Anda di halaman 1dari 2

IDENTIFIKASI PERMASALAHAN

Permaslahan pasca pengakhiran program


Sejak dinyatakan berakhir pada 2015, melalui Surat Kementerian Desa Pembangunan
Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 134 tahun 2015 terkait panduan
pengakhiran dan penataan hasil kegiatan PNPM MPd. Menyisakan ruang kosong hukum
terhadap asset yang bersumber dari anggaran program, khususnya asset simpan pinjam
perempuan (SPP) yang dikelola oleh unit terlaksana kegiatan (UPK) Kecamatan di
lokasi PNPM MPd, yang akhirnya berubah nama menjadi Dana Amanah Pemberdayaan
Masyarakat (DAPM).

Hasil identifikasi permasalahan pasca pengakhiran program antara lain:

1. Kurang dalam pendampingan kelembagaan saat proses transformasi. Meskipun ada


pendampingan 4 bulan pascapengakhiran program, namun secara teknis pendampingan
tersebut masih hanya berfokus pada bagaimana penyiapan Musyawarah antar desa
sosialisasi dan musyawarah desa serah terima (MDST) aset sarana prasarana hasil PNPM
MPd dan program-program sejenis, sedangkan pendmapingan untuk UPK sendiri masih
sangat minim.
2. Bahasa “Pengakhiran” yang digaungkan oleh pemerintah pusat, melalui surat
pemberitahuan atau media menimbulkan polemik di tangkat daerah, khususnya pada
pemahaman penerima manfaat. Dengan Bahasa tersebut, yang dipahami oleh masyarakat
yaitu program PNPM termasuk di dalamnya kegiatan simpan pinjam telah berakhir/ selesai,
sehingga bagi peminjam ada persepsi/ niat/ pengharapan tidak perlu lagi megembalikan
dana pinjaman.
3. Proses transformasi
4. Terkait pelaksanaan simpan pinjam, saat ini sudah banyak kelembagaan yang menawarkan
produk simpan pinjam dengan berbagai kemudahan yang bisa di dapatkan masyarakat,
misalnya pinjaman tanpa agunan dan bunga yang rendah, sehingga UPK harus dituntut bisa
bersaing dan menawarkan nilai lebih.
5. Ada beberapa BUMDes Ma yang unit SPP nya sudah mebalamai ekjenuhan, artinya sudah
tidak bias langi mengembangakn kelompok baru, saat ini hanya melayani SPP pada
kelompok lama. Hal ini diakibatkan tidak ada inovasi baru dalam pemberian skim pinjaman
serta banyaknya Lembaga pesaing misalnya Kopwan, PKK di tingkat RT/RW, KUR perbankan,
dll
6. Berkaitan dengan aturan, dulu saat masa program, Simpan pinjam bisa bermain di sanksi
pada pemanfaat yang nakal di suatu desa yang tidak membayar pinjaman, biasanya
dieknakan sanksi desa tersebut tidak memperoleh/ di lakukan penahanan pada program
sarprasnya… Sedangkan saat ini, karena sudah merupakan Lembaga yang sudah mandiri
(tidak dinanungi program) maka sulit untuk mengendalikan permasalahan pemanfaat
angsuran macet. Bsiasanya penegndaliannya hanya melalui kekeluargaan. Tidak ada
kekuatan hukum yang bias menaungi hal tersebut.
7. Beberapa BUMDesma masih memiliki permasalahan Kolektibilitas warisaan saat program
sampai sekarang yang belum terselesaikan
8. Untuk Unit SPP sampai sekarang pengelolaan dana bergulir belum ada payung hukumnya
meskipun sudah dinaungi oleh BUMDes Ma.