Anda di halaman 1dari 18

Tahap Penyelesaian Audit (Tanggung Jawab Setelah Penyelesaian Audit)

Tahap ini dilaksanakan setelah pelaksanaan audit atas berbagai siklus yang telah
kita bahas dimuka. Tahap ini sangat penting. Tahap Penyelesaian audit sangat
mempengaruhi keberhasilan hasil audit. Keputusan yang diambil auditor selama
tahap penyelesaian ini sangat penting untuk mencapai hasil audit yang optimal.
Berbagai prosedur yang diterapkan dalam tahap ini dapat menghasilkan bukti
tambahan yang dapat mempengaruhi kesimpulan audit. Pengaruh tersebut
meliputi kesimpulan akhir atas saldo setiap rekening yang akan dicantumkan
dalam laporan keuangan, dan pendapat auditor atas laporan keuangan secara
keseluruhan.
Prosedur – prosedur yang diterapkan pada tahap penyelesaian audit
mempunyai beberapa karakteristik khusus, yaitu :
a. Prosedur -prosedur tersebut tidak mengacu ke siklus transaksi maupun rekening
tertentu.
b. Prosedur – prosedur tersebut dilaksanakan setelah tanggal neraca.
c. Prosedur – prosedur tersebut sangat memerlukan pertimbangan subyektif auditor.
Oleh karena itu, pelaksanaan semestinya tidak diserahkan kepada asisten auditor.
d. Prosedur – prosedur tersebut biasanya dilaksanakan oleh manajer audit atau
akuntan senior yang berpengalaman. Hal ini disebabkan karena diperlukan
pertimbangan subyektif auditor.

Pada tahap penyelesaian audit, auditor bekerja dengan keterbatasan waktu.


Hal ini diakibatkan oleh keinginan klien untuk memperoleh laporan audit secepat
mungkin. Meskipun waktu tidak mendukung auditor, auditor harus menggunakan
waktu yang tersedia untuk membuat pertimbangan professional dan menyatakan
pendapat sesuai keadaan yang sebenarnya.

11.1 PENYELESAIAN PEKERJAAN LAPANGAN


Dalam menyelesaikan atau melengkapi pekerjaan lapangan, auditor
melaksanakan beberapa prosedur audit untuk menghimpun tambahan
bahan bukti audit. Ada lima prosedur yang dapat dilakukan oleh auditor,
yaitu :
a. Melakukan penelaahan peristiwa kemudian (subsequent event review).
b. Membaca notulen rapat.
c. Mengajukan pertanyaan atau melakukan konfirmasi dengan penasihat
hokum klien. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk menghimpun
bahan bukti tentang tuntutan hukuman, klaim, dan keputusan
pengadilan yang sudah dan akan mempengaruhi perusahaan klien.
d. Menghimpun surat representasi klien.
e. Melaksanakan prosedur analistis komprehensif.

Kelima prosedur tersebut belum pernah dilaksanakan pada tahap


audit per siklus transaksi sebagaimana telah dibahas pada bab-bab

1
sebelumnya. Prosedur kedua dan kelima diatas memang mirip dengan
prosedur yang sama yang telah dibahas pada pembahasan berbagai
siklus transaksi sbelumnya. Meskipun demikian ada perbedaan yang
signifikan yaitu perbedaan lingkup dan sifat pemeriksaa.

11.2 MELAKUKAN PENELAAHAN PERISTIWA KEMUDIAN


(SUBSEQUENT EVENT REVIEW)
Laporan audit pada umumnya diterbitkan sehubung dengan laporan
keuangan hitoris yang menyajikan posisi keuangan pada tanggal tertentu,
dan hasil usaha serta arus kas untuk periode yang berakhir pada tanggal
tersebut. Ada beberapa peristiwa atau transaksi yang mungkin terjadi
setelah tanggal tersebut, tetapi sebelum dipublikasikannya laporan
keuangan auditan dan laporan audit. Peristiwa tersebut mungkin
mempunyai pengaruh material terhadap laporan keuangan sehingga
memerlukan penyesuaian dan pengungkapan yang memadai dalam
berbagai laporan keuangan tersebut.
Periode tersebut kemudian adalah periode yang dihitung sejak
tanggal neraca sampai dengan tanggal berakhirnya pekerjaan lapangan
(tanggal laporan audit). Jadi, bukan sampai dengan tanggal
dipublikasikannya atau diserahkannya laporan audit. Dalam periode
terssebut, auditor disyaratkan untuk menemukan terjadinya peristiwa
kemudian. Sedangkan terhadap peristiwa setelah tanggal berakhirnya
pekerjaan lapangan, auditor tidak bertanggung jawab untuk menemukan
peristiwa kemudian.

Jenis Peristiwa Kemudian


Ada dua jenis peristiwa kemudian, yaitu :
a. Tipe peristiwa kemudian I
b. Tipe peristiwa kemudian II

Tipe peristiwa kemudian I meliputi peristiwa yang memberikan


tambahan bukti yang berhubungan dengan kondisi yang ada pada tanggal
neraca dan berdampak terhadap taksiran yang melekat dalam proses
penyusunan laporan keuangan. Semua informasi yang tersedia sebelum
laporan keuangan diterbitkan, harus digunakan manajemen dalam
mengevaluasi kondisi yang digunakan sebagai dasar estimasi keuangan.
Auditor harus meminta klien untuk menyesuaikan laporan keuangan untuk
setiap perubahan estimasi sebagai akibat dari penemuan dan penggunaan
suatu bukti yang relevan.

Beberapa peristiwa kemudian tipe pertama kadang hanya


memerlukan reklasifikasi rekening dan bukan penyesuaian. Sebagai contoh
utang jangka Panjang yang harus dibayar kurang dari setahun berikutnya
harus dipindahkan ke utang jangka pendek. Contoh peristiwa yang

2
dikelompokan ke dalam tipe pertama, yang memerlukan penyesuaian dan
pengungkapan dalam laporan keuangan adalah :
a. Kerugian akibat piutang tak tertagih yang disebabkan adanya pelanggan
yang mengalami kesulitan keuangan dan menuju kepailitan sesudah
tanggal neraca, merupakan indikasi keadaan yang ada pada tanggal
neraca.
b. Penyelesaian tuntutan hukum baik yang dilakukan klien maupun yang
ditujukan pada klien, yang jumlahnya berbeda dengan jumlah utang
atau piutang yang dicatat, membutuhkan penyesuaian laporan keuangan
jika peristiwa yang menimbulkan tuntutan tersebut telah terjadi atau ada
sebelum tanggal neraca.
c. Penghentian operasi perusahan cabang dengan rugi terestimasi yang
diakibatkan oleh kondisi yang ada sebelum tanggal neraca.

Tipe peristiwa kemudian II meliputi peristiwa – peristiwa


yang memberikan tambahan bukti yang berhubungan dengan kondisi
yang tidak ada pada tanggal neraca yang dilaporkan, tetapi kondisi
tersebut ada sesudah tanggal neraca. Peristiwa- peristiwa tersebut tidak
memerlukan penyesuaian laporan keuangan. Akan tetapi, beberapa
peristwa mungkin memerlukan pengungkapan untuk mencegah
diterbitkannya laporan keuangan yang dapat menyesatkan pemakainya.
Contohnya peristiwa yang dikelompokkan ke dalam tipe kedua, yang
tidak memerlukan penyesuaian, tetapi memerlukan pengungkapan
dalam laporan keuangan, adalah:
a. Penjualan obligasi maupun penerbitan saham baru.
b. Akusisi pada perusahaan lain.
c. Kerugian aktiva tetap yang disebabkan kebakaran yang terjadi
setelah tanggal neraca.
d. Business combination misalnya perusahaan klien akan
mergerdengan sebuah perusahaanlain.
e. Perubahan struktur modal.
f. Pengumuman dividen saham ataupun dividen kas lain dari
biasanya.

Prosedur audit yang dapat dilakukan auditor berkaitan


dengan peristiwa kemudian, antara lain:
a. Membaca dan menganalisis laporan keuangan interim terbaru
setelah tanggal neraca serta membandingkan dengan laporan
keuangan tahunan.
b. Mengajukan pertanyaan kepada manager atau eksekutif
perusahaan mengenai apakah laporan keuangan interim telah
disajikan dengan dasar yang sama dengan penyusunan laporan
keuangan tahunan.

3
c. Mengajukan pertanyaan kepada pejabat atau eksekutif yang
bertanggung jawab atas masalah keuangan dan akuntansi.
Pertanyaan yang dapat diajukan antara lain:
- Apakah ada kewajiban bersyarat atau komitmen lain yang
ada pada tanggal neraca.
- Apakah ada perubahan signifikan dalam modal saham, utang
jangka Panjang atau modal kerja pada saat pengajuan
tersebut.
- Apakah ada perubahan signifikan dalam estimasi yang telah
disajikan dan diungkapan dalam laporan keuangan.
- Apakah ada penyesuaian luar biasa yang dibuat selama
periode setelah tanggal neraca.
d. Membaca notulen rapat para pemegang saham, direktur, komite
resmi lainnya.
e. Mengajukan pertanyaan kepada konsultan hukum klien
mengenai adanya tuntutan hukum, klaim, dan keputusan
pengadilan.
f. Mendapatkan surat representasi dari manajer yang berwenang
mengenai peristiwa kemudian yang perlu penyesuaian dan
pengungkapan, yang bertanggal sama dengan tanggal laporan
audit.
g. Mengajukan pertanyaan tambahan.
h. Melaksanakan beberapa prosedur yang dipertimbangkan perlu
dan semestinya dilakukan. Hal ini dimaksudkan untuk
menjawab pertanyaan yang timbul sehubungan dengan
pelaksanaan prosedur, pengajuan pertanyaan, dan pembicaraan
yang telah dilaksanakan.

Pengaruh peristiwa kemudian terhadap laporan audit


ialah kegagalan mengungkapkan peristiwa kemudian dalam
laporan keuangan akan menyebabkan penyimpangan dari
laporan audit bentuk standar.

Auditor dapat mengeluarkan laporan audit sebagai berikut


(tergantung materialitas peristiwa kemudian):
a. Pendapat tidak wajar apabila peristiwa kemudian sangat
material.
b. Pendapat menolak memberikan pendapat.

11.3 MENELAAH NOTULEN RAPAT


Notulen rapat para pemegang saham, direktur, komite resmi
lainnya (komite keuangan dan komite audit), dapat berisi hal – hal yang
secara signifikan berkaitan erat dengan audit yang dilaksanakan, misalnya:
a. Otoritas pengeluaran obligasi
b. Otoritas pengeluarab saham baru

4
c. Otoritas pembelian kembali saham sendiri
d. Otoritas pembayaran dividen
e. Otoritas penghentian jenis produk tertentu.

Kelima hal tersebut diatas berpengaruh pada asersi- asersi


manajemen dalam laporan keuangan. Informasi yang diperoleh dari
penelaahan tersebut dapat menyebabkan auditor.
a. Melakukan pengujian substantive tambahan
b. Meminta klien mengungkapkan peristiwa kemudian dalam laporan
keuangan

Pemahaman auditor atas notulen rapat harus didokumetasikan dalam


kertas kerja.

11.4 MENGAJUKAN PERTANYAAN ATAU KONFIRMASI KEPADA


PENASIHAT HUKUM KLIEN
Pengajuan pertanyaan atau konfirmasi dilakukan untuk
memperoleh bukti mengenai keberadaan tuntutan hukum,klaim, dan
keputusan pengadilan yang mempengaruhi usaha dan keuangan klien di
masa datang. Kadang kejadian ekonomi lebih mempengaruhi posisi
keuangan dari pada suatu transaksi kas atau transaksi lainnya. Sebagai
contoh adalah kewajiban kontijensi.
Kontijensi adalah keadaan, situasi, atau kondisi yang meliputi
ketidakpastian yang mungkin melibatkan keuntungan atau kerugian di
masa datang. Perlakuan akuntansi terhadap kontijensi kerugian dapat
berupa:
a. Dicatat sebagai contingent liability (kewajiban bersyarat)
b. Diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan
c. Tidak dicatat

Kontijensi dapat timbul karena:


a. Ketidakpastian jumlah pajak terhutang.
b. Pemberi garansi produk.
c. Adanya tuntutan hukum, klaim, dan keputusan pengadilan.

Auditor dapat dan harus melaksanakan prosedur pengauditan untuk


mencari kewajiban bersyarat selama pelaksanaanaudit (pekerjaan
lapangan). Pada tahap setelah audit (post audit), auditor harus
menghimpun bahan bukti tentang tuntutan hukum, klaim, dan keputusan
pengendalian. Dalam hal ini, auditor harus menghimpun bahan bukti
mengenai:
a. Keberadaan keadaan, situasi, atau kondisi yang meliputi ketidakpastian
yang mungkin mengakibtakan kerugian pada perusahaan sebagai akibat
adanya tuntutan hukum, klaim, dan keputusan pengadilan.

5
b. Periode atau waktu terjadinya kejadian yang menyebabkan tindakan
hukum tersebut.
c. Tingkat kemungkinan hasil yang tidak menguntungkan.
d. Jumlah kerugian potensial.

Prosedur yang dapat dilaksanakan auditor untuk itu, adalah:


a. Mengajukan pertanyaan kepada dan diskusi dengan manajemen.
b. Membaca notulen rapat dewan komisaris.
c. Menelaah perjanjian kontrak atau pinjaman.
d. Konfirmasi dengan bank mengenai adanya jaminan (agunan ) pinjaman.
e. Auditor meminta manajemen perusahaan membuat letter ofinquiry yang
isinya meminta penasihat hukum klien menerangkan secara langsung
mengenai masalah hukum klien kepada auditor.

11.5 Menghimpun Surat Presentasi Klien


Auditor disyaratkan untuk memperoleh representasi tertulis dari
manajemen sebagai bagian dari audit yang dilaksanakan sesuai dengan
standar pengauditan. Auditor mengandalkan representative klien untuk :
a. Mengkonfirmasikan pernyataan lisan yang disampaikan pada auditor.
b. Mendokumentasikan ketepatan representasi yang kontinu.
c. Menurunkan kesalahpahaman mengenai representasi manajemen.

Representasi klien melengkapi dan mendukung prosedur audit


lainnya. Isi representasi klien meliputi :
a. Pengakuan manajemen mengenai tanggung jawabnya untuk
menyajikan laporan keuangan secara wajar sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berterima umum.
b. Tersedianya catatan keuangan dan data yang berkaitan.
c. Kelengkapan dan tersedianya semua notulen rapat.
d. Tidak terdapat kesalahan dalam laporan keuangan dan transaksi yang
tidak tercatat.
e. Informasi mengenai transaksi antar pihak yang memiliki hubungan
istimewa.
f. Ketidakpatuhan dengan berbagai isi perpanjian kontrak yang mungkin
berdampak pada laporan keuangan.
g. Informasi mengenai peristiwa kemudian.
h. Ketidakberesan yang melibatkan karyawan dan manajemen.
i. Komunikasi dari instansi pemerintah mengenai ketidakpatuhan
terhadap atau kelemahan dalam praktik pelaporan keuangan.
j. Rencana atau maksud yang mungkin akan mempengaruhi dan lain
sebagainya.
Apabila auditor dapat memperoleh representasi klien, maka
laporan audit bentuk standar dapat dikeluarkan. Apabila ada
pembatasan lingkup, maka perlu dipertimbangkan dahulu
materialitasnya.

6
11.6 Melaksanakan Prosedur Analitis Komprehensif
Prosedur analitis mencakup penggunaan rasio dan teknik
perbandingan lainnya. Prosedur analitis juga digunakan dalam tahap
penyelesaian audit sebagai alat penelaahan menyeluruh atau penelaahan akhir
atas laporan keuangan. Prosedur analitis ini bertujuan untuk membantu
auditor dalam mengambil kesimpulan mengenai audit, dan dalam
mengevaluasi penyajian laporan keuangan secara keseluruhan.
Dalam melakukan penelaahan menyeluruh, auditor membaca dan
menganalisis laporan keuangan dan catatan atas laporan keuangan, dan
mempertimbangkan kecukupan ukti yang dihimpun untuk mengatasi adanya
saldo yan jumlahnya tidak wajar atau tidak seperti yang diharapkan. Prosedur
analitis kemudian diterapkan pada laporan keuangan untuk menentukan
apakah ada hubungan yang tidak wajar yang masih ada. Apabila ternyata
masih ada, maka auditor perlu melaksanakan prosedur audit tambahan.
Data perusahaan dapat dibandingkan dengan :
a. Hasil perusahaan yang diharapkan misalnya seperti yang tercantum dalam
anggaran
b. Data industry
c. Data non keuangan yang relevan seperti jumlah produksi, atau jumlah
tenaga kerja
PT ROHMAN

Jl. Gagak Rimang No. 3 Telp. 50101

Banjarmasin

Kepada Yth,

Drs. Nur Royani Syuhud Banjarmasin 4 Januari 20X2

Jalan Kaliurang 138

Yogyakarta 55581

Dengan hormat,

Pernyataan Berikut ini kami buat dalam hubungannya dengan pemeriksaan yang saudara lakukan terhadap
laporan keuangna PT ROHMAN untuk tahun buku 20X1. Pernyataan ini kami buat dengan sesungguhnya sesuai
dengan kemampuan dan keyakinan yang kami miliki.

Kami percaya bahwa pemeriksaan saudara dilaksanakan sesuai dengan Standar Auditing dan oleh
karenanya mencakup pengujian terhadap catatan-catatan akuntansi dan prosedur pemeriksaan lain yang dipandang
perlu. Kami juga menyadari bahwa pemeriksaan saudara tidak mencakup pemeriksaan mendalam terhadap seluruh
transaksi dan oleh karena itu tidak diharapkan mampu menyajikan semua penyimpangan yang terjadi.

Piutang Dagang

Piutang dagang berjumlah Rp.227.027.000,00 merupakan piutang yang valid dan tidak mencakup jurnal penjualan
yang dilakukan secara konsinyasi. Menurut pendapat kami, saldo cadangan kerugian piutang sebesar Rp.
20.970.000,00 cukup untuk menutup rugi atau potongan yang mungkin terjadi pada saat dilakukan penagihan
piutang.

Persediaan

Persediaan yang dimiliki perusahaan berjumlah Rp. 1.554.304.000,00 sebagaimana tercatat dalam catatan akuntansi
per 31 Desember 20X1, dilakukan berdasar LCOM-FIFO, yang diselenggarakan oleh karyawan yang kompeten
dibawah pengawasan manajemen. Perusahaan juga telah menentukan cadangan untuk barang-barang yang memiliki
sifat khusus, seperti penyusutan tidak dapat digunakan dan lain-lain. Semua persediaan yang dilaporkan adalah milik
perusahaan. Barang-barang yang tidak termasuk dalam saldo persediaan yang dilaporkan adalah barang-barang
konsinyasi dan barang yang dalam perjalanan ke pembeli.
7
Aktiva Tetap

Aktiva tetap dimiliki oleh perusahaan dengan status yang jelas. Beban yang dikapitalisasi dan penambahan yang
dilakukan sepanjang tahun, ditentukan sebesar harga perolehannya. Aktiva yang didisposisi atau dihentikan
pemakaiannya dihapus dari catatan akuntansi.

Beban depresiasi tahun ini, berjumlah Rp. 128.884.000,00 dihitung dengan cara yang konsisten dengan tahun-tahun
sebelumya. Rekening penilai, akumulasi depresiasi (bersaldo Rp. 633.322.000,00) cukup memadai untuk
menentukan nilai buku aktiva tetap sesuai dengan sisa manfaat ekonomisnya.

Aktiva lain

Perusahaan telah melaporkan secara tepat seluruh aktiva perusahaan pada tanggal 31 Desember 20X1. Beberapa
aktiva yang terkait dalam perjanjian utang telah dijelaskan sebelumnya.

Utang

Dengan pengecualian beberapa utang yang jumlahnya kecil, seluruh utang perusahaan berjumlah Rp. 950.872.000,00
dan telah dicatat dalam pembukuan perusahaan tanggal 31 Desember 20X1. Perusahaan tidak memiliki utang
bersyarat sebagaimana kami jelaskan sebelumnya.

Perjanjian Pembelian dan Penjualan

Pada tanggal 31 Desember 20X1, perusahaan tidak memiliki kontrak pembelian atau penjualan yang belum
diselesaikan.

Modal Saham

Seluruh modal saham yang dikeluarkan atau dicadangkan disajikan dalam laporan keuangan.

Hasil-hasil Rapat

Hasil-hasil rapat pemegang saham dan Dewan Komisaris, sebagaimana kami uraikan sebelumnya, merupakan catatan
yang lengkap dan sah untuk seluruh rapat yang diadakan selama periode 1 januari 20X1 sampai dengan 31 Desember
20X1.

Lain-lain

Tidak ada hal-hal yang terjadi dan tidak ada bukti yang ditemukan sejak tanggal 31 Desember 20X1, yang
mengakibatkan ketidaktepatan atau kesalah pelaporan dalam neraca dan laporan laba rugi. Juga tidak ada
penyimpangan-penyimpangan yang ditemukan yang belum disajikan dan sepanjang pengetahuan kami, tidak ada hal-
hal menyimpang yang disebabkan oleh anggota organisasi kami.

Tidak ada beban kepada pihak luar perusahaan yang tertunda pembayarannya, yang memiliki pengaruh secara
material terhadap laporan keuangan. Tidak ada karyawan perusahaan yang memiliki utang kepada perusahaan selama
tahun 20X1.

Hormat Kami,

TTD

Ir. Drs.Rodiman A.

Direktur Utama

8
11.7Pengevaluasian Temuan
Auditor melaksanakan pengevaluasian atas temuan dengan tujuan :
a. Untuk menentukan jenis pendapat yang akan diberikan
b. Untuk menentukan apakah standar pengauditan telah dilaksanakan
dengan baik dalam audit
Untuk mencapai tujuan tersebut, auditor melaksanakan beberapa
langkah berikut :
1. Membuat penetapan akhir mengenai materialitas dan risiko audit
2. Melakukan penelaahan teknis mengenai laporan keuangan
3. Merumuskan pendapat dan membuat draft laporan audit
4. Melakukan penelaahan akhir atas kertas kerja

11.8 Membuat Penetapan Akhir


Tahap ini perlu dilakukan sebelum memutuskan pendapat yang akan
diberikan atas laporan keuangan klien. Titik awal proses ini adalah
menjumlahkan seluruh salah saji yang ditemukan dalam pemeriksaan atas
seluruh akun yang tidak dikoreksi oleh klien. Berkaitan dengan hal ini, ada
dua kasus yang mungkin ditemui auditor, yaitu :
a. Salah saji yang tidak atau belum dikoreksi mungkin secara individual
tidak material sehingga auditor tidak meminta pembetulan atau koreksi.
b. Klien tidak mau melakukan koreksi sesuai dengan yang diminta oleh
auditor
Langkah selanjutnya dalam proses ini adalah menentukan pengaruh
jumlah seluruh salah saji pada laba bersih dan elemen laporan keuangan lain
yang terkait dengan salah saji, seperti aktiva lanar dan hutang lancer.
Penentuan salah saji oleh auditor dalam suatu akun meliputi beberapa
komponen berikut :
A. Salah saji tidak dikoreksi yang terdeteksi melalui pengujian substantive
(known misstatement)
B. Proyeksi salah saji yang tidak dikoreksi, yang diperkirakan melalui
teknik sampling audit
C. Estimasi salah saji yang dideteksi melalui prosedur analitis, dan yang
dikuantifikasikan dengan prosedur audit lainnya
Jumlah ketiga komponen tersebut untuk suatu akun sering
disebut dengan likely misstatement. Jumlah seluruh likely misstatement
dalam suatu akun sering disebut dengan agrgate likely misstatement.
Penetapan aggregate likely misstatement dapat meliputi pengaruh setiap
likely misstatement yang belum dikoreksi pada periode sebelumnya
terhadap laporan keuangan periode berjalan.

11.9 Melakukan Penelaahan Teknis Mengenai Laporan Keuangan


Banyak Kantor Akuntan Publik (KAP) yang mempunyai checklist
(daftar pengecek) rincian laporan keuangan. Daftar ini diisi oleh auditor
yang melakukan penelaahan. Daftar yang sudah lengkap, ditelaah lagi oleh
manajer atau partner. Checklist meliputi hal –hal yang berhubungan dengan

9
bentuk da nisi setiap laporan keuangan, dan hal-hal lain yang harus
diungkapkan. Checklist yang telah lengkap, dan temuan yang diperoleh
melalui penelaahan, harus dimasukkan dalam kertas kerja.

11.10 Merumuskan Pendapat dan Membuat Draft


Selama pelaksanaan audit, berbagai pengujian audit telah
dilaksanakan auditor. Pelaksanaan pengujian audit dapat dilaksanakan oleh
beberapa auditor yang menangani beberapa area yang berbeda. Pada setiap
selesai dilaksanakannya prosedur pengujian audit, staf yang melaksanakan
prosedur tersebut diharapkan meringkas temuannya.
Berbagai ringkasan temuan tersebut, kemudian digabungkan, dan
dievaluasi untuk menentukan pendapat yang diberikan atas laporan
keuangan secara keseluruhan. Proses ini biasanya dilaksanakan oleh partner.
Aktivitas ini bias juga dilakukan oleh manajer (manajer KAP) dan ditelaah
kembali oleh partner.
Sebelum mencapai keputusan pendapat yang final, auditor perlu
berdiskusi dengan klien. Auditor dapat meminta klien (manajer perusahaan)
untuk melakukan penyesuaian atau pengungkapan tambahan. Manajer
perusahaan dapat menyanggahnya dan mempertahankan posisinya. Apabila
diskusi tersebut menghasilkan kesepakatan bersama, auditor dapat
memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian. Tetapi apabila diskusi
tersebut tidak dapat menghasilkan keputusan bersama, auditor dapat
memberikan pendapat selain pendapat wajar tanpa pengecualian.

11.11 Melakukan Penelaahan Akhir Atas Kertas Kerja


Setiap kertas kerja telah ditelaah oleh supervisor. Hal ini
dimaksdukan untuk menilai kualitas pekerjaan yang dilakukan, bukti yang
dihimpun, dan kesimpulan yang ditarik oleh pembuat kertas kerja.
Meskipun demikian, penelaahan tambahan terhadap kertas kerja perlu
dilakukan pada tahap akhir pekerjaan lapangan oleh anggota tim audit. Hal
ini dapat dilaksanakan oleh partner maupun manajer.
Manajer dapat melakukan penelaahan atas kertas kerja yang dibuat
oleh seorang auditor maupun yang dibuat oleh asisten atau junior auditor
yang telah ditelaah oleh seorang auditor. Partner dapat melakukan
penelaahan atas kertas kerja yang dibuat oleh manajer, penelaahan atas
kertas kerja lain yang dipiih.

11.12 Berkomunikasi Dengan Klien


Komunikasi oleh auditor dapat dilaksanakan dengan :
a. Komite audit
b. Manajemen
Komunikasi yang dapat dilakukan auditor dengan komite audit
adalah komunikasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Struktur
pengendalian intern klien, atau mengena pelaksanaan audit. Komunikasi

10
manajemen dapat dilaksanakan melalui management letter (surat
pernyataan manajemen)

A. KOMUNIKASI HAL HAL YANG BERKAITAN DENGAN


STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN
Selama melaksnakan audit ,auditor mungkin mengetahui persoalan
yang menyangkut struktur pengendalian klien (SPI)yang mungkin perlu
diketahui oleh komite audit.persoalan yang diharuskan untuk dilaporkan
kepada komite audit dengan reportable condition (kondisi yang dpat
dilaporkan )sesuatu persoalan SPI perlu dilaporkan apabila menunjukan
kekurangan yang material dalam rancangan atau pelaksanaan SPI,yang
berkaitan untuk pada efektifitas proses dan sistemn akuntasi .
Aditor tidak berkewajiban untuk mencari kondisi yang dpat dilaporkan
.tetapi auditor mungkin menemukan kondisi yang dpat dilaporkan melalui:
a. Pertimbangan atau pemahaman atas unsur unsur SPI
b. penerapan prosedur auditor terhadap saldo maupun traksaksi

Dalam menentukan permaslahan apa saja yang merupakan kondisi


yang dpat dilaporkan ,auditor harus mempertimbangkan berbagai factor
yang berhubungan dengan satuan usha tersebut ,seperti ukuran ,kerumitan
dan keanekaragaman aktivitas struktur organisasi, dan karakteristik
pemilikan .komunikasi sebaiknya dilaksanalan dakam bentuk suatu
laporan tertulis .distribusi tersebut dibatasi pada komitmen audit
,manajmen dan anggota organisasi klien lain yang berwenang laporan
tersebut harus :
a. Mengindentifikasikan kegunaan auditor laporan keuangan adalah
memberikan pendapat atas laporan keuangan ,bukan menyediakan
mengenai struktur pengendalian intern klien.
b. Mencakup definisi reportable condition
c. Mencakup pembatasan distribusi laporan .

B. KOMUNIKASI MENGENAI PELAKSANAAN AUDITOR


(DENGAN KOMITE AUDITOR )
Auditor harus menentukan bahwa maslah tertentu yang berkaitan
dengan pelaksnaan audit. Komunikasi kepada komite audit .auditor harus
menjamin bahwa komite auditor menerima dominasi tambhana mengenai
lingkup dan hasil audit yang dapat membantu komite dalam mengawasi
laporan keuangan dan proses pengungkapan yang menjadi tanggung jawab
manajemen. Komunikasi dapat berbentuk lisan atau tertulis .komunikasi
dengan komite auditor meliputi masalah sebagai berikut :
a. Tanggung jawab auditor berdasarkan standar pengauditan yang di
tetapkan ikatan akuntan Indonesia termasuk:
- Jaminan uang disediakan auditor bahwa laporan keuangan bebas dari
salah saji material.
- Konsep materialitas yang digunakan dalam audit

11
- Jenis pengujian yang dilaksnakan

b. Kebijakan akutansi yang signifikan termasuk pilihan dan perushaan


kebijakan akuntansi serta metode akutansi yang digunakan untuk
transaksi yang tidak biasa .
c. Pertimbangan manajmen dan estimasi akutansi termasuk dasar
pertimbangan yang dilakukan ,dan diproses pembuatan estimasi
tersebut sangat sensitive karena signifikan bagi laporan keuangan dan
karena kemungkinan bahwa peristiwa dimasa datang dapat berbeda
dengan peristiwa yang diestimasi manjemen auditor perlu
menyampakian dasar yng dipakai dalam menyimpilakn kewajaran
estimasi tersebut .
d. Penyusuaian audit yang signifikasi yang berdampak signifikasi atas
proses pelaporan satuan usaha .
e. Ketidakesepakatan dengan manajemen .ketidakpastian tersebut dapat
berupa :
- Penerapan prinsip akutansi
- Perlakuan akutansi atas dalam kejadian tertentu lingkup audit
- Pengungkapan informasi dalam laporan keuangan
- Kata- kata auditor dalam laporan audit .
f. Konsultasi dengan akuntan lain mengenai masalah akutansi dan
pengauditan
g. Kesulitan yang dijumpai selama pelaksanaan audit ,kesulitan tersedia
meliputi :
- Penundaan yang tidak beralsan oleh manajmen mengenai saat
dimulainya audit
- Penyediaan informasi dan data yang di perlukan .
- Tidak tersedian karyawan klien dan kegagalan karyawan klien untuk
menyelesaikan daftar yang dibuat klien pada waktunya.

11.13 MENYUSUN MANAJEMEN LETTER (SURAT PERNYATAAN


MANAJEMEN)
Selama melaksnakan audit ,auditor mengamati berbagai operasi
dan organisasi bisnis klien .
Management letter berisi rekomendasi yang tidak disyaratkan
untuk komunikasikan dengan komite audit .Rekomendasi tersebut
biasanya berkaitan erat dengan usaha peningkatan efisiensi dan efektivitas
operasi perusahaan klien .oleh karena itu ,management letter menunjukan
pelayanan oerhatian auditor terhadap kesejahteraan dan masa depan klien..
Management letter dapat mencakup komentar atas:
a. Struktur pengendalian intern,yang bukan termasuk reportable condition.
b. Sumber daya manajmen seperti kas,persediian ,dan investasi .
c. Masalah perpajakan .

12
11.14 TANGGGUNG JAWAB SETELAH AUDIT
Tanggung jawab setelah audit meliputi pertimbangan :
a. Peristiwa kemudian yang terjadi antara tanggal laporan audit dan
tanggal di piblikasikan nya laporan audit .
b. Penemuan fakta fakta baru .fakta baru yang ditemukan mungkin
mempengaruhi penyajian laporan keuangan yang akan berakibat
menyesatkan para pengguna laporan keuangan .
c. Penemuan adanya prosedur yang tidak dilaksnakan .Prosedur yang belum
dilaksnakan akan mempengaruhi tingkat efektivitas audit .bila efektifitas
audit lemah ada kemungkinan audiot tidak dapat mencapai tingkat resiko
deteksi yang direncanakan .

13
KANTOR AKUTANSI NRS
JL.KALIURANG 138 TELP.5895152
YOGYAKARTA 55581

Kepada Yth,
Bapak Ir.Drs Rodiman Anjani
Direktur PT.Rohman di Banjarmasin

Dengan Hormat
Sehubungan dengan pemeriksaan akutansi yang kami lakukan pada perusahaan Bapak yang
dinyantakan dalam SPK/No:016/IX/PA/20X1 maka dengan ini dapat kami sampaikan beberapa
hal yang berkaitan dengan usaha penyempurnaan sistemn Akutansi dan hal hal yang kami
temukan selama pemeriksaan kami.
1. Sistem pengelolaan kas yang berlaku ,khususnya tentang rekening di bank masih perlu di
perbaiki .selama pemeriksaan ,kami telah menemukan bahawa rekening rekonsiliasi yang
dibuat belum memadai .
2. Prosedur penentuan besarnya cadangan kerugian piutang dan pengawasan atas penagihan atas
piutang yang cukup besar untuk terjadinya kolusi .
3. Penggunaan atas aktiva tetap,khususnya mobil perlu diperhatikan .Adalah lebih baik jika
penggunaan mobil untuk perusahaan diluar jam kerja perusahaan ada prosedur yang baku ini
penting untuk pengamanan aktiva perushaan
4. Biaya pemeliharaan yang terjadi di perusahaan selama ini ,perlu diperhatikan dalam tiga tahun
terakhir jumlahnya melonjak hingga 200%,padahal aktiva perusahaan yang perlu pemeliharaan
relative masih baru .prosedur penganggarannya biaya ini perlu ditinjau kembali untuk efesiensi
biaya .

Demikian beberapa hal yang dapat kami kemukakan .kami dengan senang hati untuk membantu
usaha –usaha perusahaan dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan dengan tidak
mengabaikan keseimbanga kepentingan pihak –pihak yang berkepentingan dengan perusahaan .

Yogyakarta,16 Pembruari 20X2


Hormat Kami

Ttd
Drs Nur Royani Styuhud
Partner Reg.Neg .D-3379

14
11.15 PERISTIWA KEMUDIAN YANG TERJADI ANTARA TANGGAL
LAPORAN AUDIT DAN TANGGAL DIPUBLIKASIKANNYA
LAPORAN AUDIT .
Sebenarnya auditor tidak bertanggung jawab untuk menemukan hal
yang mempengaruhi laporan keuangan audit setelah tanggal laporan
audit .meskipun demikian ,apabila kejadian tersebut timbul,auditor perlu
mempertimbangkan apakah perlu ada pengungkapan atau penyesuaian
laporan keuangan .bila auditor menetpkan perlunya penyesuaian atau
pengungkapan ,dan manajemen setuju ,maka auditor dapat
mengeluarkan laporan audit bentuk baku.sebagai alternative ,auditor dapat
mengggunakan penanggalan ganda (dual dating)

11.16 PENEMUAN FAKTA FAKTA BARU


Auditor sebenrnya tidak bertanggung jawab (setelah audit selesai)
untuk menemukan fakta yang ada ,tetapi tidak diketahui ,pada tanggal
laporan audit meskipun demikian ,auditor seharunya memastikan
keandalan informasi jika auditor menemukan fakta yang mempengaruhi
laporan yang dikeluarkan .apabila penyelidikan auditor menunjukan
adanya fakta tersebut ,auditor yakin bahwa informasi tersebeut penting
bagi keandalan laporan keuangan ,auditor harus mengambil langkah untuk
menecegah pengandalaan (pemanfaat) dimasa datang atas laporan
audit,langkah –langkah tersebut meliputi:
a. Memberitahukan(tertulis)klien bahwa laporan audit tidak dapat lagi
dikaitkan dengan laporan keuangan .
b. Memberikan (tertulis) badan yang berwenang seperti BAPEPAM
bahwa laporan audit tidak dapat diandalakn lagi.
c. Memberitahu( tertulis) melalui badan berwenang (BAPEPAM) kepada
setiap individu yang diketahui mengandalkan laporan keuangan ,bahwa
laporan audit tidak diandalkan lagi.

11.17 PENEMUAN ADANYA PROSEDUR YANG TIDAK


DILAKSANAKAN
Setelah tanggal laporan audit ,ada kemungkinan auditor
menyimpilakan bahwa satu atau lebih prosedur audit ,yang dianggap
perlu sesuai keadaan ,tidak dilaksnakan selama pelaksanaan audit .standar
pengauditan tidak mensyaratkan auditor untuk melaksnakan penelaah pos
audit (setelah audit berakhir )atas pekerjaan lapangan .
Meskipun demikian ,penemuaan adanya prosedur audit yang tidak
dilaksnakan dapat diketahui:
a. Pelaksanaan program pengendalian kualitas kantor.akutan public.
b. Pelaksanaan perr review

Seperti telah dijelaskan ,auditor tidak berkewajiban melaksanakan


prosedur audit setalah laporan audit dikeluarkan. Meskipun demikian,
karena adanya potensi kewajiban dan masalah hukum,auditor perlu

15
melakukan konsultasi dengan pihak berwenang untuk mementukan
tindakan yang tepat .

Pada banyaknya kasus akan menetapkan ataua menilai penting


tidaknya prosedur yang tidak dilaksnakan tersebut atas laporan keuangan
secara keseluruhan. Penetapan tersebut dilakukan dengan menelaah kertas
kerja dan mendiskusiskan dengan staff auditor. Berdasarkan informasi
tersebut ,auditor akan menentukan apakah lingkup audit masih memadadai
meski ada prosedur pengujian yang tidak dilkukan .

Sebagai contoh ,auditor tidak melaksnakan penelaah notulen rapat


dan verifikasi kesesuaian saldo. Meskipun demikian, auditor dapat
menyimpulkan bahwa konfirmasi jangka panjang adalah memadai untuk
memeperoleh bukti asersi keberadaan atau keterjadian, hak dan kewajiban
serta penilaian atau pengalokasian untang jangka panjang. Apabila
kesimpulan yang diambil adalah negative, auditor harus mengambil
langkah untuk menecegah pengandalan (pemanfaatan) di masa datang atas
laporan audit. Langkah tersebut sama dengan langkah yang dilakukan pada
kejadian adanya penemuan fakta fakta baru .

16
Kesimpulan

Tahap penyelesaian audit merupakan tahap yang paling penting untuk memastikan
audit yang berkualitas. Dalam tahap ini, auditor menelaah kewajiban kontijensi
dan peristiwa kemudian. Auditor juga mereview kecukupan bukti audit dan
keputusan yang diambil untuk nenentukan apakah hal itu mendukung pendapat
audit. Kemudian auditor berkomunikasi dengan komite audit dan manajemen
mengenai temuan yang penting dan persoalan lainnya. Setelah menjelaskan
aktivitas- aktivitas yang terlibat dalam penyelesaian audit, kemudian harus
diberikan pertimbangan pada tanggung jawab auditor setelah audit. Tanggung
jawab ini berkaitan dengan peristiwa yang terjadi sesuadah tanggal laporan audit.

Daftar Pustaka

17
Halim, Abdul dan Totok Budi Santoso, Auditing II: Dasar- dasar Prosedur
Pengauditan Laporan Keuangan. Edisi Ketiga. Yogyakarta: UPP AMP YKPN

18