Anda di halaman 1dari 15

i

Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Tetanus Generalisata


Di Ruang ICU RSUD Dr. Soetomo Surabaya

PERIODE 30 Maret - 25 April 2020

DISUSUN OLEH :
Ferly Anas Priambodo
131913143023

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2020
1. Definisi Tetanus Generalisata

Tetanus adalah suatu toksemia akut yang disebabkan oleh neurotoksin yang dihasilkan

oleh C. tetaniditandai dengan kekakuan otot dan spasme yang periodik dan berat.Tetanus

dapat didefinisikan sebagai keadaan hipertonia akut atau kontraksi otot yang mengakibatkan

nyeri (biasanya pada rahang bawah dan leher) dan spasme otot menyeluruh tanpa penyebab

lain, serta terdapat riwayat luka ataupun kecelakaan sebelumnya (Rahmanto, 2017).

Tetanus general merupakan bentuk paling sering, biasanya timbul mendadak dengan

kaku kuduk, trismus, gelisah, mudah tersinggung daan sakit kepala merupakan manifestasi

awal. Dalam waktu singkat kontraksi otot somatic meluas. Timbul kejang tetanik bermacam

grup otot, menimbulkan aduksi lengan dan ekstensi ekstremitas bagian bawah. Pada mulanya,

spasme berlangsung beberapa detik sampai beberapa menit dan terpisah oleh periode

relaksasi (Ataro, dkk. 2011).

2. Etiologi Tetanus Generalisata (Rahmanto, 2017)

C. tetani adalah bakteri Gram positif anaerob yang ditemukan di tanah dan kotoran

binatang. Bakteri ini berbentuk batang dan memproduksi spora, memberikan gambaran klasik

seperti stik drum, meski tidak selalu terlihat. Spora ini bisa tahan beberapa bulan bahkan

beberapa tahun. C. tetanimerupakan bakteri yang motil karena memiliki flagella, dimana

menurut antigen flagellanya, dibagi menjadi 11 strain dan memproduksi neurotoksin yang

sama. Spora yang diproduksi oleh bakteri ini tahan terhadap banyak agen desinfektan baik

agen fisik maupun agen kimia. Spora C. tetanidapat bertahan dari air mendidih selama

beberapa menit (meski hancur dengan autoclavepada suhu 121°C selama 15-20 menit). Jika

bakteri ini menginfeksi luka seseorang atau bersamaan dengan benda lain, bakteri ini akan

memasuki tubuh penderita tersebut, lalu mengeluarkan toksin yang bernama tetanospasmin.
Gambar 1. Clostridium tetani, dengan bentukan khas “drumstick” pada bagian bakteri yang

berbentuk bulat tersebut spora dari Clostridium tetanidibentuk. (dengan pembesaran

mikroskop 3000x).

Spora atau bakteri masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka. Ketika menempati tempat

yang cocok (anaerob) bakteri akan berkembang dan melepaskan toksin tetanus. Dengan

konsentrasi sangat rendah, toksin ini dapat mengakibatkan penyakit tetanus (dosis letal

minimum adalah 2,5 ng/kg).

3. Patofisiologi Tetanus Generalisata

Clostridium tetani dalam bentuk spora masuk ke tubuh melalui luka yang terkontaminasi

dengan debu, tanah, tinja binatang, pupuk. Cara masuknya spora ini melalui luka yang

terkontaminasi antara lain luka tusuk oleh besi, luka bakar, luka lecet, otitis media, infeksi

gigi, ulkus kulit yang kronis, abortus, tali pusat, kadang–kadang luka tersebut hampir tak

terlihat. Bila keadaan menguntungkan di mana tempat luka tersebut menjadi hipaerob sampai

anaerob disertai terdapatnya jaringan nekrotis, leukosit yang mati, benda–benda asing maka

spora berubah menjadi vegetatif yang kemudian berkembang. Kuman ini tidak invasive, bila

dinding sel kuman lisis maka dilepaskan eksotoksin, yaitu tetanospasmin dan tetanolisin.

Tetanolisin, tidak berhubungan dengan pathogenesis penyakit.

Tetanospasmin, atau secara umum disebut toksin tetanus, adalah neurotoksin yang

mengakibatkan manifestasi dari penyakit tersebut.Tetanospasmin masuk ke susunan saraf

pusat melalui otot dimana terdapat suasana anaerobik yang memungkinkan Clostridium

tetaniuntuk hidup dan memproduksi toksin. Lalu setelah masuk ke susunan saraf perifer,
toksin akan ditransportasikan secara retrogrademenuju saraf presinaptik, dimana toksin

tersebut bekerja.Toksin tersebut akan menghambat pelepasan neurotransmitter inhibisi dan

secara efektif menghambat inhibisi sinyal interneuron. Tetapi khususnya toksin tersebut

menghambat pengeluaran Gamma Amino Butyric Acid (GABA) yang spesifik menginhibisi

neuron motorik. Hal tersebut akan mengakibatkan aktivitas tidak teregulasi dari sistem saraf

motorik.

Tetanospamin juga mempengaruhi sistem saraf simpatis pada kasus yang berat,

sehingga terjadi overaktivitas simpatis berupa hipertensi yang labil, takikardi, keringat yang

berlebihan dan meningkatnya ekskresi katekolamin dalam urin. Hal ini dapat menyebabkan

komplikasi kardiovaskuler. Tetanospamin yang terikat pada jaringan saraf sudah tidak dapat

dinetralisir lagi oleh antitoksin tetanus.

4. Manifestasi Klinis Tetanus Generalisata (Suharto, 2010).

Tetanus generalisata biasanya terjadi mendadak dengan ketegangan otot yang makin

bertambah diawali pada rahang dan leher kemudian meluas keseluruh tubuh. Dalam waktu 48

jam penyakit ini menjadi nyata dengan gejala umum:

1. Trismus (kesukaran membuka mulut) karena spasme otot-otot mastikatoris

2. Kaku kuduk sampai epistotonus karena ketegangan otot-otot erector trunki

3. Ketegangan otot dinding perut

4. Kejang tonik terutama bila dirangsang karena toksin terdapat di kornu anterior

5. Risus sardonikus karena spasme otot muka (alias tertarik ke atas), sudut mulut tertarik

ke luar dan ke bawah, bibir tertekan kuat pada gigi

6. Kesukaran menelan, gelisah, mudah terangsang, nyeri anggota badan (sering

merupakan gejala dini)


7. Spasme yang khas, yaitu badan kaku dengan epistotonus, ekstremitas inferior dala

keadaan ekstensi, lengan kaku dan tangan mengepal kuat. Keadaan tetap sadar,

spasme mula-mula intermitten diselingi periode relaksasi, kemudian tidak jelas lagi

dan serangan tersebut disertai rasa nyeri. Kadang-kadang terjadi perdarahan

intramuscular karena kontraksi yang kuat.

8. Asfiksia dan sianosis terjadi akibat serangan pada otot pernapasan dan laring. Retensi

urine dapat terjadi karena spasme otot uretral. Fraktur kolumna vertebralis dapat pula

terjadi karena kontraksi otot yang sangat kuat.

9. Panas biasanya tidak tinggi dan terdapat pada stadium akhir.

10. Biasanya terdapat leukositosis ringan dan kadang-kadang peninggian tekanan cairan

otak.

5. Pemeriksaan Penunjang Tetanus Generalisata (Simanjutak, 2013)

1. Pemeriksaan Kultur Darah


Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui adanya bakteri gram positif C. tetani

2. Pemeriksaan Darah Lengkap

a. Glukosa darah: hipoglikemia merupakan predisposisi kejang.


b. BUN: peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan merupakan indikasi nepro
toksik akibat dari pemberian obat.
c. Elektrolit (K, Na): ketidakseimbangan elektroit merupakan predisposisi kejang
kalium (normal 3,80-5,00 meq/dl).

2. Skull Ray
Untuk mengidentifikasi adanya proses desak ruang dan adanya lesi.

3. EEG
Teknik untuk menekan aktifitas listrik otak melalui tengkorak yang utuh untuk
mengetahui focus aktifitas kejang, hasil biasanya normal.

6. Penatalaksanaan Tetanus Generalisata (WHO, 2010)

a. Umum
Pasien sebaiknya ditempatkan di ruang perawatan yang sunyi dan dihindarkan dari
stimulasi taktil ataupun auditorik.

b. Imunoterapi
Antitoksin tetanus intramuskuler (IM) dengan dosis human tetanus
immunoglobulin (TIG) 3.000-10.000 U dibagi tiga dosis yang sama, diinjeksikan
di tiga tempat berbeda. Rekomendasi British National Formulary ialah 5.000-
10.000 unit intravena. Bila human TIG tidak tersedia, dapat digunakan ATS
dengan dosis 100.000-200.000 unit, diberikan 50.000 unit intravena dan 50.000
unit IM.9
Antitoksin diberikan untuk menginaktivasi toksin tetanus bebas, sedangkan
toksin yang sudah berada di saraf terminal tidak dapat ditangani dengan
antitoksin. Oleh karena itu, gejala otot dapat tetap berkembang karena toksin
tetanus berjalan melalui akson dan trans-sinaps serta memecah VAMP. Selain itu,
dapat ditambahkan vaksin tetanus toksoid (TT) 0,5 ml. IM. Pasien yang tidak
memiliki riwayat vaksinasi sebaiknya mendapat dosis kedua 1-2 bulan setelah
dosis pertama dan dosis ketiga 6-12 bulan setelahnya.
c. Antibiotik
Beberapa antibiotik pilihan di antaranya metronidazol 500 mg setiap 6 jam
intravena atau per oral, penisilin G 100.000-200.000 IU/kgBB/hari intravena
dibagi 2-4 dosis. Pasien alergi golongan penisilin, dapat diberi tetrasiklin,
makrolid, klindamisin, sefalosporin, atau kloramfenikol.
d. Kontrol Spasme
Otot Golongan benzodiazepin menjadi pilihan utama. Diazepam intravena dengan
dosis mulai dari 5 mg atau lorazepam dengan dosis mulai dari 2 mg dapat dititrasi
hingga tercapai kontrol spasme tanpa sedasi dan hipoventilasi berlebihan.
Magnesium sulfat dapat digunakan tunggal atau kombinasi dengan benzodiazepin
untuk mengontrol spasme dan disfungsi otonom dengan dosis loading 5 mg
intravena diikuti 2-3 gram/jam hingga tercapai kontrol spasme.
e. Kontrol Disfungsi Otonom
Dapat menggunakan magnesium sulfat atau morfin.
f. Kontrol Saluran Napas
Obat yang digunakan untuk mengontrol spasme dan memberikan efek sedasi
dapat menyebabkan depresi saluran napas. Ventilasi mekanik diberikan sesegera
mungkin. Trakeostomi lebih dipilih dibandingkan intubasi endotrakeal yang dapat
memprovokasi spasme dan memperburuk napas.

g. Cairan dan Nutrisi yang Adekuat


Diperlukan cairan serta nutrisi yang adekuat mengingat tetanus meningkatkan
status metabolik dan katabolik.

7. Komplikasi Tetanus Generalisata (Rahmanto, 2017)

Komplikasi yang berbahaya dari tetanus adalah hambatan pada jalan napas sehingga

pada tetanus yang berat , terkadang memerlukan bantuan ventilator.Sekitar kurang lebih 78%

kematian tetanus disebabkan karena komplikasinya. Kejang yang berlangsung terus menerus

dapat mengakibatkan fraktur dari tulang spinal dan tulang panjang, serta rabdomiolisis yang

sering diikuti oleh gagal ginjal akut.

Infeksi nosokomial umum sering terjadi karena rawat inap yang berkepanjangan. Infeksi

sekunder termasuk sepsis dari kateter, pneumonia yang didapat di rumah sakit, dan ulkus

dekubitus. Emboli paru sangat bermasalah pada pengguna narkoba dan pasien usia lanjut.

Aspirasi pneumonia merupakan komplikasi akhir yang umum dari tetanus, ditemukan pada

50% -70% dari kasus diotopsi.

Salah satu komplikasi yang sulit ditangani adalah gangguan otonom karena pelepasan

katekolamin yang tidak terkontrol. Gangguan otonom ini meliputi hipertensi dan takikardi

yang kadang berubah menjadi hipotensi dan bradikardi.Walaupun demikian, pemberian

magnesium sulfat saat gejala tersebut sangat bisa diandalkan.Magnesium sulfat dapat

mengontrol gejala spasme otot dan disfungsi otonom.


8. WOC Tetanus Generalisata
9. Asuhan Keperawatan Tetanus Generalisata

1) Pengkajian

a. Identitas

Nama, Umur, Jenis kelamin, Alamat, Pendidikan, Pekerjaan, Tanggal MRS,

Nomer Rekam medis.

b. Keluhan Utama

Klien mengeluh mengalami kekauan pada daerah rahang dan leher. Semakin lama

meluas ke seluruh tubuh.

c. Riwayat Penyakit Sekarang

Pada umumnya terdapat luka sebagai pintu masuk bakteri C. Tetani yang

terkontaminasi dengan debu, tanah, tinja binatang, pupuk antara lain luka tusuk

oleh besi, luka bakar, luka lecet, otitis media, infeksi gigi.

d. Riwayat Penyakit Dahulu

Tanyakan pada klien apakah mempunyai penyakit penyerta seperti diabetes

mellitus, hipertensi, keganasan, atau penyakit infeksi.

e. Riwayat Penyakit Keluarga

Tanyakan pada keluarga apakah pernah mempunyai penyakit tetanus sebelumnya

atau penyakit kronis seperti diabetes mellitus dan hipertensi.

2) Pemeriksaan Fisik

1) B1 (Breathing)
Inspeksi: apakah klien batuk, produksi sputum, sesak nafas,

penggunaan otot bantu nafas dan peningkatan

frekuensi pernafasan.

Palpasi : taktil premitus seimbang kanan dan kiri

Auskultasi : bunyi nafas tambahan seperti ronchi karena

peningkatan produksi secret.

2) B2 (Blood)

Pengkajian pada system kardiovaskuler didapatkan syok

hipovolemik. Tekanan darah normal, peningkatan heart rate,

adanya anemis karena hancurnya eritrosit.

3) B3 (Brain)

a) Tingkat kesadaran

Composmentis, pada keadaan lanjut mengalami

penurunan menjadi letargi, stupor dan semikomatosa.

b) Fungsi serebri

Mengalami perubahan pada gaya bicara, ekspresi wajah dan

aktivitas motorik.

c) Pemeriksaan saraf cranial

(1) Saraf I : tidak ada kelainan, fungsi

penciuman normal.

(2) Saraf II : ketajaman penglihatan normal

(3) Saraf III, IV, dan VI : dengan alasan yang tidak

diketahui, klien mengalami fotofobia

atau sensitive berlebih

pada cahaya.
(4) Saraf V : reflek masester meningkat. Mulut

mecucu

seperti mulut ikan (gejala khas

tetanus

(5) Saraf VII : pengecapan normal, wajah simetris

(6) Saraf VIII : tidak ditemukan tuli konduktif

dan persepsi.

(7) Saraf IX dan X : kemampuan menelan kurang

baik, kesukaran membuka mulut

(trismus)

(8) Saraf XI : didapatkan kaku kuduk. Ketegangan

otot

rahang dan leher (mendadak)

(9) Saraf XII : lidah simetris, indra pengecap

normal

(a) System motorik

Kekuatan otot menurun, kontrol keseimbangan dan

koordinasi mengalami perubahan.

(b) Pemeriksaan reflex

Refleks dalam, pengetukan pada tendon, ligamentum,

atau periosteum derajat reflex pada respon normal.

(c) Gerakan involunter

Tidak ditemukan tremor, Tic, dan distonia. Namun

dalam keadaan tertentu terjadi kejang umum, yang


berhubungan sekunder akibat area fokal kortikal yang

peka.

4) B4 (Bladder)

Penurunan volume haluaran urine berhubungan dengan

penurunan perfusi dan penurunan curah jantung ke ginjal.

5) B5 (Bowel)

Mual muntah karena peningkatan asam lambung, nutrisi

kurang karena anoreksia dan adanya kejang (kaku dinding

perut / perut papan). Sulit BAB karena spasme otot.

6) B6 (Bone)

Gangguan mobilitas dan aktivitas sehari-hari karena adanya

kejang umum.

3) Diagnosis Keperawatan

1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif b.d hipersekresi jalan napas d.d

Batuk tidak efektif atau tidak mampu batuk (D. 0001)

2. Gangguan Mobilitas Fisik b.d gangguan neuromuscular d.d

mengeluh sulit menggerakan ekstremitas (D. 0054)

3. Resiko infeksi d.d timbulnya inflamasi ( D. 0142)

4) Intervensi Keperawatan

Diagnosa : Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif b.d hipersekresi jalan


napas d.d Batuk tidak efektif atau tidak mampu batuk (D. 0001)
No Kriteria Hasil Intervensi
.
1. Setelah dilakukan intervensi Manajemen Jalan Napas (I. 01011)
keperawatan selama 3x24 a. Observasi
jam, diharapkan bersihan - Monitor pola napas (frekuensi,
jalan napas membaik, kedalaman, usaha napas)
dengan kriteria hasil : - Monitor bunyi napas tambahan
1. Bersihan Jalan Napas (L. (gurgling, wheezing)
01001) - Monitor sputus (jumlah, warna,
a. Batuk efektif aroma)
meningkat (5) b. Terapeutik
b. Produksi sputum - Pertahankan kepatenan jalan
menurun (5) napas dengan Head-tilt dan Chin-lift
c. Sulit bicara - Berikan posisi semi fowler
membaik (5) - Berikan minuman hangat
d. Gelisah membaik (5) - Lakukan fisioteri dada
e. Pola napas membaik - Berikan oksigen, jika perlu
16-20x/menit (5) c. Edukasi
- Anjurkan tingkatkan asupan cairan
2000ml/hari, jika tidak ada
kontraindikasi
- ajarkan teknik batuk efektif
d. Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian
bronkodilator, ekspektoran,
mukolitik

Diagnosa : Gangguan Mobilitas Fisik b.d gangguan neuromuscular d.d


mengeluh sulit menggerakan ekstremitas (D. 0054)
No Kriteria Hasil Intervensi
.
2. Setelah dilakukan intervensi Dukungan Mobilisasi (I. 05173)
keperawatan selama 3x24 a. Observasi
jam, diharapkan mobiltas - Identifikasi adanya nyeri atau
fisik menignkat, dengan keluhan fisik lainnya
kriteria hasil : - Identifikasi toleransi fisik
1. Mobilitas Fisik (L. 05042) melakukan pergerakan
a. Pergerakan ekstremitas - Monitor kondisi umum sebelum
meningkat (5) melakukan mobilisasi
b. Kekuatan otot b. Terapeutik
meningkat (5) - Fasilitasi aktivitas mobilisasi
c. Rentang gerak (ROM) dengan alat bantu (pagar tempat
meningkat (5) tidur)
- Fasilitasi melakukan pergerakan
- Libatkan keluarga untuk
membantu pasien dalam
meningkatkan pergerakan
c. Edukasi
- Jelaskan tujuan dilakukan
mobilisasi
- Anjurkan melakukan mobilisasi
dini
- Ajarkan mobilisasi sederhana
seperti duduk ditempat tidur, duduk
di sisi tempat tidur, pindah dari
tempat tidur ke kursi.

Diagnosa : Resiko infeksi d.d timbulnya inflamasi ( D. 0142)


No Kriteria Hasil Intervensi
.
3. Setelah dilakukan intervensi Pencegahan Infeksi (I. 14934)
keperawatan selama 3x24 a. Observasi
jam, diharapkan tingkat - Monitor suhu tubuh
infeksi menurun, dengan - Monitor tanda dan gejala infeksi
kriteria hasil : local atau sistemik
1. Tingkat Infeksi (L. 14137) b. Terapeutik
a. Tidak ada demam - Cuci tangan sebelum dan sesudah
(<37,5 derajat celcius) tindakan ke klien
(5) - Pertahankan teknik aseptic dalam
b. Tidak ada kemerahan perawatan luka
(5) c. Edukasi
c. Nyeri menurun (5) - Anjurkan meningkatkan asupan
d. Nafsu makan nutrisi
meningkat (5) - Ajarkan cuci tangan secara benar
- Jelaskan tanda dan gejala infeksi
d. Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian antibiotik
Daftar Pustaka

Ataro P, Mushatt D, Ahsan S. Tetanus: a review. South Med. J 2011;104: 613-617

P. Simanjutak. Management Of Pediatric Tetanus Infection. Lampung. Medical Student of

Lampung University : Medula, Volume 1, Nomor 4, Oktober 2013

Rahmanto, Danawan and Farhanah, Nur (2017) Faktor-Faktor Risiko Yang Berpengaruh

Pada Kematian Pasien Tetanus Di Rsup Dr. Kariadi Semarang. Undergraduate thesis,

Faculty of Medicine.

Suharto. 2010. Pengaruh Pemberian Prednisolon Dosis Rendah Terhadap Perbaikan Klinis

Penderita Tetanus Dibagian Penyakit Dalam Rs.Rd.Moewardi Surakarta. Surakarta. Tesis :

Program Pendidikan Spesialis FK UNS.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta. PPNI

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta. PPNI

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta. PPNI

WHO. Current recommendations for treatment of tetanus during humanitarian emergencies.

WHO Tech Note [Internet]. 2010. Available from: http:

//www.who.int/diseasecontrol_emergencies/who_hse_gar_dce_2010_en.pdf