Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH MIKROBIOLOGI DAN VIROLOGI

VIRUS MOZAIK TEMBAKAU ( Tobacco mosaic virus)

DISUSUN OLEH :

NAMA KELOMPOK : 1. INTAN ISTIQOMAH (1804135)

2. LIZA SYOFYANI (1804149)

3. PRITA ULTI MARDIAN (1804161)

4. SISKA SYAFRI ANANDA (1804173)

5. SINTA MELIYANA (1804185)

6. YUNI SAPITRI (1604014)

7. ELLA GUSTINA .Y. (1604048)

KELAS :C

DOSEN PEMBIMBING : PUSPA PAMESWARI, M.Farm, Apt

SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA

YAYASAN PERINTIS

PADANG

2020

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tembakau adalah produk pertanian yang diproses dari daun tanaman dari
genus Nicotiana. Tembakau dapat dikonsumsi, digunakan sebagai pestisida, dan
dalam bentuk nikotin tartrat dapat digunakan sebagai obat. Jika dikonsumsi, pada
umumnya tembakau dibuat menjadi rokok, tembakau kunyah, dan sebagainya.
Tembakau telah lama digunakan sebagai entheogen di Amerika. Kedatangan
bangsa Eropa ke Amerika Utara mempopulerkan perdagangan tembakau terutama
sebagai obat penenang. Kepopuleran ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi
Amerika Serikat bagian selatan. Setelah Perang Saudara Amerika Serikat,
perubahan dalam permintaan dan tenaga kerja menyebabkan perkembangan
industri rokok. Produk baru ini dengan cepat berkembang menjadi perusahaan-
perusahaan tembakau hingga terjadi kontroversi ilmiah pada pertengahan abad ke-
20.
Virus mosaik tembakau (Tobacco mosaic virus, TMV) adalah virus yang
menyebabkan penyakit pada tembakau dan tumbuhan anggota suku terung-
terungan (Solanaceae) lain. Gejala yang ditimbulkan adalah bercak-bercak kuning
pada daun yang menyebar, seperti mosaik. TMV adalah virus pertama yang
ditemukan orang.
Adolf Meyer (1883) menunjukkan pertama kali bahwa gejala mosaik ini dapat
menular, seperti penyakit bakteri. Keberadaan adanya substansi non-bakteri
pertama kali ditunjukkan oleh Dmitri Ivanovsky, biologiwan Rusia, pada tahun
1892. Daun sehat yang diolesi ekstrak daun tembakau yang menunjukkan gejala
mosaik dapat tertular. Ketika ekstrak itu disaring dengan saringan keramik -- yang
sangat halus sehingga bakteri pun tidak dapat menembus -- dan dioleskan pada
daun sehat, daun itu pun tetap tertular. Ivanovski berpendapat ada substansi super
kecil yang bertanggung jawab atas gejala tersebut. Martinus Beijerinck
mengonfirmasi hal ini. Isolasi pertama kali dilakukan oleh Wendell M. Stanley
(1935) dari Institut Rockefeller AS.Virus ini biasanya menyerang tumbuhan
tembakau Virus ini banyak menyerang pertanaman tembakau di Indoesia, bahkan
serangannya sampai berat. Infeksinya sangat mudah, dengan jalan kontak dan
menyentuh tanaman yang sehat. Dapat pula ditularkan oleh kutu putih Bernisia

3
tabaci, yakni dengan cara kutu berpindah-pindah ke daun tembakau, menghisap
daging daun dan menyebarkan penyakit.

Tanaman yang terserang, pertumbuhannya akan terhambat, daun berbelang-


belang berwarna hijau sampai kuning, baik pada permukaan atas maupun permukaan
bawah. Luas daun atas besar daun tidak rata, warna hijau kehitam-hitaman, bagian
tulang daun tampak meneabal. Batang kadang berkerut dan melengkung.

1.2 Tujuan
1. Mengetahui Virus Mozaik Tembakau.
2. Mengetahui sejarah virus TMV
3. Mengetahui Karakteristik TMV.
4. Mengetahui gejala yang ditimbulkan.
5. Memahami cara pengendalian dan pencegahan virus mozaik tembakau.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah

Sejarah penemuan virus dimulai tahun 1883 oleh ilmuwan Jerman bernama
Adolf Meyer. Adolf  meneliti tanaman tembakau. Adolf  menemukan tembakau
dengan daun yang tidak normal. Daun tersebut berwarna kekuning-kuningan dan
setelah diamati terdapat cairan atau lendir. Daun tersebut menderita penyakit mosaik.
Penyakit ini menyebabkan tanaman kerdil dan daunnya belang-belang. Menurut
Adolf  Meyer, penyakit mosaik tembakau dapat menular. Adolf membuktikan
dengan menyemprotkan ekstrak daun tembakau yang terkena penyakit mosaik ke
tanaman yang normal. Hasilnya, daun yang semula normal menjadi berwarna hijau
kekuning-kuningan. Berdasarkan hasil penelitiannya penyakit ini disebabkan oleh
mikroba yang kecil sekali dan untuk melihatnya harus menggunakan mikroskop
elektron.
Dimitri Ivanovsky melakukan penelitian yang serupa. Dimitri  berhasil
menemukan alat penyaring bakteri. Dalam penelitiannya, Ivanovsky mengoleskan
hasil saringan daun tembakau yang terkena penyakit mosaik ke daun tanaman yang
normal. Hasilnya, tanaman tersebut tertular. Dimitri menyimpulkan mikroba
penyebab penyakit tersebut bersifat patogen dan ukurannya lebih kecil daripada
bakteri. Pada tahun 1987, M. Beljerinck, menemukan fakta bahwa mikroorganisme
yang menyerang tembakau tersebut dapat melakukan reproduksi dan tidak dapat
dibiakkan pada medium untuk bakteri serta mikroorganisme tersebut tidak mati
walaupun dimasukkan ke dalam alkohol. Pada tahun 1935, ilmuwan Amerika,
Wendell M. Stanlye, berhasil mengkristalkan mikroorganisme penyebab penyakit
mosaik pada tembakau. Makhluk itu kemudian dinamakan TMV (Tobaco Mosaic
Virus) atau Virus Mosaik Tembakau. (Kurnia 2012)

2.2 Ciri-ciri TMV


Virus memiliki titik inaktivasi pemanasan 94ºC, dalam daun tembakau virus
sanggup bertahan sampai puluhan tahun. Tobacco mosaic virus atau TMV
mempunyai partikel berbentuk batang panjang dengan ukuran 300 x 18 nm.
Memiliki genom RNA saja. Meskipun kisaran inang yang luas telah dilaporkan
untuk TMV (199 spesies dari 30 famili), selain host Solanaceae mungkin satu-
satunya yang penting dalam sumber-sumber oculum untuk tanaman tembakau.
3
Beberapa serangga mampu menularkan TMV, tetapi tidak efisien. Karena virus
TMV mempunyai ketahanan yang tinggi dan sangat mudah ditularkan secara
mekanik dengan sap tanaman sakit, serangga tidak dianggap penting dalam
penyebaran virus. Sampai sekarang belum diketahui vektor penular TMV. (Shew
1990)

2.3 Kisaran Inang


Penyakit mosaik pada tembakau di pertanaman dapat ditemukan pada
berbagai jenis tembakau. Salah satu tanaman yang menjadi inang TMV adalah dari
famili solanaceae, amaranthaceae, azoaceae dan scrophulariaceae. Selain menyerang
tanaman tembakau, TMV mempunyai cukup banyak inang antara lain tomat, cabai,
mentimun, terong, dan ceplukan.

2. 4 Bioekologi
TMV diketahui salah satu virus yang stabil terhadap panas, dan memiliki titik
panas aktivasi hingga 93º C dalam cairan perasan tanaman. Virus pada daun yang
terinfeksi, pada kondisi kering masih mampu menginfeksi walaupun telah
dipanaskan sampai pada suhu 120º C selama 30 menit. TMV yang menginfeksi
tanaman tembakau berisi 4 g virus per liter cairan perasan tanaman, dan virus masih
infektif walaupun telah diencerkan hingga perbandingan 1:1.000.000. Virus menjadi
tidak aktif setelah 4-6 minggu dalam cairan perasan biasa, tetapi pada cairan perasan
virus yang bebas bakteri (steril) mungkin dapat bertahan hingga 5 tahun, dan TMV
pada daun terinfeksi yang dikeringkan di laboratorium selama lebih dari 50 tahun
masih infektif. Pada tanaman yang terinfeksi, beberapa menit setelah virus
menginfeksi jaringan tanaman, RNA mulai disintesis dan partikel baru berkembang
dalam sitoplasma dan menyebar dari sel ke sel melalui plasmodesmata.
TMV merupakan parasit oblige atau jaringan sel yang hidup. Virus ini
menginfeksi tanaman melalui luka. Bagian tanaman yang rentan jika kontak dengan
TMV akan segera terinfeksi. TMV dapat bertahan selama berbulan-bulan pada tanah
bekas penanaman, di air dan tanah di hutan. Sejumlah strain TMV pada tanaman
obat-obatan telah diuraikan hampir diseluruuh dunia, dimana virus ini dapat
dibedakan dari yang lainnya melalui reaksi inang, tetapi tidak pada tembakau.
(Wardanah 2007)

2.4 Cara Penularan


3
Penularan virus dapat berlangsung secara kontak langsung, melalui aphid,
tanah dan benih. Kontaminasi langsung terjadi melalui luka pada tanaman akibat
aktivitas pemeliharaan tanaman, binatang, dan pelaksana di lapangan, ataupun sebab
yang lain. Kontaminasi secara langsung dapat disebabkan oleh alat-alat pertanian
yang digunakan dalam pemangkasan, pengendalian gulma, dan pembajakan.
Kontaminasi pada benih dapat terjadi pada buah yang sakit. Lokasi virus terdapat
pada external mucilage, testa, dan endosperma. Virus juga bersifat stabil dan mudah
ditularkan dari benih ke pembibitan maupun pertanaman.
TMV masih menular walalupun setelah penyimpanan 50 tahun di
laboratorium di 4 ° C/40 ° F. TMV memasuki sel tanaman melalui luka-luka
ringan. Setelah TMV untuk mengekspos TMV RNA. Virus RNA positif, atau “+ “,
dan menyajikan secara langsung messenger RNA (mRNA) yang diterjemahkan
menggunakan host ribosom. Terjemahan dari replicase-terkait protein dimulai dalam
beberapa menit setelah infeksi. Segera setelah protein ini telah disintesis, replicase
mengaitkan dengan 3′ akhir TMV RNA positif untuk produksi RNA Negatif. RNA
negatif adalah template untuk menghasilkan keduanya full-length genom +  RNA
serta + subgenomic RNA (sgRNAs). SgRNAs yang diterjemahkan oleh ribosom
inang untuk menghasilkan protein dan mantel protein. Mantel protein kemudian
berinteraksi dengan disintesis +TMV RNA untuk perakitan progeni virion. Partikel-
partikel virus ini sangat stabil dan di beberapa titik ketika sel-sel rusak atau daun
mengering, mereka dibebaskan untuk menginfeksi tanaman baru. Sebagai alternatif,
+ TMV RNA dibungkus dalam protein, dan kompleks ini dapat menginfeksi sel-sel
yang berdekatan. TMV menggunakan protein yang menyebar dari sel-sel melalui
plasmodesmata, yang menghubungkan sel. Biasanya plasmodesmata terlalu kecil
untuk bagian partikel TMV utuh.
Pergerakan protein (mungkin dengan bantuan inang belum teridentifikasi
protein) membesar bukaan plasmodesmatal sehingga TMV RNA dapat pindah ke
sel-sel yang berdekatan, melepaskan gerakan protein dan host protein, dan memulai
babak baru infeksi. Seperti virus bergerak dari sel ke sel, akhirnya mencapai sistem
vaskular tanaman (vena) untuk cepat sistemik menyebar melalui phloem ke akar dan
tips tanaman tumbuh. Siklus penyakit TMV dan epidemiologi yang saling berkait
karena virus sepenuhnya tergantung pada host untuk replikasi dan menyebar. Ada
variasi luas dalam insiden penyakit, tergantung pada waktu memempelnya penyakit
di bidang dan tanam praktek. TMV tanaman menghubungi tanaman yang sehat, atau

3
oleh peralatan atau pekerja. TMV juga dapat bertahan hidup. Praktek-praktek
pertanian, seperti tanam terus-menerus, memiliki potensi untuk menjadi masalah
tertentu, terutama di fasilitas rumah kaca, di mana TMV inoculum mungkin
meningkat pada lebih dari satu jenis tanaman.
2.5 Gejala Penyakit
Gejala yang disebabkan oleh virus mosaik tembakau (TMV) adalah agak
tergantung pada tanaman inang dan dapat termasuk mosaik, bintik-bintik, nekrosis,
pengerdilan, daun keriting, dan menguning dari jaringan tanaman. Gejala tersebut
sangat tergantung pada umur tanaman terinfeksi, kondisi lingkungan, strain virus,
dan latar belakang genetik dari tanaman inang, temperatur, kondisi cahaya, faktor
gizi, dan stres air. Strain dari TMV juga menginfeksi tomat, kadang-kadang
menyebabkan hasil yang buruk atau terganggu buah, tertunda pematangan buah, dan
warna buah seragam.
Gejala dapat termasuk nekrosis pada setiap bagian tanaman, penggundulan
dan gejala mosaik pada daun, batang, dan buah. Umumnya, tanaman yang terinfeksi
memiliki mosaik khlorosis dengan distorsi pada daun muda, dan pendek. Buah dapat
mengatur berat berkurang pada tanaman yang terkena dampak. Pada cabai, gejala
umum dibangkitkan gundukan dan daerah lekir dari dan gelap hijau terang pada
dedaunan, dengan buah yang matang tidak merata dan berkurang ukurannya. Parah
daun yang terkena terdistorsi atau mereka mungkin memiliki suatu nekrosis
sepanjang pembuluh darah utama dan disertai dengan layu daun akan mengenai buah
kecil dan dapat rusak dengan khlorosis atau nekrotik daerah.
Gejala Mosaic dicirikan oleh patch tercampur normal dan lampu hijau atau
warna kekuningan pada daun tanaman yang terinfeksi. Mosaik tembakau merusak
daun, bunga, dan buah-buahan dan penyebab pengerdilan tanaman. Virus ini hampir
tidak pernah membunuh tumbuhan, tapi menurunkan kualitas dan kuantitas dari
tanaman, khususnya saat tanaman terinfeksi ketika muda.
Tanaman yang terinfeksi Virus sering bingung dengan tanaman yang
terkena polusi herbisida atau kerusakan udara, defisiensi mineral, dan penyakit
tanaman lainnya. Identifikasi positif virus mosaik pada tanaman tembakau terinfeksi
sering membutuhkan jasa seorang ahli patologi tanaman dan penggunaan mikroskop
elektron. Walaupun mungkin diperlukan ahli patologi tanaman untuk mendiagnosa
virus mosaik tembakau pada tanaman hias banyak, sebagian tanaman tomat
menunjukkan gejala mosaik biasanya terinfeksi oleh virus mosaik tembakau.

3
2.6 Upaya Pengendalian
Usaha pengendalian penyakit mosaik dapat dilakukan dengan beberapa cara
sebagai berikut:
1. Pemilhan lahan, menghindari lahan-lahan bekas tanaman inang yang terserang
penyakit TMV.
Sanitasi bertujuan membersihkan inokulum dengan mencabut tanaman yang
sakit, tanaman inang lain, dan membersihkan peralatan. Tembakau yang terkena
penyakit kemudian dicabut, dikumpulkan, dan dibakar, tanahnya diberi
campuran ZA : kapur tohor (1:10) dan disiram air (Hartana, 1998 dalam buku
Prosiding Semiloka Teknologi Tembakau). Pencabutan tanaman sakit dan
gulma inang mampu menekan serangan TMV.
2. Pencucian alat pertanian
Untuk mengurangi infeksi tanaman dengan TMV semua alat harus dicuci
dengan sabun atau larutan 10% disinfektan untuk menonaktifkan virus. Tanah
terkontaminasi oleh TMV harus dibuang. Untuk menghindari memancarkan
virus dari tanaman terinfeksi ke tanaman yang sehat, selang penyiraman atau
pengairan seharusnya tidak boleh kontak langsung dengan tanaman. Perawatan
harus lebih intensif yakni membuang dari dedaunan mati dan tanaman tua,
karena daun kering, terinfeksi TMV dapat tertiup yang kemudian dapat
menginfeksi tanaman yang sehat jika mereka terluka.
3. Disinfeksi tangan para pekerja
Dianjurkan pemakaian sabun hijau, rinso 0,4-0,6%, atau detergent fosfat 1%
(Trinatrium fospat) secara intensif untuk pencuci tangan semua orang yang
memasuki area perkebunan tembakau serta para pekerja pada waktu
penggantian petak atau pekerjaan, terutama bagi yang pekerjaannya
berhubungan langsung dengan penyakit tembakau mozaik.
4. Varietas tahan.
Memilih varietas-varietas yang tahan akan penyakit TMV. Seperti yang telah
dilakukan oleh Balitas Malang telah mengidentifikasi beberapa tanaman
tembakau yang tahan akan serangan penyakit TMV. Beberapa varietas tanaman
tembakau yang tahan TMV yakni Coker 51, Coker 86, dan SC 72.
3
5. Rotasi dengan tanaman bukan inang.
6. Rotasi bertujuan untuk memutus rantai makanan atau memberi kondisi
lingkungan yang tidak cocok bagi patogen sehingga populasinya turun.
Beberapa tanaman yang untuk rotasi pengendalian penyakit TMV yaitu jagung,
kapas, Fescue, kacang tanah, kentang, kedelai, dan ketela rambat.
7. Penyemprotan vektor Myzus persicae dengan insektisida, antara lain
imidakloprid, dimetoat.
8. Vaksinasi dengan vaksin carna-5 untuk pengendalian CMV.

Untuk tindakan pengamanan pada bibit dilakukan hal-hal sebagai berikut


1. Merumput dan menyiang bibit
Dilakukan sewaktu bibit masih muda, pekerja yang berhubungan dengan
pekerjaan ini diusahakan selalu mencuci tangan dengan larutan sabun, jangan
menyisip bibit, jangan mencari ulat tapi semprot saja dengan insektisida.
2. Pemberantasan penyakit dan hama
Pemberantasan penyakit dan hama dipertanaman dilakukan juga dengan hal
sama seperti point 1. Usahakan sesedikit mungkin kontak dengan tanaman,
apalagi bila di sekitar tanaman telah terserang penyakit mosaik. Lakukan
pencabutan pada daun atau tanaman yang terserang penyakit mosaik.

3
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Gejala penyakit mosaik adalah klorotik di sekitar tulang daun, semakin lama
daun dan pertumbuhan daun terhambat (ukurannya menjadi lebih kecil). Pada daun
terjadi bercak-bercak hijau muda atau kuning yang tidak teratur. Bagian yang
berwarna muda tidak dapat berkembang secepat bagian hijau yang biasa, sehingga
daun menjadi berkerut atau terpuntir. Jika semai terinfeksi segera setelah muncuk,
semai dapat mati. Jika tanaman terinfeksi setelah dewasa pengaruhnya dapat lemah
sekali. Infeksi mosaik pada buah mungkin tidak menimbulkan gejala. Namun jika
tanaman terinfeksi sejak awal, buah hanya menjadi kecil, bentuknya menyimpang,
dan pada dinding buah mungkin terjadi bercak-bercak nekrotik. Jika mosaik
tembakau dan mosaik mentimun mengdakan infeksi secara bersamaaan, pada
batang dan buah akan terjadi garis-garis hitam yang terdiri atas jaringn mati.

11
DAFTAR PUSTAKA

Akin HM. 2006. Virologi Tumbuhan. Yogyakarta (ID): Kanisius.

Dalmadiyo G. 1999. Prosiding Semiloka Teknologi Tembakau. Pengendalian Penyakit


Tembakau Secara Terpadu. Malang : Balai Penelitian Tembakau dan Tanaman
Serat.

Erwin. 2000. Hama dan Penyakit Tembakau Deli. Medan (ID):Balai Penelitian Tembakau
Deli.

Pitoyo S. 2006. Penangkaran Benih Tomat. Yogyakarta (ID): Kanisius.

Wardanah T. 2007. Pemanfaatan Bakteri Perakaran Pemacu Pertumbuhan Tanaman Plant


Growth-Promoting Rhizobacteria) Untuk Mengendalikan Penyakit Mosaik

Tembakau (Tobacco Mosaic Virus) Pada Tanaman Cabai [Skripsi]. Bogor (ID): Institut
Pertanian Bogor.

Yowono T. 2002. Biologi Molekuler. Jakarta(ID) : Erlangga.