Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

BAYI BARU LAHIR (NEONATUS)

Oleh :

M. FAHMI AMRULLOH
NIM. 182002022

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


STIKES PEMKAB JOMBANG
D3 KEPERAWATAN
2019/2020
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.....................................................................................................

DAFTAR ISI .................................................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN..............................................................................................

1.1 Latar Belakang..................................................................................................

1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................

1.3 Tujuan...............................................................................................................

1.4 Manfaat.............................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN...............................................................................................

ii
2.1 Definisi Neonatus.............................................................................................

2.2 Bayi Baru Lahir Normal...................................................................................

2.3 Bayi Baru Lahir Bermasalah............................................................................

2.4 Asuhan pada Bayi.............................................................................................

BAB III Penutup...........................................................................................................

18

3.1 Kesimpulan.......................................................................................................

18

3.2 Saran.................................................................................................................

18

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................

19

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kelahiran bayi memberikan kebahagiaan bagi orang tua dan keluarga

apalagi, bila prosesberjalan baik dengan kondisi ibu dan bayi dalam

kehidupan keluarga membuat perubahan dalam aktivitas anggota keluarga,

terutama bagi kedua orang tua. Mereka harus mampu memberikan asuhan

yang baik, agar tumbuh kembang bayi berjalan optimal.

Periode awal kelahiran atau disebut juga dengan istilah bayi baru lahir

(neunatus) merupakan masa kritis kehidupan bayi. Banyak kasus kematian

anak terjadi pada masa neonatal tersebut (Oza,et al., 2014) sehingga, salah

satu cara yang dilakukan untuk menurunkan tinggiinya kematian anak adalah

dengan memberikan perawatan kesehatan yang baik pada masa neonatal

(Abdullah, et al., 2014).

Pengasuhan pada bayi, tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan fisik

semata, nemun perlu juga memenuhi kebutuhan psikis bayi, kebutuhan psikis

tersebut dapat memberikan kenyamanan pada yang nanti membuat

keseimbangan pada kesehatan dan tumbuh kembangnya. Mengabaikan

asuhan pada bayi seperti tidak memberikan asupan asi dan gizi yang baik,

bisa menyebabkan gangguan kesehatan dan gizi bayi. Padahal, pada usia

tersebut merupakan periode tumbuh kembang anak karena masuk dalam

1000HPK (Katulla, at al., 2014; Mameli, et al., 2016).

1
1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan neonatus?

2. Apa yang dimaksud dengan bayi baru lahir normal?

3. Apa yang dimaksud dengan bayi baru lahir bermasalah?

4. Bagaimana asuhan pada bayi baru lahir?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan neonatus.

2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan bayi baru lahir normal.

3. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan bayi baru lahir bermasalah.

4. Untuk mengetahui bagaimana asuhan pada bayi baru lahir.

1.4 Manfaat

Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tentang bayi baru lahir

dan asuhan yang diberikan pada bayi baru lahir.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Neonatus

Neonatus adalah masa sejak lahir sampai dengan 4 minggu (28hari)

sesudah kelahiran. Neonatus adalah bayi berumur 0(baru lahir) sampai

dengan usia 1 bulan sesudah lahir. Neonatus dini adalah bayi berusia 0-7 hari,

neonatus lanjut adalah bayi berusia 7-28 hari.

Asuhan pada bayi sangat penting, karena pada masa tersebut, terutama

masa neonatus, bayi sangat rentan pada gangguan kesehatan dan gizi. Ini

masa transisi bayi, setelah kurang lebih 9 bulan berda dalam rahim ibu. Masa

perubahan kehidupan dari dalam rahim menjadi diluar rahim yang paling

besar terjadi selama 24-72 jam pertama, yaitu usia 2-6 hari (Putra, 2012).

Periode ini juga, bayi mendapatkan IMD, agar bisa segera mengonsumsi

kolostrum. Kolostrum merupaan asi terbaik yang keluar pada hari ke 0-5

setelah bayi lahir yang mengandung anti bodi(zat kekebaan) untuk

melindungi bayi dari zat yang dapat menimbulkan alergi atau infeksi. Setelah

itu, bayi mendapat asi eksklusif selama 6 bulan, tanpa ada tambahan makanan

lainnya. Baru setelah 6 bulan, bayi boleh di berikan MP-ASI.

2.2 Bayi Baru Lahir Normal

Pada waktu kelahiran, tubuh bayi baru lahir mengalami sejumlah adaptasi

psikolgik, bayi memerlukan pemantauan ketat untuk menentukan masa

transisi kehidupanya ke kehidupan luar uterus berlangsung baik. Bayi baru

lahir juga membutuhkan asuhan yang dapat meningkatkan kesempatan

untuknya menjalani masa transisi dengan baik.

3
Tujuan asuhan pada bayi baru lahr adalah memberikan asuhan

komperhensif kepada bayi baru lahir pada saat masih di ruang rawat serta

mengajarkan kepada orang tua dan memberi motivasi agar menjadi orang tua

yang percaya diri setelah kelahiran, akan terjadi serangkaian tanda-tanda vital

dan tampilan klinis jika bayi reaktif terhadap proses kelahiran

2.2.1 Periode Transisional

Periode transisional ini dibagi menjadi 3 peride yitu periode pertama

reaktifitas, fase tidur dan peride ke dua reaktifitas. Karasteristik masing

masing periode memperlihatkan kemajuan bayi baru lhir ke arah mandiri.

Pada beberapa jam pertama kehdupan bayi, perlu dilakukan beberapa

asuhan, antra lain: memantau tanda tanda vital, menimbang betar badan dan

mengukur panjang badan, lngkar kepala dan lingkar dada, melakukan

pengkajian usia gestasi bayi dalam 4 jam pertma kehidupan bayi, dilihat dari

karasteristik fisik eksternal dan keadaan neurmoskuler bayi.

a. Periode Pertama Reaktifitas

Periode pertama reaktifitas berakhir pada 30 menit pertama setelah

kelahiran. Karasteristik pada peride ini, antara lain: denut nadi apikal

berlangsung cepat dan irama tidak teratur, frekwensi pernafasan mencaa

80 x/menit, irama tidak teratur dan ada beberapa bay baru lahir

pernafasan cuping hidung, ekpirasi mendengkur dan adanya retraksi.

Terjadi fluktuasi warna merah jambu pucat ke sianosis. Tidak ada bising

usus dan bayi tidak berkemih. Bay memiliki sejumlah mukus, menangis

kuat, reflek menghisap kuat. Pda periode ini, mata bayi terbuka lebih

lama dari hari har sesudahnya, sehingga merupakan waktu yan tepat

4
untuk memulai proses perlekatan, karna bayi dapat mempertahankan

kontak mata dalam waktu lama.

Pada periode ini, bayi membutuhkan perawatan khusus, antara lain:

mengkaji dan memantau frekwensi jantung dan pernafasan setiap 30

menit pada 4 ja pertama saat kelahiran, menjaga bayi agar tetap

hangat(suhu aksila 36,5-37,5° c), menempatkan ibu dan bayi bersama

sama kulit ke kulit untuk memfasilitasi proses perlekatan, menunda

pemberian tetes mata proflaksis 1 jam pertama.

b. Fase Tidur

Fase ini merupakan interfal tidak responsif relatif atau fase tidur

yang di mulai dari 30 menit setelah periode pertama reaktifitas dan

berakhir pada 2-4 jam. Karasteristik pada fase ini adalah frekwensi

pernafasan dan deyu jantung menurun kembai ke nilai dasar, warna kulit

cenderung setabil, terdapat akrosianosis dan bisa terdengar bising usus.

Bayi tidak banyak embutuhkan asuhan, karena bayi tida memberikan

respon terhadap stimulus eksternal pada fase ini. meskipun demikian,

orang tuanya tetap daat menikmati fase ini dengan memeluk atau

menggendong bayi.

c. Periode Kedua Reaktifitas

Periode ke 2 reaktifitas ini berakhir sekitar 4-6 jam setelah kelahiran.

Karasteristk pada peride ini adalah: bayi memiliki tingkat sensitifitas

yang tinggi terhadap stimulus internal dan lingkungan. Frewensi nadi

apikal berkisar 120-160x/menit. Terjadi fluktuasi warna kulit dari warna

merah jambu atau kebiruan ke sianotik ringan di sertai bercak bercak.

5
Bayi sering berkemih dan mengeluaran mekoneum pada peride ini.

terjadi peningkatan mukus dan bayi bisa tersedak pada saat sekresi.

Reflek menghisap bayi sangat kuat dan bayi sangat aktif.

Kebutuan asuhan bayi pada periode ini antara lain: memantau secara

ketat kemungkinan bayi tersedak saat mengeluarkan mukus yang

berlebihan,memantau setiap kejadian agnea dan mulai melakukan metode

stimulasi / ransangan taktil segera, seperti mengusap punggung,

memiringkan bayi serta mengkaji keinginan dan kemampuan bayi untuk

mengisap dan menelan.

2.2.2 Periode Pasca Transisional

Pada saat bayi telah melewati peride transisi, bayi di pindah ke ruang

bayi normal/ rawat gabung bersama ibunya. Asuhan bayi baru lahir normal

umumnya mencakup: pengkajian tanda tanda vital(suhu aksila, frekwensi

pernafasan,denyut nd apikal setiap4 jam, pemeriksaan fisik setiap 8 jam,

pemberia asi on demand, mengganti popok seta menimbang berat badan

setiap 24 jam). Selain asuhan pada periode transisional dan paska

transisionl, asuhan bayi baru lahir juga diberikan pada bayi berusia 2-6 hari,

serta bayi berusia 6 minggu pertama.

2.3 Bayi Baru Lahir Bermasalah

Ashan pada bayi baru lahir bermasalah, diberikan pada bayi dengan

masalah-masalah berikut ini: bercak mongol, hemangioma, ikterus, muntah

dan gumoh, oral trush, diaper rush, seborrhoe, bisulan, milliariasis, diare,

obstipasi, infeksi, serta bayi meninggal mendadak.

6
2.3.1 Kelainan-Kelainan Pada Bayi Baru Lahir

Asuhan pada bayi baru lahir dengan kelainan, diberikan pada bayi baru

lahir dengan kelainan-kelaianan bawaan berikut ini hidrosefalus, meningokel,

ensefalokel, labioskizis, labiopalatoskizis, hernia diafragmatika, atresia

oesofagus, atresia duodeni, obstruksi biliaris, kelainan metabolik dan

endokrin, omfalokel, hirsprung, atresia rekti, atresia ani, fimosis, serta

hipospadia.

2.3.2 Trauma Pada Bayi Baru Lahir

Asuhan pada neonatus dengan trauma, diberikan kepada bayi baru lahir

dengan trauma persalinan, antara lain sebagai berikut: caput susedaneum,

cephal haematoma, trauma fleksus brakhialis, serta fraktur klavikula dan

fraktur humeri.

2.3.3 Neonatus Berisiko Tinggi

Asuhan pada neonatus berisiko tinggi, diberikan kepada bayi baru lahir

dengan keadaan-keadaan berikut ini: asfiksia neonatarum, ikterus, sindrom

gangguan nafas, perdarahan tali pusat, kejang, tetanetus neonatorum, BBLR,

hipotermi, hipertermi, hipoglikemi dan penyakit yang diderita ibu selama

kehamilan.

2.3.4 Kegawatdaruratan

Semua bayi baru lahir harus dinilai tanda-tanda kegawat/kelainan yang

menunjukkan suatu penyakit. Bayi baru lahir dinyatakan sakit apabila

mempunyai satu atau tanda-tanda sebagai berikut: sesak nafas, frekuensi

nafas lebih dari 60 kali permenit, tampak retraksi dinding dada, malas

7
minum, panas atau suhu badan bayi rendah, kurang aktif, berat lahir rendah

(1500-2500 gram) dengan kesulitan minum.

Tanda-tanda bayi sakit berat/ mengalami kegawatan adalah apabila

pada bayi baru lahir terdapat satu atau lebih tanda-tanda sebagai berikut:

bayi sulit minum, sianosis sentral (lidah biru), perut kembung, periode

apneu, kejang/ periode kejan kecil-kecil, merintih, perdarahan, sangat

kuning, serta berat badan lahir kurang dari 1500 gram.

2.4 Asuhan Pada Bayi

Asuhan pada bayi sangat penting, karena pada masa tersebut, terutama

masa neonatus, bayi sangat rentan pada gangguan kesehatan dan gizi. Ini

masa transisi bayi, setelah kurang lebih 9 bulan berda dalam rahim ibu. Masa

perubahan kehidupan dari dalam rahim menjadi diluar rahim yang paling

besar terjadi selama 24-72 jam pertama, yaitu usia 2-6 hari (Putra, 2012).

Periode ini juga, bayi mendapatkan IMD, agar bisa segera mengonsumsi

kolostrum. Kolostrum merupaan asi terbaik yang keluar pada hari ke 0-5

setelah bayi lahir yang mengandung anti bodi(zat kekebaan) untuk

melindungi bayi dari zat yang dapat menimbulkan alergi atau infeksi. Setelah

itu, bayi mendapat asi eksklusif selama 6 bulan, tanpa ada tambahan makanan

lainnya. Baru setelah 6 bulan, bayi boleh di berikan MP-ASI. Berikut

beberapa asuhan pada bayi (Kementerian Kesehatan, 2010).

2.4.1 Pencegahan Infeksi

Asuhan segera pada bayi baru lahir normal yang pertama adalah

pencegahan infeksi. Hal ini dilakukan karena bayi baru lahir sangat rentan

terhadap infeksi akibat sistem imunnya yang sangat rendah dan belum

8
sempurna. Hal yang perlu dilakukan antara lain memberikan vitamin K dan

memberian obat tetes atau salep mata. Pertama, memberikan vitamin K. Ini

mencegah terjadinya defisiensi vitamin K pada bayi baru lahir. Dimana

kekurangan vitamn K dapat menyebabkan bayi baru lahir mengalami

gangguan perdarahan atau biasanya di sebut perdarahan akibat defsiensi

vitamin K (PDVK). Kedua, memberikan obat tetes atau salep mata. Hal ini

berguna untuk mencegah penyakit mata karna klamidia (penyakit menular

seksual) bat mata di berikan pada jam pertama setelah persalinan

(kementrian kesehatan,2010).

2.4.2 Melakukan Penilaian

Tahap kedua pada asuhan bayi baru lahir yang harus dilkukan adalah

melakukan pnilaian yang bertujuan untuk mengetahui adanya masalah atau

kelainan pada bayi. Penilaian yang dilakukan dapat menggunakan

apgarscor. Apgaescor adalah sebuah tes untuk memastikan kondisi kesiapan

bayi dalam memulai kehidupan di luar perut ibu. Dalam tes tersebut

biasanya menggunaan tabel apgarscor untu mempermudah tenaga kesehatan

untuk memerksa kondisi bayi(suari,2018)

Tanda 0 1 2
Warna kulit Biru seluruh Tubuh merah, Merah seluruh

(Appearance) tubuh ekstra biru tubuh


Pulse (Denyut Tidak ada <100x/ menit >100x/menit

Jantung)
Grimace (Reaksi Tidak ada reaksi Sedikit Bersin

terhadap menyeringai

rangsangan)
Aktivity (Tonus Tidak ada Sedikit fleksi Gerakan aktif

9
otot)
Respiratory Tidak ada Merintih Menangis kuat

(Respirasi)

2.4.3 Pencegahan Kehilangan Panas

Untuk mencegah kehilangan panas pada bayi baru lahir, bayi

dikeringkan dengan menyeka tubuh bayi, bayi diselimuti dengan selimut

atau kain bersih dan hangat. Selanjutnya, dianjurkan ibu untuk memeluk dan

menyususi bayinya (Kementerian Kesehatan, 2010). Terdapat 4 mekanisme

kehilangan panas pada bayi yang baru lahir sebagai berkut (putra,2012).

a. Evaporasi

Penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi

sendiri. Penyebabnya adalah tubuh bayi tidak segera di keringkan.

b. Konduksi

Kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antar tubuh bayi

dengan permukaan yang dingin, seperti meja, tempaat tidur, dan benda

lainnya yang suhunya lebih rendah dari tubuh bayi.

c. Konveksi

Kehilangan panas tubuh terjadi saat bayi terpapar udara sekitar yang

lebih dingin, seperti ruangan yang dingin, adanya aliran udara dari kipas

angin, dan sebagainya.

d. Radiasi

Kehilangan panas yang terjadi karna bayi di tempatkan di dekat benda

yang memiliki suhu lebih rendah dari suhu tubuh bayi. Benda tersebut

10
akan menyerap radiasi panas tubuh bayi walaupun tidak bersentuhan

secara langsung.

2.4.4 Pemotongan dan Perawatan Tali Pusat

Tali pusat pada bayi harus di potong dan di sisakan sepanjang kurang

lebih 4cm. Tali pusat yang telah di potong segera di jepit dengan penjepit

plastik dan akan dilepaskan saat tali pusatnya sudah benar benar kering.

Dalam melakukan pemotongan tali pusat harus sangat hati-hati dan terjaga

kebersihannya (Angela, 2016). Jika hal tersebut tidak dilkukan dengan benar

dan baik, maka jaringan pada sisa tali pusat bisa menjadi tempat koloni

bakteri yang sangat berbahaya bagi bayi.

2.4.5 Pemberian Kolostrum

Kolostrum adalah air susu ibu (ASI) yang pertama kali keluar yang

berwarna kekuningan. Kolostrum bermanfaat untuk melindungi bayi dari

penyakit sebelum memperoleh imunisasi dasar lengkap. Kolostrum

mengandung zat kekebalan 10-17 kali lebih banyak dari susu

matang(mature). Zat kekebalan yang terdapat pada asi antara lain akan

melindungi bayi dari penyakit diare dan menurunkan kemunginan bayi

terkena penyakit infeksi telinga, batuk, pilek, dan penyait alergi

(maharani,2018).

2.4.6 Memandikan Bayi Baru Lahir

11
Setelah proses persalinan, bayi tidak boleh langsung di mandikan.

Dalam hal ini, perlu menunggu waktu hingga usia bayi 6 jam dari proses

persalinan baru boleh di mandikan (Safitri, 2019).

2.4.7 Membersihkan Jalan Nafas

Untuk membersihkan atau membuka jalan nafas pada bayi baru

lahir,dapat menggunakan jari ang di bungkus kasa steril, alat pengisap lendir

mulut atau alat pengisap lainnya yang steril oleh dokter atau bidan

(Veratamala, 2017).

2.4.8 Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik dilakukan leh dokter atau bidan secara menyeluruh

selama 12jam pertama kehidupannya. Tujuannya adalah mendeteksi sejak

dini adanya kelainan maupun gejala pada bayi. Pemeriksaan fisik terdiri dari

pengukuran berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala. Pada

pemeriksaan fisik,bayi yang lahir normal pernafasannya masih belum teratur

kedalamannya, kecepatan, dan iramanya. Frekwensi pernafasan pada bayi

baru lahir, bervariasi dai 30-60x/menit. Pada bayi yang lahr normal

frekwensi denyut nadinya berkisar antara 120-140x/menit(Siwi dan

Elizabeth,2016).

a. Kepala

Ubun-ubun besar, ubun ubun kecil, sutura, moulase, rambut meliputi

jumlah warna dan adanya lanugo pada bahu dan panggung.

b. Muka

Tanda tanda paralisis

c. Mata

12
Ukuran, bentuk (strabismus, pelebaran epicanthus) dan sesimetrisan,

kekeruhan korona, katarak kongenital, trauma, keluar nanah, bengkak

pada kelopak mata, perdarahan konjungtiva

d. Telinga

Jumlah, bentuk, posisi, kesimetrisan letak di hubungkan dengan mata

dan kepala serta adanya gangguan pendengaran

e. Hidung

Bentuk dan lebar hidung, pola pernafasan, kebersihan.

f. Mulut

Bentuk simetris/tidak, mukosa mulut keing/basah, lidah, palatum, bercak

putih pada gusi, reflek menghisap, adakah labio/palatoskisis, trush,

sianosis.

g. Leher

Bentuk simetris/tidak, adakah pembengkakan dan benjolan, kelainan

tiroid, hemangioma, tanda abnormalitas kromosom dan lain-lain.

h. Klavikula dan lengan tangan

Adakah fraktur klavikula, gerakan, jumlah jari.

i. Dada

Bentuk dan kelainan bentuk dada, puting susu, gangguan pernafasan,

auskultasi bunyi jantung dan perafasan.

j. Abdomen

Penonjolan sekitar tali pusar pada saat menangis, perdarahan tali pusat,

dinding perut dan adanya benjolan, distensi,gastroskisis, omfalokel,

bentuk simetris/tidak, palpasi hati dan ginjal.

13
k. Genetalia

Kelamin laki laki: panjang penis,testis sudah turunberada dalamskrotum,

orifisiumuretrae di ujung penis,kelainan(fimosis, hipospadia/epispadia),

kelamin perempuan: labia mayora dan labiya minora klistoris,orifisium

vagina, orifisium uretra, sekret dan lain lain.

l. Tungkai dan kaki

Gerakan, bentuk simetris/tidak, jumlah jari, gerakan.

m. Anus

Berlubang /tidak, posisi, fungsi spinger ani, adanya atresia

ani,megacolon.

n. Punggung

Bayi tengkurap, raba kurvatula kolumna vertebralis,skoliosis,

pembengkakan, spina bifida, meilomeningokel, lesung atau bercak

rambut, dan lain lain.

o. Pemeriksaan kulit

Verniks caseosa, lanugo, warna, udem, bercak, tanda lahir, memar.

p. Refleks

Berkedip, babinski, merangkak, menari melangkah,ekstruksi,

menghisap,ganalant’s, neck rithing,palmar grasp, rooting, statle, tonick

neck.

2.4.9 Identifikasi Bayi

Ada beberapa hal tentang identifikasi bayi, yaitu alat pengenal utuk

memudahkan

14
a. Identifikasi bayi perlu di pasang segara setelah persalinan.

b. Peralatan identifikasi bayi baru lahir harus selalu bersedia di tempat

penerimaan pasien, kamar bersain, dan di ruang rawat bayi.

c. Alat yang di gunakan hendakna kebal dengan air, tidak mudah melukai,

tidak mudah sobek, dn tidak mudah lepas.

d. Pada alat atau gelang identifikasi, harus tercantum nama( bayi dan

ibunya), tanggal lahir, nomor bayi, jenis kelamin, unit, dan nama lengkap

ibu.

e. Di setiap tempat tidur, harus di beri tanda dengan mencantuman nama,

tanggal lahir dan nmor identifikasi( kementria kesehatan,2010).

2.4.10 Pemberian Imunisasi Dasar Lengkap

Hal yang tidak noleh dilupakan untuk dilakukan pada bayi baru lahir atau

saat neunatus adalah pemberian imunisasi dasar. Imunisasi adalah

pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memsukkan

sesuatu kedalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yan sedang

mewabah atau berbahaya bagi seseorang. Terdapat 3 jenis imunisasi yang

wajib diperoleh bayi saat masa neonatus sebagai berikut:

a. Imunisasi bcg

BCG(Bacillus Calmette-guerin) adalah upaya pencegahan untuk jenis

infeksi tuberculosis (TBC) pada anak. Waktu pemberian imunisasi

BCG di sarankan satu kali saat ia baru lahir hingga usia di bawah dua

bulan dalam bentuk suntikan di bagian lengan.

b. Imunisasi polio

15
Imunisasi polio di berikan saat lahir, kemudia di berikan kembali saat

usia 2,4,6 bulan. Dilanjutkan saat usia 18 bulan dan 5 tahun.

c. Imunisasi hepatitis B

Imunisasi hepatitis B di berikan sekurang kurangnya 12 jam setelah

bayi lahir. Dengan syarat kondisi bayi stabil.

Tabel. Imunisasi dan Penyakit yang Bisa Dicegah.

Imunisasi Penyakit yang Bisa Dicegah


Hepatitis B Mencegah hepatitis B (kerusakan hati)
BCG Mencegah TBC
Polio Mencegah polio (lumpuh layu pada tungkai kaki dan

lengan)
DPT/HB Mencegah :

- Difteri

- Pertusis

- Tetanus

- Hepatitis B
Campak Mencegah campak

Tabel. Jadwal Pemberian Imunisasi


Vaksin Pemberian Imunisasi Selang Waktu Umur
BCG 1 kali 0-11 bulan
DPT 3 kali 4 minggu 2-11 bulan
Polio 4 kali 4 minggu 0-11 bulan
Campak 1 kali 9-11 bulan
Hepatitis B 3 kali 4 minggu 0-11 bulan

16
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Bayi baru lahir (neonatus) adalah suatu keadaan dimana bayi baru lahir

dengan umur kehamilan 38-40 minggu,lahir melalui jalan lahir dengan

presentasi kepala secara spontan tanpa gangguan, menangis kuat, nafas secara

spontan dan teratur,berat badan antara 2500-4000 gram.

Pada bayi lahir normal umumnya tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium,

namun kadang-kadang dengan riwayat kehamilan dan kondisi tertentu perlu

dilakukan pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi tertentu

Obat profilaksis yang rutin diberikan pada bayi baru lahir yaitu:

1. Vitamin K

2. Tetes / zalf mata

3.2 Saran

Jika dalam penulisan makalah ini terdapat kekuarangn dan kesalahan,

kami mohon maaf. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang

sifatnya membangun agar kami dapat membuat makalah yang lebih baik di

kemudian hari.

17
DAFTAR PUSTAKA

Nurrizka, Rahma Hida, 2019. Kesehatan Ibu dan Anak. Depok: RajaGrafindo
Persada

18