Anda di halaman 1dari 7

A.

Perbandingan Sistem dan Praktik Akuntansi Secara Internasional


i. Anglo-Saxon : USA
Akuntansi ini dapat ditemukan di Negara-negara dimana Inggris mempunyai pengaruh
colonial yang kuat ,seperti di Australia, Kanada, Hongkong, India, Irlandia, Kenya,
Selandia Baru, Nigeria, Singapura Afrika Selatan, dan Malaysia.
- Amerika Serikat (USA)
Akuntansi di AS sangat mirip dengan akuntansi di Inggris karena hubungan investasi dan
historis antara kedua Negara tersebut. Perbedaan yang ada disebabkan karena AS
mengadaptasi, bukan mengadopsi, tradisi akuntansi Inggris. Pada abad ini terjadi
perkembangan akuntansi keuangan yang signifikan di AS yang disebabkan oleh
pertumbuhan ekonomi yang pesat. Dengan Securities Exchange Act dibentuk Securities
Exchange Commission (SEC) dengan tugas utama melindungi investor dengan
menjamini ketersediaan informasi yang cukup bagi investor. Tercakup dalam tugas ini
adalah penentuan standar akuntansi yang kemudian didelegasikan kepada FASB yang
dibentuk pada 1973, dengan SEC bertindak sebagai pengawas hanya jika diperlukan.
FASB mempunyai pendekatan yang sangat terbuka dalam penetuan standard. Untuk
membantu merumuskan standar baru dan memperbaiki yang sudah ada, FASB
mengembangkan rerangka konseptual yang menjelaskan tujuan dan karakteristik
kualitatif pelaporan keuangan. AS mempunyai regulasi akuntansi yang lebih
komprehensif, bahkan mungkin paling komprehensif di dunia, paling tidak jika dikaitkan
dengan pasar sekuritas.
ii. Nordic : Belanda
Kelompok ini meliputi Belanda, Denmark, Swedia, dan Finlandia yang mempunyai
anggota UE. Akuntansi Nordic cenderung kurang konservatif dan lebih transparan dari
pada akuntansi Germanic dan akuntansi Negara-negara Latin, tetapi belum setingkat
dengan Negara-negara Anglo-Saxon.
- Belanda
Dalam beberapa hal, akuntansi di Belanda mirip dengan akuntansi di Inggris dan secara
keseluruhan mirip dengan pendekatan Anglo-American. Undang-undang perusahaan dan
profesi akuntansi mempunyai pengaruh besar, dan walaupun jumlah korporasi yang
terdaftar di bursa efek relatif kecil, tetapi tradisi kepemilikan saham oleh publik dan
wawasan bisnis internasional lebih baik dari pada Negara-negara Eropa Kontinental yang
lain. Sejak 1970 pengaruh undang-undang perusahaan berkembang mantap melalui Act
of the Annual Accounts of Enterprises (Undang-undang Laporan Tahunan Perusahaan)
dan Implementasi Instruksi UE ke Empat dan ke Tujuh. Sebuah fitur baru regulasi di
Belanda adalah pasal KUHP yang memperbolehkan pihak-pihak yang terkait, yang
meliputi pemegang saham, karyawan, dewan kerja, dan serikat dagang untuk
mengajukan complain kepada Enterprise Chamber of the Court of Justice di Amsterdam
jika mereka yakin bahwa laporan keuangan tidak sesuai dengan undang-undang.
Mungkin ini cara untuk mempromosikan antara tradisi hukum dan budaya Eropa
Kontinental dan Anglo-American. Sebagai bagian dari UE, Belanda mengadopsi IFRS
untuk korporasi terdaftar yang dimulai tahun 2005.
iii. Germanic : Jerman
Kelompok Negara Germanic meliputi Jerman dan Austria dan juga Israel dan Swiss.
Dalam beberapa hal, kelompok ini berbeda signifikan dengan kelompok Nordic dan
kelompok Anglo-American. Pengaruh perpajakan dan undang-undang perusahaan adalah
paling besar. Akuntansi ini juga mempunyai pengaruh di Prancis, Jepang, dan sejumlah
bekas koloni Eropa di Afrika serta cenderung relatif konservatif dan sekretif (rahasia)
dibanding dengan akuntansi Anglo-American.
- Jerman
Tradisi akuntansi di Jerman memprioritaskan kebutuhan kreditor dan otoritas pajak.
Studi Black dan White (2003) membuktikan bahwa di Jerman item-item neraca seperti
misalnya nilai buku ekuitas lebih value relevant dari pada laba. Sistem hukum di Jerman
sangat dikodifikasi dan prekriptif karena didasarkan atas sitem undang-undang Roma
yang bertentangan sistem hukum umum Anglo-American. Undang-undang pajak Jerman
juga mempunyai pengaruh yang kuat sehingga laporan tahunan menjadi dasar laporan
pajak. Pasar saham Jerman relatif masih kecil, yang mencerminkan kenyataan bahwa
sumber keungan selama ini adalah bank, pemerintah, dan keluarga. Namun demikian,
pasar saham di Jerman menjadi semakin penting, dan banyak MNC Jerman terdaftar di
Negara Eropa lain dan AS. Yang mempengaruhi perilaku pelaporan korporasi dan
mendorong sejumlah disklosur sukarela. German Accounting Standards Board didirikan
mirip dengan FASB di AS, dan Commercial Code direvisi agar laporan konsolidasian
dapat disusun berdasarkan PABU AS atau IFRS. Jerman mengadopsi IFRS untuk
korporasi terdaftar yang dimulai tahun 2005 sebagai bagian dari regulasi UE.
iv. Asian : Jepang
Banyak Negara berkembang di Asia yang merupakan bekas daerah colonial meliputi
Indonesia (bekas jajahan Belanda), India, Pakistan, Hongkong, Singapura, dan Malaysia
(bekas jajahan Inggris) dan Filiphina (bekas jajahan Spanyol dan AS).
- Jepang
Pasar saham di Jepang signifikan, tetapi tradisi akuntansinya lebih mengutamakan
kebutuhan informasi kreditur dan otoritas pajak. Pada tahun 1948, diintroduksi sebuah
undang-undang bursa dan sekuritas yang baru yang modelnya seperti undang-undang
sekuritas AS tahun 1933 dan 1934. Profesi akuntansi di Jepang masih kecil dan kurang
berpengaruh dalam proses penentuan standard akuntansi, tetapi memberikan
rekomendasi dalam aplikasi praktis regulasi akuntansi legal. Pada 2006 terdapat lebih
kurang 30 perusahaan Jepang yang terdaftar di AS yang menyusun laporan keuangan
konsolidasian berdasarkan PABU AS, dan bukannya merekonsiliasi laba dan ekuitas
pemegang saham yang didasarkan pada PABU Jepang. Di Jepang juga telah didirikan
dewan standard akuntansi yang mirip dengan FASB di AS. Jepang sudah mulai
terdorong untuk lebih berpartisipasi di dalam proses penentuan standard akuntansi
internasional.

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan praktek-praktek Akuntansi


Dalam perkembangannya, terdapat banyak dan berbedanya standar akuntansi yang berlaku
sehingga menimbulkan masalah dalam keterbandingan laporan keuangan. Kondisi ini tentu
dapat dipahami karena dalam proses penyusunan standar akuntansi di suatu negara tidak
terlepas dari pengaruh faktor-faktor lokal suatu negara (Wolk et al., 2001: 4) mengatakan
“economic conditions have an impact upon both political factors and accounting theory”. Hal
ini yang menyebabkan standar dan praktik akuntansi di tiap-tiap negara terdapat perbedaan.

 1. Standar Akuntansi


 Standar akuntansi tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan dan kondisi hukum,
sosial dan ekonomi suatu negara tertentu. Hal-hal tersebut menyebabkan suatu standar
akuntansi di suatu negara berbeda dengan di negara lain. Globalisasi yang tampak antara lain
dari kegiatan perdagangan antar negara serta munculnya berbagai perusahaan multinasional
mengakibatkan timbulnya kebutuhan akan suatu standar akuntansi yang berlaku secara luas di
seluruh dunia. Namun, setiap negara memiliki lembaga pengatur standar pelaporan
keuangannya sendiri.
Uni Eropa memiliki International Accounting Standard (IAS) yang dikeluarkan oleh
International Accounting Standard Board (IASB), Amerika Serikat memiliki Generally
Accepted Accounting Principles (GAAP) yang dirilis oleh Financial Accounting Standard
Board (FASB), dan seterusnya. Setiap negara menggunakan standar pelaporan yang sangat
mungkin divergen antara satu dengan yang lain. Tidak ada jaminan bahwa laporan-laporan
keuangan yang disajikan di antara negara-negara yang berbeda tersebut dapat dibaca dengan
bahasa yang sama. Perbedaan standar ini pada ujungnya juga akan menghambat para pelaku
bisnis internasional dalam mengambil keputusan bisnisnya. Sejauh ini yang menjadi leading
dalam standar acuan adalah International Financial Reporting.
Standar akuntansi yang berkualitas sangat penting untuk pengembangan kualitas struktur
pelaporan keuangan global. Standar akuntansi yang berkualitas terdiri dari prinsip-prinsip
komprehensif yang netral, konsisten, sebanding, relevan dan dapat diandalkan serta berguna
bagi investor, kreditor dan pihak lain untuk membuat keputusan alokasi modal (SEC, 2000,
dalam Roberts, et al. 2005). Standar tersebut harus mencangkup:
a. Konsisten dengan kerangka konseptual yang mendasarinya.
b. Jelas dan komprehensif, sehingga standar tersebut dapat dimengerti oleh pembuat laporan
keuangan, auditor yang memeriksa laporan keuangan berdasarkan standar tersebut, oleh
pihak-pihak yang berwenang mengharuskan pemakaian standar tersebut serta para
pengguna informasi yang dihasilkan berdasarkan standar tersebut.
c. Menghindari atau meminimumkan adanya prosedur akuntansi alternatif, baik implisit
maupun eksplisit dengan mengingat faktor comparability dan consistency.

2. Praktek Akuntansi
Kebutuhan dari pemakai laporan keuangan berbeda-beda sebagai contoh, kebutuhan dari
negara-negara common law yaitu Amerika Serikat dan negara-negara persemakmuran Inggris
yang berbeda dengan kebutuhan dari negara-negara code law seperti Perancis, Italia, Jerman,
Spanyol, Belanda (Choi, et al., 1999), dan Akuntansi Perkoperasian di Indonesia yang belum
tentu dibutuhkan di Amerika Serikat (Arja Sadjiarto, 1999). Meskipun banyak kritik terhadap
standar akuntansi internasional, banyak pula dukungan terhadap standar akuntansi
internasional. Hal ini karena beberapa organisasi peminjam internasional mendorong
digunakannya standar akuntansi yang diterima secara internasional dan badan-badan
pengawas pasar modal internasional semakin menuntut penggunan standar akuntansi
internasional. Seperti halnya tekanan dunia internasional untuk mengadopsi standar akuntansi
internasional, sebagai contoh tuntutan Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia yang
mengharuskan standar akuntansi keuangan yang sejalan dengan standar akuntansi
internasional (Asian Development Bank Report, 2003). Standar Akuntansi Internasional oleh
beberapa organisasi tersebut diharapkan dapat mengatur praktik-praktik akuntansi secara
internasional.
Tidak dapat dipungkiri bahwa pengaruh Amerika Serikat dalam kancah Internasional
sangat kuat dalam hampir segala aspek kehidupan, acapkali kita sulit membedakan mana yang
internasional dan mana yang Amerika. Faktanya, dalam dunia akuntansi saat ini standar
akuntansi yang berlaku di Amerika Serikat yang disusun oleh Financial Accounting
Standards Board (FASB) diikuti oleh beberapa negara, baik secara langsung maupun
modifikasi. Sementara Internasional Accounting Standards (IASs), yang dikeluarkan oleh
International Accounting Standards Committee (IASC), belum diikuti oleh semua negara,
bahkan oleh negara-negara anggota yang tergabung dalam IASC tersebut.
Namun sejauh ini yang leading menjadi standar acuan adalah International Financial
Reporting Standards (IFRS) yang dikeluarkan oleh International Accounting Standard Board
(IASB). IASB adalah badan pengatur standar dari International Accounting Standards
Committee Foundation, sebuah lembaga independen nirlaba internasional yang bergerak di
bidang pelaporan keuangan yang berkedudukan di Inggris. Saat ini, lebih dari 100 negara
telah diwajibkan atau membolehkan penerapan IFRS dan diperkirakan akan semakin banyak
negara di dunia menggunakan IFRS. Bahkan 10 negara yang pasar modalnya sudah mendunia
telah melakukan konvergensi ke IFRS, yaitu, Jepang, Inggris, Perancis, Kanada, Jerman,
Hongkong, Spanyol, Switzerland, Australia, termasuk Amerika Serikat sudah menyatakan
akan melakukan konvergensi ke IFRS.
Untuk Indonesia, sejak revisi PSAK tahun 1994, IAI telah memutuskan untuk melakukan
harmonisasi standar PSAK kepada IFRS. Selanjutnya, harmonisasi tersebut diubah menjadi
adopsi yang ditujukan dalam bentuk konvergensi. Sebagai langkah awal, Dewan Standar
Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DASK-IAI) akan mengkonvergensikan
PSAK secara penuh dengan IFRS melalui 3 tahapan, yaitu tahap adopsi, persiapan akhir, dan
implementasi. Tahap adopsi dilakukan pada periode 2008-2011, meliputi aktivitas adopsi
seluruh PSAK ke IFRS, persiapan infrastruktur, dan evaluasi terhadap PSAK yang berlaku.
Dengan demikian, konvergensi PSAK diharapkan dapat meningkatkan kualitas standar
akuntansi keuangan dan mengurangi biaya penyusunan, meningkatkan kredibilitas dan
kegunaan laporan keuangan melalui peningkatan kualitas dan daya banding serta
menyelaraskan dengan pengaturan yang berlaku secara internasional.
DAFTAR PUSTAKA

Sunardi, dan Danang Sunyanto. 2015. Akuntansi Internasional. Yogyakarta : Center for
Academic Publishing Service.