Anda di halaman 1dari 12

PROPOSAL

PROGRAM INOVASI “UPDATE BALUTAN LUKA TRANSPARAN”


PRAKTIK PROFESI MANAJEMEN KEPERAWATAN
DI RUANG SERUNI RSUD Dr.M.YUNUS BENGKULU

DISUSUN OLEH:

Friska Permata Sari S.Tr.Kep


P05120419012

Menyetujui Pembimbing

(Ns. Kheli Fitri Annuril S.Kep.,M.Kep.,Sp.Kep.Mat)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BENGKULU
JURUSAN KEPERAWATAN PRODI PROFESI NERS
T.A 2020/2021
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Luka adalah terputusnya kontinuitas suatu jaringan karena adanya cedera atau
pembedahan (Agustina, 2014). Luka adalah rusaknya kesatuan atau komponen jaringan
dimana secara spesifik terdapat subtansi jaringan yang rusak atau hilang ( Widhiastuti,
2007). Berdasarkan sifat kejadian, luka dibagi menjadi dua yaitu luka disengaja dan luka
tidak disengaja. Luka disengaja misalnya luka terkena radiasi atau bedah, sedangkan luka
tidak disengaja contohnya adalah luka terkena trauma. Luka yang tidak disengaja (trauma)
juga dapat dibagi menjadi luka tertutup dan luka terbuka. Disebut luka tertutup jika tidak
ada robekan, sedangkan luka terbuka jika terjadi robekan dan keliatan seperti luka abrasio
(luka akibat gesekan), luka puncture (luka akibat tusukan), dan hautration (luka akibat alat
perawatan luka) (Hidayat, 2016).

Berdasar uraian-uraian permasalahan pada latar belakang di atas, maka


penting untuk melakukan update pengetahuan terhadap jenis, lokasi dan waktu
injeksi insulin yang efektif terhadap pengendalian kadar gula darah pada penderita
diabetes mellitus. Manfaat diketahuinya jenis, lokasi dan waktu yang efektif dalam
mengendalikan kadar gula darah diharapkan dapat menjadi acuan standar
operasional prosedur tentang pemberian injeksi insulin pada penderita diabetes
mellitus di ruang melati RSUD Dr.M.Yunus Bengkulu.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Melalui program ini, diharapkan dapat menambah wawasan perawat tentang
insulin sehingga kesalahan dalam penyuntikan insulin dapat diminimalkan.
2. Tujuan Khusus
Setelah dilaksanakan program inovasi, diharapkan :
a. Tersedianya poster update insulin di ruang melati RSUD Dr.M.Yunus
Bengkulu
b. Meningkatkan kualitas pelayanan khususnya pelayanan keperawatan dalam
penyuntikan insulin yang tepat pada penderita diabetes mellitus
C. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
a. Menumbuhkan cara berfikir yang inovatif
b. Dapat memahami cara membuat dan menerapkan program inovasi dalam
manajemen keperawatan dan melakukan asuhan keperawatan yang
profesional
2. Bagi Perawat
Perawat lebih mudah dalam bekerja serta mencegah terjadinya kekeliruan
dalam memberikan tindakan keperawatan ke pasien.
3. Bagi Pasien
a. Memberikan perawatan secara profesional dan efektif kepada pasien
b. Memenuhi kebutuhan pasien
4. Bagi Rumah Sakit
Meningkatkan mutu pelayanan di ruangan
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Inovasi
1. Pengertian Insulin
Insulin merupakan hormon yang terbentuk secara alami dan diproduksi
oleh pankreas. Insulin dibutuhkan untuk mengangkut gula dari darah ke dalam
sel-sel tubuh yang kemudian digunakan untuk menghasilkan energi. Gejala-
gejala yang dihasilkan akibat kadar gula tinggi (hiperglikemia) di antaranya
kadar gula tinggi dalam urin, sering buang air kecil, dan sering merasa haus,
sedangkan gejala kadar gula rendah (hipoglikemia) di antaranya tubuh
bergetar, gugup dan resah, keringat dingin, mudah marah, kebingungan, detak
jantung cepat, kepala terasa pusing atau melayang, lapar dan haus, mengantuk,
pandangan buram atau terganggu, kebas pada bibir atau lidah, nyeri kepala,
lemas dan kelelahan, mimpi buruk, kejang, dan hilang kesadaran (Perkeni,
2017)
2. Terapi Insulin
Terapi insulin harus bersifat individual dan diseimbangkan dengan
asupan makanan dan olahraga. Saat pasien mulai menggunakan insulin untuk
mengatasi diabetes, dosis awal hanyalah titik awal. Seiring waktu, kebutuhan
insulin dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kenaikan atau penurunan berat
badan, perubahan kebiasaan makan, dan penambahan obatobatan lainnya.
Kebutuhan insulin sering kali meningkat dan dosis harus diatur ulang untuk
dapat memenuhi kebutuhan kadar insulin baru.
Insulin diinjeksikan secara subkutan (di bawah kulit). Penelitian
menunjukkan bahwa ketebalan kulit (epidermis dan dermis) orang dewasa
berkisar antara 1,8 mm sampai 2,6 mm tidak tergantung pada usia, indeks
massa tubuh (IMT), jenis kelamin maupun ras. Ketebalan jaringan subkutan
berkisar antara 7-19 mm menunjukkan variasi lebih luas, tergantung dari
gender, lokasi penyuntikan dan IMT. Lokasi injeksi umumnya di perut,
bokong, paha, dan lengan. Dengan menggilir lokasi injeksi, pasien dapat
menghindari lipohipertropi, yaitu peningkatan pertumbuhan atau ukuran sel-sel
lemak di bawah kulit. Ketika terjadi lipohipertropi, area di bawah kulit
pada lokasi injeksi menjadi berlemak. Karena itu, untuk memperoleh laju
absorpsi yang baik dan untuk menghindari perubahan pada kulit lokasi injeksi,
penting untuk menggilir lokasi injeksi insulin.
a. Abdomen: hindari menyuntik kurang 1 cm dari umbilicus. Area suntikn
dapat meliputi 1 cm di atas simpisis pubis, 1 cm dari iga paling bawah dan
dinding abdomen bagian lateral
b. Paha: 1/3 atas paha bagian antero lateral
c. Lengan: 1/3 tengah lengan atas bagian posterior
d. Bokong: gunakan area bagian atas lateral, yaitu daerah yang terletak
diantara jari telunjuk dan ibu jari
(Pedoman Teknik Menyuntik Insulin Indonesia, 2017)
3. Jenis-Jenis Insulin
Saat ini di Indonesia tersedia berbagai jenis insulin dan dapat
dikelompokkan berdasarkan:
a. Asal dan cara pembuatan
1) Insulin human
2) Insulin analog
b. Onset (mulai bekerja)
1) Kerja cepat/ rapid acting (insulin analog: aspart, glulisine, insulin mix
analog, lispro)
2) Kerja 30 menit setelah disuntikkan (regular human insulin: Actrapid,
Humulin R, Humulin 30/70)
3) Kerja 1,5 jam setelah disuntikkan (intermediate human insulin:
Humulin N, Insulatard, Insuman basal)
c. Lama kerja
1) Kerja pendek (short acting)
a) Regular human insulin (Humulin R, Insulin human rapid)
b) Analog insulin (Gluisine, lispro)
2) Kerja menengah (intermediate acting): NPH (Humulin N, insuman
basal)
3) Kerja panjang (long acting): detemir (Levemir), glargine (Lantus,
Basaglar)
4) Kerja ultra panjang: degludec (Tresiba)
d. Sediaan
1) Vial
a) Vial yang berisi 5 mL atau 500 unit insulin
b) Vial yang berisi 10 mL atau 1000 unit insulin
2) Pena
Semua jenis pena insulin berisi 3 mL insulin atau 300 unit insulin.
Jenis pena terdiri atas Flexpen, Kwikpen, Solostar, Humapen ergo II,
Novopen 3. (Perkeni, 2017)
4. Penyimpanan Insulin
Insulin yang utuh masih dalam kemasan harus disimpan di lemari es pada
0
suhu 2-8 C sampai pada saatnya digunakan dan dapat digunakan hingga tanggal
kedaluwarsa yang tertera pada label. Jangan pernah menyimpan insulin di dalam
lemari beku (freezer) dan insulin tidak boleh terpapar panas atau sinar matahari
langsung. Setelah dibuka vial insulin dapat disimpan pada suhu ruangan. Hindari
suhu ekstrim seperti meletakkan insulin di tempat yang terpapar sinar matahari,
diatas barang elektronik, dalam bagasi.
Insulin dalam suhu ruangan tidak akan terlalu menyebabkan rasa sakit saat
diinjeksikan. Umumnya, sebagian besar vial insulin baik digunakan selama 28 hari.
Pen sekali pakai harus disimpan pada suhu ruangan setelah digunakan dan baik
digunakan selama 10, 14, 28, atau 42 hari, bergantung jenis insulin. (Forum for
Injection Technique (FIT) Indonesia, 2017)

B. Penelitian Terkait
1. Efektivitas lokasi dan waktu injeksi insulin terhadap pengendalian kadar gula
darah 2 jam setelah makan pada penderita diabetes mellitus
Berdasarkan penelitian Santosa & Rosa tentang efektivitas lokasi dan
waktu injeksi insulin terhadap pengendalian kadar gula darah 2 jam setelah makan
pada penderita diabetes mellitus didapatkan hasil bahwa lokasi injeksi insulin yang
paling efektif untuk mengendalikan kadar gula darah 2 jam setelah makan pada
penderita diabetes mellitus adalah di lokasi abdomen.
Injeksi insulin dilakukan di lokasi yang mempunyai banyak lemak
subkutan (adiposa), oleh karena teknologi yang digunakan oleh preparat insulin
memerlukan lemak untuk dapat didistribusikan dengan baik ke dalam darah.
Penyerapan insulin paling cepat terjadi di daerah abdomen yang kemudian
diikuti oleh daerah deltoid, vastud lateralis dan gluteus. Waktu injeksi insulin
yang paling efektif untuk mengendalikan kadar gula darah 2 jam setelah makan
pada penderita diabetes mellitus adalah pada waktu 0 menit atau bersamaan
dengan makan. Keadaan normal, insulin dalam tubuh akan meningkat seiring
dengan konsumsi makanan dan akan kembali normal dalam 2 jam setelah
makan (Suckale dan Solimena, 2008).
Insulin akan bekerja paling cepat saat disuntikkan ke perut. Insulin akan
masuk ke sistem tubuh sedikit lebih lama jika disuntikkan pada lengan atas. Lebih
lambat lagi jika disuntikkan di kaki atau paha dan paling lambat ketika disuntikkan
di bokong (Misnadiarly, 2006). Responden yang dilakukan injeksi insulin di lokasi
abdomen pada 0 menit atau bersamaan dengan makan, maka insulin akan cepat
diserap oleh tubuh dan akan bekerja sejalan dengan meningkatnya kadar gula darah
akibat proses metabolisme pencernaan tubuh serta akan sama-sama kembali
normal 2 jam sesudahnya. Bila dilakukan pengunduran penyuntikan akan
menyebabkan insulin lebih dulu bekerja dan tidak sejalan dengan peningkatan
kadar gula darah akibat proses metabolisme pencernaan tubuh, akibat lebih dulu
insulin bekerja, maka ia akan lebih dulu pula akan kembali normal dibandingkan
kadar gula darah, sehingga kadar gula darah akan sedikit lebih tinggi pada 2 jam
setelah makan. Peneliti menganalisis bukan hanya cepat atau lambatnya
penyerapan insulin pada tiap lokasi, namun juga karena adanya “penurunan”
penyerapan insulin oleh tubuh
2. Efektivitas waktu injeksi insulin terhadap kadar glukosa darah 2 jam setelah
makan pada pasien diabetes melitus tipe 2
Berdasarkan penelitian Rasyid, dkk (2019) tentang efektivitas waktu
injeksi insulin terhadap kadar glukosa darah 2 jam setelah makan pada pasien
diabetes mellitus tipe 2 didapatkan hasil bahwa pemberian injeksi insulin 0-10
menit lebih efektif dibandingan dengan pemberian injeksi insulin 11-20 menit
sebelum makan pada pasien DM tipe 2.
Responden yang dilakukan injeksi insulin di lokasi abdomen pada 0
menit atau bersamaan dengan makan, maka insulin akan cepat diserap oleh
tubuh dan akan bekerja sejalan dengan meningkatnya kadar gula darah akibat
proses metabolisme pencernaan tubuh serta akan sama-sama kembali normal 2
jam sesudahnya. Bila dilakukan pengunduran penyuntikan akan menyebabkan
insulin lebih dulu bekerja dan tidak sejalan dengan peningkatan kadar gula
darah akibat proses metabolisme pencernaan tubuh, akibat lebih dulu insulin
bekerja, maka ia akan lebih dulu pula akan kembali normal dibandingkan kadar
gula darah, sehingga kadar gula darah akan sedikit lebih tinggi pada 2 jam
setelah makan. Temuan yang didapat dalam penelitian ini, di mana penyuntikan
yang dilakukan bersamaan dengan makan atau 0-10 menit paling efektif untuk
mengendalikan kadar gula darah 2 jam setelah makan, dibandingkan
penyuntikan dengan waktu 11-20 menit sebelum makan.
BAB III

DRAF INOVASI
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Pengelolaan DM tipe 2 bertujuan mengembalikan konsentrasi glukosa
darah senormal mungkin agar penyandang DM tipe 2 merasa nyaman dan sehat
serta mencegah timbulnya komplikasi mikrovaskuler dan makrovaskuler. Salah
satu cara mengendalikan kadar gula darah pada penderita diabetes melitus adalah
dengan memberikan injeksi insulin yang benar: benar dosis, benar cara, benar
waktu dan benar lokasi
Melalui pembuatan program inovasi poster update insulin dapat,
membantu dan memudahkan perawat untuk mengingat teknik penyuntikan insulin
yang tepat. Penting untuk melakukan update pengetahuan terhadap jenis, lokasi
dan waktu injeksi insulin yang efektif terhadap pengendalian kadar gula darah
pada penderita diabetes mellitus. Manfaat diketahuinya jenis, lokasi dan waktu
yang efektif dalam mengendalikan kadar gula darah diharapkan dapat menjadi
acuan standar operasional prosedur tentang pemberian injeksi insulin pada
penderita diabetes.

B. Saran
a. Bagi perawat
Perawat diharapkan dapat memanfaatkan poster update insulin dalam
mengimplementasikan cara penyuntikan insulin yang tepat pada pasien diabetes
melitus
b. Bagi Rumah Sakit
Agar pihak rumah sakit mampu mengaplikasikan update insulin terbaru melalui
media yang lebih baik lagi dalam pelaksanaan manajemen pelayanan
keperawatan di rumah sakit.
DAFTAR PUSTAKA

American Diabetes Association (ADA). (2018). Standar of Medical Care in Diabetes


Mellitus. (M. Matthew C. Riddle, Penyunt.) Diabetes Care, vol 41, S1-S156

PERKENI. (2017). Forum for Injection Technique (FIT) Indonesia: Pedoman Teknik
Menyuntik Insulin Indonesia 2017. Jakarta: PERKENI

Rasyid, dkk. (2019). Efektivitas Waktu Injeksi Insulin Terhadap Kadar Glukosa Darah 2
Jam Setelah Makan Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Jurnal Keperawatan Silampari,
2 (2) 39-52

World Health Organization (WHO). (2016). Global Report on Diabetes. Geneva,


Switzerland: World Health Organization. Retrieved from www.who.int