Anda di halaman 1dari 29

KATA PENGANTAR

Ucapan syukur selalu penulis munajatkan kepada Allah SWT yang


dengan ridho serta hidayah-Nya senantiasa melimpahkan rahmat kepada penulis
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah tugas Teknologi Pengelasan Kapal
tentang “Penggunaan Mesin Las FCAW (Flux Core Arc Welding).
Dengan selesainya penulisan makalah Teknologi Pengelasan Kapal ini
dalam rangka menyelesaikan tugas dari Bapak Sulaiman AT,MT.
Saya berharap makalah Teknologi Pengelasan Kapal ini bisa bermanfaat
bagi banyak orang. Saya menyadari bahwa karya tulis ini masih belum sempurna.
Untuk itu, kritik dan saran yang positif dari para pembaca sangat diharapkan demi
kesempurnaan karya berikutnya.

Semarang, 20 April 2019

Prasetio Prakoso
DAFTAR ISI
BAB I................................................................................................................................3

PENDAHULUAN.............................................................................................................3

1.1 Latar Belakang.................................................................................................3

1.2 Rumusan Masalah............................................................................................4

1.3 Tujuan dan Manfaat........................................................................................4

BAB II...............................................................................................................................5

PEMBAHASAN...............................................................................................................5

2.1 Pengertian FCAW..................................................................................................5

2.2 Peralatan Mesin Las FCAW..................................................................................6

2.3 Prinsip Pengelasan FCAW....................................................................................8

2.4 Skema & proses pengelasan FCAW.....................................................................8

2.5 Pemilihan jenis elektroda......................................................................................9

2.6 Perawatan Las......................................................................................................19

2.7 Kelebihan dan Kekurangan Las FCAW...........................................................22

2.8 Keselamatan & Kesehatan Kerja............................................................................23

BAB III...........................................................................................................................27

PENUTUP.......................................................................................................................27

3.1 Kesimpulan...........................................................................................................27

3.2 Saran.....................................................................................................................28

DAFTAR PUSTKA........................................................................................................29

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pengelasan adalah penyambungan dua material secara
permanen dengan cara mencairkan kedua material yang akan
disambung dan diikuti oleh material pengisi. . Perkembangan
teknologi pengelasan saat sekarang sudah berkembang secara pesat
salah satunya untuk membuat konstruksi kapal dengan memasukan
ukuran utama kapal itu otomatis konstruksi itu sudah jadi, pada
praktekmya teknologi pengelasan kapal ada panas listrik. Listrik dan
gas, panas rekasi campuran gas, dan isotermis.Dalam pengelasan
sering terjadi perubahan bentuk pengelasan,oleh karena itu kita harus
tahu cara mencegah da mengenali perubahan bentuk pengelasan.
Seiring dengan perkembangan zaman, maka pengelasan
sendiri mengalami beberapa perkembangan yang diantaranya
memiliki jenisnya yang berbeda juga, diantaranya SMAW, SAW, SW,
EWR, FCAW, dll. Setiap jenis las tersebut pun memiliki caranya yang
berbeda. Pada makalah ini akan dibahas tentang pengelasan tentang
FACW (Flux Cored Arc Welding).

3
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu FCAW?
2. Bagaimana peralatan Las FCAW?
3. Bagaimana prinsip kerja Las FCAW?
4. Bagaiman perawatan pada Las?
5. Bagaimana pengelasan plat baja dan pipa dengan Las FCAW?
6. Apa Kelebihan dan kekurangan FCAW?

1.3 Tujuan dan Manfaat


a. dapat mengetahui apa itu FCAW
b. dapat mengetahui apa saja peralatan dari Las FCAW
c. dapat mengetahui bagaimana prinsip kerja Las FCAW
d. dapat mengetahui bagaimana perawatan dari mesin Las FCAW
e. dapat mengetahui bagaimana pengelasan Plat Baja dan Pipa dengan
Las FCAW

4
BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian FCAW
Pengertian Proses Pengelasan FCAW Flux Core
Arc Welding Adalah sebuah proses pengelasan yang menggunakan
sumber panas yang berasal dari energi listrik yang dikonversi menjadi
sumber panas pada busur listrik, pada pengelasan FCAW ini jenis
pelindung yang digunakan adalah flux atau serbuk yang berada di inti
kawat las (kawat las digulung dalam sebuah roll). Selain flux, FCAW
juga menggunakan gas pelindung untuk melindungi logam las yang
mencair saat proses pengelasan berlangsung.
Las FCAW (Flux Core Arc Welding) mempunyai
dua tipe yang dibedakan menurut jenis perlindungan yang digunakan
yaitu Self Shielding dan Gas Shielding. Self Shielding FCAW adalah
proses pengelasan FCAW yang menggunakan flux yang berada di inti
kawat las untuk melindungi logam las saat mencair. Sedangkan Gas
Shielding FCAW adalah proses pengelasan FCAW yang menggunakan
flux dan tambahan gas yang berasal dari luar sistem atau gas dari
tabung.

5
2.2 Peralatan Mesin Las FCAW

Gambar 1.1
keterangan :
1. Tabung Gas CO2
Tabung gas CO2 adalah tabung yang digunakan sebagai
tempat gas pelindung wire yang menggunakan gas karbon
dioksida(CO2).
2. Regulator
Regulator pada gas CO2 berbeda dengan tabung gas pada
umumnya karena pada bagian belakang regulator terdapat oven untuk
memanaskan gas CO2 karena gas CO2 bersifat dingin, jika tidak
dipanaskan maka akan terjadi penyumbatan pada saluran gas buang.
3. Selang gas CO2
Selang gas CO2 adalah alat penyalur gasCO2 ke mesin.
4. Torch / Gun / Stang Las
Gun berfungsi sebagai alat penyalur gas buang dan kawat
wire pada benda kerja.Serta sebagai penghantar massa.Skema
bagian-bagian Torch (stang las fcaw).
5. Control Box
Digunakan untuk mengatur posisi, kecepatan, besar kecil
ayunan, laju mesin Gun/Torch pada saat pengerjaan.
6. Welding Wire

6
Wire pada mesin FCAW berbeda dengan wire pada
umumnya karena wire pada FCAW memiliki selaput pelindung yang
melindungi hasil pengelasan dari kontaminasi udara luar.
7. Control System
Kontrol system adalah mesin yang digunakan untuk
mengatur arus pada mesin FCAW otomatis.
8. Kabel power
Kabel power adalah kabel yang menghubungkan antara
mesin dan supply tenaga.
9. Trafo
Digunakan untuk mengubah arus voltase pada supply
tenaga untuk menggerakkan motor pada control box.
10. Rail
Digunakan sebagai dudukan control box agar dapat
melakukan pengelasan dengan jarak yang panjang.

7
2.3 Prinsip Pengelasan FCAW
 Termasuk dalam pengelasan busur (arc welding process)
 Menggunakan elektroda terumpan(consumable electrode)
 Produktivitas yang kontinu dari pasokan elektroda las
 Sifat metalurgy las yang dapat dikontrol dari pemilihan fluks
 Pembentukan manik las yang cair dapat ditopang oleh slag yang

tebal dan kuat

2.4 Skema & proses pengelasan FCAW

Gambar 13.4 Skema Pengelasan FCAW

 Saat terjadi busur listrik elektrode ikut mencair dan berfungsi sebagai
logam pengisi.
 Elektroda merupakan kawat yang terus menerus diarahkan dari spul
melalui slang dan akhirnya diumpankan ke las melalui nozel welding gun.
 Panas untuk pengelasan dihasilkan dari busur antara kawat(inti dari fluks)
dan permukaan kerja.

8
2.5 Pemilihan jenis elektroda

a. Klasifikasi Kawat Elektroda


FCAW adalah proses las yang menggunakan kawat
elektroda kontinyu, di mana inti fluksi akan melindungi cairan las
dan kemudian membentuk terak ( tipis ) setelah cairan las beku,
seperti proses las busur manual.

Beberapa tipe kawat elektroda dapat melindungi secara


keseluruhan proses tersebut, artinya fluksinya dapat melindungi cairan las
dari kontaminasi udara luar pada saat proses las berlangsung dan
membentuk terak pelindung saat pembekuan. Namun ada tipe kawat
elektroda yang membutuhkan gas pelindung tambahan ( kedua ), seperti
gas Carbon Dioksida ( CO2 ) atau campuran gas Argon / CO2.

Kawat elektroda berinti fluksi ( flux-core electrode wire )


diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal, antara lain :

 bahan yang dilas


 gas pelindung yang gunakan
 posisi pengelasan
 jenis arus yang dipakai
 bentuk konstruksi
Sistem penulisan pada pengklasifikasian kawat elektroda dibagi tiga kelompok,
di mana tiap kelompok terdiri dari huruf dan angka yang akan menunjukkan
arti dari klasifikasi kawat tersebut.
Ada beberapa sistem klasifikasi elektroda yang dipakai saat ini, antara lain
menurut sistem klasifikasi American Welding Society ( AWS ), Australian
Standard ( AS ), JIS, DIN, dll.

9
Berikut ini adalah salah satu contoh sistem klasifikasi elektroda las flux core
yakni berdasarkan Australian Standard AS 2203 .

Kelompok Pertama : Disain dan Posisi Pengelasan


E = Elektroda

T = disain elektroda berongga/ pipa / tubular ( disambung atau tidak )

D = posisi pengelasan : horizontal pada sambungan sudut ( fillet ) atau


fIlat

P = cocok untuk semua posisi

S = hanya cocok untuk jalur tunggal

Contoh :

1. Elektroda dengan label ETD artinya hanya dapat dipakai untuk pengelasan
pada posisi flat dan sambungan sudut posisi horizontal.
2. Elektroda dengan label ETP artinya dapat dipakai untuk semua posisi.

Kelompok Kedua : Jenis Gas Pelindung dan Arus Las


G = menunjukkan bahwa pengelasan membutuhkan gas pelindung
tambahan/ kedua

N = Tidak membutuhkan gas pelindung ( tambahan )

C = gas pelindung : CO2

M = gas pelindung campuran

10
Kemudian huruf N, C atau M akan diikuti oleh hurf kecil yang akan
menunjukkan jenis arus yang dipakai.

n = DC elektroda negatif ( DC - ), potensial konstan

p = DC elektroda positif ( DC + ) , potensial konstan

a = AC atau DC , arus konstan atau potensial konstan

Contoh :

ETP-GCp artinya proses pengelasan memerlukan gas pelindung CO2 dan


jenis arus yang dipakai adalah DC +

Contoh :

ETD-GMp-W769A.K3H5 artinya :

ETD = Elektroda tubular untuk pengelasan posisi flat atau


posisi horizontal untuk sambungan sudut

GMp = Jenis gas pelindung campuran Argon/CO2 , menggunakan


arus

DC +

W769A.K3H5

W = Bahan las ( weld metal )

76 = 0,1 x tegangan tarik minimum = 760 MPa.

9 = no. tingkat tegangan tekan ( lihat AS 2203 )

A = dilakukan perlakuan panas ( lihat AS 2203 )

K3 = kandungan kimia ( lihat AS 2203 )

H5 = hydrogen controlled dengan konten kurang dari 5 mL/100 g.

11
b. Pemilihan Kawat Elektroda
Jenis elektroda yang akan digunakan pada suatu pengelasan
sangat ditentukan oleh keperluan pengelasan itu sendiri.

Secara umum jenis kawat elektroda untuk FCAW adalah :


rutile, hydrogen controlled, serbuk besi ( metal cored ) dan self-shieding
yang penggunaannya adalah sebagai berikut :

1. Rutile

Kawat elektroda rutile digunakan untuk pengelasan


sambungan tumpul ( butt ) dan sudut ( fillet ) jalur tunggal atau
bertumpuk ( multiple ) pada baja tegangan rendah atau medium untuk
posisi flat, vertikal dan di atas kepala.

2. Basic ( Hydrogen Controlled )

Kawat elektroda jenis ini digunakan untuk pengelasan kualitas


tinggi, sehingga susuai untuk mengelas baja tegangan tinggi atau untuk
penggunaan di mana dibutuhkan sifat mekanik yang baik.

Secara umum kawat elektroda hydrogen controlled cocok


untuk pengelasan semua posisi.

3. Serbuk Besi ( Metal Cored )

Kawat elektroda jenis ini dibuat dengan menambahkan serbuk


besi, bahan-bahan paduan dan sedikit stabiliser arus. Proses pengelasan
menggunakan DC + dan gas pelindung adalah Argon-mix . Menghasilkan
pengisian/ jalur las yang baik pada penggunaan arus tinggi dan volume
yang banyak dengan terak yang tipis.

12
4. Self-Shielding

Jenis kawat elektroda ini tidak membutuhkan gas pelindung


tambahan, artinya kebutuhan gas pelindung sudah tercukupi oleh fluksi
yang ada pada inti kawat.

Kelebihan kawat las self-shielding :

- Biaya pengoperasian lebih murah, karena tidak memerlukan gas


pelindung, regulator, dan flow meter.

- Dapat digunakan pada pengelasan di daerah terbuka, di mana tiupan


angin menjadi masalah.

- Harga tang las dan biaya perawatan lebih murah.

- Jenis kawat las lebih bervariasi ( a.l : untuk jalur bertumpuk, root,
paduan, dan untuk konstruksi berat ).

Kelemahan kawat las self-shielding :

- Sensitif terhadap kondisi pengelasan ( hasil tidak maksimal jika teknik


las dan penanganan atau setting tidak sesuai ).

- Asap las sangat banyak, sehingga memerlukan sistem pengisap jika


mengelas dalam ruangan ( tempat ) tertutup.

c. Stickout
Stickout adalah panjang kawat elektroda yang keluar dari
ujung nozzle. Untuk mendapatkan hasil yang terbaik, maka pengaturan
stickout harus sesuai dengan jenis pekerjaan dan diameter kawat, namun
secara umum adalah lebih panjang bila dibandingkan dengan penggunaan
pada GMAW, yaitu antara 10 mm untuk kawat diameter kecil sampai 30
mm untuk kawat diameter besar.

Biasanya tiap fabrik pembuat kawat las flux cored


merekomendasikan panjang stickout yang sesuai untuk memperoleh hasil
las yang optimum, yakni dengan mengacu pada :

13
- jenis gas pelindung ( jika tipe kawat non self-shielding )

- diameter kawat

- posisi pengelasan

- pengkutuban.

Gambar 9 : Stickout

d. Pengaturan Besar Arus dan Tegangan Pengelasan


1. Rutile

Tabel berikut ini adalah ketentuan untuk DC positif, gas


pelindung CO2 pada penggunaan 8 – 12 L/min:

D
A T S
iameter
rus egangan tickout
Kawat
( Amp (Volt)
er )

1 1 25 – 19
,2 50 – 320 34

1 2 26 – 25
,6 00 – 400 35

2 2 26 - 25
,4 90 - 525 36

2. Hydrogen Controlled

14
Tabel berikut ini adalah ketentuan untuk DC positif, gas
pelindung 18% Argon/ CO2 pada penggunaan 15 – 20 L/min:

D
A T S
iameter
rus egangan tickout
Kawat
( Amp (Volt)
er )

1 1 22 – 19
,2 40 – 280 29

1 1 23 – 25
,6 80 – 380 30

3. Serbuk Besi

D
A T S
iameter
rus egangan tickout
Kawat
( Amp (Volt)
er )

1 3 31 – 30
,6 50 – 400 32

15
4. Self-Shielding

Pengelasan hanya menggunakan DC negatif:

D
A T S
iameter
rus egangan tickout
Kawat
( Amp (Volt)
er )

0 7 13 – 12
,9 0 – 150 17

1 1 14 – 12
,2 00 – 180 18

1 1 16 – 19
,6 50 – 250 21

2 2 17 – 19
,0 00 – 280 22

2 2 17 – 19
,4 50 – 350 22

Pengaruh dari variabel

Proses kontrol FCAW mencakup :


1. Weding current
2. Arc voltage
3. Electrode extention
4. Travel speed
5. Shielding gas flow
6. Deposition rate
7. Electrode angle
Arus pada FCAW berpengaruh langsung secara proposional terhadap
elctrode :
1. Feed rate

16
2. Diameter
3. Composition
4. Extension rate

1)Penggunaan voltage constant pada FCAW ialah untuk


mempertahankan pelelehan elektroda pada panjang busur tetap.

2)Tegangan busur (arc voltage) dan panjang busur mempunyai


hubungan erat karena mutu tampilan, kemulusan, dan sifat lasan
dengan FCAW akan sangat dipengaruhi oleh kondisi panjang busur
dan voltage
Contoh : Jika voltage busur arus terlalu panjang akan berakibat banyak
weld spatter dan manik las melebar.

FCAW dengan elektroda tanpa pelindung gas dengan busur voltage tinggi
akan mengkonsumsi nitrogen disekitarnya yang dapat berakibat pososity
pada pengelsan baja lunak dan akan berakibat retak pada baja tahan karat
karena proses akan menngurangi kandungan ferrite pada hasil lasan.

Apabila voltage busur terlalu pendek (rendah) akan berakibat capping


yang mengecil dan convex / cembung, menurunnya daya penetrasi dan
banyak weld spatter.

3)Electrode extension perlu diperhatikan karena merupakan


hambatan dalam pemanasan elektrode sebelum meleleh.
Kondisi suhu elektrode sebelum meleleh akan berpengaruh terhadap :
1. Penggunaan energy busur (arc energy)
2. Kemampuan beku elektrode (Electrode deposition rate)
3. Daya penetrasi (Penetration ability)

4)Travel speed berpengaruh pada penetrasi dan bentuk ulir


pengelasan.

17
Penetrasi pada travel speed yang lambat akan lebih dalam daripada
travel speed tinggi.
Pengelasan dengan travel speed lambat pada penggunaan arus (A) tinggi
akan berakibat panas yang berlebihan (over heating) pada lasan, yang
dapat menyebabkan bentuk bulir yang kasar, terperangkapnya slag dan
burn through.
Pengelasan dengan travel speed tinggi dengan arus lsitrik (A) tinggi akan
menyebabkan bulir las kasar dan undercut

Porosity : cacat yang terjadi karena adanya gas yang terperangkap dalam
lasan, biasanya berbentuk butir-butir .

5)Keakuratan aliran gas pelindung tergantung dari :


1. Bentuk nozle las
2. Jarak ujung nozle dengan benda kerja
3. Media gerak dari gas pada area pengelasan.

6)Deposition rate : Jumlah berat metal las beku / jadi per satuan
waktu
Deposition rate sangat bergantung pada variabel :
1. Diameter elektrode
2. Komposisi elektrode
3. Panjang keluaran elektrode (electrode extension)
4. Arus listrik pengelasan (welding current)

7) Electrode angle sangat berpengaruh terhadap hasil lasan. Apabila


sudut dalam proses mengelas tepat, maka hasil akan lebih maksimal

Efisiensi pengelasan ialah perbandingan antara jumlah berat kawat las


yang digunakan dengan jumlah berat lasan yang jadi / beku dalam persen
Umunnya deposition rate eficiency FCAW :
1. Pelindung gas : 80 – 90 %
2. tanpa pelindung gas (self shielding) : 78 – 87 %

18
Mutu lasan FCAW bergantung :
1. Jenis elektrode yang digunakan
2. Metode yang digunakan
3. Kondisi bahan bakar
4. Desain sambungan las
5. Kondisi pengelasan

2.6 Perawatan Las


Semua peralatan pengelasan memerlukan modal yang relatif
besar/mahal.Peralatan pengelasan yang terawat dengan baik dapat
menjadikan pekerjaan pengelasan lebih mudah dan lebih efektif.
Tanggung jawab dan perawatan bukan hanya kepentingan pemilik
bengkel akan tetapi setiap tukang las (welder) harus selalu memeriksa dan
merawat peralatan las yang telah dipercayakan kepadanya dan jangan
beranggapan bahwa perawatan peralatan las hanya masalah aturan.

Berhentinya pekerjaan pengelasan karena peralatan las yang


rusak sama dengan kehilangan pendapatan.Perhatian setiap hari pada
peralatan las berarti dapat dikatakan bahwa peralatan tersebut menjadi
awet dan bebas gangguan. Harus dilakukan perawatan secara teratur oleh
tukang las (staf bengkel) tanpa menghentikan pengoperasiannya dan ini
dilakukan di tempat yang biasanya mesin/peralatan las tersebut disimpan.
Beritahukan kepada supervisor jika terdapat kerusakan/gangguan listrik
pada kumparan, alat kontrol, saklar atau komponen-komponen internal
lainnya yang ada pada peralatan las. Tukang las atau orang yang
bertanggungjawab terhadap pemeriksaan peralatan sehari-hari harus
mengikuti petunjuk pengoperasian dan perawatan yang diberikan oleh
pabrik peralatan las.Hal – hal yang harus dilakukan dalam perawatan
mesin las adalah :

19
1) Pengawasan secara teratur dan setiap hari

Peralatan las (motor generator, transformator, rectifier) harus


selalu ditempatkan yang sedemikian rupa, sehingga seminim mungkin
kotoran seperti debu, udara kotor dan partikel-partikel padat bisa
memasuki peralatan bersama udara pendingin.

Pastikan hujan dan embun tidak merusak bagian-bagian


penting dari peralatan las tersebut dan gunakan kain terpal atau tutup
sebagai pelindung.Semua peralatan las memerlukan udara pendingin,
sirkulasi tidak boleh terhalang oleh tutup pelindung dan beri lubang kasa
pada jalan masuk dan keluar ventilasi.

Jangan sekali-kali meletakkan peralatan las di dekat mesin


yang menghasilkan kepingan-kepingan/sayatan-sayatan dan sebagainya
(mesin gerinda, mesin bor, mesin bubut dan semacamnya), karena
kepingan/sayatan atau debu gerinda dari baja akan mudah menempel
pada bagian-bagian yang mengandung magnet pada peralatan dan dapat
mengakibatkan hubungan singkat.

Satu kali atau dua kali dalam sebulan dan gunakanlah udara
bertekanan untuk menyemprot keluar kotoran dari bagian dalam
komponen-komponen peralatan las.Pada tempat-tempat yang debunya
sangat banyak atau kotoran-kotoran lain harus lebih sering dilakukan
pembersihan dengan udara bertekanan.Bawa mesin ke tempat terbuka,
semprot dengan udara bertekanan dan semprotan tersebut dalam segala
arah, termasuk kotak kontrol peralatan las.Pada saat yang sama ketika
melaksanakan pembersihan dengan udara bertekanan, periksalah dan
bersihkan dengan sikat pembersih dan kain lap.

Periksa komutator (kolektor arus), arus kecil tidak berbahaya


karena tidak menimbulkan bunga api yang dapat menimbulkan kerusakan
dan jika ternyata menimbulkan masalah gosok dengan amplas halus, beri
kepingan kayu yang pas dengan komutator, dan jangan gunakan kikir atau
scraper.Untuk membersihkan plat-plat pada rectifier logam sensitif

20
terhadap beban berlebihan bisa dilaksanakan dengan menyemprotkan
udara bertekanan dan periksa apakah kipas pendingin bekerja dengan
baik.

2) Menyambung kabel dan peralatan lain

Pastikan konektor pada kabel las dan soket pada peralatan las
terhubung dengan baik, karena sambungan yang kurang rapat/kuat dapat
mengakibatkan panas dan berpengaruh terhadap pengelasan, dimana
antara kabel las, penahan elektroda dan klem pada benda kerja harus
terhubung dengan baik.

3) Kerusakan dan tindakan Perbaikannya

Aturan umum untuk semua tipe peralatan las sebelum


menghubungkan pada aliran listrik, selalu periksa bahwa motor-
generator, rectifier jika ada, rectifier las atau transformator las distel pada
tegangan/arus yang benar.

Pertimbangan yang sama berlaku untuk transformator dan rectifier


peralatan las, walaupun di samping transformator tiga fasa, rectifier
mempunyai bagian penyearah dengan kipas pendingin dan komponen-
komponen lain yang memerlukan instruksi perawatan khusus, instruksi
tersebut harus diikuti secara terinci dalam semua pekerjaan perawatan dan
perbaikan.

21
2.7 Kelebihan dan Kekurangan Las FCAW

Kelebihan Proses Las Flux Core Arc Welding :


a. Proses pengelasan lebih cepat dibandingkan dengan SMAW, karena pada
FCAW tidak perlu sering mengganti kawat las karena sudah dalam bentuk
wire roll yang panjang.
b. FCAW merupakan jenis mesin las yang otomatis dan semiotomatis
sehingga lebih mudah digunakan.
Kekurangan Proses Las Flux Core Arc Welding :
a. Karena menggunakan flux sebagai pelindung maka perlu proses
pembersihan setelah proses pengelasan selesai.
b. Terkadang akan muncul cacat porositi atau lubang lubang kecil jika
terkena hembusan angin yang mencapai kecepatan 5 mph.
c. Dari segi harga memang mesin las FCAW cukup mahal untuk usaha kecil
menengah.

22
2.8 Keselamatan & Kesehatan Kerja

Sama halnya dengan proses-proses las yang lain, khususnya


yang menggunakan las busur listrik, maka pekerjaan FCAW adalah salah
satu jenis pekerjaan yang cukup berpotensi menyebabkan gangguan
terhadap kesehatan atau malah dapat menyebabkan kecelakaan kerja.

Gangguan kesehatan atau kecelakaan dapat diakibatkan oleh


beberapa faktor, yakni operator atau teknisi las itu sendiri, mesin dan alat-
alat las, atau lingkungan kerja, namun secara umum ada beberapa resiko
kalau bekerja dengan proses FCAW, yaitu kejutan listrik ( electric
shock ), sinar las, debu dan asap las dan luka bakar serta kebakaran.

1. Kejutan Listrik
Kecelakaan akibat kejutan listrik dapat terjadi setiap saat, baik itu pada saat
pemasangan peralatan, penyetelan atau pada saat pengelasan. Resiko yang akan
terjadi dapat berupa luka bakar, terjatuh, pingsan serta dapat meninggal dunia.
Tindakan yang harus diperhatikan agar terhindar dari bahaya
tersengat aus listrik

1. Penyambungan listrik oleh yang ahli listrik

2. Kabel listrik jangan terkelupas

3. Kabel tersambung dengan baik

4. Ukuran kabel disesuaikan dengan kapasitas arus yang akan digunakan

5. Hindari dari kebasahan/lembab

AC lebih berbahaya dari DC

Density arus tinggi à bahaya yang ditimbulkan tinggi

Longitudinal current lebih berbahaya dari Transversal current

23
2. Sinar las
Dalam proses pengelasan menggunakan FCAW timbul sinar yang
membahayakan operator las dan pekerja lain didaerah pengelasan.

Sinar yang membahayakan tersebut adalah :

 Cahaya tampak
 Sinar infra merah
 Sinar ultra violet

Pencegahan Kecelakaan karena Sinar Las :

 Memakai pelindung mata dan muka ketika mengelas, yaitu kedok atau
helm las.
 Memakai peralatan keselamatan dan kesehatan kerja ( pakaian
pelindung ) pakaian kerja , apron / jaket las, sarung tangan , sepatu
keselamatan kerja ).
 Buatlah batas atau pelindung daerah pengelasan agar orang lain tidak
terganggu (menggunakan kamar las yang tertutup, menggunakan tabir
penghalang.
3. Radiasi. à Ultrafiolet dan infrared è mengakibatkan luka bakar, kerusakan
kulit dan mata

Besarnya radiasi ini tergantung Jenis proses las yang digunakan

Menghindari

1. Jaga jarak
2. Gunakan APD yang memada

4. Debu dan Asap Las


Debu dan asap las besarnya berkisar antara 0,2 m sampai
dengan 3 m yang biasanya terdiri dari jenis debu eternit dan hidrogen
rendah. Butir debu atau asap dengan ukuran 0,5 m dapat terhisap, tetapi
sebagian akan tersaring oleh bulu hidung dan bulu pipa pernapasan,
sedang yang lebih halus akan terbawa ke dalam dan ke luar kembali.
Debu atau asap yang tertinggal dan melekat pada kantong udara diparu-
paru akan menimbulkan penyakit, seperti sesak napas dan lain
sebagainya. Karena itu debu dan asap las perlu dapat perhatian khusus.

24
Pencegahan kecelakaan karena debu dan asap las :

a. Peredaran udara atau ventilasi harus benar-benar diatur dan diupayakan,


di mana setiap kamar las dilengkapi dengan pipa pengisap debu dan asap
yang penempatannya jangan melebihi tinggi rata-rata / posisi wajah
( hidung ) operator las yang bersangkutan.
b. Menggunakan kedok/ helm las secara benar, yakni pada saat pengelasan
berlangsung harus menutupi sampai di bawah wajah ( dagu ), sehingga
mengurangi asap/ debu ringan melewati wajah.
c. Menggunakan baju las (Apron) terbuat dart kulit atau asbes.
d. Menggunakan alat pernafasan pelindung debu, jika ruangannya tidak
ada sirkulasi udara yang memadai ( sama sekali tidak ada ).
5. Luka Bakar
Luka bakar dapat terjadi karena :

 Logam panas
 Busur cahaya
 Loncatan bunga api

Pencegahan Luka Bakar : Untuk mencegah luka bakar,


operator las harus memakai baju kerja yang lengkap yang meliputi :

 Baju kerja (overall) dari bahan katun


 Apron / jaket kulit
 Sarung tangan kulit
 Topi kulit ( terutama untuk pengelasan posisi di atas kepala )
 Sepatu kerja
 Helm / kedok las
 Kaca mata bening, terutama pada saat membuang terak.

25
6.Suara/bunyi .è bising
Tingkat kebisingan tergantung proses las yang digunakan

GTAW : 50 -60 dB SMAW : 62 – 82 dB

FCAW : 50 – 86 dB Air Carbon Arc : 96 – 116 dB

Oxyfuel : < 70 dB GMAW : 70 – 82 dB

Flame gouging : 80 – 90 dB Flame cutting : 88 – 95 dB

Carbon arc gouging : 110 – 120 dB Hammering in a vessel : 120-135


dB

Density kebisingan dapat diterima telinga max. 85 dB

Gunakan alat proteksi kebisingan

26
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pengelasan FCAW Flux Core Arc Welding Adalah sebuah proses
pengelasan yang menggunakan sumber panas yang berasal dari energi
listrik yang dikonversi menjadi sumber panas pada busur listrik, pada
pengelasan FCAW ini jenis pelindung yang digunakan adalah flux atau
serbuk yang berada di inti kawat las (kawat las digulung dalam sebuah
roll).
Peralatan yang ada dalam pengelasan FCAW meliputi ;
1. Tabung gas CO2,
2. Regulator,Selang gas CO2,
3. Torch,Control
4. Box,Welding Wire,Control
5. System,Kabel Power,Trafo,Rail.
Proses pengelasan FCAW menggunakan sumber panas yang berasal
dari energi listrik yang dikonversi menjadi sumber panas pada busur
listrik

pada pengelasan FCAW ini jenis pelindung yang digunakan adalah


flux atau serbuk yang berada di inti kawat las (kawat las digulung dalam
sebuah roll).

Selain flux, FCAW juga menggunakan gas pelindung untuk


melindungi logam las yang mencair saat proses pengelasan berlangsung.

27
3.2 Saran
Pengetahuaan mesin las kerap saat ini telah berkembang dan
banyak bentuk mesin skrap yang setiap cara kerjanya berbeda akan tetapi
penggunaannya sama maka dari itu kita harus mengembangkan
pengetahuan dalam ilmu teknik mesin las FCAW sebab teknik mesin las
FCAW sangat dibutuhkan dalam kehidupan dan dunia perkapalan.

Saran dari penulis adalah dalam menggunakan mesin FCAW


jangan lupa menggunakan peralatan keselematan kerja , karena dari mesin
las FCAW tersebut bisa terjadi yang kita tidak inginkan oleh sebab itu
penting keselamatan kerja dan sebaiknya sebelum menggunakan mesin
bengkel perkakas tersebut di cek kondisi fisik dan kelistrikan dari mesin
tersebut.

28
DAFTAR PUSTKA

1. A.C. Suhardi, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Bahan


dan Barang Teknik, Las Busur Listrik Terendam, Surabaya 1990.
2. https://www.pengelasan.net/pengertian-las-fcaw-adalah/
3. http://hima-tl.ppns.ac.id/flux-cored-arc-welding-fcaw/

4. http://technoscientia.akprind.ac.id/full/vol7no2feb2015/164-170-nur.pdf
5. https://www.academia.edu/35450156/TEKNOLOGI_LAS_KAPAL

29