Anda di halaman 1dari 27

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN

DENGAN KEHILANGAN DAN BERDUKA

Makalah Disusun guna memenuhi tugas


mata kuliah Keperawatan Jiwa I

Dosen Pengampu: Ns. Evin Novianti, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.J

Disusun oleh:

Rifdah Camila 1810711045


Renasti Pratiwi 1810711061
Angel Sri Yuliningtias 1810711062

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL "VETERAN" JAKARTA


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan jasmani dan
rohani sehingga kita masih tetap bisa menikmati indahnya alam ciptaan-Nya. Shalawat dan
salam semoga senantiasa tercurahkan kepada teladan kita Nabi Muhammad SAW yang telah
menunjukkan kepada kita jalan yang lurus berupa ajaran agama yang sempurna dan menjadi
rahmat bagi seluruh alam.
Kami sangat bersyukur karena telah menyelesaikan makalah yang menjadi salah satu
tugas mata kuliah Keperawatan Jiwa I dengan judul Asuhan Keperawatan Klien Dengan
Kehilangan dan Berduka. Disamping itu, kami sebagai penyusun mengucapkan banyak
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya makalah ini.
Akhir kata, kami memahami jika makalah ini tentu jauh dari kesempurnaan maka dari
itu kritik dan saran sangat kami butuhkan guna memperbaiki karya-karya kami di waktu yang
akan datang.

Jakarta, 3 Maret 2020

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang 1

B. Rumusan Masalah 1

C. Tujuan Penulisan 2

BAB II PEMBAHASAN 3

A. Pengertian Kehilangan 3

B. Pengertian Berduka 3

C. Tipe Kehilangan 3

D. Tipe Berduka 4

E. Bentuk Kehilangan 4

F. Tahapan Proses Kehilangan dan Berduka 4

G. Rentang Respons Emosional 7

H. Asuhan Keperawatan 7

BAB III PENUTUP 19

A. Simpulan 19

B. Saran 19

KUESIONER BERDUKA DAN KEHILANGAN..................................................................20


DAFTAR PUSTAKA 24
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Lahir, kehilangan, dan kematian adalah kejadian yang universal dan kejadian yang
sifatnyaunik bagi setiap individual dalam pengalaman hidup seseorang. Kehilangan dan
berduka merupakan istilah yang dalam pandangan umum berarti sesuatu yang kurang
enak atau nyaman untuk dibicarakan. Hal ini dapat disebabkan karena kondisi ini lebih
banyak melibatkan emosi/ego dari diri yang bersangkutan atau disekitarnya. Pandangan-
pandangan tersebut dapat menjadi dasar bagi seorang perawat apabila menghadapi
kondisi yang demikian. Pemahaman dan persepsi diri tentang pandangan diperlukan
dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif. Kurang memperhatikan
perbedaan persepsi menjurus pada informasi yang salah, sehingga intervensi perawatan
yang tidak tetap (Suseno, 2004).
Perawat berkerja sama dengan klien yang mengalami berbagai tipe kehilangan.
Mekanisme koping mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menghadapi dan
menerima kehilangan. Perawat membantu klien untuk memahami dan menerima
kehilangan dalam konteks kultur mereka sehingga kehidupan mereka dapat berlanjut.
Dalam kultur Barat, ketika klien tidak berupaya melewati duka cita setelah mengalami
kehilangan yang sangat besar artinya, maka akan terjadi masalah emosi, mental dan sosial
yang serius.
Kehilangan dan kematian adalah realitas yang sering terjadi dalam lingkungan
asuhan keperawatan. Sebagian besar perawat berinteraksi dengan klien dan keluarga yang
mengalami kehilangan dan dukacita. Penting bagi perawat memahami kehilangan dan
dukacita. Ketika merawat klien dan keluarga, perawat juga mengalami kehilangan pribadi
ketika hubungan klien-kelurga-perawat berakhir karena perpindahan, pemulangan,
penyembuhan atau kematian. Perasaan pribadi, nilai dan pengalaman pribadi
mempengaruhi seberapa jauh perawat dapat mendukung klien dan keluarganya selama
kehilangan dan kematian (Potter & Perry, 2005).

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kehilangan?
2. Apa yang dimaksud dengan berduka?
3. Apa saja tipe-tipe kehilangan?
4. Apa saja tipe-tipe berduka?
5. Apa saja bentuk-bentuk kehilangan?
6. Bagaimana tahapan proses kehilangan dan berduka?
7. Bagaimana rentang respons emosional pada klien dengan kehilangan?
8. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan kehilangan dan berduka?

1
C. Tujuan Penulisan
1. Agar mahasiswa mengetahui apa itu kehilangan
2. Agar mahasiswa mengetahui apa itu berduka
3. Agar mahasiswa mengetahui tipe-tipe kehilangan
4. Agar mahasiswa mengetahui tipe-tipe berduka
5. Agar mahasiswa mengetahui bentuk-bentuk kehilangan
6. Agar mahasiswa mengetahui tahapan proses kehilangan dan berduka
7. Agar mahasiswa mengetahui rentang respons emosional pada klien dengan
kehilangan
8. Agar mahasiswa mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan kehilangan dan
berduka

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kehilangan
Kehilangan adalah suatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu yang
sebelumnya ada kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan (Iyus
Yosep dalam buku keperawatan jiwa, 2007).
Kehilangan adalah suatu situasi aktual maupun potensial yang dapat dialami
individu ketika berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, baik sebagian atau
keseluruhan, atau terjadi perubahan dalam hidupsehingga terjadi perasaan kehilangan
(Hidayat, 2012).
Kehilangan (loss) merupakan suatu keadaan individu yang mengalami kehilangan
sesuatu yang sebelumnya dimilikinya (Sutejo dalam buku keperawatan jiwa, 2016).
Jadi, kehilangan adalah suatu situasi aktual maupun potensial yang dapat
dialami individu ketika berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya dimilikinya, baikterjadi
sebagian atau keseluruhan.

B. Pengertian Berduka
Grieving (berduka) adalah reaksi emosional dari kehilangan dan terjadi bersamaan
dengan kehilangan baik karena perpisahan, perceraian maupun kematian (Hidayat, 2012).
Berduka (grieving) merupakan kondisi di mana individu atau keluarga mengalami
respons alamiah yang melibatkan reaksi psikososial dan psikologis terhadap kehilangan
aktual atau kehilangan yang dirasakan (Carpetino-Moyet, 2009).
Berduka adalah reaksi terhadap kehilangan, yaitu respons emosional normal dan
merupakan suatu proses untuk memecahkan masalah (Sutejo dalam buku keperawatan
jiwa, 2016).
Jadi, berduka (grieving) adalah reaksi emosional dari kehilangan, yaitu respons
emosional normal dan merupakan suatu proses untuk memecahkan masalah serta respons
alamiah yang melibatkan reaksi psikososial dan psikologis terhadap kehilangan aktual
atau kehilangan yang dirasakan.
Proses grieving pertama kali diteliti olehDr. Elisabeth Kübler-Ross pada tahun
1969 (Kübler-Ross, 2009). Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk melihat reaksi yang
ditunjukkan pada individu dalam mengatasi serta berhadapan dengan kedukaan dan
tragedi, terutama ketika didiagnosa memiliki penyakit berat atau mengalami perubahan
yang sangat besar dalam hidupnya. Penelitian yang dilakukan menemukan bahwa
terdapat lima tahapan dalam proses grieving yakni penolakan, kemarahan, tawar
menawar, depresi, dan penerimaan (Kübler-Ross, 2009). Kübler-Ross(2009)
menambahkan bahwa proses grieving tidak terjadi secara linier, melainkan membentuk
suatu siklus.

C. Tipe Kehilangan
Kehilangan dibagi menjadi dua tipe, yaitu:

3
1) Kehilangan aktual atau nyata
Kehilangan ini sangat mudah dikenali atau diidentifikasi oleh orang lain, seperti
hilangnya sebagian anggota tubuh, amputasi, atau kematian orang yang sangat berarti
atau dicintai.
2) Kehilangan persepsi
Kehilangan jenis ini hanya dialami oleh individu dan sulit untuk dapat dibuktikan.
Misalnya, seorang perempuan yang diceraikan oleh suami yang dicintainya
menyebabkan perasaan rendah diri hingga mengasingkan diri.

D. Tipe Berduka
NANDA membagi berduka ke dalam dua tipe, yaitu:
1) Berduka diantisipasi
Merupakan suatu status pengalaman individu dalam merespons kehilangan aktual
ataupun yang dirasakan seseorang, hubungan/ kedekatan, objek atau ketidakmampuan
fungsional sebelum terjadinya kehilangan. Tipe berduka diantisipasi ini masih dalam
batas normal.
2) Berduka disfungsional
Merupakan kondisi individu dalam merespon suatu kehilangan dimana respons
kehilangan dibesar-besarkan pada saat individu kehilangan secara aktual maupun
kehilangan secara potensial, hubungan, objek, dan ketidakmampuan fungsional. Tipe
ini kadang-kadang menjurus ke tipikal abnormal atau kesalahan/ kekacauan.

E. Bentuk Kehilangan
Terdapat beberapa macam bentuk kehilangan, antara lain:
a. Kehilangan orang yang sangat berarti, misalnya orang sangat berarti tersebut
meninggal atau pergi ke suatu tempat dalam waktu yang sangat lama.
b. Kehilangan kesehatan io-psiko-sosial, misalnya menderita suatu penyakit, amputasi
bagian tubuh, kehilangan pendapatan, kehilangan perasaan tentang diri, kehilangan
pekerjaan, kehilangan kedudukan, dan kehilangan kemampuan seksual.
c. Kehilangan milik pribadi, misalnya benda yang berharga, uang, atau perhiasan.

F. Tahapan Proses Kehilangan dan Berduka


a. Tahapan proses kehilangan
Adapun dalam prosesnya, kehilangan memiliki lima tahapan yaitu
penyangkalan (denial), kemarahan (anger), penawaran (bargaining), depresi
(depression), dan penerimaan (acceptance) atau sering disebut dengan DABDA.
Individu yang mengalami gangguan kehilangan akan melalui setiap tahap tersebut.
Cepat atau lambat lamanya seseorang tergantung pada koping individu dan sistem
dukungan sosial yang tersedia, bahkan ada stagnasi pada satu fase marah atau depresi.
1) Tahap Penyangkalan (Denial)
Reaksi awal ketika individu mengalami kehilangan adalah tidak percaya, syok,
diam, terpaku, gelisah, bingung, mengikari kenyataan, mengisolasi diri terhadap
kenyatan, serta berperilaku seperti tidak terjadi apa-apa dan pura-pura senang.
Manifestasi yang mungkin muncul antara lain :

4
a) “Tidak! Itu tidak mungkin terjadi padaku!”
b) “Diagnosa dokter salah! Itu tidak mungkin, dok!”
c) Secara fisik ditunjukkan dengan otot lemas, tremor, menarik napas dalam,
panas/dingin dan kulit lembab, berkeringat banyak, anoreksia, serta merasa tak
nyaman.
d) Penyangkalan menjadi bertahap akan meninggalkan penyangkalan dan
menggunakan pertahanan yang tidak radikal.
e) Secara intelektual, individu dapat menerima hal yang berkaitan dengan
kematian, namun tidak demikian dengan emosional.
Dalam suatu contoh kasus, saat seseorang mengalami kehilangan akibat
kematian orang yang sangat berarti baginya. Pada tahap ini, individu akan
menganggap bahwa orang yang meninggal tersebut masih hidup, sehingga
memunculkan halusinasi melihat atau mendengar suara seperti biasanya. Secara
fisik, klien akan tampak letih, pucat, lemah, mual, diare, sesak napas, detak
jantung cepat, dan gelisah. Tahap ini membutuhkan waktu yang panjang, beberapa
menit bahkan sampai hitungan tahun setelah kematian.
2) Tahap Kemarahan (Anger)
Tahap kedua, seseorang akan mulai menyadari tentang kenyataan kehilangan.
Perasaan marah yang timbul terus meningkat, yang ditunjukan kepada orang lain
atau benda disekitarnya. Reaksi fisik menunjukkan wajah memerah, nadi cepat,
gelisah, susah tidur dan tangan mengepal. Respon klien dapat mengalami hal
berikut ini :
a) Emosi tak terkontrol
“Mengapa aku?”
“Apa dosa saya hingga Tuhan memberikan hukuman seperti ini?”
b) Kemarahan terjadi pada Tuhan, yang diproyeksikan terhadap orang lain atau
lingkungan.
c) Kadang klien menjadi sangat rewel dan mengkritik.
“Peraturan RS sangat kaku dan tidak menyenangkan!”
d) Tahap marah sangat sulit dihadapi klien dan sangat sulit diatasi dari sisi
pandang keluarga dan staff rumah sakit.
e) Bila klien marah untuk mengutarakan perasaan yang akan mengurangi tekanan
emosi dan menurunkan stress, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar.
3) Tahap Penawaran (Bargaining)
Setelah perasaan marah dapat tersalurkan, individu akan memasuki tahap
tawar-menawar. Biasanya individu tersebut mengucapkan “.. seandainya ia
mengikuti kata-kata saya.. pasti semua itu tidak akan trejadi..” atau “semua pasti
akan baik-baik saja, jika ia memilih di rumah tadi malam”. Respon klien dapat
berupa hal sebagai berikut.
a) Klien mencoba menawar, menunda realitas dengan merasa bersalah selama
hidup, sehingga kemarahan dapat mereda.
b) Ada beberapa permintaan, seperti kesembuhan total, perpanjangan waktu
hidup, terhindar dari rasa sakit secara fisik atau bertobat.

5
c) Klien berupaya membuat perjanjian pada Tuhan. Hampir semua tawar
menawar dibuat untuk Tuhan dan biasanya dirahasiakan atau diungkapkan
secara tersirat atau diungkapkan di ruang kerja pribadi pendeta saat pengakuan
dosa, misalnya “Bila saya sembuh, saya akan..”
d) Klien mulai dapat memecahkan masalah dengan berdoa, menyesali
perbuatannya dan menangis mencari pendapat orang lain.
4) Tahap Depresi
Tahap depresi termasuk dalam tahap diam pada fase kehilangan. Pada tahap
ini klien mulai sadar bahwa sesatu yang dialaminya tidak akan bisa dikembalikan
lagi pada keadaan semula. Individu mulai menunjukkan reaksi menarik diri, tidak
mau berbicara dengan orang lain dan tampak putus asa. Secara fisik, hal ini
ditunjukkan dengan menolak makan, susah tidur, letih dan penurunan libido.
Individu yang mengalami depresi hanya memfokuskan pikiran pada orang yang
dicintai, misalnya “Bagaimana mungkin aku bisa hidup tanpa Ayah? Aku dan
adik-adik masih sangat membutuhkannya” atau “Apakah ibu sanggup merawat
kami tanpa bantuan ayah?”
Pertanyaan-pertanyaan seputar yang mengkhawatirkan seputar orang yang
dicintai akan semakin sering berputar-putar di dalam otak. Hal tersebut
dikarenakan bahwa depresi adalah tahap menuju orientasi realitas yang
merupakan tahap penting dan bermanfaat agar klien dapat meninggal dalam tahap
penerimaan dan damai. Tahap penerimaan terjadi hanya pada klien yang dapat
mengatasi kesedihan dan kegelisahannya.
5) Tahap Penerimaan
Tahap akhir atau tahap penerimaan merupakan organisasi ulang perasaan
kehilangan. Fokus pemikiran terhadap sesuatu yang hilang mulai berkurang.
Individu mulai bisa menerima kenyataan kehilangan, sehingga sesuatu yang
hilang tersebut mulai dilepaskan secara bertahap dan dialihkan kepada objek lain
yang baru. Biasanya individu yang mulai menerima akan mengungkapkan, “Saya
ikhlas atas kepergian ayah, saya yakin ayah akan mendapat tempat terbaik di sisi
Tuhan, ayah akan melihat kami tumbuh mandiri dari sana..”
Individu yang telah mencapai tahap penerimaan, dapat dipastikan akan
mengakhiri proses berdukanya dengan baik. Akan tetapi jika individu berada di
satu tahap dalam waktu yang sangat lama dan tidak mencapai tahap penerimaan,
disitulah awal terjadinya gangguan jiwa. Jika suatu saat individu tersebut kembali
mengalami kehilangan, maka sulit baginya untuk mencapai tahap penerimaan dan
kemungkinan akan menjadi sebuah proses yang disfungsional.

b. Tahapan proses berduka


Berduka meliputi fase akut dan jangka panjang.
1) Fase Akut
Fase ini berlangsung selama 4-8 minggu setelah kematian, yang terdiri atas tiga
proses, yaitu syok dan tidak percaya, perkembangan kesadaran, serta restitusi.
a) Syok dan tidak percaya

6
Respon awal yang dilakukan biasanya berupa penyangkalan, secara emosional
tidak dapat menerima pedihnya kehilangan. Namun, sesungguhnya proses ini
memang dibutuhkan untuk menoleransi ketidakmampuan klien dalam
menghadapi kepedihan dan secara perlahan membantu klien untuk menerima
kenyataan kematian.
b) Perkembangan kesadaran
Gejala yang muncul adalah marah, menyalahgunakan orang lain, perasaan
bersalah dengan menyalahkan diri sendiri melalui berbagai cara, dan menangis
untuk menurunkan tekanan dalam perasaan yang dalam.
c) Restitusi
Merupakan proses yang formal dan ritual bersama teman dan keluarga,
sehingga dapat membantu menurunkan sisa perasaan tidak menerima
kenyataan kehilangan.

2) Fase Jangka Panjang


a) Berlangsung selama satu sampai dua tahun atau lebih.
b) Reaksi berduka yang tidak terselesaikan dapat menjadi penyakit tersembunyi
dan termanifestasikan dalam berbagai gejala fisik. Pada beberapa individu
reaksi ini menjadi keinginan bunuh diri, sedangkan yang lain mengabaikan
diri dengan menolak makanan dan menggunakan alkohol.

G. Rentang Respons Emosional

ADAPTIF MALADAPTIF

H. Asuhan Keperawatan

Respon emosional Reaksi berduka rumit Supresi emosi Reaksi berduka tertunda Depresi/mania

a. Pengkajian
1) Faktor Predisposisi
a. Genetik
Individu yang salah satu anggota keluarga memiliki riwayat depresi akan lebih
sulit dalam bersikap optimis saat menghadapi kehilangan.
b. Kesehatan Fisik
Individu dengan kesehatan fisik prima dan hidup teratur memiliki kemampuan
yang baik dalam menghadapi stress dibanding individu yang mengalami
gangguan fisik.
c. Kesehatan Mental
Individu dengan riwayat gangguan kesehatan mental memiliki tingkat
kepekaan tinggi terhadap suatu kehilangan dan berisiko untuk kambuh.
d. Pengalaman Kehilangan Sebelumnya

7
Kehilangan dan perpisahan dengan orang berarti pada masa kanak-kanak akan
memengaruhi kemampuan individu dalam menghadapi kehilangan dimasa
dewasa.

2) Faktor Presipitasi
Faktor yang memunculkan rasa kehilangan adalah perasaan stress yang nyata atau
imajinasi individu dan kehilangan yang bersifat bio-psiko-sosial, seperti kondisi
sakit, kehilangan fungsi seksual, kehilangan harga diri, kehilangan pekerjaan,
kehilangan peran, dan kehilangan posisi di masyarakat.

3) Tanda dan Gejala


Berduka yang disebutkan di atas sebagai respon kehilangan, memiliki
karakteristik sebagai berikut :
a. Berduka menunjukkan suatu reaksi syok dan ketidakyakinan.
b. Berduka menunjukkan perasaan sedih dan hampa bila mengingat kembali
kejadian kehilangan.
c. Berduka menunjukkan perasaan tidak nyaman, sering disertai dengan
menangis, keluhan sesak pada dada, tercekik dan nafas pendek.
d. Mengenang orang yang telah pergi secara terus-menerus.
e. Mengalami perasaan berduka.
f. Mudah tersinggung dan marah.

4) Dimensi (Respons) dan Gejala Klien yang Berduka


Videbeck (2008) menyatakan bahwa perilaku dan respons dalam berduka
mencakup respons kognitif, emosional, spiritual, fisiologis dan perilaku.
a. Kognitif
1. Klien membuat makna tentang kehilangan
2. Gangguan asumsi dan keyakinan
3. Berupaya mempertahankan keberadaan orang yang sudah meninggal
4. Percaya pada kehidupan akhirat dan orang-orang yang meninggal seolah-
olah adalah pembimbing
b. Emosional
1. Perasaan mati rasa
2. Marah, sedih, cemas
3 Kebencian
3. Merasa bersalah
4. Emosi yang berubah-ubah
5. Penderitaan dan kesepian yang berat
6. Keinginan yang kuat untuk mengembalikan ikatan dengan individu atau
suatu benda yang hilang
7. Depresi, apati, putus asa selama fase disorganisasi dan keputusasaan
8. Saat fase reorganisasi, muncul rasa mandiri dan percaya diri
c. Fisiologis
1. Sakit kepala, insomnia

8
2. Gangguan nafsu makan, berat badan turun
3. Tidak bertenaga
4. Palpitasi, gangguan pencernaan
5. Perubahan sistem imun dan endokrin
d. Spiritual
1. Kecewa atau marah kepada Tuhan
2. Penderitaan karena ditinggalkan atau merasa ditinggalkan
3. Kehilangan harapan; kehilangan makna
e. Perilaku
1. Menangis terisak, menangis tidak terkendali
2. Melakukan fungsi secara “otomatis”
3. Sangat gelisah; perilaku mencari
4. Iritabilitas dan sikap bermusuhan
5. Mencari dan menghindari tempat dan aktivitas yang pernah dilakukan
bersama dengan orang yang sudah meninggal
6. Menyimpan benda berharga milik orang yang telah meninggal, padahal
ingin membuangnya
7. Kemungkinan melakukan gestur atau upaya bunuh diri atau pembunuhan
8. Kemungkinan menyalahgunakan obat atau alkohol
9. Mencari aktivitas dan refleksi personal selama fase reorganisasi
10. Klien mempertahankan hubungan dengan almarhum atau almarhumah

5) Mekanisme Koping
Adapun mekanisme koping yang dilakukan terhadap kehilangan adalah :
a. Denial
b. Regresi
c. Intelektualisasi/rasionalisasi
d. Supresi
e. Proyeksi

b. Diagnosis Keperawatan
Berdasarkan data pengkajian, berikut ini merupakan pohon masalah diagnosis
kehilangan dan berduka :

Duka Cita
Terganggu

Duka Cita
9
Gambar: Pohon Masalah Berduka

Ketidakberdayaan

Kepedihan Kronis

Ketidakefektifan
Koping Individu

Gambar: Pohon Masalah Kehilangan


c. Rencana Tindakan Keperawatan

Diagnosa Tujuan dan Kriteria


Rencana Tindakan Rasional
Keperawatan Hasil
Dukacita b.d Setelah dilakukan asuhan Individu:
kematian orang keperawatan selama 3x24  Peningkatan
terdekat jam diharapkan masalah koping
1. pasien akan
dukacita b.d kematian 1. Bantu pasien
lebih menyadari
orang terdekat dapat mengidentifikasi bahwa hidupnya
teratasi dengan kriteria tujuan jangka masih lama dan
hasil: pendek dan jangka banyak tujuan
Individu: panjang yang tepat yang mesti
 Menahan diri dari dicapainya
kemarahan 2. pemecahan
tujuan yang
1. Mengidentifikasi 2. Bantu pasien
menjadi lebih
kapan merasa marah untuk memecah kecil akan
2. Mengidentifikasi tujuan yang memudahkan
tanda-tanda awal kompleks menjadi pasien untuk
marah lebih kecil, dengan melaksanakannya
3. Bertanggungjawab langkah yang dapat satu persatu
terhadap perilaku dikelola 3. cara konstuktif
dapat
diri
mempermudah
Keluarga: 3. Bantu pasien menyelesaikan

10
 Ketahanan untuk masalah
keluarga menyelesaikan
1. Bergerak kembali masalah dengan cara 1. bercerita akan
menjadikan
dengan cepat setelah yang konstruktif
pasien lebih
mengalami kesulitan  Dukungan tenang dan
2. Mengusulkan solusi emosional terbuka
konstruktif praktis 1. Diskusikan
terkait dengan dengan pasien 2. kaji penyebab
perselisihan mengenai pasien emosi
3. Beradaptasi dengan pengalaman membantu
menyelesaikan
kesulitan sebagai emosinya
masalah
suatu tantangan 3. sentuhan akan
4. Mentolerir 2. Eksplorasi apa memberikan
perpisahan yang memicu emosi ketenangan dan
pasien rasa peduli
4. dengan pasien
3. Rangkul atau mengenali
perasaannya
sentuh pasien
sendiri pasien
dengan penuh akan menentukan
dukungan perilaku koping
yang efektif
4. Bantu pasien
untuk mengenali
perasaannya seperti 1. pengertian
yang diberikan
adanya cemas, kepada keluarga
marah atau sedih mengurangi
kecemasan
Keluarga:
 Dukungan
keluarga 2. sebagai data
dasar tambahan
1. Yakinkan
keluarga bahwa
pasien sedang 3. memberikan
diberikan perawatan harapan yang
terbaik realistis akan
memulihkan
2. Nilailah reaksi semangat
keluarga
emosi keluarga
terhadap kondisi
pasien
3. Dukungan
harapan yang 1. keluarga akan
realistis merasa dihargai
dan diperhatikan

11
saat didengarkan

2. hubungan
saling percaya
 Peningkatan
pada keluarga
integritas keluarga pasien akan
1. Jadilah pendengar melancarkan
[yang baik] bagi proses perawatan
anggota keluarga pasien
3. mengetahui
latar belakang
2. Bina hubungan keluarga sangat
saling percaya penting untuk
dengan anggota memberikan
keluarga pengertian yang
sesuai tentang
perkembangan
3. Pertimbangkan pasien
pemahaman
keluarga terhadap
kondisi yang ada

Ketidakefektifa Setelah dilakukan asuhan  Dukungan


n koping b.d keperawatan selama 3x24 Pengambilan
kurang jam diharapkan masalah Keputusan
dukungan ketidakefektifan koping b.d 1. Informasikan pada 1. Agar terbina
sosial kurang dukungan social pasien mengenai hubungan
teratasi dengan kriteria pandangan- saling percaya
hasil: pandangan atau dengan pasien
 Koping solusi alternatif sedini mungkin
1. Mengidentifikasi pola dengan cara yang
koping yang efektif jelas dan
2. Menyatakan mendukung
penerimaan terhadap 2. Bangun komunikasi 2. Tujuan
situasi dengan pasien keperawatan
3. Menggunakan strategi sedini mungkin berguna untuk
koping yang efektif sejak [pasien] memberitahu
 Dukungan Sosial masuk [ke unit pasien tindakan
1. Kemauan untuk perawatan] yang akan
menghubungi orang dilakukan
lain untuk meminta 3. Fasilitasi 3. Hubungan
bantuan percakapan pasien pasien dan
2. Dukungan emosi yang mengenai tujuan keluarga harus

12
disediakan oleh orang perawatan tetap harmonis
lain sepenuhnya 4. Jadilah sebagai 4. Komunikasi
adekuat penghubung antara antara pasien
3. Jaringan sosial yang pasien dan keluarga dan keluarga
stabil harus selalu
 Resolusi Berduka ada dan
1. Menyatakan terfasilitasi
menerima  Menghadirkan Diri
kehilangannya 1. Tunjukan perilaku 1. Menerima
2. Melaporkan menerima pasien apa
penurunan kecemasan adanya
mengenai kehilangan 2. Secara verbal 2. Agar pasien
3. Melaporkan tidur mengkomunikasika merasa dihargai
yang cukup n empati atau
4. Membagi perasaan pemahaman
kehilangan dengan mengenai
orang terdekat pengalaman pasien
3. Tetap menghadirkan3. Menghadirkan
diri secara fisik diri secara fisik
tanpa mengharapkan penting bagi
respon interaksi kesembuhan
pasien
4. Temani pasien dan 4. Agar pasien
berikan jaminan tidak merasa
rasa aman selama sendirian
periode cemas
 Peningkatan Sistem
Dukungan
1. Identifikasi respon 1. Mengetahui
psikologis terhadap sejauh mana
situasi dan respon
ketersediaan sistem psikologis
dukungan pasien
2. Anjurkan pasien 2. Agar pasien
untuk berpartisipasi tidak merasa
dalam kegiatan kesepian
sosial dan
masyarakat
3. Sediakan layanan 3. Agar pasien
dengan sikap peduli merasa nyaman
dan mendukung
Kepedihan Setelah dilakukan asuhan Individu :
kronis b.d keperawatan selama 3x24  Peningkatan Koping
kematian orang jam diharapkan 1. Bantu pasien

13
terdekat masalahkepedihan kronis dalam 1. pasien akan
b.d kematian orang mengidentifikasi lebih menyadari
terdekat teratasi dengan tujuan jangka bahwa hidupnya
masih lama dan
kriteria hasil: pendek dan jangka
banyak tujuan
 Kontrol Diri terhadap panjang yang mesti
Depresi dicapainya
1. Memantau 2. Dukung sikap
intensitas depresi pasien terkait 2. dukungan
2. Monitor perilaku dengan harapan positif yang
akibat depresi yang realistis diberikan pada
pasien akan
3. Menggunakan sebagai upaya
mengatasi
pengobatan yang untuk mengatasi perasaan
diresepkan perasaan buruknya
4. Menetapkan tujuan ketidakberdayaan.
yang realistis 3. Dukung
 Koping kemampuan 3. selalu ada dan
1. Mengidentifikasi mengatasi situasi selalu
mendukung
pola koping yang secara berangsur-
pasien akan
efektif angsur mempercepat
2. Menggunakan penyembuhan
strategi koping yang  Dukungan
efektif Emosional
3. Menyatakan 1. Bantu pasien
penerimaan untuk mengenali 1. dengan pasien
mengenali
terhadap situasi perasaan seperti perasaannya
 Resolusi Berduka adanya cemas, sendiri pasien
1. Menyatakan marah atau sedih akan menentukan
menerima perilaku koping
kehilangan 2. Dorong untuk yang efektif
2. Melaporkan bicara atau 2.
mengekspresikan
penurunan menangis sebagai
emosi dapat
kecemasan cara untuk menurunkan rasa
mengenai kehlangan menurunkan sedih dan depresi
3. Mengekspresikan respon emosi
harapan positif 3. Buat pernyataan
mengenai masa yang mendukung 3. pertanyaan dan
depan dan berempati berempati
menunjukkan
perhatian yang
menjadikan
pasien nyaman
dan lebih baik
 Dukungan Spiritual
1. Gunakan
komunikasi 1. komunikasi

14
terapeutik dalam terapeutik
membangun merupakan salah
hubungan saling satu metode
proses
percaya dan
penyembuhan
caring pasien
2. Dengarkan
perasaan klien 2. pasien akan
merasa diedengar
3. Pastikan pada dan dihargai
individu bahwa
3. agar pasien
perawat selalu ada
tidak merasa
untuk mendukung sendirian dalam
individu melewati mengatasi
masa yang masalah yang
menyakitkan menurutnya berat
4. Dorong partisipasi
terkait dengan
4.ikut
keterlibatan
berpartisipasi
anggota keluarga, dapat membina
teman dan orang hubungan saling
lain percaya dengan
pasien dan
keluarga
ketidakberdaya Setelah dilakukan asuhan Individu:
an hubungan keperawatan selama 3x24  dukungan
dengan strategi jam diharapkan masalah pengambilan
koping tidak ketidakberdayaan keputusan
efektif hubungan dengan strategi 1. Tentukan apakah 1. perbedaan
koping tidak efektif teratasi terdapat perbedaan antara pandangan dapat
dengan kriteria hasil: pandangan pasien dan menjadi
 kepercayaan pandangan penyedia hambatan
mengenai kesehatan: perawatan kesehatan keberhasilaan
merasakan mengenai kondisi pasien perawatan pasien
kemampuan 2. bantu pasien untuk 2.
melakukan mengklarifikasi nilai dan mengklarifikasi
1. persepsi bahwa perilaku harapan yang mungkin nilai dapat
Kesehatan tidak terlalu akan membantu dalam membantu pasien
rumit membuat pilihan yang menentukan jalan
2. persepsi bahwa penting dalam hidupnya hidupnya
frekuensi perilaku kedepan
Kesehatan tidak 3. informasikan pada 3. memberikan
berlebihan pasien mengenai referensi terhadap
3. persepsi kemungkinan pandangan-pandangan pandangan-
melakukan perilaku atau solusi alternatif pandangan akan

15
kesehatan sepanjang dengan cara yang jelas membantu pasien
waktu dan mendukung menentukan
tujuan
 kontrol diri terhadap 4. bangun komunikasi 4. komunikasi
depresi dengan pasien sedini yang lancar dan
1. kemampuan untuk mungkin sejak pasien sedini mungkin
berkonsentrasi masuk ke unit perawatan dapat membina
meningkat hubungan saling
2. monitor perilaku akibat percaya dan
depresi dapat pasien merasa
ditingkatkan nyaman
3. mengidentifikasi  peningkatan efikasi
sesuatu yang muncul diri
sebelum depresi 1. Eksplorasi persepsi 1. menggali
individu mengenai persepsi individu
kemampuannya untuk akan memicu
melaksanakan perilaku- keinginan pasien
perilaku yang diinginkan untuk menggapai
apa yang
diinginkannya
kedepan
2 eksplorasi persepsi 2.
individu mengenai memberitahukan
keuntungan keuntungan dan
melaksanakan perilaku- resiko
perilaku yang diinginkan melaksanakan
dan risiko tidak atau tidak
melaksanakan perilaku- melaksanakan
perilaku yang diinginkan apa yang
diinginkan
meyakinkan
pasien untuk
melakukannya
3. identifikasi hambatan 3. mengkaji
untuk merubah perilaku hambatan yang
mungkin terjadi
akan
meminimalisir
kegagalan dalam
melakukan
intervensi
Keluarga:
 Dukungan
pengasuhan

16
caregiver support

1. mengkaji tingkat 1. penting


pengetahuan caregiver mengetahui
tingkat
pengetahuan dari
caregiver sebagai
penentuan
tercapainya
tujuan intervensi

2. mengkaji tingkat 2. harus mengkaji


penerimaan caregiver apakah caregiver
terkait dengan perannya menerima dan
untuk menyediakan menyetujui
perawatan perannya sebagai
pemberi asuhan

3. menerima ekspresi 3. perawat harus


negatif dari kerja menerima apapun
caregiver resiko yang akan
diterima dari
seorang caregiver
4. tidak menyepelekan 4. menyadari
peran sulit caregiver bahwa pemberi
asuhan pun
mengalami
kesulitan dan
tidak
menyepelekan
peran sulitnya

5. mengakui tingkat 5. penting


ketergantungan pasien mengkaji
terhadap caregiver sesuai ketergantungan
dengan kebutuhan pasien untuk
mengetahui
tingkat
kemandirian
pasien

17
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kehilangan adalah suatu situasi aktual maupun potensial yang dapat dialami
individu ketika berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya dimilikinya, baikterjadi
sebagian atau keseluruhan. Tipe kehilangan ada dua yaitu kehilangan aktual atau nyata
dan kehilangan persepsi.
Berduka (grieving) adalah reaksi emosional dari kehilangan, yaitu respons
emosional normal dan merupakan suatu proses untuk memecahkan masalah serta respons
alamiah yang melibatkan reaksi psikososial dan psikologis terhadap kehilangan aktual
atau kehilangan yang dirasakan. Menurut NANDA, berduka ada dua tipe yaitu berduka
diantisipasi dan berduka disfungsional.
Proses grieving pertama kali diteliti olehDr. Elisabeth Kübler-Ross pada tahun
1969 (Kübler-Ross, 2009). Penelitian yang dilakukan menemukan bahwa terdapat lima
tahapan dalam proses grieving yakni penolakan, kemarahan, tawar menawar, depresi, dan
penerimaan (Kübler-Ross, 2009).

B. Saran
Sebagai seorang perawat profesional kita harus mengetahui tentang perilaku
kehilangan dan berduka, mengenai pengaruh kehilangan dan berduka dalam perilaku dan
memberikan dukungan dalam bentuk empati agar pada saat nanti saat kita menjadi
seorang perawat yang professional kita dapat memberikan asuhan keperawatan yang
semestinya bagi seseorang yang kehilangan dan berduka.

18
LAMPIRAN KUESIONER KEHILANGAN DAN BERDUKA

KUESIONER TAHAP BERDUKA KUBLER & ROSS

No Register ………….. Kapan mulai HD Bln………. Thn……..

Inisial ………….. Agama …………………


Usia …………..tahun Status Pernikahan: Kawin / belum

Pekerjaan …………… Single/Janda/Duda: ………………


Jenis Kelamin Lk / pr SiklusHD : 2 / 3x / m i n g g u

Petunjuk Pengisian :

Pertanyaan dibawah ini untuk mengetahui tahap respon kehilangan yang


bapak/ibu/saudara alami.

Bacalah baik-baik setiap pertanyaan dan jawablah pertanyaan-pertanyaan


dibawah ini dengan jujur sesuai dengan Bapak/Ibu/Saudara rasakan dengan
memberi tanda ( √ ) pada jawaban tersebut.

NO RESPON Selalu Sering Kadang- Jarang Tidak


Kadang pernah
(1) (2) (3) (4) (5)
DENIAL
(menolak)
1. Saya tidak percaya kalau
saya menderita sakit
2. Saya tidak tahu harus berbuat
apa dengan penyakit ini

3. Saya pikir hasil pemeriksaan


dokter itu salah
4. Saya segera memeriksakan
diri k e d o k t e r saat
kondisi

19
memburuk.
5. Saya berusaha untuk
merahasiakan kondisi penyakit
saya kepada orang lain

6. Saya malu dengan orang lain,


jika mereka mengetahui sakit
saya
7 Saya bersikap biasa, seolah-
olah tidak terjadi sakit pada
saya
ANGER (Marah)
8. Saya menyalahkan orang lain
mengapa harus saya yang
menderita sakit ini
9. Saya menyalahkan Tuhan
mengapa harus saya yang
menderita sakit ini
10. Saya marah dan tersinggung,
jika ada orang lain yang
membicarakan saya
Bargaining (Tawar menawar)
11 Saya berfikir seandainya
bukan saya yang sakit, tentu
tidak akan seperti ini
12. Saya berfikir seandainya, saya
selalu menjaga kesehatan ,
tidak akan terjadi sepertiini

13 Seandainya sakit saya


membaik , saya akan berbuat
baik dan beramal
DEPRESSI
14 Saya merasa terpukul ketika
diberitahu dokter tentang

20
penyakit saya
15. Sejak saya sakit, saya merasa
malas berhubungan dengan
orang lain
16. Saat ini saya merasa tidak
berdaya
17. Saya sedih dan menangis jika
memikirkan penyakit saya
18. Saya merasa gagal dalam
hidup karena tidak bisa
mencapai kebahagiaan
19. Saya malas untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari saya
20. Saya sering berfikir putus asa
untuk berobat
21. Saya kadang berfikir untuk
bunuh diri dan mati dengan
tenang daripada mengalami
sakit seperti ini
ACCEPTANCE (Menerima)
22 Saat ini saya berfikir akan
menyerahkan sepenuhnya
kepada dokter/perawattentang
perawatan penyakit saya

23. Saya akan menyediakan


semua keperluan untuk
kesembuhan penyakit saya
24. Saya akan meminta penjelasan
secara jelaskepada dokter dan
perawat tentang penyakit saya
dan kemungkinan
kesembuhannya

25. Saya berfikir bahwap e n y a k i t


yang saya derita adalah

21
kehendak-Nya sebagaicobaan
didunia.

22
DAFTAR PUSTAKA

Sutejo. (2016). Keperawatan Jiwa Konsep dan Praktik Asuhan KeperawatanKesehatan


Jiwa: Gangguan Jiwa dan Psikososial. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Yosep, I. (2007). Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama.
Heardman, T. Heather. (2017). NANDA-I Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi
2018-2020, Ed.11. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Bulechek, dkk. (2016). Nursing Interventions Classification (NIC) Edisi Keenam. UK:
Mocomedia.
Moorhead, dkk. (2016). Nursing Outcomes Classification (NOC) Edisi Kelima. UK:
Mocomedia.
Yunita, A dan Lestari, M.D. (2017). Proses Grieving dan Penerimaan Diri Pada Ibu Rumah
Tangga Berstatus HIV Positif Yang Tertular Melalui Suaminya. Jurnal Psikologi Udayana
Volume 4 Nomor 2 Halaman 222-237 : Fakultas Psikologi Universitas Udayana.
Hidayati, A. Lampiran. Yogyakarta: Universitas Muhamadiyah Yogyakarta.

23