Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PERHITUNGAN STRUKTUR

PROYEK PEMBANGUNAN TOKO


BUDIMAN SWALAYAN 4 LANTAI
KOTA PADANG

Nilai kontrak :
Rp. 17.459.332.126,-
Dihitung oleh :
Habib Herman

KOTA PADANG, SUMATERA BARAT


A. KRITERIA DESIGN

1. Pendahuluan
1.1 Umum
Gedung pertokoan “Budiman Swalayan” terdiri dari 4. Bangunan ini mempunyai panjang 40
meter dan lebar 26 meter. Laporan ini menyajikan hasil perhitungan struktur atas yang meliputi
balok, kolom dan pelat lantai dalam bentuk portal 3 dimensi. Sehingga,perencanaan struktur diatas
dimodelkan menggunakan software ETABS ULTIMATE 2016 versi 16.2.0.

1.2 Deskripsi Proyek


1.2.1 Sistem Struktur
Bangunan didirikan menggunakan kontruksi beton bertulang. Perencanaan struktur bangunan
menggunakan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK). Sistem pelat lantai menggunakan
pelat lantai dua arah (two way slab).

1.2.2 Peraturan yang Digunakan


Perencanaan struktur bangunan ini, mengikuti aturan yang menjadi pedoman dan ketentuan
yang berlaku di Indonesia. Adapun peraturan yang dipakai pada perencanaan ini adalah :

a. SNI 2847:2013 tentang Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung dan
Penjelasan
b. SNI 1726:2019 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan
Gedung dan Non Gedung
c. SNI 1727:2013 tentang Beban Minimum untuk Perencanaan Bangunan Gedung dan Struktur
Lain.
d. Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung (PPIUG) 1983.
1.2.3 Mutu Bahan yang Digunakan
Dapat dijelaskan bahwa struktur bangunan adalah struktur beton bertulang biasa
(konvensional). Adapun mutu bahan/material yang digunakan dalam perencanaan yaitu :

a. Mutu Beton
Kolom, balok, pelat : K-250 (fc’ = 20,75 MPa)
b. Mutu Baja Tulangan
Tulangan pokok fy = 320 MPa
Tulangan sengkang fy = 240 MPa
1.2.4 Perencanaan Gempa
Analisa gempa pada struktur ini menggunakan analisa gempa respons sepktrum.
2. TINJAUAN UMUM
2.1 Analisa Beban Gempa
Prosedur analisa beban gempa pada perencanaan bangunan tahan gempa dapat diklasifikasikan
menjadi dua bagian, yaitu analisa gaya lateral statik ekivalen (gaya lateral ekivalen) dan analisa
dimanik (respons spektrum dan time history). Tabel 2.1 memberikan informasi tentang prosedur
analisa yang dibolehkan untuk berbagai kategori desain seismik.
Tabel 2.1 Prosedur analisis yang diizinkan
Analisis Analisa Prosedur
gaya spektrum respons
Kategori
Karakteristik lateral respons riwayat
desain
struktur ekivalen ragam pasal waktu
sesimik
pasal 7.8 7.9 seismik
pasal 11
B, C Semua struktur I I I
Bangunan dengan kategori risiko I atau II yang tidak melebihi 2
D,E,F I I I
tingkat diatas dasar
Struktur tanpa ketidakberaturan struktural dan ketinggian tidak
I I I
melebihi 48,8 m
Struktur tanpa ketidakberaturan struktural dengan ketinggan
I I I
melebihi 48,8 m dan T < 3,5 Ts
Struktur dengan ketinggian tidak melebihi 48,8 m dan hanya
memiliki ketidakberaturan horizontal tipe 2,3,4 dan 5 atau I I I
ketidakberaturan vertikal tipe 4, 5a atau 5,b
Semua struktur lainnya TI I I
CATATAN : I : Diizinkan, TI : Tidak Diizinkan
Sumber : SNI 1726:2019 Tabel 16
2.2 Kelas Situs

Klasifikasi suatu situs memberikan informasi tentang kriteria desain seismik berupa factor-
faktor amplifikasi pada bangunan. Profil tanah di situs harus diklasifikasikan sesuai dengan Tabel
2.2 dibawah ini.
Tabel 2.2 Kelas situs
Kelas Situs Vs (m/detik) N atau Nch Su (kPa)
SA (batuan keras) >1500 N/A N/A
SB (batuan) 750 sampai 1500 N/A N/A
SC (tanah keras,sangat padat
350 sampai 750 >50 ≥100
dan batuan lunak)
SD (tanah sedang) 175 sampai 350 15 sampai 50 50 sampai 100
SE (tanah lunak) <175 <15 <50
Atau setiap profil tanah yang mengandung lebih dari 3 m tanah dengan karakteristik sebagai
berikut :
1. Indeks plastisitas, PI > 20
2. Kadar air, w > 40%
3. Kuat geser niralir Su < 25 kPa
SF (tanah khusus, yang Setiap profil lapisan tanah yang memiliki salah satu atau lebih dari karakteristik berikut :
membutuhkan investigasi - Rawan dan berpotensi gagal atau runtuh akibat beban gempa seperti mudah likuifaksi
geoteknik spesifik dan analisis lempung sangat sensitif, tanah tersementasi lemah
respons spesifik-situs yang - Lempung sangat organik dan/atau gambut (ketebalan H > 3 m)
mengikuti 6.10.1) - Lempung berplastisitas sangat tinggi (ketebalan H > 7,5 m dengan indeks plastisitas PI
>75
Lapisan lempung lunak/setengah teguh dengan ketebalan H >35 m dengan Su < 50 kPa
CATATAN : N/A = tidak dapat dipakai
Sumber : SNI 1726:2019 Tabel 5
2.3 Parameter Respons Spektral

Penentuan respons spectral percepatan gempa MCER di permukaa tanah memerlukan suatu
factor amplifikasi seismik pada perioda 0,2 detik (Fa) dan perioda 1 detik (Fv). Parameter respons
percepatan pada perioda pendek (SMS) dan perioda 1 detik (SM1) yang disesuaikan dengan pengaruh
klasifikasi situs dan ditentukan dengan rumus berikut :
SMS = Fa.Ss (1)
SM1= Fv.S1 (2)
Keterangan :
Ss = Parameter respons spektral percepatan gempa MCER terpetakan untuk periode pendek
S1 = Parameter respons spektral percepatan gempaMCER terpetakan untuk periode 1 detik
Dengan koefisien situs Fa dan Fv mengikuti tabel 2.3.1 dan 2.3.2 sebagai berikut :
Tabel 2.3.1-Koefisien situs, Fa
Parameter respons spektral percepatan gempa maksimum yang dipertimbangkan risiko-tertarget
Kelas Situs
(MCER) terpetakan pada periode pendek, T = 0,2 detik, Ss
Ss ≤ 0,25 Ss = 0,5 Ss = 0,75 Ss = 1,0 Ss = 1,25 Ss ≥ 1,5
SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8
SB 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9
SC 1,3 1,3 1,2 1,2 1,2 1,2
SD 1,6 1,4 1,2 1,1 1,0 1,0
SE 2,4 1,7 1,3 1,1 0,9 0,8
SF SS(a)
CATATAN :
(a) SS = Situs yang memerlukan investigasi geoteknik spesifik dan analisis respons situs-
spesifik, lihat 6.10.1
Tabel 2.3.2-Koefisien situs,Fv
Parameter respons spektral percepatan gempa maksimum yang dipertimbangkan risiko-tertarget
Kelas Situs
(MCER) terpetakan pada periode pendek, T = 0,2 detik, Ss
S1 ≤ 0,1 S1 = 0,2 S1 = 0,3 S1 = 0,4 S1 = 0,5 S1 ≥ 0,6
SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8
SB 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8
SC 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,4
SD 2,4 2,2 2,0 1,9 1,8 1,7
SE 4,2 3,3 2,8 2,4 2,2 2,0
SF SS(a)
CATATAN :
(a) SS = Situs yang memerlukan investigasi geoteknik spesifik dan analisis respons situs-
spesifik, lihat 6.10.1
Sumber : SNI 1726:2019 Tabel 6 dan 7
2.4 Parameter Percepatan Spektral Desain

Parameter percepatan spektral desain perioda pendek (SDS) dan 1 detik (SD1) dihitung
menggunakan persamaan berikut :
2
SDS = 3 SMS (3)
2
SD1 = 3 SM1 (4)
2.5 Spektrum Respons Desain

Spektrum respons desain merupakan representasi gerakan tanah akibat getaran gempa yang
terjadi di suatu lokasi. Maka kurva spektrum respons desain yang dibuat harus mengikuti ketentuan
dibawah ini :
1. Untuk periode yang lebih kecil dari T0, spektrum respons percepatan desain, Sa harus
diambil dari persamaan :
𝑇
Sa = SDS (0,4 + 0,6 𝑇0) (5)

2. Untuk periode lebih besar dari atau sama dengan T0 dan lebih kecil dari atau sama
dengan Ts, spektrum respons percepatan desain, Sa :
Sa = SDS (6)
3. Untuk periode lebih besar dari TS, spektrum respons percepatan desain, Sa :
SD1
Sa = T
(7)

Nilai T0 dan Ts ditentukan dengan persamaan berikut :


SD1
T0 = 0,2 SDS
(8)
SD1
Ts = SDS
(9)

2.6 Kategori Desain Seismik

Struktur harus ditetapkan memiliki suatu kategori desain seismik yang diatur dalam pasal 6.5
SNI 1726:2019. Kategori desain seismik suatu lokasi tergantung kepada kategori resiko dan nilai
parameter repons percepatan periode pendek (SDS), ditentukan dalam tabel 2.4.1 dan 2.4.2 dibawah
ini :
Tabel 2.4.1-Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons percepatan pada perioda
pendek
Katagori risiko
Nilai SDS
I atau II atau III IV
SDS < 0,167 A A
0,167 ≤ SDS < 0,33 B C
0,33 ≤ SDS < 0,50 C D
0,50 ≤ SDS D D

Tabel 2.4.1-Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons percepatan pada perioda 1
detik
Katagori risiko
Nilai SD1
I atau II atau III IV
SD1 < 0,067 A A
0,067 ≤ SD1 < 0,133 B C
0,133 ≤ SD1 < 0,20 C D
0,20 ≤ SD1 D D

Sumber : SNI 1726:2019 Tabel 8 dan 9


2.7 Perioda Fundamental Pendekatan

Periode fundamental pendekatan (Ta), dalam detik harus ditentukan dari persamaan berikut:
Ta = Ct.hnx (10)
Keterangan :
hn = Ketinggian struktur (m)
Koefisien Ct dan x ditentukan pada table 2.5 dibawah ini :

Tabel 2.5-Nilai Parameter periode pendekatan Ct dan x


Tipe Struktur Ct x
Sistem rangka pemikul momen dimana rangka memikul 100% gaya seismik yang
disyaratkan dan tidak dilingkupi atau dihubungkan dengan komponen yang lebih
kaku dan akan mencegah rangka dan defleksi jika dikenai gaya seismic :
- Rangka baja pemikul momen
- Rangka beton pemikul momen 0,0724 0,8
0,0466 0,6
Rangka baja dengan bresing eksentris 0,0731 0,75
Rangka baja dengan bresing terkekang terhadap tekuk 0,0731 0,75
Semua system struktur lainnya 0,0488 0,75
Sumber : SNI 1726:2019 Tabel 18

2.8 Perhitungan Koefisien Respons Seismik

Koefisien respons Cs harus ditentukan sesuai persamaan berikut :


SDS
Cs = R (11)
( )
I

SD1
Csmax = R (12)
T( )
I

0,5S1
Csmin = R (13)
( )
I

Keterangan :
I = Faktor keutamaan gempa (SNI 1726:2019 Tabel 4)
R = Koefisien modifikasi respons (SNI 1726:2019 Tabel 12)
T = Periode fundamental struktur (detik)
Cs = Koefisien respons seismik
Csmax = Koefisien respons seismik maksimum
Csmin = Koefisien respons seismik minimum

2.9 Analisa Statik Ekivalen

Gaya geser dasar seismik (V) dalam arah yang ditetapkan harus ditentukan sesuai dengan
persamaan berikut ini :
V = Cs.W (14)
Keterangan :
Cs = Koefisien respons seismik, W = Berat sesimik efektif
2.10 Analisa Respons Spektrum Ragam

Analisa harus dilakukan untuk menentukan ragam getar alami untuk struktur. Analisa harus
menyertakan jumlah ragam yang cukup untuk mendapatkan partisipasi massa ragam terkombinasi
100% dari massa struktur. Sebagai alternatif, analisis diizinkan untuk memasukkan jumlah ragam
yang minimum mencapai massa ragam terkombinasi paling sedikit 90% sesuai pasal 7.9.1.2 SNI
1726:2019.
2.11 Penentuan Faktor Skala Gempa

Dalam perhitungan nilai gaya gempa, perbandingan gaya gempa statis dan dinamis harus besar
sama dengan satu. Hal ini sesuai dengan pasal 7.9.2.5.2 SNI 1726:2019 dengan persamaan berikut
ini :
Vs
≥ 1,0 (15)
Vd

Keterangan :
Vs = Gaya geser dasar statis
Vd = Gaya geser dasar dinamis

2.12 Sistem Struktur dan Parameter Struktur

Sistem struktur yang akan digunakan untuk menahan gaya gempa ditentukan berdasarkan
batasan kategori desain seismik yang diizinkan. Setiap system struktur berbeda, masing-masing nilai
R, Cd dan Ω0 harus diterapkan pada setiap sistem, termasuk batasan sistem struktur yang termuat
dalam tabel SNI 1726:2019.
2.13 Balok dan Kolom SRPMK

Dalam perencanaan balok SRPMK, penulangan longitudinal (lentur) dan transversal (geser)
balok diberikan batasan-batasan yang diatur di dalam peraturan beton untuk bangunan gedung (SNI
2847:2013). Kolom adalah salah satu komponen struktur vertical yang secara khusus difungsikan
untuk memikul beban aksial tekan (dengan atau tanpa adanya momen lentur). Kekuatan aksial
minimal yang diterima kolom sebesar 0,1.Ag.fc’. Struktur kolom harus memenuhi persyaratan pada
peraturan SNI 2847:2013
2.14 Hubungan Balok-Kolom SRPMK

Hubungan balok-kolom (join) merupakan elemen struktur yang paling penting dalam suatu
sistem struktur rangka pemikul momen. Akibat gaya lateral yang bekerja pada struktur, momen lentur
ujung pada balok-balok yang merangka pada join yang sama akan memutar join pada arah yang
sama. Hal ini menimbulkan gaya geser yang besar pada hubungan balok-kolom.
3. PROSEDUR PERENCANAAN
3.1 Prosedur Rencana

Mulai
Mulai AA

1.
1. Respons
Respons spektrum
spektrum dengan
dengan Skala
Skala
Literatur
Literatur (Pedoman
(Pedoman &
& Aturan)
Aturan) Gempa
Gempa
2.
2. Statik
Statik Ekivalen
Ekivalen dengan
dengan Skala
Skala
Gempa
Gempa

Preliminary
Preliminary Design
Design 11 Tidak
1.
1. Faktor
Faktor Skala
Skala Gempa
Gempa
2.
2. Story
Story Drift
Drift 11
3.
3. P-Delta
P-Delta

Permodelan
Permodelan Struktur
Struktur Ya

Kombinasi
Kombinasi Pembebanan
Pembebanan

1.
1. Beban
Beban Mati
Mati (DL)
(DL)
2.
2. Beban
Beban Mati
Mati Tambahan
Tambahan (SIDL)
(SIDL)
3.
3. Beban
Beban Hidup
Hidup
4.
4. Beban
Beban Gempa
Gempa
1.
1. Gaya
Gaya Dalam
Dalam
2.
2. Penulangan
Penulangan Struktur
Struktur

1.
1. Perioda
Perioda Natural
Natural Tidak
2. Detailing
Detailing Elemen
Elemen Struktur
Struktur
2. Mass
Mass Partisipasi
Partisipasi modal
modal 100%
100% 11
4.Base Shear
4.Base Shear

Ya Selesai
Selesai

AA

Gambar 3.1 – Diagram Alir Perencanaan

a. Studi literatur befungsi sebagai acuan untuk perencanaan struktur ini.


b. Tahap preliminary design (perancangan awal) bertujuan menentukan dimensi penampang yang
akan digunakan.
c. Model struktur bangunan terdiri dari 4 lantai dengan ketinggian 12 meter dengan sistem rangka
pemikul momen khusus.
d. Input beban gravitas (beban mati,beban mati tambahan,beban hidup) dan beban gempa dinamis
(respons spectrum).
e. Running program pertama berfungsi mengecek parameter bangunan aman gempa yaitu : perioda
natural, partisipasi massa 100 serta base shear.
f. Input beban gempa statis dan dinamis beserta faktor skala gempa.
g. Running program kedua berfungsi mengecek parameter bangunan aman gempa berupa: faktor
skala gempa, simpangan antar lantai (story drift), dan pengaruh P-Delta.
h. Input kombinasi pembebanan.
i. Running program ketiga bertujuan mendapatkan gaya dalam struktur bangunan.
j. Desain elemen struktur (balok,kolom,dan pelat lantai).

3.2 Data Bangunan

Data bangunan gedung perencanaan ini ditentukan oleh pihak owner sendiri.

1. Nama Bangunan : Bangunan Toko “Budiman Swalayan”


2. Lokasi : Kota Padang
3. Jenis Struktur : Beton Bertulang
4. Fungsi Bangunan : Toko/Swalayan
5. Tinggi Bangunan : 12 Meter
6. Permodelan 3D :
4. HASIL DESIGN
4.1 Preliminary Design (Perancangan Awal)

Preliminary Design Balok Preliminary Design Kolom


Ukuran
Kode
B (mm) H (mm)
Lantai Ukuran
B1 300 600 2,3,4
Kode Lantai
B2 300 500 2,3,4
B (mm) H (mm)
B3 250 500 4 K1 450 450 1
B4 250 400 2,3,4
BA 200 350 2,3,4 K2 450 450 2,3
Tabel 4.1 – Preliminary Design Balok Tabel 4.2 – Preliminary Design Kolom

Preliminary Design Pelat Lantai


Ukuran
Kode Lantai
Tebal (mm)
SLAB 120 Semua Lantai
Tabel 4.3 – Preliminary Design Pelat

4.2 Perhitungan Beban Struktur


Lantai Tiga (LT.3)
ANALISA PEMBEBANAN a.B1 (30/60)
a1.Dinding Partisi
BEBAN MATI No Jenis Beban Mati H (m) Satuan
1 Tinggi lantai 4 m
1.BEBAN PADA PLAT 2 Tinggi balok 0,6 m
a. Dak Beton (LT.4) 3 Tinggi dinding 3,4 m
No Jenis Beban Mati Q (kN/m²) 5 Berat dinding partisi 2,5 kN/m²
1 Berat waterproofing 0,14 Total 8,5 kN/m
2 Berat plafon 0,18 a2. Dinding Bata (1,5 meter)
3 Berat spesi 0,42 No Jenis Beban Mati H (m) Satuan
3 Berat instalasi MEP 0,15 3 Tinggi dinding 1,5 m
Total 0,89 4 Berat dinding bata 2,5 kN/m²
b. Pelat LT.2 - LT.3 Total 3,75 kN/m
No Jenis Beban Mati Q (kN/m²) b.B2 (30/50)
2 Berat spesi 0,42 b1.Dinding Bata + ACP
3 Berat keramik 0,24 No Jenis Beban Mati H (m) Satuan
4 Berat plafon 0,18 1 Tinggi lantai 4 m
5 Berat instalasi MEP 0,15 2 Tinggi balok 0,5 m
Total 0,99 3 Tinggi dinding 3,5 m
4 Berat ACP 0,75 kN/m²
2. BEBAN PADA BALOK 5 Berat dinding bata 2,5 kN/m²
Lantai Dua (LT.2) Total 11,375 kN/m
a.B1 (30/60) b2. Dinding Bata
a1.Dinding Partisi No Jenis Beban Mati H (m) Satuan
No Jenis Beban Mati H (m) Satuan 1 Tinggi lantai 4 m
1 Tinggi lantai 4 m 2 Tinggi balok 0,5 m
2 Tinggi balok 0,6 m 3 Tinggi dinding 3,5 m
3 Tinggi dinding 3,4 m 4 Berat dinding bata 2,5 kN/m²
5 Berat dinding partisi 2,5 kN/m² Total 8,75 kN/m
Total 8,5 kN/m b3. Dinding Bata (1,5 meter)
b.B2 (30/50)
No Jenis Beban Mati H (m) Satuan
b1.Dinding Bata + ACP
3 Tinggi dinding 1,5 m
No Jenis Beban Mati H (m) Satuan
4 Berat dinding bata 2,5 kN/m²
1 Tinggi lantai 4 m
Total 3,75 kN/m
2 Tinggi balok 0,5 m
3 Tinggi dinding 3,5 m
b4. Dinding Partisi
4 Berat ACP 0,75 kN/m² No Jenis Beban Mati H (m) Satuan
5 Berat dinding bata 2,5 kN/m² 1 Tinggi lantai 4 m
Total 11,375 kN/m 2 Tinggi balok 0,5 m
b2. Dinding Bata 3 Tinggi dinding 3,5 m
No Jenis Beban Mati H (m) Satuan 4 Berat dinding partisi 1,13 kN/m²
1 Tinggi lantai 4 m Total 3,96 kN/m
2 Tinggi balok 0,5 m c.B4 (25/40)
3 Tinggi dinding 3,5 m c1.Dinding Bata + ACP
4 Berat dinding bata 2,5 kN/m² No Jenis Beban Mati H (m) Satuan
Total 8,75 kN/m 1 Tinggi lantai 4 m
b3. Dinding Partisi 2 Tinggi balok 0,4 m
No Jenis Beban Mati H (m) Satuan 3 Tinggi dinding 3,6 m
1 Tinggi lantai 4 m 4 Berat ACP 0,75 kN/m²
2 Tinggi balok 0,5 m 5 Berat dinding bata 2,5 kN/m²
3 Tinggi dinding 3,5 m Total 11,70 kN/m
4 Berat dinding partisi 1,13 kN/m²
c2. Dinding Bata
Total 3,96 kN/m
No Jenis Beban Mati H (m) Satuan
c.B4 (25/40)
1 Tinggi lantai 4 m
c1.Dinding Bata + ACP
No Jenis Beban Mati H (m) Satuan
2 Tinggi balok 0,4 m
1 Tinggi lantai 4 m 3 Tinggi dinding 3,6 m
2 Tinggi balok 0,4 m 4 Berat dinding bata 2,5 kN/m²
3 Tinggi dinding 3,6 m Total 9,00 kN/m
4 Berat ACP 0,75 kN/m² c3. Dinding Partisi
5 Berat dinding bata 2,5 kN/m² No Jenis Beban Mati H (m) Satuan
Total 11,70 kN/m 1 Tinggi lantai 4 m
c2. Dinding Bata 2 Tinggi balok 0,4 m
No Jenis Beban Mati H (m) Satuan 3 Tinggi dinding 3,6 m
1 Tinggi lantai 4 m 4 Berat dinding partisi 1,13 kN/m²
2 Tinggi balok 0,4 m Total 4,07 kN/m
3 Tinggi dinding 3,6 m Lantai Empat (LT.4)
4 Berat dinding bata 2,5 kN/m² a1. Dinding Bata (1,5 meter)
Total 9,00 kN/m No Jenis Beban Mati H (m) Satuan
c3. Dinding Partisi 3 Tinggi dinding 1,5 m
No Jenis Beban Mati H (m) Satuan
4 Berat dinding bata 2,5 kN/m²
1 Tinggi lantai 4 m
Total 3,75 kN/m
2 Tinggi balok 0,4 m
3 Tinggi dinding 3,6 m BEBAN HIDUP
4 Berat dinding partisi 1,13 kN/m²
a. Dak Beton (LT.4)
Total 4,07 kN/m
No Jenis Beban Hidup Q (kN/m²)
d.BA (20/35)
d1. Dinding Bata 1 Beban hidup 1
No Jenis Beban Mati H (m) Satuan 2 Beban hujan 0,5
1 Tinggi lantai 4 m Total 1,5
2 Tinggi balok 0,35 m b. Pelat LT.2 - LT.3
3 Tinggi dinding 3,65 m No Jenis Beban Hidup Q (kN/m²)
4 Berat dinding bata 2,5 kN/m² 1 Beban hidup 2,5
Total 9,13 kN/m Total 2,5
4.3 Perhitungan Respon Spektrum Desain

No Data Variabel Nilai T (detik) T (detik) SA (g)


1 Kategori Resiko Bangunan Gedung Toko K= II 0 0,000 0,309
2 Faktor Keutamaan Gempa Ie = 1 To 0,207 0,773
Parameter Percepatan Tanah (Ss, S1) Ts 1,034 0,773
Ts + 0,1 1,134 0,705
a. Percepatan Respon Spektral MCER dari
Ss = 1,345 Ts + 0,2 1,234 0,648
3 Peta Gempa Pada Periode Pendek Ts + 0,3 1,334 0,599
b. Percepatan Respon Spektral MCER dari Ts + 0,4 1,434 0,557
S1 = 0,599
Peta Gempa Pada Periode 1 Detik Ts + 0,5 1,534 0,521
4 Kelas Lokasi/Klasifikasi Situs SE = Lunak Ts + 0,6 1,634 0,489
Faktor Koefisien Situs (Fa,Fv) Ts + 0,7 1,734 0,461
5 a. Koef. Situs untuk Periode Pendek Ts + 0,8 1,834 0,436
Fa = 0,862
Ts + 0,9 1,934 0,413
b. Koef. Situs untuk Periode Panjang Fv = 2,002
Ts + 1,0 2,034 0,393
Parameter Respon Spektrum Percepatan Ts + 1,1 2,134 0,375
(SMS dan SM1) Ts + 1,2 2,234 0,358
a. Percepatan Respon Spektral MCE Periode Ts + 1,3 2,334 0,342
Pendek yang Sudah Disesuiakan Terhadap SMS = 1,159 Ts + 1,4 2,434 0,328
6 Ts + 1,5 2,534 0,315
Kelas Situs (SMS = Fa.Ss)
Ts + 1,6 2,634 0,303
b. Percepatan Respon Spektral MCER Periode
Ts + 1,7 2,734 0,292
1 Detik yang Sudah Disesuiakan Terhadap SM1 = 1,199
Ts + 1,8 2,834 0,282
Kelas Situs (SM1 = Fv.S1) Ts + 1,9 2,934 0,272
Parameter Percepatan Spektrum Desain Ts + 2,0 3,034 0,263
(SDS, SD1) Ts + 2,1 3,134 0,255
a. Percepatan Respon Spektral Pada Periode 0,773 Ts + 2,2 3,234 0,247
7 SDS = Ts + 2,3 3,334 0,240
Pendek (SDS = 2/3 SMS)
Ts + 2,4 3,434 0,233
b. Percepatan Respon Spektral Pada Periode 0,799
SD1 = Ts + 2,5 3,534 0,226
Pendek (SD1 = 2/3 SM1) Ts + 2,6 3,634 0,220
8 Spektrum Respons Desain Ts + 2,7 3,734 0,214
a. To = 0,2 SD1/SDS To = 0,207 Ts + 2,8 3,834 0,209
b. Ts = SD1/SDS Ts = 1,034 Ts + 2,9 4,000 0,200

Perencanaan beban gempa dinamis dilakukan menggunakan analisa respons spektrum


berdasarkan SNI 1726:2019 untuk wilayah Kota Padang. Dari perhitungan periode natural
didapatkan grafik respon spektrum dibawah ini :

Gambar 4.3 – Respons Sepktrum


Didapatkan kategori desain seismik berdasarkan parameter percepatan periode pendek (Ss) dan
periode 1 detik (S1) yaitu “ KDS D”.
4.4 Kombinasi Pembebanan

KOMBINASI PEMBEBANAN

No Kombinasi Pembebanan
1 1,4 DL
2 1,2 DL + 1,6 LL

3 1,200 DL + 0,5 LL + 1,000 EQX + 0,300 EQY


4 1,200 DL + 0,5 LL + 1,000 EQX - 0,300 EQY
5 1,200 DL + 0,5 LL - 1,000 EQX + 0,300 EQY
6 1,200 DL + 0,5 LL - 1,000 EQX - 0,300 EQY

7 1,200 DL + 0,5 LL + 0,300 EQX + 1,000 EQY


8 1,200 DL + 0,5 LL + 0,300 EQX - 1,000 EQY
9 1,200 DL + 0,5 LL - 0,300 EQX + 1,000 EQY
10 1,200 DL + 0,5 LL - 0,300 EQX - 1,000 EQY

11 0,900 DL + 1,000 EQX + 0,300 EQY


12 0,900 DL + 1,000 EQX - 0,300 EQY
13 0,900 DL - 1,000 EQX + 0,300 EQY
14 0,900 DL - 1,000 EQX - 0,300 EQY

15 0,900 DL + 0,300 EQX + 1,000 EQY


16 0,900 DL + 0,300 EQX - 1,000 EQY
17 0,900 DL - 0,300 EQX + 1,000 EQY
18 0,900 DL - 0,300 EQX - 1,000 EQY
Gambar 4.4 – Kombinasi Pembebanan
4.5 Pemeriksaan Partisipasi Massa Struktur

Dalam SNI 1726:2019 pasal 7.9.1.1 menjelaskan partisipasi massa ragam terkombinasi paling
sedikit sebesar 100% dari massa struktur. Didapatkan hasil partisipasi massa pada struktur ini
memenuhi persyaratan pada mode 9.

Period
Case Mode UX UY Sum UX Sum UY RZ Sum RZ
sec
Modal 1 1,004 0,0024 0,7818 0% 78% 0,0374 4%
Modal 2 0,959 0,797 0,0063 80% 79% 0,0209 6%
Modal 3 0,896 0,0241 0,031 82% 82% 0,7591 82%
Modal 4 0,337 0,00E+00 0,1144 82% 93% 0,0089 83%
Modal 5 0,325 0,1207 6,56E-07 94% 93% 1,10E-05 83%
Modal 6 0,31 3,07E-05 0,0091 94% 94% 0,1138 94%
Modal 7 0,203 0,0011 0,0537 95% 100% 0,0055 95%
Modal 8 0,201 0,0542 0,0014 100% 100% 8,55E-06 95%
Modal 9 0,19 0,0005 0,0023 100% 100% 0,0543 100%
Total > 90% 100% 100% 100%
Tabel 4.5 – Pemeriksaan Partisipasi Massa
4.6 Pemeriksaan Faktor Skala Gempa

Menurut SNI 1726:2019 pasal 7.9.2.5.2, perbandingan antara gaya gempa statis dan dinamis
harus besar atau sama dengan satu. Pada perencanaan bangunan ini sudah memenuhi syarat.

Tipe Beban Gempa FX (kN) FY (kN) Statik X 100 % (kN) Statik Y 100% (kN)
SQX -4996,727 -1492,924 -4996,727 -1492,924
Statis
SQY -1492,924 -4996,727 -1492,924 -4996,727
RSX Max 2380,916 746,941 2,099 1,999
Dinamis
RSY Max 759,866 2335,080 1,965 2,140
Tabel 4.6 – Faktor Skala Gempa

4.7 Pemeriksaan Simpangan Antar Lantai

Simpangan antar lantai ditentukan berdasarkan pasal 7.8.6 SNI 1726:2019. Adapun persamaan
nya ditentukan sebagai berikut :
𝐶𝑑. 𝛿𝑥𝑒
𝛿𝑥 =
𝐼𝑒
Keterangan :
Cd = Faktor pembesaran simpangan lateral
𝛿𝑥𝑒 = Simpangan di tingkat-x
Ie = Faktor keutamaan gempa

Didapatkan hasil perhitungan simpangan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

Tinggi Tinggi Story Drift Story Drift Story Drift Story Drift
Simpangan Simpangan Batas Izin Cek Cek
Story Tingkat Lantai Arah X Arah Y Arah X.Cd Arah Y.Cd
Arah X (mm) Arah Y (mm) (mm) Arah X Arah Y
(mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm)
Story 3 12000 4000 32,787 37,854 8,959 10,201 49,275 56,106 100 OK OK
Story 2 8000 4000 23,828 27,653 14,482 16,988 79,651 93,434 100 OK OK
Story 1 4000 4000 9,346 10,665 9,346 10,665 51,403 58,658 100 OK OK
Tabel 4.7 – Simpangan Antar Lantai

Gambar 4.7 – Grafik Simpangan Antar Lantai


4.8 Pemeriksaan Efek P-Delta

Pada perencanaan bangunan ini, pengaruh P-Delta pada geser tingkat dan momen, gaya dan
elemen struktur yang dihasilkan serta simpangan antar tingkat yang diakibatkannya dapat diabaikan.
Hal ini disebabkan karena koefisien stabilitas (Ɵ) yang didapatkan pada struktur bangunan ini kurang
dari 0,10. Persamaan koefisien stabilitas (Ɵ) ditentukan pada pasal 7.8.7 SNI 1726:2019.

Tinggi Elevasi Story Drift Px (Vx) Gaya Koefisien Koefisien


Lantai Lantai Arah X Kumulatif Geser Seismik Stabilitas Stabilitas Cek
(mm) (m) (mm) (kN) Arah X (kN) (Ɵ) Maksimum
4000 12 8,959 7601,779 984,931 0,003 0,091 OK
4000 8 14,482 19132,112 1946,336 0,006 0,091 OK
4000 4 9,346 31068,555 2380,916 0,006 0,091 OK

Tabel 4.8.1 – Efek P-Delta Arah X

Gambar 4.8.1 – Grafik Efek P-Delta Arah X

Tinggi Elevasi Story Drift Py (Vy) Gaya Koefisien Koefisien


Lantai Lantai Arah Y Kumulatif Geser Seismik Stabilitas Stabilitas Cek
(mm) (mm) (mm) (kN) Arah X (kN) (Ɵ) Maksimum

4000 12 10,201 7601,779 971,766 0,004 0,091 OK


4000 8 16,988 19132,112 1917,460 0,008 0,091 OK
4000 4 10,665 31068,555 2335,080 0,006 0,091 OK

Tabel 4.8.2 – Efek P-Delta Arah Y

Gambar 4.8.2 – Grafik Efek P-Delta Arah Y


4.9 Gaya Dalam Struktur

A. Diagram Momen

Gambar 4.9.1 – Diagram Momen 2-2

Gambar 4.9.2 – Diagram Momen 3-3


B. Diagram Lintang/Geser (Shear Force)

Gambar 4.9.3 – Diagram Geser (Shear Force) 2-2

Gambar 4.9.4 – Diagram Geser (Shear Force 3-3)


C. Diagram Aksial (Axial Force)

Gambar 4.9.5 – Diagram Aksial (Axial Force)

4.10 Rekapitulasi Gaya Dalam Struktur


REKAP KESELURUHAN

BALOK

Lantai 2
Envelope
Lantai 3 Lantai 4
REKAP KESELURUHAN
B2 (30/50) BENTANG 6 METER
B2- Bentang 6 Meter (Tumpuan) B2- Bentang 6 Meter (Tumpuan) B2- Bentang 6 Meter (Tumpuan)

MAX
V2
kN
102,738
M3
kN-m
44,411 MAX
V2
kN
102,472
M3
kN-m
37,664 MAX
V2
kN
76,161
M3
kN-m
24,645
KOLOM
MIN -102,520 -133,940 MIN -102,122 -127,130 MIN -75,702 -84,327
B2-6 Bentang 6 Meter (Lapangan
V2
kN
M3
kN-m
B2-6 Bentang 6 Meter (Lapangan
V2
kN
M3
kN-m
B2-6 Bentang 6 Meter (Lapangan
V2
kN
M3
kN-m
P V2 V3 T M2 M3
MAX 67,535 86,886 MAX 64,184 86,044 MAX 46,495 71,449
MIN -67,783 -26,767 MIN -63,996 -24,120 MIN -46,067 -7,158
kN kN kN kN-m kN-m kN-m
B2- Bentang 5 Meter (Tumpuan)
B2(30/50) BENTANG 5 METER
B2- Bentang 5 Meter (Tumpuan) K1-LT 1
MAX
V2
kN
116,603
M3
kN-m
61,360 MAX
V2
kN
101,235
M3
kN-m
50,816
MAX -80,961 53,786 61,239 2,411 153,559 137,893
MIN -118,716 -136,724 MIN -106,535 -115,242
B2- Bentang 5 Meter (Lapangan
V2
kN
M3
kN-m
B2- Bentang 5 Meter (Lapangan
V2
kN
M3
kN-m
MIN -995,583 -54,057 -60,425 -2,413 -153,397 -138,307
MAX 84,938 81,580 MAX 69,424 71,918
MIN -87,867 -39,692 MIN -73,480 -32,067
B3(25/50) BENTANG 5 METER

P V2 V3 T M2 M3
B3- Bentang 5 Meter (Tumpuan)
V2 M3
kN kN-m
MAX 64,023 30,976
MIN -61,669 -69,683
B3- Bentang 5 Meter (Lapangan
kN kN kN kN-m kN-m kN-m
V2
kN
M3
kN-m K2-LT 2
B4 (25/40) BENTANG 4 METER
MAX
MIN
45,988
-42,544
50,981
-13,379 MAX -22,786 48,057 51,341 2,384 101,611 91,104
B4- Bentang 4 Meter (Tumpuan)
V2
kN
M3
kN-m
B4- Bentang 4 Meter (Tumpuan)
V2
kN
M3
kN-m
B4- Bentang 4 Meter (Tumpuan)
V2
kN
M3
kN-m
MIN -627,195 -48,236 -51,358 -2,373 -101,044 -88,777
MAX 60,234 38,317 MAX 61,312 30,020 MAX 37,249 17,650
MIN -62,124 -65,652 MIN -62,124 -59,363 MIN -39,807 -34,055
B4- Bentang 4 Meter (Lapangan B4- Bentang 4 Meter (Lapangan B4- Bentang 4 Meter (Lapangan
V2 M3 V2 M3 V2 M3
kN kN-m kN kN-m kN kN-m
MAX
MIN
42,996
-45,134
33,696
-24,375
MAX
MIN
39,042
-40,564
28,787
-20,152
MAX
MIN
21,673
-24,338
18,786
-8,714 P V2 V3 T M2 M3
BALOK ANAK (20/35) Semua Lantai

BA Bentang 5 Meter (Tumpuan)


kN kN kN kN-m kN-m kN-m
V2
kN
M3
kN-m K2-LT 3
MAX -26,956 33,015 33,116 1,345 66,200 55,577
MAX 41,828 12,299
MIN -41,606 -35,578
BA Bentang 5 Meter (Lapangan)
V2 M3

MAX
MIN
kN
20,444
-20,236
kN-m
19,854
-3,143
MIN -265,513 -29,745 -34,622 -1,484 -60,772 -60,821

Tabel 4.10 – Rekapitulasi Gaya Dalam Maksimum


4.11 Hasil Desain Elemen Struktur

A. Balok

a. Tulangan Lentur Balok

TULANGAN LENTUR BALOK UTAMA

A. LANTAI -2
B2 (30/50) BENTANG 6 METER
Asterpasang Asmin Asmax Muetabs Mu/Ø Mn Kontrol Kontrol
Tulangan ρperlu ρterpasang
(mm2) (mm2) (mm2) (kN.m) (kN.m) (kN.m) Tulangan Momen
Tekan (-) 4D-16 804,248 694,964 3450,000 0,0050 0,0058 44,411 49,345 98,124 OK OK
Tumpuan
Tarik (+) 7D-16 1407,434 694,964 3450,000 0,0091 0,0102 133,940 148,822 165,516 OK OK
Tarik (+) 5D-16 1005,310 694,964 3450,000 0,0057 0,0073 86,886 96,540 121,178 OK OK
Lapangan
Tekan (-) 4D-16 804,248 694,964 3450,000 0,0051 0,0058 26,767 29,741 98,124 OK OK
B2 (30/50) BENTANG 5 METER
Asterpasang Asmin Asmax Muetabs Mu/Ø Mn Kontrol Kontrol
Tulangan ρperlu ρterpasang
(mm2) (mm2) (mm2) (kN.m) (kN.m) (kN.m) Tulangan Momen
Tekan (-) 4D-16 804,248 694,964 3450,000 0,0050 0,0058 61,360 68,178 98,124 OK OK
Tumpuan
Tarik (+) 7D-16 1407,434 694,964 3450,000 0,0093 0,0102 136,724 151,916 165,516 OK OK
Tarik (+) 5D-16 1005,310 694,964 3450,000 0,0054 0,0073 81,580 90,644 121,178 OK OK
Lapangan
Tekan (-) 4D-16 804,248 694,964 3450,000 0,0050 0,0058 39,692 44,102 98,124 OK OK
B4 (25/40) BENTANG 4 METER
Asterpasang Asmin Asmax Muetabs Mu/Ø Mn Kontrol Kontrol
Tulangan ρperlu ρterpasang
(mm2) (mm2) (mm2) (kN.m) (kN.m) (kN.m) Tulangan Momen
Tekan (-) 3D-16 603,190 453,237 2250,000 0,0050 0,0067 38,317 42,574 57,178 OK OK
Tumpuan
Tarik (+) 4D-16 804,248 453,237 2250,000 0,0087 0,0089 65,652 72,947 74,821 OK OK
Tarik (+) 4D-16 804,248 453,237 2250,000 0,0050 0,0089 33,696 37,440 74,821 OK OK
Lapangan
Tekan (-) 3D-16 603,190 453,237 2250,000 0,0050 0,0067 24,375 27,083 57,178 OK OK
B. LANTAI -3
B2 (30/50) BENTANG 6 METER
Asterpasang Asmin Asmax Muetabs Mu/Ø Mn Kontrol Kontrol
Tulangan ρperlu ρterpasang
(mm2) (mm2) (mm2) (kN.m) (kN.m) (kN.m) Tulangan Momen
Tekan (-) 4D-16 804,248 694,964 3450,000 0,0050 0,0058 37,664 41,849 98,124 OK OK
Tumpuan
Tarik (+) 6D-16 1206,372 694,964 3450,000 0,0086 0,0087 127,130 141,256 165,516 OK OK
Tarik (+) 6D-16 1206,372 694,964 3450,000 0,0057 0,0087 86,044 95,604 121,178 OK OK
Lapangan
Tekan (-) 4D-16 804,248 694,964 3450,000 0,0051 0,0058 24,120 26,800 98,124 OK OK
B2 (30/50) BENTANG 5 METER
Asterpasang Asmin Asmax Muetabs Mu/Ø Mn Kontrol Kontrol
Tulangan ρperlu ρterpasang
(mm2) (mm2) (mm2) (kN.m) (kN.m) (kN.m) Tulangan Momen
Tekan (-) 4D-16 804,248 694,964 3450,000 0,0050 0,0058 50,816 56,462 98,124 OK OK
Tumpuan
Tarik (+) 6D-16 1206,372 694,964 3450,000 0,0077 0,0087 115,242 128,047 165,516 OK OK
Tarik (+) 6D-16 1206,372 694,964 3450,000 0,0050 0,0087 71,918 79,909 121,178 OK OK
Lapangan
Tekan (-) 4D-16 804,248 694,964 3450,000 0,0050 0,0058 32,067 35,630 98,124 OK OK
B4 (25/40) BENTANG 4 METER
Asterpasang Asmin Asmax Muetabs Mu/Ø Mn Kontrol Kontrol
Tulangan ρperlu ρterpasang
(mm2) (mm2) (mm2) (kN.m) (kN.m) (kN.m) Tulangan Momen
Tekan (-) 3D-16 603,190 453,237 2250,000 0,0050 0,0067 30,020 33,356 57,178 OK OK
Tumpuan
Tarik (+) 4D-16 804,248 453,237 2250,000 0,0078 0,0089 59,363 65,959 74,821 OK OK
Tarik (+) 4D-16 804,248 453,237 2250,000 0,0050 0,0089 28,787 31,986 74,821 OK OK
Lapangan
Tekan (-) 3D-16 603,190 453,237 2250,000 0,0050 0,0067 20,152 22,391 57,178 OK OK
B. LANTAI -4
B2 (30/50) BENTANG 6 METER
Asterpasang Asmin Asmax Muetabs Mu/Ø Mn Kontrol Kontrol
Tulangan ρperlu ρterpasang
(mm2) (mm2) (mm2) (kN.m) (kN.m) (kN.m) Tulangan Momen
Tekan (-) 4D-16 804,248 694,964 3450,000 0,0050 0,0058 24,645 27,383 98,124 OK OK
Tumpuan
Tarik (+) 5D-16 1005,310 694,964 3450,000 0,0056 0,0073 84,327 93,697 121,178 OK OK
Tarik (+) 5D-16 1005,310 694,964 3450,000 0,0050 0,0073 71,449 79,388 121,178 OK OK
Lapangan
Tekan (-) 4D-16 804,248 694,964 3450,000 0,0050 0,0058 7,715 8,572 98,124 OK OK
B3 (25/50) BENTANG 5 METER
Asterpasang Asmin Asmax Muetabs Mu/Ø Mn Kontrol Kontrol
Tulangan ρperlu ρterpasang
(mm2) (mm2) (mm2) (kN.m) (kN.m) (kN.m) Tulangan Momen
Tekan (-) 3D-16 603,190 579,137 2875,000 0,0050 0,0052 30,976 34,418 73,947 OK OK
Tumpuan
Tarik (+) 4D-16 804,248 579,137 2875,000 0,0055 0,0070 69,683 77,426 97,179 OK OK
Tarik (+) 4D-16 804,248 579,137 2875,000 0,0050 0,0070 50,981 56,646 97,179 OK OK
Lapangan
Tekan (-) 3D-16 603,190 579,137 2875,000 0,0050 0,0052 13,379 14,866 73,947 OK OK
B4 (25/40) BENTANG 4 METER
Asterpasang Asmin Asmax Muetabs Mu/Ø Mn Kontrol Kontrol
Tulangan ρperlu ρterpasang
(mm2) (mm2) (mm2) (kN.m) (kN.m) (kN.m) Tulangan Momen
Tekan (-) 3D-16 603,190 453,237 2250,000 0,0050 0,0067 17,650 19,611 57,178 OK OK
Tumpuan
Tarik (+) 4D-16 804,248 453,237 2250,000 0,0050 0,0089 34,055 37,839 74,821 OK OK
Tarik (+) 4D-16 804,248 453,237 2250,000 0,0050 0,0089 18,786 20,873 74,821 OK OK
Lapangan
Tekan (-) 3D-16 603,190 453,237 2250,000 0,0050 0,0067 8,714 9,682 57,178 OK OK

TULANGAN LENTUR BALOK ANAK

C. BERLAKU UNTUK SEMUA LANTAI


BA (20/35) BENTANG 5 METER
Asterpasang Asmin Asmax Muetabs Mu/Ø Mn Kontrol Kontrol
Tulangan 2
ρperlu ρterpasang
(mm ) (mm2) (mm2) (kN.m) (kN.m) (kN.m) Tulangan Momen
Tekan (-) 2D-16 402,124 312,230 1550,000 0,0050 0,0065 12,299 13,666 32,884 OK OK
Tumpuan
Tarik (+) 3D-16 603,186 312,230 1550,000 0,0079 0,0097 35,578 39,531 47,997 OK OK
Tarik (+) 3D-16 603,186 312,230 1550,000 0,0050 0,0097 19,854 22,060 47,997 OK OK
Lapangan
Tekan (-) 2D-16 402,124 312,230 1550,000 0,0050 0,0065 3,143 3,492 32,884 OK OK

Tabel 4.11.1 – Hasil Desain Tulangan Lentur Balok


b. Tulangan Sengkang Balok

TULANGAN SENGKANG BALOK UTAMA


A. LANTAI -2
B2 (30/50) BENTANG 6 METER
Diameter Jumlah As Jarak Sengkang ØVn
Vu (kN) Kontrol
(mm) Kaki (mm2) (mm) (kN)
Tumpuan 10 2 157,08 75 130,97 150,37 OK
Lapangan 10 2 157,08 150 101,08 153,72 OK
B2 (30/50) BENTANG 5 METER
Diameter Jumlah As Jarak Sengkang ØVn
Vu (kN) Kontrol
(mm) Kaki (mm2) (mm) (kN)
Tumpuan 10 2 157,08 75 145,89 150,37 OK
Lapangan 10 2 157,08 150 107,35 153,72 OK
B4 (25/40) BENTANG 4 METER
Diameter Jumlah As Jarak Sengkang ØVn
Vu (kN) Kontrol
(mm) Kaki (mm2) (mm) (kN)
Tumpuan 10 2 157,08 85 72,98 117,67 OK
Lapangan 10 2 157,08 150 56,19 110,06 OK
B. LANTAI -3
B2 (30/50) BENTANG 6 METER
Diameter Jumlah As Jarak Sengkang ØVn
Vu (kN) Kontrol
(mm) Kaki (mm2) (mm) (kN)
Tumpuan 10 2 157,08 75 127,28 150,37 OK
Lapangan 10 2 157,08 150 97,47 153,72 OK
B2 (30/50) BENTANG 5 METER
Diameter Jumlah As Jarak Sengkang ØVn
Vu (kN) Kontrol
(mm) Kaki (mm2) (mm) (kN)
Tumpuan 10 2 157,08 75 139,18 150,37 OK
Lapangan 10 2 157,08 150 101,67 153,72 OK
B4 (25/40) BENTANG 4 METER
Diameter Jumlah As Jarak Sengkang ØVn
Vu (kN) Kontrol
(mm) Kaki (mm2) (mm) (kN)
Tumpuan 10 2 157,08 75 78,69 117,67 OK
Lapangan 10 2 157,08 150 59,61 110,06 OK
C. LANTAI -4
B2 (30/50) BENTANG 6 METER
Diameter Jumlah As Jarak Sengkang ØVn
Vu (kN) Kontrol
(mm) Kaki (mm2) (mm) (kN)
Tumpuan 10 2 157,08 75 102,55 150,37 OK
Lapangan 10 2 157,08 150 79,80 153,72 OK
B3 (25/50) BENTANG 5 METER
Diameter Jumlah As Jarak Sengkang ØVn
Vu (kN) Kontrol
(mm) Kaki (mm2) (mm) (kN)
Tumpuan 10 2 157,08 75 89,50 150,36 OK
Lapangan 10 2 157,08 150 66,55 140,63 OK
B4 (25/40) BENTANG 4 METER
Diameter Jumlah As Jarak Sengkang ØVn
Vu (kN) Kontrol
(mm) Kaki (mm2) (mm) (kN)
Tumpuan 10 2 157,08 75 63,56 117,67 OK
Lapangan 10 2 157,08 150 50,53 110,06 OK
TULANGAN SENGKANG BALOK ANAK

A. BERLAKU UNTUK SEMUA LANTAI


BA (20/35) BENTANG 5 METER
Diameter Jumlah As Jarak Sengkang ØVn
Vu (kN) Kontrol
(mm) Kaki (mm2) (mm) (kN)
Tumpuan 10 2 157,08 75 53,07 101,32 OK
Lapangan 10 2 157,08 150 42,46 85,95 OK

Tabel 4.11.2 – Hasil Desain Tulangan Sengkang Balok


B. Kolom

a. Tulangan Lentur Kolom

TULANGAN UTAMA KOLOM K1 - LANTAI 1

Reduksi (0,Po') (Mnmax,Pnmax) (Mnb,Pnb) (Mo,0) (0,Pmin) (M2,Pu) (M3,Pu)


Aksial (P) (kN) 3274,287 2619,430 813,717 0,000 -1017,293 995,583 995,583
Momen (M) (kN) 0,000 150,376 550,278 321,686 0,000 153,559 138,307
Eksentrisitas 0,057 0,676 0,154 0,139
Diameter 16
Jumlah Tulangan 28
Luas Tulangan (mm2) 5629,73
ρ 2,78%

Tabel 4.11.3 – Hasil Desain Tulangan Lentur Kolom K1

Gambar 4.11.3 – Diagram Interaksi Kolom K1

TULANGAN UTAMA KOLOM K2 - LANTAI 2


Reduksi (0,Po') (Mnmax,Pnmax) (Mnb,Pnb) (Mo,0) (0,Pmin) (M2,Pu) (M3,Pu)
Aksial (P) (kN) 2650,944 2120,755 842,939 0,000 -871,965 627,195 627,195
Momen (M) (kN) 0,000 103,597 300,477 204,972 0,000 101,611 91,104
Eksentrisitas 0,049 0,356 0,162 0,145
Diameter 16
Jumlah Tulangan 24
Luas Tulangan (mm2) 4825,49
ρ 3,02%

Tabel 4.11.4 – Hasil Desain Tulangan Lentur Kolom K2 Lantai 2

Gambar 4.11.4 – Diagram Interaksi Kolom K2 Lantai 2


TULANGAN UTAMA KOLOM K2 - LANTAI 3
Reduksi (0,Po') (Mnmax,Pnmax) (Mnb,Pnb) (Mo,0) (0,Pmin) (M2,Pu) (M3,Pu)
Aksial (P) (kN) 2650,944 2120,755 842,939 0,000 -871,965 265,513 265,513
Momen (M) (kN) 0,000 103,597 300,477 204,972 0,000 66,200 60,821
Eksentrisitas 0,049 0,356 0,249 0,229
Diameter 16
Jumlah Tulangan 24
Luas Tulangan (mm2) 4825,49
ρ 3,02%

Tabel 4.11.5 – Hasil Desain Tulangan Lentur Kolom K2 Lantai 3

Gambar 4.11.5 – Diagram Interaksi Kolom K2 Lantai 3

b. Tulangan Sengkang Kolom

TULANGAN SENGKANG KOLOM K1 LANTAI 1


Diameter Jumlah
Lokasi Jarak (mm)
(mm2) Kaki
Tumpuan 12 4 80
Lapangan 12 4 100
TULANGAN SENGKANG KOLOM K2 LANTAI 2
Diameter Jumlah
Lokasi Jarak (mm)
(mm2) Kaki
Tumpuan 12 4 80
Lapangan 12 4 100
TULANGAN SENGKANG KOLOM K2 LANTAI 3
Diameter Jumlah
Lokasi Jarak (mm)
(mm2) Kaki
Tumpuan 12 4 100
Lapangan 12 4 200

Tabel 4.11.6 – Hasil Desain Tulangan Senkang Kolom


4.12 Gambar Penulangan

A. Balok Utama (B1,B2,B3,B4)

a. Balok Lantai 2

Gambar 4.12.1 – Tabel Balok Lantai 2

b. Balok Lantai 3

Gambar 4.12.2 – Tabel Balok Lantai 3


c. Balok Lantai 4

Gambar 4.12.3 – Tabel Balok Lantai 4


B. Balok Anak (Berlaku Untuk Semua Lantai)

Gambar 4.12.4 – Tabel Balok Anak (Semua Lantai)

C. Kolom (Kolom LT-1, LT-2, LT-3)

Gambar 4.12.5 – Tabel Kolom Lantai 1,2 dan 3

4.13 Pemeriksaan Kekuatan Join pada Hubungan Balok-Kolom

Pada daerah pertemuan balok kolom (join) diperlukan pemasangan tulangan sengkang
confinement yang dimana pada perencanaan struktur ini dipakai tulangan 4D12-150

REKAPITULASI PENGECEKAN HUBUNGAN BALOK-KOLOM PADA JOIN

Join 450 mm x 450 mm Join 400 mm x 400 mm Join 400 mm x 400 mm


T1 489,083 kN T1 419,214 kN T1 279,476 kN
C1 489,083 kN C1 419,214 kN C1 279,476 kN
T2 279,476 kN T2 279,476 kN T2 209,607 kN
C2 279,476 kN C2 279,476 kN C2 209,607 kN
Vsway 112,420 kN Vsway 113,480 kN Vsway 80,290 kN
Vu 656,139 kN Vu 585,210 kN Vu 408,793 kN
ØVn 1176,100 kN ØVn 929,264 kN ØVn 929,264 kN
ØVn > Vu OK ØVn > Vu OK ØVn > Vu OK
Tabel 4.13– Hubungan Balok-Kolom di Join
4.14 Pemeriksaan Strong Column Weak Beam

Dalam desain struktur rangka pemikul momen khusus (SRPMK), pemeriksaan kolom kuat
balok lemah digunakan untuk memastikan tidak terjadinya sendi plastis pada kolom selama gempa
terjadi. Agar kolom kuat dari balok, maka kekuatan kolom harus memenuhi persamaan berikut :
∑Mnc ≥ (1,2) ∑Mnb
Keterangan :
∑Mnc = Jumlah kekuatan lentur nominal kolom yang merangka kedalam join.
∑Mnb = Jumlah kekuatan lentur nominal balok yang merangka kedalam join.
Didapatkan hasil perencanaan struktur bahwasanya pemeriksaan kolom kuat balok lemah memenuhi
persyaratan. Hal ini bisa dilihat pada tabel dibawah ini :

Strong Column We ak Be am (SCWB)


Balok 6 m & 5 m
ØMc ØMbkanan ØMbkiri ∑Mc ∑Mb 1,2 ∑Mb
Lokasi Kontrol
(kN.m) (kN.m) (kN.m) (kN.m) (kN.m) (kN.m)
Lantai 3 300,48
227,05 227,05 600,96 454,1 544,92 OK
Lantai 2 300,48
247,74 247,74 850,76 495,48 594,576 OK
Lantai 1 550,28
Tabel 4.14.1– SCWB Balok 6 m dan 5 m

Strong Column Weak Beam (SCWB)


Balok 5 m & 5 m
ØMc ØMbkana ØMbkiri ∑Mc ∑Mb 1,2 ∑Mb
Lokasi Kontrol
(kN.m) n (kN.m) (kN.m) (kN.m) (kN.m) (kN.m)
Lantai 3 300,48
227,05 227,05 600,96 454,1 544,92 OK
Lantai 2 300,48
247,74 247,74 850,76 495,48 594,576 OK
Lantai 1 550,28
Tabel 4.14.2– SCWB Balok 5 m dan 5 m
Strong Column Weak Beam (SCWB)
Balok 5 m & 4 m
ØMc ØMbkana ØMbkiri ∑Mc ∑Mb 1,2 ∑Mb
Lokasi Kontrol
(kN.m) n (kN.m) (kN.m) (kN.m) (kN.m) (kN.m)
Lantai 3 300,48
247,74 123,99 600,96 371,73 446,076 OK
Lantai 2 300,48
247,74 123,99 850,76 371,73 446,076 OK
Lantai 1 550,28
Tabel 4.14.3– SCWB Balok 5 m dan 4 m