Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Banyak perusahaan manufaktur mencurahkan perhatian yang besar pada
pemecahan masalah yang berkaitan dengan pembebanan biaya ke produk
sampingan atau produk gabungan. Perusahaan kimia, kilang minyak, penggiling
tepung, tambang batu bara,tempat penggergajian kayu, perusahaan susu, perusahaan
pengalengan, pengemasan daging dan banyak lagi yang lain , memproduksi banyak
produk yang harus menerima pembebanan biaya. Pembebanan biaya ke berbagai
produk ini diperlukan untuk perhitungan biaya persediaan, penentuan laba, dan
pelaporan keuangan. Perhitungan biaya produk sampingan dan biaya produk
gabungan juga memberikan informasi biaya langsung yang berarti bagi manajemen.
Informasi ini dapat berguna dalam merencanakan laba dan mengevaluasi kinerja.
Namun berlawanan dengan kegunaan biaya langsung dari produk sampingan dan
produk gabungan, manajemen sebaiknya menyadari keterbatasan alokasi arbitrer
dari biaya gabungan dalam menganalisis produk individual.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan produk sampingan dan produk gabungan?
2. Apa yang dimaksud dengan biaya gabungan?
3. Bagaimana cara mengalokasikan atau membebankan biaya produksi gabungan
dan produk sampingan menggunakan metode yang berbeda-beda?

C. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui definisi produk sampingan, produk gabungan dan biaya
gabungan serta mampu mengalokasikan atau membebankan biaya produksi
gabungan dan produk sampingan menggunakan metode yang berbeda-beda.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Produk Sampingan dan Produk Gabungan


Istilah produk sampingan (by-product) umumnya digunakan untuk
mendefinisikan suatu produk dengan nilai total yang relatif kecil dan dihasilkan
secara simultan atau bersamaan dengan produk lain yang nilai totalnya lebih besar.
Produk dengan nilai total yang lebih besar tersebut biasanya disebut produk utama
(main product). Produk utama biasaya diproduksi dalam jumlah yang lebih besar
dibandingkan dengan produk sampingan. Biasanya, produsen hanya memiliki sedikit
kendali atas Jumlah produk sampingan yang dihasilkan. Sebaliknya, diperkenalkan
metode teknik lebih maju, seperti yang digunakan di industri perminyakan,telah
memungkinkan pengendaliaan yang lebih besar atas jumlah residu dan produk
sampingan lainya. Misalkan saja, suatu perusahaan yang menyewa truk untuk
mengangkut bahan tertentu menemukan bahwa bahan buangan tersebut dapat
digunakan sebagai pupuk. Produk sampingan ini sekarang menjadi sumber
pendapatan lain untuk seluruh industri.

Produk gabungan (joint product) dihasilkan secara simultan melalui suatu


proses atau serentakan proses umum, dimana setiap produk yang dihasilkan dari
proses tersebut memiliki lebih dari sekedar nilai nominal. Proses produksi tersebut
bersifat simultan karena proses itu menghasilkan seluruh produk tersebut tanpa
kecuali. Peningkatan dalam output salah satu produk pasti akan menyebabkan
peningkatan kuantitas dari produk-produk lain, dan demikian pula sebaliknya,
walaupun tidak harus dalam proporsi yang sama. Titik pisah batas (split- off point)
didefinisikan sebagai titik dimana produk-produk tersebut dapat dipisahkan sebagai
unit-unit individual. Sebelum titik tersebut, produk –produk tadi masih dalam satu
kesatuan yang homogen.

2
3

B. Karakteristik produk Sampingan dan produk Gabungan


Asal mula dari produk sampingan bervariasi. Produk sampingan yang
dihasilkan dari pembersihan produk utama, seperti gas dan tar yang dihasilkan dari
produksi arang, biasanya memiliki nilai sisa. Dalam beberapa kasus, produk
sampingan adalah sisa atau sumpah, seperti serbuk gergaji di tempat penggergajian
kayu. Dalam kasus lain, produk sampingan timbul dari proses persiapan bahan baku
sebelum digunakan dalam poses produksi produk utama. Pemisahan biji kapas, buah
apel dari biji apel, dan kulit biji coklat merupakan contoh dari produk sampingan
semacam ini.

Produk sampingan dapat di klasifikasikan menjadi dua kelompok menurut


kondisi dapat dipasarkan produk tersebut pada titik pisah batas

(1) yang dijual dalam bentuk asalnya tenpa diproses lebih lanjut, dan

(2) yang membutuhkan proses lebih lanjut agar dapat dijual.

Contoh klasik dari produk gabungan adalah industri pengemasan daging.


Berbagai jenis potongan daging dan berapa produk sampingan dihasilkan dari satu
hewan potong dengan satu total biaya. Contoh lain dari produksi produk gabungan
adalah produksi secara simultan dari berbagai jenis lem dan pemrosesan kedelai
menjadi minyak dan bahan pangan. Perhitungan biaya produk gabungan juga
ditemukan di industri yang harus memilah bahan baku sebelum diproses. Produsen
tembakau (kecuali dalam kasus dimana tembakau ang sudah dipilah diibeli luar
negeri) dan semua perusahaan penggalengan buah dan sayuran menghadapi masalah
pemilihan . faktanya, produsen-produsen ini menghadapi masalah ganda dari alokasi
biaya gabungan :

(1) Biaya bahan baku berlaku untuk semua tingkatan mutu ( grades) hadil
pemilhan dan,
(2) Biaya proses produksi selanjutnya terjadi secara simultan untuk semua jenis
tingkatan mutu tersebut.
4

C. Biaya Gabungan
Biaya gabungan (joint cost) dapat didefinisikan sebagai biaya yang muncul
dari produksi syang simultan atas berbagai produk dalam proses yang sama. Setiap
sekali dua atau lebih produk gabungan atau produk sampingan dihasilkan dari satu
sumber daya, maka biaya gabungan terjadi. Biaya gabungan terjadi sebelum titik
pisah batas.

Biaya gabungan terjadi dalam bentuk satu jumlah total biaya yang tidak dapat
dibagi untuk semua produk yang dihasilkan, dan bukannya berasal dari penjumlahan
biaya induvidual masing-masing produk. Total biaya produksi dari beragam produk
melibatkan biaya gabungan maupun biaya produksi produk individual yang terpisah
yang terpisah.

Biaya produk terpisah (separable product cost) adalah biaya yang dapat
didentifikasikan dengan produk individual, dan pada umumnya tidak memerlukan
alokasi. sementara, biaya produksi gabungan memerlukan alokasi ke produk-produk
individual .

D. Kesulitan Dalam Menghitung Biaya Produk Sampingan Dan Produk


Gabungan
Produk sampingan dan produk gabungan sulit dihitung biayanya karena biaya
gabungan yang sesungguhnya tidak dapat dibagi . misalnya suatu bijih dapat saja
mengandung timah dan tembaga. Dalam kondisi mentah , mineral-mineral ini adalah
produk gabungan sampai dipisahkan oleh pemrosesan bijih. Biaya menemukan,
menambang, dan memproses bijih tersebut adalah biaya gabungan, karena sebelum
titik pisah batas, baik timah maupun tembaga tidak dapat diproduksi sendirian tanpa
mengghasilkan yang lainnya. Biaya yang diakumulasikan sebelum titik pisah batas
harus ditanggung oleh masing-masing produk berdasarkan selisih antara harga jual
dengan biaya untuk menyelesaikan dan menjual setiap mineral setelah titik pisah
batas.
5

Oleh karena itu dapat dibaginya biaya gabungan, maka metode alokasi yang
digunakan untuk menentukan biaya per unit dari produk gabungan bersikap sedikit
arbitrer. Perhitungan biaya produk gabungan dan produk sampingan menyoroti
masalah pembebanan biaya ke produk yang asal, penggunaan peralatan, bahan baku,
tenaga kerja, dan fassiilitas lainnya tidak dapat benar-benar ditentukan jika tidak ada
persediaan awal maupun akhir, maka total angka laba atau rugi periodik tidak akan
ddipengaruhi oleh alokasi biaya ke produk gabungan atau produk sampingan, karena
biaya-iaya gabungan tersebut kembali menjadi satu di laporan laba rugi final.
Sebaliknya, karena biasanya terdapat persediaan, biaya gabungan umumnya
dialokasikan ke produk untuk menetukan nilai persediaan. Oleh karena alasan
tersebut, maka terdampak dampak terhadap laba periodik. Hal ini disebabkan karena
metode alokasi yang berbeda menyebabkan jumlah yang berbeda dialokasikan ke
persediaan dari berbagai produk gabungan atau produk sampingan.

Alokasi biaya gabungan mungkin diharuskan guna menjustifikasi harga jual


di hadapan badan pemerintah. Akan tetapi baik akuntan maupun ekonom sering kali
memertanyakan validitas pemisahan biaya gabungan untuk menentukan harga yang
wajar dalam penetapan harga produk yang diatur oleh pemerintah .

E. Metode untuk Menghitung Biaya Produk Sampingan


Metode yang dapat diterima untuk menghitung biaya produk sampingan
terdiri atas dua kategori. Dalam kategori pertama, biaya produksi gabungan tidak
dialokasikan ke produk sampingan. Dalam kategori ini, ada dua metode. Pendapatan
yang dihasilkan dari penjualan produk sampingan dikreditkan ke pendapatan atau ke
biaya produk utama. Metode ini dibedakan berdasarkan perlakuannya terhadap
pendapatan kotor dari produk sampingan dan disebut sebagai metode I.
Alternatifnya, biaya produk sampingan setelah titik pisah batas dilawankan dengan
6

pendapatan dari produk tersebut. Variasi ini dibedakan berdasarkan perlakuannya


terhadap pendapatan bersih dari produk sampingan dan disebut sebagai metode 2.

Dalam metode I, pendapatan kotor penjualan dari penjualan produk sampingan


ditampilkan dalam laporan laba rugi sebagai salah satu dari kategori ini:

a. Pendapatan lain-lain
b. Tambahan pendapatan penjualan
c. Pengurang harga pokok penjualan dari produk utama
d. Pengurang biaya produksi produk utama

Dalam metode 2, pendapatan bersih dari produk sampingan, (pendapatan dari


penjualan produk sampingan dikurangi dengan biaya administratif dan pemasaran
untuk memasarkan produk sampingan, kemudian dikurangi lagi dengan biaya
pemrosesan lebih lanjut setelah titik pisah-batas) ditampilkan di laporan laba rugi
sebagai salah satu dari keempat kategori untuk metode I sebagaimana disebutkan di
atas.

Dalam kategori yang kedua untuk menghitung biaya produk sampingan, sebagian
biaya gabungan dialokasikan ke produk sampingan tersebut. Alokasi biaya gabungan
seperti inidapat dikatakan hampir sama dengan perlakuan terhadap produk gabungan.
Nilai persediaan didasarkan pada besarnya biaya gabungan yang dialokasikan
ditambah dengan biaya pemrosesan lebih lanjut setelah titik pisah batas. Dalam
kategori ini, ada dua metode yang digunakan. Metode 3 merupakan metode biaya
penggantian (replacement cost method), sedangkan Metode 4 adalah metode nilai
pasar (market value method), atau yang juga dikenal sebagai metode pembatalan atau
pembalikan biaya (reversal cost method).

Metode 1: Pengakuan Pendapatan Kotor

Dengan metode pendapatan kotor (gross revenue method), biaya


persediaan final dari produk utama dihitung terlalu tinggi (overstafed) karena
7

menanggung biaya yang seharusnya dibebankan ke produk sampingan. Keterbatasan


ini dikoreksi di metode Id, tetapi hanya sebagian, karena yang dikurangi dari biaya
produksi produk utama dalam metode ini adalah nilai jual produk sampingan dan
bukannya biaya produksinya.

Metode 1a: Pendapatan Produk Sampingan sebagai Pendapatan Lain-lain.


Metode ini dilustrasikan dalam laporan laba rugi berikut, dengan asumsi bahwa
pendapatan kotor dari penjualan produk sampingan adalah sebesar $1.500:

Penjualan (produk utama, 10.000 unit @52) $20.000


Harga pokok penjualan:
Persediaan awal (1.000 unit @52) $ 1.500
Total biaya produksi ($1.000 unit @$1,50) $16.500
Tersedia untuk dijual $18.000
Persediaan akhir (2.000) unit @1,50) 3.000 15.000
Laba kotor $5.000
Beban pemasaran dan administrasi 2.000
Laba operasi $3.000
Pendapatan lain-lain: pendapatan penjualan produk sampingan 1.500
Laba sebelum pajak $4.500

Metode 1b: Pendapatan Produk Sampingan sebagai sebagai Tambahan


Pendapatan Penjualan. Untuk metode ini, laporan laba rugi di atas akan
menampilkan $1.500 dari pendapatan penjualan produk sampingan sebagai tambahan
penjualan atas produk utama. Akibatnya, total pendapatan penjualan berubah menjadi
sebesar $21.500. selain itu, laba kotor serta laba kotor serta laba operasi akan
meningkat sesuai pertambahan pendapatan tersebut. Semua angka yang lain tidak
berubah, selain bahwa tidak ada item pendapatan produk sampingan yang
dicantumkan setelah Laba Operasi.
8

Metode 1c: Pendapatan Produk Sampingan sebagai Pengurang Harga Pokok


Penjualan. Dalam metode ini, $1.500 dari pendapatan penjualan produk sampingan
dikurangkan dari $15.000 harga pokok penjualan produk utama, sehingga laba kotor
dan laba operasi akan meningkat sebesar $1.500 dibandingkan dengan yang
ditampilkan dalam laporan laba rugi di atas. Laba sebelum pajak besarnya tetap
$4.500.

Metode 1d: Pendapatan Produk Sampingan Mengurangi Biaya Produksi. Dalam


metode ini, $1.500 dari pendapatan penjualan produk sampingan dikurangkan dari
$16.500 total biaya produksi, sehingga biaya produksi bersih yang ditampilkan dalam
laporan laba rugi yang diilustrasikan berikut menjadi $15.000. Biaya produksi yang
sudah direvisi ini mengakibatkan rata-rata per unit produk utama menjadi sebesar
$2.725 dan bukannya $3.000. Dengan cara yang serupa, biaya persediaan awal yang
berkurang ($1,35 per unit seperti yang diilustrasikan dalam laporan laba rugi berikut),
karena pendapatan dari penjualan produk sampingan di periode sebelumnya
dikreditkan ke biaya produksi produk utama di periode yang sama. Sebaliknya, dari
ketiga metode metode yang dijelaskan sebelumnya di atas, tidak ada satu pun yang
memengaruhi biaya per unit yang dilaporkan untuk produk utama. Ini merupakan
perbedaan penting dalam perhitungan biaya produk, meskipun pada umumnya
dampak dari metode ini dalam nilai dolar relatif kecil. Laporan laba rugi akan terlihat
sebagai berikut:

Penjualan (produk utama, 10.000 unit @52) $20.000


Harga pokok penjualan:
Persediaan awal (1.000 unit @1,35) $1.350
Total biaya produksi (1.100 unit @1,50) $16.500
Pendapatan dari penjualan produk sampingan 1.500
Biaya produksi bersih 15.000
9

Tersedia untuk dijual (12.000 unit @51,3625 biaya rata-rata) $16.350


Persediaan akhir (2.000 unit @51,3625) 2.725 13.625
Laba k otor $6.375
Beban pemasaran dan administrasi 2.000
Laba operasi $4.375

Untuk metode yang terakhir dijelaskan ini, tidak diperlukan ayat jurnal yang
rumit. Pendapatan yang diterima dari penjualan produk sampingan didebit ke Kas
atau Piutang Usaha Dalam Ketiga metode sebelumnya, Pendapatan dari Penjualan
Produk Sampingan yang dikreditkan; sedangkan dalam metode yang keempat, yang
dikredit adalah biaya produksi dari produk utama. Hal ini biasanya dilakukan dengan
cara mengkredit akun Barang dalam Proses.

Pembenaran konseptual atas praktik mengurangkan penjualan produk


sampingan dari biaya produksi utama adalah bahwa produk utama merupakan alasan
pokok dilakukannya proses produksi, sementara produk sampingan sifatnya
insidental. Selain itu, pendekatan semacam ini akan lebih cepat dan efektif secara
biaya. Namun ternyata, hal tersebut menyebabkan berkurangnya kegunaan informasi
yang dihasilkan oleh sistem pelaporan. Produk sampingan biasa saja diabaikan bila
pendapatan atau biayanya diserap oleh produk utama. Diperlukan suatu pendekatan
lain yang menyediakan dan menyoroti informasi yang relevan, yang mengarahkan
perhatian manajerial kepada produk sampingan, sehingga meningkatkan kualitas
pengambilan keputusan dan pengendalian, serta mengidentifikasi dan menghargai
kinerja yang baik. Tujuan-tujuan tersebut akan dapat dipenihi dengan lebih baik
apabila pendapatan dan biaya yang berhubungan dengan setiap produk sampingan
diakui dan dilaporkan secara terpisah. Pendekatan semacam itu menggunakan metode
2 yang melaporkannnya di laporan laba rugi sebagai pendapatan lain-lain.

Metode 2: Pengakuan Pendapatan Bersih


10

Metode pendapatan bersih (net revenue method) mengakui adanya


kebutuhan untuk membebankan biaya yang dapat ditelusuri ke produk sampingan.
Akan tetapi, metode ini tidak berusaha untuk mengalokasikan biaya produksi
gabungan ke produk sampingan. Biaya yang terjadi setelah titik pisah atas guna
memproser maupuun memasarkan produk sampingan dicatat dalam akun yang
terpisah dari produk utama. Angka produk sampingan di tampilkan dalam laporan
laba rugi dengan menggunakan salah satu tampilan yang dijelaskan dalam metode I.

Ayat jurnal dalam metode 2 melibatkan pembebanan biaya yang terjadi


setelah titik pisah batas ke pendapatan produk sampingan. Beban pemasaran dan
administratif juga dialokasikan ke produk sampingan. Beberapa perusahaan memiliki
satu akun yang berjudul Produk Sampingan. Semua biaya yang terjadi setelah titik
pisah batas didebit ke akun ini, sementara pendapatan yang diperoleh dikreditkan ke
akun tersebut. Saldo dari akun ini ditampilkan di laporan laba rugi, dengan mengikuti
salah satu cara yang dijelaskan dalam metode I. Akumulasi biaya produksi yang dapat
dibebankan ke persediaan produk sampingan yang belum terjual dilaporkan di neraca.

Metode 3: Metode Biaya Penggantian

Metode biaya penggantian (replacement cost method) biasanya digunakan


oleh perusahaan-perusahaan yang produk sampingannya digunakan oleh perusahaan
itu sendiri. Adanya produk sampingan menghilangkan kebutuhan untuk membeli
bahan baku yang serupa dari pemasok. Biaya produksi dari produk utama dikreditkan,
dan debitnya diposting ke apartemen yang menggunakan produk sampingan tersebut.
Jumlah yang dipostimg oleh ayat jurnal tersebut merupakan biaya pembelian atau
biaya penggantiannya.

Perhitungan biaya produk sampingan yang digunakan dalam perusahaan


adalah salah satu contoh dari harga transfer dalam perusahaan, yang didiskusikan di
Bab 25. Di bab tersebut dibahas berbagai alternatif terhadap penggunaan biaya
penggantian atau harga pasar. Misalnya, harga transfer yang ditetapkan berdasarkan
11

biaya untuk memproduksi produk sampingan tersebut, berdasarkan harga hasil


negosiasi, atau berdasarkan harga arbitrer mungkin saja digunakan. Apa pun harga
yang dipakai, biaya produksi produk utama yang menghasilkan produk sampingan
dikredit, dan debitnya diposting ke departemen yang menggunakan produk
sampingan tersebut.

Metode 4: Metode Harga Pasar (Pembatalan Biaya)

Metode harga pasar (market value method), atau metode pembatalan


biaya, pada dasarnya hampir serupa dengan teknik yang diilustrasikan dalam metode
1(d). Tetapi, metode ini mengurangi biaya produksi dari produk utama, bukan dengan
pendapatan aktual yang diterima, melainkan dengan estimasi nilai produk sampingan
pada saat dijual. Akun produk sampingan dibebankan dengan nilai estimasi ini, dan
biaya produksi dari produk utama dikredit. Tambahan biaya bahan baku, tenaga kerja,
atau overhead pabrik yang terjadi setelah titik pisah batas dibebankan ke produk
sampingan. Saldo dari akun ini dapat ditampilkan di laporan laba rugi dengan salah
satu cara yang telah dijelaskan di metode I. Biaya produksi yang dapat dibebankan ke
persediaan produk sampingan yang belum terjual dilaporkan di neraca.

Metode harga pasar (pembatalan biaya) dalam menghitung biaya produk


utama dan produk sampingan dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Produk Utama Produk Sampingan

Bahan baku $ 50.000

Tenaga kerja 70.000

Overhead pabrik 40.000

Total biaya produksi (40.000 unit) $ 160.000

Harga pasar (5.000 unit @$1,80) $ 9.000

Estimasi laba kotor terdiri atas:


12

Asumsi laba operasi (20% dari harga jual) $ 1.800

Beban pemasaran dan administrasi (5% dari harga jual) 450 2.250

$6.750

Estimasi biaya produksi setelah titik pisah batas

Bahan baku 1.000

Tenaga kerja 1.200

Overhead pabrik 300 2.500

Estimasi nilai produk sampingan di titik pisah

batas yang akan dikreditkan ke produk utama 4.250 $ 4.250

Biaya bersih dari produk utama $ 155.750

Ditambah biaya produksi aktual setelah titik pisah-batas $ 2.300

Total $ 6.550

Total jumlah unit 40.000 5.000

Biaya per unit $ 3.894 $ 1,31

Ilustrasi ini menunjukkan bahwa nilai estimasi dari produk sampingan pada
titik pisah batas dihitung dengan cara mengestimasikan laba kotor dan laba produksi
setelah titik pisah batas dari produk sampingan, lalu mengurangkan dari harga pasar
finalnya. Alternatif lain, jika produk sampingan memiliki nilai pasar pada titik pisah
batas, maka akun produk sampingan dibebankan dengan nilai pasar tersebut dikurangi
dengan estimasi laba kotor. Lawannya dikreditkan ke biaya produksi produk utama.
13

Metode 4 didasarkan pada gagasan bahwa biaya produk sampingan berkaitan


dengan nilai jualnya. Adalah mungkin untuk menggunakan gabungan total harga
pasar dari produk utama dan produk sampingan pada titik pisah batas sebagai dasar
untuk mengalokasikan sebagian biaya ke produk sampingan. Lawannya dikredit ke
biaya produksi dari produk utama. Dalam pendekatan ini, perlakuan terhadap produk
sampingan serupa dengan produk gabungan, sebagaimana dijelaskan di bagian
berikutnya dari bab ini. Dalam kasus apapun, biaya produk sampingan yang terjadi
setelah titik pisah batas dibebankan ke produk sampingan.

F. Teori Akuntansi yang Mendasari


Konsep pengakuan aset berpendapat bahwa diperbolehkan untuk mencatat
persediaan produk sampingan dalam periode produksi pada nilai tertentu yang
mendekati biaya produksinya, asalkan terdapat pasar untuk produk sampingan
tersebut. Konsep penandingan (matching concept) mengharuskan pembebanan
persediaan dalam periode ketika penjualannya dicatat. Konsep ini, yang
diseimbangkan dengan konsep materialitas, patut dipertimbangkan dalam memilih
metode perhitungan biaya produk sampingan. Apa pun metode yang dipilih, metode
tersebut sebaiknya diterapkan secara konsisten dari periode ke periode.

G. Metode Alokasi Biaya Produksi Bersama ke Produk Gabungan


Biaya produk gabungan ( terjadi sebelum titik pisah-batas), dapat dialokasikan
ke produk gabungan menggunakan salah satu metode sebagai berikut:

1. Metode harga pasar, berdasarkan harga pasar relatif dari produk individual.
2. Metode biaya rata-rata per unit.
3. Metode rata-rata pertimbangan, berdasarkan pada faktor pembobotan yang telah
di tentukan sebelumnya.
14

4. Metode unit kuantitatif, berdasarkan pada ukuran fisik unit seperti barat, ukuran
linier, atau volume.

1. Metode Harga Pasar


Pendukung harga pasar sering kali berpendapat bahwa harga pasar dari
produk apa pun sampai batas tertentu merupakan manifestrasi dari biaya yang
dikeluarkan untuk memproduksinya. Anggapan adalah bahwa jika suatu produk
harganya lebih mahal daripada produk lain, hal tersebut disebabkan karena biaya
yang dikeluarkan untk memproduksinya lebih besar. Jika bukan karena biaya, maka
harga jual tidak akan ada. Tetapi, berdasarkan definisinya, usaha yang diperlukan
untuk menghasilkan setiap produk gabungan tidak dapat ditentukan, maka alokasi
dapat dihitung berdasarkan jumlah relatif dari usaha yang diperlukan untuk setiap
produk gabungan. Lebih lanjut lagi, menurut teori ekonomi harga dalam ekonomi
dengan pasar kompotitif ditentukan berasarkan kelangkan dari barang yang diminta
oleh pelanggan, bukan berdasarkan biaya relatif untuk memproduksi barang tersebut.

Argumen lain untuk menggunakan harga pasar untuk mengalokaasikan biaya


gabungan adalah bahwa metode ini netral. Berarti, metode ini tidak mempengaruhi
profitabilitas relatif dari produk gabungan. Keputusan yang harus dibuat berdasarkan
pada suatu analisis atas profitabilitas relatif dari berbagai produk gabungan tidak
terdistorsi oleh alokasi biaya yang arbiter. jika estimasi harga pasar dan biaya
pemrosesan tambahan itu akurat, maka metode harga pasar akan menyebabkan setiap
produk gabungan memiliki tarif laba kotor yang per dolar penjualan.

Pilihan atas berbagai metode akuntansi cenderung untuk arbitrer ketika


proporsi produk gabungan yang menyusun bauran output tidak dapat diubah. Tetapi
pilhan tersebut tidak akan arbitrer bila profesi dapat bervariasi dan terdapat
hubungan antara total biaya gabungan dengan total nilai output. Hal tersebut
mengimplikasikan dukungan rasional yang kuat bagi metode harga pasar atau harga
15

jual jika, untuk input tertentu mengimplikasikan dukungan rasional yang kuat bagi
metode harga pasar atau harga jual jika, untuk input tertentu ke proses produksi
gabungan, dua kondisi berikut terpenuhi :

Bauran fisik dari output dapat diubah dengan mengerluarkan lebih banyak
(atau lebih sedikit ) biaya gabungan relatif terhadap biaya produksi lainnya, dan

Jika peruubahan tersebut menghasilkan total nilai pasar yang lebih besar (atau lebih
kecil )

Produk Gabungan yang Dapat Dijual pada Titik Pisah-Batas. Metode harga
pasar mengalokasikan biaya gabungan berdasarkan harga pasar relatif dari produk
gabungan. Metode ini menggunakan total harga pasar dari setiap produk, yaitu jumlah
unit yang diproduksi dikalikan dengan harga jual per unit. Untuk mengilustrasikan
hal ini, asumsikan produk gabungan A, B, C dan D diproduksi dengan biaya
gabungan sebesar $120.000. Kuantitas yang diproduksi adalah: A, 20.000 unit; B,
15.000 unit; C, 10.000 unit; dan D, 15.000 unit. Produk A dijual seharga $0,25; B,
seharga $3; C, seharga $3,50; dan D, seharga $5. Harga ini merupakan harga pasar
dari produk tersebut pada titik batas pisah. Dengan kata lain, diasumsikan bahwa
produk-produk tersebut dapat dijual pada titik tersebut. Manajemen mungkin saja
memutuskan bahwa akan lebih menguntungkan jika produk tertentu diproses lebih
lanjut sebelum dijual. Namun hal tersebut tidak akan mengubah penggunaan harga
jual pada titik pisah batas sebagai dasar alokasi biaya gabungan. Alokasi biaya
gabungan dihitung sebagai berikut:

Produk Unit Harga Total Rasio Nilai Pembagian


Produksi pasar per harga Produk biaya
unit pada pasar terhadap produksi
titik pisah Total Harga gabungan
Pasar
A 20.000 $ 0,25 $ 5.000 3,125 % $ 3.750
B 15.000 3,00 45.000 28,125 33.750
16

C 10.000 3,50 35.000 21,875 26.250


D 15.000 5,00 75.000 46,875 56.250
Total $160. 000 $100,000 % $120.000

Hasil yang sama juga akan diperoleh apabila total biaya produksi gabungan
($120.000) dibagi dengan total harga pasar dari keempat produk ($160.000). Angka
yang dihasilkan sebesar 0,75 merupakan rasio biaya produksi gabungan dari setiap
produk terhadap harga pasarnya. Dengan mengalikan harga pasar dengan rasio
tersebut, biaya gabungan dialokasikan sebagaimana ditunjukkan di tabel sebelumnya.

Berdasarkan metode harga pasar, setiap prodk gabungan menghasilkan


persentase laba kotor yang sama, dengan asumsi bahwa unit dijual tanpa pemrosesan
lebih lanjut. Hal ini dapat diilustrasikan sebagai berikut, dengan asumsi bahwa tidak
ada persediaan awal:

Total A B C D
Unit - Penjualan 52.000 18.000 12.000 8.000 14.000
Persediaan Akhir 8.000 2.000 3.000 2.000 1.000
Penjualan – (dolar) $138.500 $4.500 $36.000 $28.000 $70.000
Biaya Produksi $120.000 $3.750 $33.750 $26.250 $56.250
Dikurangi 16.125 $375* 6.750 5.250 3.750
persediaan akhir
Harga Pokok 103.875 $3.375 $27.000 $21.000 $52.500
Penjualan
Laba Kotor $34.625 $1.125 $9.000 $7.000 $17.500
Persentase Laba 25% 25% 25% 25% 25%
Kotor

Produk gabungan yang tidak dapat dijual pada titik pisah-batas. Produk yang tidak
dapat dijual di titik pisah batas, dan oleh karena itu tidak memiliki harg pasar ,
memerlukan pemrosesan tambahan sebelumnya dapat dijual. Dalam kasus semacam
itu, dasar untuk mengalokasikan biaya gabungan adalah harga pasar hipotetis pada
17

titik pisah batas. Untuk mengilustrasikan alokasi ini, asumsi berikut ini ditambahkan
ke contoh sebelumnya:

Biaya Pemrosesan Lebih Lanjut


Kasus Harga Pasar Per Unit (Setelah Titik Pisah Batas)

A $0,50 $ 2.000

B 5,00 10.000

C 4,50 10.000

D 8,00 28.000

Untuk memperoleh dasar alokasi, biaya pemrosesan lebih lanjut dikurangi


dari harga pasar final untuk mendapatkan harga pasar hipotetis. Beban pemasaran dan
beban administratif yang dapat ditelusuri langsung ke produk tertentu, serta estimasi
untuk laba juga harus dikurangi jika jumlahnya berbeda secara proporsional untuk
produk gabungan yang berbeda. Tabel berikut ini mengindikasikan langkah langkah
yang harus diambil:

Produk Harga Unit Harga Biaya Harga Pembagia Total Persentase


Pasar Produksi Pasar Pemrose Pasar n Biaya Biaya Total
Final Final san Hipoteti Produksi Produksi
Per Setelah s* Gabunga
Unit Titik n**
Pisah
Batas

A $0,50 20.000 $10.000 $2.000 $8.000 $4.800 68.000 68,0


B 5,00 15.000 75.000 10.000 65.000 39.000 49.000 65,3
C 4,50 10.000 45.000 10.000 35.000 21.000 31.000 68,8
D 8,00 15.000 120.000 28.000 92.000 55.000 83.200 69,3
18

Total $250.000 $50.000 200.000 $120.000 $170.000 68,0

*Pada titik pisah batas

**Persentase untuk mengalokasikan biaya produksi gabungan:

Total biaya produksi gabungan = $120.000 = 0,60=60%


Total harga pasar hipotetis $200.000

60% x harga pasar hipotetis = alokasi biaya gabungan


***Persentase biaya produksi dihitung dengan membagi total biaya produksi dengan
harga pasar final. Misalnya:
$49.000 = 0,653 = 65,3% untuk produk B
$75.000

$170.000 = $0,68= 68% untuk semua produk


$250.000

Jika produk tertentu dapat dijual dititik pisah-batas sementara yang lain tidak,
mak harga pasar pada titik pisah-batas digunakan untuk kelompok yang pertama.
Untuk kelompok yang terakhir, digunakan harga pasar hipotetis.
Laporan laba kotor berikut ini menggunakan jumlah unit terjual yang sama
dengan yang digunakan diilustrasi sebelumnya, tetapi harga jual telah dinaikkan
sevagai akibat dari pemrosesan lebih lanjut:

Total A B C D
Unit – penjualan 52.000 18.000 12.000 8.000 14.000
Persediaan akhir 8.000 2.000 3.000 2.000 1.000
Penjualan-(dolar) $217.000 $9.000 $60.000 $36.000 $112.000
Harga Pokok Penjualan:
Biaya produksi gabungan $120.000 $4.800 $39.000 $21.000 $55.200
Biaya pemrosesan lebih 50.000 2.000 10.000 10.000 28.000
19

lanjut
Total $170.000 $6.800 $49.000 $31.000 $83.200
Dikurangi persediaan 22.227 680* 9.800 6.200 5.547
akhir
Harga pokok penjualan $147.773 $6.120 $39.200 $24.800 $77.653
Laba Kotor 69.227 2.280 20.800 11.200 34.347
Persentase laba kotor 32% 32% 35% 31% 31%

*Biaya produksi $6.800 : 20.000 unit produksi = $0,34 ; 0,34 x 2.000 unit di
persediaan akhir = $680
Laporan sering kali dibuat sedemikian rupa sehingga semua produk gabungan
memiliki profitabilitas yang sama. Untuk mencapai hal tersebut, teknik nilai jual
dapat dimodifikasi dengan menggunakan persentase laba kotor secara keseluruhan
untuk menentukan laba kotor dari setiap produk. Dalam tabel berikut ini, laba kotor
(32%) dikurangi dari nilai jual untuk menentukan total biaya. Total biaya kemudian
dikurangi dengan biaya pemrosesan lebih lanjut dari setiap produk untuk menentukan
alokasi biaya gabungan untuk masing-masing produk gabungan tersebut.

Total A B C D
Harga jual final $250.00 $10.000 $75.000 $45.000 $120.000
0
Dikurangi laba kotor 80.000 3.200 24.000 14.400 $38.400
32%
Total Biaya $170.00 $6.800 $51.000 $30.600 $81.600
0
Biaya pemrosesan 50.000 2.000 $10.000 10.000 $28.000
lebih lanjut
Persentase laba kotor $120.00 4.800 $41.000 $20.600 $53.600
0

Jika harga jual, persentase laba kotor, atau biaya pemrosesan lebih lanjut
merupakan estimasi dan bukannya jumlah aktual, maka saldo yang berjudul “biaya
gabungan” berfungsi sebagai dasar untuk mengalokasikan biaya gabungan aktual.
20

2. Metode biaya rata-rata per unit


Metode biaya rata-rata per unit (average unit cost method) berusaha untuk
mengalokasikan biaya gabungan ke produk gabungan sedemikian rupa sehingga
setiap produk menerima alokasi biaya gabungan per unit dalam jumlah yang sama,
yang disebut sebagai biaya rata-rata per unit

Biaya rata-rata per unit diperoleh dengan cara membagi total biaya gabungan
dengan total jumlah unit yang diproduksi. Perusahaan yang menggunakan metode ini
berpendapat bahwa semua produk yang dihasilkan melalui proses yang sama
seharusnya menerima pembagian biaya gabungan yang besarnya proporsional dengan
jumlah unit yang diproduksi. Selama semua produk gabungan diukur dengan unit
fisik yang sama dan tidak berbeda jauh dalam hal harga pasar per unit, metode ini
wajar. Tetapi ketika unit yang diproduksi tidak diukur dengan satuan yang sama, dan
harga pasar per unit berbeda secara signifikan, maka metode ini sebaiknya tidak
digunakan.

Dengan menggunakan angka-angka dari contoh untuk harga pasar, metode


biaya rata-rata per unit dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Total biaya produksi = $ 120. 000 = $ 2 per unit


Total jumlah unit yang diproduksi $ 60. 000

Produk Unit Produksi Pembagian Biaya Produksi


Gabungan
A 20. 000 $ 40. 000
B 15. 000 $ 30. 000
C 10. 000 $ 20. 000
D 15. 000 $ 30. 000
21

60. 000 $ 120. 000

3. Metode rata-rata tertimbang


Dalam beberapa kasus, metode biaya rata-rata per unit (Average unit cost
method) tidak memberikan jawaban yang memuaskan atas masalah alokasi biaya
gabungan, karena unit-unit individual dari berbagai produk gabungan berbeda secara
signifikan. Dalam kasus semacam itu, faktor pembobotan yang telah ditentukan
sebelumnya dapat diberikan diberikan ke setiap unit. Faktor pembobotan didasarkan
pada atribut-atribut seperti ukuran unit, tingkat kesulitannya, waktu yang diperlukan
untuk memproduksi unit tersebut, perbedaan dalam jenis tenaga kerja yang
digunakan, dan perbedaan dalam jumlah bahan baku yang digunakan. Barang jadi
dari semua jenis dikalikan dengan faktor pembobotan guna menghitung dasar untuk
mengalokasikan biaya gabungan.
Untuk tujuan ilustrasi, asumsikan faktor pembobotan yang dibebankan ke
keempat produk dicontoh sebelumnya adalah sebagai berikut:
Produk A – 3 poin
Produk B – 12 poin
Produk C – 13,5 poin
Produk D – 15 poin

Menggunakan data dari contoh sebelumnya, alokasi biaya gabungan diilustrasikan


sebagai berikut:

Produ Unit X Poin = Rata- rata X Biaya = Pembagian


k Produks Tertimbang Per Biaya
i Unit Produksi
Gabungan
A 20. 000 3 60. 000 $0,20 $ 12. 000
B 15. 000 12 180. 000 $0,20 $ 36. 000
C 10. 000 13,5 135. 000 $0,20 $ 27. 000
22

D 15. 000 15 225. 000 $0,20 $ 45. 000


600. 000 $120. 000

Total biaya Produksi gabungan = $120. 000 = $0,20 per unit


Total rata-rata tertimbang $600. 000

4. Metode Unit Kuantitatif


Metode unit kuantitatif( quantitave unit method) mengalokasikan biaya
gabungan berdasarkan satuan pengukuran yang sama, misalnya pon, gallon, ton, atau
meter persegi. Jika produk gabungan tidak biasanya diukur dalam satuan ukuran yang
sama, maka ukuran tersebut harus dikonversikan ke satuan yang sama. Misalnya,
ketika arang diproduksi, batu bara, benzol, ammonia sulfat, dan gas juga ikut
diproduksi dan masing-masing diukur dalam satuan yang berbeda.
Tabel berikut ini mengilustrasikan metode unit kuantitatif, menggunakan berat
sebagai dasar alokasi biaya gabungan dengan asumsi biaya batu bara adalah sebesar
$40 per ton.
Produk Produk yang Distribusi Bobot Biaya per
diperoleh per Limbah ke Produk yang Produk per
Ton Batu Produk yang dihasilkan Ton Batu
Bara dihasilkan setelah Revisi Bara
(dalam Pon)
Arang 1.320,0 lbs 69,474 lbs* 1.389,474 lbs $27,790**
Batu Bara 120,0 6,316 126,316 2,526
Benzol 21,9 1,153 23,053 $0,461
Amonia Sulfat 26,0 1,368 27,368 $0,547
Gas 412,1 21,689 433,789 8,676
Limbah (air) 100,0
Total 2.000,0 lbs 100,000 lbs 2.000,00 lbs $40,000

*[1.320 : (2.000-100)] = 69,474


**(1.389,474 : 2.000) x $40 = $27,790
23

Metode biaya rata-rata per unit, metode rata-rata tertimbang, dan metode unit
kuantitatif dapat menghasilkan biaya produk yang melebihi harga pasar dari satu atau
lebih produk gabungan. Akibatnya, produk gabungan tersebut tampaknya tidak
menguntungkan sementara produk gabungan yang lain tampaknya menguntungkan.
Oleh karena pilihan cara perhitungan biaya mempengaruhi biaya produk dan
merupakan pilihan yang arbitrer, maka biasanya dianggap bahwa metode perhitungan
biaya yang dipilih tidak boleh mengakibatkan timbulnya rugi artifisial (rugi untuk
salah satu produk gabungan sementara laba untuk produk gabungan yang lain). Pada
titik pisah-batas, sekelompok produk gabungan bersifat menguntungkan atau tidak
menguntungkan sama sekali. Metode harga pasar memiliki kelebihan karena metode
tersebut menghindari perbedaan dalam tarif profitabilitas dari produk gabungan. Jika
alokasi arbitrer harus dilakukan, maka paling tidak alokasi tersebut harus bersifat
netral.

H. Hukum Pajak Penghasilan Federal dan Perhitungan Biaya Produk


Gabungan dan Produk Sampingan.
Hukum pajak federal (negara Amerika Serikat) mengakui bahwa penetapan
aturan spesifik untuk setiap situasi yang melibatkan alokasi biaya gabungan adalah
tiak mungkin. Konsekuensinya, batasan dari alokasi yang dapat di terima dtidak
dapat di tetapkan dengan aakurat. Ikthisar dari sudut pandang ukur diberikan dalam
aturan pajak penghasilaan federal ( federal income teks regulation ), yang
menyatakan sebagai berikut:

Persediaan dari perusahaan penambangan dan manufaktur. Wajib pajak yang


terlibat dalam penambangan atau produksi, dimana dengan proses yang sama atau
serangkaian proses yang seragam menghasilkan produk dengan dua atau lebih jenis,
ukuran, atau tingkatan, yang biaya perunitnya serupa secara substansial dan menurut
praktik perdagangan yang diakui mengalokasika sejumlah biaya di setiap jenis,
24

ukuran, attau tingkat produk yang secara agregat akan menyerap total biaya produksi,
dapat dengan persetujuan komisioner ( dari internal refenue sevice ), menggunakan
alokasi biaya tersebut sebagai dasar untuk menilai persediaan, asalkan alokasi
tersebut memiliki hubungan yang wajar terhadap nilai jual dari masing-masing jenis,
ukuran, atau tingkatan yang berbeda-beda dari produk .

Kutipan tersebut menyarankan agar harga pasar produk yang menjadi


pertimbangan utama, tetapi kutipan tersebut tidk secara eksplesit menyetujui
penggunaan metode harga pasar untuk mengalokasikan biaya gabungan . kata-kata “
menurut praktik perdagangan yang akui “ dan “dengan persetujuan komissioner “
mengingplikasikan bahwa jumlah situasi yang dapat terjadi begitu banyak untuk
dapat mencakup dalam aturan yang mengijinkan atau melarang metode perhitungan
biaya tertentu

Jelaslah bahwa hukum pajak tidak menyelesaikan masalaah perhitungan biaya


gabungan dan produk sampingan. Pejabat pajak juga menghadapi kesulitaan yang
sama seperti yang dihadapi oleh perusahaan hilangnya, atau perusahaan manufaaktur
bahan kimia, meskipun tujuan langsung mereka terbatas pada kenagihan pajak.
Kebutuhan untuk menetapkan praktik yang dapat diterima dalam industri tertentu
menunjukkan bahwa jika hukum pajak penghasilan untuk perhitungan biaya produk
gabungan dan produk sampingan tidak adi atau sangat tidak logis, maka dapat dibuat
perkecualian.

I. Analisis Biaya Produksi Bersama Untuk Pengambilan Keputusan


Manajerial dan Analisis Profitabilitas
Metode alokasi biaya gabungan bahwa jumlah biaya yang akan dibebankan ke
berbagai produk yang dihasilkan pada titik pisah batas adalah sulit ditentukan untuk
tujuan apa pun. Lebih lanjut lagi, penerimaan atas suatu metode alokasi untuk
membebankan biaya gabungan tidak memevahkan masalah. Gagasan yang lebih maju
25

mengatakan bahwa penentuan biaya indiviual atas produk gabungan sampai pada titik
pisah batas tidak diperlukan, karena adalah lebih penting untuk menghitung margin
laba secara keseluruhan. Tentu saja, biaya yang terjadi setelah titik pisah batas
memberikan kepada manajemen informasi yang diperlukan untuk memutukan apakah
akan melakukan pemrosesan lebih lanjut.

Dengan menggunakan contoh dari halaman 274 sampai halaman 276,


asumsikan bahwa produk B, yang memiliki harga pasar final sebesar $75.000, dapat
dijual pada titik pisah-batas sebesar $60.000 tanpa diproseslebih lanjut. Contoh yang
sama menentukan bahwa biaya pemosresan setelah titik pisah-batas dan dapat
ditelusuri langsung ke produk B adalah sebesar $10.000. selisih dalam pendapatan
adalah sebesar $15.000 ($75.000 - $60.000) dikurangi dengan biaya setelah titik
pisah-batas sekitar $10.000 menghasilkan kontribusi positif sebesar $5.000. Hal ini
berarti pemosresan lebih lanju tampaknya merupakan pilihan yang lebih
menguntungkan. Selain itu, dalam jangka pendek,porsi biaya tetap dari biaya
pemosresan lebih lanjut yang besarnya $10.000menambah konstribusi (pendapatan
yang dikurangi dengan variabel) harus cukup untuk menutup biaya tetap dan
memberikan laba. Selain itu, faktor-faktor nonkuantitatif juga perlu dipertimbangkan,
seperti dampak terhadap stabilitas lapangan kerja, jika pemosresan lebih lanjut tidak
dilakukan. Dalam banyak kasus, biaya gabungan yang dialokasikan tidak relavan bagi
pengambilan keputusan untuk menentukan apakah akan memproses lebih lanjut.

Biaya gabungan dapat terjadi atas produk-produk yang sampai batas tertentu
dapat dapat saling mengganti. Lebih sering lagi,peningkatan output dari suatu produk
gabungan akan memerlukan tambahan bahan baku dan sekaligus meningkatkan
output dari produk gabungan yang lain. Dalam semua situasi tersebut, pengambilan
keputusan didasarkan pada hubungan anallisis biaya-volume-laba dan biaya
diferensiasial, yang dibahas dalam Bab 20 dan Bab 21. Oleh karena banyaknya
alternatif kombinasi output memakan waktu yang cukup lama untuk dihitung,
evaluasi sering kali dilakukan emnggunakan komputer dengan ikniksimulasi yang
26

rumit. Pengembangan dalam riset operasi telah sangat membantu dalam memecahkan
masalah-masalah ini; misalnya, lihat Bab 21 unntuk pembahasan mengenai
pemograman linear.

Untuk perencanaan laba, manajemen sebaiknya mempertimbangkan margin


kontribusi (contribution margin) dari seluruh produk gabungan setelah biaya yang
dapat dipisahkan (biaya yang terjadi setelah titik pisah-batas) dikurangi dari
penjualan. Margin kontribusi ini memungkinkan manajemen untuk memprediksikan
kontribusi masing-masing segmen atau lini produk bagi laba perusahaanl. Margin ini
bukanlah angka laba bersih produk. Margin tersebut hanya mengindikasikan
profitabilitas relatif dalam perbandingan dengan produk lain. Laba bersih yang
ditentukan dengan mengalokasikan biaya gabungan bukanlah merupakan panduan
yang dapat diandalkan untuk perencanaamn laba. Hal ini disebabkan karena data laba
bersih tidak dapat digunakan untuk memprediksi hasil dari keputusan yang berbeda.
Untuk alasan-alasan tersebut, usaha-usaha umtuk mengalokasikan biaya pemasaran
ke produk dan pelanggan dengan melakukan studi waktu ata aktivitas karyawan
penjualan, maupun usaha-usaha untuk mengalokasikan biaya produksi gabungan,
sering kali memberikan hasil yang tidak dapat diandalkan untuk menilai profitabiltas
suatu segmen.
BAB III
KASUS

L8-8 . Perhitungan Biaya Produk Gabungan. Michael Inc memproduksi empat


produk gabungan mempunyai biaya manufaktur sebesar $70.000 pada titik pisah
batas. Berikut adalah data yang berkaitan dengan produk-produk ini:
Produk Unit yang Harga Pasar Biaya Faktor
diproduksi Final per Unit Pemrosesan penimbang
setelah titik pisah
K 5.000 $ 5,50 $1.500 3,0 Poin
L 20.000 1,60 3.000 2,0 Poin
M 15.000 1,50 2.500 4,0 Poin
N 10.000 3,00 5.000 2,5 Poin

Diminta: Alokasikan biaya produk gabungan menggunakan:


1. Metode biaya unit rata-rata
2. Metode rata-rata tertimbang
3. Metode nilai pasar

27
28

Penyelesaian:

1. Metode biaya unit rata-rata


Total biaya produksi gabungan = 70.000 = 1,4 per unit
Total jumlah unit yang diproduksi 50.000

Produk Unit produksi Pembagian biaya produksi


gabungan
K 5.000 7.000
L 20.000 28.000
M 15.000 21.000
N 10.000 14.000
50.000 70.000

2. Metode rata-rata tertimbang

Produk Unit X Poin = Rata- rata X Biay = Pembagian


Produksi Tertimban a Per Biaya
g Unit Produksi
Gabungan
K 5. 000 3 15. 000 $0,5 $ 7. 500
L 20. 000 2 40. 000 $0,5 $ 20. 000
M 15. 000 4 60. 000 $0,5 $ 30. 000
N 10. 000 2,5 25. 000 $0,5 $ 12. 500
140. 000 $70. 000

Total biaya Produksi gabungan = $70. 000 = $0,5 per unit


Total rata-rata tertimbang $140. 000
Produk Harga Unit Harga Biaya Harga Pembagi Total Persentase
Pasar Produksi Pasar Pemrose Pasar an Biaya Biaya Total
Final Final san Hipotet Produksi Produksi
Per Setelah is* Gabunga
29

Titik
Unit Pisah n**
Batas
K $5,50 5.000 $27.500 $1.500 $26.000 $18.200 19.700 71,6
L 1,60 20.000 32.000 3.000 29.000 20.300 23.300 72,8
M 1,50 15.000 22.500 2.500 20.000 14.000 16.500 73,3
N 3,00 10.000 30.000 5.000 25.000 17.500 22.500 75
Total 50.000 $112.000 $12.000 100.000 $70.000 $82.000 73,2
3. Metode Harga Pasar
*Pada titik pisah batas

**Persentase untuk mengalokasikan biaya produksi gabungan:

Total biaya produksi gabungan = $70.000 = 0,7=7%


Total harga pasar hipotetis $100.000

7% x harga pasar hipotetis = alokasi biaya gabungan


***Persentase biaya produksi dihitung dengan membagi total biaya produksi dengan
harga pasar final.
$19.700 = 0,716 = 71,6% untuk produk K
$27.500
$23.300 = 0,728 = 72,8% untuk produk L
$32.000
$16.500 = 0,733 = 73,3% untuk produk M
$22.500
$22.500 = 0,75 = 75% untuk produk N
$30.000

$82.000 = $0,732= 73,2% untuk semua produk


$112.000
DAFTAR PUSTAKA

Carter, William K. 2009. Akuntansi Biaya. Jakarta: Salemba Empat.

30

Anda mungkin juga menyukai