Anda di halaman 1dari 22

DOKUMENTASI KEPERAWATAN

“KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN


KEBUTUHAN DASAR MANUSIA CAIRAN DAN ELEKTROLIT PADA
BAYI”

DOSEN PEMBIMBING : Dahrizal, S.Kp, M.P.H

DISUSUN OLEH : Bella Samya Dwi Putri (P05120218052)

KELAS : 1B / D3 Keperawatan

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES BENGKULU
JURUSAN DIII KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2018/2019

1
BAB 1

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Definisi

Cairan tubuh adalah cairan yang terdiri dari air dan zat terlarut (Price,
2006).

Cairan tubuh adalah cairan suspensi sel didalam tubuh makhluk hidup
multiseluler seperti manusia atau hewan yang memiliki fungsi fisiologis
tertentu. Cairan tubuh merupakan komponen penting bagi fluida ekstraselular,
termasuk plasma darah dan fluida transelular. Cairan tubuh dapat ditemukan
pada spasi jaringan.

Elektrolit adalah substansi yang berdiasosiasi (terpisah) di dalam larutan


dan akan menghantarkan arus listrik (Horne,2001). Elektrolit adalah zat kimia
yang menghasilkan partikel-pertikel bermuatan listrik yang disebut ion jika
berada dalam larutan (Price, Sylvia, 2006).

Kebutuhan cairan dan elektrolit adalah suatu proses dinamik karena


metabolisme tubuh mrmbutuhkan perubahan yang tetap dalam berespon
terhadap stressor fisiologis dan lingkungan. Cairan dan elektrolit saling
berhubungan, ketidakseimbangan yang berdiri sendiri jarang terjadi dalam
bentuk kelebihan dan kekurangan (Tarwoto & Wartonah,2006)

Kebutuhan cairan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia secara


fisiologis, yang memiliki proporsi besar dalam bagian tubuh, hampir 90 %
dari total beratbadan. Sementara itu, sisanya merupakan bagian padat dari
tubuh. Elektrolit terdapat pada seluruh cairan tubuh. Cairan
tubuhmengandung oksigen, nutrien, dan sisa metabolisme, seperti
karbondioksida,yang semuanya disebut dengan ion(Hidayat,2006).

Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi


tubuh tetap sehat. Cairan tubuh adalah larutan yang terduri dari zat pelarut dan

2
zat terlarut. Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti adanya distribusi yang
normal dari air tubuh total dan elktrolit ke dalam seluruh bagian tubuh.
Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung satu dengan yang lain,
jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh pada yang lainnya. Pada
bayi baru lahir jumlah cairan tubuhnya 70-80% dari BB, usia 1 tahun 60 %
dari BB. Bayi memerlukan jumlah cairan lebih banyak dibandingkan pada
dewasa.

B. Etiologi

a) Ketidakseimbangan cairan

1. Ketidakseimbangan isotonik

a. Kekurangan volume cairan Kekurangan cairan, tetapi kadar elektrolit


serum tidak berubah, terjadi melalui gastrointestinal (muntah, diare),
perdarahan, pemberian obat diuretik, banyak keringat, demam, dan
penurunan asupan per oral.

b. Kelebihan volume cairan Kelebihan cairan tanpa disertai perubahan


elektrolit serum, terjadi pada gagal jantung kongestif, gagal ginjal, dan
sirosis.

c. Sindrome ruang ketiga Sindrome terjadi ketika cairan ekstrasel


berpindah ke dalam suatu ruangan tubuh sehingga cairan tersebut
terperangkap di dalamnya. Obstruksi usus, luka bakar dapat menyebabkan
perpindahan cairan sebanyak 5-10 liter, keluar dari ruang ekstrasel. 

2. Ketidakseimbangan osmolar

a. Hiperosmolar (dehidrasi) Kehilangan cairan tanpa disertai kehilangan


elektrolit yang proporsional, terutama natrium. Misalnya, asupan oral
tidak cukup, lansia (penurunan cairan intrasel, penurunan respons
terhadap rasa haus, peningkatan proporsi lemak tubuh), penurunan sekresi
ADH (diabetes insipidus), deuresis osmotik, pemberian formula/larutan
hipertonik, yang meningkatkan jumlah solut dan konsentrasi darah.

3
b. Hipoosmolar (kelebihan cairan) Kelebihan cairan terjadi ketika asupan
cairan berlebihan, sekresi ADH berlebihan, sehingga terjadi pengenceran
cairan ekstrasel disertai osmosis cairan ke sel dan menyebabkan edema.

b) Ketidakseimbangan elektrolit.

1. Ketidakseimbangan natrium

Hiponatremia adalah konsentrasi natrium dalam darah lebih rendah,


terjadi saat kehilangan natrium atau kelebihan air. Hiponatremia
menyebabkan kolaps pembuluh darah dan syok. Hipernatremia adalah
konsentrasi natrium dalam darah lebih tinggi, dapat disebabkan oleh
kehilangan air yang ekstrim atau kelebihan natrium.

2. Ketidakseimbangan kalium

Hipokalemia adalah kalium yang bersikulasi tidak adekuat, dapat


disebabkan oleh penggunaan diuretik. Hipokalemia dapat menyebabkan
aritmia jantung. Hiperkalemia adalah jumlah kalium dalam darah lebih
besar, disebabkan oleh gagal ginjal.

3. Ketidakseimbangan kalsium

Hipokalsemia mencerminkan penurunan kadar kalsium serum.


Hiperkalsemia adalah peningkatan konsentrasi kalsium serum.

4. Ketidakseimbangan magnesium

Hipomagnesemia terjadi ketika kadar konsentrasi serum turun sampai di


bawah 1,5 mEq/L, menyebabkan peningkatan iritabilitas neuromuskular.
Hipermagnesemia terjadi ketika konsentrasi magnesium serum meningkat
sampai di atas 2,5 mEq/L, menyebabkan penurunan eksitabilitas sel-sel
otot.

5. Ketidakseimbangan klrorida

Hipokloremia terjadi jika kadar klorida serum turun sampai di bawah 100
mEq/L, disebabkan oleh muntah atau drainage nasogastrik/fistula,

4
diuretik. Hiperkloremia terjadi jika kadar serum meningkat sampai di atas
106 mEq/L.

C. Faktor yang Memengaruhi Keseimbangan Cairan dan Elektrolit pada


bayi

a. Usia

Proporsi air dalam tubuh bayi lebih besar daripada proporsi air dalam tubuh
anak usia sekolah, remaja, atau dewasa. Namun, bayi memiliki risiko lebih
tinggi untuk mengalami kekurangan cairan atau hiperosmolar karena per
kilogram berat tubuhnya akan kehilangan air yang lebih besar secara
proporsional. Respons bayi terhadap penyakit adalah demam yang dapat
meningkatkan kecepatan kehilangan air.

b. Ukuran Tubuh

Lemak tidak mengandung air, karena itu bayi gemuk memiliki proporsi air
tubuh lebih sedikit dibandingkan bayi normal. 

c. Temperatur Lingkungan

Lingkungan yang panas menyebabkan bayi berkeringat, akibatnya tubuh


kehilangan cairan, sehingga kehilangan natrium dan klorida.

d. Gaya Hidup

1) Diit

Diit cairan, garam, kalium, kalsium, magnesium, karbohidrat, lemak, dan


protein, membantu tubuh mempertahankan status cairan, elektrolit, dan
asam basa. Intake nutrisi tidak adekuat menyebabkan serum albumin
menurun sehingga cairan interstitiil tidak ke pembuluh darah, yang disebut
udem.

2) Stres

5
Stres meningkatkan kadar aldosteron dan glukokortikoid, sehingga
menyebabkan retensi natrium dan garam. Selain itu, peningkatan sekresi
ADH akan menurunkan haluaran urine, sehingga meningkatkan volume
cairan.

D. Klasifikasi Kebutuhan Cairan Menurut Usia dan Berat Badan


No
Umur BB (Kg) Cairan (ml/24jam)
.
1 3 hari 3,0 250 ─ 300
2 1 tahun 9,5 1150 ─ 3000
3 2 tahun 11,8 1350 ─ 1500
4 6 tahun 20 1800 ─ 2000
5 10 tahun 28,7 2000 ─ 2500
6 14 tahun 45 2200 ─ 2700
7 16 tahun (adult) 54 2200 ─ 2700

E. Organ yang Berperan Pada Kebutuhan Cairan dan Elektrolit


1. Ginjal
Merupakan organ yang memiliki peran cukup besar dalam mengatur
kebutuhan cairan dan elektrolit. Terlihat pada fungsi ginjal, yaitu sebagai
pengatur air, pengatur konsentrasi garam dalam darah, pengatur
keseimbangan asam-basa darah dan ekskresi bahan buangan atau
kelebihan garam. Proses pengaturan kebutuhan keseimbangan air ini
diawali oleh kemampuan bagian ginjal, seperti glomerulus dalam
menyaring cairan. Rata-rata setiap satu liter darah mengandung 500 cc
plasma yang mengalir melalui glomerulus, 10% nya disaring keluar.
Cairan yang tersaring (filtrate glomerulus), kemudian mengalir melalui
tubuli renalis yang sel-selnya menyerap semua bahan yang dibutuhkan.
Jumlah urine yang diproduksi ginjal dapat dipengaruhi oleh ADH dan
aldosteron dengan rata-rata 1 ml/kg/bb/jam.
2. Kulit
Merupakan bagian penting pengaturan cairan yang terkait dengan
proses pengaturan panas. Proses ini diatur oleh pusat pengatur panas yang
disarafi oleh vasomotorik dengan kemampuan mengendalikan arteriol
kutan dengan cara vasodilatasi dan vasokontriksi. Proses pelepasan panas

6
dapat dilakukan dengan cara penguapan. Jumlah keringat yang dikeluarkan
tergantung banyaknya darah yang mengalir melalui pembuluh darah dalam
kulit. Proses pelepasan panas lainnya dapat dilakukan melalui cara
pemancaran panas ke udara sekitar, konduksi (pengalihan panas ke benda
yang disentuh), dan konveksi (pengaliran udara panas ke permukaan yang
lebih dingin).
3. Paru-paru
Organ paru berperan mengeluarkan cairan. Proses pengeluaran cairan
terkait dengan respons akibat perubahan upaya kemampuan bernapas.
4. Gastrointestinal
Merupakan organ saluran pencernaan yang berperan dalam
mengeluarkan cairan melalui proses penyerapan dan pengeluaran air.
Pengaturan keseimbangan cairan dapat melalui system endokrin, seperti:
system hormonal.
F. Fisiologi
Perpindahan cairan dan elektrolit tubuh terjadi dalam tiga fase yaitu :

a. Fase I
Plasma darah pindah dari seluruh tubuh ke dalam sistem sirkulasi, dan
nutrisi dan oksigen diambil dari paru-paru dan tractus gastrointestinal.
b. Fase II
Cairan interstitial dengan komponennya pindah dari darah kapiler dan sel

c. Fase III
Cairan dan substansi yang ada di dalamnya berpindah dari cairan
interstitial
masuk ke dalam sel. Pembuluh darah kapiler dan membran sel yang
merupakan membran
semipermiabel mampu memfilter tidak semua substansi dan komponen
dalam cairan tubuh ikut berpindah. Metode perpindahan dari cairan dan
elektrolit tubuh dengan cara :
• Diffusi
• Filtrasi

7
• Osmosis
• Transport aktif

Difusi dan osmosis adalah mekanisme transportasi pasif. Hampir semua zat
berpindah dengan mekanisme transportasi pasif. Diffusi sederhana adalah
perpindahan partikel-partikel dalam segala arah melalui larutan atau gas.
Beberapa faktor yang mempengaruhi mudah tidaknya difusi zat terlarut
menembus membran kapiler dan sel yaitu :
• Permebelitas membran kapiler dan sel
• Konsenterasi
• Potensial listrik
• Perbedaan tekanan.
Osmosis adalah proses difusi dari air yang disebabkan oleh perbedaan
konsentrasi. Difusi air terjadi pada daerah dengan konsenterasi zat terlarut
yang rendah ke daerah dengan konsenterasi zat terlarut yang tinggi.
Perpindahan zat terlarut melalui sebuah membrane sel yang melawan
perbedaan konsentrasi dan atau muatan listrik disebut transportasi aktif.
Transportasi aktif berbeda dengan transportasi pasif karena memerlukan
energi dalam bentuk adenosin trifosfat (ATP). Salah satu contonya adalah
transportasi pompa kalium dan natrium. Natrium tidak berperan penting
dalam perpindahan air di dalam bagian plasma dan bagian cairan interstisial
karena konsentrasi natrium hampir sama pada kedua bagian itu. Distribusi
air dalam kedua bagian itu diatur oleh tekanan hidrostatik yang dihasilkan
oleh darah kapiler, terutama akibat oleh pemompaan oleh jantung dan
tekanan osmotik koloid yang terutama disebabkan oleh albumin serum.
Proses perpindahan cairan dari kapiler ke ruang interstisial disebut
ultrafilterisasi. Contoh lain proses filterisasi adalah pada glomerolus ginjal.
Meskipun keadaan di atas merupakan proses pertukaran dan pergantian
yang terus menerus namun komposisi dan volume cairan relatif stabil, suatu
keadaan yang disebut keseimbangan dinamis.

G. Masalah Keperawatan dengan Gangguan Keseimbangan Cairan dan


Elektrolit

8
1. Hipovolemia
Adalah kondisi akibat kekurangan volume Cairan Ekstraseluler
(CES), dan dapat terjadi karena kehilangan melalui kulit, ginjal,
gastrointestinal, pendarahan sehingga menimbulkan syok hipovolemik.
Mekanisme kompensasi pada hipovolemik adalah peningkatan rangsangan
saraf simpatis (peningkatan frekuensi jantung, kontraksi jantung, dan
tekanan vaskuler), rassa haus, pelepasan hormone ADH dan adosteron.
Hipovolemik yang berlangsung lama dapat menimbulkan gagal ginjal
akut.Gejala : pusing, lemah, letih, anoreksia, mual, muntah, rasa haus,
gangguan mental, konstipasi dan oliguri, penurunan tekanan darah, HR
meningkat, suhu meningkat, turgor kulit menurun, lidah kering dan kasar,
mukosa mulut kering. Tanda – tanda penurunan berat badan akut , mata
cekung pengosongan vena jugularis. Pada bayi adanya penurunana jumlah
air mata.
2. Hipervolemia
Adalah penambahan/kelebihan volume cairan CES dapat terjadi
pada saat :
a. Stimulasi kronis ginjal untuk menahan natrium dan air
b. Fungsi ginjal abnormal, dengan penurunan ekskresi natrium dan air
c. Kelebihan pemberian cairan
d. Perpindahan CIT ke plasma.
Gejala : sesak nafas, peningkatan dan penurunan tekanan darah, nadi kuat,
asites, edema, adanya ronchi, kulit lembab, distensi vena leher dan irama
gallop.(Tarwoto & Wartonah, 2010)

H. Komplikasi
Komplikasi yang timbul akibat gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit pada bayi yaitu,kejang, koma, dehidrasi, dan gagal jantung.
Komplikasi dari gangguan keseimbangan cairan merupakan kondisi dimana saat
kaddar elektrolit didalam tubuh seseorang menjadi tidak seimbang. Bisa terlalu
tinggi bisa terlalu rendah,sehingga dapat menimbulkan gangguan fungsi organ
didalam tubuh.

9
I. Penatalaksanaan
a) Penatalaksanaan Medis
1. Terapi cairan IV.
2. Pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah lengkap.
3. Terapi obat-obatan.
4. Transfusi darah (jika diperlukan).
b) Penatalaksanaan Keperawatan
1. Menghitung tetesan infus.
2. Rehidrasi oral.
3. Menghitung keseimbangan cairan.
4.

10
BAB II
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN
GANGGUAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

A. Pengkajian
1. Biodata
a. Identitas pasien : Nama, umur, jenis kelamin,suku, agama,
pekerjaan, pendidikan, alamat.
b. Identitas penanggung jawab : Nama, umur, jenis kelamin, agama,
pekerjaan, hubungan dengan pasien, alamat.
2. Keluhan utama
Keluhan utama adalah keluhan yang paling dirasakan mengganggu
oleh pasien pada saat perawat mengkaji.biasanya pasien mengeluh
muntah, diare, perdarahan, volume urine turun/meningkat,konsentrasi
urine meningkat,dan dehidrasi
3. Riwayat kesehatan sekarang
Riwayat kesehatan sekarang meliputi keluhan umum mulaidari
sebelum adanya keluhan sampai terjadinya keluhan utama
4. Riwayat kesehatan dahulu
Riwayat kesehatan dahulu meliputi penyakit yang berhubungan
dengan penyakit yang diderita sekarang dengan keluhan dan penyakit
yang sama.
5. Riwayat kesehatan keluarga
Dalam riwayat kesehatan keluarga yang perlu dikaji yaitu apakah ada
anggota keluarga yang mengalami masalah atau penyakit seperti yang
dialami pasien sekarang
6. Kebutuhan sehari-hari
a. Nutrisi
Meliputi frekuensi makan pasien saat dirumah normal,namun saat
dirumah sakit frekuensi makan pasien menurun
b. Eliminasi

11
Kebiasaan berkemih pasien, Pasien dengan gangguan cairan dan
elektrolit pola BAB dan BAK nya tidak normal. Frekuensi,volume,
serta konsistensi BAK pasien meningkat/menurun.
c. Aktivitas
Pasien dengan gangguan cairan dan elektrolit saat dirumah sakit
aktivitasnya menurun dan tidak dapat melakukan aktivitas seperti
biasanya.
d. Istirahat dan tidur
Pasien lebih banyak beristirahat dan tidur saat mengalami gangguan
cairan dan elektrolit.
7. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum : pasien tampak lemah
b. Tingkat kesadaran : compos mentis
c. Mulut : membran mukosa kering, bibir kering dan pecah-pecah
d. Mata : pada bayi fontanela cekung jika kekurangan cairan dan
menonjol jika kelebihan cairan, konjungtiva kering, air mata
berkurang atau tidak ada.
e. Sistem kardiovaskular: vena leher:JVP datar/distensi, CVP
abnormal, tekanan darah menurun,nadi meningkat dan teraba lemah
f. Sistem pernapasan : dispnea,frekuensi,suara abnormal(creacless)
terdapat suara napas tambahan
g. Kulit : suhu tubuh meningkat/menurun, kulit kemerahan, kering,
turgor kulit tidak elastik
8. Data penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
b. Pemeriksaan radiologi
c. Diet yang diperoleh
d. Therapy
9. Pengkajian psikososial dan spiritual
Yang mengasuh dan merawat pasien adalah orang tuanya, Keluarga
pasien mengingikan pasien cepat sembuh dan kembali normal dan
keluarga berdoa umtuk kesembuhan pasien.

12
B. Diagnosa keperawatan
Analisa data :
1. Hipervolemia
Hipervolemia adalah peningkatan cairan intravaskuler, interstisial,
dan/atau intraselular.
Gejala dan tanda mayor :
Data subjektif :
1. Ortopnea
2. Dispnea
3. Paroxysmal nocturnal dispnea (PND)
Data objektif :
1. Edema anasarka dan/atau edema perifer
2. Berat badan meningkat dalam waktu singkat
3. Jugular Venous Pressure(JVP) dan/atau Cental Venous
Pressure(CVP) meningkat
4. Refleks hepatojugular positif
Gejala dan tanda minor:
Data subjektif :
(tidak tersedia)
Data objektif :
1. Distensi venajugularis
2. Terdengar suara napas tambahan
3. Hematomegali
4. Kadar Hb/Ht turun
5. Oliguria
6. Intake lebih banyakdari output ( balans cairan positif)
7. Kongesti paru

2. Hipovolemia
Hipovolemia adalah penurunan volume cairan intravaskular,interstsial,
dan/atau intraselular.
Gejala dan tanda mayor :

13
Data subjektif :
( tidak tersedia)
Data objektif :
1. Frekuensi nadi meningkat
2. Nadi teraba lemah
3. Tekanan darah menurun
4. Tekanan nadi menyempit
5. Turgor kulit menurun
6. Membran mukosa kering
7. Volume urine menurun
8. Hematokrit meningkat
Gejala dan tanda minor :
Data subjektif :
1. Merasa lemah
2. Mengeluh haus
Data objektif :
1. Pengisian vena menurun
2. Status mental berubah
3. Suhu tubuh meningkat
4. Konsentrasi urine meningkat
5. Berat badan turun tiba-tiba

14
N Diagnosa keperaw Tujuan atau kriteria hasil Rencana tindakan Rasional
(noc) (nic)
O atan
1 Hipervolemia Setelah dilakukan asuhan NIC : Manajemen 1. Untuk
berhubungan keperawatan selama …x Elekrolit mengetahui
dengan kelebihan 24 jam, diharapkan……… nilai serum
asupan cairan …… 1. Monitor yang
abnormal
nilai serum
Data Mayor: NOC :Keseimbangan pada pasien
Subjektif : Elektrolit yang 2. Agar pasien
1. Ortopnea Dipertahankan pada merasa lebih
abnormal
level:4 nyaman
2. Dispnea
2. Berikan 3. untuk
3. Paroxysm 1. Deviasi berat dari mengetahui
lingkungan
perkembang
al kisaran normal
yang aman an pasien
Nocturna 2. Deviasi yang cukup 4. agar pasien
kepada
terhindar
l dyspnea besar dari kisaran
klien yang dari
(PND) normal kekurangan
memiliki
cairan
3. Deviasi sedang
masalah 5. meminta
Objektif:
dari kisaran pendapat
1) Edema neurologis
dokter
normal
Anasarka dan mengenai
4. Deviasi ringan dari pemberian
dan atau neuromusk
elektrolit
kisaran normal
Edema ular 6. untuk
5. Tidak ada deviasi meminimalisi
Perifer sebagai
r kekurangan
dari kisaran
2) Berat badan manifestasi elektrolit
normal yang
meningkat dari
berlebihan
dalam waktu ketidaksei 7. agar pasien
Kriteria Hasil:
mengetahui
singkat 1. Penurunan serum mbangan
informasi
3) Jugular sodium 1/2/3/4/5 elektrolit mengenai
ketidakseimb
Venous 2. Peningkatan 3. Monitor
angan

15
pressure serum sodium manevesta elektrolit
8. agar tim
(JVP) dan 1/2/3/4/5 si
medis dapat
atau sentral 3. Penurunan serum ketidaksei memberikan
penanganan
venus potassium mbangan
yang lebih
pressure 1/2/3/4/5 elektrolit lanjut
kepada
(CVP) 4. Peningkatan 4. Berikan
pasien
meningkat serum potassium cairan 9. untuk
mengetahui
4) Reflex 1/2/3/4/5 sesuai
respon
hepato 5. Penurunan serum resep, jika pasien
terhadap
jugular klorida 1/2/3/4/5 diperlukan
terapi
positif 6. Peningkatan 5. Konsultasik elektrolit
10.untuk
serum klorida an pada
mengetahui
Data Minor :
1/2/3/4/5 para dokter efek samping
Subjektif:
dari
Tidak tersedia 7. Penurunan serum terkait
suplemen
kalsium 1/2/3/4/5 pemberian elektrolit
Obektif :
1. Distensi 8. Peningkatan elektrolit
vena serum kalsium dengan
jugularis 1/2/3/4/5 sedikit
2. Terdengar 9. Penurunan serum obat-
suara nafas magnesium obatan
tambahan 1/2/3/4/5 6. Lakukan
3. Hepatomega 10.Peningkatan pengukura
li serum magnesium n untuk
4. Kadar HB/HT 1/2/3/4/5 mengontro
turun 11.Penurunan serum l
5. Oliguria fosfor 1/2/3/4/5 kehilangan

16
6. Intake lebih 12.Peningakatan elektrolit
banyak dari serum fosfoer yang
output 1/2/3/4/5 berlebihan(
(balance misalnya,
cairan dengan
positif) mengistira
7. Kongesti hatkan
paru saluran
cerna,
perubahan
diuretic/pe
mberian
anti peritik)
dengan
tepat
7. Ajarkan
pasien dan
keluarga
mengenai
jenis,
penyebab,
dan
pengobata
n apabila
terdapat
ketidak

17
seimbanga
n elektrolit
yang sesuai
8. Konsultasik
an dengan
dokter jika
tanda-
tanda dan
gejala
keidakseim
bangan
cairan dan
atau
elektrolit
menetap
atau
memburuk
9. Monitor
respon
pasien
terhadap
terapi
elektrolit
yang
diresepkan
10.Monitor

18
efek
samping
suplemen
elektrolit
yang
diresepkan
( misalnya,
iritasi
saluran
cerna)
2 Hipovolemia Setelah dilakukan NIC : Manajemen 1. Untuk
berhubungan asuhan keperawa Cairan mengetahui
dengan tan selama …x 24 perkembangan
kekurangan intake jam, diharapkan… 1. Timbang berat berat badan
cairan ………… pasien
badan tiap hari
2. Untuk menjaga
Data mayor: NOC: dan monitor asupan makanan
KESEIMBANGAN pasien
status pasien
Subjektif: CAIRAN 3. Untuk
Tidak tersedia dipertahankan pa 2. Jaga intake / mengetahui
da atau ditingkatk perkembangan
asupan yang
Objektif: an ke level : 5 mengenai alat-
1) Frekuensi 1. Sangat terg akurat dan alat vital pasien
4. Untuk
nadi anggu/bera catat ouput
mengetahui
meningkat t pasien status gizi pasien
5. Agar pasien
2) Nadi teraba 2. Banyak ter 3. Monitor tanda-
dapat terhindar
tnda vital pasien
lemah ganggu/cuk dari kekurangan
4. Monitor status
cairan
3) Tekanan up berat gizi
6. Agar pasien
5. Berikan cairan
darah 3. Cukup terg dapat terhindar
dengan tepat
dari kekurangan
menurun anggu/seda 6. Distribusikan
cairan

19
4) Tekanan ng asupan cairan 7. Agar pasien
dapat
nadi 4. Sedikit terg selama 24 jam
menambah
menyempit anggu/ring 7. tingkatkan cairan agar tidak
kekurangan
5) Turgor kulit an asupan oral
cairan
menuru 5. Tidak terga yang sesuai 8. Untuk
memonitor
6) Membrane nggu/tidak 8. monitor status
keadaan
mukosa ada hidrasi membran
mukosa lembab,
kering 9. dukung pasien
denyut nadi ,
Kriteria hasil:
7) Volume dan keluarga dan tekanan
1. Keseimban
darah ortostatik
urine untuk
gan intake 9. Agar pasien tidak
menurun membantu kekurangan
daan
cairan dan
8) Hematokrit dalam
output nutrisi
meningkat pemberian 10. Utuk
dalam 24
mengetahui
makan dengan
jam bagaimana
Tanda
baik reaksi pasien
minor: 1/2/3/4/5
terhadap terapi
10. monitor reaksi
2. Turgor kulit elektrolit
Subjektif:
pasien terhadap
1. Merasa 1/2/3/4/5
terapi elektrolit
lelah 3. Kelembaba
yang diresepkan
2. Mengelu n membran
h haus mukosa
1/2/3/4/5
Objektif:
4. hematokrit
1. Pengis
1/2/3/4/5
ian
5. Berat jenis
vena
urine
menu
1/2/3/4/5

20
run 6. Suara
2. Status napas
menal adventif
berub 1/2/3/4/5
ah 7. Distensi
3. Suhu vena leher
tubuh 1/2/3/4/5
menin 8. Bola
gkat matacekun
4. Konse g dan
nrasi lembek
urine 1/2/3/4/5
menin 9. Kram otot
gkat 1/2/3/4/5
5. Berat 10.Kehausan
badan 1/2/3/4/5
turun 11.Pusing
tiba- 1/2/3/4/5
tiba

21
DAFTAR PUSTAKA

Dochterman, J. M., & Bulechek, G. M. (2013). Nursing Intervention


Classification (NIC) (6th Ed.). Indonesia : Mosby Elsevier
Moorhead, S., Jhonson, M., & Swanson, L. (2013). Nursing Outcomes
Classification (NOC)(5th Ed.). Indonesia : Mosby Elsevier
Rahayu, Sunarsih dan addi mardi harnanto. 2016. Kebutuhan Dasar
Manusia II. Jakarta : pusdik SDM kesehatan
Fadhillah, hanif. dkk. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.
Jakarta selatan : dewan pengurus pusat persatuan perawat nasional indonesia

22