Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

“Virus Mozaik Tembakau (Tobacco Mosaic Virus, TMV)”

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Dasar Perlindungan Tanaman dengan Dosen
Pengampuh Istia Siti Amalia, S.P.,M.P

Disusun oleh:

FAHMI ZAKIY MUHAMMAD

542110117002

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS WIRALODRA

INDRAMAYU

2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Esa, Kami panjatkan puja dan puji
syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya
kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Virus mozaik tembakau
(Tobacco mosaic virus, TMV) .

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami
dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan
menambah ilmu terhadap pembaca.

                                                                     Indramayu, Januari 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ..................................................................................... i
DAFTAR ISI ..................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………… 1
1.1 Latar Belakang............................................................................. 1
1.2 Tujuan.......................................................................................... 2
1.3 Manfaat........................................................................................ 2
BAB II PEMBAHSAN................................................................................... 3
2.1 Sejarah......................................................................................... 3
2.2 Karakteristik TMV...................................................................... 4
2.3 Kisaran Inang............................................................................... 4
2.4 Bioekologi................................................................................... 4
2.5 Cara Penularan............................................................................. 5
2.6 Gejala Penyakit............................................................................ 6
2.7 Upaya pengendalian.................................................................... 7
BAB III KESIMPULAN ……………………………………………………..10
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………... 11
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tembakau adalah produk pertanian yang diproses dari daun tanaman dari
genus Nicotiana. Tembakau dapat dikonsumsi, digunakan sebagai pestisida, dan
dalam bentuk nikotin tartrat dapat digunakan sebagai obat.[1] Jika dikonsumsi,
pada umumnya tembakau dibuat menjadi rokok, tembakau kunyah, dan
sebagainya. Tembakau telah lama digunakan sebagai entheogen di Amerika.
Kedatangan bangsa Eropa ke Amerika Utara mempopulerkan perdagangan
tembakau terutama sebagai obat penenang. Kepopuleran ini menyebabkan
pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat bagian selatan. Setelah Perang Saudara
Amerika Serikat, perubahan dalam permintaan dan tenaga kerja menyebabkan
perkembangan industri rokok. Produk baru ini dengan cepat berkembang
menjadi perusahaan-perusahaan tembakau hingga terjadi kontroversi ilmiah
pada pertengahan abad ke-20.
Virus mosaik tembakau (Tobacco mosaic virus, TMV) adalah virus
yang menyebabkan penyakit pada tembakau dan tumbuhan anggota suku terung-
terungan (Solanaceae) lain. Gejala yang ditimbulkan adalah bercak-bercak
kuning pada daun yang menyebar, seperti mosaik. TMV adalah virus pertama
yang ditemukan orang.
Adolf Meyer (1883) menunjukkan pertama kali bahwa gejala mosaik ini
dapat menular, seperti penyakit bakteri. Keberadaan adanya substansi non-
bakteri pertama kali ditunjukkan oleh Dmitri Ivanovsky, biologiwan Rusia, pada
tahun 1892. Daun sehat yang diolesi ekstrak daun tembakau yang menunjukkan
gejala mosaik dapat tertular. Ketika ekstrak itu disaring dengan saringan
keramik -- yang sangat halus sehingga bakteri pun tidak dapat menembus -- dan
dioleskan pada daun sehat, daun itu pun tetap tertular. Ivanovski berpendapat
ada substansi super kecil yang bertanggung jawab atas gejala tersebut. Martinus
Beijerinck mengonfirmasi hal ini. Isolasi pertama kali dilakukan oleh Wendell
M. Stanley (1935) dari Institut Rockefeller AS.Virus ini biasanya menyerang
tumbuhan tembakau

1
2

Virus ini banyak menyerang pertanaman tembakau di Indoesia, bahkan


serangannya sampai berat. Infeksinya sangat mudah, dengan jalan kontak dan
menyentuh tanaman yang sehat. Dapat pula ditularkan oleh kutu putih Bernisia
tabaci, yakni dengan cara kutu berpindah-pindah ke daun tembakau, menghisap
daging daun dan menyebarkan penyakit.
Tanaman yang terserang, pertumbuhannya akan terhambat, daun
berbelang-belang berwarna hijau sampai kuning, baik pada permukaan atas
maupun permukaan bawah. Luas daun atas besar daun tidak rata, warna hijau
kehitam-hitaman, bagian tulang daun tampak meneabal. Batang kadang berkerut
dan melengkung.

1.2 Tujuan
1. Mengetahui Virus Mozaik Tembakau.
2. Mengetahui Karakteristik TMV.
3. Mengetahui gejala yang ditimbulkan.
4. Memahami cara pengendalian dan pencegahan virus mozaik tembakau.

1.3 Manfaat
1. Mahasiswa mampu Mengetahui Virus Mozaik Tembakau.
2. Mahasiswa mampu Mengetahui Karakteristik TMV.
3. Mahasiswa mampu Mengetahui gejala yang ditimbulkan.
4. Mahasiswa mampu Memahami cara pengendalian dan pencegahan virus
mozaik tembakau.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah

Sejarah penemuan virus dimulai tahun 1883 oleh ilmuwan Jerman


bernama Adolf Meyer. Adolf  meneliti tanaman tembakau. Adolf  menemukan
tembakau dengan daun yang tidak normal. Daun tersebut berwarna kekuning-
kuningan dan setelah diamati terdapat cairan atau lendir. Daun tersebut
menderita penyakit mosaik. Penyakit ini menyebabkan tanaman kerdil dan
daunnya belang-belang. Menurut Adolf  Meyer, penyakit mosaik tembakau
dapat menular. Adolf membuktikan dengan menyemprotkan ekstrak daun
tembakau yang terkena penyakit mosaik ke tanaman yang normal. Hasilnya,
daun yang semula normal menjadi berwarna hijau kekuning-kuningan.
Berdasarkan hasil penelitiannya penyakit ini disebabkan oleh mikroba yang kecil
sekali dan untuk melihatnya harus menggunakan mikroskop elektron.

Dimitri Ivanovsky melakukan penelitian yang serupa. Dimitri  berhasil


menemukan alat penyaring bakteri. Dalam penelitiannya, Ivanovsky
mengoleskan hasil saringan daun tembakau yang terkena penyakit mosaik ke
daun tanaman yang normal. Hasilnya, tanaman tersebut tertular. Dimitri
menyimpulkan mikroba penyebab penyakit tersebut bersifat patogen dan
ukurannya lebih kecil daripada bakteri. Pada tahun 1987, M. Beljerinck,
menemukan fakta bahwa mikroorganisme yang menyerang tembakau tersebut
dapat melakukan reproduksi dan tidak dapat dibiakkan pada medium untuk
bakteri serta mikroorganisme tersebut tidak mati walaupun dimasukkan ke
dalam alkohol. Pada tahun 1935, ilmuwan Amerika, Wendell M. Stanlye,
berhasil mengkristalkan mikroorganisme penyebab penyakit mosaik pada
tembakau. Makhluk itu kemudian dinamakan TMV (Tobaco Mosaic Virus) atau
Virus Mosaik Tembakau. (Kurnia 2012)

3
4

2.2 Ciri-ciri TMV

Virus memiliki titik inaktivasi pemanasan 94ºC, dalam daun tembakau


virus sanggup bertahan sampai puluhan tahun. Tobacco mosaic virus atau TMV
mempunyai partikel berbentuk batang panjang dengan ukuran 300 x 18 nm.
Memiliki genom RNA saja. Meskipun kisaran inang yang luas telah dilaporkan
untuk TMV (199 spesies dari 30 famili), selain host Solanaceae mungkin satu-
satunya yang penting dalam sumber-sumber oculum untuk tanaman tembakau.
Beberapa serangga mampu menularkan TMV, tetapi tidak efisien. Karena virus
TMV mempunyai ketahanan yang tinggi dan sangat mudah ditularkan secara
mekanik dengan sap tanaman sakit, serangga tidak dianggap penting dalam
penyebaran virus. Sampai sekarang belum diketahui vektor penular TMV. (Shew
1990)

2.3 Kisaran Inang

Penyakit mosaik pada tembakau di pertanaman dapat ditemukan pada


berbagai jenis tembakau. Salah satu tanaman yang menjadi inang TMV adalah
dari famili solanaceae, amaranthaceae, azoaceae dan scrophulariaceae. Selain
menyerang tanaman tembakau, TMV mempunyai cukup banyak inang antara
lain tomat, cabai, mentimun, terong, dan ceplukan.

2.4 Bioekologi

TMV diketahui salah satu virus yang stabil terhadap panas, dan memiliki
titik panas aktivasi hingga 93º C dalam cairan perasan tanaman. Virus pada daun
yang terinfeksi, pada kondisi kering masih mampu menginfeksi walaupun telah
dipanaskan sampai pada suhu 120º C selama 30 menit. TMV yang menginfeksi
tanaman tembakau berisi 4 g virus per liter cairan perasan tanaman, dan virus
masih infektif walaupun telah diencerkan hingga perbandingan 1:1.000.000.
Virus menjadi tidak aktif setelah 4-6 minggu dalam cairan perasan biasa, tetapi
pada cairan perasan virus yang bebas bakteri (steril) mungkin dapat bertahan
hingga 5 tahun, dan TMV pada daun terinfeksi yang dikeringkan di laboratorium
selama lebih dari 50 tahun masih infektif. Pada tanaman yang terinfeksi,
beberapa menit setelah virus menginfeksi jaringan tanaman, RNA mulai
5

disintesis dan partikel baru berkembang dalam sitoplasma dan menyebar dari sel
ke sel melalui plasmodesmata.

TMV merupakan parasit oblige atau jaringan sel yang hidup. Virus ini
menginfeksi tanaman melalui luka. Bagian tanaman yang rentan jika kontak
dengan TMV akan segera terinfeksi. TMV dapat bertahan selama berbulan-
bulan pada tanah bekas penanaman, di air dan tanah di hutan. Sejumlah strain
TMV pada tanaman obat-obatan telah diuraikan hampir diseluruuh dunia,
dimana virus ini dapat dibedakan dari yang lainnya melalui reaksi inang, tetapi
tidak pada tembakau. (Wardanah 2007)

2.5 Cara Penularan

Penularan virus dapat berlangsung secara kontak langsung, melalui


aphid, tanah dan benih. Kontaminasi langsung terjadi melalui luka pada tanaman
akibat aktivitas pemeliharaan tanaman, binatang, dan pelaksana di lapangan,
ataupun sebab yang lain. Kontaminasi secara langsung dapat disebabkan oleh
alat-alat pertanian yang digunakan dalam pemangkasan, pengendalian gulma,
dan pembajakan. Kontaminasi pada benih dapat terjadi pada buah yang sakit.
Lokasi virus terdapat pada external mucilage, testa, dan endosperma. Virus juga
bersifat stabil dan mudah ditularkan dari benih ke pembibitan maupun
pertanaman.

TMV masih menular walalupun setelah penyimpanan 50 tahun di


laboratorium di 4 ° C/40 ° F. TMV memasuki sel tanaman melalui luka-luka
ringan. Setelah TMV memasuki sel, partikel virus membongkar dengan cara
yang terorganisasi untuk mengekspos TMV RNA. Virus RNA positif, atau “+ “,
dan menyajikan secara langsung messenger RNA (mRNA) yang diterjemahkan
menggunakan host ribosom. Terjemahan dari replicase-terkait protein dimulai
dalam beberapa menit setelah infeksi. Segera setelah protein ini telah disintesis,
replicase mengaitkan dengan 3′ akhir TMV RNA positif untuk produksi RNA
Negatif. RNA negatif adalah template untuk menghasilkan keduanya full-length
genom +  RNA serta + subgenomic RNA (sgRNAs). SgRNAs yang
diterjemahkan oleh ribosom inang untuk menghasilkan protein dan mantel
6

protein. Mantel protein kemudian berinteraksi dengan disintesis +TMV RNA


untuk perakitan progeni virion. Partikel-partikel virus ini sangat stabil dan di
beberapa titik ketika sel-sel rusak atau daun mengering, mereka dibebaskan
untuk menginfeksi tanaman baru. Sebagai alternatif, + TMV RNA dibungkus
dalam protein, dan kompleks ini dapat menginfeksi sel-sel yang berdekatan.
TMV menggunakan protein yang menyebar dari sel-sel melalui plasmodesmata,
yang menghubungkan sel. Biasanya plasmodesmata terlalu kecil untuk bagian
partikel TMV utuh.

Pergerakan protein (mungkin dengan bantuan inang belum teridentifikasi


protein) membesar bukaan plasmodesmatal sehingga TMV RNA dapat pindah
ke sel-sel yang berdekatan, melepaskan gerakan protein dan host protein, dan
memulai babak baru infeksi. Seperti virus bergerak dari sel ke sel, akhirnya
mencapai sistem vaskular tanaman (vena) untuk cepat sistemik menyebar
melalui phloem ke akar dan tips tanaman tumbuh. Siklus penyakit TMV dan
epidemiologi yang saling berkait karena virus sepenuhnya tergantung pada host
untuk replikasi dan menyebar. Ada variasi luas dalam insiden penyakit,
tergantung pada waktu memempelnya penyakit di bidang dan tanam
praktek. TMV tanaman menghubungi tanaman yang sehat, atau oleh peralatan
atau pekerja. TMV juga dapat bertahan hidup. Praktek-praktek pertanian, seperti
tanam terus-menerus, memiliki potensi untuk menjadi masalah tertentu, terutama
di fasilitas rumah kaca, di mana TMV inoculum mungkin meningkat pada lebih
dari satu jenis tanaman.

2.6 Gejala Penyakit

Gejala yang disebabkan oleh virus mosaik tembakau (TMV) adalah agak
tergantung pada tanaman inang dan dapat termasuk mosaik, bintik-bintik,
nekrosis, pengerdilan, daun keriting, dan menguning dari jaringan tanaman.
Gejala tersebut sangat tergantung pada umur tanaman terinfeksi, kondisi
lingkungan, strain virus, dan latar belakang genetik dari tanaman inang,
temperatur, kondisi cahaya, faktor gizi, dan stres air. Strain dari TMV juga
menginfeksi tomat, kadang-kadang menyebabkan hasil yang buruk atau
terganggu buah, tertunda pematangan buah, dan warna buah seragam.
7

Gejala dapat termasuk nekrosis pada setiap bagian tanaman,


penggundulan dan gejala mosaik pada daun, batang, dan buah. Umumnya,
tanaman yang terinfeksi memiliki mosaik khlorosis dengan distorsi pada daun
muda, dan pendek. Buah dapat mengatur berat berkurang pada tanaman yang
terkena dampak. Pada cabai, gejala umum dibangkitkan gundukan dan daerah
lekir dari dan gelap hijau terang pada dedaunan, dengan buah yang matang tidak
merata dan berkurang ukurannya. Parah daun yang terkena terdistorsi atau
mereka mungkin memiliki suatu nekrosis sepanjang pembuluh darah utama dan
disertai dengan layu daun akan mengenai buah kecil dan dapat rusak dengan
khlorosis atau nekrotik daerah.

Gejala Mosaic dicirikan oleh patch tercampur normal dan lampu hijau
atau warna kekuningan pada daun tanaman yang terinfeksi. Mosaik tembakau
merusak daun, bunga, dan buah-buahan dan penyebab pengerdilan tanaman.
Virus ini hampir tidak pernah membunuh tumbuhan, tapi menurunkan kualitas
dan kuantitas dari tanaman, khususnya saat tanaman terinfeksi ketika muda.

Tanaman yang terinfeksi Virus sering bingung dengan tanaman yang


terkena polusi herbisida atau kerusakan udara, defisiensi mineral, dan penyakit
tanaman lainnya. Identifikasi positif virus mosaik pada tanaman tembakau
terinfeksi sering membutuhkan jasa seorang ahli patologi tanaman dan
penggunaan mikroskop elektron. Walaupun mungkin diperlukan ahli patologi
tanaman untuk mendiagnosa virus mosaik tembakau pada tanaman hias banyak,
sebagian tanaman tomat menunjukkan gejala mosaik biasanya terinfeksi oleh
virus mosaik tembakau.

2.7 Upaya Pengendalian

Usaha pengendalian penyakit mosaik dapat dilakukan dengan beberapa


cara sebagai berikut:

1. Pemilhan lahan, menghindari lahan-lahan bekas tanaman inang yang terserang


penyakit TMV.

Sanitasi bertujuan membersihkan inokulum dengan mencabut tanaman


yang sakit, tanaman inang lain, dan membersihkan peralatan. Tembakau yang
8

terkena penyakit kemudian dicabut, dikumpulkan, dan dibakar, tanahnya diberi


campuran ZA : kapur tohor (1:10) dan disiram air (Hartana, 1998 dalam buku
Prosiding Semiloka Teknologi Tembakau). Pencabutan tanaman sakit dan gulma
inang mampu menekan serangan TMV.

2. Pencucian alat pertanian

Untuk mengurangi infeksi tanaman dengan TMV semua alat harus dicuci
dengan sabun atau larutan 10% disinfektan untuk menonaktifkan virus. Tanah
terkontaminasi oleh TMV harus dibuang. Untuk menghindari memancarkan
virus dari tanaman terinfeksi ke tanaman yang sehat, selang penyiraman atau
pengairan seharusnya tidak boleh kontak langsung dengan tanaman. Perawatan
harus lebih intensif yakni membuang dari dedaunan mati dan tanaman tua,
karena daun kering, terinfeksi TMV dapat tertiup yang kemudian dapat
menginfeksi tanaman yang sehat jika mereka terluka.

3. Disinfeksi tangan para pekerja

Dianjurkan pemakaian sabun hijau, rinso 0,4-0,6%, atau detergent fosfat


1% (Trinatrium fospat) secara intensif untuk pencuci tangan semua orang yang
memasuki area perkebunan tembakau serta para pekerja pada waktu penggantian
petak atau pekerjaan, terutama bagi yang pekerjaannya berhubungan langsung
dengan penyakit tembakau mozaik.

4. Varietas tahan.

Memilih varietas-varietas yang tahan akan penyakit TMV. Seperti yang


telah dilakukan oleh Balitas Malang telah mengidentifikasi beberapa tanaman
tembakau yang tahan akan serangan penyakit TMV. Beberapa varietas tanaman
tembakau yang tahan TMV yakni Coker 51, Coker 86, dan SC 72.

5. Rotasi dengan tanaman bukan inang.

Rotasi bertujuan untuk memutus rantai makanan atau memberi kondisi


lingkungan yang tidak cocok bagi patogen sehingga populasinya turun.
Beberapa tanaman yang untuk rotasi pengendalian penyakit TMV yaitu jagung,
kapas, Fescue, kacang tanah, kentang, kedelai, dan ketela rambat.
9

6. Penyemprotan vektor Myzus persicae dengan insektisida, antara lain


imidakloprid, dimetoat.

7. Vaksinasi dengan vaksin carna-5 untuk pengendalian CMV.

Untuk tindakan pengamanan pada bibit dilakukan hal-hal sebagai berikut :

1. Merumput dan menyiang bibit

Dilakukan sewaktu bibit masih muda, pekerja yang berhubungan dengan


pekerjaan ini diusahakan selalu mencuci tangan dengan larutan sabun,
jangan menyisip bibit, jangan mencari ulat tapi semprot saja dengan
insektisida.

2. Pemberantasan penyakit dan hama

Pemberantasan penyakit dan hama dipertanaman dilakukan juga dengan


hal sama seperti point 1. Usahakan sesedikit mungkin kontak dengan
tanaman, apalagi bila di sekitar tanaman telah terserang penyakit mosaik.
Lakukan pencabutan pada daun atau tanaman yang terserang penyakit
mosaik.
BAB III

KESIMPULAN

Gejala penyakit mosaik adalah klorotik di sekitar tulang daun, semakin lama
daun menajdi berwarna belang (mosaik), daun yang berwarna hijau akan lebih tua
warnanya, dan pertumbuhan daun terhambat (ukurannya menjadi lebih kecil). Pada
daun terjadi bercak-bercak hijau muda atau kuning yang tidak teratur. Bagian yang
berwarna muda tidak dapat berkembang secepat bagian hijau yang biasa, sehingga daun
menjadi berkerut atau terpuntir. Jika semai terinfeksi segera setelah muncuk, semai
dapat mati. Jika tanaman terinfeksi setelah dewasa pengaruhnya dapat lemah sekali.
Infeksi mosaik pada buah mungkin tidak menimbulkan gejala. Namun jika tanaman
terinfeksi sejak awal, buah hanya menjadi kecil, bentuknya menyimpang, dan pada
dinding buah mungkin terjadi bercak-bercak nekrotik. Jika mosaik tembakau dan
mosaik mentimun mengdakan infeksi secara bersamaaan, pada batang dan buah akan
terjadi garis-garis hitam yang terdiri atas jaringn mati.

11
DAFTAR PUSTAKA

Akin HM. 2006. Virologi Tumbuhan. Yogyakarta (ID): Kanisius.

[Bappeda] Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah. Tentang Tembakau.


http://bappeda.kendalkab.go.id/lahan/content.php?query=tentang_tembakau.

Dalmadiyo G. 1999. Prosiding Semiloka Teknologi Tembakau. Pengendalian Penyakit


Tembakau Secara Terpadu. Malang : Balai Penelitian Tembakau dan Tanaman Serat.

Erwin. 2000. Hama dan Penyakit Tembakau Deli. Medan (ID):Balai Penelitian
Tembakau Deli.

Kurnia D. 2012. Tobacco Mosaic Virus.


https://www.scribd.com/doc/88337968/13010052-Tobacco-Mosaic-Virus.

Pitoyo S. 2006. Penangkaran Benih Tomat. Yogyakarta (ID): Kanisius.

Wardanah T. 2007. Pemanfaatan Bakteri Perakaran Pemacu Pertumbuhan Tanaman


Plant Growth-Promoting Rhizobacteria) Untuk Mengendalikan Penyakit Mosaik

Tembakau (Tobacco Mosaic Virus) Pada Tanaman Cabai [Skripsi]. Bogor (ID): Institut
Pertanian Bogor.

Yowono T. 2002. Biologi Molekuler. Jakarta(ID) : Erlangga.

11