Anda di halaman 1dari 3

“We wonen hier in een regennest, Meneer!

ini kalimat seorang pelancong Belanda pada akhir abad ke-19 yang pernah berkunjung ke kota ini

Kota kecil di kaki gunung-gunung raksasa—ada Singgalang di Barat, ada Marapi di Timurnya, ada
Tandikek agak ke barat daya. Kota dengan curah hujan yang tinggi sehingga dinamakan Kota Hujan

Kawasan kota ini sebelumnya merupakan bagian dari wilayah Tuan Gadang di Batipuh. Pada masa
Perang Padri kawasan ini diminta Belanda sebagai salah satu pos pertahanan dan sekaligus batu
loncatan untuk menundukan kaum Padri yang masih menguasai kawasan Luhak Agam. Selanjutnya
Belanda membuka jalur jalan baru dari kota ini menuju Kota Padang karena lebih mudah
dibandingkan melalui kawasan Kubung XIII di kabupaten Solok sekarang

sebelum kota itu dikenal, di awal abad ke-19 sebagai sentra penyebaran dakwah agama Islam di
ranah minang ini, kota Padangpanjang ternyata sedikit memiliki sejarah yang agak kelam. Disebut
demikian, karena pernah terjadi peperangan antar kaum yang disulut oleh perkara jual beli di Pakan
Jumat nan Usang antara kaum Nan IV Koto yang terhimpun dari Gunung, Paninjauan, Jaho dan
Tambangan melawan kaum Nan V Koto yang meliputi, Singgalang, Air Angek, Pandai Sikek, Koto
Laweh dan Panyalaian.

Kaum V Koto, dalam peperangan tersebut dikomandoi oleh dua orang pandekar yang gagah dan
berani, yakni Akik Bagindo Rajo (Orang Singgalang) dan Rasul Andung Bagindo Ali (Orang Aia Angek).
Sedangkan yang menjadi panglima perang dari Kaum Nan IV Koto, dipimpin oleh Tuanku Bandaro
(Orang Gunung) dan Datuk Bungsu (Orang Paninjauan)

Tuanku Bandaro dan Datuk Bungsu hampir dapat ditawan oleh pasukan Nan V Koto. Karena perang
begitu kejam, Tuanku Bandaro dan Datuk Bungsu dibunuh di Bandar Jum’ah tepatnya 1 Desember
1790 M. Lokasinya, sekarang, adalah di Simpang Bak Air simpang ke Paninjauan.

Mayat mereka yang telah dipotong-potong lalu dibuang ke bandar kecil, yang saat ini bernama
BATANG BAKAREK-KAREK.

Timbul rasa insyaf kedua belah pihak, walau korban telah berjatuhan. Perdamaian pun digagas
berkat campur tangan ulama besar ini.

Sejak itulah, Kubu Induk Ayam, Pakan Jumat Nan Usang serta Bukit Surungan ditetapkan menjadi
Kubu oleh orang Nan V Koto yang sekarang dihuni oleh orang Nan VI Koto karena belakangan
bertambah satu, yakni Koto Baru. Disebut kubu, karena berfungsi sebagai pengintai sekiranya musuh
datang atau melanggar Negeri V Koto. Orang yang bertugas menjaga itulah yang akan melaporkan
kepada kaum Nan V Koto.
Yang mula-mula menjaga Kubu Bukit Surungan itu sebelum dihuni oleh seseorang, ialah dihuni oleh
ninik Gunung dari Koto Laweh. Selama 26 tahun kubu tadi dijaga olehnya, kemudian dilanjutkan oleh
orang Aia Angek yang bergelar Angku Ukun.

Selanjutnya, kubu tadi, diupayakan oleh orang Nan VII Laras, dengan menjadikan Tengah Padang
Nan Panjang Sari Mananti” sebagai medan perdamaian orang Nan Tujuh Laras setelah pecah perang
Regent Batipuh melawan Gubernement. Nama yang panjang itu dipersingkat menjadi sebutan
“Padangpanjang”.

Seorang Laras VI Koto, yang bernama Tuanku Nan Elok, dari Koto Laweh meminta kepada
pemerintah kolonial, agar sebagian kota Padangpanjang dijadikan hak milik orang Nan VI Koto.
Permintaan itupun disetujui. Maka sejak Batang Bakarek sampai Air Putih, terus Padang Sarai
(daerah Kampong Teleng) dan Batang Anai kepunyaan orang Nan VI Koto. Sedangkan Tabu Baraia
(Kandang Aia Tabek kepunyaan Orang Nan VI Koto) jatuh menjadi kepunyaan orang Nan IV Koto,
sebagai ganti kepemilikan. Tapi sayangnya, orang Nan IV Koto Baru sadar, kalau hal itu telah
merugikan daerah mereka karena wilayahnya kian kecil dan tidak mendapatkan apa-apa. Tapi apa
lacurnya, nasi telah jadi bubur. Yang berlalu tidak bisa disesali lagi.

Tuanku Nan Elok berjanji akan meramaikan Padangpanjang dengan membuat sawah dan ladang.
Mengaliri air dengan membuat bandar (selokan air) dari Panyalaian ke Padangpanjang. Bandar air
yang besar itu (bandar gadang) sekarang adalah jalur yang dipakai oleh rel Kereta Api sekarang. Sejak
adanya Bandar Gadang tadi, sawah pun bertebaran dimana-mana. Seperti di jalan hendak ke Lubuk
Mata Kucing, mungkin areal daerah belakang Perguruan Diniyyah Puteri sampai ke terminal Bukit
Surungan sekarang. Kemudian sawah di Kampung Manggis dan lainnya.

Pada masa agresi militer Belanda, Kota Padangpanjang pernah menjadi pusat pemerintahan
sementara Sumatera Tengah setelah Kota Padang dikuasai Belanda pada pada tahun 1947.

Berdasarkan Ketetapan Ketua PDRI tanggal 1 Januari 1950 tentang Pembagian Propinsi juga
sekaligus ditetapkan pula pembagian Kabupaten dan Kota antara lain Bapituh dan X Koto kedalam
wilayah Kabupaten Tanah Datar, sehingga Padang Panjang hanya merupakan tempat kedudukan
Wedana yang mengkoordinir Kecamatan X Koto.

Pakan Jumat, lalu dipindahkan ke daerah Pasa Usang, sekitaran Globe dan Gang Sampik. yang
kemudian dipindahkan lagi kelokasi saat ini. Hamparan tangah padang yang panjanglah yang
kemudian melekatkan Penamaan PADANGPANJANG, Keberadaan pasar yang disepakati oleh
daerah2 wilayah Tuanku Gadang sebagai pasar Bersama sehingga pasar tersebut dinamai sebagai
PASA SYARIKAIK BATIPUAH X KOTO.

berdasarkan Ketetapan Ketua PDRI tanggal 1 Januari 1950 tentang Pembagian Propinsi juga
sekaligus ditetapkan pula pembagian Kabupaten dan Kota antara lain Bapituh dan X Koto kedalam
wilayah Kabupaten Tanah Datar, sehingga Padang Panjang hanya merupakan tempat kedudukan
Wedana yang mengkoordinir Kecamatan X Koto.

Kemudian berdasarkan UU No. 8 tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kota Kecil di
lingkungan Propinsi Sumatera Tengah, maka lahir secara resmi Kota Kecil Padang Panjang.

Kota Padangpanjang sebagai pemerintahan daerah terbentuk pada tanggal 23 Maret 1956.
Selanjutnya, barulah setahun kemudian, berdasarkan Undang-undang nomor 1 tahun 1957, status
kota ini sejajar dengan daerah kabupaten dan kota lainnya di Indonesia.

; dari berbagai sumber