Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar belakang

Histopatologi merupakan cabang biologi yang mempelajari kondisi dan fungsi jaringan dalam


hubungannya dengan penyakit. Teknik pemeriksaaan histopatologi berguna untuk mendeteksi
adanya komponen patogen yang bersifat infektif melalui pengamatan secara mikroanatomi.
Histopatologi sangat penting dalam kaitan dengan diagnosis penyakit karena salah satu
pertimbangan dalam penegakan diagnosis adalah melalui hasil pengamatan terhadap jaringan
yang diduga terganggu.

Jaringan merupakan sekumpulan sel yang tersimpan dalam suatu kerangka struktur atau
matriks yang mempunyai suatu kesatuan organisasi yang mampu mempertahankan keutuhan
dan penyesuaian terhadap lingkungan diluar batas dirinya.Ilmu yang mempelajari tentang
jaringan disebut histologi.Jaringan berkelompok bekerja bersama melaksanakan fungsi
tertentu membentuk suatu organ, misalnya organ jantung, dan hati.Beberapa jaringan organ
bekerja bersama melaksanakan fungsi tertentu membentuk sistem organ, misalnya sistem
pencernaan, sistem transportasi, dan sistem reproduksi.Jaringan, organ, dan sistem organ
bersama-sama membentuk tubuh organisme.

Kami membuat makalah ini untuk lebih memahamai tentang histologi dan jaringan agar dapat
dilakukan proses diagnosis yang benar akan dapat ditentukan jenis penyakitnya sehingga
dapat dipilih tindakan preventif dan kuratif.

B.  Rumusan masalah

1.    Apakah yang dimaksud dengan histologipatalogi ?

2.    Apa saja pembagian histologi ?

3.    Apa sajakah kelainan jaringan yang terjadi pada manusia?

4.    Bagaimana tehnik pemeriksaan jaringan ?

C.   Tujuan

1.  Untuk mengetahui pengertian histologipatologi

2.  Untuk mengetahui pembagian histologi

3.  Untuk mengetahui kelainan jaringan yang terjadi pada jaringan manusia

4.  Untuk mengetahui tehnik pemeriksaan jaringan


BAB II

PEMBAHASAN

A.       Pengertian histopatologi
Histopatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang histologi dan hubungannya dengan
penyakit, istilah histologi berasal dari bahasa yunani histos artiya jaringan dan logos artinya
ilmu. Histologi adalah bidang biologi yang mempelajari tentang struktur jaringan secara
detail menggunakan mikroskop pada sediaan jaringan yang dipotong tipis. Histologi dapat
juga disebut sebagai ilmu anatomi mikroskopis.Akar kata Yunani histo dapat di terjemahkan
sebagai ‘jaringan’ atau ‘jaring’ karena kebanyakan jaringan merupakan jarring filamen dan
serat yang saling terjalin, baik selular maupun non selular, dengan lapisan membranosa.

Teknik pemeriksaan histopatologi berguna untuk mendeteksi adanya komponen pathogen


yang bersifat infektif melalui pengamatan secara mikroanatomi. Histopatologi sangat
penting dalam kaitan dengan diagnosis penyakit karena salah satu pertimbangan dalam
penegakan diagnosis adalah melalui hasil pengamatan terhadap jaringan yang di duga
terganggu. Oleh karena itu, dengan proses diagnosis yang benar akan dapat ditentukan
jenis penyakitnya sehingga dapat dipilih tindakan perventif dan kuratif.

Pemeriksaan histopatologi dilakukan melalui pemeriksaan terhadap perubahan-perubahan


abnormal pada tingkat jaringan. Histopaltologi dapat dilakukan dengan mengambil sampel
jaringan (misalnya seperti dalam penentuan kanker payudara) atau dengan mengamati
jaringan setelah kematian terjadi. Pemeriksaan histopatologi bertujuan untuk memeriksa
penyakit berdasarkan pada reaksi perubahan jaringan. Pemeriksaan ini hendaknya disertai
dengan pengetahuan tentang gambaran histologi normal jaringan sehingga dapat dilakukan
perbandingan antara kondisi jaringan normal terhadap jaringan sampel (abnormal).
Dengan membandingkan kondisi jaringan tersebut maka dapat diketahui apakah suatu
penyakit yang diduga benar-benar menyerang atau tidak.

B.   Pembagian histologi
Histologi terbagi atas 2 yaitu histologi umum mencakup kajian tentang jaringan dasar yang
terdapat pada tubuh serta histologi khusus atau histologi organ mencakup struktur histologi
organ-organ tubuh
 Histologi umum

1.    JaringanEpitel

Jaringan epitel terdiri dari kumpulan sel-sel yang sangat rapat susunannya sehingga
membentuk suatu lembaran, maka disebut sebagai membran epitel atau disingkat sebagai
epitel saja untuk membedakan dengan epitel kelenjar.Adhesi diantara sel-sel ini sangat kuat,
membentuk lembaran sel yang menutupi permukaan tubuh dan membatasi atau melapisi
rongga-rongga tubuh. Jaringan epitel tidak memiliki substansi interseluler dan cairannya
sangat sedikit

2.    Jaringan pengikat

Jaringan pengikat dapat disebut juga connective tissue, jaringan penyokong atau anyaman
penyokong.

3.    Kartilago

Sel kartilago terdiri dari kondrosit dan kondroblasl.Serat dan substansi dasar membentuk
substansi interselular atau matriks. Matriks merupakan suatu wujud kaku bahkan keras, yang
substansi dasarnya terdiri atas proteoglikans yang mengandung kondroitin sulfat untuk
kartilago

4.    Tulang

Tulang adalah jaringan yang tersusun oleh sel dan didominasi oleh matrix kolagen
ekstraselular (type I collagen) yang disebut sebagai osteoid. Osteoid ini termineralisasi oleh
deposit kalsium hydroxyapatite, sehingga tulang menjadi kaku dan kuat.

5.    Darah

Darah merupakan suatu suspensi sel dan fragmen sitoplasma di dalam cairan yang disebut
Plasma.Secara keseluruhan darah dapat dianggap sebagai jaringan pengikat dalam arti luas,
karena pada dasarnya terdiri atas unsur-unsur sel dan substansi interseluler yang berbentuk
plasma.

6.    Otot

Jaringan in terutama terdiri dari sel-sel yang berfungsi untuk menggerakkan bagian-bagian
tubuh pda umumnya selnya berbentuk memanjang bahkan dapat berbentuk sebagai serabut
yang dapat berubah memendek.

 Histologi khusus

1.      Kulit

Integumen atau kulit merupakan jaringan yang menutupi permukaan tubuh,yang terdiri atas 2
lapisan :

·         Epitel yang disebut epidermis

·         Jaringan pengikat yang disebut dermis atau corium


2.      Kardiovaskular

                          Kata kardiovaskular berasal dari awalan cardi(o) yaitu bentuk gabung yang
menunjukkan hubungan dengan jantung atau dengan orificium cardiac atau bagian lambung
dan kata vascular yang berarti berkenaan dengan pembuluh, khususnya pembuluh darah;
disebut juga vassal, atau berarti yang mempunyai pasokan darah yang kaya.

3.      Organ limfoid

                          Limfosit terdapat sebagai sel yang berada di dalam darah, limfe, jaringan
pengikat dan epitel, terutama dalam lamina propria tractus respiratorius dan tractus
digestivus, limfosit terlihat bersama dengan plasmasit dan makrofag sebagai kumpulan yang
padat dalam jaringan pengikat longgar.

4.      System Respirasi

      Dalam melaksanakan proses Metabolisme, oleh hewan dan manusia dibutuhkan oksigen..
System respirasi berfungsi untuk mengambil oksigen dan membuang karbondioksida, yang
keduanya diangkut dari dan ke tubuh

5.      System Pencernaan

            Sistem Pencernaan dari Mulut Sampai Esofagus.Fungsinya untuk mendapatkan


metabolit-metabolit dari makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan dan untuk memenuhi
kebutuhan energi tubuh.Molekul-molekul makanan yang besar seperti protein, lemak,
karbohidrat dan asam nukleat diuraikan menjadi molekul-molekul kecil yang mudah diserap
melalui dinding saluran cerna.Air, vitamin dan mineral juga diserap dari makanan hasil
pencernaan.

 Perlengkapan yang digunakan dalam teknik histopatologi :

 Alas dari bahan kayu / plastic untuk memotong jaringan

 Scalpel untuk memotong jaringan menjadi ukuran yang lebih kecil.

 Pensil dan kertas untuk memberi tanda/kode jaringan

 Cassate berukuran kurang lebih 3 x 4 x 1 cm untuk menaruh jaringan setelah di


potong kecil-kecil

 Tabung gelas berukuran 500-1000 cc sebanyak kurang lebih 10 buah untuk proses
dehidrasi, clearing dan bloking dengan parafin
 Microtom untuk memotong jaringan setebal 4-7

 Waterbath untuk mengambangkan hasil potongan jaringan yang di taruh di objek


glass
 Mesin pemanas (Incubator temp 56 C – 60 C) untuk mencairkan parafin selama
proses blocking

 Kulkas untuk menyimpan bahan kimia dan hasil blocking


 Gelas objek dan gelas penutup (cover)
 Prosedur mendapatkan jaringan dalam histologi adalah sebagai
berikut :

 Jaringan harus di duga tumor atau kelainan


 Jaringan harus sudah di fiksasi sebelum 6 jam setelah kemudian, bisa terjadi
maserasi
3
 Pemotongan menggunakan pisau tajam biasanya ( 1,5 x 1 x 0,5 ) m
 Mendapatkan jaringan
 Harus segera di masukkan kedalam larutan fiksasi (Volume 40x) selama 1 malam
 Tidak boleh di cuci dengan air (terjadi perubahan tekanan osmotik)
 Tidak boleh di simpan dalam NaCl 0,9 %
 Tidak boleh di bekukan-pembentukan kristal es dalam sitoplasma
 Jaringan berbentuk tulang harus didekalifikasi agar lunak dengan HCL 0,5 %

C. Tahap-tahap dalam pemeriksaan histopatologi

 Administrasi

Administrasi merupakan bagian penting dalam pemeriksaan pada laboratorium


patologi anatomi, karena pada Administrasi setiap sampel yang datang akan di berikan
nomor urut sampel, dan apabila ada kekeliruan dalam pemberian nomor sampel maka
akan berakibat fatal,. Oleh karena itu komunikasi antara pasien/pembawa sampel
dengan bagian Administrator harus terjalin dengan baik dan benar.

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat Administrasi :


 Menococokkan data pasien serta sampel yang di bawa dengan surat pengantar
dari dokter
 Pemberian nomor urut sampel

 Contoh : PA14106 untuk sampel dari RSUD Ulin Banjarmasin dan H1412009
untuk sampel rujukan dari rumah sakit lain

 Pencactatan pada buku arsip laboratorium patologi anatomi

 Pemberian bukti pengembalian hasil, yang biasanya selesai dalam waktu 10


hari kedepan
 Setelah proses administrasi selesai, sampel dan blanko diserahkan
kepetugas laboratorium
a. Persiapan sampel

 Cocokkan sampel dengan blanko

 Dicek apakah sampel sudah difiksasi dengan formalin atau buffer formalin 10 %
pH netral
 Sampel di susun sesuai urutan nomor blanko

 Sampel siap dilakukan di proses selanjutnya

b. Pemotongan sampel jaringan

 Lakukan pemeriksaan makroskopis jaringan


- Ukuran panjang
- Lebar, tinggi
- Volume
- Warna
- Konsistensi
- jumlah potongan
 Sebelum dilakukan pemotongan, tanggal pemotongan di cantumkan
 Sampel dideskripsikan secara mikroskopis sebelum dan sesudah pemotongan
Contoh : Sampel mame
 Sebelum pemotongan : sebuah jaringan mame dengan ukuran 15 cm x 12 cm x 3
cm, berkulit, berputing dan berlemak. Sesudah pemotongan : didapat 2 buah KGB
(kelenjar getah bening) 1 massa tumor
 Potong sampel pada massa yang dicurigai sesuai dengan kaset

 Diletakkan di dalam kaset dan kaset diberi nomer sesuai blanko

 Sampel di masukkan kedalam wadah atau mesin autoprocessing

 Sisa sampel dimasukkan kewadah dan di beri tanggal pemotongan.


c. Prossesing Jaringan

1. Pengambilan Jaringan

Cara pengambilan jaringan umumnya dilakukan pada mahluk yang masih hidup/ yang masih
sehat/ segar, yang mempunyai bagian tubuh yang sehat ataupun yang mengalami gangguan
kesehatan terutama pada bagian-bagian tertentu dari suatu organ. Mahluk hidup tersebut,yang
bersangkutan harus dibius baik lokal maupun keseluruhan untuk menghilangkan rasa sakit yaitu
dengan kloroform atau diethyl eter sesuai dengan dosis yang diperlukan.

2. Pencucian

Cairan yang dinggunakan untuk proses pencucian jaringan yaitu NaCl 0,85% fisiologis steril ( 0,90

%). Tahap-tahap pencucian adalah sebagai berikut :

1) Ketika jaringan baru diambil dari mahluk yang bersangkutan keadaannya masih kotor
terutama banyak mengandung darah,demikian juga jaringan yang berlebihan harus dibuang dan
dibersihkan.
2) Selanjutnya jaringan tersebut dikeluarkan dan dimasukan ke dalam tabung yang kedua
yang juga masih membuang sisa-sisa darah serta memotong bagian jaringan yang tidak
dikehendaki karena kemungkinan terlalu tebal dengan perhitungan supaya cairan fiksasi pada
proses berikutnya dapat masuk ke dalam jaringan.
3) Jaringan yang sudah dibentuk sedemikian rupa dicuci lagi pada tabung yang
ketiga, sehingga jaringan betul-betul bersih

4) Pada proses pencucian yang terakhir ini yaitu pada tabung keempat, hasil
jaringan yang dicuci sudah meyakinkan di bandingkan dari pada sebelumnya, untuk
dilanjutkan ke proses yang berikut.

3. Fiksasi

Tujuan fiksasi adalah sebagai berikut :

1. Untuk menghentikan dan membunuh proses metabolisme secara tepat dan


diusahakan agar jaringan tersebut sedikit mengalami perubahan dari keadaan semula
karena di dalam jaringan tersebut,terjadi proses hydrophilic (penyusutan air) sehingga
jaringan menjadi lebih jelas.
2. Untuk mencegah terjadinya autolisis ( penyusutan sel )
3. Untuk merubah indeks refraksi jaringan agar sama dengan kaca sediaan yang
dipergunakan.
4. Untuk menaikkan daya pewarnaan jaringan dengan menggunakan bahan yang bersifat
mordant ( tajam, bau kahas,dan polar dan dapat menerobos /masuk sel-sel pada
jaringan )sehingga komponen dari jaringan yang difiksasi menjadi baik.\

Tahap-tahap proses fiksasi :

1. Harus memilih resep / formula dari cairan fiksasi dengan memahami sifat cairan
fiksasi yang digunakan.
2. Untuk cairan volumenya harus cukup yaitu kurang lebih 20 kali lipat dari voleme
jaringan yang difiksasi agar seluruh bagian jaringan terendam.
3. Tempat fiksasi harus luas dan diperhitungkan kedalamannya sehingga bentuk jaringan
yang direndam atau yang difiksasi tidak mengalami perubahan bentuk.
4. Lebar maupun tebalnya jaringan yang difiksasi harus diperhatikan sehubungan
dengan daya tembus cairan fiksasi baik.
5. Waktu yang dibutuhkan pada saat fiksasi harus benar-benar cukup artinya tidak
terlalu cepat dan tidak terlalu lama.

Macam-macam cairan Fiksasi :

1. Cairan fiksasi tunggal :


 Formalin / Formaldehide
 Alkohol / Etanol
 Asam pikrin
 Beberapa senyawa kimia yang bersifat mordant,
Contoh : FeCl2,formalin, asam pikrinik,fosfotungstic acid, dsb.

2. Cairan fiksasi majemuk

Yaitu cairan beberapa zat kimia yang saling mendukung agar tujuan dari pada fiksasi
tercapai, contoh :

 Formalin Saline
 Larutan Zenker
 Larutan Helly
 Larutan Orth
 Larutan Carmoy
 Larutan Bouin
 Larutan Allen
 Larutan Regand
 Larutan Gilson
 Larutan A.F.A
 Larutan Warcester

Fiksasi jaringan adalah proses melunakkan jaringan agar awet dan kondisinya sama seperti
hidup. Dilakukan dengan merendam jaringan dilarutan fiksasi (volume minimal 20x lebih
besar dari jaringan) selama 24 jam.
Fiksasi jaringan dilakukan dengan menggunakan formalin 10 %, manfaat fiksasi :

 Sel dan jaringan keadaannya seperti hidup

 Membunuh bakteri

 Mematikan sel secara serentak

 Mengeraskan jaringan

 Melindungi sel dari proses selanjutnya

 Mempermudah pengecatan

4.Proses Pencucian

Istilah pencucian sebenarnya dapat diartikan secara luas.Walaupun ada perbedaan paendapat
oleh bangsa inggris, sehingga dibedakan atas 3 macam yaitu:

a. Rushing

Yaitu proses pencucian yang sifatnya memberikan superficial (bagian permukaan)


dan berlangsung sebentar saja.Air yang digunakan diusahakan hanya mengaliri
permukaan jaringan dengan tujuan untuk membuang cairan yang tidak diperlukan
misalnya mencelupkan atau menyiram air dengan hati-hati

b. Soaking

Yaitu proses pencucian sedikit lebih teliti karena merendamkan jaringan ke dalam
cairan yang mengandung mordant. Cairan tidak perlu diganti karena waktu
perendamannya sangat terbatas.

c. Washing

Yaitu proses pencucian memerlukan waktu yang lama dan cairan yang di gunakan
selalu di gantidengan tujuan untuk membuang bahan-bahan yang tidak di gunakan.

Caranya :

 Dapat merendam jaringan tetapi cairannya harus diganti.


 Dengan cara praktis yaitu dengan menggunakan air mengalir dengan kecepatan air
diatur.
Dalam larutan pertama pada proses pencucian untuk melakukan pembersihan jaringan-
jaringan yang akan dicetak atau di blok ada 3 macam yaitu:

 Pencucian sebelum difiksasi

Tujuannya adalah untuk membuang kotoran-kotoran dan jaringan yang tidak


diperlukan dengan larutan NaCl fisiologis 0,9 %

 Pencucian sesudah fiksasi

Pencucian mutlak harus dilakukan apabila menggunakan larutan fiksasi berupa


garam-garam berat misalnya Mercuri clorida, Calium bikromat, dsb.

 Pencucian sesudah diwarnai

Pencucian ini perlu dilaksanakan dan sedikit intesif karena warna yang ada pada
jaringan perlu dikurangi supaya daya affinitas jaringan semakin jelas

5. Dehidrasi

Yaitu suatu proses untuk menarik air dari jaringan dengan menggunakan bahan kimia
tertentu, yang mempunyai syarat yaitu:

a. Mampu mengusir air dari jaringan,kemudian menggatikannya


b. Bahan-bahan dehidrasi harus dapat digantikan dengan clearing agent
Tidak boleh mengganggu jaringan yang telah difiksasi misalnya, tidak boleh menjadi
lunak,menjadi keras,dan rapuh.

Dehidrasi harus dilakukan secara seksama dan sebaiknya dilakukan secara bertahap,karena jika
terjadi kesalahan pada proses dehidrasi akibatnya jaringan menjadi buruk di dalam deretan teknik
parafin.

Di dalam deretan tenik parafin dehidrasi umumnya dilakukan satu kali yaitu setelah proses
pencucian namun apabila proses pewarnaan terlalu tebal, dehidrasi juga bisa dilakukan, apabila waktu
fiksasi jaringan bentuk daripada jaringan yang bersangkutan terlalu besar atau terlalu tebal. Sehingga
tidak dapat diletakan di dalam kaca sediaan maka jaringan tersebut di anggap rusak.

Bahan-bahan yang digunakan untuk cairan dehidrasi antara lain :

 Alkohol 100% (alkohol absolut)


 Alkohol 95-96 %
 Alkohol 70 %
Persyaratan untuk bahan-bahan dehidrasi :

 Mudah didapat
 Dipandang dari segi ekonomisnya harganya murah
 Mudah dimanfaatkan

Di dalam proses dehidrasi cairan yang paling cocok dan sering digunakan adalah alkohol 70 %,
sehingga sering disebut sebagai “ stooping point “ karena jaringan yang didehidrasi akan terjamin dan
tidak mengalami kerusakan walaupun batas waktu dehidrasi terlewati. Beberapa patokan yang perlu
diperhatikan agar proses dehidrasi berhasil baik yaitu:

 Waktu yang dibutuhkan harus cukup


 Bahan dehidrasi berbanding material atau jaringan yaitu 20:1
 Kadar bahan dehidrasi harus tepat.

6. Clearing

Untuk membuat material atau jaringan menjadi transparan atau tembus cahaya
dibandingkan dengan sebelumnya.

7. Infiltrasi

Untuk mengusahakan agar material atau jaringan menjadi menyusut karena


mengeluarkan sisa-sisa dehidrasi dan sisa-sisa clearing agent sedangkan bahan-bahan
yang dipergunakan untuk proses infiltrasi harus dipertimbangkan sifat-sifatnya
terutama temperature yang digunakan harus tertentu, yaitu 45º, 54º, 56º, 58ºC, dan
yang paling sering dipergunakan pada temperature 58ºC. Dan yang akan dipakai kali
ini pada temperature 57º-59ºC.

8. Pembuatan blok paraffin (embedding / pencetakan)

Prosedur Kerja:

 Letakkan cassette berisi jaringan yang sudah diproses dari Citadel 2000 ke
dalam tissue Storage Tank
 Pindahkan cassette ke bagian depan tissue Storage Tank dan buka penutup
cassette
 Pilih dan ambil wadah stainless (base mold) dari mold storage oven untuk
memblok sesuai ukuran jaringan, letakkan di area hotspot, kemudian isi
dengan paraffin sesuai volume
 Ambil jaringan dari cassette dengan pinset dan letakkan didalam base mold
tersebut
 Pindahkan base mold ke area “Cold spot” dan susun jaringan sesuai posisi
seharusnya
 Tutup base mold dengan cassette penutup, tekan bagian atas base mold
menggunakan pinset. Tambahkan paraffin lagi apabila paraffin tidak sampai
ke permukaan
 Berikan etiket keterangan pasien dipermukaan base mold
 Letakkan base mold tersebut ke “Calling surface”
 Setelah lilin mengeras, keluarkan blok jaringan dari base mol, bersihkan
pinggiran blok jaringan dari sisa paraffin yang melekat
 Blok jaringan selanjutnya dip roses dengan microtome.

9. Pemotongan blok paraffin

Prosedur kerja:

 Potong blok paraffin jaringan dengan menggunakan microtome


 Pilih potongan yang layak, halus, rata, licin dan tidak putus
 Ambil bagian yang layak tersebut, masukkan dalam tissue Flotation bath yang
berisi air
 Dengan menggunakan slide, ambil potongan tersebut dan keringkan
 Setelah air kering, letakkan diatas Hotplate agar air benar-benar kering
 Beri etiket dengan cara menulis nomor pada slide sesuai dengan nomor yang
tertera pada cassette
10. Pembuatan preparat histology

a. Ambil hasil pemotongan blok


jaringan yang bagus dengan menggunakan jarum
b. Lalu pindahkan atau letakkan
keatas permukaan air pada alat “waterbath”
c. Jika terdapat lipatan pada
potongan jaringan tersebut, gunakan bagian belakang jarum untuk
menghilangkan lipatan
d. Gunakan objek glass untuk
mengambil hasil potongan jaringan
e. Keringkan sebentar dan beri
etiket
f. Lalu letakkan diatas
“hotplate” hingga sisa paraffin meleleh dan yang tersisa hanya potongan
jaringannya saja
Cara pembuatan sediaan atau preparat histologis disebut mikroteknik. Pembuatan
sediaan dari suatu jaringan dimulai dengan operasi, biopsi, atau autopsi. Ilmu yang
mempelajari pewarnaan jaringan disebut histokimia.
11. Pengecatan preparat histology

Untuk pengecatan preparat histology menggunakan Pengecatan Hematoxilin Eosin

caranya yaitu:

1) Xylol I selama 10 menit


2) Xylol II selama 10 menit
3) Xylol III selama 10 menit
4) Dilap dan bersihkan sekitar jaringan
5) Alkohol absolut selama 2 menit
6) Alkohol 95% selama 2 menit
7) Alkohol 80% selama 2 menit
8) Alkohol 70% selama 2 menit
9) Air mengalir selama 3 menit
10) Tiriskan
11) Mayer hematoxilin selama 15 menit
12) Air mengalir selama 7 menit
13) Bluing selama 5 menit
14) Tiriskan
15) Eosin sebanyak 1 celup
16) Air sebanyak 3 celup
17) Alkohol 70% sebanyak 3 celup
18) Alkohol 80% sebanyak 3 celup
19) Alkohol 95% sebanyak 3 celup
20) Alkohol absolut sebanyak 3 celup
21) Dilap dan keringkan
22) Clearing (xylol) I selama 5 menit
23) Clearing (xylol) II selama 5 menit
24) Clearing (xylol) III selama 5 menit
25) Mounting (entelan)
 Finishing

 Sediaan dikeringkan dibagian bawah dan sisi-sisinya dilap dengan tisu


 Tetesi entelan (xylol dan ez-mounting)

 Tutup dengan deck glass

 Objek glass di beri nomor sesuai dengan nomor pada blanko pemeriksaan.
 Sampel siap diserahkan pada dokter PA untuk didiagnosa

 Administrasi

 Setelah sampel didiagnosa oleh dokter PA blanko dan hasil diserahkan ke


bagian administrasi
 Hasil diketik oleh bagian administrasi

 Kemudian ditanda tangani oleh dokter PA

 Bagian administrasi menghubungi pasien

 Hasil diambil oleh pasien , sebelumnya nomor hasil dicocokkan dengan nomor
dokumen.
 Hasil diserahkan pada pasien

D. Potong Beku / Press Cuve (PC)

Potong beku ialah pemeriksaan patologi anatomi pada bagian histopatology yang
mana sampel yang diperiksa dilakukan saat operasi berlangsung dan pasien dalam keadaan
tidak sadar. Sampel yang dicurigai kanker dikirim dalam keadaan segar ke laboratorium
PA atau tim dari teknisi PC yang berada diruang operasi dan biasanya dilakukan dalam 15-
20 menit. Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk ganas atau tidaknyamassa kanker sehingga
dapat ditentukan tindakan operasi selanjutnya.
Cara kerja potong beku adalah sebagai berikut.

a. Sampel yang datang tanpa pengawet atau fiksasi , didata di administrasi diberi kode
atau nama sampel
b. Dilakukan pemotongan oleh dokter PA

c. Pada bagian yang dicurigai ganas diambil dan dikenali , dibuat hapusan buat dokter
PA dan Histopatology
d. Jaringan ditempelkan pada alat PC dan dibekukan kurang lebih 5 menit
e. Dipotong dalam alat PC dengan ketebalan 3-5 mikron

f. Dibuat slide dan dikeringkan dengan hair dryer atau hot plate

g. Dimasukkan dalam harris hematoksilin selama 4 menit

h. Bilas dengan air mengalir sampai bersih

i. Bilas dengan alcohol bertingkat 70%,80% dan 90% 10-20 celup


j. Dimasukkan dalam eosin 1 celup

k. Dibilas dengan alcohol bertingkat 50%, 70% , 80% dan 90% 10-20 celup
l. Dibersihkan dan dikeringkan bagian bawah dan sisi-sisinya

m. Diberi label dan entelan

n. Ditutup dengan deck glass

o. Diserahkan kedokter PA

p. Hasilnya ditelpon kedokter bedah

Catatan : waktu pewarnaan dengan harris hematoksilin waktunya pada PC lebih cepat
dibandingkan dengan pewarnaan harris hematoksilin pada histoPA. Hal ini dikarenakan
sampel yang digunakan pada PC masih segar tanpa pengawet atau fiksasi sehingga
kandungan protein pada jaringan masih banyak maka zat warna mudah diserap oleh
jaringan.