Anda di halaman 1dari 4

Refina Yuni Mustika

121160156

Kelas A

“Kebakuan Bahasa Indonesia dalam media cetak”


Keberadaan media masa, khususnya media cetak saat ini sangat berkembang
dengan cepat. Dengan adanya media cetak, informasi tentang berbagai aspek dapat
berkembang dengan cepat, dan juga dapat diterima diberbagai kalangan.
Di Indonesia, keberadaan media cetak terdapat berbagai macam jangkauan.
Ada koran yang menjangkau sampai tingkat Internasional, Nasional, atau bahkan
tingkat daerah. Koran yang ada di tingkat daerah tersebut dibuat agar topik yang
diulas merinci pada daerah tersebut. Terdapat perbedaan dalam koran tersebut,
yaitu dalam gaya berbahasa, dan tampilan layout-nya. Koran yang menjangkau
sampai tingkat Internasional dan Nasional memiliki gaya bahasa yang baku,
menjunjung struktur kebahasaan yang benar. Sedangkan dalam gaya bahasa koran
tingkat Daerah, gaya bahasa yang digunakan lebih santai, sesuai dengan gaya
bahasa masyarakat daerah tersebut namun tetap memperhatikan kebakuan
bahasanya.
Surat kabar sebagai sarana penyampaian inforamasi mempunyai dampak yang
baik bagi perkembangan pola pikir masayarakat. Dengan bertambahnya wawasan
setiap harinya, mereka akan semakin kritis terhadap kondisi yang terjadi di sekitar
mereka.
Media cetak memiliki syarat-syarat dalam hal kebahasaannya, yang pertama
yaitu komunikatif. Maksudnya, dalam menulis sebuah surat kabar tidak boleh
terbelit belit, diksinya tepat, dan juga tidak menimbulkan tafsiran ganda. Syarat
ang kedua yaitu spesifik, jelas kabar tersebut memiliki sumber yang pasti.
Selanjutnya, Hemat kata. Disusun dengan kalimat yang singkat, bila ada kata yang
bersinonim dan lebih singkat, dipilih kata yang lebih singkat. Lalu, jelas makna.Di
dalam bahasa jurnalistik, sedapat mungkin digunakan kata-kata yang bermakna
denotative ( kata-kata yang mengandung makna sebenarnya ), bukan kata-kata
yang bermakna konotatif ( kata-kata yang maknanya tidak langsung, kata-kata
yang bermakna kiasan). Penghalusan bentuk kebahasaan (eufemisme), justru dapat
dipandang sebagai pemborosan kata di dalam bahasa jurnalistik.Dan syarat terakhir
yaitu tidak mubazir dan tidak klise.
Kalimat jurnalistik yang efektif yaitu kalimat yang memiliki kemampuan untuk
menimbulkan kembali gagasan atau pikiran pada pembaca, seperti apa yang ada di
dalam pikiran dan benak penulisanya. Kalimat jurnalistik yang demikian ini juga
harus memiliki kandungan kata-kata tertentu yang bernilai rasa, berciri ikonis, dan
kadangkala bersifat anomatopis, sehingga makna atau maksud penyampaian idea
tau pokok pikiran itu dapat terjadi dengan baik.
Menurut H. Rosihan Anwar (2004) (seorang jurnalis senior dan kawakan)
menegaskan, bahwa ragam bahasa jurnalistik itu, sama sekali tidak boleh
mengabaikan ketentuan-ketentuan tata bahasa baku dan kaidah-kaidah ejaan serta
aturan tata tulis yang berlaku.
Kesalahan-kesalahan berbahasa yang tejadi itu merupakan akibat dari
kurangnya pemahaman terhadap bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia selalu
berkembang dari waktu ke waktu dan mau tidak mau harus dapat diikuti dengan
baik oleh masyarakat. Surat kabar sebagai media informasi bagi masyarakat sudah
tentu harus dapat memberi contoh bahasa Indonesia yang baik dan benar. Baik
dalam kebahasaannya, konjungsi, sampai tanda bacanya. Namun, masih terdapat
penulisan yang salah dalam media cetak, koran misalnya.
Contoh penggunaan tanda baca yang salah terdapat pada:

 “Puluhan seniman, tokoh masyarakat dan budayawan turut hadir”


(Koran Kedaulatan Rakyat tanggal 6 September 2017)

Terdapat kesalahan tanda baca. Harusnya yang benar menjadi

“Puluhan seniman, tokoh masyarakat, dan budayawan turut hadir”

 “ Pada kesempatan ini, GKR Mangkubumi juga menegaskan pasca


keputusan Makhamah Konstitusi (MK) tentang gugatan Pasal 18 huruf
UKK, tidak serta merta hanya untuk dirinya”
(Koran Kedaulatan Rakyat tanggal 6 September 2017)

Kalimat tersebut termasuk dalam kalimat tidak efektif. Seharusnya,


dapat ditulis dengan

“Pada kesempatan ini, GKR Mangkubumi juga menegaskan pasca


keputusan Makhamah Konstitusi (MK) tentang gugatan Pasal 18 huruf
UKK, tidak hanya untuk dirinya”

 “Jadi, lanjut Febri, sudah ada satu orang yang diduga mencegah,
merintangi dan menggagalkan penyidikan kasus dugaan korupsi e-KTP
dengan tersangkanya MN.”
(Koran Kedaulatan Rakyat tanggal 6 September 2017)

Terdapat kesalahan tanda baca. Harusnya yang benar menjadi

“Jadi, lanjut Febri, sudah ada satu orang yang diduga mencegah,
merintangi, dan menggagalkan penyidikan kasus dugaan korupsi e-KTP
dengan tersangkanya MN.
 “Fadli Zon juga menganggap Ketua KPK Agus Rahardjo tentang bisa
menjerat Pansus Angket KPK dengan UU tipikor masih sebatas
wacana”

Kalimat tersebut agak rumpang untuk dibaca, seharusnya dapat


digantikan dengan

“Fadli Zon juga menganggap Ketua KPK Agus Rahardjo tentang akses
menjerat Pansus Angket KPK dengan UU tipikor masih sebatas
wacana”
Setelah ditelaah lebih lanjut, dalam suatu media cetak (koran) masih terdapat
kesalahan baik di penulisan tanda baca, ejaan, dan juga keefektifan kalimatnya.
Media cetak membawa pengaruh besar bagi perkembangan dalam kebakuan
bahasa, karena media cetak saat ini juga masih banyak peminat yang membaca,
otomatis orang yang membaca media cetak tersebut dapat terpengaruh gaya
kebahasaannya. Yang mereka anggap benar nyatanya terdapat kekeliruan.
Seharusnya, sebagai jurnalistik diperlukan adanya ketelitian dalam menuliskan
kalimat, karena dapat berpengaruh terhadap pembacanya pula.