Anda di halaman 1dari 9

 Pengendalian Terhadap Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Dalam pelaksananan pekerjaan konstruksi faktor kesehatan dan keselamatan


yang tinggi di tempat kerja merupakan hak pekerja yang wajib dipenuhi oleh
perusahaan disamping hak-hak normatif lainnya.
Yang mana dalam pekerjaan jasa konstruksi bangunan dilaksanakan dengan
bertahap yaitu mulai dari tahapan persiapan, tahapan pelaksanaan dan
tahapan pemeliharaan pembongkaran. Melihat berbagai masalah keselamatan
dan kesehatan kerja konstruksi dan belum optimal pengawasan karena begitu
kompleksnya pekerjaan konstruksi dan kurangnya pengawasan terhadap K3
konstruksi. Hal ini menyebabkan proses kerja konstruksi dan kondisi tempat
kerja mengandung potensi bahaya.
Dengan dengan dikeluarkannya peraturan perundang-undangan yang
mengatur tentang K3 yaitu UU No.1 tahun 1970 tentang Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3). Hal ini menjadi penting dalam penerapannya di
Perusahaan, sebagai bentuk dari hak tenaga kerja mendapatkan keselamatan
dalam melakukan aktifitas kerja serta terciptanya suasana kerja dan lingkungan
yang sehat. Sesuai proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan
kecelakaan kerja seperti terjatuh, pencemaran lingkungan dan penyakit akibat
kerja wajib menerapkan sistem manajemen K3.

 Risiko Kecelakaan Kerja Pada Proyek Konstruksi


Jasa konstruksi merupakan salah satu sektor industri yang memiliki risiko
kecelakaan kerja yang cukup tinggi. Berbagai penyebab utama kecelakaan
kerja pada proyek konstruksi adalah hal-hal yang berhubungan dengan
karakteristik proyek konstruksi yang bersifat unik, lokasi kerja yang berbeda-
beda, terbuka dan dipengaruhi cuaca, waktu pelaksanaan yang terbatas,
dinamis dan menuntut ketahanan fisik yang tinggi, serta banyak menggunakan
tenaga kerja yang tidak terlatih. Ditambah dengan manajemen keselamatan
kerja yang sangat lemah, akibatnya para pekerja bekerja dengan metoda
pelaksanaan konstruksi yang berisiko tinggi. Masalah keselamatan dan
kesehatan kerja berdampak ekonomis yang cukup signifikan.Dari berbagai
kegiatan dalam pelaksanaan proyek konstruksi, pekerjaan-pekerjaan yang
paling berbahaya adalah pekerjaan yang dilakukan pada ketinggian dan
pekerjaan galian. Pada ke dua jenis pekerjaan ini kecelakaan kerja yang terjadi
cenderung serius bahkan sering kali mengakibatkan cacat tetap dan kematian.
Jatuh dari ketinggian adalah risiko yang sangat besar dapat terjadi pada
pekerja yang melaksanakan kegiatan konstruksi pada elevasi tinggi. Biasanya
kejadian ini akan mengakibat kecelakaan yang fatal. Sementara risiko tersebut
kurang dihayati oleh para pelaku konstruksi, dengan sering kali mengabaikan
penggunaan peralatan pelindung yang sebenarnya telah diatur dalam pedoman
K3 konstruksi.

 Pengendalian Risiko
Pengendalian risiko merupakan bagian dari manajemen risiko dan dilakukan
berdasarkan penilaian risiko terhadap masing-masing item pekerjaan. Dengan
mempertimbangkan peralatan yang digunakan, jumlah orang yang terlibat
pada masing-masing item pekerjaan, akan dapat diprediksi peluang kejadian
dan tingkat keparahan dari risiko kecelakaan. Menurut hirarki cara berpikir
dalam melakukan pengendalian risiko adalah dengan memperhatikan besaran
nilai risiko/ tahapan pengendalian risiko,seperti berikut:
1. Mengeliminasi /menghilangkan sumber bahaya terhadap kegiatan yang
mempunyai tingkat risiko yang paling tinggi/besar.
2. Melakukan substitusi /mengganti dengan bahan atau proses yang lebih
aman.
3. Engineering: Melakukan perubahan terhadap desain alat /proses /layout
4. Administrasi: Pengendalian risiko melalui penyusunan peraturan /standar
untuk mengajak melakukan cara kerja yang aman (menyangkut tentang
prosedur kerja, ijin kerja, instruksi kerja, papan peringatan/larangan,
pengawasan/inspeksi,dsb).
5. Penggunaan alat pelindung diri (APD).
 Kebijakan Penerapan SMK3 Konstruksi
Kebijakan Departemen PU dalam penerapan SMK3, dalam rangka mewujudkan
tertib penyelenggaraan pekerjaan konstruksi serta upaya untuk mewujudkan
keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja pada tempat kegiatan konstruksi
bidang pekerjaan umum. Departemen Pekerjaan Umum telah menerbitkan
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.09/PRT/M/2008 Pedoman Sistem
tentang Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Konstruksi
Bidang Pekerjaan Umum. Sesuai dengan maksud dan tujuan diterbitkannya
peraturan menteri tersebut adalah untuk memberikan acuan bagi pengguna
dan penyedia jasa dalam penyelenggaraaan SMK3 konstruksi bidang pekerjaan
umum, yang dilaksanakan secara sistematis, terencana, terpadu dan
terkoordinasi serta semua pemangku kepentingan agar mengetahui dan
memahami tugas dan kewajibannya dalam penerapan SMK3. Berdasarkan
Peraturan Menteri PU No. 09/PER/M/2008, tentang Pedoman Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Konstruksi Bidang
Pekerjaan Umum yang merupakan acuan bagi Pengguna Jasa dan Penyedia
Jasa dalam penyelenggaraan SMK3 konstruksi bidang pekerjaan umum, UU.No.
18 Tahun 1999 tentang jasa Konstruksi,dimana mensyaratkan Ahli K3 pada
setiap proyek / kegiatan terutama pada kegiatan yang memiliki resiko tinggi.
 Kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja.
Pihak pelaksana kegiatan harus membuat kebijakan K3 yang akan menjadi
landasan keberhasilan K3 dalam kegiatan proyek konstruksi. Isi kebijakan
merupakan komitmen dan dukungan dari pelaksana kegiatan puncak terhadap
pelaksanaan K3. Kebijakan K3 tersebut harus direalisasikan kepada seluruh
tenaga kerja yang terlibat dalam pelaksanaan pekerjaan.

 Administratif dan prosedur


Menetapkan sistem organisasi pengelolaan K3 dalam proyek serta menetapkan
personil dan petugas yang menangani K3 dalam proyek.
Menetapkan prosedur dan sistem kerja K3 selama proyek berlangsung
termasuk tugas dan wewenang semua yang terkait.
Kontraktor pelaksana harus memiliki :
- Organisasi yang mempunyai K3 yang besarnya sesuai dengan kebutuhan dan
lingkup kegiatan.
- Akses kepada penanggung jawab proyek.
- Personal yang cukup yang bertanggung jawab mengelola kegiatan K3 dalam
perusahaan yang jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan.
- Personil atau pekerja yang cakap dan kompeten dalam menangani setiap
jenis pekerjaan serta mengetahui sistem cara kerja aman untuk masing-
masing kegiatan.
- Kelengkapan dokumen kerja dalam perizinan yang berlaku
- Manual K3 sebagai kebijakan K3 dalam perusahaan / proyek.
- Prosedur kerja akan sesuai dengan jenis pekerjaan dalam kontrak yang akan
dikerjakan.

 Identifikasi bahaya
Sebelum memulai sesuatu pekerjaan, harus dilakukan identifikasi bahaya, guna
mengetahui potensi bahaya dalam setiap pekerjaan.
Identifikasi bahaya dilakukan bersama pengadaan pekerjaan dan safety
departemen atau P2P3.
Identifikasi bahaya menggunakan teknik yang sudah baru seperti check list,
what If, hazards dan sebagainya.
Semua hasil identifikasi bahaya harus didokumentasikan dengan baik dan
dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan setiap kegiatan.
Identifikasi bahaya harus dilakukan pada setiap tahapan proyek yang meliputi :
- Design phase
- Pracurement
- Konstruksi
- Commissioning dan start up
- Penyerahan kepada pemilik.
 Project safety review
Sesuai dengan perkembangan proyek, dilakukan kajian K3 yang mencakup
kehandalan K3 dalam rancangan dan pelaksanaan pembangunannya.
Kajian K3 dilaksanakan untuk meyakinkan bahwa proyek dibangun dengan
standar keselamatan yang baik sesuai dengan persyaratan.
Bila diperlukan kontraktor harus melakukan project safety review untuk setiap
tahapan kegiatan kerja, terutama bagi kontraktor EPC (Engineering,
Pracurement, Construction).
Project safety review bertujuan untuk mengevaluasi potensi bahaya dalam
setiap tahapan project secara sistematis.

 Audit K3
Proyek konstruksi secara berkala harus diaudit disesuaikan dengan jangka
waktu kegiatan proyek. Audit K3 berfungsi untuk mengetahui kelemahan dan
kelebihan pelaksanaan K3 dalam proyek sebagai masukan pelaksanaan proyek
berikutnya.

 Pengawasan Pelaksanaan K3 Proyek Konstruksi Bangunan


Setiap kegiatan proyek konstruksi bangunan harus dilaporkan ke kantor
Depnaker setempat dengan mengisi formulir wajib lapor yang benar data-data
antara lain :
- Identitas perencana
- Penanggung jawab
- Perkembangan Jamsostek
- Jenis pekerjaan
- Waktu pelaksanaan
- Jumlah pekerja
- Pesawat / mesin / peralatan
- Bahan berbahaya
- Fasilitas K3
- Unit K3
- Usaha-usaha K3
Dari data-data yang tercantum pada wajib lapor pegawai pengawas spesialis
konstruksi akan melakukan pemeriksaan setempat untuk melakukan inspeksi.
Dari hasil inspeksi tersebut akan dituangkan kedalam buku Akte Pengawasan.
Akte Pengawasan inilah yang merupakan bentuk dari pengawasan preventif
suatu tempat kerja. Isi buku akte pengawasan adalah data-data yang
diperlukan dari tempat kerja serta syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh
pengurus tempat kerja.

 Adapun jenis-jenis dan Alat Pelindung Diri (APD)


APD adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi
seseorang yang fungsinya mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh dari
potensi bahaya di tempat kerja. APD ini terdiri dari kelengkapan wajib yang
digunakan oleh pekerja sesuai dengan bahaya dan risiko kerja yang digunakan
untuk menjaga keselamatan pekerja sekaligus orang di sekelilingnya.
Kewajiban ini tertuang dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
No. Per.08/Men/VII/2010 tentang Alat Pelindung Diri.
Penyedia Jasa Konstruksi wajib untuk menyediakan APD sesuai dengan Standar
Nasional Indonesia (SNI) bagi pekerjanya.
1. Helm Keselamatan
Helm keselamatan atau safety helmet ini berfungsi untuk melindungi
kepala dari benturan, pukulan, atau kejatuhan benda tajam dan berat
yang melayang atau meluncur di udara. Helm ini juga bisa melindungi
kepala dari radiasi panas, api, percikan bahan kimia ataupun suhu yang
ekstrim. Untuk beberapa pekerjaan dengan risiko yang relatif lebih rendah
bisa menggunakan topi ataupun penutup kepala sebagai pelindung.
2. Sabuk dan tali Keselamatan
Sabuk keselamatan atau safety belt ini berfungsi untuk membatasi gerak
pekerja agar tidak terjatuh atau terlepas dari posisi yang diinginkan.
Beberapa pekerjaan mengharuskan pekerja untuk berada pada posisi
yang cukup berbahaya seperti pada posisi miring, tergantung atau
memasuki rongga sempit. Sabuk keselamatan ini terdiri
dari harness, lanyard, safety rope, dan sabuk lainnya yang digunakan
bersamaan dengan beberapa alat lainnya seperti
karabiner, rope clamp, decender, dan lain-lain.
3. Sepatu Boot
Sepatu boot ini berfungsi untuk melindungi kaki dari benturan atau
tertimpa benda berat, tertusuk benda tajam, terkena cairan panas atau
dingin, uap panas, bahan kimia berbahaya ataupun permukaan licin.
Bedanya dengan safety shoes umumnya adalah perlindungan yang lebih
maksimal karena modelnya yang tinggi dan melindungi hingga ke betis
dan tulang kering.
4. Sepatu Pelindung
Sepatu pelindung ini berfungsi untuk melindungi kaki dari benturan atau
tertimpa benda berat, tertusuk benda tajam, terkena cairan panas atau
dingin, uap panas, bahan kimia berbahaya ataupun permukaan licin.
Selain fungsi di atas, sepatu safety berkualitas juga memiliki tingkat
keawetan yang baik sehingga bisa digunakan dalam jangka waktu yang
panjang. Berbagai sepatu safety tersedia sesuai dengan kebutuhan. Ada
yang antislip, antipanas, anti-bahan kimia, anti-listrik, dll. Lihat berbagai
fungsi safety shoes di sini!
5. Masker
Masker pernafasan ini berfungsi untuk melindungi organ pernafasan
dengan cara menyaring vemaran bahan kimia, mikro-organisme, partikel
debu, aerosol, uap, asap, ataupun gas. Sehingga udara yang dihirup
masuk ke dalam tubuh adalah udara yang bersih dan sehat. Masker ini
terdiri dari berbagai jenis, seperti respirator, katrit, kanister, tangki selam
dan regulator, dan alat pembantu pernafasan.

6. Penutup telinga
Penutup telinga ini bisa terdiri dari sumbat telinga (ear plug) atau
penutup telinga (ear muff), yang berfungsi untuk melindungi telinga dari
kebisingan ataupun tekanan.
7. Kacamata Pengaman
Kacamata pengaman ini digunakan sebagai alat pelindung yang berfungsi
untuk melindungi mata dari paparan partikel yang melayang di udara
ataupun di air, percikan benda kecil, benda panas, ataupun uap panas.
Selain itu kacamata pengaman juga berfungsi untuk menghalangi
pancaran cahaya yang langsung ke mata, benturan serta pukulan benda
keras dan tajam. Jenis kacamata pengaman ini bisa
berupa spectacles atau googgles.

8. Sarung Tangan
Sarung tangan ini berfungsi untuk melindungi jari-jari tangan dari api,
suhu panas, suhu dingin, radiasi, arus listrik, bahan kimia, benturan,
pukulan, tergores benda tajam ataupun infeksi dari zat patogen seperti
virus dan bakteri. Sarung tangan ini terbuat dari material yang beraneka
macam, tergantung dari kebutuhan. Ada yang terbuat dari logam, kulit,
kanvas, kain, karet dan sarung tangan safety yang tahan terhadap
bahan kimia.

9. Pelindung Wajah
Pelindung wajah atau face shield ini merupakan alat pelindung yang
berfungsi untuk melindungi wajah dari paparan bahan kimia berbahaya,
partikel yang melayang di udara atau air, percikan benda kecil, panas
ataupun uap panas, benturan atau pukulan benda keras atau tajam, serta
pancaran cahaya. Terdiri dari tameng muka atau face shield, masker
selam, atau full face masker.

10. Pelampung
Pelampung ini digunakan oleh pekerja yang bekerja di atas air atau di
permukaan air agar terhindar dari bahaya tenggelam. Pelampung ini
terdiri dari life jacket, life vest atau bouyancy control device untuk
mengatur keterapungan.
APD atau Alat Pelindung Diri ini harus diperhatikan kondisinya. Jika APD
rusak atau rusak atau tidak dapat berfungsi dengan baik harus segera
dimusnahkan. Beberapa APD juga memiliki masa pakai, sehingga
perawatannya harus lebih diperhatikan dan dicatat waktu pembelian serta
masa pemakaiannya.