Anda di halaman 1dari 7

1.1.

Laporan Pendahuluan
1.1.1. Konsep Penyakit/Kasus
1.1.2. Definisi Kasus
Hernia merupakan prostrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau
bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan. Pada hernia abdomen, isi perut
menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo-aponeurotik dinding
perut. Hernia terdiri atau cincin, kantong dan isi hernia. (Nurarif and Kusuma, 2015)
Hernia adalah penonjolan sebuah organ atau struktur melalui mendeteksi di
dinding otot perut. Hernia umumnya terdiri dari kulit dan subkutan melalui jaringan,
peritoneal kantung dan yang mendasarinya adalah visera, seperti loop usus atau organ-
organ internal lainnya. Faktor yang termasuk pembedahan mendadak pada
peningkatan tekanan intra-abdomen, yang mungkin terjadi selama mengangkat beban
berat atau batuk yang lebih bertahap dan berkepanjangan sehingga peningkatan
tekanan intra-abdomen berhubungan dengan kehamilan, obesitas, atau asites.
(Amrizal, 2015)
1.1.3. Etiologi
1.1.3.1. Mengejan
1.1.3.2. Obesitas
1.1.3.3. Mengangkat beban berat
1.1.3.4. Congenital (Nurarif and Kusuma, 2015)
1.1.4. Klasifikasi Hernia:
1.1.2.1. Hernia Inguinalis. Indirek: batang usus melewati cincin abdomen dan
mengikuti saluran sperma masuk ke dalam kanalis inguinalis
1.1.2.2. Hernia Diafragma. Hernia yang melalui diafragma
1.1.2.3. Hernia Umbilikal. Batang usus melewati cincin umbilical.
1.1.2.4. Hernia Femoralis. Batang usus melewati femoral ke bawah ke dalam kanalis
femoralis
1.1.2.5. Hernia Scrotalis. Batang usus yang masuk ke dalam kantong skrotum (Nurarif
and Kusuma, 2015)
1.1.5. Manifestasi Klinis
1.1.5.1 Berupa benjolan keluar masuk/keras dan yang tersering tampak benjolan di
lipatan paha
1.1.5.2. Adanya rasa nyeri pada daerah benjolan bila isinya terjepit disertai perasaan
mual
1.1.5.3. Terdapat gejala mual dan muntah atau distensi bila ada komplikasi
1.1.5.4. Bila pasien mengejan atau batuk maka benjolan hernia akan bertambah besar
(Nurarif and Kusuma, 2015)
1.1.6. Patofisiologi
Hernia di klasifikasikan menurut lokasi di mana mereka muncul. Sekitar 75% dari
hernia terjadi di panggung paha. Ini juga dikenal sebagai hernia Inguinalis atau
Femoralis. Sekitar 10% adalah Hernia Ventral atau Insisional dinding abdomen, 3%
adalah Hernia Umbilikalis.
Hernia berkembang ketika intra abdominal mengalami pertumbuhan tekanan seperti
tekanan pada saat mengangkat sesuatu yang berat, pada saat buang air besar atau batuk
yang kuat atau bersin dan perpindahan bagian usus kedaerah otot abdominal, tekanan
yang berlebihan pada daerah abdominal itu tentu saja akan menyebabkan suatu
kelemahan mungkin disebabkan dinding abdominal yang tipis atau tidak cukup kuat
pada daerah tersebut dimana kondisi itu ada sejak atau terjadi dari proses
perkembangan yang cukup lama, pembedahan abdominal dan kegemukan.
Pertama-tama terjadi kerusakan yang sangat kecil pada dinding abdominal, kemudian
terjadi hernia. Karena organ-organ selalu saja melakukan pekerjaan yang berat dan
berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga terjadilah penonjolan dan
mengakibatkan kerusakan yang sangat parah, sehingga akhirnya menyebabkan
kantung yang terdapat dalam perut menjadi atau mengalami kelemahan jika suplai
darah terganggu maka berbahaya dan dapat menyebabkan ganggren. (Amrizal, 2015)
1.1.7. Pemeriksaan Penunjang
1.1.7.1. Sinar-X
1.1.7.2. Ultrasound scan, yaitu pemeriksaan yang menggunakan gelombang suara untuk
menghasilkan gambar rongga dada dan perut dan isinya
1.1.7.3. CT scan, yaitu pemeriksaan yang memungkinkan untuk melihat langsung organ
perut
1.1.7.4. Tes Gas Darah arteri, yang dilakukan dengan mengambil darah langsung dari
arteri dan menguji kadar oksigen, karbon dioksida dan keasaman atau tingkat
pH.
1.1.7.5. MRI, yang berfungsi untuk evaluasi organ yang lebih terfokus terutama pada
janin. (Nurarif and Kusuma, 2015)
1.1.8. Penatalaksanaan Medis
1.1.8.1. Secara konservatif (non operatif)
1. Reposisi hernia
Hernia dikembalikan pada tempat semula bisa langsung dengan tangan.
2. Penggunaan alat penyangga dapat dipakai sebagai pengelolaan sementara,
misalnya pemakaian korset.
1.1.8.2. Secara operatif
1. Hernioplasty
Memindahkan fasia pada dinding perut yang lemah, hernioplasty sering
dilakukan pada anak-anak
2. Hernioraphy. Pada beda elektif, kanalis dibuka, isi hernia dimasukkan kantong
diikat, dan di lakukan basiny plasty atau tehnik yang lain untuk memperkuat
dinding belakang kanalis inguinalis.
3. Herniotomy. Seluruh hernia dipotong dan diangkat lalu dibuang. Ini dilakukan
pada klien dengan hernia yang sudah nekrosis. (Wahid, Sampe and Langitan,
2019)
1.1.8.3. Perawatan untuk post operasi
1. Hindari penyakit yang mungkin terjadi, yaitu : perdarahan, syok, muntah,
distensi, kedinginan, infeksi, decubitus, sulit buang air kecil.
2. Observasi keadaan klien
3. Cek TTV
4. Cuci luka dang anti balutan operasi sesuai pesanan dokter
5. Perhatikan drainase
6. Pemenuhan nutrisi
7. Mobilisasi diri (Wahid, Sampe and Langitan, 2019)

1.1.9. Discharge Planing


1.1.9.1. Menggunakan korset/penyangga
1.1.9.2. Hindari hal-hal yang memicu tekanan di dalam rongga perut
1.1.9.3. Tindakan operasi dan pemberian analgesic pada hernia yang menyebabkan nyeri
1.1.9.4. Hindari mengejan, mendorong atau mengangkat beban berat. (Nurarif and
Kusuma, 2015)
1.1.10. Konsep tindakan keperawatan yang diberikan
1.1.10.1 . Pengkajian
a. Riwayat kesehatan
b. Riwayat kejadian, tanda dan gejala
c. Riwayat pekerjaan seperti sering mengangkat beban berat
d. Pemeriksaan fisik
e. Perubahan postur tubuh, cara berjalan
f. Nyeri pada bagian belakang
g. Nyeri pada saat digerakkan, bersin, batuk
h. Kelemahan otot, kekuatan otot, spasme otot
i. Hilangnya sensasi/sensorik
j. Reflex tendon trisep, Achilles berkurang
k. Kehilangan fungsi seksual, eliminasi bowel dan bladder
l. Tanda kernig’s positif
m.Tes lasegue terbatas, kurang dari 70◦
n. Psikososial
o. Gangguan pola tidur
p. Cepat tersinggung.
1.1.10.2. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan agen cidera fisiologis
2. Resiko infeksi dibuktikan dengan adanya faktor resiko eksternal (adanya
inflamasi/infeksi)
1.1.10.3. Intervensi keperawatan
NO DIAGNOSA NOC NIC
KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan Tingkat Nyeri Manajemen Nyeri
dengan agen cidera Kriteria hasil : 1. Lakukan pengkajian
fisiologis Skala target outcome secara komprehensif
dipertahankan pada 1 yang meliputi lokasi,
di tingkatkan ke 5. karakteristik, durasi
1. Ekspresi nyeri dan frekwensi
wajah 2. Gunakan strategi
2. Nyeri yang komunikasi
dilaporkan teraupetik untuk
3. Tidak bisa istrahat mengetahui
4. Mengerang dan pengalaman nyeri
meringis 3. Pastikan perawatan
analgesic bagi
pasien secara
terpantau
4. Bantu keluarga
dalam mencari dan
menyediakan
dukungan

2. Resiko infeksi Tidak ada tanda- Perawatan Luka


dibuktikan dengan tanda infeksi : 1. Jaga agar luka tetap
adanya faktor 1. Tekanan darah lembab untuk
resiko eksternal systolic membantu proses
(adanya 2. Tekanan darah penyembuhan
inflamasi/infeksi) diastolic 2. Bersihkan luka
3. Terbebas dari dengan cairan yang
tanda dan gejala tidak berbahaya
infeksi 3. Observasi tanda-
tanda vital.

1.1.10.4. Implementasi
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan
oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi
ke status kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang
diharapkan
1.1.10.5 Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yg
menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan
pelaksanaannya sudah berhasil dicapai

DAFTAR PUSTAKA
Amrizal (2015) ‘Hernia Inguinalis : Tinjauan Pustaka Pendahuluan’, 6(1).

Nurarif, H. A. and Kusuma, H. (2015) Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa


Medis & NANDA NIC NOC. Jogjakarta: Mediaction.

Wahid, F., Sampe, J. and Langitan, A. (2019) ‘Hernia Inguinalis Lateralis Dextra dengan
Hemiparese Sinistra’, 1(1), pp. 12–15.