Anda di halaman 1dari 9

PEMERINTAH KOTA BANJARMASIN

DINAS KESEHATAN
PUSKESMAS 9 NOPEMBER
Jl.Keramat Raya No. 2 Rt. 2 Telp.3254509 Banjarmasin
Email:Pkmbjm_9nopember@yahoo.co.id Kode Pos 70237

KERANGKA ACUAN
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PUSKESMAS

A. PENDAHULUAN
Upaya kesehatan kerja ditunjukan untuk melindungi pekerja agar hidup
sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk
yang diakibatkan oleh pekerjaan. Pekerja dalam ayat tersebut termasuk
tenaga kesehatan dan non kesehatan yang bekerja di Puskesmas,
Puskesmas Pembantu menurut UU No. 36 tahun 2009 tentang
Kesehatan pada BAB XII Kesehatan Kerja pasal 164 ayat (1).

Puskesmas sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan dasar


merupakan ujung tombak terdepan dalam pelayanan kesehatan
masyarakat. Puskesmas berfungsi sebagai pusat pembangunan wilayah
berwawasan kesehatan, pusat pelayanan kesehatan perorangan primer,
pusat pelayanan kesehatan masyarakat primer dan pusat
pemberdayaan masyarakat. Sebagai unit pelayanan kesehatan memiliki
berbagai potensi bahaya yang berpengaruh buruk pada tenaga
kesehatan dan non kesehatan yang bekerja di Puskesmas, pasien,
pengunjung dan masyarakat disekitarnya. Potensi bahaya tersebut
meliputi golongan fisik, kimia, biologi, ergonomik dan psikososial.
Khususnya golongan biologi, merupakan bahaya potensi yang paling
sering menyebabkan gangguan kesehatan di puskesmas.

Potensi bahaya golongan biologis tersebut antara lain virus, bakteri,


jamur, protozoa, parasit, hewan pengerat. Virus dan bakteri merupakan
potensi bahaya yang paling sering mengancam pada petugas
Puskesmas. Hal tersebut terkait dengan masih tingginya prevalensi
berbagai penyakit yang disebabkannya yakni TB paru, Hepatitis B,
Hepatitis C dan HIV/AIDS yang dapat menular dari pasien ke petugas
Puskesmas selama menjalankan pekerjaan. Penyakit-penyakit tersebut
digolongkan dalam penyakit akibat kerja.

B. LATAR BELAKANG

1
Deklarasi Alma Ata tahun 1978, mengakui akan pentingnya petugas
Puskesmas dan petugas kesehatan masyarakat untuk memelihara
kesehatan di lingkungan tempat tinggal dan tempat kerja. Petugas
Puskesmas di banyak negara berkembang tidak terlatih dalam hal
pencegahan dan pengendalian sederhana terhadap berbagai masalah
kesehatan pekerja.
Mengingat potensi bahaya yang tinggi bagi petugas Puskesmas,
sehingga diperlukan kerangka acuan Keselamatan dan Kesehatan kerja
(K3) di Puskesmas yang diharapkan dapat dipergunakan sebagai acuan
terhadap perlindungan kesehatan petugas Puskesmas khususnya
petugas kesehatan yaitu mulai dari kegiatan promotif, preventif, kuratif,
rehabilitatif. Salah satu teknik pengelolaan risiko penularan penyakit di
Puskesmas adalah dengan penerapan standard precaution.

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat dan produktif
untuk petugas Puskesmas, pasien, pengunjung/pengantar pasien,
masyarakat dan lingkungan sekitar Puskesmas.

2. Tujuan Khusus
a. Terbentuknya kelompok kerja atau tim sebagai penanggung jawab
kegiatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Puskesmas.
b. Teridentifikasinya potensi bahaya/ risiko dan cara
pengendaliannya.
c. Terbentuknya kelompok kerja atau tim sebagai penanggung jawab
kegiatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Puskesmas.
d. Tersusunnya rencana kerja Keselamatan dan Kesehatan Kerja di
Puskesmas.
e. Terlaksananya monitoring dan evaluasi kegiatan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja di Puskesmas.
D. PERAN SERTA LINTAS PROGRAM DAN LINTAS SEKTOR
Kerjasama lintas program dan lintas sektor dalam kegiatan ini sangat
berperan, karena tanpa dukungan dari lintas program dan lintas sektor
tidak dapat berjalan. tim pelaksana dari pemegang program yang
selanjutnya bekerjasama dengan program lain.
Sebagai bahan dalam tindak lanjut masalah keselamatan dan kesehatan
kerja kepada para pekerja diwilayah Puskesmas. Selain itu kerjasama
dengan lurah dan tokoh masyarakat juga diperlukan dalam
keselamatan dan kesehatan kerja bagi pekerja

E. Ruang Lingkup Pelaksanaan

2
1. Pengenalan potensi bahaya di Puskesmas dan masalah kesehatan
yang ditimbulkannya.
2. Pelaksanaan Keselamatan dan kesehatan Kerja (K3) di Puskesmas
3. Standard Precaution di Puskesmas
4. Indikator keberhasilan

F. Pelaksana dan Teknis Kegiatan


1. Pelaksana
Petugas puskesmas dan pengguna jasa Puskesmas.

2. Teknis Kegiatan
a. Tahap Perencanaan.
1) Komitmen dan Kebijakan K3 Puskesmas
Komitmen melaksanakan K3 di Puskesmas merupakan
kesepakatan seluruh pegawai Puskesmas. Hasil dari komitmen
dituangkan dalam bentuk kebijakan tertulis Puskesmas untuk
pelaksanaan K3. Keberhasilan pelaksanaan K3 di puskesmas
sangat dipengaruhi oleh dukungan kebijakan Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota mengingat bahwa Puskesmas sebagai unit
Pelaksanaan Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Komitmen pelaksanaan K3 di Puskesmas diwujudkan dalam
bentuk penandatanganan kesepakatan oleh seluruh pegawai
Puskesmas setelah dilakukan sosialisasi oleh Kepala
Puskesmas pada saat lokakarya mini. Kebjikan K3 di
Puskesmas dituangkan dalam bentuk Surat Keputusan Kepala
Puskesmas yang berisikan tentang ruang lingkup pelaksanaan
K3 di Puskesmas
2) Pembentukan Tim K3 di Puskesmas
Pembentukan tim K3 di Puskesmas ditetapkan melalui Surat
Keputusan Kepala Puskesmas yang menyangkut susunan
organisasi, tugas dan tanggung jawab setiap pegawai.
Fungsi dari Tim K3 mengumpulkan dan menganalisa seluruh
data dan menginformasikan permasalah K3 di Puskesmas,
membantu kepala Puskesmas dan Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota melakukan upaya promosi K3, melaksanakan
pengawasan terhadap pelaksanaan program K3. Semua
pegawai Puskesmas terlibat dalam pelaksanaan K3 di
Puskesmas
3) Perencanaan K3 di Puskesmas
Setelah adanya komitmen dan terbentuknya tim K3 di
Puskesmas, bersama Kepala Puskesmas membuat rencana
kerja K3 di Puskesmas.

3
Dalam perencanaan K3 Puskesmas Tim sebelumnya
melakukan identifikasi atau Mapping potensi bahaya setiap
ruang di Puskesmas yakni administrasi, ruang pelayanan
kesehatan dan ruang lainnya serta tempat-tempat lain yang
ada dilingkungan Puskesmas seperti tempat pembuangan
sampah, golongan bahaya potensial
b. Tahap Pelaksanaan.
1) Menyusun Standar Prosedur Operasional (SPO), rambu
petunjuk K3. Agar pelaksanaan kegiatan K3 di Puskesmas
berjalan sesuai dengan standar yang disusun SPO meliputi SPO
cara kerja/ pelayanan, SPO pengelolaan alat, SPO penggunaan
APD, SPO pengelolaan limbah, dll.
2) Pembudayaan K3 melalui pemanfaatan SPO, sosialisasi SPO
yang telah disusun pada seluruh jajaran petugas Puskesmas
sesuai dengan tempat kerjanya.
3) Penyediaan kebutuhan sarana dan prasarana yang mendukung
dan penunjang pelaksanaan K3 di Puskesmas.
4) Pelayanan kesehatan kerja dan tanggap darurat,
 Pelayanan kesehatan kerja merupakan pelayanan kesehatan
berupa pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja, berkala
dan khusus untuk petugas kesehatan yang berisiko di
Puskesmas. Pelayanan kesehatan dapat dilakukan dengan
memberikan pengobatan dan perawatan pada petugas
Puskesmas yang menderita sakit termasuk peningkatan
kesehatan fisik dan mental.
 Mapping lingkungan tempat kerja (area yang dianggap
berisiko dan berbahaya)
 Menyiapkan sarana dan prasarana tanggap darurat,
membuat rambu-rambu jalan keluar evakuasi apabila
terjadi bencana.
5) Pengelolaan alat berupa kegiatan penyediaan dan pemeliharaan
peralatan puskesmas agar layak digunakan dengan selalu di
kalibrasi dan sertifikasi.
6) Pengelolaan limbah dilakukan seperti penyediaan fasilitas
untuk penanganan dan pengelolaan limbah padat, pengelolaan
limbah medis dan non medis.
7) Peningkatan kemampuan sumber daya merupakan kegiatan
untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan bagi
petugas puskesmas dalam bekerja yang sehat dan aman antara
lain dengan mengirim pegawai puskesmas mengikuti pelatihan
tentang pencegahan infeksi, pelatihan tentang penatalaksanaan
alat.

4
8) Penyediaan dukungan sarana dan prasarana K3 yang
mendukung pelaksanaan kegiatan K3 di Puskesmas dengan
menyediakan alat K3 secara sederhana (APAR, APD, antiseptik,
vaksin dll).
9) Monitoring dan evaluasi yaitu kegiatan pemantauan yang
berkaitan dengan tujuan dan sasaran K3 dengan melakukan
inspeksi dan pengujian sesuai dengan objeknya sehingga perlu
dilakukan identifikasi potensi bahaya di setiap ruang
administrasi, ruang pelayanan kesehatan dan ruangan lainnya
serta tempat-tempat lain yang ada di lingkungan Puskesmas
seperti tempat pembuangan sampah dari berbagai golongan
bahaya potensial dibandingkan dengan perencanaan yang ada.
10) Tidak semua bahaya potensial di tempat kerja (Puskesmas)
perlu dilakukan pengendalian disesuaikan dengan tingkat risiko
yang ada.
11) Pengendalian risiko dengan menggunakan pendekatan
pelayanan kesehatan yang meliputi :
a. Upaya Promotif
1. Menginformasikan potensi bahaya yang ada di Puskesmas
kepada seluruh petugas Puskesmas
2. Melakukan penyuluhan tentang potensi bahaya
dilingkungan kerja dan masalah kesehatan yang
ditimbulkannya, penyuluhan penggunaan APD yang tepat
dan benar.
3. Memasang leafleat, poster dan penyebaran brosur.
4. Menginformasikan PHBS di tempat kerja.
5. Melaksanakan latihan fisik, bimbingan rohani, rekreasi.
b. Upaya Preventif
Pelaksanaan upaya preventif dengan menggunakan :
1. Penerapan prinsip pencegahan berupa : penerapan cuci
tangan, penggunaan sarung tangan, barier protection
( penggunaan lotion, masker, apron, mengganti tensi meter
yang menggunakan merkuri dengan tensi meter digital,
mengganti bahan tambal gigi amalgam dengan bahan
seperti Glass Lonomer Composite, mengurangi sumber
eksposur contohnya penutup/isolasi mesin kompresor
ruang poli gigi, pengaturan shift kerja, penyusunan SPO
dan lain-lain.
2. Pemberian imunisasi pada petugas kesehatan diberikan
dengan memperhatikan tingkat risiko penularan. Saat ini
diharapkan petugas kesehatan dapat diberikan imunisasi
Hepatitis B serta imunisasi yang tersedia sesuai
kebutuhan.

5
3. Penatalaksanaan limbah Puskesmas termasuk
pembuangan sampah
 Limbah Domestik/ rumah tangga
Limbah yang berasal dari kegiatan non medis, seperti
kegiatan dapur, sampah dari pengunjung, dll yang
tidak mengandung kuman infeksius. Termasuk
didalamnya kardus obat, plastik, pembungkus syringe,
dan benda lainnya yang tidak menganadung dan tidak
terkontaminasi kuman patogen atau bahan infeksius.
Limbah ditampung dalam kantong hitam, untuk
selanjutnya dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA).
 Limbah benda tajam
Materi padat yang memiliki sudut lancip dan dapat
menyebabkan luka iris atau tusuk. Contohnya jarum
suntik, kaca sediaan, infus set, ampul/vial obat.
Limbah benda tajam tidak boleh dilakukan recapping
langsung ditampung dalam safety box atau kontainer
lain yang kuat dan tidak bocor sebelum ditimbun. Daur
ulang dari limbah benda tajam sangat tidak
dianjurkan.
 Limbah Infeksius
Limbah yang diduga mengandung patogen (virus,
bakteri, parasit dan jamur) dalam jumlah yang cukup
untuk menyebabkan penyakit pada pekerja yang
rentan, misalnya kultur dan stok agen infeksius dari
aktifitas laboratorium.
 Limbah Patologis
Yaitu limbah yang berasal dari jaringan tubuh, limbah
jenis ini harus ditampung dalam wadah yang kuat dan
tidak bocor misalnya darah, muntahan, air seni dan
cairan tubuh lainnya.
 Limbah Farmasi
Yaitu limbah yang mengandung bahan-bahan farmasi
seperti produk farmasi, obat, vaksin, serum yang sudah
kadaluarsa dikembalikan keDinas
4. Deteksi dini melalui Medical Chek Up (MCU)
 Pemeriksaan berkala dilakukan kepada seluruh
pegawai Puskesmas minimal 1 (satu) tahun sekali
untuk mengetahui perubahan status kesehatan
pekerja secara dini
 Pemeriksaan kesehatan khusus dilaksanakan
kepada pegawai yang mengalami pajanan tertentu
untuk menilai adanya pengaruh dari pekerja tertentu

6
terhadap pegawai atau golongan pegawai tertentu
seperti laboratorium.
c. Upaya Kuratif
Pelaksanaan tindakan pengobatan bagi petugas Puskesmas
yang mengalami gangguan kesehatan selama melakukan
pekerjaan
 Penatalaksanaan kecelakaan kerja seperti tertusuk jarum
bekas/benda tajam alat tindakan medis.
 Penatalaksnaan cedera akibat kecelakaan kerja
 Pengobatan penyakit akibat kerja ( PAK ) mengikuti
pedoman penatalaksanaan penyakit akibat kerja
 Melakukan rujukkan kasus
d. Upaya Rehabilitatif
Pengendalian melalui upaya rehabilitatif ditujukan untuk
mencegah kematian dan kecatatan yang semakin berat.
Misalnya pada petugas kesehatan yang tertusuk jarum,
dilakukan pemantauan status HbsAg, konseling untuk HIV
AIDS. Rekomendasi terhadap penempatan kembali pekerja
sesuai kemampuannya dan pentahapan untuk dapat
kembali pada pekerja semula setelah sembuh dari
sakit/kecelakaan kerja.
c. Tahap Pengawasan, Pemantauan dan Evaluasi
 Pengawasan dilakukan oleh Tim K3 Puskesmas secara berkala
sesuai jadwal yang sudah ditentukan dalam perencanaan.
 Pemantauan dilakukan terhadap kepatuhan SPO, pengguna APD
penyediaan kebutuhan sarana dan prasarana, pelayanan
kesehatan kerja dan tanggap darurat, pengelolaan alat,
pengelolaan limbah, peningkatan kemampuan sumber daya,
penyediaan dukungan sarana dan prasarana K3 ( Alat pemadam
api ringan/APAR, APD), penilaian risiko ( lama pajanan,
frekuensi, durasi, intensitasi).
 Bentuk pemantauan dilakukan dengan menggunakan instrumen
sehingga didapatkan data pemantauan berkala sesuai dengan
pelaksanaan kegiatan K3 diPuskesmas
 Evaluasi dilakukan secara internal oleh Tim K3 Puskesmas
setiap tahun yang bertujuan untuk menilai pelaksanaan K3 yang
telah dilakukan tahun terakhir dan hasilnya digunakan untuk
perencanaan kegiatan selanjutnya. Evaluasi yang dilakukan
meliputi input, proses dan output dengan menggunakan
instrumen.

G. Sasaran

7
Seluruh karyawan staf Puskesmas 9 Nopember dan para pekerja baik
informal dan formal diwilayah kerja Puskesmas 9 Nopember
H. Biaya
Pembiayaan kegiatan ini dibebankan pada DPA-SKPD Dinas Kesehatan
Kota Banjarmasin Program Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak
Kegiatan Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu & Reproduksi (DAK
Non Fisik) Nomor 1.02.1.02.01.34.05.5.2 tahun anggaran 2019
berjumlah Rp8.9150.000,- , dengan rincian :
No Kode Rekening Uraian Jumlah
1. 5.2.2.32.01 Pembinaan dan Pemantauan Kesehatan Rp. 4.320.000
kerja 12x kegiatan x 4 OH
Sosialisai, Orientasi ditempat kerja disertai Rp. 2.075.000
makan dan snack (1x kegiatan)
Pemeriksaan tempat kerja dan pekerja Rp. 1.800.000
( 10x kegiatan x 2 OH)
Pendataan ditempat Kerja( 8xkegiatan x 1 Rp. 720.00
OH)
JUMLAH Rp. 8.915.000
Data terlampir
I. Pencatatan, pelaporan, dan evaluasi kegiatan
Evaluasi pelaksanaan program akan dilakukan sebagai berikut :
1. Evaluasi terhadap ketepatan pelaksanaan waktu kegiatan
a. Waktu : setiap bulan
b. Pelaksana
1) Kepala Puskesmas
2) Staf Puskesmas 9 Nopember
3) Penanggungjawab program
Dokumen laporan yang berisi : laporan evaluasi (laporan hasil kegiatan),
rencana tindak lanjut, hasil olah dan analisis data,) ditujukan kepada
Kepala Dinas Kesehatan.
2. Evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan :
a. Waktu :
1) Setiap bulan sesuai dengan jadwal yang dibuat
b. Pelaksana
1) Kepala Puskesmas
2) Staf karyawan Puskesmas 9 Nopember
3) Penanggung jawab program

8
Dokumen laporan yang berisi : rencana tindak lanjut, rekomendasi,
hasil olah dan analisis data, laporan evaluasi (laporan hasil kegiatan)
ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan.

Banjarmasin, 2019

Kepala Puskesmas 9 Nopember Penanggung Jawab K3

dr. Masliani dr. Yunisa Astuty


NIP. 19801118 200803 2 003 NO : 821/32-Sekr/Dinkes