Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan masalah yang ditemukan pada masyarakat
baik di negara maju maupun berkembang termasuk Indonesia. Hipertensi merupakan suatu
keadaan meningkatnya tekanan darah sistolik lebih dari sama dengan 140 mmHg dan diastolik
lebih dari sama dengan 90 mmHg. Hipertensi dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu
hipertensi primer atau esensial yang penyebabnya tidak diketahui dan hipertensi sekunder yang
dapat disebabkan oleh penyakit ginjal, penyakit endokrin, penyakit jantung, dan gangguan anak
ginjal. Hipertensi seringkali tidak menimbulkan gejala, sementara tekanan darah yang terus-
menerus tinggi dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan komplikasi. Oleh karena itu,
hipertensi perlu dideteksi dini yaitu dengan pemeriksaan tekanan darah secara berkala
(Sidabutar, 2009).

Hipertensi sangat erat hubungannya dengan faktor gaya hidup dan pola makan. Gaya hidup
sangat berpengaruh pada bentuk perilaku atau kebiasaan seseorang yang mempunyai pengaruh
positif maupun negatif pada kesehatan. Hipertensi belum banyak diketahui sebagai penyakit
yang berbahaya, padahal hipertensi termasuk penyakit pembunuh diam-diam, karena penderita
hipertensi merasa sehat dan tanpa keluhan berarti sehingga menganggap ringan penyakitnya.
Sehingga pemeriksaan hipertensi ditemukan ketika dilakukan pemeriksaan rutin/saat pasien
datang dengan keluhan lain. Dampak gawatnya hipertensi ketika telah terjadi komplikasi, jadi
baru disadari ketika telah menyebabkan gangguan organ seperti gangguan fungsi jantung
koroner, fungsi ginjal, gangguan fungsi kognitif/stroke. Hipertensi pada dasarnya mengurangi
harapan hidup para penderitanya. Penyakit ini menjadi muara beragam penyakit degeneratif yang
bisa mengakibatkan kematian. Hipertensi selain mengakibatkan angka kematian yang tinggi juga
berdampak kepada mahalnya pengobatan dan perawatan yang harus ditanggung para
penderitanya. Perlu pula diingat hipertensi berdampak pula bagi penurunan kualitas hidup. Bila
seseorang mengalami tekanan darah tinggi dan tidak mendapatkan pengobatan secara rutin dan

1
pengontrolan secara teratur, maka hal ini akan membawa penderita ke dalam kasus-kasus serius
bahkan kematian. Tekanan darah tinggi yang terus menerus mengakibatkan kerja jantung ekstra
keras, akhirnya kondisi ini berakibat terjadi kerusakan pembuluh darah jantung, ginjal, otak dan
mata (Wolff, 2006). 4Kurangnya pengetahuan akan mempengaruhi pasien hipertensi untuk dapat
mengatasi kekambuhan atau melakukan pencegahan agar tidak terjadi komplikasi. Hal ini
dikarenakan sebagian besar penderita hipertensi lansia bertempat tinggal di pedesaan dan
pendidikannya masih rendah. Pendidikan yang rendah pada pasien hipertensi lansia tersebut
mempengaruhi tingkat pengetahuan mengenai penyakit hipertensi secara baik. Pengetahuan
pasien hipertensi lansia yang kurang ini berlanjut pada kebiasaan yang kurang baik dalam hal
perawatan hipertensi. Lansia tetap mengkonsumsi garam berlebih, kebiasaan minum kopi
merupakan contoh bagaimana kebiasaan yang salah tetap dilaksanakan. Pengetahuan yang
kurang dan kebiasaan yang masih kurang tepat pada lansia hipertensi dapat mempengaruhi
motivasi lansia dalam berobat. Motivasi merupakan dorongan, keinginan dan tenaga penggerak
yang berasal dari dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu dengan mengesampingkan hal-
hal yang dianggap kurang bermanfaat. Motivasi yang kuat yang berasal dari diri pasien
hipertensi untuk sembuh akan memberikan pelajaran yang berharga. Proses untuk menjaga
tekanan darah pasien hipertensi tidak hanya dengan perawatan non farmakologi seperti olah raga,
namun juga dilakukan dengan cara pengobatan farmakologi. Pengobatan farmakologi diperoleh
salah satunya dengan cara melakukan kontrol ke puskesmas. Pengobatan pasien hipertensi lansia
di puskesmas yang rutin sesuai jadwal kunjungan, akan mempercepat kondisi tekanan darah
pasien hipertensi lansia tetap terjaga dengan normal.

Salah satu komplikasi utama dari hipertensi adalah stroke. Zat-zat yang terlarut seperti
kolesterol, kalsium dan lain sebagainya akan mengendap pada dinding pembuluh yang dikenal
dengan istilah penyempitan pembuluh darah. Bila penyempitan pembuluh darah terjadi dalam
waktu yang lama dengan tekanan darah yang sangat tinggi, maka pembuluh darah akan pecah
yang akan mengakibatkan suplai darah ke otak berkurang dan tidak adekuat lagi, bahkan terhenti
yang selanjutnya menimbulkan stroke (Pudiastuti, 2011).

B.   Rumusan Masalah


1. Untuk mengetahui pengertian penyakit hipertensi
2. Untuk mengetahui klasifikasi Hipertensi

2
3. Untuk mengetahui etiologi hipertensi
4. Untuk mengetahui patofisiologi hipertensi
5. Untuk mengetahui tanda dan gejala hipertensi
6. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang hipertensi
7. Untuk mengetahui komplikasi hipertensi
8. Untuk mengetahui penatalaksanaan hipertensi
9. Untuk mengetahu cara pencegahan hipertensi
10. Untuk mengetahui pengkajian
11. Untuk mengetahui diagnosa keperawatan
12. Untuk mengetahui intervensi keperawatan
13. Untuk mengetahui implementasi keperawatan

C.   Tujuan
a. Tujuan Umum
Mahasiswa memahami dan mengetahui materi hipertensi
b. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa memahami dan mengetahui pengertian hipertensi
2. Mahasiswa memahami dan mengetahui klasifikasi hipertensi
3. Mahasiswa memahmi dan mengetahui etiologi hipertensi
4. Mahasiswa memahami dan mengetahui patofisiologi hipertensi
5. Mahasiswa memahami dan mengetahui tanda dan gejala hipertensi
6. Memahami dan mengetahui pemeriksaan penunjang hipertensi
7. Memahami dan mengetahui komplikasi hipertensi
8. Memahami dan mengetahui penatalaksanaan hipertensi
9. Memahami dan mengetahui cara pencegahan hipertensi
10. Memahami dan mengetahui pengkajian keperawatan
11. Memahami dan mengetahui diagnosa keperawatan
12. Memahami dan mengetahui intervensi keperawatan
13. Memahami dan mengetahui implementasi keperawatan

3
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Definisi Hipertensi

Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan


sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. Pada populasi lansia, hipertensi
didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. (Smeltzer,
2001).

Hipertensi didefinisikan oleh Joint National Committee on Detection (JIVC) sebagai


tekanan yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat keparahannya,
mempunyai rentang dari tekanan darah (TD) normal tinggi sampai hipertensi maligna.

Hipertensi dikategorikan ringan apabila tekanan diastoliknya antara 95 – 104 mmHg,


hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara 105 dan 114 mmHg, dan hipertensi berat bila
tekanan diastoliknya 115 mmHg atau lebih. Pembagian ini berdasarkan peningkatan tekanan
diastolik karena dianggap lebih serius dari peningkatan sistolik (Smith Tom, 1995).

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan pembunuh diam-diam karena pada
sebagian besar kasus tidak menunjukkan gejala apapun. Hipertensi merupakan salah satu faktor
resiko utama yang menyebabkan serangan jantung dan stroke, yang menyerang sebagian besar
penduduk dunia. Hipertensi adalah suatu keadaan dimana dijumpai tekanan darah 140/90 mmHg
atau lebih untuk usia 13 – 50 tahun dan tekanan darah mencapai 160/95 mmHg untuk usia di atas
50 tahun. Pengukuran tekanan darah minimal sebanyak dua kali untuk lebih memastikan keadaan
tersebut (WHO, 2005). Hipertensi dapat dikelompokan menjadi dua jenis, yaitu: Hipertensi
primer atau essensial dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer adalah hipertensi yang tidak
atau belum diketahui penyebabnya. Hipertensi primer menyebabkan perubahan pada jantung dan
pembuluh darah. Sedangkan hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan atau sebagai
akibat dari adanya penyakit lain dan biasanya penyebabnya sudah diketahui, seperti penyakit
ginjal dan kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (Anggraini, 2009).

4
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan sebuah kondisi medis dimana orang yang
tekanan darahnya meningkat diatas normal yaitu 140/90 mmHg dan dapat mengalami resiko
kesakitan (morbiditas) bahkan kematian (mortalitas). Penyakit ini sering dikatakan sebagai the
silent diseases. Faktor resiko hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu hipertensi yang tidak
bisa diubah dan hipertensi yang dapat diubah. Hipertensi yang dapat diubah meliputi merokok,
obesitas, gaya hidup yang monoton dan stres. Hipertensi yang tidak dapat dirubah meliputi usia,
jenis kelamin, suku bangsa, faktor keturunan (Rusdi & Isnawati, 2009).

B. Klasifikasi Hipertensi

Klasifikasi hipertensi menurut WHO, yaitu:

1. Tekanan darah normal yaitu bila sistolik kurang atau sama dengan 140 mmHg dan
diastolik kurang atau sama dengan 90 mmHg
2. Tekanan darah perbatasan (broder line) yaitu bila sistolik 141-149 mmHg dan diastolik
91-94 mmHg
3. Tekanan darah tinggi (hipertensi) yaitu bila sistolik lebih besar atau sama dengan 160
mmHg dan diastolik lebih besar atau sama dengan 95mmHg.

Klasifikasi menurut The Joint National Committee on the Detection and Treatment of
Hipertension, yaitu:

1. Diastolik
a. < 85 mmHg : Tekanan darah normal
b. 85 – 99 mmHg : Tekanan darah normal tinggi
c. 90 -104 mmHg : Hipertensi ringan
d. 105 – 114 mmHg : Hipertensi sedang
e. >115 mmHg : Hipertensi berat
2. Sistolik (dengan tekanan diastolik 90 mmHg)
a. < 140 mmHg : Tekanan darah normal
b. 140 – 159 mmHg : Hipertensi sistolik perbatasan terisolasi
c. > 160 mmHg : Hipertensi sistolik teriisolasi

5
Krisis hipertensi adalah Suatu keadaan peningkatan tekanan darah yang mendadak (sistole
≥180 mmHg dan/atau diastole ≥120 mmHg), pada penderita hipertensi, yg membutuhkan
penanggulangan segera yang ditandai oleh tekanan darah yang sangat tinggi dengan
kemungkinan timbulnya atau telah terjadi kelainan organ target (otak, mata (retina), ginjal,
jantung, dan pembuluh darah).

Tingginya tekanan darah bervariasi, yang terpenting adalah cepat naiknya tekanan darah,
diantaranya yaitu:

1. Hipertensi Emergensi
Situasi dimana diperlukan penurunan tekanan darah yang segera dengan obat
antihipertensi parenteral karena adanya kerusakan organ target akut atau
progresif target akut atau progresif. Kenaikan TD mendadak yg disertai kerusakan
organ target yang progresif dan di perlukan tindakan penurunan TD yg segera dalam
kurun waktu menit/jam.
2. Hipertensi Urgensi
Situasi dimana terdapat peningkatan tekanan darah yang bermakna tanpa adanya
gejala yang berat atau kerusakan organ target progresif bermakna tanpa adanya gejala
yang berat atau kerusakan organ target progresif dan tekanan darah perlu diturunkan
dalam beberapa jam. Penurunan TD harus dilaksanakan dalam kurun waktu 24-48 jam
(penurunan tekanan darah dapat dilaksanakan lebih lambat (dalam hitungan jam
sampai hari).

C. Etiologi
Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik (idiopatik). Hipertensi
terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer.  Namun ada
beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi:
1. Faktor Keturunan: Jika seseorang memiliki orang-tua atau saudara yang memiliki tekanan
darah tinggi, maka kemungkinan ia menderita tekanan darah tinggi lebih besar. Statistik
menunjukkan bahwa masalah tekanan darah tinggi lebih tinggi pada kembar identik
daripada yang kembar tidak identik. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ada bukti gen
yang diturunkan untuk masalah tekanan darah tinggi. Faktor genetik tampaknya bersifat

6
mulifaktorial akibat defek pada beberapa gen yang berperan pada pengaturan tekanan
darah.
2. Ciri Perseorangan: Usia; penelitian menunjukkan bahwa ketika usia seseorang
bertambah, tekanan darah pun akan meningkat. Namun anda dapat mengendalikan agar
jangan melewati batas atas yang normal. Jenis kelamin; laki - laki lebih mudah terkena
hipertensi dari pada perempuan. Ras; ras kulit hitam lebih banyak terkena hipertensi
daripada ras kulit putih.
3. Kebiasaan Hidup:

a. Konsumsi garam tinggi (lebih dari 30 gram); garam dapat meningkatkan tekanan
darah dengan cepat pada beberapa orang, khususnya bagi penderita diabetes, penderita
hipertensi ringan, orang dengan usia tua, dan mereka yang berkulit hitam.

b. Makan berlebihan (kegemukan); orang yang memiliki berat badan di atas 30 persen
berat badan ideal, memiliki kemungkinan lebih besar menderita tekanan darah tinggi.
Kandungan lemak yang berlebih dalam darah Anda, dapat menyebabkan timbunan
kolesterol pada dinding pembuluh darah. Hal ini dapat membuat pembuluh darah
menyempit dan akibatnya tekanan darah akan meningkat.

c. Stres; stres dan kondisi emosi yang tidak stabil juga dapat memicu tekanan darah
tinggi.

d. Merokok; merokok juga dapat meningkatkan tekanan darah menjadi tinggi. Kebiasan
merokok dapat meningkatkan risiko diabetes, serangan jantung dan stroke. Karena itu,
kebiasaan merokok yang terus dilanjutkan ketika memiliki tekanan darah tinggi,
merupakan kombinasi yang sangat berbahaya yang akan memicu penyakit- penyakit yang
berkaitan dengan jantung dan darah.

e. Alkohol; konsumsi alkohol secara berlebihan juga menyebabkan tekanan darah tinggi.
Minum obat - obatan (aphidrine, prednison, epinefrin). Sedangkan penyebab hipertensi
sekunder adalah; lesi pada arteri renalis, displasia fibrovaskular, kerusakan
ginjal/kelainan ginjal, kelainan endokrin, kerusakan saraf, sleep-apnea, drug - induced
atau drug-related hypertension, penyakit ginjal kronik, aldosteronisme primer, penyakit
renovaskular, terapi steroid jangka lama dan sindrom Cushing, feokromositoma, Idea

7
Nursing Journal Ibrahim 63 koarktasio aorta, dan penyakit thyroid atau parathyroid
(Brunner & Suddarth, 2000).

Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu:


1. Hipertensi Primer
Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi seperti
genetika, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik, system rennin
angiotensin, efek dari eksresi Na, obesitas. Ciri lainnya yaitu: umur (jika umur
bertambah maka TD meningkat), jenis kelamin (laki-laki lebih tinggi dari perempuan),
ras (ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih), kebiasaan hidup (konsumsi garam
yang tinggi melebihi dari 30 gr, kegemukan atau makan berlebihan, stres, merokok,
minum alcohol, dan minum obat-obatan (ephedrine, prednison, epineprin).
2. Hipertensi Sekunder
Dapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vaskuler renal, diabetes
melitus, stroke.Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi sekunder. Pada
sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar
1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya
pil KB). ( Smeltzer, 2001).Penyebab hipertensi lainnya yang jarang adalah
feokromositoma, yaitu tumor pada kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon
epinefrin (adrenalin) atau norepinefrin (noradrenalin). (Price, 2005)
Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder :
1) Penyakit Ginjal
a. Stenosis arteri renalis
b. Pielonefritis
c. Glomerulonefritis
d. Tumor-tumor ginjal
e. Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan)
f. Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal)
g. Terapi penyinaran yang mengenai ginjal.
2) Kelainan Hormonal
a. Hiperaldosteronism

8
b. Sindroma Cushing
c. Feokromositoma
3) Obat-obatan
a. Pil KB
b. Kortikosteroid
c. Siklosporin
d. Eritropoietin
e. Kokain
f. Penyalahgunaan alkohol
g. Kayu manis (dalam jumlah sangat besar)
4) Penyebab Lainnya
a. Koartasio aorta
b. Preeklamsi pada kehamilan
c. Porfiria intermiten akut
d. Keracunan timbal akut
Adapun penyebab lain dari hipertensi yaitu :
a. Peningkatan kecepatan denyut jantung
b. Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama
c. Peningkatan TPR yang berlangsung lama

Faktor predisposisi
Berdasarkan faktor pemicu, Hipertensi dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti umur,
jenis kelamin, dan keturunan. Hipertensi juga banyak dijumpai pada penderita kembar
monozigot (satu telur), apabila salah satunya menderita Hipertensi. Dugaan ini menyokong
bahwa faktor genetik mempunyai peran didalam terjadinya Hipertensi. (Smeltzer, 2001).
Sedangkan yang dapat dikontrol seperti kegemukan/obesitas, stress, kurang olahraga, merokok,
serta konsumsi alkohol dan garam. Faktor lingkungan ini juga berpengaruh terhadap timbulnya
hipertensi esensial. Hubungan antara stress dengan Hipertensi, diduga melalui aktivasi saraf
simpatis. Saraf simpatis adalah saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas, saraf parasimpatis
adalah saraf yang bekerja pada saat kita tidak beraktivitas. (Price, 2005)

9
Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat meningkatkan tekanan darah secara intermitten
(tidak menentu). Apabila stress berkepanjangan, dapat mengakibatkan tekanan darah menetap
tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti, akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan
lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan pengaruh
stress yang dialami kelompok masyarakat yang tinggal di kota. (Price, 2005)
Berdasarkan penyelidikan, kegemukan merupakan ciri khas dari populasi Hipertensi dan
dibuktikan bahwa faktor ini mempunyai kaitan yang erat dengan terjadinya Hipertensi
dikemudian hari. Walaupun belum dapat dijelaskan hubungan antara obesitas dan hipertensi
esensial, tetapi penyelidikan membuktikan bahwa daya pompa jantung dan sirkulasi volume
darah penderita obesitas dengan hipertensi lebih tinggi dibandingan dengan penderita yang
mempunyai berat badan normal. ( Smeltzer, 2001).
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan-perubahan pada:
1. Elastisitas dinding aorta menurun.
2. Katub jantung menebal dan menjadi kaku.
3. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20
tahun kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya
kontraksi dan volumenya.
4. Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karena kurangnya efektifitas
pembuluh darah perifer untuk oksigenasi Meningkatnya resistensi pembuluh darah
perifer.

D. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat
vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang
berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis
di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang
bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron
preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke
pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi
pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon

10
pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitiv
terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai
respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas
vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi.
Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons
vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal,
menyebabkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian
diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang
sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh
tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung
mencetuskan keadaan hipertensi.
Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan fungsional
pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi
pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat
dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan
kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar
berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung
(volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer
(Smeltzer, 2001).
Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya “hipertensi palsu” disebabkan
kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff sphygmomanometer (Darmojo,
1999).
Menurunnya tonus vaskuler merangsang saraf simpatis yang diteruskan ke sel jugularis.
Dari sel jugularis ini bisa meningkatkan tekanan darah. Dan apabila diteruskan pada ginjal, maka
akan mempengaruhi eksresi pada rennin yang berkaitan dengan Angiotensinogen. Dengan
adanya perubahan pada angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada
pembuluh darah, sehingga terjadi kenaikan tekanan darah.Selain itu juga dapat meningkatkan
hormone aldosteron yang menyebabkan retensi natrium. Hal tersebut akan berakibat pada
peningkatan tekanan darah. Dengan peningkatan tekanan darah maka akan menimbulkan
kerusakan pada organ-organ seperti jantung. (Suyono, Slamet. 1996).

11
12
E. Tanda Dan Gejala
Pada pemeriksaan fisik mungkin tidak dijumpai kelainan apapun selain tekanan darah yang
tinggi tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina, seperti perdarahan,
eksudat,penyempitan pembuluh darah, dan pada kasus berat edema pupil dan mungkin
1) Tidak Bergejala: maksudnya tidak ada gejala spesifik yang dapat dihubungkan dengan
peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa,
jika kelainan arteri tidak diukur, maka hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa.
2) Gejala yang lazim: gejala yang lazim menyertai hipertensi adalah nyeri kepala, kelelahan.
Namun hal ini menjadi gejala yang terlazim pula pada kebanyakan pasien yang mencari
pertolongan medis.
Menurut Rokhaeni (2001) manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu:
mengeluh sakit kepala, pusing lemas, kelelahan, sesak nafas, gelisah, mual muntah, epistaksis,
kesadaran menurun.
Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah:
1. Peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg.
2. Sakit kepala
3. Pusing / migraine
4. Rasa berat ditengkuk
5. Penyempitan pembuluh darah
6. Sukar tidur
7. Lemah dan lelah
8. Nokturia
9. Azotemia
10. Sulit bernafas saat beraktivitas

F. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dilakukan dua cara yaitu:
1. Pemeriksaan yang segera seperti:
a. Darah rutin (Hematokrit/Hemoglobin): untuk mengkaji hubungan dari sel-sel
terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan factor resiko
seperti: hipokoagulabilitas, anemia.

13
b. Blood Unit Nitrogen/kreatinin: memberikan informasi tentang perfusi / fungsi
ginjal.
c. Glukosa: Hiperglikemi (Diabetes Melitus adalah pencetus hipertensi) dapat
diakibatkan oleh pengeluaran Kadar ketokolamin (meningkatkan hipertensi).
d. Kalium serum: Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama
(penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik.
e. Kalsium serum: Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi.
f. Kolesterol dan trigliserid serum: Peningkatan kadar dapat mengindikasikan
pencetus untuk/ adanya pembentukan plak ateromatosa (efek kardiovaskuler).
g. Pemeriksaan tiroid: Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan
hipertensi.
h. Kadar aldosteron urin/serum: untuk mengkaji aldosteronisme primer (penyebab).
i. Urinalisa: Darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal dan ada DM.
j. Asam urat: Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi.
k. Steroid urin: Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme.
l. EKG: 12 Lead, melihat tanda iskemi, untuk melihat adanya hipertrofi ventrikel
kiri ataupun gangguan koroner dengan menunjukan pola regangan, dimana luas,
peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.
m. Foto dada: apakah ada oedema paru (dapat ditunggu setelah pengobatan
terlaksana) untuk menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup, pembesaran
jantung.
2. Pemeriksaan lanjutan (tergantung dari keadaan klinis dan hasil pemeriksaan yang
pertama):
a. IVP :Dapat mengidentifikasi penyebab hipertensi seperti penyakit parenkim
ginjal, batu ginjal / ureter.
b. CT Scan: Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati.
c. IUP: mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti: Batu ginjal,
perbaikan ginjal.
d. Menyingkirkan kemungkinan tindakan bedah neurologi: Spinal tab, CAT scan.
e. USG untuk melihat struktur gunjal dilaksanakan sesuai kondisi klinis pasien

14
G. Komplikasi
Efek pada organ, otak (pemekaran pembuluh darah, perdarahan, kematian sel otak: stroke),
ginjal (malam banyak kencing, kerusakan sel ginjal, gagal ginjal), jantung (membesar, sesak
nafas, cepat lelah, gagal jantung).
Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit hipertensi menurut TIM POKJA RS
Harapan Kita (2003:64) dan Dr. Budhi Setianto (Depkes, 2007) adalah diantaranya :
1. Penyakit pembuluh darah otak seperti stroke, perdarahan otak, transient ischemic attack
(TIA).
2. Penyakit jantung seperti gagal jantung, angina pectoris, infark miocard acut (IMA).
3. Penyakit ginjal seperti gagal ginjal.
4. Penyakit mata seperti perdarahan retina, penebalan retina, oedema pupil.

15
H. Penatalaksanaan
Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat
komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan tekanan
darah dibawah 140/90 mmHg.
Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi:
1. Terapi tanpa Obat  Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi
ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi tanpa
obat ini meliputi: diet destriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr,
diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh.
2. Penurunan berat badan
3. Penurunan asupan etanol
4. Menghentikan merokok
5. Latihan Fisik
Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan untuk
penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat prinsip yaitu: Macam
olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari, jogging, bersepeda, berenang dan
lain-lain. Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau 72-
87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan. Lamanya latihan berkisar
antara 20 – 25 menit berada dalam zona latihan Frekuensi latihan sebaiknya 3 x
perminggu dan paling baik 5 x perminggu
6. Edukasi Psikologis
Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi:
a. Tehnik Biofeedback
Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada
subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek
dianggap tidak normal.
Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan somatik
seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk gangguan psikologis seperti
kecemasan dan ketegangan.
b. Tehnik relaksasi

16
Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk
mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara melatih penderita untuk
dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks Pendidikan
Kesehatan (Penyuluhan).
Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien
tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat
mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
7. Terapi dengan Obat
Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi
juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat
bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup
penderita.
Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi (Joint
National Committee On Detection, Evaluation And Treatment Of High Blood
Pressure, Usa, 1988) menyimpulkan bahwa obat diuretika, penyekat beta, antagonis
kalsium, atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan
memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita.

17
I. Cara Pencegahan
1. Pencegahan Primer
Faktor resiko hipertensi antara lain: tekanan darah diatas rata-rata, adanya
hipertensi pada anamnesis keluarga, ras (negro), tachycardi, obesitas dan konsumsi
garam yang berlebihan dianjurkan untuk:
a. Mengatur diet agar berat badan tetap ideal juga untuk menjaga agar tidak terjadi
hiperkolesterolemia, Diabetes Mellitus, dsb.
b. Dilarang merokok atau menghentikan merokok.
c. Merubah kebiasaan makan sehari-hari dengan konsumsi rendah garam.
d. Melakukan exercise untuk mengendalikan berat badan.
2. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder dikerjakan bila penderita telah diketahui menderita
hipertensi berupa:
a. Pengelolaan secara menyeluruh bagi penderita baik dengan obat maupun dengan
tindakan-tindakan seperti pada pencegahan primer.
b. Harus dijaga supaya tekanan darahnya tetap dapat terkontrol secara normal dan
stabil mungkin.
c. Faktor-faktor resiko penyakit jantung ischemik yang lain harus dikontrol.
d. Batasi aktivitas.

J. Pengkajian Keperawatan
1. Aktivitas / istirahat
Gejala : kelemahan, letih, napas pendek, gaya hidup monoton.
Tanda : frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea.
2. Sirkulasi
Gejala : giwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner /   katup,
penyakit serebrovaskuler.
Tanda : kenaikan TD, nadi (denyutan jelas), frekuensi / irama (takikardia,
berbagai disritmia), bunyi jantung (murmur, distensi vena jugularis, ekstermitas,
perubahan warna kulit), suhu dingin (vasokontriksi perifer),  pengisian kapiler
mungkin lambat.

18
3. Integritas Ego
Gejala : riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, marah, faktor
stress multiple (hubungsn, keuangan, pekerjaan).
Tanda : letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinue perhatian, tangisan
yang meledak, otot muka tegang (khususnya sekitar mata), peningkatan pola bicara.
4. Eliminasi
Gejala : gangguan ginjal saat ini atau yang lalu (infeksi, obstruksi,  riwayat
penyakit ginjal).
5. Makanan / Cairan
Gejala : makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam,
lemak dan kolesterol, mual, muntah, riwayat penggunaan diuretik.
Tanda : BB normal atau obesitas, edema, kongesti vena, peningkatan JVP,
glikosuria.
6. Neurosensori
Gejala : keluhan pusing / pening, sakit kepala, episode kebas, kelemahan pada
satu sisi tubuh, gangguan penglihatan (penglihatan kabur, diplopia), episode epistaksis.
Tanda : perubahan orientasi, pola nafas, isi bicara, afek, proses pikir atau memori
(ingatan), respon motorik (penurunan kekuatan genggaman), perubahan retinal optik.
7. Nyeri / ketidaknyamanan
Gejala : nyeri hilang timbul pada tungkai, sakit kepala oksipital berat, nyeri
abdomen.
8. Pernapasan
Gejala : dispnea yang berkaitan dengan aktivitas, takipnea, ortopnea, dispnea
nocturnal proksimal, batuk dengan atau tanpa sputum, riwayat merokok.
Tanda : distress respirasi / penggunaan otot aksesoris pernapasan, bunyi napas
tambahan (krekles, mengi), sianosis.
9. Keamanan
Gejala : gangguan koordinasi, cara jalan.
Tanda       : episode parestesia unilateral transien.
10. Pembelajaran / Penyuluhan

19
Gejala       : faktor resiko keluarga (hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung, DM ,
penyakit serebrovaskuler, ginjal), faktor resiko etnik, penggunaan pil KB atau hormon
lain, penggunaan obat / alkohol.
  
K. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
1. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan
afterload, vasokonstriksi, hipertrofi/rigiditas ventrikuler, iskemia miokard.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, ketidakseimbangan suplai dan
kebutuhan oksigen.
3. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral.

L. Intervensi Keperawatan
No. Diagnosis Luaran Intervensi
1. Penurunan Setelah dilakukan Perawatan Jantung
Curah Jantung intervensi keperawatan 1. Monitor tekanan darah
selama....Curah 2. Monitor intake dan output
Jantung meningkat cairan
dengan kriteria hasil: 3. Monitor saturasi oksigen
1. Kekuatan nadi 4. Monitor EKG
perifer 5. Monitor aritmia
meningkat 6. Posisikan pasien semi-fowler
2. Palpitasi 7. Berikan diit jantung sesuai
menurun 8. Berikan oksigen
3. Bradikardia 9. Anjurkan berhenti merokok
menurun 10. Kolaborasi pemberian
4. Takikardia antiaritmia
menurun
5. Gambaran EKG
aritmia menurun
6. Lelah menurun
7. Edema menurun
8. Distensi vena
jugularis
menurun
9. Dispnea
menurun
10. Oliguria
menurun
11. Sianosis
menurun

20
12. Ortopnea
menurun
13. Tekanan darah
membaik
14. CRT membaik
2. Resiko Setelah dilakukan Perawatan Jantung Akut
Penurunan intervensi selama...hari, 1. Identifikasi karakteristik
Curah Jantung Perfusi Miokard nyeri dada
meningkat dengan 2. Monitor EKG 12 sadapan
kriteria hasil: 3. Monitor aritmia
1. Gambaran EKG 4. Monitor saturasi oksigen
menurun 5. Pertahankan tirah baring
2. Nyeri dada minimal 12 jam
menurun 6. Pasang akses IV
3. Arteri apikal 7. Puasakan hingga bebas nyeri
membaik 8. Kolaborasi pemberian
4. Tekanan arteri antiplatelet
rata-rata 9. Kolaborasi pemberian
membaik antiangina
5. Takikardia 10. Kolaborasi pemberian morfin
membaik 11. Kolaborasi pemeriksaan X-
6. Bradikardia ray thoraks
membaik
3. Intoleransi Setelah dilakukan Manajemen Energi
Aktivitas intervensi keperawatan 1. Monitor pola dan jam tidur
selama...hari, Toleransi 2. Sediakan lingkungan yang
Aktivitas meningkat nyaman dan rendah stimulus
dengan kriteria hasil: 3. Lakukan latihan rentang
1. Keluhan lelah gerak pasif atau aktif
menurun 4. Berikan aktivitas distraksi
2. Dispnea saat yang menyenangkan
aktivitas 5. Anjurkan tirah baring
menurun 6. Anjurkan laksanakan
3. Frekuensi nadi aktivitas secara bertahap
membaik 7. Kolaborasi dengan ahli gizi
4. Tekanan darah tentang cara meningkatkan
membaik asupan makanan

21
M. Implementasi Keperawatan
No Diagnosis Implementasi
.
1. Penurunan Curah 1. Memonitor tekanan darah
Jantung 2. Memonitor intake dan output cairan
3. Memonitor saturasi oksigen
4. Memonitor EKG
5. Memonitor aritmia
6. Memposisikan pasien semi-fowler
7. Berikan diit jantung sesuai
8. Berikan oksigen
9. Menganjurkan berhenti merokok
10. Mengkolaborasi pemberian antiaritmia
2. Resiko Penurunan 1. Memonitor tekanan darah
Curah Jantung 2. Memonitor intake dan output cairan
3. Memonitor saturasi oksigen
4. Memonitor EKG
5. Memonitor aritmia
6. Memposisikan pasien semi-fowler
7. Berikan diit jantung sesuai
8. Berikan oksigen
9. Menganjurkan berhenti merokok
10. Mengkolaborasi pemberian antiaritmia
3. Intoleransi 1. Memonitor pola dan jam tidur
Aktivitas 2. Sediakan lingkungan yang nyaman dan rendah stimulus
3. Melakukan latihan rentang gerak pasif atau aktif
4. Berikan aktivitas distraksi yang menyenangkan
5. Menganjurkan tirah baring
6. Menganjurkan laksanakan aktivitas secara bertahap
7. Mengkolaborasi dengan ahli gizi tentang cara
meningkatkan asupan makanan

22
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Seseorang dikatakan terkena hipertensi mempunyai tekanan dara sistolik ≥140mmHg


dan tekanan darah diastoltik ≥90mmHg. Penyakit in adalah penyakit yang berbahaya karena
merupakan salah satu faktor resiko terjadinya stroke. Hipertensi berdasarkan penyebabnya
dibagi menjadi 2, yaitu hipertensi primer atau merupakan hipertensi dengan penyebab yang
tidak diketahui secara pasti. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang disebabkan oleh
penyebab spesifik tertentu, misalnya penyakit ginjal, penyakit endokrin atau karena penyakit
koartasio aorta. Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah Peningkatan tekanan
darah > 140/90 mmHg,Sakit kepala, Pusing / migraine, Rasa berat ditengkuk, Penyempitan
pembuluh darah, Sukar tidur, Lemah dan lelah, Nokturia, Azotemia dan Sulit bernafas saat
beraktivitas. Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit hipertensi menurut TIM
POKJA RS Harapan Kita (2003:64) dan Dr. Budhi Setianto (Depkes, 2007) adalah penyakit
pembuluh darah otak seperti stroke, perdarahan otak, transient ischemic attack
(TIA),Penyakit jantung seperti gagal jantung, angina pectoris, infark miocard acut (IMA),
Penyakit ginjal seperti gagal ginjal dan Penyakit mata seperti perdarahan retina, penebalan
retina, oedema pupil.Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan
mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan
pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg.

B. Saran
Agar terhindar dari penyakit hipertensi yang mematikan ini sebaiknya kita
menerapkan pola hidup sehat seperti mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi,
mengatur pola makan, mengatur pola aktivitas dan mengatur pola istrahat.
DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, D.A, dkk. 2009, Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Hipertensi
pada Pasien yang Berobat di Poliklinik Dewasa Puskesmas Bangkinang Periode Januari
Sampai Juni 2008.

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta, EGC,
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP
PPNI
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP
PPNI
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP
PPNI
Smeljer,s.c Bare, B.G ,2002 Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah,