Anda di halaman 1dari 55

MAKALAH

MEMPERTIMBANGKAN RESIKO AUDIT

Disusun untuk memenuhi tugas :


Mata Kuliah : Auditing

Disusun Oleh :
NAMA : DEWA AYU WIDYA ANTARI
NIM : 18.02.1.004
PROGDI : D3 AKUNTANSI

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI SATYA DHARMA


School of Economic with Spritual Insight
SINGARAJA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya
dengan rahmat-Nyalah kami akhirnya bisa menyelesaikan makalah yang berjudul
“Mempertimbangkan Resiko Audit” ini dengan baik tepat pada waktunya.
Tidak lupa kami menyampaikan rasa terima kasih kepada dosen
pembimbing yang telah memberikan banyak bimbingan serta masukan yang
bermanfaat dalam proses penyusunan makalah ini. Rasa terima kasih juga hendak
kami ucapkan kepada rekan kelompok yang telah memberikan kontribusinya baik
secara langsung maupun tidak langsung sehingga makalah ini bisa selesai pada
waktu yang telah ditentukan.
Meskipun kami sudah mengumpulkan referensi untuk menunjang
penyusunan makalah ini, namun kami menyadari bahwa di dalam makalah yang
telah kami susun ini masih terdapat banyak kesalahan serta kekurangan. Sehingga
kami mengharapkan saran serta masukan dari para pembaca demi tersusunnya
makalah lain yang lebih baik lagi. Akhir kata, kami berharap agar makalah ini bisa
memberikan banyak manfaat.

Singaraja, 20 Desember 2019

Penyusun,

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR..................................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL.......................................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang............................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah...................................................................................................... 1
1.3 Tujuan............................................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1.Jenis – jenis Kecurangan.......................................................................................... 3
2.2 Kondisi – kondisi Penyebab Kecurangan..........................................................5
2.3 Menilai Resiko Kecurangan.................................................................................... 8
2.4 Merespon Resiko Kecurangan............................................................................ 18
2.5 Memutakhirkan Proses Penilaian Resiko......................................................27
2.6 Area Resiko Kecurangan Spesifik......................................................................35
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan................................................................................................................. 45
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

ii
BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Di awal abad 21 skandal kecurangan dalam pelaporan keuangan telah
membuka mata dunia tentang betapa besarnya kerugian yang diderita para
investor yang selama ini mengandalkan keputusan yang di ambil
berdasarkan informasi dalam laporan keuangan auditan. Hal ini mendorong
profesi pengauditan untuk melakukan peninjauan ulang berbagai standar
dan ketentuan yang dipandang sudah tidak memadai. Kecurangan dalam
laporan keuangan, sebenarnya sudah sering terjadi.contohna adalah
kecurangan Mckesson-Robbins yang melukiskan bahwa kecurangan
pelaporan keuangan bukan kejadian baru lagi.
Setelah kasus itu terjadi, profesi auditing di Amerika Serikat
menanggapinya dengan membuat standar yang formal untuk prosedur
pengauditan. Sebagai tanggapan atas kasus – kasus kecurangan yang terjadi
di Amerika Serikat, Congress AS menerbitkan Sarbanes – Oxley Act tahun
2002 dan AICPA menetapkan standar auditing khuus yang berkaitan
dengan penilaian dan pendeteksian resiko kecurangan. Standar audit
internasional yang diadopsi oleh IAPI juga mengatur tentang hal yang sama
(SA 240 – Tanggung Jawab Auditor Terkait dengan Kecurangan dalam Suatu
Audit atas laporan Keuangan), yang menjadi acuan utama materi ini. Pada
materi ini, akan dibahas tanggungjawab auditor untuk menilai resiko
kecurangan dan mendeteksi kesalahan penyajian material yang diakibatkan
oleh kecurangan dan menggambarkan daerah – daerah yang rentan
terhadap kecurangan.
1.2. RUMUSAN MASALAH
1.2.1. Apa saja jenis – jenis Kecurangan?
1.2.2. Bagaimana kondisi – kondisi yang menyebabkan Kecurangan?
1.2.3. Menilai Resiko Kecurangan?
1.2.4. Bagaimana cara Merespon Resiko Kecurangan?
1.2.5. Bagaimana cara Memutakhirkan Proses Penilaian Resiko Area Resiko
Kecurangan Spesifik?
1.3. TUJUAN
1
1.3.1. Mendeskripsikan Jenis – jenis Kecurangan
1.3.2. Mendeskripsikan kondisi – kondisi Penyebab Kecurangan
1.3.3. Mendeskripsikan cara Menilai Resiko Kecurangan
1.3.4. Mendeskripsikan cara Merespon Resiko Kecurangan.
1.3.5. Mendeskripsikan cara Memutakhirkan Proses Penilaian Resiko Area
Resiko Kecurangan Spesifik.

2
BAB II PEMBAHASAN

2.1. JENIS – JENIS KECURANGAN


Kecurangan adalah semua ketidakjujuran yang disengaja untuk merampas
milik atau hak orang atau pihak lain. Dalam konteks pengauditan laporan
keuangan, kecurangan didefinisikan sebagai pelaporan keuangan yang
disengaja mengandung kesalahan penyajian. Sebagaimana telah disinggung di
dalam tanggung jawab auditor dalam mendeteksi kesalahan penyajian
material, ada dua jenis kecurangan yang utama, yaitu: pelaporan keuangan
yang mengandung kecurangan dan perlakuan tidak semestinya terhadap asset.

2.1.1. Pelaporan keuangan yang mengandung kecurangan


Adalah suatu kesalahan penyajian atau penghilangan suatu jumlah atau
pengungkapan secara disengaja dengan tujuan untuk menipu pengguna
laporan keuangan. Dalam banyak kasus, kebanyakan berupa pelaporan
kesalahan penyajian jumlah secara sengaja, dibandingkan dengan kesalahan
dalam pengungkapan. Sebagai contoh, WorldCom mengkapitalisasi sebagai
asset tetap dalam jumlah milyaran dollar, yang seharusnya dilaporkan
sebagai beban. Penghilangan jumlah juga agak jarang, tetapi entitas dapat
melaporkan lebih saji pendapatan dengan cara menghilangkan utang usaha
atau liabilitas lainnya.
Kebanyakan kasus pelaporan keuangan yang mengandung kecuragan
menyangkut surat usaha untuk melaporkan pendapatan secara lebih saji
(overstatement) – baik dengan membuat lebih saji asset dan pendapatan atau
dengan menghilangkan liabilitas dan beban, entitas juga bisa dengan sengaja
melaporkan pendapatan secara kurang saji (understatement). Pada entitas
privat, hal semacam ini dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi pajak
penghasilan. Entitas bisa juga secara sengaja melaporkan laba dengan jumlah
lebih rendah ketika laba tinggi sebagai cadangan laba ”cookie jar reserves”
yang bisa digunakan untuk menaikkan laba pada periode yang akan dating.
Praktik semacam itu sering disebut sebagai perataan laba dan manajemen
laba. Manajemen Laba adalah tindakan yang dilakukan secara sengaja oleh
manajemen untuk memenuhi tujuan laba. Perataan Laba adalah suatu
3
bentuk manajemen laba yang dilakukan dengan caramenggeser periode
pendapatan dan beban untuk mengurangi terjadinya fluktuasi dalam laba.
Salah satu teknik untuk meratakan laba adalah dengan menentukan nilai
persediaan serta asset lainnya pada perusahaan yang diakuisisi ketika
akuisisi terjadi, yang berakibat laba yang tinggi ketika kemudian asset
tersebut dijual. Entitas bisa juga secara sengaja membuat lebih saji dengan
cadangan penurunan nilai persediaan dan cadangan kerugian piutang untuk
menghadapi laba yang tinggi.

2.1.2. Perlakuan Tidak semestinya terhadap Aset


Perlakuan tidak semestinya terhadap asset adalah kecurangan yang
menyangkut pencurian asset entitas. Dalam banyak kasus, tapi tidak selalu,
jumlah yang terlibat tidaklah material terhadap laporan keuangan. Namuan
demikian, pencurian asset entitas seringkali memprihatinkan manajemen
walaupun jumlahnya tidak material, karena pencurian yang berjumlah kecil
bisa dengan mudah berkembang menjadi besar sepanjang wajtu.
Istilah perlakuan tidak semestinya terhadap asset pada umumya
digunakan untuk pencurian yang melibatkan pegawai dan pihak internal lain
dalam organisai entitas. Menurut perkiraan Association or Certified
Examiners, di Amerika Serikat rata – rata perusahaan menderita kerugian
5% dari pendapatannya sebagai akibat kecurangan, meskipun banyak juga
dari kecurangan ini melibatkan pihak eksternal, seperti misalnya pencurian
oleh konsumen atau penipuan oleh pemasok.
Perlakuan tidak semestinya terhadap asset biasanya dilakukan pada
tingkat hirarki organisasi yang lebih rendah. Karena manajemn memiliki
otoritas dan pengendalian yang lebih besar terhadap asset entitas,
penggelapan yang melibatkan manajemen puncak bisa mencakup jumlah
yang signifikan. Salah satu contoh ekstrim adalah mantan CEO Tyco
International mendapat sanksi dari SEC karena pencurian asset yang
dilakukannya sebesarlebih dari 100 juta dollar. Survey tentang kecurangan
yang dilakukan oleh Association or Certified Fraud Examiners di Amerika
Serikat menemukan bahwa perlakuan tidak semestinya terhadap asset
merupakan skema kecurangan yang paling umum, namun demikian besarnya
4
kecurangan jauh lebih besar berupa pelaporan keuangan yang mengandung
kecurangan.

2.2. KONDISI – KONDISI PENYEBAB KECURANGAN


Ada sebanyak tiga kondisi yang menyebabkan terjadinya pelaporan keuangan
yang mengandung kecurangan dalam perlakuan tidak semestinya terhadap
asset. Seperti terlihat dalam gambar 9-1, ketiga kondisi tersebut membentuk
yang disebut degan segitiga kecurangan (fraud triangle).
Gambar 9-1 Segitiga Kecurangan

Intensif/Tekanan

Peluang Perilaku / Pembenaran

1. Intensif / Tekanan: Manajemen dan karyawan lain mendapat intensif


atau tekanan untuk melakukan kecurangan.
2. Peluang: Keadaan yang memberi peluang atau kesempatan bagi
manajemen untuk melakukan kecurangan.
3. Perilaku/Pembenaran: Suatu perilaku atau karakter atau
seperangkat nilai etis yang ada, yang mengijinkan manajemen atau
karyawan untuk melakukan tindakan tidak jujur, atau mereka berada
dalam lingkungan yang cukup memberi tekanan yang menyebabkan
mereka membenarkan tindakan tidak jujur.
Pertimbangan penting oleh auditor dalam mengungkap kecurangan adalah
mengidentifikasi faktor – faktor yang meningkatkan risiko terjadinya
kecurangan. Tabel 9-1 memberi contoh faktor – faktor risiko audit untuk
setiap kondisi penyebab kecurangan untuk pelaporan keuangan yang
mengandung kecurangan. Dalam segitiga kecurangan, pelaporan keuangan
5
yang mengandung kecurangan dan perlakuan tidak semestinya terhadap asset
sama – sama dipengaruhi oleh ketiga kondisi di atas, tetapi factor risikonya
berbeda. Yang akan dibahas, antara lain : Pelaporan keuangan yang
mengandung kecurangan dan Perlakuan asset yang tidak semestinya.

2.2.1. Factor – factor risiko untuk pelaporan keuangan yang


mengandung kecurangan.
Berikut tabel factor risikonya, antara lain :
Tabel 9-1 Contoh Faktor – Faktor Risiko untuk
Pelaporan Keuangan yang Mengandung Kecurangan.
TIGA KONDISI KECURANGAN
Intensif/Tekanan Peluang Perilaku/Pembenaran
Manajemen atau karyawan Keadaan menciptakan suatu Suatu perilaku, karakter,
yang lain memiliki intensif peluang bagi manajemen atau adaperangkat nilai etis
atau tekanan untuk untuk membuat laporan yang memungkinkan
melakukan pelaporan keuangan yang mengandung manajemn atau karyawan
keuangan yang mengandung kecurangan. dengan sengaja melakukan
kecurangan. perbuatan tidak jujur atau
mereka berada dalam
lingkungan yang memberi
cukup tekanan yang
menyebabkan mereka
membenarkan tindakan tidk
jujur.

Contoh Faktor Risiko Contoh Faktor Risiko Contoh Faktor Risiko


Kestabilan atau profitabilitas 1. Estimasi akuntansi 1. Komunikasi yang tidak
keuangan terancam oleh signifikan yang efektif atau tidak tepat
kondisi ekonomi, industri, menyangkut dan dukungan nilai
atau operasi entitas. Sebagai pertimbangan dan entitas.
contoh: ketidakpastian yang sulit 2. Mengetahui sejarah
1. Terjadi penurunan diverifikasi. pelanggaran atas Undang
permintaan dari – Undang sekuritasatau
pelanggan dan 2. Tidak efektifnya dewan Undang – Undang dan
meningkatnya kegagalan komisaris dan komite peraturan lainnya.
bisnis baik dalam lingkup audit mengawasi 3. Manajemen melakukan
industri maupun ekonomi pelaporan keuangan. peramalan yang sangat
secara keselurihan. 3. Turnover yang tinggi agresif atau tidak realitas
2. Tekanan yang besar atau tidak efektifnya staf kepada analis, kreditur,
terhadap manajemen akuntansi, audit internal, dan pihak ketiga lainnya.
unuk melunasi ulang atau atau teknologi informasi.
untuk melunasi utang
atau untuk memenuhi 4. Pengendalian internal
persyaratan pinjaman lemah
lainnya. 5. Transksi dengan pihak
3. Kesejahteraan pribadi berelasi yang signifikan.
manajemen atau Dewan
6
Komisaris terancam
secara material oleh
kinerja keuangan entitas.

2.2.2. Faktor – Faktor Risiko untuk Perlakuan Tidak Semestinya


terhadap Aset
Ketiga kondisi yangsama berlaku bagi perlakuan tidak semestinya terhadap
asset. Namun demikian, dalam menilai factor risiko lebih ditekankan pada
tekanan dan peluang individual untuk melakukan pencurian. Berikut tabel 9-
2 berisi contoh factor risiko kecurangan untuk setiap kondisi.
Tabel 9-2 Contoh Faktor – factor Risiko untuk
Perlakuan Tidak Semestinya terhadap Aset
TIGA KONDISI KECURANGAN
Intensif/Tekanan Peluang Perilaku/Pembenaran
Manajemen atau karyawan Keadaan menciptakan suatu Suatu perilaku, karakter,
yang lain memiliki intensif peluang bagi manajemen atau adaperangkat nilai etis
atau tekanan untuk untuk memperlakuakn asset yang memungkinkan
memperlakukan asset secara tidak semestinya. manajemn atau karyawan
secara tidak semestinya. dengan sengaja melakukan
perbuatan tidak jujur atau
mereka berada dalam
lingkungan yang memberi
cukup tekanan yang
menyebabkan mereka
membenarkan tindakan tidk
jujur.

Contoh Faktor Risiko Contoh Faktor Risiko Contoh Faktor Risiko


1. Kewajiban keuangan 1. Adanya kas dalam jumlah 1. Tidak peduli
pribadi menciptakan besar atau persediaan dengan
tekanan kepada mereka yang kecil bentuknya kebutuhan
yang memiliki akses tappi mahal harganya, untuk
atas asset yang rentan atau banyak diminta. memonitor
terhadap pencurian 2. Lemahnya pengendalian atau
2. Hubungan yang tidak internal atas aset karena mengurangi
harmonis antara adanya kelemahan dalam risiko
manajemen dan hal – hal berikut : pencurian
karyawan yang - Pemisahan tugas atau asset
memiliki akses atas pemeriksaan 2. Tidak peduli
asset yang rentan independen dengan
memotivasi karyawan - Daftar pemasok pengendalian
untuk menggelapkan untuk mendeteksi internal
aset tersebut. Sebagai pemasok yang tidak dengan
contoh : terotorisasi. melanggar
- Promosi, - Penyaringancalon pengendalian
kompensasi. Atau pegawai yang yang ada atau
7
penghargaan lain memiliki akses gagal untuk
yang tidak sesuai terhadap asset memperbaiki
dengan harapan. - Wajib cuti bagi defisiensi
pegawai yang pengendalian
memiliki akses internal yang
terhadap asset. telah
diketahui.

2.3. MENILAI RISIKO KECURANGAN


Standar audit (SA 240) memberi pedoman bagi auditor untuk menilai risiko
kecurangan. Auditor harus menjaga tingkat tingkat skeptisisme professional
ketika ia mempertimbangkan sejumlah informasi, termasuk factor - factor
risiko kecurangan, untuk mengidentifikasi dan merespon risiko kecurangan.
Auditor bertanggungjawab untuk merespon risiko kecurangan dengan
merencanakan dan melaksanakan audit untuk mendapatkan keyakinan
memadai bahwa kesalahan penyajian material, baik yang disebabkan oleh
kesalahan maupun kecurangan, bisa terdeteksi.
1. Skeptisisme Profesional
Berdasarkan SA 200, auditr harus mempertahankan skeptisisme
profesional sepanjang audit, menyadari kemungkinan bahwa kesalahan
penyajian material yang diakibatkan oleh kecurangan dapat terjadi,
walaupun pengalaman masa lalu auditor menunjukkan adanya
kejujuran dan integritas manajemen entitas dan pihak yang
bertanggungjawab atas tata kelola.
Untuk mempertahankan skeptisisme professional diperlukan
pengajuan pertanyaan secara berkelanjutan apakah informasi dan bukti
audit yang telah diperoleh memberi petunjuk bahwa kesalahan
penyajian material yang diakibatkan oleh kecurangan meungkin terjadi.
Hal tersebut meliputi mempertimbangankan keandalan informasi yang
akan digunakan sebagai bukti audit dan pengendalian atas penyiapan
dan pemeliharaannya, jika relevan.
Walaupun auditor tidak dapat diharapkan untuk mengabaikan
pengalaman masa lalu tentang kejujuran dan integritas manajemen dan
pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola, skeptisisme professional
auditor penting terutama dalam mempertimbangkan risiko kesalahan

8
penyajian material yang diakibatkan oleh kecurangan, karena kondisi
mungkin sudah berubah.
 Penilaian Kritis atas Bukti Audit
Ketika menemukan informasi atau kondisi lain yang
mengindikasikan adanya kesalahan penyajian material yang
diakibatkan oleh kecurangan, auditor harus dengan cermat
menanggapi permasalahannya, meminta tambahan bukti yang
diperlukan, dan berkonsultasi dengan anggota tim yang lain.
Auditor harus hati – hati untuk tidak membenarkan ataupun
berasumsi bahwa suatu kesalahan penyajian adalah kejadian
yang terisolasi.
Suatu audit yang dilakukan berdasarkan Atandar audit
jarang mencakup pembuktian keaslian dokumen, karena auditor
tidak terlatih atau diharapkan dapat menjadi ahli dalam
pembuktian keaslian seperti itu. Namun, ketika auditor
mengidentifikasi kondisi yang menyebabkan auditor percaya
bahwa sebuah dokumen tersebut telah dimodifikasi tetapi tidak
diungkapkan kepada auditor, maka prosedur yang mungkin
dilaksanakan untuk engidentifikasi lebih lanjut adalah :
a. Mengkonfirmasi secara langsung kepada pihak ketiga
b. Menggunakan tenaga ahli untuk menilai keaslian
dokumen.
2. Sumber Informasi Untuk Menilai Risiko Kecurangan
Gambar 9-3 meringkas informasi yang dibutuhkan untuk menilai risiko
kecurangan. Ada lima sumber informasi untuk menilai kecurangan,
yaitu :
1. Pembahasan Di antara Tim Perikatan (Tim audit) :
 Memberikan kesempatan bagi anggota tim perikatan yang lebih
berpengalaman untuk berbagi wawasan mereka tentang
bagaimana dan di area mana laporan keuangan mungkin rentan
terjadi kesalahan material yang diakibatkan oleh kecurangan.
 Memungkinkan auditor untuk mempertimbangkan respons yang
tepat terhadap kerentanan tersebut dan untuk menentukan
9
anggota tim perikatan yang akan melaksanakan prosedur audit
tertentu.
 Memperkenankan auditor untuk menentukan bagaimana hasil
prosedur audit akan dibagi diantara tim perikatan dan bagaimana
merepons dugaan kecurangan yang mungkin menjadi perhatian
auditor.

Diskusi tersebut dapat meliputi hal-hal sebagai berikut:


1. Bagaimana mereka meyakini bahwa laporan keuangan entitas rentan
terhadap kesalahan penyajian material yang diakibatkan oIeh
kecurangan. Hal ini mencaRup pertimbangan-pertimbangan tentang
faktor-faktor eksternal maupun internal yang diketahui
mempengaruhi entitas sehingga bisa:
 Menciptakan suatu insentif atau tekanan bagi manajemen
untuk melakukan kecurangan.
 Memberi peluang untuk melakukan kecurangan.
 Mengindikasikan suatu kultur atau lingkungan yang
memungkinkan manajemen membenarkan kecurangan.
2. Bagaimana manajemen bisa melakukan dan menyembunyikan
pelaporan keuangan yang mengandung kecurangan.
3. Bagaimana seseorang bisa memperlakukan tidak semestinya
terhadap aset entitas.
4. Bagaimana auditor bisa merespons terhadap kerentanan kesalahan
penyajian material yan diakibatkan kecurangan.
Diskusi tentang risiko kecurangan tersebut biasanya dilakukan bersamaan
dengan diskusi tentang kerentanan laporan keuangan entitas terhadap jenis-
jenis kesalahan penyajian material lain.

Gambar 9-3 Sumber informasi untuk menilai risiko kecurangan

10
Keterangan dari Faktor Prosedur
Komunikasi di
Manajemen Risiko Analitis
Antara Tim Informasi
Perikatan Lain

Identifikasi Risiko Kesalahan Penyajian Material yang Diakibatkan


Kecurangan

2. Meminta Keterangan dari Manajemen


Standar audit (SA 240.17) mewajibkan auditor untuk meminta
keterangan secara khusus tentang kecurangan pada setiap audit, yang
meliputi:
a. Penilaian manajemen tentang risiko bahwa kemungkinan terjadi
kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan yang
diakibatkan oleh kecurangan, termasuk sifat, saat, luas, dan
frekuensi dari penilaian resiko tersebut.
Manajemen menerima tanggungjawab atas pengendalian
internal dan atas penyusunan laporan keuangan entitas. Oleh
karena itu, selayaknya auditor mewawancarai manajemen terkait
penilaian risiko kecurangan dan pengendalian yang diterapkan
untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan tersebut. Sifat, luas,
dan frekuensi penilaian risiko dan pengendalian tersebut oleh
manajemen mungkin berbeda di antara suatu entitas dengan
entitas yang lainnya. Di beberapa entitas, manajemen mungkin
melakukan penilaian secara rinci setiap tahun atau sebagai bagian
dari pemantauan berkelanjutan. Di entitas-entitas lain penilaian
manajemen mungkin kurang terstruktur atau kurang sering
11
dilakukan. Sifat, luas, dan frekuensi penilaian manajemen adalah
relevan bagi pemahaman auditor terhadap Iingkungan
pengendalian entitas. Sebagai contoh, dalam kondisi tertentu, fakta
bahwa manajemen belum melakukan penilaian risiko kecurangan,
dapat menunjukkan bahwa manajemen menganggap pengendalian
internal tidak penting. Dalam beberapa entitas, terutama entitas
yang lebih kecil, fokus penilaian manajemen mungkin terletak
pada risiko kecurangan yang dilakukan oleh karyawan atau
penyalahgunaan asset.

b. Proses yang dilakukan oleh manajemen untuk entitas, termasuk


setiap risiko spesifik atas kecurangan yang telah diidentifikasi oleh
manajemen atau yang telah menjadi perhatiannya, atau golongan
transaksi, saldo akun, atau pengungkapan yang untuknya mungkin
terjadi risiko kecurangan. Dalam kasus entitas yang memiliki
berbagai Iokasi, proses yang dilakukan oleh manajemen dapat
meliputi berbagai tingkat pemantauan yang berbeda-beda
terhadap Iokasi'operasi atau segmen bisnis. Manajemen mungkin
juga telah mengidentifikasi Iokasi operasi atau segmen bisnis
tertentu yang risiko kecurangannya lebih tinggi.
c. Komunikasi manajemen, jika ada, kepada pihak yang
bertanggungjawab atas tata keIola tentang proses untuk
mengidentifikasi dan merespons risiko kecurangan dalam entitas.
d. Komunikasi manajemen, jika ada, kepada karyawan tentang
pandangan manajemen terhadap praktik bisnis dan perilaku etika.

Meminta Keterangan dari Pihak-pihak Lain dalam Entitas


Auditor juga harus meminta keterangan dari manajemen, dan pihak
lain dalam entitas jika dipandang tepat, untuk menentukan apakah mereka
memiliki pengetahuan mengenai setiap kecurangan yang aktual, diduga,
atau dicurigai yang berdampak pada entitas.
Permintaan keterangan oleh auditor kepada manajemen dapat
menyediakan informasi yang berguna mengenai risiko kesalahan
12
penyajian material dalam Iaporan keuangan yang diakibatkan oleh
kecurangan yang dilakukan oleh karyawan. Namun, permintaan
keterangan semacam itu tidak dapat menyediakan informasi yang berguna
mengenai risiko kesalahan penyajian material dalam Iaporan keuangan
yang diakibatkan oleh kecurangan yang dilakukan oleh manajemen.
Permintaan keterangan kepada pihak-pihak Iain dalam entitas dapat
memberikan kesempatan kepada individu-individu untuk menyampaikan
informasi kepada auditor yang mungkin tidak dapat dilakukan dengan
cara yang Iain.
Beberapa contoh pihak-pihak lain dalam entitas yang dapat dimintai
keterangan secara langsung oleh auditor mengenai keberadaan atau
adanya dugaan kecurangan mencakup:
 Personel operasi yang tidak terlibat secara Iangsung dalam proses
pelaporan keuangan.
 Karyawan dengan tingkat wewenang yang berbeda.
 Karyawan yang terlibat dalam inisiasi, pemrosesan atau pencatatan
transaksi yang rumit atau tidak biasa dan pihak yang mengawasi
atau memantau karyawan tersebut.
 Penasehat hukum internal entitas.
 Direktur etika dan pihak yang setara
 Pihak – pihak yang bertanggungjawab dalam menghadapi dugaan
kecurangan.

Meminta Keterangan dari Auditor Internal


Untuk entitas yang memiliki fungsi audit internal, auditor harus meminta
keterangan dari bagian audit internal untuk meminta keterangan apakah
mereka memiliki pengetahuan mengenai setiap kecurangan yang aktual,
diduga, atau dicurigai yang berdampak pada entitas dan untuk
memperoleh pandangan mereka tentang risiko kecurangan.
SA 315 dan SA 610 menetapkan ketentuan dan menyediakan panduan
dalam mengaudit entitas-entitas yang memiliki fungsi audit internal.
13
Dalam melaksanakan ketentuan tersebut, dalam konteks kecurangan,
auditor dapat meminta keterangan tentang aktivitas spésifk audit internal
yang mencakup, sebagai contoh:
 Prosedur yang dilakukan, jika ada, oleh auditor internal
sepanjang tahun untuk mendeteksi kecurangan,
 Apakah manajemen telah merespons secara memuaskan atas
temuan- temuan dari prosedur tersebut.

Pemahaman tentang pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola


Apabila semua pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola terlibat
dalam pengelolaan entitas, auditor harus memperoleh pemahaman tentang
bagaimana pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola melakukan
pengawasan terhadap proses yang diterapkan manajemen dalam
mengidentifikasi dan merespon risiko kecurangan dalam entitas dan
pengendalian internal yang telah ditetapkan oleh manajemen untuk
mengurangi risiko tersebut.
Pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola bertugas mengawasi
sistem entitas untuk memantau risiko, mengendalikan keuangan, dan
kepatuhan terhadap hukum. Di beberapa entitas, praktik tata kelola telah
dikembangkan dengan baik dan pihak yang bertanggungjawab atas tata
kelola dan berperan aktif dalam mengawasi penilaian risiko kecurangan
serta pengendalian internal yang relevan oleh entitas. Oleh karena
tanggungjawab pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola dan
manajemen mungkin berbeda di antara entitas, maka auditor harus untuk
memahami tangungjawab mereka masing-masing, agar auditor
memperoleh pemahaman tentang apa yang dilakukan oleh individu yang
tepat.
Pemahaman atas pengawasan yang dilakukan oleh pihak yang
bertanggungjawab atas tata kelola dapat menyediakan wawasan tentang
keréntanan adanya kecurangan dalam entitas yang dilakukan oleh
manajemen, kecukupan pengendalian internal atas risiko kecurangan, dan
kompetensi serta integritas manajemen. Auditor dapat memperoleh
pemahaman ini dengan berbagai cara, seperti menghadiri rapat yang
14
membahas kecurangan, membaca ringkasan hasil rapat yang bersangkutan,
atau mewawancarai pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola.

3. Risiko Kecurangan
Auditor harus mengevaluasi apakah informasi yang diperoleh dari
prosedur penilaian risiko lain dan aktivitas terkait yang telah
dilaksanakan mengindikasikan bahwa terdapat satu atau lebih faktor
risiko kecurangan. Tabel 9-1 dan 9-2 meringkas contoh-contoh faktor
risiko kecurangan yang dapat dipertimbangkan oleh auditor. Meskipun
faktor risiko kecurangan belum tentu mengindikasikan adanya
kecurangan, faktor tersebut sering ada dalam kondisi yang di dalamnya
telah terjadi kecurangan dan oleh karena itu dapat mengindikasikan
adanya risiko kesalahan penyajian material yang diakibatkan oleh
kecurangan.
Fakta bahwa kecurangan biasanya disembunyikan dapat
membuat hal makin sulit untuk dideteksi. Meskipun demikian, auditor
dapat mengidentifikasi peristiwa atau kondisi-kondisi yang dapat
menunjukkan adanya insentif atau tekanan untuk melakukan
kecurangan atau kondisi yang memberikan peluang untuk melakukan
kecurangan (faktor risiko kecurangan). Sebagai contoh:
 Kebutuhan untuk memenuhi harapan pihak ketiga untuk
mendapatkan tambahan ekuitas dapat menimbulkan tekanan
untuk melakukan kecurangan.
 Pemberian bonus signifikan jika target laba yang tidak realis
dapat dipenuhi akan mendorong terjadinya kecurangan; dan
 Lingkungan pengendalian yang tidak efektif dapat menciptakan
peluang untuk melakukan kecurangan.
Faktor-faktor risiko kecurangan tidak dapat secara mudah dibuat
peringkat berdasarkan tingkat pentingnya. Signifikannya factor – factor
risiko kecurangan bervariasi sangat luas. Beberapa faktor ini terjadi di
dalam entitas yang di dalamnya kondisi spesifik tidak menggambarkan
adanya risiko kesalahan penyajian material. Oleh karena itu, penilaian
apakah terdapat faktor risiko kecurangan dan apakah faktor tersebut
15
dipertimbangkan dengan penentuan risiko kesalahan penyajian
material laporan keuangan yang disebebkan oleh kecurangan,
menuntut penggunaan pertimbangan profesional.
Ukuran, kerumitan, dan karakteristik kepemilikan entitas
berdampak signifikan terhadap pertimbangan atas faktor-faktor risiko
kecurangan relevan. Sebagai contoh, daiam kasus di entitas besar,
mungkin terdapat faktor-faktor yang secara umum membatasi
manajemen untuk berlaku tidak semestinya, seperti:
 Pengawasan yang efektif oleh pihak yang berwenang dalam tata
kelola.
 Suatu audit internal yang efektif
 Adanya dan penegakan kode etik tertulis.
Selain itu, faktor- faktor risiko kecurangan yang dipertimbangkan pada tingkat
segmen operasi dapat menyediakan wawasan yang berbeda dibandingkan
dengan yang diperoleh ketika mempertimbangkan factor risiko kecurangan di
tingkat entitas secara luas.

4. Prosedur Analitis
Auditor harus mengevaluasi apakah prosedur analitis yang
dilaksanakan berdekatan dengan akhir audit, ketika membentuk
kesimpulan secara keseluruhan tentang apakah laporan keuangan
konsisten dengan pemahaman auditor atas entitas, mengindikasikan
risiko kesalahan penyajian material yang diakibatkan oleh kecurangan
yang tidak disadai sebelumnya.
Penentuan kecenderungan tertentu dan keterkaitannya dapat
mengindikasikan risiko kesalahan penyajian material yang diakibatkan
oleh kecurangan memerlukan pertimbangan profesional. Hubungan
yang tidak biasa terkait dengan pendapatan dan penghasilan
khususnya pada akhir tahun adalah relevan. Hal ini dapat mencakup,
sebagai contoh: penghasilan dalam jumlah yang besar yang tidak biasa
yang dilaporkan dalam beberapa minggu terakhir periode pelaporan
atau transaksi tidak biasa, atau pendapatan yang tidak konsisten
dengan kecenderungan arus kas operasi.
16
5. Informasi Lain
Auditor harus mempertimbangkan apakah informasi Iain yang
diperoleh auditor mengindikasikan adanya risiko kesalahan penyajian
material yang diakibatkan oleh kecurangan.
Sebagai tambahan dari informasi,yang diperoleh dalam
melakukan prosedur analitis, informasi lain yang diperoleh mengenai
entitas dan lingkungannya dapat membantu untuk mengindikasikan
risiko-risiko kesalahan penyajian material yang diakibatkan oleh
kecurangan. Diskusi diantara anggota tim mungkin menyediakan
informasi yang dapat membantu mengidentifikasi risiko-risiko
tersebut. Di samping itu, informasi yang diperoleh dari proses
penerimaan dan keberlanjutan hubungan dengan klien, serta
pengalaman yang diperoleh dari perikatan Iainnya dengan entitas
tersebut, sebagai contoh perikatan untuk mereview informasi
keuangan interim, mungkin relevan dalam mengidentifikasi risiko-
risiko kesalahan penyajian material yang diakibatkan oleh kecurangan.

2.4. MERESPON RISIKO KECURANGAN


Standar audit (SA 330) menetapkan sebagai berikut:
“Auditor harus menentukan respons keseluruhan terhadap hasil
penilaian risiko kesalahan penyajian material yang diakibatkan oleh
kecurangan pada tingkat laporan keuangan”
Apabila risiko kesalahan penyajian material yang diakibatkan oleh kecurangan
teridentifikasi, auditor pertama – tama harus mendiskusikan temuan tersebut
dengan manajemen dan meminta pandangan manajemen tentang potensi
kecurangan dan adanya rancangan pengendalian untuk mencegah dan
mendeteksi kesalahan penyajian material. Seperti telah disinggung di atas
manajemen seyogyanya memiliki program yang dirancang untuk mencegah,
menghalangi, dan mendeteksi kecurangan, begitu pula pengendalian yang
17
dirancang untuk memitigasi risiko spesifik kecurangan. Selanjutnya auditor
harus mempertimbangkan apakah program anti kecurangan dan pengendalian
tersebut memitigasi risiko kesalahan penyajian material yang diakibatkan
kecurangan yang teridentifikasi atau apakah pengendalian tidak dapat
mengurangi meningkatnya risiko kecurangan. Respons auditor terhadap risiko
kecurangan meliputi hal - hal berikut.

1. Menentukan respons keseluruhan


Menentukan respons keseluruhan untuk menanggapi hasil penilaian
risiko kesalahan penyajian material yang diakibatkan oleh kecurangan
pada umumnya mencakup pertimbangan tentang bagaimana
pelaksanaan keseluruhan audit dapat mencerminkan peningkatan
skeptisisme profesional.
Dalam menentukan respons keseluruhan untuk menanggapi
hasil penilaian risiko kesalahan penyajian material yang diakibatkan
oleh kecurangan pada tingkat laporan keuangan, auditor dapat
memilih di antara respons respons berikut.
a. Apabila risiko kesalahan penyajian material yang diakibatkan
oleh kecurangan meningkat, auditor harus menugasi dan
mengawasi personel dengan mempertimbangkan pengetahuan,
keahlian dan kemampuan individual mereka untuk diberi
tanggungjawab perikatan signifikan dan penilaian auditor atas
risiko kesalahan penyajian material yang diakibatkan oieh
kecurangan untuk perikatan tersebut. Dalam kasus tertentu,
spesialis kecurangan bisa dilibatkan menjadi anggota tim audit.
b. Pelaku kecurangan seringkali individu yang mengerti tentang
prosedur audit. Oleh karena itu standar audit mengharuskan
auditor untuk memasukkan unsur tidak dapat diprediksi dalam
pemilihan sifat, saat, dan luas prosedur audit yang akan
dilakukan merupakan hal penting karena individu-individu
dalam entitas yang terbiasa dengan prosedur audit yang
umumnya dilakukan dalam suatu perikatan mungkin lebih dapat

18
menyembunyikan pelaporan keuangan yang mengandung
kecurangan. Sebagai contoh, hal ini dapat diperoleh dari:
 Melaksanakan prosedur substantif terhadap saldo akun
dan asersi-asersi yang tidak terpilih untuk dilakukan
pengujian berdasarkan materialitas atau risiko.
 Melakukan perubahan waktu pelaksanaan prosedur
audit dari yang diperkirakan.
 Menggunakan metoda sampling yang berbeda.
 Melakukan prosedur audit di lokasi berbeda atau pada
lokasi yang tidak diberitahukan sebelumnya.
2. Merancang dan melaksanakan prosedur audit yang responsif
terhadap penilaian risiko kesalahan penyajian material yang .
diakibatkan oleh kecurangan.
Sesuai dengan SA 330. auditor harus merancang dan melaksanakan
prosedur audit lanjutan yang Sifat, saat, dan luasnya responsif
terhadap penilaian risiko kesalahan penyajian material yang
diakibatkan oleh kecurangan pada tingkat asersi.
Respons auditor terhadap hasil penilaian risiko terhadap
kesalahan nyajian material yang diakibatkan oleh kecurangan pada
tingkat asersi mencakup perubahan sifat, saat, dan luas prosedur
dalam beberapa cara di bawah ini:
 Sifat prosedur audit yang dilakukan mungkin membutuhkan
perubahan dalam memperoleh bukti audit yang lebih dapat
diandalkan dan relevan atau untuk memperoleh informasi
tambahan yang dapat menguatkan. Hal ini dapat berdampak
pada tipe prosedur audit yang akan dilakukan dan kombinasi
diantara keduanya.
 Waktu pelaksanaan prosedur substantif mungkin perlu
dimodifikasi. Auditor dapat menyimpulkan bahwa
pelaksanaan pengujian substantif di akhir periode atau
mendekati akhir periode Iebih baik dalam menanggapi hasil
penilaian risiko atas kesalahan penyajian material karena
kecurangan.
19
 Luasnya prosedur yang diterapkan mencerminkan penilaian
risiko kesalahan penyajian material yang diakibatkan
kecurangan. Sebagai contoh peningkatan ukuran sampel atau
melakukan prosedur analitis secara iebih rinci dapat lebih
tepat.

Jika auditor mengidentifikasi risiko kesalahan penyajian material karena


kecurangan yang berdampak terhadap kuantitas persediaa dengan menguji
catatan persediaan entitas dapat membantu untuk mengidentifikasi lokasi
atau jenis persediaan yang membutuhkan perhatian spesifik selama atau
setelah perhitungan fisik persediaan. Penelaahan tersebut dapat menuntun
kepada suatu keputusan untuk melakukan observasi perhitungan fisik
persediaan pada beberapa lokasi dengan cara yang tidak diumumkan atau
melakukan perhitungan persediaan di seluruh lokasi pada tanggal yang sama.
Auditor dapat mengidentifikasi kesalahan penyajian material karena 
kecurangan yang berdampak pada beberapa akun dan asersi. Hal ini
mencakup penilaian aset, estimasi yang terkait dengan transaksi spesifik
(seperti akuisisi, restrukturisasi, atau pelepasan segmen bisnis), dan
kewajiban akrual lainnya (seperti pensiun dan kewajiban imbalan pasca kerja
lainnya, atau liabilitas pemulihan lingkungan). Risiko ini juga dapat berkaitan
dengan perubahan signifikan dalam asumsi yang berkaitan dengan estimasi
yang sudah ada.

3. Merancang dan melaksanakan prosedur audit yang responsif


terhadap risiko yang terkait dengan pengabaian pengendalian oleh
manajemen
Risiko manajemen melakukan pengabaian pengendalian ada
hampir pada setiap audit. Manajemen berada pada posisi yang unik
untuk melakukan kecurangan karena kemampuan manajemen untuk
memanipulasi catatan akuntansi dan menyusun laporan keuangan yang
mengandung  kecurangan melalui pengabaian pengendalian yang
seharusnya berjalan secara efektif. Meskipun tingkat risiko pengabaian
pengendalian oleh manajemen berbeda antara entitas yang satu dengan
20
entitas yang lain, risiko tersebut akan selalu ada pada semua entitas.
Mengingat tidak dapat diprediksi terjadinya pengabaian pengendalian
oleh manajemen, maka hal ini merupakan risiko kesalahan penyajian
yang diakibatkan oleh kecurangan, dan oleh karena itu, merupakan
risiko signifikan. Ada tiga prosedur yang harus dilakukan pada setiap
audit seperti di uraikan di bawah ini :
1. Menguji ketepatan entri jurnal yang tercatat dalam buku besar
dan penyesuaian lain yang dibuat dalam penyusunan laporan
keuangan.
Dalam merancang dan melaksanakan prosedur audit untuk
pengujian tersebut, auditor harus:
a. Mewawancarai individu yang terlibat dalam proses pelaporan
keuangan mengenai aktivitas yang tidak semestinya atau tidak
biasa yang terkait dengan pemrosesan entri jurnal dan
penyesuaian lain.
Kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan yang
diakibatkan oleh kecurangan sering melibatkan manipulasi
proses pelaporan keuangan dengan mencatat entri jurnal yang
tidak tepat atau yang tidak diotorisasi. Hal ini dapat terjadi
sepanjang tahun atau pada akhir periode, atau melalui
penyesuaian yang dilakukan oleh manajemen terhadap jumlah
yang dilaporkan dalam laporan keuangan yang tidak
dicerminkan dalam entri jurnal, seperti melalui penyesuian
dan reklasifikasi konsolidasi.
b. Memilih entri jurnal dan penyesuaian lain yang dibuat pada
akhir periode pelaporan.
Petimbangan auditor atas risiko kesalahan penyajian material
yang terkait dengan pengabaian pengendalian yang tidak
semestinya terhadap entri jurnal adalah penting, sebab proses
dan pengendalian otomatis dapat mengurangi risiko
kekeliruan yang tidak disengaja, tetapi tidak dapat mengatasi
risiko bahwa individu dapat mengabaikan proses otomatis
tersebut dengan tidak semestinya, sebagai contoh, melalui
21
perubahan jumlah yang secara otomatis dibukukan ke buku
besar atau ke sistem pelaporan keuangan

c. Mempertimbangkan apakah perlu dilakukan pengujian


terhadap entri jumal dan penyesuaian lain sepanjang periode
laporan keuangan
Ketika melakukan pengidentifikasian dan pemilihan entri
jurnal dan penyesuaian lain untuk menguji dan menentukan
mete yang tepat atas pengujian pendukung yang mendasari
entri yang dipilih halhai berikutini relevan:
 Penilaian risiko kesalahan penyajian material yang
diakibat oleh kecurangan: keberadaan faktor risiko
kecurangan dan informasi lain yang diperoleh selama
penilaian auditor atas risiko kesalahan penyajian
material yang diakibatkan oleh kecurangan dapat
membantu auditor untuk mengidentifikasi kelompok
spesifik dari entri jurnal dan penyesuaian lain untuk
dilakukan pengujian.
 Pengendalian yang telah diimplementasikan terhadap
entri jurnal dan penyesuaian lainnya: pengendalian
efektif terhadap penyiapan dan pembukuan entri jurnal
dan penyesuaian lainnya dapat mengurangi luas
pengujian substantif yang diperlukan selama audItor
telah menguji efektivitas operasi pengendali tersebut.
 Proses pelaporan keuangan entitas dan sifat bukti yang
dapat diperoleh: bagi kebanyakan entitas, proses rutin
transaksi melibatkan suatu kombinasi tahapan dan
prosedur manual dan otomatis. Sama halnya, proses
entri dan jurnal penyesuaian lainnya dapat melibatkan
prosedur dan pengendalian manual dan otomatis.
Ketika teknologi informasi digunakan dalam proses
pelaporan keuangan, entri jurnal dan penyesuaian
lainnya hanya tersedia dalam bentuk elektronik.
22
 Karakteristik entri jurnal dan penyesuaian lainnya yang
mengandung kecurangan: Entri jurnal atau penyesuaian
lainnya yang tidak semestinya sering memiliki
karakteristik yang umk untuk diidentifikasi.
Karakterisik tersebut dapat mencakup entri yang: (a)
dibuat ke akun yang tidak terkait, tidak biasa atau
jarang digunakan, (b) dibuat oleh individu yang
umumnya tidak melakukan entri jurnal, (c) dicatat pada
akhir periode atau sebagai entri pasca penutupan yang
memiliki sedikit atau tanpa penjelasan atau uraian, (d)
dibuat baik sebelum atau selama penyiapan iaporan
keuangan yang tidak memiliki nomor akun atau (e)
mengandung jumlah yang bulat atau angka akhir yang
konsisten.
 Sifat dan kompleksitas akun: Entri jurnal atau
penyesuaian Iainnya yang tidak semestinya mungkin
diterapkan pada akun yang: (a) mengandung transaksi
yang bersifat kompleks atau tidak biasa sifatnya, (b)
mengandung estimasi signifikan dan penyesuaian akhir
periode, (c) telah terbukti terjadi kesalahan penyajian
di masa lalu, (d) belum direkonsiliasi secara tepat
waktu atau mengandung perbedaan yang tidak
terekonsiliasi, (e) mengandung transaksi antar
perusahaan yang berelasi atau (f) terkait dengan risiko
kesalahan penyajian material yang diakibatkan oleh
kecurangan. Dalam mengaudit entitas yang memiliki
beberapa lokasi atau komponen, pertimbangan
diberikan atas kebutuhan untuk memilih entri jurnal
dari berbagai lokasi.
 Entri jurnal atau penyesuaian yang lainnya yang
diproses di Iuar kegiatan bisnis normal: Entri jurnal
yang tidak standar mungkin tidak terkena
pengendalian internal yang sama dengan entri jurnal
23
yang digunakan secara berulang untuk mencatat
transaksi, seperti penjualan, pembelian, dan
pengeluaran kas bulanan.

2. Menelaah estimasi akuntansi untuk menemukan hal hias dan


mengevaluasi apakah kondisi yang menyebabkan hal bias
tersebut, merupakan kesalahan penyajian material yang
diakibatkan kecurangan.
Dalam melaksanakan penelaahan tersebut, auditor harus:
a) Mengevaluasi apakah penimbangan dan keputusan yang dibuat
oleh manajemen dalam memasukkan estimasi akuntansi
tersebut dalam Iaporan keuangan, meskipun jika estimasi
akuntansi tersebut masuk akal secara individu,
mengindikasikan suatu hal bias yang mungkin terjadi pada
manajemen entitas yang mungkin merupakan kesalahan
penyajian material yang diakibatkan oleh kecurangan. Jika
demikian, auditor harus mengevaluasi kembali estimasi
akuntansi secara keseluruhan.
Penyusunan Iaporan keuangan mensyaratkan manajemen
untuk membuat sejumlah pertimbangan atau asumsi yang
memengaruhi estimasi akuntansi signifikan dan untuk
memantau kelayakan estimasi tersebut secara berkelanjutan.
Pelaporan keuangan yang mengandung kecurangan sering
dicapai melalui kesalahan penyajian estimasi akuntansi yang
disengaja. Sebagai contoh, hal ini dapat dicapai dengan
menyajikan secara lebih rendah Iebih tinggi seluruh provisi
atau cadangan yang dirancang untuk baik meratakan
pendapatan selama dua atau lebih periode akuntansi,
pendapatan yang ditargetkan untuk menyesatkan pengguna
Iaporan keuangan dengan cara memengaruhi persepsi mereka
atas kinerja dan prifitabilitas entitas.

24
b) Melakukan penelaahan retrospektif atas pertimbangan asumsi
manajemen yang terkait dengan estimasi akuntansi signifikan
yang tercermin dalam Iaporan keuangan tahun lalu
Tujuan pelaksanaan penelaahan retrospektif terhadap
pertimbangan dan asumsi manajemen yang terkait dengan
estimasi akuntansi signifikan yang tercermin dalam Iaporan
keuangan periode lalu adalah untuk menentukan apakah
terdapat indikasi terjadinya kemungkinan penyimpangan yang
dilakukan oleh manajemen. Hal ini tidak dimaksudkan untuk
mempertanyakan pertimbangan profesional auditor pada
tahun Ialu yang dibuat berdasarkan informasi yang tersedia
pada saat itu.

3. Mengevaluasi Dasar Bisnis untuk Transuksi Signifikan yang


Tidak Biasa
Bagi transaksi signifikan di luar aktivitas bisnis normal entitas, atau
sebaliknya terlihat tidak biasa berdasarkan pemahaman auditor
atau entitas dan lingkungannya serta informasi Iain yang diperoleh
selama audit, auditor harus mengevaluasi apakah dasar bisnis yang
ada (atau yang kurang atau tidak ada) atas transaksi tersebut
menunjukkan bahwa transaksi tersebut mungkin telah dilakukan
dengan tujuan untuk melaksanakan kecurangan atau untuk
menyembunyikan terjadinya penyalahgunaan aset.
Indikator yang dapat menunjukkan adanya transaksi
signifikan di luar kegiatan normal entitas, atau yang nampaknya
tidak biasa, yang mungkin telah dilakukan dengan tujuan untuk
melakukan pelaporan keuangan yang mengandung kecurangan
atau untuk menyembunyikan penyalahgunaaan aset, mencakup:
 Bentuk transaksi yang terlihat teriaiu kompleks (sebagai
contoh transaksi yang melibatkan berbagai entitas dalam
suatu kelompok entitas yang dikonsolidasi atau berbagai
pihak ketiga yang tidak terkait).
25
 Manajemen belum mendiskusikan sifat dan perlakuan
akuntansi untuk transaksi tersebut dengan pihak yang
bertanggungjawab atas tata kelola entitas, dan tidak
pendokumentasian yang memadai. .
 Manajemen lebih menekankan pada kebutuhan perlakuan
akuntansi tertentu daripada substansi ekonomi yang
mendasari transaksi tersebut.
 Transaksi yang melibatkan pihak berelasi yang tidak
dikonsolidasi, termasuk entitas bertujuan khusus, belum
ditelaah atau disetujui secara tepat oleh pihak yang
bertanggungjawab atas tata kelola entitas.
 Transaksi yang melibatkan pihak berelasi yang tidak
teridentifikasi sebelumnya atau pihak yang tidak memiliki
substansi atau kekuatan keuangan untuk mendukung
transaksi tersebut tanpa bantuan dari entitas yang sedang
diaudit.

2.5. MEMUKTAHIRKAN PROSES PENILAIAN RISIKO


Auditor harus mengevaluasi apakah prosedur analitis yang dilaksanakan
berdekatan dengan akhir audit, ketika membentuk kesimpulan secara
keseluruhan tentang apakah laporan keuangan konsisten dengan pemahaman
auditor atas entitas, mengindikasikan risiko kesalahan penyajian material
yang diakibatkan oleh kecurangan yang tidak disadari sebelumnya. Penentuan
kecenderungan tertentu dan keterkaitannya dapat mengindikasikan kesalahan
penyajian material yang diakibatkan oleh kecurangan, memerlukan
pertimbangan profesional. Hubungan yang tidak biasa terkait dengan
pendapatan dan penghasilan khususnya pada akhir tahun adalah relevan. Hal
ini dapat mencakup, sebagai contoh penghasilan dalam jumlah besar yang
tidak biasa yang dilaporkan dalam beberapa minggu terakhir periode
pelaporan atau transaksi tidak biasa, atau pendapatan yang tidak konsisten
dengan kecenderungan arus kas operasi.
Jika auditor mengidentifikasi suatu kesalahan penyajian, auditor harus
mengevaluasi apakah kesalahan penyajian tersebut mengindikasikan suatu
26
kecurangan. Jika ada indikasi seperti itu, auditor harus mengevaluasi dampak
kesalahan penyajian tersebut dalam kaitannya dengan aspek - aspek audit
lainnya, terutama terhadap keandalan representasi manajemen, dengan
menyadari bahwa kecurangan tidaklah mungkin merupakan suatu kejadian
yang berdiri sendiri. OIeh karena kecurangan melibatkan insentif atau tekanan
untuk melakukan kecurangan, kesempatan untuk melakukan hal tersebut atau
beberapa pembenaran atas tindakan tersebut maka suatu kejadian
kecurangan tidak mungkin merupakan suatu kejadian yang terisolasi. Dengan
demikian, kesalahan penyajian, seperti sejumlah kesalahan penyajian pada
suatu lokasi tertentu walaupun efek kumulatifnya tidak material dapat
merupakan indikasi risiko kesalahan penyajian material yang diakibatkan oleh
kecurangan.
Jika auditor mengidentifikasi adanya kesalahan penyajian, baik material
maupun tidak, dan auditor memiliki alasan untuk mempercayai bahwa itu
mungkin merupakan suatu akibat dari kecurangan dan bahwa manajemen
(terutama manajemen senior) terlibat di dalamnya, maka auditor harus
mengevaluasi ulang penilaian risiko kesalahan penyajian material yang
diakibatkan oleh kecurangan dan dampaknya terhadap sifat, saat, dan luas
prosedur audit untuk merespons risiko yang telah ditentukan tersebut.
Auditor juga harus mempertimbangkan apakah keadaan atau kondisi
mengindikasikan adanya kemungkinan kolusi yang melibatkan karyawan,
manajemen, atau pihak ketiga ketika mempertimbangkan kembali keandalan
bukti yang sebelumnya diperoléh. Implikasi dari kecurangan yang
teridentifikasi tergantung dari kondisi. Sebagai contoh, suatu kecurangan yang
tidak signifikan dapat menjadi signifikan, bila kecurangan tersebut melibatkan
manajemen senior. Dalam kondisi tersebut, keandalan bukti yang diperoleh
sebelumnya dapat dipertanyakan karena mungkin terdapat keraguan
terhadap kelengkapan dan kebenaran representasi yang dibuat serta keaslian
catatan dan dokumentasi akuntansi.
Jika auditor menginformasikan bahwa, atau tidak dapat menyimpulkan
tentang apakah laporan keuangan mengandung kesalahan penyajian secara
material yang diakibatkan oleh kecurangan, maka auditor harus mengevaluasi
dampaknya terhadap audit. SA 450 dan SA 700 menetapkan ketentuan dan
27
menyediakan panduan atas evaluasi dan tindak lanjut (disposition) kesalahan
penyajian, serta dampaknya terhadap opini auditor dalam laporan auditor.

2.5.1. Auditor tidak dapat melanjutkan perikatan


Jika sebagai akibat kesalahan penyajian yang diakibatkan oleh kecurangan
atau dugaan kecurangan, auditor menghadapi keadaan luar biasa yang
menyebabkan kemampuan auditor untuk melanjutkan pelaksanaan audit
dipertanyakan, maka auditor harus :
a. Menentukan tanggungjawab profesional dan hukum yang dapat
berlaku dalam kondisi tersebut, termasuk apakah ada ketentuan
bagi auditor untuk melapor kepada individu atau kelompok individu
yang membuat perjanjian audit atau, dalam beberapa kasus, kepada
badan pengatur.
b. Mempertimbangkan apakah sudah tepat menarik diri dari
perikatan, jika penarikan diri dimungkinkan oleh perundang -
undangan yang berlaku; dan
c. Jika auditor menarik diri dari perikatan, auditor harus:
(i) Membahas dengan tingkat manajemen yang tepat dan pihak
yang bertanggungjawab atas tata kelola tentang penarikan diri
auditor dari perikatan dan alasannya; dan
(ii) Menentukan apakah ada ketentuan profesional atau hukum
untuk melapor kepada individu atau kelompok individu yang
membuat perjanjian audit atau, dalam beberapa kasus, kepada
badan pengatur tentang penarikan diri auditor dari perikatan
dan alasannya.
Contoh kondisi penyimpangan yang dapat terjadi dan dapat
mempertanyakan kemampuan auditor untuk melanjutkan pelaksanaan audit
mencakup:
 Entitas tidak melakukan tindakan yang tepat atas kecurangan yang
dipandang perlu oleh auditor dalam kondisi tersebut, bahkan
ketika kecurangan tersebut tidak material terhadap laporan
keuangan.

28
 Pertimbangan auditor atas risiko kesalahan penyajian material
yang diakibatkan oleh kecurangan dan hasil pengujian audit
mengindikasikan risiko signifikan atas kecurangan yang bersifat
material dan berdampak luas.
 Auditor memiliki kepedulian signifikan atas kompetensi atau
integritas manajemen atau pihak yang bertanggungjawab atas tata
kelola.
Dikarenakan beragamnya kondisi yang dapat timbul, tidak mungkin untuk
menjelaskan secara pasti kapan waktu yang tepat untuk menarik diri dari
perikatan. Faktor yang memengaruhi kesimpulan auditor mencakup, implikasi
dari keterlibatan anggota manajemen atau yang bertanggung jawab atas tata
kelola ( yang dapat mempengaruhi keandalan representasif manajemen) dan
dampak keberlanjutan hubungan entitas bagi auditor.
Auditor memiliki tanggungjawab profesional dan hukum dalam kondisi
tersebut, dan tanggungjawab tersebut dapat bervariasi menurut yurisdiksi. Di
beberapa negara, auditor berhak atas atau diwajibkan untuk membuat suatu
pernyataan atau laporan kepada pihak yang melakukan penunjukan audit,
atau dalam beberapa kasus, kepada badan pengatur. Mengingat sifat kondisi
yang menyimpang dan kebutuhan untuk mempertimbangkan ketentuan
hukum, auditor dapat mempertimbangkan bahwa mencari advis hukum
merupakan hal yang tepat ketika memutuskan apakah akan menarik diri dari
perikatan dan dalam menentukan tindakan yang tepat, termasuk
kemungkinan untuk melaporkannya kepada pemegang saham, regulator, atau
pihak lainnya.

Representasi Tertulis
Dikarenakan sifat kecurangan dan kesulitan yang dihadapi oleh auditor dalam
mendeteksi kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan yang
berasal dari kecurangan, adalah penting bagi auditor untuk mendapatkan
representasi tertulis dari manajemen dan, jika relevan, pihak yang
bertanggungjawab atas tata kelola, yang menyatakan bahwa mereka telah
mengungkapkan kepada auditor hal -hal sebagai berikut:

29
a. Hasil penilaian manajemen Ientang risiko bahwa terdapat kesalahan
penyajian material dalam laporan keuangan yang diakibatkan oleh
kecurangan, dan
b. Pengetahuan mereka tentang kecurangan yang aktual, diduga atau
dicurigai, yang memengaruhi entitas.

Standar audit (SA 230 39) menegaskan secara Iebih rinci bahwa auditor harus
memperoleh representasi tertulis dari manajemen dan, jika relevan, pihak
yang bertanggungjawab atas tata kelola bahwa:
a. Mereka menyatakan tanggungjawab mereka untuk merancang,
mengimplementasikan, dan memelihara pengendalian internal untuk
mencegah dan mendeteksi kecurangan;
b. Mereka teIah mengungkapkan kepada auditor, hasil penilaian
manajemen atas risiko Iaporan keuangan mengandung kesalahan
penyajian material yang diakibatkan oleh kecurangan;
c. Mereka teIah mengungkapkan kepada auditor pengetahuan mereka
mengenai kecurangan atau dugaan kecurangan yang  memengaruhi
entitas, yang meIibatkan:
(i) Manajemen;
(ii) Karyawan yang memiliki peran signifikan dalam pengendalian
InternaI, atau
(iii) Karyawan Iainnya yang bisa membuat kecurangan mungkin
berdampak material terhadap Iaporan keuangan;
d. Mereka telah mengungkapkan kepada auditor pengetahuan  mereka
mengenaI adanya dugaan kecurangan, yang berdampak terhadap
laporan keuangan entitas, yang dikomunikasikan oleh karyawan,
mantan karyawan, analis, badan pengatur atau pihak lainnya

2.5.2. Komunikasi kepada manajemen dan pihak yang bertanggungjawab


atas tata kelola:
“Komunikasi kepada Manajemen

Jika auditor telah mengidentifikasi adanya kecurangan atau telah


memperoleh informasi yang mengindikasikan kemungkinan adanya
30
kecurangan, maka auditor harus mengomunikasikan dengan segera hal
tersebut kepada tingkat manajemen yang tepat, dengan tujuan untuk
menginformasikan kepada pihak yang memiliki tanggungiawab utama
untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan tentang hal - hai relevan
dengan tanggungjawab mereka. Hal ini dilakukan bahkan jika hal yang
ingin disampaikan tersebut tidak berdampak (sebagai contoh pencurian
kecil yang dilakukan oleh seorang karyawan tingkat rendah dalam
organisasi entitas). Penentuan atas tingkatan manajemen yang tepat
merupakan pertimbangan profesional dan dipengaruhi oleh faktor-faktor
seperti kemungkinan kolusi serta sifat dan besaran kecurangan yang
diduga. Pada umumnya tingkatan manajemen yang tepat paling tidak
adalah satu tingkat di atas individu yang tampaknya terlibat dalam
kecurangan yang diduga.

Komunikasi dengan Pihak yang Benanggungiawab atas Tata Kelola


Kecuali semua pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola terlibat
dalam pengelolaan entitas. dalam hal auditor telah mengidentifikasi atau
menduga adanya kecurangan yang melibatkan:
a) Manajemen;
b) Karyawan yang memiliki peran penting dalam pengendalian
internal; atau
c) Karyawan lainnya yang bisa membuat kecurangan mungkin
berdampak material terhadap laporan keuangan,
maka auditor harus mengomunikasikan secara tepat waktu hal
tersebut kepada pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola. Jika
auditor menduga manajemen terlibat dalam kecurangan, maka auditor
akan mengomunikasikan dugaan ini kepada pihak yang
bertanggungjawab atas tata kelola dan membahas dengan mereka
tentang sifat, saat, dan luas prosedur audit yang diperlukan untuk
menyelesaikan audit.
Komunikasi auditor dengan pihak yang bertanggungjawab atas tata
kelola dapat dilakukan secara lisan atau tertulis. SA 260
mengidentifikasi faktor-faktor yang dipertimbangkan oleh auditor
31
dalam menentukan apakah komunikasi dilakukan secara Iisan atau
tertulis.
Dalam beberapa kasus, auditor dapat menganggap tepat untuk
berkomunikasi dengan pihak yang bertanggungjawab dengan tata
kelola ketika auditor menyadari adanya kecurangan yang melibatkan
karyawan selain manajemen yang tidak mengakibatkan kesalahan
penyajian material. Sama halnya, pihak yang bertanggungjawab atas
tata kelola dapat mengharapkan untuk diinformasikan kondisi
tersebut. Proses komunikasi tersebut dibantu bila auditor dan pihak
yang bertanggungjawab atas tata kelola menyetujui pada tahap awal
audit mengenai sifat, dan luas komunikasi auditor dalam hal ini.
Dalam kondisi luar biasa, yaitu ketika auditor memiliki keraguan
atas integritas atau kejujuran manajemen atau pihak yang
bertanggungjawab atas tata kelola, auditor dapat menganggap tepat
untuk meminta advis hukum untuk membantunya dalam menentukan
tindakan yang tepat.

Komunikasi kepada Badan Pengulur clan Penegak Hukum


Jika auditor telah mengidentifikasi atau menduga adanya suatu
kecurangan, maka auditor harus menentukan apakah ada
tanggungjawab auditor untuk melaporkan kejadian atau dugaan
tersebut kepada pihak di luar entitas. Meskipun tugas profesional
auditor untuk menjaga kerahasiaan informasi klien mungkin
menghalangi pelaporan tersebut, tanggungjawab hukum auditor dapat
mengabaikan tugas menjaga kerahasiaan tersebut dalam beberapa
kondisi.
Di beberapa negara, auditor suatu institusi keuangan memiliki
tanggungjawab untuk melaporkan kecurangan kepada badan
pengawas. Seiain itu, di beberapa negara auditor memiliki
tanggungjawab untuk melaporkan kesalahan penyajian kepada badan
yang berwenang atas hal tersebut ketika manajemen dan pihak yang
bertanggungjawab atas tata kelola gagal untuk melakukan tindakan
perbaikan.
32
2.5.3. DOKUMENTASI
Standar audit SA 240. Para. 44-47 mengatur tentang dokumentasi yang
harus dilakukan auditor sehubungan dengan kecurangan.
1. Berkaitan dengan pemahaman auditor atas entitas dan
lingkungannya:
Auditor harus memasukkan hal-hal berikut dalam dokumentasi audit
tentang pemahaman auditor atas entitas dan lingkungannya serta
penilaian risiko kesalahan penyajian material yang disyaratkan oleh SA
315:
a. Keputusan signifikan yang dicapai selama pembahasan di antara
tim perikatan terkait dengan dugaan kesalahan penyajian material
dalam Iaporan keuangan entitas yang diakibatkan oleh kecurangan;
dan
b. Risiko kesalahan penyajian material yang telah diidentifikasi dan
ditentukan yang diakibatkan oIeh kecurangan pada tingkat laporan
keuangan dan asersi.
2. Berkaitan dengan respons auditor atas risiko:
Auditor harus memasukkan hal berikut dalam dokumentasi audit
tentang respons auditor atas risiko yang ditentukan atas kesalahan
penyajian material, yang disyaratkan oleh SA 330:
a) Respons keseluruhan terhadap risiko kesalahan penyajian
material yang telah ditentukan yang diakibatkan oleh
kecurangan pada tingkat Iaporan keuangan dan sifat, saat, dan
luas prosedur audit, serta hubungan prosedur tersebut dengan
risiko yang ditentukan atas kesalahan penyajian material yang
diakibatkan oleh kecurangan pada tingkat asersi , dan
b) Hasil pelaksanaan prosedur audit tersebut, termasuk prosedur
audit yang dirancang untuk merespons risiko pengabaian
pengendaiian oleh manajemen.
3. Berkaitan dengan pengomunikasian kecurangan:
Auditor harus memasukkan dalam dokumentasi audit, komunikasi
tentang kecurangan yang telah dilakukan dengan manajemen, pihak
33
yang bertanggungjawab atas tata kelola badan pengatur, dan pihak-
pihak lainnya.

2.6. AREA RISIKO KECURANGAN SPESIFIK


Tergantung pada bidang usaha klien, sejumlah akun-akun tertentu rentan
terhadap manipulasi atau pencurian. Sejumlah akun berisiko tinggi akan
dibahas di bawah ini, termasuk tanda-tanda peringatan akan adanya
kecurangan. Namun, betapapun auditor memahami tanda-tanda  peringatan
ini, kecurangan tetap sangat sulit dideteksi. Namun demikian, kepedulian akan
peringatan kecurangan dan tehnik pendeteksian kecurangan Iainnya akan
meningkatkan kemungkinan auditor bisa mengidentifikasi kesalahan
penyajian material yang diakibatkan oleh kecurangan.

2.6.1. Risiko kecurangan pendapatan dan piutang usaha


Akun-akun pendapatan dan piutang usaha yang bersangkutan, serta kas
sangat rentan terhadap manipulasi dan pencurian. Suatu studi yang
disponsori oleh Committee of Sponsoring Organization (COSO)
menunjukkan bahwa 50% dari kecurangan pelaporan keuangan di
Amerika Serikat menyangkut akun pendapatan dan piutang usaha.
Demikian pula, karena penjualan seringkali dilakukan secara tunai atau
segera bisa dikonversi ke kas maka kas juga sangat rentan terhadap
pencurian.

Pelaporan Keuangan yang Mengandung Kecurangan untuk


Pendapatan
Sebagai akibat dari tingginya frekuensi pelaporan keuangan yang
mengandung kecurangan, IFRS menerbitkan pedoman untuk pengakuan
pendapatan. Standar audit juga secara khusus mewajibkan auditor untuk
mengidentifikasi pengakuan pendapatan sebagai risiko kecurangan pada
kebanyakan audit.

34
Ada sejumlah alasan yang membuat pendapatan rentan terhadap
manipulasi. Paling utama adalah karena pendapatan hampir selalu
merupakan akun terbesar dalam laporan laba-rugi, sehingga oleh
karenanya suatu persentase yang kecil dalam kesalahan penyajian
pendapatan masih dapat berpengaruh besar terhadap laba. Suatu
pelaporan Iebih saji pendapatan seringkali meningkatkan laba bersih
dengan jumlah yang sama, karena harga pokok penjualan yang
bersangkutan biasanya tidak diakui dalam pengakuan pendapatan fiktif
atau prematur. Perkembangan pendapatan seringkali merupakan
indikator kunci kinerja bagi para analis dan investor, sehingga menjadi
pendorong yang besar untuk menggelembungkan pendapatan. Alasan lain
mengapa pendapatan rentan terhadap manipulasi adalah karena dalam
banyak situasi terdapat kesulitan dalam penentuan saat yang tepat untuk
mengakui pendapatan. Ada tiga tipe utama manipulasi pendapatan, yaitu :
1. Pendapatan fiktif
Bentuk kecurangan pendapatan yang paling banyak dijumpai adalah
menciptakan pendapatan fiktif. Dalam kasus-kasus manipulasi yang
dijumpai akhir-akhir ini hampir semua menyangkut penjualan fiktif,
namun sebenarnya hal itu bukan barang baru. Sejak jaman dahulu
telah banyak manipulasi yang terbongkar dan banyak diantaranya
melibatkan penjualan fiktif.
Pelaku kecurangan melibatkan banyak pihak untuk mendukung
pendapatan fiktif. Sebagai contoh, aktivitas kecurangan pada Equity
Funding Corp of America yang berlangsung antara tahun 1964 - 1973,
menyangkut penerbitan polis asuransi fiktif, dan melibatkan belasan
orang karyawan. Pelaku kecurangan melibatkan bagian penanganan
arsip untuk menciptakan polis fiktif.
2. Pengakuan pendapatan prematur
Perusahaan sering mempercepat saat pengakuan pendapatan untuk
memenuhi tujuan pencapaian laba atau memenuhi peramalan
penjualan. Pengakuan pendapatan prematur adalah pengajuan
pendapatan sebelum saat pengakuan pendapatan sebagaimana
ditentukan dalam standar akuntansi.  Hal ini berbeda dengan
35
kesalahan pisah batas (cut off error) yaitu karena kurang hati-hati,
transaksi dicatat pada periode yang salah. Bentuk paling sederhana
pengakuan pendapatan prematur adalah penjualan yang seharusnya
dicatat tahun depan tetapi dicatat penjualan periode kini.
Salah satu metoda kecurangan melalui percepatan pendapatan
adalah dengan melanggar aturan akuntansi dengan cara yang disebut
penjualan “bill-and-hold”. Penjualan normalnya diakui pada saat
barang dikirim, tetapi dalam penjualan “bill-and-hold" barang difaktur
sebelum barang tersebut dikirim. Jenis penjualan semacam ini bisa sah
tergantung pada termin dalam perjanjian, tetapi bisa menjadi
melanggar aturan akuntansi apabila tidak memenuhi termin yang
diperjanjikan. Metoda lain adalah dengan cara menerbitkan perjanjian
tambahan untuk memodifikasi syarat dalam transaksi penjualan.
Sebagai contoh, pengakuan pendapatan kemungkinan besar tidak tepat
apabila banyak pelanggar sepakat untuk “membeli” sejumlah besar
persediaan pada akhir tahun, tetapi perjanjian tambahan memberi
persetujuan harga yang lebih menguntungkan pembeli dan retur
barang tak terbatas apabila barang barang tersebut tidak berhasil
dijual oleh si pembeli. Dalam banyak kasus, sebagai akibat atas
persyaratan dalam perjanjian tambahan, transaksi tidak memenuhi
syarat untuk diakui sebagai penjualan menurut standar akuntansi.
3. Manipulasi penyesuaian terhadapp pendapatan
Penyesuian yang paling sering dilakukan terhadap pendapatan
berkaitan dengan retur dan pengurangan harga penjualan. Perusahaan
bisa menyembunyikan retur penjualan dari auditor sehingga dapat
menaikkan penjualan bersih dan laba. Apabila barang yang
dikembalikan dihitung sebagai bagian dari persediaan fisik, maka
pengembalian tersebut akan menaikkan laba dalam laporan. Dalam hal
Ini kenaikan aset diakui melalui perhitungan fisik persediaan, tetapi
penurunan dalam akun piutang usaha  yang bersangkutan tidak
dilakukan.
Perusahaan bisa juga mengecilkan jumlah beban kerugian
piutang (bad debt expense), karena diperlukan pertimbangan yang
36
signifikan untuk menentukan jumlah yang benar. Perusahaan bisa
berusaha untuk mengecilkan beban kerugian piutang dengan
mengecilkan cadangan kerugian piutang. Karena besarnya cadangan
yang diperlukan tergantung pada umur piutang usaha sehingga
nampak umurnya lebih pendek dari yang sesungguhnya.

Tanda Peringatan untuk Kecurangan Pendapatan


Banyak tanda peringatan potensial atau gejala menunjukkan adanya
kecurangan pendapatan. Dua di antaranya yang paling berguna adalah
prosedur analitis dan ketidakcocokan dokumen.

Prosedur Analitis
Prosedur analitis sering memberi peringatan tentang adanya kecurangan
pendapatan, terutama analisis persentase Iaba kotor dan kecepatan
perputaran (turnover) piutang usaha. Pendapatan fiktif akan menaikkan
besarnya persentase laba kotor, dan pengakuan pendapatan prematur
juga akan menaikkan Iaba kotor apabila harga pokok penjualan yang
bersangkutan tidak diakui. Pendapatan fiktif juga akan menurunkan
kecepatan perputaran piutang usaha, karena pendapatan fiktif juga
dimasukkan ke dalam piutang tak tertagih.
Dalam kecurangan tertentu, manajemen membuat pendapatan fiktif
agar hasil prosedur analitis, misalnya Iaba kotor, sama dengan tahun
sebelumnya. Dalam kecurangan semacam ini, prosedur analitis biasanya
tidak bermanfaat untuk memberi peringatan adanya kecurangan.

Ketidakcocokan Dokumen
Transaksi fiktif jarang memiliki bukti dokumen dengan tingkat keabsahan
yang sama dengan transaksi yang sah. Dalam kasus kecurangan ZZZZ Best
yang terkenal, kontrak restorasi bernilai jutaan dollar didukung hanya
dengan satu atau dua halaman perjanjian dan tidak ada dokumen
pendukung detail lainnya, seperti misalnya izin membangun bangunan
(IMB) dari pemerintah yang lazim diperlukan dalam kontrak semacam itu.

37
Auditor harus waspada dengan tanda-tanda tak lazim dan perubahan
dalam dokumen, dan sebaiknya mengandalkan pada dokumen asli, bukan
pada dokumen duplikat. Karena pelaku kecurangan berusaha untuk
menyembunyikan kecurangan, satu saja transaksi tidak biasa ditemukan
dalam sampel harus dipandang sebagai indikasi potensial kecurangan
yang harus diselidiki.
Penggelapan Penerimaan Menyangkut Pendapatan
Meskipun penggelapan penerimaan kas jarang sematerial kecurangan
pelaporan pendapatan, kecurangan semacam ini bisa sangat berarti bagi
perusahaan karena menimbulkan kerugian aset secara langsung. Suatu
contoh tipikal penggelapan kas adalah dengan tidak mencatat penjualan
atau penyesuaian atas piutang usaha untuk menyembunyikan pencurian.

Tidak Mencatat Penjualan


Salah satu kecurangan yang paling sulit ditemukan adalah apabila
penjualan tidak dicatat dan penerimaan kas dari penjualan tersebut
kemudian dicuri. Kecurangan semacam itu akan lebih mudah dideteksi
apabila barang dijual kepada konsumen secara kredit. Penelusuran
dokumen pengiriman barang ke jurnal penjualan dan penghitungan semua
dokumen pengiriman dapat digunakan untuk memeriksa apakah sémua
penjualan telah dicatat
Akan jauh Iebih sulit untuk memeriksa apakah semua penjualan tunai
telah dicatat, terutama apabila tidak digunakan dokumen pengiriman
barang yang dapat digunakan untuk memeriksa kelengkapan penjualan,
dan tidak ada catatan ke buku pembantu pelanggan yang mendukung
penjualan. Dalam situasi semacam itu, jenis bukti dokumen lain
dibutuhkan untuk memeriksa bahwa semua penjualan telah dicatat.
Sebagai contoh, pada perusahaan yang menjual barang secara eceran
semua penjualan wajib dilakukan dengan melalui register kas. Penjualan
menurut catatan selanjutnya bisa dibandingkan dengan total jumlah
penjualan yang tercatat dalam pita kertas register kas. Apabila penjualan
tidak dilakukan dengan melalui register kas, hampir tidak mungkin untuk
mendeteksi kecurangan.
38
Pencurian Penerimaan Kas Setelah Penjualan Dicatat
Akan jauh lebih sulit untuk menyembunyikan pencurian penerimaan kas
setelah penjualan dicatat. Apabila pembayaran dari konsumen dicuri
bagian penagihan akan dengan cepat menemukan adanya kecurangan.
Akibatnya, untuk menyembunyikan pencurian, pelaku kecurangan harus
menurunkan jumlah dalam akun pelanggan dengan salah satu dari tiga
cara berikut:
1. Mencatat suatu retur atau pengurangan harga penjualan.
2. Menghapus akun pada pelanggan.
3. Menerapkan pembayaran dari pelanggan yang satu ke akun
pelanggan yang lain, yang biasa disebut lapping.

Tanda Peringatan Penggelapan Pendapatan dun Penerimaan Kas


Relatif sedikit pencurian penjualan dan penerimaan kas terkait yang bisa
dicegah dan dideteksi oleh pengendalian internal yang dirancang untuk
meminimumkan kesempatan kecurangan. Untuk mendeteksi kecurangan
yang Iebih besar, prosedur analitis dan pembandingan lainnya dapat
digunakan.
2.6.2. Risiko kecurangan persediaan
Pada banyak perusahaan, persediaan seringkali merupakan akun terbesar,
dan auditor sering menghadapi masalah dalam memeriksa keberadaan
dan penilaian persediaan. Akibatnya, persediaan menjadi rentan terhadap
manipulasi oleh manajemen yang berkeinginan untuk mencapai suatu
tujuan pelaporan keuangan tertentu. Selain itu, karena persediaan
seringkali juga berbentuk barang yang siap untuk dijual, maka persediaan
juga rentan terhadap penggelapan.

Risiko Pelaporan Keuangan mengandung Kecurangan untuk


Persediaan
Persediaan fiktif telah menjadi pusat dari sejumlah kasus besar pelaporan
keuangan yang mengandung kecurangan. Banyak perusahaan besar
memiliki aneka ragam persediaan yang berada di lokasi yang tersebar,
39
sehingga membuat perusahaan seperti itu menjadi mudah untuk
menambahkan persediaan fiktif pada catatan akuntansinya.
Standar audit mewajibkan auditor untuk memeriksa keberadaan fisik
persediaan yang dalam pelaksanaannya pengujian audit dilakukan atas
dasar sampel, dan tidak pada persediaan di semua lokasi. Dalam beberapa
kasus yang melibatkan persediaan fiktif, auditor memberi informasi di
muka kepada klien tentang lokasi persediaan yang akan diuji. Akibatnya,
menjadi mudah bagi klien untuk memindahkan barang ke lokasi yang
akan diuji.

Tanda Peringatan untuk Kecurangan Persediaan


Sama dengan kecurangan yang melibatkan piutang usaha, banyak tanda
peringatan potensial atau gejala menunjuk pada kecurangan persediaan.
Prosedur analitis adalah salah satu teknik yang berguna untuk mendeteksi
kecurangan persediaan.

Prosedur Analitis
Prosedur analitis, terutama persentase laba kotor dan kecepatan
perputaran (turnover) persediaan, sering membantu dalam
mengungkapkan kecurangan persediaan. Persediaan fiktif membuat harga
pokok penjualan menjadi lebih rendah, dan akibatnya membuat laba kotor
menjadi lebih tinggi. Persediaan fiktif juga membuat kecepatan
perputaran menjadi lebih rendah.

2.6.3. Risiko kecurangan pembelian dan utang usaha


Kasus-kasus kecurangan yang melibatkan utang usaha cukup biasa terjadi
meskipun tidak begitu sering dibandingkan dengan kecurangan yang
melibatkan persediaan atau piutang usaha. Pelaporan kurang saji utang
usaha biasanya mengakibatkan pembelian dan harga pokok penjualan
menjadi lebih rendah, dan laba bersih menjadi lebih tinggi. Kecurangan
signifikan yang melibatkan pembelian dapat juga terjadi dalam bentuk
pembayaran ke pemasok fiktif, dan juga melalui pengaturan - pengaturan
melanggar hukum dengan pemasok.
40
Risiko Pelaporan Keuangcm yang mengandung Kecurangan untuk Utang
Usaha
Perusahaan bisa secara sengaja melaporkan utang usaha lebih rendah dan
melaporkan laba lebih tinggi. Hal ini bisa dicapai dengan tidak mencatat utang
usaha hingga periode berikutnya atau dengan mencatat pengurangan fiktif
atas utang usaha.
Semua pembelian yang diterima sebelum akhir tahun harus dicatat
sebagai liabilitas. Hal ini relatif mudah untuk diperiksa apabila perusahaan
memeriksa penggunaan laporan penerimaan barang yang bernomor urut
tercetak (prenumbered). Namun apabila laporan penerimaan barang tidak
bernomor urut tercetak, atau perusahaan secara sengaja menghilangkan
laporan penerimaan barang dari catatan akuntansi, akan menjadi sulit bagi
auditor untuk memeriksa apakah semua liabilitas telah dicatat. Dalam situasi
semacam itu, bukti analitis, seperti misalnya perubahan ratio yang tidak biasa,
bisa menjadi petunjuk bahwa utang usaha dilaporkan rendah.
Perusahaan sering memiliki kesepakatan yang kompleks dengan pemasok
yang mengakibatkan pengurangan utang usaha untuk pemasangan advertensi
yang telah dilakukan perusahaan dan pengurangan-pengurangan harga
lainnya. Pengaturan-pengaturan ini seringkali tidak didokumentasikan sebaik
transaksi pembelian. Sejumlah perusahaan menggunakan pengurangan fiktif
atas utang usaha untuk membuat laba bersih menjadi lebih tinggi. Oleh karena
itu, auditor harus membaca dengan cermat kesepakatan dengan pemasok
apabila jumlahnya material dan memastikan bahwa laporan keuangan
mencerminkan substansi dari kesepakatan tersebut.

Kecurangan dalam Siklus Pembelian dan Pembayaran


Kécurangan yang paling umum terjadi dalam bidang pembelian ialah si pelaku
kecurangan melakukan pembayaran kepada pemasok fiktif dan menyetorkan
kas ke akun fiktif. Kecurangan semacam ini bisa dicegah apabila pembayaran
hanya dimungkinkan dilakukan kepada pemasok yang telah disetujui
perusahaan dan setelah dokumen pendukung pembelian diperiksa dengan
teliti oleh petugas yang ditetapkan perusahaan sebelum pembayaran
41
dilakukan. Dalam kasus kecurangan lain, pegawai bagian utang usaha mencuri
check yang akan dikirimkan ke pemasok yang sah. Dokumen-dokumen
pendukung pembelian tersebut kemudian diajukan kembali untuk
permohonan check yang akan dibayarkan kepada pemasok sah tadi.
Kecurangan semacam ini bisa dicegah dengan cara memberi tanda (cap atau
dipervorasi) pada dokumen pendukung agar tidak dapat digunakan kembali
untuk dimintakan pembayaran ulang.

2.6.4. Area lain risiko kecurangan


Meskipun sejumlah akun lebih rentan daripada akun lainnya, pada
hakekatnya setiap akun bisa dimanipulasi. Mari kita kaji beberapa akun
dengan risiko spesifik untuk terjadinya pelaporan yang mengandung
kecurangan atau penyelewengan.

Aset Tetap
Aset tetap yang pada banyak perusahaan memiliki saldo yang besar,
sering didasarkan pada penilaian yang subyektif. Akibatnya, aset tetap
sering menjadi target manipulasi, terutama pada perusahaan-perusahaan
yang tidak memiliki persediaan atau piutang usaha yang material. Sebagai
contoh perusahaan bisa mengkapitalisasi beban reparasi atau bebas
operasi lainnya sebagai aset tetap. Kecurangan semacam ini mudah
terdeteksi apabila auditor memeriksa bukti pendukung penambahan aset
tetap. Meskipun demikian, kasus - kasus pelaporan keuangan yang
mengandung kecurangan di masa lalu, seperti kasus WorldCom, ternyata
telah melibatkan pengkapitalisasian aset yang tidak tepat.
Karena nilainya yang tinggi dan kemudahan untuk dijual, asset tetap
sering menjadi target pencurian. Hal seperti itu terjadi pada aset - aset
tetap yang mudah diangkut (portable) seperti misalnya komputer laptop.
Untuk mengurangi kemungkinan pencurian, jika memungkinkan aset
tetap harus dilindungi secara fisik, diberi label permanen, dan harus
diperiksa keberadaan dan keadaannya secara periodik

Beban Gaji
42
Gaji jarang merupakan area untuk kecurangan pelaporan keuangan yang
berisiko signifikan. Namun demikian, perusahaan bisa melaporkan
persediaan dan laba bersih dengan jumlah yang lebih tinggi dengan cara
menambahkan beban gaji pada persediaan. Pegawai perusahaan kadang -
kadang juga digunakan untuk mengkonstruksi aset tetap. Dalam situasi
demikian, tambahan beban gaji atau upah bisa dikapitalisasi sebagai aset
tetap. Tunjangan - tunjangan lain yang material bisa juga menjadi sasaran
manipulasi.
Kecurangan gaji yang melibatkan penyalahgunaan aset sering juga
terjadi tetapi jumlahnya biasanya tidak material. Dua area kecurangan
yang sering dijumpai adalah menciptakan karyawan fiktif biasanya
menggelembungkan jam kerja karyawan. Keberadaan karyawan fiktif
biasanya bisa dicegah dengan mengadakan pemisahan antara bagian
sumberdaya manusia dengan fungsi penggajian. Penggelembungan jam
kerja biasanya bisa dicegah dengan menggunakan mesin pencatat kerja
atau pemberian persetujuan atas jam kerja.

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Materi Mempertimbangkan eisiko Kecurangan, membahas dua jenis
kecurangan, yaitu :
43
1. Pelaporan keuangan yang mengandung kecurangan
2. Perlakuan tidak semestinya terhdap asset
Auditor bertanggungjawab untuk mendapatkan keyakinan memadai bahwa
kesalahan penyajian material terdeteksi, baik yang diakibatkan oleh kesalahan
maupun kecurangan. Materi ini jelas menggambarkan cara bagaimana auditor
mengumpulkan informasi untuk menilai risiko kecurangan pada setiap audit
dan mengembangkan respons yang tepat untuk mengidentifikasi risiko
kecurangan, setelah mempertimbangkan efektivitas pengendalian dan
program anti kecurangan yang dibuat manajemen.
Apabila auditor mencurigai adanya kecurangan, auditor harus
mengumpulkan bukti tambahan, seringkali dengan cara meminta keterangann,
dan bertanggungjawab untuk melakukan sejumlah komunikasi tentang
kecurangan yang dicurigai atau terdeteksi dengan manajemen senior dan
pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola.

DAFAR PUSTAKA

Handbook of International Quality Control, Auditing Review, Other Assurance, and


Related Services Pronouncements, disusun oleh International Auditing and Assurance
Standar Board, edisi tahun 2013, diterbitkan oleh International Federation of
Accountants (IFAC).

44
Standar Profesional Akuntan Publik (Standar Audit(SA) 200 sa,pai dengan 720),
disusun oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI), edisi tahun 2013, diterbitkan
oleh Salemba Empat, Jakarta

Auditing and Assurance Services, An Integrated Approach, karangan Alvin A. Arens,


Randal J. Elder, dan Mark 5. Beasley, Global edition (edisi 15), diterbitkan oleh Pearson

LAMPIRAN
1. Yang dimaksud dengan pelaporan keuangan yang mengandung kecurangan, dan
berikan 2 contoh yang memberi gambaran tentang pelaporan keuangan
mengandung kecurangan
Jawaban:

45
Pelaporan keuangan yang mengandung kecurangan adalah suatu kesalahan
penyajian atau penghilangan suatu jumlah atau pengungkapan secara disengaja
dengan tujuan untuk menipu pengguna lapkeu.
Contoh: Kapitalisasi asset yang seharusnya diakui sebagai beban, dan
penghilangan jumlah kewajiban perusahaan.

2. Yang dimaksud dengan penyalahgunaan asset dan beri 2 contoh


Jawaban:
Penyalahgunaan asset adalah bentuk kecurangan yang menyangkut pencurian
asset entitas dan umumnya melibatkan pegawai dan pihak internal lain dalam
organisasi entitas.
Contoh:
a. Penggelapan kas perusahaan untuk keperluan pribadi.
b. Pengeluaran biaya perusahaan lebih besar dari yang diperuntungkan.

3. 3 kondisi kecurangan mana yang sering disebut segitiga kecurangan (fraud


triangle)
Jawaban:
 Insentif/Tekanan: Manajemen dan karyawan lain mendapat insentif/tekanan
utk melakukan kecurangan
 Kesempatan/peluang: Keadaan yang memberi peluang kepada
manajemen/karyawan utk melakukan kecurangan
 Perilaku/Rasionalisasi: Perilaku/karakter yg mengijinkan manajemen/
karyawan utk melakukan tindakan tidak jujur atau mereka dlm lingkungan yg
cukup memberi tekanan yg membenarkan mereka untuk melakukan tindakan
tidak jujur.

4. Berikan contoh faktor risiko untuk terjadinya pelaporan keuangan mengandung


kecurangan untuk ketiga kondisi kecurangan:
Jawaban:
Insentif Peluang Perilaku/Pembenaran
Manajemen atau Keadaan menciptakan Suatu perilaku, karakter,
karyawan yang lain suatu peluang bagi atau perangkat nilai etis

46
memiliki insentif atau manajemen atau yang memungkinkan
tekanan untuk karyawan untuk manajemen atau karyawan
melakukan pelaporan membuat laporan dengan sengaja melakukan
keuangan yang keuangan yang perbuatan tidak jujur, atau
mengandung mengandung mereka berada dalam
kecurangan secara kecurangan. lingkungan cukup tekanan
material yang menyebabkan mereka
membenarkan perbuatan
tidak jujur.
Contoh Faktor Risiko
 Kestabilan atau  Estimasi akuntansi  Komunikasi yang tidak
profitabilitas signifikan yang efektif atau tidak tepat
keuangan terancam menyangkut dan dukungan nilai
oleh kondisi pertimba-ngan dan entitas.
ekonomi, industri, ketidakpastian yang  Mengetahui sejarah
atau operasi entitas. sulit untuk pelanggaran atas
Sebagai contoh: diverifikasi. Undang-Undang
terjadi penurunan  Tidak efektifnya Sekuritas atau undang-
permintaan dari Dewan Komisaris undang dan peraturan
pelanggan dan dan Komite Audit lainnya.
meningkatnya mengawasi  Manajemen melakukan
kegagalan bisnis baik pelaporan peramalan yang sangat
dalam lingkup keuangan. agresif atau tidak realistis
industry maupun  Turnover yang terhadap analis, kreditur,
ekonomi secara tinggi dan tidak dan pihak ketiga lainnya.
keseluruhan. efektifnya staf
 Tekanan yang besar akuntansi, audit
terhadap manajemen internal atau
untuk melunasi teknologi informasi.
utang atau untuk  Pengendalian
memenuhi internal lemah.
persyaratan  Transaksi dengan
pinjaman lainnya. pihak berelasi yang

47
 Kesejahteraan signifikan.
pribadi manajemen
atau Dewan
Komisaris terancam
secara material oleh
kinerja keuangan
entitas.

5. Berikan contoh faktor risiko untuk penyalahgunaan asset untuk ketiga kondisi
kecurangan:
Jawaban:
Insentif Peluang Perilaku/Pembenaran
Manajemen atau Keadaan menciptakan Suatu perilaku, karakter,
karyawan yang lain suatu peluang bagi atau perangkat nilai etis
memiliki insentif atau manajemen atau yang memungkinkan
tekanan untuk karyawan untuk manajemen atau karyawan
memperlakukan aset memperlakukan asset dengan sengaja melakukan
tidak semestinya tidak semestinya perbuatan tidak jujur, atau
mereka berada dalam
lingkungan yang memberi
cukup tekanan yang
menyebabkan mereka
membenarkan perbuatan
tidak jujur.
Contoh Faktor Risiko
 Kewajiban  Adanya kas dalam  Tidak peduli dengan
keuangan pribadi jumlah besar atau kebutuhan untuk
menciptakan persediaan yang kecil memonitor atau
tekanan kepada bentuknya tapi mahal mengurangi risiko
mereka yang harganya atau banyak pencurian asset.
memiliki akses atas diminta.  Tidak peduli dengan
asset yang rentan  Lemahnya pengendalian internal
terhadap pengendalian internal dengan melanggar
pencurian. atas asset karena pengendalian yang ada

48
 Hubungan yang adanya kelemahan atau gagal untuk
tidak harmonis dalam hal-hal berikut: memperbaiki defisiensi
antara manajemen − Pemisahan tugas pengendalian internal
dan karyawan yang atau pemeriksaan yang telah diketahui.
memiliki akses atas independen.
asset yang rentan − Daftar pemasok
memotivasi untuk mendeteksi
karyawan untuk pemasok yang tidak
menggelapkan terotorisasi.
asset tersebut. − Penyaringan calon
Sebagai contoh: pegawai yang
promosi, memiliki akses
kompensasi, atau terha-dap asset.
penghargaan − Wajib cuti bagi
lainnya yang tidak pegawai yang
sesuai dengan yang memiliki akses
diharapkan. terha-dap asset.

6. Sumber-sumber apakah yang digunakan auditor untuk mendapatkan informasi


guna menilai risiko kecurangan
Jawaban:
 Pembahasan di antara Tim Perikatan (Tim Audit)
 Meminta Keterangan dari Manajemen
 Risiko Kecurangan
 Prosedur Analitis
 Informasi Lain
7. Apakah yang harus dipertimbangkan oleh tim audit dalam merencanakan diskusi
tentang risiko kecurangan
Jawaban:
Yang harus dipertimbangkan oleh tim audit dalam merencanakan diskusi tentang
risiko kecurangan adalah :
 Bagaimana mereka meyakini bahwa laporan keuangan entitas rentan
terhadap kesalahan penyajian material yang diakibatkan oleh kecurangan. Hal
49
ini mencakup pertimbangan-pertimbangan tentang factor-faktor eksternal dan
internal yang diketahui mempengaruhi entitas sehingga bisa:
− Menciptakan suatu insentif atau tekanan bagi manajemen untuk
melakukan kecurangan.
− Memberi peluang untuk melakukan kecurangan.
− Mengindikasikan suatu kultur atau lingkungan yang memungkinkan
manajemen membenarkan kecurangan.
 Bagaimana manajemen bisa melakukan dan menyembunyikan pelaporan
keuangan yang mengandung kecurangan.
 Bagaimana seseorang bisa memperlakukan tidak semestinya terhadap asset
entitas.
 Bagaimana auditor bisa merespons terhadap kerentanan kesalahan penyajian
material yang diakibatkan kecurangan.
8. Auditor harus meminta keterangan dari orang-orang dalam perusahaan ketika ia
mengumpulkan informasi untuk menilai kecurangan. Kepada siapa sajakah
auditor harus meminta keterangan untuk tujuan tersebut?
Jawaban:
 Meminta Keterangan dari Pihak-pihak Lain dalam Entitas
 Meminta Keterangan dari Auditor Internal
 Pemahaman tentang Pihak yang Bertanggungjawab atas Tata Kelola
9. Ada 2 komponen professional skeptisisme yaitu, sikap selalu mempertanyakan
dan menilai secara kritis bukti audit dan bagaimanakah kedua komponen tersebut
membantu auditor dalam membedakan antara kesalahan penyajian tidak
disengaja dan kesalahan penyajian yang disengaja
Jawaban:
 Sikap selalu mempertanyakan
Diperlukan pertanyaan secara berkelanjutan tentang apakah informasi dan
bukti audit yang telah diperoleh memberi petunjuk bahwa kesalahan
penyajian material yang diakibatkan oleh kecurangan mungkin terjadi. Hal
tersebut meliputi mempertimbangkan keandalan informasi yang akan
digunakan sebagai bukti audit dan pengendalian atas penyiapan dan
pemeliharaannya, jika relevan.
 Menilai secara kritis bukti audit
50
Ketika auditor mengidentifikasi kondisi yang menyebabkan auditor percaya
bahwa sebuah dokumen tidak asli atau hal-hal lain dalam dokumen tersebut
telah dimodifikasi tetapi tidak diungkapkan kepada auditor, maka prosedur
yang mungkin dilaksanakan untuk menginvestigasi lebih lanjut hal tersebut
dapat meliputi:
- Mengonfirmasi secara langsung kepada pihak ketiga.
- Menggunakan tenaga ahli untuk menilai keaslian dokumen.

10. Sebutkan 3 kategori respon auditor terhadap risiko kecurangan


Jawaban:
 Menentukan Respons Keseluruhan
 Merancang dan Melaksanakan Prosedur Audit yang Responsif terhadap
Penilaian Risiko Kesalahan Penyajian Material yang Diakibatkan oleh
Kecurangan pada tingkat Asersi
 Merancang dan Melaksanakan Prosedur Audit yang Responsif terhadap Risiko
yang Terkait dengan Pengabaian Pengendalian oleh Manajemen

11. Sebutkan 3 tindakan auditor yang diperlukan untuk menghadapi potensi


pelanggaran atas pengendalian yang dilakukan manajemen
Jawaban:
 Mengevaluasi Dasar Bisnis untuk Transaksi Signifikan yang Tidak Biasa
 Menelaah Estimasi Akuntansi untuk Menemukan Hal Bias dan Mengevaluasi
Apakah Kondisi yang Menyebabkan Hal Bias Tersebut, merupakan Kesalahan
Penyajian Material yang Diakibatkan Kecurangan
 Menguji Ketepatan Entri Jurnal yang Tercatat dalam Buku Besar dan
Penyesuaian Lain yang Dibuat dalam Penyusunan Laporan Keuangan

12. Sebutkan 3 teknik utama yang sering digunakan untuk memanipulasi pendapatan
Jawaban:
Ada tiga tipe utama manipulasi pendapatan, yaitu :
(a) Pendapatan Fiktif
Dalam kasus-kasus manipulasi yang dijumpai akhir-akhir ini hampir semua
menyangkut penjualan fiktif, namun sebenarnya hal itu bukan barang baru.
51
Pelaku kecurangan melibatkan banyak pihak untuk mendukung pendapatan
fiktif.
(b)Pengakuan pendapatan prematur
Pengakuan pendapatan prematur adalah pengakuan pendapatan sebelum saat
pengakuan pendapatan sebagaimana ditentukkan dalam standar akuntansi.
(c) Manipulasi penyesuaian atas
Penyesuaian yang paling sering dilakukan terhadap pendapatan berkaitan
dengan retur dan pengurangan harga pejualan. Perusahaan bisa juga
mengecilkan jumlah beban kerugian piutang karena diperlukan pertimbangan
yang signifikan untuk menentukan jumlah yang benar

13. Anda mengidentifikasi dugaan kecurangan yang dilakukan oleh controller


perusahaan. Apa yang harus anda lakukan untuk menanggapi temuan tersebut?
Jawaban:
1. Mendiskusikan temuan tersebut dengan manajemen dan meminta pandangan
manajemen tentang potensi kecurangan dan adanya rancangan pengendalian
untuk mencegah dan mendeteksi kesalahan penyajian material.
2. Auditor harus mempertimbangkan apakah program anti kecurangan dan
pengendalian tersebut memitigasi risiko kesalahan penyajian material yang
diakibatkan kecurangan yang teridentifikasi atau apakah pengendalian tidak
dapat mengurangi meningkatnya risiko kecurangan. Respons auditor terhadap
risiko kecurangan meliputi hal-hal berikut:
a. Menentukan respon keseluruhan
b. Merancang dan melaksanakan prosedur audit yang responsive terhadap
penilaian risiko kesalahan penyajian material yang diakibatkan oleh
kecurangan.
c. Merancang dan melaksanakan prosedur audit yang responsive terhadap
risiko yang terkait dengan pengabaian pengendalian oleh manajemen.

52