Anda di halaman 1dari 20

BIOLOGY BASED THEORY EYSENCK

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

“Psikologi Kepribadian 2”

Dosen
Sekar Ayuning Ati

Disusun Oleh:

Kelompok 7

Emilia Mariana 12518245

Maria Kartika K. N. 13518979

Nafla Nadhifa 15518175

KELAS 2PA17

JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS GUNADARMA

2020
DAFTAR ISI

Daftar Isi ......................................................................................................... i

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1


1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................. 1
1.3 Tujuan ................................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................ 3


2.1 Biografi Hans J. Eysenck ....................................................................... 3
2.2 Teori Faktor ............................................................................................. 5
2.3 Dimensi Kepribadian ............................................................................. 6
2.4 Penjelasan Biologis dari Kepribadian .................................................... 9
2.5 Kepribadian sebagai Prediktor ............................................................... 10
2.6 Kritik Terhadap Teori Eysenck ............................................................. 13

BAB III PENUTUP ........................................................................................ 16


3.1 Kesimpulan ............................................................................................ 16

Daftar Pustaka ................................................................................................ 17

Lampiran ........................................................................................................ 18

i
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejauh ini, teori-teori yang telah dikembangkan oleh para tokoh psikologi
mengabaikan atau bahkan membantah dasar biologis dari kepribadian manusia.
McCrae dan Costa adalah salah satu tokoh yang menekankan adanya pengaruh
genetik dan biologis dari kepribadian, yang kemudian sedikit diubah oleh Eysenck.
Eysenck mengembangkan teori faktor sama halnya seperti McCrae dan Costa,
tetapi Eysenck hanya mengembangkan tiga dimensi kepribadian, yaitu—
extraversion/introversion, neuroticism/stability, dan psychoticism/superego.
Kunci dari teori Eysenck adalah bahwa perbedaan antar individu terjadi karena
adanya faktor biologis yang mempengaruhi kepribadian, bukan hanya dari faktor
psikologis. Perbedaan genetik akan menyebabkan perbedaan struktur sistem saraf
pusat, struktur otak, hormon, neurotransmitter, dan lainnya, yang kemudian
menyebabkan perbedaan dalam ketiga dimensi kepribadian.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana biografi dari Hans J. Eysenck?
1.2.2 Bagaimana gambaran teori faktor kepribadian dari Eysenck?
1.2.3 Bagaimana gambaran tiga dimensi kepribadian dari Eysenck?
1.2.4 Bagaimana penjelasan kepribadian dari sudut pandang biologis?
1.2.5 Bagaimana menggunakan kepribadian sebagai suatu prediktor?
1.2.6 Bagaimana kritik terhadap teori Eysenck yang didasarkan faktor biologis?

1.3 Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penulisan dari makalah tentang


tokoh “Hans Jurgen Eysenck” adalah sebagai berikut:
1.3.1 Mengetahui biografi dari Hans J. Eysenck
1.3.2 Mengetahui gambaran teori faktor kepribadian dari Eysenck
1.3.3 Mengetahui gambaran tiga dimensi kepribadian dari Eysenck

1
2

1.3.4 Mengetahui penjelasan kepribadian dari sudut pandang biologis


1.3.5 Mengetahui penggunaan kepribadian sebagai suatu prediktor
1.3.6 Mengetahui kritik terhadap teori Eysenck yang didasarkan faktor biologis
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Biografi Hans J. Eysenck


Hans Jurgen Eysenck lahir di Berlin, pada tanggal 4 Maret 1916. Eysenck
merupakan anak tunggal dari keluarga yang berkecimpung didalam teater.
Ibunya Ruth Werner seorang bintang pada saat Eysenck lahir kemudian
menjadi bintang film bisu Jerman dengan nama panggung Helga Molander,
dan ayah Eysenck Anton Eduard Eysenck merupakan seorang komedian,
penyanyi dan aktor. Eysenck jarang bertemu orang tuanya semenjak perceraian
Eysenck berusia 4 tahun kemudian dia tinggal bersama nenek dari pihak ibunya
yang berkecimpung pada opera teater dan berhenti akibat kecelakaan yang
melumpuhkannya, nenek Eysenck merupakan seorang yang agamis,namun
tidak satupun orang tua Eysenck yang religius dan Eysenck tumbuh menjadi
anak tanpa mempunyai komitmen religius yang kurang, sedikit kedisplinan
serta minimnya kontrol ketat atas perilakunya. Eysenck menderita Depriviasi
seperti kebanyakan warga Jerman akibat Perang Dunia I. Ia memutuskan untuk
tetap mempelajari fisika di University of Berlin saat Hilter memegang
kekuasaan dan Eysenck diberitahu bahwa dia harus bergabung dengan polisi
rahasia Nazi dan Eysenck memutuskan untuk meninggalkan Jerman dan
menetap di Inggris.
Saat dia berusia 18 tahun Eysenck menetap di Inggris dan melanjutkan
belajarnya di Universitas of London jurusan psikologi yang dia pilih karena
faktor kebetulan departemen psikologi universitas tersebut berporos paa pro-
freudian dan penekanan yang kuat pada psikometri Charles Spearman. Eysenck
menerima gelar sarjana pada tahun 1938 dan langsung menikahi Margaet
Davies, seoran wargawan Kanada yang merupakan sarjana matematika,
Eysenck lulus dengan gelar Ph.D. Karena Eysenck merupakan warga negara
Jerman, dan dianggap sebagai musuh dia tidak dibolehkan untuk memasuki
angakatan Royar Air Force maupun cabang lain dalam militer. Kemudian ia
bekerja di Mill Hill Emergency Hospital merawat pasien yang menderita

3
4

beragam gejala psikologis dengan mengemukakan dua faktor utama


kepribadian neurotisme atau stabilitas emosinl ekstraversi dan introversi yang
dapat menjelaskan keseluruhan kelompok diagnostik tradisonal, gagasan
tersebut menjadi latar belakang terbit buku pertamanya "Dimension of
Personality"(Eysenck,1947).
Setelah perang Eysenck menjabat sebagai Direktur Departemen Psikologi
di Maudley Hospital dan pengakar psikologi di University of London. Eysenck
berpergrian ke Amerika Utara untuk menguji program psikologi Amerika
Serikat dan Kanada yang diaanggap tidak akurat dan tidak ilmiah
(Eysenck,1980,1997b). Pada saat kembali ke Inggris Eysenck bercerai dengan
Margaet Davies dan menikahi Silby Rostal seorang psiklog kuantitatif yang
menjadi rekan penulisnya di beberapa buku, anak dari pernikahan pertamanya
Michael seorang penulis artikel dan buku-buku psikologi. Kemudian saat dia
kembali dari Amerika Utara Eysenck mendirikan departemen psikologi kklinis
di University of London dan menjadi profesor psikolgi pada tahun 1995 dan
menulis "The Structure of Human Personality" mengenai kemampuan analisis
faktor untuk menjadi metode terbaik yang mempresentasikan fakta-fakta
tentang kepribadian manusia. Eysenck mungkin penulis yang paling produktif
di psikologi, ia menerbitkan 800 artikel jurnal atau bab dalam buku dan lebih
dari 75 buku beberapa judul buku yang cukup populer seperti: Uses and Abuses
of Psychology (1953), The Psychology of Politics (1954,1999), Sense and
Nonsense in Psychology (1956), Know Your Own IQ (1962), Fact and Fiction
in Psychology (1965), Psychology is About People (1972), You and Neurosis
(1977), Sex,Violance, and The Media (dengan D.K.B Nias,1978), Smoking,
Personality and Stres (1991d) Genius The Natural History of Creativity (1955)
dan Intelligence: A New Look (1998).
Eysenck tidak takut untuk mengambil pendirian yang tidak populer pada
pembelaanya atas kritik Arthur Jensen yang berpendapat bahwa Skor IQ tidak
bisa ditingkatkan secara signifikan memlalui program sosial, karena lebih
banyak ditentukan oleh faktor genetis. Buku Eysenck The IQ Argument
(1971)sangat kontoversial dan mendapat kecaman apabila ada yang
5

menyebarkan.Pada tahun 1983 Eysenck pensiun sebagai profesor di University


of London dan Psikiater di Maudsley and Betlehem Royal Hospital kemudian
Eysenck meninggal pada tanggal 4 September 1997 akibat kanker. Selama
beerapa tahun kemudian penelitiannya berlanjut dan direfleksikan beragam
topik.
Penghargaan yang didapat oleh Eysenck antara lain; Distinguished
Contributions Awards dari International Society for The Study Of Individual
Differences (1991). Distinguished Scients Awards oleh APA (1988),
Presidential Citation for Scientific Contribution (1993),William James Fellow
Award (1994) dan Centennial Award for Distinguished Contributtions to
Clinical Psychology (1996).

2.2 Teori Faktor Eysenck


A. Kriteria untuk Mengidentifikasikan Faktor
1) Kriteria pertama, bukti psikometri bagi keberadaan faktor harus
disusun. Yang terkait dengan kriteria ini adalah faktor harus bisa
diandalkan dan direplikasi. Penelitian lain dari labolatorium lain,
harus juga menemukan suatu faktor, dan para peneliti ini harus
mengidentifikasi secara konsisten ekstraversi, neurotisme, dan
psikotisme Eysenck.
2) Kriteria kedua, adalah faktor juga harus memiliki sifat warisan dan
cocok dengan model genetik yang ada. Kriteria ini mengeliminasi
karakteristik yang dipelajari, seperti kemampuan untuk meniru
pandangan pribadi yang terkenal atau keyakinan agama atau politik
tertentu.
3) Kriteria ketiga, faktor harus masuk akal dari sudut pandang teoretis.
Eysenck menggunakan metode deduktif untuk melakukan
penelitiannya, dimulai dari teori dan kemudian mengumpulkan data
yang secara logis konsisten dengan teori tersebut.
4) Kriteria keempat, kriteria terakhir bagi eksistensi sebuah faktor adalah
faktor harus memiliki relevansi sosial, artinya harus bisa dibuktikan
6

bahwa faktor-faktor yang diperoleh secara matematis memiliki kaitan


(meski tidak selalu kausal). Dengan variabel-variabel yang relevan
secara sosial seperti ketagihan pada obat-obatan, kecerobohan untuk
melukai tanpa sengaja, performa menakjubkan dalam olahraga,
perilaku psikotik, kriminalitas, dan sebagainya.

B. Hirarki Organisasi Perilaku

Ada 4 level dalam pengorganisasian perilaku. Pada level terendah


adalah kognisi atau tindakan spesifik (spesific response), perilaku atau
pikiran individual yang mungkin ataupun tidak merupakan karakteristik
dari seseorang. Contoh, seorang siswa yang menyelesaikan tugas
membaca merupakan salah satu contoh dari respon spesifik. Pada tingkat
kedua adalah tindakan atau kognisi yang umum (habitual response),
respon yang terjadi secara ulang dalam kondisi serupa. Contoh: seorang
siswa bertahan dengan suatu tugas sampai tugas tersebut selesai.

Pada tingkat ketiga adalah Respon umum / sifat (trait) yang


berhubungan akan membentuk suatu sifat. Eyesenk (1981)
mendefinisikan sifat – sifat sebagai “disposisi kepribadian yg permanen
yang penting”. Contoh, siswa akan memiliki sifat tekun apabila mereka
mengerjakan tugas kelas dan terus bekerja pada tugas lain sampai benar -
benar selesai. Eyesenk berkonsentrasi pada Tingkat keempat, yaitu tipe
(types) atau superfaktor, suatu tipe yang terdiri atas beberapa sifat yang
saling berhubungan. Contoh, ketekunan dapat berkaitan dengan
penyesuaian emosional yang buruk, sifat pemalu secara sosial, dll, yang
semuanya dapat membentuk tipe introversi.

2.3 Dimensi Kepribadian


Eysenck mengekstrak tiga superfaktor umum. Ketiga dimensi
kepribadian Eysenck adalah ekstraversi (extraversion- E), neurotisme
(neuroticism N), dan psikotik (psychoticism-P), walaupun ia menegaskan “ada
7

kemungkinan bahwa dimensi lain dapat ditambahkan”. Eysenck menilai ketiga


faktor ini sebagai bagian dari struktur kepribadian normal. Ketiganya bersifat
bipolar, dengan ekstraversi berada dalam salah satu kutub dari faktor E dan
introversi menempati kutub sebaliknya. Faktor N meliputi neurotisme pada
satu kutub dan stabilitas pada kutub lainnya, dan faktor P mempunyai psikotik
dalam satu kutub dan fungsi superego dalam kutub lainnya.

Eysenck berargumen bahwa setiap faktor memenuhi empat kriteria yang ia


berikan untuk mengidentifikasi dimensi kepribadian. Pertama, psikometrik
yang kuat harus ada dalam setiap faktor, terutama faktor E dan N. Faktor P
(psikotik) muncul belakangan. Kedua, dasar biologis yang kuat terdapat dalam
masing-masing superfaktor. Pada saat yang bersamaan, ia menyatakan bahwa
sifat seperti keramahan dan kesadaran, yang merupakan bagian dari taksonomi
lima faktor, tidak mempunyai landasan biologis. Ketiga, tiga dimensi
kepribadian Eysenck masuk akal secara teoretis. Keempat, berulang kali
memperlihatkan bahwa ketiga faktor berkaitan dengan isu sosial, seperti
penggunaan obat-obatan terlarang, perilaku seksual, kriminalitas, pencegahan
kanker dan penyakit jantung, serta kreativitas.

1. Ekstraversi
Ekstraversi dan introversi dipakai pertama kali oleh Jung. Menurut
Jung, ekstraversi adalah orang yang pandangannya objektif dan tidak
pribadi, introversi adalah orang yang pandangannya subjektif dan
individualis. Ekstraversi mempunyai sembilan sifat, yaitu: tidak sosial,
pendiam, pasif, ragu, banyak fikiran, sedih, penurut, pesimis, penakut.
Orang introvers memilih aktivitas yang miskin rangsangan sosial,
seperti membaca, olahraga soliter (main ski, atletik), organisasi
persaudaraan eksklusif. Orang ekstravers memilih berpartisipasi dalam
kegiatan bersama, pesta hura-hura, olahraga beregu (sepakbola, arung
jeram), minum alkohol. Eysenck menghipotesakan ekstrovers melakukan
hubungan seksual lebih awal dan lebih sering, dengan lebih banyak
pasangan, dan dengan perilaku seksual yang lebih bervariasi.
8

2. Neurotisme
Superfaktor kedua yang diekstraksi oleh Eysenck adalah neurotisme/
stabilitas (N). Seperti extraversion / introversion, Factor N memiliki
komponen herediter yang kuat. Eysenck (1967) melaporkan beberapa
penelitian yang telah menemukan bukti dasar genetik untuk sifat neurotik
seperti kecemasan, histeria, dan gangguan obsesif-kompulsif. Selain itu ia
menemukan kesepakatan yang jauh lebih besar di antara kembar identik
daripada di antara kembar fraterna pada sejumlah perilaku antisosial dan
asosial seperti kejahatan dewasa, gangguan perilaku masa kecil,
hornoseksualitas, dan alkoholisme (Eysenck, 1964).
Orang-orang yang mendapat skor tinggi pada neurotisme sering
memiliki kecenderungan untuk bereaksi berlebihan secara emosional dan
mengalami kesulitan untuk kembali ke keadaan normal setelah rangsangan
emosional. Mereka sering mengeluhkan gejala fisik seperti sakit kepala
dan sakit punggung serta masalah psikologis yang tidak jelas seperti
kekhawatiran dan kecemasan. Neurotisme tidak selalu menyarankan
neurosis dalam arti tradisional dari istilah itu, orang dapat memperoleh
skor tinggi pada neurotisme dan terbebas dari gejala psikologis yang
melemahkan.
Eysenck menerima model diatesis-stres dari penyakit kejiwaan, yang
menunjukkan bahwa beberapa orang rentan terhadap penyakit karena
mereka memiliki genetik atau kelemahan yang didapat yang membuat
mereka rentan terhadap penyakit. Eysenck mengasumsikan bahwa orang-
orang di ujung skala N yang sehat memiliki kapasitas untuk melawan
gangguan neurotik bahkan dalam periode stres yang ekstrem. Pencetak
skor N tinggi, bagaimanapun dapat menderita reaksi neurotik pada hasil
dari hanya tingkat minimal stres. Dengan kata lain, semakin tinggi Skor
neurotisme, semakin rendah tingkat stres yang diperlukan untuk
mengendapkan gangguan neurotik. Karena neurotisme dapat
dikombinasikan dengan titik-titik berbeda pada skala ekstraversion, tidak
ada sindrom tunggal yang dapat mendefinisikan perilaku neurotik. Teknik
9

analisis faktor Eysenck mengasumsikan independensi faktor, yang berarti


bahwa skala neurotisme berada pada sudut yang benar (menandakan
korelasi nol) dengan skala ekstraversi. Dengan demikian, beberapa orang
dapat memperoleh skor tinggi pada skala N namun menunjukkan gejala
yang sangat berbeda tergantung pada tingkat introversi atau ekstraversi
mereka.
3. Psikotisisme
Orang yang skor Psikotisismenya yang tinggi memiliki trait agresif,
dingin, egosentrik, implusif, antisocial, tak empatik, kreatif, keras hati.
Sebaliknya orang yang skor Psikotisismenya rendah memiliki trait
merawat/baik hati, hangat, penuh perhatian, akrab, tenang, sangat sosial,
empatik, kooperatif, dan sabar. Orang yang variable psikotisismenya
tinggi tidak harus psikotik, tetapi mereka mempunyai kecenderungan
untuk mengidap stress yang rendah, skor P yang tinggi mungkin masih
bisa berfungsi normal, tetapi ketika mengalami stress yang berat, orang
menjadi psikotik yang ketika setress yang berat itu sudah lewat, fungsi
normal kepribadian sulit untuk diraih kembali.

2.4 Penjelasan Biologis dari Kepribadian


Menurut Eysenck, faktor kepribadian P, E, dan N sama-sama mempunyai
determinan biologis yang kuat. Ia memperkirakan hampir tiga perempat
varians dari ketiga dimensi kepribadian tersebut dapat dijelaskan oleh
hereditas, dan hampir seperempatnya oleh faktor lingkungan. Dalam teori
kepribadian Eysenck, psikotik, ekstraversi, dan neurotisme akan dikenal dua
macam hal yaitu:
a. Anteseden (Antecedents): Anteseden bersifat genetis dan biologis
b. Konsekuensi (Consequences): konsekuensi meliputi variabel
eksperimental, seperti pengalaman pengondisisan, sensitivitas, dan
ingatan, juga perilakusosial seperti kriminalitas, kreativitas,
psikopatologidan perilaku seksual.
10

Bagan dibawah ini menunjukkan model pembentukan kepribadian


menurut Eysenck:

Distal antecedents Proximal antecedents Proximal Distal consequences


consequences

• DNA • Limbic system • P • Conditioning • Sociability


arousal • E • Sensitivity • Criminality
• N • Vigilance • Creativity
• Perception • Psychopathology
• Memory • Sexual behaviour
• Reminiscence

Dari bagan tersebut dapat disimpulkan bahwa distal antecedents berupa


DNA dan proximal antecedents berupa sistem limbik mempengaruhi ketiga
dimensi kepribadian (psychotism, extraversion-introversion, dan neuroticism),
kemudian ketiga dimensi kepribadian akan mempengaruhi proximal
consequences dan akan mempengaruhi distal consequences yaitu perilaku-
perilaku seperti perilaku sosial, kriminalitas, kreativitas, dan lainnya.

2.5 Kepribadian sebagai Prediktor


A. Kepribadian dan kebiasaan
Apakah tiga dimensi kepribadian umum Eysenck meramalkan
perilaku? Teori Eysenck mengasumsikan bahwa extraversion adalah
produk dari arousability kortikal yang rendah. Oleh karena itu, introvert
dibandingkan dengan ekstrovert harus lebih sensitif terhadap berbagai
rangsangan dan kondisi belajar. Eysenck (1997) berpendapat bahwa teori
kepribadian yang efektif harus memprediksi konsekuensi proksimal dan
distal. Eysenck (1997) lebih lanjut berpendapat bahwa banyak studi
psikologi telah mencapai kesimpulan yang salah karena mereka telah
mengabaikan faktor-faktor kepribadian. Misalnya studi dalam pendidikan
yang membandingkan efektivitas pembelajaran penemuan dan
pembelajaran penerimaan tradisional telah sering menghasilkan
baik perbedaan yang bertentangan atau tidak ada perbedaan. Eysenck
percaya bahwa studi ini tidak mempertimbangkan bahwa anak-anak yang
lebih diutamakan lebih suka dan lebih baik dengan pembelajaran
penemuan yang lebih aktif, sedangkan anak-anak yang introvert lebih suka
11

dan lebih baik dengan pembelajaran penerimaan yang lebih pasif. Dengan
kata lain, ada interaksi antara dimensi kepribadian dan gaya belajar.
Namun, ketika penyelidik mengabaikan faktor personalitas ini, mereka
mungkin tidak menemukan perbedaan dalam keefektifan komparatif dari
penemuan versus penerimaan gaya belajar. Eysenck (1995) juga
berhipotesis bahwa psikotisme (P) terkait dengan kejeniusan dan
kreativitas. Sekali lagi, hubungannya tidak sederhana. Banyak anak
memiliki kemampuan kreatif tidak sesuai dan memiliki ide-ide yang tidak
lazim tetapi mereka tumbuh menjadi orang yang tidak kreatif. Eysenck
menemukan bukti bahwa orang-orang ini tidak memiliki skor pencetak P
tinggi. Anak-anak dengan potensi kreatif yang sama yang juga tinggi
dalam psikotisme (P) mampu menolak kritik dari orang tua dan guru dan
muncul sebagai orang dewasa yang kreatif. Demikian pula, Eysenck dan
S. B. G. Eysenck (1975) melaporkan bahwa baik pencetak skor P tinggi
dan pencetak skor E tinggi cenderung menjadi pembuat onar sebagai anak-
anak. Namun, orang tua dan guru cenderung menganggap anak-anak
ekstra sebagai anak nakal yang menarik dan memaafkan kesalahan
mereka, sedangkan mereka melihat pencetak angka P tinggi sebagai lebih
pendendam, mengganggu, dan tidak bisa dicintai. Dengan demikian,
pembuat onar dengan skor E tinggi cenderung tumbuh menjadi orang
dewasa yang produktif, sedangkan pembuat onar dengan skor P tinggi
cenderung terus mengalami masalah belajar, terlibat dalam kejahatan, dan
memiliki kesulitan menjalin pertemanan (S. Eysenck, 1997). Sekali lagi,
Eysenck sangat percaya bahwa psikolog dapat tersesat jika mereka tidak
mempertimbangkan berbagai kombinasi dimensi kepribadian dalam
melakukan penelitian mereka.
B. Kepribadian dan penyakit
Dapatkah faktor kepribadian memprediksi kematian akibat kanker dan
penyakit kardiovaskular (CVD)? Dimulai pada awal 1960-an, Eysenck
mencurahkan banyak perhatian pada pertanyaan ini. Ia dan David Kissen
(Kissen & Eysenck, 1962) menemukan bahwa orang-orang yang memiliki
12

skor rendah pada neurotisme (N) pada Maudsley Personality Inventory


cenderung menekan emosi mereka dan jauh lebih mungkin dibandingkan
pencetak skor N tinggi untuk menerima diagnosis kanker paru-paru
kemudian.
Kemudian, Eysenck bekerja sama dengan dokter dan psikolog
Yugoslavia Ronald Grossarth-Maticek (Eysenck & Grossarth-Maticek,
1991; Grossarth-Matick & Evsenck, 1989; Grossarth-Maticek, Eysenck,
& Vetter, 1988) untuk menyelidiki tidak hanya hubungan antara
kepribadian dan kepribadian penyakit, tetapi juga efektivitas terapi
perilaku untuk memperpanjang hidup pasien kanker dan CVD. Grossarth-
Maticek telah menggunakan kuesioner pendek dan wawancara pribadi
yang panjang untuk menempatkan orang ke dalam satu dari empat
kelompok atau tipe. Tipe I termasuk orang-orang dengan reaksi non-
emosional yang tanpa harapan / tidak berdaya terhadap stres; Orang tipe
II biasanya bereaksi terhadap frustrasi dengan kemarahan, agresi, dan
rangsangan emosional; Tipe IIl orang yang ambivalen, bergeser dari
reaksi khas orang Tipe I ke reaksi khas Tipe Il dan kemudian kembali
lagi; Individu tipe IV menganggap otonomi mereka sendiri sebagai
kondisi penting bagi kesejahteraan dan kebahagiaan pribadi
mereka. Dalam penelitian asli di Yugoslavia, orang tipe I lebih mungkin
meninggal karena kanker, dan orang tipe II lebih mungkin meninggal
karena penyakit jantung. Orang tipe III dan tipe IV memiliki tingkat
kematian yang sangat rendah baik karena kanker atau CVD. Grossarth-
Maticek, Eysenck, dan Vetter mereplikasi penelitian ini di Heidelberg,
Jerman, dan menemukan hasil yang sangat mirip.
Seperti Eysenck (1996) dan penelitian lain pada hubungan antara
kepribadian dan penyakit tidak membuktikan bahwa faktor psikologis
menyebabkan kanker dan penyakit jantung. Sebaliknya, penyakit ini
disebabkan oleh interaksi banyak faktor. Untuk penyakit kardiovaskular,
faktor-faktor ini termasuk riwayat keluarga, usia, jenis kelamin, etnis latar
belakang, hipertensi, rasio yang tidak menguntungkan dari kolesterol total
13

terhadap lipoprotein densitas tinggi (HDL), merokok, diet, gaya hidup


tidak aktif, dan beberapa faktor kepribadian. Untuk kanker, risikonya
termasuk merokok, diet, alkohol, praktik seksual, sejarah keluarga, latar
belakang etnis, dan faktor kepribadian (Brannon & Feist, 2007). Eysenck
(1996) berpendapat bahwa merokok saja tidak menyebabkan kanker atau
CVD, tetapi ketika dikombinasikan dengan faktor stres dan kepribadian,
itu membantu berkontribusi terhadap kematian dari kedua penyakit
ini. Misalnya, Eysenck dan rekan-rekannya. (Marusic, Gudjonsson,
Eysenck, & Starc, 1999) mengembangkan model biopsikososial yang
kompleks untuk penyakit jantung yang mencakup 11 faktor biologis dan 7
faktor psikososial. Penelitian mereka dengan pria di Republik Slovenia
mendukung hipotesis bahwa faktor kepribadian berinteraksi dengan
berbagai faktor biologis untuk berkontribusi pada penyakit jantung. Salah
satu interaksi tersebut adalah untuk merokok, neurotisme, dan reaktivitas
emosional; yaitu, pencetak angka P tinggi yang merokok dan yang
bereaksi terhadap stres dengan amarah, permusuhan, dan agresi
meningkatkan risiko penyakit jantung.

2.6 Kritik Terhadap Teori Eysenck


1. Apakah teori yang didasarkan Eysenk menghasilkan penelitian? Dalam
kriteria ini, teori Eysenk diberikan nilai yang tinggi. Gambar pada subbab
Dasar Biologis Kepribadian menunjukkan tingkat komprehensif (menerima
dengan baik) teori kepribadian Eysenck. Bentuk kotak ditengah
mempresentasikan sifat psikometri teori Eysenck, yaitu psikotik, ekstaversi,
dan neurotisme. Landasan genetis dan biologis dari perilaku
direpresentasikan oleh kedua kotak disisi kiri, sementara beberapa
konsekuensi atau hasil dari penelitian Eysenck dapat ditemukan dalam 2
kotak di sisi kanan. Arean penelitian dalam perilaku sosial ditunjukkan
dalam kotak yang berada diujung kanan meliputi topik, seperti kemampuan
bersosialisasi, kriminalitas, kreativitas, psikopatologi, dan perilaku seksual.
14

Eysenck dan rekan-rekannya melaporkan jumlah penelitian yang cukup


signifikan dalam ranah penelitian ini dan yang lainnya.
2. Apakah teori sifat dan faktor dapat dikaji ulang? Dalam kriteria ini, teori
sifat dan faktor mendapatkan nilai menengn hingga tinggi. Kebanyakan
hasil dari penelitian Eysenck‒misalnya, penelitiannya akan kepribadian dan
penyakit‒belum pernah direplikasi oleh peneliti lainnya. Oleh karena teori
biologisnya merupakan prediksi yang spesifik maka teorinya dapat dikaji
ulang. Namun hasilnya bervariasi, beberapa prediksi konfirmasi
(contohnya, kegairahan optimal) dan beberapa tidak dikonfirmasi
(contohnya, kecepatan pemprosesan kognitif).
3. Teori sifat dan faktor dinilai tinggi dalam kemampuannya mengorganisasi
pengetahuan. Karena model kepribadian Eysenck adalah satu dari sedikit
teori yang benar-benar mempertimbangkan aspek biologis maka teori
Eysenck adalah satu dari satu-satunya teori yang dapat menjelaskan
observasi bahwa individu berbeda dalam hal perilaku ketika lahir dan faktor
genetik kurang lebih berperan pada sebagian besar variabilitas dalam
perbedaan individu.
4. Teori yang bermanfaat mempunyai kekuatan untuk mengarahkan tindakan
praktisi, dan dalam kriteria ini, teori biologis emndapatkan peringkat yang
rendah. Meskipun teori ini menjelaskan asal dari perbedaan kepribadian
dengan baik, teori ini tidak mampu memberikan panduan praktis bagi guru,
orang tua, dan bahkan konselor.
Apakah teori sifat dan faktor konsisten secara internal? Penilaiannya belum
mempunyai suara yang bulat. Teori Eysenck dan pendukung Lima Besar,
masing-masing adalah suatu model megenai konsistensi, namun kedua teori
dilihat bersamaan akan menjadi tidak konsisten. Ketidakkonsistenan ini
memunculkan masalah, terutama karena analisis faktor adalah prosedur
matematis yang pasti dan teori faktor sangat empiris.
5. Kriteria terakhir dari teori yang bermanfaat adalah kesederhanaan. Seperti
model Lima Faktor MrCrae dan Costa, model keporibadian Eysenck juga
didasarkan pada analisis faktor, dan dengan demikian, teori Eysenck
15

memiliki penjelasan kepribadian yang sangat ringkas. Memang hanya 3


aspek utama, model eysenck secara umum lebih ringkas dibandingkan
pendekatan Lima-Faktor.
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Tiga dimensi kepribadian Eysenck adalah Ekstraversi (E), Neurotisme (N),


dan Psikotik (P).
Eysenck berargumen bahwa setiap faktor memenuhi empat kriteria yang ia
berikan untuk mengidentifikasikan dimensi kepribadian.
Pertama, bukti psikometrik yang kuat harus ada dalam setiap faktor, terutama
faktor E dan N. Faktor P mencul belakangan dalam studi yang dilakukan Eysenck,
namun tidak terlalu diperhatikan dengan serius oleh peneliti lain sampai pada
pertengahan tahun 1990-an.
Kedua, Eysenck berargumen bahwa dasar biologis yang kuat terdapat dalam
masing-masing superfaktor tersebut.
Ketiga, tiga dimensi kepribadian Eysenck masuk akal secara teoretis. Carl Jung dan
yang lainnya telah melihat efek yang berpengaruh dari perilaku ekstraversi dan
introversi (faktor E), dan Sigmund freud menekankan pentingnya kecemasan
(faktor N) dalam pembentukan perilaku. Selain itu, psikotik (faktor P) selaras
dengan para pakar teori seperti Abraham Maslow, yang menggegas bahwa
kesehatan psikologis mencakup dari aktualisasi diri skor P rendah) sampai
skozofrenia dan psikosis (skor P tinggi).
Teori sifat Eysenck menekankan peran herediter sebagai faktor penentu
dalam perolehan sifat tiga faktor, yakni ekstraversi, neurotisisme dan psikotisisme.
Sebagian didasarkan pada bukti hubungan korelasional antara aspek biologis,
seperti CAL (Cortical Arousal Level) dengan dimensi-dimensi kepribadian.

16
DAFTAR PUSTAKA

Feist, J. & Feist., G. 2010. Theories of Personality 9th Edition. Boston:


McGraw Hill.

Suryabrata, Sumadi. 1985. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali.

17
LAMPIRAN

1. Ciri khas teori Eysenck adalah adanya penekanan …… dari kepribadian.


A. Psikologis C. Sosiologis
B. Biologis D. Antropologis

2. Tiga dimensi kepribadian menurut Eysenck adalah sebagai berikut, kecuali…


A. Extraversion-Introversion C. Neuroticism
B. Psychoticism D. Facism

3. Eysenck berpendapat bahwa teori kepribadian yang efektif harus memprediksi


konsekuensi…
A. Lateral dan medial C. Lateral dan distal
B. Proksimal dan distal D. Proksimal dan medial

4. Menurut Grossarth-Maticek, orang yang biasanya bereaksi terhadap frustrasi


dengan kemarahan, agresi, dan rangsangan emosional termasuk ke dalam tipe…
A. IV C. II
B. III D. I

5. Dalam hirarki organisasi perilaku terdapat empat level, level yang ke 3 yaitu...
A. Traits C. Type
B. Spesific response D. Habitual response

18

Anda mungkin juga menyukai