Anda di halaman 1dari 9

Golongan umur ini sudah mempunyai daya tahan tubuh yang cukup.

Mereka jarang terjangkit infeksi atau penyakit gizi. Tetapi kebutuhan nutrien

justru bertambah, karena mereka sering melakukan berbagai aktivitas, seperti

bermain di luar rumah, olahraga, pramuka, dan kegiatan sekolah lainnya.

Kebutuhan energi pada golongan umur 10-12 tahun lebih besar daripada golongan

umur 7-9 tahun, karena pertumbuhan yang lebih pesat dan aktivitas yang lebih

banyak. Sejak umur 10-12 tahun kebutuhan energi anak laki-laki berbeda dengan

anak perempuan. Selain itu, anak perempuan yang sudah haid memerlukan

tambahan protein dan mineral besi (Markum, dkk, 2014)

Tujuan pemberian makan pada bayi dan anak adalah : 1) Memberikan

nutrien yang cukup sesuai dengan kebutuhan, yang dimanfaatkan untuk tumbuh

kembang yang optimal, penunjang berbagai aktivitas, dan pemulihan kesehatan

setelah sakit, dan 2) Mendidik kebiasan makan yang baik, mencakup penjadwalan

makan, belajar menyukai, memilih, dan menentukan jenis makanan yang bermutu

(Markum, dkk, 2002).

Makan bersama dengan anggota keluarga tetap dianjurkan untuk menjalin

keakraban keluarga. Beberapa anak kurang menyukai makanan di rumah dan lebih

banyak jajan di luar karena itu harus pandai-pandai memilih dan menghidangkan

makanan di rumah. Namun sewaktu-waktu anak dapat makan di luar bersama

keluarga (Markum, dkk , 2014).

Cara pemberian makan pada anak yang tidak tepat dapat menjadikan anak

sulit makan, contohnya memberikan makanan dengan kasar atau dengan marah-

marah, suka memaksa anak untuk cepat-cepat menghabiskan makanan setiap kali
makan, memberikan makan terlalu banyak, menetapkan banyak aturan yang harus

dilakukan anak pada saat makan, dan waktu yang tidak tepat (Widodo, 2016).

a. Pengaturan Makan pada Anak Usia Sekolah (7-12 Tahun)

Jadwal pemberian makan merupakan kelanjutan dari jadwal masa bayi

dengan sedikit penyesuaian, menjadi sebagai berikut : 3 kali makan utama

(pagi, siang, dan malam/sore), diantaranya diberikan makanan kecil atau

jajanan, dan bila mungkin tambahan susu (Markum, dkk, 2014). Secara lebih

terinci jadwal yang dianjurkan adalah :

Table 1.1 Pola Makanan Anak Usia 7-12 Tahun

Tabel 1.1 Pola 7-9 tahun 9-12 tahun

Makanan Anak Usia BB 23kg(1900 kkal) BB 30 kg(2100 kkal)

7-12 Tahun
Jam pemberian makan g urt g urt
06.00 : susu + gula 200 1 gelas 200 1 gelas

07.00 : nasi (1 telur) 100 ¾gelas 150 1 gelas

10.00 : kue 50 1 butir 50 1 butir

12.00 : 50 1potong 50 1 potong

1) Nasi 150 1 gelas 200 1 ½ gelas

2) hewani 50 1potong 50 1 potong

3) nabati 25 1potong 25 1 potong

4) sayuran 50 ½ gelas 75 ¾ gelas

5) buah 50 1potong 50 1 potong

16.00 : bubur kacang 200 1 gelas 200 1 gelas

hijau 150 1 gelas 150 1 gelas

18.00 : 50 1potong 50 1 potong


1) nasi 25 1potong 25 1 potong

2) hewani 50 ½ gelas 75 75 ¾ gelas

3) nabati 50 1potong 50 1 potong

4) sayuran 200 1 gelas 200 1 gelas

5) buah 20 2 buah 20 2 buah

21.00 : susu gula

biskuit
Sumber : Sub bagian Gizi anak FKUI/RSCM

Keterangan :

a. Dapat diganti dengan makanan penukarnya seperti roti, jagung, kentang,

sagu.

b. Diartikan sumber protein hewani : daging, telur, hati, ikan laut, ikan tawar.

c. Diartikan sumber protein nabati : tahu, tempe, kacang-kacangan.

d. Dapat diganti dengan makanan penukar sebanyak 25 gram.

e. Berat biskuit “Regal” : 8-10 gr/buah

f. Berat biskuit “ Farley” : 15-16 gr/buah

g. Urt : ukuran rumah tangga

h. G : gram

Jenis bahan makanan pokok untuk dihidangkan terdiri atas :

1. Serealia, yang merupakan makanan pokok dan sumber kalori.

Misalnya tepung, beras, ubi, ketela, sagu, jagung.

2. Makanan asal hewan sebagai lauk-pauk dan sumber protein hewan,

seperti telur, daging, jeroan, ikan tawar , ikan laut, dan daging unggas.
3. Sayuran sebagai lauk-pauk. Misalnya kacang-kacangan sebagai

sumber protein nabati, seperti kacang hijau, kacang panjang, daun-

daunan seperti bayam, kangkung, daun ketela, kubis, dan umbi-umbian

seperti wortel, bit (makanan yang telah diolah menjadi tahu dan

tempe).

4. Buah-buahan merupakan sumber vitamin A dan vitamin C, seperti

alpukat, nenas, pisang, jeruk, pepaya, dan mangga (Markum, dkk,

2014).

b. Kecukupan Gizi yang Dianjurkan

Angka kecukupan gizi (AKG) atau Recommended Dietary Allowances

(RDA) adalah banyaknya masing-masing zat gizi yang harus dipenuhi dari

makanan untuk mencukupi hampir semua orang sehat. Tujuan utama

penyusunan AKG ini adalah untuk acuan perencanaan makanan dan menilai

tingkat konsumsi makanan individu/masyarakat ( Almatsier, 2010).

Hardiansyah dan Tambunan (2013) mengartikan Angka Kecukupan

Energi (AKE) adalah rata-rata tingkat konsumsi energi dari pangan yang

seimbang dengan pengeluaran energi pada kelompok umur, jenis kelamin,

ukuran tubuh (berat) dan tingkat kegiatan fisik agar hidup sehat dan dapat

melakukan kegiatan ekonomi dan sosial yang diharapkan. Selanjutnya Angka

Kecukupan Protein (AKP) dapat diartikan rata-rata konsumsi protein untuk

menyeimbangkan protein yang hilang ditambah sejumlah tertentu, agar

mencapai hampir semua populasi sehat (97.5%) di suatu kelompok umur, jenis

kelamin, dan ukuran tubuh tertentu pada tingkat aktivitas sedang.


Table 1.2 Angka kecukupan energi dan protein pada anak usia sekolah

Angka Berat Tinggi Badan Angka Angka

Kecukupan Badan (kg) (kg) Kecukupan Kecukupan

Energi dan Energi Protein

Protein pada (kkal/orang/ha (gram/orang/h

Anak Usia ri) ari)

Sekolah Umur

(tahun)
7-9 25.0 120 1800 45
Pria 35.0 138.0 2050 50

10-12
Wanita 10-12 38 145 2050 50
Sumber : Hardiansyah dan Tambunan (2013) diacu dalam Widya karya

Nasional Pangan dan Gizi VIII, 2004.

1. Menjaga kebersihan gigi dan mulut

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 93 dan 94,

dinyatakan bahwa pelayanan kesehatan gigi dan mulut dilakukan untuk

memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk

peningkatan kesehatan gigi, pencegahan penyakit gigi, pengobatan penyakit

gigi, dan pemulihan kesehatan gigi yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi

dan berkesinambungan dan dilaksanakan melalui pelayanan kesehatan gigi

perseorangan, pelayanan kesehatan gigi masyarakat, usaha kesehatan gigi

sekolah, serta pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin ketersediaan

tenaga, fasilitas pelayanan, alat dan obat kesehatan gigi dan mulut dalam
rangka memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang aman, bermutu,

dan terjangkau oleh masyarakat. (Kemenkes RI, 2012)

Kebersihan mulut dan gigi bertujuan untuk mencegah terbentuknya plak.

Plak adalah transparan dan melekat pada gigi, khususnya dekat dasar kepala

gigi dan melekat pada gigi atau plak merupakan lapisan lengket pada gigi

yang mengandung bakteri dan sisa makanan yang terbentuk pada gigi,

menjelaskan bahwa plak yang menempel pada celah-celah dan fissure gigi

akan menghasilkan zat asam (acis) yang apabila tidak teratur di bersihkan,

secara perlahan akan merusak gigi, plak akan melapisi permukaan enamel

gigi, dan pada akhirnya menyebaban penyakit gusi (periodontal disease). Plak

juga dapat menyebabkan tanggalnya gigi. Menggososk gigi dan flossing dapat

membersihkan plak menempel pada gigi. (Potter, Patricia A, 2005)

Gigi adalah bagian terkeras dari tubuh manusia yang komposisinya bahan

organic dan airnya sedikit sekali, sebagian besar terdiri dari bahan anorganik

sehingga tidak mudah rusak, terletak dalam rongga mulut yang terlindungi dan

basah oleh air liur (Kemenkes RI, 2014)

Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut pada sebagian

besar penduduk Indonesia. Di banyak negara, sebagian besar karies pada anak-

anak masih tidak diobti sehingga mengakibatkan sakit gigi, penyakit pulpa,

ulserasimukosa di jaringan sekitarnya, abses dan fi stula. Kondisi ini dapat

berdampak pada kesehatan umumanak. Di seluruh dunia, karies berkontribusi 15

kali lebih tinggi sebagai beban penyakit disabilityadjusted life year (DALY)

dibandingkan dengan penyakit periodontal. Keterbatasan (disable) berarti rasa

sakit dan ketidaknyamanan serta kurangnya perawatan diri, sering tidak masuk
sekolah, gangguan kognisi, terganggunya kegiatan interpersonal, gangguan tidur

dan berkurangnya energi. (Kemenkes RI, 2012)

Survei Nasional Riskesdas 2007 melaporkan sebesar 75% penduduk

Indonesia mengalami riwayat karies gigi; dengan rata-rata jumlah kerusakan gigi

sebesar 5 gigi setiap orang, diantaranya 4 gigi sudah dicabut ataupun sudah tidak

bisa dipertahankan lagi, sementara angka penumpatan sangat rendah (0,08 gigi per

orang). Juga dilaporkan penduduk Indonesia yang menyadari bahwa dirinya

bermasalah gigi dan mulut hanya 23%, dan diantara mereka yang menyadari hal

itu, hanya 30% yang menerima perawatan atau pengobatan dari tenaga profesional

gigi. Ini berarti effective demand untuk berobat gigi sangat rendah, yaitu hanya

7%. Temuan selanjutnya adalah angka keperawatan yang sangat rendah,

terjadinya keterlambatan perawatan yang tinggi, sehingga kerusakan gigi sebagian

besar berakhir dengan pencabutan. (Kemenkes RI, 2012)

Pendekatan WHO saat ini untuk upaya pelayanan kesehatan gigi dilakukan

dengan pendekatan Basic Package of Oral Care (BPOC) atau Paket Dasar

Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di puskesmas, (Kemenkes RI, 2012) yang

terdiri dari:

a. Penanganan Kegawatdaruratan Gigi dan Mulut (Oral Urgent Treatment/OUT)

yang terdiri atas 3 elemen mendasar:

1) Tindakan mengurangi rasa sakit melalui tindakan pemberian obat-obatan

dan perawatan penambalan gigi

2) Pertolongan pertama infeksi gigi dan mulut serta trauma gigi dan jaringan

penyangga

3) Rujukan untuk kasus-kasus yang kompleks


b. Tersedianya Pasta Gigi yang mengandung fl uoride dengan harga terjangkau

(Aff ordable Fluoride Toothpaste/AFT) dan

c. Penambalan gigi dengan invasi minimal (tanpa bur)/Atraumatic Restorative

Treatment (ART).

Situasi di sebagian besar negara belum berkembang dan sejumlah komunitas

kurang mampu di negara maju membutuhkan perubahan dalam metode pelayanan

kesehatan gigi dan mulut. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut konvensional harus

diganti kan dengan pelayanan yang mengikuti prinsip-prinsip Oral Health Care.

(Kemenkes RI, 2012)