Anda di halaman 1dari 21

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Gangguan Jiwa

Gangguan jiwa adalah sindrom pola perilaku individu yang berkaitan

dengan suatu gejala penderitaan dan pelemahan didalam satu atau lebih

fungsi penting dari manusia, yaitu fungsi psikologik, perilaku, biologik,

gaangguan tersebut mempengaruhi hubungan antara dirinya sendiri dan juga

masyarakat (Maramis, 2010).

Gangguan jiwa atau mental illnes adalah keadaan dimana seseorang

mengalami kesultan mengenai persepsinya tentang kehidupan, hubungan

dengan orang lain, dan sikapnya terhadap dirinya sendiri. Gangguan jiwa

merupakan suatu gangguan yang sama halnya dengan gangguan jasmaniah

lainnya, tetapi gangguan jiwa bersifat lebih kompleks, mulai dari yang ringan

seperti rasa cemas, takut hingga tingkat berat berupa sakit jiwa (Budiono,

2010)

Gangguan jiwa adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami

gangguan dalam pikiran,perilaku, dan perasaan yang termanifestasi dalam

bentuk sekumpulan gejala atau perubahan perilaku yang bermakna, serta

dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi

orang sebagai manusia ( UU.RI No.18, 2014)

2.2 Faktor Yang Menyebabkan Gagguan Jiwa


Gejala yang paling utama pada gangguan jiwa terdapat pada unsur

kejiwaan, biasanya tidak terdapat penyebab tunggal, akan tetapi terdapat

beberapa penyebab dari beragai unsur yang saling mempengaruhi atau

kebetulan terjadi bersamaan, lalu muncul gangguan kejiwaan.

Menurut Maramis 2010 dalam Buku Ajar Keperawatan Jiwa, sumber

penyebab gangguan jiwa dapat dibedakan atas :

1. Faktor Somatik (Somatogenik),yaitu akibat gangguan pada neuroanatomi,

neurofisiologi,dan nerokimia, termasuk tingkat kematangan dan

perkembangan organik, serta faktorpranatal dan perinatal.

2. Faktor Psikologik (Psikogenik), yaitu keterkaitan interaksi ibu dan anak,

peranan ayah,persaingan antara saudara kandung, hubungan dalam

keluarga,pkerjaan, permintaan masyarakat. Selain itu, faktor intelegensi,

tingkat perkembangan emosi, konsep diri, dan pola adaptasi juga akan

mempengaruhi kemampuan untuk menghadapi masalah. Apabila keadaan

tersebut kurang baik, maka dapat menyebabkan kecemasan, depresi, rasa

malu, dan rasa bersalah yang berlebihan.

3. Faktor Sosial Budaya, yang meliputi faktor kestabilan keluarga, pola

mengasuh anak, tingkat ekonomi, perumahan, dan masalah kelompok

minoritas yang meliputi prasangka, fasilitas kesehatan, dan kesejahteraan

yang tidak memadai, serta pengaruh mengenai keagamaan

Sedagangkan Menurut Faris tahun 2016 faktor-faktor penyebab

gangguan jiwa diantaranya :

1. Usia
Pada usia menginjak dewasa,dimana pada usia ini merupakan usia

yang produktif, dimana seseorang dituntut untuk menghadapi dirinya

sendiri secara mandiri, masalah yang dihadapi juga semakin banyak,

bukan hanya masalah dirinya sendiri tetapi juga harus memikirkan anggota

keluarganya.

2. Tidak bekerja

Tidak mempunyai pekerjaan mengakibatkan seseorang tidak

mempunyai penghasilan dan gagal dalam menunjukan aktualisasi dirinya,

sehingga seseorang tidak bekerja tdak mempunyai kegiatan dan

memungkinkan mengalami harga diri rendah yang berdampak pada

gangguan jiwa.

3. Kepribadian yang tertutup

Seseorang yang memiliki kepribadian tertutup cenferung

menyimpan permasalahannya sendiri sehingga masalah yang dihadapi

akan semakin menumpuk. Hal ini yang membuat seseorang tidak bisa

menyelesaikan permasalahan dan enggan mengungkapkan sehingga

menimbulkan depresi dan mengalami gagguan jiwa.

4. Putus obat

Pada beberapa penelitian menunjukan bahwa seseorang dengan

gangguan jiwa harus minum obat seumur hidup, terkadang klien merasa

bosan, dan kurang pengetahuan akan menghentikan minum obat dan

merasa sudah sembuh.

5. Pengalaman yang tidak menyenangkan


Pengalaman tidak menyenangkan yang daialami misalnya adanya

aniaya seksual, aniaya fisik, dikucilkan oleh masyarakat atau kejadian lain

akan memicu seseorang mudah mengalami ganguan jiwa

6. Konflik dengan teman atau keluarga

Seseorang yang memepunyai konflik dengan keluarga misalnya

karena harta warisan juga dapat membuat seseorang mengalami gangguan

jiwa. Konflik yang tidak terselesaikan dengan teman atau keluarga akan

memicu stressor yang berlebihan. Apabila seseorang mengalami stressor

yang berlebihan namun mekanisme kopingnya buruk, maka kemungkinan

besar sesorang akan mengalami gangguan jiwa.

2.3 Patogenesis dan Patofisiologi Gangguan Jiwa

a. Patogenesis Gangguan Jiwa

Kondisi saat sebelum sakit pada pasien gangguan jiwa berlangsung

kurang lebih selama 1 bulan. Gangguan yang terjadi dapat berupa gejala

psikotik, antara lain halusinasi, delusi, disorganisasi proses berfikir,

gangguan bicara, gangguan perilaku yang terkadang disertai dengan

kelainan neurokimiawi. Penderita gangguan jiwa biasanya mengalami

minimal 2 gejala, yaitu gangguan afek dan gangguan peran. Serangan yang

terjadi pada gangguan jiwa biasanya terjadi secara berulang (Yoseph,

2011). Serangan yang terjadi pada gangguan jiwa biasanya berupa

perasaan khawatir berlebihan terhadap hampir semua aspek kehidupan,

perasaan lelah berlebihan yang tidak disebabkan karena faktor kelelahan

fisik, i ritable atau mudah tersinggung, dan gejala fisik seperti kaku otot,

pegal-pegal, gangguan tidur atau sulit merasa santai. Ketika penderita


mengalami gangguan tersebut terkadang penderita mengabaikannya yang

berakibat pada bertambah parahnya gangguan yang dialami oleh penderita.

Pada penderita gangguan jiwa, biasanya mengalami gangguan

terhadaptingkat kesadaran dan kognisi, emosi atau perasaan, perilaku

Analisis Faktor-Faktor motorik, proses berpikir, persepsi atau

penginderaan, dan kemampuan bicara dan bahasa.Pada proses pemulihan

yang terjadi pada penderita gangguan jiwa terdapat 5 tahapan, antara lain:

 Tahap I: Perasaan terjebak (stuck) dimana penderita merasa tidak

mau atau tidak mampu dalam menerima bantuan ataupun

menghadapi masalah.

 Tahap II: Bersedia menerima bantuan. Pada tahap ini penderita

ingin menjauh atau menghindar dari masalah dan berharaporang

lain akan bisa membantu dalam mengatasi masalah.

 Tahap III: Percaya. Pada tahap ini penderita mulai percaya bahwa

mereka dapat membuat perubahan atau perbaikan dalam hidupnya.

Penderita mulai melihat ke masa depan tentang apa yang

diinginkan serta menjauh dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Penderita mulai melakukan hal-hal atas keinginan sendiri untuk

mencapai tujuan mereka dan tetap bersedia menerima bantuan

orang lain.

 Tahap IV: Belajar mengenai bagaimana membuat pemulihan diri

penderita dapat menjadi suatu kenyataan. Ini adalah proses trial

and error dimana dukungan dan semangat merupakan hal yang

dibutuhkan dalam tahap ini.


 Tahap V: Kemandirian yang dicapai secara bertahap dari proses

belajar hingga pada akhirnya mencapai suatu titik Analisis Faktor-

Faktor mereka mampu mengelola sesuatu tanpa bantuan dari orang

lain (Tirtojiwo, 2012). Ketika pada penderita gangguan jiwa yang

telah melalui proses pemulihan, mereka akan memasuki tahap

recovery dimana mereka mampu menerima dan mengakui dirinya

sendiri sebagai mana adanya. Selain itu, penderita gangguan jiwa

juga sudah mampu untuk bersikap terbuka dan sportif, memiliki

semangat dan motivasi, percaya diri, mampu mengendalikan

emosi, mampu bersosialisasi dengan masyarakat dan tidak takut

untuk menghadapi tantangan serta berusaha mencari jalan keluar

untuk mengatasi masalah yang dihadapi (Tirtojiwo, 2012).

b. Patofisiologi Gangguan Jiwa

Penderita yang mengalami gangguan jiwa memiliki ciri-ciri

biologis yang khas terutama pada susunan dan struktur saraf pusat, dimana

penderita biasanya mengalami pembesaran ventrikel ke bagian kiri.

Ciri lainnya pada penderita yakni memiliki lobusfrontalis yang

lebih kecil dari rata-rata orang yang normal. Penderita yang mengalami

gangguan jiwa dengan gejala takut serta paranoid (curiga) memiliki lesi

pada daerah Amigdala sedangkan pada penderita skizofrenia memiliki lesi

pada area Wernick’s dan area Brocha bahkan terkadang disertai dengan

Aphasia serta disorganisasi dalam proses berbicara.Analisis Faktor-Faktor

Kelainan pada struktur otak atau kelainan yang terjadi pada sistem kerja

bagian tertentu dari otak juga dapat menimbulkan gangguan pada


kejiwaan. Sebagai contoh, masalah komunikasi di salah satu bagian kecil

dari otak dapat mengakibatkan terjadinya disfungsi secara luas. Hal ini

akan diikuti oleh kontrol kognitif, tingkah laku, dan fungsi emosional yang

diketahui memiliki keterkaitan erat dengan masalah gangguan kejiwaan.

Beberapa jenis gangguan pada struktur otak yang berakibat pada gangguan

jiwa, antara lain:

1. Gangguan pada cortex cerebral yang memiliki peranan penting dalam

pengambilan keputusan, pemikiran tinggi, dan penalaran dapat dilihat

pada penderita waham.

2. Gangguan pada sistem limbik yang berfungsi mengatur perilaku

emosional, daya ingat, dan proses dalam belajar terlihat pada penderita

perilaku kekerasan dan depresi.

3. Gangguan pada hipotalamus yang berperan dalam mengatur hormon

dalam tubuh dan perilaku seperti makan, minum, dan seks dapat

terlihat pada penderita bulimia, anoreksia, dan disfungsi seksual.

Kerusakan-kerusakan yang terjadi pada bagian otak tertentu juga dapat

mengakibatkan gangguan jiwa. Kerusakan tersebut, antara lain:

1. Analisis Faktor-Faktor Kerusakan pada lobus frontalis yang

menyebabkan kesulitan dalam proses pemecahan masalah dan

perilaku yang mengarah pada tujuan, berfikir abstrak, perhatian

dengan manifestasi gangguan psikomotorik.

2. Kerusakan pada Basal Gangglia dapat menyebabkan distonia dan

tremor.
3. Gangguan pada lobus temporal limbic akan meningkatkan

kewaspadaan, distractibility, gangguan memori (short time).

2.4 Tanda dan Gejala Gangguan Jiwa

Tanda dan gejala yang muncul pada pasien dengan gangguan jiwa

menurut Maramis tahun 2010 diantaranya :

a. Normal dan Abnormal

Abnormal berarti menyimpang dari yang normal. Seseuatu dikatakan

abnormal apabila terdapat suat norma, dan seseorang tersebut telah

menyimpang dari batas-batas norma

b. Gangguan Kesadaran

Kesadaran mrupakan kemampuan individu dalam mengadakan

pembatasan terhadap lingkungannya serta dengan dirinya sendiri

(melalui panca inderanya).apabila kesadaran tersebut baik maka

orientasi (waktu, tempat, dan orang) dan pengertian yang baik serta

pemakaian informasi yang masuk secara efektfif (melalui ingatan dan

pertimbangan). Kesadaran menurun adalah suatu keadaan dengan

kemampuan persepsi, perhatian dan pemikiran yang berkurang secara

keseluruhan (secara kwantitatif). Kesadaran yang berubah atau tidak

normal merupakan kemampuan dalam mengadakan hubungan dengan

dunia luar dan dirinya sendiri sudah terganggu dalam taraf tidak sesuai

kenyataan.

c. Gangguan Ingatan

Ingatan berdasarkan tiga proses yaitu, pencatatan atau regristasi

(mencatat atau meregristasi sesuatu pengalaman didalam susunan saraf


pusat); penahanan atau retensi (menyimpan atau menahan catatan

tersebut) ; dan pemanggilan kembali atau “recall” (mengigat atau

mengeluarkan kembali catatan itu). Gangguan ingatan terjadi apabila

terdapat gangguan pada salah satu atau lebih dari ketiga usnsur diatas.

d. Gangguan Orientasi

Gangguan orientasi atau Disorientasi timbul sebagai akibat gangguan

kesadarandan dapat menyangkut waktu, tempat, atau orang. Gangguan

Afek dan Emosi. Afek ialah nada perasaan, menyenangkan atau tidak

(seperti kebanggan, kekecewaan, kasih sayang) yang menyertai suatu

pikiran dan biasanya bermanifestasi afek ke luar dan disertai oleh banyak

komponen fisiologik. Emosi adalah manifestasi fek ke luar dan dsertai

oleh banyak komponen fisiologi dan berlansung relatif tidak lama.

Seseorang dikatakan telah mengalami gangguan afek atau emosi yaitu

dapat berupa depresi, kecemasan, eforia, anhedonia, kesepian,

kedangkalan, labil, dan ambivalensi.

e. Gangguan Psikomotor

Psikomotor merupakan gerakan badan yang dipengaruhi oleh keadaan

jiwa, gangguan psikomotor dapat berupa :

1) Hipokinesia atau hipoaktivitas : gerakan atau aktivitas berkurang

2) Stupor Katatonic : reaksi terhadap lingkungan sangat berkurang,

gerakan dan aktivitas menjadi sangat lambat.

3) Katalepsi : mempertahankan posisi tubuh secara kaku posisi badan

tertentu.
4) Fleksibilitas serea : memetahankan posisi badan yang dibuat padanya

oleh orang lain.

5) Hiperkinesia : pergerakan atau aktivitas yang berlebihan.

6) Gaduh gelisah katatonik : aktivtas motorik yang kelihatannya tidak

bertujuan, yang berkali-kali dan seakanakan tidak dipengaruhi oelh

rangsangan dari luar .

7) Berisikap aneh : dengan sengaja mengambil sikap atau posisi badan

yang tidak wajar

8) Grimas : miik yang aneh dan ebrulang-ulang

9) Stereotype : gerakan salah satu anggota badan yang berkalikali dan

tidak bertujuan.

2.5 Jenis Ganguan Jiwa

Menurut International Classification of Diseases (ICD) seperti yang

tercantum dalam Depkes (2003) menggolongkan gangguan jiwa menjadi

beberapa jenis, yaitu:

a. Gangguan mental organik

Gangguan mental organik adalah suatu kelompok gangguan jiwa

yang disebabkan oleh adanya gangguan yang terjadi pada organ lain

diluar otak tetapi gangguan tersebut mempengaruhi fungsi dan kerja otak

(Admin, 2011).

b. Gangguan mental dan perilaku akibat gangguan mental simptomatik

merupakan komponen psikologi yang diikuti gangguan fungsi

secara badaniah.c.Skizofrenia Skizofrenia menurut PPDGJ III adalah

gangguan psikosis yang ditandai oleh distorsi pikiran dan persepsi yang
mendasar dan khas serta afek yang tidak wajar atau tumpul (Maslim,

2001). Patel (2001) menyebutkan beberapa ciri khas dari skizofrenia,

antara lain: depresi dan tidak ada keinginan dalam menjalani hidup, sering

mengeluhkan dan melakukan hal-hal yang aneh, gelisah, agresif, Analisis

Faktor-Faktor merawat diri dan menjaga kebersihan diri, dan sering

berhalusinasi.

c. Gangguan suasana perasaan (Depresi)

Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan kejiwaan yang

mendapat perhatian khusus karena jumlah penderitanya yang bertambah

setiap waktunya. WHO memprediksikan pada tahun 2020 di negara-

negara berkembang depresi akan menjadi penyakit mental yang paling

banyak dialami dan depresi berat akan menjadi penyebab kedua terbesar

kedua setelah serangan jantung (Lubis, 2009). Beberapa ciri yang khas

pada penderita depresi, antara laintidak ingin bersosialisasi dengan orang

lain (menarik diri), kehilangan semangat hidup dan tidak ada harapan

akan masa depan, merasa bersalah dan rendah diri, dan terkadang merasa

lebih baik mati sehingga sering mencoba melakukan tindakan bunuh diri

(Patel, 2001).

d. Ansietas atau kecemasan

Kecemasan adalah keadaan seseorang yang bereaksi terhadap

adanya ancaman atau kondisi yang menganggu baik secara nyata maupun

khayal, dan biasanya seseorang yang mengalami kecemasan disebabkan

adanya ketidakpastian dimasa mendatang (Lubis, 2009). Ciri khas

kecemasan menurut Patel (2001), antara lain: jantung berdetak lebih cepat
dan tubuh gemetar, merasa takut dan terlalu khawatir terhadap sesuatu,

pikirannya seolah-olah mati. terkadang kehilangan kontrol diri,

menghindari penyebab cemas, sulit tidur, dan cenderung memikirkan

kecemasan tersebut dalam waktu yang lama.

e. Gangguan makan, gangguan tidur, dan disfungsi seksual

f. Retardasi mental

Retardasi mental merupakan keadaan perkembangan kejiwaan

seseorang yang terhenti atau tidak lengkap, terutama ditandai dengan

terjadinya hendaya keterampilan selama masa perkembangan, sehingga

berpengaruh pada tingkat kecerdasan secara keseluruhan, seperti

kemampuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosial.

g. Gangguan brevaza, gangguan membaca, gangguan berhitung, dan

autisme.

h. Gangguan hiperkinetik dan gangguan tingkah laku.

2.6 Klasifikasi Gangguan Jiwa

Sistem klasifikasi pada ICD (International Classification of Disease)

dan DSM (Diagnostic and Sttistical Manual of Mental Disorer)

menggunakan sistem kategori. ICD menggunakan sistem aksis tunggal

(uniaksis), yang mencoba menstandartkan diagnosis menggunakan definisi

deskriptif dari berbagai sindrom, serta memberikan pertimbangan untuk

diagnosa banding. Kriteria diagnosis pada DSM menggunakan sistem


multtiaksis, yag menggambarkan berbagai gejala yang harus ada agar

diagnosis dapat ditegkakan. Multiaksisi tersebut meliputi sebagai berikut :

 Aksis 1 : sindroma klinis dan kondisi lain yang mungkin menjadi

fokus perhatian klinis

 Aksis 2 : gangguan kepribadian dan retardasi mental

 Aksis 3 : kondisi medis secara umum

 Aksisi 4 ; masalah lingkungan dan psikososisal

 Aksis 5 : penilaian fungsi secara global

Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa di Indonesia

(PPDGJ) pada awalnya disusun berdasarkan berbagai klasifikasi pada DSM,

tetapi pada PPDGJ III disusun berdasarkan ICD X. Secara singkat, klasifikasi

PPDGJ III meliputi : F00-R09 : gangguan mental organik (termasuk

gangguan mental simtomatik

2.7 Macam-macam program pengobatan untuk pasien dengan gangguan

jiwa

Pada pasien dengan gangguan jiwa dibutuhkan beberapa pengobatan

untuk memulihkan kondisi jiwanya dan mencegah terjadinya kekambuhan,

beberapa terapi pengobatan pada pasien gangguan jiwa menurut buku Ajar

Keperawatan Jiwa tahun 2015, diantaranya :

a. Psikofarmaka

Psikofarmaka adalah berbagai jenis obat yang bekerja pada susunan saraf

pusat. Efek utamanya pada aktivitas mental dan perilaku, yang biasanya

digunakan untuk pengobatan gangguan kejiwaan. Terdapat banyak jenis


obat psikofarmaka dengan farmakokinetik khusus untuk mengontrol dan

mengendalikan perilaku pasien gangguan jiwa. Golongan dan jenis

psikofarmaka ini perlu diketahui perawat agar dapat mengembangkan

upaya kolaborasi pemberian psikofarmaka, mengidentifikasi dan

mengantisipasi terjadinya efek samping, serta memadukan dengan

berbagai alternatif terapi lainnya.

b. Kejang Listrik

Terapi kejang listrik adalah suatu prosedur tindakan pengobatan pada

pasien gangguan jiwa, menggunakan aliran listrik untuk menimbulkan

bangkitan kejang umum, berlangsung sekitar 25–150 detik dengan

menggunakan alat khusus yang dirancang aman untuk pasien. Pada

prosedur tradisional, aliran listrik diberikan pada otak melalui dua

elektroda dan ditempatkan pada bagian temporal kepala (pelipis kiri dan

kanan) dengan kekuatan aliran terapeutik untuk menimbulkan kejang.

Kejang yang timbul mirip dengan kejang epileptik tonik-klonik umum.

Namun, sebetulnya yang memegang peran penting bukanlah kejang yang

ditampilkan secara motorik, melainkan respons bangkitan listriknya di

otak yang menyebabkan terjadinya perubahan faali dan biokimia otak

c. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)

Terapi aktivitas kelompok (TAK) merupakan terapi yang bertujuan

mengubah perilaku pasien dengan memanfaatkan dinamika kelompok.

Cara ini cukup efektif karena di dalam kelompok akan terjadi interaksi

satu dengan yang lain, saling memengaruhi, saling bergantung, dan

terjalin satu persetujuan norma yang diakui bersama, sehingga terbentuk


suatu sistem sosial yang khas yang di dalamnya terdapat interaksi,

interelasi, dan interdependensi. Terapi aktivitas kelompok (TAK)

bertujuan memberikan fungsi terapi bagi anggotanya, yang setiap

anggota berkesempatan untuk menerima dan memberikan umpan balik

terhadap anggota yang lain, mencoba cara baru untuk meningkatkan

respons sosial, serta harga diri. Keuntungan lain yang diperoleh anggota

kelompok yaitu adanya dukungan pendidikan, meningkatkan kemampuan

pemecahan masalah, dan meningkatkan hubungan interpersonal.

d. Terapi Kognitif

Terapi kognitif adalah terapi jangka pendek dan dilakukan secara teratur,

yang memberikan dasar berpikir pada pasien untuk mengekspresikan

perasaan negatifnya, memahami masalahnya, mampu mengatasi perasaan

negatifnya, serta mampu memecahkan masalah tersebut.

e. Terapi Keluarga

Terapi keluarga adalah suatu cara untuk menggali masalah emosi yang

timbul kemudian dibahas atau diselesaikan bersama dengan anggota

keluarga, dalam hal ini setiap anggota keluarga diberi kesempatan yang

sama untuk berperan serta dalam menyelesaikan masalah. Keluarga

sebagai suatu sistem sosial merupakan sebuah kelompok kecil yang

terdiri atas beberapa individu yang mempunyai hubungan erat satu sama

lain dan saling bergantung, serta diorganisasi dalam satu unit tunggal

dalam rangka mencapai tujuan tertentu.

f. Terapi Lingkungan
Terapi lingkungan adalah lingkungan fisik dan sosial yang ditata agar

dapat membantu penyembuhan dan atau pemulihan pasien. Milleu

berasal dari Bahasa Prancis, yang dalam Bahasa Inggris diartikan

surronding atau environment, sedangkan dalam Bahasa Indonesia berarti

suasana. Jadi, terapi lingkungan adalah sama dengan terapi suasana

lingkungan yang dirancang untuk tujuan terapeutik. Konsep lingkungan

yang terapeutik berkembang karena adanya efek negatif perawatan di

rumah sakit berupa penurunan kemampuan berpikir, adopsi nilai-nilai

dan kondisi rumah sakit yang tidak baik atau kurang sesuai, serta pasien

akan kehilangan kontak dengan dunia luar.

g. Terapi Perilaku

Perilaku akan dianggap sebagai hal yang maladaptif saat perilaku

tersebut dirasa kurang tepat, mengganggu fungsi adaptif, atau suatu

perilaku tidak dapat diterima oleh budaya setempat karena bertentangan

dengan norma yang berlaku. Terapi dengan pendekatan perilaku adalah

suatu terapi yang dapat membuat seseorang berperilaku sesuai dengan

proses belajar yang telah dilaluinya saat dia berinteraksi dengan

lingkungan yang mendukung.

2.8 Macam-macam Program pengobatan pada pasien gangguan jiwa

Dalam menunjang tercapainya kesembuhan tidak hanya terapi yang

dibutuhkan, tetapi juga program pengobatan pada pasien gangguan jiwa,

menurut Psychiatric-Mental Health Nursing tahun 2015 macammacam

pengobatan pada pasien gangguan jiwa diantaranya :


a. Pengobatan rawat inap dirumah sakit

Perawatan psikiatri rawat inap disebuah rumah sakit merupakan cara

utama untuk orang dengan penyakit mental. Unit psikiatri menekankan

terapi bicara atau interaksi antara pasien dengan staf dan lingkungan

yang ada. Terapi lingkungan juga mrupakan salah satu aspek dalam

pengobatan rawat inap dirumah sakit untuk membantu pasien dalam

menstabilkan pasien dengan gangguan jiwa yang lebih akut. Dalam init

rawat inap ditujukan untuk mengidentifikasi gejala dan ketrampilan

dalam menangani gejala yang muncul, serta mengidentifikasi masalah

jangka panjang untuk menjalani terapi rawat jalan.

b. Pengobatan rawat jalan

Rawat jalam adalah salah satu unit kerja dirumah sakit atau suatu

pelayanan kesehatan yang melayani pasien berobat jalan dan tidak lebih

dari 24 jam pelayanan, termasuk seluruh prosedur diagnostik dan

terapeutik. Pelayanan rawat jalan merupakan pelyanan kepada pasien

untuk observasi, diagnosa pengobatan, rehabilitasi medik dan peayanan

kesehatan lainnya yang bersifat umum, spesialistik, sub spesialistik yang

dilaksanakan di suatu rumah sakit atau layanan kesehatan tanpa tinggal

rawat inap (Agustiawan & Andri ) Salah satu program dalam rawat

jalan adalah rehabilitasi kejiwaan yang mengacu pada layanan yang

dirancang untuk mempromosikan proses pemulihan untuk orang dengan

penyait mental. Program rawat jalan bertujuan untuk mengontrol gejala

dan memanajemen pengobatan untuk pemberdayaan dan pningkatan


kualitas hidup. Pelayanan rawat jalan lebih mengedepankan komunitas

yang berbasis masyarakat.

2.9 Manfaat Rawat Jalan pada pasien dengan ganggan jiwa

Rawat jalan merpakan salah satu program dalam proses pemulihan

kondisi kejiwaa n yang terganggu pasca rawat inap, menurut Psychiatric

Mental Health Nursing edisi ke-5 tahun 2015 menyebutkan tujuan dilakukan

rawat jalan diantaranya :

a. Pemulihan dari kondisi gangguan jiwa

b. Peningkatan kualitas hidup

c. Terwujudnya komunitas yang terintregasi

d. Meningkatkan kemandirian pasca rawat inap

e. Penurunan penerimaan pasien dirumah sakit

f. Perawatan berkelanjutan

g. Mencegah kekambuhan

h. Mencegah pasien putus obat

i. Peningkatan kesehatan fisik

2.10 Definisi Kepatuhan

Kepatuhan merupakan suatu istilah yang dipakai untuk menjelaskan

ketaatan pada tujuan yang telah ditentukan dan mengacu pada tingkat pasien

melaksanakan tingkah laku dan pengobatan yang disarankan (Rut &

Damansia, 2015).

2.11 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Rawat Jalan pada

Pasien Gangguan Jiwa


Suatu program pengobatan sangat membutuhkan kepatuhan dari setiap

pasien, baik itu pengobatan jangka panjang maupun jangka panjang.

Pengobatan rawat jalan pada pasien gangguan jiwa merupakan pegobatan

yang rentan terhadap kepatuhan, seringkali pasien merasa jenuh untuk

melakukan pengobatan terus menerus dan kemudian tidak patuh pada

pengbatan. Menurut CI Otpataku et all tahun 2015 menyebutkan faktorfaktor

yang mempengaruhi kepatuhan pengobatan rawat jalan pada pasien gangguan

jiwa diantaranya :

1. Wawasan atau pengetahuan

Pengetahan atau wawasan mengenai suatu penyakit yang sedang dialami

oleh seorang pasien merupakan hal penting dalam melaksanakan

kepatuhan pengobatan rawat jalan.untuk menghindari keadaan sakit,

seseorang diharapkan mengetahui bagaimana cara menjaga kesehatannya

dan mempertahankan kondisi tersebut agar tidak terjadi kekambuhan.

2. Motivasi dari diri sendiri

Dalam menjalankan pengobatan rawat jalan yang intensif seesorang

membutuhkan motivasi dari dirinya sendiri, seperti semangat untuk

kesembuhannya, mengupayakan diri agar tidak putus asa dalam program

pengobatannya, serta melawan rasa bosan dengan pengobatan yang

panjang. Kesembuhan baik secara jasmani maupun rohani merupakan

sesuatu yang harus dimiliki oleh tiap-tiap individu untuk menghasilkan

kualitas hidup yang baik sehingga dapat menjalankan hidup didalam

masyarakat sesuai perannya masingmasing ( Andriani & Kahirul, 2016 ).

3. Dukungan dari Keluarga


Dukungan keluarga sangat penting terhadap pengobatan pasien gangguan

jiwa, karena pada umumnya seesorang dengan gangguan jiwa belum

mampu mengatur dan mengetahui jadwal kapaan ia harus berobat.

Keluarga harus selalu membimbing dan mengarahkan agar seseorang

dengan gangguan jiwa untuk dapat berobat dengan benar dan teratur.

Dukungan keluarga yang bisa diberikan kepada pasien meliputi dukungan

emosional yaitu dengan memberikan kasih sayang dan sikap mengahrgai

yang diperlukan klien, dukungan informasional yaitu dengan memberikan

nasihat dan pengarahan kepada klien, dan dukungan penilaian mmberikan

pujian kepada klien jika mau diarahkan untuk berobat ( Karmila, Dhian, &

Herawati, 2016)

4. Tenaga Kesehatan Yang Profesional

Tenaga kesehatan profesional yang melayani pasien dengan gangguan jiwa

harus mampu memberikan wawasan tentang gangguan jiwa dan selalu

melakukan pengawasan terhadap pasiennya, serta dapat menunjukan

perilaku dan sikap yang baik saat memberikan pelayanan kepada pasien

dengan gangguan jiwa sehingga dapat terus melaksanakan pengobatan.

Tenaga ksehatan khusunya seorang perawat sebagai tenaga keehatan

profesional mempunyai kesempatan yang paling besar untuk memberikan

pelayanan kesehatan khususnya pelayanan yang komprehensif dengan

membantu pasien memnuhi kebutuhan dasar yang holistik (Anton, 2011).

Bukan hanya perawat namun juga dokter ataupun seluruh aspek dalam

layanan kesehatan harus mampu memberikan wawasan, konseling,

memberikan dukungan, pengawasan terhadap perkembangan kondisinya,


serta dapat memperlakukan pasien dengan baik, ramah, dan peduli

(Okpataku, 2015).

5. Stigma Positif Dari Masyarakat

Prasangka dan stigma buruk yang menyertai pasien gangguan jiwa

menyebabkan kesulitan yang dihadapi pasien gangguan jiwa

bertambah.begitupun sebaliknya stigma baik dan penerimaan serta

perlakuan yang baik dari masyarakat membantu pasien gangguan jiwa

beserta kelurganya dalam mengahdapi masalah yang muncul dan

mengurangi beban secara subyektif maupun beban obyektif, serta

memotivasi dalam proses kesembuhan. Adanya dukungan dari

masyarakat membuat individu akan merasa diperdulikan, diperhatikan,

merasa tetap percaya diri, tidak mudah putus asa, tidak minder, merasa

dirinya bersemangat, merasa ikhlas dengan kondisi, sehingga merasa lebih

tenang dalam mengadapi suatu masalah ( Fauziah & Latipun, 2016).

6. Agama dan Kepercayaan

Agama membantu proses self-regulation atau pengaturan diri. Dilihat dari

sudut pandang psikologis, self-regulation akan membuat individu

bertigkah laku sesuai dengan aturan-aturan atau tujuan yang ingin

dicapainya tersebut. Oleh karena itu jika dikaitkan dengan hubungannya

dengan kesehatan, agama akan memeberikan berbagai aturan untuk

menjalani hidup yang sehat. Idividu dengan konsep agama yang positif

memiliki kemungkinan lebih kecil untuk mengalami depresi ( Anton,

2011).