Anda di halaman 1dari 8

Rekan Kerja,  Anda sudah pernah mendengar istilah era disrupsi?

Era disrupsi terjadi ketika


suatu inovasi baru masuk ke pasar dan menciptakan efek disrupsi yang cukup kuat sehingga
mengubah struktur pasar yang sebelumnya.

Fenomena efek disrupsi dapat Anda temukan di Indonesia. Contohnya, Anda dapat menemukan
adanya konflik antara ojek pangkalan dengan ojek daring, taksi konvensional dengan taksi
daring, dan berbagai marketplace online yang cukup mengubah tren jual beli untuk beberapa
produk seperti telepon genggam.

Era disrupsi ini tidak dapat disepelekan karena bisa saja perusahaan Anda yang nanti akan
terkena dampaknya. Oleh karena itu, sebagai pemimpin perusahaan, ada beberapa hal yang harus
Anda perhatikan untuk menghadapi era disrupsi, yaitu :

1. Jangan pernah berhenti berinovasi

Be
berapa perusahaan yang telah mengalami kebangkrutan karena tidak dapat beradaptasi (Sumber :
bridgesoutheast.com)

Pasar memiliki selera yang terus berubah seiring perkembangan zaman. Lalu, apakah perusahaan
dapat memberhentikan perubahan selera konsumen tersebut? Tentu tidak. Justru perusahaan lah
yang harus dapat berinovasi menyesuaikan selera konsumen. Jika tidak, perusahaan Anda seiring
waktu akan ditinggalkan konsumennya secara perlahan seperti brand Nokia, Kodak, dan
Blackberry.

2. Jangan “berlindung” di bawah regulasi 


Ak
si protes anti taksi daring di London (Sumber : telegraph.co.uk)

Perkembangan teknologi membuat konsumen memiliki opsi yang lebih banyak untuk dipilih.
Oleh karena itu, jika perusahaan Anda menjadi korban dari era disrupsi, tidak seharusnya
perusahaan Anda “berlindung” di balik regulasi pemerintah, berusaha mencari-cari kesalahan
dari kompetitor Anda. Karena, dengan maupun tanpa regulasi pun kompetitor Anda akan tetap
berkembang dan justru malah perusahaan Anda yang degradasi.

3. Manfaatkan teknologi 
Te
knologi menjadi salah satu faktor penarik konsumen (Sumber : bgr.com)

Konsumen memiliki hak untuk memilih jasa maupun produk perusahaan yang menawarkan
berbagai kelebihan, baik dari segi harga, kepraktisannya, kemudahan pembayarannya, dan
kecepatan jasa tersebut. Oleh karena itu, sudah seharusnya perusahaan Anda memanfaatkan
teknologi untuk meningkatkan kualitas jasa perusahaan Anda. Ditambah lagi, pangsa pasar saat
ini sudah didominasi oleh Generasi Milenial dan Generasi Z sehingga teknologi menjadi salah
satu faktor mereka menentukan jasa maupun produk yang akan digunakan.

4. Jangan pernah merasa merasa puas


Per
usahaan harus selalu berkembang (Sumber : oestatistico.com.br)

Setiap produk memiliki siklusnya masing-masing. Berdasarkan teori The 4 Product Life Cycle
Stages (PLC), suatu produk akan mengalami 4 tahapan siklus, yaitu introduction (perkenalan),
growth (pertumbuhan), maturity (pematangan), dan decline (penurunan). Jadi, ketika produk
maupun jasa perusahaan Anda sedang dalam tahapan growth, perusahaan Anda jangan terlalu
berpuas diri. Sebab di saat itu, perusahaan-perusahaan lain akan mulai mampu menarik pasar
baru melalui produk-produk baru yang mereka hasilkan.

5. Ciptakan hubungan yang “Customer Oriented”


Ke
cepatan layanan customer service juga memengaruhi konsumen (Sumber : skift.com)

Pada era disrupsi ini, penting bagi perusahaan Anda untuk menyediakan berbagai layanan yang
dapat berorientasi pada konsumen. Perusahaan dapat memberikan berbagai program loyalty,
potongan harga, kemudahan pembayaran, dan menyediakan layanan customer service yang
solutif dan cekatan. Ingat, layanan ini akan membuat para konsumen lebih memilih perusahaan
Anda daripada perusahaan lainnya atau meninggalkan perusahaan Anda.

Itulah 5 hal yang dapat Anda perhatikan sebagai pimpinan perusahaan untuk menghadapi era
disrupsi ini. Semoga tips ini dapat membantu perusahaan Anda untuk dapat tetap eksis pada era
ini ya! Sukses selalu, Rekan Kerja! Baca juga berbagai pengetahuan yang akan mengembangkan
karier maupun perusahaan Anda hanya di aplikasi ruangkerja dengan mengklik gambar di bawah
ini!    
Tahun Disrupsi
Koran Sindo

Rabu, 3 Januari 2018 - 03:21 WIB


views: 40.531

Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A+ A-
Memasuki 2018 masih banyak dunia usaha menghadapi kecemasan karena ada tantangan baru.
Banyak hal yang sulit diprediksi seperti biasa seperti periode-periode sebelumnya. Rheinald
Kasali mengatakan saat ini tengah terjadi suatu disruption atau disrupsi. Apa itu disrupsi? Dalam
kamus besar bahasa Indonesia, disrupsi didefinisikan hal tercabut dari akarnya. Jika diartikan
dalam kehidupan sehari-hari, disrupsi adalah sedang terjadi perubahan yang fundamental atau
mendasar. Satu di antara yang membuat terjadi perubahan yang mendasar adalah evolusi
teknologi yang menyasar sebuah celah kehidupan manusia. Digitalisasi adalah akibat dari evolusi
teknologi (terutama informasi) yang mengubah hampir semua tatanan kehidupan, termasuk
tatanan dalam berusaha

Sebagian pihak mengatakan bahwa disrupsi adalah sebuah ancaman. Namun, banyak pihak pula
mengatakan kondisi saat ini adalah peluang. Jika ada perubahan yang mendasar dalam pola
kehidupan termasuk ekonomi, harus dihadapi pula dengan perubahan yang mendasar dalam
organisasi kita, apalagi organisasi yang merasa nyaman dengan kondisi saat ini. Tentu
membongkar kenyamanan (sebagai awal sebuah perubahan) adalah pekerjaan awal yang
membosankan karena mungkin organisasi tersebut sudah telanjur meresa nyaman. Dan, bagi
perusahaan yang selalu melakukan perubahan harus melakukan usaha ekstra lagi. Jika
sebelumnya hanya melakukan perubahan pada ihwal kecil, saat ini mungkin dibutuhkan
perubahan mendasar termasuk model bisnis, atau bahkan berani melakukan migrasi bisnis.

Rheinald Kasali memberikan tiga hal untuk menghadapi era disrupsi ini. Pertama adalah jangan
nyaman menjadi ”pemenang”. Organisasi yang merasa sangat nyaman selalu berasumsi bahwa
pelanggan mereka sudah sangat loyal. Padahal, ketika terjadi perubahan fundamental saat ini,
perlu ditengok ulang lagi apakah terjadi pergeseran segmen konsumen yang bisa jadi berkarakter
lain dengan konsumen lama. Kedua adalah jangan takut menganibalisasi produk sendiri. Cara ini
sepertinya menjadi cara yang sadis karena harus membunuh produk sendiri dan melahirkan
produk baru. Inilah yang dikatakan perubahan mendasar dalam organisasi jika menghadapi era
disrupsi. Ketiga adalah membentuk ulang atau menciptakan yang baru. Melakukan inovasi
dengan memodifikasi yang sudah ada dalam bentuk lain atau bahkan menciptakan hal baru akan
membuat organisasi akan bisa bertahan.

Baca Juga:

 Rasio Pajak Masih Rendah, Benarkah?


 Hoaks dan Pemilu 2019
 Nunggu Hasil Quick Count, Lakukan Kegiatan ini, Dijamin Untung!

Tiga strategi tersebut akan membuat disrupsi bukan sebagai ancaman, melainkan justru peluang
untuk mendapatkan keuntungan dan mengembangkan organisasi. Selain itu, hal yang paling
penting adalah mengubah pola pikir para anggota organisasi bahwa saat ini telah terjadi disrupsi.
Memberikan kesadaran tentang ada disrupsi adalah sebuah syarat teori perubahan John P Kotter,
yaitu mengomunikasikan visi dan misi serta melakukan koalisi dengan anggota organisasi. Jika
ini telah disampaikan ke semua anggota organisasi, upaya untuk mengubah pola pikir para
anggota organisasi akan semakin mudah. Selanjutnya langkah melakukan perubahan akan
semakin mudah meski ada syarat-syarat lain.

Namun, jika sebuah organisasi terus menggunakan cara lama dengan seksama, sebenarnya
menghadapi era disrupsi ini akan lebih tenang. Tentu setiap tahun atau saat sebuah strategi akan
terus disusun sesuai perubahan internal maupun eksternal. Nah, dalam langkah-langkah strategic
management akan bisa menjawab perubahan-perubahan yang terjadi, termasuk perubahan yang
sangat mendasar. Jika setiap saat organisasi rutin melakukan langkah-langkah ini secara terukur,
era disrupsi akan lebih ringan dihadapi. Ada empat elemen yang patut terus diperhatikan, yaitu
environmental scanning (internal dan eksternal), strategy formulation, strategy implementation,
dan terakhir evaluation and control.

Masing-masing elemen harus dilakukan secara bertahap karena keberhasilan satu elemen secara
berurutan akan memengaruhi keberhasilan organisasi. Keberhasilan elemen kedua akan
bergantung pada keberhasilan elemen pertama. Begitu juga elemen-elemen lainnya. Empat
elemen itu adalah dasar perubahan yang akan menjawab perubahan mendasar saat ini.