidup mandiri sehingga anak tidak perlu bergantung. Terlalu
memanjakan anak tanpa membekali kemampuan apapun justru dapat menjadi bumerang bagi
masa depan anak.

Lalu, apa saja yang perlu diperhatikan?

Berbicara mengenai kebutuhan dari anak dengan retardasi mental, sebenarnya akan berkaitan
dengan kategori retardasi dan kemampuan yang mereka miliki. Untuk itulah, sangat dianjurkan
untuk pergi menemui psikolog anak guna melihat sejauh mana potensi dari anak. Akan tetapi,
ada beberapa hal umum yang bisa dijadikan acuan mengenai apa yang harus diperhatikan oleh
keluarga:

1. Pemilihan Sekolah

Dengan kemampuan di bawah rata-rata normal, kadangkala anak dengan retardasi mental
kategori ringan tidak tampak mengalami gangguan. Gangguan akan mulai terdeteksi ketika anak
mengalami masalah dalam bidang akademik. Untuk itulah, cari rujukan dari psikolog mengenai
sekolah terbaik yang sesuai dengan kebutuhan anak. Jangan merasa gengsi untuk memasukkan
anak di Sekolah Luar Biasa karena sebenarnya itulah yang dibutuhkan oleh anak. Memaksakan
anak untuk sekolah di sekolah normal dapat menimbulkan masalah lain seperti bullying dan
gangguan emosional.

2. Melatih Kemampuan Berbahasa

Secara berkala, ajari anak untuk melatih kemampuan berbahasa. Secara perlahan, ajarkan
kosakata yang dapat membantu dia berinteraksi dengan dunia sekitar. Tekankan pada kata-kata
yang dia butuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Mengajari Anak Untuk Aktif

Di kehidupan sehari-hari, anak dengan retardasi mental memiliki pilihan yang sangat terbatas
mengenai aktivitas yang bisa dia lakukan. Kebanyakan anak dengan retardasi mental hanya
menghabiskan waktu dengan menonton TV atau mendengarkan radio. Hal ini bisa menyebabkan
perilaku pasif pada anak. Ajarkan anak kegiatan-kegiatan yang dapat membuat dia berinteraksi
dengan orang lain. Anak juga bisa dituntun untuk memiliki hobi yang menguntungkan seperti
memasak, melukis, dsb.

4. Perkembangan Seksual

Masalah seksual juga perlu mendapat perhatian serius. Ajari anak untuk memahami masalah-
masalah pubertas yang mungkin muncul, seperti menstruasi atau mimpi basah.  Anak juga harus
diberikan pengertian tertentu agar tidak terjebak pada pelecehan seksual. Sangat disarankan
untuk menemui dokter atau psikolog yang bisa memberikan anjuran mengenai penanganan
masalah seksual anak.

5. Persiapan Untuk Masa Depan

Bekali anak dengan keterampilan-keterampilan hidup yang akan membantu ia untuk tidak terlalu
bergantung pada keluarga. Ajarkan pula cara berkomunikasi dengan baik, etika ketika berada di
tempat umum, ketepatan waktu, hingga kemampuan untuk berkarir di pekerjaan sederhana.
Sadari orang tua atau keluarga tidak bisa selamanya menjaga hidup anak. Salah satu cara yang
efektif untuk meningkatkan kemandirian anak adalah dengan menempatkan anak pada sekolah
yang tepat, sekolah yang berfokus pada peningkatan life-skill anak.

Tentu saja masih banyak sekali toleransi dan dedikasi yang harus diberikan dari orang-orang
sekitar untuk membantu kehidupan anak dengan retardasi mental. Akan tetapi, kelima hal tersebt
bisa dijadikan langkah awal untuk memberikan perawatan yang sesuai bagi kebutuhan anak.
Perbanyak berdiskusi dengan ahli yang berkompeten dan biasa menangani kasus-kasus semacam
ini. Semangat mengasuh anak dengan retardasi mental, kalian semua tidak sendiri. 🙂

1
Kampert, A. L., & Goreczny, A. (2007). Community involvement and socialization among
individuals with mental retardation . Research in Developmental Disabilities , 278-286.
2
Hallahan, D. P., Kauffman, J. M., & Pullen, P. C. (2012). Exceptional Learners. Upper Saddle
River : Paerson .

Berikut beberapa sumber pustaka lain yang dapat digunakan terkait retardasi mental :

Maslim, R. (2001). Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa . Jakarta : PT Nuh Jaya .

Shea, S. E. (2006 ). Mental Retardation in Children Ages 6 to 16. Seminar in Pediatric


Neurology , 1-9
Mengenal Retardasi Mental yang Membuat
Seseorang Sulit Berkembang
(3)

18 Jan 2020 | Nina Hertiwi Putri

Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

Retardasi mental sering juga disebut sebagai gangguan intelektual

Pernah melihat seseorang yang kemampuan dasarnya jauh di bawah teman-teman


sepantarannya? Misalnya, sudah masuk usia remaja namun belum bisa makan sendiri, ganti baju,
atau tidak jelas dalam berbicara. Kondisi ini, umumnya disebabkan oleh gangguan intelektual
yang juga disebut sebagai retardasi mental.

Retardasi mental adalah suatu gangguan perkembangan otak yang membuat seseorang
membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk mempelahari hal-hal dasar. Tidak semua orang
dengan kondisi ini punya tingkat keparahan yang sama.

Dengan dukungan yang baik dari lingkungan sekitar, orang yang mengalami retardasi mental
ringan, masih bisa diajari untuk hidup mandiri. Sementara itu pada penderita retardasi mental
parah, membutuhkan lebih banyak pendampingan dalam hidupnya. Tidak jarang, kondisi ini
disalahartikan sebagai penyakit Down syndrome.

Lebih jauh tentang retardasi mental

Individu dengan retardasi mental, memiliki keterbatasan dalam dua hal, yaitu fungsi intelektual
dan perilaku adaptasi.

• Fungsi intelektual

Keterbatasan pada fungsi intelektual, dapat diukur menggunakan angka IQ. Orang dengan
retardasi mental, umumnya memiliki IQ yang rendah dan akan kesulitan dalam mempelajari hal
baru, membuat keputusan, serta menyelesaikan suatu masalah.

• Perilaku adaptasi

Perilaku adaptasi adalah kemampuan untuk melakukan tugas sehari-hari yang bagi sebagian
besar orang, bukanlah hal yang sulit dilakukan. Para pengidap retardasi mental, akan kesulitan
untuk melakukan hal-hal dasar seperti berkomunikasi dengan orang lain, melakukan interaksi,
serta mengurus diri sendiri.
Penyebab retardasi mental

Penyebab retardasi mental adalah multifaktorial. Artinya, ada banyak hal yang bisa
menyebabkan timbulnya kondisi ini, di antaranya:

 Kelainan genetik
 Riwayat meningitis
 Riwayat campak atau batuk rejan
 Riwayat trauma atau benturan keras pada kepala saat usia anak-anak
 Paparan bahan beracun seperti merkuri atau timbal
 Memiliki kelainan bentuk otak
 Terpapar alkohol, obat-obatan terlarang, dan racun lain saat masih dalam kandungan
 Infeksi saat kehamilan
 Adanya penyulit saat proses persalinan, seperti tidak mendapatkan oksigen yang cukup

Ciri-ciri retardasi mental secara umum

Secara umum, orang yang memiliki retardasi mental akan menunjukkan ciri-ciri seperti di bawah
ini.

 Perkembangannya terlambat dari usianya


 Terlambat untuk bisa berjalan, merangkak, atau duduk dibanding anak seusianya
 Sulit belajar bicara atau cara bicaranya tidak jelas
 Punya gangguan daya ingat
 Tidak memahami konsekuensi atas perbuatannya
 Tidak bisa berpikir logis
 Meski sudah dewasa, masih berperilaku seperti anak-anak
 Tidak punya rasa penasaran terhadap hal yang terjadi di sekitarnya
 Sulit mempelajari
 Memiliki IQ di bawah 70
 Tidak bisa hidup mandiri

Selain itu, orang dengan retardasi mental juga dapat menunjukkan perilaku negatif, seperti
mudah marah, keras kepala, rasa percaya diri yang rendah, depresi, tidak mau bersosialisasi
dengan orang lain, bahkan menunjukkan gejala gangguan psikotik.

Beberapa pengidap kondisi ini juga memiliki ciri khusus secara fisik, seperti kelainan bentuk
wajah dan tubuhnya pendek. Namun, tidak semuanya memiliki ciri seperti ini.

Ciri-ciri retardasi mental berdasarkan tingkat keparahannya

Berdasarkan tingkat keparahannya, retardasi mental dibagi menjadi empat tingkat. Pembagian ini
dilakukan berdasarkan nilai IQ dan kemampuannya untuk melakukan tugas sehari-hari serta
berinteraksi sosial.

1. Ciri retardasi mental ringan


Beberapa ciri retardasi mental yang ringan di antaranya:

 Butuh waktu lebih lama untuk belajar bicara, tapi saat sudah bisa bicara, komunikasi bisa
dilakukan dengan baik
 Bisa mandiri saat sudah dewasa
 Sedikit kesulitan untuk belajar menulis dan membaca
 Sering bersikap seperti anak-anak, meski usianya sudah dewasa
 Sulit mengemban tanggung jawab besar seperti menikah dan punya anak
 Dapat berkembang dengan mengikuti program belajar khusus
 Memiliki nilai IQ antara 50-69

2. Ciri retardasi mental sedang

Beberapa ciri retardasi mental yang masih masuk tingkat keparahan sedang di antaranya:

 Sulit mengerti perkataan orang lain maupun berbicara dengan orang lain
 Susah berkomunikasi dengan orang lain
 Masih bisa mempelajari kemampuan dasar, seperti menulis, membaca, dan berhitung
 Akan sulit hidup mandiri
 Bisa berperilaku baik di lingkungan maupun tempat yang sudah sering dikunjungi
 Masih bisa berpartisipasi di kegiatan sosial yang melibatkan banyak orang
 Rata-rata memiliki nilai IQ antara 35-49

3. Ciri retardasi mental parah

Beberapa ciri retardasi mental yang sudah parah di antaranya:

 Memiliki kesulitan bergerak secara fisik


 Mengalami kerusakan otak atau saraf yang cukup parah
 Memiliki nilai IQ antara 20-34

4. Ciri retardasi mental sangat parah

Beberapa ciri retardasi mental yang paling parah di antaranya:

 Sama sekali tidak bisa mengikuti instruksi yang diberikan


 Mengalami kelumpuhan, pada beberapa kasus
 Tidak bisa menahan buang air
 Hanya bisa berkomunikasi nonverbal sangat dasar (seperti menunjuk atau menggelengkan
kepala)
 Tidak bisa hidup mandiri
 Perlu diawasi terus-menerus oleh keluarga maupun tim dokter
 Memiliki nilai IQ kurang dari 20
Perawatan untuk pengidap retardasi mental

Retardasi mental adalah kondisi yang akan tetap ada seumur hidup pengidapnya. Meski begitu,
ada beberapa metode yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kemampuannya dalam menjalani
kehidupan sehari-hari.

Sebelum perawatan dimulai, dokter akan mendiagnosis kondisi ini dengan melihat pola perilaku
serta melakukan tes IQ. Setelah diagnosis dilakukan, dokter bekerjasama dengan keluarga, akan
membuat rencana perawatan yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan penderita.

Beberapa metode perawatan yang dapat dilakukan di antaranya:

 Perawatan sejak dini, bagi bayi dan balita


 Program pendidikan khusus
 Terapi perilaku
 Konseling
 Pemberian obat

Sebagai orangtua, Anda juga bisa melakukan hal-hal di bawah ini, untuk mendukung anak
dengan retardasi mental.

 Mempelajari sebanyak-banyaknya informasi tepercaya tentang retardasi mental


 Membantu anak untuk bisa belajar mandiri. Biarkan ia mencoba hal-hal baru dan melakukan
tugas sehari-harinya sendiri.
 Saat anak sudah bisa mempelajari hal baru, beri pujian dan bantu ia belajar saat melakukan
kesalahan
 Sertakan anak dalam aktivitas sosial, seperti les menggambar
 Jalin kerjasama yang kuat dengan dokter, terapis, dan guru anak
 Berkomunikasilah dengan ibu lain yang memiliki anak dengan kondisi serupa, untuk
mendapatkan informasi dan dukungan tambahan

Dampak dari kondisi retardasi mental, dampaknya tidak hanya akan dirasakan oleh individu
yang mengalaminya, tapi juga keluarga dan lingkungan sekitar tempat ia berinteraksi. Karena itu,
dalam proses perawatannya pun diperlukan kerjasama dari berbagai pihak, agar individu tersebut
bisa berkembang dan kelak memiliki kualitas hidup yang baik.