Anda di halaman 1dari 3

Protein

Kurang lebih tiga perempat bagian tubuh yang padat adalah protein. Protein ini meliputi
protein struktural, enzim, nukleoprotein, protein yang mengangkut oksigen, protein otot yang
menimbulkan kontraksiotot, dan banyak jenis lainnya yang melaksanakan fungsi intrasel dan
ekstrasel yang spesifik di seluruh tubuh.

Unsur dasar penyusun protein adalah asam amino, dan 20 di antaranya terdapat dalam protein
tubuh dengan jumlah yang cukup banyak. Asam amino-asam amino protein bergabung
menjadi rantai panjang melalui ikatan peptida. Rata-rata molekul protein mengandung sekitar
400 asam amino. Beberapa molekul protein terdiri atas beberapa rantai peptida dan bukan
rantai tunggal, dan molekul protein ini dapat berikatan dengan ikatan yang lain, sering kali
oleh ikatan hidrogen antara radikal CO dan NH dari peptida.

A. Asam Amino Esensial dan Nonesensial

Sepuluh dari asam amino yang dalam keadaan normal terdapat dalam protein hewani dapat
disintesis dalam sel disebut asam amino non-esensial, sedangkan sepuluh yang lainnya tidak
dapat disintesis seluruhnya atau disintesis dalam jumlah sangat sedikit untuk menyuplai
kebutuhan tubuh disebut asam amino esensial.

B. Protein Plasma

Tipe utama protein yang terdapat dalam plasma adalah albumin, globulin, dan fibrinogen.
Fungsi utama albumin adalah membentuk tekanan osmotik koloid di dalam plasma, yang
akan mencegah hilangnya plasma dari kapiler. Globulin melakukan sejumlah fungsi
enzimatik dalam plasma, tetapi yang sama pentingnya, globulin terutama berperan pada
imunitas alamiah tubuh dan imunitas tubuh yang didapat untuk melawan invasi organisme.
Fibrinogen berpolimerisasi menjadi pilinan fibrin yang panjang selama proses koagulasi
darah. Dengan demikian, terbentuk bekuan darah yang akan membantu memperbaiki
kebocoran sistem sirkulasi.
C. Hubungan Protein dengan Hormon

1. Hormon Pertumbuhan Meningkatkan Sintesis Protein Sel

Hormon pertumbuhan menyebabkan penambahan jumlah protein jaringan. Mekanisme yang


pasti mengenai hal tersebut tidak diketahui, tetapi diyakini disebabkan terutama oleh
peningkatan transpor asam amino melalui membran sel, percepatan proses transkripsi DNA
dan translasi RNA untuk sintesis protein, dan penurunan oksidasi protein-protein jaringan.

2. Insulin Diperlukan untuk Sintesis Protein

Kekurangan total insulin menurunkan sintesis protein hingga menjadi hampir nol. Insulin
meningkatkan transpor beberapa asam amino ke dalam sel, yang dapat menjadi rangsangan
bagi pembentukan protein. Juga, insulin mengurangi pemecahan protein dan meningkatkan
ketersediaan glukosa untuk sel, sehingga kebutuhan asam amino sebagai sumber energi
secara bersamaan akan dikurangi.

3. Glukokortikoid Meningkatkan Pemecahan Sebagian Besar Protein Jaringan

Glukokortikoid yang disekresi oleh korteks adrenal menurunkan jumlah protein di sebagian
besar jaringan, sementara meningkatkan konsentrasi asam amino plasma, juga meningkatkan
protein hati serta protein plasma. Diyakini bahwa glukokortikoid meningkatkan kecepatan
pemecahan protein ekstra hepatik, dengan demikian meningkatkan jumlah asam amino yang
tersedia dalam cairan tubuh. Hal ini memungkinkan hati untuk menyintesis lebih banyak
protein seluler hepatik dan protein plasma.

4. Testosteron Meningkatkan Deposit Protein di Jaringan

Testosteron, hormon seks laki-laki, menyebabkan peningkatan penyimpanan protein di


jaringan seluruh tubuh, terutama protein kontraktil otot (30 sampai 50 persen peningkatan).
Mekanisme efek tersebut tidak diketahui, tetapi jelas berbeda dari efek hormon pertumbuhan,
dalam hal: Hormon pertumbuhan menyebabkan jaringan terus menerus tumbuh hampir tak
terbatas, sedangkan tosteron menyebabkan protein otot, dan dengan efek lebih kecil, protein
jaringan lainnya, bertambah hanya dalam waktu beberapa bulan. Begitu protein otot dan
jaringan lainnya mencapai jumlah maksimum, deposisi protein selanjutnya akan berhenti
meskipun testosteron terus diberikan.
5. Estrogen

Estrogen, hormon seks utama perempuan, juga menyebabkan sedikit penyimpanan protein,
tetapi efeknya relatif tidak bermakna dibandingkan dengan testosteron.

6. Tiroksin

Tiroksin meningkatkan laju metabolisme seluruh sel, dan akibatnya, secara tidak langsung
akan memengaruhi metabolisme protein. Jika karbohidrat dan lemak tidak cukup tersedia
untuk laju energi, tiroksin akan menyebabkan pemecahan protein yang cepat dan
menggunakannya sebagai sumber energi. Sebaliknya, jika jumlah karbohidrat dan lemak
cukup tersedia dan asam amino yang berlebihan juga tersedia dalam cairan ekstraselular,
tiroksin dapat meningkatkan kecepatan sintesis protein. Pada hewan atau manusia yang
sedang tumbuh, kekurangan tiroksin menyebabkan pertumbuhan sangat terhambat akibat
kurangnya sintesis protein. Pada hakikatnya, diyakini bahwa tiroksin mempunyai sedikit
pengaruh yang spesifik terhadap metabolisme protein tetapi mempunyai pengaruh umum
yang penting dengan cara meningkatkan kecepatan reaksi anabolisme dan katabolisme
protein normal.

Sumber

John E. Hall, P.D., 2011. Guyton dan Hall Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 12th ed. Elsevier.