Anda di halaman 1dari 12

SATUAN ACARA BERMAIN (SAB)

TERAPI BERMAIN MENYUSUN BALOK PADA ANAK

Dosen Pembimbing :
Ns. Andra Saferi Wijaya, S.Kep., M.Kep

Disusun oleh :
Nama : Bella Samya Dwi Putri
NIM : PO5120218052

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

DIII KEPERAWATAN

2019/2020
SATUAN ACARA BERMAIN

Pokok Bahasan : Terapi bermain pada anak di rumah sakit

Sub Pokok Bahasan : Menyusun Balok

Sasaran : Anak usia Toddler dan usia preschool 

Waktu : 30 menit (jam 10.00 – 10.30)

Tempat : Ruang Anak

Jenis permainan : Menyusun Balok

A. Latar Belakang

Bermain merupakan suatu aktivitas bagi anak yang menyenangkan


dan merupakan suatu metode bagaimana mereka mengenal dunia.
Bagi anak bermain tidak sekedar mengisi waktu, tetapi merupakan
kebutuhan anak seperti halnya makanan, perawatan, cinta kasih dan
lain-lain. Anak-anak memerlukan berbagai variasi permainan untuk
kesehatan fisik, mentaldan perkembangan emosinya. Dengan bermain
anak dapat menstimulasi pertumbuhan otot-ototnya, kognitifnya dan
juga emosinya karena mereka bermain dengan seluruh emosinya,
perasaannya dan pikirannya.
Pada saat dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai
perasaan yang sangat tidak menyenangkan, seperti marah, takut,
cemas, sedih, dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari
hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi beberapa stressor
yang ada dilingkungan rumah sakit. Untuk itu, dengan melakukan
permainan anak akan terlepas dari ketegangan dan stress yang
dialaminya karena dengan melakukan permainan anak akan depat
mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi) dan
relaksasi melalui kesenangannya melakukan permainan

B. Tujuan

1) TIU (Tujuan Instruksional Umum):

Setelah diajak bermain, diharapkan anak diharapkan bisa merasa


tenang selama perawatan dirumah sakit dan tidak takut lagi
terhadap perawat sehingga anak bisa merasa nyaman selama
dirawat dirumah sakit.

2) TIK (Tujuan Instruksional Khusus):

Setelah mendapatkan terapi bermain satu (1) kali diharapkan anak


mampu :

1) Bisa merasa tenang selama dirawat.


2) Anak bisa merasa senang dan tidak takut lagi dengan dokter
dan perawat
3) Mau melaksanakan anjuran dokter dan perawat
4) Anak menjadi kooperatif pada perawat dan tindakan
keperawatan
5) Kebutuhan bermain anak dapat terpenuhi
6) Dapat melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang
normal
7) Dapat mengekspresikan keinginan, perasaan, dan fantasi anak
terhadap suatu permainan
8) Dapat mengembangkan kreativitas melalui pengalaman
bermain yang tepat
9) Agar anak dapat beradaptasi lebih efektif terhadap stress
karena sakit
10)Anak dapat merasakan suasana yang nyaman dan aman
seperti dirumah Sebagai alat komunikasi antara perawat – klien.

C. Metode dan Media


1) Metode
a) Bermain bersama
b) Mendengarkan tanggapan anak atau tanya jawab
2) Media
a) Balok Berwarna
b) Hadiah

D. Kegiatan
1) Pengorganisasian
a) Leader 1 :
b) Notulen :
c) Fasilitator :

Pembagian tugas :
a) Peran Leader
- Mengkoordinasi seluruh kegiatan
- Memimpin jalannya terapi bermain dari awal hingga
berakhirnya terapi
- Membuat suasana bermain agar lebih tenang dan kondusif.
b) Peran Observer/Notulen
- Mengamati semua proses kegiatan yang berkaitan dengan
waktu, tempat dan jalannya acara
- Melaporkan hasil pengamatan pada leader dan semua
angota kelompok dengan evaluasi kelompok
c) Fasilitator
- Memotivasi anak agar dapat kooperatif dalam permainan
yang akan dilakukan
- Bertanggung jawab terhadap program antisipasi masalah
- Fasilitator bertugas sebagai pemandu dan memotivasi anak
agar dapat kooperatif dalam permainan yang akan
dilakukan.
- Mengatur posisi kelompok dalam lingkungan untuk
melaksanakan kegiatan
- Membimbing kelompok selama permainan

2) Setting tempat

Keterangan :

= Leader

= Fasilitator

= Observer/Notulen

= Peserta
= Orangtua

3) Kegiatan Bermain
No Waktu Terapis Anak
1. 5 menit Pembukaan:
1. Leader membuka dan 1. Menjawab salam
mengucapkan salam
2. Memperkenalkan diri 2. Mendengarkan
3. Memperkenalkan anak satu persatu 3. Mendengarkan dan
dan anak saling berkenalan dengan saling berkenalan
temannya
4. Kontrak waktu dengan anak 4. Mendengarkan
5. Mempersilahkan leader 5. Mendengarkan
2. 20 Kegiatan bermain:
menit 1. Leader menjelaskan cara bermain 1. Mendengarkan
2. Menanyakan pada anak, anak mau 2. Menjawab
bermain atau tidak pertanyaan
3. Membagikan permainan 3. Menerima permainan
4. Leader, dan fasilitator memotivasi 4. Bermain
anak
5. Observer mengobservasi anak 5. Bermain
6. Menanyakan perasaan anak 6. Mengungkapkan
perasaan
3. 5 menit Penutup:
1. Leader menghentikan permainan 1. Selesai bermain
2. Menanyakan perasaan anak 2. Mengungkapkan
perasaan
3. Menyampaikan hasil permainan 3. Mendengarkan
4. Membagikan hadiah pada semua 4. Senang
anak yang bermain 5. Mengungkapkan
5. Menanyakan perasaan anak perasaan
6. Leader menutup acara 6. Mendengarkan
7. Mengucapkan salam 7. Menjawab salam

E. Evaluasi

1) Evaluasi Struktur Yang diharapkan:

 Alat-alat yang digunakan lengkap

 Kegiatan yang direncanakan dapat terlaksana

2) Evaluasi Proses Yang diharapkan:

 Terapi dapat berjalan dengan baik

 Anak dapat mengikuti terapi bermain dengan baik

 Tidak adanya hambatan saat melakukan terapi

 Semua anggota kelompok dapat bekerja sama dan bekerja


sesuai tugasnya

3) Evaluasi Hasil Yang diharapkan:

 Anak mampu menyusun balok sesuai permintaan terapis


 Anak mampu menyusun balok sesuai imajinasinya
 Anak mampu menjelaskan bentuk balok yang telah ia susun
sesuai imajinasinya

MATERI SATUAN ACARA BERMAIN MENYUSUN BALOK


1) Bermain menyusun balok
Bermain bagi anak merupakan suatu kebutuhan. Dengan
bermain maka pertumbuhan dan perkembangan anak akan
terstimulasi. Saat anak dalam keadaan sakit dan harus dirawat
dirumah sakit, maka kebutuhan bermain harus tetap difasilitasi.
Walaupun demikian tentu ada perbedaan antara bermain dirumah
dan dirumah sakit, karena selain untuk mendukung fase tumbuh
kembang, bermain dirumah sakit juga dapat berfungsi sebagai
terapi untuk mendukung proses pengobatan.
Bermain dan permainan adalah hal yang sangat penting bagi
anak. Bermain menjadi salah satu caara untuk membantu
mengembangkan berbagai aspek pada anak usia dini. Bermain
adalah kegiatan yang sangat dekat dengan dunia anak. Kegiatan
ini dapat dilakukan secara perorangan ataupun berkelompok.
Jenis permainan, jumlah peserta serta lamanya waktu yang
dialokasikan untuk bermain, bergantung pada kesepakatan yang
dibuat oleh para peserta.
Bermain menyusun balok merupakan salah satu jenis
permainan yang bisa dilakukan dalam proses terapi bermain bagi
klien anak yang sedang menjalani proses hospitalisasi. Terapi
bermain ini dapat digunakan sebagai terapi bagi anak dengan usia
mulai 16 bulan. Bermain dengan cara menyusun balok pada
dasarnya tidak hanya membantu mengembangkan kemampuan
motorik anak tetapi juga berperan penting dalam proses
pengembangan kognitif klien. Kemampuan klien menyusun balok
berkaitan erat dengan kemampuan kognitif klien karena pada
dasarnya bermain dengan cara metode menyusun balok tidak
hanya melatih kemampuan motorik halus klien tapi lebih dari itu
bermain menyusun balok memerlukan perencanaan meskipun
masih relatif sederhana.
Dalam susun balok, anak akan belajar mengenai
konsep,dalam menyusun balok akan ditemukan berbagai konsep,
seperti warna, bentuk, ukuran, dan keseimbangan. Bermain balok
dapat bermanfaat untuk mengembangkan imajinasi. Karena,
membangun sesuatu tentunya diperlukan kemampuan anak dalam
berimajinasi.
2) Faktor Penyebab Ketidakmampuan Menyusun Balok
Menurut Immanuel, ketidakmampuan melakukan tugas
perkembangan tertentu, seperti menyusun balok, dapat
menghambat berkembangnya keterampilan berikutnya. Saat anak
anda berusia 18 bulan, dan ia tidak berminat bermain susun balok
perlu diwaspadai. Kemungkinan si kecil mengalami keterlambatan.
Faktor penyebabnya yaitu:
a) Karena kurang dirangsang atau kurang latihan
Anak berusia 1 tahun perlu dilatih dengan memberinya
balok. Umumnya, anak usia ini berminat pada hal-hal yang
berhubungan dengan sebab-akibat, sehingga ingin mencoba
memadukan satu benda dengan benda lain.
b) Ada gangguan pada mata
Pandangan yang tidak jelas pada anak membuatnya
enggan melakukan kegiatan yang menggunakan benda-benda
kecil. Anda perlu memeriksakannya ke dokter sebelum hal ini
berlangsung lama.
c) Ada gangguan pada saraf atau retardasi mental
Gangguan ini dapat diwaspadai dari kemampuan
meraba. Bila anda mendapati si kecil anda mengalami kelainan
pada keterampilan meraba, anda perlu waspada. Segera bawa
ia ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan
3) Keuntungan Menyusun Balok
Keuntungan-keuntungan yang didapat dari bermain dengan
menyusun balok, antara lain:
a) Terapi bermain menyusun balok dapat merangsang
keterampilan proses berfikir dan motorik anak
b) Meningkatkan hubungan antara klien (anak dan keluarga) dan
perawat
c) Perawatan di rumah sakit akan membatasi kemampuan anak
untuk mandiri. Aktivitas bermain yang terprogram akan
memulihkan perasaan mandiri pada anak.
d) Permainan pada anak di rumah sakit tidak hanya memberikan
rasa senang pada anak, tetapi juga akan membantu anak
mengekspresikan perasaan dan pikiran cemas, takut, sedih
tegang dan nyeri
e) Permainan yang terapeutik akan dapat meningkatkan
kemampuan anak untuk mempunyai tingkah laku yang positif.
DAFTAR PUSTAKA

Yudiernawati, Atty. 2006. Peran Bermain Dalam Perkembangan


Psikososial Anak. Malang: Politeknik Kesehatan Malang
Soetjiningsih. 1988. Tumbuh Kembang Anak.Jakarta: EGC
Yuliastati. 2016. Keperawatan Anak. Jakarta Selatan: Pusdik SDM
kesehatan