Anda di halaman 1dari 6

[ PENELITIAN]

ABSTRAK
Gambaran Kejadian Demem Tifoid Di Puskesmas Muara Batu Tahun 2019

Ahmad Muttaqim, Noviana Zara


Fakultas Kedokteran, Universitas Malikussaleh

Demam tifoid adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella
enterica khususnya turunannya. World Health Organization (2003) terdapat sekitar 17 juta kasus
demam tifoid di seluruh dunia. Prevalensi Asia pada anak usia 5–15 tahun menunjukkan bahwa
insidensi dengan biakan darah positif mencapai 180–194 per 100.000 anak. Di Indonesia insidensi di
daerah pedesaan 358/ 100.000 penduduk/tahun dan di daerah perkotaan 760/100.000 penduduk/
tahun. Nanggroe Aceh Darussalam (2,96%) prevalensi diatas prevalensi nasional serta kabupaten
aceh utara (7.0%) dan Lhokseumawe (1.1%). Kejadian demam tifoid di Puskesmas Muara Batu pada
tahun 2019 sebanyak 102 orang.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran
kejadian demam tifoid di puskesmas Muara Batu tahun 2019 yang di lakukan menggunakan metode
deskriptif. Sampel dalam penelitianya itu sebanyak 102 responden, yang diambil dengan metode
Concecutive Sampling. Hasil analisis univariat didapatkan kejadian demam tifoid tertinggi pada usia
17-25 tahun (33,3%), jenis kelamin perempuan (63,3%), berpendidikan menengah (60%), dan tidak
bekerja (60%).
Kata Kunci: Demam tifoid, Salmonella enterica

ABSTRACT

Overview of Typhoid Dememics in Muara Batu Health Center in 2019


Ahmad Muttaqim, Noviana Zara
Faculty Of Medicine, Malikussaleh University
Typhoid fever is an acute febrile illness caused by infection with Salmonella enterica bacteria,
especially its derivatives. World Health Organization (2003) there are around 17 million cases of
typhoid fever worldwide. The prevalence of Asia in children aged 5-15 years shows that the
incidence with positive blood cultures reaches 180–194 per 100,000 children. In Indonesia the
incidence in rural areas is 358 / 100,000 population / year and in urban areas 760 / 100,000
population / year. Nanggroe Aceh Darussalam (2.96%) prevalence is above the national prevalence
as well as North Aceh (7.0%) and Lhokseumawe (1.1%) districts. The incidence of typhoid fever in
Muara Batu Public Health Center in 2019 was 102 people. The purpose of this study was to find out
the description of the incidence of typhoid fever in Muara Batu Public Health Center in 2019 which
was carried out using descriptive methods. The samples in the study were 102 respondents, taken by
the method of consecutive sampling. Univariate analysis results found the highest incidence of
typhoid fever at the age of 17-25 years (33.3%), female sex (63.3%), secondary education (60%),
and not working (60%).
Keywords: Typhoid fever, Salmonella enterica
Pendahuluan penduduk/ tahun atau sekitar 600.000 dan 1.5
juta kasus per tahun. Sebanyak 14 provinsi
Demam tifoid adalah penyakit demam mempunyai prevalensi demam thypoid diatas
akut yang disebabkan oleh infeksi bakteri prevalensi nasional yaitu Nanggroe Aceh
Salmonella enterica khususnya turunannya, Darussalam (2,96%), Bengkulu (1,60%), Jawa
Salmonella typhi. Salmonella typhi adalah Barat (2,14%), Jawa Tengah (1,61%), Banten
bakteri gram negatif yang menyebabkan (2,24%), NTB (1,93%), NTT (2,33%),
spektrum sindrom klinis yang khas termasuk Kalimantan Selatan (1,95%), Kalimantan
gastroenteritis, demam enterik, bakteremia, Timur (1,80%), Sulawesi Selatan (1,80%),
infeksi endovaskular, dan infeksi fecal seperti Sulawesi Tengah (1,65%), Gorontalo (2,25%),
osteomielitis atau abses.(1) Salah satu cara Papua Barat (2,39%), dan Papua (2,11%).
penularan demam tifoid terjadi melalui Dalam 12 bulan terakhr, tifoid klinis dapat
makanan atau minuman yang tercemar dideteksi di Provinsi NAD dengan prevalensi
Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi 3.0%, dan tersebar di seluruh kabupaten/kota
yang terdapat dalam air, es, debu maupun dengan rentang 0.6-7.0%. Prevalensi tifoid
benda lainnya.(2) tertinggi dilaporkan dari kabupaten aceh utara
Demam tifoid merupakan masalah 7.0% dan untuk kota Lhokseumawe 1,1%.(5).
kesehatan yang penting di berbagai Negara Kejadian demam tifoid di Puskesmas Muara
berkembang, karena penyebarannya berkaitan Batu pada tahun 2019 sebanyak 102 orang.
erat dengan urbanisasi, kepadatan penduduk, Secara umum pengobatan demam
kesehatan lingkungan, sumber air dan sanitasi tifoid dibagi menjadi 3, yaitu: (1) S. typhi yang
yang buruk serta standar hygiene industri sensitif digunakan florokuinolon (ofloksasin
pengolahan makanan yang masih rendah. atau siprofloksasin) dan sebagai alternatif
Berdasarkan investigasi dari CDC digunakan kloramfenikol, trimetoprim-
diperkirakan 21,6 juta kasus demam thypoid sulfametoksasol (TMP-SMK), ampisilin dan
dengan insiden bervariasi dari 100- 1000 per amoksisilin; (2) S. typhi yang resisten terhadap
100.000 populasi.. Data World Health beberapa obat digunakan fluorokuinolon
Organization (WHO) tahun 2003 (sefiksim), dan sebagai alternatif digunakan
memperkirakan terdapat sekitar 17 juta kasus aztromisin; (3) S. typhi resisten terhadap
demam tifoid di seluruh dunia dengan kuinolon digunakan azitromisin atau
insidensi 600.000 kasus kematian tiap tahun sefriakson, dan sebagai alternatif digunakan
Di negara berkembang, kasus demam tifoid sefiksim.(6)
dilaporkan sebagai penyakit endemis dimana Penelitian ini bertujuan untuk
95% merupakan kasus rawat jalan sehingga mengetahui gambaran kejadian demam tifoid
insidensi yang sebenarnya adalah 15-25 kali di Puskesmas Muara Batu Tahun 2019.
lebih besar dari laporan rawat inap di rumah
sakit. (3) Metode Penelitian
Studi yang dilakukan di daerah urban Penelitian ini merupakan penelitian
di beberapa negara Asia pada anak usia 5–15 deskriptif dengan pendekatan cross-sectional
tahun menunjukkan bahwa insidensi dengan yang dilaksanakan pada bulan Desember 2019-
biakan darah positif mencapai 180–194 per Januari 2020 di Puskesmas Muara Batu
100.000 anak, di Asia Selatan pada usia 5–15 Kabupaten Aceh Utara. Populasi pada
tahun sebesar 400–500 per 100.000 penduduk, penelitian ini adalah pasien demam tifoid yang
di Asia Tenggara 100–200 per 100.000 tercatat di Wilayah Kerja Puskesmas Muara
penduduk, dan di Asia Timur Laut kurang dari Batu Kabupaten Aceh Utara pada Tahun 2019
100 kasus per 100.000 penduduk.(4) sebanyak 102 orang dimana akan diambil
Di Indonesia kasus ini tersebar secara sebanyak 60 pasien yang telah memenuhi
merata di seluruh provinsi dengan insidensi di kriteria ekslusi dan inklusi dengan teknik
daerah pedesaan 358/ 100.000 penduduk/tahun nonprobability dengan cara consecutive
dan di daerah perkotaan 760/100.000 sampling. Sumber data dalam penelitian ini
diperoleh dari data sekunder, yaitu data (Sumber: Data Sekunder, 2019)
yang diperoleh dari data pasien demam
berdarah dengue yang telah terdiagnosis di Berdasarkan tabel 5.2 diketahui bahwa
poli umum Puskesmas Muara Batu. dari 60orang reponden yaitu sebanyak 38
orang (63.3%) berjenis kelamin perempuan
Hasil Penelitian dan 22 orang (36.7%) berjenis kelamin laki-
5.2.1 Gambaran Usia Penderita Demam laki.
Tifoid di Puskesmas Muara Batu
5.2.3 Gambaran Pendidikan Penderita
Data distribusi usia yang diperoleh dari Demam Tifoid di Puskesmas Muara Batu
data sekunder dapat dilihat pada tabel 5.1
Data distribusi pendidikan yang
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Usia diperoleh dari data sekunder dapat dilihat pada
Penderita Demam Tifoid di Puskesmas tabel 5.3.
Muara Batu
Umur Frekuensi % Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Pendidikan
17-25 tahun 20 33.3 Penderita Demam Tifoid di Puskesmas
26-35 tahun 8 Muara Batu
13.3
36-45 tahun 12 20.0 Pendidikan Frekuensi %
46-55 tahun 11 18.3 Rendah 14 23.3
56-65 tahun 9 15.0 Menengah 36 60.0
Total 60 100
(Sumber: Data Sekunder, 2019)
Tinggi 10 16.7
Total 60 100.0
Berdasarkan tabel 5.1 diketahui bahwa (Sumber: Data Sekunder, 2019)
dari 60orang reponden yaitu sebanyak 20
orang (33.3%) penderita demam tifoid berusia Berdasarkan tabel 5.3 diketahui bahwa
17-25 tahun, 8 orang (13.3%) penderita dari 60orang reponden yaitu sebanyak 36
demam t ifoid berusia 26-35 tahun, 12 orang orang (60.0%) berpendidikan menengah, 14
(20.0%) penderita demam tifoid berusia 36-45 orang (23.3%) berpendidikan rendah dan 10
tahun, 11 orang (18.3%) penderita demam orang (16.7%) berpendidikan tinggi.
tifoid berusia 46-55 tahun, dan 9 orang
(15.0%) penderita demam tifoid berusia 56-65 5.2.4 Gambaran Pendidikan Penderita
tahun. Demam Tifoid di Puskesmas Muara Batu

5.2.2 Gambaran Jenis Kelamin Penderita Data distribusi pekerjaan yang


Demam Tifoid di Puskesmas Muara Batu diperoleh dari data sekunder dapat dilihat pada
Data distribusi jenis kelamin yang tabel 5.4.
diperoleh dari data sekunder dapat dilihat pada
tabel 5.2. Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Pekerjaan
Penderita Demam Tifoid di Puskesmas
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Jenis Muara Batu
Kelamin Penderita Demam Tifoid di
Puskesmas Muara Batu Pendidikan Frekuensi
%
Jenis Kelamin Frekuensi % Tidak bekerja 36 60.0
Laki-laki 22 36.7 Bekerja 24 40.0
Perempuan 38 63.3 Total 60 100.0
Total 60 100.0 (Sumber: Data Sekunder, 2019)
ataupun keluarga mungkin hal ini dikarenakan
Berdasarkan tabel 5.4 diketahui bahwa kurangnya pengetahuan masyarakat tentang
dari 60orang reponden yaitu sebanyak hygine atau akibat kurangnya promosi
sebanyak 36 orang (60.0%) tidak bekerja dan
kesehatan.
24 orang (40%) bekerja.
Hasil penelitian penderita demam
Pembahasan
typhoid berdasarkan jenis kelamin terdapat
6.1 Gambaran Penderita Demam Tifoid di
bahwa perempuan lebih banyak daripada laki-
Puskesmas Muara Batu
laki sebanyak 38 orang dan 22 orang. Hal ini
Berdasarkan hasil penelitian yang telah sejalan dengan penelitian Saraswati dkk
dilakukan, diketahui bahwa penderita demam (2012) dimana didapatkan bahwa angka
tifoid terbanyak pada rentang usia 17-25 tahun kejadian demam tifoid lebih banyak terjadi
sekitar 20 orang (33.3%). Hal ini sejalan pada perempuan daripada laki-laki dari 65
dengan penelitian yang dilakukan oleh subyek yang diteliti. Sedangkan penelitian
Yusriani (2016), bahwa presentasi responden wijaya (2015), dari 60 responden diketahui
dari 29 pasien, sebagai berikut: Penderita bahwa responden yang berjenis kelamin laki-
demam typhoid terbanyak usia 19-27 tahun laki lebih banyak daripada perempuan dengan
sebanyak 11 pasien (37,9 %) dan terrendah jumlah 34 orang atau 56,7%. Perbedaan ini
usia 38-47 tahun sebanyak 1 pasien (3,4 %).(7) dapat terjadi oleh karena pada penelitian ini
Hal ini tidak sejalan dengan penelitian jumlah sampel yang diteliti tidak sama. Hasil
penelitian Halawa (2017), bahwa distribusi penelitian ini juga tidak bisa menyimpulkan
proporsi penderita deman tifoid berdasarkan bahwa ada pengaruh jenis kelamin dalam
umur tertinggi pada kelompok umur 1-10 kasus demam tifoid karena beberapa literatur
tahun sebesar 54,3% (115 orang) dan terendah menunjukkan tidak ada pengaruh jenis
pada kelompok umur 41-50 tahun sebesar kelamin terhadap insiden demam tifoid.(6)
2,8% (6 orang).(8) Dari data puskesmas Muara Batu yang
didapatkan juga bahwasannya jumlah
Bila dicermati rentang usia yang rentan kunjungan pengobatan pasien perempuan lebih
terkena demam tifoid adalah usia remaja dan tinggi dibandingkan laki-laki dimana laki-laki
dewasa. Usia tersebut cenderung memiliki cenderung untuk mencari pengobatan diluar
aktivitas fisik yang banyak atau dapat puskesmas jika terkena sakit serta cenderung
dikatakan sibuk dengan pekerjaan dan untuk tidak berobat jika sakit.
kemudian kurang memperhatikan pola
makannya, akibatnya mereka cenderung lebih Data distribusi yang diperoleh
memilih makan di luar rumah , atau jajan di berdasarkan pendidikan didapatkan penderita
tepat lain, khususnya pada anak usia sekolah, demam tifoid terbanyak adalah yang
yang mungin tingkat kebersihannya masih berpendidikan menengah sebanyak 36 orang
kurang dimana bakteri Salmonella thypi (60%) dan yang terrendah adalah
banyak berkembang biak khususnya dalam berpendidikan tinggi sebanyak 10 orang
maknan sehingga mereka tertular demam (16,7%). Hal ini sejalan dengan penelitian
tifoid.(9) Sesuai dengan pengamatan peneliti Rani (2009), angka kejadian demam tifoid
di lingkungan puskesmas Muara Batu dimana tertinggi berpendidikan menengah 54,5% dan
masyarakat sekitar cenderung kurang terendah pendidikan tinggi 7,6%. Tidak
memperhatikan kebersihan perseorangan sejalan dengan penelitian Halawa (2018),
dimana kejadian demam tifoid tertinggi pada
belum sekolah yaitu 42.9% yang dimana hal mempengaruhi kemampuan seseorang dalam
tersebut sesuai dengan data Riskesdas Provinsi memenuhi sarana dan prasarana yang
Sumatera Utara 2007 bahwa prevalensi digunakan untuk mempertahankan kebersihan
tertinggi demam tifoid pada umur dibawah 5 diri yang sangat mempengaruhi status
tahun sebesar 1,8%. Menurut Notoatmojo, kesehatannya. Umumnya masyarakat dengan
pendidikan sangat mempengaruhi seorang status sosial ekonomi rendah tidak
karena kurangnya seorang melakukan mengutamakan perawatan dan kebersihan
kebiasaan hidup sehat. Seseorang yang dirinya sendiri sehingga dapat menurunkan
mempunyai pendidikan rendah memiliki status kesehatannya.
perilaku yang kurang mengerti tentang
menjaga kebersihan diri seperti mencuci Kesimpulan
tangan sebelum makan sehingga mempunyai Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan, didapatkan kesimpulan hasil
resiko lebih besar untuk terkena penyakit penelitian ini sebagai berikut:
demam tifoid sedangkan seorang yang 1. Distribusi penderita demam tifoid terbanyak
mempunyai pendidikan yang tinggi memiliki pada rentang usia 17-25 tahun sekitar 20 orang
perilaku yang baik dalam menjaga kebersihan (33.3%).
dirinya yang tinggi memiliki perilaku yang
baik dalam menjaga kebersihan dirinya 2. Distribusi penderita penderita demam
sehingga mempunyai risiko yang lebih kecil typhoid berdasarkan jenis kelamin terdapat
untuk tertular penyakit demam tifoid.(8) Hal bahwa perempuan lebih banyak daripada laki-
ini sejalan dengan yang didapatkan oleh laki sebanyak 38 orang dan 22 orang.
peneliti masyarakat Muara Batu cenderung
3. Distribusi penderita penderita demam
kurang peduli dengan kebersihan dan kurang
typhoid penderita demam tifoid terbanyak
perduli dengan segala promosi kesehatan
adalah yang berpendidikan menengah
mengenai higine seperti mencuci tangan.
sebanyak 36 orang (60%) dan yang terrendah
Distribusi berdasarkan pekerjaan adalah berpendidikan tinggi sebanyak 10
didapatkan bahwa penderita demam tifoid orang (16,7%).%.
terbanyak pada yang bekerja sebanyak 33
4. Distribusi bahwa penderita demam
orang (55%) dan yang tidak bekerja 27 orang
tifoid terbanyak pada yang bekerja sebanyak
(45%). Hal ini sejalan dengan penelitian
33 orang (55%) dan yang tidak bekerja 27
Halawa (2017), proporsi berdasarkan
orang (45%).
pekerjaan tertinggi pada yang tidak bekerja
sebesar 46,7% (99 orang) dan terendah Daftar Pustaka
pegawai swasta 2,8% (6 orang).(8) Hal ini 1. Rahmasari,V, Lestari,K., Review:
bertentangan dengan penelitian Rustam Manajemen Terapi Demam Tifoid: Kajian
(2012), dimana penderita demam tifoid paling
Terapi. Jurnal Farmaka.2018: 16(1).
banyak adalah bekerja.(10) Sesuai dengan
yang peneliti dapatkan pada masyarakat Muara 2. Rohana, Y. Perbedaan Pengetahuan
Batu dimana mayoritas laki-laki hanya bekerja Dan Pencegahan Primer Demam Tifoid Balita
sebagai petani dan nelayan sedangkan
Antara Orang Tua Di Pedesaan Dan
perempuan mayoritas seorang ibu rumah
tangga. Maka dari segi ekonomi dimana sangat Perkotaan. Jurnal Berkala Epidemiologi.2016:
mempengaruhi status sosial ekonomi 4(3).
3. Sucipta, M. Baku Emas Pemeriksaan
Laboratorium Demam Tifoid Pada Anak.
Jurnal Skala Husada. 2015: 12(1).
4. Purba,Ie,Dkk. Program Pengendalian
Demam Tifoid Di Indonesia: Tantangan Dan
Peluang. Jurnal Media Litbangkes.2016: 26(2).
5. Riskesdas Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam. 2007.
6. Yusriani, N,Dkk. Identifikasi Dan
Isolasi Bakteri Penyebab Penderita Dengan
Gejala Suspek Demam Typhoid Di Rumah
Sakit Ibnu Sina Makassar Tahun 2016.Skripsi
2016.
7. Halawa,dkk. Karakteristik Penderita
Demam Tifoid yang Dirawat Inap di RSU dr
Ferdinand Lumbantobing Sibolga Tahun 2017.
Skripsi Universitas Sumatera Utara 2017.
8. Tiara,PP. Karakteristik Penderita
Demam Tifoid yang Dirawat Inap di RSU dr
Ferdinand Lumbantobing Sibolga Tahun 2017.
Skripsi Universitas Muhammadiah Semarang.
9. Adiputra,dkk. Karakteristik Klinis
Pasien Demam Tifoid di RSUP Sanglah
Periode Waktu Juli 2013 – Juli 2014. Jurnal
Medika: 6(11).2017.
10. Rustam,MZA.Hubungan Karakteristik
Penderita Dengan Kejadian Demam Tifoid
Pada Pasien Rawat Inap Di Rsud Salewangan
Maros. Jurnal Universitas Airlangga Surabaya.
2015