Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

TINJAUAN TEORI ELIMINASI [BAK]


Di tujukan untuk tugas mata kuliah “METODOLOGI”

NAMA KELOMPOK :
1. Anneke Putri Cahyani (05/18D10116)
2. Dwi Indah Kusuma (10/18D10121)
3. Gabriela Sabathirani (13/18D10124)
4. Musfira (31/18D10142)
5. Novita Dwi Harsrikristuti P (46/18D10157)
6. Okik Fridafauzi Susila (47/18D10159)

D – IV KEPERAWATAN ANESTESIOLOGI
TINGKAT. II / SEMESTER. 3
INSTITUSI TEKNOLOGI DAN KESEHATAN BALI
TAHUN 2019
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Eliminasi


Eliminasi merupakan proses pembuangan sisa-sisa metabolisme tubuh.
Pembuangan tersebut dapat melalui urin ataupun bowel.

1. Eliminasi Urin
Eliminasi urin normalnya adalah pengeluaran cairan. Proses pengeluaran ini
tergantung pada fungsi-fungsi organ eliminasi organ seperti ginjal, ureter,
bladder dan uretra. Ginjal memindahkan air dari darah dalam bentuk urin. Ureter
mengalirkan urin ke bladder. Dalam bladder urin ditampung sampai mencapai
batas tertentu yang kemudian dikeluarkan melalui uretra (Tarwoto & Wartonah
2004)

2. Reflek Miksi
Proses pembuangan urine disebut proses miksi. Proses miksi dimulai dari
adanya distensi vesika urinaria oleh urine yang merangsang stretch receptors
yang terdapat pada dinding vesika urinaria. Jumlah urine sebanyak 250cc sudah
cukup untuk memberikan rangsangan tersebut. Kandung kemih dipersarafi oleh
saraf sacral 2 (s-2) dan sacral 3 (s-3). Pusat miksi mengirimkan sinyal kepada
otot kandung kemih relaksasi dan spinter eksterna yang di bawah control
kesadaran akan berperan. Apakah mau miksi atau ditahan/ditunda. Pada saat
miksi otot abdominal berkontraksi bersama meningkatnya otot kandung kemih.

3. Karakteristik Urine Normal


a. Warna urine normal adalah kuning terang karena adanya pigmen urochrome.
Namun demikian, warna urine tergantung pada intake cairan, keadaan
dehidrasi konsentrasinya menjadi lebih pekat dan kecoklatan.penggunaan
obat-obat tertentu seperti multivitamin dan preparat besi maka urine akan
berubah menjadi kemerahan sampai kehitaman.
b. Bau urine normaladalah bau khas amoniak yang merupakan hasil pemecahan
urea oleh bakteri.Pemberian pengobatan akan mempengaruhi bau urine.
c. Jumlah urine yang dikeluarkan tergantung pada usia,intake cairan,dan ststus
kesehatan.Pada orang dewasa sekitar 1.200 sampai 1.500 ml per hari atau 150
sampai 600 ml per sekali miksi.

4. Faktor yang Mempengaruhi Eliminasi Urin

Faktor yang mempengaruhi eliminasi urine:


1. Diet dan Asupan (Intake)
Jumlah dan tipe makanan merupakan faktor utama yang mempengaruhi
output urine (jumlah urine). Protein dapat menentukan jumlah urine yang
dibentuk. Selain itu, juga dapat meningkatkan pembentukan urine.
2. Respons Keinginan Awal untuk Berkemih
Kebiasaan mengabaikan keinginan awal untuk berkemih dapat menyebabkan
urine banyak tertahan didalam urinaria sehingga mempengaruhi ukuran
vesika urinaria dan jumlah urine.
3. Gaya Hidup
Perubahan gaya hidup dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi
dalam kaitannya terhadap tersedianya fasilitas toilet.
4. Stres Psikologis
Meningkatnya stres dapat mengkibatkan meningkatnya frekuensi keinginan
untuk berkemih dan jumlah urine yang diproduksi.
5. Tingkat Aktivitas
Eliminasi urine membutuhkan tonus otot vesika urinaria yang baik untuk
fungsi sfingter. Hilangnya tonus otot vesika urinaria menyebabkan
kemampuan pengontrolan berkemih menurun dan kemampuan tonus otot
didapatkan dengan beraktivitas.
6. Tingkat Perkembangan
Tingkat perkembangan dan pertumbuhan juga dapat mempengaruhi pola
berkemih. Hal tersebut dapat ditemukan pada anak yang lebih memiliki
kesulitan untuk mengontrol buang air kecil. Namun dengan usia kemampuan
dalam mengontrol buang air kecil.
7. Kondisi Penyakit
Kondisi penyakit dapat mempengaruhi produksi urine, seperti diabetes
melitus.
8. Sosiokultural
Budaya dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi urine, seperti
adanya kultur pada masyarakat tertentu yang melarang untuk buang air kecil
di tempat tertentu.
9. Kebiasaan Seseorang
Seseorang yang memiliki kebiasaan berkemih mengalami kesulitan untuk
berkemih dengan melalui urineal/pot urine bila dalam keadaan sakit.
10. Tonus Otot
Tonus otot yang memiliki peran penting dalam membantu proses berkemih 
adalah otot kandung kemih, otot abdomen dan pelvis. Ketiganya sangat
berperan dalam kontraksi pengontrolan pengeluaran urine.
11. Pembedahan
Efek pembedahan dapat menyebabkan penurunan pemberian obat anestesi
menurunkan filtrasi glomelurus yang dapat jumlah urine karena dampak dari
pemberian obat anestesi sehingga menyebabkan penurunan jumlah produksi
urine.
12. Pengobatan
Pemberian tindakan pengobatan dapat berdampak pada terjadinya
peningkatan atau penurunan proses perkemihan. Misalnya pemberian
diuretik dapat meningkatkan jumlah urine, sedangkan pemberian obat
antikolinergik dan antihipertensi dapat menyebabkan retensi urine.
13. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik ini juga dapat mempengaruhi kebutuhan eliminasi
urine, khususnya prosedur-prosedur yang berhubungan dengan tindakan
pemeriksaan saluran kemih seperti IVY (intra uenus pyelogram), yang dapat
membatasi jumlah asupan sehingga mengurangi produksi urine. Selain itu
tindakan sistoskopi dapat menimbulkan edema lokal pada uretra yang dapat
menganggu pengeluaran urine.

5. Patofisiologis
Masing-masing gangguan eliminasi urin disebabkan oleh etiologi yang
berbeda. Pada pasien dengan usia tua, trauma yang menyebabkan cedera medulla
spinal, akan menyebabkan gangguan dalam mengkontrol urin/ inkontinensia urin.
Gangguan traumatik pada tulang belakang bisa mengakibatkan kerusakan pada
medulla spinalis. Cedera medulla spinalis (CMS) merupakan salah satu penyebab
gangguan fungsi saraf termasuk pada persyarafan berkemih dan defekasi.
Proses berkemih melibatkan 2 proses yang berbeda yaitu pengisian dan
penyimpanan urine dan pengosongan kandung kemih. Hal ini saling berlawanan
dan bergantian secara normal. Aktivitas otot-otot kandung kemih dalam hal
penyimpanan dan pengeluaran urin dikontrol oleh sistem saraf otonom dan
somatik. Selama fase pengisian, pengaruh sistem saraf simpatis terhadap
kandung kemih menjadi bertekanan rendah dengan meningkatkan resistensi
saluran kemih. Penyimpanan urin dikoordinasikan oleh hambatan sistem simpatis
dari aktivitas kontraktil otot detrusor yang dikaitkan dengan peningkatan tekanan
otot dari leher kandung kemih dan proksimal uretra. Pengeluaran urine secara
normal timbul akibat dari kontraksi yang simultan otot detrusor dan relaksasi
saluran kemih. Selama fase pengisian, impuls afferen ditransmisikan ke saraf
sensoris pada ujung ganglion dorsal spinal sakral segmen 2-4 dan informasikan
ke batang otak. Impuls saraf dari batang otak menghambat aliran parasimpatis
dari pusat kemih sakral spinal. Selama fase pengosongan kandung kemih,
hambatan pada aliran parasimpatis sakral dihentikan dan timbul kontraksi otot
detrusor.
Hambatan aliran simpatis pada kandung kemih menimbulkan relaksasi pada
otot uretra trigonal dan proksimal. Impuls berjalan sepanjang nervus pudendus
untuk merelaksasikan otot halus dan skelet dari sphincter eksterna. Hasilnya
keluarnya urine dengan resistensi saluran yang minimal. Pasien post operasi dan
post partum merupakan bagian yang terbanyak menyebabkan retensi urine akut.
Fenomena ini terjadi akibat dari trauma kandung kemih dan edema sekunder
akibat tindakan pembedahan atau obstetri, epidural anestesi, obat-obat narkotik,
peregangan atau trauma saraf pelvik, hematoma pelvik, nyeri insisi episiotomi
atau abdominal, khususnya pada pasien yang mengosongkan kandung kemihnya
dengan manuver Valsalva. Retensi urine pos operasi biasanya membaik sejalan
dengan waktu dan drainase kandung kemih yang adekuat.
6. Pathway
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Riwayat keperawatan
- Pola berkemih
- Gejala dari perubahan berkemih
- Faktor yang mempengaruhi berkemih
b. Pemeriksaan Fisik
- Abdomen
Pembesaran,pelebaran pembuluh darah vena,distensi bladder,pembesaran
ginjal,nyeri tekan,tenderness,bising usus.
- Genetalia wanita
Inflamasi nodul,iesi,adanya secret dari meatus,keadaan atropi jaringan
vagina
c. Intake dan output cairan
- Kaji intake dan output cairan dalam sehari (24 jam).
- Kebiasaan minum di rumah
- Intake cairan infuse,oral,Makanan,NGT.
- Kaji perubahan volume urine untuk mengetahui ketidak seimbangan
cairan.
- Output urine dari urinal,cateter bag,drainage ureterostomy,sistostomi.
- Karakteristik urine,warna,kejernihan,bau,kepekatan.
d. Pemeriksaan diagnostic
Pemeriksaan urine (urinalisis):
- warna (N:jernih kekuningan)
- Penampilan (N:jernih)
- Bau (N:beraroma)
- pH (N:1,005-1,030)
- Glukosa (N:negative)
- Keton (N:negative)
- Kultur urine (N:kuman pathogen negative)

2. Diagnosa Keperawatan
a. Perubahan pola eliminasi urine berhuungan dengan : 
 Ketidakmampuan saluran kemih akibat anomali saluran urinaria
 Penurunan kapasitas atau iritasi kandung kemih akibat penyakit
 Kerusakan pada saluran kemih
 Efek pembedahan pada saluran kemih
b. Inkontinensia fungsional berhubungan dengan :  
 Penurunan isyarat kandung kemih dan kerusakan kemampuan untuk
mengenl isyarat akibat cedera atau kerusakan kandung kemih
 Kerusakan mobilitas
 Kehilangan kemampuan motoris dan sensoris
c. Inkontinensia refleks berhubungan dengan gagalnya fungsi rangsang di atas
tingkatan arkus refleks akibat cedera pada medulla spinalis
d. Inkontinensia dorongan berhubungan dengan penurunan kapasitas kandung
kemih akibat penyakit infeksi, trauma, tindakan pembedahan, faktor penuaan
e. Retesi urine berhubungan dengan adanya hambatan pada sfingter akibat
penyakit striktur, BPH
f. Resiko terjadinya infeksi saluran kemih berhubungan dengan pemasangan
kateter, kebersihan perineum yang kurang.
3. Intervensi / Perencanaan
Tujuan :
a. Memahami arti eliminasi urine
b. Membantu mengosongkan kandung kemih secara penuh
c. Mencegah infeksi
d. Mempertahankan integritas kulit
e. Memberikan rasa nyaman
f. Mengembalikan fungsi kandung kemih
g. Memberikan asupan secara tepat
h. Mencegah kerusakan kulit
Rencana Tindakan :
a. Monitor/obervasi perubahan faktor, tanda dan gejala
terhadap masalah perubahan eliminasi urine.
b. Kurangi faktor yang mempengaruhi/penyebab masalah
c. Monitor terus perubahan retensi urine
d. Lakukan kateterisasi urine
e.  Pertahankan hidrasi secara optimal
f. Ajarkan pola berkemih terencana (untuk mengatasi kontraksi
kandung kemih yang tidak biasa)
g. Lakukan kolaborasi dengan tim dokter dalam mengatasi
iritasi kandung kemih
4. Implementasi
a. Pengumpulan Urine untuk bahan pemeriksaan
Mengingat tujuan pemeriksaan berbeda-beda, maka pengambilan sampel
urine juga dibeda-bedakan sesuai dengan tujuannya. Cara pengambilan urine
tersebut atara lain :
- Pengambilan urine biasa merupaka pengambilan urine dengan cara
mengeluarkan urine seperti biasa, yaitu buang air kecil. Biasanya untuk
memeriksa gula atau kehamilan.
- Pengambilan urine steril merupakan pengambilan urine dengan cara
dengan menggunakan alat steril, dilakukan dengan menggunakan alat
steril, dilakukan dengan keteterisasi atau pungsi supra pubis.
Pengambilan urine steril bertujuan mengetahui adanya infeksi pada
uretra, ginjal atau saluran kemih lainnya.
- Pengambilan urine selama 24 jam merupakan pengambilan urine yang
dikumpulkan dalam 24 jam, bertujuan untuk mengeetahui jumlah urine
selama 24 jam dan mnegukur berat jenis urine, asupan dan pengeluaran
serta mengetahui fungsi ginjal.
b. Menolong untuk buang air kecil dengan menggunakan urinal
Menolong BAK dengan menggunakan urinal merupakan tindakan
keperawatan dengan membantu pasien yang tidak mampu BAK sendiri
dikamar kecil dengan menggunakan alat penampung dengan tujuan
menampung urine dan mengetahui kelainan urine (warna dan jumlah)
c. Melakukan kateterisasi
Indikasi :
1) Tipe Intermitten 
• Tidak mampu berkemih 8 – 12 jam setelah operasi
• Retensi akut setelah trauma uretra
• Tidak mampu berkemih akibat obat sedatif atau analgesic
• Cedera pada tulang belakang
• Degenerasi neuromuskular secara progresif
• Pengeluaran urine residual
2) Tipe Indwelling
• Obstruksi aliran urine
• Pasca operasi saluran uretra dan struktur disekitarnya
• Obstruksi uretra

5. Evaluasi
Evaluasi keperawatan terhadap gangguan kebutuhan eliminasi urine secara
umum dapat dinilai dari adanya kemampuan dalam :
a. Miksi dengan normal, ditunjukkan dengan kemampuan berkemih sesuai
dengan asupan cairan dan pasien mampu berkemih tanpa menggunakan obat,
kompresi pada kandung kemih atau kateter.
b. Mengosongkan kandung kemih, ditunjukkan dengan berkurannya distensi,
volume urine residu, dan lancarnya kepatenan drainase
c. Mencegah infeksi/ bebas dari infeksi, ditunjukkan dengan tidak adanya
infeksi, tidak ditemukan adanya disuria, urgensi, frekuensi, dan rasa terbakar
d. Mempertahankan intergritas kulit, ditunjukkan dengan adanya perineal kering
tanpa inflamasi an kulit di sekitar uterostomi kering.
e. Memberikan pasa nyaman, ditunjukkan dengan berkurangnya disuria, tidak
ditemukan adanya distensi kandung kemih dan adanya ekspresi senang.
f. Melakukan Bladder training, ditunjukkan dengan berkurangnya frekuensi
inkontinensia dan mampu berkemih di saat ingin berkemih.