Anda di halaman 1dari 17

TEORI AKUNTANSI

UTANG (PENGERTIAN, PENGUKURAN, PENILAIAN, DAN


PENYAJIAN)

DOSEN PENGAMPU : DR. MUKHZARUDFA, S.E., M.SI.

DI SUSUN OLEH:

Kelompok 3

1. TRIA GUSTI PUTRI (C1C017070)


2. IKA MUNAWAROH (C1C017074)
3. HERDASWITA (C1C017078)
4. SALSABILA MERLIANA (C1C017102)

KELAS:

6/ R-010/AKUNTANSI

PRODI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS JAMBI
2020
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia–Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini dengan baik.
Dalam penyusunan makalah ini, dengan kerja keras dan dukungan dari
berbagai pihak, kami telah berusaha untuk  dapat memberikan yang terbaik dan
sesuai dengan harapan, walaupun di dalam pembuatannya kami menghadapi
kesulitan, karena keterbasan ilmu  pengetahuan dan  keterampilan yang kami
miliki.
Oleh karena itu pada kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima
kasih kepada dosen pembimbing Teori Akuntansi. Dan juga kepada teman–teman
yang telah memberikan dukungan dan dorongan kepada kami. Kami menyadari 
bahwa dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu
saran dan kritik yang membangun sangat butuhkan agar dapat
menyempurnakannya di masa yang akan datang. Semoga apa yang disajikan
dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi teman-teman dan pihak yang
berkepentingan.

                                                                                              Jambi, Maret 2020

                                                                                                              

Penyusun

DAFTAR ISI
i
KATA PENGANTAR...................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................ii
BAB 1 PENDAHULUAN........................................................................... 1
1.1 Latar Belakang.................................................................................. 1
1.2 Rumusan Makalah............................................................................ 2
1.3 Tujuan .............................................................................................. 2

BAB 2 PEMBAHASAN ............................................................................. 3


2.1 Pengertian Utang (Kewajiban).......................................................... 3
2.1.1 Pengorbanan Manfaat Ekonomik............................................. 4
2.1.2 Keharusan Sekarang...................................................................5
2.2 Pengukuran Utang (Kewajiban)......................................................... 6
2.2.1 Kewajiban Dalam Pembelian Kredit.......................................7
2.2.2 Diskon dan Premium Utang Obligasi.....................................7
2.2.3 Kewajiban Moneter dan Non Moneter....................................8
2.3 Penilaian ...........................................................................................8
2.3.1 Transfer Aset Finansial..............................................................8
2.3.2 Perlunasan Setelah Jatuh Tempo...............................................9
2.3.3 Utang Terkonversi.....................................................................9
2.3.4 Pembebasan Substantif............................................................10
2.4 Penyajian.........................................................................................12
BAB 3 PENUTUP...................................................................................... 13
3.1 Kesimpulan.......................................................................................13
3.2 Saran............................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................12

BAB I

ii
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Utang adalah kewajiban suatu badan usaha atau perusahaan kepada


pihak ketiga yang dibayar dengan cara menyerahkan aktiva atau jasa dalam
waktu tertentu sebagai akibat dari transaksi dimasa lalu. Utang sangat penting
untuk meningkatkan pendapatan suatu perusahaan. Utang merupakan
komponen yang tidak bisa terpisahkan dari suatu perusahaan baik perusahaan
yang berskala besar atau berskala kecil pasti hampir mempunyai akun utang di
dalam laporan keuangan. Utang memiliki kemampuan untuk meningkatkan
kapasitas pendanaan sebuah perusahaan sehingga mampu untuk memenuhi
kebutuhan perusahaan.

Secara umum utang merupakan kewajiban perusahaan kepada pihak


lain, yang dinyatakan dalam satuan uang, yang timbul sebagai akibat dari
transaksi atau kejadian masa lalu, untuk menyerahkan aktiva (kas atau non
kas) atau menyediakan jasa di masa mendatang. Beberapa tokoh atau lembaga
memberikan definisi utang sebagai berikut:

1. Joel G Siegel dan jae K. Shim


Utang adalah uang atau jasa yang dipinjamkan oleh pihak lain,
merupkan kewajiban resmi dari sebuah usaha yang timbal balik, baik dari
perjanjian tertulis ataupun lisan
2. Mamduh M. Hanafi
Utang adalah pengorbanan ekonomis yang mungkin timbul di masa
mendatang dari kewajiban organisasi sekarang untuk mentransfer asset
atau memberikan jasa ke pihak lain di masa mendatang, sebagai akibat
transaksi atau kejadian di masa lalu.
2
3. FASB (Financial Accounting Standards Board)
Utang dadalah pengorbanan manfaat ekonomi di masa yang akan
dating yang mungkin terjadi akibat suatu badan usaha masa kini untuk
mentransfer aktiva atau menyediakan jasa pada badan usaha lain di masa
yang akan dating sebagai akibat transaksi di masa lalu.

1
Dari pengertian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa utang
adalah kewajiban suatu badan atau perusahaan yang harus diselesaikan di masa
mendatang, karena perusahaan atau badan tersebut menerima/menggunakan uang,
barang atau jasa dari pihak lain. Tiga ciri yang melekat pada Utang, yakni
pertama, utang adalah kewajiban (untuk menyerahkan aktiva atau jasa) di saat
sekarang/mendatang. Kedua, utang adalah kewajiban yang tidak dapat
dihindarkan, karena kejadian tersebut benar-benar telah terjadi. Ketiga, utang
tersebut dapat diukur, dan dinyatakan dalam satuan uang dengan jumlah yang
pasti atau dapat ditaksir jumlahnya dan tanggal jatuh tempo atau krediturnya dapat
diketahui.

Utang bagi perusahaan merupakan sumber dana yang berasal dari pihak
lain, sehingga sering disebut sebagai kewajiban (liability). Utang akan
mengakibatkan terjadinya pengeluaran kas, barang, atau jasa di masa mendatang.
Oleh karena pada setiap akhir periode akuntansi perusahaan harus mampu
menyajikan besarnya utang secara jelas dan akurat. Beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam penentuan utang, yaitu:

1. Jumlah nominalnya harus jelas


Utang tidak dapat didasarkan pada taksiran besarnya kewajiban
yang harus dibayar di masa mendatang. Utang harus didasarkan pada
perhitungan yang jelas dan akurat, sehingga dapat ditentukan jumlah dan
jangka waktu Utang tersebut.
2. Pihak penerima haruss jelas
Pihak penerima uang, barang ataupun jasa yang akan diberikan
perusahaan di masa mendatang harus jelas dan pasti. Pihak yang belum
jelas, seperti pelayanan garansi purna jual tidak dapat dikelompokkan
sebagai kewajiban (Utang)
3. Berdasarkan transaksi yang telah lalu.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa Yang Dimaksud Dengan Utang?


1.2.2 Bagaimana Konsep Penilaian Utang?
1.2.3 Bagaimana Cara Pengukuran Utang?
1.2.4 Bagaimana Pengakuan Utang?
1.2.5 Bagaimana Penyajian Utang?

1.3 Tujuan

1.3.1 Memahami Apa Itu Utang


1.3.2 Memahami Konsep Penilaian Utang
1.3.3 Mengetahui Cara Pengukuran Utang
1.3.4 Mengetahui Bagaimana Pengakuan Utang
1.3.5 Mengetahui Bagaimana Penyajian Utang

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN UTANG (KEWAJIBAN)

FASB mendefinisikan kewaiban dslsm rerangka konseptualnya


sebagai berikut:

Kewajiban adalah pengorbanan manfaat ekonomik masa


mendatang yang cukup pasti yang timbul dari keharusan sekarang
suatu kesatuan usaha untuk mentransfer asset atau
menyediakan/menyarahkan jasa kepada kesatuan lain di masa
datang sebagai sebagai akibat transaksi atau kejadian masa lalu.

Dengan makna yang sama, IASC mendefinisikan kewajiban


sebagai berikut:

Liabilitas adalah kewajiban kini dari perusahaan yang timbul dari


peristiwa masa lalu, penyelesaian yang diharapkan dapat
menghasilkan arus keluar dari sumber daya peusahaan dalam
mewujudkan manfaat ekonomi.

Dalam Statement of Accounting Concept No. 4, Australian


Accounting Standard Board (AASB) mendefinisikan kewajiban sebagai
berikut:

Kewajiban adalah pengorbanan masa depan atas potensi jasa atau


manfaat ekonomi masa depan bahwa entitas saat ini wajib kepada
entitas lain sebagai akibat transaksi masa lalu atau peristiwa masa
lalu lainnya.

Definisi-definisi diatas memisahkan antara makna atau pengertian


dan pengukuran serta pengakuan sehingga dafinisi tersebut lebih bersifat
semantic dari pada structural. 5

APB No. 4 mendefinisikan kewajiban dengan menggabungkan


makna, pengukuran, dan pengakuan
4 sebagai berikut:

Kewajiban adalah kewajiban ekonomi perusahaan yang diakui dan


diukur sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum.Kewajiban juga mencakup kredit tangguhan tertentu yang
tidak kewajiban tapi yang diakui dan diukur sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum.

Definisi dari IFRS (PSAK 57)sebagai berikut :

Liabilitas adalah kewajiban kini dari perusahaan yang timbul dari


peristiwa masa lalu, penyelesaian yang diharapkan dapat
menghasilkan arus keluar dari sumber daya peusahaan dalam
mewujudkan manfaat ekonomi.

Definisi-definisi kewajiban di atas sangat menekankan konsep


kesatuan usaha dengan dinyatakannya secara eksplisit ungkapan kesatuan
usaha (entitas/entity atau perusahaan/enterprise) di dalamnya untuk
menunjukan pihak yang mempunyai keharusan untuk melakukan
pengorbankan ekonomik.Selain definisi APB, definisi kewajiban selalu
memuat pula ungkapan manfaat ekonomis, sumber ekonomik, atau potensi
jasa.Ini berarti bahwa pengertian kewajiban tidak dapat dipisahkan dengan
pengertian asset. Aset dapat menikmbulkan kewajiban dan sebaliknya
timbulnya kewajiban dapat dibarengi dengan pengakuan asset
(Suwardjono,2014).

Dengan berbagai variasi diatas, secara umum dapat dikatakan


bahwa kewajiban mempunyai tiga karakteristik utama yaitu: (1)
pengorbanan manfaar ekonomik dimasa mendatang, (2) keharusan
sekarang untuk mentransfer asset, dan (3) timbul akibat transaksi masa
lalu.

2.1.1 Pengorbanan Manfaat Ekonomik 6

Untuk dapat disebut sebagai kewajiban, suatu objek harus memuat


suatu tugas atau tanggung jawab kepada pihak lain yang mengharuskan
kesatuan usaha untuk melunasi, menunaikan atau melaksanakan dengan
cara mengorbankan manfaat ekonomik yang cukup pasti dimasa datang.
Pengorbanan manfaat ekonomik diwujudkan dalam bentuk transfer atau
penggunaan aset kesatuan usaha.
Transfer manfaat ekonomik kepada pemilik (pemegang saham)
tidak termasuk dalam pengertian pengorbanan sumber ekonomik masa
datang yang membentuk kewajiban karena untuk menjadi kewajiban
pengorbanan tersebut harus bersifat memaksa dan bukan atas dasar
kebijakan atau keleluasaan manajemen untuk memutuskan baik dalam hal
jumlah rupiah maupun dalam saat transfer.

Secara umum, keharusan mengorbankan sumber ekonomik masa


datang tidak dapat menjadi kewajiban kalau keharusan tersebut bersifat
terbuka atau tidak pasti.Kesatuan usaha tidak mempunyai keharusan untuk
mentransfer aset ke pemilik kecuali dalam hal kesatuan usaha
dilikuidasi.Walaupun secara konseptual ekuitas juga merupakan kewajiban
bagi perusahaan, pengorbanan sumber ekonomiknya tidak cukup pasti
baik dalam jumlah maupun saat sehingga kewajiban harus dibedakan dan
dilaporkan secara terpisah dengan ekuitas (Suwardjono, 2014).

2.1.2 Keharusan Sekarang

Untuk dapat disebut sebagai kewajiban, suatu pengorbanan


ekonomik masa mendatang harus timbul akibat keharusan (obligation aor
duties) sekarang. Pengertian “sekarang” dalam hal ini mengacu pada dua
hal : waktu dan adanya. Waktu yang dimaksud adalah tanggal pelaporan
(laporan posisi keuangan).Artinya, pada tenggal neraca kalau perlu
dipaksakan (secara yuridis, etus, atau rasional) pengoraban sumber
ekonomik harus dipenuhi karena keharusa untuk itu telah ada (suwardjono,
2014). 7

Pengertian kewajiban mencakupi keharusan kontraktual


(contractual atau legally enforceable obligation), keharusan konstruktif
atau bentukan (constructive obligation) , keharusan demi keadilan
(equitable obligation), dan keharusan bergantung atau bersyarat
(contingent obligation).
Keharusan Kontraktual adalah keharusan yang timbul akibat
perjanjian atau peraturan hukum yang didalamnya kewajiban bagi suatu
kesatuan usaha dinyatakan secara eksplisit atau implisit dan mengkikat.’

Keharusan konstruktif adalah keharusan yang timbul akibat


kebijakan kesatuan usaha dalam rangka menjalankan dan memajukan us
ahanya untuk memenuhi apa yang disebut praktik usaha yang baik (best
business practice) dan bukan memenuhi kewajiban yuridis.

Keharusan demi keadilan adalah keharusan yang ada sekarang


yang menimbulkan kewajiban bagi perusahaan semata-mata karena
panggilan etis atau moral dari pada peraturan hukum atau praktik bisnis
yang sehat.

Keharusan bergantung atau bersyarat adalah keharusan yang


pemenuhannya (jumlah rupiah atau jadi-tidaknya dipenuhi) tidak pasti
karena bergantung pada kejadian masa mendatang atau terpenuhinya
syarat-syarat tertentu dimasa datang.

2.2 PENGUKURAN UTANG (KEWAJIBAN) 8

Pengakuan dilakukan setelah suatu kewajiban terukur dengan


cukup pasti. Penentuan kos kewajiban pada saat terjadi paralel dengan
pengukuran asset. Terjadinya kewajiban pada umumnya disertai dengan
pemerolehan asset atau timbulmnya biaya.Pemerolehan asset dapat berupa
penguasaan barang dagangannya atau asset nonmoneter lainnya yang
terjadi dari transaksi pembelian.Pemerolehan asset dapat juga berupa kas
yang terjadi dari transaksi peminjaman (penerbitan obligasi) atau
penerimaan uang muka untuk barang atau jasa. Oleh karena itu pengukur
yang paling objektif untuk menentuka kos kewajiban pada saat terjadinya
adalah penghargaan sepakatan (meansured considerations) dalam
transaksi-transaksi tersebut dan bukan jumlah rupiah pengorbanan
ekonomik masa datang. Hal ini berlaku khususnya untuk kewajiban jangka
panjang (Suwardjono, 2014).
Untuk kewajiban jangka pendek, kos penundaan dianggap tidak
cukup material sehingga jumlah rupiah kewajiban yang diakui akan sama
denga jumlah rupiah pengorbanan sumber ekonimik (kas) masa datang.
Dengan kata lain, untuk kewajiban jangka pendek, kos pendanaan
(financing cost) atau kos penundaan (bunga sebagai nilai waktu uang)
dianggap material.

Penghargaan sepakatan suatu kewajiban merefleksi nilai setara


tunai atau nilai sekarang (current value) kewajiban yaitu jumlah rupiah
pengorbanan sumber ekonomik seandainya kewajiban dilunasi pada saat
terjadinya.Dengan demikian, bisnis pencatatan kewajiban adalah nilai
setara tunai bukan nilai nominal utang (Suwardjono, 2014).

Syamsudin (2011) Untuk tujuan pengukuran, baik hutang lancar


maupun tidak lancar dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu :

a. Hutang yang jumlahnya sudah pasti. Contoh dari hutang ini adalah
nominal dari wesel atau obligasi.
b. Hutang yang jumlahnya harus diestimasi. Dilihat dari
kepastiannya, hutang ini pasti terjadi namun jumlahnya belum
diketahui secara pasti.
c. Hutang bersyarat (contingent liablility) yaitu suatu hutang yang
akan muncul jika terjadi kejadian lain. Contohnya perusahaan
dituntut di pengadilan oleh perusahaan lain. Perusahaan akan
berkewajiban membayar uang jika pengadilan memenangkan
perusahaan yang menuntut tersebut.

2.2.1 Kewajiban Dalam Pembelian Kredit

Dasar pengukuran asset yang paling efektif adalah kos tunai (cash
cost) atau kos tunai implisit (implied cash cost). Karena kwajiban
merupaka bayangan cermin asset, pengukurannya juga mengikuti
pengukuran asset. 9

2.2.2 Diskon dan Premium Utang Obligasi


Nilai nominal atau jatuh tempo utang obligasi sering dianggap
sebagai jumlah rupiah kesepakatan pada saat penerbitan obligasi baik bagi
penerbit maupun kreditor.Dasar pengukuran demikian sebenarnya tidak
tepat. Untuk suatu kontrak utang dengan ketentuan pembayaran bunga
periodic dan pokok pinjaman pada akhir jangka kontrak, pengukuran nilai
rupiah (kos) utang dan asset untuk dasr pertama kali yang tepat adalah kost
tunai implisit (Suwardjono, 2014).

2.2.3 Kewajiban Meneter dan Non Meneter

Kewajiban moneter adalah kewajiban yang pengorbanan sumber


ekonomik masa datangnya adalah kas dengan jumlah rupiah dan saat yang
pasti. Kewajiban ini diukur atas dasar nilai nominal (face value)
berdasarkan konsep dasar materialitas (Suwardjono, 2014).

Kewajiban non moneter adalah keharusan untuk menyediakan


barang dan jasa dengan jumlah dan saat yang cukup pasti yang biasanya
timbul karena penerimaan pembayaran dimuka untuk barang dan jasa
tersebut.Kewajiban ini diukur atas dasar pembayaran tersebut yang
menunjukan harga yang disepakati untuk barang dan jasa (Suwardjono,
2014).

2.3 Penilaian

Penilaian mengacu pada penentuan nilai keharusan sekarang pada setiap


saat antara terjadinya kewajiban sampai dilunasinya kewajiban. Makin mendekati
saat jatuh tempo, nilai kewajiban akan makin mendekati nilai nominal (face value)
kewajiban. Penilaian kewajiban pada saat tertentu adalah penentuan jumlah rupiah
yang harus dikorbankan seandainya pada saat tersebut kewajiban harus dilunasi.
Dengan kata lain, penilaian adalah penentuan nilai sekarang kewajiban. Untuk
kewajiban moneter, nilai sekarangnya biasanya ditentukan atas dasar aliran kas
keluar dimasa datang didiskonan dengan tingkat bunga pasar sebagai tarif diskon
(Suwardjono, 2014)

2.3.1 Transfer aset finansial


10

Untuk melunasi kewajiban, suatu entitas dapat mentransfer aset financial


termasuk kas, barang, atau jasa.Bila kewajiban telah dilunasi dengan mentransfer
secara penuh kas, barang, atau jasa ke debitor maka pada saat itu pelunasan
dianggap tuntas.Debitor tidak lagiterlibat dengan asset atau kreditor secara
financial.Perlunasan kewajiban dengan aset financial juga dapat bersifat tuntas
bila penyerahan asset financial bersifat tak bersyarat dan dianggap sebagai
penjualan.

2.3.2 Perlunasan Sebelum Jatuh Tempo

Bila kewajiban dilunasi pada saat jatuh tempo, nilai jatuh tempo (nominal)
dengan sendirinya merefleksi nilai sekarang (saat pelunasan) kewajiban sehingga
tidak ada selisih antara jumlah rupiah yang dibayar dan nilai nominal. Nilai jatuh
tempo juga akan sama dengan nilai buku atau nilai bawaan (carrying value)
kewajiban karena proses amortisasi selisih antara nominal dan nilai pasar pada
saat penerbitan utang (misalnya obligasi). Selama beredar, nilai pasar atau nilai
sekarang kewajiban berfluktuasi mengikuti tingkat bunga yang berlaku tetapi pada
umumnya fluktuasi tersebut tidak diakui dalam pembukuan debitor.

2.3.3 Utang Terkonversi

Instrument financial pada dasarnya merupakan alat pembayaran atau


pinjaman sehingga dapat digunakan oleh pemegangnya untuk melunasi utang.
Utang terkontroversi atau convertible (convertible debt) merupakan salah satu
instrument financial tersebut. Sekuritas utang semacam ini biasanya mempunyai
status sebagai kewajiban dan ekuitas sekaligus.Artinya, pemegang instrument
mempunyai hak istimewa untuk mengubah status utang menjadi ekuitas setiap
saat selama hak tersebut masih berlaku (belum habis). Instumen semacam ini
merupakan salah satu bentuk dari apa yang disebut sekuritas hibrida (hybrid
securities).

2.3.4 Pembebasan Substantif

Pada mulanya, FASB menetapkan bahwa kewajiban dapat dianggap


lenyap bila kreditor menaruh kas atau lainnya misalnya obligasi pemerintah yang
tidak dapat ditarik kembali dalam satu perwalian dan aliran kas dari aset tersebut
11

akan cukup untuk pelunasan pembayaran bunga serta pokok pinjaman. Bila telah
dicapai saat sehingga debitor sehingga tidak perlu lagi melakukan pembayaran di
masa datang yang berkaitan dengan pinjaman tersebut, maka pada saat tersebut
secara substansif debitor sudah bebas dari kewajiban sehingga dapat mengakui
kewajiban dan asset dalam perwalian meskipun utang belum jatuh waktu. Bila
debitor membentuk dana pelunasan utang obligasi, pada saat debitor sudah tidak
perlu lagi membayar atau menyetor kas ke dana tersebut karena kas yang telah
disetor dan pendapatan dari dana tersebut sudah pasti akan cukup untuk menutup
utang pada saat jatuh tempo, maka pada saat itu kewajiban debitorsecara
substantive dianggap lenyao meskipun kewajiban belum jatuh tempo. Jadi, pada
saat tidak ada lagi keharusan membayar, telah terjadi pembebasan substantive.

2.4 Penyajian

Secara umum, kewajiban disajikan dalam neraca atas dasar urutan


kelancarannya sejalan dengan penyajian asset.PSAK No 1 (pasal 39)
menggariskan bahwa aset lancer disajikan urut menurut urutan likuidiats
sedangkan kewajiban disajikan menurut urutan jatuh tempo.Ini berarti kewajiban
jangka pendek disajikan lebih dahulu daripada kewajiban jangka panjang.Hal ini
dimaksudkan untuk memudahkan pembaca untuk mengevaluasi likuiditas
perusahaan.

PSAK No 1 menentukan bahwa semua kewajiban yang tidak memenuhi kriteria


sebagai kewajiban jangka pendek harus diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka
panjang. Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek bila
(paragraph 44) :

a. diperkirkan akan diselesaikan dalam jangka waktu siklus normal opersi


perusahaan
b. jatuh tempo dalam jangka waktu dua belas bulan dari tanggal neraca

Suatu kewajiban tetap dapat diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang


bila kewajiban tersebut tidak akan dilunasi tetapi didanai kembali atau diperbarui.
Paragraf 47 menyebutkan bahwa kewajiban berbunga jangka panjang tetap
diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang, walaupun kewajiban tersebut
12

akan jatuh tempo dalam jangka waktu dua belas bulan sejak tanggal
neraca,apabila :

a. Kesepakatan awal perjanjian pinjaman untuk jangka waktu lebih dari dua
belas bulan
b. Perusahaan bermaksud membiayai kembali kewajibannya dengan
pendanaan jangkapanjang
BAB III

KESIMPULAN

Menurut FASB kewajiban diartikan sebagai pengorbanan manfaat


ekonomik masa datang yang cukup pasti yang timbul dari keharusan sekarang
suatu kesatuan usaha untuk menstransfer aset atau menyediakan/menyerahkan
jasa kepada kesatuan lain datang sebagai akibat transaksi atau kejadian masa lalu.

Kewajiban diakui pada saat keharusan telah mengikat akibat transaksi


yang sebelumnya terjadi.Kewajiban dapat diakui atas dasar kriteria pengakuan
yaitu definisi, keterukuran, keterandalan, dan keberpautan.Kam (hlm 119-120)
mengajukan empat kaidah pengakuan untuk menandai pengakuan kewajiban yaitu
ketersediaan dasar hukum, keterterapan konsep dasar konservatisme, ketertentuan
substansi ekonomik transaksi, dan keterukuran nilai kewajiban.Keempat kaidah
tersebut dapat memberikan petunjuk tentang adanya bukti teknis untuk mengakui
kewajiban.

Penentuan kos kewajiban pada saat terjadinya paralel dengan pengukuran


aset, dan pengukur yang paling objektif untuk menentukan kos kewajiban pada
saat terjadinya adalah dengan penghargaan sepakatan dalam transaksi-transaksi
dan bukan jumlah rupiah pengorbanan ekonomik masa datang. Penghargaan suau
kewajiban merefleksi nilai setara tunai atau nilai sekarang kewajiban yaitu jumlah
rupiah pengorbanan sumber ekonomik seandainya kewajiban dilunasi pada saat
terjadinya.

Penilaian kewajiban pada saat tertentu adalah penentuan jumlah rupiah


yang harus dikorbankan seandainya pada saat tersebut kewajiban harus dilunasi,
dengan kata lain penilaian adalah penentuan nilai sekarang kewajiban. Atribut
pengukuran menurut FASB adalah nilai pasar sekarang, nilai pelunasan neto, dan
Nilai diskunan aliran kas masa datang. Penilaian dalam tahap penelusuran adalah
Penilaian kewajiban setiap saat dalam perioda dari saat pengakuan sampai
pelunasan.

13
DAFTAR PUSTAKA

Suwardjono. 2014. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan, edisi

ketiga cetakan kedelapan.Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.

Syamsudin, Lukman. 2011. Manajemen Keuangan Perusahaan. Edisi Baru.


Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.