Anda di halaman 1dari 64

75

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diuraikan beberapa hal berkaitan


dengan hasil penelitian dan pengembangan komik Chemtoon
sebagai media pembelajaran kimia pada materi asam basa
untuk kelas XI SMA. Penelitian berpedoman pada metode
R&D Sukmadinata. Secara garis besar penelitian ini
dikembangkan melalui dua tahap yakni tahap studi
pendahuluan dan tahap pengembangan. Berikut adalah
pembahasan dari hasil penelitian yang telah dilakukan:
1. Tahap Studi Pendahuluan
Pada tahap ini dilakukan dengan cara mempersiapkan
dan mencari data pendukung untuk merencanakan
penelitian dalam rangka pengembangan komik Chemtoon.
Tahap studi pendahuluan ini terdiri atas tiga langkah, yaitu
studi kepustakaan, survei lapangan, dan penyusunan draf
produk. Ketiga tahap tersebut akan diuraikan sebagai
berikut:
1. Studi kepustakaan
Melalui studi kepustakaan didapatkan beberapa
data dan teori yang mendukung dilaksanakannya
pengembangan Chemtoon. Studi kepustakaan ini
dilakukan dengan cara mengumpulkan informasi-
informasi melalui perpustakaan dan buku-buku
penelitian pengembangan yang ada. Selain itu studi
pustaka ini juga melakukan beberapa kegiatan seperti
peninjauan kurikulum, peninjauan kriteria media
pembelajaran komik, pemilihan teknik pembuatan
komik, mencari teori belajar yang mendukung, dan
mengkaji materi asam basa untuk pengembangan
komik Chemtoon.
Tahap pertama, dikajilah beberapa informasi
mengenai kurikulum yang sedang berlaku, yaitu
kurikulum 2013. Dalam mengkaji kurikulum 2013 ini
bertujuan untuk mengenali standar pembelajaran kimia
yang tertuang dalam kompetensi inti dan kompetensi
dasar. Khususnya pada materi asam basa. Kompetensi-
kompetensi tersebut kemudian digunakan untuk
menyusun tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran
ini kemudian menjadi acuan dalam penyusunan materi
dalam komik.
Kedua, mengembangkan komik Chemtoon sebagai
media pembelajaran untuk mata pelajaran kimia
tentunya harus mencapai karakteristik tertentu. Perlu
dilakukan peninjauan terkait dengan beberapa aspek
yang akan dinilai dalam penelitian pengembangan ini.
Sehingga beberapa karakteristik yang akan
dikumpulkan diantaranya meliputi karakteristik komik,
karakteristik media pembelajaran, dan karakteristik
pembelajaran kimia.
Setelah melakukan studi literatur beberapa poin
yang sesuai untuk masing-masing kriteria adalah
kriteria komik menurut Susiani (dalam Arsyad, 2014)
adalah memiliki komponen karakter, frame, balon kata,
narasi, efek suara, dan latar belakang. Sedangkan
kriteria dalam pemilihan media pembelajaran menurut
Sudjana (2010) terangkum dalam kata “visuals” yakni
gabungan dari kata visible, interesting, simple, useful,
accurate, legitimate, dan structure. Media pembelajaran
hendaknya memiliki nilai keterbacaan untuk pengguna
(visible), memiliki nilai kemenarikan (interesting),
memiliki nilai kepraktisan dan kesederhanaan untuk
menunjang keefektifan pembelajaran (simple),
76
bermanfaat dalam mencapai tujuan pembelajaran
(useful), benar atau sesuai dengan karakteristik materi
atau sasaran belajar (accurate), sesuai untuk
dipergunakan guru dalam pembelajaran secara nyata
(legitimate), serta keterpaduan antara materi dan media
yang akan digunakan (structure). Terakhir, dalam
pembelajaran kimia yang merupakan bagian dari ilmu
IPA maka isi dari media yang dibuat merupakan materi
kimia. Adapun untuk ilmu kimia dan IPA memiliki ciri
yang sama yakni diantaranya adanya kegiatan
penyelidikan. Hal ini disebutkan dalam silabus kimia
bahwa kimia sebagai bagian dari ilmu pengetahuan
alam diperoleh dan dikembangkan berdasarkan
percobaan untuk mencari jawaban atas pertanyaan apa,
mengapa, dan bagaimana tentang gejala-gejala alam.
Tahap ketiga, dilakukan pengkajian mengenai
teknik pembuatan komik. Dipilihlah teknik yang paling
sesuai dengan peralatan serta kemampuan peneliti.
Pembuatan dilakukan menggunakan teknik hybrid
Technique. Yakni komik Chemtoon akan dibuat dengan
memadukan teknik tradisional dan teknik digital.
Teknik tradisional dilakukan dengan cara menggambar
sketsa secara manual. Teknik modern menggunakan
bantuan teknologi grafis dengan bantuan perangkat
lunak.
Tahap keempat, dilakukan pengkajian mengenai
teori-teori belajar yang mendukung. Didapatkan
beberapa teori diantaranya adalah teori konstruktivis
yang dikemukakan oleh Vygotsky. Dalam teori ini
peserta didik juga akan diberikan bantuan-bantuan
untuk memecahkan masalah (scaffolding), sehingga
peserta didik mampu menyusun informasi atau
77
pengetahuan mereka secara mandiri. Oleh karena itu
komik dibuat dirancang dengan diawali permasalahan
dan pemberian informasi yang dapat digunakan untuk
membantu peserta didik dalam menyelesaikan
persoalan. Selanjutnya komik dibagi menjadi beberapa
misi. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan proses
pengumpulan informasi. Selain itu, teori belajar
behariorisme juga digunakan untuk memberikan
beberapa penguatan. Penguatan yang akan dipakai
dapat dalam bentuk contoh maupun latihan soal. Dalam
teori belajar behaviorisme mengemukakan bahwa dengan
adanya penguatan akan memberikan potensi agar lebih
diingat. Selain itu dalam teori pemrosesan informasi
menunjukkan beberapa level berfikir yang jika memori
tersebut berkesan lebih berpotensi untuk disimpan
dalam memori jangka panjang (long term memory)
(Slavin, 2000).
Terakhir, dilakukan pengkajian mengenai materi
asam basa sebagai inti pembelajaran dalam komik.
Materi asam basa yang akan digunakan dapat dilihat
pada peta konsep yang tertera pada Gambar 4.1 berikut:

78
Definisi

Gambar 4.1. Peta Konsep Materi Asam Basa


2. Survei lapangan
Melalui survei lapangan diperoleh data pendukung
yang memperkuat dilakukannya penelitian
pengembangan ini. Survei dilakukan dengan cara
memberikan angket terhadap pelajar SMA. Angket ini
didapatkan dari tiga instansi yang berbeda, yakni
SMAN 1 Sidoarjo, SMAN 1 Wringinanom Gresik, dan
SMAN 1 Kedamean Gresik. Penyebaran angket
dilakukan pada bulan Agustus-Oktober 2018.
Dari angket yang disebarkan ini didapatkan hasil
yang menerangkan beberapa kendala yang dialami
selama pembelajaran kimia. Diantaranya adalah 44%
peserta didik menyatakan materi asam basa terlalu
abstrak sehingga banyak istilah atau konsep yang tidak
dimengerti, 33% peserta didik menyatakan bahwa
materi asam basa terlalu banyak hafalan, dan 23%
peserta didik menganggap pembelajaran kimia terlalu
79
monoton dengan metode ceramah. Mengenai buku
yang digunakan, 54% peserta didik menganggap buku
mereka kurang menarik. Diantara penyebabnya adalah
60% peserta didik mengatakan bahwa buku mereka
terlalu monoton. Sehubungan dengan itu, 82%
menyatakan setuju untuk diadakan pengembangan
komik sebagai media pembelajaran. Data tersebut
kemudian digunakan untuk menyusun draf komik
sehingga dapat memperbaiki kendala atau kekurangan
selama pembelajaran kimia dengan buku pada
umumnya.
Dari persentase yang telah didapatkan dari ketiga
instansi dipilihlah satu tempat yang akan dijadikan
sebagai sasaran penelitian. Instansi yang dipilih tersebut
adalah SMAN 1 Wringinanom yang terletak di Desa
Sembung, kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik.
Pemilihan ini berdasarkan persetujuan diadakannya
pengembangan komik tertinggi sesuai dengan hasil
angket prapenelitian dengan dilakukannya
pengembangan komik sebagai media pembelajaran
kimia untuk materi asam basa.
3. Penyusunan draf produk
Berdasarkan studi kepustakaan dan survei
lapangan. Mempertimbangkan berbagai aspek dan
landasan teori yang ada. disusunlah rancangan produk
yang hendak dikembangkan. Rancangan ini terdiri atas
pembuatan storyboard dan penyusunan instrumen
penilaian. Instrumen yang dibuat diantaranya adalah
lembar telaah, lembar validasi, lembar angket respon
peserta didik, dan lembar observasi aktivitas, serta
lembar pretest dan posttest. Adapun rincian rancangan
komik dan instrumen yang dijabarkan sebagai berikut:
80
a. Pembuatan storyboard
Penyusunan storyboard didasarkan pada
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Storyboard menampilkan fitur dan deskripsi
tentang komik yang akan dibuat. Dibantu
dengan landasan teori yang telah dicari
sebelumnya. Tokoh yang akan digunakan
adalah pelajar SMA dan latar tempat berupa
sekolah dengan maksud untuk menyesuaikan
dengan karakter peserta didik.
Diawal cerita diberikan suatu
permasalahan yang berkaitan dengan asam basa
untuk memperkenalkan istilah asam dan basa.
Sehingga, diharapkan dapat memacu rasa
keingintahuan peserta didik. Menurut Vygotsky
(dalam Slavin, 2000) salah satu konsep penting
yang dapat membantu peserta didik untuk
mengkonstruk pengetahuannya adalah adanya
scaffolding atau pemberian bimbingan yang
dapat berupa petunjuk, atau dorongan.
Materi asam basa dalam komik akan
terbagi menjadi 4 bagian. Yakni pra-misi, misi 1,
misi 2, dan misi 3. Materi yang disajikan dalam
komik terbagi kedalam ketiga misi. Bagian
pramisi diberikan rangsangan berupa
permasalahan tentang asam basa. Pada misi 1
akan dipelajari teori asam basa menurut
Arrhenius dan derajat disosiasi. Pada misi 2
akan dipelajari teori asam basa menurut
Bronsted-Lowry, klasifikasi asam basa,
perhitungan konstanta asam basa dan pH, serta
indikator asam basa. Pada misi 3 akan dipelajari
81
teori asam basa Lewis dan penyelesaian
permasalahan. Hal ini dilakukan untuk
memudahkan mempelajari asam basa yang
materinya panjang. Setiap misi akan diberikan
lembar pertanyaan. Pertanyaan ini merupakan
evaluasi untuk memperkuat pemahaman
pembaca. Menurut Skinner (dalam Slavin, 2000)
penguatan (reinforcement) yang berkesinam-
bungan dapat meningkatkan kemungkinan
diulangnya perilaku yang sama. Perilaku yang
dimaksud adalah pelajaran asam basa dalam
komik.
Dalam memenuhi manfaat media
pembelajaran, komik dibuat semenarik
mungkin. Pemberian bermacam-macam
ekspresi wajah dan visualisai suara diharapkan
mampu memberikan rasa nyaman dan akrab
pada pembaca. Selain itu, untuk memperjelas
materi yang diajarkan, tokoh ahli akan
memberikan satu contoh yang diberikan pada
pelajar. Contoh yang diberikan divisualisasikan
dalam bentuk ilustrasi molekuler dan struktur
Lewis. Diharapkan peserta didik dapat
memperoleh gambaran yang lebih jelas dari
konsep yang abstrak.
b. Penyusunan Instrumen
Mempertimbangkan aspek yang telah
dikaji, sesuai dengan penilaian media dalam
Nieven yakni kelayakan yang ditinjau dari
aspek validitas, kepraktisan, dan keefektifan.
Maka beberapa aspek tersebut kemudian
dituangkan dalam instrumen penilaian. Terdiri
82
dari lembar telaah dan lembar validasi yang
ditujukan kepada dosen ahli media dan dosen
ahli materi untuk menunjang aspek validitas.
Lembar angket respon ditujukan kepada peserta
didik. Lembar observasi aktivitas ditujukan
kepada pengamat yang membantu selama
pembelajaran berlangsung. Lembar angket
respon dan lembar observasi aktivitas ini akan
menunjang aspek kepraktisan. Pretest dan
posttest merupakan instrumen yang
diperuntukkan pada peserta didik untuk
menunjang aspek keefektifan. Beberapa
pernyataan yang akan dituangkan dalam
lembar validasi merupakan penjabaran dari
kriteria “visuals” dan kriteria komik yang terdiri
atas kesesuaian komik dengan tujuan
pembelajaran (useful), kebenaran konsep yang
diberikan (accurate), ketatabahasaan (visible),
keciri-khasan komik, kesesuaian media dengan
karakter peserta didik (structure), kemampuan
untuk membantu pembangunan pengetahuan
yang mandiri, dan proporsionalitas komik
(simple). Lembar angket respon memuat aspek
kemenarikan komik (interesting) dan
kebermanfaatan komik dalam mempermudah
pemahaman konsep (structure). Lembar
observasi aktivitas memuat aspek ketersediaan
waktu dalam pembelajaran dan partisipasi
peserta didik (legitimate). Sementara lembar
pretest dan posttest digunakan untuk mengetahui
ketuntasan hasil belajar yang dapat pula
mendukung keefektifan pembelajaran (useful).
83
Masing-masing instrumen berisi penjabaran
dari karateristik media pembelajaran. Serta hasil
dari instrumen juga akan digunakan untuk
menganalisis kelayakan komik dari segi
validitas, kepraktisan, dan keefektifan.
2. Tahap Pengembangan
Pada tahap ini dilakukan pengembangan Chemtoon sesuai
dengan metode dan teknik yang telah dipilih. Beberapa
langkah yang dilakukan diantaranya:
1. Pembuatan Komik
Beracuan pada storyboard yang telah dibuat maka
dibuatlah komik dengan cara membuat sketsa dan
frame menggunakan teknik tradisional. Beberapa
peralatan yang dibutuhkan adalah pensil, kertas A5,
penghapus dan pena. Sketsa dibuat sesederhana
mungkin dan sejelas mungkin dan menggambarkan
keadaan sesuai dengan adegan dalam storyboard. Sketsa
yang telah dibuat berurutan sesuai dengan alur cerita.
Sebanyak kurang lebih 90 lembar sketsa dibuat dan
diperjelas menggunakan pena. Selanjutnya, dilakukan
dengan teknik digital.
Tahap digital diawali dengan pemindaian sketsa
yang telah dibuat dalam bentuk file foto menggunakan
scanner. File yang telah masuk dalam komputer
kemudian diberi warna dengan menggunakan
photoshop. Dalam pemberian warna ini memanfaatkan
color library, tekstur, dan filter yang tersedia dalam
photoshop. Berikutnya gambar yang telah diberi warna
dijadikan background pada powerpoint dan diberikan
teks melalui fitur insert-shape dan textbook yang ada.
Pengaturan tata letak dan margin menyesuaikan pada
letak dari slide yang dibuat. Selanjutnya dilakukan
84
proses penerjemahan kedalam Bahasa Inggris. Slide
digandakan kemudian teks diterjemahkan kedalam
Bahasa Inggris. Selanjutnya slide yang telah
diterjemahkan diberikan nomor halaman. Beberapa slide
yang diterjemahkan dibuat saling berhadapan dengan
nomor halaman yang sama. Namun, beberapa bagian
yang telah memuat kalimat bilingual akan dibiarkan
nomor halaman tunggal. Proses pembuatan komik
Chemtoon dapat dilihat pada Gambar 4.2.

(a) (b)

85
(c) (d)
Gambar 4.2 Pembuatan Komik Chemtoon, (a) tahap
sketsa, (b) tahap pewarnaan, (c) tahap pemberian dialog,
(d) tahap penerjemahan
Gambar 4.2 menunjukkan proses pembuatan
komik. Gambar (a) adalah tahap pembuatan sketsa yang
dilakukan secara manual menggunakan teknik
tradisional. Menggunakan pensil sketsa digambar pada
kertas A5. Kemudian, dilakukan pengulangan garis
menggunakan pena. Untuk merapikan garis, bekas
pensil dihapus dengan bersih. Gambar (b)
menunjukkan hasil pengeditan gambar. Setelah
melalui scanning gambar masuk dalam aplikasi
photoshop untuk dilakukan pewarnaan. Warna yang
dipilih berasal dari direktori photoshop agar terdapat
kekonsistenan warna. Gambar (c) merupakan salah satu
contoh hasil dari pemberian balon percakapan
menggunakan microsoft powerpoint. Penggunaan

86
software ini sengaja dipilih karena kemudahan dalam
aksesnya serta karena mudah didapatkan. Gambar (d)
adalah proses penerjemahan dialog. Terakhir Chemtoon
dicetak dalam bentuk buku berukuran A5 (14,8 cm x 2
cm) dengan mempertimbangkan kepraktisan bentuk
dan ukuran. Selanjutnya, dilakukan proses telaah dan
validasi untuk perbaikan komik Chemtoon.
2. Telaah Komik
Pada tahap telaah ini dilakukan pada 28 Maret-15
April 2019 oleh dosen kimia sebagai ahli materi sekaligus
ahli media. Tujuan dari proses telaah ini adalah untuk
mendapatkan saran atau perbaikan yang menunjang
pengembangan Chemtoon. Beberapa aspek yang ditelaah
adalah mengenai tata bahasa, tata letak, dan penegasan
konsep yang disajikan dalam komik, selain itu beberapa
instrumen yang digunakan dalam rangka menguji-
cobakan komik disertakan untuk ditelaah. Kelanjutan dari
proses telaah ini kemudian dilakukan perbaikan.
Melalui tahap ini komik diperbaiki sesuai dengan
saran atau kritik dari penelaah. Beberapa hal yang
kemudian diperbaiki diantaranya dapat dilihat pada Tabel
4.1 dibawah ini.

87
Tabel 4.1 Perbaikan Komik Chemtoon

No. Draf Awal Perbaikan

1 Perbaikan kontras warna Hasil perbaikan warna dan


dan penghilangan efek efek
bayangan yang dinilai
mengganggu tampilan

88
No. Draf Awal Perbaikan

2 Penegasan beberapa Hasil perbaikan konsep


konsep yang kang tepat
(penamaan yang kurang
tepat)

3 Menerjemahkan Hasil penerjemahan


gambar
gambarindikator
dalam tabel

89
No. Draf Awal Perbaikan

4 Perbaikan kolom pada Hasil perbaikan kolom


lembar observasi pada lembar observasi
percobaan yang kurang menjadi lebih
Lengkap Lengkap

90
No. Draf Awal Perbaikan

5 Penambahan daftar isi Hasil penambahan daftar isi


dan tujuan pembelajaran dan tujuan pembelajaran

Perbaikan kontras warna dan efek bayangan


dilakukan untuk memperjelas tulisan. Sebelumnya warna
yang digunakan terlalu gelap sehingga dialog yang
ditampilkan kurang jelas. Menurut Arsyad (2014) bahwa
warna digunakan sebagai alat penuntun dan penarik
perhatian kepada informasi yang penting serta untuk
membedakan tiap-tiap komponen. Maka dari itu sebagai
penuntun, warna hendaknya tidak lebih menonjol dari
informasi yang disampaikan. Sehingga pada bagian ini

91
komik diperbaiki untuk memperjelas tulisan yang
ditampilkan.
Perbaikan konsep yang salah juga dilakukan pada
daftar asam basa kuat dan lemah. Hal ini dilakukan
berdasarkan temuan dari penelaah yang menemukan
beberapa daftar asam basa yang salah antara nama dan
rumus kimianya. Tentunya komik sebagai media
pembelajaran, menurut Nengsi (2017) harus menyajikan
data dengan menarik dan terpercaya. Oleh karena itu,
beberapa daftar asam basa yang salah segera diperbaiki
dengan benar.
Perbaikan juga dilakukan pada gambar indikator
asam basa yang gambarnya ditampilkan dua kali pada
halaman 74 dan 75. Hal ini kemudian dikritik oleh
penelaah sebab terjadi pengulangan yang tidak perlu.
Pengulangan ini dikhawatirkan akan menimbulkan kesan
yang monoton. Sedangkan menurut Nengsi (2017) peran
media pembelajaran selain sebagai pembangkit minat dan
motivasi siswa, media pembelajaran juga dapat berperan
untuk meningkatkan pemahaman, memudahkan
penafsiran data dan memadatkan informasi. Maka dari itu,
gambar indikator asam basa yang sebelumnya ganda
ditafsirkan kedalam bentuk tabel agar informasi yang
disajikan lebih padat.
Perbaikan lain dilakukan pada penambahan lembar
observasi percobaan yang kurang. Sebelumnya tabel
indikator yang disajikan pada lembar observasi percobaan
hanya terdapat 3. Sedangkan jumlah indikator yang
diujikan berjumlah 6. Sehingga kekurangan ini kemudian
diperbaiki dan ditata dengan rapi.
Perbaikan terakhir dilakukan pada penambahan
daftar isi dan tujuan pembelajaran. daftar isi ditambahkan
92
untuk mempermudah pencarian informasi dan rujukan.
Media pembelajaran haruslah memiliki tujuan
pembelajaran. Pencantuman tujuan pembelajaran
dimaksudkan untuk menunjukkan capaian pembelajaran
dengan komik sehingga dapat diketahui dengan jelas.
Setelah dilakukan perbaikan sesuai dengan saran dari
dosen ahli media, komik Chemtoon kemudian bertambah
menjadi 108 halaman. Selanjutnya ditunjukkan kembali
pada penelaah untuk memperoleh persetujuan memasuki
tahap validasi.
3. Validitas Komik
Setelah komik diperbaiki kemudian diajukan kepada
dua dosen ahli media sekaligus ahli materi untuk
divalidasi. Validasi ini berlangsung pada tanggal 17 april-
10 mei 2019. Tujuan dari dilakukannya validasi ini untuk
memperoleh penilaian sekaligus saran demi
kesempurnaan komik. Penyusunan komik Chemtoon ini
juga diharapkan dapat digunakan dalam pembelajaran.
Menurut Sudjana (2011) Komik dapat dipergunakan
sebagai bahan ajar. Sehingga dalam proses validasinya,
menurut Heru Susanto (dalam Affrahmiyanto, 2017) harus
memenuhi 3 kriteria bahan ajar yakni kriteria isi, bahasa,
dan penyajian. Melalui validasi komik ini akan diperoleh
pula aspek validitas yang ditinjau dari kriteria isi, kriteria
bahasa, dan kriteria penyajian. Melalui kriteria isi
beberapa aspek yang dapat dilihat dalam komik
diantaranya ialah kesesuaian materi dalam komik dengan
tujuan pembelajaran dan kebenaran materi atau konsep
yang disampaikan. Dalam hal ini konsep dan materi yang
dimaksud adalah teori asam basa Arrhenius, Bronsted-
Lowry, dan Lewis; metode perhitungan pH; metode
perhitungan konstanta asam dan basa; metode
93
penggunaan indikator; dan metode pembuatan indikator
dari bahan alam. Sementara kriteria bahasa memuat dua
komponen. Yaitu penggunaan bahasa yang komunikatif
dan penulisan bahasa indonesia yang baik dan benar.
Kriteria penyajian berkenaan dengan kesesuaian dengan
ciri khas komik, kesesuaian dengan karakteristik peserta
didik, pembangunan pengetahuan secara mandiri
(Konstruktivism), dan berkaitan dengan kepraktisan bentuk
serta ukuran komik. Di bawah ini adalah hasil validasi
yang akan dirincikan sebagai berikut:
a. Kriteria Isi
Kriteria isi yang didapatkan dari dua dosen ahli media
sekaligus ahli materi diuraikan dalam Tabel 4.2 di
bawah ini:
Tabel 4.2 Kriteria Isi
Skor
P
No Komponen Vali- Kategori
(%)
dator
1 Materi yang 4 80% Valid
disampaikan
pendukung
tercapainya tujuan
pembelajaran
2 Kebenaran teori 4 80% Valid
asam basa
Arrhenius
3 Kebenaran teori asam 4 80% Valid
basa
Bronsted-Lowry
4 Kebenaran teori asam 4 80% Valid
basa
Lewis
94
5 Ketepatan 4metode 80% Valid
perhitungan pH

6 Ketepatan 4metode perhitunngan


80% Valid konstanta asam
dan basa

7 Ketepatan 4,5
metode 90% Sangat
penggunaan valid
indikator asam basa

8 Ketepatan prosedur 4,5 90% Sangat


Pembuatan valid
indikator dari bahan
alam
Berikut adalah analisis untuk menguraikan tiap komponen
dalam tabel diatas.
1. Kesesuaian materi terhadap tujuan pembelajaran
Poin pertama ini merupakan jabaran dari aspek
useful pada kriteria media pembelajaran. Selaras
dengan pernyataan yang disebutkan dalam Arsyad
(2014) bahwa aspek pertama yang disarankan dalam
pemilihan media pembelajaran adalah kesesuaian
media dengan tujuan pembelajaran. Dimana tujuan
tersebut disusun berdasarkan standar kurikulum yang
berlaku. Dalam hal ini adalah kurikulum 2013. Adapun
tujuan itu telah selaras dengan isi materi dalam komik
yang telah di validasi dengan penilaian 80% dengan
kategori valid.
2. Kebenaran konsep di setiap materi yang diberikan
Isi materi yang telah selaras dengan tujuan
pembelajaran juga harus memuat nilai kebenaran. Poin
ini diberikan sesuai dengan kriteria accurate yang

95
dikemukakan oleh Sudjana. Selaras dengan pernyataan
Arsyad (2014) salah satu aspek pemilihan media
lainnya adalah media hendaknya tepat mendukung isi
pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip, atau
generalisasi. Maksud dari poin ini untuk memperoleh
skor pada setiap teori atau metode yang dimuat dalam
komik dari sudut pandang dosen ahli materi. Sehingga
dapat digunakan untuk proses pembelajaran dan telah
valid. Kebenaran konsep di setiap materi komik
dipecah menjadi beberapa bagian sesuai dengan tujuan
pembelajaran. Kriteria ini tercantum pada poin ke 3
hingga poin ke 8 dalam lembar validasi yang memuat:
kebenaran teori asam basa Arrhenius dengan
persentase 80%, Kebenaran teori asam basa Bronsted-
Lowry mendapatkan persentase 80%, dan kebenaran
teori asam basa Lewis mendapatkan persentase 80%.
ketepatan metode penentuan konstanta asam basa
memperoleh nilai sebanyak 80%. Ketepatan metode
penentuan pH memperoleh nilai 80%. Ketepatan
metode perhitungan konstanta asam dan basa juga
memperoleh nilai 80%. Ketepatan metode penggunaan
indikator asam basa mendapatkan nilai 90%. Ketepatan
prosedur pembuatan indikator dari bahan alam
mendapatkan nilai sebanyak 90%. Pada bagian kritieria
isi diperoleh rerata skor sebanyak 82,5%. Sehingga
dapat dikatakan keseluruhan isi dalam komik Chemtoon
telah mendapatkan predikat sangat valid.
b. Kriteria Bahasa
Dalam kriteria bahasa perlu dilakukan penilaian terkait
dengan kemudahan dalam proses transfer informasi.
Dalam kriteria ini dibagi menjadi 2 poin yang dapat dilihat
pada Tabel 4.3 berikut ini:
96
Table 4.3 Kriteria Bahasa
Skor
Vali-
No Komponen P (%) Kategori
dator
9 Bahasa yang 4 80% Valid
digunakan dalam
Chemtoon
komunikatif

10 Penulisan media 4 80% Valid


Chemtoon
menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan
benar

Berdasarkan Tabel 4.3 didapatkan informasi sebagai


berikut:
9. Bahasa yang digunakan dalam komik Chemtoon
komunikatif
Untuk menjadi media yang dapat mentransfer
pesan dengan baik maka bahasa yang digunakan
haruslah mudah dipahami. Menurut Sudjana (2010)
aspek visible perlu diperhatikan untuk menunjang
pemilihan media pembelajaran, mencakup bagaimana
media tersebut memiliki tingkat keterbacaan yang
mudah untuk dipahami. Oleh karena itu aspek
kekomunikatifan perlu dinilai sebelum diujikan dalam
pembelajaran. Berdasarkan penilaian validator
memperoleh penilaian sebesar 80%. Sehingga dapat
dikatakan kekomunikatifan komik Chemtoon telah
valid. Didukung oleh penelitian pengembangan komik
yang telah dilakukan oleh Kose (2013) yang
menyebutkan bahwa salah satu kelebihan komik
97
diungkapkan dalam kata “Easy on the eye, easy on the
brain”. Komik dapat mudah ditangkap mata, mudah
dibaca, dan mudah dipahami oleh otak.
10. Penulisan Komik Chemtoon menggunakan bahasa
indonesia yang baik dan benar
Selain kekomunikatifan bahasa, aspek penulisan
juga perlu dipertimbangkan. Bahasa yang digunakan di
sekolah yakni bahasa Indonesia. Sebagai media yang
baik tentunya harus mematuhi aturan ketatabahasaan
yang berlaku. Oleh karena itu poin ini ditujukan untuk
memperoleh skor dari dosen ahli media sebelum diuji-
cobakan. Berdasarkan hasil validasi diperoleh penilaian
sebanyak 80%. Dalam kata lain komik Chemtoon telah
sesuai dengan tata bahasa Indonesia yang baik dan
benar dan dinyatakan valid.
Kesuluruhan nilai validasi pada kriteria bahasa
memperoleh penilaian 80%. Dalam kata lain bahasa yang
digunakan dalam komik Chemtoon telah valid.
c. Kriteria Penyajian
Aspek penyajian dapat digambarkan pada Tabel 4.4
berikut ini:
Tabel 4.4 Kriteria Penyajian

Skor
No Komponen P (%) Kategori
Validator

11 Tata letak bingkai, 4,5 90% Sangat


dialog, dan gambar valid
jelas dan menunjukkan
ciri khas
Komik

98
Skor
No Komponen P (%) Kategori
Validator

12 Perpaduan warna, 4 80% Valid


tokoh, dan visualisasi
gerak dalam komik
dekat dengan
karakteristik peserta
didik
13 Penyajian komik 4,5 90% Sangat
membantu siswa valid
untuk menemukan
konsep pengetahuan
secara mandiri
14 Bentuk dan ukuran 4,5 90% Sangat
komik praktis valid

Berdasarkan Tabel 4.4 diatas dapat dijabarkan untuk tiap-


tiap komponennya adalah sebagai berikut:
11. Tata letak bingkai, dialog, dan gambar jelas dan
menunjukkan ciri khas komik
Dikarenakan penelitian ini mengembangkan
media pembelajaran dalam bentuk komik. Maka
media tersebut haruslah sesuai dengan ciri-ciri komik.
Komik Chemtoon berisi rangkaian cerita yang dimuat
dalam perpaduan gambar dan dialog dalam bingkai.
Untuk mengetahui kesesuaian komik tersebut perlu
diberikan poin khusus. Pada poin ini mendapatkan
penilaian 90%. Dalam kata lain media Chemtoon yang
dibuat telah sesuai dengan keciri-khasan komik dan
telah dinilai dengan predikat sangat valid. Hal ini
99
selaras dengan pendapat Frantz & Meier (dalam
Zalmansyah, 2013) komik adalah suatu cerita yang
bertekankan pada gerak dan tindakan yang
ditampilkan lewat gambar dan dibuat secara khas
dengan paduan kata-kata.
12. Perpaduan warna, tokoh, dan visualisasi gerak dalam
komik dekat dengan karakteristik peserta didik
Komponen selanjutnya, perpaduan warna,
tokoh, dan visualisasi gerak dalam komik dekat
dengan karakteristik peserta didik. Sebagai media
pembelajaran tentunya harus sesuai dengan
karakteristik sasarannya. Komik Chemtoon yang telah
dibuat menggunakan tokoh siswa berseragam SMA.
Latar yang digunakan adalah sekolah. Karakter tokoh
yang digunakan adalah pelajar yang memiliki rasa
keingintahuan yang besar, berani mengambil resiko,
dan memiliki semangat belajar yang tinggi. Poin ini
mendapatkan penilaian 80% dengan predikat valid.
Pada umumnya, kelas XI berada pada rentang usia
17-18 tahun. Kondisi ini disebut sebagai usia remaja.
Selaras dengan pendapat Piaget (dalam Sugihartono,
2007) usia 17-18 tahun termasuk dalam tahap
operasional formal, dimana pada tahap ini peserta didik
telah memiliki kemampuan menafsirkan,
mengembangkan hipotesis, dan menarik kesimpulan,
juga memiliki kecenderungan bekerja secara efektif,
logis, dan sistematis.
13. Penyajian komik Chemtoon membantu siswa dalam
menemukan konsep pengetahuan secara mandiri
Pembangunan pengetahuan secara mandiri akan
lebih berpotensi untuk diingat lebih lama (Dahar,
1996). Oleh karena itu, untuk menilai kemampuan
100
komik dalam membantu peserta didik berfikir secara
mandiri perlu diberikan. Komik Chemtoon memiliki
beberapa bagian pertanyaan yang memandu peserta
didik untuk menemukan masalah, mengumpulkan
informasi, melakukan penyelidikan, dan membuat
suatu simpulan. Sejalan dengan silabus kimia yang
menyebutkan kimia dapat dipandang sebagai cara
berpikir dan bersikap terhadap alam, sebagai cara
untuk melakukan penyelidikan, dan sebagai
kumpulan pengetahuan. Poin ini disusun untuk
mengetahui kapabilitas media yang disesuaikan
dengan aspek structure dalam karakteristik media
pembelajaran. sehingga terdapat keterpaduan antara
komik dan proses belajar siswa. Pada poin ini
memperoleh penilaian sebanyak 90% dengan kategori
sangat valid.
14. Bentuk dan ukuran komik praktis (proporsional)
Komponen terakhir adalah berkenaan dengan
bentuk dan ukuran komik. Tentunya sebagai media
hendaknya harus memiliki ukuran yang proporsional.
Hal ini bertujuan untuk mempermudah dalam hal
penggunaan dalam proses pembelajaran. Ukuran
komik tidak boleh terlalu besar atau terlalu kecil.
Mempertimbangkan kemudahan supaya mudah
dibawa kemanapun, serta tidak terlalu kecil sehingga
mempersulit dalam pembacaannya. Poin ini
mendapatkan penilaian sebesar 90% dengan kategori
sangat valid.
Setelah proses validasi dilakukan dapat
diketahui bahwa kriteria penyajian mendapatkan
rerata penilaian sebesar 87,5% atau dapat dinyatakan
dengan kategori sangat valid. Sehingga dengan
101
selesainya proses validasi, maka komik siap untuk
dilakukan uji coba.
3. Tahap Uji Coba
Tahap selanjutnya dilakukanlah uji coba terbatas
yang akan dilakukan untuk mengetahui kepraktisan dan
keefektifan komik Chemtoon. Tahap uji coba terbatas ini
menggunakan 15 peserta didik berkemampuan heterogen
kelas XI di SMA Negeri 1 Wringinanom di Gresik.
Kegiatan ini dilakukan pada 13-15 Mei 2019 yang terdiri
atas 3 kali pertemuan secara berturut-turut. Rancangan
yang digunakan yakni one group pretest posttest design.
Dimana akan diberikan pretest untuk mengetahui
kemampuan awal mereka. Kemudian diberlakukan komik
sebagai media belajar untuk materi asam basa. Posttest
diberikan diakhir pembelajaran dengan tujuan
mengetahui hasil belajar peserta didik yang merupakan
pengaruh penuh dari komik yang telah dipelajari.
Perangkat lain yang digunakan dalam uji coba diantaranya
adalah lembar observasi aktivitas, lembar angket respon
siswa, dan komik Chemtoon. Berikut adalah uraian
kegiatan selama uji coba. Uji coba terbatas ini
dilaksanakan selama tiga kali pertemuan yang dapat
dilihat dalam Tabel 4.5 berikut.
Tabel 4.5 Estimasi Uji Coba Terbatas
Estimasi
Aktivitas Tanggal P% Kategori
(menit)
Pertemuan 1 13/5/2019 (60 menit) 100% Sangat praktis

Pertemuan 2 14/5/2019 (90 menit) 100% Sangat praktis

Pertemuan 3 15/5/2019 (45 menit) 100% Sangat praktis

102
Adapun rincian kegiatan untuk masing-masing
pertemuan dapat dirincikan diantaranya:
1. Pertemuan Pertama
Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Senin
tanggal 13 Mei 2019. Diawali dengan pretest selama 20
menit dengan jumlah soal 8. Tujuan pembelajaran yang
hendak dicapai adalah “peserta didik mampu
mendeskripsikan teori asam basa menurut Arrhenius
melalui cerita dan dialog yang disajikan”. Sebagai
pembuka awal dilakukan perkenalan singkat selama
kurang lebih 5-7 menit. Untuk mengetahui kemampuan
peserta didik sebelum pembelajaran dengan komik,
maka diberikanlah soal pretest. Selama 25 menit
berlangsung peserta didik mengerjakan soal secara
individual.
Selanjutnya diberikan komik Chemtoon untuk
dipelajari. Pengamat mulai mengamati kegiatan peserta
didik yang tertera dalam lembar observasi. Peneliti
memandu peserta didik untuk mengamati daftar tokoh
dan prolog yang terdapat pada halaman 6-9. Setelah itu
peserta didik dipersilahkan untuk membaca pramisi
hingga halaman 18. Kegiatan membaca ini berlangsung
selama rerata waktu yang digunakan peserta didik
sebanyak 10 menit. Pada halaman 19 disimpulkan
permasalahan yang terjadi. Halaman ini diisi dengan
rerata waktu yang dibutuhkan 3-5 menit. Pada bagian
ini menunjukkan kemampuan peserta didik untuk
menemukan masalah yang dapat dilihat pada gambar
4.3 dibawah ini.

103
(a) (b)
Gambar 4.3 Contoh Hasil Perumusan Masalah (a)
Pertanyaan tentang sebab (b) pertanyaan tentang
solusi
Gambar 4.3 menunjukkan contoh dari
perumusan masalah peserta didik. Hal tersebut
menunjukkan kemampuan dalam mengenali pokok
permasalahan yang terjadi. Salah satu siswa
merumuskan masalah dengan “apa kandungan yang
terdapat dalam jus jeruk tersebut yang menyebabkan
bunga layu?” dan siswa lain menjawab “bagaimana
cara memperbaiki bunga layu tersebut?” Persepsi
setiap orang dapat berbeda. Tergantung pada
bagaimana pandangan dari tiap-tiap individu tersebut.
Pada pertanyaan pertama menunjukkan adanya rasa
ingin tahu pada siswa. Pada pertanyaan kedua
menunjukkan keinginan dalam pemecahan masalah.
Sebagian besar peserta didik merumuskan masalah
tentang solusi dari permasalahan yang terjadi.
Meskipun jawaban yang didapatkan berbeda- beda,
namun hal ini menunjukkan adanya proses berfikir
siswa yang semuanya masih berada dalam lingkup
permasalahan yang disajikan. Lebih dari itu, pada

104
tahap perumusan masalah ini sebagian besar peserta
didik merumuskan permasalahan sesuai dengan
jawaban yang diinginkan. Yakni merujuk pada suatu
cara dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi.
Sehingga tahap ini dinilai masih dalam taraf diterima
dan telah menampilkan permasalahan yang dapat
dicerna oleh siswa.
Selanjutnya peserta didik dipersilahkan untuk
membaca misi pertama “belajar bersama Arrhenius”
pada halaman 10-41. Pada bagian ini membutuhkan
rata-rata waktu selama 20 menit. Dilanjutkan
mengerjakan tugas misi 1 yang rerata peserta didik
dapat mengerjakannya dengan waktu kurang dari 5
menit. Pada pembuatan resume, peserta didik telah
menunjukkan bahwa mereka telah memahami inti dari
pembelajaran pada misi 1 yang dibuktikan dengan
pengisian lembar jawaban dengan benar. Resume
tersebut dapat dilihat pada gambar 4.4 berikut:

Gambar 4.4 Contoh Resume Misi 1


Pada pembuatan resume misi 1 menunjukkan
bahwa peserta didik telah menerima informasi secara

105
utuh. Informasi tersebut dapat mereka tuangkan
kembali secara ringkas dan benar. Hal ini menunjukkan
bahwa materi dalam komik Chemtoon telah memenuhi
aspek keterbacaan dan terbukti dapat menyampaikan
pesan dengan baik.
Selanjutnya peserta didik membaca misi 2 pada
halaman 47-65. Kegiatan ini dilakukan selama 15 menit.
Dengan materi yang didapatkan adalah definisi asam
basa Bronsted-Lowry dan cara menghitung pH asam
basa. Kegiatan ini dilakukan oleh peserta didik dengan
baik. Kemudian peserta didik diberikan tugas rumah.
Halaman 41 terdapat sebuah tugas rumah yang
harus diselesaikan. Tugas ini dimaksudkan untuk
memberi penguatan (reinforcement) guna memantapkan
pemahaman peserta didik. Pengumpulan tugas pada
pertemuan selanjutnya. Berikut adalah satu contoh
jawaban yang diberikan peserta didik dapat dilihat
pada gambar 4.5 dibawah ini.

Gambar 4.5 Contoh Jawaban Menentukan Derajat


Disosiasi

106
Dari hasil yang ditunjukkan sebagian besar
peserta didik dapat menyelesaikan soal dengan benar.
Dari tugas rumah yang diberikan menunjukkan bahwa
informasi yang diberikan dapat diterima dan diolah
dengan baik. Melalui jawaban yang diberikan memiliki
bagian diketahui, ditanya, dan dijawab yang
menunjukkan proses berfikir siswa. Kegiatan ini telah
terbukti dapat terlaksana dengan baik.
2. Pertemuan Kedua
Pada pertemuan kedua, dilaksanakan pada hari
selasa tanggal 14 mei 2019. Tujuan pembelajaran yang
hendak dicapai adalah “peserta didik mampu
mendeskripsikan teori asam basa menurut Bronsted-
Lowry melalui cerita dan dialog yang disajikan”,
“peserta didik mampu menganalisis konstanta asam
dan basa melalui data yang disajikan dalam cerita”,
“peserta didik mampu menganalisis pH larutan melalui
perhitungan”, serta “peserta didik mampu
menganalisis pH melalui indikator asam basa”.
Misi kedua dibaca oleh peserta didik pada
halaman 66-77. Pada halaman ini didapatkan informasi
mengenai cara perhitungan konstanta asam basa, dan
mengetahui sifat asam basa menggunakan indikator
asam basa, indikator alami, kertas lakmus, dan
indikator universal. selanjutnya peserta didik dibagi
menjadi 5 kelompok. Pembagian ini didasarkan pada
nilai pretest yang didapatkan sebelumnya. Terdiri dari 3
anggota. Setelah pembagian kelompok, diberikan
beberapa peralatan dan bahan. Peserta didik
melakukan percobaan sesuai dengan panduan halaman
78. Dilanjutkan dengan mengisi lembar observasi pada
halaman 79-80. Pengisian lembar observasi
107
membutuhkan waktu 15 menit dan dilakukan secara
berkelompok. Gambar 4.6 menunjukkan salah satu
contoh lembar observasi percobaan yang diisi oleh
siswa.

(a) (b)
Gambar 4.6 Contoh lembar observasi percobaan, (a)
Halaman 79, (b) Halaman 80
Hasil dari lembar observasi ini menunjukkan
data yang didapatkan selama percobaan. Namun, pada
percobaan tersebut warna indikator kulit manggis, dan
bunga sepatu tidak sesuai dengan teori yang
seharusnya tidak berwarna. Hal ini dikarenakan pada
proses pembuatannya, penyaringan tidak dilakukan
secara maksimal. Selain itu, beberapa warna yang
diberikan pada setiap larutan uji sebagian kecil sulit
untuk dibedakan. Disebabkan oleh perbedaan pH yang
tidak terlalu jauh, sehingga perbedaan warna yang
ditampilkan indikator tidak signifikan. Namun, peserta
didik telah menunjukkan perkembangan dalam
mengenali warna. Terdapat beberapa identifikasi
warna yang baru seperti mustard dan maroon.
Dilanjutkan dengan penyusunan kesimpulan.
Pengisian kesimpulan berlangsung selama 10 menit.

108
Dari rangkuman tersebut menunjukkan informasi yang
telah diterima siswa. Hampir keseluruhan dapat
menyusun rangkuman secara lengkap. Gambar 4.7
adalah contoh rangkuman yang telah dibuat oleh siswa.

Gambar 4.7 Rangkuman Misi 2


3. Pertemuan ketiga
Pada pertemuan ketiga tujuan pembelajaran yang
hendak dicapai adalah “peserta didik mampu
mendeskripsikan teori asam basa menurut Lewis
melalui cerita dan dialog yang disajikan”. Kegiatan ini
berlangsung pada Rabu, 15 mei 2019. Peserta didik
dipersilahkan untuk membuka kembali komik
Chemtoon pada halaman 85. Kemudian diberikan
instruksi untuk membaca hingga halaman 96.
Dilanjutkan mengisi rangkuman pada halaman 97 dan
teka-teki silang pada halaman 98. Keseluruhan waktu
yang dibutuhkan sebanyak 40 menit. Perhatikan
gambar 4.8 berikut:

109
(a) (b)
Gambar 4.8 (a) Rangkuman Misi 3, (b) Contoh
Jawaban Teka-teki Silang

Hasil dari rangkuman dan teka-teki silang


menunjukkan bahwa informasi dalam komik telah
tersampaikan secara menyeluruh. Informasi tersebut
diterima peserta didik dan dapat diikuti sesuai alur
cerita hingga selesai.
Posttest dibagikan setelah semua materi
diberikan. Peserta didik diminta untuk mengerjakan
secara individu sesuai dengan kegiatan belajar yang
mereka terima. Posttest ini adalah tahap terakhir
dilakukannya uji coba. Waktu yang dibutuhkan
sebanyak 30 menit. Setelah itu, dibagikanlah lembar
angket respon yang diisi masing-masing peserta didik
sesuai dengan keadaan yang ada. Dengan berakhirnya
pertemuan ketiga tahap uji coba telah selesai dilakukan
dan selanjutnya dilakukan analisis hasil uji coba
terbatas.
4. Analisis Hasil Uji Coba Terbatas
Hasil uji coba terbatas kemudian digunakan untuk
mengetahui kelayakan yang ditinjau dari segi kepraktisan
dan keefektifan komik Chemtoon. Adapun kepraktisan
110
akan dilihat dari hasil lembar observasi aktivitas dan
lembar angket respon peserta didik. Sedangkan,
keefektifan akan dilihat dari hasil pretest dan posttest.
Berikut adalah uraian dari analisis hasil uji coba terbatas.
a. Aspek kepraktisan
Aspek kepraktisan ini dilihat dari dua kegiatan
yakni angket respon peserta didik yang dibagikan
setelah pembelajaran, dan lembar observasi aktivitas
peserta didik yang diamati selama dilangsungkannya
pembelajaran. Tujuan dari diberikannya angket adalah
untuk mengetahui kebermanfaatan komik dalam
membantu proses belajar dan mengetahui kemenarikan
komik dari sudut pandang peserta didik. Komik akan
dikatakan praktis jika persentase respon dan aktivitas
peserta didik >61%. Berikut adalah hasil angket respon
peserta didik yang dapat dilihat dalam Tabel 4.6
berikut.
Tabel 4.6 Hasil Angket Respon Peserta Didik

No Pertanyaan Skor P (%)

1 Apakah dengan komik Chemtoon 15 100%


anda lebih termotivasi untuk
belajar materi asam basa?

2 Apakah anda lebih tertarik 15 100%


belajar dengan komik daripada
buku teks tanpa gambar?
3 Apakah ekspresi dan dialog antar 13 86,6 %
tokoh dalam komik membantu
anda merasa nyaman atau akrab
dengan alur cerita

111
4 Setelah membaca bagian pra-misi 10 66,6%
apakah anda merasa tertantang
untuk menemukan solusi dari
permasalahan yang terjadi?
5 Apakah dengan ilustrasi senyawa 15 100%
yang disajikan dalam komik
(bagian definisi asam basa
menurut Arrhenius, Bonsted-
Lowry, dan Lewis) membantu
anda untuk membayangkan
konsep yang abstrak?
6 Apakah dengan prosedur 12 80%
perhitungan pH dan konstanta
asam basa anda terbantu untuk
memahami rumus yang panjang?
7 Apakah dengan adanya komik 15 100%
Chemtoon pembelajaran kimia
menjadi lebih bervariasi?

Berdasarkan Tabel 4.6 beberapa pertanyaan dalam


angket respon peserta didik dijelaskan berikut ini:
1. Apakah dengan komik Chemtoon anda lebih
termotivasi untuk belajar asam basa?
Menurut Noviati & Syaichudin (2010) salah satu
kelebihan komik adalah kemampuannya dalam
menarik minat baca siswa melalui gambar atau
tampilan yang kreatif. Oleh karenanya, untuk
mengetahui ketertarikan peserta didik diberikanlah
poin pertanyaan ini pada lembar angket respon.
Sehingga dapat diketahui seberapa besar motivasi

112
dalam belajar asam basa dengan komik Chemtoon.
Poin ini mendapatkan respon 100%. Atau dalam
kata lain komik Chemtoon telah mampu
memotivasi peserta didik untuk belajar asam basa.
2. Apakah Anda lebih tertarik belajar dengan komik
daripada teks pada buku tanpa gambar?
Tujuan dari poin ini adalah untuk membandingkan
komik dengan buku yang telah biasa digunakan
oleh peserta didik. Pada umumnya, buku yang
digunakan sedikit sekali atau bahkan tanpa gambar
yang dapat mendukung materi di dalamnya. Hal ini
ditemukan ketika dilakukan prapenelitian dengan
angket. Sebanyak 54% peserta didik mengemukakan
bahwa buku mereka tidak menarik. Oleh karenanya,
poin ini diajukan pada siswa untuk mengetahui
seberapa besar komik ini dapat menjadi solusi
dalam memperbaiki kekurangan media sebelumnya.
Poin ini mendapatkan jawaban positif sebanyak
100%. Artinya komik Chemtoon dapat dijadikan
sebagai alternatif media yang menarik daripada
buku teks biasa dan dinyatakan sangat praktis.
Didukung oleh penelitian dari Muniran dan Yusof
(2008) yang menunjukkan bahwa pembelajaran
dengan komik lebih menarik daripada
menggunakan textbook. Menggunakan komik, pesan
yang disampaikan menjadi lebih sederhana dan
menarik, serta dapat pula digunakan untuk
meningkatkan literasi pengguna.
3. Apakah ekspresi dan dialog antar tokoh dalam
komik membantu anda merasa nyaman atau
akrab dengan alur cerita yang disajikan?
Sebagai individu yang memiliki persepsi berbeda.
113
Poin ini bertujuan untuk mendeskripsikan
kenyamanan dari peserta didik selama
menggunakan komik. Dengan perasaan yang
nyaman dan akrab menandakan bahwa isi komik
dapat diterima dan tidak berlawanan dengan
tingkat kemampuan pengguna dalam menerima
informasi. Sehingga pertanyaan ini ditujukan pada
pengguna secara langsung. Poin ini mendapatkan
respon positif sebanyak 86,6%.
4. Setelah membaca bagian pra-misi, apakah anda
merasa tertantang untuk menemukan solusi dari
permasalahan yang terjadi?
Poin ini bertujuan untuk mengetahui adanya unsur
tantangan dalam belajar. Dengan adanya tantangan
belajar dapat memancing keingintahuan peserta
didik. Tantangan dalam komik diberikan dalam
bentuk permasalahan di awal cerita. Poin ini
mendapatkan respon positif sebanyak 66,6%.
Namun, bagian ini memiliki nilai yang sedikit
rendah. Hal ini dikarenakan pemberian
permasalahan kurang menonjol. Sehingga dari
penilaian ini diketahui bahwa tantangan belajar
dalam komik kurang kuat. Selain itu, setiap
individu tentunya memiliki persepsi yang berbeda.
Hal ini menjadi salah satu kelemahan pada komik
Chemtoon.
5. Apakah ilustrasi yang disajikan dalam komik
(bagian definisi teori asam basa menurut Arrhenius,
Bronsted-Lowry, dan Lewis) membantu anda
membayangkan konsep yang abstrak?
Pada prapenelitian sebelumnya, ditemukan
penyebab sulitnya materi asam basa adalah karena
114
keabstrakan konsep yang disampaikan. Oleh
karenanya, poin ini sangat penting untuk
ditanyakan dengan tujuan untuk membantu
memperjelas konsep asam basa yang abstrak. Untuk
mempelajari konsep abstrak seperti asam basa yang
baru dikenal siswa, tentunya seperti mengenalkan
istilah atau bahasa yang baru bagi mereka. Selaras
dengan ulasan dalam Karap (2017) yang
menyatakan bahwa komik dapat membantu dalam
mempelajari bahasa asing. Sehingga dengan komik
Chemtoon diharapkan dapat membantu
penyampaian pesan di dalamnya. Tentunya hal ini
hanya dapat dijelaskan melalui persepsi peserta
didik secara langsung. Respon positif yang
ditunjukkan adalah sebesar 100%.
6. Apakah dengan prosedur perhitungan pH dan
konstanta asam basa anda terbantu untuk
memahami rumus yang panjang?
Pada prapenelitian sebelumnya, penyebab lain
sulitnya asam basa adalah banyaknya rumus.
Sehingga peserta didik kesulitan untuk
menghafalkan. Maka dibuatlah penjelasan mengenai
rumus-rumus dalam materi. Sehingga dapat
membantu peserta didik mengubah pola hafalan
dalam pola pemahaman. Poin ini mendapatkan
respon positif sebanyak 80%. Peran komik dalam
membantu mempelajari rumus asam basa berupa
pengantar dan penjelasan dari rumus yang panjang.
Sehingga akan lebih mudah dipahami. Namun,
untuk mengingat rumus tersebut siswa tetap harus
menghafalnya. Selain itu, subjektivitas juga sangat
berpengaruh dalam proses belajar. Sehingga dalam
115
hal ini komik mendapatkan nilai yang cukup baik.
7. Apakah dengan adanya komik Chemtoon
pembelajaran kimia di sekolah menjadi lebih
bervariasi?
Sebagai media pembelajaran tentunya komik dapat
memperbanyak kekayaan media belajar. Sehingga
poin ini ditanyakan untuk mengetahui fungsi
tersebut. Sebanyak 100% respon positif. Angket
respon juga didukung oleh adanya lembar observasi
keterlaksanaan pembelajaran. Pengamatan ini
bertujuan untuk mengetahui keefektifan waktu
yang digunakan untuk belajar dengan komik. Selain
itu dapat juga menunjukkan partisipasi dan ekspresi
peserta didik selama pembelajaran berlangsung.
Kegiatan pembelajaran diamati oleh 3 orang
observer dari program studi kependidikan. secara
berturut-turut Tabel 4.7 menunjukkan hasil bahwa:

116
Tabel 4.7 Aktivitas Peserta Didik
Keterangan
% Keter-
No
Aspek yang Diamati laksanaan Waktu Aktivitas

Pertemuan 1

1 Peserta didik 100% 10 Membaca


membaca pramisi menit serius

Peserta didik 100% 5 Menulis


2 mengerjakan tugas menit dengan
pra-misi serius

Peserta didik 100% 20 Membaca


3 membaca misi 1 menit dan
“belajar bersama menyimak
Arrhenius” (hal. 22-
42)

Peserta didik 100% 5 Menulis


4 mengerjakan tugas menit dengan
misi 1 (hal. 43) tenang

Peserta didik 100% 20 Membaca


membaca misi 2 menit dengan
5 “belajar bersama tenang
Bronsted-Lowry”
hingga penentuan
pH (hal. 47-65)

117
Keterangan
% Keter-
No
Aspek yang Diamati laksanaan Waktu Aktivitas

Pertemuan 2

Peserta didik 100% 30 beberapa


membaca misi 2 menit tersenyum
“belajar bersama
Bronsted-Lowry”
6 pada penentuan
konstanta asam/
basa hingga
indikator universal
(hal. 65-77)

Peserta didik 100% 3-5 Membentuk


7 membentuk menit kelompok
kelompok

8 Peserta didik 100% 30 Diskusi


melakukan menit aktif
percobaan
penentuan pH
menggunakan
indikator asam/basa
(hal. 78)

Peserta didik mengisi 100% 15 Diskusi


lembar observasi dan menit aktif
9 membuat
kesimpulan (hal.
79-80)

118
Keterangan
% Keter-
No
Aspek yang Diamati laksanaan Waktu Aktivitas

Peserta didik 100% 10 Bekerja


10 mengerjakan tugas menit dengan
misi 2 (hal. 82) tenang

Pertemuan 3
Peserta didik 100% 15 Tersenyum
membaca misi 3 menit di akhir
11 „belajar bersama misi
Lewis” (hal. 85-96)

Peserta didik 100% 5 menit Mengerja


mengerjakan tugas -kan
12 misi 3 (hal. 97) dengan
tenang
Peserta didik mengisi 100% 20 berdiskus
13 teka- menit i
teki silang (hal. 98)
Total waktu 225 menit

Dari rekapitulasi hasil lembar observasi di atas


diketahui bahwa estimasi waktu yang diperlukan
untuk mempelajari komik Chemtoon ini adalah 225
menit atau setara dengan 5 jam pelajaran yang dibagi
dalam 3 pertemuan.
Pada pertemuan pertama, digunakan untuk
pengenalan dan pretest yang membutuhkan waktu 30
menit. Materi yang terbaca adalah mulai pada halaman
sampul, pra-misi hingga misi 2 pada halaman 65. Total

119
waktu yang dibutuhkan peserta didik adalah 60 menit.
Pertemuan kedua estimasi waktu yang
dibutuhkan adalah sebanyak 90 menit. Materi terbaca
mulai misi 2 halaman 65 hingga halaman 82. Pada
pertemuan ini peserta didik lebih antusias dan aktif
dalam kegiatan praktikum. Dengan membentuk 5
kelompok berdiskusi dan berbagi tugas dengan baik.
Sehingga, waktu yang digunakan tidak terlalu lama.
Berikut adalah kegiatan percobaan yang dapat dilihat
pada gambar 4.9 dibawah ini.

Gambar 4.9 Percobaan Indikator asam basa


Pertemuan ketiga, materi yang terbaca adalah
misi 3 hingga akhir. Pada halaman 85 hingga 98. Pada
akhir kegiatan peserta didik mengisi teka-teki silang
yang disediakan sebagai latihan kecil. Estimasi waktu
yang digunakan sebanyak 40 menit. Selanjutnya
peserta didik diberikan posttest untuk mengetahui hasil
belajar dengan komik. Tes ini membutuhkan waktu 10
menit persiapan dan 30 menit waktu mengerjakan.
Dari lembar observasi aktivitas dapat diketahui
bahwa waktu yang digunakan sesuai untuk digunakan
dalam pembelajaran. Menurut Suhari, guru kimia di
SMAN 1 Wringinanom, menerangkan bahwa biasanya
materi kimia disampaikan selama setidaknya 4 kali

120
pertemuan termasuk evaluasi. Dengan komik Chemtoon
pembelajaran kimia khususnya pada materi asam basa
dapat diselesaikan 3 kali pertemuan, sehingga
pembelajaran memerlukan waktu yang lebih efektif.
Sehingga jika dilihat dari lembar observasi maka
penilaian menunjukkan 100% dengan kategori sangat
praktis.
Melalui ekspresi yang diberikan peserta didik,
pada awal pembelajaran peserta didik membaca
dengan serius. Hal ini dapat menunjukkan adanya
proses berfikir siswa. Kegiatan tersebut terus
berlangsung hingga adanya kegiatan membaca misi 2
yang dilakukan dengan menyimak. 3 orang siswa
berperan sebagai tokoh Melody, Kyla, dan Arrhenius.
Hal ini dilakukan untuk menarik perhatian peserta
didik dengan tujuan memberikan kenyamanan dalam
proses belajar. Hal ini juga diulas oleh Jaedun (2009)
dalam penelitiannya yang menunjukkan bahwa belajar
dengan teman sejawat dapat meningkatkan aktivitas
belajar. Selain itu, selama proses pembelajaran terdapat
beberapa peserta didik yang membaca komik dengan
cara bermain peran dengan teman sebangku dan
ditunjukkan pada gambar 4.10.

121
(a) (b)
Gambar 4.10 Gaya belajar peserta didik dengan
teman, (a) bermain peran misi 1 (b) membaca dengan
teman sebangku

Terdapat beberapa peserta didik yang membaca


komik dengan tersenyum. Ekspresi ini didapatkan
pada kegiatan membaca misi 2, dan 3. Hal ini
menandakan bahwa pada kegiatan tersebut peserta
didik merasa nyaman dan senang. Senyuman dapat
mencerminkan beberapa peristiwa bahagia, lucu, serta
dapat sebagai tameng ketika menutupi beberapa emosi
lainnya (Hasanat, 1997). Selaras dengan pendapat
Prastiowati (1995) emosi senang dapat terlihat jelas
melalui senyuman. Senyuman pada kegiatan ini
ditandai sebagai emosi senang. Dibuktikan pada
kegiatan pengerjaan tugas maupun penyusunan
rangkuman, diperoleh hasil yang baik. Sehingga
peristiwa ini diartikan sebagai respon positif tanpa ada
tanda intimidasi.
Adapun aktivitas peserta didik yang menonjol
terjadi pada kegiatan percobaan. Percobaan dilakukan
secara berkelompok. Pada kegiatan ini tercipta kondisi
122
belajar yang aktif dengan ditandai oleh aktivitas diskusi
dan interaksi antar teman. Peserta didik lebih banyak
berdialog dan bertanya pada peneliti mengenai cara
menggunakan atau membaca indikator yang
digunakan.
Dari lembar observasi jika diuraikan dalam
bentuk pernyataan maka akan mendukung
terpenuhinya kriteria sebagai berikut:
a) Ketersediaan waktu yang digunakan dalam
pembelajaran
b) Memacu pembelajaran yang aktif
Pada akhirnya, dihitung rerata persen hasil lambar
angket respon dan lembar observasi aktivitas. Sehingga
dalam aspek kepraktisan, komik Chemtoon
mendapatkan nilai sebanyak 95,2% dan dinyatakan
“sangat praktis”.
b. Aspek keefektifan
Dalam aspek keefektifan dilihat dari ketuntasan
hasil belajar peserta didik yang disesuaikan dengan
KKM sekolah yakni 70. Berdasarkan kegiatan uji coba
terbatas berikut adalah hasil pretest dan posttest yang
dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut:
Tabel 4.8 Hasil Pretest-Posttest
Pretest Posttest
No. Nama
Nilai Keterangan Nilai Keterangan
1 TR 0 TT 80 T

2 APD 15 TT 93,3 T

3 UK 15 TT 93,3 T

4 DPW 0 TT 76,6 T

123
Pretest Posttest
No. Nama
Nilai Keterangan Nilai Keterangan
5 MIZ 0 TT 63,3 TT

6 ANS 0 TT 60 TT

7 JNS 10 TT 93,3 T

8 AA 0 TT 73,3 T

9 SZ 10 TT 80 T

10 SAP 25 TT 80 T

11 MWBM 0 TT 56 TT

12 PPP 15 TT 93,3 T

13 TKO 0 TT 80 T

14 EDC 0 TT 76,6 T

15 SSY 15 TT 93,3 T

Keterangan :
T : Tuntas
TT : Tidak Tuntas
Berdasarkan tabel 4.8 hasil pretest-posttest yang
didapatkan memiliki perbedaan yang signifikan. Hal
ini dikarenakan pembelajaran dengan media
sebelumnya kurang menarik. pernyataan ini didukung
jumlah angket pada pra-penelitian yang menunjukkan
bahwa 60% peserta didik menyatakan bahwa buku
mereka monoton. Oleh karena itu pembelajaran dengan
komik diharapkan dapat memberi kesan yang berbeda
dan lebih menarik. Sehingga hasil belajar peserta didik
mencapai kriteria ketuntasan yang ada di sekolah.
Gambar 4.11 adalah perbandingan presentase
124
ketuntasan klasikal sebelum pembelajaran dengan
komik (pretest) dan setelah pembelajaran dengan komik
(posttest).

Gambar 4.11 Perbandingan Hasil Pretest dan Posttest

Hasil belajar yang ditunjukkan merupakan data


yang diperoleh dari pretest dan posttest. Lembar soal
yang diberikan memuat butir soal dengan level
kognitif yang tinggi. 50% soal dengan level C5
(evaluasi), dan 50% soal C3 (aplikasi). Dimana kedua
soal pretest dan posttest yang diberikan sama. Ketika
pretest diberikan sebanyak 15 siswa tidak tuntas.
Diduga karena peserta didik mengerjakan tes tanpa
persiapan belajar. Selain itu materi asam basa yang
disampaikan terlampau lama diberikan pada awal
semester yaitu pada bulan Januari-Februari, sedangkan
penelitian ini berlangsung di bulan Mei. Oleh karena
itu, peserta didik cenderung lupa. Hal ini dibuktikan
oleh jawaban pretest beberapa peserta didik yang
memberikan jawaban salah. Gambar 4.12 menunjukkan
bahwa peserta didik salah dalam penggunaan rumus
perhitungan konstanta asam basa dengan rumus
hidrolisis garam.

125
Gambar 4.12 Kesalahan pada Pretest Peserta Didik

Namun, setelah diberikan komik Chemtoon


terdapat perkembangan yang signifikan.
Ketidaktuntasan yang sebelumnya 100% menurun
menjadi 20%. Sebanyak 8 butir soal posttest yang telah
diberikan menunjukkan bahwa sebagian besar peserta
didik telah mampu memenuhi kompetensi capaian
yang telah disusun. Berikut adalah rincian hasil posttest
peserta didik.
1. Butir soal pertama
Pada butir soal pertama ditujukan untuk
menguji kemampuan siswa dalam mendeskripsikan
teori asam basa menurut Arrhenius. Soal ini
memiliki level kognitif C5 (mengevaluasi) yang
memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi. Pada butir
soal ini sebanyak 83% berhasil terjawab dengan
benar. Gambar 4.13 berikut adalah contoh jawaban
posttest yang diberikan peserta didik.

126
Gambar 4.13 Contoh Jawaban Posttest Soal Pertama

Melalui gambar tersebut menunjukkan bahwa peserta


didik telah mampu mencapai tujuan belajar yang
pertama, yakni mendeskripsikan teori asam basa
menurut Arrhenius dengan baik. Sebanyak 17%
jawaban dari butir soal pertama tidak terjawab.
2. Butir soal kedua
Butir soal kedua digunakan untuk mengukur
pemahaman siswa terkait teori asam basa Bronsted-
Lowry. Soal ini memiliki level kognitif C5
(mengevaluasi) yang serupa dengan soal pertama.
Dimana tingkat kesulitannya cukup tinggi. Berikut
adalah contoh jawaban butir soal kedua yang dapat
dilihat pada gambar 4.14.

127
Gambar 4.14 Contoh Jawaban Posttest Soal Kedua

Pada butir soal ini sebanyak 82% berhasil terjawab


dengan benar. Adapun selebihnya 18% belum dijawab
oleh peserta didik.
3. Butir soal ketiga
Pada butir soal ketiga dalam posttest ini memiliki
level kognitif C5 (mengevaluasi) peserta didik
dihimbau untuk mencari 2 kesalahan yang terdapat
dalam penjelasan teori asam basa Lewis serta contoh
yang diberikan. Selanjutnya peserta didik
membenarkan kesalahan tersebut sehingga menjadi
pernyataan yang benar. Pada butir soal ketiga ini juga
memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Sebanyak
93% jawaban berhasil dijawab dengan benar. Berikut
adalah salah satu contoh jawaban peserta didik.

128
Gambar 4.15 Contoh Jawaban Posttest Soal Ketiga

Melalui gambar yang ditunjukkan dapat diperoleh


informasi bahwa peserta didik telah mampu untuk
mendeskripsikan teori asam basa Lewis dengan benar.
Adapun selebihnya sebanyak 7% tidak dijawab oleh
peserta didik.
4. Butir soal keempat
Pada butir soal keempat memiliki level kognitif C3
(mengaplikasi). Artinya soal ini memiliki tingkat
kesulitan yang sedang. Dalam soal keempat ini peserta
didik dihimbau untuk menentukan konstanta asam dari
suatu larutan. Dalam proses penentuan konstanta asam
ini peserta didik terlebih dahulu harus mengetahui data
yang diketahui dan data yang dicari. Setelahnya
barulah menentukan rumus yang hendak digunakan
serta mengaplikasikan data yang diketahui menjadi
data yang hendak dicari. Sebanyak 93% berhasil

129
dijawab dengan benar. Gambar 4.16 berikut adalah
contoh jawaban yang diberikan oleh peserta didik.

Gambar 4.16 Contoh Jawaban Posttest Soal Keempat

Melalui gambar tersebut diketahui bahwa


sebagian besar peserta didik telah mampu untuk
menentukan konstanta asam dari suatu data yang
terlebih dahulu disajikan. Selebihnya sebanyak 7%
jawaban tanpa dituliskan beberapa data yang diketahui
atau ditanyakan.
5. Butir soal kelima
Pada butir soal keenam memiliki level kognitif
C3 (mengaplikasi) yang hampir mirip dengan butir soal
keempat. Dalam soal ini peserta didik dihimbau untuk
menentukan konstanta basa melalui data. Terlebih
dahulu siswa menentukan data yang diketahui, data
yang dicari, dan rumus yang akan digunakan. Rumus
yang digunakan meliputi rumus penentuan pH dan
rumus konsentrasi OH- untuk penentuan konstanta
asam. Dengan mengaplikasikan data yang diketahui
peserta didik dapat memperoleh data yang dicari.
Sebanyak 78% jawaban berhasil dijawab dengan benar.
Gambar 4.17 berikut merupakan contoh jawaban dari
posttest soal kelima.

130
Gambar 4.17 Contoh Jawaban Posttest Soal Kelima

Dari jawaban tersebut dapat ditunjukkan bahwa


peserta didik telah mampu menentukan konstanta basa
dengan benar. Adapun selebihnya 22% jawaban belum
berhasil karena tidak menuliskan data yang ditanyakan,
data yang diketahui serta kesulitan pada saat
menerjemahkan pH menjadi konsentrasi H+.
6. Butir soal keenam
Pada butir soal keenam peserta didik dihimbau
untuk menentukan pH dari larutan basa lemah. Pada
soal ini peserta didik tetap menentukan data yang
diketahui, data yang ditanyakan, dan menentukan
rumus yang digunakan. Adapun rumus yang
digunakan diantaranya rumus konsentrasi OH-, rumus
menentukan pOH, dan rumus menentukan pH. Soal ini
memiliki level kognitif C3 (mengaplikasi) dengan
tingkat kesulitan sedang. Sebanyak 84% berhasil
dijawab dengan benar. Gambar 4.18 merupakan hasil
jawaban dari alah satu peserta didik.

131
Gambar 4.18 Contoh Jawaban Posttest Soal Keenam

Melalui gambar 4.18 diketahui bahwa peserta didik


telah mampu menentukan pH melalui suatu
perhitungan. Adapun selebihnya sebanyak 16% tidak
mengisi data diketahui dan data yang ditanya.
7. Butir soal ketujuh
Pada butir soal ketujuh peserta didik diminta
untuk merancang suatu prosedur percobaan
pembuatan indikator alami. Setelah itu, memperkirakan
hasil uji coba indikator yang telah dibuat pada beberapa
larutan uji. Untuk menjawab soal ini peserta didik telah
dibekali rangkaian kegiatan praktikum serta membaca
informasi yang tersedia di dalam komik pada halaman
68-72. Soal ini berada pada level kognitif C3
(mengaplikasi) yang memiliki tingkat kesulitan sedang.
Sebanyak 98% peserta didik berhasil menjawab soal
dengan baik. Gambar 4.19 adalah salah satu contoh
hasil pekerjaan dari peserta didik.

132
Gambar 4.19 Contoh Jawaban Posttest Soal Ketujuh

Melalui gambar tersebut, diketahui bahwa sebagian


besar peserta didik telah mencapai tujuan belajar yang
kelima yakni merancang prosedur pembuatan indikator
dari bahan alam. Adapun selebihnya sebanyak 2%
belum terisi.
8. Butir soal kedelapan
Butir soal kedelapan berisi perintah untuk
menganalisis dua sampel yang diuji kepada 3 jenis
indikator asam basa. Peserta didik harus menentukan
rentang pH dari masing-masing sampel terlebih
dahulu. Setelahnya, rentang pH yang didapatkan
digunakan sebagai acuan untuk menentukan warna
yang akan ditampilkan oleh masing-masing sampel jika
diuji dengan indikator dengan trayek dan perubahan
warna yang berbeda. Soal ini memiliki level kognitif C5
(mengevaluasi) dan memiliki tingkat kesukaran yang
cukup tinggi. Sebanyak 38% soal berhasil dijawab
dengan benar. Angka ini dinilai belum dapat tercapai
secara maksimal. Sehingga diperlukan peninjauan
mengenai penyebab dari ketidakberhasilan peserta
didik dalam mencapai tujuan yang keenam. Yakni
menentukan pH melalui indikator asam basa. Gambar
133
4.20 adalah contoh salah satu jawaban yang diberikan
peserta didik.

Gambar 4.20 Contoh Jawaban Posttest Soal


Kedelapan

Dari gambar tersebut menunjukkan


ketidakberhasilan dalam proses belajar. Maka
peninjauan ulang diperlukan untuk mencari tahu
penyebab dari kekurangan tersebut. Beberapa peserta
didik masih belum tuntas karena kurangnya perhatian
dalam mempelajari gambar indikator asam basa di
halaman 74. Hal ini didukung pada lembar observasi
aktivitas, rerata waktu yang digunakan untuk membaca
pada bagian misi 2 dilakukan dengan cepat. Sehingga
terdapat beberapa bagian yang belum dipahami dengan
benar. Pernyataan ini dibuktikan dengan terdapatnya
kesalahan peserta didik dalam menjawab pertanyaan
tentang indikator asam basa. Pertanyaan ini dapat
diselesaikan jika peserta didik memahami konten pada
gambar atau tabel di halaman 74-76 yang diperlihatkan

134
pada gambar 4.21 berikut.

(a) (b)
Gambar 4.21 (a) Gambar Indikator Asam Basa (b)
Tabel Indikator Asam Basa
Namun, karena peserta didik hanya melihatnya
sekilas pesan tidak dapat tersampaikan secara
sempurna. Selain itu mengingat pada tingkat kesulitan
yang cukup tinggi, estimasi waktu yang digunakan
untuk menjawab keseluruhan soal dinilai kurang
mewadahi. Sebab terdapat banyak soal yang belum
terjawab dengan sempurna. Khususnya pada butir
kedelapan yang merupakan soal terakhir.

Gambar 4.22 Jawaban Posttest Peserta Didik


135
Butir soal peserta telah berhasil hingga tujuh
dijawab dengan hampir sempurna. Khususnya butir
soal ke tujuh. Dengan demikian dapat diketahui proses
pembelajaran yang paling berhasil adalah kegiatan
praktikum menggunakan indikator alami dengan 98%
peserta didik berhasil menjawab soal dengan benar.
Menurut Fawaidah (2016) Keberhasilan suatu
proses belajar mengajar dapat tercapai jika aspek-
aspeknya berjalan dengan selaras, yaitu antara peserta
didik, pendidik, dan sumber belajar. Dengan adanya
komik Chemtoon yang berkedudukan sebagai media,
dapat menyampaikan pesan atau informasi untuk
kepentingan pengajaran (Sunyono, 2009). Penyajian
materi dalam komik juga dimaksudkan agar siswa
mampu memahami konsep dengan mudah serta tidak
cepat merasa bosan (Pratiwi, 2018). Materi asam basa
dalam komik ini merupakan materi yang abstrak.
Menurut Fawaidah (2016) media komik dapat dijadikan
sebagai alternatif media yang menggabungkan antara
teks dan gambar dalam konten kreatif yang dapat
membantu memvisualisasikan konsep yang abstrak.
Sedangkan menurut Zimmerman (dalam Wahab, 2016)
menjelaskan bahwa dalam memahami informasi yang
kompleks, peserta didik yang kemampuan
membacanya terbatas akan lebih mudah memahami isi
dari suatu bacaan melalui media komik dibanding
sebuah buku berisi puluhan paragraf, sebab dalam
komik hanya dibutuhkan beberapa kata dan gambar
untuk menjelaskan suatu materi dan tidak dapat
dilakukan dalam buku pelajaran biasa. Menurut Nengsi
(2017) juga mengatakan bahwa kelebihan komik adalah
penyajiannya yang mengandung unsur visual dan
136
cerita yang kuat sehingga terjadi keterlibatan pembaca
secara emosional dan membuatnya terus membaca
komik hingga selesai. Oleh karenanya pengembangan
komik ini efektif untuk dijadikan sebagai media
pembelajaran pada materi asam basa. Sehingga, dalam
penelitian ini peserta didik setelah diberikan komik
mengalami peningkatan hasil belajar yang tinggi dan
tercapailah ketuntasan hasil belajar yang diinginkan.
Sehingga, komik Chemtoon dinyatakan telah memenuhi
aspek kefeektifan dengan tercapainya ketuntasan
klasikal sebesar 80% dengan predikat efektif.
Rangkaian kegiatan dalam penelitian ini telah
menunjang kriteria media pembelajaran. kriteria
menurut Sudjana (2010) yang terangkum dalam kata
“visuals” (visible, interesting, structure, useful, accurate,
legitimate, simple) telah dituangkan melalui instrumen
dalam penelitian ini. Kriteria visible, structure, useful,
accurate, simple telah terpenuhi melalui instrumen
lembar validasi. Kriteria interseting diperoleh melalui
instrumen angket respon peserta didik. Kriteria
legitimate telah terpenuhi melalui instrumen lembar
observasi aktivitas.
Pengembangan komik Chemtoon selesai setelah
dilakukan uji coba terbatas dan analisisnya. Melalui
kegiatan validasi telah diperoleh aspek validitas.
Melalui uji coba terbatas ini didapatkan dua aspek yang
menunjang kelayakan yakni aspek kepraktisan dan
keefektifan. Sehingga dengan demikian dapat diperoleh
informasi bahwa komik Chemtoon telah layak untuk
digunakan sebagai media pembelajaran kimia pada
materi asam basa untuk kelas XI SMA, ditinjau dari
aspek validitas, kepraktisan, dan keefektifan.
137
Halaman ini sengaja dikosongkan

138