Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN PENDAHULUAN DAN STRATEGI

PELAKSANAAN PADA PASIEN GANGGUAN ALAM


PERASAAN (DEPRESI)

Oleh:

NI KADEK DIAN INLAM SARI (P07120214018)

DIV KEPERAWATAN TINGKAT 3 SEMESTER V

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2016/2017
LAPORAN PENDAHULUAN DAN STRATEGI
PELAKSANAAN PADA PASIEN GANGGUAN ALAM
PERASAAN (DEPRESI)

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Definisi Depresi
Depresi merupakan gangguan mental yang serius yang ditandai
dengan perasaan sedih dan cemas. Gangguan ini biasanya akan
menghilang dalam beberapa hari tetapi dapat juga berkelanjutan yang
dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari (National Institute of Mental
Health, 2010).
Menurut WHO, depresi merupakan gangguan mental yang ditandai
dengan munculnya gejala penurunan mood, kehilangan minat terhadap
sesuatu, perasaan bersalah, gangguan tidur atau nafsu makan, kehilangan
energi, dan penurunan konsentrasi Depresi dapat diartikan sebagai suatu
reaksi yang berlebihan terhadap suatu kejadian yang menjadi pemicunya.
Depresi juga dapat diartikan suatu jenis alam perasaan atau emosi yang
disertai komponen psikologik : rasa susah, murung, sedih, putus asa dan
tidak bahagia, serta komponen somatik: anoreksia, konstipasi, kulit
lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit
menurun.Depresi biasanya terjadi saat stress yang dialami oleh seseorang
tidak kunjung reda. Depresi yang dialami ini berkolerasi dengan kejadian
dramatis yang baru saja terjadi atau menimpa seseorang. Pada umumnya,
mood yang secara dominan muncul adalah perasaan tidak berdaya dan
kehilangan harapan.
Depresi adalah kata yang memiliki banyak nuansa arti. Sebagian besar
diantara kita pernah merasa sedih atau jengkel, menjalani kehidupan yang
penuh masalah, merasa kecewa, kehilangan dan frustasi, yang dengan
mudah menimbulkan ketidakbahagiaan dan keputusasaan. (World Health
Organization, 2010).
2. Penyebab/Faktor Predisposisi
a. Faktor biologis
Banyak penelitian menjelaskan adanya abnormalitas biologis pada
pasien-pasien dengan gangguan mood. Pada penelitian akhir-akhir ini,
monoamine neurotransmitter seperti norephinefrin, dopamin,
serotonin, dan histamin merupakan teori utama yang menyebabkan
gangguan mood (Kaplan, et al, 2010).
b. Biogenic amines
Norephinefrin dan serotonin merupakan dua neurotransmitter yang
paling berperan dalam patofisiologi gangguan mood.
1) Norephinefrin
Hubungan norephinefrin dengan gangguan depresi berdasarkan
penelitian dikatakan bahwa penurunan regulasi atau penurunan
sensitivitas dari reseptor α2 adrenergik dan penurunan respon
terhadap antidepressan berperan dalam terjadinya gangguan
depresi (Kaplan, et al, 2010).
2) Serotonin
Penurunan jumlah dari serotonin dapat mencetuskan terjadinya
gangguan depres, dan beberapa pasien dengan percobaan bunuh
diri atau megakhiri hidupnya mempunyai kadar cairan
cerebrospinal yang mengandung kadar serotonin yang rendah dan
konsentrasi rendah dari uptake serotonin pada platelet (Kaplan, et
al, 2010).
Penggunaan obat-obatan yang bersifat serotonergik pada
pengobatan depresi dan efektifitas dari obat-obatan tersebut
menunjukkan bahwa adanya suatu teori yang berkaitan antara
gangguan depresi dengan kadar serotonin.
3) Gangguan neurotransmitter lainnya
Ach ditemukan pada neuron-neuron yang terdistribusi secara
menyebar pada korteks cerebrum. Pada neuron-neuron yang
bersifat kolinergik terdapat hubungan yang interaktif terhadap
semua sistem yang mengatur monoamine neurotransmitter. Kadar
choline yang abnormal yang dimana merupakan prekursor untuk
pembentukan Ach ditemukan abnormal pada pasien-pasien yang
menderita gangguan depresi (Kaplan, et al, 2010).
4) Faktor neuroendokrin
Hormon telah lama diperkirakan mempunyai peranan penting
dalam gangguan mood, terutama gangguan depresi. Sistem
neuroendokrin meregulasi hormon-hormon penting yang berperan
dalam gangguan mood, yang akan mempengaruhi fungsi dasar,
seperti : gangguan tidur, makan, seksual, dan ketidakmampuan
dalam mengungkapkan perasaan senang. 3 komponen penting
dalam sistem neuroendokrin yaitu : hipotalamus, kelenjar pituitari,
dan korteks adrenal yang bekerja sama dalam feedback biologis
yang secara penuh berkoneksi dengan sistem limbik dan korteks
serebral (Kaplan, et al, 2010).
5) Abnormalitas otak
Studi neuroimaging, menggunakan computerized tomography
(CT) scan, positron-emission tomography (PET), dan magnetic
resonance imaging (MRI) telah menemukan abnormalitas pada 4
area otak pada individu dengan gangguan mood. Area-area
tersebut adalah korteks prefrontal, hippocampus, korteks cingulate
anterior, dan amygdala. Adanya reduksi dari aktivitas metabolik
dan reduksi volume dari gray matter pada korteks prefrontal,
secara partikular pada bagian kiri, ditemukan pada individu
dengan depresi berat atau gangguan bipolar (Kaplan, et al, 2010).
6) Susunan kimia otak dan tubuh
Beberapa bahan kimia di dalam otak dan tubuh memegang
peranan yang besar dalam mengendalikan emosi kita. Pada orang
yang depresi ditemukan adanya perubahan dalam jumlah bahan
kimia tersebut. Hormon adenalin yang memegang peranan utama
dalam mengendalikan otak dan aktivitas tubuh, tampaknya
berkurang pada mereka yang mengalami depresi. Pada wanita,
perubahan hormon dihubungkan dengan kelahiran anak dan
menopause juga dapat meningkatkan risiko terjadinya depresi.
7) Faktor Psikososial
Penyebab depresi adalah kehilangan objek yang dicintai. Ada
sejumlah faktor psikososial yang diprediksi sebagai penyebab
gangguan mental pada lanjut usia yang pada umumnya
berhubungan dengan kehilangan. Faktor psikososial tersebut
adalah hilangnya peranan sosial, hilangnya otonomi, kematian
teman atau sanak saudara, penurunan kesehatan, peningkatan
isolasi diri, keterbatasan finansial, dan penurunan fungsi kognitif.
Faktor psikososial meliputi penurunan percaya diri, kemampuan
untuk mengadakan hubungan intim, penurunan jaringan sosial,
kesepian, perpisahan, kemiskinan dan penyakit fisik.
Faktor psikososial yang mempengaruhi depresi meliputi:
peristiwa kehidupan dan stressor lingkungan, kepribadian,
psikodinamika, kegagalan yang berulang, teori kognitif dan
dukungan sosial.
Peristiwa kehidupan dan stresor lingkungan. Peristiwa
kehidupan yang menyebabkan stres, lebih sering mendahului
episode pertama gangguan mood dari episode selanjutnya. Para
klinisi mempercayai bahwa peristiwa kehidupan memegang
peranan utama dalam depresi, klinisi lain menyatakan bahwa
peristiwa kehidupan hanya memiliki peranan terbatas dalam onset
depresi. Stressor lingkungan yang paling berhubungan dengan
onset suatu episode depresi adalah kehilangan pasangan. Stressor
psikososial yang bersifat akut, seperti kehilangan orang yang
dicintai, atau stressor kronis misalnya kekurangan finansial yang
berlangsung lama, kesulitan hubungan interpersonal, ancaman
keamanan dapat menimbulkan depresi.
Faktor kepribadian. Beberapa ciri kepribadian tertentu yang
terdapat pada individu, seperti kepribadian dependen, anankastik,
histrionik, diduga mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya
depresi. Sedangkan kepribadian antisosial dan paranoid
(kepribadian yang memakai proyeksi sebagai mekanisme defensif)
mempunyai resiko yang rendah.
Faktor psikodinamika. Berdasarkan teori psikodinamika Freud,
dinyatakan bahwa kehilangan objek yang dicintai dapat
menimbulkan depresi. Dalam upaya untuk mengerti depresi,
adalah suatu hubungan antara kehilangan objek dan melankolia. Ia
menyatakan bahwa kekerasan yang dilakukan pasien depresi
diarahkan secara internal karena identifikasi dengan objek yang
hilang. Freud percaya bahwa introjeksi mungkin merupakan cara
satu-satunya bagi ego untuk melepaskan suatu objek, ia
membedakan melankolia atau depresi dari duka cita atas dasar
bahwa pasien terdepresi merasakan penurunan harga diri yang
melanda dalam hubungan dengan perasaan bersalah dan mencela
diri sendiri, sedangkan orang yang berkabung tidak demikian.
Kegagalan yang berulang. Dalam percobaan binatang yang
dipapari kejutan listrik yang tidak bisa dihindari, secara berulang-
ulang, binatang akhirnya menyerah tidak melakukan usaha lagi
untuk menghindari. Disini terjadi proses belajar bahwa mereka
tidak berdaya. Pada manusia yang menderita depresi juga
ditemukan ketidakberdayaan yang mirip.
Faktor kognitif. Adanya interpretasi yang keliru terhadap
sesuatu, menyebabkan distorsi pikiran menjadi negatif tentang
pengalaman hidup, penilaian diri yang negatif, pesimisme dan
keputusasaan. Pandangan yang negatif tersebut menyebabkan
perasaan depresi.
8) Faktor usia
Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa golongan usia
muda yaitu remaja dan orang dewasa lebih banyak terkena depresi.
Hal ini dapat terjadi karena pada usia tersebut terdapat tahap-tahap
serta tugas perkembangan yang penting, yaitu peralihan dari masa
anak-anak kemasa remaja, remaja ke dewasa, masa sekolah ke
masa kuliah atau bekerja, serta masa pubertas hingga ke
pernikahan. Namun sekarang ini usia rata-rata penderita depresi
semakin menurun, yang menunjukkan bahwa remaja dan anak-
anak semakin banyak yang terkena depresi. Survei masyarakat
terakhir melaporkan adanya prevalensi yang tinggi dari gejala-
gejala depresi pada golongan usia dewasa muda yaitu 18-44 tahun.
9) Gender
Wanita dua kali lebih sering terdiagnosis menderita depresi
daripada pria. Bukan berarti wanita lebih mudah terserang depresi,
bisa saja karena wanita lebih sering mengakui adanya depresi
daripada pria. Dan dokter lebih dapat mengenali depresi pada
wanita. Bagaimanapun, tekanan pada wanita yang mengarahkan
pada depresi. Misalnya, seorang diri dirumah dengan anak-anak
kecil lebih jarang ditemui pada pria daripada wanita. Ada juga
perubahan hormonal dalam siklus menstruasi yang berhubungan
dengan kehamilan dan kelahiran dan juga menopause yang
membuat wanita lebih rentan menjadi depresi atau menjadi
pemicu penyakit depresi.
10) Gaya hidup
Banyak kebiasaan dan gaya hidup tidak sehat berdampak pada
penyakit misalnya penyakit jantung juga dapat memicu kecemasan
dan depresi. Tingginya tingkat stress dan kecemasan digabung
dengan makanan yang tidak sehat dan kebiasaan tidur serta tidak
olahraga untuk jangka waktu yang lama dapat menjadi faktor
beberapa orang yang mengalami depresi penelitian menunjukkan
bahwa kecemasan dan depresi berhubungan dengan gaya hidup
yang tidak sehat pada pasien berisiko penyakit jantung. Gaya
hidup yang tidak sehat misalnya tidur tidak teratur, makan tidak
teratur, pengawet dan pewarna buatan, kurang  berolahraga,
merokok, dan minum-minuman keras.
11) Penyakit fisik
Penyakit fisik dapat menyebabkan depresi. Perasaan terkejut
karena mengetahui kita memiliki penyakit serius dapat
mengarahkan pada hilangnya kepercayaan diri dan penghargaan
diri, juga depresi. Alasan terjadinya depresi cukup kompleks.
Misalnya, depresi sering terjadi setelah serangan jantung, mungkin
karena seseorang merasa mereka baru saja mengalami kejadian
yang dapat menyebabkan kematian atau karena mereka tiba-tiba
menjadi orang yang tidak berdaya. Pada individu lanjut usia,
penyakit fisik adalah penyebab yang paling umum terjadinya
depresi.
12) Sinar matahari
Kebanyakan dari kita merasa lebih baik dibawah sinar
matahari daripada mendung, tetapi hal ini sangat berpengaruh
pada beberapa individu. Mereka baik-baik saja ketika musim
panas tetapi menjadi depresi ketika musim dingin. Mereka disebut
menderita seasonal affective disorder (SAD).
13) Kepribadian
Aspek-aspek kepribadian ikut pula mempengaruhi tinggi
rendahnya depresi yang dialami serta kerentanan terhadap depresi.
Ada individu-individu yang lebih negative, pesimis, juga tipe
kepribadian.
14) Obat-obatan
Beberapa obat-obatan untuk pengobatan dapat menyebabkan
depresi. Namun bukan berarti obat tersebut menyebabkan depresi,
dan menghentikan pengobatan dapat lebih berbahaya daripada
depresi.
15) Obat-obatan terlarang
Marijuana/Ganja, Heroin/ Putauw, Kokain, Ekstasi dan Sabu-sabu.
(Pravita,Brian. Askep Lp Depresi)
3. Pohon Masalah
Depresi disebabkan oleh banyak faktor antara lain : faktor heriditer
dan genetik, faktor konstitusi, faktor kepribadian pramorbid, faktor fisik,
faktor psikobiologi, faktor neurologik, faktor biokimia dalam tubuh,
faktor keseimbangan elektrolit dan sebagainya.
Depresi biasanya dicetuskan oleh trauma fisik seperti penyakit infeksi,
pembedahan, kecelakaan, persalinan dan sebagainya, serta faktor psikik
seperti kehilangan kasih sayang atau harga diri dan akibat kerja keras.
Depresi merupakan reaksi yang normal bila berlangsung dalam waktu
yang pendek dengan adanya faktor pencetus yang jelas, lama dan
dalamnya depresi sesuai dengan faktor pencetusnya. Depresi merupakan
gejala psikotik bila keluhan yang bersangkutan tidak sesuai lagi dengan
realitas, tidak dapat menilai realitas dan tidak dapat dimengerti oleh orang
lain.
Penyebab depresi terbagi menjadi beberapa aspek menurut Beck yaitu :
1. Aspek Yang Dimanifestasikan Secara Emosional
a) Perasaan kesal atau patah hati (dejected mood); perasaan ini
menggambarkan keadaan sedih, bosan dan kesepian yang dialami
individu. Keadaan ini bervariasi dari kesedihan sesaat hingga
kesedihan yang terus - menerus.
b) Perasaan negatif terhadap diri sendiri ; perasaan ini mungkin
berhubungan dengan perasaan sedih yang dijelaskan di atas,
hanya bedanya perasaan ini khusus ditujukan kepada diri sendiri.
c) Hilangnya rasa puas ; maksudnya ialah kehilangan kepuasan
atas apa yang dilakukan. Perasaan ini dapat terjadi pada setiap
kegiatan yang dilakukan termasuk hubungan psikososial, seperti
aktivitas yang menuntut adanya suatu tanggung jawab.
d) Hilangnya keterlibatan emosional dalam melakukan pekerjaan
atau hubungan dengan orang lain ; keadaan ini biasanya disertai
dengan hilangnya kepuasan diatas. Hal ini dimanifestasikan
dalam aktivitas tertentu, kurangnya perhatian atau rasa
keterlibatan emosi terhadap orang lain.
e) Kecenderungan untuk menangis diluar kemauan ; gejala ini
banyak dialami oleh penderita depresi, khususnya wanita. Bahkan
mereka yang tidak pernah menangis selama bertahun-tahun dapat
bercucuran air mata atau merasa ingin menangis tetapi tidak dapat
menangis.
f) Hilangnya respon terhadap humor ; dalam hal ini penderita tidak
kehilangan kemampuan untuk mempersepsi lelucon, namun
kesulitannya terletak pada kemampuan penderita untuk merespon
humor tersebut dengan cara yang wajar. Penderita tidak terhibur,
tertawa atau puas apabila mendengar lelucon.

2. Aspek depresi yang dimanifestasikan secara kognitif


a) Rendahnya evaluasi diri ; hal ini tampak dari bagaimana
penderita memandang dirinya. Biasanya mereka menganggap
rendah ciri - ciri yang sebenarnya penting, seperti kemampuan
prestasi, intelegensi, kesehatan, kekuatan, daya tarik, popularitas,
dan sumber keuangannya.
b) Citra tubuh yang terdistorsi ; hal ini lebih sering terjadi pada
wanita. Mereka merasa dirinya jelek dan tidak menarik.
c) Harapan yang negatif ; penderita mengharapkan hal - hal yang
terburuk dan menolak uasaha terapi yang dilakukan.
d) Menyalahkan dan mengkritik diri sendiri ; hal ini muncul dalam
bentuk anggapan penderita bahwa dirinya sebagai penyebab
segala kesalahan dan cenderung mengkritik dirinya untuk segala
kekurangannya.
e) Keragu-raguan dalam mengambil keputusan ; ini merupakan
karakteristik depresi yang biasanya menjengkelkan orang lain
ataupun diri penderita. Penderita sulit untuk mengambil
keputusan, memilih alternatif yang ada, dan mengubah keputusan.
3. Aspek yang dimanifestasikan secara motivasional
Meliputi pengalaman yang disadari penderita, yaitu tentang usaha,
dorongan, dan keinginan. Ciri utamanya adalah sifat regresif motivasi
penderita, penderita tampaknya menarik diri dari aktifitas yang
menuntut adanya suatu tanggung jawab, inisiatif bertindak atau
adanya energi yang kuat.

4. Aspek depresi yang muncul sebagai gangguan fisik


Meliputi kehilangan nafsu makan, gangguan tidur, kehilangan
libido, dan kelelahan yang sangat. Individu mengalami depresi jika
individu mengalami gajala-gejala rasa, seperti sedih, pesimis,
membenci diri sendiri, kehilangan energi, kehilangan konsentrasi, dan
kehilangan motivasi. Selain itu individu juga kehilangan nafsu makan,
berat badan menurun, insomnia, kehilangan libido, dan selalu ingin
menghindari orang lain.
Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa aspek depresi
adalah gejala depresi yang dapat dimanifestasikan secara emosional,
kognitif, motivasional, fisik dan pencernaan, raut wajah sedih,
retardasi, dan agitasi. Gejala yang dimanifestasikan secara emosional
terdiri dari perasaan kesal atau patah hati, perasaan negatif terhadap
dirinya, hilangnya rasa puas, hilangnya keterlibatan
emosional,kecenderungan untuk menangis diluar kemauan, dan
hilangnya respon terhadap humor. Sedangkan gejala yang
dimanifestasikan secara kognitif meliputi sikap menyimpang
penderita, baik terhadap diri, pengalaman, dan masa depannya. Gejala
yang dimanifestasikan secara motivasional meliputi pengalaman yang
disadari penderita, yaitu tentang usaha, dorongan, dan keinginan ,
sedangkan gejala yang muncul sebagai gangguan fisik apabila terjadi
gangguan saraf otonom dan hipotalamus.
POHON MASALAH

Resiko mencederai diri

Gangguan alam perasaan: depresi

Koping maladaptif
(Universitas Sumatera. Chapter II Psikologi Depresi)

4. Klasifikasi
Gangguan depresi terdiri dari berbagai jenis, yaitu:
1) Gangguan depresi mayor
Gejala-gejala dari gangguan depresi mayor berupa perubahan dari
nafsu makan dan berat badan, perubahan pola tidur dan aktivitas,
kekurangan energi, perasaan bersalah, dan pikiran untuk bunuh diri
yang berlangsung setidaknya ± 2 minggu (Kaplan, et al, 2010).
2) Gangguan dysthmic
Dysthmia bersifat ringan tetapi kronis (berlangsung lama). Gejala-
gejala dysthmia berlangsung lama dari gangguan depresi mayor yaitu
selama 2 tahun atau lebih. Dysthmia bersifat lebih berat dibandingkan
dengan gangguan depresi mayor, tetapi individu dengan gangguan ini
masi dapat berinteraksi dengan aktivitas sehari-harinya (National
Institute of Mental Health, 2010).
3) Gangguan depresi minor
Gejala-gejala dari depresi minor mirip dengan gangguan depresi
mayor dan dysthmia, tetapi gangguan ini bersifat lebih ringan dan atau
berlangsung lebih singkat (National Institute of Mental Health, 2010).
Tipe-tipe lain dari gangguan depresi adalah:

4) Gangguan depresi psikotik


Gangguan depresi berat yang ditandai dengan gejala-gejala, seperti:
halusinasi dan delusi (National Institute of Mental Health, 2010).
5) Gangguan depresi musiman
Gangguan depresi yang muncul pada saat musim dingin dan
menghilang pada musi semi dan musim panas (National Institute of
Mental Health, 2010).
(Nurcholis, M. Makalah Psikologi Depresi)

5. Gejala Klinis
Gejala-gejala dari gangguan depresi sangat bervariasi, gejala-gejala
tersebut adalah:
1) Merasa sedih dan bersalah
2) Merasa cemas dan kosong
3) Merasa tidak ada harapan
4) Merasa tidak berguna dan gelisah
5) Merasa mudah tersinggung
6) Merasa tidak ada yang perduli
Selain gejala-gejala diatas, gejala-gejala lain yang dikeluhkan adalah:
1) Hilangnya ketertarikan terhadap sesuatu atau aktivitas yang dijalani
2) Kekurangan energi dan adanya pikiran untuk bunuh diri
3) Gangguan berkonsentrasi, mengingat informasi,dan membuat
keputusan
4) Gangguan tidur, tidak dapat tidur atau tidur terlalu sering
5) Kehilangan nafsu makan atau makan terlalu banyak
6) Nyeri kepala, sakit kepala, keram perut, dan gangguan pencernaan
(National Institute of Mental Health, 2010)
Tingkat depresi dibagi menjadi 5 tingkat, yang akan dijelaskan di bawah
ini:
1) Gangguan mood ringan dan depresi sedang ditandai dengan gejala
depresi berkepanjangan setidaknya 2 tahun tanpa episode depresi
utama. Untuk dapat diagnosis depresi ringan-sedang seseorang harus
harus menunjukkan perasaan depresi ditambah setidaknya dua lainnya
suasana hati yang berhubungan dengan gejala.
2) Batas depresi borderline ditandai dengan gejala perasaan depresi yang
berkepanjangan disertai perasaan depresi lebih dari dua suasana hati
yang berhubungan dengan gejala.
3) Depresi berat ditandai dengan gejala depresi utama selama 2 minggu
atau lebih. Untuk dapat didiagnosis depresi berat harus mengalami 1
atau 2 dari total 5 gejala depresi utama.
Depresi ekstrim ditandai dengan gejala depresi utama yang
berkepanjangan. Untuk dapat diagnosis depresi ekstrim mengalami lebih
dari 2 dari total 5 gejala depresi utama. (Latipah, Eva. 2012)

6. Pemeriksaan Diagnostic
Beck Depression Inventory dibuat oleh dr.Aaron T. Beck, BDI
merupakan salah satu instrumen yang paling sering digunakan untuk
mengukur derajat keparahan depresi.
Para responden akan mengisi 21 pertanyaan, setiap pertanyaan
memiliki skor 1 s/d 3, setelah responden menjawab semua pertanyaan kita
dapat menjumlahkan skor tersebut, Skor tertinggi adalah 63 jika
responden mengisi 3 poin keseluruhan pertanyaan. Skor terendah adalah 0
jika responden mengisi poin 0 pada keseluruhan pertanyaan. Total dari
keseluruhan akan menjelaskan derajat keparahan yang akan dijelaskan di
bawah ini.
1-10 = normal
11-16 = gangguan mood ringan
17-20 = batas depresi borderline
21-30 = depresi sedang
31-40 = depresi berat
>40 = depresi ekstrim
(Lumongga Namora. 2009)
7. Penatalaksanaan Medis
a. Pengobatan secara biologis
1) Tricyclic Antidepressants
Obat ini membantu mengurangi gejala-gejala depresi dengan
mekanisme mencegah reuptake dari norephinefrin dan serotonin
di sinaps atau dengan cara megubah reseptor-reseptor dari
neurotransmitter norephinefrin dan seroonin. Obat ini sangat
efektif, terutama dalam mengobati gejala-gejala akut dari depresi
sekitar 60% pada individu yang mengalami depresi. Tricyclic
antidepressants yang sering digunakan adalah imipramine,
amitryiptilene, dan desipramine.
2) Monoamine Oxidase Inhibitors
Obat lini kedua dalam mengobati gangguan depresi mayor adalah
Monoamine Oxidase Inhibitors. MAO Inhibitors menigkatkan
ketersediaan neurotransmitter dengan cara menghambat aksi dari
Monoamine Oxidase, suatu enzim yang normalnya akan
melemahkan atau mengurangi neurotransmitter dalam
sambungan sinaptik (Greene, 2005). MAOIs sama efektifnya
dengan Tricyclic Antidepressants tetapi lebih jarang digunakan
karena secara potensial lebih berbahaya.
3) Selective Serotonine Reuptake Inhibitors and Related Drugs
Obat ini mempunyai struktur yang hampir sama dengan Tricyclic
Antidepressants, tetapi SSRI mempunyai efek yang lebih
langsung dalam mempengaruhi kadar serotonin. Pertama SSRI
lebih cepat mengobati gangguan depresi mayor dibandingkan
dengan obat lainnya. Pasien-pasien yang menggunakan obat ini
akan mendapatkan efek yang signifikan dalam penyembuhan
dengan obat ini. Kedua, SSRI juga mempunyai efek samping
yang lebih sedikit dibandingkan dengan obat-obatan lainnya.
Ketiga, obat ini tidak bersifat fatal apabila overdosis dan lebih
aman digunakan dibandingkan dengan obat-obatan lainnya. Dan
yang keempat SSRI juga efektif dalam pengobatan gangguan
depresi mayor yang disertai dengan gangguan lainnya seperti:
gangguan panik, binge eating, gejala-gejala pramenstrual.
4) Terapi Elektrokonvulsan
Terapi ini merupakan terapi yang paling kontroversial dari
pengobatan biologis. ECT bekerja dengan aktivitas listrik yang
akan dialirkan pada otak. Elektroda-elektroda metal akan
ditempelkan pada bagian kepala, dan diberikan tegangan sekitar
70 sampai 130 volt dan dialirkan pada otak sekitarsatu setengah
menit. ECT paling sering digunakan pada pasien dengan
gangguan depresi yang tidak dapat sembuh dengan obat-obatan,
dan ECT ini mengobati gangguan depresi sekitar 50%-60%
individu yang mengalami gangguan depresi.
5) Berolahraga
Keadaan mood yang negative seperti depresi, kecemasan, dan
kebingungan disebabkan oleh pikiran dan perasaan yang negative
pula. Salah satu cara yang dapat dilakuakan untuk menghasilkan
pikiran dan perasaan positif yang dapat menghalangi
munculnya mood negative adalah dengan berolahraga.
a) Diet (mengatur pola makan)
Simtom depresi dapat diperparah oleh ketidakseimbangan
nutrisi di dalam tubuh. Ketidakseimbangan nutrisi yang dapat
menyebabkan depresi semakin parah yaitu:
 Konsumsi kafein secara berkala. 
 Konsumsi sukrosa (gula) 
 Kekurangan biotin, asam folat dan vitamin B, C,
kalsium, tembaga, magnesium 
 Kelebihan magnesium
 Ketidakseimbangan asam amino
 Alergi makanan
b) Hidroterapi dan Hidrotermal
Hidroterapi adalah penggunaan air untuk pengobatan
penyakit terapi. Hidrotermal adalah penggunaan efek
temperature air misalnya mandi air panas, sauna, dan lain-
lain. Pengobatan dari hidroterapi berdasarkan efek mekanis
dan atau termal dari air. Tubuh bereaksi pada stimulus panas
dan dingin. Saraf mengantarkan rangsangan yang dirasakan
kulit kedalam tubuh, dimana merangsang system imun,
memengaruhi hormone stres, meningkatkan aliran tubuh dan
mengurang rasa sakit.

b. Pengobatan secara psikologikal

1) Terapi Kognitif

Terapi kognitif merupakan terapi aktif, langsung, dan time limited


yang berfokus pada penanganan struktur mental seorang pasien.
Struktur mental tersebut terdiri ; cognitive triad, cognitive
schemas, dan cognitive errors .

2) Terapi Perilaku

Terapi perilaku adalah terapi yang digunakan pada pasien dengan


gangguan depresi dengan cara membantu pasien untuk mengubah
cara pikir dalam berinteraksi denga lingkungan sekitar dan orang-
orang sekitar. Terapi perilaku dilakukan dalam jangka waktu yang
singkat, sekitar 12 minggu.

3) Terapi Interpersonal

Terapi ini didasari oleh hal-hal yang mempengaruhi hubungan


interpersonal seorang individu, yang dapat memicu terjadinya
gangguan mood (Barnett & Gotlib, 1998: Coyne, 1976). Terapi
ini berfungsi untuk mengetahui stressor pada pasien yang
mengalami gangguan, dan para terapis dan pasien saling bekerja
sama untuk menangani masalah interpersonal tersebut.

a) CBT
Pendekatan CBT memusatkan perhatian pada proses berpikir
klien yang berhubungan dengan kesulitan emosional dan
psikologi klien. Pendekatan ini akan berupaya membantu
klien mengubah pikiran-pikiran atau pernyataan diri negative
dan keyakinan-keyakinan pasien yang tidak rasional. Jadi
fokus teori ini adalah mengganti cara-cara berfikir yang tidak
logis menjadi logis.
b) Konseling kelompok dan dukungan sosial
Konseling secara kelompok adalah pelaksanaan wawancara
konseling yang dilakukan antara seorang konselor
professional dengan beberapa pasien sekaligus dalam
kelompok kecil
c) Terapi Humor
Sudah lama professional medis mengakui bahwa pasien yang
mempertahankan sikap mental yang positif dan berbagai
tawa, merespons lebih baik terhadap pengobatan. Respons
psiologis dari tertawa termasuk meningkatkan pernapasan,
sirkulasi, sekresi hormone dan enzim pencernaan dan
peningkatan tekanan darah.
d) Berdoa
Banyak orang mempunyai kecenderungan alami untuk
berpaling pada agama dalam memperoleh kekuatan dan
hiburan. Bagi yang percaya, keyakinan yang kuat dan
menjadi anggota aliran agama tertentu serta tujuan yang sama
dapat menanggulangi penderitaan dan depresi. Berdoa
merupakan salah satu cara untuk mengatasi depresi.
Mengambil waktu untuk berdoa memberi kesempatan kepada
kita menghentikan kegiatan kita dan jalan arus hidup kita.
(Maramis. 2012)
8. Pencegahan Depresi
Akibat banyaknya dampak buruk yang disebabkan oleh gangguan
depresi maka dibuat suatu pencegahan dalam menangani gangguan
depresi pada individu-individu sebelu mereka mengalami gangguan
depresi tersebut. Beberapa penelitian menerapkan terapi kognitif perilaku
dan terapi interpersonal yang dimana dapat mencegah onset awal dari
terjadinya gangguan depresi pada individu-individu yang mempunyai
faktor resiko tinggi untuk mengalami gangguan depresi; sebagai contoh:
terapi kognitif-perilaku dapat digunakan untuk mencegah gangguan
depresi pada individu-individu dengan pendapatan yang rendah, yang
terpapar dengan stressor-stressor yang ada. Penelitian yang menjelaskan
gangguan depresi terjadi pertama kali pada masa remaja telah meyakinkan
para peneliti untukk melakukan pencegahan awal pada anak remaja yang
mempunyai faktor resiko tinggi untuk mengalami gangguan depresi.
Sebagai contohnya anak remaja yang sudah menunjukkan gejala-gejala
depresi ringan – sedang secara acak mendapatkan terapi kognotof-
perilaku dan control group. Para remaja mendapatkan terapi kognitif-
perilaku sebanyak 15 sesi dalam suatu kelompok-kelompok kecil setelah
kam sekolah atau perkuliahan selesai. Terapi ini berfungsi untuk
membantu mereka menangani cara berpikir mereka yang negatif dan
untuk mempelajari cara belajar yang efektif (Reus V.I., 2004).
Adapun tips yang disarankan dan juga dianjurkan untuk mencegah
terjadinya depresi antara lain.
1) Terbuka dan jangan suka memendam masalah. Di dunia ini tidak ada
orang yang luput dari masalah. Orang yang tidak mempunyai masalah
cenderung tidak mempunyai pegangan. Sedikit sekali ada orang yang
selalu bisa mengatasi masalahnya sendiri, jadi berbagilah kepada
teman dekat.
2) Curhat dan Sharing. Kalau masalah tidak bisa dipecahkan secara
sendiri lebih baik mengajak temam untuk sharing, atau siapa pun
orang yang kita percayai. Karena dengan begitu siapa tahu kita bisa
mendapat bantuan solusi untuk memecahkan masalah. Kalaupun
enggak, paling tidak dengan berbagi cerita, perasan jadi lebih enteng
dan pikiran tidak stres. Kalau beginim jadi bisa mikirin solusinya lagi
kan.
3) Kerjakan banyak hal. Saat waktu senggang dan masih muda, banyak
cara untuk menghilangkan beban perasaan. Selain olahraga, membaca
buku, menonton dan istirahat adalah pentung artinya dalam hidup.
4) Mencoba yang belum pernah. Bukan berarti coba-coba sesuatu yang
mengundang risiko, akan tetapi menguji nyali diri untuk melakukan
tantangan yang dapat men-supprt diri.
5) Banyak cara untuk meraih cita-cita, mewujudkan keyakinan dan
harapan asal dengan sungguh dan pantang menyerah. Cara berserah
diri dan sabar adalah pegangan supaya tidak terpeleset ke jurang
kebimbangan.
(Sadock, Benjamin J.2010)

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian Keperawatan
a. Faktor Predisposisi
1) Faktor Genetik
Mengemukakan transmisi gangguan alam perasaan diteruskan
melalui garis keturunan. Frekuensi gangguan alam perasaan pada
kembar monozigote dari dizigote.
2) Teori Agresi Berbalik pada Diri Sendiri
Mengemukakan bahwa depresi diakibatkan dari perasaan marah
yang dialihkan pada diri sendiri. Diawali dengan proses
kehilangan terjadi ambivalensi terhadap objek yang hilang tidak
mampu mengekspresikan kemarahan marah pada diri sendiri.
3) Teori Kehilangan
Berhubungan dengan faktor perkembangan : misalnya kehilangn
orang tua pada masa anak, perpisahan yang bersifat traumatis
dengan orang yang sangat dicintai. Individu tidak berdaya
mengatsi kehilangan.
4) Teori Kepribadian
Mengemukakan bahwa tipe kepribadian tertentu menyebabkan
seseorang mengalami depresi atau mania.
5) Teori Kognitif
Mengemukakan bahwa depresi merupakan masalah kognitif yang
dipengaruhi oleh penilaian negative terhadap diri sendiri,
lingkungan dan masa depan.
6) Teori Belajar Ketidakberdayaan
Mengemukakan bahwa depresi dilmulai dari kehilangan kendali
diri, lalu menjdi pasif dan tidak mampu menghadapi masalah.
Kemidian individu timbul dengan keyakinan akan
ketidakmampuam mengendalikan kehidupan sehingga ia tidak
berupaya mengembangkan respon yang adaptif.
7) Model Prilaku
Mengemukakan bahwa depresi terjadi karena kurangnya pujian
positif selama berinteraksi dengan lingkungan. 
8) Model Biologis
Mengemukakan bahwa depresi terjadi prubahan kimiawi, yaitu
defisiensi katekolamin, tidak berfungsi endokrin dan hipersekresi
kortisol.
b. Faktor Presipitasi
Stresor yang dapat menyebabkan gangguan alam perasaan meliputi
faktor biologis, psikologis, dan social budaya. Faktor biologis meliputi
perubahan fisiologis yang disebabkan oleh obat-obatan atau berbagai
penyakit fisik seperti infeksi, neoplasma dan ketidakseimbangan
metabolisme. Faktor psikologis meliputi kehilangan kasih sayang,
termasuk kehilangan cinta, seseorang dan kehilangan harga diri.
Faktor social budaya meliputi kehilangan peran, perceraian,
kehilangan pekerjaan. 
c. Perilaku dan Mekanisme Koping
Perilaku yang berhubungan dengan depresi bervariasi. Pada keadaan
depresi kesedihan dan kelambanan dapat menonjol atau dapat terjadi
agitasi. Mekanisme koping yang digunakan pada reaksi kehilangan
yang memanjang adalah denial dan supresi, hal ini untuk menghindari
tekanan yang hebat. 
Gangguan alam perasaan: depresi
a. Data subyektif:
Tidak mampu mengutarakan pendapat dan malas berbicara. Sering
mengemukakan keluhan somatik. Merasa dirinya sudah tidak
berguna lagi, tidak berarti, tidak ada tujuan hidup, merasa putus asa
dan cenderung bunuh diri.
b. Data obyektif:
1) Gerakan tubuh yang terhambat, tubuh yang melengkung dan bila
duduk dengan sikap yang merosot, ekspresi wajah murung, gaya
jalan yang lambat dengan langkah yang diseret.Kadang-kadang
dapat terjadi stupor. Pasien tampak malas, lelah, tidak ada nafsu
makan, sukar tidur dan sering menangis.
2) Proses berpikir terlambat, seolah-olah pikirannya kosong,
konsentrasi terganggu, tidak mempunyai minat, tidak dapat
berpikir, tidak mempunyai daya khayal Pada pasien psikosa
depresif terdapat perasaan bersalah yang mendalam, tidak
masuk akal (irasional), waham Data Obyektifsa, depersonalisasi
dan halusinasi.
3) Kadang-kadang pasien suka menunjukkan sikap bermusuhan
(hostility), mudah tersinggung (irritable) dan tidak suka
diganggu.
Koping maladaptive
a. Data Subyektif : menyatakan putus asa dan tak berdaya, tidak
bahagia, tak ada harapan.
b. Data Obyektif : nampak sedih, mudah marah, gelisah, tidak dapat
mengontrol impuls.
(Keliat, 2010)
2. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko mencederai diri berhubungan dengan depresi.
b. Gangguan alam perasaan: depresi berhubungan dengan koping
maladaptif.
(Keliat, 2010)
3. Rencana Asuhan Keperawatan
Tujuan umum: Klien tidak mencederai diri.
Tujuan khusus
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan:

1) Perkenalkan diri dengan klien


2) Lakukan interaksi dengan pasien sesering mungkin dengan
sikap empati
3) Dengarkan pemyataan pasien dengan sikap sabar empati
dan lebih banyak memakai bahasa non verbal. Misalnya:
memberikan sentuhan, anggukan
4) Perhatikan pembicaraan pasien serta beri respons sesuai
dengan keinginanny
5) Bicara dengan nada suara yang rendah, jelas, singkat,
sederhana dan mudah dimengerti
6) Terima pasien apa adanya tanpa membandingkan dengan
orang lain.

b. Klien dapat menggunakan koping adaptif


Tindakan:

1) Beri Data Obyektifrongan untuk mengungkapkan perasaannya dan


mengatakan bahwa perawat memahami apa yang dirasakan pasien.
2) Tanyakan kepada pasien cara yang biasa dilakukan mengatasi
perasaan sedih/menyakitkan
3) Diskusikan dengan pasien manfaat dari koping yang biasa
digunakan
4) Bersama pasien mencari berbagai alternatif koping.
5) Beri Data Obyektifrongan kepada pasien untuk memilih koping
yang paling tepat dan dapat diterima
6) Beri Data Obyektifrongan kepada pasien untuk mencoba koping
yang telah dipilih
7) Anjurkan pasien untuk mencoba alternatif lain dalam
menyelesaikan masalah.

c. Klien terlindung dari perilaku mencederai diri


Tindakan:

1) Pantau dengan seksama resiko bunuh diri/melukai diri sendiri.


2) Jauhkan dan simpan alat-alat yang dapat digunakan olch pasien
untuk mencederai dirinya/orang lain, ditempat yang aman dan
terkunci.
3) Jauhkan bahan alat yang membahayakan pasien.
4) Awasi dan tempatkan pasien di ruang yang mudah dipantau oleh
peramat/petugas.

d. Klien dapat meningkatkan harga diri


Tindakan:

1) Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi


keputusasaannya.
2) Kaji dan kerahkan sumber-sumber internal individu.
3) Bantu mengidentifikasi sumber-sumber harapan (misal:
hubungan antar sesama, keyakinan, hal-hal untuk diselesaikan).

e. Klien dapat menggunakan dukungan social


Tindakan:

1) Kaji dan manfaatkan sumber-sumber ekstemal individu


(orang-orang terdekat, tim pelayanan kesehatan, kelompok
pendukung, agama yang dianut).
2) Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai, pengalaman masa
lalu, aktivitas keagamaan, kepercayaan agama).
3) Lakukan rujukan sesuai indikasi (misal : konseling pemuka
agama).

f. Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat


Tindakan:

1) Diskusikan tentang obat (nama, Data Obyektifsis,


frekuensi, efek dan efek samping minum obat).
2) Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar
pasien, obat, Data Obyektifsis, cara, waktu).
3) Anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang
dirasakan.
4) Beri reinforcement positif bila menggunakan obat dengan
benar. (Keliat, 2010)

4. Implementasi
Pelaksanaan atau implementasi perawatan merupakan tindakan dari
rencana keperawatan yang disusun sebelumnya berdasarkan prioritas
yang telah dibuat dimana tindakan yang diberikan mencakup tindakan
mandiri dan kolaboratif. Pada situasi nyata sering implementasi jauh
berbeda dengan rencana, hal ini terjadi karena perawat belum terbiasa
menggunakan rencana tertulis dalam melaksanakan tindakan tindakan
keperawatan yang biasa adalah rencana tidak tertulis yaitu apa yang
dipikirkan, dirasakan, itu yang dilaksanakan. Hal ini sangat
membahayakan klien dan perawat jika berakibat fatal dan juga tidak
memenuhi aspek legal. Sebelum melaksanakan tindakan yang sudah
direncanakan, perawat perlu memvalidasi dengan singkat apakah rencana
perawatan masih sesuai dan dibutuhkan klien sesuai kondisi saat ini.
Setelah semua tidak ada hambatan maka tindakan keperawatan boleh
dilaksanakan. Pada saat akan dilaksanakan tindakan keperawatan maka
kontrak dengan klien dilaksanakan. Dokumentasikan semua tidakan yang
telah dilaksanakan beserta respon klien (Keliat, 2010).
5. Evaluasi
Evaluasi merupakan proses berkelanjutan untuk menilai aspek dari
tindakan yang dilakukan secara terus menerus terhadap respon pasien
evaluasi adalah hasil yang dilihat dan perkembangan persepsi pasien
pertumbuhan perbandingan perilakunya dengan kepribadian yang sehat.
Evaluasi dilakukan dengan pendekatan SOAP:
S :Respon subyektif pasien terhadap keperawatan yang telah
dilaksanakan
O :Respon objektif pasien terhadap keperawatan yang dilaksanakan
A :Analisa ulang atas data subyektif dan objektif untuk
menyimpulkan apakah masih tetap atau masuk giliran baru.
P :Perencanaan untuk tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada
respon pasien. (Tim Direktorat Keswa. 2000)
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN ALAM PERASAAN (DEPRESI)

Hari/Tanggal      : Selasa,25 Oktober 2016


Waktu                : Pukul 11.00 WITA
Pertemuan Ke    : I (TUK 1)

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi  Pasien : -
2. Diagnosa  Keperawatan : -
3. Tujuan  Khusus
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
b. Klien dapat menggunakan koping adaptif dalam menyelesaikan
masalah
4. Tindakan  Keperawatan
Pasien  dapat  membina  hubungan  saling  percaya.
a. Bina  hubungan  saling  percaya.
1) Salam trapeutik
2) Perkenalkan diri dengan sopan
3) Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai
klien
4) Jelaskan tujuan pertemuan
5) Jujur dan menepati janji
6) Tunjukan sikap empati dan menerima klien apa adanya
7) Beri perhatian pada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien
8) Ciptakan lingkungan yang tenang
9) Buat kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik pembicaraan).
b. Klien dapat menggunakan koping yang adaptif dalam menyelesaikan
masalah
1) Beri dorongan untuk mengungkapkan perasaannya
2) Tanyakan pada pasien cara yang biasa dilakukan dalam mengatasi
perasaan sedihnya
3) Diskusikan dengan pasien manfaat dari koping yang biasa
digunakan
4) Bersama pasien mencari berbagai alternative koping
5) Beri dorongan pada pasien untuk memilih koping yang paling tepat
dan dapat diterima
6) Beri dorongan kepada pasien untuk mencoba koping yang telah
dipilih
7) Anjurkan pasien untuk mencoba alternative lain dalam
menyelesaikan masalah.

B. PROSES  PELAKSANAAN  TINDAKAN
1. Orientasi
a. Salam Terapeutik:
"Om, Swastiastu. Selamat pagi, Bapak/Ibu, Perkenalkan nama saya
Dian Inlam Sari, saya dari ,Mengwi, Badung. saya perawat yang akan
merawat dan menemani Bapak selama 1 minggu ke depan, Bapak bisa
memanggil saya cukup dengan Desas saja, kalau boleh tahu nama
bapak/ibu siapa? Suka dipanggil apa? Baiklah kalau begitu Bapak/Ibu,
disini saya akan menemani Bapak/Ibu sambil berbincang-bincang
sedikit dan saya siap mendengarkan apa yang akan Bapak/Ibu katakan
selama kita disini nanti.
b. Validasi
Tapi sebelumnya kalau boleh tau bagaimana perasaan Bapak/Ibu hari
ini ? Disini saya sangat ingin sekali membantu menyelesaikan
masalah Bapak/Ibu dan saya harap Bapak/Ibu mau bekerjasama
dengan saya. Jika bapak yakin dengan saya maka kita pasti dapat
mencari jalan keluar dari masalah yang sedang Bapak/Ibu hadapi saat
ini. Kalau Bapak/Ibu sudah percaya dengan saya, coba sekarang
Bapak/Ibu mulai berbicara tentang apa yang dirasakan saat ini
sehingga dapat sampai ditempat ini ?
c. Kontrak
1) Topik :
"Saya disini bertugas untuk merawat dan mengobservasi
bagaimana perkembangan Bapak/Ibu setiap  hari dan selama satu
minggu ke depan ini, kalau Bapak/Ibu perlu sesuatu Bapak/Ibu bisa
panggil saya, dan sekarang bagaimana kalau hari ini kita
berbincang-bincang tentang cara Bapak/Ibu dalam menghadapi
suatu masalah?"
2) Waktu:
"Bapak/Ibu bagaimana kalau kita berbingcang-bincang ± 15 menit
ya? Setuju tidak kalau 15 menit?" (pasien menganggukkan kepala
sambil berkata iya dengan nada yang kecil)
3) Tempat
"Bapak/Ibu bagaimana kalau kita berbincang-bincang di taman
sambil
duduk di bangku itu?"

2. Kerja
a. Bapak/Ibu “ Masih ingat nama saya, pak ?”
b. Sekarang Bapak/Ibu saya ajak berbincang-bincang ya ! Bapak/Ibu
tidak usah malu kalau berbincang-bincang dengan saya, Bapak/Ibu
ungkapkan saja apa yang Bapak/Ibu rasakan saat ini.
c. Tadi Bapak/Ibu sudah menyebutkan nama lengkap dan nama
panggilan Bapak/Ibu, terus umur Bapak/Ibu berapa sekarang ?
d. Bapak/Ibu sudah berapa lama disini ?
e. Bapak/Ibu berasal dari mana ?
f. Bapak/Ibu ingat tidak, siapa yang membawa ke sini ? Bagaimana
perasaan saat dibawa ke sini ?
g. Menurut Bapak/Ibu , dibawa kesini karena apa ?
h. Selama disini setiap hari apa saja yang Bapak/Ibu lakukan ?
i. Bagaimana perasaan Bapak/Ibu saat melakukan kegiatan tersebut ?
j. Boleh saya tahu, hobi Bapak/Ibu? Bagaimana kalau sekarang
Bapak/Ibu bercerita tentang hobi Bapak/Ibu ?
k. Wah…wah ternyata bagus sekali hobi Bapak/Ibu , Menurut Bapak/Ibu
apakah hobi itu masih bisa dilakukan selama Bapak/Ibu Ibu dirawat
disini ?
l. Kalau boleh saya tahu, apakah Bapak/Ibu punya hobi yang lain ? Bisa
diceritakan ?
m. Wah… ternyata Bapak/Ibu punya banyak hobi. Bagus sekali itu !

3. Terminasi
a. Evaluasi
(Subjektif): "Bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah kita berbincang-
bincang?"
(Objektif)   : Selama  berinteraksi, klien masih kurang  kooperatif,
klien bicara  pelan, kontak mata  kurang, klien lebih banyak
menunduk.
b. Tindak  Lanjut
Nah.. ini sudah 15 menit, jadi kita cukupkan saja dulu pembicaraan
kita. Sekarang Bapak/Ibu dapat istirahat dulu. Kalau nanti ada yang
mau diceritakan atau ditanyakan kepada saya, Bapak/Ibu bisa
sampaikan saat kita bertemu lagi
c. Kontak akan Datang
1) Topik :  "Bagaimana kalau besok siang kita bicara tentang
keluarga Bapak setuju?"
2) Waktu : "Besok pagi  kita ketemu lagi bisa? Dan
bagaimana kalau jam 14.00 WITA setelah
Bapak/Ibu bangun tidur?"
3) Tempat  : "Bagaimana  kalau  kita  bicara  di ruangan ini
halaman rumah sakit? Terima kasih. Sampai jumpa besok".
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN ALAM PERASAAN (DEPRESI)

Hari/Tanggal      : Rabu,26 Oktober 2016


Waktu                : Pukul 14.00 WITA
Pertemuan Ke    : II (TUK 2)

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi  Klien : -
2. Diagnosa  Keperawatan
Gangguan alam perasaan : Depresi.
3. Tujuan  Khusus
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
b. Klien dapat mempertahankan kontak mata selama wawancara.
c. Klien dapat mengenal masalah yang dihadapi dan dapat
mengungkapkan perasaannya.
4. Tindakan  Keperawatan
a. BHSP ; Salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan,
lingkungan yang terapeutik, kontrak yang jelas.
b. Dorong dan beri kesempatan klien untuk mengungkapkan
perasaannya
c. Dengarkan ungkapan klien dengan empati.
d. Bantu klien mengidentifikasi perasaannya.
e. Beri reinforcement positifitas kemampuan klien mengungkapkan
perasaannya.
B. PROSES  PELAKSANAAN  TINDAKAN
1. Orientasi
a. Salam  Terapiutik
“Om, Swastiastu. Selamat sore, Bapak/Ibu. Apa kabar hari ini ?.
Masih ingat dengan saya ?. Bagus, Bapak/Ibu masih ingat "
b. Evaluasi
“Bagaimana, Bapak/Ibu, apa yang Bapak rasakan saat ini?”
c. Kontrak
1) Topik : " Sesuai janji, kita akan melanjutkan berbincang-bincang
lagi untuk lebih saling mengenal dan Bapak/Ibu bisa
mengungkapkan masalah Bapak/Ibu ?"
2) Waktu: " Janji kita kemarin, kita akan berbincang-bincang jam
14.00 WITA hari ini. Untuk membicarakan hal tersebut
bagaimana kalau kita bicara ±15 menit. Setuju?"
3) Tempat
"Bapak/Ibu,bagaimana  kalau  kita  ngobrol  sambil  duduk  di
halaman rumah sakit saja?"
2. Kerja
a. Kalau bolah tahu apakah Bapak/Ibu sedang menghadapi suatu
masalah ?
b. Bagaimana hubungan Bapak/Ibu dengan teman-teman atau keluarga
Bapak/Ibu ?
c. Apa yang biasa Bapak/Ibu lakukan jika mempunyai masalah ?
d. Apakah Bapak/Ibu pernah menceritakan tentang masalah yang
Bapak/Ibu hadapi kepada seseorang ?
e. Waah..bagus,kalau Bapak/Ibu pernah mencoba menceritakannya.
f. Kalau Bapak/Ibu punya masalah memang sebaiknya Bapak/Ibu
ceritakan kepada orang yang Bapak/Ibu percaya, agar beban
Bapak/Ibu sedikit berkurang.
3. Terminasi
a. Evaluasi
1) Subjektif
Setelah kita ngobrol 15 menit tadi, bagaimana perasaan Bapak ?
2) Objektif
Klien mau menjawab pertanyaan perawat dan tampak gelisah
b. Tindak  Lanjut
“Bapak/Ibu” ini sudah 15 menit jadi kita cukupkan saja dulu
pembicaraan kita. Sekarang Bapak/Ibu bisa istirahat dulu. Kalau ada
yang mau diceritakan atau ditanyakan kepada saya, Bapak/Ibu bisa
sampaikan sekarang. Bagaimana kalau besok kita bertemu lagi ?.
c. Kontrak  Akan  Datang
1) Topik
"Bagaimana  kalau  besok  kita bertemu lagi ya Pak/Ibu, kita
ngobrol tentang bagaimana caranya mengendalikan perasaan
Bapak/Ibu.
2) Waktu
"Jam berapa Bapak/Ibu bisa? Apakah sesudah makan siang jam
16.00 WITA”
3) Tempat
"Lalu besok siang kita ngobrolnya dimana Bapak/Ibu?
Bagaimana kalau besok siang kita ngobrol lagi disini?"
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN ALAM PERASAAN (DEPRESI)

Hari/Tanggal      : Kamis,27 Oktober 2016


Waktu                : Pukul 16.00 WITA
Pertemuan Ke    : III (TUK 3)

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi  Pasien : -
2. Diagnosa  Keperawatan
Gangguan alam perasaan : Depresi.
3. Tujuan  Khusus
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
b. Klien dapat mempertahankan kontak mata selama wawancara.
c. Klien mau belajar untuk mengontrol perasaannya.
4. Tindakan  Keperawatan
a. BHSP ; Salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan,
lingkungan yang terapeutik, kontrak yang jelas.
b. Dorong dan beri kesempatan klien untuk mengungkapkan
perasaannya.
c. Dengarkan ungkapan klien dengan empati.
d. Beri reinforcement positifitas kemampuan klien mengungkapkan
perasaannya.
e. Beri masukan-masukan kepada klien untuk belajar dan berusaha
mengontrol perasaannya

B. PROSES PELAKSANAAN TINDAKAN


1. Orientasi
a. Salam  Terapiutik
“Om, Swastiastu. Selamat siang, Bapak/Ibu Apa kabar hari ini ?.
Masih ingat dengan saya ?. Bagus, Bapak/Ibu masih ingat ”
b. Evaluasi
“Bagaimana  perasaan  Bapak/Ibu  siang  hari  ini?”
c. Kontak
1) Topik :  
”Sesuai  dengan  perjanjian  kita  kemarin  sore,
kalau  siang  hari  ini  kita akan  melanjutkan kembali berbincang-
bincang lagi untuk mengontrol perasaan Bapak/Ibu”
2) Waktu
“Janji kita kemarin, kita akan ngobrol-ngobrol jam 16.00 WITA
selama 15 menit lagi?”
2. Kerja
a. Apa yang biasa Bapak/Ibu lakukan untuk mengontrol perasaan
Bapak/Ibu ?
b. Jika perasaan Bapak/Ibu meningkat atau tertekan, cobalah untuk
menceritakan perasaan Bapak/Ibu kepada orang yang Bapak/Ibu
percayai.
c. Bagus sekali kalau Bapak/Ibu sudah mau bercerita seperti itu.

3. Terminasi
a. Evaluasi
1) Subjektif : Setelah kita ngobrol 15 menit tadi, bagaimana
perasaan Bapak ?
2) Objektif : Klien lebih tenang dari sebelumnya, klien kooperatif
dan mau mengikuti saran perawat.
b. Tindak  Lanjut
Bapak/Ibu ini sudah 15 menit jadi kita cukupkan saja dulu
pembicaraan kita. Sekarang Bapak/Ibu bisa istirahat dulu. Kalau ada
yang mau diceritakan atau ditanyakan kepada saya, Bapak/Ibu bisa
sampaikan sekarang.
c. Kontak  Akan  Datang
1) Topik    : “Besok kita tidak bertemu lagi ya Bapak/Ibu! Waktu
praktek saya sudah habis, tapi Bapak/Ibu harus ingat apa yang
telah kita bicarakan. Semoga lekas sembuh ya Bapak/Ibu.
Terimakasih atas waktunya “
DAFTAR PUSTAKA

Keliat Budi Ana.2010. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi I, Jakarta :


EGC.
Latipah, Eva. 2012. Pengantar Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Pedagogia (hal
191)
Lumongga Namora. 2009. Depresi Tinjauan Psikologis. Jakarta: Kencana
Pranada
Maramis. 2012. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University
Press (hal 94, 131,339, 385)
Nurcholis, M. Makalah Psikologi Depresi. Online (available):
https://academia.edu/8697664/Makalah_Psikologi_Depresi. Dikutip pada
tanggal 1 September 2016 pukul 15.30 Wita
Pravita,Brian. Askep Lp Depresi. Online (available):
https://www.academia.edu/5804596/ASKEP_LP_DEPRESI.Dikutip pada
tanggal 1 September 2016 pukul 15.00 Wita.
Sadock, Benjamin J.. 2010. Buku Ajar Psikiatri Klinis. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC (hal 189, 630)
Tim Direktorat Keswa. 2000. Standar Asuhan Keperawatan Jiwa. Edisi 1,
Bandung, RSJP Bandung.
Universitas Sumatera. Chapter II Psikologi Depresi. Online (available):
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/35367/4/Chapter%2520ll.pdf.
Dikutip pada tanggal 1 September 2016 pukul 16.00 wita.
WHO (2010).Depression Worksheet.http://ebookbrowse.com/search/depression-
worksheet-pdf.
LEMBAR PENGESAHAN

Mengetahui, ……………………………………..
Pembimbing Praktik/CI Mahasiswa

(……………………………………) Ni Kadek Dian Inlam Sari


NIP. NIM. P07120214018

Mengetahui,
Pembimbing Akademik/CT

(………………………………………)
NIP.