Anda di halaman 1dari 29

Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Konsep Diri, Citra Tubuh,

dan Harga Diri Rendah

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah


Keperawatan Jiwa I

Dosen Pengampu: Ns. Evin Novianti, M.Kep.Sp.Kep.J

Disusun Oleh :
Rifda Hasanah 1810711054
Della Yunita 1810711066
Fitriannih Azzahra 1810711069

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

JAKARTA

2020
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Konsep diri adalah semua ide, pikiran, perasaan, kepercayaan, serta pendirian yang
diketahui individu tentang dirinya dan memengaruhi individu dalam berhubungan dengan
orang lain. Konsep diri belum muncul saat bayi, tetapi mulai berkembang secara bertahap.
Bayi mampu mengenal dan membedakan dirinya dengan orang lain serta mempunyai
pengalaman dalam berhubungan dengan orang lain. Konsep diri dipelajari melalui
pengalaman pribadi setiap individu, hubungan dengan orang lain, dan interaksi dengan dunia
di luar dirinya. Memahami konsep diri penting bagi perawat karena asuhan keperawatan
diberikan secara utuh bukan hanya penyakit tetapi menghadapi individu yang mempunyai
pandangan, nilai dan pendapat tertentu tentang dirinya.

Harga diri berasal dari persepsi tentang kompetensi dan kemanjuran seseorang dan
dari penilaian orang lain. Secara umum, orang memiliki keyakinan diri yang menguatkan diri
tentang diri mereka sendiri, dunia, dan masa depan. Ketika harga diri menurun, keyakinan
seseorang bahwa dia dapat mengendalikan lingkungan juga ikut menurun.

Gangguan citra tubuh adalah keadaan di mana seseorang mengalami atau berisiko
mengalami gangguan dalam pencerapan diri seseorang (Carpenito-Moyet, 2009). Gangguan
ini biasanya melibatkan distorsi dan persepsi negatif tentang penampilan fisik mereka.
Gangguan citra tubuh ini, misalnya dialami oleh seorang wanita selama mas kehamilan.
Ketidakpuasan tubuh berfokus pada "membangun tubuh" dan sering dioperasionalkan
sebagai perbedaan antara sosok ideal dan sosok nyata diri saat ini.

A. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka perumusan
masalah pada makalah ini : Apa itu Imunisasi pada anak.

B. Tujuan

Tujuan penulisan merupakan jawaban atau sasaran yang ingin dicapai penulis dalam
sebuah makalah. Oleh sebab itu, tujuan penulisan ini adalah untuk memperoleh data empiris
mengenai Gangguan Konsep Diri

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka perumusan
masalah pada makalah ini : Apa itu Gangguan Konsep Diri
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN KONSEP DIRI

Rizky Fitryasari PK&Hanik Endang Nihayati.(2015).Buku Ajar Keperawatan Kesehatan


Jiwa.Penerbit Salemba Medika.

PENGERTIAN KONSEP DIRI

Konsep diri adalah semua ide, pikiran, perasaan, kepercayaan, serta pendirian yang
diketahui individu tentang dirinya dan memengaruhi individu dalam berhubungan dengan
orang lain. Konsep diri belum muncul saat bayi, tetapi mulai berkembang secara bertahap.
Bayi mampu mengenal dan membedakan dirinya dengan orang lain serta mempunyai
pengalaman dalam berhubungan dengan orang lain. Konsep diri dipelajari melalui
pengalaman pribadi setiap individu, hubungan dengan orang lain, dan interaksi dengan dunia
di luar dirinya. Memahami konsep diri penting bagi perawat karena asuhan keperawatan
diberikan secara utuh bukan hanya penyakit tetapi menghadapi individu yang mempunyai
pandangan, nilai dan pendapat tertentu tentang dirinya.

KOMPONEN KONSEP DIRI

1. Citra Tubuh
Citra tubuh adalah kumpulan sikap individu baik yang disadari maupun tidak terhadap
tubuhnya, termasuk pesepsi masa lalu atau sekarang mengenai ukuran, fungsi,
keterbatasan, makna dan objek yang kontak secara teru menerus (anting, make up,
pakaian, kursi roda, dan sebagainya). Baik masa lalu maupun sekarang. Citra tubuh
merupakan hal pokok dalam konsep diri. Citra ubuh harus realitis karena semakin
seseorang dapat menerima dan menyukai tubuh nya ia akan lebih bebas dan merasa aman
dari kecemasan sehingga harga dirinya akan meningkat. Sikap individu terhadap
tubuhnya mencerminkan aspek pentig dalam dirinya misalnya perasaan menarik atau
tidak, gemuk atau tidak, dan sebagainya.

2. Ideal diri
Persepsi individu tentang seharus nya berperilaku berdasarkan standar, aspirasi,
tujuan atau nilai yang diyakininya. Penetapan ideal diri dipengaruhi oleh kebudayaan,
keluarga, ambsi, keinginan, dan kemampuan individu dalam menyesuaikan diri dengan
norma serta prestasi masyarakat setenpat. Individu cendrung menyusun tujuan yang
sesuai dengan kemampuan, kultur, realita, menghibdarai kegagalan dan rasa cemas, serta
inferiority. Idela diri harus cukup tinggi supaya mendukun respek terhadap diri tetapi
tidak terlalu tinggi,teralu menurut, serta samr samara tau kabur. Ideal diri akan
melahirkan harapan individu terhadap dirinya saat berada ditengah masyarakat dengan
norma tertentu.

Ideal diri berperan sebagai pengatur internal dan membatu individu mempertahankan
kemampuan nya menghadapi konflik atau kondisi yang membuat bingung. Idal diri
penting untuk mempertahankan kesehatan dan keseimbangan mental.

3. Harga diri
Penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dan menganalisis seberapa jauh perilaku
memenuhi ideal diri. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Individu akan
merasa harga dirinya tinggi bila sering mengalami keberhasilan. Sebaliknya, individu
akan merasa harga diri nya rendah bila sering mnegalami kegagalan, tidak dicintai, atau
tidak diterima dilingkungan. Harga diri dibentuk sejak kecil dari adanya penerimaan dan
perhatian. Harga diri akan meningkat sesuai meningkatnya usia dan sangat terancam pada
masa pubertas. Coopersmith dalam buku Stuart dan Sundeen (2022) menyatakan bahwa
ada empat hal yang dapat meningkatkan harga diri amak, yaitu:

 Memberi kesempatan untuk berhasil


 Menanamkan idealisme
 Mendukung aspirasi/ide
 Membantu membentuk koping

4. Peran
Serangkaian pola sikap, perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan oleh masyarakat
sesuai posisinya di masyarakat/kelompok sosialnya. Peran memberikan sarana untuk
berperan serta dalam kehidupan social dan merupkan cara untuk menguji identitas dengan
memvalidasi pada orang yang berarti. Hal hal yang mempengaruhi penyesuaian individu
terhadap peran antara lain sebagai berikut:

 Kejelasan perilaku sesuai dengan peran dan pengetahuanya tentang peran yang
diharapkan
 Respon/ tanggapan yang konsisten dari orang yang berarti terhadap peran nya
 Kesuaian norma budaya dan harapan nya dengan peran nya
 Perbedaan situasi yang dapat menimbulkan penampilan yang tidak sesuai.

5. Identitas diri

Identitas adalah kesadaran tentang diri ‘’diri sendiri’’yang dapat diperoleh individu
dari observasi dan penilaian terhadap dirinya, serta menyadari individu bahwa dirinya
berbeda dengan orang lain. Pengertian identitas adalah organisasi, sintesis dari semua
gambaran utuh dirinya serta tidak dipengaruhi oleh pencapaian tujuan atribut,/jabatan,
dan peran. Dalam identitas nya diri ada otonomi yaitu mengerti dan percaya diri,
terhormat terhdap dirinya, mampu menguasai dirinya dan menerima diri. Ciri individu
dengan identitas diri yang positif adalah sebsgai berikut:
 Mengenal diri sebagai individu yang utuh terpisah dari orang lain
 Mengakui jenis kelamin sendiri.

PENGKAJIAN

Faktor Predisposisi

1. Citra tubuh

a. Kehilangan/kerusakan bagian tubuh (anatomi dan fungsi).


b. Perubahan ukuran, bentuk, dan penampilan tubuh (akibat tumbuh kembang atau
penyakit).
c. Proses penyakit dan dampaknya terhadap struktur dan fungsi tubuh.
d. Proses pengobatan, seperti radiasi dan kemoterapi.

2. Harga diri

a. Penolakan.
b. Kurang penghargaan.
c. Pola asuh overprotektif, otoriter, tidak konsisten, terlalu dituruti, terlalu dituntut.
d. Persaingan antara keluarga.
e. Kesalahan dan kegagalan berulang.
f. Tidak mampu mencapai standar.

3. Ideal diri

a. Cita-cita yang terlalu tinggi.


b. Harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan.
c. Ideal diri samar atau tidak jelas.

4. Peran

a. Stereotipe peran seks.


b. Tuntutan peran kerja.
c. Harapan peran kultural.

5. Identitas diri

a. Ketidakpercayaan orang tua.


b. Tekanan dari teman sebaya.
c. Perubahan struktur sosial.

Faktor Presipitasi

1. Trauma.
2. Ketegangan peran.
3. Transisi peran perkembangan.
4. Transisi peran situasi.
5. Transisi peran sehat-sakit.

Perilaku

1. Citra tubuh

a. Menolak menyentuh atau melihat bagian tubuh tertentu.


b. Menolak bercermin.
c. Tidak mau mendiskusikan keterbatasan atau cacat tubuh.
d. Menolak usaha rehabilitasi.
e. Usaha pengobatan mandiri yang tidak tepat.
f. Menyangkal cacat tubuh.

2. Harga diri rendah

a. Mengkritik diri sendiri/orang lain.


b. Produktivitas menurun.
c. Gangguan berhubungan.
d. Merasa diri paling penting.
e. Destruktif pada orang lain.
f. Merasa tidak mampu.
g. Merasa bersalah dan khawatir.
h. Mudah tersinggung/marah.
i. Perasaan negatif terhadap tubuh.
j. Ketegangan peran.
k. Pesimis menghadapi hidup.
l. Keluhan fisik.
m. Penolakan kemampuan diri.
n. Pandangan hidup bertentangan.
o. Destruktif terhadap diri.
p. Menarik diri secara sosial.
q. Penyalahgunaan zat.
r. Menarik diri dari realitas.

3. Kerancuan identitas

a. Tidak ada kode moral.


b. Kepribadian yang bertentangan.
c. Hubungan interpersonal yang eksploitatif.
d. Perasaan hampa.
e. Perasaan mengambang tentang diri.
f. Kerancuan gender.
g. Tingkat ansietas tinggi.
h. Tidak mampu empati terhadap orang lain.
i. Masalah estimasi.

4. Depersonalisasi

Mekanisme Koping

1. Pertahanan jangka pendek

a. Aktivitas yang dapat memberikan pelarian sementara dari krisis, seperti kerja keras,
nonton, dan lain-lain.
b. Aktivitas yang dapat memberikan identitas pengganti sementara, seperti ikut kegiatan
sosial, politik, agama, dan lain-lain.
c. Aktivitas yang sementara dapat menguatkan perasaan diri, seperti kompetisi
pencapaian akademik.
d. Aktivitas yang mewakili upaya jarak pendek untuk membuat masalah identitas
menjadi kurang berarti dalam kehidupan, seperti penyalahgunaan obat.

2. Pertahanan jangka panjang

a. Penutupan identitas
Adopsi identitas prematur yang diinginkan oleh orang yang penting bagi individu
tanpa memperhatikan keinginan, aspirasi, dan potensi diri individu.
b. Identitas negatif
Asumsi identitas yang tidak wajar untuk dapat diterima oleh nilai-nilai harapan
masyarakat.

3. Mekanisme pertahanan ego

a. Fantasi
b. Disosiasi
c. Isolasi
d. Proyeksi
e. Displacement
f. Marah/amuk pada diri sendiri

DIAGNOSIS

Pohon Masalah

Daftar Diagnosis

1. Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.


2. Risiko perilaku kekerasan berhubungan dengan harga diri rendah.
3. Gangguan konsep diri: citra tubuh berhubungan dengan koping keluarga
inefektif.
4. Gangguan konsep diri: identitas personal berhubungan dengan perubahan
penampilan peran.

RENCANA INTERVENSI

Rencana intervensi keperawatan disesuaikan dengan diagnosis yang ditemukan. Pada rencana
intervensi berikut memberikan gambaran pada gangguan konsep diri, yaitu harga diri rendah.

Tindakan Keperawatan pada Pasien

1. Tujuan

a. Pasien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.

b. Pasien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.

c. Pasien dapat menetapkan/memilih kegiatan yang sesuai kemampuan.

d. Pasien dapat melatih kegiatan yang sudah dipilih, sesuai kemampuan.

e. Pasien dapat merencanakan kegiatan yang sudah dilatihnya.


2. Tindakan keperawatan

a. Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang masih dimiliki pasien.

1) Mendiskusikan bahwa pasien masih memiliki sejumlah kemampuan dan aspek


positif seperti kegiatan pasien di rumah, serta adanya keluarga dan lingkungan terdekat
pasien.

2) Beri pujian yang realistik/nyata dan hindarkan setiap kali bertemu dengan pasien
penilaian yang negatif.

b. Membantu pasien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.

1) Mendiskusikan dengan pasien kemampuan yang masih dapat digunakan saat ini
setelah mengalami bencana.

2) Bantu pasien menyebutkannya dan memberi penguatan terhadap kemampuan diri


yang diungkapkan pasien.

3) Perlihatkan respons yang kondusif dan menjadi pendengar yang aktif.

c. Membantu pasien dapat memilih/menetapkan kegiatan sesuai dengan kemampuan.

1) Mendiskusikan dengan pasien beberapa aktivitas yang dapat dilakukan dan dipilih
sebagai kegiatan yang akan pasien lakukan sehari-hari.

2) Bantu pasien menetapkan aktivitas yang dapat pasien lakukan secara mandiri,
aktivitas yang memerlukan bantuan minimal dari keluarga, dan aktivitas yang perlu
bantuan penuh dari keluarga atau lingkungan terdekat pasien. Berikan contoh cara
pelaksanaan aktivitas yang dapat dilakukan pasien. Susun bersama pasien dan buat
daftar aktivitas atau kegiatan sehari-hari pasien.

d. Melatih kegiatan pasien yang sudah dipilih sesuai kemampuan.

1) Mendiskusikan dengan pasien untuk menetapkan urutan kegiatan (yang sudah dipilih
pasien) yang akan dilatihkan.

2) Bersama pasien dan keluarga memperagakan beberapa kegiatan yang akan dilakukan
pasien.

3) Berikan dukungan dan pujian yang nyata setiap kemajuan yang diperlihatkan pasien.

e. Membantu pasien dapat merencanakan kegiatan sesuai kemampuannya.

1) Memberi kesempatan pada pasien untuk mencoba kegiatan yang telah dilatihkan.

2) Beri pujian atas aktivitas/kegiatan yang dapat dilakukan pasien setiap hari.
3) Tingkatkan kegiatan sesuai dengan tingkat toleransi dan perubahan setiap aktivitas.

4) Susun daftar aktivitas yang sudah dilatihkan bersama pasien dan keluarga.

5) Berikan kesempatan mengungkapkan perasaanya setelah pelaksanaan kegiatan.

6) Yakinkan bahwa keluarga mendukung setiap aktivitas yang dilakukan pasien.

Tindakan Keperawatan pada Keluarga

1. Tujuan

a. Keluarga dapat membantu pasien mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki.

b. Keluarga memfasilitasi aktivitas pasien yang sesuai kemampuan.

c. Keluarga memotivasi pasien untuk melakukan kegiatan sesuai dengan latihan yang
dilakukan.

d. Keluarga mampu menilai perkembangan perubahan kemampuan pasien.

2. Tindakan keperawatan

a. Diskusi dengan keluarga kemampuan yang dimiliki pasien.

b. Anjurkan memotivasi pasien agar menunjukkan kemampuan yang dimiliki.

c. Anjurkan keluarga untuk memotivasi pasien dalam melakukan kegiatan yang sudah
dilatihkan pasien dengan perawat.

d. Ajarkan keluarga cara mengamati perkembangan perubahan perilaku pasien.

EVALUASI

1. Kemampuan yang diharapkan dari pasien.

a. Pasien dapat mengungkapkan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien.

b. Pasien dapat membuat rencana kegiatan harian.

c. Pasien dapat melakukan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki.

2. Kemampuan yang diharapkan dari keluarga.

a. Keluarga membantu pasien dalam melakukan aktivitas.

b. Keluarga memberikan pujian pada pasien terhadap kemampuannya melakukan aktivitas.


2.2 ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN KONSEP DIRI: HARGA DIRI
RENDAH SITUASIONAL

Sutejo. (2017). Konsep dan Praktik Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa: Ganguan Jiwa
dan Psikososial.

A. Gangguan konsep diri: harga diri rendah Situasional

Harga diri berkembang dari perbandingan antara konsep diri dan ideal diri. Semakin
besar Kongruen sih, semakin tinggi harga diri (Carpenito-Moyet, 2009). Harga diri berasal
dari persepsi tentang kompetensi dan kemanjuran seseorang dan dari penilaian orang lain.
Secara umum, orang memiliki keyakinan diri yang menguatkan diri tentang diri mereka
sendiri, dunia, dan masa depan. Ketika harga diri menurun, keyakinan seseorang bahwa dia
dapat mengendalikan lingkungan juga ikut menurun. Demikian juga, penurunan pada kontrol
pribadi akan berakibat pada menurunnya harga diri. Adanya kaitan antara kegagalan dengan
kurangnya kemampuan (penyebab internal) Dapat menyebabkan penurunan harapan dan
motivasi seseorang. Keadaan ketika seseorang yang sebelumnya memiliki harga diri positif
kemudian mengalami perasaan negatif tentang diri mereka dalam menanggapi Suatu
peristiwa (kehilangan, perubahan) Inilah yang disebut dengan konsep harga diri rendah
situasional (Carpenito-Moyet, 2009).

B. Pengkajian

Menurut Nanda 2018 Harga diri rendah situasional adalah munculnya persepsi negatif
tentang makna diri sebagai respons terhadap situasi

1.Batasan karakteristik

Nanda (2016) Menyatakan batasan karakteristik harga diri Situasional:

1. Meremehkan kemampuan menghadapi situasi


2. Perilaku tidak asertif
3. Perilaku tidak selaras dengan nilai
4. Tanpa tujuan
5. Tantangan situasi terhadap harga diri
6. Tidak berdaya
7. Ungkapan negatif tentang diri

Perilaku dan respons

Berdasarkan perilaku dan respon, terdapat standar Pengkajian terhadap gangguan harga diri
rendah situasional, yaitu:
a. Kognitif

5. Mengungkapkan rasa ketidakmampuan dalam menghadapi situasi atau


peristiwa
6. Mengungkapkan ketidak berdayaan dalam menghadapi situasi atau peristiwa
7. Mengungkapkan perasaan tidak berguna, tidak mampu menghadapi apa yang
dialami
8. Mengungkapkan rasa tidak mampu nya, rasa gagal dalam menjalankan peran
akibat situasi atau peristiwa yang dialami
9. Mengungkapkan kak Limbangan saat hendak melakukan aktivitas
10. Mengungkapkan adanya tantangan situasional terhadap harga diri

b. Afektif

Secara afektif, klien dengan gangguan harga diri rendah situasional akan merasa tidak
berdaya, malu, bersalah, tidak mampu, tidak berguna, putus asa, sedih, dan mudah
tersinggung.

c. Fisiologis

1. Terdapat perubahan actual fungsi dan struktur tubuh (salah satunya)


2. Gangguan tidur atau insomnia
3. Tekanan darah meningkat
4. Makan dan minum yang berlebihan atau juga sebaliknya, kurang
5. Penurunan berat badan
6. Pusing dan sakit kepala
7. Tampak lesu
8. Kurang nafsu makan
9. Mual dan muntah
10. Konstipasi atau diare

d. Perilaku

1. Kurang mendukung program pengobatan (malas makan dan minum obat)


2. Kurang mampu melakukan semua aktivitas, seperti penurunan produktivitas
3. Tampak ragu ragu Atau bimbang melakukan sesuatu
4. Tidak suka membicarakan penyakit nya
5. Menolak memegang bagian yang sakit atau adanya penolakan realitas

e. Sosial

1. Banyak diam, seperti tidak membicarakan penyakit nya


2. Tidak suka berkomunikasi secara verbal
3. Kurangnya kontak mata
4. Kurangnya partisipasi sosial (dalam pembicaraan).

C. Diagnosis Keperawatan

Gangguan Konsep diri: Harga Diri Rendah Kronis

Gangguan Konsep Diri: harga diri rendah situasional

Kehilangan

HARGA DIRI RENDAH SITUASIONAL

Anna, Budi K dkk. 2019. Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC

Resiko harga diri rendah situasional adalah munculnya persepsi negatif tentang makna diri
sebagai respons terhadap situasi saat ini (NANDA-I,2018).

Penyebab:

1. Gangguan citra tubuh


2. Gangguan peran social
3. Harapan diri tidak realistik
4. Korban kekerasan
5. Kegagalan
6. Ketidakberdayaan
7. Riwayat kehilangan
8. Riwayat pengabaian
9. Riwayat penolakan

Tanda dan Gejala

Mayor

Subjektif Objektif
1. Menilai diri negative (mis, tidak berguna, 1. Berbicara pelan dan lirih
tidak tertolong)
2. Merasa malu/ bersalah 2. Menolak berinteraksi dengan orang lain
3. Menolak penilaian positif tentang diri 3. Berjalan menunduk
sendiri
Minor

Subjektif Objektif
1. Kurang Konsentasi 1. Kontak mata kurang
2. Lesu dan tidak bergairah
3. Pasif
4. Tidak mampu membuat keputusan

Kondisi Klinis Terkait

1. Cederas traumatis
2. Pembedahan
3. Kehamilan
4. Diagnosis penyakit yang diterima
5. Stroke

Tujuan Asuhan Keperawatan

1. Kognitif, klien mampu :

1. Mengetahui pengertian, tanda gejala, penyebab dan akibat dari harga diri
rendah situasional
2. Mengetahui kemampuan yang dimiliki dan dapat dilakukan
3. mengetahui cara mengatasi harga diri rendah situasional

2. Psikomotor, klien mampu :

1. Memilih kemampuan yang dapat dilakukan


2. Melatih kemampuan yang dipilih
3. Menyusun rencana kegiatan sesuai dengan kondisi kesehatan

3. Afektif, klien mampu :

1. Merasakan manfaat latihan yang dilakukan


2. Memilih aspek positif dan makna kehidupan

Tindakan Keperawatan

Tindakan pada klien

1.Tindakan keperawatan ners

1. Kaji tanda dan gejala harga diri rendah situasional


2. Jelaskan proses terjadinya harga diri rendah situasional
3. Latih cara meningkatkan harga diri klien
1) Membuat daftar aspek positif dan kemampuan yang masih dapat dilakukan

2) Menilai aspek positif dan kemampuan yang masih dapat dilakukan. Bantu melakukan
pujian pada diri sendiri

3) Melatih aspek positif dan kemampuan yang masih dapat dilakukan untuk dilatih

4) Melatih aspek positif dan kemampuan yang masih dapat dilakukan untuk dilatih secara
pertahap

5) Membuat rencana latihan yang teratur secara bertahap

2. Tindakan keperawatan spesialis

a. Terapi kognitif

1. Sesi 1 : Mengidentifikasi pengalaman yang tidak menyenangkan dan


menimbulkan pikiran otomatis negative
2. Sesi 2 : Melawan pikiran otomatis negative
3. Sesi 3 : Memanfaatkan sistem pendukung
4. Sesi 4 : Mengevaluasi manfaat melawan pikiran negative

b. Terapi kognitif perilaku

1. Sesi 1 : Mengidentifikasi pengalaman yang tidak menyenangkan dan


menimbulkan pikiran otomatis negative dan perilaku negative
2. Sesi 2 : Melawan pikiran negatif\
3. Sesi 3: Mengubah perilaku negatif menjadi positif
4. Sesi 4: Memanfaatkan sistem pendukung
5. Sesi 5: Mengevaluasi manfaat melawan pikiran negatif dan mengubah
perilaku negatif

Penelitian rahyuningtyas, Hamid dan Mulyono (2007) menemukan bahwa terapi


kognitif meningkatkan harga diri klien kanker payudara. Hasil penelitian menunjukan bahwa
terapi kognitif (Kristyaningsih, Keliat&Darlinia, 2009) dan terapi kognitif perilaku
(setyaningsih, Mustikasari & Nuraiini,2011) meningkatkan harga diri rendah klien gagal
ginjal kronik.

Tindakan pada keluarga

1. tindakan keperawatan ners

1. kaji masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien


2. jelaskan pengertian, tanda dan gejala, serta proses terjadinya harga diri rendah
situasional.
3. Latih Keluarga menciptakan suasana keluarga yang mendukung peningkatan harga
diri klien. Motivasi keluarga memberikan pujian atas keberhasilan klien.
4. Ratih keluarga menciptakan suasana keluarga yang mendukung peningkatan harga
diri klien.
5. Diskusikan tanda dan gejala harga diri rendah situasional yang memperlakukan
rujukan segera serta menganjurkan Follow up ke fasilitas pelayanan kesehatan secara
teratur.

2. Tindakan keperawatan spesialis: resiko Edukasi keluarga (family psikoeducation

1. Sesi 1 : Mengidentifikasi masalah kesehatan yang dialami klien dan masalah


kesehatan keluarga dalam merawat klien.
2. sesi 2: Merawat masalah kesehatan klien
3. sesi 3: Manajemen Stress untuk keluarga
4. Sesi 4: Manajemen beban untuk keluarga
5. sesi 5: Memanfaatkan sistem pendukung
6. sesi 6: Mang evaluasi manfaat psikoEdukasi keluarga

Tindakan pada kelompok klien

Tindakan keperawatan spesialis: terapi suportif

1. sesi 1: Identifikasi masalah dan sumber pendukung di dalam dan di luar keluarga
2. sesi 2: Latih menggunakan sistem pendukung dalam keluarga
3. sesi 3: Latihan menggunakan sistem pendukung luar keluarga
4. sesi 4: Evaluasi hasil dan hambatan penggunaan sumber pendukung

Hasil penelitian Rochdiat, Daulina, Nur Aini (211) Menemukan bahwa perpaduan tindakan
keperawatan ners dan terapi suportif meningkatkan harga diri klien Diabetes Mellitus.

Tindakan kolaborasi

1. Kolaborasi dengan dokter

1. Melakukan kolaborasi dengan dokter dengan menggunakan ISBAR dan TBaK


2. Memberikan terapi dokter obat pada klien: Edukasi delapan benar prinsip pemberian
obat dengan menggunakan konsep safety pemberian obat.
3. Mengobservasi manfaat dan efek samping obat.

2. Kolaborasi dengan psikiater sesuai dengan kebutuhan.


Discharge planning

1. Menjelaskan rencana persiapan pasca-Rawat di rumah untuk memandirikan klien.


2. Menjelaskan rencana tindak lanjut perawatan dan pengobatan.
3. Melakukan rujukan ke fasilitas kesehatan.

Evaluasi

1. Penurunan tanda dan gejala harga diri rendah situasional.


2. Peningkatan kemampuan klien dalam melati aspek positif danKemampuan yang
dimiliki.
3. Peningkatan kemampuan keluarga dalam merawat klien dengan harga diri rendah
situasional.

Rencana tindak lanjut

1. Rujuk kalian dan keluarga fasilitas praktik mandiri Perawat spesialis keperawatan
jiwa.
2. Rujuk klien dan keluarga ke case manager Di fasilitas pelayanan kesehatan primer di
Puskesmas, pelayanan kesehatan skunder, dan tersier di rumah sakit.
3. Rujuk klien dan keluarga ke kelompok pendukung, kader kesehatan jiwa, kelompok
swa bantu atau fasilitas rehabilitasi psiko sosial yang tersedia Di masyarakat.

INTERVENSNI KEPERAWATAN HARGA DIRI RENDAH SITUASIONAL


MENURUT NURSING INTERVENSION CLASSIFICATION(NIC)

1. Peningkatan harga diri

a. Monitor pernyataan pasien mengenai harga diri

b. Tentukan kepercayaan diri pasien dalam hal penilaian diri

c. Bantu pasien untuk menerima ketergantungan terhadap orang lain, dengan tepat

d. fasilitasi lingkungan dan aktivitas-aktivitas yang akan meningkatkan harga diri

e. buat pernyataan positif mengenai pasien

2. Peningkatan koping

a. bantu pasien dalam mengidentifikasi tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang tepat
b. berikan penilaian mengenai dampak dari situasi kehidupan pasien terhadap peran dan
hubungan yang ada

c. berikan penilaian dan diskusikan respon alternatif terhadap situasi (yang ada)

2.3 ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN CITRA TUBUH

Sutejo. (2017). Konsep dan Praktik Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa: Ganguan Jiwa
dan Psikososial.

A. Gangguan Citra Tubuh

1. Deskripsi

Gardner (dalam Faucher, 2003) mendefinisikan citra tubuh sebagai gambaran yang
dimiliki seseorang dalam pikirannya tentang penampilan (misalnya: ukuran dan bentuk)
tubuhnya serta sikap yang dibentuk seseorang terhadap karakteristik-karakteristik dari
tubuhnya. Jadi, terdapat dua komponen dari citra tubuh, yaitu komponen perseptual tentang
bagaimana seseorang memandang tubuhnya sendiri dan komponen sikap tentang bagaimana
seseorang merasakan penampilan atau tubuh yang dipersepsinya.

Citra tubuh harus dibedakan dari "harga diri" dan "kualitas hidup" karena kedua
konsep ini tidak hanya mencakup penampilan, tetapi juga hubungan seseorang, pandangan
religius, budaya, karier, dan nilai (Bolton, dkk., 2010). Namun, citra tubuh sering
mempengaruhi, baik harga diri maupun kualitas hidup. Meskipun demikian, perubahan citra
tubuh tidak selalu mencerminkan perubahan harga diri dan kualitas hidup. Sketsa kita
menunjukkan bahwa harga diri dan kualitas hidup yang positif tidak selalu berarti citra tubuh
yang positif.

Gangguan citra tubuh adalah keadaan di mana seseorang mengalami atau berisiko
mengalami gangguan dalam pencerapan diri seseorang (Carpenito-Moyet, 2009). Gangguan
ini biasanya melibatkan distorsi dan persepsi negatif tentang penampilan fisik mereka.
Gangguan citra tubuh ini, misalnya dialami oleh seorang wanita selama mas kehamilan.
Ketidakpuasan tubuh berfokus pada "membangun tubuh" dan sering dioperasionalkan
sebagai perbedaan antara sosok ideal dan sosok nyata diri saat ini.

Smolak dan Levine (2015) menyatakan bahwa citra tubuh terdiri dari 3 komponen,
yaitu kognitif-afektif (cognitive-affective), perseptual (perceptual), dan tingkah laku
(behavioral). Gangguan komponen kognitif-afektif citra tubuh meliputi ketidakpuasan tubuh
(evaluasi negatif terhadap tubuh sendiri), sedangkan gangguan komponen perseptual citra
tubuh meliputi distorsi perseptual seseorang yang memiliki penilaian yang salah terhadap
bentuk dan beratnya (estimasi berlebihan mengenai ukuran tubuhnya).Sementara itu,
komponen tingkah laku dari citra tubuh berhubungan dengan pikiran dan perasaan mengenai
tubuh, seperti memeriksa tubuh dan sikap menghindar.
2. Perkembangan Citra Tubuh Positif

Pada anak, misalnya, perspektif sekarang dan masa lalu klien tentang tubuhnya,
fungsi fisiologis, pematangan perkembangan dan tanggapan dari orang lain mempengaruhi
perkembangan citra tubuh. Masa remaja mungkin adalah periode kritis pembangunan untuk
pembentukan citra tubuh karena perubahan pubertas memaksa perubahan citra tubuh remaja.
Sebagai tambahan informasi, perkembangan citra tubuh positif menurut usia dipetakan di
bawah ini (Boyd dalam Carpenito-Moyet, 2009):

Usia Perkembangan
Lahir hingga 1 tahun a. Belajar untuk menoleransi frustasi
kecil
b. Belajar untuk percaya
1-3 tahun a. Belajar menyukai tubuh
b. Mempelajari penguasaan:
 Keterapilan motoric
 Kemampuan Bahasa
 Pelatihan usus (bowel training)
3-6 tahun a. Belajar inisiatif
b. Belajar mengenai sex typing (anak
menyadari gendernya dan berperan
sesuai dengan nilai dan atribut
tersebut)
c. Mengidentifikasi dengan patenting
model keluarga
d. Meningkatkan keterampilan motoric
bahasa
6-12 tahun a. Mengembangkan ketekunan (sense of
industry)
b. Memiliki identifikasi peran seks yang
jelas
c. Mempelajari interaksi rekan
d. Mengembangkan keterampilan
akademik
Remaja A. Menetapkan identitas diri dan peran
seksual
B. Menggunakan pemikiran abstrak
C. Mengembangkan system nilai pribadi

3. Penyebab Ganguan Citra Tubuh

Gangguan citra tubuh disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kerusakan atau kehilangan
bagian tuuh; perubahan ukuran, bentuk, dan penampilan tubuh; serta tindakan pembedahan.
Selain itu, gangguan citra tbuh juga dapat disebabkan oleh penyakit, seperti spelnomegali.
Spnomegali merupakan pembesaran organ limpa yang terus menerus, sehingga
mengakibatkan pembesaran abdomen kuadran kiri klien. Kondisi semacam ini membuat klien
tidak puas dengan kondisi tubuh nya.

B. Pengkajian

Beberapa hal yang harus dilakukan oleh perawat dalam mengkaji gangguan citra tubuh
adalah factor presisposisi serta tanda dan gejala.

1. Factor predisposisi
Factor predisposisi merupakan factor yang mempengaruhi terjadinya suatu kondisi.
Factor predisposisis gangguan citra tubuh terdiri dari tiga, yitu factor biologi, fkator
psikologis, factor social dan budaya.

A. Factor biologis
Ganguan citra tubuh turut dipengaruhi oleh factor genetic. Factor biologis
yang paling dominan terlihat adalah ketiakpuasan terhadap bentuk dan ukuran tubuh.
Akan tetapi, hal ini bukanlah pemicu utama. Boltom (2010) menyatakan bahwa factor
Yng berhubungan dengan kesehatan turut mepengaruhi citra tubuh seseorang, seperti
pada klien penderita penyakit kronis atau kondisi lain seperti amputasi, stroke,
mastektomi, luka bedah,cedera saraf tulang belakang atau kehilangan bagian atau
fungi tubuh.
B. Factor psikologis
Factor psikologis berkaitan dengan keaddan depresi, rendah diri, dan
ketidksempurnaan yang dirasakan oleh seseorang. Depresi dan rendah diri
berkontribusi terhadap pandangan negative tentang diri sendiri. Selain itu,
perfeksionsme juga turut menyebabkan adanya harapan yang tidk realitas dari berat
badan, bentuk, dan penampilan.
C. Factor social dan budaya
Factor social dan budaya yang kuat mempengaruhi citra tubuh pada kaum
muda. Factor social dan budaya dapat dilihat dari beberapa hal, diantara nya adalah
pesan media dan keluarga. Diri masa kanak kanak sampai dewasa; televisi,papan,
reklame, film, video, muik,video, game, game computer, mainan, internet, dan
majalah menyampaikan gambaran tentang daya Tarik, kecantikan, bentuk, ukuran,
kekuatan dan berat badan ideal (Croll,2005). Disisi lain, kekhawatiran dan tekanan
keluarga juga dapat menyebabkan ketidakpuasan dan ansietas tubuh. Sosialisasi
mendorong laki laki untuk berusaha menjadi lebih kuat dan lebih maju, sementara
perempuan membuat tubuh nya lebih indah. Orang tua juga cendreung menjadi
kurang positif dan lebih kritis mengenai penampilan anak anak mereka, makanan, an
aktifitas fisik saat mereka masuk dan melewati masa remaja nya. Perhatian orang tua
terhadap anak nya yang kurus atau dorongan untuk menghindri kegemukan dapat
empengaruhi orang muda menjadi pelaku diet konstan dan menggunakan metode
pengendalian berat badan yang tidak sehat.
2. Tanda dan gejala

Tanda dan gejala gangguan citra tubuh dapat menilai dari ungkapan Klien yang
menunjukkan keinginan atau pikiran untuk mengakhiri hidup dan didukung dengan data hasil
wawancara dan observasi.

a. Data subjektif

a. perubahan gaya hidup


b. Takut akan penolakan atau reaksi orang lain
c. Fokus pada ketakutan, fungsi, atau penampilan masa lalu
d. Perasaan negatif tentang tubuh
e. Perasaan tak berdaya, keputusan, atau ketidak berdayaan
f. Free aku apa sih (terpaku pada satu hal) dengan perubahan atau kerugian
g. Penekanan pada kekuatan yang tersisa dan pencapaian yang tinggi
h. Ekstensi batas tubuh untuk bergabung dengan object lingkungan
i. Depersonalisasi sebagian atau kerugian kata ganti impersonal
j. Penolakan untuk mempverifikasi perubahan yang sebenarnya

b. Data objektif

5. Hilangnya bagian tubuh


6. Perubahan aktual dalam struktur atau fungsi
7. Menghindar untuk melihat atau menyentuh bagian tubuh
8. Mengekspos tubuh secara berlebihan dengan disengaja atau tidak disengaja
9. Terauma atas adanya bagian tubuh yang tidak berfungsi
10. Perubahan dalam keterlibatan sosial
11. Perubahan kemampuan untuk memperkirakan hubungan spesial tubuh
terhadap lingkungan

3. Komponen citra tubuh

Citra tubuh terdiri dari tiga komponen, yaitu realitas tubuh, ideal tubuh, dan perwujudan
tubuh (Price dalam Carpenito-Moyet,2009).

a. Realitas tubuh

Pada komponen ini, tubuh seperti itu benar benar ada, dibatasi oleh efek genetika
manusia dan keausan kehidupan di lingkungan luar seperti yang mungkin dijelaskan dalam
pemeriksaan dokter formal. Hal ini dapat berubah, baik akibat Penuaan dan karena kita
menggunakan dan menyalahgunakannya. Perubahan nyata dalam realitas tubuh dikaitkan
dengan terauma, keganasan, infeksi, dan Malnutrisi.

b. ideal tubuh

Ideal tubuh merupakan gambaran di kepala kita tentang bagaimana kita ingin tahu kita
terlihat dan tampil. Hal hal yang mempengaruhi ideal tubuh meliputi norma sosial dan
budaya, periklanan, dan perubahan sikap terhadap kebugaran dan kesehatan. Perubahan
dalam realitas tubuh mengancam ideal tubuh, namun kelainan pada ideal tubuh (misalnya
Anoreksia nervosa) juga dapat mempengaruhi Equilibrium secara langsung.

c. Perwujudan tubuh

Kenyataan tubuh jarang memenuhi standar ideal tubuh. Dalam upaya membuat kedua
keseimbangan ini, penyajian tubuh digunakan. Hal ini adalah tentang bagaimana tubuh secara
Harifah disajikan ke lingkungan luar,Seperti cara kita berpakaian, Mempelai pria, berjalan,
berbicara, berpose, dan menggunakan Alat Peraga, seperti tongkat atau alat bantu
dengar.Sama halnya, kelumpuhan atau kehilangan anggota tubuh (realitas tubuh) juga
mempengaruhi penyajian tubuh.

C. Diagnosis Keperawatan

Berdasarkan data yang dikaji, diagnose is masalah gangguan citra tubuh ditampilkan
dalam pohon masalah berikut ini:

Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah

Gangguan citra tubuh

Perubahan bentuk, ukuran, fungsi, serta kehilangan anggota tubuh


Gangguan Citra Tubuh

Anna, Budi K dkk. 2019. Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC

GANGGUAN CITRA TUBUH

Gangguan citra tubuh adalah perasaan tidak puas seseorang terhadap tubuh nya yang
diakibatkan oleh perubahan struktur, ukuran, bentuk, dan fungsi tubuh karena tidak sesuai
dengan yang diinginkan, konfusi dalam gambaran mental tentang diri-fisik individu
(NANDA-1,2018)

Penyebab:

 Perubahan fungsi tubuh akibat proses penyakit


 Perubahan struktur tubuh akibat luka, oprasi, dan proses penyakit
 Perubahan bentuk tubuh akibat tindakan, seperti pemasangan infus, oksigen,kateter dll
 Perubahan pandangan terhadap penampilan tubuh
Tanda dan Gejala

Mayor

Subjektif:

1. Menolak perubahan atau kehilangan tubuh


2. Perasaan negative tentang tubuh
Objektif:

1. Kehilangan bagian tubuh


2. Fungsi dan struktur tubuh berubah
3. Menghindari melihat dan atau menyentuh tuuh yang berubah
4. Menyembunyikan bagian tubuh yang berubah
Minor

Subjektif:

1. Pandangan pada tubuh berubah (missal: penamilan, struktur, fungsi)


2. Takut pada reaksi orang lain
3. Preokupasi padaperubahan atau kehilangan

Objektif
1. Hubungan social berubah ( menarik diri)
2. Respons onverbal pada perubahan dan persepsi tubuh
3. Trauma terhadap bagian tubuh yang tidak berfungsi lagi

Kondisi klinis terkait

1. Mastektomi
2. Amputasi
3. Jerawat
4. Luka bakar
5. Obesitas
6. Kehamlan
7. Stroke

Tujuan asuhan keperawatan

1. Kognitif, klien mampu:


a. Mengenl bagian tubuh yang sehat dan yang terganggu atau sakit
b. Mengetahui cara mengatasi gangguan citra tubuh
2. Psikomotor, klien mampu:
a. Mengafirmasi bagian tubuh yang sehat
b. Melatih dan menggunakan bagian ubuh yang seht
c. Merawat dan melatih bagian tubuh yang terganggu
3. Afktif, klien mampu:
a. Mengevaluasi manfaat yang telah dirasakan dari bagian tubuh yang terganggu
b. Mengevaluasi manfaat bagian tubuh masih sehat
c. Merasakan manfaat latihan pada bagian tubuh yang terganggu
d.
Tindakan Keperawatan

Tindakan pada klien

Tindakan keperawatan Ners

1. Kaji.
a. Bagian tubuh yang terganggu dan bagian tubuh yang sehat
b. Tanda dan gejala gangguan citra tubuh dan kemampuanklien dalam mengatasi
gangguan citra tubuh
2. Jelaskan proses terjadinya gangguan citra tubuh
3. Diskusikan persepsi, perasaan, dan harapan klien terhadap citra tubuh nya.
4. Latihan klien menggunakan bagian tubuh yang sehat.
a. Diskusikan bagian tubuh yang sehat
b. Latih menggunakan tubuh yang sehat
c. Latih afirmasi bagian tubuh yang sehat

5. Latih klien merawat dn melatih bagian tubuh yang terganggu


a. Diskusikan dengan klien manfaat yang telah drasakan dari bagian tubuh yang
terganggu pada saat sehat.
b. Motivasi klien melihat dan mengatur bagian tubuh yang terganggu
c. Latih pasien meningkatkan citra tubuh bagian tubuh yang terganggu:
menyesuaikan pakaian, pakai alat bantu,kosmetik dan rencana protesa
6. Motivasi klien melakukan latihan sesuai jadwal dan beri pujian
7. Motivasi klien melakukan kegiatan social

Tindakan keperawatan spesialis:

1. Terapi kognitif
a. Sesi 1: mengidentifikasi pengalaman yang tidak menyenangkan dan menimbulkan
pikirsn otomatis negative
b. Sesi 2: melawan pikiran otomatis negative
c. Sesi 3: memanfaatkan system pendukung
d. Sesi 4: mengevaluasi manfaat melawan pikiran negative
2. Terapi kognitif perilaku
a. Sesi 1: mengidentifikasi pengalaman yang tidak menyenangkan dan menimbulkan
pikiran negative otomatis perilaku negative
b. Sesi2: melawan pikiran otomatis negative dengan pikiran positif
c. Sesi 3: mengubha perilaku negative menjadi oisitif
d. Sesi 4: memanfaatkan system pendukung
e. Sesi 5: mengevaluasi manfaat melawan pikira negative dan mengubah perilaku
negative
Hasil penelitian ( Anisah, keliat& wardani 2017) menunjukan bahwa tindakan
keperawatn ners, terapi kognitif dan psikoedukasi keluarga meningkatkan citra tubuh
dan harga diri, klien dngan ulkus diabetic.

Tindakan pada keluarga

Tindakan keperwatan ners

1. Kaji masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien yang mengalami
gangguan citra tubuh
2. Jelaskan pengertian, tanda gejala, dan proses terjadinya gangguan citra tubuh serta
mengambil keputusan merawat klien.
3. Latih keluarga cara merawat dan membimbing klien mengatasi gangguan citra
tubuh sesuai tindakan keperawatn klien
4. Latih keluarga menciptakan suasana keluarga yang mendukung klien mengatasi
gangguan citra tubuh sesuai asuhan keperawatn yang telah diberikan kepada klien
5. Diskusikan tanda dan gejala ganguan citra tubuh yang memerlukan ryjukan serta
menganjurkan follow up ke fasilitas pelayanan kesehatan secara teratur.
Tindakan keperawatn spesialis: psikoedukasi keluarga ( family psyhoeducation)
1. Sesi 1: mengidentifikasi masalah kesehatan yang dialami klien dan masalh kesehatan
keluarga ( care giver/dalam merawat klien)
2. Ssi 2: merawat masalah kesehatan klien
3. Sesi 3: manajemen stress untuk keluarga
4. Sesi 4: manajemen beban untuk keluarga
5. Sesi 5: memanfaatkan system pendukung
6. Sesi 6: mengevaluasi manfaat psikoedukasi keluarga

Tindakan pada kelompok klien

Tindakan keperawatn spesialis: terapi suportif

1. Sesi 1: identifikasi masalah dan sumber pendukung didalam dan diluar keluarga
2. Sesi 2: latihan menggunakan system pendukung dalam keluarga
3. Sesi 3: latihan menggunakan system pendukung luar keluarga
4. Sesi 4: evaluasi hasil dan hambatan penggunaan sumber pendukung

Tindakan Kolaborasi

1. Kolaborasi dengan dokter

a. Melakukan kolaborasi dengan dokter menggunakan ISBAR dan TBaK


b. Memberikan terapi dokter (obat) kepada klien : Edukasi 8 benar prinsip
pemberian obat dengan menggunakan konsep safety pemberian obat.
c. Mengobservasi manfaat dan efek samping obat.

2. Kolaborasi dengan perawat luka untuk pemulihan penyebab gangguan citra tubuh.

3. Kolaborasi dengan rehabilitasi medic jika klien membutuhkan protesa

4. Kolaborasi dengan psikiater sesuai dengan kebutuhan

Discharge Planning

a. Menjelaskan rencana persiapan pasca-rawat di rumah untuk memandirikan


klien
b. Menjelaskan rencana tindak lanjut perawatan dan pengobatan
c. Melakukan rujukan ke fasilitas kesehatan

Evaluasi

a. Penurunan tanda dan gejala gangguan citra tubuh


b. Peningkatan kemampuan klien mengatasi gangguan citra tubuh
c. Peningkatan kemampuan keluarga dalam merawat klien dengan gangguan
citra tubuh

Rencana Tindak Lanjut

a. Rujuk klien dan keluarga ke fasilitas praktik mandiri perawat spesialis


keperawatan jiwa
b. Rujuk klien dan keluarga ke case manager di fasilitas pelayanan kesehatan
primer di puskesmas, pelayanan kesehatan sekunder, dan tersier di rumah
sakit.
c. Rujuk klien dan keluarga ke kelompok pendukung, kader kesehatan jiwa,
kelompok swabantu dan fasilitas rehabilitasi psikososial yang tersedia di
masyarakat.

INTERVENSI KEPERAWATAN GANGGUAN CITRA TUBUH BERDASARKAN


NURSING INTERVENTION CLASIFICATION (NIC)

1. Peningkatan citra tubuh

a. Tentukan harapan citra diri pasien didasarkan pada tahap perkembangan


b. Gunakan bimbingan antisipatif menyiapkan pasien terkait dengan perubahan-
perubahan citra tubuh yang telah dipreiksikan
c. bantu pasien untuk mendiskusikan perubahan-perubahan (bagian tubuh)
disebabkan adanya penyakit atau pembedahan, dengan cara yang tepat.
d. tentukan perubahan fisik saat ini apakah berkontribusi pada citra diri pasien.
e. bantu pasien untuk mendiskusikan perubahan-perubahan disebabkan oleh
pubertas, dengan cara yang tepat
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Konsep diri adalah semua ide, pikiran, perasaan, kepercayaan, serta pendirian yang
diketahui individu tentang dirinya dan memengaruhi individu dalam berhubungan dengan
orang lain. Konsep diri belum muncul saat bayi, tetapi mulai berkembang secara bertahap.
Bayi mampu mengenal dan membedakan dirinya dengan orang lain serta mempunyai
pengalaman dalam berhubungan dengan orang lain.

Gangguan citra tubuh adalah keadaan di mana seseorang mengalami atau berisiko
mengalami gangguan dalam pencerapan diri seseorang (Carpenito-Moyet, 2009). Gangguan
ini biasanya melibatkan distorsi dan persepsi negatif tentang penampilan fisik mereka.

Citra tubuh adalah kumpulan sikap individu baik yang disadari maupun tidak terhadap
tubuhnya, termasuk pesepsi masa lalu atau sekarang mengenai ukuran, fungsi, keterbatasan,
makna dan objek yang kontak secara teru menerus (anting, make up, pakaian, kursi roda, dan
sebagainya).

3.2 Saran

Diharapkan makalah dapat bermanfaat bagi pembaca dan makalah ini dapat
dimengerti serta dapat memperluas wawasan tentang diare serta asuhan keperawatan pada
anak dengan diare. Kami mengharapkan saran dan kritik dari pembaca untuk kemajuan
makalah ini karena makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan.
3.3 Daftar Pustaka

Anna, Budi K dkk. 2019. Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC

Sutejo. (2017). Konsep dan Praktik Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa: Ganguan Jiwa
dan Psikososial. Yogyakarta: PT. Pustaka Baru.

Rizky Fitryasari PK&Hanik Endang Nihayati.(2015).Buku Ajar Keperawatan Kesehatan


Jiwa.Penerbit Salemba Medika.

Anda mungkin juga menyukai