Anda di halaman 1dari 76

LAPORAN TUGAS KELOMPOK

RESIKO PERILAKU KEKERASAN DAN PERILAKU KEKERASAN


Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa 2
Dosen Pengampu : Dr. Heni Dwi Windarwati, M.Kep, Sp.Kep. Jiwa

Disusun Oleh :
Kelompok 1A
Carlos Ratu Pe (195070209111001)
Ravika Purwanti (195070209111009)
Ahmad Umar Mukhtar (195070209111017)
Alvin Fitri Hendika (195070209111025)
Muhammad Irbat Malan (195070209111033)
Susana Handayani (195070209111041)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat, perlindungan, dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan laporan kasus
dengan judul Resiko Perilaku Kekerasan dan Perilaku Kekerasan guna memenuhi
tugas mata kuliah Keperawatan Jiwa II / Fakultas Kedokteran Universitas
Brawijaya. Penulisan laporan kasus ini tidak lepas dari bantuan, dukungan, dan
bimbingan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis menyampaikan
terimakasih kepada :
1. Dr. Heni Dwi Windarwati, M. Kep, Sp. Kep. Jiwa selaku dosen pengampu
Keperawatan Jiwa II dan pembimbing dalam penulisan laporan kasus ini.
2. Ns. Tony Suharsono, S.Kep., M.Kep. selaku ketua program studi Ilmu
keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
3. Seluruh staf program studi Ilmu keperawatan Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya
4. Teman – teman SAP Ilmu keperawatan periode 2019, serta seluruh pihak
yang telah mendukung penyelesaian laporan kasus ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan laporan kasus ini jauh dari sempurna
maka penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga laporan
kasus ini memberi manfaat bagi banyak orang.

Malang, 31 Januari 2020

Tim penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan............................................................................ 2

BAB II TINJAUAN TEORI


2.1 Konsep PK dan RPK................................................................... 3
2.2 Tanda dan Gejala......................................................................... 3
2.3 Pathway......................................................................................... 4

BAB III STUDI KASUS


3.1 Kasus......................................................................................... 14
3.2 Pengkajian Keperawatan Kesehatan Jiwa................................. 15
3.3 Rencana Tindakan Keperawatan............................................... 27
3.4 Implementasi dan Evaluasi....................................................... 34
3.5 Rencana Terapi Aktivitas Kelompok........................................ 38
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan.................................................................................. 58
4.2 Saran............................................................................................ 58
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gangguan jiwa adalah suatu penyakit yang bisa terjadi pada semua
orang tanpa mengenal ras, udaya, anak-anak, dewasa miskin maupun kaya.
Gangguan jiwa merupakan salah satu gangguan mental yang disebabkan oleh
beragam faktor yang berasal dari dalam maupun luar. Gangguan mental ini
dapat dikenali dengan perubahan pola pikir, tingkah laku dan emosi yang
berubah secara mendadak tanpa disertai alasan yang jelas. Sering terjadi pada
alasan masuk keluarga mengatakan klien mengamuk, marah-marah, merusak,
mengancam bahkan melukai orang lain. Hal tersebut merupakan tanda-tanda
klien dengan perilaku kekerasan.
Perilaku kekerasan merupakan bagian dari rentang respon marah yang
paling maladaptif yaitu amuk. Marah merupakan perasaan jengkel yang
timbul sebagai respons terhadap kecemasan (kebutuhan yang tidak terpenuhi)
yang dirasakan sebagai ancaman (Stuart dan Sundeen, 1991).
Menurut rekam medis RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang tahun
2015, prevalensi penderita gangguan jiwa dengan perilaku kekerasan pada
bulan Januari sampai Juli 2016 sebanyak 128 orang. Masalah yang sering
muncul pada klien gangguan jiwa khususnya dengan kasus perilaku kekerasan
salah satunya adalah tindakan marah. Tindakan yang dilakukan perawat
dalam menurangi resiko perilaku kekerasan salah satunya adalah dengan
menggunakan Strategi Pelaksanaan (SP).
Hal tersebut memerlukan penanganan secara spesifik untuk
mengarahkan klien dalam mengelola rasa marah yang maladaptive menjadi
adaptive dan konstruktif. Perawat juga harus jeli dalam melakukan pengkajian
untuk menggali penyebab perilaku kekerasan maupun resiko perilaku
kekerasan agar tidak berlanjut menjadai perilaku kekerasan.

1
1.2 Tujuan
1. Tujuan umum
Mendapatkan gambaran dan mengambil keputusan untuk menerapkan
asuhan keperawatan pada klien dengan resiko perilaku kekerasan dan
perilaku kekerasan
2. Tujuan khusus
a. Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan dengan resiko
perilaku kekerasan dan perilaku kekerasan
b. Mampu merumuskan dan menegakkan diagnosa keperawatan pada
klien dengan resiko perilaku kekerasan dan perilaku kekerasan
c. Mampu menyusun rencana tindakan keperawatan pada klien dengan
resiko perilaku kekerasan dan perilaku kekerasan
d. Mampu melakukan implementasi pada klien dengan resiko perilaku
kekerasan dan perilaku kekerasan
e. Mampu membuat evaluasi pada klien dengan resiko perilaku
kekerasan dan perilaku kekerasan

1.3 Manfaat
a. Manfaat Praktis
Keluarga diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan atau pemahaman
serta dapat meningkatkan upaya penanganan klien dengan resiko perilaku
kekerasan dan perilaku kekerasan.
b. Manfaat akademisi
Bagi Mahasiswa diharapkan dapat menambah pengetahuan dan dapat
menerapkan Asuhan Keperawatan pada klien dengan resiko perilaku
kekerasan dan perilaku kekerasan.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep PK dan RPK


Perilaku kekerasan adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk
melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya
tingkah laku tersebut. Resiko perilaku kekerasan ini dapat berupa muka
masam, bicara kasar, menuntut dan perilaku yang kasar disertai kekerasan.

Resiko perilaku kekerasan adalah keadaan dimana seseorang pernah


atau mempunyai riwayat melakukan tindakan yang dapat mem-bahayakan
diri sendiri atau orang lain atau lingkungan baik secara fisik atau emosional
atau seksual dan verbal.

2.2 Tanda dan Gejala

a. Emosi

- Tidak adekuat

- Tidak aman
- Rasa terganggu
- Marah (dendam)
- Jengkel
b. Intelektual
- Mendominasi
- Bawel
- Sarkasme
- Berdebat
- Meremehkan
c. Fisik
- Muka merah
- Pandangan tajam
- Napas pendek
- Keringat

3
- Sakit Fisik
- Penyalahgunaan zat
- Tekanan darah meningkat
d. Spiritual
- Kemahakuasaan
- Kebijakan/ kebenaran diri
- Keraguan
- Tidak bermoral
- Kebejatan
- Kreatifitas terlambat
e. Sosial
- Menarik diri
- Pengasingan
- Penolakan
- Kekerasan
- Ejekan
- Humor

2.3 Pathway

a. Proses Terjadinya Marah

Ancaman atau kebutuhan

Stres

Cemas

Marah

Merasa Kuat Mengungkapkan secara vertikal Merasa tidak adekuat

Menantang Menjaga Keutuhan Menantang orang lain

4
Masalah tidak selesai Lega Mengingkari marah

Marah berkepanjangan Ketegangan menurun Marah tidak terungkap

Rasa marah teratasi

Muncul rasa bermusuhan

Rasa bermusuhan menahun

Marah pada diri sendiri Marah pada orang lain/lingkungan

Depresi psikosomatik Agresive/ Mengamuk


b. Proses Terjadinya Amuk
Amuk merupakan respon kemarahan yang paling maladaptif yang
ditandai dengan perasaan marah dan bermusuhan yang kuat disertai
hilangnya kontrol, yang individu dapat merusak diri sendiri, orang lain,
atau lingkungan. Amuk adalah respon marah terhadap adanya stres, rasa
cemas, harga diri rendah, rasa bersalah, putus asa, dan ketidakberdayaan.

Respon marah dapat diekspresikan secara internal atau eksternal.


Secara internal dapat berupa perilaku yang tidak asertif dan merusak diri,
sedangkan secara eksternal dapat berupa perilaku destruktif agresif.
Respon marah dapat diungkapkan melalui tiga cara yaitu (1)
Mengungkapkan secara verbal, (2) Menekan, dan (3) Menantang.

Mengekspresikan rasa marah dengan perilaku konstruktif dengan


menggunakan kata-kata yang dapat dimengerti dan diterima tanpa
menyakiti orang lain akan memberikan kelegaan pada individu. Apabila
perasaan marah diekspresikan dengan perilaku agresif dan menentang,
biasanya dilakukan karena ia merasa kuat. Cara ini menimbulkan masalah
yang berkepanjangan dan dapat menimbulkan tingkah laku yang destruktif
dan amuk.
5
1. Pengkajian Keperawatan
a. Faktor Predisposisi
- Psikoanalisis
Teori ini menyatakan bahwa perilaku agresif adalah merupakan
hasil dari dorongan insting (Instinctual drives)
- Psikologis
Berdasarkan teori frustasi/ agresif, agresifitas timbul sebagai hasil
dari peningkatan frustasi. Tujuan yang tidak tercapai dapat
menyebabkan frustasi berkepanjangan
- Biologis
Bagian-bagian otak yang berhubungan dengan terjadinya
agresifitas sebagai berikut.
 Sistem limbik
Merupakan organ yang mengatur dorongan dasar dan ekspresi
emosi serta perilaku seperti makan, agresif, dan respon
seksual. Selain itu, mengatur sistem informasi dan memori.
 Lobus temporal
Organ yang berfungsi sebagai penyimpan memori dan
melakukan interpretasi pendengaran
 Lobus frontal
Organ yang berfungsi sebagai bagian pemikiran yang logis,
serta pengelolaan emosi dan alasan berpikir.
 Neurotransmiter
Beberapa neurotransmiter yang berdampak pada agresifitas
adalah serotonin (5-HT), dopamin, norepinefrin, acetylcholine,
dan GABA
- Perilaku (behavioral)
 Kerusakan organ otak, retardasi mental, dan gangguan belajar
mengakibatkan kegagalan kemampuan dalam berespon positif
terhadap frustasi
 Penekanan emosi berlebihan (over rejection) pada anak-anak
atau godaan (seduction) orang tua mempengaruhi kepercayaan
(trust) dan percaya diri (self esteem) individu
 Perilaku kekerasan diusia muda, baik korban kekerasan pada
anak (child abuse) atau mengobservasi kekerasan dalam

6
keluarga mempengaruhi penggunaan kekerasan sebagai koping
Teori belajar sosial mengatakan bahwa perilaku kekerasan
adalah hasil belajar dari proses sosialisasi dari internal dan
eksternal, yakni sebagai berikut.
 Internal: Penguatan yang diterima ketika melakukan kekerasan
 Eksternal: Observasi panutan (Role model), seperti orang tua,
kelompok, saudara, figur olahragawan atau artis, serta media
elektronik (berita kekerasan, perang, olahraga keras)
- Sosial kultural
 Norma
Norma merupakan kontrol masyarakat pada kekerasan. Hal ini
mendefinisikan ekspresi perilaku kekerasan yang ditermia atau
tidak diterima akan menimbulkan sanksi. Kadang kontrol
sosial yang sangat ketat (strict) dapat menghambat ekspresi
marah yang sehat dan menyebabkan individu memilih cara
yang maladaptif lainnya.
 Budaya asertuf dimasyarakat membantu individu untuk
berespon terhadap marah yang sehat
 Faktor sosial yang dapat menyebabkan timbulnya agresifitas
atau perilaku kekerasan yang maladaptif antaralain sebagai
berikut.
 Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan hidup
 Status dalam perkawinan
 Hasil dari orang tua tunggal (single parent)
 Pengangguran
 Ketidakmampuan mempertahankan hubungan interpersonal
dan struktur keluarga dalam sosial kultural.
b. Faktor Presipitasi
Semua faktor ancaman antara lain sebagai berikut.
- Internal
 Kelemahan
 Rasa percaya menurun
 Takut sakit
 Hilang kontrol

7
- Eksternal
 Penganiayaan fisik
 Kehilangan orang yang dicintai
 Kritik

2. Diagnosis
a. Pohon masalah
Resiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan

Perilaku kekerasan

Gangguan konsep diri: harga diri rendah

b. Diagnosis Keperawatan
- Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
berhubungan dengan perilaku kekerasan
- Perilaku kekerasan berhubungan dengan harga diri rendah

3. Rencana Intervensi
a. Resiko perilaku kekerasan
- Tindakan keperawatan untuk pasien
 Tujuan
a) Pasien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
b) Pasien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku
kekerasan
c) Pasien dapat menyebutkan jenis perilaku kekerasan yang
pernah dilakukannya
d) Pasien dapat menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan
yang dilakukannya
e) Pasien dapat menyebutkan cara mencegah/ mengontrol
perilaku kekerasannya
f) Pasien dapat mencegah/ mengontrol perilaku kekerasannya
secara fisik, spiritual, sosial, dan dengan terapi
psikofarmako.
8
 Tindakan
a) Bina hubungan saling percaya
1) Mengucapkan salam terapeutik
2) Berjabat tangan
3) Menjelaskan tujuan interaksi
4) Membuat kontrak topik, waktu, dan tempat setiap kali
bertemu pasien
b) Diskusikan bersama pasien penyebab perilaku kekerasan
saat ini dan masa lalu
c) Diskusikan perasaan pasien jika terjadi penyebab perilaku
kekerasan
1) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara
fisik
2) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara
psikologis
3) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara
sosial
4) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara
spiritual
5) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara
intelektual
d) Diskusikan bersama pasien perilaku kekerasan yang biasa
dilakukan pada saat marah secara:
1) Verbal
2) Terhadap orang lain
3) Terhadap diri sendiri
4) Terhadap lingkungan
e) Diskusikan bersama pasien akibat perilakunya
f) Diskusikan bersama pasien cara mengontrol perilaku
kekerasan secara:
1) Fisik, misalnya pukul kasur dan bantal, tarik napas
dalam
2) Obat
3) Sosial/ verbal, misalnya menyatakan secara asertif rasa
marahnya
9
4) Spiritual, misalnya sholat atau berdoa sesuai keyakinan
pasien
g) Latih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara fisik,
yaitu latihan napas dalam dan pukul kasur/ bantal, secara
sosial./ verbal, secara spiritual, dan patuh minum obat
h) Ikut sertakan pasien dalam terapi aktifitas kelompok
stimulasi persepsi mengontrol perilaku kekerasan
- Tindakan keperawatan untuk keluarga
 Tujuan
Keluarga dapat merawat pasien dirumah
 Tindakan
a) Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat
pasien
b) Diskusikan bersama keluarga tentang perilaku kekerasan
(penyebab, tanda dan gejala, serta perilaku yang muncul
dan akibat dari perilaku tersebut)
c) Diskusikan bersama keluarga kondisi-kondisi pasien yang
perlu segera dilaporkan kepada perawat, seperti melempar
atau memukul benda/ orang lain
d) Latih keluarga merawat pasien dengan perilaku kekerasan
1) Anjurkan keluarga untuk memotivasi pasien melakukan
tindakan yang telah diajarkan oleh perawat
2) Ajarkan keluarga untuk memberikan pujian kepada
pasien bila pasien dapat melakukan kegiatan tersebut
secara tepat
3) Diskusikan berasama keluarga tindakan yang harus
dilakukan bila pasien menunjukan gejala-gejala perilaku
kekerasan
e) Buat perencanaan pulang bersama keluarga
Strategi Penahanan
Strategi preventif Strategi antisipasi Strategi penahanan

- Kesadaran diri - Komunikasi - Manajemen krisis


- Pendidikan pasien - Perubahan lingkungan - Pengasingan
- Latihan asertif - Perilaku - Pengendalian/
- psikofarmakologi pengekangan
-

10
- Manajemen krisis
 Identifikasi pemimpin tim krisis
 Susun atau kumpulkan tim krisis
 Beritahu petugas keamanan yang diperlukan
 Pindahkan semua pasien dari area tersebut
 Siapkan atau dapatkan alat pengekang (restrain)
 Susun strategi dan beritahu anggota lain
 Tugas penanganan pasien secara fisik
 Jelaskan semua tindakan pada pasien “Kami harus mengontrol
Tono, karena perilaku Tono berbahaya pada Tono dan orang
lain. Jika Tono sudah dapat mengontrol perilakunya, kami
akan lepaskan”.
 Ikat/ kekang pasien sesuai instruksi pemimpin (posisi yang
nyaman)
 Berikan obat psikofarmaka sesuai instruksi
 Jaga tetap kalem dan konsisten
 Evaluasi tindakan dengan tim
 Jelaskan kejadian pada pasien lain dan staf seperlunya
 Secara bertahap integrasikan pasien pada lingkungan
- Pengasingan

Pengasingan dilakukan untuk memisahkan pasien dari orang lain


ditempat yang aman dan cocok untuk tindakan keperawatan.
Tujuannya adalah melindungi pasien, orang lain dan staf dari
bahaya. Hal ini legal dilakukan secara terapeutik dan etis. Prinsip
pengasingan antara lain sebagai berikut.
 Pembatasan gerak
a) Aman dari mencederai diri
b) Lingkungan aman dari perilaku pasien
 Isolasi

11
a) Pasien butuh untuk jauh dari orang lain, contohnya
paranoid
b) Area terbatas untuk adaptasi, ditingkatkan secara bertahap
 Pembatasan input sensoris

Ruangan yang sepi akan mengurangi stimulus


- Pengekangan

Tujuan dari pengekangan adalah mengurangi gerakan fisik pasien,


serta melindungi pasien dan orang lain dari cedera. Indikasi antara
lain sebagai berikut.
 Ketidakmampuan mengontrol perilaku
 Perilaku tidak dapat dikontrol oleh obat atau teknik psikososial
 Hiperaktif dan agitasi

Prosedur pelaksanaan pengekangan adalah sebagai berikut.


 Jelaskan pada pasien alasan pengekangan
 Lakukan dengan hati-hati dan tidak melukai
 Ada perawat yang ditugaskan untuk mengontrol tanda vital,
sirkulasi, dan membuka ikatan untuk latihan gerak
 Penuhi kebutuhan fisi, yaitu makan, minum, eliminasi, dan
perawatan diri

4. Evaluasi
- Pada Pasien
 Pasien mampu menyebutkan penyebab, tanda dan gejala perilaku
kekerasan, perilaku kekerasan yang biasa dilakukan, serta akibat
dari perilaku kekerasan yang dilakukan.
 Pasien mampu menggunakan cara mengontrol perilaku kekerasan
secara teratur sesuai jadwal, yang meliputi:
a) Secara fisik
b) Secara sosial

12
c) Secara spiritual
d) Terapi psikofarmaka
- Pada Keluarga
 Keluarga mampu mencegah terjadinya perilaku kekerasan
 Keluarga mampu menunjukkan sikap yang mendukung dan
menghargai pasien
 Keluarga mampu memotivasi pasien dalam melakukan cara
mengontrol perilaku kekerasan
 Keluarga mampu mengidentifikasi perilaku pasien yang harus
dilaporkan pada perawat

13
BAB III
STUDI KASUS

3.1 Kasus
Klien Tn. R, umur 27 tahun, suku Jawa, anak ke 2 dari 3 bersaudara.
Tinggal bersama pamannya di Jl.Jakarta Kota Malang. Tanggal 30 januari
2020 Klien masuk Rumah Sakit Jiwa dengan keluhan utama mengamuk,
sering marah dan memukul orang. sebelumnya klien pernah dirawat di RSJ
yang sama pada tahun 2016 dengan keluhan yang sama karena saat di rumah
klien tidak teratur minum obat. Sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit,
klien sering marah bila keinginannya tidak terpenuhi. Keadaan ini semakin
memburuk hingga akhirnya sehari sebelum masuk rumah sakit, klien
mengamuk dan memukul tantenya karena keinginannya untuk dibelikan
sepeda motor tidak dipenuhi. Klien mempunyai riwayat menggunakan
NAPZA (shabu-shabu) pada tahun 2010-2011. klien juga mempunyai
pengalaman yang tidak menyenangkan seperti sering dipukuli pamannya dan
orang tuanya bercerai pada saat klien berusia 9 tahun kemudian adiknya
meninggal dunia. Pada saat dilakukan pengkajian, klien tampak tegang,
gelisah, rahang terkatup, tangan mengepal dan tatapan mata tajam. Berbicara
dengan keras dan cepat, saat interaksi klien mengatakan suka memukul orang
di rumah, mengatakan dirinya seorang jagoan, merasa tidak diperhatikan
karena jarang dijenguk oleh keluarganya, dan sejak orang tuanya bercerai
klien kurang mendapat perhatian oleh keluarga.

14
JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

PENGKAJIAN KEPERAWATAN
KESEHATAN JIWA

Ruang Rawat : 23 Empati Tanggal Dirawat / Jam : 30 januari 2020

I. IDENTITAS KLIEN
Inisial : Tn.R (L/P) Tanggal Pengkajian /jam: 14.00 WIB
Umur : 27 Tahun RM No: 1896xx
Alamat : Jl. Jakarta Kota Malang
Pekerjaan :-
Informan : klien

II. ALASAN MASUK


keluhan utama mengamuk, sering marah dan memukul orang

III. FAKTOR PRESIPITASI/ RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


klien mengamuk dan memukul tantenya karena keinginannya untuk dibelikan sepeda
motor tidak dipenuhi

IV. FAKTOR PREDISPOSISI


 RIWAYAT PENYAKIT LALU
1. Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu? √ ya tidak
Bila ya jelaskan : klien pernah dirawat di RSJ yang sama pada tahun 2016 dengan
keluhan yang sama karena saat di rumah klien tidak teratur minum obat
2. Pengobatan sebelumnya Berhasil Kurang Berhasil √ Tidak
Berhasil
3. Pernah mengalami penyakit fisik (termasuk gangguan tumbuh kembang)
ya √ tidak
Bila ya
Jelaskan__________________________________________________________

15
 RIWAYAT PSIKOSOSIAL
Pelaku/ usia Korban/ usia Saksi/ usia
1. Aniaya fisik Paman/ 47 Tn. R/ 24
2. Aniaya seksual
3. Penolakan
4. Kekerasan dalam keluarga Tn. R/ 27 Tante/ 47 Paman/ 50
5. Tindakan kriminal Tn. R/ 17
Jelaskan : Klien mempunyai riwayat menggunakan NAPZA (shabu-shabu) pada
tahun 2010-2011. klien pernah masuk RSJ sebelumnya karena perilaku kekerasan
ditahun 2016, dan terakhir marah-marah dan memukul tantenya karena tidak
dipenuhi keinginannya, dan sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit, klien
sering marah bila keinginannya tidak terpenuhi. Keadaan ini semakin memburuk
hingga akhirnya sehari sebelum masuk rumah sakit, klien mengamuk dan memukul
tantenya karena keinginannya untuk dibelikan sepeda motor tidak dipenuhi.
6. Pengalaman masa lalu lain yang tidak menyenangkan (bio, psiko, sosio,
kultural, spiritual):
Klien mempunyai riwayat menggunakan NAPZA (shabu-shabu) pada tahun
2010-2011. klien juga mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan
seperti sering dipukuli pamannya dan orang tuanya bercerai pada saat klien
berusia 9 tahun kemudian adiknya meninggal dunia.
Diagnosa Keperawatan: Perilaku kekerasan
7. Kesan Kepribadian klien: extrovert √ introvert lain-lain:________

 RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA

1. Adakah anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa?


ya √ tidak
Hubungan keluarga Gejala Riwayat Pengobatan/ perawatan
_______________ _____________ _____________________
_______________ _____________ _____________________
Diagnosa Keperawatan:

V. STATUS MENTAL
1. Penampilan
√ tidak rapi penggunaan pakaian Cara berpakaian tidak seperti
16
tidak sesuai biasanya
Jelaskan : klien terlihat berpakaian tidak rapi, kancing bajunya tidak dipasang
Diagnosa Keperawatan: defisit perawatan diri

2. Kesadaran
 Kwantitatif/ penurunan kesadaran]
√ compos mentis apatis/ sedasi somnolensia
sopor subkoma koma

 Kwalitatif
tidak berubah berubah
√ meninggi gangguan tidur:
sebutkan______________________________
hipnosa disosiasi:
sebutkan____________________________________

3. Disorientasi
waktu tempat orang
Jelaskan :
Relasi : klien dengan keluarga terdapat masalah
Orientasi : klien masih bisa berorientasi, tentang waktu, tempat dan orang
Limitasi : klien tidak membatasi diri
Diagnosa Keperawatan : tidak ada masalah dalam disorientasi

4. Aktivitas Motorik/ Psikomotor


Kelambatan:
hipokinesia, hipoaktivitas sub stupor katatonik
katalepsi flexibilitas serea

Peningkatan:
hiperkinesia, hiperaktivitas √ gaduh gelisah katatonik
TIK grimase tremor
gagap
stereotipi mannarism katalepsi
akhopraxia
17
command automatism atomatisma nagativisme
reaksi konversi verbigerasi berjalan kaku/ rigit
kompulsif lain-2 sebutkan

5. Afek/ Emosi
adequat tumpul dangkal/ datar
labil
√ inadequat anhedonia marasa kesepian
eforia
ambivalen apati √ marah
depresif/ sedih cemas: ringan √ sedang
berat panik
Jelaskan : Pada saat dilakukan pengkajian, klien tampak tegang, gelisah, rahang
terkatup, tangan mengepal dan tatapan mata tajam. Berbicara dengan keras dan
cepat
Diagnosa Keperawatan: Perilaku kekerasan

6.Persepsi
halusinasi ilusi depersonalisasi
derealisasi

Macam Halusinasi
pendengaran penglihatan perabaan
pengecapan penghidu/ pembauan lain-lain,
sebutkan............
Jelaskan : klien mengatakan tidak ada masalah dengan panca inderanya, tidak
pernah mendengar suara aneh, atau melihat bayangan aneh
Diagnosa Keperawatan : tidak ada masalah pada persepsi

7. Proses Pikir
Arus Pikir
koheren inkoheren asosiasi longgar
fligt of ideas blocking pengulangan
pembicaraan/ persevarasi
tangansial sirkumstansiality logorea
18
neologisme bicara lambat √ bicara cepat
irelevansi
main kata-kata afasi assosiasi bunyi
lain2 sebutkan..
Jelaskan : saat dilakukan pengkajian pasien berbicara dengan keras dan cepat
Diagnosa Keperawatan: perilaku kekerasan
 Isi Pikir
obsesif ekstasi fantasi
bunuh diri ideas of reference pikiran
magis
alienasi isolaso sosial rendah diri
preokupasi pesimisme fobia
sebutkan.........................
waham: sebutkan jenisnya
agama somatik, hipokondrik kebesaran
curiga
nihilistik sisip pikir siar pikir
kontrol pikir
kejaran dosa
Jelaskan :
Diagnosa Keperawatan : tidak ada masalah pada isi pikir
Bentuk Pikir
realistik nonrealistik
autistik √dereistik

8. Memori
gangguan daya ingat jangka panjang gangguan daya ingat jangka pendek
gangguan daya ingat saat ini amnesia, sebutkan.........................
paramnesia, sebutkan jenisnya........................................................
hipermnesia, sebutkan ...................................................................
Jelaskan :___________________________________________________
Diagnosa Keperawatan: tidak ada masalah pada memori

9. Tingkat Konsentrasi dan Berhitung


mudah beralih √ tidak mampu berkonsentrasi tidak mampu
19
berhitung sederhana
Jelaskan : pasien tidak bisa berkonsentrasi saat ditanya hitungan
Diagnosa Keperawatan: gangguan konsentrasi

10. Kemampuan Penilaian


gangguan ringan √ gangguan bermakna
Jelaskan : klien tidak mampu keputusan walaupun dibantu orang lain
Diagnosa Keperawatan: gangguan penilaian diri

11. Daya Tilik Diri/ Insight


mengingkari penyakit yang diderita √ menyalahkan hal-hal diluar dirinya
Jelaskan : klien suka marah saat keinginannya tidak terpenuhi
Diagnosa Keperawatan: gangguan daya tilik diri

12. Interaksi selama Wawancara


√ bermusuhan tidak kooperatif mudah tersinggung
kontak mata kurang defensif curiga
Jelaskan : saat dilakukan pengkajian klien terlihat tegang, gelisah, rahang
terkatup, tangan mengepal dan tatapan mata tajam. Berbicara dengan keras dan
cepat
Diagnosa Keperawatan: gangguan interaksi

VI. FISIK
1. Keadaan umum
Baik, Compos mentis
2. Tanda vital : TD: 130/80 mmHg N:80x/mnt S:36,5 C P:20x/mnt
3. Ukur : TB:170cm BB:60kg √ turun naik
4. Keluhan fisik: √ tidak ya
jelaskan...............................
5. Pemeriksaan fisik : tidak ada yang abnormal
___________________________________________________________________
___________________________________________________________________
___________________________________________________________________
___________________________________________________________________
___________________________________________________________________

20
___________________________________________________________________
______________________________________________________
Jelaskan :___________________________________________________________
Diagnosa Keperawatan :_______________________________________________

VII. PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL (sebelum dan sesudah sakit)


1. Konsep Diri
a. Citra tubuh : pasien mengatakan menyukai dan mensyukuri tubuhnya
b. Identitas : klien dirumah sebagai keponakan, merasa tidak diperhatikan oleh
keluarganya, dan sejak orang tuanya bercerai klien kurang
mendapat perhatian oleh keluarga
c. Peran : klien mengatakan dirumah terkadang membantu tante dan
pamannya
d. Ideal diri : klien ingin bisa mengontrol dirinya
e. Harga diri : hubungannya dengan lingkungan acuh dan malas bergaul
Diagnosa Keperawatan : harga diri rendah

2. Genogram

27

: Perempuan : pisah

: Laki-laki : stillbirth/ aborsi

21
: cerai : konflik

: meninggal : sangat dekat

: orang tinggal serumah : dekat

: perkawinan : distant/ berjarak

: klien : proyeksi

45
: umur : cut off/ menghindar

3. Hubungan Sosial
a. Hubungan terdekat : klien tinggal dengan paman dan tantenya
b. Peran serta dalam kelompok/ masyarakat: Klien malas berinteraksi dengan
masyarakat
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain: Merasa tidak
diperhatikan oleh orang lain
Diagnosa Keperawatan : harga diri rendah

4. Spiritual dan kultural


a. Nilai dan keyakinan
Klien meyakini adanya Tuhan
b. Konflik nilai/ keyakinan/ budaya
Klien menolak saat diminta bantuan untuk bersih desa
c. Kegiatan ibadah
Klien menolak sholat berjamah di rumah
DiagnosaKeperawatan : tidak ada masalah

VIII. AKTIVITAS SEHARI-HARI (ADL)


1. Makan
√ Bantuan minimal Sebagian
Bantuan total
2. BAB/BAK
√ Bantuan minimal Sebagian
22
Bantuan total
3. Mandi
Bantuan minimal √ Sebagian Bantuan total
4. Berpakaian/berhias
Bantuan minimal √ Sebagian Bantuan total
5. Istirahat dan tidur
Tidur siang lama : ______ s/d ______
Tidur malam lama : 22:00 s/d 07:00
Aktivitas sebelum / sedudah tidur : 08:00 s/d 21:00
6. Penggunaan obat
Bantuan minimal √ Sebagian Bantuan total
7. Pemeliharaan kesehatan
Perawatan Lanjutan Ya √ Tidak
Sistem pendukung Ya √ Tidak
8. Aktivitas di dalam rumah
Mempersiapkan makanan Ya √ Tidak
Menjaga kerapihan rumah Ya √ Tidak
Mencuci pakaian Ya √ Tidak
Pengaturan keuangan Ya √ Tidak
9. Aktivitas di luar rumah
Belanja Ya √ Tidak
Transportasi √ Ya Tidak
Lain-lain Ya √ Tidak
Jelaskan : klien sebelumnya mendapatkan pengobatan namun tidak dilanjutkan,
klien ADLnya mandiri dirumah
Diagnosa Keperawatan : tidak ada masalah gangguan ADL

IX. MEKANISME KOPING


Adatif Maladaptif
Bicara dengan orang lain Minum Alkohol
Mampu menyelesaikan masalah √ Reaksi lambat / berlebih
Teknik relokasi Bekerja berlebihan
Aktivitas konstruktif Menghindar
Olah raga Mencederai diri
Lainnya ...................... √ Lainnya: mengamuk dan
23
menciderai orang lain
Diagnosa Keperawatan : gangguan mekanisme koping

X. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN


Masalah dengan dukungan kelompok, uraikan krang diperhatikan oleh
keluarga, dan ada riwayat dipukuli oleh pamannya
Masalah berhubungan dengan lingkungan, uraikan klien jarang berinteraksi
dengan lingkungannya
Masalah dengan pendidikan, uraikan klien lulusan SMP dan tidak mau
melanjutkan sekolah lagi
Masalah dengan pekerjaan, uraikan klien tidak bekerja dan hanya membantu
pekerjaan rumah saja
Masalah dengan perumahan, uraikan klien jarang berinteraksi dengan tetangga
Masalah dengan ekonomi, uraikan klien mendapatakan uang dari pamannya
Masalah dengan pelayanan kesehatan, uraikan klien pernah berobat di RSJ dan
mendaptkan obat, namun jarang kontrol dan tidak patuh minum obat.
Masalah lainnya, uraikan tidak ada
Diagnosa Keperawatan : ada gangguan masalah psikososial dan lingkungan

XI. KURANG PENGETAHUAN TENTANG


Penyakit jiwa √ Sistem pendukung
Faktor presiptasi Penyakit fisik
√ Koping Obat-obatan
Lainnya _______________________________________________________
Diagnosa Keperawatan : kurang pengetahuan tentang koping

XII. ASPEK MEDIK


Diagnosa medik : skizofenia_________________________________________
Terapi medik :
Chlorpromazine       1 x 100 mg
Haloperidole            2 x 5 mg
 Triheksifenidile        2 x 2 mg

XIII. DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN


24
1. Perilaku kekerasan
2. Harga diri rendah
3. Defisit perawatan diri
4. Gangguan tilik diri
5. Gangguan penilaian diri
6. Gangguan interaksi diri
7. Gangguan konsentrasi
8. Gangguan mekanisme koping
9. Gangguan psikososial dan lingkungan
10. Gangguan kurang pengetahuan

XIV. ANALISA DATA

No DATA MASALAH
1 S: keluarga mengatakan Sejak 2 Perilaku Kekerasan
minggu sebelum masuk rumah
sakit, klien sering marah bila
keinginannya tidak terpenuhi.
Keadaan ini semakin
memburuk hingga akhirnya
sehari sebelum masuk rumah
sakit, klien mengamuk dan
memukul tantenya karena
keinginannya untuk dibelikan
sepeda motor tidak dipenuhi
Klien mengatakan suka
memukul orang di rumah,
mengatakan dirinya seorang
jagoan.
O: klien tampak tegang, gelisah,
rahang terkatup, tangan
mengepal dan tatapan mata
tajam. Berbicara dengan keras
dan cepat
XV. POHON MASALAH
Menciderai diri, orang lain dan lingkungan
25
Perilaku kekerasan

Harga diri rendah

Faktor predisposisi faktor presipitasi

1. tipe kepribadian (riwayat PK) 1. Keinginannya tidak terpenuhi


2. Kontrol sosial (dipukul pamannya)
3. Penyalahgunaan Napza
4. kematian anggota keluarga yang penting
5. putus obat

XVI. DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Perilaku kekerasan b.d menciderai orang lain d.d memukul mahasiswa

DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN


(Berdasarkan prioritas)

Ruang : cucokrowo
Nama Pasien : tn.R
No. Register : 197XXX
No Tanggal Diagnosa Keperawatan Tanggal Ttd
Dx Muncul Teratasi
1 30 Januari 2020 perilaku kekerasan 3 Februati 2020

26
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
KLIEN DENGAN RISIKO PERILAKU KEKERASAN

Nama Klien : Tn.R DX Medis : Skizofrenia


No. RM : …………………… Ruangan : 23 empati
Perencanaan
Tgl No Dx Dx Keperawatan
Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
30 1 Perilaku TUM: Klien dapat
jan Kekerasan mengontrol perilaku 1. Setelah 1X pertemuan klien 1. Bina hubungan saling percaya dengan:

202 kekerasan menunjukkan tanda-tanda  Beri salam setiap berinteraksi.


percaya kepada perawat:  Perkenalkan nama, nama panggilan perawat
0
TUK: o Wajah cerah, tersenyum dan tujuan perawat berinteraksi
1. Klien dapat o Mau berkenalan  Tanyakan dan panggil nama kesukaan klien
membina o Ada kontak mata  Tunjukkan sikap empati, jujur dan menepati
hubungan saling o Bersedia menceritakan janji setiap kali berinteraksi
percaya  Tanyakan perasaan klien dan masalah yang
perasaan
dihadapi klien
 Buat kontrak interaksi yang jelas
 Dengarkan dengan penuh perhatian
ungkapan perasaan klien
2. Klien dapat 2. Setelah 1X pertemuan klien 2. Bantu klien mengungkapkan perasaan marahnya:

27
mengidentifikasi menceritakan penyebab  Motivasi klien untuk menceritakan penyebab
penyebab perilaku perilaku kekerasan yang rasa kesal atau jengkelnya
kekerasan yang dilakukannya:  Dengarkan tanpa menyela atau memberi
dilakukannya o Menceritakan penyebab penilaian setiap ungkapan perasaan klien
perasaan jengkel/kesal
baik dari diri sendiri
maupun lingkungannya

3. Klien dapat 3. Setelah 1 X pertemuan klien 3. Bantu klien mengungkapkan tanda-tanda perilaku
mengidentifikasi menceritakan tanda-tanda saat kekerasan yang dialaminya:
tanda-tanda terjadi perilaku kekerasan  Motivasi klien menceritakan kondisi fisik
perilaku o Tanda fisik : mata merah, (tanda-tanda fisik) saat perilaku kekerasan
kekerasan tangan mengepal, terjadi
ekspresi tegang, dan lain-  Motivasi klien menceritakan kondisi
lain. emosinya (tanda-tanda emosional) saat
o Tanda emosional : terjadi perilaku kekerasan
perasaan marah, jengkel,  Motivasi klien menceritakan kondisi
bicara kasar. hubungan dengan orang lain (tanda-tanda
o Tanda sosial : sosial) saat terjadi perilaku kekerasan
bermusuhan yang
dialami saat terjadi

28
perilaku kekerasan.

4. Klien dapat 4. Setelah 1X pertemuan klien 4. Diskusikan dengan klien perilaku kekerasan yang
mengidentifikasi menjelaskan: dilakukannya selama ini:
jenis perilaku o Jenis-jenis ekspresi  Motivasi klien menceritakan jenis-jenis
kekerasan yang kemarahan yang selama tindak kekerasan yang selama ini pernah
pernah ini telah dilakukannya dilakukannya.
dilakukannya o Perasaannya saat  Motivasi klien menceritakan perasaan klien
melakukan kekerasan setelah tindak kekerasan tersebut terjadi
o Efektivitas cara yang  Diskusikan apakah dengan tindak kekerasan
dipakai dalam yang dilakukannya masalah yang dialami
menyelesaikan masalah teratasi.

5. Klien dapat 5. Setelah 1 X pertemuan klien 5. Diskusikan dengan klien akibat negatif (kerugian)
mengidentifikasi menjelaskan akibat tindak cara yang dilakukan pada:
akibat perilaku kekerasan yang dilakukannya  Diri sendiri
kekerasan o Diri sendiri : luka,  Orang lain/keluarga
dijauhi teman, dll  Lingkungan
o Orang lain/keluarga :
luka, tersinggung,
ketakutan, dll

29
o Lingkungan : barang
atau benda rusak dll

6. Klien dapat 6. Setelah 2 X pertemuan klien : 6. Diskusikan dengan klien:


mengidentifikasi o Menjelaskan cara-cara  Apakah klien mau mempelajari cara baru
cara konstruktif sehat mengungkapkan mengungkapkan marah yang sehat
dalam marah  Jelaskan berbagai alternatif pilihan untuk
mengungkapkan mengungkapkan marah selain perilaku
kemarahan kekerasan yang diketahui klien.
 Jelaskan cara-cara sehat untuk
mengungkapkan marah:
 Cara fisik: nafas dalam, pukul bantal atau
kasur, olah raga.
 Verbal: mengungkapkan bahwa dirinya
sedang kesal kepada orang lain.
 Sosial: latihan asertif dengan orang lain.
 Spiritual: sembahyang/doa, zikir,
meditasi, dsb sesuai keyakinan agamanya
masing-masing

7. Klien dapat 7. Setelah 3 X pertemuan klien 7. 1. Diskusikan cara yang mungkin dipilih dan

30
mendemonstrasik memperagakan cara anjurkan klien memilih cara yang mungkin
an cara mengontrol perilaku untuk mengungkapkan kemarahan.
mengontrol kekerasan: 7.2. Latih klien memperagakan cara yang dipilih:
perilaku o Fisik: tarik nafas dalam,  Peragakan cara melaksanakan cara yang
kekerasan memukul bantal/kasur dipilih.
o Verbal: mengungkapkan  Jelaskan manfaat cara tersebut
perasaan kesal/jengkel  Anjurkan klien menirukan peragaan yang
pada orang lain tanpa sudah dilakukan.
menyakiti  Beri penguatan pada klien, perbaiki cara
o Spiritual: zikir/doa, yang masih belum sempurna

meditasi sesuai 7.3. Anjurkan klien menggunakan cara yang sudah

agamanya dilatih saat marah/jengkel


8. Klien mendapat 8. Setelah 4 X pertemuan 8.1. Diskusikan pentingnya peran serta keluarga
dukungan keluarga: sebagai pendukung klien untuk mengatasi
keluarga untuk o Menjelaskan cara perilaku kekerasan.
mengontrol merawat klien dengan 8.2. Diskusikan potensi keluarga untuk membantu
perilaku perilaku kekerasan klien mengatasi perilaku kekerasan
kekerasan o Mengungkapkan rasa 8.3. Jelaskan pengertian, penyebab, akibat dan cara
puas dalam merawat merawat klien perilaku kekerasan yang dapat
klien dilaksanakan oleh keluarga.
8.4. Peragakan cara merawat klien (menangani

31
perilaku kekerasan)
8.5.Beri kesempatan keluarga untuk memperagakan
ulang
8.6. Beri pujian kepada keluarga setelah peragaan
8.7. Tanyakan perasaan keluarga setelah mencoba
cara yang dilatihkan

9. Klien 9.1. Setelah 5X pertemuan klien 9.1. Jelaskan manfaat menggunakan obat secara
menggunakan menjelaskan: teratur dan kerugian jika tidak menggunakan
obat sesuai o Manfaat minum obat obat
program yang o Kerugian tidak minum 9.2. Jelaskan kepada klien:
telah ditetapkan obat  Jenis obat (nama, warna dan bentuk obat)
o Nama obat  Dosis yang tepat untuk klien

o Bentuk dan warna obat  Waktu pemakaian

o Dosis yang diberikan  Cara pemakaian


 Efek yang akan dirasakan klien
kepadanya
9.3. Anjurkan klien:
o Waktu pemakaian
 Minta dan menggunakan obat tepat waktu
o Cara pemakaian
 Lapor ke perawat/dokter jika mengalami efek
o Efek yang dirasakan
yang tidak biasa
9.2. Setelah … X pertemuan
 Beri pujian terhadap kedisiplinan klien

32
klien menggunakan obat menggunakan obat.
sesuai program

33
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA

Nama : Tn.R Ruangan : 23 Empati No. RM : 1896xx

No Tanggal
Implementasi Keperawatan Evaluasi
Dx & Jam
1 30 SP 1: S: klien mengatakan namanya R
januari
suka dipanggil R.
2020
(09:00 1. membina hubungan saling O: klien bicara dengan cepat dan
WIB) percaya keras, tampak gelisah dan tidak
2. mendiskusikan bersama klien terfokus
penyebab marah, tanda dan A: dapat terbina hubungan saling
gejala PK, PK yang dilakukan percaya
saat marah, akibat PK, cara P: lanjutkan intervensi 2
kontrol PK S: klien mengatakan pernah
3. mengajarkan cara kontrol PK memukul tantenya ketika
dengan Fisik I ( tarik nafas meminta kendaraan motor. Klien
dalam ) merasa bersalah dan meminta
4. membimbing pasien diajari cara mengontrol marah,
memasukkan dalam jadwal O: klien kooperatif, tatapan mata
kegiatan harian tajam, tampak tegang, klien

34
dapat memahami perilaku
kekerasan
A: PK dapat terpahami oleh
klien
P: lanjutkan intervensi 3
S: klien mengatakan bisa tenang
setelah tarik nafas dalam dan
akan mencobanya ketika hendak
marah.
O:klien kooperatif, Klien mampu
mendemonstrasikan cara fisik
I( tarik nafas dalam) .
A:dapat terkontrol PK dengan
tarik nafas dalam
P: lanjutkan intervensi SP2
          bimbing klien dalam
memasukkan teknik kontrol
marah ke jadwal kegiatan harian
          ajarkan teknik kontrol marah
dengan fisik 2 (pukul batal )

35
31 SP II: S :  klien mengatakan belum
januari
2020 dapat mengontrol emosi, dan
(09:00 1. Memvalidasi masalah.
akan mencoba cara control
WIB)
2. melatih cara kontrol PK
marah yang sudah diajarkan
dengan Fisik II ( pukul
(pukul bantal).
bantal )
O: raut muka tegang, kontak
3. membimbing pasien
mata baik, tampak gelisah
memasukkan dalam jadwal
A: SP II belum optimal
kegiatan harian
P: optimalkan SP II,(cara
control marah dengan cara
fisik II pukul bantal)
SP II :

1. memvalidasi masalah. S: klien mengatakan dapat


2. Melatih cara control PK mengontrol emosinya dengan
dengan cara fisik II (pukul cara fisik II(pukul bantal)dan
bantal) berusaha melakukannya saat
3. Mengikutsertakan klien sedang marah.
dalam jadwal kegiatan O: klien tampak senang, klien
sehari-hari. mampu mendemontrasikan

36
cara fisik II dengan baik tanpa
bimbingan.
A: SP II tercapai.
P: Lanjutkan SP III ( cara
control PK dengan cara
verbal).

1 SP III S :  klien mengatakan masih


februari
2020 ingat cara control marah yang
(09:00 1. Memvalidasi masalah
sudah diajarkan (tarik nafas
WIB)
2. melatih kontrol PK dengan
dalam dan pukul bantal), klien
cara verbal
mengatakan sudah sering
3. membimbing pasien
berdo’a dan shalat di RSJ
memasukkan dalam jadwal
O: klien tampak senang,
kegiatan harian
kontak mata baik, klien
bersedia membicarakan
dengan baik – baik ketika
marah
A: SP III tercapai

37
P: lanjutkan SP IV (dengan
cara spiritual)

2 SP IV S :  klien mengatakan sudah


Februari
2020 dapat mengontrol emosi, dan
(09:00 1. memvalidasi masalah
akan mencoba cara control
WIB)
2. melatih kontrol PK dengan
marah dengan berdo’a dan
cara spiritual
shalat
3. Membimbing pasien
O: klien tampak senang
memasukkan dalam jadwal
A: SP II belum optimal
kegiatan harian
P: lanjutkan SP V (dengan
cara minum obat teratur)

3 SP V S :  klien mengatakan sudah


Februari
2020 teratur dalam meminum obat
(09:00 1. Memvalidasi masalah
O: klien tampak tenang dan
WIB)
2. menjelaskan cara kontrol PK
senang, klien kooperatif
dengan minum obat teratur
A: dapat menggunakan obat
3. membimbing pasien
secara teratur
memasukkan dalam jadwal

38
P: pertahankan kondisi pasien
kegiatan harian

RENCANA TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

A. Terapi Aktivitas Kelompok


1. Pengertian

Kelompok adalah kumpulan individu yang memiliki hubungan satu dengan yang lain, saling bergantung dan mempunyai
norma yang sama ( Stuart & Laraia, 2001). Anggota kelompok mungkin datang dari berbagai latar belakang yang harus ditangani
sesuai dengan keadaannya, seperti agresif, takut, kebencian, kompetitif, kesamaan, ketidaksamaan, kesukaan, dan menarik. Semua
kondisi ini akan mempengaruhi dinamika kelompok, ketika anggota kelompok memberi dan menerima umpan balik yang berarti
dalam berbagai interaksi yang terjadi dalam kelompok.

2. Tujuan

Tujuan kelompok adalah membantu anggotanya berhubungan dengan orang lain serta mengubah prtilaku ynag destruktif dan
maladaptif. Kekuatan kelompok ada pada konstribusi dari setiap anggota dan pemimpin dalam mencapai tujuannya.
Kelompok berfungsi sebagai tempat berbagai pengalaman dan saling membantu satu sama lain, untuk menemukan cara
menyelesaikan masalah. Kelompok merupakan laboratorium tempat mencoba dan menemukan hubungan interpersonal yang baik,

39
serta mengembangkan perilaku yang adaptif. Anggota kelompok merasa memiliki diakui, dan dihargai eksistensinya oleh anggota
kelompok yang lain.
Terapi kelompok adalah metode pengobatan ketika klien ditemui dalam rancangan waktu tertentu dengan tenaga yang
memenuhi persyaratan tertentu. Fokus terapi kelompok adalah membuat sadar diri peningkatan hubungan interpersonal, membuat
perubahan, atau ketiganya. Terapi aktivitas kelompok dibagi sesuai dengan kebutuhan yaitu, stimulasi sensoris, orientasi realita, dan
sosialisasi. Terapi aktivitas kelompok dibagi empat yaitu terapi aktivitas kelompok stimulasi kognitif/persepsi, terapi aktivitas
kelompok stimulasi sensori, terapi aktivitas terapi aktivitas stimulasi realita, dan terapi aktivitas kelompok sosialisasi.

3. Kriteria Pasien

Kriteria pasien sebagai anggota yang mengikuti terapi aktifitas kelompok iniadalah:

a. Klien dengan riwayat perilakukekerasan.


b. Klien yang mengikuti TAK ini tidak mengalami perilaku agresif atau mengamuk, dalam keadaan tenang.
c. Klien dapat diajak kerjasama (cooperative)
4. Pengorganisasian
a. Leader, bertugas:
1) Mengkoordinasi seluruh kegiatan.
2) Memimpin jalannya terapi kelompok
3) Memimpin diskusi.

40
b. Co-Leader, bertugas :
1) Membantu leader mengkoordinasi seluruh kegiatan.
2) Mengingatkan leader jika ada kegiatan yang menyimpang.
3) Membantu memimpin jalannya kegiatan.
4) Menggantikan leader jika terhalang tugas.
c. Fasilitator, bertugas:
1) Memotivasi peserta dalam aktivitas kelompok.
2) Memotivasi anggota dalam ekspresi perasaan setelah kegiatan.
3) Membimbing kelompok selama permainan diskusi.
4) Membantu leader dalam melaksanakan kegiatan.
5) Bertanggungjawab terhadap program antisispasi masalah.
d. Observer, bertugas :
1) Mengobservasi persiapan dan pelaksanaan TAK dari awal sampai akhir.
2) Mencatat semua aktivitas dalam terapi aktivitas kelompok.
3) Mengobservasi perilaku pasien

41
5. Setting tempat

Keterangan :
: Leader
: Co-leader + Observer
: Fasilitator
: Klien

6. Peserta
a. Ny. Tri Lestari

Data fokus : Pasien suka marah-marah dan berbicara kasar..

42
b. Ny. Sudaryati

Data fokus : Pasien dibawa ke Rumah Sakit karena melempar batu kepada
ibunya, berkelahi dengan ibunya.

c. Ny. Supartiyah

Data fokus : Pasien suka melempar barang-barang ke orang yang


mengganggunya saat dia merasa terganggu.

d. Ny. Erni

Data fokus : Pasien di bawa ke RSG karena memukul ibunya dan


mengamuk di masjid.

e. Ny. Siti Sudarsih

Data fokus : Pasien suka ngedumel sendiri dan berbicara kasar.

f.Nn. Santi

Data fokus : Pasien mengamuk.

43
Terapi Stimulasi Persepsi terbagi dalam 5 sesi:
Sesi 1: Mengenal Perilaku Kekerasan yang Biasa Dilakukan

A. Tujuan :
1. Klien dapat menyebutkan stimulasi penyebab kemarahannya.
2. Klien dapat menyebutkan respon yang dirasakan saat marah (tanda dan gejala marah).
3. Klien dapat menyebutkan reaksi yang dilakukan saat marah (perilaku kekerasan).
4. Klien dapat menyebutkan akibat perilaku kekerasan
B. Setting :
1. Terapis dan klien dapat duduk bersama dalam lingkaran
2. Ruangan nyaman dan tenang
C. Alat :
1. Papan tulis / flipchart/ whiteboard
2. Kapur/ spidol
3. Buku catatan dan pulpen
4. Jadwal kegiatan klien

44
D. Pengorganisasian :
1. Leader
2. Co-leader
3. Observer
4. Fasilitator
E. Metode :
1. Dinamika kelompok
2. Diskusi dan tanya jawab
3. Bermain peran/ simulasi
F. Langkah kegiatan :
1. Persiapan
a. Memilih klien perilaku kekerasan yang sudah kooperatif
b. Membuat kontak dengan klien
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.

2. Orientasi
a. Salam terapeutik
1) Salam dari terapis kepada klien

45
2) Perkenalkan nama dan panggilan terapis (pakai papan nama).
3) Menanyakan nama dan panggilan semua klien (beri papan nama)
b. Evaluasi
1) Menanyakan perasaan klien saat ini
2) Menanyakan masalah yang dirasakan
c. Kontak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengenal perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
2) Menjelaskan aturan main berikut
 Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada terapis.
 Lama kegiatan 45 menit
 Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
3. Tahap kerja
a. Mendiskusikan penyebab marah.
1) Tanyakan pengalaman tiap klien
2) Tulis di papan tulis/ flipchart/whiteboard
b. Mendiskusikan tanda dan gejala yang dirasakan klien saat terpapar oleh penyebab marah sebelum perilaku kekerasan terjadi.
1) Tanyakan perasaan tiap klien saat terpapar oleh penyebab (tanda dan gejala)
2) Tulis di papan tulis/ flipchart/whiteboard

46
c. Mendiskusikan perilaku kekerasan yang pernah dilakukan klien (verbal, merusak lingkungan, mencederai/memukul orang lain,
memukul diri sendiri)
1) Tanyakan perilaku yang dilakukan saat marah.
2) Tulis di papan tulis/ flipchart/whiteboard.
d. Membantu klien memilih salah satu perilaku kekerasan yang paling sering dilakukan untuk diperagakan
e. Melakukan bermain eran/ simulasi untuk perilaku kekerasan yang tidak berbahaya (terapis sebagai sumber penyebab dan klien
yang melakukan perilaku kekerasan).
f. Menanyakan perasaan klien setelah selesai bermain peran /simulasi.
g. Mendiskusikan dampak/akibat perilaku kekerasan
1) Tanyakan akibat perilaku kekerasan.
2) Tulis di papan tulis/ flipchart/whiteboard.
h. Memberikan reinforcement pada peran serta klien.
i. Dalam menjalankan a sampai h, upayakan semua klien terlibat.
j. Beri kesimpulan penyebab; tanda dan gejala; perilaku kekerasan dan akibat perilaku kekerasan.
k. Menanyakan kesediaan klien untuk memepelajari cara baru yang sehat menghadapi kemarahan.
4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
2) Memberikan reinforcement positif terhadap perilaku klien yang positif.

47
b. Tindak lanjut
1) Menganjurkan klien menilai dan mengevaluasi jika terjadi penyebab marah, yaitu tanda dan gejala; perilaku kekerasan yang
terjadi; serta akibat perilaku kekerasan.
2) Menganjurkan klien mengingat penyebab ; tanda dan gejala; perilaku kekerasan dan akibatnya yang belum diceritakan.
c. Kontrak yang akan datang
1) Menyepakati belajar cara baru yang sehat untuk mencegah perilaku kekerasan.
2) Menyepakati waktu dan TAK berikutnya.

5. Evaluasi

Evaluasi dilakukan pada saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan
klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan sesi 1, kemampun yang diharapkan adalah mengetahui
penyebab perilaku, mengenal tanda dan gejala, perilaku kekerasan yang dilakukan dan akibat perilaku kekerasan. Formlir evaluasi sebagai
berikut.

Sesi 1: TAK
Simulasi persepsi perilaku kekerasan

48
Kemampuan psikologis
Memberi tanggapan tentang
No Nama Klien Penyebab PK Tanda & Gejala Perilaku Akibat
PK Kekerasan PK

Petunjuk:

1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien
2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan mengetahui penyebab perilakuk kekerasan, tanda dan gejala dirasakan, perilaku
kekerasan yang dilakukan dan akibat perilaku kekerasan. Beri tanda √ jika klienmampu dan tanda x jika klien tidak mampu.

Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses keperawatan tiap klien. Contoh: klien mengikuti sesi 1.
TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan. Klien mampu menyebutkan penyebab perilaku kekerasannya (disalahkan dan tidak diberi

49
uang), mengenal tanda dan gejala yang dirasakan (“geregetan” dan “deg-degan”), perilaku kekerasan yang dilakukan (memukul meja),
akibat yang dirasakan (tangan sakit dan dibawa ke rumah sakit jiwa). Anjurkan klien mengingat dan menyampaikan jika semua dirasakan
selama dirumah sakit.

Sesi 2: Mencegah Perilaku Kekerasan Fisik

A. Tujuan:
1. Klien dapat menyebutkan kegiatan fisik yang biasa dilakukan klien
2. Klien dapat menyebutkan kegiatan fisik yang dapat mencegah perilaku kekerasan.
3. Klien dapat mendemonstrasikan dua kegiatan fisik yang dapat mencegah perilaku kekerasan
B. Setting:
1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkungan.
2. Ruangan nyaman dan tenang
C. Alat:
1. Kasur / kantong tinju/ gendang
2. Papan tulis/ flipchart/ witheboard
3. Buku catatan dan pulpen
4. Jadwal kegiatan klien

50
D. Pengorganisasian :
1. Leader
2. Co-leader
3. Observer
4. Fasilitator
E. Metode:
1. Dinamika kelompok
2. Diskusi dan tanya jawab
3. Bermain peran/ stimulasi
F. Langkah kegiatan:
1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut sesi 1.
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
1. Salam dari terapis pada pasien
2. Klien dan terapis pakai papan nama.
b. Evaluasi /validasi
1. Menanyakan perasaan klien saat ini

51
2. Menyanyakan apakah ada kejadian perilaku kekerasan: penyebab; tanda dan gejala; perilaku kekerasan serta akibatnya.

c. Kontrak

1. Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu secara fisik untuk mencegah perilaku kekerasan
2. Menjelaskan aturan main berikut :
 Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada terapis.
 Lama kegiatan 45 menit
 Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.\

3. Tahap Kerja

a. Mendiskusikan kegiatan fisik yang biasa dilakukan oleh klien


1) Tanyakan kegiatan : rumah tangga, harian, dan olahraga yang biasa dilakukan klien
2) Tulis di papan tulis/ flipchart/whiteboard
b. Menjelaskan kegiatan fisik yang dapat digunakan untuk menyalurkan kemarahan secara sehat : tarik napas dalam,
menjemur/memukul kasur/bantal, menyikat kamar mandi, main bola, senam, memukul bantal pasir tinju, dan memukul gendang.
c. Membantu klien memilih dua kegiatan yang dapat dilakukan.
d. Bersama klien mempraktikan dua kegiatan yang dipilih
1) Terapis mempraktikan

52
2) klien melakukan redemonstrasi
e. Menanyakan perasaan klien setelah mempraktikan cara penyaluran kemarahan
f. Upayakan semua klien berperan aktif

4. Tahap Terminasi
a. Evaluasi
1. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
2. Menanyakan ulang cara baru yang sehat mencegah perilaku kekerasan
b. Tindak lanjut
1. Menganjurkan klien menggunakan cara yang telah dipelajari jika stimulus penyebab perilaku kekerasan
2. Menganjurkan klien melatih secara teratur cara yang telah dipelajari
3. Memasukkan pada jadwal kegiatan harian klien
c. Kontrak yang akan datang
1. Meyepakati untuk belajar cara baru yang lain, yaitu interaksi sosial yang asertif
2. Meyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya.

5. Evaluasi dan Dokumentasi

Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien
sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan Sesi 2, kemampuan yang di harapkan adalah 2

53
kemampuan mencegah perilaku kekerasan secara fisik. Formulir evaluasi sebagai berikut :

Sesi 2
Stimulasi persepsi perilaku kekerasan
Kemampuan mencegah perilaku kekerasan fisik
Mempraktikan cara fisik Mempraktikan cara
No Nama Klien
yang pertama fisik yang kedua
1
2

Petunjuk :

1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2. Untuk setiap klien, beri penilaian tentang kemampuan mempraktikan dua cara fisik untuk mencegah perilaku kekerasan. Beri tanda
jika klien mampu dan tanda jika klien tidak mampu.

Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses keperawatan tiap klien. Contoh: klien mengikuti Sesi 2
TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan, klien mampu mempraktikkan tarik napas dalam, tetapi belum mampu mempraktikkan pukul
kasus dan bantal. Anjurkan dan bantu klien mempraktikkan di ruang rawat (buat jadwal).

54
Sesi 3: Mencegah Perilaku Kekerasan Sosial

A. Tujuan

1. Klien dapat mengungkapkan keinginan dan permintaan tanpa memaksa.


2. Klien dapat mengungkapkan penolakan dan rasa sakit hati tanpa kemarahan.

B. Setting

1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran.


2. Ruangan nyaman dan tenang.

C. Alat

1. Papan tulis / flipchart/whiteboard dan alat tulis


2. Buku catatan dan pulpen
3. Jadwal kegiatan klien

D. Pengorganisasian :

55
1. Leader
2. Co-leader
3. Observer
4. Fasilitator

E. Metode

1. Dinamika kelompok
2. Diskusi dan tanya jawab
3. Bermain peran / simulasi

F. Langkah kegiatan

1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut Sesi 2.
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
1) Salam dari terapis kepada klien.

56
2) Klien dan terapis pakai papan nama.
b. Evaluasi / validasi
1) Menanyakan perasaan klien saat ini.
2) Menanyakan apakah ada penyebab marah, tanda dan gejala marah serta perilaku kekerasan.
3) Tanyakan apakah kegiatan fisik untuk mencegah perilaku kekerasan sudah dilakukan.
c. Kontrak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu cara sosial untuk mencegah perilaku kekerasan.
2) Menjelaskan aturan main berikut.
a) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus meminta izin kepada terapis.
b) Lama kegiatan 45 menit.
c) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

3. Tahap kerja

a. Mendiskusikan dengan klien cara bicara jika ingin meminta sesuatu dari orang lain.
b. Menuliskan cara-cara yang disampaikan klien.
c. Terapis mendemonstrasikan cara meninta sesuatu tanpa paksaan, yaitu “Saya perlu / ingin/ minta ..., yang akan saya
gunakan untuk...”.
d. Memilih dua orang klien secara bergilir mendemonstrasikan ulang cara pada poin c.
e. Ulangi d. sampai semua klien mencoba.

57
f. Memberikan pujian pada peran serta klien.
g. Terapis mendemonstrasikan cara menolak dan menyampaikan rasa sakit hati pada orang lain, yaitu “Saya tidak dapat
melakukan ...” atau “Saya tidak menerima dikatakan ...” atau “Saya kesal dikatakan seperti ...”.\
h. Memilih dua orang klien secara bergilir mendemonstrasikan ulang cara pada poin d.
i. Ulangi h sampai semua klien mencoba.
j. Memberikan pujian pada peran serta klien.
4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
2. Menanyakan jumlah cara pencegahan perilaku kekerasan yang telah dipelajari.
3. Memberikan pujian dan penghargaan atas jawaban yang benar.
b. Tindak lanjut
1. Menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik dan interaksi sosil yang asertif , jika stimulus penyebab perilaku
kekerasan terjadi.
2. Menganjurkan klien melatih kegiatan fisik dn interaksi sosial yang asertif secara teratur.
3. Memasukkan interaksi sosial yang asertif pada jadwal kegiatan harian klien.
c. Kontrak yang akan datang
1. Menyepakati untuk belajar cara baru yang lain, yaitu kegiatan ibadah.
2. Menyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya.

58
5. Evaluasi dan Dokumentasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien
sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan Sesi 3, kemampuan klien yang diharapkan adalah
mencegah perilaku kekerasan secara sosial. Formulir evaluasi sebagai berikut.

Sesi 3: TAK
Stimulasi persepsi perilaku kekerasan
Kemampuan mencegah perilaku kekerasan sosial

Memperagakan Memperagakan Memperagakan cara


No. Nama klien cara meminta cara menolak mengungkapkan
tanpa paksa yang baik kekerasan yang baik
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Petunjuk:
1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.

59
2. Untuk tiap klien, beri penilaian akan kemampuan mempraktikan pencegahan perilaku kekerasan secara social : meminta tanpa paksa,
menolak dengan baik , mengungkapkan kekesalan dengan baik. Beri tanda centang jika klien mampu dan tanda silang jika klien tidak
mampu.
Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses keperawatan tiap klien. Contoh: klien mengikuti sesi 3,
TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan. Klien mampu memperagakan cara meminta tanpa paksa, menolak dengan baik dan
mengungkapkan kekerasan. Anjurkan klien mempraktikan di ruang rawat ( buat jadwal).

Sesi 4 : Mencegah Perilaku Kekerasan Spiritual

A. Tujuan

Klien dapat melakukan kegiatan ibadah secara teratur.

B. Setting
1. Terapis dan k lien duduk bersama dalam lingkaran.
2. Ruangannyaman dan tenang.
C. Alat
1. Papan tulis/flipchart/whiteboard dan alat tulis
2. Buku catatan dan pulpen

60
3. Jadwal kegiatan klien
D. Pengorganisasian :
1. Leader : AprilikaTyantaka
2. Co-leader : AfrinaReriWindiastari
3. Observer : Mega Anistya
4. Fasilitator : - Ade Nurhalimah
- AgusHardiNata
E. Metode
1. Dinamika kelompok
2. Diskusi dan Tanya jawab
3. Bermain peran /simulasi
F. Langkah Kegiatan
1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut sesi
b. Menyiapkan alat dan tempat
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
1) Salam dari terapis kepada klien
2) Klien dan terapis pakai papan nama

61
b. Evaluas/validasi
1) Menanyakan perasaan klien saat ini
2) Menanyakan apakah ada penyebab marah, tanda dan gejala marah, serta perilaku kekerasan
3) Tanyakan apakah kegiatan fisik dan interaksi social yang asertif untuk mencegah perilaku kekerasan sudah dilakukan.
c. Kontrak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu kegiatan ibadah untuk mencegah perilaku kekerasan.
2) Menjelaskan aturan main berikut.
a. Jika ada klien yang meninggalkan kelompok, harus meminta izin kepada terapis.
b. Lama kegiatan 45 menit
c. Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
3. Tahap kerja
a. Menanyakan agama dan kepercayaan masing masing klien.
b. Mendiskusikan kegiatan ibadah yang biasa dilakukan masing masing klien.
c. Menuliskan kegiatan ibadah masing masing klien.
d. Meminta klien untuk memilih satu kegiatan ibadah.
e. Meminta klien mendemonstrasikan kegiatan ibadah yang dipilih.
f. Memberikan pujian pada penampilan klien.
4. Tahap terminasi
a. Evaluasi

62
1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
2) Menanyakan jumlah cara pencegahan perilaku kekerasan yang telah dipelajari.
3) Memberikan pujian dan penghargaan atas jawaban yang benar.
b. Tindak lanjut
1) Menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik, interaksi sosial yang asertif, dan kegiatan ibadah jika stimulus penyebab
perilaku kekerasan terjadi.
2) Menganjurkan klien melatih kegiatan fisik, interaksi social yang asertif, dan kegiatan ibadah secara teratur.
3) Memasukkan kegiatan ibadah pada jadwal kegiatan harian klien.
c. Kontrak yang akan dating
1) Menyepakati untuk belajar cara baru yang lain, yaitu minum obat teratur.
2) Menyepakati waktu dan tempat pertemuan berikutnya.

5. Evaluasi dan Dokumentasi

Evaluasi dilakukan pada saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan
klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan Sesi 4, kemampuan klien yang diharapkan
adalah perilaku 2 kegiatan ibadah untuk mencegah kekerasan. Formulir evaluasi sebagai berikut:

63
Sesi 4 : TAK
Stimulasi persepsi perilaku kekerasan
Kemampuan mencegah perilaku kekerasan spiritual

Mempraktikkan Mempraktikkan
No Nama Klien
Kegiatan ibadah pertama Kegiatan ibadah kedua
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Petunjuk:

1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan mempraktikkan dua kegiatan ibadah pada saat TAK. Beri tanda centang jika
klien mampu dan tanda silang klien tidak mampu.

64
Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dimilki klien saat TAK pada catatan proses keperawatan tiap klien.Contoh : klien mengikuti sesi 4 ,
TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan. Klien mampu memperagakan dua cara ibadah. Anjurkan klien melakukannya secara teratur di
ruangan( buat jadwal).

Sesi 5 : Mencegah Perilaku Kekerasan dengan Patuh Mengkonsumsi Obat

A. Tujuan :
1. Umum : Pasien dapat mencegah/mengontrol perilaku kekerasan dengan patuh mengkonsumsi obat.
2. Khusus :
a) Klien dapat menyebutkan keuntungan patuh minum obat.
b) Klien dapat menyebutkan akibat/kerugian tidak patuh minum obat.
c) Klien dapat menyebutkan lima benar cara minum obat.
B. Setting :
1. Terapis dan Klien duduk bersama dalam lingkaran.
2. Ruangan nyaman dan tenang.
C. Alat :

65
1. Papan tulis/flipchart/whiteboard dan alat tulis
2. Buku catatan dan pulpen
3. Jadwal kegiatan klien
4. Beberapa contoh obat
D. Pengorganisasian :
1. Leader : AgusHardiNata
2. Co-leader : Ade Nurhalimah
3. Fasilitator : Ade Nurhalimah
4. Observer : - AprilikaTyantaka
- AfrinaReriWindiastari
- Mega Anistya
E. Metode :
1. Dinamika kelompok
2. Diskusi dan tanya jawab
F. Langkah kegiatan :
1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut Sesi 4
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
2. Orientasi

66
a. Salam terapeutik
1) Salam dari terapis kepada klien
2) Klien dan terapis pakai papan nama
b. Evaluasi/validasi
1) Menanyakan perasaan klien saat ini
2) Menanyakan apakah ada penyebab marah, tanda dan gejala marah, serta perilaku kekerasan.
3) Tanyakan apakah kegiatan fisik, interaksi social yang asertif dan kegiatan ibadah untuk mencegah perilaku kekerasan sudah
dilakukan.
c. Kontrak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu patuh minum obat untuk mencegah perilaku kekerasan.
2) Menjelaskan aturan main berikut :
a) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus meminta izin kepada terapis
b) Lama kegiatan 45 menit.
c) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

3. Tahap kerja
a. Mendiskusikan macam obat yang dimakan klien : nama dan warna (upayakan tiap klien menyampaikan)
b. Mendiskusikan waktu minum obat yang biasa dilakukan klien.

67
c. Tuliskan di whiteboard hasil a dan b.
d. Menjelaskan lima benar minum obat, yaitu benar obat, benar waktu minum obat, benar orang yang minum obat, benar cara
minum obat, benar dosis obat.
e. Menjelaskan tentang prinsip 5 benar dan meminta klien menyebutkan lima benar cara minum obat, secara bergiliran.
f. Berikan pujian pada klien yang benar.
g. Mendiskusikan perasaan klien sebelum minum obat (catat di whiteboard)
h. Mendiskusikan peranan klien jika teratur minum obat (catat di whiteboard).
i. Menjelaskan keuntungan patuh minum obat, yaitu salah satu cara mencegah perilaku kekerasan/kambuh.
j. Menjelaskan akibat/kerugian jika tidak patuh minum obat, yaitu kejadian perilaku kekerasan/kambuh.
k. Minta klien menyebutkan kembali keuntungan patuh minum obat dan kerugian tidak patuh minum obat.
l. Member pujian setiap kali klien benar.
4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1) Terapis menyanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
2) Menanyakan jumlah cara pencegahan perilaku kekerasan yang telah dipelajari.
3) Memberikan pujian dan penghargaan atas jawaban yang benar.
b. Tindak lanjut
1) Menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik, interaksi social asertif, kegiatan ibadah, dan patuh minum obat untuk
mencegah perilaku kekerasan.

68
2) Memasukkan minum obat dalam jadwal kegiatan harian klien.
c. Kontrak yang akan datang

Mengakhiri pertemuan untuk TAK perilaku kekerasan, dan disepakati jika klien perlu TAK yang lain.

5. Evaluasi dan Dokumentasi

Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung khususnya pada tahap keraj. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien
sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan sesi 5, kemampuan yang diharapkan adalah
mengetahui lima benar cara minum obat, keuntungan minum obat, dan akibat tidak patuh minum obat. Formulir evaluasi sebagai
berikut :
Sesi 5 : TAK
Stimulasi persepsi perilaku kekerasan
Kemampuan mencegah perilaku kekerasan dengan patuh minum obat
Menyebutkan Menyebutkan
Nama Menyebutkan akibat
No lima benar keuntungan
Klien tidak patuh minum obat
minum obat minum obat

Petunjuk :

69
1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan menyebutkan lima benar cara minum obat, keuntungan minum obat, dan akibat
tidak patuh minum obat. Beri tanda v jika klien mampu dan tanda x jika klien tidak mampu.

Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien pada cartatan proses keperawatan tiap klien. Contoh : klien mengikuti sesi 5, TAK
stimulasi persepsi perilaku kekerasan. Klien mampu menyebutkan lima benar cara minum obat, belum dapat menyebutkan keuntungan
minum obat dan akibat tidak minum obat. Anjurkan klien mempraktikan lima benar cara minum obat, bantu klien merasakan keuntungan
minum obat, dan akibat tidak minum obat.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
a. Perilaku kekerasan adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak
menginginkan datangnya tingkah laku tersebut.
b. Risiko perilaku kekerasan adalah keadaan dimana seseorang pernah atau mempunyai riwayat melakukan tindakan yang dapat
membahayakan diri sendiri atau orang lain atau lingkungan baik secara fisik atau emosional atau seksual dan verbal

70
c. Faktor predisposisi pada perilaku kekerasan dan resiko perilaku kekerasan yang ditemukan adalah klien pernah dirawat sebelumnya
pada tahun 2016 dengan keluhan yang sama karena tidak teratur minum obat, control social, penyalahgunaan napza, kematian
anggota keluarga yang penting.
d. Faktor presipitasi penyebab perilaku kekerasan yang ditemukan adalah tidak terpenuhinya keinginan dari klien karena tidak
diberikan sepeda motor dan pada resiko perilaku kekerasan adalah klien sakit hati dan marah akibat bullying dan pernah memukul
temannya.
e. Rencana tindakan keperawatan klien dengan perilaku kekerasan dengan melihat tujuan umum dan tujuan khusus. Sehingga
intervensi yang dilakukan berdasarkan tujuan yang ditetapkan.
f. Implementasi yang dilakukan menggunakan strategi pelaksanaan yaitu strategi(SP) satu sampai strategi pelaksanaan (SP) lima.
Selain itu perawat juga melakukan terapi aktivitas kelompok

4.2 Saran
1. Untuk pasien:
a. Hindarkan hal-hal yang dapat menyebabkan marah yaitu mengungkit masalah tentang keinginan yang tidak terpenuhi, menjauhi
hal-hal yang menyebabkan klien jengkel
b. Ekspresikan marah dengan cara memukul bantal atau kasur sehingga tidak merugikan pasien dan orang lain
2. Untuk perawat

71
a. Perawat perlu mengekplorasikan perasaan marah dengan mengkaji pengalaman marah masa lalu dan bermain peran dalam
mengungkapkan kemarahan
b. Mengikutsertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok
3. Untuk rumah sakit

Mempertahankan kerja sama dalam keperawatan untuk pasien, dapat meningkatkan mutu pelayanan keperawatan

72
DAFTAR PUSTAKA

Saragih, Sasmaida dkk. 2014. Gambaran Tingkat Pengetahuan Dan Sikap


Keluaga Tentang Perawatan PasienResiko Perilaku Kekerasan Di Rumah. Jurnal online mahasiswa Bidang Ilmu Keperawatan Vol
1, No 1 Februari 2014.
Sari, Nina Permata dan Istichomah. 2015. Pengaruh Pendidikan Kesehatan
Tentang Resiko Perilaku Kekerasan (RPK) Terhadap Pengetahuan Keluarga Dalam Merawat Pasien Di Poli Jiwa RSJD Dr. RM.
Soedjarwadi Klaten Jawa Tengah. Jurnal Kesehatan “Samodra Ilmu” Vol. 0,6 No. 01 Januari 2015.
Yusuf dkk. 2015. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta. Salemba
Medika 2015

73