Anda di halaman 1dari 107

MODUL PRAKTIK

KEBIDANAN KOMUNITAS

Oleh:

KHOLILAH
NIM 19153020024

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV KEBIDANAN


NGUDIA HUSADA MADURA
2019
Kata Pengantar

Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa Buku Rancangan
Pengajaran Modul Asuhan kebidanan komunitas ini telah dapat direvisi tepat waktu.
Mudah-mudahan buku ini bermanfaat bagi kemajuan pendidikan Bidan di Indonesia
umumnya, dan juga bagi keberhasilan Pendidikan Profesi Bidan di STIKes Ngudia
Husada Madura khususnya, serta dapat digunakan oleh para mahasiswa dan staf
pengajar dalam menjalankan dan menyelenggarakan proses belajar - mengajar.
Modul ini diharapkan dapat membuka dan memberikan pemahaman awal serta
menanamkan pondasi berpikir yang kuat dalam pembelajaran pada modul selanjutnya
dan dalam praktek sebagai Bidan kelak maupun dalam menekuni jenjang pendidikan
lebih lanjut.
Terima kasih kepada Tim Penyusun Modul Praktek Asuhan Kebidanan
Komunitas yang telah mengawali penyusunan modul ini. Tim Penyusun juga
berterima kasih atas dukungan Unit Pendidikan Yayasan serta semua pihak yang telah
turut serta menyusun buku ini, meskipun namanya tidak tertera dalam Tim Penyusun
yang resmi .Kami tetap menunggu kritik dan saran untuk penyempurnaan buku ini di
saat-saat mendatang.

Penulis
DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi
Mekanisme Pembelajaran
Pendahuluan
Konsep dasar kebidanan komunitas
Masalah kebidanan di komunitas
Konsep tugas dan tanggung jawab bidan di komunitas
Standar asuhan kebidanan di komunitas
Konsep jaminan sosial
Aplikasi strategi pelayanan kebidanan komunitas
Konsep manajemen terbadu balita muda dan sakit.
DAFTAR PUSTAKA
MEKANISME PEMBELAJARAN

MULAI

Melihat petunjuk penggunaan modul

Tidak
Tidak
Memperhatikan kegiatan belajar 1

Mengerjakan tugas / evaluasi

Kompeten ?
Tidak
Tidak Sesuai materi UTS
Ya

Memperhatikan kegiatan belajar praktikum

Melakukan simulasi

Ya

Kompeten ?

Sesuai materi UAS

SELESAI
PENDAHULUAN

Di Indonesia perkembangan kebidanan tidak begitu pesat, hal ini dapat dilihat
dari sejak dimulainya pelayanan kebidanan pada tahun 1853 sampai saat ini
perkembangan pelayanan belum dapat mencapai tingkat yang professional.
Pelayanan kebidanan yang diberikan lebih banyak ditujukan pada kesehatan ibu
dan anak, baik kesehatan fisik maupun psikologisnya. Ibu dan anak ini berada
didalam suatu keluarga yang ada didalam suatu masyarakat. Bidan sebagai
pelaksana utama yang memberikan pelayanan kebidanan, diharapkan mampu
memberikan pelayanan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat. Bidan juga
tinggal didalam suatu masyarakat dikomunitas tertentu oleh karena itu dalam
memberikan pelayanan tidak hanya memandang ibu dan anak sebagai individu
tetapi juga mempertimbangkan factor lingkungan dimana ibu tinggal. Lingkungan
ini dapat berupa social, politik, dan keadaan ekonomi. Disini terlihat jelas bahwa
kebidanan komunitas sangat diperlukan, agar bidan dapat mengenal kehidupan
social dari ibu dan anak yang dapat mempengaruhi status kesehatannya.

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

Modul ini sebagai penuntun dalam proses pembelajaran, sangat penting untuk
dipelajari karena akan sangat berkaitan dengan materi berikutnya dalam mata kuliah
Asuhan Kebidanan Komunitas.
Untuk dapat memahami uraian materi dalam modul ini dengan , maka ikuti
petunjuk dalam penggunaan modul ini, yaitu:
1. Bacalah dengan cermat bagian pendahuluan ini sampai Anda memahami betul
apa, untuk apa dan bagaimana mempelajari modul ini.
2. Bacalah modul ini secara teratur dimulai dari Kegiatan Belajar I, dengan
mengikuti setiap materi-materi yang dibahas,temukan kata kunci dan kata-kata
yang dianggap baru. Carilah arti dari kata-kata tersebut dalam kamus anda.
3. Carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang materi modul untuk lebih
memahami materi yang anda pelajari
4. Tangkaplah pengertian demi pengertian dari isi modul ini melalui pemahaman
sendiri dan tukar pikiran dengan teman anda, dosen atau tutor anda
5. Pada akhir kegiatan belajar akan ada latihan untuk menguji pemahaman anda
mengenai materi yang telah dibahas
6. Pada Kegiatan belajar II mantapkan pemahaman anda melalui diskusi dengaan
dosen atau teman anda mengenai simulasi yang dilakukan pada saat tutorial.
7. Lakukan simulasi keterampilan dengan tepat dan sistematis sesuai dengan
panduan skenario kasus dan jobsheet
8. Apabila anda hasil evaluasi menyatakan anda mampu melakukan keterampilan
dengan tepat dan sistematis maka anda telah menyelesaikan kegiatan
pembelajaran pada modul tematik ini.

CAPAIAN PEMBELAJARAN

Setelah membaca modul ini, mahasiswa mampu:


1. Mampu memahami konsep dasar kebidanan komunitas
2. Mampu memahami masalah kebidanan di komunitas
3. Mampu memahami konsep tugas dan tanggung jawab bidan di komunitas
4. Mampu memahami standar asuhan kebidanan di komunitas
5. Mampu memahami konsep jaminan sosial
6. Mampu memahami aplikasi strategi pelayanan kebidanan komunitas termasuk
pada keluarga dengan prioritas seperti keluarga miskin, galcitas,
7. Mampu menguasai konsep manajemen terbadu balita muda dan sakit.
KEGIATAN BELAJAR 1

KONSEP DASAR KEBIDANAN


KOMUNITAS

1. Pengertian /definisi
Komunitas berasal dari bahasa latin yaitu “communitas” yang berarti
“kesamaan”, juga Communis yang berarti sama, public. Komunitas berarti
sekelompok individu yang tinggal pada wilayah tertentu, memiliki nilai-nilai
keyakinan dan minat yang relatif sama, serta berinteraksi atau satu sama lain
untuk mencapai tujuan. Menurut WHO, komunitas adalah suatu kelompok
social yang ditentukan oleh batas-batas wilayah, nilai-nilai keyakinan dan
minat yang sama, serta ada rasa saling mengenal dan interkasi antara anggota
masyarakat yang satu sama yang lainnya (Pinem, 2016: 8-9).
Kebidanan adalah sutu bidan ilmu yang mempelajari keilmuan dan seni
yang memoersiapkan kehamilan, menolong persalinan, nifas dan menyusui,
masa interval dan pengaturan kesubuhran, klimakterium dan menopause, bayi
baru lahir dan balita, fungsi-fungsi reproduksi manusia serta memebrikan
bantuan/dukungan pada perempuan, keluarga dan komunitasnya. Pelayanan
kebidanan adalah bagian integral dari system pelayanan kesehatan yang
diberikan oleh bidan yang terlah terdaftar (teregister) yang dapat dilakukan
secara mandiri, kolaborai atau rujukan. (Turrahmi, 2017: 3).
Kebidanan kesehatan komunitas adalah pelayanan kebidanan profesional
yang ditunjukkan pada masyarakat dengan penekanan pada kelompok risiko
tinggi, dalam upaya mencapai derajat kesehatan yang optimal melalui
pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan dengan menjamin
keterjangkauan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan, dan melibatkan klien
sebagai mitra dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelayanan
keperawatan (Dawkin dalam Turrahmi, 2017: 4). Sedangkan menurut Pinem
(2016: 9), kebidanan komunitas adalah bagian dari kebidanan yang berupa
serangkaian ilmu dan keterampilan untuk memberikan pelayanan kebidanna
pada ibu dan anak yang berada dalam masyarakat diwilayah tertentu.
Kebidanan komunitas memberikan perhatian terhadap pengaruh factor
lingkungan meliputi fisik, biologis, psikologis, social dan kultural dan spiritual
terhadap kesehatan masyarakat dan memberi prioritas pada strategi
pencegahan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan, dalam upaya mencapai
tujuan (Turrahmi, 2017: 4).
2. Riwayat kebidanan komunitas di Indonesia dan beberapa negara lain
Munculnya gagasan kebidanan komunitas merupakan suatu upaya tindak
lanjut dari Konferensi Internasional tentang Safe Motherhood di Nairobi tahun
1987, kemudin dilaksanakan suatu Lokakarya Nasional tentang kesejahteraan
ibu, yang menghasilkan komtmen lintas-sektoral untuk menurunkan AKI
(Angka Kematian Ibu) sebesar 50% dari 450 pada tahun 1986 menjadi 225 per
100.000 kelahiran hidup di tahun 2000.
Dalam perkembangannya, penurunan AKI yang dicapai tidak seperti yang
diharapkan. Pada tahun 1995, AKI di Indoneia masih sebesar 373 per 100.000
kelahiran hidup. Angka ini sangat tinggi jika dibandingkan dengan negara-
negara di wilayah Asia Tenggara apalagi dengan negara-negara maju. Data
estimasi SDKI (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia) 2003
menunjukkan bahwa dalam periode 1998-2002, AKI di Indonesia hanya
mengalami penurunan menjadi 307 per 100.000 kelahiran hidup.
Tingginya AKI di Indonesia ini dipengaruhi pula oleh belum memadainya
cangkupan persalinan oleh belum memadainya cangkupan persalinan oleh
tenaga kesehatan dan rendahnya cangkupan penanganan kasus obstetri. Ada
korelasi yang jelas antara cangkupan pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan dan AKI. Semakin tinggi cakupan pertolongan persalinan oleh
tenaga kesehatan maka akan semakin rendah AKI suatu negara. Data SDKI
1994 menunjukkan bahwa di Indonesia, 72,4 % ibu yang melahirkan di desa
dan 25, 2% ibu yang melahirkan dikota masih ditolong oleh dukun, sementara
data SDKI 1997 menunjukkan belum banyak perubahan, yaitu 65,3%
pertolonga persalinan di desa dan menunjukkan bahwa pertolongan persalinan
masih banyak dilakukan oleh tenaga non-medis. Salah satu analisis yang
melatarbelakangi keadaan tersebut adalah tidak adanya atau kurangnya tenaga
kesehtan yang ada di dekat masyarakat terutama daerah pedesaan.
Salah satu upaya penting yang ditempuh dalam mempercepat penurunan
AKI dan AKB adalah dengan mendekatkan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat. Mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat berarti
menempatkan tenaga kesehatan ditengah-tengah masyarakat dan juga
mengembangan pelayanan kesehatan yang diterima oleh masyarakat. Pada
tahun 1989, pemerintah membuat kebijakan melaksanakan “crash program”
secara nasional yang memperoleh lulusan Sekolah Pendidikan Keperawatan
(SPK) untuk langsung masuk ke program pendidikan bidan yang dikenal
sebagai Program Pendidikan Bidan yang dikenal sebagai Program Pendidikan
Bidan A (PPB A). Lama pendidikan bidan ini hanya 1 tahun dan lulusannya
langsung ditempatkan di desa-desa yang kemudian disebut sebagai Bidan di
Desa (BDD). Pada tahun 1996 telah diluluskan 54.000 orang BDD yang
ditempatkan diseluruh wilayah Indonesia dan sampai Maret 1998 dilaporkan
jumlah BDD adalah sebanyak 58.882 orang. Selain itu dikembangan program
pendidikan bidan B dan C. Lama pendidikan PBB A adalah 1 tahun dengan
peserta didik berasal dari lulusan akademi keperawatan, sedangkan lama
pendidikan PBB C adalah 3 tahun dengan siswa berasal dari lulusan SMP.
Namun, selama bekerja di desa, tuga pokok BDD tidak hanya
melaksanakan pelayanan kebidanan, tetapi juga harus dapat melayan
pengobatan umum. Masyarakat menganggap BDD tidak hanya sebagai tenaga
kesehatan yang menolong persalinan, tetapi juga dapat mmberikan pengobatan
umum. Dengan demikian, pada kenyataannya peran BDD tidak semata-mata
hanya sebagai penolong persalinan, tetapi juga sebagai tenaga promotif,
preventif, dan kuratif yang sangat diandalikan oleh masyarakat desa. Bidan di
desa dianggap sebaga ujung tombak peningkatan status kesehatan ibu dan
anak di desa atau masyarakat yang mempunyai peran penting dalam
pembangunan investasi dini, yaitu penanganan kesehatan ibu hamil dan laktasi
sebagai modal dasar pembangunan sumber daya manusia (SDM). Pada awal
BDD diangkat sebagi PNS, namun kemudian dalam perjalanannya BDD
diberikan status kontrak atau PTT sesuai dengan kemampuan daerah setempat.
BDD mempunyai peranan penting dalam upaya menurunkan AKI dan
AKB meskipun dalam perjalanannya tidak semulus yang diharapkan, namun
diakui bahwa BDD mempunyai konstribusi besar dalam meningkatkan status
kesehatan ibu.
3. Fokus/sasaran
Ukuran keberhasilan bidan dikomunitas adalah bangitnya atau lahirnya
gerakan masyarakat untuk mengatasi masalah dan memenuhi kebutuhan
kesehatan serta kualitas hidup perempuan di wilayah tertentu dengan sasaran
sebagai berikut:
1. Sasaran umum
a. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
b. Organisasi masyarakat
c. Tokoh masyarakat dan kelompok masyarakat.
2. Sasaran khusus
Perempuan selama dalam siklus kehidupannya, yaitu mulai sejak
konsepsi sampai lanjut usia. Agar pelayanan kebidanan di komunitas
terarah dan tepat sasaran, maka bidan harus menerapkan prinsip asuhan
kebidanan di komunitas. Prinsip kebidanan komunitas sebagai berikut.
a. Kebidanan komunitas sifatnya multidisiplin meliputi ilmu kesehatan
masyarakat sosial, psikologis, ilmu kebidanan dan lain-lain yanng
mendukung peran bidan di komunitas.
b. Berpedoman pada etika profesi kebidanan yang menjunjung harkat dan
martabat kemanusiaan klien.
c. Ciri kebidanan komunitas adalah menggunakan populasi sebagai unit
analisis. Populasi tersebut berupa kelompok sasaran yang terdiri atas
jumlah perempuan, jumlah kepala keluarga, jumlah neonatus, dan
jumlah balita.
d. Keberhasilan dukr melalui adanya kerja sama dengan berbagai mitra,
seperti PKK, kader kesehatan, bidan, dokter dan lain-lain.
4. Tujuan
Tujuan umum kebidanan komunitas menurut Turrahmi (2017: 9) adalah
meningkatkan kemampuan masyarakat agar dapat menjalankan fungsinya
secara optimal. Adapun tujuan khusus kebidanan komunitas adalah :
1. Meningkatnya kemampuan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat
dalam pemahaman tentang pengertian sehat dan sakit
2. Meningkatnya kemampuan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat
dalam mengatasi masalah kesehatan
3. Terciptanya dukungan bagi individu yang terkait
4. Terkendali dan tertanggulanginya keadaan lingkungan fisik dan sosial
untuk menuju keadaan sehat yang optimal
5. Berkembangnya ilmu serta pelaksanaan kebidanan kesehatan masyarakat.
Untuk mencegah dan meningkatkan kesehatan masyarakat menurut
Turrahmi (2017: 9) dilakukan melalui :
1. Pelayanan keperawatan langsung (direct care) terhadap individu, keluarga,
dan kelompok dalam konteks komunitas
2. Perhadan langsung terhadap kesehatan seluruh masyarakat dan mempertim
bangkan bagaimana masalah atau issue kesehatan masyarakat
mempengaruhi keluarga, individu dan kelompok
5. Bekerja di komunitas
Bidan yang bkerja di komunitas membutuhkan suatu kemitraan yang
berguna untuk pengambilan keputusan secara kolaboratif dalam rangka
meningkatkan kesehatan dan anak. Lemitraan dibentuk dengan klien,
keluagra, dan masyarakat. Keterlibatan komponen tersebut sangat penting
demi keberhasilan upaya-upaya kesehatan yang dilakukan oleh kebidanan di
komunitas.
Program kemitraan komunitas mencangkup konsep pemberdayaan dan
pengembangan komunitas. Kemitraan adalah proses yang kompleks sebagai
upaya untuk mengarahkan para akademisi, pemuka masyarakat, dan
pemberian pelayanan kesehatan untuk bersama-sama mencapai perubahan.
Unsur yang penting dalam menjalin jaringan terhadap aspek kultural, yang
erarti bahwa pelayanan yang diberikan harus sesuai dengan persepsi
masyarakat.
Adapun sepuluh pelayanan kesehatan komunitas yang sangat penting dan
dapat digunakan untuk menjamin praktik kebidanan komunitas yang
komprehensif :
a. Memantau status kesehatan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan
melalui pengkajian komunitas dengan menggunakan data spesifik vital dan
profil risiko.
b. Mendiagnosis dan menyelidiki masalah kesehatan komunitas dan hal-hal
yang dapat membahayakan kesehatan komunitas, contohny pengawasan
melekat di komunitas.
c. Menginformasikan, mendidik, dan memberdayakan masyarakat mengenai
isu kesehatan.
d. Memobilisasi kemitraan komunitas dan tindakan untuk mengidentifikasi
dan memecahkan masalah kesehatan. Contoh mendiskusikan dan
memfasilitasi kelompok komunitas untuk promosi kesehatan.
e. Menyusun rencana dan kebijakan yang mendulung masalah kesehatan
komunitas dan individu.
f. Mendorong kepatuhan masyarakat terhadap undang-undang dan peraturan
yang melindungi dan menjamin keamanan.
g. Menghubungkan masyarakat kepada fasilitas pelayanan kesehatan
personal yang dibutuhkan dan memastikan penyediaan layanan kesehatan
tersebut.
h. Memastikan kompetensi petugas pemberi layanan kesehatan masyarakat
atau individu.
i. Mengevaluasi efektivitas, kterjangkauan, dan kualitas layanan kesehatan
individu dan masyarakat.
j. Melakukan riset atau penelitian untuk mendapatkan wawasan baru dan
solusi terhadap masalah kesehatan masyarakat.
6. Jaringan kerja kebidanan
Bidan yang bkerja di komunitas membutuhkan suatu kemitraan yang
berguna untuk pengambilan keputusan secara kolaboratif dalam rangka
meningkatkan kesehatan dan anak. Lemitraan dibentuk dengan klien,
keluagra, dan masyarakat. Keterlibatan komponen tersebut sangat penting
demi keberhasilan upaya-upaya kesehatan yang dilakukan oleh kebidanan di
komunitas.
Program kemitraan komunitas mencangkup konsep pemberdayaan dan
pengembangan komunitas. Kemitraan adalah proses yang kompleks sebagai
upaya untuk mengarahkan para akademisi, pemuka masyarakat, dan
pemberian pelayanan kesehatan untuk bersama-sama mencapai perubahan.
Unsur yang penting dalam menjalin jaringan terhadap aspek kultural, yang
erarti bahwa pelayanan yang diberikan harus sesuai dengan persepsi
masyarakat.
Adapun sepuluh pelayanan kesehatan komunitas yang sangat penting dan
dapat digunakan untuk menjamin praktik kebidanan komunitas yang
komprehensif :
a. Memantau status kesehatan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan
melalui pengkajian komunitas dengan menggunakan data spesifik vital dan
profil risiko.
b. Mendiagnosis dan menyelidiki masalah kesehatan komunitas dan hal-hal
yang dapat membahayakan kesehatan komunitas, contohny pengawasan
melekat di komunitas.
c. Menginformasikan, mendidik, dan memberdayakan masyarakat mengenai
isu kesehatan.
d. Memobilisasi kemitraan komunitas dan tindakan untuk mengidentifikasi
dan memecahkan masalah kesehatan. Contoh mendiskusikan dan
memfasilitasi kelompok komunitas untuk promosi kesehatan.
e. Menyusun rencana dan kebijakan yang mendulung masalah kesehatan
komunitas dan individu.
f. Mendorong kepatuhan masyarakat terhadap undang-undang dan peraturan
yang melindungi dan menjamin keamanan.
g. Menghubungkan masyarakat kepada fasilitas pelayanan kesehatan
personal yang dibutuhkan dan memastikan penyediaan layanan kesehatan
tersebut.
h. Memastikan kompetensi petugas pemberi layanan kesehatan masyarakat
atau individu.
i. Mengevaluasi efektivitas, kterjangkauan, dan kualitas layanan kesehatan
individu dan masyarakat.
j. Melakukan riset atau penelitian untuk mendapatkan wawasan baru dan
solusi terhadap masalah kesehatan masyarakat (Runjati,dkk. 2011:15)
TUGAS
Apa yang dimaksud dengan kebidanan komunitas?
Bagaimana riwayat kebidanan komunitas?
Apa saja tujuan kebidanan komunitas?
Siapa saja sasaran kebidanan komunitas?
Jelaskan bagaimana jaringan kebidanan?
KEGIATAN BELAJAR 2

MASALAH KEBIDANAN
KOMUNITAS

1. Kematian ibu dan bayi


Angka Kematian Bayi merupakan salah satu indikator yang sangat
penting untuk mengukur keberhasilan program berbagai penyebab kematian
maupun program kesehatan ibu dan anak sebab angka kematian bayi ini
berkaitan erat dengan tingkat kesehatan ibu dan anak. Adapun target Angka
Kematian Bayi menurut MDG‟s tahun 2015 adalah
23/1.000 kelahiran hidup.
Angka Kematian Balita adalah jumlah kematian Anak umur 0 – 4 tahun
per 1000 kelahiran hidup. Angka kematian balita menggambarkan tingkat
permasalahan kesehatan anak dan faktor - faktor lain yang berpengaruh terhadap
kesehatan anak balita seperti gizi, sanitasi, penyakit infeksi dan kecelakaan.
Menurut Renstra Kemenkes tahun 2015-2019, angka kematian anak balita
menjadi 40/1000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu adalah jumlah kematian
ibu pada masa kehamilan, melahirkan dan nifas per 100.000 kelahiran hidup.
Menurut MDG‟s tahun 2015, target untuk AKI yaitu sebesar 102/100.000 KH.
Menurut SDKI tahun 2012 angka kematian ibu masih tinggi mencapai 359 per
100.000 KH. Kematian ibu disebabkan oleh :
Perdarahan
Tekanan darah yang tinggi saat hamil (eklampsia)
Infeksi
Persalinan macet dan komplikasi keguguran
Keterlambatan pengambilan keputusan di tingkat keluarga
Sedangkan penyebab langsung kematian bayi adalah
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
Kekurangan oksigen (asfiksia).
Hipotermia (kedinginan)
Imaturitas
Infeksi
2. Kehamilan remaja
Arus informasi menuju globalisasi mengakibatkan perubahan perilaku remaja
yang makin dapat menerima hubungan seksual sebagai cerminan fungsi rekreasi.
Akibatnya meningkatnya kehamilan yang belum dikehendaki atau terjadi penyakit
hubungan seksual. Dampak kehamilan remaja :
a. Faktor psikologis belum matang
Alat reproduksinya masih belum siap menerima kehamilan sehingga
dapat menimbulkan berbagai bentuk komplikasi.
Remaja berusia muda sedang menuntut ilmu akan mengalami putus
sekolah sementara atau seterusnya, dan dapat putus kerjaan yang baru
dirintisnya.
Perasaan tertekan karena mendapat cercaan dari keluarga, teman,
atau lingkungan masyarakat
0 Tersisih dari pergaulan karena dianggap belum mampu membawa diri.
1 Mungkin kehamilannya disertai kecanduan obat-obatan, merokok atau
minuman keras.
b. Faktor Fisik
Mungkin kehamilan ini tidak jelas siapa ayah sebenarnya.
Kehamilannya dapat disertai penyakit hubungan seksual sehingga
memerlukan pemeriksaan ekstra yang lebih lengkap.
Tumbuh kembang janin dalam rahim belum matang dapat menimbulkan
aboruts, persealinan premature dapat terjadi komplikasi penyakit yang
telah lama dideritanya.
Saat persalinan sering memerlukan tindakan medis operatif.
Outcome, janin mengalami kelainan congenital, berat badan lahir rendah.
Kematian maternal dan perinatal pada kehamilan remaja lebih tinggi
dibandingkan dengan usia reproduksi sehat usia antara 20-35 tahun.

c. Tingkat Kesuburan
Perubahan perilaku seksual remaja menuju liberalisasi tanpa batas akan
makin meningkatkan kejadian penyakit hubungan seks. Penyakit hubungan seks
tanpa pengobatan yang memuaskan dapat menimbulkan infeksi radang panggul
dan mengenai genetalia bagian atas. Penyakit infeksi radang panggul tanpa
pengobatan adekuat dapat berlangsung akut dan besar kemungkinan
memerlukan tindakan radikal untuk mengangkat sumber infeksinya. Sebagian
berlangsung secara menahun dengan menimbulkan kerusakan fungsi utamanya
yaitu prokreasi. Setiap kejadian (infeksi) pertama penyakit radang panggul telah
dapat menimbulkan perlekatan yang berat, sehingga dapat terjadi gangguan
fungsi tuba fallopii yaitu sebagai transportasi ovum spermatozoa dan hasil
konsepsi serta khususnya ampula tuba fallopii merupakan tempat terjadinya
konsepsi. Tertutupnya sebagaian tuba fallopii sehingga hasil konsepsi tersangkut
dalam perjalanan dapat menimbulkan kehamilan ektopik. Terbatasnya
kemampuan tuba fallopii untuk berkembang dan menampung hasil konsepsi,
melibatkan terjadinya kehamilan ektopik. Kehamilan ekatopik yang bernidasi
pada kornu uteri dengan kemampuan agak besar untuk berkembang dan
membentuk pembuluh darah dapat menimbulkan perdarahan hebat intra
abdominal sampai dengan kematian. Pada gangguan yang sangat berat sehingga
tuba sama sekali tertutup maka habislah harapan perempuan untuk hamil.
Upaya promotif dan preventif kesehatan alat reproduksi khususnya para
remaja menjadi sangat penting untuk mengurangi jumlah pasangan infertilitas.
Pengobatan post abortus, post partum dan penyakit hubungan seksual
merupakan kunci utama sehingga pasangan infertilitas dapat ditekan sekecil
mungkin. Perlunya diingatkan bahwa pemakaian IUCD pada mereka yang
belum mempunyai anak atau baru menikah sebaiknya dihindari karena besar
kemungkinan terjadi infeksi asenden menahan yang berakhir dengan kerusakan
alat genetalia interna khususnya tuba fallopii.
3. Unsafe abortion
Di Indonesia diperkirakan sekitar 2-2,5 juta kasus gugur kandung terjadi
setiap tahunnya. Sebagian besar masih dilakukan secara sembunyi sehingga
menimbulkan berbagai bentuk komplikasi ringan sampai meninggal dunia.
Sekalipun UU kesehatan No. 23 tahun 1992 telah ada tetapi masih sulit untuk
dapat memenuhi syaratnya. Pelaksanaan gugur kandung yang lebih liberal akan
dapat meningkatkan sumber daya manusia karena setiap keluarga dapat
merencanakan kehamilan pada saat yang optimal. Akibat beratnya syarat yang
harus dipenuhi dari UU Kesehatan No. 23 Tahun 1992, masyarakat yang
memerlukan terminasi kehamilan akhirnya mencari jalan pintas dengan minta
bantuan dukun dengan risiko tidak bersih dan tidak aman.
Pertolongan terminasi kehamilan yang dilakukan secara illegal/sembunyi
dengan fasilitas terbatas, dan komplikasinya sangat besar (yaitu perdarahan-
infeksi-trauma) dan menimbulkan mortalitas yang tinggi. Terminasi kehamilan
yang tidak dikehendaki merupakan fakta yang tidak dapat dihindari sebagai akibat
perubahan perilaku seksual khususnya remaja, sehingga memerlukan jalan
pemecahan yang rasional dan dapat diterima masyarakat.
Untuk memenuhi kebutuhan remaja dapat dilakukan upaya promotif dan
preventif dengan memberikan pendidikan seksual yang sehat, termasuk
menghindari kehamilan, menyediakan metode KB khusus untuk remaja,
memberikan penjelasan tentang KB darurat dan menyediakan sarana terminasi
kehamilan. Menyediakan sarana terminasi kehamilan dianggap menjunjung hak
asasi manusia karena menentukan nasib kandungan merupakan hak asasi
perempuan. Tempat yang memenuhi syarat terminasi kehamilan sesuai dengan
UU Kesehatan No. 23 Tahun 1992 hanya rumah sakit pemerintah sehingga
pelaksanaan terminasi kehamilan berjalan bersih dan aman dengan tujuan fungsi
dan kesehatan reproduksi remaja dipertahankan.
4. BBLR
a. Pengertian
Istilah premature telah diganti menjadi Berat Badan Lahir Rendah oleh
WHO sejak 1960, hal ini dikarenakan tidak semua bayi dengan berat kurang
dari 2500 gram pada waktu lahir adalah bayi yang premature.
Bayi Berat Lahir Rendah ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat
lahir kurang dari 2500 gram (sampai dengan 2499 gram).

b. Klasifikasi
Dari pengertian tersebut bayi BBLR dapat dibagi menjadi dua golongan
yaitu :
1) Prematuritas Murni : Masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat
badannya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi itu atau biasa
disebut neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan (NKB-SMK).
2) Dismaturitas : Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan
seharusnya untuk masa gestasi itu. Berarti bayi mengalami retardasi
pertumbuhan intrauterine dan merupakan bayi yang kecil untuk masa
kehamilannya.
c. Penanganan Bayi Berat Lahir Rendah
Mempertahankan suhu dengan ketat
Bayi Berat Lahir Rendah mudah mengalami hipotermia, oleh sebab itu
suhu tubuhnya harus dipertahankan dengan ketat.
Mencegah infeksi dengan ketat
Dalam penanganan Bayi Berat Lahir Rendah harus
memperhatikan prinsip-prinsip pencegahan infeksi karena sangat rentan.
Salah satu cara pencegahan infeksi yaitu dengan mencuci tangan
sebelum memegang bayi.
Pengawasan nutrisi/ASI
Refleks menelan dari bayi dengan berat lahir rendah belum sempurna
oleh karena itu pemberian nutrisi harus dilakukan dengan cermat.
Penimbangan ketat, Penimbangan berat badan harus dilakukan secara
ketat karena peningkatan berat badan merupakan salah satu kondisi
gizi/nutrisi bayi dan erat dengan daya tahan tubuh.
5. Pertolongan persalinan oleh tenaga non kesehatan
Dalam tatanan masyarakat yang masih memegang tradisi adat, dukun masih
memegang peranan yang sangat penting. Pertolongan persalinan oleh tenaga non
kesehatan yaitu proses persalinan yang dibantu oleh tenaga non kesehatan yang
biasa disebut dukun paraji. Adanya asumsi pada masyarakat kita bahwa
melahirkan di dukun mudah dan murah, merupakan salah satu penyebab
terjadinya pertolongan persalinan oleh tenaga non kesehatan.
6. Penyakit Menular Seksual
Penyakit menular seksual merupakan salah satu dari tiga tipe infeksi saluran
reproduksi (ISR), yaitu infeksi dan penyakit menular seksual, infeksi-infeksi
endogen vagina dan infeksi-infeksi yang berhubungan dengan saluran reproduksi.
Infeksi menular seksual berhubungan dengan keadaan akut, kronik dan kondisi-
kondisi lain yang berhubungan dengan kehamilan, seperti Gonore, Chlamidya,
Sifilis, Herpes kelamin, Hepatitis, Kutil HPV kelamin, Trichomoniasis,
HIV/AIDS. Infeksi endogen vagina meliputi Vaginosis bacterial dan Candidiasis,
keduanya merupakan hasil dari pertumbuhan berlebihan dari organisme-
organisme yang secara normal memang ada di vagina. Infeksi berhubungan
dengan prosedur dapat meliputi saluran reproduksi atas dan bawah, serta dapat
mengebabkan komplikasi-komplikasi jangka panjang karna infertile.
Bidan harus dapat memberikan asuhan kepada masyarakat terkait dengan
infeksi menular seksual, dan perlu memperhatikan semua jenis infeksi saluran
reproduksi, sehingga dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang
optimal.
7. Menopause
Menopouse adalah haid terakhir, atau saat terjadinya haid terakhir.
Berhentinya haid bisa didahului oleh siklus haid yang lebih panjang dengan
perdarahan yang berkurang. Umur waktu terjadinya menopause dipengaruhi oleh
keturunan, kesehatan umum, dan pola kehidupan. Ada kecenderungan dewasa ini
untuk terjadinya menopause pada umur yang lebih tua. Terjadinya menopause ada
hubungannya dengan menarche. Makin dini menarche terjadi, makin lambat
menopause timbul. Menopouse yang artificial karena operasi atau radiasi
umumnya menimbulkan keluhan lebih banyak dibandingkan dengan menopause
alamiah
Format Pengkajian Keluarga
A. IDENTIFIKASI MASALAH KESEHATAN
PENGKAJIAN DATA KELUARGA
Tanggal Pengkajian :
Tempat :
Desa :
Kabupaten :
Nama Mahasiswa :
NIM :
 
1. Identitas Keluarga (Struktur dan sifat).
 
a. Nama kepala keluarga :………………………………
b. Umur :………………………………
c. Jenis kelamin :………………………………
d. Agama :...…………………………….
e. Pendidikan :………………………………
f. Pekerjaan :…...………………………….
g. Pendapatan :………………………………
h. Alamat :………………………………
i. Suku / bangsa :………………………………
j. Riwayat Pernikahan
1) Status PErnikahan : Sah/ Tidak * Lingkari
2) Usia Pertama kali menikah : Suami …..thn; Istri….thn
3) Jumlah Pernikahan ; Suami……kali; Istri…thn
k. Daftar anggota keluarga
n nam Hub. L Usi Pendi Agam Pekerjaan Keterangan Riwayat
o a Kel / a dikan a Imunisasi
P
ad Tidak Dasar Lanjutan
a ada
l. Tipe Keluarga
m. Hubungan Antar Keluarga (denah)
2. Sifat Keluarga
a. Pengambil keputusan dalam keluarga
…………………………………………………
3. Kebiasaan Hidup sehari-hari (pola Nutrisi, Hygien, Aktifitas, istirahat, sarana
hiburan keluarga,)……………………………………………
4. Pemanfaatan waktu senggang……………………….
5. Kebiasaan keluarga yang merugikan kesehatan
………………………………………………………
6. Faktor social Budaya yang berpengaruh pada keluarga
…………………………………………………………
7. Faktor rumah dan lingkungan
a. Tempat tinggal
b. Perabotan rumah, transportasi
c. Pengolahan limbah, sampah
d. Sumber air keluarga & cara pemanfaatannya
e. Kepemilikan ternak &keberadaan kandang
f. Halaman rumah
g. Kamar mandi & irigasinya,Eliminasi/Jamban keluarga
8. Riwayat kesehatan material, psikososial spiritual
a. Pemenuhan kebutuhan jiwa
b. Pemenuhan status social
c. Riwayat kesehatan material keluarga
d. Gangguan material pada keluarga
e. Keberadaan Penampilan tingkah laku keluarga yang menonjol
f. Riwayat spiritual anggota keluarga
g. Kesadaran keluarga tentang kesehatan keluarga
h. Respon keluarga terhadap petugas kesehatan
i. Kepemilikan dana sehat/JKN dalam keluarga
9. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA (dalam 1 tahun/5 tahun)
1. Riwayat kesehatan anggota keluarga
N Na Us L Penyakit Kond Pengob
o ma ia / yang isi atan
P sedang/pe saat Yang
rnah ini Dilakuk
diderita, an
kapan?

2. Kebiasaan memeriksakan diri


3. Kesehatan Ibu dan Anak
a. Riwayat kehamilan, persalinan, & Nifas yang lalu
b. Keberadaan Ibu hamil
1) Nama : ……………………...
2) Umur : ……………………...
3) Riwayat Kehamilan, Persalinan & Nifas Yang Lalu
…………………………………………...
4) Riwayat Kehamilan Sekarang
G…..P….A…, HPHT….., Tafsiran
Persalinan……,TD……,Suhu……, Nadi……,RR……,
Lila……,BB Lalu…..,BB Saat Ini….,Tinggi Badan
Observasi/Konfirmasi Anemia…….,TFU….., Edema……,Catatan
Pemeriksaan Lab Hb……..%gr, Protein Urin…….Keluhan saat
Ini…………………………………...
5) Pemeriksaan Kehamilan
 Dilakukan, Dimana………., Oleh Siapa……, Berapa
Kali………Kapan terakhir Periksa…….., Therapi yang telah
diberikan……………………….
 Tidak Dilakukan, Alasan…………….
6) Konsumsi Obat-Obatan , Jamu dll)
 Ya, Sebutkan………..Dan Cara mengkonsumsinya
…………………..
 Tidak
7) Pantangan/anjuran/Kepercayaan/Kebiasaan yang dilakukan selama
kehamilan
8) Pernahkah mendapatkan informasi seputar kehamilan
 Pernah, sumber info………………….
Antara lain mengenai info…………...
 Tidak Pernah
9) Apakah ibu mengetahui tanda-tanda bahaya pada kehamilan, dan
adakah keluhan? Perdarahan Pervaginam; Pusing Berkepanjangan:
Nyeri perut bagian atau ulu hati; gerakan janin <10 dalam 24 jam;
Pandangan Kabur; Bengkak pada muka atau tangan
 Ibu Tau Jika Mampu menyebutkan >4 tanda tsb
 Kurang jika Hanya mampu menyebutkan <4 tanda tsb
 Tidak mengetahui
10) Apakah kehamilan direncanakan, YA/TIDAK
11) Perencanaan Persalinan
 Rencana Pertolongan Persalinan
Tenaga Kesehatan, Siapa…………….
Non Kesehatan, Siapa……………….
Belum Tahu, Alasan…………………
 Persiapan Tehnis (Dana, Transportasi, dll(jika kondisi tidak
diinginkan terjadi))
Sudah Dilakukan, Sebutkan
persiapannya…………………………
Belum DIlakukan, Alasannya
….........................................................
 Golongan Darah
Tahu, Apa jenisnya………., Siapa saja yang sama dengan
golongan darah ibu…………………
Tidak Tahu, Alasannya…………….
12) Kepemilikan Buku KIA
 YA terisi Lengkap…………………………
Terisi Tidak Lengkap………………...……
Tidak Terisi, Alasan………………………..
 Tidak Memiliki
Hilang, tetapi memiliki cadangan.
Hilang, tetapi tidak memiliki cadangan
Merasa Tidak perlu
Tidak diberi petugas
 Penyimpanan
- Disimpan sendiri oleh ibu
- Disimpan Petugas,Oleh siapa……………Dimana
menyimpan…..…………..
c. Ibu nifas (sampai 40 hari)
Tanggal :…………………………..…..
Nama :………………...…………….
Umur :……………………………....
1) Nifas Hari Ke :………………………
2) Jenis Persalinan :………………………
3) Penolong Persaliban :………………
4) Keluhan selama Nifas, Sebutkan:………………………………...
5) Pemeriksaan Fisik
TD…...mmhg, Nadi………., RR………., Suhu………,
TFU…………., Kontraksi………..Kandung Kemih………….,
Payudara………….., Lochea…………. Kondisi Luka
Jahitan…………….
6) Apakah Ibu mengetahui tanda Bahaya pada masa Nifas, dan
adakah keluhan?
Sakit Kepala yang hebat; Payudara bengkak; Perdarahan yang
banyak; Pandangan Mata Kabur; Oedema pada muka tangan dan
kaki; Demam;
 Ibu Tau Jika Mampu menyebutkan >4 tanda tsb
 Kurang jika Hanya mampu menyebutkan <4 tanda tsb
Tidak mengetahui
7) Apakah ibu memeriksakan diri selama masa nifas/ dikunjungi oleh
tenaga kesehatan
 Ya, Berapa Kali………….., Dimana……………., Kapan
Pemeriksaan terakhir…………, Oleh
siapa………………………………….
 Tidak, Alasannya…………………….
8) Konsumsi Obat-Obatan , Jamu dll
 Ya, Sebutkan………..Dan Cara mengkonsumsinya
…………………..
 Tidak
9) PAntangan/Anjuran/Kebiasaan/Kepercayaan yang dilakukan pada
masa Nifas
10) Rencana Penggunaan Kontrasepsi
 Sudah, JEnis Apa…………..Dimana dipasang…………Oleh
siapa………………..…………..……
 Belum, alasan…….….………………
 Tidak mau menggunakan, alasan……………………………….
11) Apakah Ibu menyusui
 YA…………….Rencana Sampai kapan ASI
Diberikan…………….
 Tidak, Alasannya…………...……
d. Keberadaan Bayi (0-12 Bulan)
1) Nama BAyi :…………………...….
Umur :…………………...….
Jenis Kelamin :…………………...….
BB/PB saat ini :…………………...….
2) Usia Kehamilan saat kelahiran bayi :……
3) Berat Badan Bayi saat Lahir :…...………
4) Kunjungan Keposyandu
 Ya, Dimana…………………….berapa kali…………..Kapan
Kunjungan terakhir……………………………...
 Belum pernah, alasan……………….
5) Kepemilikan KMS/Buku KIA
 YA, terisi Lengkap
Terisi Tidak Lengkap alasanya…………….……………
Tidak Terisi, Alasan……………..
 Tidak Memiliki
Hilang, tetapi memiliki cadangan.
Hilang, tetapi tidak memiliki cadangan
Merasa Tidak perlu
Tidak diberi petugas
 Penyimpanan
Disimpan sendiri oleh ibu
Disimpan Petugas………………..…Oleh
siapa……………….…..Dimana menyimpan…………..
…………..

6) Pemberian Vitamin A
 YA, Pada usia……………………
 Tidak, Alasannya………………..
7) Keadaan Gizi menurut KMS (Cek KMS Langsung)
8) Status Imunisasi Bayi
No Jenis Imunisasi Sudah/ Tgl Tempat Keterangan
Belum KMS/Penga
kuan Orang
Tua
Hepatitis 0
BCG
Polio 1
Polio 2
Polio 3
Polio 4
DPT 1
DPT 2
DPT 3
Campak
Hepatitis 1
Hepatitis 2
Hepatitis 3
9) Bayi Diberi ASI Saja
YA, Usia diberikan hingga……………....
Tidak Alasannya…………………………
10) Apakah bayi mengkonsumsi MP-ASI
YA, Usia pemberian < 6 bulan/>6 bulan
Tidak alasannya………………………….
Macam MP-ASI yang diberikan
Sebutkan…………………………………
11) PEnanganan Bayi Sakit
 Diatasi oleh Tenaga Kesehatan, Siapa…………
Dimana………….
 Non NAkes, Sebutkan
siapa……………..Alasannya………………………………
………...

e. Keberadaan Balita
1) Nama Balita :………………………
Umur Balita : ……………………...
Jenis Kelamin : ……………………...
BB/PB saat Ini : ……………………...
2) Kunjungan Keposyandu
 Ya, Dimana………….…………….berapa
kali………………..Kapan Kunjungan
terakhir………………………..…….
 Belum pernah, alasan…………..……
3) Kepemilikan KMS/Buku KIA
 YA, terisi Lengkap…………...…………………
Terisi Tidak Lengkap………………………...……
Tidak Terisi, Alasan………………………………..
 Tidak Memiliki
Hilang, tetapi memiliki cadangan.
Hilang, tetapi tidak memiliki cadangan
Merasa Tidak perlu
Tidak diberi petugas
 Penyimpanan
Disimpan sendiri oleh ibu
Disimpan Petugas………………Oleh
siapa…………………………Dimana
menyimpan…………………………..
4) PEmberian Vitamin A
 YA, Pada usia…………….Berapa
Kali………………………………
 Tidak, Alasannya………………..
5) Keadaan Gizi menurut KMS
…………………………………………...
6) Status Imunisasi Saat Ini
N Jenis Sud Ta Te Keter
o Imunisas ah/ ng mpa angan
i Bel gal t KMS/
um Penga
kuan
Oran
g Tua
DASAR
Hepatitis
0
BCG
Polio 1
Polio 2
Polio 3
Polio 4
DPT 1
DPT 2
DPT 3
CAmpak
Hepatitis
1
Hepatitis
2
Hepatitis
3
LANJU
TAN

7) Riwayat Pemberian ASI Eksklusif


 Diberikan
 Tidak, Alasannya……..………….
8) Usia Pemberian MP ASI
 < 6 Bulan
 > 6 Bulan
9) Jenis makanan yang paling sering diberikan
 Makanan Instan Buatan Pabrik,
sebutkan…………………….……
 Makanan Buatan Ruah, sebutkan…………………….……
10) Penangan Balita Sakit
 Diatasi oleh Tenaga Kesehatan, Siapa…………
Dimana………….
 Non NAkes, Sebutkan siapa……………..Alasannya……
f. Keberadaan Remaja Putri (10-19 tahun) Yang belum Menikah
1) Nama :………………………………
Usia :………………………………
Pendidikan Terakhir :………………
2) Kebiasaan remaja putri yang berhubungan dengan kesehatan
reproduksi
 Merugikan seperti Seks Bebas/Masturbasi/ tidak menjaga
kebersihan genetalia
 Tidak merugikan
3) Apakah sudah haid
 Belum haid
 Sudah Haid
Sejak usia ……………………….
Ada gangguan haid, YA/TIDAK,
Sebutkan…………………………
Berapakali anda mengganti pembalut dalam sehari
…………………………………...
4) Apa yang diketahui tentang organ reproduksi
 Tahu, Jelaskan…………………..
Sumber informasi……….………
 Tidak tahu
5) Adakah keluhan disekitar reproduksi internal dan eksternal
 Ada, sebutkan………………….
 Tidak ada
6) Dengan siapa anda berkonsultasi jika ada keluhan reproduksi
 NAkes/KEluarga/Orang lain/Tidak konsultasi,
alasanya………………….
…………………………………..……….
7) Apa yang anda ketahui tentang pengertian kesehatan reproduksi
 Tahu, Jelaskan…………………….……Sumber
informasi………………..
 Tidak Tahu
8) Pernahkah mendengar tentang Penyakit Menular Seksual/PEnyakit
Kelamin
 Tahu, Jelaskan………………………….Sumber
informasi………………..
 Tidak Tahu
9) Bagaimana pendapat tentang hamil dimasa remaja
 Setuju, Alasan……………………
 Tidak setuju, Alasan………..……
 Tidak Tahu
10) Apakah anda tahu tentang NAPZA
 Tahu, Jelaskan………….………………Sumber
informasi………………..
 Tidak Tahu
11) Apakah melakukan kebiasaan yang merugikan bagi kesehatan
 YA, Merokok/minum alcohol/Narkoba
 TIDAK
g. PUS/Pasangan Usia Subur (Yang sudah menikah)
1) Nama : ……………………………...
Usia : ……………………………...
2) Apakah BerKB
 Ya, Jenisnya…………………………Berapa
Lama……………Tempat
Pemasangan……………………...
 Tidak, Alasannya……….……………….
3) Apakah ada keluhan dalam menggunakan alat kontrasepsi
 YA, Sebutkan
 TIDAK
4) Apakah sebulumnya pernah menggunakan alat kontrasepsi lain
 YA, Jenis KB…………….Berapa Lama…………………
 Tidak
5) Apakah Anda mengetahui jenis-jenis kontrasepsi lainnya
 Ya, sebutkan…….……………….
 Tidak
6) Dimanakah Anda mendapatkan pelayanan KB
 Tenaga Kesehatan: Dokter/Bidan/Mantri (perawat)
 Non Nakes: Beli diwarung/Kader/APOTEK Tanpa
pengarahan darai Nakes
7) Apakah alasan menggunakan kontrasepsi
 Menunda kehamila
 Menjarangkan kehamilan
 Menghentikan kehamilan
8) Apakah anda berkeinginan mengganti KB yang anda gunakan saat
ini
 YA, Alasannya.………….…….
 TIDAK Alasannya……...………..
h. Keberadaan Lanjut Usia/LANSIA (Menopouse-andropouse)
1) Nama
Usia
Jenis Kelamin
2) Pemeriksaan Kesehatan lansia
 YA, Dimana………………….Oleh
siapa………………………..…….
 Tidak pernah, Alasannya………………………..
3) Apakah anda pernah mengalami gejala sebagai berikut:
 Pusing, atau sakit kepala sejak
kapan…………………………….
 Gangguan haid, sejak kapan…………………………….
 Perasaan panas atau berkeringat dimalam hari sejak
kapan…………………………….
 Sulit tidur sejak kapan…………………………….
 Gairah seksual menurun sejak
kapan…………………………….
 Pengecilan orga-organ seks dan rontoknya rambut disekitar
kemaluan atau ketiak…………………………….
 Vagina terasa kering, sejak
kapan…………………………….
 Nyeri Pinggang, sejak kapan…………………………….
 Sukar menahan buang air kescil, sejak
kapan………………………
 Mudah lelah sejak kapan…………………………….
 Emosi tidak stabil, sejak kapan…………………………….
 Apakah lansia sudah menopause, sejak
kapan………………………
4) Apakah mengidap penyakit tertentu
 Ya, sebutkan……………………..
 Tidak
5) Bagaimana kebutuhan pemenuhan kebutuhan sehari-hari
 Mandiri (masih bekerja, sbg wirausaha, beternak,
pensiunan)
 Tidak bekerja
6) Perilaku/kebiasaan seharihari yang merugikan bagi kesehatan
lansia
 Ada, Sebutkan…………………………
 Tidak Ada
7) Apakah anda tahu keberadaan posyandu Lansia diwilayah anda
 YA, Dimana……………………..
 Tidak Tahu, Alasannya………………………..
8) Apakah anda mengunjungi posyandu lansia
 YA, Frekuensi Kunjungan: Teratur/Tidak Teratur
 TIDAK alasannya………………………
10. Persepsi & tanggapan keluarga terhadap suatu masalah kesehatan
11. Kematian Anggota Keluarga Dalam 1 tahun/5 tahun terakhir
No Nama Usia L/P Penyebab Bulan/Tahun
Kematian

12. Peran Serta Masyarakat


a. Nama Desa
b. Apakah mengetahui tentang bentuk peran serta msayarakat diwilayah
tersebut?
 YA, Sebutkan Jenisnya:
- Pelayanan kesehatan……………………..
- Keamanan………………………………..
- Kebersihan lingkungan…………………..
- Pembangunan Wilayah…………………..
 Tidak MEngetahui
c. Apakah mengetahui Bentuk pelayanan kesehatan diwilayah tersebut
 YA, Sebutkan………………………………..
 Tidak Tahu
d. Apakah mengetahui tentang desa siaga
 Ya, sebutkan Polindes, Tabulin, Dasolin, Ambulan desa, Bank Darah,
Dasa Wisma, Posyandu, suami siaga dll,
 Apakah mengikuti; YA/TIDAK
 Tidak mengetahui, alasannya…………...………………………..
e. Golongan Mana yang lebih berperan serta dalam kegiatan tersebut : Anak-
anak, REmaja, Dewasa, Lansia (Lingkari)
f. Apakah pendapat KK terhadap desa siaga tersebut
 Perlu, Alasannya………………………..……
 Tidak Perlu, alasannya………………………
g. Adakah kendala dalam pelaksanaan desa siaga tersebut, jika ada
sebutkan………………………
h. Apakah perlu dibentuk program desa siaga diwilayah ini,
 Ya, alsanya………………………
 Tidak. Alasannya………………..
 Tidak Tahu………………………

B. ASSESMENT/DIAGNOSE MASALAH
1. pernyataan masalah kesehatan
2. identifikasi penyebab masalah kesehatan
3. Penentuan skala prioritas masalah kesehatan
C. PERENCANAAN
D. IMPLEMENTASI
E. EVALUASI

Lampiran 17 Format Pengkajian Masyarakat Desa


FORMAT PENGKAJIAN
ANALISIS SITUASI KESEHATAN IBU DAN ANAK MASYARAKAT DESA “….” Di….
A. KEMATIAN
Tiga Penyebab Utama 1. ………………
Kematian Penduduk 2. ………………
3. ………………
Jumlah kematian ibu ………………….. ibu
karena hamil, melahirkan
dan keguguran
Ringkasan Riwayat salah satu kasus kematian ibu (jika ada)

Jumlah Kematian Bayi ……………………Bayi


Tiga penyebab Utama 1. ………………
Kematian Bayi 2. ………………
3. ………………
B. KESAKITAN
Tiga penyakit terbanyak 1. ………………
yang diderita penduduk 2. ………………
3. ………………
Jumlah ibu hamil dengan …………………..ibu
komplikasi yang dirujuk ke
rumah sakit
Penyebab komplikasi …………………………………
…………………………………
…………………………………
…………………………………
………….
Jumlah ibu bersalin …………………..ibu
Ringkasan riwayat salah
satu satu kasus ibu hamil
dengan komplikasi yang di
rujuk ke rumah sakit
Tiga penyakit yang paling 1. …………………………..
banyak diderita oleh bayi 2. …………………………..
dan anak 3. …………………………..
C. STATUS GIZI
Jumlah BAyi lahir
Jumlah bayi yang lahir
dibawah 2500gr
Jumlah ibu hamil
Jumlah ibu hamil yang
anemia (Hb <10 g%)
Kepemilikan Buku KIA
Ibu Hamil dengan KEK

DATA DEMOGRAFI
A. KEPENDUDUKAN
1. Jumlah Penduduk ………………………..Orang
desa/RW/RT
a. Jumlah laki-laki ………………………..Orang
b. Jumlah perempuan ………………………..Orang
2. Jumlah penduduk Laki-laki Perempuan
menurut kelompok umur
a. Bayi (<1 th)
b. Balita (1-4th)
c. Anak (5-18 th)
d. Usia Reproduksi
(>18th-49 th)
e. LAnsia (>50 th)
f. Jumlah Kepala …………………………KK
keluarga
B. PENDIDIKAN
Penduduk menurut Laki-laki Perempuan
Pendidikan
1. Tidak Pernah
sekolah
2. Tamat SD/Sederajat
3. Tidak Tamat SD
4. SMP/Sederajat
5. Tidak tamat SMP
6. SMA/sederajat
7. Tidak Tamat SMA
8. PT/Akademisi/DI/DI
II
C. SOSIO EKONOMI
1. Tiga pencarian 1. ………………………
terbanyak 2………………………..
3. ……………………….
2. Jumlah keluarga …………………………KK
miskin
3. Rata-rata usia Laki-laki………………….Tahun
menikah pertama Perempuan ……………….Tahun
kali
4. Kepemilikan
Transportasi
D. KELAHIRAN & KEMATIAN
1. ……………………………..
2. ……………………………..
A. KESEHATAN LINGKUNGAN
Kesesuaian rumah dengan
jumlah anggota
Lantai rumah apakah dari
tanah
Keterjangkauan terhadap
layanan kesehatan
Akses Air
Minum/ketersediaan air
bersih
Jarak Sumber air minum <10M…..KK
dengan tempat >10M…..KK
penampungan Tinja
Fasilitas Buang Air Besar Mandiri……KK
Bersama……KK
Tidak Ada….KK
Keberadaan jaminan ………….KK
kesehatan
Sarana dan fasilitas
kesehatan yang ada dan
sering digunakan

PHBS
Pertolongan Persalinan Dukun :............KK
Nakes : (Bidan,Perawat, dr)……
KK
Rencana Lama menyusui < 2 th :…………………
anak Riwayat menyusui Hingga 2 th:……………
anak bila anak pd keluarga
tsb telah balita
Bila ada ibu menyusui, dijadwal / Tidak tahu……………..
cara / kapan menyusui
yaitu : setiap bayi haus / menangis……….
Pada ibu menyusui berapa < 6 bulan………………..
lama pemberian Asi >/= 6 bulan……………..
Ekslusif
Keluarga memiliki jaminan Ada……………KK
pemeliharaan kesehatan
(Askes, Jamkesda, Tidak memiliki………KK
Jamkesmas, Jamsostek,
asuransi kesehatan lainya)
anggota keluarga yang Ada……………..KK
merokok Tidak ada ………KK
Kebiasaan olah raga Ya………….]
Tidak……….
Keluarga setiap hari YA…………..
makan dengan sayur Tidak………..
Keluarga mengkonsumsi YA…………..
buah-buahan Tidak………..
Cuci tangan pakai sabun YA…………..
sebelum makan Tidak………..
Air minum Tidak di masak……………..
Dimasak………………..
Sumber air minum Tidak punya………………………
Sumur, Air mineral………………
Kondisi Air Keruh
. Jernih
Air Berbau Berbau
Tidak berbau
Penyediaan kakus
Jarak resapan WC ke < 10 m
sumur > 10 m
Keberadaan Jentik
Pembuangan Sungai
Resapan

Tugas Bagi kalian untuk Topik ini


1. Membagi mahasiswa dalam kelompok
2. Meminta mahasiswa melakukan Identifikasi masalah-masalah kebidanan komunitas
Ditulis dilembar berikutnya
menggunakan format pengkajian
3. Mahasiswa melakukan Proses pemecahan masalah menggunakan metode problem
solving melalui langkah identifikasi masalah, prioritas masalah, identifikasi penyebab
masalah, analisis Solusi masalah
4. Mahasiswa membuat laporan, dan melampirkan jurnal
5. Melakukan presentasi
SELAMAT BEKERJA!!!
KEGIATAN BELAJAR 3

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB


BIDAN DI KOMUNITAS

1. Tugas utama bidan di komunitas


a. Pelaksana asuhan atau pelayanan kebidanan.
Melaksanakan asuhan kebidanan dengan standar profesional.
Melaksanakan asuhan kebidanan ibu hamil normal dengan komplikasi,
patologis dan resiko tinggi dengan melibatkan klien/keluarga.
Melaksanakan asuhan ibu bersalin normal dengan komplikasi, patologis
dan resiko tinggi dengan melibatkan klien/keluarga.
Melaksanakan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir normal dengan
komplikasi, patologis dan resiko tinggi dengan melibatkan klien/keluarga.
Melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu nifas dan menyusui normal
dengan komplikasi, patologis dan resiko tinggi dengan melibatkan
klien/keluarga.
Melaksanakan asuhan kebidanan pada bayi dan balita dengan melibatkan
klien/keluarga.
Melaksanakan asuhan kebidanan pada wanita atau ibu dengan gangguan
sistem reproduksi dengan melibatkan klien/keluarga.
Melaksanakan asuhan kebidanan komunitas melibatkan klien/keluarga.
Melaksanakan pelayanan keluarga berencana melibatkan klien/keluarga.
Melaksanakan pendidikan kesehatan di dalam pelayanan kebidanan.
b. Pengelola pelayanan KIA/KB.
Mengembangkan pelayanan kesehatan masyarakat terutama pelayanan
kebidanan untuk individu, keluarga, kelompok khusus dan masyarakat
diwilayah kerjanya dengan melibatkan keluarga dan masyarakat.
Berpartisipasi dalam tim untuk melaksanakan program kesehatan dan
program sektor lain diwilayah kerjanya melalui peningkatan kemampuan
dukun bayi, kader kesehatan, dan tenaga kesehatan lain yang berada
diwilayah kerjanya.
c. Pendidikan klien, keluarga, masyarakat dan tenaga kesehatan.
Melaksanakan bimbingan/penyuluhan, pendidikan pada klien,
masyarakat dan tenaga kesehatan termasuk siswa bidan/keperawatan, kader,
dan dukun bayi yang berhubungan dengan KIA/KB.
d. Penelitian dalam asuhan kebidanan.
Melaksanakan penelitian secara mandiri atau bekerjasama secara
kolaboratif dalam tim penelitian tentang askeb.
2. Tugas tambahan bidan di komunitas
Upaya perbaikan kesehatan lingkungan.
Mengelola dan memberikan obat – obatan sederhana sesuai dengan
kewenangannya.
Survailance penyakit yang timbul di masyarakat.
Menggunakan tehnologi tepat guna kebidanan
3. Bidan praktik Mandiri
Praktek pelayanan bidan perorangan (swasta), merupakan penyedia layanan
kesehatan, yang memiliki kontribusi cukup besar dalam memberikan pelayanan,
khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak. Pihak pemerintah
dalam hal ini Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan organisasi Ikatan Bidan
memiliki kewenangan untuk pengawasan dan pembinaan kepada bidan yang
melaksanakan praktek perlu melaksanakan tugasnya dengan baik. Tarif dari
pelayanan bidan praktek akan lebih baik apabila ada pengaturan yang jelas dan
trasparan, sehingga masyarakat tidak ragu untuk datang ke pelayanan bidan
praktek perorangan (swasta). Kompetensi minimal bidan praktek swasta
meliputi :
1. Ruang lingkup profesi
a. Diagnostik (klinik, laboratorik)
b. Terapy (promotif, preventif)
Merujuk
Kemampuan komunikasi interpersonal
2. Mutu pelayanan
Pemeriksaan seefisien mungkin
Internal review
Pelayanan sesuai standar pelayanan kebidanan dan etika profesi
Humanis (tidak diskriminatif)
3. Kemitraan
Sejawat/kolaborasi
Dokter, perawat, petugas kesehatan yang lain, psikolog, sosiolog
Pasien, komunitas
4. Manajemen
Waktu
Alat
Informasi/MR
Obat
Jasa
Administrasi/regulasi/Undang-Undang
5. Pengembangan diri
CME (Continue Midwifery Education)
Information Search

TUGAS
TUGAS
Apa
Apasaja
sajatugas
tugasbidan
bidansebagai
sebagaiPelaksana
Pelaksanaasuhan
asuhanatau
ataupelayanan
pelayanankebidanan?
kebidanan?
Apa
Apasaja
sajatugas
tugasbidan
bidansebagai
sebagaiPengelola
Pengelolapelayanan
pelayananKIA/KB.
KIA/KB.
Apa
Apa saja tugas bidan sebagai Pendidik klien, keluarga,masyarakat
saja tugas bidan sebagai Pendidik klien, keluarga, masyarakatdan
dan
tenaga
tenagakesehatan.
kesehatan.
Apa saja tugas tambahan bidan di komunitas?
Apa saja tugas tambahan bidan di komunitas?
Apa
Apasaja
sajaKompetensi
Kompetensiminimal
minimalbidan
bidanpraktek
praktekswasta?
swasta?

KEGIATAN BELAJAR 4

ASPEK PERLINDUNGAN HUKUM


BAGI BIDAN DI KOMUNITAS

1. Standar pelayanan kebidanan


A. Standar I (Falsafah dan Tujuan)
Pengelolaan pelayanan kebidanan memiliki visi, misi, filosofi, dan
tujuan pelayanan serta organisasi pelayanan sebagai dasar untuk melaksanakan
tugas pelayanan yang efektif da efisien.
Definisi operasional
a. Pengelola pelayanan kebidanan memiliki visi misi dan filosopi pelayanan
kebidanan yang mengacu pada visi, misi dan filosopi masing-masing.
b. Ada bagian struktur organisasi yang menggambarkan garis komando,
fungsi, dan tanggung jawab serta kewenangan dalam pelayanan kebidanan
dan hubungan dengan unit lain dan disahkan oleh pemimpin.
c. Ada uraian tertulis untuk setiap tenaga yang ada pada organisasi yang
disahkan oleh pemimpin.
d. Ada bukti tertulis tentang persyaratan tenaga kerja menduduki jabatan
pada organisasi yang disahkan oleh pimpinan.
B. Standar II (Administrasi dan Pengelolaan)
Pengelolaan pelayanan kebidanan memiliki pedoman pengelolaan
pelayanan, standar pelayanan, prosedur tetap, dan pelaksanaan kegiatan
pengelolaan yang kondusif yang memungkinkan terjadinya peraktik pelayanan
kebidanan akurat.
Definisi operasional
a. Ada pedoman pengelola pelayanan yang mencerminkan mekanisme kerja
di unit pelayanan tersebut yang disahkan oleh pemimpin.
b. Ada standar pelayanan yang dibuat mengacu pada standar ketenangan
yang telah disahkan oleh pimpinan.
c. Ada prosedur tetap untuk setiap jenis kegiatan/tindakan kebidanan yang
disahkan oleh pimpinan.
d. Ada rencana/program kerja di setiap institusi pengelolaan yang mengacu
pada institusi induk.
e. Ada bukti tertulis terselenggaranya pertemuan berkala secara teratur
dilengkapi dengan daftar hadir dan notulen rapat.
f. Ada naskah kerjasama, program praktik dari institusi yang menggunakan
latihan praktik, program, pengajaran klinik, dan penilaian klinik. Ada bukti
administrasi yang meliputi buku registrasi.
C. Standar III (Staf dan Pimpinan)
Pengelolaan pelayanan kebidanan memiliki program pengelolaan
sumber daya manusia (SDM) agar pelayanan kebidanan berjalan efektif dan
efisien.
Definisi operasional
a. Ada program kebutuhan SDM sesuai dengan kebutuhan.
b. Mempunyai jadwal pengaturan kerja harian.
c. Ada jadwal dinas yang menggambarkan kemampuan tiap-tiap perunit yang
memduduki tanggung jawab dan kemampuan bidan.
d. Ada seorang bidan pengganti dengan peran dan fungsi yang jelas dan
kualifikasi minimal selaku kepala ruangan jika kepala ruangan
berhalangan hadir.
e. Ada data personil yang bertugas di ruangan tersebut.
D. Standar IV (Fasilitas dan Peralatan)
a. Tersedia peralatan yang sesuai dengan standar dan ada mekanisme
keterlibatan bidan dalam perencanaan dan pengembangan sarana dan
prasarana.
b. Ada buku inventaris peralatan yang mencerminkan jumlah barang dan
kualitasn barang.
c. Ada pelatihan khusus untuk bidan tentang penggunaan alat tertentu.
d. Ada prosedur permintaan dan penghapusan alat.
E. Standar V (Kebijaksanaan dan Prosedur)
a. Ada kebijaksanaan tertulis tentang prosedur pelayanan dan standar
pelayanan yang disaahkan oleh pimpinan.
b. Ada prossedur personalia: penerimaan pegawai kontak kerja, hak dan
kewajiban personalia.
c. Ada personalia pengajuan cuti pegawai, istirahat, sakit, dan lain-lain.
d. Ada prosedur pembinaan pegawai.
F. Standar VI (Pengembangan Staf dan Program Pendidikan)
a. Ada progrm pembinaan staf dan program pendidikan secara
berkesinambungan.
b. Ada program pelatihan dan orientasi bagi tenaga bidan/pegawai baru dan
lama agar dapat beradaptasi dengan pekerjaan.
c. Ada data hasil identifikasi kebutuhan pelatihan dan evaluasi hasil
pelatihan.
G. Standar VII (Standar Asuhan)
a. Ada standar manajemen kebidanan (SMK) sebagai pedoman dalam
memberi pelayanan kebidanan
b. Ada format manajemen kebidanan yang terdaftar pada catatan medik.
c. Ada pengkajian asuhan kebidanan bagi setiap klien.
d. Ada diagnosis kebidanan.
e. Ada rencana asuhan kebidanan
f. Ada dokumentasi tertulis tentang tindakan kebidanan.
g. Ada evaluasi dalam memberi asuhan kebidanan.
h. Ada dokumentasi untuk kegiatan manajemen kebidanan.
i. Ada program pelatihan dan orientasi bagi tenaga bidan/pegawai baru dan
lama agar dapat beradaptasi dengan pekerjaan.
H. Standar VIII (Evaluasi dan Pengendalian Mutu)
a. Ada program atau rencana terulis peningkatan mutu pelayanan kebidanan
b. Ada program atau rencana terulis untuk melakukan penilaian terhadap
standar pelayanan kebidanan
c. Ada bukti tertulis dari risalah rapat sebagai hasil dari
kegiatan/pengendalian mutu asuhan dan pelayanan kebidanan.
d. Ada bukti tertulis tentang pelaksanaan evaluasi pelayanan dan rencana
tindak lanjut.
e. Ada laporan hasil evaluasi yang dipublikasikan secara teratur kepada
semua staf pelayanan kebidanan.

2. Kode etik bidan


Kode etik merupakan suatu ciri profesi yang bersumber dari nilai-nilai
internal dan eksternal suatu disiplin ilmu dan merupakan pernyataan komprehensif
suatu profesi yang bertuntutan bagi anggota dalam melaksanakan pengabdian
profesi. Kode etik Bidan pertama kali disusun pada tahun 1986 dan disahkan
dalam kongres nasional IBI X tahun 1988. Secara umum, kode etik tersebut
berisis 7 BAB. Bab-bab tersebut dapat dibedakan 7 bagian, yaitu sebagai berikut.
1. Kewajiban bidan terhadap klien dan masyarakat.
 Setiap Bidan senantiasa menjunjung tinggi,menghayati dan mengamalkan
sumpah jabatannya dalam melaksanakan tugas pengabdiannya.
 Setiap Bidan dalam menjalankan tugas profesinya menjunjung tinggi
harkat dan martabat kemanusiaan yang utuh dan memelihara citra Bidan
 Setiap Bidan dalam menjalankan tugas nya senantiasa berpedoman pada
peran, tugas, tanggung jawab sesuai dengan kebutuhan klien, keluarga, dan
masyarakat.
 Setiap Bidan dalam menjalankan tugasnya mendahulukan kepentingan
klien, menghormatkan nilai-nilai yang berlaku dimasyarakat.
 Setiap Bidan dalam menjalankan tugas senantiasa mendahulukan
kepentingan klien,keluarga dan masyarakat dengan identitas yang sama
sesuai dengan kebutuhan berdasarkan kemampuan yang dimilikinya.
 Setiap Bidan senantiasa menciptakan suasana yang serasi dalam hubungan
pelaksanaan tugas,dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk
meningkatkan derajat kesehatannya secara optimal.
2. Kewajiban bidan terhadap tugasnya
 Setiap Bidan senantiasa memberikan pelayanan paripurna kepada klien,
keluarga masyarakat sesuai dengan kemampuan profesi yang dimilikinya
berdasarkan kebutuhan klien,keluarga dan masyarakat.
 Setiap Bidan berhak memberikan pertolongan dan mempunyai
kewenangan dalam tugasnya termasuk keputusan mengadakan konsultasi
dan rujukan.
 Setiap Bidan harus menjamin kerahasiaan keterangan yang dapat dan
dipercayakan kepadanya,kecuali bila diminta oleh pengadilan atau
diperlukan sehubungan dengan kepentingan klien.
3. Kewajiban bidan terhadap sejawat dan tenaga kesehatan lainnya
 Setiap bidan harus menjalin hubungan yang baik dengan teman sejawatnya
untuk menciptakan suasana yang serasih
 Setiap Bidan dalam melaksanakan tugas nya harus saling menghormati
baik terhadap sejawatnya maupun tenaga kesehatan lainnya.
4. Kewajiban bidan terhadap profesinya
 Setiap bidan harus senantiasa mengembangkan diri dan meningkatkan
kemampuan profesinya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi
 Setiap bidan senantiasa berperan serta dalam kegiatan penelitian dan
kegiatan sejenisnya yang dapat meningkatkan mutu dan citra profesiny
5. Kewajiban bidan terhadap diri sendiri
 Setiap bidan harus memelihara kesehatanya agar dapat melaksanakan
tugas profesinya dengan baik
 Setiap bidan berusaha untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi
6. Kewajiban bidan terhadap pemerintah, bangsa, dan tanah air
 Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya,senantiasa melaksanakan
ketentuan-ketentuan pemerintah dalam bidang kesehatan khususnya dalam
pelayanan KIA/KB dan kesehatan keluarga
 Setiap bidan melalui profesinya berpartisipasi dan menyumbangkan
pemikirannya kepada pemerintah untuk meningkatkan mutu jangkaun
pelayanan kesehatan terutama pelayanan KIA/KB dan kesehatan keluarga
7. Penutup
Setiap bidan dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari senantiasa
menghayati dan mengamalkan kode etik bidan Indonesia
3. Standar asuhan kebidanan
Standar asuhan kebidanan sangat penting di dalam menentukan apakah
seorang bidan telah melanggar kewajibannya dalam menjalankan tugas
profesinya.
Adapun standar asuhan kebidanan terdiri dari :

Standar I : Metode Asuhan


Merupakan asuhan kebidanan yang dilaksanakan dengan metode manajemen
kebidanan dengan tujuh langkah, yaitu : pengumpulan data, analisa data,
penentuan diagnosa, perencanaan,pelaksanaan, evaluasi dan dokumentasi.
Standar II : Pengkajian
Pengumpulan data mengenai status kesehatan klien yang dilakukan secara
sistematis dan berkesinambungan. Data yang diperoleh dicatat dan dianalisis.
Standard III : Diagnosa Kebidanan
Diagnosa Kebidanan dirumuskan dengan padat, jelas dan sistematis mengarah
pada asuhan kebidanan yang diperlukan oleh klien sesuai dengan wewenang bidan
berdasarkan analisa data yang telah dikumpulkan.
Standar IV : Rencana Asuhan
Rencana asuhan kebidanan dibuat berdasarkan diagnosa kebidanan.
Standar V : Tindakan
Tindakan kebidanan dilaksanakan berdasarkan rencana dan perkembangan
keadaan klien dan dilanjutkan dengan evaluasi keadaan klien.
Standar VI : Partisipasi klien
Tindakan kebidanan dilaksanakan bersama-sama/pertisipasi klien dan keluarga
dalam rangka peningkatan pemeliharaan dan pemulihan kesehatan.
Standar VII : Pengawasan
Monitoring atau pengawasan terhadap klien dilaksanakan secara terus menerus
dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan klien.
Standar VIII : Evaluasi
Evaluasi asuhan kebidanan dilaksanakan secara terus menerus seiring dengan
tindakan kebidanan yang dilaksanakan dan evaluasi dari rencana yang telah
dirumuskan.
Standar IX : Dokumentasi
Asuhan kebidanan didokumentasikan sesuai dengan standar dokumentasi
asuhan kebidanan yang diberikan.
4. Registrasi praktik bidan
Praktek pelayanan bidan perorangan (swasta), merupakan penyedia
layanan kesehatan, yang memiliki kontribusi cukup besar dalam memberikan
pelayanan, khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak.
Supaya masyarakat pengguna jasa layanan bidan memperoleh akses
pelayanan yang bermutu dari pelayanan bidan, perlu adanya regulasi pelayanan
praktek bidan secara jelas, persiapan sebelum bidan melaksanakan pelayanan
praktek, seperti perizinan, tempat, ruangan, peralatan praktek, dan kelengkapan
administrasi semuanya harus sesuai dengan standar1.
Peraturan mengenai registrasi dan praktik bidan dalam Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 900/MENKES/SK/VII/2002 (Revisi dari
Permenkes No.572/MENKES/PER/VI/1996).
Registrasi adalah proses pendaftaran, pendokumentasian dan pengakuan
terhadap bidan, setelah dinyatakan memenuhi minimal kompetensi inti atau
standar tampilan minimal yang ditetapkan.
Bidan yang baru lulus dapat mengajukan permohonan untuk memperoleh
SIB dengan mengirimkan kelengkapan registrasi kepada Kepala Dinas Kesehatan
Propinsi dimana institusi pendidikan berada selambat-lambatnya satu bulan
setelah menerima ijazah bidan. Kelengkapan registrasi meliputi :
 Fotokopi ijazah bidan.
 Fotokopi transkrip nilai akademik.
 Surat keterangan sehat dari dokter.
 Pas foto ukuran 4 x 6 cm sebanyak dua lembar.
Bidan yang menjalankan praktek pada sarana kesehatan atau dan
perorangan harus memiliki SIPB dengan mengajukan permohonan kepada Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat, dengan melampirkan persyaratan
yang meliputi :
 Fotokopi SIB yang masih berlaku.
 Fotokopi iJazah bidan.
 Surat persetujuan atasan, bila dalam pelaksanaan masa bakti atau sebagai
pegawai negeri atau pegawai pada sarana kesehatan.
 Surat keterangan sehat dari dokter.
 Rekomendasi dari organisasi profesi.
 Pas foto 4 x 6 cm sebanyak 2 lembar. SIPB berlaku sepanjang SIB belum
habis masa berlakunya dan dapat diperbaharui kembali.
5. Kewenagan bidan di komunitas
Bidan dalam menjalankan praktiknya di komunitas berwenang untuk
memberikan pelayanan sesuai dengan kompetensi 8 yaitu bidan memberikan
asuhan yang bermutu tinggi dan komprehensif pada keluarga, kelompok dan
masyarakat sesuai dengan budaya setempat.
Wewenang bidan komunitas meliputi:
a. Pengetahuan dasar
 Konsep dasar dan sasaran kebidanan komunitas.
 Masalah kebidanan komunitas.
 Pendekatan asuhan kebidanan komunitas pada keluarga, kelompok dan
masyarakat.
 Strategi pelayanan kebidanan komunitas.
 Upaya peningkatan dan pemeliharaan kesehatan ibu dan anak dalam
keluarga dan masyarakat.
 Faktor – faktor yang mempengaruhi kesehatan ibu dan anak.
 Sistem pelayanan kesehatan ibu dan anak.
b. Pengetahuan tambahan
 Kepemimpinan untuk semua (Kesuma)
 Pemasaran social
 Peran serta masyarakat
 Audit maternal perinatal
 Perilaku kesehatan masyarakat
 Program – program pemerintah yang terkait dengan kesehatan ibu dan
anak
c. Keterampilan dasar
 Melakukan pengelolaan pelayanan ibu hamil, nifas laktasi, bayi, balita dan
KB di masyarakat.
 Mengidentifikasi status kesehatan ibu dan anak.
 Melakukan pertolongan persalinan dirumah dan polindes.
 Melaksanakan penggerakan dan pembinaan peran serta masyarakat untuk
mendukung upaya kesehatan ibu dan anak.
 Melaksanakan penyuluhan dan konseling kesehatan.
 Melakukan pencatatan dan pelaporan
d. Keterampilan tambahan
 Melakukan pemantauan KIA dengan menggunakan PWS KIA.
 Melaksanakan pelatihan dan pembinaan dukun bayi.
 Mengelola dan memberikan obat – obatan sesuai dengan kewenangannya.
 Menggunakan tehnologi tepat guna.

TUGAS
TUGAS
Jelaskan
Jelaskan88standar
standarpelayanan
pelayanankebidanan?
kebidanan?
Jelaskan
Jelaskanapa
apasaja
sajastandar
standarasuhan
asuhankebidanan?
kebidanan?
Apa
Apasaja
sajawewenang
wewenangbidan
bidandidikomunitas?
komunitas?
Apa
Apasaja
sajakewajiban
kewajibanbidan
bidanterhadap
terhadapklien
kliendan
danmasyarakat?
masyarakat?
Apa saja kewajiban bidan terhadap tugasnya?
Apa saja kewajiban bidan terhadap tugasnya?
KEGIATAN BELAJAR 5

STANDAR ASUHAN ANTENATAL,


INTRANATAL, DAN POSTNATAL

1. Asuhan antenatal
a. Standar asuhan kebidanan
Terdapat 6 standar dalam standart pelayanan antenatal seperti berikut ini :
1) Standart 1: identifikasi ibu hamil Pernyataan standart
Bidan melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan
masyarakat secara berkala untuk memberikan penyuluhan dan
memotifasi ibu, suami dan anggota keluarganya agar mendorong ibu
untuk memeriksakan kehamilannya sejak dini dan secara teratur.
2) Standart 2 : pemeriksaan dan pemantauan antenatal
Bidan memberikan 4 kali pelayanan antenatal. Pemeriksaan meliputi
anamnesis dan pemantauan ibu dan janin dengan seksama untuk menilai
apakah kehamilan berlangsung normal. Bidan juga harus mengenAL
KEHAMILAN RESTI / kelainanm, khususnya anemia, kurang gizi,
hipertensi, PMS atau infeksi HIV, memberikan pelayanan imunisasi,
nasehat dan penyuluhan kesehatan serta tugas terkait lainnya yang
diberikan oleh puskesmas. Mereka harus mencatat dta yang tepat pada
setiap kunjungan. Bila ditemukan kelainan, mereka harus mampu
mengambil tindakan yang diperlukan dan merujuknya untuk tindakan
selanjutnya.
3) Standar 3 : palpasi abdominal Pernyataan standar
Bidan melakukan pemerikasaan abdominal secara seksama dan
melakukan palpasi untuk memperkirakan usia kehamilan, serta bila umur
kehamilan bertambah, memeriksa posisi, bagian terendah janin dan
masuknya kepala janin kedalam rongga panggul, untuk mencari kelainan
serta melakukan rujukan tepat waktu.

4) Standar 4 : pengelolaan anemia pada kehamilan


Bidan melakukan tindakan pencegahan, penemuan, penanganan
dan/atau rujukan semua kasus anemi pada kehamilan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
5) Standar 5 : pengelolaan dini hipertensi pada kehamilan
Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan tekanan darah pada
kehamilan dan mengenali tanda serta gejala preeklamsi lainnya, serta
mengambil tindakan yang tepat dan merujuknya.
6) Standar 6 : persiapan persalinan
Bidan memberikan saran yang tepat kepada ibu hamil, suami serta
keluarganya pada trimester ke tiga, untuk memastikan bahwa persiapan
persalinan yang bersih dan aman serta suasana yang menyenangkan akan
direncanakan dengan baik, disamping persiapan transportasi dan biaya
untuk merujuk, bila tiba-tiba terjadi keadaan gawat darurat. Bidan
hendaknya melakukan kunjungan rumah untuk hari ini.
b. Standar alat
1) Peralatan tidak steril
Timbangan BB dan pengukur TB
Tensi meter dan stetoskop
Fundoskop
Thermometer dan alat pengukur
Senter
Reflek hammer
Pita pengukur LILA
Metline
Pengukur HB
Bengkok
Handuk kering
Tabung urine
Lampu spiritus
Reagen untuk pemeriksaan urine
Tempat sampah
Peralatan steril
Bak instrument
Spatel lidah
Sarung tangan
Spuit dan jarum
 Bahan-bahan habis pakai
Kassa bersih
Kapas
Alkohol 70%
Larutan klorin
Formulir yang disediakan
Buku KIA
Kartu status
Formulir rujukan
Buku register
ATK
Kartu penapisan dini
Kohort ibu/bayi
 Obat-obatan
Golongan roborantia (vit B6 dan B kompleks)
Vaksin TT
Kapsul yodium
Obat KB
c. Manajemen ibu antenatal
Kunjungan rumah 1 kali kunjungan selama trimester 1, sebelum minggu ke 14
1 kali kunjungan selama trimester 2, diantara minggu ke 14 sampai minggu ke
28
2 kali kunjungan selama trimester 3, diantara minggu ke 23 sampai dan setelah
minggu ke 36 Kunjungan ideal selama kehamilan
Sedini mungkin, ketika ibu mengatakan terlambat haid
1 kali setiap bulan sampai usia kehamilan 28 minggu
2 kali setiap bulan sampai usia kehami;lan 32 minggu
1 kali setiap minggu sampai usia kehamilan 36 minggu
Pemeriksaan khusus apabila ada keluhan-keluhan
Kehamilan resiko sangat tinggi ( KRST ) Kehamilan dengan resiko ganda atau
lebih dari 2 faktor resiko baik dari ibu ataupun janin, dibutuhkan perawatan
khusus dan adekuat.
2. Asuhan intranatal
a. Standar pelayanan kebidanan
Asuhan Intranatal adalah asuhan atau pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan adalah pelayanan persalinan yang aman yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan kompeten, yaitu dokter spesialis kebidanan, dokter umum dan bidan.
Tenaga kesehatan yang dapat memberikan pertolongan persalinan kepada
masyarakat adalah: dokter spesialis kebidanan, dokter umum dan bidan.
Standar pertolongan persalinan
Asuhan persalinan kala I
Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah mulai, kemudian
memberikan asuhan dan pemantauan yang memadai, dengan memperhatikan
kebutuhan klien, selama proses persalinan berlangsung.
Persalinan kala II yang aman
Bidan melakukan pertolongan persalinan yang aman, dengan sikap
sopan dan penghargaan terhadap klien serta memperhatikan tradisi setempat
Penatalaksaan aktif persalinan kala III
Bidan melakukan penegangan tali pusat dengan benar untuk membantu
pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara lengkap
Penanganan kala II dengan gawat janin melalui episiotomi.
Bidan mengenali secara tepat tanda-tanda gawat janin pada kala II
lama, dan segera melakukan episiotomy dengan aman untuk memperlancar
persalinan diikuti dengan penjahitan perinium
b. Persiapan bidan
Selalu menerapkan upaya pencegahan infeksi diantaranya cuci tangan,
memakai sarung tangan, dan perlengkapan perlindungan pribadi.
Sarung Tangan :Sarung tangan DTT atau steril harus dipakai saat pemeriksaan
dalam, membantu kelahiran bayi, dll.
Perlengkapan Pelindung Pribadi : Mengenakan PPD sangat membantu
penolong terkontaminasi adanya kemungkinan penyakit menular.

c. Persiapan rumah dan lingkungan


Penolong persalinan harus menilai ruangan di mana proses persalinan akan
berlangsung. Ruangan harus memiliki sistem penchayaan, baik melalui jendela,
lampu di langit-langit kamar, maupun sumber cahaya lain. Ruangan harus hangat
dan terhalang dari tiuoan anginsecara langsung. Harus tersedia meja atau
permukaan yang bersih dan mudah dijangkau untuk meletakkan peralatan yang
diperlukan selama persalinan.
Syarat persalinan di rumah :
 Adanya bidan terlatih dlm persalinan
 Bidan dipanggil bilamana ada kontraksi atau air ketuban pecah
 Ibu mempunyai KMS ibu hamil dan kartu KIA
 Tersedianya sistem rujukan utk penanganan kegawatdaruratan
 Adanya kesepakatan atau informed consent
 Tersedia alat transportasi utk merujuk
 Tersedia peralatan yang lengkap
d. Persiapan alat/bidan kit
Bidan Kit :
 PPD
 Partus set
 Hecting set
 Timbangan bayi
 Tensi meter
 Hb Sahli
 Stetoskop
 Stetoskop Leanec
 Termometer
 Pemeriksaan untuk air seni
 Spuit 3 cc dan 5 cc
 Nier bekken
e. Persiapan ibu dan keluarga
Aanjurkan keluarga untuk mendampingi ibu selama persalinannya.
Berikan dukungan dan semangat pada ibu dan keluarga.
Tenangkan hati ibu.
Bantu ibu memilih posisi yang nyaman
Jelaskan cara meneran yang benar saat pembukaan lengkap.
Berikan makan dan minum selama proses persalinan
f. Manajemen ibu intranatal
Definisi : adalah asuhan yang diberikan pada ibu saat awal persalinan
sampai dengan kelahiran
Tujuan : memberikan asuhan yang adekuat dan terstandar pada ibu saat
awal peresalinan sampai dengan kelahiran demgan memperhatikan riwayat
selama kehamilan
Hasil yang diharapkan : terlaksananya asuhan pada ibu intranatal termasuk
melakukan pengkajian, membuat diagnosa, mengidentifikasi masalah
diagnosa dan masalah potensial, tindakan segera serta merencanakan
asuhan
3. Asuhan postnatal di rumah
a. Jadwal kunjungan di rumah
Paling sedikit 4 kali kunjungan pada masa nifas, dilakukan untuk
menilai keadaan ibu dan bayi baru tahir dan untuk mencegah, mendeteksi dan
menangani masalah-masalah yang terjadi. Frekuensi kunjungan pada masa
nifas adalah:
 Kunjungan I ( 6-8 jam setelah persalinan) Tujuan:
Mencegah perdarahan pada masa nifas karena atonia uteri
Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk jika perdarahan
berlanjut
Membenkan konseling pada ibu atau satah satu anggota keluarga,
bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
 Pemberian ASI awal
 Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir
 Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah terjadi hipotermi
 Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi
baru lahir untuk 2 jam pertamasetelah kelahiran atau sampai ibu dan bayi dalam
keadaan stabil
 Kunjungan II ( 6 hari setelah persalinan) Tujuan:
Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi dengan
baik, fundus di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal atau tidak
ada bau
Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau perdarahan abnormal 
Memastikan ibu cukup mendapatkan makanan, cairan dan istirahat
Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda
tanda penyulit
Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat,
menjaga bayi agar tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.
 Kunjungan III ( 2 minggu setelah persalinan) = Tujuan: sama dengan kunjungan II
 Kunjungan IV ( 6 minggu setelah persalinan)
 Menanyakan pada ibu tentang penyulit yang ia atau bayi alami
 Memberikan konseling untuk KB secara dini
b. Menejemen ibu postpartum
 Definisi : Asuhan ibu postpartum adalah asuhan yang diberikan pada ibu segera
setelah kelahiran, sampai 6 minggu setelah kelahiran
 Tujuan : Memberikan asuhan yang adekuat dan terstandar pada ibu segera
setelah melahirkan dengan memperhatikan riwayat selama kehamilan, dalam
persalinan dan keadaan segera setelah melahirkan
7 Iangkah manajemen menurut Helen Vamey
1. Pengkajian
2. Pemeriksaan fisik
3. Identifikasi diagnosa dan masalah potensial
4. Identifikasi tindakan segera
5. Membuat rencana asuhan
6. Implementasi asuhan
7. Evaluasi
c. Post partum group
Di dalam melaksanakan asuhan pada ibu postpartum di komunitas, salah
satunya adalah dalam bentuk kelompok. Ibu-ibu postpartum dikelompokkan
dengan mempertimbangkan jarak antara satu orang ibu postpartum dengan ibu
postpartum lainnya.
Kegiatan dapat dilaksanakan di salah satu rumah ibu postpartum atau di
Posyandu dan Polindes. Kegiatannya dapat berupa penyuluhan dan konseling.

4. Asuhan bayi baru lahir dan neonates


a. Jadwal kunjungan
Pelaksanaan pelayanan kesehatan neonatus :
1) Kunjungan Neonatal ke-1 (KN 1) dilakukan pada kurun waktu 6 48 Jam
setelah lahir.
2) Kunjungan Neonatal ke-2 (KN 2) dilakukan pada kurun waktu hari ke 3
sampai dengan hari ke 7 setelah lahir.
3) Kunjungan Neonatal ke-3 (KN 3) dilakukan pada kurun waktu hari ke 8
sampai dengan hari ke 28 setelah lahir.
b. Manajemen pada bayi baru lahir dan neonates
Pelayanan Kesehatan Neonatal dasar dilakukan secara komprehensif dengan
melakukan pemeriksaan dan perawatan Bayi baru Lahir dan pemeriksaan
menggunakan pendekatan Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM) untuk
memastikan bayi dalam keadaan sehat, yang meliputi :
5. Pelayanan kesehatan pada bayi dan balita
a. Perawatan kesehatan bayi
Pelayanan kesehatan bayi adalah pelayanan kesehatan sesuai standar yang
diberikan oleh tenaga kesehatan kepada bayi sedikitnya 4 kali, selama periode
29 hari sampai dengan 11 bulan setelah lahir. Pelaksanaan pelayanan kesehatan
bayi :
Kunjungan bayi satu kali pada umur 29 hari-2 bulan
Kunjungan bayi satu kali pada umur 3-5 bulan
Kunjungan bayi satu kali pada umur 6-8 bulan
Kunjungan bayi satu kali pada umur 9-11 bulan
b. Perawatan kesehatan anak
Pelayanan kesehatan anak balita meliputi pelayanan pada anak balita
sakit dan sehat. Pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan sesuai
standar yang meliputi :
1) Pelayanan pemantauan pertumbuhan minimal 8 kali setahun yang tercatat
dalam Buku KIA/KMS..
2) Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK)
minimal 2 kali dalam setahun. Pelayanan SDIDTK meliputi pemantauan
perkembangan motorik kasar, motorik halus, bahasa, sosialisasi dan
kemandirian minimal 2 kali pertahun (setiap 6 bulan). Pelayanan
SDIDTK diberikan di dalam gedung (sarana pelayanan kesehatan)
maupun di luar gedung.
3) Pemberian Vitamin A dosis tinggi (200.000 IU), 2 kali dalam setahun.
4) Kepemilikan dan pemanfaatan buku KIA oleh setiap anak balita
5) Pelayanan anak balita sakit sesuai standar dengan menggunakan
pendekatan MTBS.
c. Pememtauan tumbuh kembang bayi dan balita/deteksidini
Bentuk pelaksanaan tumbuh kembang anak di lapangan dilakukan dengan
mengacu pada pedoman Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Tumbuh Kembang
Anak (SDIDTK) yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan di puskesmas dan
jajarannya seperti dokter, bidan perawat, ahli gizi, penyuluh kesehatan
masyarakat dan tenaga kesehatan lainnya yang peduli dengan anak. Sebagian
besar penyebab kematian bayi dan balita dapat dicegah dengan teknologi
sederhana di tingkat pelayanan kesehatan dasar, salah satunya adalah dengan
menerapkan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), di tingkat
pelayanan kesehatan dasar. Bank Dunia, 1993 melaporkan bahwa MTBS
merupakan intervensi yang cost effective untuk mengatasi masalah kematian
balita yang disebabkan oleh Infeksi Pernapasan Akut (ISPA), diare, campak,
malaria, kurang gizi dan yang sering merupakan kombinasi dari keadaan
tersebut.
d. Imunisasi
Imunisasi diberikan pada bayi sesuai dengan umurnya yaitu 5
imuniasasi dasar yang meliputi imunisasi HBO, BCG, Polio, DPT, dan
Campak.
6. Pelayanan kontrasepsi dan rujukannya
Pelayanan KB berkualitas adalah pelayanan KB sesuai standar yaitu dengan
menghormati hak individu dalam merencanakan kehamilan sehingga diharapkan
dapat berkontribusi dalam menurunkan angka kematian Ibu dan menurunkan
tingkat fertilitas (kesuburan) bagi pasangan yang telah cukup memiliki anak (2
anak lebih baik) serta meningkatkan
7. Sistem rujukan
a. Tujuan
Sistem rujukan merupakan pelayanan kesehatan yang memungkinkan
pelayanan tanggung jawab secara timbal balik atas masalah yang timbul secara
vertikal maupun horizontal kepada fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih
mampu untuk memberikan pelayanan yang cukup.
Dalam sistem rujukan dibutuhkan pusat rujukan sebagai pusat rujukan alat
dan tenaga kesehatan yang memiliki perlengkapan yang lebih canggih,yakni RS
kabupaten/kota.
b. Jenis
1. Rujukan terlambat
Rujukan yang disebabkan oleh mekanisme rujukan yang belum
dilaksanakan secara tepat dan terencana sejak dari rumah/tempat kejadian
hingga rumah sakit, sehingga kondisi kesehatan ibu dan anak dalam kondisi
yang kritis.
a. Sering kali disebabkan oleh:
1) Faktor geografi
Lokasi terpencil dan jauh dari jangkauan akses menuju rujukan atau
transportasi.
2) Faktor sosial budaya
Persepsi masyarakat yang masih percaya pada dukun atau pengobatan
alternatif
3) Faktor sosial ekonomi
Pemahaman pemanfaatan pelayanan kesehatan masih rendah karena
adanya tingkat sosial ekonomi yang rendah dengan kesulitan biaya
rujukan.
4) Faktor kondisi anak dan ibu yang di rujuk
Komplikasi pada penyakit ibu/anak ,penolong pertama belum
memahami sistem rujukan.
2. Rujukan terencana
Rujukan yang dikembangkan secara sederhana,mudah di mengerti dan
dapat disiapkan atau direncanakan oleh ibu atau keluarga dalam
mempersiapkan pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Bertujuan :
 Menurunkan atau mengurangi rujukan terlambat
 Mencegah komplikasi ibu dan anak
 Mempercepat penurunan angka kematian ibu dan anak sehingga
keterlambatan dalam pengenalan masa pengambilan keputusan,
pengiriman rujukan serta penanganan di pusat rujukan dapat teratasi
dengan baik.
 Macam-macam rujukan terencana :
a. Rujukan dini berencana
Rujukan yang dilakukan pada ibu /anak yang masih sehat yang
diperkirakan mungkin ada komplikasi
b. Rujukan tepat waktu
Rujukan  yang harus segera dilakukan dalam menyelamatkan nyawa
khusus yang dilakukan pada ibu/anak yang mengalami komplikasi
c. Jenjang tingkat tempat rujukan
1. Tingkat Kader
Bila ditemukan penderita yang tidak dapat ditangani sendiri maka segera
dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat karena mereka belum dapat
menetapkan tingkat kegawat daruratan.
2. Tingkat bidan desa, puskesmas pembantu dan puskesmas
Tenaga kesehatan harus dapat menentukan tingkat kegawatdaruratan kasus
yang ditemui. Sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya mereka harus
menentukan kasus mana yang boleh ditangani sendiri dan kasus mana yang
harus dirujuk
d. Jalur rujukan
1. Dari Kader
Dapat langsung merujuk ke :
a. Puskesmas pembantu
b. Pondok bersalin / bidan desa
c. Puskesmas / puskesmas rawat inap
d. Rumah sakit pemerintah / swasta
2. Dari Posyandu
Dapat langsung merujuk ke :
1) Puskesmas pembantu
2) Pondok bersalin / bidan desa
3) Puskesmas / puskesmas rawat inap
4) Rumah sakit pemerintah / swasta
3. Dari Puskesmas Pembantu
- Dapat langsung merujuk ke rumah sakit tipe D/C atau rumah sakit swasta
4. Dari Pondok bersalin / Bidan Desa
- Dapat langsung merujuk ke rumah sakit tipe D/C atau rumah sakit swasta
e. Mekanisme rujukan
a) Pada tingkat Kader
Bila ditemukan penderita yang tidak dapat ditangani sendiri maka
segera dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat karena mereka
belum dapat menetapkan tingkat kegawatdaruratan.
b) Pada tingkat bidan desa, puskesmas pembantu dan puskesmas
Tenaga kesehatan harus dapat menentukan tingkat kegawatdaruratan
kasus yang ditemui. Sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya
mereka harus menentukan kasus mana yang boleh ditangani sendiri dan
kasus mana yang harus dirujuk.
Selain itu sebelum merujuk bidan harus memperhatikan sistem rujukan
yaitu menggunakan BAKSOKUDA.
Yaitu :
BIDAN : Pastikan ibu/bayi/klien didampingi oleh tenaga
kesehatan yang kompetan dan memiliki kemampuan
untuk melaksanakan kegawatdaruratan.
ALAT : Bahwa perlengkapan dan bahan-bahan yang diperlukan,
seperti spuit, infus set, tensi meter, stetoskop dan
oksitosin.
KELUARGA : Beritahu keluaraga tentang kondisi terakhir ibu dan
alasan kenapa harus dirujuk,suami dan anggota yang
lain harus menemani ibu untuk dirujuk.
SURAT : Beri surat ketempat rujukan yang berisi identifikasi
ibu,alasan rujukan,uraian hasil rujukan,asuhan, atau
obat” yang telah diterima ibu.
OBAT : Bawa obat”an esensial yang diperlukan selama
perjalanan merujuk 
KENDARAAN : Siapkan kendaraan yang cukup baik untuk
memungkinkan ibu dalam kondisi yang nyaman dan
dapat mencapai tempat rujukan
UANG : Ingatkan keluarga untuk membawa uang dalam jumlah
yang cukup untuk membeli obat dan bahan kesehatan
yang diperlukan ditempat rujukan
DARAH : Siapkan donor darah apabila ibu membutuhkan transfusi
mendadak

TUGAS
Jelaskan stadar asuhan kebidanan pada masa antenatal?
Jelaskan stadar asuhan kebidanan pada masa intranatal?
Jelaskan Manajemen pada bayi baru lahir dan neonates
Jelaskan jenjang tingkat tempat rujukan?
Jelaskan apa yang dimaksud dengan BAKSOKUDA?
KEGIATAN BELAJAR 6

KONSEP SDG’S DAN PROGRAM


PEMERINTAH DALAM KEBIDANAN

1. Pengertian
SDGs adalah singkatan atau kepanjangan dari sustainable development
goals, yaitu sebuah dokumen yang akan menjadi sebuah acuan dalam kerangka
pembangunan dan perundingan negara-negara di dunia. Konsep SDGs
melanjutkan konsep pembangunan Millenium Development Goals (MDGs) di
mana konsep itu sudah berakhir pada tahun 2015. Jadi, kerangka pembangunan
yang berkaitan dengan perubahan situasi dunia yang semula menggunakan konsep
MGDs sekarang diganti SDGs.
2. Tujuan
SDGs diharapkan bisa mengakhiri segala bentuk kemiskinan di semua
negara manapun.
SDGs bertujuan mengakhiri segala bentuk kelaparan, mencapai ketahanan
pangan dan meningkatkan gizi dan mendorong pertanian secara
berkelanjutan.
target SDGs adalah menjamin adanya kehidupan yang sehat, serta
mendorong kesejahteraan untuk semua orang di dunia pada semua usia.
3. Target
Target utamanya mengentaskan kemiskinan. Tapi, Indonesia akan
menggunakan tiga indikator terkait dengan dokumen SDGs, yaitu pembangunan
manusia atau human development yang meliputi pendidikan dan kesehatan,
lingkungan dalam skala kecil atau social economic development dan lingkungan yang
besar atau environmental development berupa ketersediaan kualitas lingkungan
dan sumber daya alam yang baik.

4. Perbedaan dengan MGDs


Pada dasarnya MDDs dan SDGs punya persamaan dan kesamaan tujuan
yang sama. Yakni, SDGs melanjutkan cita-cita mulia MGDs yang ingin konsen
menganggulangi kelaparan dan kemiskinan di dunia. Namun, dokumen yang
disepakati pimpinan dunia pada tahun 2000 tersebut habis pada tahun 2015. Para
pemimpin dunia merasa agenda Millenium Development Goals perlu dilanjutkan,
sehingga muncul sebuah dokumen usulan bernama sustainable development goals.

TUGAS
TUGAS
Apa
Apayang
yangdimaksud
dimaksuddengan
denganS’DGs?
S’DGs?
Apa
Apatujuan
tujuandibentuknya
dibentuknyaS’DGs?
S’DGs?
Apa
Apatarget
targetdari
dariS’DGs?
S’DGs?
Apa
Apaperbedaan
perbedaanS’DGs
S’DGsdenga
dengaM’DGs?
M’DGs?
KEGIATAN BELAJAR 7

STRATEGI PELAYANAN KEBIDANAN


KOMUNITAS

Mengaplikasi strategi pelayanan kebidanan komunitas


a. Pemberdayaan masyarakat
1. Pembinaan dukun
Tujuan pelatihan dukun adalah meningkatkan keterampilan dukun dalam
upaya melayani ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi yang dilahirkan sesuai dengan
persyaratan kesehatan. Melalui pelathian dukun diharapkan akan menghasilkan
dukun antara lain :
Memperoleh pegetahuan dasar dalam persalinan ibu hamil, pertolongan
persalinan normal, ibu nifas, perawatan bayi baru lahir.
Mengenal kelahiran ibu hamil, bersalin,nifas dan bayi yang dilahirkan
untuk dirujuk ke Bidan .
Memahami keluarga berencana dan penyakit0-penyakit yang sering timbul
pada masa ibu hamil.
Hanya bekerja sama dengan bidan dalam memberi pelayan kesehatan ibu
dan bayi.
Prinsip Pelatihan
Waktu pelatihan dilakukan selama dalam seminggu pemberian dilakukan
berulang-ulang.
Bahasa yang digunakan bahasa yang mudah dimengerti.
Pelatihan lebih banyak digunakan alat-alat bantu agar seperti
basker,pamplit,gambar-gambar ,dll.
Metode yang diberikan adalah : demonstrasi dan simulasi dalam pelatihan
dukun.

2. Pembinaan kader
A. Pengertian
Kader kesehatan tenaga sukarela yang dipilih atau mendapat kepercayaan
dari masyarakat setempat. Yang telah mendapatkan pelatihan dan merasa
terpanggil untuk melaksanakan, memelihara dan mengembangkan kegiatan
yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat datam usaha pembangunan
kesehatan.
B. Tujuan Pembinaan Kader
Memberikan kemampuan pada kader agar dapat melaksanakan tugasnya
sebagai tenaga sukarela
C. Pembinaan Kader Kesehatan
Pembinaan kader kesehatan merupakan kegiatan dalam rangka
mempersiapkan kader kesehatan agar mampu berperan serta dalam
mengembangkan pasien kesehatan di desa.
3. Pembinaan peran serta masyarakat
a. Pencatatan kelahiran dan kematian bayi dan ibu
Diharapkan agar kader dapat melaksanakan pencatatan dan pelaporan
sebagai berikut.
Jumlah ibu hamil
Jumlah ibu bersalin
Jumlah bayi
Jumlah balita
Jumlah kelahiran per bulan
Jumlah kematian ibu
Jumlah kematian bayi
b. Pengaturan bantuan biaya bagi masyarakat yang tidak mampu
 Biaya kesehatan tidak hanya bersumber dari pemerintah, akan tetapi
dapat bersumber atau berbasis pada masyarakat. Terdapat dua bentuk pembiayaan
kesehatana dari masyarakat yaitu sbb :
 Dana masyarakat yang bersifat aktif
Adalah dana yang secara khusus digali atau dikumpulkan oleh
masyarakat untuk membiayai upaya kesehatan. Pendanaan tersebut sering
dikatakan sebagai Dana Sehat.

 Dana masyarakat yang bersifat pasif


Adalah dana yang sudah ada dimasyarakat dan digunakan untuk
membiayai upaya kesehatan diantaranya adalah dana social keagamaan.
b. Bina suasana
1. Pengembangan wahana/forum PSM berperan dalam:
a. Posyandu
← Posyandu adalah suatu forum komunikasi alih teknologi dalam
pelayanan kesehatan masyarakat dan keluarga berencana dari masyarakat oleh
masyarakat dan untuk masyarakat dengan dukungan pelayanan serta Pembinaan
teknis dri petugas kesehatan dan keluarga berencana yang mempunyai nilai strategi
untuk pengembangan sumberdaya manusia sejak dini.
← Posyandu adalah pusat pelayanan keluarga berencana dan kesehatan
yang dikelolah dan diselenggarakan untuk dan oleh masyarakat dengan dukungan
teknis dari petugas kesehatan. Posyandu merupakan upaya pemenuhan kebutuhan
kesehatan dasar dan peningkatan status gizi masyarakat
Tujuan posyandu
Menurunkan angka kematian ibu dan anak
Meningkatkan pelayanan kesehatan ibu untuk menurunkan IMR
Mempercepat penerimaan NKKBS
Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kesehatan
dan menunjang peningkatan hidup sehat
Pendekatan dan pemerataan pelayanan kesehatan kepada masyarakat
sehingga tercapai peningkatan cakupan pelayanan.
Meningkatkan dan membina peran serta masyarakat dalam rangka alih
teknologi untuk usaha kesehatan masyarakat.
Sasaran
 Bayi < 1tahun
 Anak balita 1-5 tahun
 Ibu hamil,ibu menyusui dan ibu nifas
 WUS (wanita Usia Subur )

Kegiatan posyandu
 Kesehatan ibu dan anak KIA
 Keluarga berencana KB
 Imunisasi
 Peningkatan gizi
 Penanggulangan diare
 Sanitas dasar
 Penyediaan obat essensial
 Pembentukan posyandu
b. Polindes
1) Pengertian
Polindes merupakan salah satu bentuk UKBM ( Usaha Kesehatan Bagi
Masyarakat) yang didirikan masyarakatb oleh masyarakat atas dasar
musyawarahh, sebagai kelengkapan dari pembangunan masyarakat desa,
untuk memberikan pelayanan KIA-KB serta pelayanan kesehatan lainnya
sesuai dengan kemampuan Bidan.
2) Tujuan
Meningkatkan jangkauan dan mutu pelayanan KIA – KB termasuk
pertolongan dan penanganan pada kasus gagal
Meningkatkan pembinaan dukun bayi dan kader kesehatan
Meningkatkan kesempatan untuk memberikan penyuluhan dan
konseling kesehatan bagi ibu dan keluarganya
Meningkatkan pelayanan kesehatn l;ainnya sesuai dengan kesenangan
bidan
3) Kegiatan – kegiatan Polindes
Memeriksa bumil dan komplikasinya
Menolong persalinan normal dan persalinan dengan resiko sedang
Memberikan pelayanan kesehatan bufas dan ibu menyusui
Memberikan pelayanan kesehatan neonatal , bayi, balita, anak pra
sekolahdan imunisasi dasar pada bayi
Memberikan pelayanan KB
Mendeteksi dan memberikan pertolongan pertama pada kehamilan dan
persalinan yang beresiko tinggi bagi ibu maupun bayinya
Menampung rujukan dari dukun bayi dan dari kader
Merujuk kelainan ke fasilitas kesehatan yanglebih mampu
Melatih dan membina dukun bayi maupun kader
Memberi penyuluhan kesehatan tentang gizi bumil dan anak serta
peningkatan penggunaan ASI dan KB
Mencatat serta melaporkan kegiatan yang dilaksanakan kepada
puskesmas setempat
c. KB-KIA
1) Pengertian
KB/KIA adalah kegiatan kelompok belajar kesehatan ibu dan anak
yang anggotanya meliputi ibu hamil dan menyusui.
2) Tujuan
Agar ibu hamil dan menyusui tahu cara yang baik untuk menjaga
kesehatan sendiri dan anaknya,tahu pentingnya pemeriksaan ke puskesmas dan
posyandu atau tenaga kesehatan lain pada masa hamil dan menyusui serta ada
keinginan ikut menggunakan kontrasepsi yang efektif dan tepat.
3) Kegiatan yang dilakukan
a. Pakaian dan perawatan bayi
b. Contoh makanan yang sehat untuk ibu hamil dan menyusui
c. Makanan bayi
d. Perawatan payudara sebelum dan setelah persalinan
e. Peralatan yang di perlukan ibu hamil dan menyusui cara memandikan bayi
f. Demonstrasi tentang alat kontrasepsi dan cara pengunaan nya
4) Faktor penentu keberhasilan
a. faktor manusia
b. faktor serana(tempat)
c. faktor prasarana(fasilitas)
5) Pelaksana
Pelaksana utama meliputi dokter puskesmas ,pengelola KIA,kader,bidan
Pelaksana pendukung meliputi camat,kades,pengurus LKMD, tokoh
masyarakat.
Pelaksana pembina meliputi KIA provinsi team pengelola KIA
kabupaten.

d. Dasawisma
Desa wisma adalah sekelompok ibu berasal dari 10 rumah yang
bertetangga kegiatannya di arahkan pda peningkatan kesehatan
keluarga.bentuk kegiatannya seperti arisan, pembuatan jamban, sumur,
kembangkan dana sehat (PMT, pengobatan ringan, pembangunan sarana
sampah dan kotoran). Desa wisma atau sekelompok persepuluh merupakan
salah satu pembinaan wahana peran masyarakat di bidang keshatan secara
swadaya di tingkat keluarga. Salah satu dari anggota keluarga pada kelompok
persepuluh di pilih menjadikan ketua kelompok atau
penghubung/pembina.bidan desa di jadikan sebagai pembina yang bertugas
melakukan pembinaan secara berkala dan menerima rujukan masalah
kesehatan.
e. Tabulin
Tabulin adalah tabungan sosial yang dilakukan oleh calon pengantin,ibu
hamil dan ibu yang akan hamil maupun oleh masyarakat untuk biaya
pemeriksaan kehamilan dan persalinan serta pemeliharaan kesehatan selama
nifas. Penyetoran tabulin dilakukan sekali untuk satu masa kehamilan dan
persalinan ke dalam rekening tabulin. Tidak semua ibu hamil dapat melahirkan
dengan normal.ibu hamil harus mewaspadai kemungkinan terjadinya
komplikasi pada saat kehamilan dan melahirkan.keluarga ibu hamil perlu
menyisihkan sebagian dari pendapatan untuk pembiayaan selama kehamilan
dan kelahiran,salah satu cara adalah dengan adanya tabungan ibu bersalin
(tabulin). Para ibu hamil diberi kotak tabungan yang dikunci dan di simpan
oleh bidan. Tujuan dari tabulin adalah supaya ibu hamil rajin menabung dan
disiplin memeriksakan diri ke bidan. Pada saat ibu hamil periksa kandungan
kotak tabungannya bisa di buka dan di hitung jumlahnya dan di catat didalam
buku sesuai dengan jumlah uang yang di simpan.
f. Donor darah berjalan
Donor darah berjalan merupakan salah satu strategi yang di lakukan di
departemen kesehatan dalam hal ini derektorat bina kesehatan ibu. Melalui
program dan pemberdayaan perempuan,keluarga dan masyarakat,dalam upaya
mempercepat penurunan AKI.Donor darah berjalan adalah para donor aktif dan
kapan saja bisa di panggil.termasuk kerja mobil dan swasta terkait sediaan yang
mereka buat
Tujuan
a. Membantu menurunkan resiko terkena serangan jantung
b. Sebagai pemeriksaan kesehatan secara teratur
c. Mengurangi kemungkinan terjadinya penyumbatan pembuluh darah.
g. Ambulan desa
Ambulan desa adalah sistem kegotongroyongan yang dikembangkan untuk
mengantar atau membawa ibu hamil yang akan bersalin terutama jika ibu tersebut
diidentifikasi akan mengalami komplikasi sehingga memerlukan pertolongan
segera.
Ambulan desa bentuknya tidak seperti mobil ( pribadi atau angkot ). Banyak
juga ambulan desa seperti motor,andongan ataupun becak. Pokoknya semua jenis
transportasi yang ada di desa dan bisa dimanfatkan untuk membawa ibu ke tempat
rujukan.
Syarat : Dapat diakses setiap saat , bila diperlukan. Diketahui oleh semua ibu hamil
dan keluarganya
h. Desa siaga
Desa siaga adalah suatu kondisi masyarakat tingkat desa atau kelurahan
yang memiliki potensial sumberdaya dalam mengatasi masalah kesehatan, bencana,
kegawatdaruratan secara mandiri. Desa Siaga (Siap Antar Jaga) adalah desa yang
memiliki sistem kesiagaan untuk menanggulangi kegawatdaruratan ibu hamil dan
ibu bersalin. Landasan hukum pelaksanaan desa siaga adalah sebagai berikut:
Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang kesehatan, khususnyapada pasal 5,
8, 711 dan 722 serta Bab VII tentang peran serta masyarakat. Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 564/ Menkes/SK/ VII/ 2006 tanggal 2
Agustus 2006 tentang pengembangan Desa siaga.
Tujuan Desa Siaga
Tujuan Umum : Terwujudnya masyarakat desa yang sehat, serta peduli dan
tanggap terhadap permasalahan kesehatan ibu dan anak diwilayahnya.
Tujuan Khusus
1) Turunnya angka kematian ibu dan bayi.
2) Meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi.
3) Tersosialisasi Desa Siap Antar Jaga di masyarakat.
4) Meningkatnya kesadaran keluarga dan masyarakat tentang pentingnya
kesehatan ibu dan bayi.
5) Termotivasinya keluarga dan masyarakat untuk memanfaatkan Desa Siap Antar
Jaga.
6) Termotivasinya pembentukan jaringan kemitraan di masyarakat.

TUGAS
TUGAS
Apa
Apatujuan
tujuanpembinaan
pembinaandukun
dukundan
dankader?
kader?
Apa
Apasaja
sajakegiatan
kegiatanbidan
bidandidipolindes
polindesdan
danposyandu?
posyandu?
Apa
Apatujuan
tujuandibentuknya
dibentuknyadesa
desasiaga?
siaga?
Apa
Apayang
yangdimaksud
dimaksuddengan
dengandonor
donordarah
darahberjalan?
berjalan?
Apa
Apayang
yangdimaksud
dimaksuddengan
dengantubulin
tubulin
KEGIATAN BELAJAR 8

PELAYANAN KEBIDANAN KOMUNITAS


PADA KELUARGA DENGAN PRIORITAS
A. Pengertian Keluarga Miskin dan Terasing
Keluarga miskin adalah seseorang atau kepala keluarga yang tidak
mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok atau orang yang
mempunyai sumber mata pencaharian akan tetapi tidak dapat memenuhi
kebutuhan pokok keluarga yang layak bagi kemanusiaan.
Masyarakat terasing adalah kelompok orang/masyarakat yang hidup dalam
kesatuan-kesatuan kecil yang bersifat lokal dan terpencil dan masih sangat terikat
pada sumberdaya alam dan habitatnya yang secara sosial budaya terasing dan
terbelakang dibanding dengan masyarakat Indonesia pada umumnya sehingga
memerlukan pemberdayaan dalam menghadapi perubahan lingkungan dalam arti
luas.
B. Kriteria Keluarga Miskin dan Terasing
1. Keluarga miskin
Seorang kepala keluarga usia 18-59 tahun. Penghasilan rendah atau
beradadibawah garis kemiskinan seperti tercermin dari tingkat pengeluaran
perbulan, yaitu Rp. 62.000,- untuk perkotaan, dan Rp. 50.090,- untuk pedesaan
(tahun 2000) per orang per bulan. Tingkat pendidikan pada umumnya rendah :
tidak tamat SLTP, tidak ada ketrampilan tambahan. Derajat kesehatan dan gizi
rendah. Tidak memiliki tempat tinggal yang layak huni, termasuk tidak memiliki
MCK. Pemilikan harta sangat terbatas jumlah atau nilainya. Hubungan sosial
terbatas, belum banyak terlibat dalam kegiatan  kemasyarakatan. Akses informasi
terbatas.
2. Keluarga terasing
a. Hidup dalam kesatuan-kesatuan sosial yang bersifat lokal dan terpencil:
b. Berbentuk komunitas kecil, tertutup dan homogen.
c. Pranata sosial bertumpu pada hubungan kekerabatan.
d. Pada umumnya secara geografis terpencil dan relatif sulit dijangkau atau
terisolasi.
e. Kehidupan dan penghidupannya masih sangat sederhana:
f. Pada umumnya masih hidup dengan sistem ekonomi subsistens (hanya  untuk
kepentingan sendiri) belum untuk kepentingan pasar.
g. Peralatan dan tekhnologi sederhana, misalnya peralatan rumah tangga.
h. Ketergantungan pada lingkungan hidup dan sumberdaya alam setempat relatif
tinggi.
i. Terbatasnya akses pelayanan sosial, ekonomi dan politik.
j. Secara sosial budaya terasing dan atau terbelakang.
C. Usaha Pemerintah Dalam Meningkatkan Pelayanan Kesehatan Pada
Keluarga Miskin
1. Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas)
Untuk menjamin akses penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan, 
sejak tahun 1998 Pemerintah melaksanakan berbagai upaya pemeliharaan
kesehatan penduduk miskin. Dimulai dengan pengembangan Program Jaring
Pengaman Sosial (JPS-BK) tahun 1998–2001,  Program dampak Pengurangan
Subsidi Energi (PDPSE) tahun 2001 dan Program Kompensasi Bahan Bakar
Minyak (PKPS-BBM) Tahun 2002-2004.  Program-program tersebut diatas
berbasis pada ‘provider’ kesehatan (supply oriented), dimana dana disalurkan
langsung ke Puskesmas dan Rumah Sakit. Provider kesehatan (Puskesmas dan
Rumah Sakit) berfungsi ganda yaitu sebagai pemberi pelayanan kesehatan (PPK)
dan juga mengelola pembiayaan atas pelayanan kesehatan yang diberikan. Kondisi
seperti ini menimbulkan beberapa permasalahan antara lain terjadinya defisit di
beberapa Rumah Sakit dan sebaliknya dana yang berlebih di Puskesmas, juga
menimbulkan fungsi ganda pada  PPK yang harus berperan
sebagai ‘Payer’ sekaligus ‘Provider’.
Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat sangat miskin, miskin
dan tidak mampu dengan mana program Jaminan Kesehatan Masyarakat
(Jamkesmas) mengacu pada prinsip-prinsip asuransi sosial, yaitu :
a. Dana amanat dan nirlaba dengan pemanfaatan untuk semata-mata peningkatan
derajat kesehatan masyarakat sangat miskin, miskin dan tidak mampu.
b. Menyeluruh (komprehensif) sesuai dengan standar pelayanan medik yang cost
effective dan rasional.
c. Pelayanan terstruktur, berjenjang dengan Portabilitas dan ekuitas.
d. Transparan dan akuntabel.
Dengan pertimbangan pengendalian biaya pelayanan kesehatan, peningkatan
mutu, transparansi dan akuntabiltas, serta mengingat keterbatasan pendanaan,
dilakukan perubahan pengelolaan program Askeskin pada tahun 2008, dengan
memisahkan  fungsi pengelolaan dengan fungsi pembayaraan dengan didukung
penempatan tenaga verifikator di setiap Rumah Sakit. Selain itu mulai di
berlakukannya Tarif Paket Pelayanan Kesehatan bagi Masyarakat Miskin di Rumah
Sakit dengan nama program berubah menjadi Jaminan Kesehatan Masyarakat
(jamkesmas).  Peserta Jamkesmas telah dibagi dalam bentuk Kuota disetiap
Kabupaten/Kota berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2006. kuota tersebut
menimbulkan persoalan mengingat masih banyak masyarakat miskin di
Kabupaten/Kota yang tidak masuk/menjadi peserta Jamkesmas sementara kebijakan
Jamkemas adalah bagi masyarakat miskin diluar Kota yang ditetapkan maka menjadi
tanggung jawab Pemerintah Daerah.
Peserta Program Jamkesmas adalah setiap orang miskin dan tidak mampu
selanjutnya disebut peserta Jamkesmas, sejumlah 76,4 juta jiwa bersumber dari data
Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006 yang dijadikan dasar penetapan jumlah
sasaran peserta secara Nasional oleh Menteri Kesehatan RI (Menkes) sesuai SK
Menkes Nomor 125/Menkes/SK/II/2008 yang telah ditetapkan nomor, nama dan
alamatnya melalui SK Bupati/Walikota tentang penetapan peserta Jamkesmas  serta
gelandangan, pengemis, anak terlantar, masyarakat miskin yang tidak memiliki
identitas, pasien sakit jiwa kronis, penyakit kusta dan sasaran Program Keluarga
Harapan (PKH) yang belum menjadi peserta Jamkesmas.
Apabila masih terdapat masyarakat miskin yang tidak terdapat dalam kuota
Jamkesmas, pembiayaan kesehatannya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah
setempat dan mekanisme pengelolaannya mengikuti model Jamkesmas, hal tersebut
dimaksudkan agar semua masyarakat miskin terlindungi jaminan kesehatan dan
dimasa yang akan datang dapat dicapai universal coverage. Pada tahun 2014 Pusat
Jaminan dan Pembiayaan Kesehatan diharapkan sudah terjadiuniversal coverage
untuk itu strategi yang perlu dibangun dalam rangka universal coverage adalah :
a. Peningkatan cakupan peserta Pemda (Pemda)
b. Peningkatan cakupan peserta pekerja formal (formal)
c. Peningkatan cakupan peserta pekerja informal (in-formal) Peningkatan cakupan
peserta individual (individu)
2.Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda)
Bagi Pemerintah Daerah yang mempunyai kemampuan keuangan, maka  masyarakat
miskin diluar kuota Jamkesmas  pelayanan kesehatannya di tanggung oleh Pemerintah
daerah yang penyelenggaraanya berbeda-beda. Pertanyaan yang harus terjawab adalah
“ Dapatkah uang yang disediakan Pemerintah Daerah dikelola dengan menggunakan
prinsip-prinsip asuransi sosial seperti Jamkesmas dengan nama Jaminan Kesehatan
Daerah (Jamkesda)”. Untuk menjawab pertanyaan tersebut dapat disampaikan hal-hal
sebagai berikut :
a. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dalam
Pasal 22 H dinyatakan bahwa daerah mempunyai kewajiban mengembangkan
sistem jaminan sosial. Dengan demikian maka Pemerintah Daerah diwajibkan
mengembangkan sistem jaminan sosial yang didalamnya adalah termasuk
jaminan kesehatan.
b. Keputusan Mahkamah Konsititusi dalam Judicial Review pada  Pasal 5
Undang-Undang Nomor 40 tahun 2004 diputuskan bahwa : Undang-Undang
Sistem Jaminan Sosial Nasional Pasal 5 ayat (1) tidak bertentangan dengan
UUD 1945 selama dimaksud oleh ketentuan tersebut adalah pembentukan
badan penyelenggara Jaminan Sosial Nasional tingkat Nasional yang berada
dipusat.
c. Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional Pasal 5 ayat (3) bertentangan
dengan UUD 1945 karena materi yang terkandung didalamnya telah
tertampung dalam Pasal 52 yang apabila diertahankan keberadaanya akan
menimbulkan multitafsir dan ketidakpastian hukum.
d. Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional Pasal 5 ayat (2) walaupun
tidak dimohonkan dalam potitum namun merupakan satu kesatuan yang tidak
dapat dipisahkan dari ayat (3) sehingga jika dipertahankan keberadaanya akan
menimbulkan multitafsir dan ketidakpastian hukum. Menyatakan Undang-
Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional Pasal 5 ayat (2), ayat (3), dan ayat (4)
bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum
mengikat.
e. Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, Dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten Kota, dalam lampiran Peraturan Pemerintah
tersebut pada huruf B tentang pembagian urusan pemerintahan Bidang
Kesehatan dalam sub bidang pembiayaan kesehatan Pemerintahan Daerah
Provinsi mempunyai kewenangan melakukan :
1) Pengelolaan/penyelenggaraan, bimbingan, pengendalian jaminan
pemeliharaan kesehatan skala provinsi.
2) Bimbingan dan pengendalian penyelenggaraan jaminan kesehatan
nasional ( tugas perbantuan).
Sementara Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota mempunyai kewenangan
melakukan :
1) Pengelolaan/penyelenggaraan Jaminan Pemeliharaan  Kesehatan sesuai
dengan kondisi local.
2) Menyelenggarakan Jaminan Kesehatan Nasional (tugas perbantuan).
Sasaran target program pembangunannya diarahkan pada masyarakat terasing
yang ada di propinsi/daerah perbatasan, seperti Irian Jaya, Kaltim, Kalbar, Riau
dengan tetap memperhatikan daerah lain yang masih terdapat permasalahan
masyarakat terasing. Jadi memang berbeda pada masa Orde Baru, penekanan lebih
diarahkan pada daerah perbatasan bukan lagi penggolongan pada macam
masyarakatnya (kelana, setengah-kelana, dan menetap) tapi pada prioritas daerah.
Pertimbangannya mungkin karena selain jumlah masyarakat terasingnya dan sebagai
kestabilan sosial politik dan wilayah masyarakat sebab dekat dengan wilayah
perbatasan.
D.    Pemberdayaan masyarakat terasing
Pembangunan pada dasarnya adalah kemauan dan kesanggupan melakukan
perubahan yang direncanakan terhadap masalah-masalah atau masyarakat yang
dijadikan sasaran perubahan itu sendiri, baik dalam kaitannya dengan hal-hak yang
bersifat fisik maupun nonfisik, seperti social dan kebudayaan. Sifat dan hasil yang
dikehandaki pada setiap perubahan yang direncanakan itu adalah menuju pada
perbaikan-perbaikan.Pembangunan masyarakat terpencil hanya dimungkinkan dapat
berhasil kalau agen-agen yang melakukan perubahan itu telah memahami lingkungan
fisik, lingkungan sosial dan kebudayaan masyarakat serta dengan karakter
masyarakat.

Program pembangunannya  masih menggunakan azas pembinaan, namun


mereka sudah menyisipkan konsep-konsep pemberdayaan dan partisipasi. Seperti
nampak dalam tujuan pembinaan mereka, yaitu Pembinaan Kesejahteraan Sosial
Masyarakat Terasing (PKMT) bertujuan memberdayakan masayarakat terasing dalam
segala aspek kehidupan dan penghidupan agar mereka dapat berperan aktif dalam
pembangunan untuk memperkuat integrasi nasional dengan menggunakan pendekatan
partisipatif dan memperhatikan potensi sosial budaya dan lingkungannya. Jadi
memang terlihat kesan bahwa masyarakat terasing ini oleh pemerintah dianggap
sebagai masyarakat yang punya potensi  demi integrasi bangsa tapi kurang berdaya
sehingga perlu dibina oleh pemerintah untuk dapat berperan aktif.
Pemukiman tetap mendapatkan porsi perhatian yang besar dalam mengukur
tingkat keberhasilan program. Seperti yang tertulis di hasil pembinaan dalam Data dan
Informasi Pembinaan Masyarakat Terasing 1999/2000, yang menyebutkan bahwa
secara kualitas masayarakat terasing tersebut telah menetap dan menjadi warga binaan
dalam pemukiman sosial yang teratur dan telah memanfaatkan sarana-sarana sosial
yang ada. Berbedanya adalah sekarang ada konsep pembinaannya yang mengarah
pada pengembangan kemandirian masayarakat terasing dalam memenuhi kebutuhan
hidup pada berbagai aspek kehidupan dan penghidupan agar mampu menanggapi
perubahan sosial budaya. Dengan demikian maka arah pola pembinaan
pemukimannya juga berubah tidak sepenuhnya top down lagi tapi mulai berusaha
untuk mengakomodasi keinginanan warga sebagai perwujudan konsep pemberdayaan
dan kemandirian itu. Dan itu nampak dalam strategi pembinaannya dengan
pembagian Tipe Pemukiman Sosial di Tempat Asal (TPA) dan Tipe Pemukiman
Sosial di Tempat Baru (TPB. Dengan pola-pola pembinaan ini, sepertinya pemerintah
ingin untuk tidak memaksakan masyarakat adat tersebut untuk pindah (resettlement)
ke lokasi pemukiman lain. Mereka bisa memilih jenis pemukimannya. Namun ini 
nampaknya masyarakat tearsing disuruh untuk memilih pilihan-pilihan yang sudah
ditentukan oleh pemerintah. Jadi mereka juga tidak sepenuhnya mandiri dalam
menentukan pilihannya sendiri, tetap dalam koridor kebijakan pemerintah yaitu
pemukiman.
Dalam kebijakan PKSMT tersebut juga mulai memperlihatkan bentuk
pembinaan masyarakat terasing yang diusahakan beragam dan melibatkan pihak-
pihak lain, tidak seperti masa sebelumnya yang sifatnya lebih tunggal yaitu
resettlement. Disebutkan ada 4 bentuk pembinaannya yaitu pemukiman ditempat asal
(in-situ development), Stimulus Pengembangan Masyarakat (SPM), pemukiman
ditempat baru (Ex situ development), kesepakatan dan rujukan.
Untuk program Stimulus Pengembangan Masyarakat (SPM), sebenarnya
adalah program pembinaan yang hampir sama dengan program pembinaan PKSMT
yang menitikberatkan pada bentuk pemukiman yang terpadu (tentunya bersama
prasarana dan infrastrukturnya) tapi SPM ini  lebih cenderung untuk hanya
memberikan komponen-komponen tertentu saja yang berkaitan dengan sarana sosial
dan umum saja. Seperti misalnya pembibitan-hanya diberi benih dan pelatihan, tidak
diberi rumah pemukiman. Jadi SPM lebih menuntut kepada tingkat swadaya
masyarakat terasing yang tinggi. Diklaim oleh pihak Depsos bahwa pendekatan ini
sudah dilakukan di 8 lokasi pemukiman masyarakat terasing. Namun yang menarik
dari program ini, dari artikel yang ditulis oleh Depsos sendiri ternyata pelaksanaannya
juga di lokasi pemukiman masyarakat terasing yang sudah dilakukan program
pembinaan terlebih dahulu. Jadi seperti program susulan/sampingan dari program-
program yang sudah ada sebelumnya.
E.     Pengertian Keluarga bencana Alam (KLB)
Bencana alam adalah suatu peristiwa alam yang mengakibatkan dampak besar
bagi populasi manusia. Peristiwa alam dapat berupa banjir,letusan gunung
berapi, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, badai salju,kekeringan, hujan
es, gelombang panas, hurikan, badai tropis, taifun,tornado, kebakaran liar dan wabah
penyakit. Beberapa bencana alam terjadi tidak secara alami. Contohnya
adalah kelaparan, yaitu kekurangan bahan pangan dalam jumlah besar yang
disebabkan oleh kombinasi faktor manusia dan alam. Dua jenis bencana alam yang
diakibatkan dari luar angkasa jarang mempengaruhi manusia,
seperti asteroid dan badai matahari.
Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah salah satu status yang diterapkan
diIndonesia untuk mengklasifikasikan peristiwa merebaknya suatu wabahpenyakit.
Status Kejadian Luar Biasa diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
949/MENKES/SK/VII/2004. Kejadian Luar Biasa dijelaskan sebagai timbulnya atau
meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis
pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. Kriteria tentang Kejadian Luar Biasa
mengacu pada Keputusan Dirjen No. 451/91, tentang Pedoman Penyelidikan dan
Penanggulangan Kejadian Luar Biasa. Menurut aturan itu, suatu kejadian dinyatakan
luar biasa jika ada unsur :
1. Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal
2. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu
berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu)
3. Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan
dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau
lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun
sebelumnya.
F.     Penanganan keluarga Bencana Alam
Dalam pidatonya presiden pada tahun 2003 mengungkapkan pada bidang
kesehatan terutama pada daerah bencana alam Melanjutkan program darurat
pelayanan kesehatan dasar bagi keluarga miskin, rawan gizi, khususnya untuk
bayi, balita, ibu hamil dan ibu nifas dengan melibatkan partisipasi masyarakat
serta meningkatkan perlindungan hak dan kesehatan reproduksi kaum perempuan,
khususnya dalam rangka menurunkan angka kematian ibu.
Desa Siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya
dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah
kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Sebuah Desa
dikatakan menjadi desa siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-
kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes)
1. Pos Kesehatan Desa
Poskesdes adalah Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang
dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan/menyediakan pelayanan kesehatan dasar
bagi masyarakat desa. UKBM yang sudah dikenal luas oleh masyarakat yaitu Pos
Pelayanan Terpadu (Posyandu), Warung Obat Desa, Pondok Persalinan Desa
(Polindes), Kelompok Pemakai Air, Arisan Jamban Keluarga dan lain-lain
Untuk dapat menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa,
Poskesdes memiliki kegiatan:
a. Pengamatan epidemiologi sederhana terhadap penyakit terutama penyakit
menular yang berpotensi menimbulkan
b. Kejadian Luar Biasa (KLB) dan faktor resikonya termasuk status gizi serta
kesehatan ibu hamil yang beresiko.
c. Penanggulangan penyakit, terutama penyakit menular dan penyakit yang
berpotensi menimbulkan KLB serta faktor resikonya termasuk kurang gizi.
d. Kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana dan kegawatdarutan kesehatan.
e. Pelayanan medis dasar sesuai dengan kompetensinya.
f. Promosi kesehatan untuk peningkatan keluarga sadar gizi, peningkatan perilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS), penyehatan lingkungan dan lain-lain.
Dengan demikian Poskesdes diharapkan sebagai pusat pengembangan atau
revitalisasi berbagai UKBM yang ada di masyarakat desa. Dalam melaksanakan
kegiatan tersebut, Poskesdes harus didukung oleh sumber daya seperti tenaga
kesehatan (minimal seorang bidan) dengan dibantu oleh sekurang-kurangnya 2 orang
kader. Selain itu juga harus disediakan sarana fisik berupa bangunan, perlengkapan
dan peralatan kesehatan serta sarana komunikasi seperti telepon, ponsel atau kurir.
Untuk sarana fisik Poskesdes dapat dilaksanakan melalui berbagai cara/alternatif yaitu
mengembangkan Polindes yang telah ada menjadi Poskesdes, memanfaatkan
bangunan yang sudah ada misalnya Balai Warga/RW, Balai Desa dan lain-lain serta
membangun baru yaitu dengan pendanaan dari Pemerintah (Pusat atau Daerah),
donatur, dunia usaha, atau swadaya masyarakat.
H.    Asuhan kebidanan komunitas pada  masyarakat daerah konflik
Pelayanan kesehatan, termasuk kesehatan jiwa, belum diberikan secara
optimal dan merata, terutama yang berkaitan dengan perlindungan hak dan kesehatan
reproduksi perempuan, penanganan krisis gizi, dan berjangkitnya penyakit menular,
terutama di daerah pengungsian, daerah konflik, dan daerah yang mengalami bencana
alam. Hal-hal yang dapat dilakukan dalam menanggulangi daerah konflik.
Dalam rangka menanggulangi masalah kesehatan di daerah konflik dan
pengungsian, Pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan bersama-sama dengan
Pemerintah Daerah setempat,  telah melaksanakan berbagai upaya penanganan
melalui serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan, baik yang bersifat tanggap
darurat/emergency maupun pemulihan/ rehabilitatif pasca konflik sesuai dengan
kondisi dan kebutuhan setempat. Upaya pelayanan kesehatan tersebut dilaksanakan
secara bersama oleh tenaga kesehatan gabungan baik dari pusat maupun dari daerah
setempat seperti dari puskesmas dan jaringannya, rumah sakit, serta jajaran tenaga
kesehatan setempat lainnya. Jenis pelayanan yang diberikan mencakup pelayanan
kesehatan dasar dan rujukan, termasuk pelayanan kesehatan jiwa dan psikososial,
upaya perbaikan gizi, dan penyediaan air bersih dan sanitasi.
Khusus mengenai penanggulangan masalah kesehatan jiwa dan psikososial
terhadap pengungsi akibat konflik antara lain telah dilaksanakan di Poso, Sulawesi
Tengah, di Kupang  Nusa Tenggara Timur (pengungsi Eks-Timor Timur), dan
Provinsi NAD. Kegiatan utama penanggulangan masalah kesehatan jiwa dan
psikososial diantaranya adalah pemberian pelayanan kesehatan melalui konseling di
lapangan yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan terlatih.
TUGAS
Jelaskan Asuhan kebidanan komunitas pada  masyarakat daerah konflik
Jelaskan apa saja kegiatan poskesdes?
Jelaskan pengertian Keluarga bencana Alam (KLB)?
Jelaskan bagaimana Pemberdayaan masyarakat terasing?
Jelaskan Pengertian Keluarga Miskin dan Terasing?

KEGIATAN BELAJAR 9

KONSEP PELAYANAN KEBIDANAN


KOMUNITAS PADA KELUARGA DENGAN
KONDISI TERTENTU
Asuhan kebidanan keluarga adalah serangkaian kegiatan yang merupakan
implementasi dari ilmu kebidanan yang diberikan melalui praktik kebidanan dengan
sasaran keluarga dan ditujukan untuk mengatasi masalah kesehatan yang dialami
keluarga dengan pendekatan asuhan kebidanan.
1. Peran bidan dalam pelayanan kebidanan
Dalam memberikan asuhan kebidanan pada keluarga, terdapat beberapa
peranan yang penting yang dapat dilakukan oleh bidan, antara lain sebagai berikut.
a. Health monitor
Bidan dapat membantu keluarga untuk mengenal masalah kesehatan terutama
yang terkait dengan ilmu kebidanan dengan menganalisa data secara obyektif, serta
berperan untuk membuat keluarga sadar akan akibat masalah tersebut dalam
perkembangan keluarga.
b. Pemberi pelayanan pada anggota keluarga yang sakit
Bidan berperan sebagai pemberi pelayanan pada keluarga dengan memberikan
asuhan kebidanan kepada anggota keluarga yang memerlukan.
c. Koordinator pelayanan kesehatan keluarga
Bidan dapat berperan sebagai koordinator pelayanan kesehatan keluarga
khususnya masalah kesehatan yang terkait dengan praktik kebidanan. Dalam hal ini,
bidan berperan mengkoordinasikan pelayanan kesehatan keluarga khususnya terkait
dengan praktik kebidanan, baik secara berkelompok maupun individual.
d. Sebagai fasilitator
Bidan berperan sebagai fasilitator yaitu mampu menjadikan pelayanan
kesehatan khususnya dalam lingkup kebidanan yang mudah dijangaku oleh keluarga
serta mampu mencarikan cara pemecahan masalahnya.

e. Pendidik kesehatan
Bidan sebagai pendidik kesehatan yaitu untuk mengubah perilaku keluarga
dari perilaku yang kurang/ tidak sehat menjadi perilaku sehat.
f. Sebagai penyuluh dan konsultan
Bidan sebagai penyuluh dan konsultan yang berperan dalam memberikan
petunjuk tentang asuhan kebidanan dasar dalam keluarga. Dalam melaksanakan
perannya ini, seorang bidan tidak dapat bekerja sendiri, melainkan perlu berkolaborasi
atau bekerja sama dengan profesi lain dalam rangka mencapai asuhan kebidanan pada
keluarga yang komprehensif, efektif dan efisien.
2. Tanggung jawab bidan dalam asuhan kebidanan pada keluarga
Bidan sebagai bagian utama dalam pelayanan asuhan kebidanan pada keluarga
mempunyai tanggung jawab, antara lain sebagai berikut.
a. Memberikan asuhan /pelayanan secara langsung
Pelayanan secara langsung harus diberikan secara intermiten khususnya yang
terkait dengan praktik kebidanan sesuai dengan tugas dan kewenangan Bidan. Namun
demikian, pelayanan yang diberikan di rumah (dalam konteks keluarga) hendaknya
lebih melibatkan anggota keluarga tersebut dalam upayan memberikan kesadaran
bahwa semua anggota keluarga mempunyai tanggung jawab yang sama terhadap
kesehatan. Dengan demikian, pendidikan kesehatan menjadi intervensi utama dalam
pelayanan kesehatan/asuhan kebidanan komunitas pada keluarga.
b. Pendokumentasian proses asuhan kebidanan
Pendokumentasian terhadap proses pelayanan/asuhan kebidanan selama dalam
keluarga sangat penting terutama untuk melihat kemajuan status kesehatan keluarga
khususnya dan kemajuan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan yang sedang
dialami pada umumnya. Dokumentasi yang jelas dan komprehensif dari pengkajian
hingga evaluasi, di samping mampu memberikan gambaran tentang perkembangan
status kesehatan keluarga juga dapat membantu keluarga sebagai klien untuk
menentukan kerangka waktu dalam menyelesaikan masalah secara realistik.
c. Koordinasi dengan tim pelayanan kesehatan lain dan manajemen kasus
Bidan mempunyai tanggung jawab untuk mengkoordinasikan atau
berkolaborasi dengan profesi kesehatan lain dalam memberikan pelayanan kepada
keluarga, sehingga masalah kesehatan yang dihadapi keluarga tersebut dapat diatasi
secara komprehensif. Sedangkan tanggung jawab bidan dalam manajemen kasus
adalah kemampuan untuk mengkaji masalah, menemukan masalah, menentukan
prioritas masalah, mengidentifikasi cara mengatasi masalah dengan penyusunan
rencana dan mengimplementasikan rencana tersebut secara sistematis.
d. Menentukan frekuensi dan lamanya asuhan/pelayanan kebidanan
Frekuensi asuhan/pelayanan kebidanan yang dimaksud adalah intensitas
kunjungan yang dilakukan selama periode waktu tertenu dalam proses asuhan
kebidanan yang diberikan. Sedangkan lamanya asuhan/pelayanan kebidanan adalah
lamanya waktu asuhan pelayanan kebidanan yang dilakukan di rumah atau di dalam
keluarga. Selama proses ini, keluarga senantiasa dilibatkan dalam dari perencanaan
sampai menentukan prioritas rencana rencana tindakan yang akan diimplementasikan.
Bidan juga harus memperkirakan alokasi waktu dan frekuensi yang kemungkinan
berbeda ketika harus berkolaborasi ketika harus berkolaborasi dengan tenaga
kesehatan/profesi lain.
3. Tujuan asuhan kebidanan pada keluarga
Peningkatan status kesehatan keluarga tentunya akan merupakan tujuan akhir
yang diharapkan dapat dicapai dari pelayanan/asuhan kebidanan pada keluarga yang
diberikan. Karena dengan meningkatnya status kesehatan seluruh anggota keluarga
pasti akan meningkatkan pula produktivitas keluarga terebut dan dengan
meningkatnya produktivitas keluarga, maka kesejahteraan keluarga akan semakin
meningkat. Secara lebih rinci tujuan asuhan kebidanan pada keluarga adalah sebagai
berikut.
a. Tujuan umum
Secara umum, tujuan asuhan kebidanan pada keluarga adalah untuk
meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan keluarga dalam meningkatkan,
mencegah dan memelihara kesehatan mereka sehingga status kesehatannya semakin
meningkat serta mampu melaksanakan tugas – tugas mereka secara produktif.
b. Tujuan khusus
Secara khusus, asuhan kebidanan pada keluarga ditujukan untuk:
meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengidentifikasi masalah
kesehatan yang dihadapi khususnya yang berkaitan dengan kesehatan ibu, bayi
baru lahir dan anak;
meningkatkan kemampuan keluarga dalam menanggulangi masalah kesehatan
dasar dalam keluarga;
meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan yang tepat;
meningkatkan kemampuan keluarga dalam memberikan pelayanan terhadap
anggota keluarga yang sakit; dan
meningkatkanproduktivitas keluarga dalam rangka meningkatkan mutu hidup
keluarga.
4. Prinsip prinsip asuhan kebidanan pada keluarga
Terdapat beberapa prinsip penting yang harus diperhatikan oleh bidan dalam
memberikan asuhan kebidanan/pelayanan kesehatan, antara lain sebagai berikut.
Keluarga sebagai unit atau satu kesatuan dalam pelayanan kesehatan Dalam
konteks ini, keluarga dipandang sebagai klien atau sebagai fokus utama
pengkajian dalam pelayanan/asuhan kebidanan. Keluarga dipandang sebagai
system yang saling berinteraksi dengan memperhatikan dinamika dan
hubungan internal keluarga, struktur dan fungsi keluarga dan saling
ketergantungan keluarga dengan pelayanan kesehatan serta dengan
lingkungannya.
Dalam memberikan asuhan/pelayanan kebidanan keluarga, status sehat adalah
menjadi tujuan utamanya melalui peningkatan status kesehatan keluarga
khususnya dengan program kesehatan ibu, bayi baru lahir, dan anak agar
keluarga dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraannya.
Asuhan yang diberikan sebagai sarana dalam mencapai peningkatan
kesehatan keluarga.
Dalam memberikan asuhan kebidanan pada keluarga, bidan harus mampu
melibatkan peran aktif dari semua anggota keluarga mulai dari
mengidentifikasi masalah,
Merumuskan masalah dan kebutuhan keluarga dalam rangka mengatasi
masalah kesehatan yang sedang dihadapinya.
Diupayakan lebih mengutamakan kegiatan yang bersifat promotif dan
preventif dengan tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif.
Dalam memberikan asuhan kebidanan hendaknya selalu memanfaatkan
sumber daya keluarga semaksimal mungkin.
Sasaran pelayanan asuhan kebidanan pada keluarga adalah keluarga secara
keseluruhan.
Pendekatan yang digunakan dalam pelayanan asuhan kebidanan pada
keluarga adalah pendekatan pemecahan masalah (problem solving approach)
dengan menggunakanproses asuhan kebidanan pada keluarga.
Kegiatan essensial dalam memberikan asuhan kebidanan keuarga adalah
penyuluhan/pendidikan kesehatan dan pelayanan kesehatan dasar.
Pemberian pelayanan/asuhan diutamakan kepada keluarga yang mempunyai
risiko tinggi terhadap masalah kesehatan teruatam masalah kesehatan ibu,
bayi baru lahir dan anak. Keluarga – keluarga yang tergolong mempunyai
risiko tinggi dalam kesehatan antara lain sebagai berikut.
a. Keluarga dengan anggota keluarga dalam masa usia subur, dengan masalah sebagai
berikut.
1) Tingkat sosial ekonomi rendah.
2) Keluarga kurang/tidak mampu mengatasi masalah kesehatan sendiri.
3) Keluarga dengan penyakit keturunan.
b. Keluarga dengan ibu risiko tinggi kebidanan, yaitu sebagai berikut.
1) Ibu hamil dengan usia terlalu muda atau terlalu tua (<16 tahun atau > 35 tahun).
2) Ibu hamil dengan anemia/kekurangan gizi.
3) Primipara atau multipara.
4) Riwayat persalinan dengan komplikasi.
c. Keluarga dengan kondisi anak sebagai berikut.
1) Lahir prematur.
2) Berat badan rendah atau sulit bertambah/naik.
3) Lahir dengan cacat kongenital.
4) Ibu menderita penyakit menular, dan sebagainya.
5. Langkah – langkah dalam asuhan Kebidanan pada keluarga
Langkah – langkah yang harus dilakukan oleh bidan dalam memberikan
asuhan kebidanan pada keluarga antara lain sebagai berikut.
a. Membina hubungan yang baik dengan seluruh anggota keluarga, dengan cara:
1) melakukan kontak sosial yang memandang keluarga sebagai sistem di mana
mereka hidup di masyarakat yang mempunyai struktur organisasi
kemasyarakatan tersendiri, sehingga sebelum melakukan dengan kontak
dengan keluarga, sebaiknya menyampaikan dan menjelaskan maksud dan
tujuan terlebih dahulu kepada struktur kemasyarakatan yang ada;
2) menyampaikan maksud dan tujuan serta minat untuk membantu keluarga
dalam mengatasi masalah kesehatan mereka;
3) menyatakan kesediaan untuk membantu memenuhi kebutuhan kesehatan yang
dirasakan oleh keluarga; serta
4) membina komunikasi dua arah yang harmonis dengan keluarga.
b. Melaksanakan pengkajian untuk menentukan adanya masalah kesehatan keluarga.
c. Menganalisa data untuk menentukan masalah kesehatan keluarga, dengan
melakukan pengelompokan data.
d. Merumuskan masalah dan mengelompokkan masalah dengan mengacu pada
tipologi dan sifat masalah kesehatan keluarga dengan kriteria.
e. Menentukan sifat dan luasnya masalah dan kesanggupan keluarga untuk
melaksanakan tugas- tugas keluarga dalam bidang kesehatan.
f. Menentukan skala prioritas masalah kesehatan keluarga dengan
mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan keluarga.
g. Menyusun rencana asuhan kebidanan pada keluarga sesuai dengan urutan prioritas
masalah yang telah disusun dengan langkah – langkah yang sistematis.
h. Melaksanakan/mengimplementasikan asuhan kebidanan pada keluarga sesuai
dengan rencana yang telah disusun.
i. Melaksanakan evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan.
j. Meninjau kembali masalah kesehatan keluarga yang belum teratasi dan
merumuskan kembali rencana asuhan kebidanan yang baru.
6. Implikasi dari pelayanan kesehatan yang dipusatkan kepada keluarga
Terdapat beberapa implikasi dalam pemberian pelayanan asuhan kebidanan
yang dipusatkan atau berorientasi kepada keluarga, antara lain sebagai berikut.
a. Pelayanan kesehatan dan asuhan kebidanan diarahkan untuk membantu seluruh
anggota keluarga dalam meningkatkan cara hidup sehat sehingga dapat
meningkatkan produktivitas dan derajat kesehatan keluarga.
b. Cakupan pelayanan kesehatan dan asuhan kebidanan menjadi lebih luas karena
banyak anggota keluarga yang bisa dicakup dan sumber – sumber keluarga yang
ada dapat diarahkan untuk meningkatkan kesehatan keluarga.
c. Pelayanan kesehatan dan asuhan kebidanan dipusatkan kepada keluarga sebagai
satu kesatuan yang utuh.
d. Pelayanan kesehatan dan asuhan kebidanan lebih ditekankan pada waktu – waktu
rawan dalam kehidupan keluarga, terutama pada keluarga – keluarga dengan
risiko tinggi.
e. Diperlukan pelayanan kesehatan dari tenaga kesehatan yang mempunyai
kemampuan yang kompeten dalam memberikan asuhan kebidanan secara
kontinyu dan sistemati agar dapat mencapai tujuan dan sasaran yang telah
ditetapkan terutama pada keluarga – keluarga yang rawan terhadap masalah
TUGAS
kesehatan.
Apa yang dimaksud dengan Asuhan kebidanan keluarga?
Apa saja Prinsip prinsip asuhan kebidanan pada keluarga?
Apa saja Tujuan asuhan kebidanan pada keluarga?
Apa saja Peran bidan dalam pelayanan kebidanan keluarga?
Apa saja langkah-langkah dalam pelayanan kebidanan keluarga
KEGIATAN BELAJAR 10

KONSEP JAMINAN KESEHATAN


DALAM KEBIDANAN
1. Pelayanan Kebidanan Dan Neonatal
Pelayanan Kebidanan dan Neonatal oleh:
a. Puskesmas/Puskesmas PONED/Klinik/Dokter praktik perorangan beserta
jejaringnya (Pustu, Polindes/ Poskesdes, Bidan desa/Bidan praktik Mandiri)
b. Bidan Praktik Mandiri yang menjadi jejaring faskes tingkat pertama yang
bekerja sama dengan BPJS Kesehatan dan Bidan Praktik Mandiri pada daerah
tidak ada faskes (Berdasarkan SK Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota
setempat)
c. Rumah Sakit/Klinik yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan
2. Biaya Pelayanan Kebidanan Dan Neonatal
a. Pelayanan ANC dan PNC di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (Puskesmas,
RS Kelas D Pratama, klinik pratama, atau fasilitas kesehatan yang setara):
Pelayanan ANC dan PNC oleh bidan di dalam gedung atau menggunakan
sarana Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (Puskesmas, RS Kelas D
Pratama, klinik pratama, atau fasilitas kesehatan yang setara) maka
pembayarannya sudah termasuk dalam kapitasi.
Pelayanan ANC dan PNC oleh bidan jejaring di luar gedung atau tidak
menggunakan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (Puskesmas, RS Kelas
D Pratama, klinik pratama, atau fasilitas kesehatan yang setara) maka
pembayarannya ditagihkan per tindakan (fee for service) dan
penagihannya melalui faske stingkat pertamanya. Maksimal kunjungan
ANC dan PNC yang bisa ditagihkan secara fee for service adalah masing-
masing sebanyak 4 (empat) kali. Kunjungan lebih dari 4 (empat) kali
tidak bisa ditagihkan kepada BPJS Kesehatan secara fee for service, tetapi
termasuk dalam biaya kapitasi. Pemeriksaan ANC dan PNC yang dapat
ditagihkan secara fee for service kepada BPJS Kesehatan masing-masing
maksimal 4 (empat) kali. Kunjungan lebih dari 4 kali tidak dapat
ditagihkan secara fee for service, tetapi termasuk dalam biaya kapitasi.
b. Pelayanan ANC dan PNC di dokter praktek tingkat pertama yang bekerjasama
dengan BPJS Kesehatan.
Pelayanan ANC dan PNC oleh dokter praktek tingkat pertama yang
bekerjasama dengan BPJS Kesehatan maka pembayarannya sudah termasuk
dalam kapitasi
Pelayanan ANC dan PNC oleh bidan jejaring dokter praktek tingkat pertama
yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan maka pembayarannya adalah fee
for service dan penagihannya melalui faskes tingkat pertamanya.
c. Pemeriksaan ANC dan PNC di fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan.
Pada kondisi kehamilan normal ANC harus dilakukan di faskes tingkat
pertama. ANC di tingkat lanjutan hanya dapat dilakukan sesuai indikasi medis
berdasarkan rujukan dari faskes tingkat pertama. Pemeriksaan ANC dan PNC
dilakukan di tempat yang sama, kecuali dalam keadaan darurat. Tujuannya untuk
keteraturan pencatatan partograf, monitoring perkembangan kehamilan dan
memudahkan administrasi klaim kepada BPJS Kesehatan

TUGAS :
Jelaskan dimana saja pelayanan kebidanan dan neonatal diberikan?
Berapa kali Maksimal kunjungan ANC dan PNC yang bisa ditagihkan
secara fee for service oleh BPJS?
Dimana pemeriksaan ANC harus dilakukan pemeriksaan?
Dimana pemeriksaan PNC harus dilakukan pemeriksaan?
Apa tujuan pemeriksaan ANC dan PNC?

KEGIATAN BELAJAR 11

KONSEP PELAYANAN KESEHATAN PADA


WANITA
Pelayanan kesehatan pada wanita sepanjang daur kehidupannya
a. Remaja/pranikah
Asuhan yang diberikan pada masa remaja
Gizi seimbang
Informasi tentang kesehatan reproduksi
Pencegahan kekerasan seksual (perkosaan)
Pencegahan terhadap ketergantungan napza
Perkawinan pada usia yang wajar
Peningkatan pendidikan, ketrampilan, penghargaan diri dan
pertahanan terhadap godaan dan ancaman.
b. Prakonsepsi
Masa ini merupakan masa terpenting bagi wanita dan berlangsung kira-kira
33 tahun. Haid pada masa ini paling teratur dan siklus pada alat genital
bermakna untuk memungkinkan kehamilan. Pada masa ini terjadi ovulasi
kurang lebih 450 kali, dalam selama ini wanita berdarah selama 1800 hari.
Biarpun pada usia 40 tahun ke atas wanita masih mampu hamil, tetapi fertilitas
menurun cepat sesudah usia tersebut.

c. Ibu Hamil
Bidan memberikan sedikitnya 4 kali pelayanan antenatal. Pemeriksaan
meliputi anamneses dan pemantauan ibu dan janin dengan seksama untuk
menilai apakah perkembangan berlangsung normal. Bidan juga harus mengenal
kehamilan resiko tinggi/ kelainan, khususnya anemia, kurang gizi, hipertensi,
PMS/ infeksi HIV; memberikan pelayanan imunisasi, nasehat dan penyuluhan
kesehatan serta tugas terkait lainnya yang diberikan oleh puskesmas. Mereka
harus mencatat data yang tepat pada setiap kunjungan. Bila ditemukan
kelainan, mereka harus mampu mengambil tindakan yang diperlukan dan
merujuknya untuk tindakan selanjutnya.

d. Ibu Bersalin
Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah mulai, kemudian
memberikan asuhan dan pemantauan yang memadai, dengan memperhatikan
kebutuhan klien, selama proses persalinan berlangsung.

e. Ibu Nifas
Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas melalui kunjungan rumah
pada hari ke-3 , minggu ke-2, dan minggu ke-6 setelah persalinan, untuk
membentu proses pemulihan ibu dan bayi melalui penananganan talipusat yang
benar, penemuan dini,penanganan atau rujukan kompliukasi yang mungkin
terjadi pada masa nifas; serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara
umum, keberishan perorangan,makanan bergizi, perawatan bayi baru lahir,
pemberian ASI, Imunisasi dan KB

f. Klimakterium/menopause
1. Klimakterium
Klimakterium bukan suatu keadaan patologik, melainkan suatu masa
peralihan yang normal, yang berlagsung beberapa tahun sebelum dan
beberapa tahun sesudah menopause. Klimakterium mulai kira-kira 6 tahun
sebelum menopause, berdasarkan keadaan endokrinplogik (kadar estrogen
mulai turun dan kadar hormone gonadotropin naik), dan jika ada gejala-
gejala klinis. Pada klimakterium terdapat penurunan produksi estrogen
dan kenaikan hormone gonadropin. Kadar hormone akhir ini tetap tinggi
sampai kira-kira 15 tahun setelah menopause, kemudian mulai menurun.
Pada wanita dalam klimakterium terjadi perubahan-perubahan tertentu,
yang dapat menyebabkan gangguan-gangguan ringan dan kadang-kadang
berat. Klimakterium merupakan masa perubahan, umumnya masa itu
dilalui oleh wanita tanpa banyak keluhan, hanya pada sebagian kecil
ditemukan keluhan yang cukup berat yang menyebabkan wanita
bersangkutan minta pertolongan dokter. Gangguan vegetative biasanya
berupa rasa panas dengan keluarnya malam dan perasaan jantung
berdebar-debar.
2. Menopouse
Menopouse adalah haid terakhir, atau saat terjadinya haid terakhir.
Berhentinya haid bisa didahului oleh siklus haid yang lebih panjang
dengan perdarahan yang berkurang. Umur waktu terjadinya menopause
dipengaruhi oleh keturunan, kesehatan umum, dan pola kehidupan. Ada
kecenderungan dewasa ini untuk terjadinya menopause pada umur yang
lebih tua. Terjadinya menopause ada hubungannya dengan menarche.
Makin dini menarche terjadi, makin lambat menopause timbul.
Menopouse yang artificial karena operasi atau radiasi umumnya
menimbulkan keluhan lebih banyak dibandingkan dengan menopause
alamiah
1) Perhatian pada problem menopause
2) Perhatian pada penyakit utama degenerative, termasuk rabun,
gangguan mobilitas dan osteoporosis. Berkurangnya hormone estrogen
pada wanita menopause mungkin menyebabkan berbagai keluhan
sebagai berikut :
1) Penyakit jantung koroner
2) Kadar estrogen yang cukup, mampu melindungi wanita dari
penyakit jantung koroner. Berkurangnya hormone estrogen dapat
menurunkan kadar kolesterol baik ( HDL ) dan meningkatnya kadar
kolesterol tidak baik ( LDL ) yang meningkatkan kejadian penyakit
jantung koroner.
3) Osteoporosis
4) Adalah berkurangnya kepadatan tulang pada wanita akibat
penurunan kadar hormone estrogen, sehingga tulang menjadi rapuh
dan mudah patah.
5) Gangguan mata
6) Mata terasa kering dan kadang terasa gatal karena produksi air mata
TUGAS :
berkurang.
Jelaskan
7) pelayanan kesehatan
Kepikunan yangtipe
( demensia diberikan pada
Alzeimer ). wanita saat masa
remaja8) Kekurangan hormone estrogen juga mempengaruhi susunan saraf

pusat dan otak. Penurunan hormone estrogen menyebabkan


Jelaskan pelayanan kesehatan yang diberikan pada wanita saat masa
kesulitan berkonsentrasi, sukar tidur, gelisah, depresi sampai pada
pra konsepsi
kepikunan tipe Alzeimer. Penyakit kepikunan tipe Alzeimer dapat
Jelaskan pelayanan kesehatan
terjadi bilam yang diberikan
kekurangan estrogenpada wanita
sudah saat masacukup lama
berlangsung
kehamilan dan berat, yang dipengaruhi factor keturunan.

Jelaskan pelayanan kesehatan yang diberikan pada wanita saat masa


persalinan

Jelaskan pelayanan kesehatan yang diberikan pada wanita saat masa


menopause
KEGIATAN BELAJAR 12

KONSEPMANAJEMEN TERPADU BALITA


SAKIT
1. Pengertian MTBS
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) atau Integrated Management of
Childhood Illness (IMCI) adalah suatu pendekatan yang terintegrasi/terpadu dalam
tatalaksana balita sakit dengan fokus kepada kesehatan anak usia 0-59 bulan (balita)
secara menyeluruh. MTBS bukan merupakan suatu program kesehatan tetapi suatu
pendekatan/cara menatalaksana balita sakit. Konsep pendekatan MTBS yang pertama
kali diperkenalkan oleh WHO merupakan suatu bentuk strategi upaya pelayanan
kesehatan yang ditujukan untuk menurunkan angka kematian, kesakitan dan
kecacatan bayi dan anak balita di negara-negara berkembang.
Penyakit-penyakit terbanyak pada balita yang dapat di tatalaksana dengan
MTBS adalah penyakit yang menjadi penyebab utama kematian, antara lain
pneumonia, diare, malaria, campak dan kondisi yang diperberat oleh masalah gizi
(malnutrisi dan anemia). Langkah pendekatan pada MTBS adalah dengan
menggunakan algoritma sederhana yang digunakan oleh perawat dan bidan untuk
mengatasi masalah kesakitan pada Balita. Bank Dunia, 1993 melaporkan bahwa
MTBS merupakan intervensi yang cost effective untuk mengatasi masalah kematian
balita yang disebabkan oleh Infeksi Pernapasan Akut (ISPA), diare, campak malaria,
kurang gizi, yang sering merupakan kombinasi dari keadaan tersebut.
Pendekatan MTBS di Indonesia pada awalnya dimanfaatkan untuk
meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di unit rawat jalan kesehatan dasar
(Puskesmas dan jaringannya termasuk Pustu, Polindes, Poskesdes, dll). MTBS
mengkombinasikan perbaikan tatalaksana kasus pada balita sakit (kuratif) dengan
aspek gizi, imunisasi dan konseling ( promotif dan preventif).
Agar penerapan MTBS dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan, maka
diperlukan langkah-langkah secara sistematis dan menyeluruh, meliputi
pengembangan sistem pelatihan, pelatihan berjenjang, pemantauan pasca pelatihan,
penjaminan ketersediaan formulir MTBS, ketersediaan obat dan alat, bimbingan
teknis dan lain-lain.
2. Tujuan MTBS
Menurunkan secara signifikan angka kesakitan dan kematian global yang
terkait dengan penyebab utama penyakit pada balita, melalui peningkatan kualitas
pelayanan kesehatan di unit rawat jalan fasilitas kesehatan dasar dan memberikan
kontribusi terhadap pertumbuhan perkembangan kesehatan anak.
Penerapan MTBS dengan baik dapat meningkatkan upaya penemuan kasus
secara dini, memperbaiki manajemen penanganan dan pengobatan, promosi serta
peningkatan pengetahuan bagi ibu – ibu dalam merawat anaknya dirumah serta upaya
mengoptimalkan system rujukan dari masyarakat ke fasilitas pelayanan primer dan
rumah sakit sebagai rujukan. ( Modul MTBS 1, 2008 ).

3. Strategi MTBS
Strategi MTBS memliliki 3 komponen khas yang menguntungkan, yaitu:
a) Komponen I : meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam tatalaksana
kasus balita sakit (dokter, perawat, bidan, petugas kesehatan)
b) Komponen II : memperbaiki sistem kesehatan agar penanganan penyakit pada
balita lebih efektif
c) Komponen III : Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam
perawatan di rumah dan upaya pencarian pertolongan kasus balita sakit
(meningkatkan pemberdayaan keluarga dan masyarakat, yang dikenal sebagai
“Manajemen Terpadu Balita Sakit berbasis masyarakat”).

4. Pelaksana MTBS
Pelaksana pada pelayanan kesehatan dengan pendekatan MTBS adalah
tenaga kesehatan di unit rawat jalan tingkat dasar yaitu paramedis atau dokter.
MTBS bukan dirancang untuk fasilitas pelayanan rawat inap dan bukan untuk
kader.

5. Prosedur Pelaksanaan MTBS


Beberapa macam prosedur penanganan balita sakit sesuai standar MTBS ini,
antara lain meliputi: penilaian, klasifikasi penyakit, tindakan/pengobatan, nasehat bagi
ibu dan tindak lanjut. Detail Penjelasan langkah-langkah tersebut sebagai berikut :
a. Menilai dan membuat klasifikasi penyakit
Menilai dan membuat klasifikasi penyakit anak umur 2 bulan sampai 5 tahun.
Tindakan ini dilakukan dengan cara melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Sedangkan pengklasifikasian delakukan dengan membuat sebuah keputusan mengenai
kemungkinan penyakit atau masalah serta tingkat keparahannya. Menilai dan
membuat klasifikasi penyakit dilakukan dengan beberapa kegiatan, antara dengan
memeriksa tanda bahaya umum,  merupakan tanda penyakit yang serius. Tanda
bahaya umum dapat terjadi pada penyakit apapun dan tidak dapat membantu
menentukan jenis penyakit secara spesifik. Hanya dengan satu tanda bahaya umum
saja, sudah cukup untuk menunjukkan bahwa penyakit itu berat, sehingga sebelum
melakukan penilaian    setiap penyakit, penting memeriksa beberapa tanda bahaya
umum seperti Tidak bisa minum atau menetek, Muntahkan semuanya, Kejang, serta
Letargis atau tidak sadar
 Menanyakan keluhan utama
Beberapa jenis pertanyaan yang penting untuk diajukan terkait dengan Menilai
batuk atau sukar bernapas dan klasifikasinya, menilai diare dan klasifikasinya,
menilai demam dan klasifikasinya, serta menilai masalah telinga dan
klasifikasinya.
 Menilai batuk atau sukar bernapas dan klasifikasinya
Setelah memeriksa tanda bahaya umum, ditanyakan kepada ibu apakah
menderita batuk atau sukar bernapas, jika anak batuk atau sukar bernapas, sudah
berapa lama, menghitung frekuensi napas, melihat tarikan dinding dada bawah
ke dalam, dan melihat dan dengar adanya stridor. Kemudian dilakukan
klasifikasi apakah anak menderita pneumonia berat, pneumonia atau batuk
bukan pneumonia.

 Menilai diare dan klasifikasinya


Setelah memeriksa batuk atau suka bernapas, petugas menanyakan kepada ibu
apakah anak menderita diare, jika anak diare, tanyakan sudah berapa lama,
apakah beraknya berdarah (apakah ada darah dalam tinja). Langkah berikutnya
adalah memeriksa keadaan umum anak, apakah anak letargis atau tidak sadar,
apakah anak gelisah dan rewel/mudah marah; melihat apakah mata anak cekung,
memeriksa kemampuan anak untuk minum: apakah anak tidak bisa minum atau
malas minum, apakah anak haus minum dengan lahap; memeriksa cubitan kulit
perut untuk mengetahui turgor: apakah kembalinya sangat lambat (lebih dari 2
detik) atau lambat. Setelah penilaian didapatkan tanda dan gejala diare, maka
selanjutnya diklasifikasikan apakah anak menderita dehidrasi berat,
ringan/sedang, tanpa dehidrasi, diare pesisten berat, diare persisten atau disentri.
 Menilai demam dan klasifikasinya
Demam merupakan masalah yang sering dijumpai pada anak kecil. Tanyakan
kepada ibu apakah anak demam, selanjutnya periksa apakah anak teraba panas
atau mengukur suhu tubuh dengan termometer. Dikatakan demam jika badan
anak teraba panas atau jika suhu badan 37,5 derajat celcius atau lebih. Jika anak
demam, tentukan daerah resiko malaria: resiko tinggi, resiko rendah atau tanpa
resiko malaria. Jika daerah resiko rendah atau tanpa resiko malaria, tanyakan
apakah anak dibawa berkunjung keluar daerah ini dalam 2 minggu terakhir. Jika
ya, apakah dari resiko tinggi atau resiko rendah malaria kemudian tanyakan
sudah berapa lama anak demam. Jika lebih dari 7 hari apakah demam terjadi
setiap hari, lihat dan raba adanya kaku kuduk, lihat adanya pilek, apakah anak
menderita campak dalam 3 bulan terakhir, lihat adanya tanda-tanda campak:
ruam kemerahan di kulit yang menyeluruh dan terdapat salah satu gejala berikut:
batuk, pilek atau mata merah.
 Menilai masalah telinga dan klasifikasinya. 
Setelah memeriksa demam, petugas menanyakan kepada ibu apakah anak
mempunyai masalah telinga. Jika anak mempunyai masalah telinga, tanyakan
apakah telinganya sakit, lihat adakah nanah keluar dari telinga, raba adakah
pembengkakan yang nyeri di belakang telinga. Kemudian klasifikasikan apakah
anak menderita mastoiditis, infeksi telinga akut, infeksi telinga kronis atau tidak
ada infeksi telinga.
 Memeriksa status gizi dan anemia serta klasifikasinya
Setiap anak harus diperiksa status gizinya karena kekurangan gizi merupakan
masalah yang sering ditemukan, terutama diantara penduduk miskin.
Langkahnya yaitu memeriksa apakah anak tampak sangat kurus, memeriksa
pembengkakan pada kedua kaki, memeriksa kepucatan telapak tangan: apakah
sangat pucat atau agak pucat, dan membandingkan berat badan anak menurut
umur. Kemudian mengklasifikasikan sesuai tanda/gejala apakah gizi buruk
dan/atau anemia berat, bawah garis merah (BGM) dan/atau anemia, tidak BGM
dan tidak anemia.
 Memeriksa status imunisasi
Petugas memeriksa status imunisasi dari setiap anak yang sakit, kemudian
menuliskan tanggal pemberian imunisasi untuk setiap jenis vaksin. Jika data
imunisasi tidak ada, tanyakan pada ibu imunisasi apa saja yang sudah pernah
diberikan kepada anaknya dan kapan diberikan. Semua anak harus mendapat
semua jenis imunisasi yang dianjurkan sebelum ulang tahunnya yang pertama.
 Memeriksa pemberian vitamin A
Setiap balita berumur 6 bulan sampai 5 tahun perlu mendapat suplemen
vitamin A untuk mencegah kebutaan dan meningkatkan daya tahan tubuh.
Pemberian vitamin A biasanya dilakukan setahun 2 kali di Posyandu pada
“bulan vitamin A” yaitu Februari dan Agustus. Menanyakan kepada ibu apakah
anaknya yang berumur 6 bulan keatas telah mendapatkan tambahan vitamin A
dan kapan yang terakhir. Tuliskan tanggal pemberian vitamin A, jika pemberian
terakhir telah lebih dari 6 bulan, anak tersebut sudah memerlukan 1 dosis
vitamin A sesuai umurnya. Anjurkan kepada ibu untuk secara teratur
melanjutkan pemberian vitamin A kepada anaknya di posyandu pada bulan
vitamin A sampai anaknya berumur 5 tahun.
 Memeriksa masalah kesehatan lainnya
Setelah dilakukan penilaian terhadap tanda bahaya umum, batuk atau sukar
bernapas, diare, demam, memeriksa status gizi dan anemia, kemudian periksa
apakah ada masalah kesehatan/keluhan lain.
b. Menentukan tindakan/pengobatan.
Setelah beberapa tahap kegiatan diatas, kemudian dilakukan kegiatan untuk  
menentukan jenis tindakan atau pengobatan yang perlu dilakukan. Tindakan ini
berarti menentukan tindakan dan memberi pengaobatan di fasilitas kesehatan yang
sesuai. Untuk menentukan tindakan/pengobatan bagi penyakit anak maka kolom
tindakan harus dilengkapi mulai dari penilaian, tanda/gejala, klasifikasi dan tindakan
yang akan dilakukan. Langkahnya adalah merujuk anak, memberikan obat yang
sesuai, mengajari ibu cara memberikan obat di rumah, mengajari ibu cara mengobati
infeksi lokal di rumah, nasehat perawatan di rumah tanpa obat dan meningkatkan
kesehatan anak.

c. Menasehati ibu.
Nasehat bagi ibu meliputi menilai cara pemberian makan anak, anjuran
pemberian makan selama sakit dan sehat, menasehati ibu tentang masalah pemberian
makan, meningkatkan pemberian cairan selama sakit, menasehati ibu kapan harus
kembali dan menasehati ibu tentang kesehatannya sendiri.
d. Pemberian pelayanan tindak lanjut
Kegiatan ini berarti menentukan tindakan dan pengobatan pada saat anak
datang atau kunjungan ulang. Pelayanan pada anak yang datang untuk tindak lanjut
menggunakan kotak-kotak yang sesuai klasifikasi anak sebelumnya. Jika anak
mempunyai masalah baru lakukan penilaian, klasifikasi dan tindakan terhadap
masalah baru tersebut seperti pada bagan penilaian dan klasifikasi.
Manajemen Terpadu Bayi Muda
a. Konsep Dasar MTBM
Dalam perkembangannya MTBS juga mencakup Manajemen Terpadu Bayi
Muda umur kurang dari 2 bulan baik dalam keadaan sehat maupun sakit. Umur 2
bulan tidak termasuk pada Bayi Muda tapi ke dalam kelompok 2 bulan sampai 5
tahun. Bayi Muda mudah sekali menjadi sakit, cepat menjadi berat dan serius bahkan
meninggal terutama pada satu minggu pertama kehidupan bayi. Penyakit yang terjadi
pada 1 minggu pertama kehidupan bayi hampir selalu terkait dengan masa kehamilan
dan persalinan. Keadaan tersebut merupakan karakteristik khusus yang harus
dipertimbangkan pada saat membuat klasifikasi penyakit. Pada bayi yang lebih tua
pola penyakitnya sudah merupakan campuran dengan pola penyakit pada
anak.Sebagian besar ibu mempunyai kebiasaan untuk tidak membawa Bayi Muda ke
fasilitas kesehatan. Guna mengantisipasi kondisi tersebut program Kesehatan Ibu dan
Anak (KIA) memberikan pelayanan kesehatan pada bayi baru lahir melalui kunjungan
rumah oleh petugas kesehatan.
Melalui kegiatan ini bayi baru lahir dapat dipantau kesehatannya dan
didekteksi dini. Jika ditemukan masalah petugas kesehatan dapat menasehati dan
mengajari ibu untuk melakukan Asuhan Dasar Bayi Muda di rumah, bila perlu
merujuk bayi segera. Proses penanganan Bayi Muda tidak jauh berbeda dengan
menangani balita sakit umur 2 bulan sampai 5 tahun.

b. Pelaksanaan MTBM
Proses manajemen kasus disajikan dalam bagan yang memperlihatkan urutan
langkah-langkah dan penjelasan cara pelaksanaannya:
a) Penilaian dan klasifikasi
b) Tindakan dan Pengobatan
c) Konseling bagi ibu
d) Pelayanan Tindak lanjut
Dalam pendekatan MTBS tersedia “Formulir Pencatan” untuk Bayi Muda dan
untuk kelompok umur 2 bulan sampai 5 tahun. Kedua formulir pencatatan ini
mempunyai cara pengisian yang sama yaitu :
a. Penilaian berarti melakukan penilaian dengan cara anamnesis dan pemeriksaan
fisik.
b. Klasifikasi, membuat keputusan mengenai kemungkinan penyakit atau masalah
serta tingkat keparahannya dan merupakan suatu kategori untuk menentukan tindakan
bukan sebagai diagnosis spesifik penyakit
c. Tindakan dan pengobatan berarti menentukan tindakan dan memberi pengobatan
difasilitas kesehatan sesuai dengan setiap klasifikasi.
d. Konseling juga merupakan menasehati ibu yang mencakup bertanya, mendengar
jawaban ibu, memuji, memberi nasehat relevan, membantu memecahkan masalah dan
mengecek pemahaman.
e. Pelayanan tindak lanjut berarti menentukan tindakan dan pengobatan pada saat
anak datang untuk kunjungan ulang.

Menanyakan kepada ibu mengenai masalah bayi muda. Tentukan pemeriksaan


ini merupakan kunjungan atau kontak pertama dengan bayi muda atau kunjungan
ulang untuk masalah yang sama. Jika merupakan kunjungan ulang akan diberikan
pelayanan tindak lanjut yang akan dipelajari pada materi tindak lanjut.

TUGAS
TUGAS: :

Jelaskan
Jelaskanpengertian
pengertianMTBS?
MTBS?
Jelaskan
Jelaskantujuan
tujuanMTBS?
MTBS?
Jelaskan
Jelaskanbagaimana
bagaimanakonsep
konsepMTBM?
MTBM?
Jelaskan
Jelaskan bagaimana pelaksanaanMTBM?
bagaimana pelaksanaan MTBM?
Jelaskan
JelaskanManfaat
Manfaatadanya
adanyaMTBS?
MTBS?

PENUTUP
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Kebidanan Komunitas sebagai
segala aktifitas yang dilakukan oleh bidan untuk menyelamatkan pasiennya dari
gangguan kesehatan. Pengertian kebidanan komunitas yang lain menyebutkan upaya
yang dilakukan Bidan untuk pemecahan terhadap masalah kesehatan Ibu dan Anak
balita di dalam keluarga dan masyarakat.

Kebidanan mencakup pengetahuan yang dimiliki bidan dan kegiatan


pelayanan yang dilakukannya untuk menyelamatkan ibu dan bayi yang dilahirkan.
Komunitas adalah kelompok orang yang berbeda di suatu lokasi tertentu yang
mempunyai norma dan nilai.

Demikianlah makalah yang telah kami susun, kami ucapkan terimakasih


kepada Allah SWT, karena dengan Rahmat dan Karunia-Nya kami dapat
menyelesaikan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA
Kholifah dan Widagdo. 2017. Modul Bahan Ajar Cetak: Keperawatan Keluarga dan
Komunitas. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (Online) :
http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/modul-bahan-ajar-tenaga-kesehatan/

Pinem, Srilina. 2016. Modul Askeb Komunitas. Medan: Akademi Kebidanan Mitra
Husada Medan. (Online) : http://mitrahusada.ac.id/wp-
content/uploads/2017/09/MODUL-ASKEB-KOMUNITAS.pdf

Sriyanti, Cut. 2016. Modul Bahan Ajar Cetak Kebidanan: Mutu Layanan Kebidanan
dan Kebijakan Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehataan Republik
Indonesia. (Online) : http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/modul-bahan-
ajar-tenaga-kesehatan/

Turrahmi, Hirfa. 2017. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta: Fakultas
Kedokteran dan Kesehatan Universitas. (Online) :
https://www.scribd.com/document_downloads/direct/380021914?
extension=pdf&ft=1536833436&lt=1536837046&user_id=271088006&uahk=1
maw0m9Mliy7iJteI1iJ52o7RHo

Kemenkes RI. (2017). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 28


tahun 2017 tentang izin dan penyelenggaraan praktik bidan. Jakarta: Kemenkes
RI.

Modul YPKP. (2015). Perspektif Gender dan HAM dalam Asuhan Kebidanan
Komunitas. Jakarta: YPKP.

Modul Mahasiswi. (2015). Asuhan Kebidanan Komunitas berperspektive gender dan


HAM. Jakarta: Yayasan Pendidikan Kesehatan Perempuan.

Pengurus Pusat IBI. (2016). Buku Acuan Midwifery Update. Jakarta: Ikatan Bidan
Indonesia.