Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu penyakit tidak menular yang banyak ditemukan
pada masyarakat saat ini salah satunya adalah hipertensi yang diawali
pre-hipertensi. World Health Organization (WHO) mencatat pada
tahun 2012 sedikitnya 839 juta kasus hipertensi, diperkirakan menjadi
1,15 milyar pada tahun 2025 atau sekitar 29% dari total penduduk
dunia, dimana penderitanya lebih banyak pada wanita (30%)
dibanding pria (29%). Secara nasional berdasarkan hasil Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menunjukkan tingginya
prevalensi penyakit tidak menular, dimana hipertensi yang diawali
menempati urutan pertama sebesar 31,7%. 1
KB merupakan salah satu strategi untuk mengurangi kematian
ibu khususnya ibu dengan kondisi 4T yaitu terlalu muda (dibawah usia
20 tahun), terlalu tua (diatas usia 35 tahun), terlalu dekat jarak
kehamilan (< 24 bulan) dan terlalu banyak anak (> 4 anak). Setiap
wanita berhak memperoleh informasi dan mempunyai akses terhadap
metode KB yang mereka inginkan, meliputi keefektifan, keamanan,
keterjangkauan, dan juga metode pengendalian kehamilan yang tidak
bertentangan dengan hukum dan perundang-undangan yang berlaku.2
Menurut World Health Organization (WHO) (2014) penggunaan
kontrasepsi telah meningkat di banyak bagian dunia, terutama di Asia
dan Amerika Latin dan terendah di Sub-Sahara Afrika. Secara global,
pengguna kontrasepsi modern telah meningkat tidak signifikan dari
54% pada tahun 1990 menjadi 57,4% pada tahun 2014. Secara
regional, proporsi pasangan usia subur 15-49 tahun melaporkan
penggunaan metode kontrasepsi modern telah meningkat minimal 6
tahun terakhir. Di Afrika dari 23,6% menjadi 27,6%, di Asia telah
meningkat dari 60,9% menjadi 61,6%, sedangkan Amerika latin dan
Karibia naik sedikit dari 66,7% menjadi 67,0%. Pengguna kontrasepsi
di dunia menurut World Health Organization (WHO) lebih dari 100 juta
wanita menggunakan kontrasepsi yang memiliki efektifitas, dengan
pengguna kontrasepsi hormonal lebih dari 75% dan 25%
menggunakan non hormonal.3
Data dan informasi profil kesehatan tahun 2018 jumlah peserta
KB aktif di Indonesia adalah 38.343.931 jiwa. Peserta KB aktif
menurut jenis kontrasepsi yaitu peserta KB aktif kondom 1.24%,
peserta KB aktif pil 17.24%, peserta KB aktif implan 7.20%, peserta
KB aktif IUD 7.35%, peserta KB aktif MOW 2.76%, peserta KB aktif
MOP 0,50%, dan peserta KB aktif suntik 63.71%.4
Alat kontrasepsi yang paling banyak digunakan di Indonesia
adalah alat kontrasepsi suntik. Menurut Meilani, et all. (2010), alat
kontrasepsi suntik ada 2 jenis yaitu suntikan kombinasi yang diberikan
secara intramuskuler dan efektif bekerja selama 4 minggu, serta
suntikan progestin yang diberikan 3 bulan sekali pada bokong yaitu
musculus gluteus maximus.5
Berdasarkan data profil kesehatan di Indonesia peserta KB
suntik untuk 3 tahun terkahir yaitu tahun 2016 jumlah peserta KB aktif
suntikan 47.96%, tahun 2017 jumlah peserta KB aktif suntikan
62.77%, dan tahun 2018 jumlah peserta KB aktif suntikan 63.71%.
Data tersebut menunjukkan jumlah peserta KB baru dan KB aktif
suntikan setiap tahunnya mengalami peningkatan. 2,4,6
Hasil pencatatan dan pelaporan Badan Kependudukan
Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di Sulawesi Selatan tahun
2015 jumlah peserta KB baru suntikan 106.422 (50,17%) dan peserta
KB aktif suntikan 460.690 (47,15%). Tahun 2016 jumlah peserta KB
baru suntikan 100.775 (50,89%) dan peserta KB aktif suntikan
480.337 (48,42%). Dan pada tahun 2017 jumlah peserta KB baru
suntikan 98.912 (52,40%) dan peserta KB aktif suntikan 497.598
(50,15%).7
Data peserta KB baru dan KB aktif suntikan untuk kota
Makassar berdasarkan hasil pencatatan dan pelaporan BKKBN
Sulawesi Selatan tahun 2015 jumlah peserta KB baru suntikan 19.079
(48,95%) dan peserta KB aktif suntikan 53.200 (43,64%). Tahun 2016
jumlah peserta KB baru suntikan 15.493 (45,32%) dan peserta KB
aktif suntikan 53.404 (41,34%). Dan pada tahun 2017 jumlah peserta
KB baru suntikan 19.131 (46,70%) dan peserta KB aktif suntikan
51.813 (39,18%).7
Adapun data yang diperoleh dari Puskesmas Kassi-Kassi
Makassar tahun 2017 peserta KB suntikan berjumlah 10.300 orang,
tahun 2018 peserta KB suntikan sebanyak 10.985 orang dan tahun
2019 untuk bulan Januari – November peserta KB aktif Suntikan
sebanyak 7.718 orang dengan suntik DMPA sebanyak 3.101
(40,17%).8
Proporsi pemakai kontrasepsi suntik di Indonesia cukup besar
yaitu 63,71% dikarenakan akses untuk memperoleh pelayanan
suntikan relatif lebih mudah sebagai akibat tersedianya jaringan
pelayanan sampai di tingkat desa atau kelurahan sehingga dekat
dengan tempat tinggal peserta KB. Semua jenis kontrasepsi memiliki
kelebihan dan kekurangan. Efek samping kontrasepsi suntik yang
paling utama gangguan pola haid 9.1% sedangkan efek yang lain
tidak kalah pentingnya adalah adanya peningkatan tekanan darah
3.1% dan peningkatan berat badan 4.3%.4,9
Menurut penelitian Warsini (2018) alat kontrasepsi suntik 1 bulan
maupun 3 bulan sama-sama dapat meningkatkan tekanan darah.
Menurut Rukanda (2004) bahwa efek samping yang sering terjadi
pada akseptor kontrasepsi suntik adalah kenaikan tekanan darah. Hal
ini disebabkan oleh karena kurangnya pengeluaran air dan natrium
akhirnya terjadi retensi cairan. Oleh karena itu tekanan darah perlu
diukur sebelum dan ketika mengunakan kontrasepsi. Menurut Bella
Tendean (2017) penelitian yang ia lakukan sesuai dengan teori yang
menjelaskan bahwa penyempitan dan penyumbatan oleh lemak dapat
memacu jantung untuk memompa darah lebih kuat lagi agar dapat
memasok kebutuhan darah ke jaringan. Hal tersebut mengakibatkan
peningkatan tekanan darah, sehingga diketahui bahwa salah satu
faktor yang menjadi pendukung munculnya tekanan darah tinggi
apabila kontrasepsi digunakan dalam jangka waktu panjang .5,10,11
Hipertensi dapat ditanggulangi dengan dua cara yaitu dengan
cara farmakologi dan non farmakologi. Penatalaksanakan secara
farmakologi yaitu dengan mengunakan obat-obatan kimiawi.
Penanganan secara non farmakologis yaitu terapi komplementer
(Yuliani, 2013). Tanaman herbal umum digunakan untuk mengobati
penyakit hipertensi antara lain adalah Advokad, Labu Siam,
Mengkudu dan Seledri (Wibowo 2015). Buah labu siam (Sechium
edule) mengandung beberapa senyawa kimia yaitu alkaloid, saponin,
dan flavonoid. Salah satu senyawa aktif yang terdapat pada labu siam
(Sechium edule) adalah flavonoid. Flavonoid memiliki efek hipotensi
dengan mekanisme menghambat aktivitas ACE, serta sebagai
diuretik. Buah Labu Siam juga kaya akan kalium. Kalium berguna bagi
tubuh untuk mengendalikan tekanan darah, sebagai terapi darah
tinggi, serta membersihkan karbondioksida di dalam darah. 12,13
Menurut beberapa hasil penelitian yang dilakukan oleh Etri Yanti
(2015) perasan labu siam efektif dalam menurunkan tekanan darah
pada penderita hipertensi, Raudhatul Munawassalmiah (2018)
pemberian ekstrak labu siam (Sechium edule) berpengaruh terhadap
penurunan tekanan darah pasien hipertensi dan Indah Jayani (2016)
mengatakan ada pengaruh pemberian jus labu siam terhadap
penurunan tekanan darah pada ibu hamil dengan preeklampsi.12,13,14
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka penulis tertarik
untuk membahas lebih lanjut tentang “Pengaruh Labu Siam Terhadap
Penurunan Tekanan Darah Pada Akseptor Suntik Depo Medroxy
Progesterone Acetate (DMPA) di Wilayah Kerja Puskesmas Kassi-
Kassi Kota Makassar Tahun 2019” dalam bentuk Skripsi.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut, maka
permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini ialah bagaimana
pengaruh pemberian labu siam terhadap penurunan tekanan darah
pada akseptor suntik Depo Medroxy Progesterone Acetate (DMPA) di
Wilayah Kerja Puskesmas Kassi-Kassi Kota Makassar Tahun 2019.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh Labu Siam terhadap penurunan tekanan darah pada
akseptor suntik Depo Medroxy Progesterone Acetate (DMPA) di
Wilayah Kerja Puskesmas Kassi-Kassi Kota Makassar Tahun
2019.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui
sejauh mana pengaruh Labu Siam terhadap penurunan tekanan
darah pada akseptor suntik Depo Medroxy Progesterone Acetate
(DMPA) di Wilayah Kerja Puskesmas Kassi-Kassi Kota Makassar
Tahun 2019.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini di harapkan dapat menjadi salah satu
sumber informasi bagi segala instansi, terkhususnya instansi
kesehatan sebagai bahan pertimbangan agar pemberian Labu
Siam pada akseptor suntik Cyclofem dengan peningkatan tekanan
darah lebih dapat diperhatikan dan dikembangkan dengan baik.
2. Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu
pengetahuan, sebagai bahan bacaan, dan sumber informasi bagi
pelajar, mahasiswa, dan peneliti selanjutnya.
3. Manfaat Bagi Peneliti

Bagi peneliti, penelitian yang dilakukan ini sebagai wadah


untuk mengaplikasikan ilmu yang dimiliki, menambah wawasan
serta utntuk menambah pengalaman diri khususnya tentang
permasalahan efek samping suntik cyclofem berupa peningkatan
tekanan darah.