Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

MATA KULIAH : KEPERAWATAN BENCANA


“MANAJEMEN KEPERAWATAN BENCANA PADA IBU HAMIL ”

Dosen Pembimbing :
Ns. Darwin Karim, M. Biomed

Disusun oleh:
Devi Sariani Lubis
1611115937

Kelas :
A 2016 1

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS RIAU
2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah tentang
“Manajemen Keperawatan Bencana Pada Ibu Hamil”. Penulis berterima kasih pada ibu Ns.
Darwin Karim, M. Biomed selaku pembimbing mata kuliah Keperawatan Bencana yang telah
memberikan bimbingan dan arahan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.

Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai Manajemen Penanggulangan Bencana pada Fase Bencana .
Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan. Oleh
sebab itu penulis berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah
penulis buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa
saran yang membangun.

Semoga makalah ini dapat dipahami bagi pembaca. Sekiranya laporan yang telah
disusun ini dapat berguna bagi penulis maupun orang yang membacanya. Sebelumnya
penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami
memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Pekanbaru, 08 November 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................................2

DAFTAR ISI.............................................................................................................................3

BAB I.........................................................................................................................................6

PENDAHULUAN.....................................................................................................................6

A. LATAR BELAKANG...............................................................................................................6
B. RUMUSAN MASALAH............................................................................................................7
C. TUJUAN.................................................................................................................................7
D. MANFAAT..............................................................................................................................8

BAB II.......................................................................................................................................8

PEMBAHASAN.......................................................................................................................8

A. KONSEP DASAR MANAJEMEN BENCANA......................................................................8


B. DAMPAK BENCANA PADA IBU HAMIL DAN BAYI........................................11
C. KEPERAWATAN BENCANA PADA IBU HAMIL DAN BAYI SEBELUM
BENCANA..............................................................................................................................12
D. KEPERAWATAN BENCANA PADA IBU HAMIL DAN BAYI SAAT
BENCANA..............................................................................................................................13
E. MASALAH KESEHATAN YANG BISA TERJADI PADA IBU HAMIL, JANIN DAN BAYI,
SERTA PENANGANANNYA........................................................................................................15

F. KEPERAWATAN BENCANA PADA IBU HAMIL DAN BAYI SETELAH


BENCANA..............................................................................................................................17

BAB III....................................................................................................................................22

PENUTUP...............................................................................................................................22

A. KESIMPULAN................................................................................................................22
B. SARAN...........................................................................................................................22

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................23

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bencana merupakan kejadian luar biasa yang menyebabkan kerugian besar bagi
manusia dan lingkungan dimana hal itu berada diluar kemampuan manusia untuk dapat
mengendalikannya, disebabkan oleh faktor alam atau manusia atau sekaligus oleh
keduanya. Didalam Penanganan bencana terdapat beberapa aspek yaitu aspek mitigasi
bencana (pencegahan), kegawatdaruratan saat terjadinya bencana, dan aspek rehabilitasi.
Penanganan kegawatdaruratan targetnya adalah penyelamatan sehingga risiko tereliminir.
Sedangkan rehabilitasi merupakan upaya mengembalikan pada kondisi normal kembali.
Sejak Tsunami Aceh tahun 2004, sampai sepanjang tahun ini Indonesia seakan
sedang melakukan maraton bencana dari satu pulau ke pulau lain dan dari satu provinsi ke
provinsi lain. Pada awal tahun 2010 setelah letusan Gunung Api Merapi mereda, tanah air
Indonesia kembali diguncang bencana alam besar: gempa bumi di Yogyakarta dan
tsunami di kawasan selatan Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah. Sementara itu,
bencana yang berkaitan dengan fenomena geologi, seperti semburan lumpur panas di
Porong, Sidoarjo, belum juga berhenti. Kemudian pada akhir tahun 2010 merapi kembali
menyala yang lebih ganas, diikuti oleh Tsunami Mentawai dan banjir bandang di
beberapa wilayah seperti di Wasior Irian Jaya (BNPB 2010).
Dampak bencana yang ditimbulkan dapat berupa kematian masal, terganggunya
tatanan sosiologis dan psikologis masyarakat, pengangguran, kemiskinan, kriminalitas,
keterbelakangan, dan hancurnya lingkungan hidup masyarakat. Begitu besarnya risiko
yang ditimbulkan oleh bencana ini, maka penanganan bencana menjadi sangat penting
untuk menjadi perhatian dan tugas kita bersama.Itulah yang menjadi alasan bagi penulis
untuk membahas mengenai bagaimana cara menanggulangi dampak bencana pada ibu
hamil dan bayi.

4
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Bagaimana Konsep Dasar Manajemen Penanggulangan Bencana ?
2. Bagaimana Dampak bencana pada ibu hamil dan bayi?
3. Bagaimana Manajemen keperawatan bencana pada ibu hamil dan bayi?
4. Bagaimana Manajemen keperawatan bencana pada ibu hamil dan bayi sebelum
bencana?
5. Bagaimana Manajemen keperawatan bencana pada ibu hamil dan bayi setelah
bencana ?

C. Tujuan
1. Untuk memahami Konsep Dasar Manajemen Penanggulangan Bencana.
2. Untuk memahami Dampak bencana pada ibu hamil dan bayi, anak dan lansia
3. Untuk memahami Manajemen keperawatan bencana pada ibu hamil dan bayi saat
bencana
4. Untuk memahami Manajemen keperawatan bencana pada ibu hamil dan bayi sebelum
bencana
5. Untuk memahami Manajemen keperawatan bencana pada ibu hamil dan bayi setelah
bencana.

D. Manfaat
Manfaat dari setiap makalah apapun dan dengan tema apapun selalu memiliki
kesamaan dalam manfaatnya yakni menambah wawasan bagi penulis sendiri karena dalam
penulisannya, penulis di tuntut untuk mengambil beberapa referensi sebagai bahan
penulisannya dan juga bagi para pembaca. Selain itu, dapat menjadi salah satu acuan untuk
menerapkan ilmu saat proses keperawatan dan diharapkan mahasiswa dapat memahami
Konsep Manajemen Keperawatan Bencana Pada Ibu hamil dan Bayi serta mampu
mengaplikasikannya dengan baik dan benar.

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Manajemen Bencana

Bencana dapat didefinisikan dalam berbagai arti baik secara normatif maupun
pendapat para ahli. Menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, bencana adalah
peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan
penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam atau faktor non alam
maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia,
kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis. Pengertian
bencana dalam Kepmen Nomor 17/kep/Menko/Kesra/x/95 adalah sebagai berikut :
Bencana adalah Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam,
manusia, dan atau keduanya yang mengakibatkan korban dan penderitaan manusia,
kerugian harta benda, kerusakan lingkungan, kerusakan sarana prasarana dan fasilitas
umum serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan dan penghidupan
masyarakat.
Menurut Departemen Kesehatan RI (2001), definisi bencana adalah peristiwa
atau kejadian pada suatu daerah yang mengakibatkan kerusakan ekologi, kerugian
kehidupan manusia, serta memburuknya kesehatan dan pelayanan kesehatan yang
bermakna sehingga memerlukan bantuan luar biasa dari pihak luar. Sedangkan
definisi bencana (disaster) menurut WHO (2002) adalah setiap kejadian yang
menyebabkan kerusakan, gangguan ekologis, hilangnya nyawa manusia, atau
memburuknya derajat kesehatan atau pelayanan kesehatan pada skala tertentu yang
memerlukan respon dari luar masyarakat atau wilayah yang terkena.
Menurut Asian Disaster Reduction Center (2003) yang dikutip Wijayanto
(2012), Bencana adalah suatu gangguan serius terhadap masyarakat yang
menimbulkan kerugian secara meluas dan dirasakan baik oleh masyarakat, berbagai
material dan lingkungan (alam) dimana dampak yang ditimbulkan melebihi
kemampuan manusia guna mengatasinya dengan sumber daya yang ada. Lebih lanjut,
menurut Parker (1992) dalam dikutip Wijayanto (2012), bencana adalah sebuah
kejadian yang tidak biasa terjadi disebabkan oleh alam maupun ulah manusia,
termasuk pula di dalamnya merupakan imbas dari kesalahan teknologi yang memicu
respon dari masyarakat, komunitas, individu maupun lingkungan untuk memberikan
antusiasme yang bersifat luas.
Menurut Coburn, A. W. dkk. 1994. Di dalam UNDP mengemukakan bahwa :
Bencana adalah Satu kejadian atau serangkaian kejadian yang member meningkatkan
jumlah korban dan atau kerusakan, kerugian harta benda, infrastruktur, pelayanan-
pelayanan penting atau sarana kehidupan pada satu skala yang berada di luar kapasitas
norma. Sedangkan Heru Sri Haryanto (2001 : 35) Mengemukakan bahwa: Bencana
adalah Terjadinya kerusakan pada pola pola kehidupan normal, bersipat merugikan
kehidupan manusia, struktur sosial serta munculnya kebutuhan masyarakat. Sehingga
dapat disimpulkan dari beberapa pengertian bencana diatas, bahwa pada dasarnya

6
pengertian bencana secara umum yaitu suatu kejadian atau peristiwa yang
menyebabkan kerusakan berupa sarana prasana maupun struktur sosiak yang sifatnya
mengganggu kelangsungan hidup masyarakat
Manajemen bencana adalah suatu proses dinamis, berlanjut dan terpadu untuk
meningkatkan kualitas langkah-langkah yang berhubungan dengan observasi dan
analisis bencana serta pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, peringatan dini,
penanganan darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi bencana. (UU 24/2007). Manajemen
bencana menurut Nurjanah (2012:42) sebagai Proses dinamis tentang bekerjanya
fungsi-fungsi manajemen bencana seperti planning, organizing, actuating, dan
controling. Cara kerjanya meliputi pencegahan, mitigasi, dan kesiapsiagaan tanggap
darurat dan pemulihan. Manajemen bencana menurut (University British Columbia)
ialah proses pembentukan atau penetapan tujuan bersama dan nilai bersama (common
value) untuk mendorong pihak-pihak yang terlibat (partisipan) untuk menyusun
rencana dan menghadapi baik bencana potensial maupun actual
Manajemen bencana pada dasarnya berupaya untuk menghindarkan
masyarakat dari bencana baik dengan mengurangi kemungkinan munculnya
hazard maupun mengatasi kerentanan. Terdapat lima model manajemen bencana
yaitu:

1. Disaster management continuum model.


Model ini mungkin merupakan model yang paling popular karena terdiri dari
tahap-tahap yang jelas sehingga lebih mudah diimplementasikan. Tahap-tahap
manajemen bencana di dalam model ini meliputi emergency, relief, rehabilitation,
reconstruction, mitigation, preparedness, dan early warning.
2. Pre-during-post disaster model.
Model manajemen bencana ini membagi tahap kegiatan di sekitar bencana.
Terdapat kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan sebelum bencana, selama bencana
terjadi, dan setelah bencana. Model ini seringkali digabungkan dengan disaster
management continuum model.
3. Contract-expand model.
Model ini berasumsi bahwa seluruh tahap-tahap yang ada pada manajemen
bencana (emergency, relief, rehabilitation, reconstruction,mitigation, preparedness,
dan early warning) semestinya tetap dilaksanakan pada daerah yang rawan bencana.
Perbedaan pada kondisi bencana dan tidak bencana adalah pada saat bencana tahap
tertentu lebih dikembangkan (emergency dan relief) sementara tahap yang lain seperti
rehabilitation, reconstruction, dan mitigation kurang ditekankan.
4. The crunch and release model.
Manajemen bencana ini menekankan upaya mengurangi kerentanan untuk
mengatasi bencana. Bila masyarakat tidak rentan maka bencana akan juga kecil
kemungkinannya terjadi meski hazard tetap terjadi.
5. Disaster risk reduction framework.
Model ini menekankan upaya manajemen bencana pada identifikasi risiko
bencana baik dalam bentuk kerentanan maupun hazard dan mengembangkan
kapasitas untuk mengurangi risiko tersebut.

7
Dalam manajemen bencana dikenal 4 tahapan kerja penanggulangan bencana yaitu;
1. Fase Pencegahan dan Mitigasi; dilakukan pada situasi tidak terjadi bencana tujuannya
untuk memperkecil dampak negatif bencana.
2. Fase Kesiapsiagaan (Preparadness); dilakukan pada situasi terdapat potensi bencana
dengan merencanakan bagaimana menanggapi bencana.
3. Fase Tanggap Darurat (Emergency Response); dilakukan pada saat terjadi bencana
tujuannya untuk mengurangi dampak negatif pada saat bencana.
4. Fase Pemulihan (Recovery); dilakukan setelah terjadi bencana tujuannya untuk
mengembalikan masyarakat pada kondisi normal.

Gambar 1.1 Tahapan penanggulangan bencana


Meskipun dari gambar 1.1 terdapat kuadran-kuadran yang merupakan
tahapan-tahapan dalam penanggulan bencana bukan berarti bahwa dalam praktek tiap-
tiap kuadran dilakukan secara berurutan. Tanggap darurat misalnya dapat dilakukan
pada saat sebelum terjadi bencana atau dikenal dengan istilah ‘’siaga darurat’’, ketika
diprediksi bencana akan segera terjadi. Meskipun saat kejadiaan bencana belum tiba,
namun pada tahap siaga darurat dapat dilaksanakan kegiatan tanggap darurat
(evakuasi penduduk, pemenuhan kebutuhan dasar berupa penampungan sementara,
pemberian pangan dan non-pangan, layanan kesehatan dll). Perlu dipahami bahwa
meskipun telah dilakukan berbagai kegiatan pada tahapan siaga darurat, terdapat dua
kemungkinan situasi yaitu bencana benar-benar terjadi atau bencana tidak terjadi.
Berdasarkan pasal 33 UU 24/2007 hanya disebutkan 3 tahapan manajemen
bencana yaitu; Pra bencana, saat tanggap darurat dan pasca bencana. Kuadran
‘’pencegahan dan mitigasi’’ serta ‘’kesiapsiagaan’’ adalah sama dengan ‘’pra
bencana’’

8
B. DAMPAK BENCANA PADA IBU HAMIL DAN BAYI
Kejadian bencana akan berdampak terhadap stabilitas tatanan masyarakat.
Kelompok masyarakat rentan (vulnerability) harus mendapatkan prioritas. Salah satu
kelompok rentan dalam masyarakat yang harus mendapatkan prioritas pada saat
bencana adalah ibu hamil, ibu melahirkan dan bayi.Penelitian di beberapa negara
yang pernah mengalami bencana, menunjukan adanya perubahan pada kelompok ini
selama kejadian bencana. Bencana bom World Trade Center (September, 2000)
berdampak terhadap kejadian BBLR (berat bayi lahir rendah) pada ibu-ibu melahirkan
di New York.
Di bawah ini akan dijelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan dampak
bencana pada ibu hamil, melahirkan dan bayi. Dampak bencana yang sering terjadi
adalah abortus dan lahirprematur disebabkan oleh ibu mudah mengalami stres, baik
karena perubahan hormon maupun karena tekanan lingkungan/stres di sekitarnya.
Efek dari stres ini diteliti dengan melakukan riset terhadap ibu hamildi antara korban
gempa bumi. Penelitian mengambil tempat di Cili selama tahun 2005, di saat gempa
bumi Tarapaca sedang mengguncang daerah tersebut. Penelitian sebelumnya telah
mengamati efek stres pada wanita hamil, namun yang berikut ini memfokuskan pada
dampak stres pada waktu kelahiran bayi serta dampaknya pada kelahiran bayi
perempuan atau laki-laki. Hasilnya, ibu hamil yang tinggal di area pusat gempa, dan
mengalami gempa bumi terburuk pada masa kehamilan dua dan tiga bulan, memiliki
risiko melahirkan prematur yang lebih besar dari kelompok lainnya. Pada ibu hamil
yang terekspos bencana alam di bulan ketiga kehamilan, peluang ini meningkat
hingga 3,4%. Tidak hanya itu, stres juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan
keguguran.
Selain itu, saat bencana ibu hamil bisa saja mengalami benturan dan luka yang
mengakibatkan perdarahan atau pelepasan dini pada plasenta dan rupture uteri.
Keadaan ini dapat mengakibatkan gawat janin dan mengancam kehidupan ibu dan
janin. Itulah sebabnya ibu hamil dan melahirkan perlu diprioritaskan dalam
penanggulangan bencana alasannya karenadi situ ada dua kehidupan.

9
C. KEPERAWATAN BENCANA PADA IBU HAMIL DAN BAYI SEBELUM
BENCANA
Melihat dampak bencana yang dapat terjadi, ibu hamil dan bayi perlu dibekali
pengetahuan dan ketrampilan menghadapi bencana. Beberapa hal yang dapat
dilakukan antara lain:
1. Membekali ibu hamil pengetahuan mengenai umur kehamilan, gambaran
proses kelahiran, ASI eksklusif dan MPASI
2. Melibatkan ibu hamil dalam kegiatan kesiapsiagaan bencana, misalnya dalam
simulasi bencana.
3. Menyiapkan tenaga kesehatan dan relawan yang trampil menangani kegawat
daruratan pada ibu hamil dan bayi melalui pelatihan atau workshop.
4. Menyiapkan stok obat khusus untuk ibu hamil dalam logistik bencana seperti
tablet Fe dan obat hormonal untuk menstimulasi produksi ASI.
D. KEPERAWATAN BENCANA PADA IBU HAMIL DAN BAYI SAAT
BENCANA
Ibu hamil dan melahirkan perlu diprioritaskan dalam penanggulangan bencana
alasannya karena ada dua kehidupan dan adanya perubahan fisiologis. Perawat harus
ingat bahwa dalam merawat ibu hamil adalah sama halnya dengan menolong
janinnya. Sehingga, meningkatkan kondisi fisik dan mental wanita hamil dapat
melindungi dua kehidupan.
1. Pengkajian
Pengkajian kesehatan yang harus dilakukan pada ibu hamil dan bayi
atau janin saat terjadi bencana, meliputi:
a. Ibu Hamil
Ibu hamil harus dikajiberat badan, pembengkakan kaki, dan
darah. Berat badan diukur dengan timbangan badan. Hasil pengukuran
saat ini dibandingkan dengan pengukuran sebelumnya untuk mengkaji
peningkatan berat badan yang dihubungkan dengan ada atau tidak
adanya oedema. Kalau tidak ada timbangan, mengamati oedema harus
selalu dicek dengan menekan daerah tibia. Ibu hamil yang mengalami
oedema juga sulit menggenggam tangannya, atau menapakkan kakinya
ke dalam sepatu karena adanya oedema di tangan, lutut dan telapak
kaki harus diperiksa. Selain itu, sindrom hipertensi karena kehamilan

10
juga harus dikaji dengan persepsi perabaan oleh petugas penyelamatan
dengan melihat gejala-gejala yang dirasakan oleh ibu hamil yaitu
seperti sakit kepala dan nadi meningkat, apabila tensimeter tidak
tersedia. Anemia dapat dikaji dengan melihat warna pembuluh darah
kapiler ibu hamil. Pada kasus warna konjungtiva atau kuku pucat,
dapat diperkirakan merupakan tanda anemia.
Pengkajian pada ibu hamil harus juga mengkaji janin dalam
kandungannya. Kondisi kesehatan janin dikaji dengan mengukur
gerakan dan denyut jantungnya. Denyut jantung janin dideteksi dengan
menggunakan Laennec, alat yang ditunjukkan di bawah ini

Gambar 1.2. Laennec

Apabila Laennec tidak tersedia maka dapat digunakan kertas


silinder sebagai pengganti Laennec. Setelah mengetahui posisi
punggung janin maka denyut jantung janin dapat didengar dengan
cara mendekatkan telinga menggunakan LaennecLeneck pada perut
ibu.

Gambar 1.3 Mengecek denyut jantung janin dengan Laennec

11
Pertumbuhan janin juga perlu dikaji.Masa kehamilan dapat
diperkirakan melalui hari terakhir menstruasi. Jika hari terakhir menstruasi
tidak diketahui maka usia kehamilan dapat ditentukan melalui ukuran uterus,
seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 1.4 Pemeriksaan tinggi uterus

Tinggi fundus uterus dapat diukur denganmenggunakan jari.


Mengenali ukuran jari membantu dalam mengukur tinggi uterus.Pertumbuhan
uterus mengikuti masa kehamilan dalam hitungan minggu seperti pada tabel di
bawah ini.

Tabel 1.1. Pertumbuhan tinggi uterus pada masa kehamilan

Minggu ke-11 (bulan ke-3) tidak terukur

Minggu ke-27( bulan ke-7) 21~24cm

Minggu ke-15 (bulan ke-4) 12cm

Minggu ke-31( bulan ke-8) 24~28cm

Minggu ke-19 (bulan ke-5) 15cm

Minggu ke-35( bulan ke-9) 27~31cm

Minggu ke-23 (bulan ke-6) 18~21cm

Minggu ke-39(bulan ke-10) 32~35cm

b. Bayi
Suhu tubuh pada bayi baru lahir belum stabil. Suhu tubuh bayi perlu
dikaji karena permukaan tubuh bayi lebih besar dari pada tubuh orang dewasa
sehingga suhu tubuhnya mudah turun.Pakaian bayi juga harus tertutup dan
hangat agar mengurangi perpindahan suhu yang ekstrim. Kebutuhan cairan
juga perlu dikaji dengan seksama karena bisa saja bayi terpisah dari ibunya
sehingga menyusui ASI terputus. Bayi yang kehilangan atau terpisah dari
ibunya karena ibu sakit atau meninggal bisa dicarikan donor ASI dengan

12
syarat keluarga menyetujui pemberian ASI donor, identitas donor ASI maupun
bayi penerima tercatat, ibu susu dinyatakan sehat oleh tenaga kesehatan serta
ASI donor tidak diperjualbelikan.

E. Masalah kesehatan yang bisa terjadi pada ibu hamil, janin dan bayi, serta
penanganannya.
1. Tekanan darah rendah
Wanita hamil dapat mengalami tekanan darah rendah karena tidur dengan
posisi supinasi dalam waktu lama (Gambar 6.4). Keadaan ini disebut Sindrom
Hipotensi Supinasi, karena vena cava inferior tertekan oleh uterus dan volume
darah yang kembali ke jantung menjadi menurun sehingga denyut jantung janin
menjadi menurun. Dalam hal ini, tekanan darah rendah dapat diperbaiki dengan
mengubah posisi tubuh ibu menghadap ke sebelah kiri sehingga vena cava
superior dapat bebas dari tekanan uterus. Ketika wanita hamil dipindahkan ke
tempat lain, maka posisi tubuhnya juga menghadap ke sebelah kiri (Gambar 1.6).

Gambar 1.5: Vena cava inferior tertekan oleh uterus

Gambar 1.6: Menjaga posisi tubuh menghadap ke kiri

13
2.Janin kurang Oksigen
Penyebab kematian janin adalah kematian ibu. Tubuh ibu hamil yang
mengalami keadaan bahaya secara fisik berfungsi untuk membantu menyelamatkan
nyawanya sendiri daripada nyawa janin dengan mengurangi volume perdarahan pada
uterus. Untuk pemberian Oksigen secukupnya kepada janin harus memperhatikan
bahwa pemberian Oksigen ini tidak hanya cukup untuk tubuh ibu tetapi juga cukup
untuk janin.
3.Hipotermi
Suhu tubuh pada bayi baru lahir belum stabil,karena permukaan tubuh bayi
lebih besar dari pada tubuh orang dewasa sehingga suhu tubuhnya mudah turun.Cairan
amnion dan darah harus segera dilap supaya bayi tetap hangat. Perhatikan suhu
lingkungan dan pemakaian baju dan selimut bayi. Harus sering mengganti pakaian bayi
karena bayi cepat berkeringat. Persediaan air yang cukup karena bayi mudah
mengalami dehidrasi, perlu diberikan ASI sedini mungkin dan selama bayi mau.
4.Menyusui tidak efektif
Ibu yang menyusui anaknya harus diberikan dukungan dan bantuan praktis
untuk meneruskan menyusui, mereka tidak boleh sembarangan diberikan bantuan susu
formula dan susu bubuk. Ibu yang tidak bisa menyusui, misalnya ibu yang mengalami
gangguan kesehatan karena bencana, seperti mengalami luka atau perdarahanharus
didukung untuk mencari ASI pengganti untuk bayinya. Jika ada bayi yang berumur
lebih dari 6 bulan tidak bisa disusui, bayi tersebut harus diberikan susu formula dan
perlengkapan untuk menyiapkan susu tersebut dibawah pengawasan yang ketat dan
kondisi kesehatan bayi harus tetap dimonitor. Botol bayi sebaiknya tidak digunakan
karena risiko terkontaminasi, kesulitan untuk membersihkan botol, gunakan sendok
atau cangkir untuk memberikan susu kepada bayi.
F. KEPERAWATAN BENCANA PADA IBU HAMIL DAN BAYI SETELAH
BENCANA
Setelah masa bencana, ibu dan bayi menjalani kehidupan yang baru.
Pengalaman menghadapi bencana menjadi pelajaran untuk ibu untuk memperbaiki
hidupnya. Ibu yang masih dapat dipertahankan kehamilannya dipantau terus kondisi
ibu dan janinnya agar dapat melahirkan dengan selamat pada waktunya. Bagi ibu

14
yang sudah melahirkan, fungsi dan tugas ibu merawat bayi harus tetap dijalankan,
baik di tempat pengungsian atau pun di lingkungan keluarga terdekat.

Gambar 1.7. Ibu dan bayi di tempat pegungsian


Tujuan keperawatan bencana pada fase setelah bencana adalah untuk membantu ibu
menjalani tugas ibu seperti uraian dibawah ini.

1. Pemberian ASI (Air Susu Ibu)

Pemberian ASI eksklusif bagi bayi yang berusia 0-6 bulan dan tetap menyusui
hingga 2 tahun pada kondisi darurat.Pemberian susu formula hanya dapat diberikan
jika ibu bayi meninggal, tidak adanya ibu susuan atau donor ASI. Selain itu,
pemberian susu formula harus dengan indikasi khusus yang dikeluarkan dokter dan
tenaga kesehatan terampil. Seperti halnya obat, susu formula tidak bisa diberikan
sembarangan, harus diresepkan oleh dokter. Pendistribusian susu formula dalam
situasi bencana pun harus dengan persetujuan dinas kesehatan setempat. Bukan berarti
ketika terjadi bencana, kita bebas mendonasikan susu formula maupun susu bubuk,
UHT yang bisa menggantikan pemberian ASI hingga berusia 2 tahun.

2.Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) Berkualitas


Intervensi terbaik untuk menyelamatkan hidup bayi dan anak. ASI dan MPASI
berkualitas bukan hanya sebagai pemenuhan kebutuhan tubuh bayi dan anak, akan
tetapi merupakan “life saving” untuk keberlangsungan hidup jangka pendek maupun
jangka panjang. Tetaplah menyusui hingga 2 tahun. Adapun syarat MPASI
berkualitas adalah sebagai berikut:
a. MPASI disediakan berdasarkan bahan lokal dengan menggunakan peralatan
makan yang higienis.
b. MPASI harus yang mudah dimakan, dicerna dan dengan penyiapan yang
higienis.

15
c. Pemberian MPASI disesuaikan dengan umur dan kebutuhan gizi bayi.
d. MPASI harus mengandung kalori dan mikronutrien yang cukup (energi,
protein, vitamin dan mineral yang cukup terutama Fe, vitamin A dan vitamin
C).
e. MPASI pabrikan hanya alternatifdarurat. Penggunaannya setidaknya tidak
lebih dari 5 hari pasca bencana

Gambar 1.8. Makanan Pendamping ASI


3. Makanan siap saji untuk Ibu menyusui pada 5 hari pertama pasca bencana

Dengan memberikan makanan yang baik bagi Ibu, sama artinya dengan
menjamin pemberian ASI kepada bayi dan anak. Ketersediaan ASI yang mencukupi
dan melimpah pada dasarnya tidak terpengaruh oleh makanan dan minuman secara
langsung, namun paparan makanan dan minuman yang menunjang akan
menentramkan ibu dalam menyusui dan menghilangkan kekhawatiran mereka. Hal
inilah yang mempengaruhi pemberian ASI pada kondisi bencan

16
17
18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Indonesia merupakan negara yang sangat berpotensi terjadinya bencana, sudah


tercatat ada 12 kategori bencana yang terjadi di indonesia yang di kelompokkan
menjadi bebrapa bagian. Dampak bencana ini sangat mempengaruhi perubahan
kehidupan rakyat indonesia maupun indonesia itu sendiri. Banyaknya korban akibat
bencana ini, baik bencana alam, bencana non alam dan bencana sosial membuat
kualitas kesehatan bangsa indonesia menurun. Untuk itu untuk mengurangi
komplikasi yang lebih lanjut maka diperlukan manajemen penanggulangan bencana.
Seperti yang telah dijelaskan di pembahasan, manajemen penanggulangan bencana
adalah pengelolaan penggunaan sumber daya yang ada untuk menghadapi ancaman
bencana dengan melakukan perencanaan, penyiapan, pelaksanaan, pemantauan dan
evaluasi di setiap tahap penanggulangan bencana yaitu pra, saat dan pasca bencana.
Perawat sebagai bagian dari petugas kesehatan yang ikut dalam penanggulangan
bencana dapat berada di berbagai tempat seperti di rumah sakit, di pusat evakuasi, di
klinik berjalan atau di puskesmas.

B. Saran

Berdasarkan hasil pembahasan makalah dari kesimpulan yang telah


dikemukakan dapat diberikan saran-saran bagi perawat sebagai tenaga kesehatan
diharapkan dapat memberikan pelayanan yang profesional dalam menanggulangi
didaerah yang sedang mengalami bencana.

19
DAFTAR PUSTAKA
BNPB. 2008. Peraturan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 4 tentang
Pedoman Rencana Penanggulangan Bencana. Jakarta

BNPN. 2009. Kajian tentang Penanggulangan Bencana Alam di Indonesia Jilid 2-2. Japan
International Cooperation Agency

Depkes RI. 2007. Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana.
Jakarta

Farida., I. 2015. Modul Manajemen Penanggulangan Bencana. Jakarta

Kemenkes RI. 2011. Paduan Teknis Penanngulangan Krisis Kesehatan Akibat bencana.
Jakarta

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 .2007 Penanggulangan Bencana. Jakarta

Akiko Saka, 2007. Long-term nursing needs during the disaster that is different from Acute
American Collage of Emergency Physicians. 2010. Basic Trauma Cardiac Life Support :
For Paramedics And Other Advanced Providers, Brady
Anneahira. Korban Bencana . http://www.anneahira.com/korban-bencana.html
diunduh pada 07 November 2019
BNPB. 2010. Buku Panduan Pengenalan Karakteristik Bencana Dan Upaya Mitigasinya di

Indonesia.

Clark, M.J. (1999). Nursing in the community: dimension of community health nursing. 3rd e

dition. Stamford, Connecticut: Appleton & Lange.

Efendi, F & Makfudli. (2009). Keperawatan kesehatan komunitas: Teori dan praktik dalam

keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Forum keperawatan bencana Keperawatan Bencana, Banda Aceh PMI, Japanese Red Cross.

Jurnal Ilmiah Kesehatan Media Husada volume 01/nomor 01/Agustus 2012

Kumiko Ii, 2007. Discovery and Assessment of the Nursing Needs (Community
Assessment).

20
Hiroko Minami, Aiko Yamamoto (Editorial Supervision): A Disaster Nursing

Learning Text. Japan Nursing Association Publication Society, hlm.28.

Nies, M.A & McEwen, M. (2007). Community/public health nursing: promoting the health
of population. 4th edition. St.Louis, Missouri: Elselvier.

Nurlienda, 2014. Donasi untuk bayi dan anak saat bencana.


Palang Merah Indonesia. (2009). Keperawatan bencana..
Science. Manajemen bencana. http://id.shvoong.com/exact-sciences/earth-sciences/1932953-
manajemen-bencana/ diunduh pada 25 September 2019
Seiko Matsushita, 2004. Characteristics of the damages according to disaster cycle, kinds of
disasters, and objectives for care.Yuko Kuroda, Akiko Sakai (Editorial Supervision):
Disaster Nursing Text – to protect human life and security , Medika Publication, hlm.28.

Tatsue Yamasaki, 2007. The nursing to people who need much support at disaster. Yasushi
Yamamoto (Editorial Supervision): Health promotion at the time of the disaster.
Soudousya, hlm.28-36.

Tim INTC. 2014. Buku Panduan Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS) in Disaster.
Jakarta : CV. Sagung Seto
Yuko Ushio, 2007. Care for victims of the disaster in revival period.Hiroko Minami, Aiko
Yamamoto (Editorial Supervision): A Disaster Nursing Learning Text. Japan

21