Anda di halaman 1dari 19

KONTRUKSI TAMBAK UNTUK BUDIDAYA UDANG INTENSIF

ATAU SEMIINTESIF

MAKALAH
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Rekayasa Akuakultur

Disusun oleh :

Seldatia Syifani A. 230110170033

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat
dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Kontruksi
Tambak Untuk Budidaya Udang Intensif Atau Semi intesif” ini dapat
diselesaikan tepat pada waktunya.
Dalam kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada
seluruh pihak yang telah terlibat dalam proses pembuatan Makalah Rekayasa
Akuakultur. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami dan juga pembaca.
Adanya kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk perbaikan makalah
selanjutnya sangat diharapkan.
Akhir kata, demikian makalah ini penyusun buat, mohon maaf bila ada
kesalahan kata selebihnya penyusun ucapkan terima kasih

Jatinangor, Maret 2020

Penulis
DAFTAR ISI

BAB Halaman
KATA PENGANTAR...................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................ii
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang......................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................2
1.3 Tujuan...................................................................................................2
II PEMBAHASAN
2.1 Budidaya...............................................................................................3
2.2 Komponen Budidaya.............................................................................4
2.3 Teknologi Budidaya..............................................................................4
2.4 Biologi Udang.......................................................................................6
2.5 Kontruksi Tambak.................................................................................9
2.5.1 Pemilihan Lokasi Tambak (Pond Site Selection)..................................9
2.5.2 Ukuran Tambak...................................................................................10
2.5.3 Elevasi Tambak...................................................................................11
2.5.4 Tata Letak Tambak (Pond Layout).....................................................11
2.5.5 Lining..................................................................................................11
2.5.6 Jembatan Anco....................................................................................12
III KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan.........................................................................................13
3.2 Saran....................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................. 14
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam The State of Fisheries and Aquaculture Tahun 2008, FAO
melaporkan bahwa akuakultur merupakan salah satu sektor produksi pangan yang 
memiliki laju pertumbuhan tertinggi di dunia yaitu mencapai 8,7% per tahun.
(Rangka, 2012). Budidaya perikanan adalah usaha pemeliharaan dan
pengempbangbiakanikan atau organisme air lainnya budidaya perikanan disebut
juga sebagagai budidaya perairan atau akuakultur (Mulyono dan Ritonga 2019).
Syarat terlaksananya kegiatan budidaya adalah adanya organisme yang
dibudidayakan, media hidup organisme, dan wadah atau tempat budidaya.
Vaname merupakan salah satu jenis udang yang sering dibudidayakan.
Hal ini disebabkan udang tersebut memiliki prospek dan profit yang menjanjikan
(Babu et al., 2014). Kegiatan kultivasi vaname meliputi kegiatan pembenihan dan
pembesaran. Untuk menghasilkan komoditas vaname yang unggul, maka proses
pemeliharaan harus memperhatikan aspek internal yang meliputi asal dan kualitas
benih, serta faktor eksternal mencakup kualitas air budidaya, pemberian pakan,
teknologi yang digunakan, serta pengendalian hama dan penyakit (Haliman dan
Adijaya, 2005).
Budidaya pola intensif dan super intensif udang (Vaname) di Indonesia
hingga kini telah berkembang dan menggunakan berbagai jenis tambak yaitu
tambak tanah, tambak semen dan tambak HDPE. Masing-masing jenis tambak
tersebut mempunyai keunggulan dan kelemahan secara teknis dan ekonomis.
Budidaya udang mengalami perkembangan yang cukup pesat baik dari input
teknologi maupun metode budidaya, perkembangan tersebut tidak terlepas dari
bertambahnya pengetahuan dan semakin terbatasnya lahan budidaya di sepanjang
pantai. Budidaya udang kedepannya harus ramah terhadap lingkungan untuk
menjamin keberlanjutannya.

1
2

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dari makalah ini sebagai berikut :

1. Apa yang dimaksud dengan Budidaya?


2. Apa yang dimaksud Teknologi Budidaya?
3. Apa yang dimaksud Kontruksi Tambak budidaya?
4. Bagaimana kontruksi Tambak Udang Intensif atau Semiintensif?

1.3 Tujuan
Tujuan dari makalah ini sebagai :

1. Untuk mengetahui mengenai Budidaya?


2. Untuk mengetahui mengenai Teknologi Budidaya?
3. Untuk mengetahui mengenai Kontruksi Tambak budidaya?
4. Untuk mengetahui Kontruksi Tambak Udang Intensif atau Semiintensif?
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Budidaya
Budidaya adalah kegiatan untuk memproduksi biota (organisme) akuatik
di lingkungan terkontrol dalam rangka mendapatkan keuntungan (profit).
Akuakultur berasal dari bahasa Inggris aquaculture (aqua = perairan; culture =
budidaya) dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi budidaya
perairan atau budidaya perikanan. Oleh karena itu, akuakultur dapat didefinisikan
menjadi campur tangan (upaya-upaya) manusia untuk meningkatkan produktivitas
perairan melalui kegiatan budidaya. Kegiatan budidaya yang dimaksud adalah
kegiatan pemeliharaan untuk memperbanyak (reproduksi), menumbuhkan
(growth), serta meningkatkan mutu biota akuatik sehingga diperoleh keuntungan
(Effendi 2004).
Dalam proses budidaya perlu adanya teknologi yang menunjang demi
kemajuan kegiatan budidaya tersebut. Peningkatan teknologi budidaya perikanan
menjadi penting dalam pencapaian tujuan. Upaya ini dilakukan dengan
memperhatikan potensi sumberdaya lahan, pemahaman terhadap faktor kelayakan
budidaya, tingkatan teknologi budidaya dan pemanfaatan plasma nutfah ikan
budidaya (Sukadi 2002).
Terdapat jenis-jenis budidaya salahsatunya yaitu budidaya di air payau.
Pengertian akuakultur air payau adalah budidaya organisme aquatik dimana
produk akhir dihasilkan di lingkungan air payau; tahap awal siklus hidup spesies
yang dibudidayakan bisa saja di perairan tawar atau laut (Crespi dan Coche 2008).
Potensi lahan di Indonesia yang digunakan untuk pembudidayan di pantai atau
disebut juga tambak adalah sebesar 913.000 ha. Jenis-jenis komoditas budidaya di
tambak masih didominasi oleh udang windu, sedangkan jenis lain adalah udang
lain (non windu) dan bandeng, tingkat produksi pembudidayaan di pantai
mengalami peningkatan sebesar 4,06% pertahun yaitu 346,21 ribu ton pada tahun
1994 menjadi430,45 ton pada tahun 2000 (Ditjen Perikanan Budidaya 2002).

3
4

2.2 Komponen Budidaya


Sarana budidaya adalah semua fasilitas yang dimanfaatkan untuk kegiatan
operasional, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sarana dibagi menjadi
sarana pokok dan sarana penunjang. Sarana pokok adalah fasilitas yang digunakan
secara langsung untuk kegiatan produksi, sedangkan sarana penunjang adalah
fasilitas yang tidak digunakan secara langsung untuk proses produksi tetapi sangat
menunjang kelancaran produksi. Sarana penunjang yang dimaksud antara lain
jalan, gudang pakan, gudang peralatan mekanik, kendaraan, sarana laboratorium,
dan sarana komunikasi. Beberapa sarana pokok dalam budidaya adalah (Kordi
2009) sebagai berikut :
1. Reservior atau tandon air berfungsi sebagai penampung air, mengendapkan
lumpur, dan cadangan air tambak.
2. Aerator untuk mempertahankan oksigen dan mempertahankan oksigen terlarut
agar berkisar pada konsentrasi jenuh 6-7 ppm.
3. Pompa air untuk mengatur kedalaman air dan sebagai alat bantu dalam
pergantian air.
4. Pakan dalam budidaya merupakan bagian dari upaya mempertahankan
pertumbuhan optimal ikan.
5. Peralatan panen, alat utama untuk panen adalah jala, jaring arad, dan bak
penampung ikan, dan bak pengangkut hasil panen.

2.3 Teknologi Budidaya


Tingkat teknologi budidaya dalam akuakultur berbeda-beda. Perbedaan
tingkat teknologi ini akan berpengaruh terhadap produksi dan produktivitas yang
dihasilkan. Berdasarkan tingkat teknologi dan produksi yang dihasilkan, kegiatan
akuakultur dapat dibedakan menjadi akuakultur yang ekstensif atau tradisional,
akuakultur yang semi intensif, akuakultur intensif, dan akuakultur hiper intensif.
Pengertian dan perbedaan karakteristik masing-masing kategori tersebut
dapat dilihat sebagai berikut (Crespi dan Coche 2008) :
5

1. Ekstensif (Tradisional)
Ekstensif adalah sistem produksi yang bercirikan: a. tingkat kontrol yang
rendah (contoh terhadap lingkungan, nutrisi, predator, penyakit), b. biaya awal
rendah, level teknologi rendah, dan level efisiensi rendah (hasil tidak lebih dari
500 kg/ha/tahun), c. ketergantungan tinggi terhadap cuaca dan kualitas air lokal,
menggunakan badan-badan air alami. Produksi yang dihasilkan dari sistem ini
adalah kurang dari 500kg/ha pertahun.
2. Semi Intensif
Semi intensif adalah sistem budidaya berkarakteristik produksi 2 sampai
20 ton/ha/tahun, yang sebgian besar tergantung makanan alami, didukung oleh
pemupukan dan ditambah pakan buatan, benih berasal dari pembenihan,
penggunaan pupuk secara reguler, beberapa menggunakan pergantian air atau
aerasi, biasanya menggunakan pompa atau gravitasi untuk suplai air, umumnya
memakai kolam yang sudah dimodifikasi. Produksi yang dihasilkan dari sistem ini
adalah 2.000-20.000kg/ha pertahun.
3. Intensif
Intensif adalah sistem budidaya yang bercirikan (i) produksi mencapai 200
ton/ha/tahun; (ii) tingkat kontrol yang tinggi; (iii) biaya awal yang tinggi, tingkat
teknologi tinggi, dan efisiensi produksi yang tinggi; (iv) mengarah kepada tidak
terpengaruh terhadap iklim dan kualitas air lokal; (v) menggunakan sistem
budidaya buatan. Produksi yang dihasilkan dari sistem ini adalah 20.000-200.000
kg/ha pertahun.
4. Hiper Intensif
Hiper intensif adalah sistem budidaya dengan karakteristik produksi rata-
rata lebih dari 200 ton/ha/tahun, menggunakan pakan buatan sepenuhnya untuk
memenuhi kebutuhan makanan organisme yang dibudidayakan, benih berasal dari
hatchery/pembenihan, tidak menggunakan pupuk, pencegahan penuh terhadap
predator dan pencurian, terkoordinasi dan terkendali, suplai air dengan pompa
atau memanfaatkan gravitasi, penggantian air dan aerasi sepenuhnya Untuk
peningkatan kualitas air, dapat berupa kolam air deras, karamba atau tank.
Produksi yang dihasilkan dari sistem ini adalah lebih dari 200.000 kg/ha pertahun.
6

2.4 Biologi Udang


Pengetahuan tentang biologi udang sangat penting dalam rangka
pengembangan sistem budidaya masa depan baik pembenihan maupun
pembesaran. Biologi udang yang perlu dipahami antara lain :
a) Taksonomi
Pemberian nama ilmiah udang windu pertama kali dilakukan oleh
Fabricius pada tahun 1798 dengan nama Penaeus monodon Fab. (Holthuis, 1980).
Taksonomi udang windu menurut Holthuis (1980) adalah sebagai berikut :
Filum :Arthropoda
Kelas : Crustacea
Subkelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Famili : Penaeidae
Genus : Penaeus
Spesies : Penaeus monodon Fabricus, 1798
Pemberian nama ilmiah udang vaname atau udang putih pertama kali
dilakukan oleh Boone pada tahun 1931 dengan nama Penaeus vannamei
(Holthuis, 1980). Taksonomi udang vaname menurut Holthuis (1980) yaitu
sebagai berikut :
Filum :Arthropoda
Kelas : Crustacea
Subkelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Subordo : Natantia
Famili : Penaeidae
Genus : Penaeus
Spesies : Litopenaeus vannamei Boone, 1931
b) Morfologi
Tubuh udang terdiri dari 2 bagian utama yaitu kepala dada (cephalothorax)
dan perut (abdomen). Cephalotorax tertutup oleh kelopak kepala yang disebut
carapace. Udang windu mempunyai 5 pasang kaki renang (pleopod) dan 5 pasang
kaki jalan (pereopod). Bagian tubuhnya terdiri dari carapace (kepala) dan
abdomen (perut). Pada ujung carapace terdapat rostrum yang mempunyai gerigi
7

bagian atas (dorsal) sebayak 6- 8 (kebanyakan 7) dan bagian bawah (ventral)


sebanyak 2-4 buah 4 (kebanyakan 3) (Motoh, 1981; Solis, 1988).
Pada bagian abdomen terdapat 6 segmen serta telson pada segmen yang ke
6. Cephalotorax terdiri dari 13 ruas (kepala : 5 ruas, dada : 8 ruas) dan abdomen 6
ruas, terdapat ekor dibagian belakang. Pada cephalotorax terdapat anggota tubuh,
berturut-turut yaitu antenulla (sungut kecil), scophocerit (sirip kepala), antenna
(sungut besar), mandibula (rahang), 2 pasang maxilla (alat-alat pembantu rahang),
3 pasang maxilliped, 3 pasang pereiopoda (kaki jalan) yang ujung-ujungnya
bercapit disebut chela. Insang terdapat di bagian sisi kiri dan kanan kepala,
tertutup oleh carapace.Pada bagian abdomen terdapat 5 pasang pleopoda (kaki
renang) yaitu pada ruas ke-1 sampai 5. Sedangkan pada ruas ke-6 kaki renang
mengalami perubahan bentuk menjadi ekor kipas atau uropoda. Ujung ruas
keenam ke arah belakang terdapat telson (Motoh, 1985).

Gambar 1. Morfologi Udang Windu

c) Distribusi
Udang windu tersebar luas di Perairan Indo-Pasifik : Afrika Selatan,
Tanzania, Kenya, Somalia, Madagaskar, Saudi Arabia, Oman, Pakistan, India,
Bangladesh, Sri Lanka, Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapore, Philippines,
Hongkong, Taiwan, Korea, Japan, Australia, and Papua New Guinea. Fishing
ground utama udang windu terdapat di daerah tropis seperti Indonesia, Malaysia,
dan Filipina (Motoh, 1985). Tempat hidup (nursery ground) larva udang windu
sampai jevenile berada di estuarin dan daerah mangrove, sementara udang dewasa
8

sampai matang gonad melakukan pemijahan di laut lepas. Menurut Motoh (1981),
udang windu melakukan pemijahan di laut lepas dengan kedalaman 70 m.
d) Siklus Hidup
Siklus hidup udang windu terbagi menjadi enam fase,yaitu (Motoh,
1985) :
1. Embrio, Berupa telur yang transparan berwarna hijau kekuningan,
berdiameter antara 0,27-0,31 mm dengan rata-rata 0,29 mm.
2. Larva, Udang windu pada fase ini t erdiri dari stadium napliu (6 fase),
protozoea (3 fase), mysis (3 fase), dan megalopa (3 atau 4 fase). Masing-
masing stadium terdiri dari 1,5 hari, 5 hari, 4-5 hari, dan 6-15 hari.
Protozoea dan mysis disebut dengan Zoea, sementara megalopa disebut
dengan postlarvae (PL). Akhir dari tahap ini ditandai oleh ruas abdomen
keenam yang lebih panjang dari panjang carapace. Panjang carapace
megalopa antara 1,2 mm sampai 2,2 mm. Warna tubuh megalopa
transparan ditutupi oleh pita berwarna coklat gelap memanjang dari
pangkal antena hingga telson
3. Juvenile, pada fase juvenile segmen abdominal ke 6 lebih pendek
dibandingkan dengan carapace, ukuran tubuh lebih besar, bersifat benthic.
4. Adolesent, Pada tahap ini proposi ukuran tubuh mulai stabil dan tumbuh
tanda – tanda seksual dimana alat kelamin pada udang windu jantan yaitu
petasma mulai terlihat setelah panjang cangkangnya 30 mm, sedangkan
pada betina thelycum mulai terlihat setelah panjang cangkang mencapai 37
mm.
5. Subadult. Pada fase ini terjadi kematangan seksual. Udang jantan memiliki
spermatozoa dalam ampula terminalis sementara udang betina
memgandung spermatozoa pada thelycumnya melalui proses kopulasi.
Pada fase ini udang betina tumbuh lebih cepat dan mulai berpindah dari
daerah asuhan (nursery ground) menuju daerah pemijahan (spawning
ground). Pada saat migrasi, kopulasi pertama kali terjadi ketika udang
betina memiliki panjang carapace minimum 37 cm dan jantan 47 cm.
9

6. Adult. Fase ini hampir sama dengan fase subadult yahng membedakan
hanya ukuran dan habitatnya. Udang windu dewasa ditandai dengan
kematangan gonad yang sempurna. Pada udang jantan mempunyai
spermatozoa pada pasangan ampula terminalis dan pada udang betina
mempunyai ovocytus yang telah berkembang di dalam ovariumnya. Pada
fase ini udang mulai menuju laut lepas (offshore) untuk melakukan
pemijahan. Daerah pemijahan (spawning ground) berada pada kedalaman
sekitar 160 m
e) Makan dan Kebiasaan Makan
Udang windu termasuk dalam jenis hewan omnivora (Hall, 1962).
Makanan yang ditemukan di usus udang windu 85% berupa krustacea kecil
seperti udang dan kepiting serta moluska sementara 15% terdiri dari ikan kecil,
anelida dan lainnya (Motoh, 1985). Udang windu termasuk hewan nocturnal
(aktif makan pada malam hari) dan continuous feeder.

2.5 Kontruksi Tambak


Konstruksi tambak berperan penting dalam menunjang keberhasilan
budidaya udang secara intensif. Konstruksi tambak didesain agar mudah
dijangkau, volume air tercukupi, serta memudahkan manipulasi ketinggian air.
Konstruksi tambak meliputi pemilihan lokasi, ukuran kolam baik luas maupun
kedalaman, elevasi, tata letak (layout), serta atribut kelengkapan tambak lainnya.

2.5.1 Pemilihan Lokasi Tambak (Pond Site Selection)


Seleksi lokasi tambak merupakan langkah penting dalam konstruksi
tambak. Lokasi tambak yang bagus meliputi : level topografi yang memudahkan
pembuatan tambak, kandungan tanah yang mengandung liat untuk menahan air
dan membuat tanggul, dan kecukupan air untuk menyuplai tambak. Sebelum
menentukan lokasi tambak, ada beberapa pertimbangan dalam menentukan, yaitu
perhitungan ekonomis, kemudahan dijangkau (accessibility), dan keamanan
(safety).
Ketersediaan air tanah dengan salinitas yang tinggi diperlukan untuk
daerah yang kesulitan memperoleh air laut secara langsung. Keberadaan air tanah
10

dapat menekan biaya produksi karena tidak memerlukan sterilisasi. Faktor iklim
dan cuaca juga berpengaruh dalam penentuan lokasi budidaya udang.

Daerah dengan curah hujan tinggi mengandung konsekuensi :


 air hujan akan mengencerkan tambak sehingga menurunkan salinitas
 berpotensi terjadinya erosi tanggul tambak, jalan, dll.
 menurunkan suhu air sehingga menurunkan nafsu makan dan imunitas udang.

2.5.2 Ukuran Tambak


Ukuran tambak udang bervariasi berdasarkan tingkat manajemen yang
diterapkan. Tambak tradisional biasanya memiliki ukuran 1-1,5 ha dengan
kedalaman sekitar 0,8 m. Tambak-tambak intensif memiliki ukuran yang lebih
kecil, yaitu 1.000 m2 – 5.000 m2 dengan kedalaman 1,2-2,0 m. Kedalaman air
dipengaruhi oleh kepadatan penebaran udang, semakin tinggi populasi udang,
semakin tinggi level air. Menurut Boyd (1990), kedalaman air tambak semi
intensif antara 0,8 m sampai 1,0 m, sedangkan tambak intensif 1,5-2,0 m. Pada
awal tahun 1990-an, tambak intensif menggunakan ukuran 5.000 m2, namun
akhir-akhir ini banyak berkembang tambak udang dengan ukuran 1.000 m 2-
3.000m2 dengan pertimbangan kemudahan dalam pengoperasiannya. Kemiringan
tangggul tambak (slope) dibuat dengan perbandingan 1:1,5 sampai 1:2 untuk
menghindari tanggul longsor. Slope tanggul ditentukan berdasarkan kandungan
liat tanah tambak. Untuk tambak intensif, selain area untuk tambak pemeliharaan,
diperlukan pula tambak tandon dengan ukuran sekitar 30% dari luas tambak
budidaya.
11

Gambar 2. Kontruksi Tambak

2.5.3 Elevasi Tambak


Elevasi tambak merupakan salah satu faktor penting dalam menilai
kualitas konstruksi tambak. Elevasi tambak yang baik akan memudahkan dalam
memasukkan air dari tandon dan pengeringan dasar tambak sehingga pengeringan
tambak dapat dilakukan secara sempurna. Pengeringan dasar tambak yang
sempurna dapat membunuh predator maupun carrier penyakit, menguraikan
bahan organik, serta meningkatkan lapisan oksida tanah. Kemiringan dasar
tambak mengarah ke tengah tambak atau saluran pembuangan (central drain).

2.5.4 Tata Letak Tambak (Pond Layout)


Degradasi kualitas air dan merebaknya penyakit dapat dipicu oleh tata
letak tambak yang kurang tepat. Tambak-tambak udang yang dikelola masyarakat
biasanya memiliki saluran pemasukan (inlet) dan pengeluaran (outlet) yang tidak
beraturan bahkan kadang menjadi satu saluran. Tambak-tambak yang dikelola
perusahaan besar sudah mempunyai tata letak yang teratur. Apabila layout tambak
yang benar akan mendukung keberhasilan budidaya udang.
12

Gambar 3. Layout Tambak

2.5.5 Lining
Udang vaname mempunyai kecenderungan berada dalam kolom air,
tumbuh baik dengan kepadatan tinggi, bergerak aktif sehingga sering
menimbulkan suspensi pada air tambak. Untuk menghindari muatan padatan
tersuspensi yang tinggi, tambak perlu dilapisi dengan plastik (lining) baik dinding
maupun dasar tambak. Lining dapat dilakukan untuk semua dasar kolam (full
plastic) atau sebagian tambak, yaitu pada feeding area. Bahan yang digunakan
untuk lining ada beberapa jenis dengan tingkat ketahanan yang berbeda-beda.
Jenis palstik mulsa biasanya hanya tahan 2-3 siklus, sedangkan plastik jenis
HDPE (high density polyethylene) tahan sampai lebih dari 10 tahun dan cocok
untuk full plastic.
13

Gambar 4. Tambak Yang Dilapisi Plastik Mulsa

2.5.6 Jembatan Anco


Konstruksi awal pembuatan tambak untuk budidaya udang yang cukup
penting adalah pemasangan jembatan anco. Jembatan anco digunakan untuk
sarana pengontrolan pakan atau nafsu makan udang melalui anco. Idealnya untuk
satu tambak membutuhkan tiga jembatan anco pada tiga sisi yang berbeda. Lokasi
pemasangan jembatan anco di sekitar feeding area (3-4 m dari dinding). Material
yang digunakan untuk pembuatan jembatan anco biasanya berupa bambu, gelam,
maupun beton.
BAB III

KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

Budidaya merupakan salah satu kegiatan alternatif dalam meningkatkan


produksi perikanan. Syarat terlaksananya kegiatan budidaya adalah adanya
organisme yang dibudidayakan, media hidup organisme, dan wadah atau tempat
budidaya. Dalam proses budidaya perlu adanya teknologi yang menunjang demi
kemajuan kegiatan budidaya tersebut. Tingkat teknologi budidaya dalam
akuakultur berbeda-beda. Perbedaan tingkat teknologi ini akan berpengaruh
terhadap produksi dan produktivitas yang dihasilkan, diantaranya terdapat
teknologi budidaya ektensif, semiintensif, intensif dan hiper intensif. Konstruksi
tambak berperan penting dalam menunjang keberhasilan budidaya udang secara
intensif. Konstruksi tambak didesain agar mudah dijangkau, volume air tercukupi,
serta memudahkan manipulasi ketinggian air. Konstruksi tambak meliputi
pemilihan lokasi, ukuran kolam baik luas maupun kedalaman, elevasi, tata letak
(layout), serta atribut kelengkapan tambak lainnya

3.2 Saran
Dalam pembuatan makalah selanjutnya menjadi lebih baik, dan kesalahan-
kesalahan dalam penulisan dapat berkurang. Menyadari bahwa penyusun masih
jauh dari kata sempurna, kedepannya penyusun akan teliti dalam memaparkan
hasil diskusi mengenai Rekayasa Akuakultur dengan sumber lebih banyak yang
tentunya dapat di pertanggungjawabkan.

13
DAFTAR PUSTAKA

Babu, D., Ravuru, J.N. Mude. 2014. Effect of Density on Growth and Production
of Litopenaeus vannamei of Brackish Water Culture System in Summer
Season with Artificial Diet in Prakasam District, India. American
International Journal of Research in Formal, Applied, & Natural Sciences.
5(1):10-13.

Crespi, V dan Coche, A. 2008. Glossary of Aquaculture. Food and Agriculture


Organization. Rome.

Ditjen perikanan budidaya, 2002. Statistik perikanan budidaya Indonesia 2000.


Jakarta.

Effendi, I. 2004. Pengantar Akuakultur. Penebar Swadaya. Jakarta.

Haliman, R.W. dan D. Adijaya. 2005. Udang vannamei, Pembudidayaan dan


Prospek Pasar Udang Putih yang Tahan Penyakit. Penebar Swadaya.
Jakarta: 75 hal.

Holthuis, L.B.1980. FAO species catalogue. Vol.1. Shrimps and prawns of the
world. An annotated catalogue of species of interest to fisheries. FAO
Fish.Synop., 125 (l) : 271 hal.

Kordi, M.G.H., 2009. Sukses memproduksi bandeng super untuk umpan, ekspor
dan indukan. Lily publisher : Yogyakarta.

Motoh, H. (1985). Biology and ecology of Penaeus monodon. In Taki


Y.,Primavera J. H. and Llobrera J. A. (Eds.). Proceedings of the First
International Conference onthe Culture of Penaeid Prawns/Shrimps, 4-7
December 1984, Iloilo City, Philippines (pp. 27-36).Iloilo City,
Philippines: Aquaculture Department, Southeast Asian Fisheries
Development Center.

Motoh, H. 1981. Studies on The Fisheries Biology of The Giant Tiger Prawn,
penaeus monodon in The Philippines. Technical report, No. 7. Tigbauan,
Iloilo : SEAFDEC Aquaculture Department. 128 hal.

Mulyono, M dan Lusiana , Br .Ritonga (2019) Kamus aquaculture


budidaya perikanan.STP PRES Jakarta.

14
Rangka, N. A. dan G. (2012). Pengaruh Penumbuhan Bioflok Pada Budidaya
Udang Vaname Pola Intensif Di Tambak. Jurnal Imiah Perikanan DanKela
utan, 4(2), 141 – 149.

Solis, N. B. (1988). Biology and ecology. In: Biology and culture of Penaeus
monodon (pp. 3-36). Tigbauan, Iloilo, Philippines: SEAFDEC
Aquaculture Department.

Sukadi, M. F 2002. Peningkatan teknologi budidaya perikanan. Jurnal ikhtiologi


Indonesia Vol.2, No. 2, Tahun 2002. Hal 61-66.

15