Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

Perkembangan yang sangat cepat ilmu dan teknologi IPTEK) Kedokteran


umumnya, khususnya bidan bedah dalam memberikan pelayanan yang berkualitas
lebih baik, memaksa kita segenap perawat untuk selalu menambah ilmu pengetahuan
dan keterampilan dalam bidang yang kita geluti sehari-hari. Salah satu tekhnologi
yang sangat berkembang dan perlu menjadi perhatian sangat besar dalam proses
penyembuhan atau tindakan untuk mengatasi suatu penyakit adalah dengan proses
pembedahan atau operasi.
Pembedahan dapat didefenisikan sebagai seni dan pengetahuan untuk
mengatasi penyakit, injuri dan deformitas melalui operasi atau instrument. Prosedur
pembedahan mencakup interaksi antara pasien, ahli bedah dan perawat dengan
beberapa tujuan mencakup : diagnosa, terapi, palliative, kosmetik, prevensi dan
eksplorasi.
Pembedahan merupakan prosedur medis bersifat invasive untuk diagnosis
atau pengobatan penyakit, trauma atau deformitas. Walau pembedahan merupakan
tindakan medis, perawat mempunyai peran penting dan aktif dalam memberikan
asuhan kepada pasien sebelum, selama dan sesudah pembedahan. Asuhan yang
bersifat kolabotive dan asuhan keperawatan mandiri secara bersama-sama
dilaksanakan untuk mencegah komlikasi dan meningkatkan pemulihan secara
optimal.
Pelaksanaan asuhan keperawatan dalam kamar operasi hanya bias
dilaksanakan apabila ada kerjasama antar tim medis, dan tim kesehatan lainnya yang
menjaga etika dan bekerja sesuai dengan uraian tugas masing-masing. Olehnya itu hal
ini sangat penting diterapkan dan kedisiplinan dari masing-masing tenaga di kamar
operasi. Selain dari pelaksanaan asuhan keperawatan keberhasilan dari proses
keperawatan di kamar operasi menjadi tujuan utama untuk mencegah munculnya
masalah baru dan menghindari adanya ganjaran hukum atau tuntutan masyarakan
akan adanya mal praktek yang dilakukan oleh tim di kamar operasi tersebut.

1
Selain dari perlunya kedisiplinan oleh para tim dalam kamar operasi, perlu
pula adanya pelatih untuk dapat mengambil keputusan dalam lingkup praktik
keperawatan sebagai wujud tanggung jawab. Tanggung jawab mempunyai implikasi
tanggung gugat dengan mempertahankan standar keperawatan kamar bedah pada
tingkat yang tinggi sebagai aspek legal dan kewajiban moral dari perawat kamar
bedah. Keahlian professional perawat bedah selalu berubah disebabkan perubahan
teknologi.
Kebutuhan masyarakat terhadap pelyanan keperawatan kamar bedah terus
meningkat, masyarakat dapat memperoleh informasi tentang pembedahan dari medis
masa dan internet. Masyarakat sudah sadar hukum, perawat sangat rentang
memperoleh tuntutan sehubungan dengan kualitas pelayanan keperawatan tersebut.
Oleh karena hal tersebut diatas maka petugas kamar bedah harus selalu
mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan kamar bedah
diantaranya etika dan job description di kamar bedah.

2
BAB II
PERMASALAHAN

Teori perawatan manusia hubungannya dengan transaksi yang penting antra


pemberi dan penerima pelayanan untuk meningkatkan dan melindungi keberadaan
pasien termasuk keluarganya serta mempengaruhi penyembuhan pasien. Hal ini
terkait dengan pengalaman sehat-sakit pasien mengalami dan menghadapi situasi
yang membuat stress.
Tindakan bedah adalah ancaman potensi maupun actual kepada integritas
orang, dapat membangkitkan reaksi baik fisiologi maupun psikologis. Reaksi stress
fisiologi berhubungan langsung dengan bedah tapi dapat mempengaruhi seluruh dari
proses penyembuhan pasien. Dalam kondisi seperti ini selayaknya perawatan yang
diberikan dapat menjadi tanggun jawab semua personil dalam kamar operasi.
Berdasarkan beberapa pernyataan tersebut maka, penulis akan membahas
bagaimana etika kerja dan job description perawat kamar bedah ?

3
BAB III
PEMBAHASAN

A. Etika Kerja Di Kamar Bedah


1. Pengertian

Etika (Yunani Kuno: "ethikos", berarti "timbul dari kebiasaan") adalah


cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas. Etika mencakup
analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung
jawab. Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika (studi konsep
etika), etika normatif (studi penentuan nilai etika), dan etika terapan (studi
penggunaan nilai-nilai etika).
Etika kerja adalah nilai-nilai / normal tentang sikap perilaku / budaya
yang baik yang telah disepakati oleh masing-masing kelompok profesi di
kamar operasi. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomro 32 Tahun
1996 tentang Tenaga Kesehatan dalam bagian pertama tentang standr profesi
pasal 21 ayat (1) dan (2).
2. Tujuan
Agar anggota tim melaksanakan kewajiban dan tnggung jawbnya dengan baik
serta penuh kesadaran terhadap pasien / keluarga.
3. Ruang Lingkup
a. Persetujuan Operasi
Persetujuan operasi dari pasien atau keluarga merupakan hal yang mutlak
diperlukan sebelum proses pembedahan dilaksanakan untuk
menghindarkan tim bedah/rumah sakit dari tuntutan hukum bila ada hal-
hal yang terjadi sehubungan dengan operasi yang dilakuakn serta untuk
melindungi pasien dari mal praktek.
Setiap tindakan pembedahan kecil, sedang maupun tindakan pembedahan
besar harus ada persetujuan operasi secara tertulis (imformed consent).
1) Pengertian imformed consent
Istilah imformed consent berasal dari imformed berarti telah
mendapat informasi / penjelasan / keterangan, sedangkan concent

4
berati suatu persetujuan yang diberikan setelah mendapat informasi
dan penjelasan lengkap, akurat dan valid. Menurut Pasal 1 huruf (a)
Peraturan Menteri Kesehatan RI No.585/Men.Kes/Per/IX/1989.
Informed Consent (Persetujuan Tindakan Medik) diartikan sebagai
pernyataan setju ijin dari seseorang (pasien) atau keluarganya yang
diberikan secara bebas, rasional, sdar tanpa paksaan (Voluntary)
tentang tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadapnya sesudah
mendapat informasi atau penjelasan cukup tentang tindakan
kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut. Hal ini
berati bahwa persetujuan tindakan medik itu merupakan suatu proses
komunikasi panjang antara dokter-pasien, yang diawali dengan
informasi dan penjelasan tentang tujuan dan prospek keberhsilan
tindakan medik, tata cara tindakan medik, resiko, altrenatif medis,
prognosis, diagnosis, kemudian diakhiri dengan terapi terbaik tentang
tindakan keperawatan yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut.
Hal ini berarti bahwa persetujuan tindakan medik itu
merupakan suatu proses komunikasi panjang antara dokter dan pasien
yang diawali dengan informasi dan penjelasan tentang tujuan dan
prospek keberhasilan tindakan medik, tata cara tindakan medik, resiko,
alternatif tindakan medis, prognosis, diagnosis kemudian diakhiri
dengan terapi terbaik yang dipilih dan disepakati bersama antara
dokter dan pasien. Jadi tidak hanya sekedar meminta pasien untuk
menandatangani formulir persetujuan tindakan medik oleh
dokter/rumah sakit. Penandatangan formulir hanya merupakan
kelanjutan atau pengukuhan dari apa yang telah disepakati atau
disetujui bersama antara dokter-pasien. Sesuai dengan peraturan
MenKes No 585/Menkes/Per/IX/1989 tentang persetujuan tindakan
medik, menentukan bahwa semua tindakan medis yang akan
dilakukan, harus mendapat persetujuan dari pasien dan atau
keluarganya yang berhak. Baik dalam bentuk ekspressed (lisan

5
maupun tertulis) maupun implied or tacit consent (diam-diam).
Tindakan tertulis tertentu yang mengandung resiko tinggi,
persetujuannya harus tertulis serta tandatangani oleh pasien atau
keluarganya yang berhak.
Pasien gawat darurat/pasien dalam keadaan tidak sadar/pingsan
yang memerlukan tindakan medis segera guna menyelematkan
nyawanya serta tidak didampingi oleh keluarga pasien yang berhak
memberikan persetujuan atau penolakan tindakan medik tertentu tidak
diperlukan persetujuan tindakan medik, tetapi setelah pasien sadar,
dokter harus segera memberikan informasi medik yang telah
dilakukan.
Korelasi antara hak informasi dan hak persetujuan, adalah
keduanya mempunyai hubungan yang erat, satu dengan yang lainnya
saling menunanjang, artinya persetujuan yang diberikan oleh psien,
tanpa didasari pada informasi yang adekuat, akurat dan lengkap, maka
persetujuannya tidak mempunyai kekuatan hukum sam sekali, karena
persetujuan yang diberikan terdapat unsur penipuan dan kehilapan.
Sebaliknya informasi yang lengkap apapun, tetapi tidak dilandasi oleh
persetujuan pasien maka dokter tidak mempunyai hak untuk
melakukan tindakan medik tertentu, apabila dokter memaksa
melakukannya, maka ia harus bertanggungan jawab secara hukum.
2) Landasan hukum PERTINDIK
Sebagaimana telah disinggung pada uraian terdahulu bahwa
dalam diri manusia dapat ditemukan asas-asas yang merupakan hak-
hak aslinya, dimana hak-hak tersebut muncul sebagai hak untuk
menentukan nasib sendiri. Hak-hak ini dapat ditemukan untuk
menentukan nasib sendiri. Hak-hak ini dapat ditemukan dasarnya
dalam pasal 25 ”United Nations Universal Declaration of Human
Rights 1848”. Khusus tentang hak informasi dan hak menentukan
dalam dokumen internasional, Undang-undang Kesehatan Nomro

6
23/1992, Peraturan Pemerintah Nomor 585/Menkes/Per/IX/1989
tentang persetujuan tindakan medik, serta Keputusan Dirjen YanDik
No. HK.00.06.3.5.1866 tentang pedoman persetujuan tindakan medik
serta dapat ditemukan juga dalam kepustakaan.
Untuk itu dikutipkan landasan hukum persetujuan tindakan
medik sebagai berikut menurut :
 UU Nomor 23 Tahun 1992, pasal 53 ayat (@)
 PP Nomor 32 Tahun 1996, pasal 22 (1) huruf (a).
 PERMENKES Nomor 585/Menkes/Per/IX/1989 tentang
PERTINDIK Bab II tentang Persetujuan : pasal 2 ayat (1), (2), (3),
(4), Pasal 3 ayat (1), (2), (3). Pasal 4 ayat (1), (2), (3). Pasal 5 yat
(1), (2), (3) dan (4), pasal 6 ayat (1), (2), (3). Pasal 7 ayat (1), (2),
(3).
 SK Dirjen YANDIK Nomor HK.00.06.3.5.1866 tentang
Pertindik.
b. Tata tertib kamar operasi
Tata tertib dikamar operasi disusun dengan tujuan agar semua petugas dan
anggota tim bedah memahami dan manfaat ketentuan-ketentuan dapat
berjalan dengan lancar. Tata tertib yang perlu ditaati antara lain :
1) Semua orang yang msuk kamar operasi, tanpa kecuali
wajib memakai baju khusus sesuai dengan ketentuan. Sesuai dengan
yang telah diatur dalam Undang-Undang No.1 Tahun 1970 Tentant
Keselamatan Kerja BAB IX Pasal 13.
2) Semua petugas memahami tentang adanya ketentuan
pembagian area kamar operasi dengan segala konsekuensinya dan
memahami ketentuan tersebut.
3) Setiap petugas harus memaahami dan melaksanakan
tehnik aseptik sesuai dengan peran dan fungsinya.
4) Semua anggota tim harus melaksanakan jadwa harian
operasi yang telah dijadwalkan oleh perawat kamar bedah.

7
5) Perubahan jadwal-jadwal operasi harian yang dilakuakn
atas indikasi kebutuhan dan kondisi pasien harus ada persetujuan
antara ahli bedah dan perawat kamar bedah.
6) Perbatalan jadwal harus dijelaskan oleh ahli bedah
kepada pasien/keluarga.
7) Setiap petugas kamar operasi harus sesuai dengan
uraian tugas yang diberlakukan.
8) Setiap perawat di kamar operasi harus melaksanakan
asuhan keperawatan peforatif sesuai dengan peran dan fungsinya, agar
dapat memberikan asuhan secara parifurna (medical Record).
9) Setiap petufas melaksanakan pemeliharaan alat-alat
ruangan kamar operasi dengan penuh tanggung jawab dan disiplin.
10) Semua tindakan yang dilakukan dan peristiwa yang
terjadi selama pembedahan terhadap pihak yang tidak berkepentingan.
11) Anggota tim bedah mempunyai kewajiban untuk
menjamin kerahasiaan informasi/data pasien yang diperoleh pada
swaktu pembedahan terhdap pihak yang tidak berkepentingan.
12) Khusus pada pasien dengan pembiusan regional
(lumbal anastesi) perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : timb
bedah harus bicara seperlunya karena pasien dapat melihat dan
mendengar keadaan sekitarnya.
13) Ahli anastesi harus menjelaskan kepada pasien /
keluarga tentang efek obat bius yang digunakan dan hal-hal yang harus
ditaati.
c. Pencatatan dan pelaporan
Pencatatan dan pelaporan merupakan salah satu aspek dari suatu proses
akhir dalam perioperatif yang mencerminkan pertanggunga jawaban dari
tim bedah dalam pelaksanan pembedhan kepada psien, masyarakat dan
rumah sakit. Sesuai dengan landasan yuridis pelayanan kesehatan di

8
rumah sakit diatur dalam Permenkes No.749ª/1989 tentang Medical
Record.
Adapun pencatatan dan pelaporan tersebut meliputi :
1) Asuhan keperawatan
2) Registrasi psien kamar bedah
3) Pemakaian obat-obatan harus ditulis dengan lengkap
dan jelas formulir yang telah tersedia.
4) Peristiwa/kejadian luar biasa harus segera dilporkan
sesuai dengan sistem yang berlaku.
5) Catatan kegiatan rutin.
6) Catatan pengiriman bahan pemeriksaan laboratorium
harus ditulis lengkap, jelas dan lengkap pada formulir yang telah
tersedia.
7) Laporan operasi harus ditulis lengkap, jelas dan singkat
oleh ahli bedah/operator.
8) Laporan anastesi harus ditulis lengkap, jelas dan tidak
singkat oleh dokter ahli anasthesi / perawat anasthesi.
d. Keselamatan dan keamanan kerja
Keselamatn dan keamanan kerja (sebagaimana yang telah diatur dalam
Undang-Undang Kesehatan Tahun 1992 Pasal 23 ayat (1), (2), (3) dan (4)
ditujukan kepada pasien, petugas dan alat meliputi hal-hal sebagai berikut:
1) Keselamatan dan keamanan pasien, semua anggota tim
bedah harus memperhatikan kembali :
a) Identitas pasien
b) Rencana tindakan
c) Jenis pemberian anastesi yang kan dipakai
d) Faktor-faktor alergi
e) Respon pasien selama perioperatif
f) Menghindari pasien dari bahaya fisik akibat
penggunaan alat/kurang teliti.

9
2) Keselamatan dan keamanan petugas :
a) Melakukan pemeriksaan secara periodik sesuai
ketentuan
b) Beban kerja harus sesuai dengan kemapuan dan
kondisi kesehatan petugas diatur dalm Peraturan Menteri Tenaga
Kerja dan Transmigrasi RI No.Per.03/MEN/1982 tentang
Pelayanan Kesehatan Kerja Pasal 1 bagian (a).
c) Perlu adanya keseimbangan antara
kesejahteraan, penghargan dan pendidikan berkelanjutnan
(undang-undang Kesehtan Tahun 1992 Pasal 51 ayat (1).
d) Melakukan pembinaan secara terus menerus
dalam rangka mempertahankan hasil kerjanya.
e) Membina hubungan kerja sam yang interm dan
antar profesi dalam mencapai tujuan tindakan pembedahan.
3) Keselamatan dan keamanan alat-alat
a) Menyediakan pedoman/manual bahasa
Indonesia tentang cara penggunaan alat-alat dan
mengantungkannya pada alat tersebut.
b) Memeriksa secara rutin kondisi alat dan
memberi label khusus untuk alat rusak.
c) Semua petugas harus memahami penggunaan
alat dengan tepat.
d) Melaksanakan pelatihan tentang cara
penggunaan dan pemeliharan alat secara rutin dan berkelanjutan.
e) Melaksanakan pelatihan tentang cara
penggunaan dan pemeliharaan dilakukan oleh petugas IPSRS.
f) Memeriksa alat ventilasi udara agar berfungsi
dengan baik.
g) Memasang simbol khusus untuk daerah rawan
bahaya atau mempunyai resiko mudah terbakar.

10
h) Menggunakan diatermi tidak boleh bersama
dengan pemakaian obat bius ether
i) Memeriksa lat pemadam kebakaran agar dalam
keadaan siap pakai.
j) Pemakaian secara rutin alat elektro medis yang
dilakuakn oleh petugas IPSRS.

4) Program jaminan mutu


a) Melaksanakan evalusi pelayaran di kamar
operasi melalui macam-macm, audit.
b) Melakukan survailens infeksi nosokomial secara
periodik dan berkesinambungan.

B. Job Description Perawat Kamar Bedah


1. Jenis Tenaga
a. Tim Bedah, terdiri dari :
1) Ahli bedah
2) Asisten ahli bedah
3) Perawatan instrumen (scrub nurse)
4) Perawat sirkuler (circulation nurse)
5) Ahli/perawat anastesi
b. Staf perawatan kamar operasi
1) Perawat kepala kamar operasi
2) Perawat pelaksana
c. Tenaga lain terdiri dari :
1) Pekerja Kesehatan
2) Tata Usaha
3) Penunjang medis
2. Beberapa Uraian Tugas dari tiap-tiap jabatan
a. Perawat Kepala Kamar Operasi

11
1) Nama Jabatan : Perawat Kepala Kamar Operasi
2) Pengertian : seorang tenaga perawat profesional yang
bertanggung jawab dan berwenang dalm mengelola kegiatan
pelayanan keperawatan di kamar operasi.

3) Persyaratan
a) Pendidikan
 Diutamakan sarjana muda
keperawatan/lulusan D.III Keperawatan
 Memiliki sertifikasi manajemen
Keperawatan
 Memiliki sertifikasi tehnik Kamar
Operasi (dasar dan lanjutan)
b) Mempunyai pengalaman kerja di Kamar
Operasi minimal 5 tahun
c) Memiliki kemampuan kepemimpinan
d) Sehat
4) Tanggung Jawab : secra fungsional bertanggung jawab
kepada kepala bisang perawatan, melalui kepala seksi perawatan.
Secara operasional bertanggung jawab kepada kepala instalasi kamar
operasi / Kepala instalasi.
5) Uraian tugas
a) Melaksanakan fungsi perencanaan (P1)
 Menerima input kegiatan pembedahan dari ruang
rawat/poloklinik/dokter/luar.
 Menyususn rencana kegiatan pembedahan berdasarkan
jenis, jumlah dan kemampuan kamar operasi. Perubahan

12
perencanaan dimungkinkan atau masalah kebutuhan pasien
atau alasan lain yang rasional.
 Menentkan macam dan jumlah alat yang dipergunakan
serta kegunaannya dalam pelayanan pembedahan.
 Membagi harian dengan memperhatikan jumlah dan tingkat
kemampuan tenaga keperawatan.
 Menyususn program pengembangan staf.
 Bersama staf menentukan jumlah pegawai yang dibutuhkan
di kamar operasi.
 Menyususn program alat dan obat sesuai kebutuhan.
 Beberapa aktif menyusun prosedur / tata kerja kamar
operasi (termasuk menyusun pedoman penggunaann alat).
b) Melaksanakan fungsi penggerakan dan
pelaksanaan (P2)
 Memantau seluruh ataf dalam penerapan dan pelaksanaan
peraturan/ethnik yang berlaku di kamar operasi.
 Mengatur pelayanan pembedahan sesuai dengan kebutuan
tim dan kemampuan tenaga kamar operasi.
 Membuat jadwal kegiatan (time schedule)
Pemanfaatan tenaga seefektif mungkin
Mengatur pekerjaan secara merata
Menerapkan kebijaksanaan (policy) yang berlaku.
 Memantau pelaksanaan tugas yang dibebankan
 Mengatur pemanfaatan sumber daya secara efektif dan
efisien
Mengadakan pelatihan untuk pegawai secara
berkesinambungan.
Memberi orientasi kepada pegawai baru di kamar
operasi

13
Mengatur pengadaan, pemeliharaan dan
penggunaan bahan-bahan/alat-alat di kamar operasi.
 Menciptakan suasana kerja yang harmonis.
c) Melaksanakan fungsi pengawasan,
pengendalian dan penilaian (P3)
 Mengawasi pelaksanaan tugas masing-masing
pegawai.
 Mengawasi penggunaan alat dan bhan agar
digunakan secara tepat guna dan hasil guna.
 Mempertahankan kelengkpan bahan dan alat.
 Mengatur supaya alat tetap di inventarisasi secra
periodik.
 Mengawasi kegiatan tim bedah sehubungan
dengan perkembangan tindakan yang ada dan mengadakan
peninjauan kembali tentang :
Rencana pelayanan tindakan
pembedahan
Kebutuhan pelayanan pembedahan
Masalah-masalah yang timbul
Fungsi kegiatan pegawai di kamar
operasi.
 Secara kontinyu menganalisa kegiatan
tatalaksana kamar operasi yang ada hubungannya dengan
penggunaan alat/bahan secara efektif dan efisien, dengan jalan
meninjau kembali tentang :
Program kamar operasi
Rencana pengawasan
Penggunaan alat/bahan sesuai dengan
tatalaksana kamar operasi

14
Masalh-masalah yng timbul dalam
menjalankan tatalaksana kamar operasi.
b. Perawat Instrumen/Scrub nurse
1) Nama Jabatan : Perawat Kepala Kamar OpeInstrumen
2) Pengertian : seorang tenaga perawat profesional yang
diberi wewnang dan ditugaskan dalam penegelolaan paket alat
pembedahan, selama tindakan pembedahan berlangsung.
3) Persyaratan
a) Pendidikan
 Berijazah pendidikan formal keperawatan dari semua
jenjang yang diakui oleh pemerintah atau yang berwenang.
 Memiliki sertifikat khusus tehnik operasi.
b) Mempunyai pengalaman kerja di kamar operasi
minimal 2 tahun sebagai circulation nurse.
c) Mempunyai bakat, minat dan iman
d) Berdedikasi tinggi
e) Berkepribadian mantap/emosi stbil
f) Dapat bekerja sama dengan anggota tim
g) Cepat tanggap
4) Tanggung Jawab : Secara administrasi dalam kegiatan
keperawatan, bertanggung jawab kepada perawat kepala kamar
operasi, dan secara operasional/tindakan bertanggung jawab kepada
ahli bedah dan perawat kepla kamar operasi.
5) Uraian tugas
a) Sebelum Pembedahan
 Melakukan kunjungan pasien yang akan dibedah minimal
sehari sebelum pembedahan untuk memberikan penjelasan /
memperkenalkan tim bedah.
 Menyiapkan ruangan operasi dalam keadaaan siap pakai
meliputi :

15
Kebersihan ruang operasi dan peralatan.
Meja mayo/instrumen
Meja operasi lengkap
Lampu operasi
Mesin anastesi lengkap
Suction Pump
Gas medis
 Menyiapkan set instrumen steril sesuai jenis pembedahan.
 Menyiapakan cairan antiseptik / desinfektan dan bahan-
bahan sesuai keperluan pembedahan
b) Saat Pembedahan
 Memperingati ”tim bedah steril” jika terjadi penyimpangan
prosedur aseptik.
 Membantu mengenakan jas steril dan sarung tangan untuk
ahli bedah dan asisten.
 Menata instrumen steril di meja mayo sesuai dengan urutan
prosedur pembedahan.
 Memberikan bahan desinfektan kulit daerah yang akan
disayat
 Memberikan laken steril untuk prosedur draping.
 Memberikan instrumen kepada ahli bedah sesuai urutan
prosedur dan kebutuhan tindakan pembedahan secara tepat dan
benar.
 Memberikan duk steril kepada operator, dan mengambil
kain kassa yang telah digunakan dengan memakai alat.
 Menyiapkan benang jahitan sesuai kebutuhan dalam
keadaan siap pakai.
 Mempertahankan instrumen selama pembedahan dalam
keadaan tersusun secara sistematis untuk memudahkan saat
bekerja.

16
 Membersihkan instrumen dari darah pada saat pembedahan
untuk mempertahankan sterilisasi alat dari meja mayo.
 Menghitung kain kassa, jarum dan instrumen.
 Memberitahukan hasil perhitungan jumlah alat, kain kasa
dan jarum pada ahli bedah sebelum operasi dimulai dan
sebelum luka ditutup lapis demi lapis.
 Menyiapkan cairan untuk mencuci luka
 Membersihkan kulit sekitar luka setelah luka dijahit.
 Menutup luka dengan kain kasa steril.
 Penyiapan bahan pemeriksaan laboratorium/patologi jika
ada.
c) Setelah Pembedahan
 Memfiksasi drain dan kateter (jika terlepas)
 Membersihkan dan memeriksa adanya kerusakan kulit pada
daerah yang dipasang elektroda (wajib dikerjakan)
 Mengganti alat tenun, baju pasien dan penutup serta
memindahkan pasien dari meja operasi kekereta dorong.
 Memeriksa dan menghitung semua instrumen sebelum
dikeluarkan dari kamar operasi.
 Memeriksa ulang catatan dan dokumentasi pembedahan dalam
keadaan lengkap.
 Membersihkan instrumen bekas dengan cara :
Pembersihan awal
Merendam dengan cairan desinfektan yang
mengandung deterjen.
Menyikat sela-sela engsel instrumen
Membilas dengan air mengalir
Mengeringkan.
 Membungkus instrumen sesuai jenis macam, bahan, kegunaan
dan ukuran. Memasang indikator autoclave dan membuat label

17
nama alat-alat (set) pada setiap bungkusan instrumen dan
selanjutnya siap untuk disterilakn sesuai prosedur yang
berlaku.
 Membersihkan kamar operasi setelah tindakan pembedahan
selesai agar siap pakai.
c. Perawat Sirkulasi/circulation nurse
1) Nama Jabatan : Perawat Sirkuler
2) Pengertian : Tenaga perawat profesional yang diberi
wewenang dan tanggung jawab membantu kelancaran pelaksanaan
tindakan pembedahan.
3) Persyaratan :
a) Pendidikan
Berijazah pendidikan formal keperawatan dari semua jenjang, yng
diakui oleh Pemerintah atau yang berwenang.
b) Mempunyai pengalaman kerja dikamar operasi
lebih dari 1 tahun
c) Mempunyai bakat dan minat
d) Berdedikasi tinggi
e) Berkepribadian mantap / emosi stabil
f) Dapat bekerja sama dengan anggota tim
g) Cepat tanggap
4) Tanggung Jawab : secara administrasi dan operasional
bertanggung jawab kepada perawat kepala kamar operasi dan kepada
ahli bedah.
5) Uraian tugas
a) Sebelum pembedahan
 Menerima pasien yang akan dibedah
 Memeriksa dengan menggunkan formulir ”check list”
meliputi :
Kelengkapan dokumen medis antara lain :

18
 Izin operasi
 Hasil pemeriksaan laboratorium terakhir
 Hasil pemeriksaan radiologi/foto rontgen
 Hasil pemeriksaan ahli lain sesuai dengan
kebutuhan.
Klengkapan obat-obat, cairan , alat kesehatan.
Persedian darah (bila diperlukan)
 Memeriksa persiapan fisik
 Melakukan serah terima pasien dan perlengkapan sesuai
isian check list, dengan perwat ruang rawat.
 Memberikan penjelasan ulang kepada pasien sebatas
kewenangan tentang :
Tindakan pembedahan yang akan dilakukan
Tim bedah yang akan menolong
Fasilitas yang ada di dalam kamar bedah, antara lain
lampu operasi dan mesin pembiusan.
Tahap-tahap anastesi
b) Saat Pembedahan
 Mengatur posisi pasien sesuai jenis pembedahan
dan bekerja sm dengan petugas anastesi
 Membuka set steril dengan memperhatikn
tehnik aseptik.
 Mengingatkan tim bedah jika mengetahui
adanya penyimpangan penerapan tenik aseptik.
 Mengikat tali jas steril tim bedah
 Membantu mengukur dan mencatat kehilngn
darah dan cair dengan cara mengetahui, jumlah produksi urine,
jumlah perdarahan, jumlah cairan yang hilang.
Cara menghitung perdarahan :

19
 Berat kassa kering harus
diketahui sebelum di pakai
 Timbang kain kasa basah
 Selisih berat kain kasa basah
dengan kain kasa kering adalah jumlah perdarahan
Cara mengitung pengeluaran jumlah
cairan :
Jumlah cairan dalam botol suction yang berasal dari pasien
diukur dengan menbaca skala angka-angka dalam botol
section tersebut
Cara mengetahui jumlah produksi urine :
Jumlah produksi urine di dalam bag diukur dan dicatat
setiap jam atau secara periodik (normal 1 : 2 cc / kg berat
badan perjam)
 Mencatat jumlah cairan yang hilang dengan cara
menjumlahkan perdarahan yang berasal dari kassa, sectioan
dan urine dikurangi oleh pemakaian cairan untuk pencucian
luka selama pembedahan.
 Melaporkan hasil pemantauan fan pencatatan
kepada ahli anastesi
 Menghubungi petugas penunjang medis
(petugas radiologi, petugas laboratorium) bila diperlukan
selama pembedahan).
 Mengumpulkan dan menyiapkan bahan
pemeriksaan
 Menghitung dan mencatat pemakaian kain kassa
beeekerjasamana dengan perawatn instrumen.
 Mengukur dan mencatat tanda vital
 Mengambil instrumen yang jatuh dengan
menggunakan alat dan memisahkan dari instrumen yang steril.

20
 Memeriksa kelengkapan instrumen dan kain
kassa, bersama perawat instrumen agar tidak tertinggal dalam
tubuh pasien sebelum luka operasi ditutup
 Merawat bayi untuk kasus sectio caesaria.
c) Sestelah pembedahan
 Membersihkan dan merapikan pasien yang sudah selesai
dilakukan pembedahan
 Memindahkan pasien dari meja operasi di kereta dorong
yang telah disediakan.
 Mengatur dan mencatat tanda-tanda vital : TD, N, P, SB
 Mengukur tingkat kesadaran dengan cara memanggil nama
pasien, memberikan stimulasi, memeriksa reaksi pupil.
 Meneliti, menghitung dan mencatat obat-obatab serta
cairan yang diberikan pada pasein.
 Memeriksa kelengkapan dokumen medik antara lain :
Laporan pembedahan
Laporan anastesi
Pengisian formulir Patologi Anatomi (PA)
 Mendokumentasikan tindakan keperawatan selama
pembedahan antara lain :
Identitas pasien :
 Nama pasien
 Umur
 No CM
 Nama tim bedah
 Waktu dan lama pemebedahan
 Jenis pembedahan
 Jenis kasus (bersih, bersih tercemar, tercemar,
kotor)
 Tempat tibdakan

21
 Urutan tindakan pembedahan.
Masalah yang timbul selama pembedahan
Tindakan yang dilakukan
Hasil evaluasi
 Melakukan serah terima dengan perawat / petugas RR
tentang :
Kelengkapan dokumen medik, instruksi pasca bedah
Keadaan umum pasien
Obat-obatan/resep baru.
Membantu perawat instrumen, membersihkan dan
menyususn instrumen yang telah digunakan, kemudian alat
tersebut disterilkan.
Membersihkan slang dan botol suction dari sisa
jaringan serta cairan pasca operasi.
Mensterilkan slang suction yang dipakai langsung ke
pasien.
 Membantu membersihkan kamar bedah setelah tindakan
pembedahan selesai.
d. Perawat Anastesi
1) Nama Jabatan : Perawat Anastesi
2) Pengertian : seorang tenaga perawat profesional yang
diberi wewenang dan tanggung jawab dalam membantu
terselenggaranya pelaksanan tindakan pembiusan di kamar operasi
3) Persyaratan :
a) Pendidikan
Berijazah pendidikan formal D III Keperawatan Anastesi
b) Mempunyai bakat dan minat
c) Berdedikasi tinggi
d) Berbadan sehat
e) Beriman

22
f) Berkepribadian mantap
g) Dapat bekerjasama dengan anggota tim
h) Cepat tanggap
4) Tanggung Jawab : secara administratif dalam kegiatan
keperawatan bertanggung jawab kepada perawat kepala kamar operasi
dan secara operasional bertanggung jawab kepada ahli anastesi/bedah.
5) Uraian tugas :
a) Sebelum pemebedahan
 Melakukan kunjungan pra anastesi untuk menilai status
fisik pasien sebatas tanggung jawabnya.
 Menerima pasien diruang penerimaan kamar operasi
 Menyiapkan alat dan mesin anastesi dan kelengkapan
formulir anastesi
 Menilai kembali fungsi dan keadaan mesin anastesi dan
alat monitoring.
 Menyiapkan kelengkapan meja operasi antara lain :
Pengikat meja operasi
Standar tangan
Kunci meja operasi
Standar penutup kepala (boog)
Standar infus.
 Menyiapkan botol section
 Mengatur posisi meja sesuai tindakan operasi
 Memasang infus/transfusi darah bila diperlukan
 Memeberikan premedikasi sesuai program dokter anastesi
 Mengukur tanda vital dan menilai kembali kondisi pasien.
 Memindahkan pasien ke meja operasi dan memasang sabuk
pengaman
 Menyiapkan obat-obatan bius dan membantu ahli anastesi
dalam proses pembiusan.

23
b) Saat Pembedahan
 Membebaskan jaln nfs dengan cara mempertahankan posisi
endotracheal tube.
 Memenuhi keseimbangan O2 dan CO2 dengan cara
memantau flowmeter pada mesin pembiusan.
 Mempertahankan keseimbangan cairan dengan cara
mengukur dan memnatau cairan tubuh yang hilang selama
pemebedahan antara lain :
Cairan lambung
Cairan perut
Urine
Perdarahan
 Mengukur tanda vital
 Memberi obat-obat sesuai dengan program pengobatan.
 Melaporkan hasil pemantauan kepada dokter ahli
anastesi/bedah.
 Menjaga keamanan psien dari bahaya jatuh
 Menilai hilangnya efek obat anastesi pada pasien
 Melakukan resusitasi pada henti jantung.
c) Setelah Pembedahan
 Mempertahankan jalan nafas pasien
 Memantau tanda-tanda vital untuk megetahui sirkulasi
pernafasan dan keseimbangan cairan.
 Memantau dan mencatat tentang perkembangan pasien
perioperatif
 Menilai respon pasien terhadap efek obat anastesi
 Melengkapi catatan perkembangan psien sebelum, selama,
dan sesudah pembiusan.
 Merapikan dan mengembalikan alat-alat anastesi ketempat
semula agar siap pakai.

24
BAB IV
PENUTUP

Berdasarkan dari pembahasan tentang etika kerja dan job description perawat
di kamar operasi , maka penulis dapat menyimpulkan :
A. Kesimpulan
1. Etika akan berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu
ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah
dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik. Etika kerja adalah nilai-
nilai / normal tentang sikap perilaku / budaya yang baik yang telah disepakati
oleh masing-masing kelompok profesi di kamar operasi.
2. Dalam kamar operasi ada beberapa tenaga yang harus saling
bekerjama diantaranya Tim Bedah, yang terdiri dari : Ahli bedah, Asisten ahli
bedah, Perawatan instrumen (scrub nurse), Perawat sirkuler (circulation
nurse), Ahli/perawat anastesi. Staf perawatan kamar operasi yang terdiri dari
: Perawat kepala kamar operasi, Perawat pelaksana. Tenaga lain terdiri dari :
Pekerja Kesehatan, Tata Usaha, Penunjang medis. Dari tiap-tiap jabatan
mempunyai tanggunjawab dan uraian tugas masing-masing.
B. Saran
1. Perlunya penerapan dan mematuhi segala aturan yang telah ditentukan
dalam bentuk etika di kamar operasi akan menuntun setiap petugas yang ada
menjadi tahu akan pentingnya aplikasi aturan dalam setiap tindakan guna
menghindarkan petugas atau rumah sakit dari tuntunan hukum masyarakat
sebagai penerima jasa pelayanan.
2. Diharapkan adanya kerjasama dari tiap-tiap pelaksana perawatan di
kamar operasi dengan menerapkan atau melaksanakan tugas masing-masing
dengan penuh tanggung jawab sesuai dengan job description yang sudah ada.
Karena pelaksanaan Asuhan Keperawatan akan berhasil apabila ada kerja
sama yang baik antara sesame perawat, tim medis dan tenaga kesehatan
lainnya, karena itu hendaknya kerjasama yang baik ini perlu ditingkatkan

25