Anda di halaman 1dari 222

BAB I

PENDAHULUAN

Sebagaimana kita ketahui,sebagian besar tubuh manusia terdiri atas cairan yang jumlahnya
berbeda-beda tergantung usia dan jenis kelamin serta banyaknya lemak di dalam tubuh. Dengan
makan dan minum tubuh mendapatkan air, elektrolit serta nutrien-nutrien yang lain. Dalam
waktu 24 jam jumlah air dan elektrolit yang masuk setara dengan jumlah yang keluar.
Pengeluaran cairan dan elektrolit dari tubuh dapat berupa urin, tinja, keringan dan uap air pada
saat bernapas.
Terapi cairan dibutuhkan bila tubuh tidak dapat memasukka air, elektrolit serta zat-zat makanan
ke dalam tubuh secara oral misalnya pada saat pasien harus berpuasa lama, karena pembedahan
saluran cerna, perdarahan banyak, syok hipovolemik, anoreksia berat, mual muntah dan lain-lain.
Dengan terapi cairan kebutuhan akan air da elektrolit akan terpenuhi. Selain itu terapi cairan juga
dapat digunakan untuk memasukkan obat dan zat makanan secara rutin atau juga digunakan
untuk menjaga keseimbangan asam basa.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. Definisi Cairan Tubuh


Cairan tubuh adalah cairan suspensi sel di dalam tubuh makhluk multiseluler seperti manusia
atau hewan yang memiliki fungsi fisiologis tertentu.

II. Fisiologi Cairan Tubuh dan Elektrolit

A. Distribusi cairan tubuh


Air adalah pelarut (solven) terpenting dalam komposisi cairan makhluk hidup. Persentase air
tubuh total (Total Body Water) terhadap berat badan berubah sesuai umur, menurun cepat pada
awal kehidupan. Pada saat lahir, TBW 78% berat badan. Pada beberapa bulan pertama
kehidupan, TBW turun cepat mendekati kadar dewasa 55-60 % berat badan pada saat usia 1
tahun. Pada masa pubertas, terjadi perubahan TBW selanjutnya. Karena lemak mempunyai kadar
air yang lebih rendah, persentase TBW terhadap berat badan lebih rendah pada wanita dewasa
yang mempunyai lebih banyak lemak tubuh (55%) daripada laki-laki, yang mempunyai sedikit
lemak. Seluruh cairan tubuh didistribusikan ke dalam kompartemen intraselular dan
kompartemen ekstraselular.
 Cairan intraselular
Cairan yang terkandung di antara sel disebut cairan intraselular. Pada orang dewasa, sekitar dua
pertiga dari cairan dalam tubuhnya terdapat di intraselular (sekitar 27 liter rata-rata untuk dewasa
laki-laki dengan berat badan sekitar 70 kilogram), sebaliknya pada bayi hanya setengah dari
berat badannya merupakan cairan intraselular. Cairan intraseluler terlibat dalam proses metabolik
yang menghasilkan energi yang berasal dari nutrien-nutrien dalam cairan tubuh.

 Cairan ekstraselular
Cairan yang berada di luar sel disebut cairan ekstraselular. Cairan ekstraseluler berperan dalam
mempertahankan sistem sirkulasi, mensuplai nutrient ke dalam sel, dan membuang zat sisa yang
bersifat toksik. Jumlah relatif cairan ekstraselular berkurang seiring dengan usia. Pada bayi baru
lahir, sekitar setengah dari cairan tubuh terdapat di cairan ekstraselular.
Cairan ekstraselular dibagi menjadi :

o Cairan Interstitial
Cairan yang mengelilingi sel termasuk dalam cairan interstitial, sekitar 11- 12 liter pada orang
dewasa. Cairan limfe termasuk dalam volume interstitial.

o Cairan Intravaskular
Merupakan cairan yang terkandung dalam pembuluh darah (contohnya volume plasma). Rata-
rata volume darah orang dewasa sekitar 5-6L dimana 3 liternya merupakan plasma, sisanya
terdiri dari sel darah merah, sel darah putih dan platelet.

o Cairan transeluler
Merupakan cairan yang terkandung diantara rongga tubuh tertentu seperti serebrospinal,
perikardial, pleura, sendi sinovial, intraokular dan sekresi saluran pencernaan. Pada keadaan
sewaktu, volume cairan transeluler adalah sekitar 1 liter, tetapi cairan dalam jumlah banyak
dapat masuk dan keluar dari ruang transeluler.

Table 1. Distribusi cairan tubuh

B. Komponen cairan tubuh

Selain air, cairan tubuh mengandung dua jenis zat yaitu elektrolit dan non elektrolit.

 Elektrolit
Merupakan zat yang terdisosiasi dalam cairan dan menghantarkan arus listrik. Elektrolit
dibedakan menjadi ion positif (kation) dan ion negatif (anion). Jumlah kation dan anion dalam
larutan adalah selalu sama (diukur dalam miliekuivalen).

 Kation : Kation utama dalam cairan ekstraselular adalah sodium (Na+), sedangkan kation
utama dalam cairan intraselular adalah potassium (K+). Suatu sistem pompa terdapat di dinding
sel tubuh yang memompa keluar sodium dan potassium ini.

 Natrium
Natrium sebagai kation utama didalam cairan ekstraseluler dan paling berperan di dalam
mengatur keseimbangan cairan. Kadar natrium plasma: 135-145mEq/liter.12 Kadar natrium
dalam tubuh 58,5mEq/kgBB dimana + 70% atau 40,5mEq/kgBB dapat berubah-ubah. Ekresi
natrium dalam urine 100-180mEq/liter, faeces 35mEq/liter dan keringat 58mEq/liter. Kebutuhan
setiap hari = 100mEq (6-15 gram NaCl).
Natrium dapat bergerak cepat antara ruang intravaskuler dan interstitial maupun ke dalam dan
keluar sel. Apabila tubuh banyak mengeluarkan natrium (muntah,diare) sedangkan pemasukkan
terbatas maka akan terjadi keadaan dehidrasi disertai kekurangan natrium. Kekurangan air dan
natrium dalam plasma akan diganti dengan air dan natrium dari cairan interstitial. Apabila
kehilangan cairan terus berlangsung, air akan ditarik dari dalam sel dan apabila volume plasma
tetap tidak dapat dipertahankan terjadilah kegagalan sirkulasi.

 Kalium
Kalium merupakan kation utama (99%) di dalam cairan ekstraseluler berperan penting di dalam
terapi gangguan keseimbangan air dan elektrolit. Jumlah kalium dalam tubuh sekitar 53
mEq/kgBB dimana 99% dapat berubah-ubah sedangkan yang tidak dapat berpindah adalah
kalium yang terikat dengan protein didalam sel.
Kadar kalium plasma 3,5-5,0 mEq/liter, kebutuhan setiap hari 1-3 mEq/kgBB. Keseimbangan
kalium sangat berhubungan dengan konsentrasi H+ ekstraseluler. Ekskresi kalium lewat urine
60-90 mEq/liter, faeces 72 mEq/liter dan keringat 10 mEq/liter.

 Kalsium
Kalsium dapat dalam makanan dan minuman, terutama susu, 80-90% dikeluarkan lewat faeces
dan sekitar 20% lewat urine. Jumlah pengeluaran ini tergantung pada intake, besarnya tulang,
keadaan endokrin. Metabolisme kalsium sangat dipengaruhi oleh kelenjar-kelenjar paratiroid,
tiroid, testis, ovarium, da hipofisis. Sebagian besar (99%) ditemukan didalam gigi dan + 1%
dalam cairan ekstraseluler dan tidak terdapat dalam sel.

 Magnesium
Magnesium ditemukan di semua jenis makanan. Kebutuhan unruk pertumbuhan + 10 mg/hari.
Dikeluarkan lewat urine dan faeces.

 Anion: Anion utama dalam cairan ekstraselular adalah klorida (Cl-) dan bikarbonat (HCO3-),
sedangkan anion utama dalam cairan intraselular adalah ion fosfat (PO43-).

 Karbonat
Asam karbonat dan karbohidrat terdapat dalam tubuh sebagai salah satu hasil akhir daripada
metabolisme. Kadar bikarbonat dikontrol oleh ginjal. Sedikit sekali bikarbonat yang akan
dikeluarkan urine. Asam bikarbonat dikontrol oleh paru-paru dan sangat penting peranannya
dalam keseimbangan asam basa.

 Non elektrolit
Merupakan zat seperti glukosa dan urea yang tidak terdisosiasi dalam cairan. Zat lainya termasuk
penting adalah kreatinin dan bilirubin.

C. Proses Pergerakan Cairan Tubuh

Perpindahan air dan zat terlarut di antara bagian-bagian tubuh melibatkan mekanisme transpor
pasif dan aktif. Mekanisme transpor pasif tidak membutuhkan energy sedangkan mekanisme
transpor aktif membutuhkan energi. Difusi dan osmosis adalah mekanisme transpor pasif.
Sedangkan mekanisme transpor aktif berhubungan dengan pompa Na-K yang memerlukan ATP.

Proses pergerakan cairan tubuh antar kompertemen dapat berlangsung secara:


a. Osmosis
Osmosis adalah bergeraknya molekul (zat terlarut) melalui membran semipermeabel (permeabel
selektif) dari larutan berkadar lebih rendah menuju larutan berkadar lebih tinggi hingga kadarnya
sama. Seluruh membran sel dan kapiler permeable terhadap air, sehingga tekanan osmotik cairan
tubuh seluruh kompartemen sama. Membran semipermeabel ialah membran yang dapat dilalui
air (pelarut), namun tidak dapat dilalui zat terlarut misalnya protein.

Tekanan osmotik plasma darah ialah 285+ 5 mOsm/L. Larutan dengan tekanan osmotik kira-kira
sama disebut isotonik (NaCl 0,9%, Dekstrosa 5%, Ringer laktat). Larutan dengan tekanan
osmotik lebih rendah disebut hipotonik (akuades), sedangkan lebih tinggi disebut hipertonik.

b. Difusi
Difusi ialah proses bergeraknya molekul lewat pori-pori. Larutan akan bergerak dari konsentrasi
tinggi ke arah larutan berkonsentrasi rendah. Tekanan hidrostatik pembuluh darah juga
mendorong air masuk berdifusi melewati pori-pori tersebut. Jadi difusi tergantung kepada
perbedaan konsentrasi dan tekanan hidrostatik.

c. Pompa Natrium Kalium


Pompa natrium kalium merupakan suatu proses transpor yang memompa ion natrium keluar
melalui membran sel dan pada saat bersamaan memompa ion kalium dari luar ke dalam. Tujuan
dari pompa natrium kalium adalah untuk mencegah keadaan hiperosmolar di dalam sel.

D. Asupan dan ekskresi cairan dan elektrolit fisiologis

Homeostasis cairan tubuh yang normalnya diatur oleh ginjal dapat berubah oleh stres akibat
operasi, kontrol hormon yang abnormal, atau pun oleh adanya cedera pada paru-paru, kulit atau
traktus gastrointestinal.

Pada keadaan normal, seseorang mengkonsumsi air rata-rata sebanyak 2000-2500 ml per hari,
dalam bentuk cairan maupun makanan padat dengan kehilangan cairan rata rata 250 ml dari
feses, 800-1500 ml dari urin, dan hampir 600 ml kehilangan cairan yang tidak disadari
(insensible water loss) dari kulit dan paru-paru.

I. Perubahan cairan tubuh

Perubahan cairan tubuh dapat dikategorikan menjadi 3, yaitu :

1. Perubahan volume

a. Defisit volume

Defisit volume cairan ekstraselular merupakan perubahan cairan tubuh yang paling umum.
Penyebab paling umum adalah kehilangan cairan di gastrointestinal akibat muntah, penyedot
nasogastrik, diare dan drainase fistula. Penyebab lainnya dapat berupa kehilangan cairan pada
cedera jaringan lunak, infeksi, inflamasi jaringan, peritonitis, obstruksi usus, dan luka bakar.
Keadaan akut, kehilangan cairan yang cepat akan menimbulkan tanda gangguan pada susunan
saraf pusat dan jantung. Pada kehilangan cairan yang lambat lebih dapat ditoleransi sampai defisi
volume cairan ekstraselular yang berat terjadi.

Dehidrasi
Dehidrasi sering dikategorikan sesuai dengan kadar konsentrasi serum dari natrium menjadi
isonatremik (130-150 mEq/L), hiponatremik (<139 mEq/L) atau hipernatremik (>150 mEq/L).
Dehidrasi isonatremik merupakan yang paling sering terjadi (80%), sedangkan dehidrasi
hipernatremik atau hiponatremik sekitar 5-10% dari kasus.

 Dehidrasi isotonis (isonatremik): terjadi ketika kehilangan cairan hampir sama dengan
konsentrasi natrium terhadap darah. Kehilangan cairan dan natrium besarnya relatif sama dalam
kompartemen intravaskular maupun kompartemen ekstravaskular.

 Dehidrasi hipotonis (hiponatremik): terjadi ketika kehilangan cairan dengan kandungan


natrium lebih banyak dari darah (kehilangan cairan hipertonis). Secara garis besar terjadi
kehilangan natrium yang lebih banyak dibandingkan air yang hilang. Karena kadar natrium
serum rendah, air di kompartemen intravaskular berpindah ke kompartemen ekstravaskular,
sehingga menyebabkan penurunan volume intravaskular.15

 Dehidrasi hipertonis (hipernatremik): terjadi ketika kehilangan cairan dengan kandungan


natrium lebih sedikit dari darah (kehilangan cairan hipotonis). Secara garis besar terjadi
kehilangan air yang lebih banyak dibandingkan natrium yang hilang. Karena kadar natrium
tinggi, air di kompartemen ekstraskular berpindah ke kompartemen intravaskular, sehingga
meminimalkan penurunan volume intravaskular.15

b. Kelebihan volume

Kelebihan volume cairan ekstraselular merupakan suatu kondisi akibat iatrogenic (pemberian
cairan intravena seperti NaCl yang menyebabkan kelebihan air dan NaCl ataupun pemberian
cairan intravena glukosayang menyebabkan kelebihan air) ataupun dapat sekunder akibat
insufisiensi renal (gangguan pada GFR), sirosis, ataupun gagal jantung kongestif.9,10 Kelebihan
cairan intaseluler dapat terjadi jika terjadi kelebihan cairan tetapi jumlah NaCl tetap atau
berkurang.10

2. Perubahan konsentrasi

a. Hiponatremia
Kadar natrium normal 135-145 mEq/L, bila kurang dari 135 mEq/ L, sudah dapat dibilang
hiponatremia. Jika < 120 mg/L maka akan timbul gejala disorientasi, gangguan mental, letargi,
iritabilitas, lemah dan henti pernafasan, sedangkan jika kadar < 110 mg/L maka akan timbul
gejala kejang, koma. Hiponatremia ini dapat disebabkan oleh euvolemia (SIADH, polidipsi
psikogenik), hipovolemia (disfungsi tubuli ginjal, diare, muntah, third space losses, diuretika),
hipervolemia (sirosis, nefrosis). Keadaan ini dapat diterapi dengan restriksi cairan (Na+ ≥ 125
mg/L) atau NaCl 3% ssebanyak (140-X)xBBx0,6 mg dan untuk pediatrik 1,5-2,5 mg/kg.12
Koreksi hiponatremia yang sudah berlangsung lama dilakukan scara perlahanlahan, sedangkan
untuk hiponatremia akut lebih agresif. Untuk menghitung Na serum yang dibutuhkan dapat
menggunakan rumus :

Na= Na1 – Na0 x TBW

Na = Jumlah Na yang diperlukan untuk koreksi (mEq)


Na1 = 125 mEq/L atau Na serum yang diinginkan
Na0 = Na serum yang aktual
TBW = total body water = 0,6 x BB (kg)

b. Hipernatremia
Bila kadar natrium lebih dari 145 mEq/L disebut dengan hiperkalemia. Jika kadar natrium > 160
mg/L maka akan timbul gejala berupa perubahan mental, letargi, kejang, koma, lemah.
Hipernatremi dapat disebabkan oleh kehilangan cairan (diare, muntah, diuresis, diabetes
insipidus, keringat berlebihan), asupan air kurang, asupan natrium berlebihan. Terapi keadaan ini
adalah penggantian cairan dengan 5% dekstrose dalam air sebanyak {(X-140) x BB x 0,6}:
140.12

c. Hipokalemia
Jika kadar kalium < 3 mEq/L. Dapat terjadi akibat dari redistribusi akut kalium dari cairan
ekstraselular ke intraselular atau dari pengurangan kronis kadar total kalium tubuh. Tanda dan
gejala hipokalemia dapat berupa disritmik jantung, perubahan EKG (QRS segmen melebar, ST
segmen depresi, hipotensi postural, kelemahan otot skeletal, poliuria, intoleransi glukosa. Terapi
hipokalemia dapat berupa koreksi faktor presipitasi (alkalosis, hipomagnesemia, obat-obatan),
infuse potasium klorida sampai 10 mEq/jam (untuk mild hipokalemia ;>2 mEq/L) atau infus
potasium klorida sampai 40 mEq/jam dengan monitoring oleh EKG (untuk hipokalemia
berat;<2mEq/L disertai perubahan EKG, kelemahan otot yang hebat).13 Rumus untuk
menghitung defisit kalium18 :

K = K1 – K0 x 0,25 x BB

K = kalium yang dibutuhkan


K1 = serum kalium yang diinginkan
K0 = serum kalium yang terukur
BB = berat badan (kg)

d. Hiperkalemia
Terjadi jika kadar kalium > 5 mEq/L, sering terjadi karena insufisiensi renal atau obat yang
membatasi ekskresi kalium (NSAIDs, ACE-inhibitor, siklosporin, diuretik). Tanda dan gejalanya
terutama melibatkan susunan saraf pusat (parestesia, kelemahan otot) dan sistem kardiovaskular
(disritmik, perubahan EKG). Terapi untuk hiperkalemia dapat berupa intravena kalsium klorida
10% dalam 10 menit, sodium bikarbonat 50-100 mEq dalam 5-10 menit, atau diuretik,
hemodialisis.

3. Perubahan komposisi
a. Asidosis respiratorik (pH< 3,75 dan PaCO2> 45 mmHg)
Kondisi ini berhubungan dengan retensi CO2 secara sekunder untuk menurunkan ventilasi
alveolar pada pasien bedah. Kejadian akut merupakan akibat dari ventilasi yang tidak adekuat
termasuk obstruksi jalan nafas, atelektasis, pneumonia, efusi pleura, nyeri dari insisi abdomen
atas, distensi abdomen dan penggunaan narkose yang berlebihan. Manajemennya melibatkan
koreksi yang adekuat dari defek pulmonal, intubasi endotrakeal, dan ventilasi mekanis bila perlu.
Perhatian yang ketat terhadap higiene trakeobronkial saat post operatif adalah sangat penting.

b. Alkalosis respiratorik (pH> 7,45 dan PaCO2 < 35 mmHg)


Kondisi ini disebabkan ketakutan, nyeri, hipoksia, cedera SSP, dan ventilasi yang dibantu. Pada
fase akut, konsentrasi bikarbonat serum normal, dan alkalosis terjadi sebagai hasil dari
penurunan PaCO2 yang cepat. Terapi ditujukan untuk mengkoreksi masalah yang mendasari
termasuk sedasi yang sesuai, analgesia, penggunaan yang tepat dari ventilator mekanik, dan
koreksi defisit potasium yang terjadi.

c. Asidosis metabolik (pH<7,35 dan bikarbonat <21 mEq/L)


Kondisi ini disebabkan oleh retensi atau penambahan asam atau kehilangan bikarbonat.
Penyebab yang paling umum termasuk gagal ginjal, diare, fistula usus kecil, diabetik
ketoasidosis, dan asidosis laktat. Kompensasi awal yang terjadi adalah peningkatan ventilasi dan
depresi PaCO2. Penyebab paling umum adalah syok, diabetik ketoasidosis, kelaparan, aspirin
yang berlebihan dan keracunan metanol. Terapi sebaiknya ditujukan terhadap koreksi kelainan
yang mendasari. Terapi bikarbonat hanya diperuntukkan bagi penanganan asidosis berat dan
hanya setelah kompensasi alkalosis respirasi digunakan.

d. Alkalosis metabolik (pH>7,45 dan bikarbonat >27 mEq/L)


Kelainan ini merupakan akibat dari kehilangan asam atau penambahan bikarbonat dan
diperburuk oleh hipokalemia. Masalah yang umum terjadi pada pasien bedah adalah
hipokloremik, hipokalemik akibat defisit volume ekstraselular. Terapi yang digunakan adalah
sodium klorida isotonik dan penggantian kekurangan potasium. Koreksi alkalosis harus gradual
selama perode 24 jam dengan pengukuran pH, PaCO2 dan serum elektrolit yang sering.

II. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit pada pembedahan

Gangguan dalam keseimbangan cairan dan elektrolit merupakan hal yang umum terjadi pada
pasien bedah karena kombinasi dari faktor-faktor preoperatif, intraoperatif dan postoperatif.

A. Faktor-faktor preoperatif

1. Kondisi yang telah ada


Diabetes mellitus, penyakit hepar, atau insufisiensi renal dapat diperburuk oleh stres akibat
operasi.

2. Prosedur diagnostik
Arteriogram atau pyelogram intravena yang memerlukan marker intravena dapat menyebabkan
ekskresi cairan dan elektrolit urin yang tidak normal karena efek diuresis
osmotik.
3. Pemberian obat
Pemberian obat seperti steroid dan diuretik dapat mempengaruhi eksresi air dan elektrolit

4. Preparasi bedah
Enema atau laksatif dapat menyebabkan peningkatan kehilangan air dan elekrolit dari traktus
gastrointestinal.

5. Penanganan medis terhadap kondisi yang telah ada

6. Restriksi cairan preoperatif


Selama periode 6 jam restriksi cairan, pasien dewasa yang sehat kehilangan cairan sekitar 300-
500 mL. Kehilangan cairan dapat meningkat jika pasien menderita demam atau adanya
kehilangan abnormal cairan.

7. Defisit cairan yang telah ada sebelumnya


Harus dikoreksi sebelum operasi untuk meminimalkan efek dari anestesi.

B. Faktor-faktor intraoperatif

1. Induksi anestesi
Dapat menyebabkan terjadinya hipotensi pada pasien dengan hipovolemia preoperatif karena
hilangnya mekanisme kompensasi seperti takikardia dan vasokonstriksi.

2. Kehilangan darah yang abnormal

3. Kehilangan abnormal cairan ekstraselular ke third space (contohnya kehilangan cairan


ekstraselular ke dinding dan lumen usus saat operasi)

4. Kehilangan cairan akibat evaporasi dari luka operasi (biasanya pada luka operasi yang besar
dan prosedur operasi yang berkepanjangan)

C. Faktor-faktor postoperatif

1. Stres akibat operasi dan nyeri pasca operasi


2. Peningkatan katabolisme jaringan
3. Penurunan volume sirkulasi yang efektif
4. Risiko atau adanya ileus postoperatif

III. Terapi Cairan


Terapi cairan ialah tindakan untuk memelihara, mengganti cairan tubuh dalam batas-batas
fisiologis dengan cairan infus kristaloid (elektrolit) atau koloid (plasma ekspander) secara
intravena.
Terapi cairan berfungsi untuk mengganti defisit cairan saat puasa sebelum dan sesudah
pembedahan, mengganti kebutuhan rutin saat pembedahan, mengganti perdarahan yang terjadi,
dan mengganti cairan yang pindah ke rongga ketiga.
 Terapi cairan resusitasi
Terapi cairan resusitasi ditujukan untuk menggantikan kehilangan akut cairan tubuh atau
ekspansi cepat dari cairan intravaskuler untuk memperbaiki perfusi jaringan. Misalnya pada
keadaan syok dan luka bakar. Terapi cairan resusitasi dapat dilakukan dengan pemberian infus
Normal Saline (NS), Ringer Asetat (RA), atau Ringer laktat (RL) sebanyak 20 ml/kg selama 30-
60 menit. Pada syok hemoragik bisa diberikan 2-3 L dalam 10 menit.
 Terapi rumatan
Terapi rumatan bertujuan memelihara keseimbangan cairan tubuh dan nutrisi. Orang dewasa
rata-rata membutuhkan cairan 30-35 ml/kgBB/hari dan elektrolit utama Na+=1-2
mmol/kgBB/haridan K+= 1mmol/kgBB/hari. Kebutuhan tersebut merupakan pengganti cairan
yang hilang akibat pembentukan urine, sekresi gastrointestinal, keringat (lewat kulit) dan
pengeluaran lewat paru atau dikenal dengan insensible water losses.
Untuk anak digunakan rumus Holiday Segar 4:2:1, yaitu :

Terapi rumatan dapat diberikan infus cairan elektrolit dengan kandungan karbohidrat atau infus
yang hanya mengandung karbohidrat saja. Larutan elektrolit yang juga mengandung karbohidrat
adalah larutan KA-EN, dextran + saline, DGAA, Ringer’s dextrose, dll. Sedangkan larutan
rumatan yang mengandung hanya karbohidrat adalah dextrose 5%. Tetapi cairan tanpa elektrolit
cepat keluar dari sirkulasi dan mengisi ruang antar sel sehingga dextrose tidak berperan dalam
hipovolemik.
Dalam terapi rumatan cairan keseimbangan kalium perlu diperhatikan karena seperti sudah
dijelaskan kadar berlebihan atau kekurangan dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya.
Umumnya infus konvensional RL atau NS tidak mampu mensuplai kalium sesuai kebutuhan
harian. Infus KA-EN dapat mensuplai kalium sesuai kebutuhan harian.
Pada pembedahan akan menyebabkan cairan pindah ke ruang ketiga, ke ruang peritoneum, ke
luar tubuh. Untuk menggantinya tergantung besar kecilnya pembedahan, yaitu :
• 6-8 ml/kg untuk bedah besar
• 4-6 ml/kg untuk bedah sedang
• 2-4 ml/kg untuk bedah kecil

A. Jenis-Jenis Cairan
1. Cairan Kristaloid

Cairan ini mempunyai komposisi mirip cairan ekstraseluler (CES = CEF). Cairan kristaloid bila
diberikan dalam jumlah cukup (3-4 kali cairan koloid) ternyata sama efektifnya seperti
pemberian cairan koloid untuk mengatasi defisit volume intravaskuler. Waktu paruh cairan
kristaloid di ruang intravaskuler sekitar 20-30 menit.

Larutan Ringer Laktat merupakan cairan kristaloid yang paling banyak digunakan untuk
resusitasi cairan walau agak hipotonis dengan susunan yang hampir menyerupai cairan
intravaskuler. Laktat yang terkandung dalam cairan tersebut akan mengalami metabolisme di hati
menjadi bikarbonat. Cairan kristaloid lainnya yang sering digunakan adalah NaCl 0,9%, tetapi
bila diberikan berlebih dapat mengakibatkan asidosis hiperkloremik (delutional hyperchloremic
acidosis) dan menurunnya kadar bikarbonat plasma akibat peningkatan klorida.
Karena perbedaan sifat antara koloid dan kristaloid dimana kristaloid akan lebih banyak
menyebar ke ruang interstitiel dibandingkan dengan koloid maka kristaloid sebaiknya dipilih
untuk resusitasi defisit cairan di ruang interstitiel.

Pada suatu penelitian mengemukakan bahwa walaupun dalam jumlah sedikit larutan kristaloid
akan masuk ruang interstitiel sehingga timbul edema perifer dan paru serta berakibat
terganggunya oksigenasi jaringan dan edema jaringan luka, apabila seseorang mendapat infus 1
liter NaCl 0,9Selain itu, pemberian cairan kristaloid berlebihan juga dapat menyebabkan edema
otak dan meningkatnya tekanan intra kranial.

2. Cairan Koloid

Disebut juga sebagai cairan pengganti plasma atau biasa disebut “plasma substitute” atau
“plasma expander”. Di dalam cairan koloid terdapat zat/bahan yang mempunyai berat molekul
tinggi dengan aktivitas osmotik yang menyebabkan cairan ini cenderung bertahan agak lama
(waktu paruh 3-6 jam) dalam ruang intravaskuler. Oleh karena itu koloid sering digunakan untuk
resusitasi cairan secara cepat terutama pada syok hipovolemik/hermorhagik atau pada penderita
dengan hipoalbuminemia berat dan kehilangan protein yang banyak (misal luka bakar).

Berdasarkan pembuatannya, terdapat 2 jenis larutan koloid:

a. Koloid alami:
Yaitu fraksi protein plasma 5% dan albumin manusia ( 5 dan 2,5%). Dibuat dengan cara
memanaskan plasma atau plasenta 60°C selama 10 jam untuk membunuh virus hepatitis dan
virus lainnya. Fraksi protein plasma selain mengandung albumin (83%) juga mengandung alfa
globulin dan beta globulin.
b. Koloid sintetis:

1. Dextran:
Dextran 40 (Rheomacrodex) dengan berat molekul 40.000 dan Dextran 70 (Macrodex) dengan
berat molekul 60.000-70.000 diproduksi oleh bakteri Leuconostoc mesenteroides B yang tumbuh
dalam media sukrosa. Walaupun Dextran 70 merupakan volume expander yang lebih baik
dibandingkan dengan Dextran 40, tetapi Dextran 40 mampu memperbaiki aliran darah lewat
sirkulasi mikro karena dapat menurunkan kekentalan (viskositas) darah. Selain itu Dextran
mempunyai efek anti trombotik yang dapat mengurangi platelet adhesiveness, menekan aktivitas
faktor VIII, meningkatkan fibrinolisis dan melancarkan aliran darah. Pemberian Dextran
melebihi 20 ml/kgBB/hari dapat mengganggu cross match, waktu perdarahan memanjang
(Dextran 40) dan gagal ginjal. Dextran dapat menimbulkan reaksi anafilaktik yang dapat dicegah
yaitu dengan memberikan Dextran 1 (Promit) terlebih dahulu.

2. Hydroxylethyl Starch (Heta starch)


Tersedia dalam larutan 6% dengan berat molekul 10.000 – 1.000.000, rata-rata 71.000,
osmolaritas 310 mOsm/L dan tekanan onkotik 30 30 mmHg. Pemberian 500 ml larutan ini pada
orang normal akan dikeluarkan 46% lewat urin dalam waktu 2 hari dan sisanya 64% dalam
waktu 8 hari. Larutan koloid ini juga dapat menimbulkan reaksi anafilaktik dan dapat
meningkatkan kadar serum amilase ( walau jarang). Low molecullar weight Hydroxylethyl starch
(Penta-Starch) mirip Heta starch, mampu mengembangkan volume plasma hingga 1,5 kali
volume yang diberikan dan berlangsung selama 12 jam. Karena potensinya sebagai plasma
volume expander yang besar dengan toksisitas yang rendah dan tidak mengganggu koagulasi
maka Penta starch dipilih sebagai koloid untuk resusitasi cairan pada penderita gawat.

3. Gelatin
Larutan koloid 3,5-4% dalam balanced electrolyte dengan berat molekul rata-rata 35.000 dibuat
dari hidrolisa kolagen binatang.
Ada 3 macam gelatin, yaitu:
- modified fluid gelatin (Plasmion dan Hemacell)
- Urea linked gelatin
- Oxypoly gelatin

B. Terapi Cairan Preoperatif

Defisit cairan karena persiapan pembedahan dan anestesi (puasa, lavement) harus diperhitungkan
dan sedapat mungkin segera diganti pada masa pra-bedah sebelum induksi. Setelah dari sisa
defisit yang masih ada diberikan pada jam pertama pembedahan, sedangkan sisanya diberikan
pada jam kedua berikutnya. Kehilangan cairan di ruang ECF ini cukup diganti dengan ciran
hipotonis seperti garam fisiologis, Ringer Laktat dan Dextrose. Pada penderita yang karena
penyakitnya tidak mendapat nutrisi yang cukup maka sebaiknya diberikan nutrisi enteral atau
parenteral lebih dini lagi. Penderita dewasa yang dipuasakan karena akan mengalami
pembedahan (elektif) harus mendapatkan penggantian cairan sebanyak 2 ml/kgBB/jam lama
puasa. Defisit karena perdarahan atau kehilangan cairan (hipovolemik, dehidrasi) yang seringkali
menyertai penyulit bedahnya harus segera diganti dengan melakukan resusitasi cairan atau
rehidrasi sebelum induksi anestesi.

C. Terapi Cairan Intraoperatif

Jumlah penggantian cairan selama pembedahan dihitung berdasarkan kebutuhan dasar ditambah
dengan kehilangan cairan akibat pembedahan (perdarahan, translokasi cairan dan penguapan atau
evaporasi). Jenis cairan yang diberikan tergantung kepada prosedur pembedahannya dan jumlah
darah yang hilang.

1. Pembedahan yang tergolong kecil dan tidak terlalu traumatis misalnya bedah mata (ekstrasi,
katarak) cukup hanya diberikan cairan rumatan saja selama pembedahan.

2. Pembedahan dengan trauma ringan misalnya: appendektomi dapat diberikan cairan sebanyak 2
ml/kgBB/jam untuk kebutuhan dasar ditambah 4 ml/kgBB/jam untuk pengganti akibat trauma
pembedahan. Total yang diberikan adalah 6 ml/kgBB/jam berupa cairan garam seimbang seperti
Ringer Laktat atau Normosol-R.
3. Pembedahan dengan trauma sedang diberikan cairan sebanyak 2 ml/kgBB/jam untuk
kebutuhan dasar ditambah 8 ml/kgBB/jam untuk pembedahannya. Total 10 ml/kgBB/jam.

D. Terapi Cairan Postoperatif

Terapi cairan pasca bedah ditujukan terutama pada hal-hal di bawah ini:

1. Pemenuhan kebutuhan dasar/harian air, elektrolit dan kalori/nutrisi. Kebutuhan air untuk
penderita di daerah tropis dalam keadaan basal sekitar ± 50 ml/kgBB/24 jam. Pada hari pertama
pasca bedah tidak dianjurkan pemberian kalium karena adanya pelepasan kalium dari
sel/jaringan yang rusak, proses katabolisme dan transfusi darah. Akibat stress pembedahan, akan
dilepaskan aldosteron dan ADH yang cenderung menimbulkan retensi air dan natrium. Oleh
sebab itu, pada 2-3 hari pasca bedah tidak perlu pemberian natrium. Penderita dengan keadaan
umum baik dan trauma pembedahan minimum, pemberian karbohidrat 100-150 mg/hari cukup
memadai untuk memenuhi kebutuhan kalori dan dapat menekan pemecahan protein sampai 50%
kadar albumin harus dipertahankan melebihi 3,5 gr%. Penggantian cairan pasca bedah cukup
dengan cairan hipotonis dan bila perlu larutan garamisotonis. Terapi cairan ini berlangsung
sampai penderita dapat minum dan makan.

2. Mengganti kehilangan cairan pada masa pasca bedah:


- Akibat demam, kebutuhan cairan meningkat sekitar 15% setiap kenaikan 1°C
suhu tubuh
- Adanya pengeluaran cairan lambung melalui sonde lambung atau muntah.
- Penderita dengan hiperventilasi atau pernapasan melalui trakeostomi dan
humidifikasi.

3. Melanjutkan penggantian defisit cairan pembedahan dan selama pembedahan yang belum
selesai. Bila kadar hemoglobin kurang dari 10 gr%, sebaiknya diberikan transfusi darah untuk
memperbaiki daya angkut oksigen.

4. Koreksi terhadap gangguan keseimbangan yang disebabkan terapi cairan tersebut. Monitoring
organ-organ vital dilanjutkan secara seksama meliputi tekanan darah, frekuensi nadi, diuresis,
tingkat kesadaran, diameter pupil, jalan nafas, frekuensi nafas, suhu tubuh dan warna kulit.
BAB III

KESIMPULAN

Tubuh mengandung 60 % air yang disebut juga cairan tubuh. Cairan tubuh didalamnya
terkandung nutrisi-nutrisi yang amat penting peranannya dalam metabolisme sel, sehingga amat
penting dalam menunjang kehidupan.
Dalam pembedahan, tubuh kekurangan cairan karena perdarahan selama pembedahan ditambah
lagi puasa sebelum dan sesudah operasi. Gangguan dalam keseimbangan cairan dan elektrolit
merupakan hal yang umum terjadi pada pasien bedah karena kombinasi dari faktor-faktor
preoperatif, perioperatif dan postoperatif.
Terapi cairan parenteral digunakan untuk mempertahankan atau mengembalikan volume dan
komposisi normal cairan tubuh. Dalam terapi cairan harus diperhatikan kebutuhannya sesuai usia
dan keadaan pasien, serta cairan infus itu sendiri. Jenis cairan yang bisa diberikan untuk terapi
cairan adalah cairan kristaloid dan cairan koloid.

DAFTAR PUSTAKA

Adelmen, R.D., Solhaug, M.J., 2000. Patofisiologi Cairan Tubuh dan Terapi Cairan. In:
Behrman, R.E., Kliegman, R.M., Arvin, Ann.M., Ilmu Kesehatan Anak Nelson ed 15, jilid 2.
Jakarta: EGC; 258-266

Hartanto, W.W., 2007. Terapi Cairan dan Elektrolit Perioperatif. Bagian Farmakologi Klinik dan
Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Hasan F. Terapi Cairan. 2008. Di unduh dari http://drfhasan.blogspot.com/2008/01/referat-


terapi-cairan.html.

Latief AS, dkk. 2002. Petunjuk praktis anestesiologi: terapi cairan pada pembedahan. Ed.Kedua.
Bagian anestesiologi dan terapi intensif, FKUI.

Berdasarkan definisinya pasien gawat / kritis adalah pasien yang secara fisiologis tidak stabil,
artinya sedikit saja ada perubahan pada organnya akan membawa dampak yang menyeluruh
( sistemik ) dan memungkinkan untuk terjadi gagal organ multiple ( multi organ failure = MOF )

Oleh karena itu target pengelolaan pasien gawat adalah mencegah terjadinya MOF, dengan jalan
mengusahakan agar fungsi organ terjamin dengan segera.

Dari biologi molekuler diketahui bahwa penyebab sel ( organ ) terancam kehidupannya ialah
karena ( salah satunya dan terutama ) kekurangan oksigen (hypoxia ).

Yang bertanggung jawab terhadap penyediaan oksigen agar sampai ke tingkat sel ialah system
respirasi ( yang berfungsi memindahkan oksigen dari udara luar ke alveoli ) dan system
kardiovaskuler ( yang berfungsi membawa oksigen dari alveoli ke sel seluruh tubuh ). Dalam
melaksanakan fungsi kardiovaskuler tersebut, salah satu komponen yang berperan membawa
oksigen adalah haemoglobin ( yang terdapat di dalam sel darah merah ) yang berada dalam suatu
cairan ( yang disebut sebagai plasma darah ) yang berada di pembuluh darah. Jadi jelas bahwa
resusitasi cairan ( terutama pada pasien gawat medis ) merupakan suatu tindakan yang sangat
penting.

FISIOLOGI CAIRAN TUBUH


 

Jumlah cairan.

Jumlah cairan dalam tubuh manusia tergantung dari umur, jenis kelamin, dan berat badan. Secara
kasar jumlahnya berkisar antara 55 – 60 % dari berat badan.

Penyebran cairan

Prosentase penyebaran cairan tubuh secara kasar adalah :

Di dalam sel ( cairan intra sel = CIS )            : 55 %.

Di luar tubuh ( cairan exstra sel = CES )       : 45 %.

Secara specific seperti pada schema 2 berikut :

Table 1.

NO UMUR JENIS KELAMIN JUMLAH ( % BB )


1 0 -1 bulan - 75,7
2 1 – 12 bulan - 64,5
3 1 – 10 tahun - 61,7
4 10 – 16 tahun Laiki – laki 58,9
    Perempuan 57,3
5 17 – 19 tahun Laiki – laki 60,6
    Perempuan 50,2
6 40 – 59 tahun Laiki – laki 54,7
    Perempuan 46,7
7 > 60 tahun Laiki – laki 51,5
    Perempuan 45,5

Table 2.

Jumlah cairan = 60 % berat badan


Cairan intra sel ( CIS ) = 55 % Cairan exstra sel ( CES ) = 45 %
Sel – sel lain = 50 Sel darah merah Yang berfungsi Trans seluler
% =5% Plasma = 7 % Cairan inter
stitial = 20 %

Komposisi cairan

Komposisi cairan intra sel, intra vascular dan interstitial adalah sebagai berikut :

Table 3.

Pembuluh Interstitial Intre sel


No Komponen
darah  (meq/L) (meq/L) ( meq/L)
1 Na+ 140 145,5 12
2 K+ 4,5 4,8 160
3 Ca ++ 5,0 2,8 -
4 Mg ++ 1,5 1,0 34
5 Cl - 104 116,6 2
6 HCO3- 24 27,4 10
7 SO4 - 1 1,2 -
8 Phosphate 2 2,3 140
9 Protein 15 2,0 54
10 Anion lain 5 5,6 -

Pengendalian cairan tubuh

Secara fisiologis cairan di dalam tubuh dikendalikan melalui  organ – organ, antara lain kulit,
ginjal, paru, melalui siatem hormonal yaitu ADH (Anti Diuritic Hormon), aldosteron.

Pengendalian tersebut diperlukn untuk menjaga agar volume cairan ( terutama cairan intra
vaskuler ) stabil, sehingga curah jantung ( cardiac out put ) tercukupi.

Hipotese STARLING

Di dalam runag intravaskuler dan interstitial terdapat tekanan hidrostastik yang bersifat
mendorong cairan kearah luar yang disebabkan oleh cairah itu sendiri dan tekanan onkotik yang
bersifat menahan cairan di dalam yang di sebabkan oleh adanya partikel besar dalam cairan
( dalam hal ini protein / albumin ).

Keseimbangan antara kedua macam tekanan ( tekanan hidrostastik dan tekanan onkolik ) di dalam
vaskuler dan exstra vaskuler dapat di rumuskan dengan rumus sebagai berikut :

Q = K { ( Pc – Pt ) – δ ( Дc – Дt ) }

Keterangan :

Q       : aliran cairan.

K        : konstanta.

Pc      : tekanan hidrostastik dalam kapiler.

Pt      : tekanan hidrostastik dalam rongga interstitial.

δ      : keofisien refleksi.

Menunjukkan tingkat permeabilitas dinding kapiler terhadap partikel besar ( dalam hal ini
protein ).

= 1    : bila tidak terjadikebocoran.

= 2   : bila bocor sempurna.

Дc      : tekanan onktik dalam kapiler.

Дt      : tekanan onkotik dalam rongga interstitial.

STATUS CAIRAN PASIEN KRITIS

Volume cairan intra vascular pada kebanyakan pasien kritis adalah berkurng, oleh karena itu
segala usaha untuk memperbaiki volume cairan intra vaskuler harus dilaksanakan agar “ cardiac
out put “ tercukupi sehingga perfusi keseluruhan jaringan baik dan dengan demikian oksigenasi
baik.

Berarti tujuan memberi infuse cairan pada pasien kritis adalah restorasi cairan intra vaskuler.

Penentuan status cairan pasien kritis.

1. estimasi jumlah perdarahan berdasar atas gejala.


 

  Klas I Klas II Klas III Klas IV


Jumlah perdarahan ( ml ). - 750 750 – 1500 1500 – 2000 > 2000
Jumlah perdarahan(% vol. - 15 30 – 40 30 – 40 >40 %
drh)
Frekwensi Nadi (kali/menit) < 100 > 100 > 120 > 140 %
Tekanan darah Normal Normal ↓ ↓
Tekanan nadi ( mmHg ) N/ ↑↓ ↓ ↓ ↓
Frekwensi nafas ( kali/menit) 14 – 20 20 – 30 30 – 40 > 35
Jumlah urine ( cc/jam ) > 30 20 – 30 5 – 15 0
kesadaran Gelisah Gelisah Gelisah / letergi
(ringan) (sedang) bingung
         

Catatan :          harga – harga di atas untuk pasien laki – laki berat badan 70 kg.

1. estimasi kekurangan cairan atas dasar pemeriksaan fisik.


1. atas dasar pemeriksaan tekanan darah dan nadi.

Vol darah Terlentang Duduk


Tek. drh Nadi Tek. drh Nadi
( ml )
Normal N N N N
( – ) 500 N N N N/↑
( – ) 1000 N N/↑ N/↓ ↑
( – ) 1500 N/↓ ↑ ↓ ↑/↓
( – ) 2000 ↓ ↑/↓ ↓↓ ↑/↓

1. Atas dasar tanda fisik lain.

Derajat % kehilangan
Tanda dan gejala
dehidrasi cairan
Ringan 2–5% Haus, jumlah urine turun,
jumlah keringat turun
Sanagt haus, mual, ketiak
dan lipat paha kering,
takhikardi, hipotensi
Sedang 5 – 10 %
ortostastik, CVP menurun,
turgor menurun, apatis,
oliguri, hemokonsentrasi.
Stupor, hipotensi, oliguri
berat sampai an uria, masa
otot menurun, vena
Berat / fatal 10 – 15 %
jugularis kolap pada posisi
baring, nadi kecil/ tak
teraba, syok, koma – mati.

Jenis cairan.

Kristaloid     : adalah cairan yang sebagian besar berisi partikel ion Na sebagai partikel aktif
dalam penentuan osmolaritas. Mis : NaCl, Ringer Laktat, Ringer Solution.

Koloid          : adalah cairan yang berisi partikel berberat molekul besar yang sulit melewati
dinding kapiler. Mis  : albumin, dextran, hidroxy ethil starch, gelatin.

Efek pemberian cairan terhadap kompartemen cairan tubuh.

Secara schematis efek tersebut adalah sebagai berikut  :

Koloid Koloid
KOMPARTEMEN Glukose 5 Kristaloid Kristaloid
iso- hiper-
CAIRAN TUBUH % isotonis hipertonis
onkotik onkotik
INTRA VASKULER
↑ ↑ ↑ ↑ ↑
 
INTERSTITIEL ↑ ↑ ↑ - ↓
 
INTRA SEL
↓ - ↓ - ↓
 

Efek infuse 1 liter cairan koloid terhadap kompartemen tubuh ( 70 ) kg adalah sbb   :

Volume Volume intra


Macam larutan Vol. plasma
interstitial sel
Albumin 5 % 1000 - -
Haemacel 700 300 -
Gelafundin 1000 - -
Plasmafusin 1000 - -
Dextran 40 % 1600 ( – ) 260 ( – ) 340
Dextran 70 % 1300 ( – ) 130 ( – ) 170
Expafusin 1000 - -
HES steril  6 % 1000 - -
HES steril 10 % 1450 ( – ) 450 -

Lama cairan koloid berada di dalam intra vaskuler adalah sbb

Macam larutan Waktu ( jam )


6 % / 10 % HES 200 / 0,5 4–8
6 % HES 200 / 0,6 8 – 12
6 % HES 450 / 0,7 8 – 12
6 % Dextran 70 6–8
10 % Dextran 40 3,5 – 4,5
4 % Plasmafusin 4–6
5 % Albumin ( 500 ml ) 3,5 – 4,5
25 % Albumin ( 100 ml ) 3,5 – 4,5
Gelatin 1,5 – 2

Prinsip resusitasi cairan

1. Tentukan besar kekurangan volume cairan , atas dasar amamnese, pemeriksaan fisik dan
bila perlu laboratories.
2. Tentukan macam cairan yang hilang atas dasar patofiologis penyakit yang kita hadapi.
Misalnya       :

 Pada perdarahan seluruh komponen dalam plasma ikut hilang ( termasuk protein ) yang
berarti tekanan onkotik akan turun bila hanya dig anti dengan cairan kristaloid saja
( prinsip hemodilusi ).
 Pada gastroenteritis cairan dan elektrolit saja yang hilang.
 Pada sepsis terjadi kebocoran kapiler sehingga partikel dengan molekul relative kecil
( termasuk albumin ) akan keluar sehingga tekanan onkotik akan menurun.

3. Pilih cairan yang akan kita gunakan untuk mengganti, bila diperkirakan tekanan onkotik
turun, berikan cairan koloid. Sebagai pagangan kasar ( pada resusitasi perdarahan ) setiap
2000 – 2500 cc cairan kristaloid berikan 500 cc cairan koloid.
4. Tentukan lama / waktu pemberian. Pasien kritis / gawat harus segera mungkin tercukupi
jumlah cairannya, sebab targetnya adalah mencukupi cardiac out put. Oleh karena itu
dalam waktu 6 jam harus tercapai targetnya.

Pemantauan.

Pemantauan resusitasi cairan di tujukan pada dua pokok utama, yaitu :

1. Evaluasi terhadap target resusitasi.

Target resusitasi adalah mencukupi cardiac uot put. Berarti bila cardiac out put tercukupi maka
perfusi ke jaringan akan baik. Oleh sebab itu pemantauan di tujukan pada perfusi jaringan. Yaitu 
:

 Tingkat kesadaran → akan terjadi perbaikan.


 Fungsi organ – organ   :

 Fungsi respirasi → respirasi adekuat


 Fungsi saluran cerna → peristaltic, absorbsi nutrient membaik.
 Fungsi saluran kemih → produksi urine ≥ 1 cc / kg bb / jam.
 Tekanan darah dan nadi → terjadi perbaikan kwalitas.

1. Pemantauan terhadap efek samping.


 

 Kelebihan cairan         :
o Edema paru → hypoxia, ronkhi basah.

o Edema perifer.

 Sehubungan dengan tehnik infuse   :


o Ektra vasasi.

o Phlebitis.

o Thrombus.

o Adanya udara.

 Sehubungan dengan reaksi    :


o Mengigil → demam.

o Reaksi anafilaktis.

 Macam Macam Cairan Infus Dan


Fungsinya
 by Dwi jo
 Karena saya rasa artikel tentang macam macam cairan infus dan fungsinya ini sangat
bermanfaat, maka akhirnya pembahasan tentang macam macam cairan infus dan
fungsinya saya bagikan disini. Dalam dunia kedokteran, ada bermacam-macam jenis
cairan infus dan setiap jenis dari cairan infus tersebut tentu saja memiliki kegunaan yang
tidak sama.

Selengkapnya tentang fungsi cairan infus beserta macamnya silahkan simak dibawah ini
yang saya salin dari http://nursingforuniverse.blogspot.com/2010/04/macam-macam-
cairan-infus-beserta.html. Semoga dapat memberikan manfaat bagi Anda yang sedang
memerlukannya.

Cairan infus intravena dikemas dalam bentuk dosis tunggal, dalam wadah plastik atau
gelas, steril, bebas pirogen serta bebas partikel-partikel lain. Oleh karena volumenya yang
besar, pengawet tidak pernah digunakan dalam infus intravena untuk menghindari
toksisitas yang mungkin disebabkan oleh pengawet itu sendiri. Cairan infus intravena
biasanya mengandung zat-zat seperti asam amino, dekstrosa, elektrolit dan vitamin.

Walaupun cairan infus intravena yang diinginkan adalah larutan yang isotonis untuk
meminimalisasi trauma pada pembuluh darah, namun cairan hipotonis maupun hipertonis
dapat digunakan. Untuk meminimalisasi iritasi pembuluh darah, larutan hipertonis
diberikan dalam kecepatan yang lambat.

Persyaratan:
1. Sesuai kandungan bahan obat yang dinyatakan didalam etiket dan yang ada dalam
sediaan; terjadi pengurangan efek selama penyimpanan akibat perusakan obat secara
kimia.

2. Penggunaan wadah yang cocok, yang tidak hanya memungkinkan sediaan tetap steril
tetapi juga mencegah terjadinya interaksi bahan obat dengan material dinding wadah.

3. Tersatukan tanpa terjadi reaksi. untuk itu, beberapa faktor yang paling banyak
menentukan adalah:

a) bebas kuman

b) bebas pirogen

c) bebas pelarut yang secara fisiologis tidak netral

d) isotonis

e) isohidris

f) bebas bahan melayang

Keuntungan pemberian infus intravena adalah menghasilkan kerja obat yang cepat
dibandingkan cara-cara pemberian lain dan tidak menyebabkan masalah terhadap
absorbsi obat. Sedangkan kerugiannya yaitu obat yang diberikan sekali lewat intravena
maka obat tidak dapat dikeluarkan dari sirkulasi seperti dapat dilakukan untuk obat bila
diberikan per oral, misalnya dengan cara dimuntahkan

Pembahasan:
Infus tidak perlu pengawetkarena volume sediaan besa. Jika ditambahkan pengawet maka
jumlah pengawet yang dibutuhkan besar sehingga dapat menimbulkan efek toksis

INFUS IV Ca GLUKONAT / GLUKONAT



Dalam percobaan ini akan dibuat sediaan infus intravena kalsium glukonat yang
merupakan larutan supersaturasi yang distabilkan dengan penambahan 35 mg kalsium D-
saccharate, dan harus disimpan pada suhu kamar. Laju infus maksimum yang disarankan
adalah 200 mg/menit.

Farmakologi :
Kalsium merupakan mineral yang penting untuk pemeliharaan kesempurnaan fungsi
susunan saraf, otot, sistem rangka, dan permeabilitas membran sel. Kalsium adalah
aktivator yang penting pada beberapa reaksi enzimatis dan berperan dalam proses
fisiologi yang mencakup transmisi rangsangan oleh saraf, kontraksi jantung, otot polos
dan otot rangka, fungsi renal, pernafasan dan koagulasi darah. Kalsium juga berperan
dalam reaksi pelepasan dan penyimpanan neurotransmiter dan hormon, pengambilan dan
pengikatan asam amino, absorbsi vitamin B12 dan sekresi asam lambung.

Farmakokinetik :

Injeksi garam kalsium langsung masuk kedalam pembuluh darah. Setelah diinjeksi,
kalsium darah meningkat dengan cepat dan kembali turun dalam 30 menit sampai 2 jam,
terdistribusi cepat dalam jaringan serta dieliminasi melalui urine.

INFUS IV DEKSTRAN

Kehilangan darah, sejauh jumlahnya tidak melampaui 10% dari jumlah total, tubuh masih
dapat menyeimbangkannya kembali. Jika kehilangannya lebih besar, harus disuplai
cairan pengganti darah untuk mengisi plasma melalui jalan infus ke dalam tubuh. Hal
tersebut dibutuhkan juga pada syok perdarahan, akibat luka (kebakaran, luka dalam) pada
sakit perut atau muntah yang berkepanjangan.

Infus dextran 70 merupakan larutan makromolekul yang memiliki waktu tinggal yang
lebih panjang dalam pembuluh darah, karena tidak atau sedikit mengalami difusi, juga
airnya terikat secara hidratasi. Yang menentukan dextran 70 sebagai bahan pengganti
plasma adalah berat molekulnya diatas 20.000. Pengisisan volume darah dapat dilakukan
dengan larutan NaCl fisiologis atau dengan larutan elektrolit, namun jumlah cairan yang
dimasukkan tersebut hanya sebentar berada dalam peredaran darah, untuk kemudian
segera dieliminasi keluar tubuh melalui ginjal

INFUS IV ELEKTROLIT UNTUK DEHIDRASI

Fungsi larutan elektrolit secara klinis digunakan untuk mengatasi perbedaan ion atau
penyimpangan jumlah normal elektrolit dalam darah. Ada 2 jenis kondisi plasma yang
menyimpang, yaitu :

1. Asidosis

Kondisi plasma darah yang terlampau asam akibat adanya ion klorida dalam jumlah
berlebih.

2. Alkalosis

Kondisi plasma yang terlampau basa akibat ion Na, K, Ca dalam jumlah berlebih

Kehilangan natrium disebut hipovolemia, sedangkan kekurangan H2O disebut dehidrasi,


kekurangan HCO3 disebut asidosis, metabolic dan kekurangan K+ disebut hipokalemia.
(Formulasi Steril, Stefanus Lukas, hal. 62)

Dehidrasi adalah hilangnya elektrolit lebih rendah secara disproporsional dibandingkan


dengan hilangnnya air. Dehidrasi sebagai akibat meningkatnya tekanan osmotic cairan
tubuh akibat dari rasa haus yang tidak merangsang penggantian air yang hilang dengan
cukup (Dorlan ed. 26, hal. 498)

Pada pasien yang tidak sadar atau mengalami gangguan keseimbangan elektrolit akut,
sehingga harus segera diberikan ion-ion Ca2+, Na+, K+, Ce- dan HCO3-, dan sebagai
sumber kalori dimana pengganti cairan dan kalori dibutuhkan, karena ion-ion tersebut
dibutuhkan oleh tubuh untuk memnuhi kebutuhan elektrolit tubuh pada ekstrasel dan
intrasel. Cairan ekstrasel baik plasma darah maupun cairan intrsel mengandung ion
natrium dan klorida dalam jumlah yang besar, ion bilarbonat dalam jumlah yang agak
besar, tetapi hanya sejumlah kecil ion kalium, magnesium phospat, sulfat, dan asam
organic.disamping itu plasma mengandung protein dalam jumlah yang besar, sedangkan
cairan intrasel hanya mengandung protein dalm jumlah protein yang leih kecil.

Cairan intasel hanya mengandung sejumlah kecil ion natrium dan klorida serta hampir
tidak mengandung ion kalsium, tetapi ia mengandung ion kalium dan phospat dalam
jumlah besar serta ion magnesium dan sulfat dalam jumlah cukup besar, semuanya hanya
ada dalam konsentrasi yang kecil dalam cairan ekstrasel.

Bahan-bahan yang digunakan (NaCl, KCl, NaHCO3, CaCl2) mudah larut dalam air,
sehingga dapat digunakan air sebagai pembawanya. Air yang digunakan harus bebas
pirogen. Pirogen merupakan produk metabolisme m.o (umumnya bakteri, kapang dan
virus). Secara kimiawi, pirogen adalah zat lemak yang berhubungan dengan suatu
molekul pembawa yang biasanya merupakan polisakarida, tapi bisa juga peptide.

Pirogen menyebabkan kenaikan suhu tubuh yang nyata, demam, sakit badan, kenaikan
tekanan darah arteri, kira-kira 1 jam setelah injeksi. Pirogen dapat dihilangkan dari
larutan dengan absorbsi menggunakan absorban pilihan. (Lachman, hal. 1295-1296). Ion-
ion ini diberikan dalam bentuk injeksi iv karena diharapkan dapat segera memberikan
efek.

INFUS IV GLUKOSA NaCl / GLUKOSA 10%

Pada umumnya larutan glukosa untuk injeksi digunakan sebagai pengganti kehilangan
cairan tubuh, sehingga tubuh kita mempunyai energi kembali untuk melakukan
metabolismenya dan juga sebagai sumber kalori. Dosis glukosa adalah 2,5-11,5 %
(Martindale), pada umumnya digunakan 5 %. Dalam formula ini ditambahkan NaCl
supaya diapat larutan yang isotonis, dimana glukosa disini bersifat hipotonis. Dalam
pembuatan aqua p.i ditambahkan H2O2 yang dimaksudkan untuk menghilangkan
pirogen, serta di dalam pembuatan formula ini ditambahkan norit untuk menghilangkan
kelebihan H2O2.
INFUS IV MENGANDUNG Na, Ca, K

Kalium klorida (KCl), kalium merupakan kation (positif) yang terpenting dalam cairan
intraseluler dan sangat esensial untuk mengatur keseimbangan asam-basa serta isotonis
sel.

Natrium klorida (NaCl), natrium merupakan kation utama dalam cairan ekstraseluler dan
memegang peranan penting pada regulasi tekanan osmotisnya. Sering digunakan dalam
infus dengan elektrolit lain.

Equvalent elektrolit (Steril Dosage Form, hal 250) :

Na+ = 135 mEq

K+ = 5 mEq

Ca+ = 5 mEq

Mg+ = 2 mEq

Kesetaraan ekuivalen elektrolit (Martindale) :

1g NaCl ~ 17,1 mEq Na+ E1 = 1,00

1g KCl ~ 13,4 mEq K+ E1 = 0,76

1g CaCl ~ 13,6 mEq Ca+ E1 = 0,51

1g MgCl ~ 9,8 mEq Mg+ E1 = 0,45

INFUS IV NaCl

Natrium merupakan kation utama dalam cairan ekstraseluler dan memegang peranan
penting pada regulasi tekanan osmotisnya, juga pada pembentukan perbedaan potensial
( listrik ) yang perlu bagi kontraksi otot dan penerusan impuls di syaraf.

Defisiensi natrium dapat terjadi akibat kerja fisik yang terlampau berat dengan banyak
berkeringat dan banyak minum air tanpa tambahan garam ekstra. Gejalanya berupa mual,
muntah, sangat lelah, nyeri kepala, kejang otot betis, kemudian juga kejang otot lengan
dan perut.

Selain pada defisiensi Na, natrium juga digunakan dalam bilasan 0,9 % ( larutan garam
fisiologis ) dan dalam infus dengan elektrolit lain.

INFUS IV PENGGANTI CAIRAN TUBUH


Air beserta unsur-unsur didalamnya yang diperlukan untuk kesehatan sel disebut cairan
tubuh.

Cairan tubuh dibagi menjadi dua yaitu :

1. Cairan Intraseluler, cairan ini mengandung sejumlah ion Na dan klorida serta hampir
tidak mengandung ion kalsium, tetapi cairan ini mengandung ion kalium dan fosfat dalam
jumlah besar serta ion Magnesium dan Sulfat dalam jumlah cukup besar.

2. Cairan Ekstraseluler, cairan ini mengandung ion Natrium dan Klorida dalam jumlah
besar, ion bikarbonat dalam jumlah besar, tetapi hanya sejumlah kecil ion Kalium,
Kalsium, Magnesium, Posfat, Sulfat,dan asam-asam organik (Guyton hal 309).

Keseimbangan air dalam tubuh harus dipertahankan supaya jumlah yang diterima sama
dengan jumlah yang dikeluarkan. Penyesuaian dibuat dengan penambahan / pengurangan
jumlah yang dikeluarkan sebagai urin juga keringat.

Ini menekankan pentingnya perhitungan berdasarkan fakta tentang jumlah cairan yang
masuk dalam bentuk minuman maupun makanan dan dalam bentuk pemberian cairan
lainnya. Elektrolit yang penting dalam komposisi cairan tubuh adalah Na, K, Ca, dan Cl.
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka dibuatlah sediaan infuse pengganti
cairan tubuh yaitu infuse Ringers.

Injeksi Ringer adalah larutan steril Natrium klorida, Kalium klorida, dan Kalsium klorida
dalam air untuk obat suntik. Kadar ketiga zat tersebut sama dengan kadar zat-zat tersebut
dalam larutan fisiologis. Larutan ini digunakan sebagai penambah cairan elektrolit yang
diperlukan tubuh (Ansel hal 408).

INFUS IV PROTEIN UNTUK DBD

Bilamana seorang penderita harus diberikan makanan yang memadai tetapi tidak dapat
melalui saluran cerna. Indikasi cara ini biasanya digunakan untuk persiapan bedah pada
penderita kurang gizi, persiapan kemoterapi radioterapi dan kelainan saluran cerna berat.
Nutrisi parenteral total memerlukan larutan yang mengandung asam amino; glukosa;
lemak; elektrolit; dan vitamin.

Glukosa merupakan sumber karbohidrat yang lebih disukai, tapi bila tiap harinya
diberikan lebih dari 180 g maka harus ada monitoring kadar gula darah. Bila mungkin
diperlukan insulin. Glukosa dengan ragam kekuatan 10 – 50 % harus di infus melalui
kateter vena central. Untuk menghindari trombosis (gumpalan darah yang terbentuk
pembuluh darah).

Jumlah volume infuse intravena biasanya 500 mL dan 250 mL mengandung zat-zat
sebagai nutrisi, penambah darah, elektrolit, asam amino, antibiotik, dan obat yang
umumnya diberikan lewat jarum yang dibiarkan di vena atau kateter dengan diteteskan
terus menerus. Tetesan atau kecepatan mengalir dapat diatur oleh dokter atau perawat
sesuai dengan kebutuhan pasien. Umumnya 2-3 mL permenit.

Untuk Infus, intravena jarum/kateter biasanya ditusukkan divena yang menonjol di


lengan atau kaki dan diikat erat di tempat tersebut sehingga tidak akan bergeser dari
tempat selama diinfus. Bahaya utama infus intravena ialah kemungkinan terbentuknya
trombus akibat rangsang tusukan jarum pada dinding vena.

Trombus akan lebih mungkin terjadi bila larutan infus bersifat mengiritasi jaringan tubuh.
Trombus adalah gumpalan darah yang terbentuk dalam pembuluh darah (atau jantung)
yang umumnya disebabkan oleh melambatnya aliran atau perubahan darah atau
pembuluh darah. Bila gumpalan darah itu beredar maka gumpalan tersebut menjadi
embolus, dibawa oleh aliran darah sampai tersangkut di pembuluh darah, menghalangi
dan mengakibatkan hambatan atau sumbatan yang disebut emboli. Suatu hambatan dapat
sangat berbahaya tergantung pada tempat dan keparahan hambatan tersebut. Obat-obat
yang diberikan lewat intravena biasanya harus berupa larutan air, bercampur dengan
darah dan tidak mengendap. Keadaan tertentu dapat menimbulkan terjadinya trombus dan
kemudian menghalangi aliran darah. (Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi edisi keempat,
Howard C Ansel, hal 402)

Demam berdarah adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan virus Dengue tipe I-IV,
disertai demam 5-7 hari gejala-gejala perdarahan, dan bila timbul syok: angka kematian
cukup tinggi.

Gejala dan tanda :

1. panas 5-7 hari, gejala umum tidak khas

2. perdarahan spontan (petekie, ekimosa, epistaksis , derajat hematemesis, melena,


perdarahan gusi, uterus, telinga, dll)

3. ada gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat (> 120/menit),
tekanan nadi sempit (<>

4. nadi tidak teraba, tekanan darah tidak terukur, denyut jantung > 140/menit, acral
dingin, berkeringat, kulit biru

Gejala Lain :

1. Hati membesar, nyeri spontan dan pada perabaan

2. Asites

3. Cairan dalam rongga pleura (kanan)

4. Ensepalopati: kejang, gelisah, sopor, koma


Prinsip penatalaksanaan :

1. Memperbaiki keadaan umum

2. Mencegah keadaan yang lebih parah

3. Memperbaiki syok dan perdarahan (pen: rehidrasi sampai hari ke 7, namun hati-hati
pada hari ke 6 dapat terjadi arus balik cairan intersitiel ke pembuluh darah)

INFUS IV UNTUK MEMPERTAHANKAN KESEIMBANGAN ASAM TUBUH

Pembuatan infus ini mengacu pada penggunaannya sebagai cairan infus yang dapat
menstabilkan jumlah elektrolit-elektrolit yang sama kadarnya dalam cairan fisiologis
normal, sehingga diharapkan pasien dapat mempertahankan kondisi elektrolitnya agar
sesuai dengan batas-batas atau jumlah elektrolit yang normal pada plasma. Selain itu,
digunakan pengisotonis dekstrosa yang diharapkan mampu menambah kalori bagi pasien
serta meningkatkan stamina karena biasanya kondisi pasien yang kekurangan elektrolit
dalam keadaan lemas (sehingga perlu diinfus).

Ion natrium (Na+) dalam injeksi berupa natrium klorida dapat digunakan untuk
mengobati hiponatremia, karena kekurangan ion tersebut dapat mencegah retensi air
sehingga dapat menyebabkan dehidrasi.

Kalium klorida (KCl), kalium merupakan kation (positif) yang terpenting dalam cairan
intraseluler dan sangat esensial untuk mengatur keseimbangan asam-basa serta isotonis
sel.

Ion kalsium (Ca2+), bekerja membentuk tulang dan gigi, berperan dalam proses
penyembuhan luka pada rangsangan neuromuskuler. Jumlah ion kalsium di bawah
konsentrasi normal dapat menyebabkan iritabilitas dan konvulsi.

Ion Magnesium (Mg2+) juga diperlukan tubuh untuk aktivitas neuromuskuler sebagai
koenzim pada metabolisme karbohidrat dan protein.

Dekstrosa, suatu bentuk karbohidrat yang diberikan secara parenteral diharapkan dapat
memberikan tambahan kalori yang diperlukan untuk menambah energi pada tubuh.

Batas konsentrasi normal elektrolit dalam plasma (Steril Dosage Form, hal 251-252) :

Na+ = 135-145 mEq/L

K+ = 3,5-5 mEq/L

Ca2+ = 5 mEq/L

Mg2+ = 2 mEq/L
INFUS IV UNTUK PENGELOLAAN DEHIDRASI

Sekitar 60% berat badan manusia terdiri dari cairan. Setiap hari sekitar 1,7 liter cairan di
dalam tubuh keluar melalui urin, tinja, keringat dan pernapasan. Cairan yang keluar
tersebut akan digantikan oleh cairan yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan
minuman, yakni sebanyak 3 liter perhari. Jika cairan yang keluar dai tubuh terjadi secara
berlebihan dan tidak diimbangi dengan cairan yang masuk, maka terjadilah dehidrasi
(kekurangan cairan tubuh).

Dehidrasi adalah gangguan dalam keseimbangan cairan atau air pada tubuh, karena
terjadi pengeluaran yang lebih banyak daripada pemasukan. Gangguan kehilangan cairan
tubuh ini disertai dengan gangguan keseimbangan zat elektrolit tubuh. Zat eletrolit yang
diperlukan tubuh terdiri dari anion dan kation antara lain Na+, K+, Ca2+, SO42-, dan Cl-.

Dehidrasi terdiri dari :

a. Absolut :Kandungan air dibawah normal atau dibawah standar.

b. Hypenatermic : Keadaan hilangnya elektrolit lebih rendah secara disproporsional


dibandingkan dengan hilangnya air.

c. Relatif : Dehidrasi sebagai akibat meningkatnya tekanan osmotik cairan tubuh.

d. Voluntari : Akibat dari rasa haus yang tidak merangsang penggantian air yang hilang
dengan cukup.

INFUS MENGANDUNG KARBOHIDRAT

Karbohidrat merupakan bahan bakar utama (sumber energi) bagi tubuh yang didalam
makanan terdapat sebagai monosakarida, disakarida dan polisakarida. Selain sumber
energi juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan asam-basa, pembentukan
struktur sel, jaringan dan organ tubuh. Bilamana seorang penderita harus diberikan
makanan yang memadai tetapi tidak dapat melalui saluran cerna atau mengalami
gangguan saluran cerna seperti diare maka sumber energi utama yakni karbohidrat dapat
diberikan melalui infus yang mengandung karbohdrat.

Glukosa merupakan sumber karbohidrat yang lebih disukai dan salah satu senyawa yang
penting didalam tubuh sebagai sumber energi.

INFUS Na BIKARBONAT UNTUK ASIDOSIS METABOLIK

Asidosis metabolic adalah suatu keadaan dimana pH arterial bersifat asam dan
konsentrasi bikarbonat plasma dibawah normal. Pada asidosis metabolic akut, pH arterial
dibawah 7,1-7,2 dan konsentrasi bikarbonat plasma, <8>
Farmakologi

Na.bikarbonat merupakan agen pengalkali yang berdisosiasi membentuk ion bikarbonat.


Bikarbonat merupakan komponen basa konjugasi dari buffer ekstraseluler utama yang
ada di tubuh,yaitu buffer bikarbonat-asam karbonat. Pada kondisi normal buffer ini
menjaga pH plasma yaitu 7,37-7,42. Namun bila terjadi gangguan pada system buffer ini
maka pH plasma dapat naik ataupun turun. pH plasma yang dibawah normal
mengindikasikan terjadinya asidosis metabolic. Pemberian Na.bikarbonat akan
menigkatkan konsentrasi bikarbonat plasma dan meningkatkan pH plasma sehingga pH
plasma normal kembali (DI 2003 hal 2472-2473).

INFUS PROTEIN

Protein merupakan makromolekul yang pada hidrolisa hanya menghasilkan asam amino.
Sel hidup menghasilkan berbagai macam makromolekul (protein, asam nukleat dan
polisakarida) yang berfungsi sebagai komponen struktural, biokatalisator, hormon,
reseptor dan sebagai tempat penyimpanan informasi genetik. Makromolekul ini
merupakan biopolimer yang dibentuk dari unit monomer atau bahan pembangun.

Asam amino dibagi menjadi dua bagian yaitu:

1. Asam amino essensial yaitu asam amino yang diperlukan oleh tubuh tetapi tidak dapat
disintesis dalam tubuh sehingga harus diperoleh dari luar. Contoh : Arginin, histidin,
isoleusin, lisin, metionin, fenil alanin, treonin, triptofan, dan valin.

2. Asam amino non essensial yaitu asam amino yang dapat disintesa didalam tubuh.
Contoh: Alanin, asparagin, asam aspartat, sistein, asam glutamate, glutamin, glisin,
prolin, hidroksiprolin, serin, dan tirosin.

Arginin mempunyai fungsi yang sama seperti asam amino, yaitu meningkatkan stimulan
hormon pertumbuhan, prolaktin, dan glukosa darah. Arginin dapat menambah konsentrasi
glukosa darah. Efek ini dapat langsung berpengaruh dari hati menjadi asam amino yang
berkualitas.(DI hal 1341)

INFUS IV DEKSTROSA

Farmakologi (DI, hal 1427)

Dekstrosa dengan mudah dimetabolisme, dapat meningkatkan kadar glukosa darah dan
menambah kalori. Dekstrosa dapat menurunkan atau mengurangi protein tubuh dan
kehilangan nitrogen, meningkatkan pembentukan glikogen dan mengurangi atau
mencegah ketosis jika diberikan dosis yang cukup. Dekstrosa dimetabolisme menjadi
CO2 dan air, maka larutan dekstrosa dan air dapat mengganti cairan tubuh yang hilang.
Injeksi dekstrosa dapat juga digunakan sebagai diuresis dan volume pemberian
tergantung kondisi klinis pasien.
LARUTAN PENCUCI PADA OPERASI LAMBUNG

Larutan irigasi adalah larutan steril, bebas pyrogen yang digunakan untuk tujuan
pencucian dan pembilasan. Sodium Klorida ( NaCl ) secara umum digunakan untuk
irigasi ( seperti irigasi pada rongga tubuh, jaringan atau luka ). Larutan irigasi NaCl
hipotonis 0,45% dapat digunakan sendiri atau tanpa penambahan bahan tambahan lain.
Larutan irigasi NaCl 0,9% dapat digunakan untuk mengatasi iritasi pada luka. ( DI 2003
hal 2555 )

Larutan irigasi dimaksudkan untuk mencuci dan merendam luka atau lubang operasi,
sterilisasi pada sediaan ini sangat penting karena cairan tersebut langsung berhubungan
dengan cairan dan jaringan tubuh yang merupakan tempat infeksi dapat terjadi dengan
mudah.( Ansel hal 399 )

INFUS PENDERITA DIARE BERAT

(LOCKE RINGER)

Locke – Ringer mengandung zat-zat yang dibutuhkan tubuh yaitu elektrolit-elektrolit dan
karbohidrat sesuai untuk penderita diare berat

Digunakan norit, yaitu untuk menyerap pirogen dan mengurangi kelebihan H2O2. Cara
sterilisasi yang digunakan adalah dengan teknik otoklaf karena bahan-bahan yang
digunakan tahan panas

Pembahasan : hipertonis (harap diperhatikan laju tetesan per menit)

INFUS UNTUK PENGELOLAAN METABOLIK ALKALOSIS

Alkalosis metabolik adalah suatu keadaan dimana darah dalam keadaan basa karena
tingginya kadar bikarbonat. Alkaosis metabolik terjadi jika tubuh kehilangan banyak
asam. Sebagai contoh adalah kehilangan sejumlah asam lambung selama periode muntah
yang berkepanjangan atau bila asam lambung disedot dengan selang lambung (seperti
yang kadang-kadang dilakukan di rumah sakit, terutama setelah pembedahan perut)

Pada kasus yang jarang, alkalosis metabolik terjadi pada seseorang yang mengkonsumsi
terlalu banyak basa dari bahan-bahan seperti soda bikarbonat. Selain itu, alkalosis
metabolik dapat terjadi bia kehilangan natrium atau kalium dalam jumlah yang banyak
mempengaruhi kemampuan ginjal dalam mengendalikan keseimbangan asam basa darah.

Penyebab utama alkalosis metabolik :

1. Penggunaan diuretik (tiazid, furosemid, asam etakrinat)

2. Kehilangan asam karena muntah atau pengosongan lambung


3. Kelenjar adrenal yang terlalu aktif (sindroma cushing atau akibat penggunaan
kortikosteroid).

Gejala :

1. Alkalosis metabolik dapat menyebabkan iritabilitas (mudah tersinggung), otot berkedut


dan kejang otot, atau tanpa gejala sama sekali.

2. Bila terjadi alkalosis yang berat, dapat terjadi kontraksi (pengerutan) dan spasme
(kejang) otot yang berkepanjangan (tetani).

3. Diagnosa dilakukan pemeriksaan darah arteri untuk menunjukkan darah dalam


keadaan basa.

Pengobatan :

Biasanya alkalosis metabolik diatasi dengan pemberian cairan dan elektrolit (natrium dan
kalium)

INFUS LARUTAN IRIGASI GLISIN

Larutan irigasi adalah sediaan larutan steril dalam jumlah besr. Larutan tidak disuntikkan
ke dalam vena, tapi digunakan di luar sistem peredaran darah dan umumnya
menggunakan jenis tutup yang diputar atau plastik yang dipatahkan, sehingga
memungkinkan pengisian larutan dengan cepat. Larutan ini digunakan untuk merendam
atau mencuci luka2. Sayatan bedah atau jaringan tubuh dan dapat pula mengurangi
pendarahan.

Persyaratan larutan irigasi adalah sbb :

1. Isotonik

2. Steril

3. Tidak disbsorpsi

4. bukan larutan elektrolit

5. Tidak mengalami metabolisme

6. Cepat diekskresi

7. Mempunyai tekanan osmotik diuretik

8. bebas pirogen
Larutan irigasi glisin digunakan selama operasi kelenjar prostat dan prosedur transuretral
lainnya. Larutan yg digunakan untuk luka dan kateter uretra yg mengenai jaringan tubuh
hrs disterilkan dgn cara aseptis.

INFUS IV YG MGD NUTRISI

Glukosa termasuk monosakarida dimana sebagian besar monosakarida dibawa oleh aliran
darah ke hati. Di dalam hati, monosakarida mengalami proses sintetis menghasilkan
glikogen, oksidasi menjadi CO2 dan H2O atau dilepaskan untuk dibawa dengan aliran
darah ke bagian tubuh yg memerlukannya. Sebagian lain monosakarida dibawa langsung
ke sel jaringan organ tertentu dan mengalami proses metabolisme lbh lanjut. Karena
pengaruh berbagai faktor dan hormon insulin yg dihasilkan oleh kelnjar pankreas, hati
dapat mengatur kadar glukosa dalam darah. Kadar glukosa dalam darah merupakan faktor
yg sgt penting utk kelancaran kerja tubuh.

INFUS IV RINGER LAKTAT

Jika untuk mengatasi kondisi kekurangan volume darah, larutan natrium klorida 0,9% -
1,0% menjadi kehilangan maka secara terapeutik sebaiknya digunakan larutan ringer,
larutan ini mengandung KCl dan CaCl2 disamping NaCl. Beberapa larutan modifikasi jg
mengandung NaHCO3 maka larutan dapat disterilakan dengan panas yang stabil.
Pengautoklafan larutan natrium hidrogen karbonat hanya diproses mempunyai
penyaringan kuman.

Pembahasan : larutan ini bersifat hipertonis. Harap diperhatikan laju tetesan per menit.
Laju tetesan maksimal 5 ml per menit

INFUS IV AMMONIUM KLORIDA

(PENDAHULUANNYA SAMA DENGAN ALKALOSIS METABOLIK)

Ammonium klorida digunakan sebagai z.a yang dapat berkhasiat untuk pengobatan
gangguan metabolisme alkalosis dalam tubuh serta menggantikan ion klorida yang hilang
dalam tubuh.

INFUS IV MENGANDUNG ELEKTROLIT DAN KARBOHIDRAT

Walaupun cairan infus intravena yang diinginkan adalah larutan yang isotonis untuk
meminimalisasi trauma pada pembuluh darah, namun cairan hipotonis maupun hipertonis
dapat digunakan. Untuk meminimalisasi iritasi pembuluh darah, larutan hipertonis
diberikan dalam kecepatan yang lambat.
Macam Macam Cairan Infus
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook
Cairan Kristaloid

1. Normal Saline

Komposisi (mmol/l) : Na = 154, Cl = 154.

Kemasan : 100, 250, 500, 1000 ml.

Indikasi :

a. Resusitasi

Pada kondisi kritis, sel-sel endotelium pembuluh darah bocor, diikuti oleh keluarnya molekul protein besar
ke kompartemen interstisial, diikuti air dan elektrolit yang bergerak ke intertisial karena gradien osmosis.
Plasma expander berguna untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang pada intravaskuler.

b. Diare

Kondisi diare menyebabkan kehilangan cairan dalam jumlah banyak, cairan NaCl digunakan untuk
mengganti cairan yang hilang tersebut.

c. Luka Bakar

Manifestasi luka bakar adalah syok hipovolemik, dimana terjadi kehilangan protein plasma atau cairan
ekstraseluler dalam jumlah besar dari permukaan tubuh yang terbakar. Untuk mempertahankan cairan
dan elektrolit dapat digunakan cairan NaCl, ringer laktat, atau dekstrosa.

d. Gagal Ginjal Akut


Penurunan fungsi ginjal akut mengakibatkan kegagalan ginjal menjaga homeostasis tubuh. Keadaan ini
juga meningkatkan metabolit nitrogen yaitu ureum dan kreatinin serta gangguan keseimbangan cairan
dan elektrolit. Pemberian normal saline dan glukosa menjaga cairan ekstra seluler dan elektrolit.

Kontraindikasi : hipertonik uterus, hiponatremia, retensi cairan. Digunakan dengan pengawasan ketat
pada CHF, insufisiensi renal, hipertensi, edema perifer dan edema paru.

Adverse Reaction  : edema jaringan pada penggunaan volume besar (biasanya paru-paru), penggunaan
dalam jumlah besar menyebabkan akumulasi natrium.

2. Ringer Laktat (RL)

Komposisi (mmol/100ml) : Na = 130-140, K = 4-5, Ca = 2-3, Cl = 109-110, Basa = 28-30 mEq/l.

Kemasan : 500, 1000 ml.

Cara Kerja Obat : keunggulan terpenting dari larutan Ringer Laktat adalah komposisi elektrolit dan
konsentrasinya yang sangat serupa dengan yang dikandung cairan ekstraseluler. Natrium merupakan
kation utama dari plasma darah dan menentukan tekanan osmotik. Klorida merupakan anion utama di
plasma darah. Kalium merupakan kation terpenting di intraseluler dan berfungsi untuk konduksi saraf dan
otot. Elektrolit-elektrolit ini dibutuhkan untuk menggantikan kehilangan cairan pada dehidrasi dan syok
hipovolemik termasuk syok perdarahan.

Indikasi : mengembalikan keseimbangan elektrolit pada keadaan dehidrasi dan syok hipovolemik. Ringer
laktat menjadi kurang disukai karena menyebabkan hiperkloremia dan asidosis metabolik, karena akan
menyebabkan penumpukan asam laktat yang tinggi akibat metabolisme anaerob.

Kontraindikasi : hipernatremia, kelainan ginjal, kerusakan sel hati, asidosis laktat.

Adverse Reaction : edema jaringan pada penggunaan volume yang besar, biasanya paru-paru.
Peringatan dan Perhatian : ”Not for use in the treatment of lactic acidosis”. Hati-hati pemberian pada
penderita edema perifer pulmoner, heart failure/impaired renal function & pre-eklamsia.

3. Dekstrosa

Komposisi : glukosa = 50 gr/l (5%), 100 gr/l (10%), 200 gr/l (20%).

Kemasan : 100, 250, 500 ml.

Indikasi : sebagai cairan resusitasi pada terapi intravena serta untuk keperluan hidrasi selama dan
sesudah operasi. Diberikan pada keadaan oliguria ringan sampai sedang (kadar kreatinin kurang dari 25
mg/100ml).

Kontraindikasi : Hiperglikemia.

Adverse Reaction : Injeksi glukosa hipertonik dengan pH rendah dapat menyebabkan iritasi pada
pembuluh darah dan tromboflebitis.
4. Ringer Asetat (RA)

Larutan ini merupakan salah satu cairan kristaloid yang cukup banyak diteliti. Larutan RA berbeda dari RL
(Ringer Laktat) dimana laktat terutama dimetabolisme di hati, sementara asetat dimetabolisme terutama
di otot. Sebagai cairan kristaloid isotonik yang memiliki komposisi elektrolit mirip dengan plasma, RA dan
RL efektif sebagai terapi resusitasi pasien dengan dehidrasi berat dan syok, terlebih pada kondisi yang
disertai asidosis. Metabolisme asetat juga didapatkan lebih cepat 3-4 kali dibanding laktat. Dengan profil
seperti ini, RA memiliki manfaat-manfaat tambahan pada dehidrasi dengan kehilangan bikarbonat masif
yang terjadi pada diare.

Indikasi : Penggunaan Ringer Asetat sebagai cairan resusitasi sudah seharusnya diberikan pada pasien
dengan gangguan fungsi hati berat seperti sirosis hati dan asidosis laktat. Hal ini dikarenakan adanya
laktat dalam larutan Ringer Laktat membahayakan pasien sakit berat karena dikonversi dalam hati
menjadi bikarbonat.

Ringer Asetat telah tersedia luas di berbagai negara. Cairan ini terutama diindikasikan sebagai pengganti
kehilangan cairan akut (resusitasi), misalnya pada diare, DBD, luka bakar/syok hemoragik; pengganti
cairan selama prosedur operasi; loading cairan saat induksi anestesi regional; priming solution pada
tindakan pintas kardiopulmonal; dan juga diindikasikan pada stroke akut dengan komplikasi dehidrasi.

Manfaat pemberian loading cairan pada saat induksi anastesi, misalnya ditunjukkan oleh studi Ewaldsson
dan Hahn (2001) yang menganalisis efek pemberian 350 ml RA secara cepat (dalam waktu 2 menit)
setelah induksi anestesi umum dan spinal terhadap parameter-parameter volume kinetik. Studi ini
memperlihatkan pemberian RA dapat mencegah hipotensi arteri yang disebabkan hipovolemia sentral,
yang umum terjadi setelah anestesi umum/spinal.

Untuk kasus obstetrik, Onizuka dkk (1999) mencoba membandingkan efek pemberian infus cepat RL
dengan RA terhadap metabolisme maternal dan fetal, serta keseimbangan asam basa pada 20 pasien
yang menjalani kombinasi anestesi spinal dan epidural sebelum seksio sesarea. Studi ini memperlihatkan
pemberian RA lebih baik dibanding RL untuk ke-3 parameter di atas, karena dapat memperbaiki asidosis
laktat neonatus (kondisi yang umum terjadi pada bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengalami eklampsia
atau pre-eklampsia).

Dehidrasi dan gangguan hemodinamik dapat terjadi pada stroke iskemik/hemoragik akut, sehingga
umumnya para dokter spesialis saraf menghindari penggunaan cairan hipotonik karena kekhawatiran
terhadap edema otak. Namun, Hahn dan Drobin (2003) memperlihatkan pemberian RA tidak mendorong
terjadinya pembengkakan sel, karena itu dapat diberikan pada stroke akut, terutama bila ada dugaan
terjadinya edema otak.

Hasil studi juga memperlihatkan RA dapat mempertahankan suhu tubuh lebih baik dibanding RL secara
signifikan pada menit ke 5, 50, 55, dan 65, tanpa menimbulkan perbedaan yang signifikan pada
parameter-parameter hemodinamik (denyut jantung dan tekanan darah sistolik-diastolik).

Tabel I. Komposisi Beberapa Cairan Kristaloid

K Ca Glukosa Laktat Asetat


Cairan Tonusitas Na(mmol/l) Cl(mmol/l)
(mmol/) (mmol/l) (mg/dl) (mmol/l) (mmol/l)

308
NaCl 0,9 % 154 154
(isotonus)

154
½ Saline 77 77
(hipotonus)

Dextrose 5 253
5000
% (hipotonus)

561
D5NS 154 154 5000
(hipertonus

330
D5 ¼NS 38,5 38,5 5000
(isotonus)

2/3 D & 1/3


Hipertonus 51 51 3333
S

Ringer 273
130 109 4 3 28
Laktat (isotonus)

273
D5 RL 130 109 4 3 50 28
(isotonus)

Ringer 273,4
130 109 4 3 28
Asetat (isotonus)
Cairan Koloid
Merupakan larutan yang terdiri dari molekul-molekul besar yang sulit menembus membran kapiler,
digunakan untuk mengganti cairan intravaskuler. Umumnya pemberian lebih kecil, onsetnya lambat,
durasinya lebih panjang, efek samping lebih banyak, dan lebih mahal.

Mekanisme secara umum memiliki sifat seperti protein plasma sehingga cenderung tidak keluar dari
membran kapiler dan tetap berada dalam pembuluh darah, bersifat hipertonik dan dapat menarik cairan
dari pembuluh darah. Oleh karena itu penggunaannya membutuhkan volume yang sama dengan jumlah
volume plasma yang hilang. Digunakan untuk menjaga dan meningkatkan tekanan osmose plasma.

1. Albumin

Komposisi : Albumin yang tersedia untuk keperluan klinis adalah protein 69-kDa yang dimurnikan dari
plasma manusia (cotoh: albumin 5%).

Albumin merupakan koloid alami dan lebih menguntungkan karena : volume yang dibutuhkan lebih
kecil, efek koagulopati lebih rendah, resiko akumulasi di dalam jaringan pada penggunaan jangka lama
yang lebih kecil dibandingkan starches dan resiko terjadinya anafilaksis lebih kecil.

Indikasi :

                     Pengganti volume plasma atau protein pada keadaan syok hipovolemia, hipoalbuminemia, atau
hipoproteinemia, operasi, trauma, cardiopulmonary bypass, hiperbilirubinemia, gagal ginjal akut,
pancretitis, mediasinitis, selulitis luas dan luka bakar.
Pengganti volume plasma pada ARDS (Acute Respiratory Distress
Syndrome). Pasien dengan hipoproteinemia dan ARDS diterapi dengan albumin dan furosemid yang
dapat memberikan efek diuresis yang signifikan serta penurunan berat badan secara bersamaan.

Hipoalbuminemia yang merupakan manifestasi dari keadaan malnutrisi,


kebakaran, operasi besar, infeksi (sepsis syok), berbagai macam kondisi inflamasi, dan ekskresi renal
berlebih.

                     Pada spontaneus bacterial peritonitis (SBP) yang merupakan komplikasi dari sirosis. Sirosis
memacu terjadinya asites/penumpukan cairan yang merupakan media pertumbuhan yang baik bagi
bakteri. Terapi antibiotik adalah pilihan utama, sedangkan penggunaan albumin pada terapi tersebut
dapat mengurangi resiko renal impairment dan kematian. Adanya bakteri dalam darah dapat
menyebabkan terjadinya multi organ dysfunction syndrome (MODS), yaitu sindroma kerusakan organ-
organ tubuh yang timbul akibat infeksi langsung dari bakteri.

Kontraindikasi : gagal jantung, anemia berat.

Produk : Plasbumin 20, Plasbumin 25.

2. HES (Hydroxyetyl Starches)

Komposisi : Starches tersusun atas 2 tipe polimer glukosa, yaitu amilosa dan amilopektin.

Indikasi : Penggunaan HES pada resusitasi post trauma dapat menurunkan permeabilitas pembuluh
darah, sehingga dapat menurunkan resiko kebocoran kapiler.

Kontraindikasi : Cardiopulmonary bypass, dapat meningkatkan resiko perdarahan setelah operasi, hal ini
terjadi karena HES berefek antikoagulan pada dosis moderat (>20 ml/kg). Sepsis, karena dapat
meningkatkan resiko acute renal failure (ARF). Penggunaan HES pada sepsis masih terdapat perdebatan.

Muncul spekulasi tentang penggunaan HES pada kasus sepsis, dimana suatu penelitian menyatakan
bahwa HES dapat digunakan pada pasien sepsis karena :
                     Tingkat efikasi koloid lebih tinggi dibandingkan kristaloid, disamping itu HES tetap bisa
digunakan untuk menambah volume plasma meskipun terjadi kenaikan permeabilitas.

Pada syok hipovolemia diperoleh innvestigasi bahwa HES dan albumin


menunjukkan manifestasi edema paru yang lebih kecil dibandingkan kristaloid.

Dengan menjaga COP, dapat mencegah komplikasi lebih lanjut seperti


asidosis refraktori.

HES juga mempunyai kemampuan farmakologi yang sangat menguntungkan


pada kondisi sepsis yaitu menekan laju sirkulasi dengan menghambat adesi molekuler.

Sementara itu pada penelitian yang lain, disimpulkan HES tidak boleh digunakan pada sepsis karena :

Edema paru tetap terjadi baik setelah penggunaan kristaloid maupun koloid
(HES), yang manifestasinya menyebabkan kerusakan alveoli.

HES tidak dapat meningkatkan sirkulasi splanchnic dibandingkan dengan


gelatin pada pasien sepsis dengan hipovolemia.

HES mempunyai resiko lebih tinggi menimbulkan gangguan koagulasi, ARF,


pruritus, dan liver failure. Hal ini terutama terjadi pada pasien dengan kondisi iskemik reperfusi (contoh:
transplantasi ginjal).

Resiko nefrotoksik pada HES dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan
gelatin pada pasien dengan sepsis.

Adverse reaction : HES dapat terakumulasi pada jaringan retikulo endotelial jika digunakan dalam jangka
waktu yang lama, sehingga dapat menimbulkan pruritus.

Contoh : HAES steril, Expafusin.

3. Dextran

Komposisi : dextran tersusun dari polimer glukosa hasil sintesis dari bakteri Leuconostoc mesenteroides,
yang ditumbuhkan pada media sukrosa.

Indikasi :

Penambah volume plasma pada kondisi trauma, syok sepsis, iskemia


miokard, iskemia cerebral, dan penyakit vaskuler perifer.

Mempunyai efek anti trombus, mekanismenya adalah dengan menurunkan


viskositas darah, dan menghambat agregasi platelet. Pada suatu penelitian dikemukakan bahwa dextran-
40 mempunyai efek anti trombus paling poten jika dibandingkan dengan gelatin dan HES.
Kontraidikasi : pasien dengan tanda-tanda kerusakan hemostatik (trombositopenia,
hipofibrinogenemia), tanda-tanda gagal jantung, gangguan ginjal dengan oliguria atau anuria yang
parah.

Adverse Reaction : Dextran dapat menyebabkan syok anafilaksis, dextran juga sering dilaporkan dapat
menyebabkan gagal ginjal akibat akumulasi molekul-molekul dextran pada tubulus renal. Pada dosis
tinggi, dextran menimbulkan efek pendarahan yang signifikan.

Contoh : hibiron, isotic tearin, tears naturale II, plasmafusin.

4. Gelatin

Komposisi : Gelatin diambil dari hidrolisis kolagen bovine.

Indikasi : Penambah volume plasma dan mempunyai efek antikoagulan,

Pada sebuah penelitian invitro dengan tromboelastropgraphy diketahui bahwa gelatin memiliki efek
antikoagulan, namun lebih kecil dibandingkan HES.

Kontraindikasi : haemacel tersusun atas sejumlah besar kalsium, sehingga harus dihindari pada keadaan
hiperkalsemia.

Adverse reaction : dapat menyebabkan reaksi anafilaksis. Pada penelitian dengan 20.000 pasien,
dilaporkan bahwa gelatin mempunyai resiko anafilaksis yang tinggi bila dibandingkan dengan starches.

Contoh : haemacel, gelofusine.

Cairan Khusus

MANNITOL

D-Manitol. C6H14O6

Indikasi

Menurunkan tekanan intrakranial yang tinggi karena edema serebral, meningkatkan diuresis pada
pencegahan dan/atau pengobatan oliguria yang disebabkan gagal ginjal, menurunkan tekanan
intraokular, meningkatkan ekskresi uriner senyawa toksik, sebagai larutan irigasi genitouriner pada
operasi prostat atau operasi transuretral.

ASERING
Indikasi:

Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut,


demam berdarah dengue (DHF), luka bakar, syok hemoragik, dehidrasi berat,
trauma.

Komposisi:

Setiap liter asering mengandung:

·                     Na 130 mEq

·                     K 4 mEq

·                     Cl 109 mEq

·                     Ca 3 mEq

·                     Asetat (garam) 28 mEq

Keunggulan:

·                     Asetat dimetabolisme di otot, dan masih dapat ditolelir pada pasien yang
mengalami gangguan hati

·                     Pada pemberian sebelum operasi sesar, RA mengatasi asidosis laktat lebih baik
dibanding RL pada neonatus

·                     Pada kasus bedah, asetat dapat mempertahankan suhu tubuh sentral pada
anestesi dengan isofluran

·                     Mempunyai efek vasodilator

·                     Pada kasus stroke akut, penambahan MgSO4 20 % sebanyak 10 ml pada 1000 ml
RA, dapat meningkatkan tonisitas larutan infus sehingga memperkecil risiko memperburuk
edema serebral

KA-EN 1B

Indikasi:
·                     Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui, misal pada
kasus emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak memadai, demam)

·                     <> 

·                     Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali pemberian secara IV. Kecepatan sebaiknya
300-500 ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam pada anak-anak

·                     Bayi prematur atau bayi baru lahir, sebaiknya tidak diberikan lebih dari 100
ml/jam

Komposisi :

Tiap 1000 ml isi mengandung

-          sodium klorida 2,25 g

-          anhidrosa dekstros 37,5 g.

-          Elektrolit (meq/L) :

a.       Na+ 38,5

b.      Cl- 38,5

c.       Glukosa 37,5 g/L.

d.      kcal/L : 150

KA-EN 3A & KA-EN 3B

Indikasi:

·                     Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit
dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan
oral terbatas

·                     Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)

·                     Mensuplai kalium sebesar 10 mEq/L untuk KA-EN 3A

·                     Mensuplai kalium sebesar 20 mEq/L untuk KA-EN 3B


Kompisisi  :

KA-EN 3A

Tiap liter isi mengandung

-          sodium klorida 2,34 g

-          potassium klorida 0,75 g, sodium laktat 2,24 g

-          anhydrous dekstros 27 g.

-          Elektrolit (mEq/L)

a.       Na+ 60

b.      K+ 10

c.       Cl- 50

d.      laktat- 20

e.       glukosa : 27 g/L.

f.       kcal/L : 108

KA-EN 3B

Tiap liter isi mengandung

-          sodium klorida 1,75g,

-          ptasium klorida 1,5g,

-          sodium laktat 2,24g,

-          anhydrous dekstros 27g.

-          Elektrolit (mEq/L) :

a.       Na+ 50,

b.      K+ 20,

c.       Cl- 50,

d.      laktat- 20,


e.       glukosa 27 g/L.

f.       kcal/L. 108

KA-EN MG3

Indikasi :

·                     Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit
dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan
oral terbatas

·                     Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)

·                     Mensuplai kalium 20 mEq/L

·                     Rumatan untuk kasus dimana suplemen NPC dibutuhkan 400 kcal/L

Komposisi :

Tiap liter isi mengandung bahan :

-          sodium klorida 1,75g,

-          potassium klorida 1,5g,

-          sodium laktat 2,24g,

-          anhydrous dekstros 100g.

-          Elektrolit (mEq/L) :

A.    Na+ 50,

B.     K+ 20,

C.     Cl- 50,

D.    laktat- 20,

E.     glukosa 100 g/L;

F.      kcal/L: 400


KA-EN 4A

Indikasi :

·                     Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak

·                     Tanpa kandungan kalium, sehingga dapat diberikan pada pasien dengan berbagai
kadar konsentrasi kalium serum normal

·                     Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik

Komposisi (per 1000 ml):

·                     Na 30 mEq/L

·                     K 0 mEq/L

·                     Cl 20 mEq/L

·                     Laktat 10 mEq/L

·                     Glukosa 40 gr/L

KA-EN 4B

Indikasi:

·                     Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak usia kurang 3 tahun

·                     Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga meminimalkan risiko hipokalemia

·                     Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik

Komposisi:

·                     Na 30 mEq/L

·                     K 8 mEq/L

·                     Cl 28 mEq/L
·                     Laktat 10 mEq/L

·                     Glukosa 37,5 gr/L

Otsu-NS

Indikasi:

·                     Untuk resusitasi

·                     Kehilangan Na > Cl, misal diare

·                     Sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium (asidosis diabetikum,


insufisiensi adrenokortikal, luka bakar)

Mengandung elektrolit mEq/L

· Na+ = 154

· Cl- = 154

Otsu-RL

Indikasi:

·                     Resusitasi

·                     Suplai ion bikarbonat

·                     Asidosis metabolik

Mengandung elektrolit mEq/L

· Na+ = 130

· Cl- = 108.7

· K+ = 4

· Ca++ = 2.7
· Laktat = 28

MARTOS-10

Indikasi:

·                     Suplai air dan karbohidrat secara parenteral pada penderita diabetik

·                     Keadaan kritis lain yang membutuhkan nutrisi eksogen seperti tumor, infeksi
berat, stres berat dan defisiensi protein

·                     Dosis: 0,3 gr/kg BB/jam

·                     Mengandung 400 kcal/L

AMIPAREN

Indikasi:

·                     Stres metabolik berat

·                     Luka bakar

·                     Infeksi berat

·                     Kwasiokor

·                     Pasca operasi

·                     Total Parenteral Nutrition

·                     Dosis dewasa 100 ml selama 60 menit

Komposisi

Setiap liter Amiparen isi mengandung

-          L-leucine 14g,


-          L-isoleucine 8g,

-          L-valine 8g,

-          lysine acetate 14,8g (L-lysine equivalent 10,5g),

-          L-threonine 5,7g,

-          L-tryptophan 2g,

-          L-methionine 3,9g,

-          L-phenylalanine 7g,

-          L-cysteine 1g,

-          L-tyrosine 0,5g,

-          L-arginine 10,5g,

-          L-histidine 5g,

-          L-alanine 8g,

-          L-proline 5g,

-          L-serine 3g,

-          aminoacetic acid 5,9g,

-          L-aspartic acid 30 w/w%,

-          total nitrogen 15,7g,

-          sodium kurang lebih 2 mEq,

-          acetate kira-kira 1220 mEq.

-          Sodium bisulfit ditambahkan sebagai stabilisator.

AMINOVEL-600

Indikasi:

·                     Nutrisi tambahan pada gangguan saluran GI


·                     Penderita GI yang dipuasakan

·                     Kebutuhan metabolik yang meningkat (misal luka bakar, trauma dan pasca
operasi)

·                     Stres metabolik sedang

·                     Dosis dewasa 500 ml selama 4-6 jam (20-30 tpm)

Komposisi :

Tiap liter Aminovel 600 berisi

-          amino acid (L-form) 50g,

-          D-sorbitol 100g,

-          ascorbic acid 400mg,

-          inositol 500mg,

-          nicotinamide 60mg,

-          pyridoxine HCl 40mg,

-          riboflavin sodium phosphate 2,5mg,

-          Elektrolit :

a.       Sodium 35 mEq,

b.      potassium 25 mEq,

c.       magnesium 5 mEq,

d.      acetate 35 mEq,

e.       maleate 22 mEq,

f.       chloride 38 mEq.

-          Setiap 50g asam amino berisi :

a.       L-isoleucine 3,2gram,

b.      L-leucine 2,4g,

c.       L-lysine (calculated as base) 2g,

d.      L-methionine 3g,


e.       L-phenylalanine 4g,

f.       L-threonine 2g,

g.      L-tryptophan 1g,

h.      L-valine 3,2g,

i.        L-arginine (calculated as base) 6,2g,

j.        L-histidine (calculated as base) 1g,

k.      L-alanine 6g,

l.        glycine 14g,

m.    L-proline 2g

PAN-AMIN G

Indikasi:

·                     Suplai asam amino pada hiponatremia dan stres metabolik ringan

·                     Nutrisi dini pasca operasi

·                     Tifoid

Komposisi

Tiap liter infuse mengandung

-          L-arginine HCl 2,7g,

-          L-histidine HCl H2O 1,3g,

-          L-isoleucine 1,8g,

-          L-leucine 4,1g,

-          L-lysine HCl 6,2g,

-          L-methionine 2,4g,

-          L-phenyilalanine 2,9g,


-          L-threonine 1,8g,

-          L-tryptophane 0,6g,

-          L-valine 2g,

-          glycine 3,4g,

-          D-sorbitol 50g

-          air.

TUTOFUSIN OPS

Per liter :

-          Natrium 100 mEq,

-          Kalium 18 mEq,

-          Kalsium 4 mEq,

-          Magnesium 6 mEg,

-          Klorida 90 mEq,

-          Asetat 38 mEq,

-          Sorbitol 50 gram.

Indikasi :

o Air & elektrolit yang dibutuhkan pada fase sebelum, selama, & sesudah operasi.

O Memenuhi kebutuhan air dan elektrolit selama masa pra operasi, intra operasi
dan pasca operasi

O Memenuhi kebutuhan air dan elektrolit pada keadaan dehidrasi isotonik dan
kehilangan cairan intraselular

o Memenuhi kebutuhan karbohidrat secara parsial


Kontraindikasi :

O Insufisiensi ginjal

O intoleransi Fruktosa & Sorbitol

O kekurangan Fruktosa-1-6-difosfate

O keracunan Metil alkohol.

Hati-hati pada :

O Penyakit ginjal atau jantung

O retensi cairan

O hipernatremia.

http://micymicy.blogspot.com/2011/03/cairan-infus-komposisi-indikasi.html

Writer Fandri Lekiawan at 9/23/2012 07:38:00 AM

Senin, 16 Februari 2009


LARUTAN INFUS ( Ringer Laktat, Ringer Asetat dan Aminofluid )
Mata Kuliah : Kimia Terapan
Dosen : DR Mudjiyono
Suma'iyah
S830208021/IPA/Psains

BAB I

PENDAHULUAN

Obat ialah setiap zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup, maka farmakologi merupakan ilmu
yang luas cakupannya. Namun untuk seorang dokter, ilmu ini dibatasi tujuannya yaitu agar dapat
menggunakan obat untuk maksud pencegahan, diagnosis dan pengobatan penyakit. Selain itu, agar
mengerti bahwa penggunaan obat dapat mengakibatkan berbagai gejala penyakit.
Farmakologi mencakup pengetahuan tentang sejarah, sumber, sifat kimia dan fisik, komposisi, efek
fisiologi dan biokimia, mekanisme kerja, absorpsi, distribusi, biotransformasi ekskresi dan penggunaan
obat. Namun dengan berkembangnya pengetahuan, beberapa bidang ilmu tersebut telah berkembang
menjadi cabang ilmu tersendiri, misal :

1. Farmakognosi, ialah cabang ilmu farmakologi yang mempelajari sifat-sifat tumbuhan dan bahan lain
yang merupakan sumber obat.

2. Farmasi ialah ilmu yang mempelajari cara membuat, memformulasikan, menyimpan dan
menyediakan obat.

3. Farmakologi klinik ialah cabang farmakologi yang mempelajari efek obat pada manusia. Berbagai
aspek dalam studi obat pada manusia tercakup dalam cabang ilmu ini dengan tujuan mendapatkan
dasar ilmiah untuk penggunaan obat. Untuk mempelajari pengaruh obat pada manusia, obat
dicobakan dulu pada hewan dan dipelajari efeknya dalam farmakologi eksperimental.

4. Farmakokinetik ialah aspek farmakologi yang mencakup nasib obat dalam tubuh yaitu absorpsi,
distribusi, metabolisme dan ekskresinya.

5. Farmakodinamik mempelajari efek obat terhadap fisiologi dan biokimia berbagai organ tubuh serta
mekanisme kerjanya.

6. Farmakoterapi ialah cabang ilmu yang berhubungan dengan penggunaan obat dalam pencegahan dan
pengobatan penyakit.

7. Toksikologi ialah ilmu yang mempelajari keracunan zat kimia.

Dehidrasi dan gangguan kemodinamik dapat terjadi pada hemoragik akut / stroke iskemik. Selain itu
dehidrasi sering terjadi pada pasien diare, DBD, dan luka bakar. Untuk menyeimbangkan cairan dalam
tubuh pasien maka diperlukan infus atau cairan pengganti cairan yang hilang (resusitasi).

Berbagai macam cairan yang dianggap sebagai terapi pendukung yang penting untuk pasien diatas
adalah larutan / cairan normal saline, ringer asetat, ringer laktat, aminofluid dan larutan maintenance
lain (KAEN 3B )
BAB II

LANDASAN TEORI

A. PEMBERIAN SECARA SUNTIKAN

Keuntungan pemberian obat secara suntikan (parenteral) ialah: (1) efeknya timbul lebih cepat dan
teratur dibandingkan dengan pemberian per oral; (2) dapat diberikan pada penderita yang tidak
kooperatif, tidak sadar, atau muntah-muntah; dan (3) sangat berguna dalam keadaan darurat.
Kerugiannya ialah dibutuhkan cara asepsis, menyebabkan rasa nyeri, ada bahaya penularan hepatitis
serum, sukar dilakukan sendiri oleh penderita, dan tidak ekonomis.

Pemberian intravena (IV) tidak mengalami tahap absorpsi, maka kadar obat dalam darah diperoleh
secara cepat, tepat, dan dapat disesuaikan langsung dengan respons penderita. Larutan tertentu yang
iritatif hanya dapat diberikan dengan cara ini karena dinding pembuluh darah relatif tidak sensitif dan
bila disuntikkan perlahan-lahan, obat segera diencerkan oleh darah. Kerugiannya ialah efek toksik
mudah terjadi karena kadar obat yang tinggi segera mencapai darah dan jaringan. Di samping itu, obat
yang disuntikkan IV tidak dapat ditarik kembali. Obat dalam larutan minyak yang mengendapkan
konstituen darah, dan yang menyebabkan hemolisis, tidak boleh diberikan dengan cara ini. Penyuntikan
IV harus dilakukan perlahan-lahan sambil terus mengawasi respons penderita.

Suntikan subkutan (SK) hanya boleh digunakan untuk obat yang tidak menyebabkan iritasi jaringan.
Absorpsi biasanya terjadi secara lambat dan konstan sehingga efeknya bertahan lama. Obat dalam
bentuk suspensi diserap lebih lambat daripada dalam bentuk larutan. Pencampuran obat dengan
vasokonstriktor juga akan memperlambat absorpsi obat tersebut. Obat dalam bentuk padat yang
ditanamkan di bawah kulit dapat diabsorpsi selama beberapa minggu atau beberapa bulan.

3
Pada suntikan intramuskular (IM), kelarutan obat dalam air menentukan kecepatan dan kelengkapan
absorpsi. Obat yang sukar larut dalam air pada pH fisiologik misalnya digoksin, fenitoin, dan diazepam
akan mengendap di tempat suntikan sehingga absorpsinya berjalan lambat, tidak lengkap, dan tidak
teratur. Obat yang larut dalam air diserap cukup cepat, tergantung dari aliran darah di tempat suntikan.
Absorpsi lebih cepat di deltoid atau vastus lateralis daripada di gluteus maksimus. Obat-obat dalam
larutan minyak atau bentuksuspensi akan diabsorpsi dengan sangat lambat dan konstan (suntikan
depot), misalnya penisilin. Obat yang terlalu iritatif untuk disuntikan secara SK kadang-kadang dapat
diberikan secara IM.

Suntikan intratekal, yakni suntikan langsung ke dalam ruang subaraknoid spinal, dilakukan bila
diinginkan efek obat yang cepat dan setempat pada selaput otak atau sumbu serebrospinal, seperti pada
anestesia spinal atau pengobatan infeksi SSP yang akut.

Suntikan Intraperitoneal tidak dilakukan pada manusia karena bahaya infeksi dan adesi terlalu besar.

B. FARMAKOKINETIK

Obay yang masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara pemberian umumnya mengalami absorpsi,
distribusi, dan pengikatan untuk sampai di tempat kerja dan menimbulkan efek. Kemudian dengan atau
tanpa biotransformasi, obat diekskresi dari dalam tubuh. Seluruh proses ini disebut proses
farmakokinetik dan berjalan serentak seperti yang terlihat pada gambar 1.1.

Gambar 1-1. Berbagai proses farmakokinetik obat

Di tubuh manusia, obat harus menembus sawar (barrier) sel di berbagai jaringan. Pada umumnya obat
melintasi lapisan sel ini dengan menembusnya, bukan dengan melewati celah antar sel, kecuali pada
endotel kapiler. Karena itu peristiwa terpenting dalam proses farmakokinetik ialah transport lintas
membran.

Membran sel terdiri dari dua lapis lemak yang membentuk fase hidrolik di kedua sisi membran dan fase
hidrofobik diantaranya. Molekul-molekul protein yang tertanam di kedua sisi membran atau menembus
membran berupa mozaik pada membran. Molekul-molekul protein ini membentuk kanal hidrofilik untuk
transfort air dan molekul kecil lainnya yang larut dalam air.
Cara-cara transport obat lintas membran yang terpenting ialah difusi pasif dan transport aktif; yang
terakhir melibatkan komponen-komponen membran sel dan membutuhkan energi. Sifat fisiko-kimia
obat yang menentukan cara transport ialah bentuk dan ukuran molekul, kelarutan dalam air, derajat
ionisasi dan kelarutan dalam lemak.

Umumnya absorpsi dan distribusi obat terjadi secara difusi pasif. Mula-mula obat harus berada dalam
larutan air pada permukaan membran sel, kemudian molekul obat akan melintasi membran dengan
melarut dalam lemak membran. Pada proses ini, obat bergerak dari sisi yang kadarnya lebih tinggi ke sisi
lain. Setelah taraf mantap (steadystate) dicapai, kadar obat bentuk non-ion di kedua sisi membran akan
sama.

Kebanyakan obat berupa elektrolit lemah yakni asam lemah atau basa lemah. Dalam larutan, elektrolit
lemah ini akan terionisasi. Derajat ionisasi ini tergantung dari pKa rendah berarti relatif kuat, sedangkan
untuk obat basa, pKa tinggi yang relatif kuat. Bentuk non-ion umumnya larut baik dalam lemak sehingga
mudah berdifusi melintasi membran karena sukar larut dalam lemak. Pada taraf mantap, kadar obat
bentuk non-ion saja yang sama bentuk ionnya tergantung dari perbedaan pH di kedua sisi membran.

Membran sel merupakan membran semipermiabel, artinya hanya dapat dirembesi air dan molekul-
molekul kecil. Air berdifusi atau mengalir melalui kanal hidrofilik pada membran akibat perbedaan
takanan hidrostatik maupun tekanan osmotik. Bersama aliran air akan terbawa zat-zat terlarut bukan
ion yang berat molekulnya kurang dari 100-200 misalnya urea, etanol, dan antipirin. Meskipun berat
atomnya kecil, ion anorganik ukurannya membesar karena mengikat air sehingga tidak dapat melewati
kanal hidrofilik bersama air. Kini telah ditemukan kanal selektif untuk ion-ion Na, K, Ca.

Transport obat melintasi endotel kapiler terutama melalui celah-celah antarsel, kecuali di susunan saraf
pusat (SSP). Celah antarsel endotel kapiler demikian besarnya sehingga dapat meloloskan semua
molekul yang berat molekulnya kurang dari 69.000 (BM albumin), yaitu semua obat bebas, termasuk
yang tidak larut dalam lemak dan bentuk ion sekalipun. Proses ini berperan dalam absorpsi obat setalah
pemberian parenteral dan dalam filtrasi lewat membran glomerulus di ginjal.

Pinositosis ialah cara transport dengan membentuk vesikal, misalnya untuk makromolekul seperti
protein. Jumlah obat yang diangkut dengan cara ini sangat sedikit.
Transport obat secara aktif biasanya terjadi pada sel saraf, hati, dan tubuli ginjal. Proses ini
membutuhkan energi yang diperoleh daria aktivitas membran sendiri, sehingga zat dapat bergerak
melawan perbedaan kadar atau potensial listrik. Selain dapat dihambat secara kompetitif, transport aktif
ini bersifat selektif dan memperlihatkan kapasitas maksimal (dapat mengalami kejenuhan). Beberapa
obat bekerja mempengaruhi transport aktif zat-zat endogen, dan transport aktif suatu obat dapat pula
dipengaruhi oleh obat lain.

Difusi terfasilitasi (Facilitated diffusion) ialah suatu proses transport yang terjadi dengan bantuan suatu
faktor pembawa (carrier) yang merupakan komponen membran sel tanpa menggunakan energi sehingga
tidak dapat melawan perbedaan kadar maupun potensial listrik. Proses ini, yang juga bersifat selektif,
terjadi pada zat endogen yang transportnya secara difusi biasa terlalu lambat, misalnya untuk masuknya
glukosa ke dalam sel perifer.

Pemberian infus pada pasien diberikan apabila rehidrasi oral, tidak mungkin dilakukan pemberian infus
tergantung pada usia, berat badan, dan keadaan klinis penderita (Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia,
2007. Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia, PT. Ikrar Mandiri Abadi, Jakarta).

Sampai saat ini masih banyak persepsi diantara para klinis terhadap terapi cairan, antara lain:

1. RL & mp; Normal saline yang sebenarnya merupakan cairan pengganti, digunakan juga untuk indikasi
Maintenance secara luas.

2. Memberikan 2 L D5 / hari dianggap wajar-wajar saja. Banyak dokter yang tidak mengetahui bahwa D5
tersebut sebenarnya hanya air bebas dan bisa mengakibatkan atau memperberat hiponatremia.

3. Hipokalemia lebih mudah diatasi dibandingkan dicegah.

4. Semua cairan yang mengandung asam amino dan glukosa adalah produk nutrisi.

5. Pasien yang terlihat kurus dengan BMI (body mass index) rendah dianggap memerlukan tinggi kalori
dan protein, padahal sebelum sakitpun sering pasien sudah berada dalam keadaan homeostasis
dengan asupan rendah *BMI = BODY MASS INDEX (BB [KG] : TB [MEMBRAN]2 (NORMAL: 20-24)).
BAB III

ANALISIS MASALAH

A. INFUS KONTINYU DAN DOSIS BERULANG

Pada pemberian infus yang kontinyu atau dosis berulang, akan terjadi peningkatan kadar obat
(akumulasi) sampai tercapai keadaan mantap (steady state), di mana kadar obat tidak lagi meningkat
(stabil) karena kecepatan eliminasi obat oleh tubuh telah menyamai kecepatan masuknya obat ke dalam
tubuh.

Kadar mantap atau kadar steady state (CSS) dicapai setelah 4-5 x waktu paruh obat.

tSS = 4 – 5 x t ½

t90%SS = 3.3 x t ½

INFUS KONTINYU. CSS dicapai ketika kecepatan eliminasi obat oleh tubuh (Cl) telah menyamai kecepatan
masuknya obat ke dalam tubuh (kecepatan infus).

Dosis awal (Loading dose = DL) ialah dosis yang dimaksudkan untuk langsung mencapai CSS (C SS adalah
kadar terapi = Cther)

DL = Css,max x Vd (IV)

Vd

= Css,max x (oral)

DOSIS BERULANG

(1) Intravena :
(2)

Oral :

DL biasanya diberikan untuk obat-obat yang t ½ nya relatif terlalu panjang dibandingkan dengan waktu
yang diinginkan untuk mencapai kadar terapi, misalnya :

- tetrasikan (t ½ - 11 jam)

- digoksin (t ½ - 36 jam), tetapi digitalisasi biasanya dibagi dalam 3–4 dosis yang diberikan selama 1-2
hari.

- lidokain (t ½ - 1 jam) untuk aritmia setelah infark miokard.

Interval dosis (T). Dari segi farmakokinetik, T yang rasional untuk kebanyakan obat sama dengan t½
eliminasi obat yang bersangkutan, dengan demikian kadarnya berfluktuasi 2 x lipat (C ss,max = 2 x
Css,min).Obat dengan t½ yang pendek dapat diberikan dengan T beberapa kali t½ nya bila obatnya cukup
aman untuk diberikan dalam dosis yang jauh lebih besar dari yang dibutuhkan untuk menimbulkan efek
terapinya (misalnya penisilin G). Akan tetapi bila batas keamanannya sempit, mungkin obat tidak dapat
diberikan dengan T lebih besar dari t½ nya karena kemungkinan fluktuasi kadarnya akan melampaui
batas-batas kadar terapinya (misalnya teofilin). Obat dengan t½ yang lebih dari 1 hari, biasanya
diberikan sekali sehari untuk memudahkan pemberiannya (misalnya fenobarbital, digoksin).
Difenilhidantoin yang mempunyai t½ - 1 hari sebenarnya tidak perlu diberikan 3 x sehari tapi cukup 1 x
sehari. Tetapi pemberian dalam dosis terbagi mungkin dimaksudkan untuk mengurangi iritasi lambung.

B. RINGER LAKTAT
Larutan Infus Untuk Pemakaian Intravena.

Setiap liter larutan mengandung :

- Natrium Laktat. C3H5NaO3 3,10 g

- Natrium Klorida. NaCl 6,00 g

- Kalium Klorida.KCl 0,30 g

- Kalsium Klorida.CaCl2.2H2O 0,20 g

- Air untuk Injeksi ad. 1.000 ml

Osmolaritas : 270 mOsm/l

Setara dengan ion-ion :

Na+ : 130 mEq/l

K+ : 4 mEq/l

Laktat (HCO3-) : 27,5 mEq/l

Ca++ : 2,7 mEq/l

Cl : 109,5 mEq/l

Cara kerja obat :

- Merupakan larutan isotoni Natrium Klorida, Kalium Klorida, Kalsium Klorida, dan Natrium Laktat
yang komposisinya mirip dengan cairan ekstraseluler.

- Merupakan cairan pengganti pada kasus-kasus kehilangan cairan ekstraselular.

- Merupakan larutan non-koloid, mengandung ion-ion yang terdistribusi kedalam cairan


intravaskuler dan interststel (ekstravaskuler)
Indikasi : Untuk mengembalikan keseimbangan elektrolit pada dehidrasi.

Cara pemberian : Intravena

Disesuaikan dengan kondisi penderita

Kontra indikasi : Hipernatremia, kelainan ginjal, kerusakan sel hati,

asidosis laktat.

Efek samping :

- Reaksi-reaksi yang mungkin terjadi karena larutannya atau cara pemberiannya termasuk timbulnya
panas, infeksi pada tempat penyuntikan, trombosis vena atau flebitis yang meluas dari tempat
penyuntikan, ekstravasasi.

- Bila terjadi rekasi efek samping, pemakaian harus dihentikan dan lakukan evaluasi terhadap
penderita.

Peringatan : Jangan dicampur dengan larutan yang mengandung fosfat.

Cara penyimpanan: Pada suhu kamar / ruangan antara 25 oC – 30oC.

a. Kalsium

Kalsium merupakan mineral yang paling banyak didapatkan di dalam tubuh, untuk absorpsinya
diperlukan vitamin D. Kebutuhan kalsium meningkat pada masa pertumbuhan, selama laktasi dan pada
wanita pascamenopause. Bayi yang mendapat susu buatan memerlukan tambahan kalsium. Selain itu
asupan kalsium juga perlu ditingkatkan bila makanan banyak mengandung protein dan atau fospor.
Banyak peneliti yang menganjurkan asupan sekitar 1,2 g/hari untuk pasien alkoholik, sindrom
malabsorpsi dan pasien-pasien yang mendapat kortikosteroid, isoniazid, tetrasiklin atau antasid yang
mengandung aluminium.

b. Kalium
Perbedaan kadar kalium (kation utama dalam cairan intrasel) dan natrium (kation utama dalam cairan
ekstrasel) mengatur kepekaan sel, konduksi impuls saraf dan keseimbangan dan volume cairan tubuh.

Meskipun defisiensi jarang terjadi pada individu yang mendapat makanan yang cukup, hipokalemia
dapat terjadi pada anak-anak yang makanannya tidak mengandung protein. Penyebab hipokalemia yang
paling sering adalah terapi diuretik terutama tiazid. Lain penyebab hipokalemia adalah diare
berkepanjangan terutama pada anak, hiperal dosteronisme, tetapi cairan parenteral yang tidak tepat
atau tidak mencukupi, penggunaan kortikosteroid atau laksan jangka lama. Aritmia jantung dan
gangguan neuromuskular merupakan akibat hipokalemia yang paling berbahaya.

Hiperkalemia paling sering disebabkan gangguan ekskresi kalium oleh ginjal yang dapat terjadi pada
pasien dengan insufisiensi korteks adrenal, gagal ginjal akut, gagal ginjal kronik terminal, suplementasi
vitamin K yang tidak sesuai dosis atau indikasinya, atau penggunaan antagonis aldosteron. Aritmia
jantung dan gangguan konduksi merupakan gejala sisa yang paling berbahaya. Lain manifestasi
hiperkalemia termasuk kelemahan dan parestesia.

c. Natrium

Natrium penting untuk membantu mempertahankan volume dan keseimbangan cairan tubuh. kadarnya
dalam cairan tubuh diatur oleh mekanismer homeostatik. Banyak individu mengkonsumsi natrium lebih
dari yang dibutuhkan. Pembatasan natrium seringkali dianjurkan pada pasien gagal jantung kongesif,
sirosis hati dan hipertensi pada individu tertentu. Akan tetapi pembatasan natrium pada wanita sehat
selama kehamilan tidak dianjurkan.

Hipernatremia jarang ditemui pada individu sehat tetapi pada terjadi setelah diare atau muntah yang
lama terutama pada bayi, pada gangguan ginjal, fibrosiskistik atau insufisiensi korteks adrenal, atau pada
penggunaan diuretik tlazid. Keringat yang berlebihan dapat mengakibatkan kehilangan natrium yang
banyak dan perlu diganti dalam bentuk air dan NaCl.

d. Klorida

Klorida merupakan anion yang paling penting dalam mempertahankan keseimbangan elektrolit.
Alkalosis metabolik hipokloremik dapat terjadi setelah muntah yang lama atau penggunaan diuretik
berlebihan. Kehilangan klorida berlebihan dapat menyertai kehilangan berlebihan natrium.
Kemungkinan terjadinya hiperkalemia perlu dipertimbangkan bila terpaksa menggunakan KCl sebagai
pengganti klorida yang hilang.

C. RINGER ASETAT (ASERING)

Mencegah hipotermia Perioperatif Sectio

Larutan Ringer Asetat (RA) merupakan salah satu cairan kristaloid yang cukup banyak diteliti. Larutan RA
berbeda dari RL (Ringer Laktat), dimana laktat terutama dimetabolisme di hati sementara asetat
dimetabolisme terutama di otot. Sebagai cairan kristaloid isotonik yang memiliki komposisi elektrolit
mirip dengan plasma, RA dan RL efektif sebagai terapi resusitasi pasien dengan dehidrasi berat dan syok,
terlebih pada kondisi yang disertai asidosis. Metabolisme asetat juga didapatkan lebih cepat 3-4 kali
dibanding laktat. Dengan profil seperti ini, RA memiliki manfaat-manfaat telah tersedia pada dehidrasi
dengan kehilangan bikarbonat masif yang terjadi pada diare.

Ringer Asetat telah tersedia luas di berbahai negara. Cairan ini terutama diindikasikan sebagai pengganti
kehilangan cairan akut (resusitasi), misalnya pada diare, DBD, luka bakar/syok hemoragik; pengganti
cairan selama prosedur operasi, loading cairan saat induksi anastesi regional; priming solution pada
tindakan pintas kardiopulmonal; dan juga diindikasikan pada stroke akut dengan komplikasi dehidrasi.

Manfaat pemberian loading cairan pada saat induksi anastesi, misalnya ditunjukkan oleh studi
Ewaldsson dan Hahn (2001) yang menganalisis efek pemberian 350 ml RA secara cepat (dalam waktu 2
menit) setelah induksi anestesi umum dan spinal terhadap parameter-parameter volume kinetik. Studi
ini memperlihatkan pemberian RA dapat mencegah hipotensi arteri yang disebabkan hipovolemia
sentral yang umum terjadi setelah anestesi umum/spinal.

Untuk kasus obstetrik, Onizuka dkk (1999) mencoba membandingkan efek pemberian infus cepat RL
dengan RA terhadap metabolisme maternal dan fetal, serta keseimbangan asam basa pada 20 pasien
yang menjalani kombinasi anestesi spinal dan epidural sebelum seksio sesarea. Studi ini memperlihatkan
pemberian RA lebih baik dibanding RL untuk ke-3 parameter diatas, karena dapat memperbaiki asidosis
laktat neonatus (kondisi yang umum terjadi pada bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengalami
eklampsia atau pre-eklampsia).
Dehidrasi dan gangguan hemodinamik dapat terjadi pada stroke eskemik/hemoragik akut, sehingga
umumnya para dokter spesialis saraf menghindari penggunaan cairan hipotonik karena kekhawatiran
akan edema otak. Namun, Hahn dan Drobin (2003) memperlihatkan pemberian RA tidak mendorong
terjadinya pembengkakan sel, karena itu dapat diberikan pada stroke akut, terutama bila ada dugaan
edema otak.

Pada 17 Pebruari 2006 diselenggarakan simposium mengenai RA ini yang merupakan bagian dari The 3 rd
Annual Meeting of Indonesia Society of Obstetic Anesthesia – Indonesian Society of Regional Anesthesia
and Pain Medicine in Conjunction with Recent Advances in Anesthesia Symposium di Grand Melia Hotel,
Jakarta.

Dr. Susilo Chandra SpAn dari Departemen Anastesi dan Terapi Intensif FKUI/RSCM memaparkan hasil
studi komparatif penggunaan RA (ASERING) dan RL pada pasien sectio cesarean dengan Subarachnoid
Anasthesia.

Sebanyak 40 wanita dialokasikan menjadi dua kelompok, yakni kelompok yang menerima RA dan
kelompok RL. Sebelum induksi, masing-masing kelompok mendapat 3 ml/kg/jam. Segera setelah induksi
anestesi subarachnoid, diberikan cairan yang sama sesuai kelompoknya namun dengan kecepatan bolus
500 ml dalam 30 menit. Tanda-tanda vital, suhu timpani, suhu aksila dan pengobatan yang diberikan
dicatat, baik pada baseline maupun setiap 5 menit sesudahnya.

Dari data penelitian didapatkan bahwa parameter hemodinamik pada intra dan postoperative tidak
berbeda bermakna. Ini sekaligus membuktikan bahwa kristaloid cukup efektif untuk mengatasi hipotensi
akibat induksi anestesi regional dan tidak satupun pasien sampai memerlukan cairan koloid yang
harganya >20 kali lebih tinggi daripada kristaloid.

Hasil studi juga memperlihatkan RA dapat mempertahankan suhu tubuh lebih baik dibanding RL secara
signifikan pada menit ke 5, 50, 55, dan 65, tanpa menimbulkan perbedaan yang signifikan pada
parameter-parameter hemodinamik (antara lain denyut jantung dan tekanan darah sistolik/diastolik)
diantara 2 kelompok.

Untuk insiden dan derajat menggigil, kelompok RA juga diperlihatkan mengalami insiden menggigil yang
lebih sedikit dibandingkan kelompok RL sampai dengan menit ke 25 (p<0,05), p="0,029).
D. PARADIGMA BARU DALAM TERAPI CAIRAN MAINTENANCE

Terapi cairan Maintenance bisa dianggap sebagai salah satu terapi pendukung yang penting bagi pasien
rawat-inap. Jika tujuan terapi cairan resusitasi adalah memperbaiki gangguan hemodinamik, maka
tujuan terapi cairan Maintenance adalah memelihara homeostasis pada pasien yang kurang asupan
cairan per oral. Jadi, laju dan jenis cairan infus untuk kedua indikasi itu berbeda. Untuk resusitasi
digunakan “cairan pengganti” seperti normal saline, ringer asetat/ringer laktat yang bersifat isotonik.
Diberikan dengan jumlah besar dan kecepatan tinggi (20-30 ml/kg/jam) cairan ini digunakan pada
keadaan emergensi untuk menggantikan kehilangan akut. Pada keadaan-keadaan tertentu, cairan
pengganti bisa juga digunakan untuk Maintenance, khususnya jika didapatkan hiponatremia (kadar Na+
<>+ per L. Produk-produk siap pakai juga sudah lama dikenalkan yakni larutan-larutan KEN dan larutan
DGAA (larutan setengah Darrow). Larutan KAEN dan DGAA memiliki kandungan kalium yang cukup
untuk memelihara kebutuhan homeostasis kalium. Sebagai contoh KEN 3B (20mEq/L) dan DGAA (17.5
mEq/L) memenuhi minimum 20-30 mEq/hari untuk pasien dewasa.

Belum lama ini dengan dikembangkannya teknik canggih dual chamber oleh Otsuka Japan cairan
Maintenance telah berevolusi dari sekedar mengandung elektrolit basal (Na + dan K+ dll) juga dilengkapi
dengan mikromineral, asam amino dan glukosa.

1. Rasional Untuk Terapi Cairan Maintenance

Berbagai keadaan bisa dialami oleh pasien rawat-inap dan ini sering tidak disadari oleh dokter.

Mayoritas pasien sudah berada dalam keadaan dehidrasi moderat, namun hemodinamik masih
baik. Pasien mungkin sudah berhari-hari di rumah dengan asupan air yang kurang dan ada
demam tinggi. Demam tinggi ini menyebabkan peningkatan insensible water loss.

Cemas, depresi atau akut. Ini cenderung terjadi pada pasien-pasien yang sudah mencoba
berobat ke sana kemari dan tidak kunjung sembuh.

Malaise atau letih (fatigue) mungkin merupakan alasan pasien dibawa ke rumah sakit.

Pasien tidak terbiasa dengan makanan rumah sakit.


Asupan oral kurang karena pasien teralu lemah untuk mengunyah dan lidah terasa pahit karena
kering.

Jam makan yang kaku

Anorexia (tidak napsu makan), nausea (mual), atau stres

Kesadaran menurun.

Informasi demikian sering luput dari pengamatan dokter, padahal pasien memerlukan dukungan
maintenance untuk keadaan-keadaan tersebut.

Tujuan terapi Maintenance bisa dirangkum sebagai berikut:

1) Memenuhi kebutuhan air dan elektrolit harian untuk homeostasis.

2) Mencegah gangguan elektrolit dan asam-basa.

3) Mendukung terapi primer

4) Membantu proses enzimatik & mp; sintesis protein.

5) Memacu penyembuhan.

Apa ciri-ciri larutan maintenance yang unggul ?

Praktis, mudah dan aman diberikan

Disamping elektrolit basal (Na+, K+, Cl-) juga mengandung mikromineral (Mg ++, Ca++, P) yang
dibutuhkan untuk metabolisme sel.

Adanya zinc membantu penyembuhan jaringan. Karena zinc memacu deposisi kolagen pada
jaringan yang rusak.

Mengandung asam amino kualitas tinggi (diperkaya BCAA, tinggi EAA) untuk memacu sintesis
protein)
Glukosa untuk mempertahankan kadar gula normal (euglycemia)

Produk yang bisa memenuhi kriteria tersebut adalah AMINOFLUID”. Komposisi AMINOFLUID dan larutan
Maintenance lain (KAEN3B) serta Ringer Laktat diberikan dibawah:

Tabel 1. Komposisi AMINOFLUID dibandingkan RL dan KAEN3B

Komposisi AMINOFLUID KAEN3B Ringer Laktat ASPEN guideline”

Air 2000 2000 2000 30-40 ml/kg/hari


+
Na 70 100 260 1-2 mEq/kg/hari
+
K 40 40 8 1-2 mEq/kg*/hari

Cl- 70 100 218 Sesuai kebutuhan


++
Mg 10 - - 8-20 mEq/hari
++
Ca 10 - - 10-15 mEq/hari

P 20 - - 20-40 mEq/hari

Zn 10 m mol - - 2.5-5 g

Asam amino AA 60 g - - 0.8 g/kg/hari

Glukosa 150 g 54 g - -

Kebutuhan basal untuk homeostasis K + adalah 20-30 mEq/hari (10); f kebutuhan basal asam amino pada pasien nonstressed; V protein
sparing effect.

2. Mengapa Perlu Mikromineral ?

Disamping elektrolit basal, seperti natrium, kalium, klor, larutan maintenance masa kini harus
mengandung mikromineral yang dibutuhkan untuk proses metabolisme. Peran dan dosis anjuran
diberikan pada tabel 2.

Tabel 2. Fungsi dan Dosis anjuran air dan elektrolit.

Fungsi ASPEN AMINOFLUID

Air(ml) Komponen sel dan kompartemen cairan tubuh 30-40ml/kg 2000


lain, pengaturan suhu, pelarut, pelumas
Na+(mEq) Bersama klorida mempertahankan volume dan 1-2mEq/kg 70
osmolaritas darah, mengatur muatan listrik di
neuromuscular junction dan mempengaruhi asam-
basa
K+(mEq) Kepekaan neuromuskular (Neuromusculer 1-2mEq/kg 40
excitability), sintesis protein dan kolagen, proses
enzimatik dalam produksi energi sel. Bersama
natrium dan kalsium memelihara irama jantung.
Bagian dari sistem dapat tubuh untuk mengatur
asam-basa.
Cl-(mEq) Bersama natrium memelihara osmolaritas cairan Sesuai kebutuhan70
ekstrasel,(ECF). Memelihara imbang sairan. untuk memelihara
Memelihara asam-basa. Pertukaran oksigen dan asam-basa
CO2 di sel darah merah, komponen getah
lambung.
Mg++(mEq) Sangat penting untuk sistem enzim, aktivitas 8-20 10
neuromuskuler, esensial untuk metabolisme ATP,
Na+,K+, pump. Sekresi hormon paratroid dan fungsi
jantung.
Ca++(mEq) Pertumbuhan gigi dan tulang, fungsi 10-15 10
neuromuskular, pembekuan darah, asam-basa dan
aktivasi enzim tertentu.
P(mmol) Esensial untuk metabolisme nutrien Ko-faktor 20-40 20
dalam berbagai sistem enzim, komponen ATP
Zinc merupakan trace element yang dikandung dalam AMINOFLUID
Fungsi Eksresi urin AMINOFLUID

Zinc Memacu penyembuhan jaringan Zinc perlu 7,6 micromol/hari 10 micromol/L


untuk pembentukan kolagen, yang merupakan
bahan penting untuk penyembuhan dan
perbaikan jaringan. Zinc juga memiliki aktivitas
imunitas seluler. Dibutuhkan untuk
metabolisme nutrien dan sintesis asam
nukleat (DNA and RNA)

Mengapa dalam larutan Maintenance ada BCAA (Branch-Chained Amino Acids) ? Leucine, isoleucine dan
valine merupakan asam amino rantai cabang dan merupakan asam amino yang terbanyak diteliti, dan
dibuktikan memiliki efek farmakologis (4,5,6,7,8):

1) Prekursor (zat pendahulu) dalam sintesis glutamine dan alanine pada otot rangka

2) Pada banyak penyakit konsumsi BCAA meningkat

3) Leucine paling jelas efeknya dan berguna untuk sintesis protein. Ini telah diteliti pada sepsis dan luka
bakar

4) BCAA meningkatkan nafsu makan dengan menghambat masuknya triptofan (prekursor serotonin) ke
dalam susunan saraf pusat. Dengan berkurangnya kadar serotonin, maka perangsangan sistem
melanokortin akan berkurang di hipotalamus. Ini diikuyi dengan peningkatan napsu maka
(diperlihatkan pada gambar C dibawah)

5) Pada sepsis rasio BCAA (branched chain amino acids): AAA (aromatic amino acids) akan menurun

6) Pasien yang selamat dari sepsis ternyata memiliki kandungan BCAA lebih tinggi daripada yang
meninggal

7) BCAA memacu aliran darah ke otak.

Gambar A. Ada dua sistem di hipotalamus Melanocortin (Pro-opiomelanocortin) merupakan sistem


saraf serotoninergik. Jika melanocortin dirangsang maka akan terjadi anorexia (tidak napsu makan).
Kebalikannya, NPY bersifat prophagic, artinya jika dirangsang maka napsu makan akan meningkat.
Interaksi kedua sistem inilah yang mengatur imbang asupan dan pemakaian energi.

Gambar B. pada banyak penyakit sistemik, sitokin akan diproduksi oleh sel darah putih, dan ini akan
merangsang pembentukan serotonin dan merangsang melanocortin. Efek perangsangan ini adalah
anoreksia. Serotonin berasal dari triptofan. Triptofan masuk ke dalam sistem saraf pusat melalui saluran
yang sama dengan BCAA. Jadi triptofan bersaing dengan BCAA. Ada bukti bahwa peningkatan triptofan
di otak akan menyebabkan rasa letih central fatigue).

Gambar C. pemberian BCAA (leucine, isoleucine, bvaline) akan memblok masuknya triptofan, disusul
dengan penurunan serotonin. Kemudian nbnapsu makan akan meningkat.

3. Bagaimana Larutan Maintenance Berbeda Dengan Nutrisi Parenteral ?

Walaupun tidak ada definisi yang tegas di dalam kepustakaan, berdasarkan kepentingand ari konstituen
larutan infus, kita bisa mengkategorikan suatu produk sebagai larutan maintenance, jika komponen air
dan elektrolit (dalam konsentrasi moderat) sebagai unsur dominan sedangkan kandungan asam amino
dan glukosa menyediakan sekedar kebutuhan basal untuk homeostasis dan bukan untuk replesi protein
dan energi. Sebaliknya kandungan yang menjadi prioritas dari nutrisi parenteral adalah kandungan asam
amino atau NPC (nonprotein calories baik sebagai karbohidrat atau lipid).

4. Cara Memberikan Larutan Maintenance


Tempat kanula; larutan yang mengandung osmolaritas kurang dari 900 mOsm/L bisa diberikan melalui
vena tepi. Namun sebaiknya dipilih vena yang lebih proksimal (basilica, cephatic atau median cubital)
karena tingginya insiden flebitis jika digunakan vena punggung tangan. Pasien usia lanjut lebih rentan
terhadap flebitis dibandingkan dewasa muda.

Laju pemberian umumnya 20 tetes per menit (drip makro). Namun perlu diperhatikan kandungan
glukosa dan kalium dari setiap larutan infus. Pada dewasa laju maksimum pemberian glukosa adalah 4
g/kg/minute , dan kalium 10 mEq per jam. Walaupun anjuran asupan kalium harian adalah 1-2 mEq/kg,
dosis maintenance minimum dewasa untuk homeostasis bisa dipenuhi dengan 20-30 mEq hari.

Obat suntik tidak boleh dioplos ke dalam AMINOFLUID karena bisa meningkatkan osmolaritas dan
mengganggu kestabilan komposisi. Bila dianggap perlu, obat suntik bisa diberikan dengan piggy bag
(untuk drip kontinyu) atau via stop cork (jika bolus) sementara aliran infus primer dihentikan.

5. Cara Menilai Manfaat Terapi Suportif

Keberhasilan dan kegagalan terapi tidak bisa dilakukan oleh suatu terapi tunggal, tetapi pendukung
sifatnya adalah membantu terapi primer. Untuk mengevaluasi manfaat terapi secara holistil, bisa
digunakan sistem skoring untuk gejala-gejala subyektif yaitu skor fatigue, napsu makan dan aktivitas
sehari-hari.

6. Monitoring dan Komplikasi Potential

Monitoring adalah hal terpenting dala terapi cairan MAINTENANCE. Bila tersedia fasilitas lab, idealnya
diperiksa panel elektrolit dan metabolik (Na +, K+, Cl-, HCO3-, BUN, glukosa, creatinine), sebelum
memberikan cairan. Pada kasus yang cukup serius atau berat paling tidak harus diperiksa Na + dan K+.
Tidak sesuai untuk memberikan cairan natrium rendah (hipotonik) ke pasien dengan hiponatremia. Di
lain pihak, tidak tepat jika cairan dengan natrium tinggi (misal NS) diberikan kepada pasien dengan
hipernatremia. Bilamana perlu, larutan Maintenance bisa digabung dengan larutan pengganti (Asering,
RL, Normal saline) atau produk nutrisi parenteral.

Hipokalemia banyak dijumpai pada pasien rawat-inap dan bisa dicegah. Pentingnya kalium terungkap
dari laporan tentang prevalensi hipokalemia di eberapa rumah sakit, dimana pasien-pasien hanya
diberikan larutan pengganti selama perawatan. Larutan pengganti mengandung 4 mEq/L of K + (Ringer
Lactate) or 0 mEq of K+ (normal saline) Hiperkalemia bisa diinduksi dan atau diperberat jika larutan yang
mengandung kalium diberikan kepada pasien oliguria (vol urine <>

E. PATOFISIOLOGI

Kelainan utama pada DBD ialah (1) bertambahnya permeabilitas vaskuler yang
menyebabkan terjadinya kebocoran plasma dan terjadinya hipovolemi
intravaskuler, (2) gangguan hemostasis (angiopati, trombositopeni dan
koagulopati). Pemulihan volume cairan intravaskuler secara dini dan adekuat
Koagulasi Intravaskuler Diseminata (KID). Secara teoritis tahapan perubahan pada
permeabilitas dinding vaskuler dan pengaruhnya terhadap perbedaan tekanan
onkotik cairan intravaskuler dan ekstravaskuler secara sederhana terlihat pada
gambar Skematis kebocoran plasma pada DBD.

Pada saat terjadi kebocoran plasma, albumin, air dan elektrolit keluar dari
kompartemen intravaskuler kedalam kompartemen ektravaskuler (B). Dengan
adanya protein dalam kompartemen ektravaskuler tekanan osmotik cairan
ekstravaskuler meningkat dan perbedaan (gradien) tekanan osmotik infra dan ektra
vaskuler menurun dengan akibat penarikan masuk air dan elektrolit pada sisi
kapiler venus menurun.

Gambar Skematis kebocoran plasma pada DBD

Berkurangnya cairan yang masuk kembali ke kompartemen intravaskuler


menyebabkan terjadinya hipovolemi intravaskuler, hemokonsentrasi, viskositas
darah meningkat, aliran darah menurun, perfusi jaringan berkurang dan mungkin
terjadi renjatan dengan komplikasi yang berat yaitu KID yang dapat menyebabkan
intravaskuler menyebabkan terkumpulnya cairan di kompartemen ektravaskuler
yang dapat bermanifestasi sebagai cairan pleura, ascites dan cairan pada dinding
organ di perut.

Pada fase penyembuhan permeabilitas dinding vaskuler membaik, kebocoran


plasma berhenti, akan tetapi sebagian albumin/protein masih ada dikompartemen
ekstravaskuler dan perbedaan tekanan infra dan ekstravaskuler belum kembali
normal sehingga masih mungkin terjadi balans negatif antara cairan yang keluar
dan yang masuk kembali kedalam kompartemen intravaskuler (D). Pada saat
semua sisa protein/albumin ekstravaskuler telah dimetabolisma maka perbedaan
tekanan osmotik infra dan ekstra vaskuler menjadi normal kembali (E) cairan
ekstravaskuler (efusi pleura, ascites dll) diresorpsi kembali dan menghilang.

F. PENATALAKSANAAN

Pengobatan DBD bersifat suportif simptomatik dengan tujuan memperbaiki sirkulasi dan mencegah
timbulnya renjatan dan timbulnya Koagulasi Intravaskuler Diseminata (KID).

Selama 3 dekade telah dilakukan penilaian ulang dan pembaikan pengelolaan DBD di Bagian Ilmu
kesehatan Anak RS Sumber Waras, dan upaya ini diikuti dengan penurunan angka kematian, walaupun
demikian harus diingat berbagai faktor lain yang mungkin berpengaruh terhadap mortalitas DBD secara
umum.

Larutan Kristaloid

Cairan yang dapat diberikan pada penderita DBD menurut WHO ialah cairan
Dextrose 5% - Saline fisiologik (aa), pada DSS dapat diberikan larutan Ringer Laktat
(RL), dextrose 5% - saline fisiologik, dektrose 5%-0,5 saline (D5-0,5S), dextrose 5%-
0,5 RL atau dextrose 5%-1/3 saline. Terapi standar yang diberikan pada penderita
DBD di RS Sumber Waras sejak tahun 1968 ialah larutan dextrosa 5%-0,5 saline.
Pemilihan larutan ini dalam terapi DBD ialah dengan pertimbangan pada DBD
perbedaan tekanan osmotik infra dan ekstra vaskuler menurun sehingga bila
diberikan larutan isotonik atau hipotonik dapat memperberat terjadinya cairan
ekstravaskuler (efusi pleura).

Dalam keadaan normal pada kapiler arterial terdapat perbedaan antara tekanan
hidrostatik (35 mmHg) yang mendorong air keluar pembuluh darah dengan tekanan
osmotik cairan (25 mmHg) yang menahan air keluar vaskuler. Di lain pihak pada
kapiler venous perbedaan terjadi karena menurunnya tekanan hidrostatik (15
mmHg) sedangkan tekanan osmotik tetap (25 mmHg). Dengan demikian jumlah
cairan yang keluar dari kapiler arterial sama dengan cairan yang masuk ke
kompartemen intravaskuler di daerah kapiler venous.

Pemberian larutan RL secara bolus (20 ml/kg BB) akan menyebabkan penambahan volume vaskuler
hanya dalam waktu yang singkat karena larutan tersebut akan segera didistribusikan ke seluruh
kompartemen interstisial (ekstravaskuler) dengan perbandingan 1:3, sehingga dari 20 ml bolus tersebut
hanya 5 ml yang tetap berada dalam ruang intravaskuler dan 15 ml masuk ke dalam ruang interstisial.
Pada DBD dimana terjadi kebocoran plasma mungkin lebih banyak larutan RL yang masuk ke ruang
interstisial karena menurunnya perbedaan tekanan osmotik infra dan ekstra vaskuler. Secara teoritis
pemberian larutan Dextrose 5%-0,5 saline yang bersifat hipersomatik mungkin dapat mengurangi
redistribtisi larutan ke ruang interstisial dan dengan demikian efek ekspansi vaskuler lebih lama dari RL.

Larutan Koloid

Dalam upaya menurunkan kematian DSS dirasakan perlunya pemberian


larutan yang dapat dengan segera memperbaiki volume intravaskuler dan aliran
darah, tanpa memperberat risiko bertambahnya efusi pleura.

Untuk mengatasi renjatan selain pemberian cairan kristaloid dipikirkan juga


pemberian cairan koloid yang bertahan lebih lama dalam sirkulasi dan mudah
dimetabolisme bila terjadi ekstravasasi ke dalam jaringan. Sejak tahun 1988 dalam
protokol penatalaksanaan DSS di RS Sumber Waras dipergunakan larutan koloid 6%
hexaethyl starch (HES) 40/0,5. Mengingat kelainan utama pada DBD/ DSS adalah
bertambahnya permeabilitas kapiler yang menyebabkan kebocoran plasma, maka
dalam pemilihan larutan koloid dipertimbangkan sifat sebagai berikut :

1) Oleh karena pada DBD terjadi kebocoran plasma, dipilih larutan koloid golongan
karbohidrat (dextran atau HES), dengan pertimbangan bila keluar dari ruangan
intravaskuler ke kompartemen interstisial dapat dimetabolisme dengan tuntas
menjadi H O dan CO .
2 2

2) Manfaat ekspansi/pengembangan volume vaskuler.

Berdasarkan pengamatan Himalgyi efek pemberian koloid terhadap volume


vaskuler dapat dibagi dalam 3 kelompok yaitu :
a) Ekspander fase dini (early phase volume expander)

Pada golongan ini efek dini terhadap ekspansi volume koloid yang diberikan
akan tetapi segera setelah infus dihentikan menurun kembali dan dapat
menimbulkan hipovolemi lagi oleh karena sebenarnya jumlah koloid yang diberikan
kurang dari kebutuhan. Termasuk dalam golongan ini ialah larutan koloid
hiperonkotik antara lain 10% dextran 40,6% HES 200/0,5 dan 10% HES 200/0,5.

b) Ekspander fase lambat (late phase volume expander)

Larutan koloid golongan ini pada awalnya tidak bersifat hiperonkotik. Pada
fase awal manfaat ekspansi 80% dari jumlah koloid yang diberikan, sehinggaa
larutan koloid yang diberikan melebihi jumlah defisit. Pada fase selanjutnya terjadi
pemecahan HES molekul besar oleh amilase darah menjadi HES molekul kecil yang
masih bersifat koloid sehingga efek lambat dari koloid ini ialah larutan bersifat
hiperonkotik, cairan ekstraseluler masuk kedalam lumen intravaskuler, dengan
daya ekspansi sebesar 190% dari jumlah/volume yang diberikan dengan risiko dapat terjadi oedem
paru. Termasuk dalam kelompok ini ialah 6% HES 450/0,7.

c) Volume replacement solution

Larutan koloid 6% dextran 60,5% dextran 40 dan 6% HES 40/0,5 bersifat isoonkotik, efek terhadap
ekspansi volume intravaskuler berjumlah 100% dari jumlah koloid yang diberikan.

1) Metabolisme dan lamanya tissue persistance bila larutan koloid keluar dari pembuluh darah.

Hal ini penting untuk dipertimbangkan oleh karena pada DBD/DSS terjadi kebocoran plasma sehingga
secara teoritis koloid dengan BM rendah mungkin ikut keluar dari pembuluh darah (ekstravasasi).
Metabolisme dextran dan HES 40 sama yaitu ekskresi terutama melalui urin dan sebagian hasil melalui
traktus gastrointestinalis. Sisanya diambil oleh hati, limpa dan ginjal dan pada organ ini dipecah secara
tuntas menjadi H dan CO. Sebagian kecil koloid yang diinfuskan mengalami ekstravasasi dan menetap
dalam jaringan. Makin banyak koloid yang mengalami ekstravasasi dan makin lambat metabolismenya
makin besar kerusakan jaringan terutama pada kelenjar limfe, hati dan ginjal. Begitu pula makin besar
BM koloid dan makin banyak ikatan hydroxyetilglycosid, makin banyak sisa koloid di jaringan. Fraksi
residu dari 6% HES 40/0,7 berjumlah 37%, 10% HES 200/0,5 berjumlah 26%, 6% HES 200/0,5 berjumlah
28% dan 6% HES 40/0,5 berjumlah 2%.

2) Hipersensitivitas

Frekuensi reaksi alergik setelah pemberian dextran berkisar antara 0.002%-4,6% pada pemberian HES
berkisar antara 0,08%-2,6%. Cardia Respiratory arrest hanya timbul pada pemberian deztran terutama
dextran 60 dan HES 450, renjatan pada pemberian HES 200 sedangkan reaksi alergi pada pemberian HES
40 bersifat ringan sampai sedang.

3) Efek Rheologik dari larutan koloid yang bermanfaat dalam pencegahan terjadinya komplikasi lebih
lanjut dari DSS.

Efek rheologik meliputi :

1. Penurunan viskositas darah

2. Penurunan viskositas plasma darah

3. Efek dis-agregasi terhadap eritrosit

4. Memperbaiki fleksibilitas eritrosit

5. Efek dis-agregasi terhadap trombosit

6. Sirkulasi mikro dan perfusi jaringan.

Dextran dan HES molekul besar menurunkan viskositas darah tapi tidak
menurunkan viskositas plasma darah. 10% Dextran 40 menyebabkan kenaikan
viskositas plasma darah dan mengurangi fleksibilitas eritrosit. Sedangkan 6% HES
40/0,5 memberikan semua efek rheologik di atas. Efek dis-agregasi eritrosit
disebabkan karena dilusi dari aggregating protein (fibrinogen dan 2 makroglobulin) serta pada

pemberian koloid muatan listrik positif pada dinding eritrosit bertambah sehingga sesuai
dengan hukum fisika akan memberikan efek saling menolak/menjauh sehingga
tidak mudah terjadi agregasi (rouleux formation). Keadaan tersebut terjadi pula
pada trombosit sehingga agregasi trombosit dicegah sehingga kemungkinan
terjadinya KID dikurangi. Pada pemberian cairan kristaloid muatan listrik positif
berkurang sehingga terjadi tendensi untuk saling mendekat dan terjadi agregasi.
Daya menurunkan agregasi trombosit HES 40 lebih baik dari Dextran.

Efek rheologik tersebut menyebabkan aliran darah lebih lancar, eritrosit lebih
fleksibel sehingga mikrosirkulasi dan perfusi jaringan lebih baik dan dapat
mencegah terjadinya asidosis metabolik.

Sifat 6% HES 40/0,5 secara teoritis dapat memperbaiki renjatan dengan risiko
efusi pleura minimal serta efek rheologiknya dapat mencegah komplikasi lebih
lanjut dari DSS termasuk KID dan perdarahan hebat.

Larutan Albumin

Larutan albumin 5% bersifat isoonkotik sedangkan larutan albumin 25%


bersifat hiperonkotik dengan daya ekspansi volume tiap 1 g (4 ml) dapat menarik
air dari ekstravaskuler sebanyak 18 ml. Pemberian albumin 25% secara bolus
mungkin menaikkan tekanan onkotik plasma sehingga air dan elektrolit masuk ke
pompartemen intravaskuler dengan demikian memperbaiki volume intravaskuler.
Sifat dan manfaat larutan albumin sama dengan plasma darah

BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa pengaruh berbagai faktor tersebut pada respons
penderita terhadap obat pada umumnya menyebabkan regimen dosis obat perlu disesuaikan. Besarnya
penyesuaian dosis biasanya tidak dapat diperhitungkan, jadi hanya dikira-kira saja berdasarkan educated
guess, kecuali dalam hal penyesuaian terhadap berat badan dan penyesuaian akibat gangguan organ
yang lain. Penyesuaian dosis hasil perhitungan tidak menjamin dosis yang tepat, karena disamping
adanya asumsi-asumsi dalam melakukan perhitungan farmakokinetik sehingga kadar yang dicapai belum
tentu dalam batas-batas kadar terapi, masih ada faktor-faktor farmakodinamik yang tidak
diperhitungkan, yang dapat memberikan respons yang menyimpang meskipun kadar yang dicapai sudah
benar. Tetapi penyesuaian dosis hasil perhitungan tentunya lebih mendekati dosis yang tepat
dibandingkan dengan dosis hasil perkiraan saja.

Dengan demikian pengamatan dan pemantauan klinis yang ketat dan berkesinambungan merupakan
tindakan yang mutlak harus dikerjakan dalam pengelolaan DBD dan penyakit yang lain. Ringer Asetat
dan Ringer Laktat sangat efektif sebagai terapi resusitasi pasien dengan dehidrasi berat dan syok,
terlebih kondisi asidosis.

B. SARAN

- Sebaiknya cara pemberian cairan infus disesuaikan dengan kondisi pasien

- Memberikan terapi suportif yang baik akan memacu penyembuhan pasien.

DAFTAR PUSTAKA

Daniel, 2008, Kolom (Paradigma Baru dalam Terapi Cairan Maintenance), Vol. 7, Jakarta.

Daniel, 2006, Gerai (Ringer Asetat “Asering(R)” Mencegah Hipotermia Perioperatif Sectio), Vol. 5, Jakarta.

.......... , 2000, Ringer Laktat (Lactate Ringer Injection USP), PT. Widatra Bhakti, Pandaan, Jawa Timur.

Staf Farmakologi FKUI, 2000, Farmakologi dan Terapi, Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta.

Tatang Kustiman Samsi, 2000, Cermin Dunia Kedokteran (Artikel : Penatalaksanaan Demam Berdarah
Dengue di RS Sumber Waras), Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara, Jakarta.
Diposkan oleh KIMIA UNS di 20.45

Label: 1, suma'iyah, terapan 1

1 komentar:

keseimbangan cairan

BAB I

PENDAHULUAN

2.1 Latar belakang

Untuk mempertahankan kesehatan dibutuhkan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa di
dalam tubuh. Keseimbangan ini dipertahankan oleh asupan, distribusi, haluaran air dan elektrolit, sistem
renal dan paru. Banyak faktor yang menyebabkan ketidakseimbangan salah satunya karena penyakit.

Orang dewasa yang aktif bergerak dan memiliki orientasi yang baik biasanya dapat
mempertahankan keseimbangan cairan yang normal karena mekanisme adaptif tubuhnya. Namun bayi,
orang dewasa yang menderita penyakit berat,klien dengan gangguan orientasi atau klien yang immobile,
serta lansia sering kali tidak dapat berespons secara mandiri, dan seiring dengan waktu kapasitas adaptif
tubuh mereka tidak lagi dapat mempertahankan keseimbangan cairan tanpa adanya bantuan.

Dengan penjelasan tersebut di atas penyusun ingin menjelaskan tentang keseimbangan cairan
dan elektrolit sera berbagai macan faktor atau hal hal yang berkaitan dengan keseimbangan cairan dan
elektrolit. Serta menjelaskan bagaimana asuhan keperawatan yang di berika pada pasien dengan
gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.

2.2 Rumusan masalah

1.         Apa yang dimaksud dengan keseimbangan cairan dan elektrolit ?


2.         Apa sajakah organ – organ dan sistem yang berpengaruh dalam keseimbangan cairan dan elektrolit ?
3.         Apa sajakah variabel – variabel yang berpengaruh dalam keseimbangan cairan dan elektrolit ?
4.         Apa sajakah macam – macam cairan dan elektrolit ?
5.         Apa sajakah masalah atau gangguan dalam keseimbangan cairan dan elektrolit ?
6.         Bagaimanakah komposisi cairan dan elektrolit yang diperlukan tubuh ?
7.         Bagaimanakah proporsi cairan dan elektrolit yang diperlukan tubuh ?
8.         Bagaimanakah regulasi cairan dan elektrolit yang diperlukan tubuh ?
9.         Bagaimanakah kebutuhan cairan dan elektrolit yang dibutuhkan oleh tubuh ?
10.     Bagaimanakah asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit ?

2.3              Tujuan penulisan

2.3.1 Tujuan Umum

Mahasiswa mengetahui tentang berbagai macam keperawatan.

2.3.2        Tujuan Khusus


Mahasiswa mampu mengetahui apa yang dimaksud dengan keseimbangan cairan dan elektrolit,
mahasiswa mampu mengetahui organ – organ dan sistem yang berpengaruh dalam keseimbangan
cairan dan elektrolit, mahasiswa mampu mengetahui variabel – variabel yang berpengaruh dalam
keseimbangan cairan dan elektrolit, Mahasiswa mampu mengetahui macam – macam cairan dan
elektrolit, Mahasiswa mampu mengetahui masalah atau gangguan dalam keseimbangan cairan dan
elektrolit, Mahasiswa mampu mengetahui komposisi cairan dan elektrolit yang diperlukan tubuh,
Mahasiswa mampu mengetahui proporsi cairan dan elektrolit yang diperlukan tubuh, Mahasiswa
mampu mengetahui regulasi cairan dan elektrolit yang diperlukan tubuh, Mahasiswa mampu
mengetahui kebutuhan cairan dan elektrolit yang dibutuhkan oleh tubuh, Mahasiswa mampu
mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.

2.4              Metode penulisan

Metode yang digunakan dalalm pembuatan makalah ini adalah metode kepustakaan.

2.5              Manfaat penulisan

Dengan adanya penyusunan makalah ini, diharapkan dapat mempermudah penyusun dan
pembaca guna memahami materi tentang keseimbangan cairan dan elektrolit. Dan diharapkan
penyusunan makalah ini dapat menambah pengetahuan dan kemampuan penulis dalam membuat
sebuah karya tulis berupa makalah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian

Tubuh manusia membutuhkan keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran. Cairan


dimasukkan melalui mulut, atau secara parenteraldan cairan meninggalkan tubuh dari saluran
pencernaan, paru – paru, kulit, dan ginjal. Klien dari berbagai umur dapat mengalami kondisi tidak
terpenuhinya kebutuhan cairan, tetapi manusia yang paling muda dan paling tua memiliki resiko
terbesar.

Dehidrasi dan edema mengindikasikan tidak terpenuhinya kebutuhan cairan.dehidrasi mungkin


karena demam berlebihan atau berkepanjangan, muntah, diare, trauma,atau kondisi lainya yang
menyebabkan kehilangan cairan dengan cepat.edema juga diikuti oleh gangguan elektrolitdan bisa
muncul pada gangguan nutrisi, kardiovaskular, ginjal, kanker, traumatic, atau gangguan lain yang
menyebabkan akumulasi cairan dengan cepat.

2.2 Organ – organ dan sistem – sistem yang berperan

1. Pengaturan kebutuhan cairan dan elektrolit dalam tubuh diatur oleh ginjal, kulit paru, dan
gastrointestinal.

A.       Ginjal
Ginjal merupakan organ yang memiliki peran cukup besar dalam mengatur kebutuhan cairan dan
elektrolit. Hal ini terlibat pada fungsi ginjal, yaitu sebagai pengatur air, pengatur konsentrasi garam
dalam dara, pengatur keseimbangan asam basa darah, dan ekskresi bahan buangan atau kelebihan
garam.
Proses pengaturan kebutuhan kaseimbangan air ini diawali oleh kemampuan bagian ginjal, seperti
glomerulus, dalam menyaring cairan. Rata-rata setiap satu liter darah mengandung 500 cc plasma yang
mengalir melalui glomerulus, 10 persennya disaring keluar. Cairan yang tersaring (filtrat glomerulus),
kemudian mengalir melaui tubuli renalis yang sel-selnya menyerap semua bahan yang dibutuhkan.
Jumlah urine yang diproduksi ginjal dapat dipegruhi okleh ADH dan aldosteron rata-rata 1 ml/kg/bb/jam.
B.        Paru – paru
Organ paru berperan mengeluarkan cairan dengan menghasilkan insensible water loss kurang
lebih 400 ml/hari. Proses pengeluaran cairan terkait dengan respons akibat perubahan upaya
kemampuan bernapas.
C.       Kulit
Kulit merupakan bagian penting pengaturan cairan yang terkait dengan proses pengaturan panas.
Proses ini diatur oleh pusat pengatur panas yang disarafi oleh vaso motorik dengan kemampuan
mengendalikan arteriol kutan dengan cara vasodilatasi dan vasokonstriksi. Proses pelepasan panas
dapat dilakukan dengan cara penguapan panas. Jumlah keringat yang dikeluarkan tergantung pada
banyaknya darah yang mengalir melalui pembuluh darah dalam kulit. Proses pelepasan panas lainnya
dapat dilakukan melaui cara pemancaran panas keudara sekitar konduksi (yaitu, pengalihan panas
kebenda yang disentuh), dan konveksi (yaitu, pengaliran udara panas kepermukaan yang lebih dingin).
Keringat merupakan sekresi aktif dari kelenjar keringat dibawah pengendalian saraf simpatis.
Melalui kelenjar keringat ini suhu dapat diturunkan dengan jumlah air yang dapat dilepaskan, kurang
lebih setengah liter sehari. Perangsangan kelenjar keringat yang dihasilkan dapat diperoleh melalui
aktivitas otot, suhu lingkungan , dan kondisi sushu tubuh yang panas.

D.    Gastrotestinal
Gastrointestinal merupakan organ saluran pencernaan yang berperan dalam mengeluarkan cairan
melalui proses penyerapan dan pengeluaran air. Dalam kondisi normal, cairan yang hilang dalam sistem
ini sekitar 100-200 ml/hari.

2. Pengaturan keseimbangan cairan dapat melalui sistem endokrin, seperti sistem hormonal (anti diuretik
hormon ADH), aldosteron, prostaglandin, glukokortikoid, dan mekanisme rasa haus.

A. Aldosteron

Hormon ini berfungsi sebagai absorbsi natrium yang disekresi kelenjar adrenal dan tubulus ginjal. Proses
pengeluaran aldosteron ini diatur oleh adanya perubahan konsentrasi kalium, natrium, dan sistem
angiostensin renin.

B. Prostaglandin

Prostaglandin merupakan asam lemak yang terdapat pada laringan yang berfungsi merespons radang,
mengendalikan tekanan darah dan kontraksi utarus serta mengatur pergerakan gastrointestul. Pada
ginjal, asam lemak ini berperan dalam mengatur sirkulasi ginjal.

C. ADH
Hormon ini memiliki peran dalam meningkatkan reabsorbsi air sehinggadapat mengendalikan
keseimbangan air dalam tubuh. Hormon ini dibentuk oleh hipotalamus di hipofisis posterior, yang
mensekresi ADH dengan meningkatkan osmolaritas dan menurunkan cairan ekstrasel.

D. Glukokortikoid

Hormon ini berfungsi mengatur peningkatan reapsorpsi natrium dan air yang menyebabkan volume
darah meningkat sehingga terjadi retensi natrium.

E.  Mekanisme Rasa Haus


Mekanisme rasa haus diatur dalam rangka memenuhi kebutuhan cairan dengan cara merangsang
pelepasan renin yang dapat menimbulkan produksi angiotensin II sehingga merangsang hipotalamus
untuk rasa haus.

2.3 Distribusi cairan dan elektrolit

A. Distribusi cairan

Cairan tubuh didistribusi dalam dua kompartemen yang berbeda, yakni : cairan Ekstrasel (CES) dan
cairan intrasel (CIS)

1.      Cairan Ekstrasel (CES)


Cairan yang berada di luar sel disebut cairan ekstraselular. Jumlah relatif cairan ekstraselular
berkurang seiring dengan usia. Pada bayi baru lahir, sekitar setengah dari cairan tubuh terdapat di cairan
ekstraselular. Setelah usia 1 tahun, jumlah cairan ekstraselular menurun sampai sekitar sepertiga dari
volume total. Ini sebanding dengan sekitar 15 liter pada dewasa muda dengan berat rata-rata 70 kg.
Cairan ekstrasel diklasifikasikan menjadi beberapa macam :
a.      Cairan Interstitial
Cairan yang mengelilingi sel termasuk dalam cairan interstitial, sekitar 11-12 liter pada orang dewasa.
Cairan limfe termasuk dalam volume interstitial. Relatif terhadap ukuran tubuh, volume ISF adalah
sekitar 2 kali lipat pada bayi baru lahir dibandingkan orang dewasa.
b.      Cairan Intravaskular
Merupakan cairan yang terkandung dalam pembuluh darah (contohnya volume plasma). Rata-rata
volume darah orang dewasa sekitar 5-6L dimana 3 liternya merupakan plasma, sisanya terdiri dari sel
darah merah, sel darah putih dan platelet.
c.       Cairan transeluler
Merupakan cairan yang terkandung diantara rongga tubuh tertentu seperti serebrospinal, perikardial,
pleura, sendi sinovial, intraokular dan sekresi saluran pencernaan. Pada keadaan sewaktu, volume cairan
transeluler adalah sekitar 1 liter, tetapi cairan dalam jumlah banyak dapat masuk dan keluar dari ruang
transeluler.
2.      cairan intrasel (CIS)
Cairan yang terkandung di antara sel disebut cairan intraselular. Pada orang dewasa, sekitar
duapertiga dari cairan dalam tubuhnya terdapat di intraselular (sekitar 27 liter rata-rata untuk dewasa
laki-laki dengan berat badan sekitar 70 kilogram), sebaliknya pada bayi hanya setengah dari berat
badannya merupakan cairan intraselular.
Fungsi cairan tubuh :

Air merupakan bagian terbesar dari komposisi tubuh manusia. Hampir semua reaksi di dalam
tubuh manusia memerlukan cairan. Agar metabolisme tubuh berjalan dengan baik, dibutuhkan masukan
cairan setiap hari untuk menggantikan cairan yang hilang

Fungsi cairan tubuh antara lain:

1.      Mengatur suhu tubuh


Bila kekurangan air, suhu tubuh akan menjadi panas dan naik.
2.      Melancarkan peredaran darah
Jika tubuh kita kurang cairan, maka darah akan mengental. Hal ini disebabkan cairan dalam darah
tersedot untuk kebutuhan dalam tubuh. Proses tersebut akan berpengaruh pada kinerja otak dan
jantung.
3.      Membuang racun dan sisa makanan
Tersedianya cairan tubuh yang cukup dapat membantu mengeluarkan racun dalam tubuh. Air
membersihkan racun dalam tubuh melalui keringat, air seni, dan pernafasan.
4.      Kulit
Air sangat penting untuk mengatur struktur dan fungsi kulit. Kecukupan air dalam tubuh berguna untuk
menjaga kelembaban, kelembutan, dan elastisitas kulit akibat pengaruh suhu udara dari luar tubuh.
5.      Pencernaan
Peran air dalam proses pencernaan untuk mengangkut nutrisi dan oksigen melalui darah untuk segera
dikirim ke sel-sel tubuh. Konsumsi air yang cukup akan membantu kerja sistem pencernaan di dalam
usus besar karena gerakan usus menjadi lebih lancar, sehingga feses pun keluar dengan lancar.
6.      Pernafasan
Paru-paru memerlukan air untuk pernafasan karena paru-paru harus basah dalam bekerja memasukkan
oksigen ke sel tubuh dan memompa karbondioksida keluar tubuh. Hal ini dapat dilihat apabila kita
menghembuskan nafas ke kaca, maka akan terlihat cairan berupa embun dari nafas yang dihembuskan
pada kaca.
7.      Sendi dan otot
Cairan tubuh melindungi dan melumasi gerakan pada sendi dan otot. Otot tubuh akan mengempis
apabila tubuh kekurangan cairan. Oleh sebab itu, perlu minum air dengan cukup selama beraktivitas
untuk meminimalisir resiko kejang otot dan kelelahan.
8.      Pemulihan penyakit
Air mendukung proses pemulihan ketika sakit karena asupan air yang memadai berfungsi untuk
menggantikan cairan tubuh yang terbuang.

B. Komposisi cairan tubuh

Cairan yang bersikulasi di seluruh tubuh di dalam ruang cairan intrasel dan ekstrasel mengandung
elektrolit, mineral dan sel.

Elektrolit merupakan sebuah unsure atau senyawa yang jika melebur atau larut di dalam air atau
pelarut lain akan pacah menjadi ion dan mampu membawa muatan listrik.

Elektrolit dibedakan menjadi ion positif (kation) dan ion negatif (anion). Jumlah kation dan anion
dalam larutan adalah selalu sama (diukur dalam miliekuivalen).

1.      Ion positif ( kation )


Kation utama dalam cairan ekstraselular adalah sodium (Na+), sedangkan
kation utama dalam cairan intraselular adalah potassium (K+). Suatu sistem pompa terdapat di dinding
sel tubuh yang memompa keluar sodium dan potassium ini.
2.      Ion negative ( anion )
Anion utama dalam cairan ekstraselular adalah klorida (Cl-) dan bikarbonat (HCO3-), sedangkan anion
utama dalam cairan intraselular adalah ion fosfat (PO43-).

Karena kandungan elektrolit dalam plasma dan cairan interstitial pada intinya sama maka nilai
elektrolit plasma mencerminkan komposisi dari cairan ekstraseluler tetapi tidak mencerminkan
komposisi cairan intraseluler.
1.      Natrium

Natrium sebagai kation utama didalam cairan ekstraseluler dan paling berperan di dalam
mengatur keseimbangan cairan. Kadar natrium plasma: 135-145mEq/liter.12 Kada natrium dalam
plasma diatur lewat beberapa mekanisme:

            Left atrial stretch reseptor


            Central baroreseptor
            Renal afferent baroreseptor
            Aldosterone (reabsorpsi di ginjal)
            Atrial natriuretic factor
            Sistem renin angiotensin
            Sekresi ADH
            Perubahan yang terjadi pada air tubuh total (TBW=Total Body Water)

Kadar natrium dalam tubuh 58,5mEq/kgBB dimana + 70% atau 40,5mEq/kgBB dapat berubah-
ubah. Ekresi natrium dalam urine 100-180mEq/liter, faeces 35mEq/liter dan keringat 58mEq/liter.
Kebutuhan setiap hari = 100mEq (6-15 gram NaCl).

Natrium dapat bergerak cepat antara ruang intravaskuler dan interstitial maupun ke dalam dan
keluar sel. Apabila tubuh banyak mengeluarkan natrium (muntah,diare) sedangkan pemasukkan
terbatas maka akan terjadi keadaan dehidrasi disertai kekurangan natrium. Kekurangan air dan natrium
dalam plasma akan diganti dengan air dan natrium dari cairan interstitial. Apabila kehilangan cairan
terus berlangsung, air akan ditarik dari dalam sel dan apabila volume plasma tetap tidak dapat
dipertahankan terjadilah kegagalan sirkulasi.

2.      Kalium
Kalium merupakan kation utama (99%) di dalam cairan ekstraseluler berperan penting di dalam
terapi gangguan keseimbangan air dan elektrolit. Jumlah kalium dalam tubuh sekitar 53 mEq/kgBB
dimana 99% dapat berubah-ubah sedangkan yang tidak dapat berpindah adalah kalium yang terikat
dengan protein didalam sel. Kadar kalium plasma 3,5-5,0 mEq/liter, kebutuhan setiap hari 1-3
mEq/kgBB. Keseimbangan kalium sangat berhubungan dengan konsentrasi H+ ekstraseluler. Ekskresi
kalium lewat urine 60-90 mEq/liter, faeces 72 mEq/liter dan keringat 10 mEq/liter.
3.      Magnesium
Magnesium ditemukan di semua jenis makanan. Kebutuhan unruk pertumbuhan + 10 mg/hari.
Dikeluarkan lewat urine dan faeces.
4.      Kalsium
Kalsium dapat dalam makanan dan minuman, terutama susu, 80-90% dikeluarkan lewat faeces
dan sekitar 20% lewat urine. Jumlah pengeluaran ini tergantung pada intake, besarnya tulang, keadaan
endokrin. Metabolisme kalsium sangat dipengaruhi oleh kelenjar-kelenjar paratiroid, tiroid, testis,
ovarium, da hipofisis. Sebagian besar (99%) ditemukan didalam gigi dan + 1% dalam cairan ekstraseluler
dan tidak terdapat dalam sel.
5.      Karbonat
Asam karbonat dan karbohidrat terdapat dalam tubuh sebagai salah satu hasil akhir daripada
metabolisme. Kadar bikarbonat dikontrol oleh ginjal. Sedikit sekali bikarbonat yang akan dikeluarkan
urine. Asam bikarbonat dikontrol oleh paru-paru dan sangat penting peranannya dalam keseimbangan
asam basa.

2.4              Proporsi cairan dan elektrolit tubuh

Kebutuhan cairan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia secara fisiologis, yang
memiliki proporsi besar dalam bagian tubuh, hampir 90% dari total berat badan tubuh. Sementara itu,
sisanya merupakan bagian padat dari tubuh. Secara keseluruhan, kategori presentase cairan tubuh
berdasarkan umur adalah : bayi baru lahir 75% dari total berat badan, pria dewasa 57% dari total berat
badan, wanita dewasa 55% dari total berat badan, dan dewasa tua 45% dari berat badan. Presentase
cairan tubuh bervariasi, bergantung pada factor usia, lemak dalam tubuh, dan jenis kelamin. Jika lemak
tubuh sedikit, maka cairan dalam tubuh pun lebih besar. Wanita dewasa mempunyai jumlah cairan
tubuh lebih sedikit disbanding pria karena pada wanita dewasa jumlah lemak dalam tubuh lebih banyak
disbanding pada pria.

Kebutuhan Air bardasarkan Umur dan Berat Badan :

Kebutuhan Air

Umur Jumlah air dalam 24 jam ml/kg berat badan

3 hari 250-300 80-100

1 tahun 1150-1300 120-135

2 tahun 1350-1500 115-125


4 tahun 1600-1800 100-110

10 tahun 2000-2500 70-85

14 tahun 2200-2700 50-60

18 tahun 2200-2700 40-50

dewasa 2400-2600 20-30

A.           PENGATURAN VOLUME CAIRAN TUBUH


Keseimbangan cairan dalam tubuh dihitung dari keseimbangan antara jumlah cairan yang masuk
dan jumlah cairan yang keluar.
1.         Asupan
Asupan (intake) cairan untuk kondisi normal pada orang dewasa adalah ± 2500cc per hari.
Asupan cairan dapat langsung berupa cairan atau ditambah dari makanan lain. Pengaturan mekanisme
keseimbangan cairan ini menggunakan mekanisme haus. Pusat pengaturan rasa haus dalam rangka
mengatur keseimbangan cairan adalah hipotalamus. Apabila terjadi ketidakseimbangan volume cairan
tubuh di mana asupan cairan kurang atau adanya perdarahan, maka curah jantung menurung,
menyebabakan terjadinya penurunan tekanan darah.
2.         Pengeluaran
Pengeluaran (output) cairan sebagai bagian dalam mengimbangi asupan cairan pada orang
dewasa, dalam kondisi normal adalah ±2300 cc. Jumlah air yang paling banyak keluar berasal dari
ekskresi ginjal (berupa urine), sebanyak ±1500 cc per hari pada orang dewasa. Hal ini juga dihubugkan
dengan banyaknya asupan air melalui mulut. Asupan air melalui mulut dan pengeluaran air melalui ginjal
mudah diukur, dan sering dilakukakan melalui kulit (berupa keringat) dan saluran pencernaan (berupa
feses). Pengeluaran cairan dapat pula dikategorikan sebagai pengeluaran cairan yang tidak dapat diukur
karena, khususnya pada pasien luka bakar atau luka besar lainnya, jumlah pengeluaran cairan (melalui
penguapan) meningkat sehingga sulit untuk diukur. Pada kasus seperti ini, bila volume urine yang
dikeluarkan kurang dari 500 cc per hari, diperlukan adanya perhatian khusus. Setipa 1 derajat celcius
akam berpengaru pada output cairan
Pasien dengan ketidakadekuatan pengeluaran cairan memerlukan pengawasan asupan dan
pengeluaran cairan secara khusus. Peningkatan jumlah dan kecepatan pernapasan, deman, keringat,
dan diare dapat menyebabkan kehilangan cairan secara berlebihan adalah muntah secara terus
menerus.
Hasil-hasil pengeluaran cairan adalah:
1.      Urine
Pembentukan urine terjadi di ginjal dan dikeluarkan melalui vesika urinaria (kandung kemih). Proses ini
merupakanproses pengeluaran cairan tubuh yang utama. Cairan dalam ginjal disaring pada glomerulus
dan dalam tubulus ginjal untuk kemudian diserap kembali ke dalam aliran darah. Hasil ekskresi terakhir
proses ini adalah urine. Jika terjadi penurunan volume dalam sirkulasi darah, reseptor atrium jantung kiri
dan kanan akan mengirimkan impuls kembali nke ginjal dan memproduksi ADH sehingga memengaruhi
pengeluaran urine.
2.      Keringat
Keringat terbentuk bila tubuh menjadi panas akibat pengaruh suhu yang panas. Keringat banyak
mengandung garam, urea, asam laktat, dan ion kalium. Banyaknya jumlah keringat yang keluar akan
memengaruhi kadar natrium dalam plasma.
3.      Feses
Feses yang keluar mengandung air dan sisanya berbentuk padat. Pengeluaran air melalui feses
merupakan pengeluaran cairan yang paling sedikit jumlahnya. Jika cairan yang keluar melalui feses
jumlahnya berlebihan,maka dapat mengakibatkan tubuh menjadi lemas. Jumlah rata-rata pengeluaran
cairan melalui feese adalah 100 ml/hari.

2.5              Regulasi cairan dan elektrolit tubuh

Cairan tubuh tidak statis. Cairan dan elektrolit berpindah dari satu kompartemen ke kompartemen
lain untuk memfasilitasi proses - proses yang terjadi dalam tubuh, seperti oksigenasi jaringan, respon
terhadap penyakit, dan respon terhadap terapi obat. Cairan tubuh dan elektrolit berpindah melalui
difusi, osmosis, transport aktif, atau filtrasi. Perpindahan tersebut bergantung pada permeabilitas
membran sel atau kemampuan membran untuk ditembus cairan dan elektrolit.
Proses pergerakan cairan tubuh antar kompertemen dapat berlangsung secara:
1.      Difusi
Adalah proses ketika materi padat, partikel, seperti gula di dalam cairan, berpindah dari daerah
berkonsentrasi tinggi ke daerah berkonsentrasi rendah,sehingga distribusi partikel dalam cairan menjadi
merata.
2.      Osmosis
Adalah perpindahan pelarut murni seperti air melalui membran semipermiabel yang berpindah dari
larutan yang memiliki konsentrasi solute rendah ke tinggi. Kecepatan osmosis bergantung pada
konsentrasi solute di dalam larutan, suhu larutan, muatan listrik solute. Dan perbedaan antara tekanan
osmosis yang dikeluarkan oleh larutan. Tekanan osmotik larutan disebut osmolalitas, suatu larutan yang
osmolitasnya sama dengan plasma darah disebut isotonik
3.      Filtrasi
Adalah suatu proses perpindahan air dan substansi yang dapat larut secara bersamaan sebagai respon
terhadap adanya tekanan cairan. Proses ini bersifat aktif di dalam bantalan kapiler, tempat pembedahan
hidrostatik tau gradient yang menentukan perpindahan air, elektrolit, dan substansi pelarut lain yang
berada diantara cairan kapiler dan cairan intertisial.
4.      Transpor aktif
Transpor aktif memerlukan aktifitas metabolik dan pengeluaran energy untuk menggerakkan materi
guna menembus membran sel. Hal ini memungkinkan sel menerima molekul yang lebih besar dari sel
tersebut , selain itu sel dapat menerima atau memindahkan molekul dari daerah berkonsentrasi rendah
ke tinggi.
Proses regulasi cairan dan elektrolit dipengaruhi oleh beberapa faktor :
1.      Tekanan
Proses difusi dan osmosis melibatkan adanya tekanan cairan. Proses osmotic juga menggunakan
tekanan osmotic, yang merupakan kemampuan partikel pelarut untuk mebarik larutan melalui
membrane.
Bila dua larutan dengan perbedaan konsentrasi dan larutan yang mempunyai konsentrasi lebih
pekat molekulnya tidak dapat bergabung maka larutan tersebut disebut koloid. Sedangkan, larutan yang
mempunyai kepekatan yang sama dan dapat bergabung disebut sebagai kristaloid. Sebagai contoh,
larutan kristaloid adalah larutan garam, tetapi dapat menjadi koloid apabila protein bercampur dengan
plasma. Secara normal, perpindahan cairan menembus membrane sel permeable tidak terjadi. Prinsip
tekanan osmotic ini sangant penting dalam proses pemberian cairan intravena. Biasanya, larutan yang
sering digunakan dalam pemberian infuse intravena bersifat isotonic karena mempunyai konsentrasi
yang sama dengan plasma darah. Hal ini penting untuk mencegah perpindahan cairan dan elektrolit ke
dalam intrasel. Larutan intravena bersifat hipotonik, yaitu larutan yang konsentrasinya kurang pekat
disbanding konsentrasi plasma darah. Tekanan osmotic plasma akan lebih besar dibandingkan tekanan
osmotik cairan interstisial karena konsentrasi protein dalam plasma dan molekul protein lebih besar
disbanding cairan interstisial, sehingga membentuk larutan koloid dan sulit menembus membrane
semipermiabel. Tekanan hidrostatik adalah kemampuan tiap molekul larutan yang bergerak dalam
ruang tertutup. Hal ini penting guna mengatur keseimbangan cairan ekstra dan intrasel.
2.      Membran
Membrane semipermiabel merupakan penyaring agar cairan yang bermolekul besar tidak
bergabung. Membrane semipermiabel terdapat pada dinding kapiler pembuluh darah, yang terdapat di
seluruh tubuh sehingga molekul atau zat lain tidak berpindah ke jaringan.

2.6              Variabel yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit

Kebutuhan cairan dan elektrolit dalam tubuh di pengaruhi oleh faktor – faktor :

1.      usia.
Perbedaan usia menentukan luas permukaan tubuh serta aktivitas organ, sehingga dapat
mempengaruhi jumlah kebutuhan cairan dan elektrolit.

2.      Temperatur.
Temperatur yang tinggi menyebabkan proses pengeluaran cairan melalui keringat cukup banyak,
sehingga tubuh akan banyak kehilangan cairan.

3.      Diet.
Apabila kekurangan nutrien, tubuh akan memecah cadangan makanan yang tersimpan di salamnya
sehingga dalam tubuh terjadi pergerakan cairan dari interstisial, yang dapat berpengaruh pada jumlah
pemenuhan kebutuhan cairan.

4.      Stres.
Stres dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrulit melalui proses
pemingkatan produksi ADH, karena proses ini dapat meningkatkan metabolisme sehingga
mengakibatkan terjadinya glikolisis otot yang dapat menimbulkan retensi sodium dan air.

5.      Sakit.
Pada keadaan sakit terdapat banyaksel yang rusak, sehingga untuk memperbaiki sel yang rusak
tersebut di butuhkan adanya proses oemenuhan kebutuhan cairan yang cukup. Keadaan sakit
menimbulkan ketidk seimbangan sistem dalam tubuh, seperti ketoidak seimbangan hormonal, yang
dapat menggangu keseimbangan kebutuhan cairan.

2.7              Macam - macam cairan dan elektrolit

A.       Cairan nutrient


Pasien yang istirahat ditempat tidur memerlukan sebanyak 450 kalori setiap harinya. Cairan nutrien
( zat gizi ) melalui intravena dapat memenuhi kalori ini dalam bentuk karbohidrat, nitrogen, dan vitamin
yang penting untuk metabolisme. Kalori yang terdapat dalam cairan nutrien dapat berkisar antara 200 –
1500 kalori per liter. Cairan nutrien terdiri atas :

1.      Kabohidrat dan air, contoh; dexstrose (glukosa), levulose(fruktosa), invert sugar(½ dexstrose dan ½
levulose ).
2.      Asam amino. Contoh : amigen, aminosol dan travamin
3.      Lemak, contoh: lipomul dan liposyn

B.        Blood volume Expanders


Blood volume Expanders merupakan bagian dari jenis cairan yang berfungsi meningkatkan volume
pembulu darah setelah kehilangan darah atau plasma. Apabilah keadaan darah sudah tidak sesuai ,
misalnya pasien dalam kondisi pendarahan berat, maka pemberian plasma akan mempertahankan
jumlah volume darah. Pada pasien luka bakar berat, sejumlah besar cairan hilang dari pembulu darah di
daerah luka. Plasma sangat perlu diberikan untuk menggantikan cairan ini. Jenis blood volume
exspanders antara lain: human serum albumin dan dexstran dengan konsentrasi yang berbeda. Kedua
cairan ini mempunyai tekanan osmotik, sehingga secara langsung dapat meningkatkan jumlah volume
darah.

2.8              Kebutuhan cairan dan elektrolit tubuh

A.    Hipovolume atau Dehidrasi

Kekurangan cairan external terjadi karena penurunan asupan cairan dan kelebihan pengeluaran
cairan . tubuh akan merespons kekurangan cairan tubuh dengan menggosongkan cairan vaskuler.
Sebagai kompensasi akibat penurunan cairan intersetisial, tubuh akan mengalirkan cairan keluar sel.
Pengosongan cairan ini pada pasien diare dan muntah. Ada 3 macam kekurangan volum cairan external,
yaitu:

1.      Dehidrasi isotonik, terjadi jika tubuh kehilangan sejumlah cairan dan elektrolit secara seimbang.
2.      Dehidrasi hipertonik, terjadi jika tubuh kehilangan lebih banyak air dari pada elektrolit.
3.      Dehidrasi hipotonik, terjadi jika tubuh kehilangan lebih banyak elektrolit dari pada air.
Kehilangan cairan ekstrasel secara berlebihan menyebabkan volume ekstrasel berkurang (hipo
volume) dan perubahan hematokrit. Pada keadaan ini, tidak terjadi perpindahan cairan daerah intrasal
kepermukaan, sebab osmolaritasnya sama. Jika terjadi kekurangan cairan ekstrasel dalam waktu yang
lama, kadar urea, nitrogen, dan kreatinin meningkat dan menyebabkan cairan intrasel kepembulu darah.
Kekurangan cairan dalam tubuh dapat terjadi secara lambat atau cepat dan tidak selalu cepat diketahui.
Kelebihan asupan pelarut seperti protein dan klorida/ natrium akan menyebabkan eskresi atau
pengeluaran urin secara berlebihan serta berkeringat dalam waktu lama dan terus menerus. Hal ini
dapat terjadi pada pasien yang mengalami hipotalamus, kelenjar gondok, ginjal, diare, muntah secara
terus menerus, pemasangan drainase, dan lain – lain.

Macam dehidrasi berdasarkan derajatnya :

1.      Dehidrasi berat, dengan ciri – ciri


a.       Pengeluaran / kehilangan cairan sebanyak 4 – 6lt
b.      Serum natrium mencapai 159 – 166 mEq/lt
c.       Hipotensi
d.      Turgor kulit buruk
e.    Oliguria
f.     Nadi dan pernapasan meningkat
g.    Kehilangan cairan mencapai > 10% BB
2.      Dehidrasi sedang, dengan ciri –ciri :
a.    Kehilangan cairan 2-4 lt atau antara 5-10% BB
b.   Serum natrium mencapai 152 – 158 mEq/lt
c.    Mata cekung
3.      Dehidrasi ringan, dengan ciri – ciri kehilangan cairan mencapai 5% BB atau 1,5-2 lt
B.     Hipervolume atau overhidrasi
Terdapat 2 hal yang ditimbulkan, yaitu hipervolume dan edema :
a.       Hipervolume ( peningkatan volume darah )
b.      Edema ( kelebihan cairan pada intertisial )
         Pitting edema
Merupakan edema yang berada pada darah perifer atau akan berbentuk cekung setelah ditekan di
daerah yan bengkak, hal ini disebabkan oleh perpindahan cairan ke jaringan melalui titik tekan. Cairan
dalam jaringan yang edema tidak digerakkan kepermukaan lain dengan penekanan jari
         Nonpitting edema
Tidak menunjukan tanda kelebihan cairan extrasel, tetap sering karena infeksi dan trauma yang
menyebabkan membekunya pembukaan jaringan. Kelebihan cairan vaskular meningkatkan hidrostatik
cairan dan akan menekan cairan kepermukaan interstisial.
         Edema anasarka
Merupakan edema yang terletak pada seluruh tubuh
C.     Kebutuhan elektrolit
   Komposisi
         Natrium : 135-145mEq/lt
         Kalium : 3,5-5,3mEq/lt
         Kalsium : 4-5mEq/lt
         Magnesium : 1,5-2,5mEq/lt
         Klorida : 100-106 mEq/lt
         Bikarbonat : 22-26mEq/lt
         Fosfat : 2,5-4,5mg/100ml
   Pengaturan
         Pengaturan keseimbangan natrium
Natrium merupakan kation dalam tubuh yang berfungsi mengatur osmolaritas dan volume cairan tubuh.
Natrium paling banyak terdapat pada cairan ekstrasel. Pengaturan konsentrasi cairan ekstrasel di atur
oleh ADH dan aldosteron. Aldosteron dihasilkan oleh korteks suprarenal dan berfungsi
mempertahankan keseimbangan konsentrasi natrium dalam plasma dan prosesnya di bantu oleh ADH.
ADH mengatur sejumlah air yang di serap kambali ke dalam ginjal dari tubulus renalis. Aldosteron juga
mengatur keseimbangan jumlah natrium yang di serap kembali oleh darah. Natrim tidak hanya bergerak
ke dalam atau keluar tubuh, tetapi juga mengatur keseimbangan cairan tubuh. Ekskresi dari natrium
dapat dilakukan melalui ginjal atau sebagian kecil melalui feses, kringat, dan air mata.
         Pengturan Keseimbangan Kalium

Kalium merupakan kalium merupakan kation utama yang terdapat dalam cairan intrasel dan berfungsi
mengatur keseimbangan elektrolit. Keseimbangan kalium diatur oleh ginjal dangan mekanisme
perubahan ion natrium dalam tubulus ginjal dan sekresi aldosteron. Aldosteron juga berfungsi mengatur
keseimbangan kadar kalium dalam plasma (cairan ekstrasel). System pengaturan keseimbangan kalium
melalui tiga langkah, yaitu:
1.      Peningkatan konsentrasi kalium dalam cairan ekstrasel yang menyebabkan peningkatan produksi
aldosteron .
2.      Peningkatan jumlah aldosteron akan mempengaruhi jumlah kalium yang dikeluarkan melalui ginjal.
3.      Peningkatan pengeluaran kalium; konsentrasi kalium dalam cairan ekstrasel menurun

Kalium berpengaruh terhadap fungsi system pernafasan. Partikel penting dalam kalium berfungsi
menghantar impuls listrik ke jantung, otot lain, jaringan paru, dan jaringan usus pencernan. Ekskresi
kalium di lakukan melalui urine, sebagian melalui feses dan keringat.

         Pengaturan Keseimbangan Kalsium


Kalsium dalam tubuh berfungsi membentuk tulang, menghantar impuls kontraksi otot, koagulasi
(pembekuan) darah, dan membantu beberapa enzim pancreas. Kalsium diekskresi melalui urine dan
keringat. Konsentrasi kalsium dalam tubuh di atur langsung oleh hormone paratiroid dalam reabsorpsi
tulang. Jika kadar kalsium darah menurun, kelenjar paritorid akan merangsang pembentukan hormon
paratiroid yang langsung meningkatkan jumlah kalsium dalam darah.
         Pengaturan Keseimbangan Klorida
Klorida merupakan anion utama dalam cairan ekstrasel, tetapi tidak dapat ditemukan pada cairan
ekstrasel dan intrasel. Fungsi klorida biasanya bersatu dengan natrium, yaitu mempertahankan
keseimbangan tekanan osmosik dalam darah. Hipokloromia merupakan suatu keadaan kekurangan
kadar klorida dalam darah, sedangkan hiperkloromia merupakan kelebihan klor dalam darah.
Normalnya, kadar klorida dalam darah pada orang dewasa adalah 95-108 mEq/lt.
         Pengaturan Keseimbangan Magnesium
Magnesium merupakan kation dalam tubuh, merupakan yang terpenting kedua dalam cairan intrasel.
Keseimbangannya di atur oleh kelenjar paratirioid. Magnesium diabsorpsi dari saluran pencernaan.
Magnesium diabsorpsi dari saluran pencernaan. Magnesium dalam tubuh di pengaruhi oleh konsentrasi
kalsium. Hipomagnesium terjadi bila konsentrasi serum turun menjadi <1,5 mEq/ltd an hipermagnesium
terjadi bila kadar magnesium serta serum meningkat menjadi .2,5 mEq/lt
         Pengaturan keseimbangan bikarbonat
Bikarbonat merupakan elektrolit utama larutan bufter (penyangga) dalam tubuh.
         Pengaturan keseimbangan fosfat
Fosfat (PO4) bersama-sama dengan kalsium berfungsi membentuk gigi dan tulang. Posfat di serap dari
asluran pencernaan dan di keluarkan melalui urine.
2.9              Masalah gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh

A.    Hiponatremia
Hiponatremia merupakan suatu keadaan kekurangan kadar natrium dalam plasma darah yang ditandai
dengan adanya kadar natrium dalam plasma tinggi. Cirri – ci yang dapat ditimbulkan yaitu mukosa
kering, turgor kulit buruk dan permukaan kulit membengkak, kulit kemerahan, lidah kering dan
kemerahan, suhu badan naik. kondisi demikian dapat disebabkan karena dehidrasi, diare, pemasukan air
yang berlebihan sementara asupan garam sedikit.
B.     Hipernatremia
Etiologi :
-          asupan berlebih peroral/enteral
-          Perpindahan K+ ke ekstrasel pada asidosis
-          Pseudohiperkalemia: pada pem. Penderita dg. Lekositosis/trombositosis ok.proses koagulasi/hemolisis.
Gejala:
-          kelemahan otot s/d paralisa
-          Utk.menurunkan K+, meningkatkan hormon2 aldosteron, insulin, epinephrin, glukagon u/ menstabilkan
gula darah
-          Jantung: aritmia/arrest
C.     Hipokalsemia
Etiologi :
1.      Def.vit.D: makanan kurang lemak, sindrom malabsorbsi( gastrektomi, pankreatitis, obat pencahar),
ggn.metab.vit.D (vit.D deficient Rickets= kel.otosomal resesif), renal insuf., ggn.fgs.hati, obat anti kejang
2.      Hipoparatiroidism
3.      Pseudohipoparatiroidism
4.      Keganasan
5.      Hipofosfatemia
Pengobatan : koreksi defisiensi dg kalsium iv( Ca.Gluconat/ klorida 10%) atau peroral
(Ca.Gluconas/karbonat); dpt. Disertai pemberian vit.D dosis besar
D.    Hiperkalsemia
Etiologi:

1.         Hiperparatiroidisme

2.         Tumor ganas yg mengeluarkan PTH


3.         Intoksikasi vit.D

4.         Intoksikasi vit. A

5.         Hipertiroid

6.         Insufisiensi adrenal

7.         Milk Alkali Syndrome: ok pemberian antasid disertai pemberian susu> pada ulkus peptikum atau
pemberian tiasid lama bersama vit.D.
E.     Gangguan keseimb.fosfor
Etiologi:
1.         Antasid pengikat fosfat dosis besar
2.         Luka bakar yg luas & berat
3.         Diet rendah fosfat
4.         Alkalosis respiratorik
5.         Ketoasidosis diabetik
6.         alkoholisme
Gejala
1.         Kerusakan eritrosit
2.         Gangguan fungsi lekosit
3.         Gangguan fungsi trombosit
4.         Gangguan fingsi saraf pusat
5.         Rabdomiolisis
Pengobatan
Pemberian garan fosfat peroral/intravena
Dan masih banyak lagi gangguan yang dapt disebabkan oleh gangguan keseimbangan asam basa
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1              Pengkajian
1.      Riwayat keperawatan
Berisi informasi mengenai masalah kesehatan klien dimasa lalu atau yang baru saja terjadi, yang
menyebabkan resiko terjadinya ketidak seimbangan
2.      Pemeriksaan fisik
Karena gangguan cairan, elektrolit dan asam basa dapat mempengaruhi semua sistem, kita harus
mengidentifikasi secara sistematis setiap adanya abnormalitaspada tubuh. Seperti denyut nadi dan
tekanan darah, sistem pernapasan, sistem gastrotestinal, sistem ginjal, sistem neuromuscular, kulit

3.      Pemeriksaan labolatorium


Pemeriksaan labolatorium dilakukan untuk memperoleh data objektif lebih lanjut tentang keseimbangan
cairan, elektrolit, dan asam basa. Pemeriksaan ini meliputi kadar elektrolit serum, hitung darah lengkap,
kadar keratin darah, berat jenis urine, dan kadar gas darah arteri.
3.2              Diagnosa
1.      Kekurangan volume cairan berhubungan dengan
            Kehilangan plasma yang berkaitan dengan luka bakar
            Muntah
            Kegagalan mekanisme pengaturan
            Demam dan diare
            Retensi natrium
            Disritmia yang berkaitan dengan ketidak seimbangan elektrolit
2.      Kelebihan volume cairan yang berhubungan dengan
            Gangguan pada ginjal sehingga sistem regulasi tidak normal
            Gangguan mekanisme pengaturan
            Disritmia yang berkaitan dengan ketidak seimbangan elektrolit
3.3              Perencanaan
Tujuan :
1.      Klien akan memiliki keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa yang normal
2.      Penyebab ketidakseimbangan dapat diidentifikasi dan dikoreksi
3.      Klien tidak akan mengalami komplikasi akibat terapi yang dibutuhkan untuk mengembalikan status
keseimbangan
Rencana tindakan
1.      Monitor asupan cairan yang diterima olek klien
2.      Lakuakan pembagian jumlah total cairan yang boleh dikonsumsi setiap kali makan, diantara waktu
makan, sebelum tidur dan disaat meminum obat.
3.      Pertahankan keseimbangan cairan yang ada
4.      Implementasikan program yang telah ditetapkan dokter untuk memberikan cairan parenteral yang
mengandung cairan elektrolit jika klien muntah dalam jangka waktu lama
3.4              Implementasi
1.      Mengoreksi ketidak seimbangan cairan dan elektrolit
a.       Penggantian cairan secara enteral
Cairan diberikan secara enteral melalui rute oral dan selang pemberi makan
         Oral
Dapat dilakukan selama klien tidak muntah, tidak mengalami kehilangan cairan dalam jumlah yang
sangat besar, atau tidak mengalami obstruksi mekanis dalam saluran gastrotestinal. Ketika mengganti
cairan per oral pilihlah cairan yang mengandung kalori dan elektrolit yang adekuat
         Selang pemberian makan
Sangat tepat diberikan jika saluran gastrotestinal klien sehat tetapi klien tidak mampu menelan
cairan.semua selang pemberian makan seperti nasogastrik, gastrostomi, atau jejunostomi harus
diberikan sesuai program dokter.
b.      Pembatasan cairan
         Pada klien yang mengalami gagal ginjal, gagal jantung kongestif
Korpulmonal.
         Pembatasan cairan
1.      Memberikan setengah dari jumlah total cairan oral diantara pukul 08.00 dan 16.00, yakni periode saat
klien biasanya lebih aktif dan mendapatkan 2 kali mkanserta meminum sejumlah besar obat – obatan
mereka
2.      Kemudian dua per lima dari jumlah total asupan cairan diberikan diantara 16.00 dan pukul 23.00
3.      Antara pukul 23.00 sampai pukul 08.00 sisa cairan total dapat diberikan
c.       Penggantian cairan elektrolit secara parenteral
Penggantian parenteral meliputi :
1.      Terapi cairan dan elektrolit intravena
Pemberian cairan melalui infus merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan dengan cara
memasukkan cairan melalui intravena dengan bantuan infus set,bertujuan memenhi kebutuhan cairan
dan elektrolit serta sebagai tindakan pengobatan dan pemberian makan.
         Alat dan bahan
a.       Jarum yang sesuai
b.      Larutan yang benar
c.       Infuse set
d.      Standart infuse
e.       Papan penopang ( jika perlu )
f.       Handuk atau pengalas
g.      Alcohol dan swab pembersih
h.      turniket
i.        Kasa atau balutan transparan
j.        Plester
k.      Gunting sarung tangan
         Posedur kerja
a.       Cuci tangan
b.      Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
c.       Pasang pengalas
d.      Buka set infuse pertahankan sterilitas dikedua ujungnya
e.       Tempatkan klem yang dapat digeser tepat dibawah bilik tetesan dan gerakkan klem pen ggeser ke posisi
penghentian aliran infuse
f.       Massukkan set infuse ke dalam kantung atau botol cairan
g.      Buka pelindung jarum dan geserklem penggeser sehingga aliran infuse dapat mengalir dari bilik tetesan
ke adapter jarum,gerakkan lagi klem ke posisi penghentian cairan setelah selang terisi
h.      Pastikan selang bebas dari udara dan gelembung udara
i.        Pasang turniket 10-12cm di atas tempat insersi
j.        Pilih vena
k.      Pakai sarung tangan
l.        Desinfeksi daerah yang akan ditusuk
m.    Lakukan penusukan dengan arah jarum ke atas
n.      Cek apakah sudah mengenai vena (cirinya adalah darah keluar melelui jarum infus/abocath)
o.      Tarik jarum infus dan hubungkan dengan selang infus
p.      Buka tetesan
q.      Lakukan desinfeksi dengan betadine dan tutup dngan kasa steril
r.        Beri tanggal dan jam pelaksanaan infus pada plester
s.       Cuci tangan

Cara Menghitung Tetesan Infus

         Dewasa :

Tetesan / Menit = Jumlah Cairan yang Masuk

Lamanya infus (jam) x 3

         Anak

Tetesan / Menit = jumlah Cairan yang MasUK

Lamanya infus (1 jam)

2.      Penggantian darah


Transfusi darah merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien yang membutuhkan
darah dengan cara memasukkan darah melalui vena dengan menggunakan alat transfuse set. Tujuannya
adalah untuk memenuhi kebutuhan darah dan memperbaiki perfusi jaringan.

Alat dan Bahan :

1.      Standar infuse


2.      Tranfusi Sel
3.      NaCl 0.9 %
4.      Darah sesuai dengan kebutuhan pasien
5.      Jalan infuse / abocath atau sejenisnya sesuai dengan ukuran
6.      Pengalas
7.      Tourniquet / pembendung
8.      Kapas alcohol 70 %
9.      Plester
10.  Gunting
11.  Kasa steril
12.  Betadine
13.  Sarung tangan

Prosedur Kerja :

1.      Cuci tangan


2.      Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3.      Hubungkan cairan NaCl 0.9 % dan tranfusi set dengan cara menusukkan
4.      Isi cairan NaCl 0.9 % ke dalam tranfusi set dengan menekan bagian ruang tetesan hingga ruang tetesan
terisi sebagian dan buka penutup hingga selang terisi dan udaranya keluar.
5.      Letakkan pengalas
6.      Lakukan pembendungan dengan tourniquet
7.      Gunakan sarung tangan
8.      Desinfeksi daerah yang akan ditusuk
9.      Lakukan penusukan dengan arah jarum keatas
10.  Cek apakah sudah mengenai vena (cirinya adalah darah kelaur melalui jarum infuse/abocath)
11.  Tarik jarum infuse dan hubungkan dengan selang tranfusi
12.  Buka tetesan
13.  Lakukan desinfeksi dengan betadine dan tutup dengan kasa steril
14.  Beri tanggal dan jam pelaksanaan infuse pada plester
15.  Setelah NaCl 0.9 % masuk, kurang lebih 15 menit, ganti dengan darah yang sudah disiapkan
16.  Sebelum dimasukkan, terlebih dahulu cek warna darah, identitas pasien, jenis golongan darah, dan
tanggal kedaluwarsa
17.  Lakukan observasi tanda-tanda vital selama pemakaian transfuse
18.  Cuci tangan
3.5              Evaluasi
Perawat mengevaluasi keefektifan perawatan yang tewlah diberikan, secara umunm dapat dinilai dari
penurunanberat badan, peningkatan haluaran urine dalam 24 jam, penurunan atau tidak adanya edema
dependen, turgor kulit baik dan lain sebagainya.
BAB IV

PENUTUP

4.1              Penutup

Semoga makalah ini dapat memberikan gambaran mengenai keseimbangan cairan dan elektrolit.
Bagi institusi sebagai arsip untuk mahasiswa yang lainya.

4.2 Saran

Dengan adanya makalah ini diharap pembaca dapat memahami penjelasan di dalamnya
sehingga dapat diterapkan guna pemaksimalan pemahaman mengenai keseimbangan cairan dan
elektrolit.

Kebutuhan Cairan dan Elektrolit

A.    Pengertian

Air (H2O) merupakan komponen utama yang paling banyak terdapat di dalam tubuh manusia.
Sekitar 60% dari total berat badan orang dewasa terdiri dari air. Namun bergantung kepada kandungan
lemak dan otot yang terdapat di dalam tubuh, nilai persentase ini dapat bervariasi antara 50-70% dari
total berat badan orang dewasa. Oleh karena itu maka tubuh yang terlatih dan terbiasa berolahraga
seperti tubuh seorang atlet biasanya akan mengandung lebih banyak air jika dibandingkan tubuh
nonatlet. Di dalam tubuh, sel-sel yang mempunyai konsentrasi air paling tinggi antara lain adalah sel-sel
otot dan organ-organ pada rongga badan, seperti paru-paru atau jantung, sedangkan sel-sel yang
mempunyai konsentrasi air paling rendah adalah sel-sel jaringan seperti tulang atau gigi. Konsumsi
cairan yang ideal untuk memenuhi kebutuhan harian bagi tubuh manusia adalah mengkonsumsi 1 ml air
untuk setiap 1 kkal konsumsi energi tubuh atau dapat juga diketahui berdasarkan estimasi total jumlah
air yang keluar dari dalam tubuh. Secara rata-rata tubuh orang dewasa akan kehilangan 2.5 L cairan
perharinya. Sekitar 1.5 L cairan tubuh keluar melalui urin, 500 ml melalui keluarnya keringat, 400ml
keluar dalam bentuk uap air melalui proses respirasi (pernafasan) dan 100 ml keluar bersama dengan
feces(tinja). Sehingga berdasarkan estimasi ini, konsumsi antara 8-10 gelas (1 gelas ± 240 ml) biasanya
dijadikan sebagai pedoman dalam pemenuhan kebutuhan cairan per-harinya.
Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuh tetap sehat.
Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah merupakan salah satu bagian dari fisiologi
homeostatis. Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan komposisi dan perpindahan berbagai
cairan tubuh. Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air( pelarut) dan zat tertentu (zat terlarut).
Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika
berada dalam larutan. Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, dan
cairan intravena (IV) dan di distribusi ke seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit
berarti adanya distribusi yang normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh bagian tubuh.
Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung satu dengan yang lainnya; jika salah satu
terganggu maka akan berpengaruh pada yang lainnya.

Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar yaitu :


Ø  cairan intraseluler (CIS) = 40% dari BB total
Adalah cairan yang terkandung di dalam sel. Pada orang dewasa kira-kira 2/3 dari cairan tubuh
adalah intraselular, sama kira-kira 25 L pada rata-rata pria dewasa (70 kg). Sebaliknya, hanya ½ dari
cairan tubuh bayi adalah cairan intraselular.

Ø  cairan ekstraseluler (CES) = 20% dari BB total


Adalah cairan diluar sel. Ukuran relatif dari (CES)menurun dengan peningkatan usia. Pada bayi baru
lahir, kira-kira ½ cairan tubuh terkandung didalam CES. Setelah 1 tahun, volume relatif dari CES menurun
sampai kira-kira 1/3 dari volume total. Ini hampir sebanding dengan 15 L dalam rata-rata pria dewasa
(70 kg).
Cairan intraseluler adalah cairan yang berada di dalam sel diseluruh tubuh, sedangkan cairan
ekstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel dan terdiri dari tiga kelompok yaitu: cairan
intravaskuler(plasma), cairan interstitial dan cairan transeluler. Cairan intravaskuler (plasma) adalah
cairan di dalam sistem vaskuler, cairan intersitial adalah cairan yang terletak diantara sel,s edangkan
cairan traseluler adalah cairan sekresi khusus seperti cairan serebrospinal, cairan intraokuler,dan sekresi
saluran cerna.

B.     Fungsi Cairan Tubuh

Dalam proses metabolisme yang terjadi didalam tubuh, air mempunyai 2 fungsi utama yaitu
sebagai pembawa zat-zat nutrisi seperti karbohidrat,vitamin dan mineral serta juga akan berfungsi
sebagai pembawa oksigen ke dalam sel-sel tubuh.Selain itu,air didalam tubuh juga akan berfungsi untuk
mengeluarkan produk samping hasil metabolisme seperti karbon dioksida(CO 2) dan juga senyawa
nitrat.Selain berperan dalam proses metabolisme,air yang terdapat di dalam tubuh juga akan memiliki
berbagai fungsi penting antara lain sebagai pelembab jaringan-jaringan tubuh seperti mata,mulut dan
hidung, pelumas dalam cairan sendi 02 Sports Science Brief tubuh,katalisator reaksi biologik
sel,pelindung organ dan jaringan tubuh serta juga akan membantu dalam menjaga tekanan darah dan
konsentrasi zat terlarut.Selain itu agar fungsi-fungsi tubuh dapat berjalan dengan normal,air di dalam
tubuh juga akan berfungsi sebagai pengatur panas untuk menjaga agar suhu tubuh tetap berada pada
kondisi ideal yaitu ± 37 C.
C.    Sistem Tubuh yang Berperan

Pengaturan kebutuhan cairan dan elektrolit dalam tubuh diatur oleh ginjal, kulit, paru, dan
gastrointestinal.

1.      Ginjal
Organ yang memiliki peran cukup besar dalam mengatur kebutuhan cairan dan elektrolit. Fungsi
ginjal, yaitu sebagai pengatur air, pengatur konsentrasi garam dalam darah, pengatur keseimbangan
asam – basa darah, dan ekskresi bahan buangan atau kelebihan garam.
Prosespengaturan kebutuhan keseimbangan air ini di awali oleh kemampuan bagian ginjal, seperti
glomerulus, dalam menyaring cairan. Rata-rata setiap satu liter darah mengandung 500 cc plasma yang
mengalir melalui glomerulus, 16 % disaring keluar. Cairan yang tersaring (filtrate glomerulus),kemudian
mengalir melalui tubuli renalis yang sel-selnya menyerap semua bahan yang dibutuhkan. Jumlah urine
yang diproduksi ginjal dapat dipengaruhi oleh ADH dan aldosteron dengan rata-rata 1 ml/kg/bb/jam.

2.      Kulit
Bagian penting pengaturan cairan yang terkait proses pengaturan panas. Proses ini diatur oleh pusat
pengatur panas yang disarafi oleh vasomotorik dengan kemampuan mengendalikan arteriol kutan
dengan cara vasodilatasi dan vasokontriksi proses pelepasan dengan cara proses penguapan. Jumlah
keringat yang keluar tergantung pada banyaknya darah yang mengalir melalui pembuluh darah dalam
kulit. Ataupun dengan cara konduksi (pengalihan panas ke benda yang disentuh), dan konveksi
(pegaliran udara panas ke permukaan yang lebih dingin) Keringat merupakan sekresi aktif dari kelenjar
keringat di bawah pengendalian saraf simpatis.

3.      Paru-paru
Berperan dalam mengeluarkan cairan dengan menghasilkan insensible water loss ± 400 ml/hari.
Proses pengeluaran cairan terkait dengan respon akibat perubahan upaya kemampuan bernapas.

4.      Gastrointestinal
Organ saluran pencernaan yang beperan dalam mengeluarkan cairan melalui proses penyerapan
dan pengeluaran air. Dalam kondisi normal, cairan yang hilang dalam system ini sekitar 100-200 ml/hari.
Pengaturan keseimbangan cairan dapat melalui system endogrin, seperti system hormonal, aldosteron,
prostaglandin, glukokortikoid, dan mekanisme rasa haus.

5.      ADH
Hormone ini memiliki peran dalam meningkatkan reabsorpsi air sehingga dapat mengendalikan
keseimbangan air dalam tubuh. Hormone ini dibentuk oleh hipotalamus di hipofisis posterior, yang
mensekresi ADH dengan meningkatkan osmolaritas dan menurunkan cairan ekstrasel.
a.       Aldosteron
b.      Prostaglandin
c.       Glukokortikoid
d.      Mekanisme rasa haus

D.    Proportion Of Body Fluid

Prosentase dari total cairan tubuh bervariasi sesuai dengan individu dan tergantung beberapa
hal antara lain :
a.Umur
b.Kondisi lemak tubuh
c.Sex

Perhatikan Uraian berikut ini :


No. Umur Kebutuhan Air

Jumlah air dalam 24 jam Ml/kg berat badan

1. Bayi 3 hari 250-300 80-100

2. Balita:

1 tahun 1150-1300 120-135

2 tahun 1350-1500 115-125

4 tahun 1600-1800 100-110

3. Anak:

10 tahun 2000-2500 70-85

14 tahun 2200-2700 50-60

18 tahun 2200-2700 40-50

4. Dewasa 2400-2600 20-30

Pada orang dewasa kira-kira 40 % barat badannya atau 2/3 dari TBW-nya berada di dalam sel
(cairan intraseluler/ICF), sisanya atau 1/3 dari TBW atau 20% dari berat badannya berada di luar sel
(ekstraseluler) yaig terbagi dalam 15 %cairan interstitial, 5 % cairan intavaskuler dan 1-2 % transeluler.

E.     Cara Perpindahan Cairan Tubuh

1.      Difusi
Difusi merupakan bercampurnya molkeul-molekul dalam cairan, gas, atau zat padat secara bebas
dan acak. Proses difusi dapat terjadi bila dua zat bercampur dalam sel membrane. Dalam tubuh, proses
difusi air, elektrolit, dan zat-zat lain tejadi melalui membrane kapiler yang permeable. Kecepatan proses
difusi bervariasi, bergantung pada factor ukuran molekul, konsentrasi cairan, dan temperature cairan.
Molekul akan lebih berpindah dari larutan dengan konsentrasi tinggi ke larutan dengan konsentrasi
rendah.
2.      Osmosis
Proses perpindahan zat larutan lain melalui membrane semipermeabel biasanya tejadi dari larutan
dengan konsentrasi yang kurang pekat, ke larutan dengan konsentrasi lebih pekat. Solute adalah zat
pelarut, sedang solven adalah larutannya.Proses osmosis penting dalam mengatur keseimbangan cairan
ekstra dan intrasel.
Osmolaritas adalah cara untk mengukur kepekatan larutan dengan menggunakan satuan mol. NaCl
berperan penting dalam mengatur keseimbangan cairan dalam tubuh. Apabila terdapat ltiga jenis
larutan garam dengan kepekatan yang berbeda dan didalamnya dimasukkan sel darah merah, maka
larutan yang mempunyai kepekatan sama yang akan seimbang dan berdifusi.
Pada proses osmosis dapat terjadi perpindahan dari larutan dengan kepekatan rendah ke larutan
yang kepekatannya lebih tinggi melalui membrane semipermeabel, sehingga larutan yang
berkonsentrasi rendah volumenya akan berkurang, sedang larutan yang lebih tinggi akan bertambah
volumenya.

3.      Transpor Aktif


Tranpor aktif merupakan gerak zat yang akan berdifusi dan berosmosis. Proses ini terutama penting
untuk mempertahankan natrium dalam cairan intra dan ekstrasel.
Proses pengaturan cairan dapat dipengaruhi oleh dua factor, yaitu tekanan cairan dan membrane.
a.       Tekanan cairan
Proses difusi dan osmosis melibatkan adanya tekanan cairan. Proses osmotik juga menggunakan
tekanan osmotik, yang merupakan kemampuan partikel pelarut untuk menarik larutan melalui
membrane.
Bila dua larutan dengan perbedaan konsentrasi dan larutan yang mempunyai konsentrasi lebih
pekat molekulnya tidak dapat bergabung maka larutan tersebut disebut koloid.sedangkan, larutan yang
mempunyai kepekatan yang sma dan dapat bergabung disebut sebagai kristaloid.
b.      Membrane semipermeabel
Merupakan penyaring agar cairan yang bermolekul besar tidak bergabung. Terdapat di dinding
kapiler pembuluh darah, yang terdapat di seluruh tubuh sehingga molekul atau zat lain tidak berpindah
ke jaringan.

F.     Pengaturan Cairan Volume Tubuh


keseimbangan cairan dalam tubuh dihitung dari keseimbangan antara jumlah cairan yang masuk dan
jumlah cairan yang keluar.

1.      Asupan cairan


Asupan (intake) cairan untuk komdisi normal pad orang dewasa adalah ± 2500 cc/hari. Penagturan
mekanisme keseimbangan cairan ini menggunakan mekanisme haus.
2.      Pengeluaran cairan
Pengeluaran (output) cairan sebagai dalam mengimbangi asupan cairan orang sewasa dalam kondisi
normal adalah ± 2300cc/hari. Jumlah air yang banyak keluar dari ekskresi ginjal (urine), sebanyak ±
1500cc/hari. Hasi-hasil pengeluaran cairan adalah:
a.       Urine
Pembentukan urine terjadi di ginjal dan Ureter mengalirkan urine ke bladder. Dalam bladder, urine
ditampung sampai mencapai batas tertentu yang kemudian dikeluarkan melalui uretra. Cairan dalam
ginjal disaring pada glomerulus dan salam tubulus distal untuk kemudian diserap kembali ke dalam
aliran darah
b.      Keringat
Terbentuk bila menjadi panas akibat pengaruh suhu yang panas. Keringat banyak mengandung garam,
urea, asam laktat, dan ion kalium. Banyaknya jumlah keringat yang keluar akan mempengaruhi kadar
natrium dalam plasma.
c.       Feses
Feses yang keluar mengandung air dan sisanya berbentuk padat. Jika cairan yang keluar melalui feses
jumlahnya berlebihan, maka dapat mengakibatkan tubuh menjadi lemas. Jumlah rata-rata pengeluaran
cairan melalui feses adalah 100 ml.hari.

G.     Elektrolit Utama Tubuh Manusia

Zat terlarut yang ada dalam cairan tubuh terdiri dari elektrolit dan nonelektrolit. Non elektrolit
adalah zat terlarut yang tidak terurai dalam larutan dan tidak bermuatan listrik, seperti : protein, urea,
glukosa, oksigen, karbon dioksida dan asam-asam organik. Sedangkan elektrolit tubuh mencakup
natrium (Na+),kalium (K+), Kalsium (Ca++), magnesium (Mg++), Klorida (Cl-), bikarbonat (HCO3-), fosfat
(HPO42-), sulfat (SO42-). Konsenterasi elektrolit dalam cairan tubuh bervariasi pada satu bagian dengan
bagian yang lainnya, tetapi meskipun konsenterasi ion pada tiap-tiap bagian berbeda, hukum netralitas
listrik menyatakan bahwa jumlah muatan-muatan negatif harus sama dengan jumlah muatan-muatan
positif. Komposisi dari elektrolit-elektrolit tubuh baik pada intarseluler maupun pada plasma terinci di
bawah ini :
No. Elektrolit Ekstraseluler Intraseluler
Plasma Interstitial
a.Kation :
• Sodium (Na+) :
·         Kation berlebih di ruang ekstraseluler
·         Sodium penyeimbang cairan di ruang eesktraseluler
·         Sodium adalah komunikasi antara nerves dan musculus
·        Membantu proses keseimbangan asam-basa dengan menukar ion hidrigen pada ion sodium di tubulus
ginjal : ion hidrogen di ekresikan
·         Sumber : snack, kue, rempah-rempah, daging panggang.

• Potassium (K+) :
·         Kation berlebih di ruang intraseluler
·         Menjaga keseimbangan kalium di ruang intrasel
·         Mengatur kontrasi (polarissasi dan repolarisasi) dari muscle dan nerves.
·         Sumber : Pisang, alpokad, jeruk, tomat, dan kismis.

• Calcium (Ca++) :
·         Membentuk garam bersama dengan fosfat, carbonat, flouride di dalam tulang dan gigi untuk
membuatnya keras dan kuat
·         Meningkatkan fungsi syaraf dan muscle
·         Meningkatkan efektifitas proses pembekuan darah dengan proses pengaktifan protrombin dan trombin
·         Sumber : susu dengan kalsium tinggi, ikan dengan tulang, sayuran, dll.

b.Anion :
• Chloride (Cl -) :
·         Kadar berlebih di ruang ekstrasel
·         Membantu proses keseimbangan natrium
·         Komponen utama dari sekresi kelenjar gaster
·         Sumber : garam dapur

• Bicarbonat (HCO3 -) :
Bagian dari bicarbonat buffer sistem
·          Bereaksi dengan asam kuat untuk membentuk asam karbonat dan suasana garam untuk menurunkan
PH. Ü  Fosfat ( H2PO4- dan HPO42-) :
·          Bagian dari fosfat buffer system
·          Berfungsi untuk menjadi energi pad metabolisme sel
·          Bersama dengan ion kalsium meningkatkan kekuatan dan kekerasan tulang
·          Masuk dalam struktur genetik yaitu : DNA dan RNA.

H.    Masalah Kebutuhan Cairan

1.      Hipovolume atau Dehidrasi


Kekurangan cairan eksternal terjadi karena penurunan asupan cairan dan kelebihan pengeluaran
caiaran.
Ada tiga macam kekurangan volume ciran eksternal, yaitu:
a.       Dehidrasi isotonic
Terjadi jika tubuh kehilangan sejumlah cairan dan elektrolit secara seimbang.
b.      Dehidrasi hipertonik
Terjadi jika tubuh kehilangan lebih banyak air daripada elektrolit.
c.       Dehidrasi hipotonik
Tejadi jika tubuh kehilangan lebih banyak elektrolit daripada air.

Macam-macam dehidrasi berdasarkan derajatnya:

a.       Dehidrasi Berat


         Pengeluaran cairan sebanyak 4-6 lt
         Serum natrium mencapai 159-166 mEq/lt
         Hipotensi
         Turgor kulit buruk
         Oliguria
         Nada dan pernapasan meningkat
         Kehilangan cairan > 10% BB
b.      Dehidrasi Sedang
         Kehilangan cairan antara 5-10% BB
         Serum natrium antara 152-158 mEq/lt
         Mata cekung
c.       Dehidrasi Ringan
Kehilangan cairan mencapai 5% BB atau 1.5-2 lt
2.      Hipervolume atau Overdehidrasi
Pada kelebihan ekstrasel, gejala yang sering ditimbulkan adalah edema perifer, asites, kelopak mata
bengkak, suara napas ronchi basah, penambahan BB secara tidak normal/sangat cepat, nilai hematokrit
pada umumnya normal, akan tetapi menurun bila kelebihan cairan bersifat akut.

I.       Pengaturan Elektrolit

1.      Pengaturan Keseimbangan Natrium


Natrium merupakan kation dalam tubuh yang berfungsi mengatur osmolaritas dan volume cairan
tubuh. Natrium paling banyak terdapat pada cairan ekstrasel. Natrium tidak hanya bergerak ke dalam
atau ke luar tubuh, tetapi juga mengatur keseimbanagn cairan. Eskresi dari natrium dapat melalui ginjal,
atau sebagian kecil melalui feses, keringat, dan air mata.
2.      Pengaturan Keseimbangan Kalium
Kalium merupakan kation utama yang terdapat dalam cairan intrasel dan berfungsi mengatur
keseimbangan elektrolit.diatur oleh ginjal dengan perubahan ion natrium dalam tubulus ginjal dan
sekresi aldosteron.
3.      Pengaturan Keseimbangan Kalsium
Kalsium dalam tubuh berfungsi membentuk tulang, menghantar impuls kontraksi otot, koagulasi
(pembekuan darah), dan membantu beberapa enzim pancreas.
4.      Pengetahuan Keseimbangan Klorida
Klorida merupakan anion utama dalam cairan ekstrasel, tetapi tidak dapat ditemukan pada cairan
ekstrasel intrasel. Fungsinya untuk mempertahankan keseimbangan tekanan osmotic dalam darah.
5.      Pengaturan Keseimbangan Magnesium
Magnesium merupakan katoin dalam tubuh, yang terpenting kedua dalam cairan intrasel.
6.      Pengaturan Keseimbangan Bikarbonat
Bikarbonat merupakan elektrolit utama larutan buffer (penyangga) dalam tubuh.
7.      Pengaturan Keseimbangan Fosfat
Fosfat bersama-sama dengan kalsium membentuk gigi dan tulang. Fosfat diserap dari saluran
pencernaan dan dikeluarkan oleh urine.

J.      Masalah Kebutuhan Elektrolit

1.      Hiponatremia
Merupakan suatu keadaan berkurangnya kadar natrium dalam plasma darah yang ditandai dengan
adanya kadar natrium dalam plasma sebanyak < 135 mEq/lt.
2.      Hipernatremia
Merupakan suatu kondisi keadaan di mana kadar natrium dalam plasma tinggi, ditandai dengan adanya
mukosa kering, oligari/anusia, turgor kulit buruk, dan permukaan kulit bengkak, kulit kemerahan, lidah
kering dan kemerahan, suhu tubuh naik, serta kadar natrium dalam plasma darah lebih dari 145 mEq/lt.
3.      Hipokalemia
Merupakan suatu kondisi keadaan kekurangan kadar kalium dalam darah, yang terjadi sangat cepat.
Sering terjadi pada klien yang mengalami diare berkepanjangan yang turunnya kadar kalsium plasma
hingga kurang dari 3,5 mEq/lt.
4.      Hiperkalemia
Merupakan suatu kondisi di mana kadar kalsium dalam darah tinggi, yang sering terjadi pada klien
dengan luka bakar, penyakit ginjal. Yang disertai dengan kadar kalsium dalam plasma mencapai lebih
dari 5 mEq/lt.
5.      Hipokalsemia
Merupakan suatu kondisi kekurangan kadar kalsium dalam plasma darah yang ditandai dengan adanya
kram otot, dank ram perut, kejang, bingung, dan kadar kalsium dalam plasma kurang dari 4,3 meq/lt.
6.      Hipokalsemia
Merupakan suatu keadaan kelebihan kadar kalsium dalam darah, ditandai dengan nyeri pada tulang,
relaksasi otot, batu ginjal dan kadar kalsium dalam plasma mencapai lebih dari 4,3 mEq/lt.
7.      Hipomagnesia
Merupakan suatu kondisi kekurangan magnesium dalam darah ditandai dengan adanya iritabilitas,
takikardi, hipertensi. Kadar magnesium dalam darah, mencapai kurang dari 1,3 mEq/lt.
8.      Hipermagnesia
Merupakan suatu kondisi berlebihnya kadar magnesium dalam darah, ditandai dengan adanya koma,
gangguan pernapasan, dan kadar magnesium mencapai lebih dari 2,5 mEq/lt.

K.    Keseimbangan Asam-Basa

Dalam keadaan normal, pH cairan tubuh adalah 7,35-7,45. Keseimbangan asam-basa dapat
dipertahankan melalui metabolism dengan system buffer pada seluruh cairan tubuh dan oleh
pernapasan dengan system regulasi.

Pengaturan keseimbangan asam-basa dilakukan oleh paru melalui pengangkutan kelebihan CO 2


dan H2CO2 dari daerah yang dapat meningkatkan pH hingga kondisi standar.

Cairan basa (alkali) digunakan untuk mengkoreksi asidosis. Keadaan asidosis dapat disebabkan
oleh henti jantung dan koma deabetikan. Contoh cairan alkali adalah natrium laktat dan natrium
bikarbonat.

L.     Masalah Keseimbangan Asam-Basa

1.      Asidosis respiratorik


Merupakan suatu keadaan yang disebabkan oleh kegagalan system pernapasan dalam membuang
karbondioksida dari cairan tubuh sehingga tejadi kerusakan pada system pernapasan, peningkatan pCO 2
arteri diatas 45 mmHg dan penurunan pH hingga <7,35.
2.      Asidosis metabolic
Merupakan suatu keadaan kehilangan basa atau terjadinya penumpukan asam yang ditandai dengan
adangan penurunan pH hingga < 7,35dan HCO 3 kurang dari 22 mEq/lt.
3.      Alkalosis respiratorik
Merupakan suatu keadaan kehilangan CO 2 dari paru yang dapat menimbulkan terjadinya pCO 3arteri <35
mmHg dan pH > 7,45.
4.      Alkalis metabolic
Merupakan suatu kondisi kehilangan ion hydrogen atau penambahan basa pada cairan tubuh dengan
adanya peningkatan bikarbonat plasma > 26 mEq/ltd an pH arteri 7,45.
M.   Faktor – faktor yang mempengaruhi Kebutuhan Cairan dan Elektrolit

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan cairan dan elektrolit diantaranya adalah :

1.  Usia

Variasi usia berkaitan dengan luas permukaan tubuh, metabolisme yang diperlukan dan berat badan.
selain itu sesuai aturan, air tubuh menurun dengan peningkatan usia. Berikut akan disajikan dalam tabel
perubahan pada air tubuh total sesuai usia.

2.  Jenis kelamin

Wanita mempunyai air tubuh yang kurang secara proporsional, karena lebih banyak mengandung
lemak tubuh

3.  Sel-sel lemak

Mengandung sedikit air, sehingga air tubuh menurun dengan peningkatan lemak tubuh

4.  Stres

Stres dapat menimbulkan peningkatan metabolisme sel, konsentrasi darah dan glikolisis otot,
mekanisme ini dapat menimbulkan retensi sodium dan air. Proses ini dapat meningkatkan produksi ADH
dan menurunkan produksi urine

5.  Sakit

Keadaan pembedahan, trauma jaringan, kelainan ginjal dan jantung, gangguan hormon akan
mengganggu keseimbangan cairan

6.  Temperatur lingkungan

Panas yang berlebihan menyebabkan berkeringat. Seseorang dapat kehilangan NaCl melalui keringat
sebanyak 15-30 g/hari

7.  Diet
Pada saat tubuh kekurangan nutrisi, tubuh akan memecah cadangan energi, proses ini akan
menimbulkan pergerakan cairan dari interstisial ke intraselular.

Posted by anggifatma at 7:53 PM

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Menghitung Balance Cairan

Diposkan oleh Nur " RETTA " Kayat.

Data 24 jam yang dipakai!

Rumus Balance Cairan

Inteake / cairan masuk = Output / cairan keluar + IWL (Insensible Water Loss)
Intake / Cairan Masuk :  mulai dari cairan infus, minum, kandungan cairan dalam makanan
pasien, volume obat-obatan, termasuk obat suntik, obat yang di drip, albumin dll.

Output / Cairan keluar : urine dalam 24 jam, jika pasien dipasang kateter maka hitung dalam
ukuran di urobag, jka tidak terpasang maka pasien harus menampung urinenya sendiri, biasanya
ditampung di botol air mineral dengan ukuran 1,5 liter, kemudian feses.

IWL (insensible water loss(IWL) : jumlah cairan keluarnya tidak disadari dan sulit diitung,
yaitu jumlah keringat, uap hawa nafa.

RUMUS IWL

IWL = (15 x BB )

                           24 jam

Cth:   Tn.A BB 60kg dengan suhu tubuh 37⁰C (suhu normal)


 

IWL = (15 x 60 )  = 37,5 cc/jam

24 jam

*kalo dlm 24 jam —-> 37,5 x 24 = 900cc/24 jam

*Rumus IWL Kenaikan Suhu

[(10% x CM)x jumlah kenaikan suhu]  + IWL normal

24 jam

Cth:  Tn.A BB 60kg, suhu= 39⁰C, CM= 200cc

IWL = [(10%x200)x(39⁰C-37⁰C)] + 37,5cc

24 jam

= (20×2) + 37,5cc

24

= 1,7 + 37,5 = 39cc/jam

*CM : Cairan Masuk

Menghitung balance cairan seseorang harus diperhatikan berbagai faktor, diantaranya Berat
Badan dan Umur..karena penghitungannya antara usia anak dengan dewasa berbeda.
Menghitung balance cairanpun harus diperhatikan mana yang termasuk kelompok Intake cairan
dan mana yang output cairan. Berdasarkan kutipan dari Iwasa M. Kogoshi S (1995) Fluid
Therapy do  (PT. Otsuka Indonesia) penghitungan wajib per 24 jam bukan pershift.

PENGHITUNGAN BALANCE CAIRAN UNTUK DEWASA


Input cairan:             Air (makan+Minum)  = ……cc
Cairan Infus               = ……cc
Therapi injeksi           = ……cc
Air Metabolisme        = ……cc    (Hitung AM= 5 cc/kgBB/hari)

Output cairan:         Urine                          = ……cc


Feses                          = …..cc (kondisi normal 1 BAB feses = 100 cc)
Muntah/perdarahan
cairan drainage luka/
cairan NGT terbuka   = …..cc
IWL                           = …..cc (hitung IWL= 15 cc/kgBB/hari)
(Insensible Water Loss)

Contoh Kasus:

Tn Y  (35 tahun) , BB 60 Kg; dirawat dengan post op Laparatomi hari kedua..akibat appendix
perforasi, Keadaan umum masih lemah, kesadaran composmentis..Vital sign TD: 110/70 mmHg;
HR 88 x/menit; RR 20 x/menit, T 37 °C: masih dipuasakan, saat ini terpasang NGT terbuka
cairan berwarna kuning kehijauan sebanyak 200 cc; pada daerah luka incici operasi terpasang
drainage berwarna merah sebanyak 100 cc, Infus terpasang Dextrose 5% drip Antrain 1 ampul
/kolf : 2000 cc/24 jam., terpasang catheter urine dengan jumlah urine 1700 cc, dan mendapat
tranfusi WB 300 cc; mendapat antibiotik Cefat 2 x 1 gram  yg didripkan dalam NaCl 50 cc setiap
kali pemberian, Hitung balance cairan Tn Y!

Input Cairan:       Infus            = 2000 cc

Tranfusi WB =   300 cc

Obat injeksi =    100 cc

AM             =    300 cc  (5 cc x 60 kg)      +

———————————————

2700 cc

Output cairan:     Drainage      =     100 cc


NGT           =     200 cc
Urine           =  1700 cc
IWL            =     900 cc     (15 cc x 60 kg)  +
———————————————-
2900 cc
Jadi Balance cairan Tn Y dalam 24 jam : Intake cairan – output cairan
2700 cc – 2900 cc
- 200 cc.

Bagaimana jika ada kenaikan suhu? maka untuk menghitung output terutama IWL gunakan
rumus :
IWL + 200 (suhu tinggi – 36,8 .°C), nilai 36,8 °C adalah konstanta
Andaikan suhu Tn Y adalah 38,5 °C, berapakah Balance cairannya?

berarti nilai IWl Tn Y= 900 + 200 (38,5 °C  – 36,8 .°C)


= 900 + 200 (1,7)
= 900 + 340 cc
= 1240 cc
Masukkan nilai IWL kondisi suhu tinggi dalam penjumlahan kelompok Output :
Drainage      =     100 cc
NGT           =     200 cc
Urine           =  1700 cc
IWL            =  1240 cc   +
————————–
3240 cc
Jadi Balance cairannya dalam kondisi suhu febris pada Tn Y adalah : 2700 cc – 3240 cc =  -540
cc

Menghitung Balance cairan anak tergantung tahap umur,  untuk menentukan Air Metabolisme,
menurut Iwasa M, Kogoshi S dalam Fluid Tehrapy Bunko do (1995) dari PT. Otsuka
Indonesia yaitu:

Usia Balita (1 – 3 tahun)      : 8 cc/kgBB/hari

Usia 5 – 7 tahun                    : 8 – 8,5 cc/kgBB/hari

Usia 7 – 11 tahun                  : 6 – 7 cc/kgBB/hari

Usia 12 – 14 tahun               : 5 – 6 cc/kgBB/hari

Untuk IWL (Insensible Water Loss) pada anak = (30 – usia anak dalam tahun) x
cc/kgBB/hari
  Jika anak mengompol menghitung urine 0,5 cc – 1 cc/kgBB/hari

CONTOH :

An X (3 tahun) BB 14 Kg, dirawata hari ke dua dengan DBD, keluhan pasien menurut ibunya:
“rewel, tidak nafsu makan; malas minum, badannya masih hangat; gusinya tadi malam berdarah”
Berdasarkan pemeriksaan fisik didapat data: Keadaan umum terlihat lemah, kesadaran
composmentis, TTV: HR 100 x/menit; T 37,3 °C;  petechie di kedua tungkai kaki, Makan /24
jam hanya 6 sendok makan, Minum/24 jam 1000 cc; BAK/24 jam : 1000 cc, mendapat Infus
Asering 1000 cc/24 jam. Hasil pemeriksaan lab Tr terakhir: 50.000. Hitunglah balance cairan
anak ini!

Input cairan:  Minum     : 1000 cc            

                          Infus        : 1000 cc                                       

                           AM         :   112 cc    +     (8 cc x 14 kg)                          

                             ————————-

                                                      2112 cc

  Out put cairan:   Muntah       :   100 cc

                                 Urin           : 1000 cc

                                 IWL           :   378 cc   +    (30-3 tahun) x 14 kg

                           —————————–

                                                   1478 cc

Balance cairan = Intake cairan – Output Cairam

                                2112 cc – 1478 cc

                                + 634 cc  

 
Sekarang hitung balance cairannya jika suhu An x 39,8 °C  !

yang perlu diperhatikan adalah penghitungan IWL pada kenaikan suhu gunakan rumus: 

IWL + 200 ( Suhu Tinggi – 36,8  °C) 36,8 °C adalah konstanta.

IWL An X  = 378 + 200 (39,8 °C – 36,8  °C)

                       378 + 200 (3)

                       378 + 600

                       978 cc

Maka output cairan An X =   Muntah       :   100 cc

                                                     Urin            : 1000 cc

                                                     IWL             :   978 cc   +

                                                      ————————-

                                                                             2078 cc

Jadi Balance cairannya = 2112 cc – 2078 cc

+ 34 cc.

Faktor yang Berpengaruh pada Keseimbangan Cairan dan Elektrolit

 
Faktor-faktor yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh antara
lain :
a.Umur :
Kebutuhan intake cairan bervariasi tergantung dari usia, karena usia akan berpengaruh pada luas
permukaan tubuh, metabolisme, dan berat badan. Infant dan anak-anak lebih mudah mengalami
gangguan keseimbangan cairan dibanding usia dewasa. Pada usia lanjut sering terjadi gangguan
keseimbangan cairan dikarenakan gangguan fungsi ginjal atau jantung.
b.Iklim :
Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban udaranya rendah
memiliki peningkatan kehilangan cairan tubuh dan elektrolit melalui keringat. Sedangkan
seseorang yang beraktifitas di lingkungan yang panas dapat kehilangan cairan sampai dengan 5 L
per hari.
c.Diet :
Diet seseorag berpengaruh terhadap intake cairan dan elktrolit. Ketika intake nutrisi tidak
adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak sehingga akan serum albumin dan
cadangan protein akan menurun padahal keduanya sangat diperlukan dalam proses
keseimbangan cairan sehingga hal ini akan menyebabkan edema.

d.Stress :
Stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa darah, dan pemecahan glykogen otot.
Mrekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan retensi air sehingga bila berkepanjangan dapat
meningkatkan volume darah.

e.Kondisi Sakit :
Kondisi sakit sangat b3erpengaruh terhadap kondisi keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
Misalnya :
- Trauma seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan air melalui IWL.
- Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses regulator
keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
- Pasien dengan penurunan tingkat kesadaran akan mengalami gangguan pemenuhan intake
cairan karena kehilangan kemampuan untuk memenuhinya secara mandiri.

f.Tindakan Medis :
Banyak tindakan medis yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
seperti : suction, nasogastric tube dan lain-lain.

g.Pengobatgan :
Pengobatan seperti pemberian deuretik, laksative dapat berpengaruh pada kondisi cairan dan
elektrolit tubuh.
h.Pembedahan :
Pasien dengan tindakan pembedahan memiliki resiko tinggi mengalami gangguan keseimbangan
cairan dan elektrolit tubuh, dikarenakan kehilangan darah selama pembedahan.

masalah gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh

Gangguan Keseimbangan Cairan dan eletrolit tubuh

1. Dehidrasi

2. Syok hipovolemik
Gangguan Keseimbangan Elektrolit

1. Hiponatremia

Definisi : kadar Na+ serum di bawah normal (<>

Causa : CHF, gangguan ginjal dan sindroma nefrotik, hipotiroid, penyakit Addison

Tanda dan Gejala :

 Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam beberapa jam, pasien mungkin mual, muntah, sakit kepala
dan keram otot.
 Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam satu jam, bisa terjadi sakit kepala hebat, letargi, kejang,
disorientasi dan koma.

 Mungkin pasien memiliki tanda-tanda penyakit dasar (seperti gagal jantung, penyakit Addison).

 Jika hiponatremia terjadi sekunder akibat kehilangan cairan, mungkin ada tanda-tanda syok
seperti hipotensi dan takikardi.

2. Hipernatremia

Definisi : Na+ serum di atas normal (>145 mEq/L)

Causa : Kehilangan Na+ melalui ginjal misalnya pada terapi diuretik, diuresis osmotik, diabetes
insipidus, sekrosis tubulus akut, uropati pasca obstruksi, nefropati hiperkalsemik; atau karena
hiperalimentasi dan pemberian cairan hipertonik lain.

Tanda dan Gejala : iritabilitas otot, bingung, ataksia, tremor, kejang dan koma yang sekunder
terhadap hipernatremia.

3. Hipokalemia

Definisi : kadar K+ serum di bawah normal (<>

Etiologi

 Kehilangan K+ melalui saluran cerna (misalnya pada muntah-muntah, sedot nasogastrik, diare,
sindrom malabsorpsi, penyalahgunaan pencahar)
 Diuretik

 Asupan K+ yang tidak cukup dari diet

 Ekskresi berlebihan melalui ginjal

 Maldistribusi K+

 Hiperaldosteron
Tanda dan Gejala : Lemah (terutama otot-otot proksimal), mungkin arefleksia, hipotensi
ortostatik, penurunan motilitas saluran cerna yang menyebabkan ileus. Hiperpolarisasi myokard
terjadi pada hipokalemia dan dapat menyebabkan denyut ektopik ventrikel, reentry phenomena,
dan kelainan konduksi. EKG sering memperlihatkan gelombang T datar, gelombang U, dan
depresi segmen ST.

4. Hiperkalemia

Definisi : kadar K+ serum di atas normal (> 5,5 mEq/L)

Etiologi :

 Ekskresi renal tidak adekuat; misalnya pada gagal ginjal akut atau kronik, diuretik hemat kalium,
penghambat ACE.
 beban kalium dari nekrosis sel yang masif yang disebabkan trauma (crush injuries), pembedahan
mayor, luka bakar, emboli arteri akut, hemolisis, perdarahan saluran cerna atau rhabdomyolisis.
Sumber eksogen meliputi suplementasi kalium dan pengganti garam, transfusi darah dan
penisilin dosis tinggi juga harus dipikirkan.

 Perpindahan dari intra ke ekstraseluler; misalnya pada asidosis, digitalisasi, defisiensi insulin
atau peningkatan cepat dari osmolalitas darah.

 Insufisiensi adrenal

 Pseudohiperkalemia. Sekunder terhadap hemolisis sampel darah atau pemasangan torniket


terlalu lama

 Hipoaldosteron

Tanda dan Gejala : Efek terpenting adalah perubahan eksitabilitas jantung. EKG memperlihatkan
perubahan-perubahan sekuensial seiring dengan peninggian kalium serum. Pada permulaan,
terlihat gelombang T runcing (K+ > 6,5 mEq/L). Ini disusul dengan interval PR memanjang,
amplitudo gelombang P mengecil, kompleks QRS melebar (K+ = 7 sampai 8 mEq/L). Akhirnya
interval QT memanjang dan menjurus ke pola sine-wave. Fibrilasi ventrikel dan asistole
cenderung terjadi pada K+ > 10 mEq/L. Temuan-temuan lain meliputi parestesi, kelemahan,
arefleksia dan paralisis ascenden.

Penanganan Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit

TERAPI CAIRAN

Definisi

Terapi cairan adalah tindakan untuk memelihara, mengganti milieu interiur dalam batas-batas
fisiologis.
Indikasi, antara lain:

 Kehilangan cairan tubuh akut


 Kehilangan darah

 Anoreksia

 Kelainan saluran cerna

Rumus Menghitung IWL ( Insensible Water Loss)


Kamis, 25 Oktober 2012 - Dessy Ariani

Rumus Menghitung IWL

Rumus Menghitung IWL ( Insensible Water Loss)

*Rumus menghitung balance cairan

    

     CM – CK – IWL

 Ket:

     CM : Cairan Masuk

     CK : Cairan Keluar

*Rumus IWL

     

      IWL = (15 x BB )

                                        24 jam

Cth:   Tn.A BB 60kg dengan suhu tubuh 37⁰C


       IWL = (15 x 60 )  = 37,5 cc/jam

                    24 jam

 *kalo dlm 24 jam ----> 37,5 x 24 = 900cc

                  

*Rumus IWL Kenaikan Suhu

       [(10% x CM)x jumlah kenaikan suhu]  + IWL normal

                             24 jam

Cth:  Tn.A BB 60kg, suhu= 39⁰C, CM= 200cc

      IWL = [(10%x200)x(39⁰C-37⁰C)] + 37,5cc

                                 24 jam

              = (20x2) + 37,5cc

                    24

              = 1,7 + 37,5 = 39cc/jam

Tehnik Menghitung Balance Cairan (Anak)


Menghitung Balance cairan anak tergantung tahap umur,  untuk menentukan Air Metabolisme,
menurut Iwasa M, Kogoshi S dalam Fluid Tehrapy Bunko do (1995) dari PT. Otsuka Indonesia yaitu:

Usia Balita (1 - 3 tahun)      : 8 cc/kgBB/hari

Usia 5 - 7 tahun                    : 8 - 8,5 cc/kgBB/hari

Usia 7 - 11 tahun                  : 6 - 7 cc/kgBB/hari

Usia 12 - 14 tahun               : 5 - 6 cc/kgBB/hari


Untuk IWL (Insensible Water Loss) pada anak = (30 - usia anak dalam tahun) x cc/kgBB/hari

  Jika anak mengompol menghitung urine 0,5 cc - 1 cc/kgBB/hari

CONTOH :

An X (3 tahun) BB 14 Kg, dirawata hari ke dua dengan DBD, keluhan pasien menurut ibunya: "rewel,
tidak nafsu makan; malas minum, badannya masih hangat; gusinya tadi malam berdarah" Berdasarkan
pemeriksaan fisik didapat data: Keadaan umum terlihat lemah, kesadaran composmentis, TTV: HR 100
x/menit; T 37,3 °C;  petechie di kedua tungkai kaki, Makan /24 jam hanya 6 sendok makan, Minum/24
jam 1000 cc; BAK/24 jam : 1000 cc, mendapat Infus Asering 1000 cc/24 jam. Hasil pemeriksaan lab Tr
terakhir: 50.000. Hitunglah balance cairan anak ini!

Input cairan:  Minum     : 1000 cc            

                          Infus        : 1000 cc                                       

                           AM         :   112 cc    +     (8 cc x 14 kg)                          

                             -------------------------

                                                                               2112 cc

  Out put cairan:    Muntah       :   100 cc

                                 Urin           : 1000 cc

                                 IWL           :   378 cc   +    (30-3 tahun) x 14 kg

                           -----------------------------

                                                   1478 cc

Balance cairan = Intake cairan - Output Cairam

                                2112 cc - 1478 cc

                                + 634 cc  

Sekarang hitung balance cairannya jika suhu An x 39,8 °C  !


yang perlu diperhatikan adalah penghitungan IWL pada kenaikan suhu gunakan rumus: 

IWL + 200 ( Suhu Tinggi - 36,8  °C) 36,8 °C adalah konstanta.

IWL An X  = 378 + 200 (39,8 °C - 36,8  °C)

                       378 + 200 (3)

                       378 + 600

                       978 cc

Maka output cairan An X =   Muntah       :   100 cc

                                                     Urin            : 1000 cc

                                                     IWL             :   978 cc   +

                                                      -------------------------

                                                                             2078 cc

Jadi Balance cairannya = 2112 cc - 2078 cc

                                               + 34 cc.

Ingat menghitung Balnce cairan harus kumpulan data/24 jam!!!!!!

Tehnik menghitung Balance Cairan (Dewasa)


Menghitung balance cairan seseorang harus diperhatikan berbagai faktor, diantaranya Berat Badan dan
Umur..karena penghitungannya antara usia anak dengan dewasa berbeda.
Menghitung balance cairanpun harus diperhatikan mana yang termasuk kelompok Intake cairan dan
mana yang output cairan. Berdasarkan kutipan dari Iwasa M. Kogoshi S (1995) Fluid Therapy do  (PT.
Otsuka Indonesia) penghitungan wajib per 24 jam bukan pershift.

PENGHITUNGAN BALANCE CAIRAN UNTUK DEWASA


Input cairan:             Air (makan+Minum)  = ......cc
                               Cairan Infus               = ......cc
                               Therapi injeksi           = ......cc
                               Air Metabolisme        = ......cc    (Hitung AM= 5 cc/kgBB/hari)
Output cairan:         Urine                          = ......cc
                              Feses                          = .....cc (kondisi normal 1 BAB feses = 100 cc)
                              Muntah/perdarahan
                              cairan drainage luka/
                              cairan NGT terbuka   = .....cc
                              IWL                           = .....cc (hitung IWL= 15 cc/kgBB/hari)
                              (Insensible Water Loss)

Contoh Kasus:

 Tn Y  (35 tahun) , BB 60 Kg; dirawat dengan post op Laparatomi hari kedua..akibat appendix perforasi,
Keadaan umum masih lemah, kesadaran composmentis..Vital sign TD: 110/70 mmHg; HR 88 x/menit; RR
20 x/menit, T 37 °C: masih dipuasakan, saat ini terpasang NGT terbuka cairan berwarna kuning kehijauan
sebanyak 200 cc; pada daerah luka incici operasi terpasang drainage berwarna merah sebanyak 100 cc,
Infus terpasang Dextrose 5% drip Antrain 1 ampul /kolf : 2000 cc/24 jam., terpasang catheter urine
dengan jumlah urine 1700 cc, dan mendapat tranfusi WB 300 cc; mendapat antibiotik Cefat 2 x 1 gram  
yg didripkan dalam NaCl 50 cc setiap kali pemberian, Hitung balance cairan Tn Y!

Input Cairan:       Infus            = 2000 cc

                          Tranfusi WB =   300 cc

                          Obat injeksi =    100 cc

                          AM             =    300 cc  (5 cc x 60 kg)      +

                          ---------------------------------------------

                                                  2700 cc 

Output cairan:     Drainage      =     100 cc

                           NGT           =     200 cc


                           Urine           =  1700 cc
                           IWL            =     900 cc     (15 cc x 60 kg)  +
                        ----------------------------------------------
                                                    2900 cc
Jadi Balance cairan Tn Y dalam 24 jam : Intake cairan - output cairan
                                                              2700 cc - 2900 cc
                                                              - 200 cc.
Bagaimana jika ada kenaikan suhu? maka untuk menghitung output terutama IWL gunakan rumus :
IWL + 200 (suhu tinggi - 36,8 .°C), nilai 36,8 °C adalah konstanta
Andaikan suhu Tn Y adalah 38,5 °C, berapakah Balance cairannya?

berarti nilai IWl Tn Y= 900 + 200 (38,5 °C  - 36,8 .°C)


                                = 900 + 200 (1,7)
                                = 900 + 340 cc
                                = 1240 cc
Masukkan nilai IWL kondisi suhu tinggi dalam penjumlahan kelompok Output :
Drainage      =     100 cc
NGT           =     200 cc
Urine           =  1700 cc 
IWL            =  1240 cc   +
--------------------------
                      3240 cc
Jadi Balance cairannya dalam kondisi suhu febris pada Tn Y adalah : 2700 cc - 3240 cc =  -540 cc

Rumus-Rumus Hitungan
Dalam Keperawatan
Rumus-Rumus Hitungan Dalam Keperawatan

By: Nhinnie PurnamaSari  ^_^

Hitungan??!!?!?…

Apa yang ada dalam pikiran anda seputar hitungan?. Ada yang berpikir hitungan itu
membingungkan, ada yang menganggap hitungan itu membosankan, tapi ada juga lho ternyata
yang menganggap hitungan itu suatu yang mengasikkan. Hitungan ternyata tidak hanya terdapat
dalam pelajaran statistik saja, seperti matematika. Melainkan dalam dunia keperawatan juga ada
yang namanya Rumus Keperawatan, yang mempelajari hitungan-hitungan seputar keperawatan
dan dunia kesehatan. Rumus-rumus ini sangat penting untuk diketahui dan dipelajari lho… Nah,
untuk lebih jelasnya lagi, silahkan baca disini, SELAMAT MEMBACA… SEMOGA
BERMANFAAT…^_^

1. Maternitas
2.  Menghitung HPHT /Taksiran Persalinan (Rumus Naegle)

Hari + 7,  Bulan -3, Tahun + 1


1. Menghitung Usia Kehamilan

Rumus Mac Donal :


TFU (cm)  = tuanya kehamilan dalam bulan

3,5 cm
X (Bulan) = Tgl pemeriksaan –
HPHT

UK    = X x 4 ⅓
3. Menghitung Usia kehamilan

1. Menghitung Berat Badan Janin (Rumus Jhonson Tausak)

( MD – 12 ) X 155 = BB janin

MD :jarak simfisis pubis s/d fundus uteri


1. Perhitungan ovulasi pada wanita

Menstruasi……14 hari……Menstruasi berikutnya (siklus 28 hari)

Menstruasi……21 hari……Menstruasi berikutnya (siklus 35 hari)

1. Menghitung DJJ

Hitung selama 5 detik selang 5 detik hitung lagi 5 detik selang 5 detik lalu

Hitung lagi 5 detik, hasilnya teratur jika angka ke 1&3 sama.

1. Menghitung Cairan

1. Menghitung balance cairan

TPM = Total Vol infuse (cc) x Factor Tetesan

Lama waktu penginfusan(menit )

Factor tetesan

Makro  1 cc = 60 tetes

Mikro 1 cc = 15 tetes atau 1 cc = 20 tetes


1. Menghitung jumlah tetesan infus

TPM= Volume cairan infus x faktor tetes normal

Lama pemberian x 60
1. Menghitung Lama pemberian infus

LP =  Volume cairan infus x faktor tetes normal

Order tetesan x 60
1. Menghitung cairan yg diberikan pd Px Luka bakar

Dewasa= RL 4 ml x BB x % LB

Anak = RL 2 ml x BB x % LB

8 jam First and 16 jam continued


1. Kebutuhan cairan anak sesuai BB

100ml untuk Kg pertama

50ml untuk Kg kedua

25ml untuk Kg selanjutnya

Exc, Hitung kebutuhan cairan anak jika BB 26 Kg

Keb. Cairan     : (10×100)+(10×50)+(6×25)

                        : 1000+500+150

                        :1650 ml

1. Rumus hitung cairan

Tetesan/menit= keb.Cairan (cc) x Tetesan Dasar

Waktu                   60(dtk)

Kebutuhan Cairan (cc)  x ⅓ makro 1/1 mikro

Waktu (Jam)
1. Contoh Soal

Cairan 500cc harus habis dalam 10 jam

Jawab: 500cc x ⅓ makro = 16,6 GTT/menit

10 jam

            Cairan 250cc dengan kecepatan 20GTT/ menit, Berapa habisnya cairan?
          Jawab: 250 x ⅓ = 20 GTT/menit

                        X

            X  = 250 x 1 = 4,16 makro

(20×3)

Jumlah Cairan Tetesan Habis Dalam


500 cc

500cc

500cc

500cc20GTT

30GTT

40GTT

60GTT8,33 Jam

5,55 Jam

4,16 Jam

2,77 Jam

1. Pemberian obat

1. Menghitung dosis berdasarkan perbandingan dgn dosis dewasa

Umur= (umur dewasa > 20 tahun)

a. Young : Da = (n / (n + 2)) x Dd

b. Dilling : Da = (n/20) x Dd

c. Cowling : Da = ((n+1)/24) x Dd
Luas Permukaan Tubuh (LPT dewasa 1,73 m2)

a. Crawford : Da = (LPTa/LPTd) x Dd
b. Denekamp :

Da = ((12LPTa + 13)/100) x Dd

Catatan : LPT = ((0,5738xbbxt)/(0,3964×0,024265))m2


Berat Badan (BB dewasa 70 kg)

a. Clark : Da = (Ba/Bd) x Dd

b. Augsberger :

Da = ((1,5B + 10)/100) x Dd
1. Perhitungan dosis tablet/kapsul/obat cair/suntikan

X = (dosis yg diminta : dosis yg tersedia) x satuan yg ada


1. Menghitung dosis obat untuk anak (Clark Rule)

Dosis anak = Permintaan x pelarut

Sediaan yg ada
Dosis Dewasa x Berat anak (Ponds)

50

1 Ponds = 2,2 kg
1. Menghitung pengganti takaran obat

Obat sediaan = Obat yg diperlukan

Tablet       Tablet yg diperlukan

Contoh: Tersedia Amoxylin 30 mg tiap tablet diperlukan obat sebanyak 375 mg?

Jawab:                         30                    =          375 = 12,5 Tablet

1 Tablet                       X

1. Kebutuhan cairan untuk Dehidrasi pd bayi Diare

BB x (D+M+C) cc

Dehidrasi (D) Ringan =5o cc/Sedang =80 cc/Berat =100 cc

Maintenance (M): Neonatus=140-120cc/ 0-1 Th=120-100cc/1-2 Th=100-90cc/2-4 Th=90-80cc


4-8 Th=80-70cc/8-12 Th=70-60cc/>12 Th=60-50cc

Concimetten Loss: Muntah=25cc/ BAB=25cc/ Muntah+BAB=30cc


1. Pemberian Infus pada Neonatus

Jumlah Cairan= Keb. Cairan x BB

Keb.Cairan: NaCl 3% =2-4 Meq/KgBB         1Meq=2cc

KCl 3,75% =1-3 Meq/KgBB                        1Meq=2cc

Bicnat 7,5% =2-4 Meq/KgBB                     1Meq=1cc

Dectrose 10% Jumlah Selebihnya


1. Pembuatan Larutan Saflon

Rumus: M1 x V1 = M2 x V2

Contoh: akan dibuat larutan Saflon 2% sebanyak 100 ml dengan sediaan larutan 20%. Berapa
cairan Saflon yang diperlukan?

Jawab: 20% v1 = 0,2% Ml

  v1 = 0,2% x 100 = 20 1 ml (jumlah saflon)

                 20%        20

Jumlah Aquades yg diperlukan = v2-v1 = 100-1

Ml = 99 ml

1. Pembuatan campuran obat skintest

Rumus: 1:9

Contoh: Amoxcylin 0,1cc dan aquades 0,9cc dalam spuit 1cc disuntikkan dengan undulasi 0,5-1
cm dan tunggu selama 15 menit hasilnya positif bila undulasi bertambah dan gatal (merah).

1. Perhitungan Tes Rumple Leed

Rumus: Sistolik + Diastolik

                 2

Contoh: TD: 120/80 mmHg


Jawab: 120+80 =100mmHg

Ditahan selama 15 menit dan hasilnya positif bila dalam lingkaran 5cm terdapat lebih dari 10
bercak merah (ptechie).

1. Perhitungan jumlah pemberian o2

Rumus: RR x volume tidal x 20%=ML

Contoh: Klien dengan RR 35x/menit harus mendapatkan o2 sebanyak

35×500 ML x 20% = 3500 ML = 3,5 Liter

1. Perhitungan pengambilan obat untuk tes Mantouk

Rumus: Unit Yg Diperlukan

       Unit yg tersedia dalam ml

Contoh: Terdapat cairan PPD dalam vial 4cc dengan kandungan obat 1 ml= 50 unit (5tu) maka
berapa yang diambil dalam vial?

Jawab: 5 unit  = 0,1 ml

            50 unit (dlm 1 ml)

Disuntikan IC dengan pembacaan hasil sesudah 24-72 jam. Untuk ATS diberikan 300 unit untuk
dewasa dan separuhnya untuk anak anti tetanus.

1. Perhitungan denyut nadi maksimal

Rumus: 220 – Umur (dalam tahun)

Contoh: Usia 20 tahun denyut nadi maksimalnya 200x/menit (saat olahraga stop apabila nadi
sudah mencapai 200x/menit)

1. Perhitungan BB Ideal

Rumus: BB x 100%

TB – 100

BB normal = nilai 90-100%

BB kurang, nilai kurang dari 90%


BB lebih, BB lebih dari 110%

Rumus (Bocca):

TB -100% Kg (pria TB < 160cm)

TB -100x 1 Kg (Wanita TB 150cm)

Contoh: Pria dengan TB 170cm harus memiliki BB ideal

(170-100)-10%=70-7 Kg (70×10%)= 63 Kg

1. Rumus menghitung BB dan TB normal untuk balita diatas 3 tahun

Rumus: BB= 8-2 (Kg)

TB= 80-5n (cm)

Contoh: Balita usia 3 tahun memiliki BB normal 14 Kg dan TB 95 cm.

1. Penilaian kesadaran dengan GCS

Mata (E):

4: Spontan membuka mata

3: Dengan perintah

2: Dengan rangsang nyeri

1: Tidak ada reaksi

Motorik (m):

6: Mengikuti perintah

5: Melokalisir nyeri

4: Menghindari nyeri

3: Fleksi abnormal

2: Ekstensi abnormal

1: Tidak ada reaksi


Verbal (V):

5: Orientasi baik

4: Disorientasi waktu & tempat, tapi dapat mengucapkan kalimat

3: Hanya mengucapkan kata-kata

2: Mengerang

1: Tidak ada reaksi

1. Penilaian AFGAR Score

Klinis 0 1 2
Warna kulit (A)

Pulse (P)

Reflek (G)

Tonus (A)

Nafas (R)Biru/ Pucat

Tidak ada

Tidak ada

Lunglai

Tidak adaBadan merah Ekstremitas Biru

<100x/menit

Menyeringai

Fleksi

Tidak teraturSeluruh badan merah

>100x/menit

Menangis kuat
Aktif

Kuat, Teratur

0-3 Aspiksia berat, 4-7 Aspiksia sedang, 7-10 Normal

1. Kekuatan Otot

0: tidak ada kontraksi

1: terdapat kontraksi tapi tidak bisa bergeser

2: hanya ada pergeseran dan pergerakan sendi

3: dapat mengadakan gerakan melawan gravitasi, tapi tidak bisa melawan

4: dapat melawan gravitasi tapi tidak dapat melawan tahanan (lemah)

5: dapat melawan tahanan pemeriksa dengan kekuatan penuh

Catatan:                       L Ka                L Ki

                        K Ka               K Ki

1. Tajam penglihatan

6/6       : Bisa membaca dengan benar huruf pada Snelen Chart dan orang

 orang normal pun dapat melakukanny (jarak 6 m)

6/30     : Hanya bisa membaca huruf pada jarak 6m, sedangkjan orang

normal bisa membaca pada jarak 30m.

3/60     : Hanya bisa melihat dan menentukan jumlah jari dengan benar

pada jarak 3m sedangkan orang normal 60m.

1/300   : Hanya bisa melihat lambaian tangan pada jarak 1m, orang normal

300m.

1/-        : Hanya bisa merasakan sinar saja

0                     : Buta total


1. Pemeriksaan pendengaran dan diagnosanya

Rinner Weber Schwabach Diagnosa


+ Tidak ada lateralisasiSama dengan Normal
pemeriksa
- Lateralisasi ke Memanjang Tuli konduktif
telinga sakit
+ Ke vg sehat Memendek Tuli sensori

Tes rinner        : membandingkan hantaran udara dengan hantaran tulang

pendengaran

Tes weber        : mwmbandingkan hantaran tulang kiri dan kanan

Tes schwabach:membandingkan hantaran tulang pendengaran klien

dengan pemeriksa

18. Stadium Tumor Nasofaring

I           : Tumor dinasofaring

II         : Meluas kerongga hidung sinus sfenoid

III        : Meluas ke sinus maksila, etmoid rongga mata dan pipi

IV        : Meluas ke rongga intra kranial

19. Stadium Ca Cerviks

0                    : insitu karsinoma di epitel

1                    : terbatas di serviks

2                    : menyebar ke luar serviks 2/3 bagian atas vagina dan parametrium

3                    : sudah mencapai dinding panggul

4                    : matasate ke rektum, vesika urinaria dan organ lain

20. Derajat luka bakar

Stadium 1        : pada epidermis (sembuh 5-7 hari)


Stadium 2        : pada dermis (sembuh 16-21 hari)

Stadium 3        : sudah mencapai subkutis

21. Klasifikasi Denyut Nadi

0                    : tidak teraba adanya denyut

1                    : denyutan berkurang dan sulit diraba

2                    : normal, teraba dengan mudah dan tidak mudah lenyap

3                    : denyutan kuat dan seperti memantul terhadap ujung jari

22. Klasifikasi dalam oedema

1+        : depresi 2mm

2+        : depresi 4mm

3+        : depresi 6mm

4+        : depresi 8mm

23. Pemberian oralit diberikan setiap mencret/muntah

< 1 th   : 50-100cc

1-5 th   : 100-200cc

>5 th    : 200-300cc

Dewasa: 400-500cc

24. Pemberian imunisasi menurut umur

Umur Antigen
2        Bulan

3        Bulan

4        Bulan

9    BulanBCG, DPT, polio 1


Hepatitis 1, DPT 2, Polio 2

Hepatitis 2, DPT 3, Polio 3

Hepatitis 3, Campak, Polio 4

25. Pemberian Suction

1. Ukuran Kateter Penghisap

Usia Ukuran
1. Neonatus 6-8 Fr
1. Bayi s/d 6 bulan 6-8 Fr
1. 18 bulan 8-10 Fr
1. 24 bulan 10 Fr
1. 2-4 tahun 10-12 Fr
1. 4-7 tahun 12 Fr
1. 7-10 tahun 12-14 Fr
1. 10-12 tahun 14 Fr
1. Dewasa 12-16 Fr
1. Regulator Vacum yang digunakan

Alat Vacum ( mmHg )


1. Bayi 60-100 mmHg
1. Anak-anak 100-120 mmHg
1. Dewasa 120-150 mmHg
Alat Vacum (inci Hg)
1. Bayi 3-5 inci Hg
1. Anak-anak 5-10 inci Hg
1. Dewasa 7-15 inci Hg

TERAPI CAIRAN PADA SYOK


Posted on October 13, 2012 by samoke2012

TERAPI  CAIRAN  PADA  KEGAWAT  DARURATAN  ANAK

Oleh Eko Prabowo

1. PENDAHULUAN

Secara umum penatalaksanaan cairan bisa secara enteral maupun parenteral. Dalam konteks
perawatan kegawat daruratan anak maka pembahasan terutama Pada penatalaksanaan
secara parenteral, karena hamper rutin dikerjakan dalam sehari hari di ruang perawatan gawat
darurat anak. Berbicara mengenai terapi cairan tidak bias lepas dari elektrolit, karena ini
merupakan satu kesatuan pembahasan. Berbeda dengan dewasa, anak lebih mudah mengalami
gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga diperlukan pemahaman prinsip‐prinsip
fisiologis tubuh. Dikatakan bahwa perburukan maupun perbaikan keadaan klinis penderita
berjalan paralel dengan perubahan‐perubahan pada variabel fisiologis.

1. PRINSIP‐PRINSIP FISIOLOGI CAIRAN dan ELEKTROLIT

Air merupakan komponen terbesar dan pelarut terpenting dari tubuh kita, dinyatakan dalam
persen berat badan dan besarnya berubah menurut umur. Pada saat menjelang dan segera setelah
lahir, air meliputi + 78% berat badan kemudian jumlahnya menurun secara bertahap. Cairan
tubuh terbagi dalam dua kompartemen yaitu intraseluler dan ekstraseluler. Ekstraseluler terbagi
dalam ruang interstisial dan intravaskuler. Pada fetus, cairan ekstraseluler lebih banyak dari
intraseluler dan jumlah cairan ekstraseluler menurun seiring bertambahnya usia, seperti yang
ditunjukkan gambar 1. Untuk memudahkan kita dalam penatalaksanaan cairan pada anak, maka
dari gambar 1 di atas bisa diambil titik‐titik penting seperti pada tabel 1 di bawahini.

Cairan tubuh juga terdapat pada dua ruang lain yaitu ruang transeluler dan ruang slowly
exchangeable. Sebenarnya ini juga merupakan cairan ekstraseluler tetapi mempunyai
karakteristik tersendiri dan dalam keadaan normal tidak terlalu penting. Komposisi elektrolit
berbagai kompartemen tidak sama. Natrium merupakan kation utama ekstraseluler dan aktif
secara osmotik menjaga volume intravaskuler dan interstisial. Kalium merupakan kation utama
intraseluler berperan menjaga osmolalitas intrasel dan memelihara volume sel. Kalium penting
untuk membangkitkan sel‐sel saraf dan otot serta bertanggung jawab terhadap kontraktilitas otot
(bercorak maupun polos) terutama otot jantung. (Gambar 2)

Asupan air dirangsang oleh rasa haus sebagai respon terhadap kekurangan air (hipertonik)
melalui osmoreseptor di mid‐hipotalamus, pankreas, dan vena portahepatika. Hipovolemia dan
hipotensi juga merangsang haus melalui baroreseptor di atrium dan pembuluh darah besar atau
melalui peningkatan angiotensin II. Ekskresi atau pengeluaran air dapat berupa kehilangan cairan
insensible (+30%), urin (+60%), dan sedikit cairan tinja (+10%). Hal ini menggambarkan jumlah
yang harus diminum perhari untuk mempertahankan keseimbangan cairan. Kehilangan cairan
insensible bisa melalui kulit (2/3) dan paru (1/3), tergantung faktor‐faktor yang mempengaruhi
energy expenditure (tidak tergantung keadaan cairan tubuh). Ini berbeda dengan kehilangan
cairan melalui keringat (sensible water and electrolyte losses) yang biasanya terjadi bila suhu
tubuh dan/atau lingkungan meningkat. Kehilangan cairan melalui keringat ini diatur oleh sistem
saraf otonom. Pengeluaran urin penting untuk mengatur osmolalitas dan komposisi cairan
ekstraseluler. Jumlah dan kadar urin dikendalikan oleh aksis neuro hypophyseal‐renal, yaitu anti
diuretic hormone (ADH). Distribusi antar kompartemen dipengaruhi permeabilitas membran dan
gradienosmolalitas, tetapi keseimbangannya menganut hukum iso‐osmolaritas, neutralitas
elektron, dan keseimbangan asam basa.

Osmolalitas plasma dapat dihitung dengan rumus:

Anak‐anak memerlukan cairan dan elektrolit relatif lebih banyak daripada orang dewasa
sehingga mudah mengalami gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Kebutuhan cairan per
hari didasarkan pada insensible water loss (IWL) + urin + cairantinja

Bisa juga diperkirakan berdasarkan energy expenditure, bahwa setiap 1 kcal = 1 mlH2O.
Berdasarkan perhitunganenergy expenditure rata‐rata pasien yang dirawat dirumah sakit
didapatkan kebutuhan cairan perhari sebagai berikut:

1. Bayi 1 hari = 50 ml H2O/kgBB/hari− Bayi 2 hari = 75 ml H2O/kgBB/hari


2. Bayi > 3 hari = 100 ml H2O/kgBB/hari

3. Berat badan 10 kg pertama = 100 ml H2O/kgBB/hari

4. Berat badan 10 kg kedua = 1000 ml + 50 ml H2O/kgBB/hari

5. Berat badan > 20 kg = 1500 ml + 20 ml H2O/kgBB/hari

Pada pasien dengan kesulitan kompensasi terhadap kelebihan atau kekurangan cairan dan
elektrolit (misalnya pada kelainan jantung, ginjal) harus dilakukan perhitungan
secaraketat/titrasi. Adanya faktor‐faktor yang bisa mengurangi/meningkatkan kebutuhan
cairan juga harus diperhitungkan. Perkiraan kebutuhan elektrolit per‐hari didasarkan pada
kebutuhan metabolisme atau pada kebutuhan cairan per‐hari, adalah

1. Natrium : 2 – 4 mEq/100mlH2O/hari
2. Kalium : 1 – 2 mEq/100mlH2O/hari

3. Klorida : 2 – 4 mEq/100mlH2O/hari

Persamaan‐persamaan untuk menentukan kebutuhan rumatan cairan dan elektrolit diatas


didasarkan pada beberapa ASUMSI dari rata‐rata kehilangan cairan insensible,
energy expenditure, metabolisme, dan produksi urin dengan anggapan tidak ada sumber
kehilangan cairan dan elektrolit dari tempat lain dan fungsi ginjal normal. Pada penderita‐
penderita dengan kegawat daruratan atau sakit kritis seringkali terdapat abnormalitas dari
asumsi-asumsi tersebut, karena itu penatalaksanaannya harus disesuaikan kondisi klinis
penderita.
1. TATA LAKSANA TERAPI CAIRAN PADA KEGAWAT DARURATAN

Tujuan utama penatalaksanaan cairan pada kegawat daruratan adalah mengembalikan volume
sirkulasi efektif yang adekuat dengan segera. Volume yang diperlukan bervariasi tergantung
keadaan klinis dan perlu evaluasi berulang. Adapun langkah‐langkah prinsipnya adalah sebagai
berikut:

1. Memperkirakan kehilangan cairan: melalui pengukuran berat badan, anamnesis, pemeriksaan


fisis, dan laboratorium.
2. Pemberian cairan intravena: meliputi penentuan cairan apa yang digunakan, berapa banyak,
bagaimana kecepatannya, bagaimana selanjutnya setelah volume sirkulasi efektif tercapai, dan
bagaimana osmolalitasnya.

3. Melakukan koreksi cepat yang aman sesuai dengan fisiologi terhadap gangguan keseimbangan
elektrolit yang mengancam jiwa dan dilanjutkan dengan koreksilambat. Aplikasi tata laksana
terapi cairan pada kegawat daruratan anak yang sering terjadi adalah pada kasus Dehidrasi dan
Syok.

DEHIDRASI

Perkiraan kehilangan cairan (status dehidrasi). Dehidrasi terjadi akibat kehilangan air dan
natrium. Bergantung pada komposisi cairan yang hilang secara akut, bila natrium yang hilang
bersama air konsentrasinya lebih tinggi dari kadar natrium cairan ekstraseluler maka akan terjadi
dehidrasi hipoosmotik. Bila kurang lebih sama akan terjadi dehidrasi iso‐osmotik, dan bila lebih
rendah akan terjadi dehidrasi hiperosmotik akibat tingginya kadar natrium dalam cairan
ekstraseluler. Gejala klinis dehidrasi dipengaruhi oleh berat ringannya kehilangan cairan (Tabel
2) dan kadar natrium cairan ekstraseluler. Tanda yang dapat dijumpai antara lain, berat badan
turun, turgor kulit menurun, ubun‐ubun cekung, mata cekung, mukosa kering, nadi cepat dan
tekanan darah turun, serta jumlah urin sedikit dan pekat. Laboratorium menunjukan kenaikan
hematokrit dan kenaikan berat jenis urin.

Langkah‐langkah dalam memperkirakan kehilangan cairan:

1. Berat badan

Perubahan berat badan yang cepat menggambarkan perubahan cairan tubuh total. Berat badan
diperlukan untuk menentukan banyaknya cairan pengganti yang dibutuhkan.

1. Anamnesis
1. Kehilangan cairan: Muntah, diare, perdarahan, luka bakar, drainase bedah (seberapa
banyak dan/atau seberapa sering).

2. Masukan cairan: Jenis cairan, berapa banyak, dan bagaimana keberhasilannya.

3. Produksi urin.

4. Pemeriksaan fisis
Status mental, nadi, frekuensi nadi, tekanan darah, membran mukosa, turgor kulit, warna kulit,
perabaan perifer, dan capillary refill.

1. Laboratorium Kimia serum, hematokrit, urin lengkap.

Pemberian cairan intravena

1. Cairan apa yang digunakan?

Untuk memperbaikai volume sirkulasi efektif, apapun jenis dehidrasinya (isoosmotik, hipo‐
osmotik, maupun hiperosmotik) cairan awal yang seharusnya diberikan adalah cairan isotonis.
Dalam hal ini yang biasa digunakan adalah Ringer’s Lactat  Ringer’s Asetat , dan NaCl 0,9%.
NilaiStrong Ion Difference (SID) dari NaCl 0,9% adalah 0 (nol), sehingga pasca resusitasi dapat
terjadiasi dosis metabolik hiperkloremik. Bila karena perdarahan maka pilihan volume expander 
terbaik adalah darah. Pada beberapa keadaan khusus perlu dipertimbangkan penggunaan koloid.

1. Berapa banyak?

Untuk memperbaiki volume sirkulasi efektif diberikan 10‐20 ml/kg BB dalam 10‐30 menit.
Evaluasi perbaikan klinis meliputi status mental, tanda vital, dan produksi urin. Bila masih
diperlukan bisa diulang. Bila belum membaik setelah diberikan 60 ml/kgBB, pertimbangkan
pemasangan central venous pressure (CVP) untuk menentukan volume intravaskuler yang lebih
tepat.

1. Bagaimana selanjutnya setelah volume sirkulasi efektif tercapai?

Bila belum memungkinkan peroral, total kebutuhan diberikan intravena dengan


mempertimbangkan

1. Sisa defisit (air maupun elektrolit): Volume: bandingkan berat badannya dengan berat badan
sebelum sakit, perhitungkan jumlah cairan selama resusitasi. Natrium: bila hiponatremi,
perhitungkan defisit natriumnya. Air: bila hipernatremi, perhitungkan defisit airnya.
2. Kehilangan cairan yang masih berlangsung: Volume dan komposisi elektrolitnya.

3. Kebutuhan rumatan: Air dan elektrolit (pertimbangkan kondisi yang meningkatkan/ mengurangi
kebutuhannya). Jumlahkan semua kebutuhan air dan elektrolit dari sisa defisit, kehilangan
cairan yang masih berlangsung (ongoing losses), dan kebutuhan rumatan. Kemudian tentukan
jenis cairannya berdasarkan jumlah total air dan elektrolit yang diperlukan dan juga kalori untuk
diberikan dalam 24 jam. Pertimbangkan juga kondisi klinis penderita seperti adanya kelainan
jantung dan kelainan ginjal. Nilai defisit dapat dihitung berdasar: Untuk mempermudah
perencanaan dapat dibuat format baku untuk tata laksana kebutuhan cairan seperti Tabel 3 di
bawah ini. Koreksi kehilangan cairan sebelumnya dan penggantian kehilangan cairanyangsedang
berlangsung harus dilakukan dengan teliti. Seperti tata laksana di ruangintensif pada umumnya,
penilaian harus dilakukan secara ketat dari waktu kewaktu dengan interval yang pendek (2‐4
jam). Perkiraan jumlah cairan yanghilang sebelumnya amat tergantung dari ketajaman penilaian
klinis doktermelalui anamnesis, pemeriksaan fisis, dan analisis laboratorium.
SYOK

Syok adalah sindrom klinis akibat kegagalan sistem sirkulasi dengan akibat ketidak cukupan
pasokan oksigen dan substrat metabolik lain ke jaringan serta kegagalan pembuangan sisa
metabolisme. Berdasarkan komponen system sirkulasi, terdapat 3 jenis syok yaitu syok
hipovolemik, kardiogenik, dan distributif. Adapun prinsip‐prinsip penatalaksanaannya adalah
sebagai berikut:

Syok sipovolemik Pemberian cairan kristaloid 10 ml/kgBB secara bolus (secepatnya) dapat


dilakukan sambil menilai respon tubuh. Pada syok hipovolemik, maka peningkatan volume
intravaskular akan meningkatkan isi sekuncup disertai penurunan frekuensi jantung. Pada kasus
yang berat, pemberian cairan dapat diulangi 10 ml/kgBB sambil menilai respon tubuh. Pada
umumnya anak dengan syok hipovolemik mempunyai nilai CVP kurang dari 5 mmHg.
Pemberian cairan harus diteruskan hingga mencapai normo volemik. Kebutuhan cairan untuk
mengisi ruang intravaskular umumnya dapat dikurangi bila digunakan cairan koloid. Syok
kardiogenik Curah jantung merupakan fungsi isi sekuncup dan frekuensi. Bayi mempunyai
ventrikel yang relatif non compliant dengan kemampuan meningkatkan isi sekuncup amat
terbatas. Karena itu curah jantung bayi amat bergantung pada frekuensi. Syok kardiogenik pada
penyakit jantung bawaan tidak dibahas di sini. Isi sekuncup dipengaruhi oleh  preload, afterload,
dan kontraktilitas miokardium. Sesuai dengan hukum Starling, peningkatan  preload akan
berkorelasi positif terhadap curah jantung hingga tercapai plateau. Karena itu, sekalipun pada
gangguan fungsi jantung, mempertahankan preload yang optimal tetap harus dilakukan.
Penurunan curah jantung pasca bolus cairan menunjukkan bahwa volume loading harus
dihentikan. Upaya menurunkan afterload terindikasi pada keadaan gagal jantung dengan
peningkatan resistensi vaskular sistemik yang berlebihan. Untuk tujuan ini dapat digunakan
vasodilator. Diuretik digunakan pada kasus dengan tanda kongestif paru maupun sistemik. Untuk
tujuan ini dapat digunakan diuretik loop, atau kombinasi dengan bumetanid, tiazid atau
metolazon. Berbagai kondisi yang memperburuk fungsi kontraktilitas miokardium harus segera
diatasi, seperti hipoksemia, hipoglikemia, dan asidosis. Untuk memperbaiki fungsi kontraktilitas
ini, selanjutnya dapat digunakan obat inotropik (seperti dopamin, dobutamin, adrenalin, amrinon,
milrinon). Untuk mencapai fungsi kardiovaskular yang optimal, dengan pengaturan preload ,
penggunaan obatinotropik dan vasodilator (seperti sodium nitroprusid, nitrogliserin), dibutuhkan
pemantauan tekanan darah, curah jantung, dan resistensi vaskular sistemik. Syok distributif dan
syok septik

Tata laksana syok distributif adalah pengisian volume intravaskular dan mengatasi penyebab
primernya. Syok septik merupakan suatu keadaan khusus dengan patofisiologi yang kompleks.
Pada syok septik,‘warm shock’ , suatu syok distributif, terjadi pada fase awal. Penggunaan
stimulator alfa (seperti noradrenalin) dilaporkan tidak banyak memperbaiki keadaan, bahkan
menurunkan produksi urindan mengakibatkan asidosis laktat. Pada fase lanjut, terjadi penurunan
curah jantung dan peningkatan resistensi vaskular sistemik akibat hipoksemia dan asidosis.
Karena itu tata laksana syok septik lanjut, mengikuti kaidah syok kardiogenik. Sekali punmasih
kontroversi, steroid terkadang digunakan pada syok septik yang resisten terhadap katekolamin
dengan risiko insufisiensi adrenal.
J

JENIS CAIRAN INTRAVENAPADA BEBERAPA PENYAKIT ANAK

1. Jenis-Jenis Cairan Intravena

Umumnya terapi cairan yang dapat diberikan berupa cairan kristaloid dan koloid atau kombinasi
keduanya. Cairan kristaloid adalah cairan yang mengandung air, elektrolit dan atau gula dengan
berbagai campuran. Cairan ini bisa isotonik, hipotonik, dan hipertonik terhadap cairan plasma.
Sedangkan cairan koloid yaitu cairan yang BM nya tinggi.7,83.

1. Cairan Kristaloid

Cairan kristaloid terdiri dari:

1. Cairan Hipotonik

Cairan ini didistribusikan ke ekstraseluler dan intraseluluer. Oleh karena itu penggunaannya
ditujukan kepada kehilangan cairan intraseluler seperti pada dehidrasi kronik dan pada kelainan
keseimbangan elektrolit terutama pada keadaan hipernatremi yang disebabkan oleh kehilangan
cairan pada diabetes insipidus. Cairan ini tidak dapat digunakan sebagai cairanresusitasi pada
kegawatan. Contohnya dextrosa 5%

1. Cairan Isotonik

Cairan isotonik terdiri dari cairan garam faali (NaCl 0,9%), ringer laktat dan plasmalyte. Ketiga
jenis cairan ini efektif untuk meningkatkan isi intravaskuler yang adekuat dan diperlukan jumlah
cairan ini 4x lebih besar dari kehilangannya. Cairan ini cukup efektif sebagai cairan resusitasi
dan waktu yang diperlukanpun relatif lebih pendek disbanding dengan cairan koloid.

1. Cairan Hipertonik

Cairan ini mengandung natrium yang merupakan ion ekstraseluler utama. Oleh karena itu
pemberian natrium hipertonik akan menarik cairan intraseluler ke dalam ekstra seluler .Peristiwa
ini dikenal dengan infus internal. Disamping itu cairan natrium hipertonik mempunyai efek
inotropik positif antara lain memvasodilatasi pembuluh darah paru dan sistemik. Cairan ini
bermanfaat untuk luka bakar karena dapat mengurangi edema pada luka bakar, edema perifer dan
mengurangi jumlah cairan yang dibutuhkan, contohnya NaCl 3% Beberapa contoh cairan
kristaloid :

1)      Ringer Laktat (RL)

Larutan yang mengandung konsentrasi Natrium 130 mEq/L, Kalium 4 mEq/l, Klorida 109mEq/l,
Kalsium 3 mEq/l dan Laktat 28 mEq/L. Laktat pada larutan ini dimetabolisme didalam hati dan
sebagian kecil metabolisme juga terjadi dalam ginjal. Metabolisme ini akan terganggu pada
penyakit yang menyebabkan gangguan fungsi hati. Laktat dimetabolisme menjadi piruvat
kemudian dikonversi menjadi CO2 dan H2O (80% dikatalisis oleh enzimpiruvat dehidrogenase)
atau glukosa (20% dikatalisis oleh piruvat karboksilase). Kedua proses ini akan membentuk
HCO3. Sejauh ini Ringer Laktat masih merupakan terapi pilihan karena komposisi elektrolitnya
lebih mendekati komposisi elektrolit plasma. Cairan ini digunakan untuk mengatasi kehilangan
cairan ekstra seluler yang akut. Cairan ini diberikan pada dehidrasi berat karena diare murni dan
demam berdarah dengue. Pada keadaan syok, dehidrasi atau DSS pemberiannya bias diguyur.

2)      Ringer Asetat

Cairan ini mengandung Natrium 130 mEq/l, Klorida 109 mEq/l, Kalium 4 mEq/l, Kalsium
3mEq/l dan Asetat 28 mEq/l. Cairan ini lebih cepat mengoreksi keadaan asidosis
metabolik dibandingkan Ringer Laktat, karena asetat dimetabolisir di dalam otot, sedangkan
laktat didalam hati. Laju metabolisme asetat 250 ± 400 mEq/jam, sedangkan laktat 100
mEq/jam.Asetat akan dimetabolisme menjadi bikarbonat dengan cara asetat bergabung dengan
ko-enzim A untuk membentuk asetil ko-A., reaksi ini dikatalisis oleh asetil ko-A sintetase
danmengkonsumsi ion hidrogen dalam prosesnya. Cairan ini bisa mengganti pemakaian
Ringer Laktat.‡ Glukosa 5%, 10% dan 20%Larutan yang berisi Dextrosa 50 gr/liter , 100
gr/liter , 200 gr/liter.9 Glukosa 5% digunakanpada keadaan gagal jantung sedangkan Glukosa
10% dan 20% digunakan pada keadaan hipoglikemi , gagal ginjal akut dengan anuria dan gagal
ginjal akut dengan oliguria .

3)      NaCl 0,9%

Cairan fisiologis ini terdiri dari 154 mEq/L Natrium dan 154 mEq/L Klorida, yang digunakan
sebagai cairan pengganti dan dianjurkan sebagai awal untuk penatalaksanaan hipovolemia yang
disertai dengan hiponatremia, hipokloremia atau alkalosis metabolik. Cairan ini digunakan pada
demam berdarah dengue dan renjatan kardiogenik juga pada sindrom yang berkaitan dengan
kehilangan natrium seperti asidosis diabetikum, insufisiensi adrenokortikaldan luka bakar. Pada
anak dan bayi sakit penggunaan NaCl biasanya dikombinasikan dengancairan lain, seperti NaCl
0,9% dengan Glukosa 5 %.

1. Cairan Koloid Jenis-jenis cairan koloid adalah :

1)      Albumin.Terdiri dari 2 jenis yaitu:

a)      Albumin endogen.Albumin endogen merupakan protein utama yang dihasilkan dihasilkan
di hati dengan BMantara 66.000 sampai dengan 69.000, terdiri dari 584 asam amino. Albumin
merupakanprotein serum utama dan berperan 80% terhadap tekanan onkotik plasma. Penurunan
kadar Albumin 50 % akan menurunkan tekanan onkotik plasmanya 1/3nya.

b)      Albumin eksogen.Albumin eksogen ada 2 jenis yaitu human serum albumin, albumin
eksogen yang diproduksiberasal dari serum manusia dan albumin eksogen yang dimurnikan
(Purified protein fraction)dibuat dari plasma manusia yang dimurnikan.8Albumin ini tersedia
dengan kadar 5% atau 25% dalam garam fisiologis. Albumin 25% biladiberikan intravaskuler
akan meningkatkan isi intravaskuler mendekati 5x jumlah yangdiberikan.Hal ini disebabkan
karena peningkatan tekanan onkotik plasma. Peningkatan inimenyebabkan translokasi cairan
intersisial ke intravaskuler sepanjang jumlah cairanintersisial mencukupi.8Komplikasi albumin
adalah hipokalsemia yang dapat menyebabkan depresi fungsimiokardium, reaksi alegi terutama
pada jenis yang dibuat dari fraksi protein yangdimurnikan. Hal ini karena factor aktivator
prekalkrein yang cukup tinggi dan disamping ituharganya pun lebih mahal dibanding dengan
kristaloid.8 Larutan ini digunakan padasindroma nefrotik dan dengue syok sindrom

2)      HES (Hidroxy Ethyl Starch)Senyawa kimia sintetis yang menyerupai glikogen. Cairan ini
mengandung partikel denganBM beragam dan merupakan campuran yang sangat
heterogen.Tersedia dalam bentuk larutan6% dalam garam fisiologis. Tekanan onkotiknya adalah
30 mmHg dan osmolaritasnya 310mosm/l. HES dibentuk dari hidroksilasi aminopektin, salah
satu cabang polimer glukosa.8Pada penelitian klinis dilaporkan bahwa HES merupakan volume
ekspander yang cukupefektif. Efek intarvaskulernya dapat berlangsung 3-24 jam. Pengikatan
cairan intravasuler melebihi jumlah cairan yang diberikan oleh karena tekanan onkotiknya yang
lebih tinggi.Komplikasi yang dijumpai adalah adanya gangguan mekanisme pembekuan darah.
Hal initerjadi bila dosisnya melebihi 20 ml/ kgBB/ hari.8

3)      DextranCampuran dari polimer glukosa dengan berbagai macam ukuran dan berat
molekul.Dihasilkan oleh bakteri Leucomostoc mesenteriodes yang dikembang biakkan di
mediasucrose. BM bervariasi dari beberapa ribu sampai jutaan Dalton.Ada 2 jenis dextran yaitu
dextran 40 dan 70. dextran 70 mempunyai BM 70.000 (25.000-125.000). sediaannya terdapat
dalam konsentrasi 6% dalamgaram fisiologis. Dextran ini lebih lambat dieksresikan
dibandingkan dextran 40. Oleh karenaitu dextran 70 lebih efektif sebagai volume ekspander dan
merupakan pilihan terbaik dibadingkan dengan dextran 40.8Dextran 40 mempunyai BM 40.000
tersedia dalam konsentrasi 10% dalam garam fisiologisatau glukosa 5%. Molekul kecil ini
difiltrasi cepat oleh ginjal dan dapat memberikan efek diuretik ringan. Sebagian kecil dapat
menembus membran kapiler dan masuk ke ruangintersisial dan sebagian lagi melalui sistim
limfatik kembali ke intravaskuler.8Pemberian dextran untuk resusitasi cairan pada syok dan
kegawatan menghasilkan perubahanhemodinamik berupa peningkatan transpor oksigen. Cairan
ini digunakan pad penyakitsindroma nefrotik dan dengue syok sindrom. Komplikasi antara lain
payah ginjal akut, reaksianafilaktik dan gangguan pembekuan darah.8

4)      GelatinCairan ini banyak digunakan sebagai cairan resusitasi terutama pada orang dewasa
dan padabencana alam. Terdapat 2 bentuk sediaan yaitu:1.Modified Fluid Gelatin (MFG)2. Urea
Bridged Gelatin (UBG)Kedua cairan ini punya BM 35.000. Kedua jenis gelatin ini punya efek
volume expander yang baik pada kegawatan. Komplikasi yang sering terjadi adalah reaksi
anafilaksis.83.1.3 Cairan Kombinasi‡ KaEn 1 B (GZ 3 : 1)Larutan yang mengandung Natrium
38,5 mEq/L, Klorida 38,5 mEq/L. Dextrose 37,5 gr/L.Cairan ini digunakan sebagai cairan
rumatan pada penyakit bronkopneumonia, statusasmatikus dan bronkiolitis.9

5)      Cairan 2aLarutan yang terdiri dari glukosa 5% dan NaCl 0,9 % dengan perbandingan 1 : 1
yang terdiridari dextrosa monohidrat 55gr/L, dextrosa anhidrat 50 gr/L, Natrium 150 mmol/L
dan klorida150 mmol/L. Cairan ini digunakan pada diare dengan komplikasi dan
bronkopneumonidengan komplikasi. Sedangkan campuran glukosa 10% dan NaCl 0,9 % dengan
perbandingan1:1 digunakan pada bronkopneumoni dengan dehidrasi oleh karena intake
kurang9‡ Cairan G:B 4:1Larutan yang terdiri dari glukosa 5% dan Natrium Bikarbonat 1,5 %
yang merupakancampuran dari 500 cc Glukosa 5% dan 25 cc Natriun Bikarbonat 8,4%. Cairan
ini digunakanpada neonatus yang sakit

6)      Cairan DGCairan ini terdiri dari Natriun 61 mEq/L, Kalium 18mEq/L serta Laktat 27
mEq/L danKlorida 52 mEq/L serta Dextrosa 25 g/L.9 Cairan ini digunakan pada diare
dengankomplikasi.‡ Cairan Natrium Bicarbonat (Meylon)Cairan ini mengandung natrium 25
mEq/25ml dan bicarbonat 25 mEq/25ml. Cairan inidigunakan pada keadaan asidosis akibat
defisit bicarbonat.9 Sediaan dalam bentuk flakonsebanyak 25 ml dengan konsentrasi 8,4% ( 84
mg/ml)‡Cairan RLDCairan yang terdiri dari I bagian Ringer laktat dan 1 bagian Glikosa 5%
yang bisa digunakanpada demam berdarah dengue .‡Cairan G:Z 4:1Cairan yang terdiri dari 4
bagian glukosa 5-10% dan 1 bagian NaCL 0,9% yang bisadigunakan pada dehidrasi berat karena
diare murni.

1. Prinsip Terapi Cairan

Terapi cairan merupakan salah satu aspek terpenting dari perawatan pasien. Pemilihan
cairansebaiknya berdasarkan atas status hidrasi pasien, konsentrasi elektrolit dan
kelainanmetabolik yang ada. Secara sederhana tujuan terapi cairan dibagi atas resusitasi
ataupengganti yaitu untuk mengganti kehilangan cairan akut dan rumatan untuk
menggantikehilangan harian.Kebutuhan air dan elektrolot sebagai terapi dapat dibagi atas 3
kategori:1. Terapi pemeliharaan atau rumatanSebagai pengganti cairan yang hilang melalui
pernafasan, kulit, urin dan tinja ( Normal Water Losses = NWL). Kehilangan cairan melalui
pernafasan dan kulit disebut Insesible Water Losses (IWL). Kebutuhan cairan pengganti rumatan
ini dihitung berdasarkan kg BB.Kebutuhan cairan untuk terapi rumatan dipengaruhi oleh suhu
lingkungan dan Cdiatasraktifitas terutama IWL oleh karena itu setiap kenaikan suhu 1 C
kebutuhan cairanditambah 12%. Sebaliknya IWL akan suhu tubuh 37 menurun pada keadaan
menurunnyaaktivitas seperti dalam keadaan koma dan keadaan hipotermi maka kebutuhan cairan
rumatanharus dikurangi 12% C dibawah suhu tubuh normal. Cairanpada setiap penurunan suhu
1intravena untuk terapi rumatan ini biasanya campuran Dextrosa 5% atau 10% dengan
larutanNaCl 0,9% 4:1 , 3:1, atau 1:1 yang disesuaikan dengan kebutuhan dengan
menambahkanlarutan KCl 2 mEq/kgBB.2. Terapi defisit.Sebagai pengganti air dan elektrolit
yang hilang secara abnormal (Previous Water Losses=PWL) yang menyebabkan dehidrasi.
Jumlahnya berkisar antara 5-15% BB. Biasanyakehilangan cairan yang menyebabkan dehidrasi
ini disebabkan oleh diare, muntah-muntahakibat stenosis pilorus, kesulitan pemasukan oral dan
asidosis karena diabetes. BerdasarkanPWL ini derajat dehidrasi dibagi atas ringan yaitu
kehilangan cairan sekitar 3-5% BB,dehidrasi sedang kehilangan cairan sekitar 6-9% BB dan
dehidrasi berat kehilangan cairanberkisar 10% atau lebih BB.3. Terapi pengganti kehilangan
cairan yang masih tetap berlangsung( Concomitant water losses=CWL).Kehilangan cairan ini
bisa terjadi melalui muntah dan diare yang masih tetap berlangsung,pengisapan lendir,
parasentesis dan lainnya. Jumlah kehilangan CWL ini diperkirakan 25ml/kgBB/24 jam untuk
semua umur.Untuk mengatasi keadaan diatas diperlukan terapi cairan. Bila pemberian cairan
peroral tidak memungkinkan, maka dicoba dengan pemberian cairan personde atau gastrostomi,
tapi bilajuga tidak memungkinkan, tidak mencukupi atau membahayakan keadan penderita,
terapicairan secara intra vena dapat diberikan.
1. Terapi Cairan Pada Beberapa Penyakit Bayi dan Anak
2. Demam Berdarah Dengue

Penyakit demam berdarah dengue adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue
dan ditularkan melalui gigitan nyamuk. Patogenesis penyakit ini hingga kini belum diketahui
secara pasti. Ada dua teori yang banyak dianut yaitu hipotesis infeksi sekunder (theory secondary
heterologeus infection atau hypothesis immune enhancement) danhipotesis virulensi virus.
Hipotesis virulensi virus mengalami perubahan genetik akibattekanan sewaktu virus mengadakan
replikasi baik pada tubuh manusia maupun tubuhnyamuk. Hipotesis infeksi sekunder
menyatakan secara tidak langsung bahwa pasien yangmengalami kedua kalinya dengan serotipe
virus yang heterologeus mempunyai resiko yanglebih besar untuk menderita demam berdarah
dengue.Masuknya antigen menyebabkan terbentuknya antibodi yang akan mengaktifkan
komplemenC3 dan C5 menjadi C3a dan C5a yang akan menyebabkan meningkatnya
permeabilitasdinding pembuluh darah sehingga plasma merembes dari ruang intravaskuler
keekstravaskuler yang ditandai dengan meningkatnya hematokrit. Keadaan ini
dapatmengakibatkan syok hipovolemik. Di samping itu juga terjadi agregasi trombosit akibat
dariperlengketan kompleks antigen antibodi pada membran trombosit yang
menyebabkantrombosit melekat satu sama lain sehingga trombosit kehilangan fungsinya dan
akandihancurkan oleh sistem retikulo endotelial (RES), maka terjadilah trombositopenia
danpendarahan.

1. Derajat I dan II (tanpa syok)Pemberian cairan IVFD pada pasien DBD tanpa renjatan diperlukan
bila :1. Anak terus menerus muntah, minum tidak mau, demam tinggi, sehingga tidak bisa
minumper oral.2. Nilai hematokrit cenderung meningkat pada pemeriksaan berkala.Pemilihan
jenis dan volume cairan yang diperlukan tergantung dari umur, berat badan pasienserta derajat
kehilangan cairan. Jenis cairan yang direkomendasi WHO adalah:- Kristaloid* Ringer Laktat atau
Dextrose 5% dalam larutan Ringer Laktat (RLD)* Larutan Ringer Asetat atau Dextrose 5% dalam
larutan Ringer Asetat (RAD)* Larutan NaCl 0,9% atau Dextrose dalam NaCl 0,9% (D5/RF)- Koloid*
Dextran* PlasmaCairan Yang Diberikan Berdasarkan Berat BadanBerat Badan
Cairanyangdiberikan/kgBB/24jam3-10 kg10-15 kg 15 kg 205 cc175 cc140 ccTatalaksana DBD
derajat I dan II tanpa peningkatan hematokritApabila pasien tidak dapat minum atau muntah
terus menerus, sebaiknya diberikan infusNaCl 0,9 % : Dektrose 5% (1 : 3) dipasang dengan
tetesan rumatan sesuai berat badan.Disamping itu perlu dilakukan pemeriksaan Hb, Ht dan
trombosit setiap 6 ± 12 jam. Tindak lanjut, diuresis diukur tiap 24 jam dan awasi perdarahan
yang terjadi. Apabila terjadiperbaikan klinis dan laboratoris, anak dapat dipulangkan tetapi bila
kadar Ht cenderung naik dan trombosit menurun, maka infus cairan ditukar dengan RingerLaktat
dan tetesandisesuaikan sebagai DBD derajat I dan II dengan 20%.peningkatan hematokrit20
%Tatalaksana DBD derajat I dan II dengan peningkatan hematokritPada saat pasien datang,
diberikan cairan kristaloid RL atau NaCL 0,9% atau RLD5 atauNaCl 0,9% + D5 6-7 ml/kgBB/jam
dengan kecepatan 2 tetes/kgbb/menit. Monitor tanda vitaldan kadar hematokrit serta
trombosit tiap 6 jam, selanjutnya evaluasi 12-24 jam.a. Apabila selama observasi keadaan umum
membaik, maka tetesan dikurangi menjadi 5ml/kgBB/jam dengan kecepatan 1
tetes/kgbb/menit. Apabila dalam observasi selanjutnyatanda vital tetap stabil, tetesan dikurangi
menjadi 3 ml/kgBB/jam dan dihentikan pada 24-48jam.b. Apabila keadaan klinis tidak ada
perbaikan, anak tampak gelisah, nafas cepat, frekwensinadi meningkat. Diuresis kurang, tekanan
nadi < 20 mmHg memburuk, serta peningkatan Ht,maka tetesan dinaikan 15 ml/kgBB/jam
dengan kecepatan 4 tetes/kgbb/menit. Apabila dalam12 jam belum terjadi perbaikan klinis,
cairan dinaikan lagi menjadi 15/ml/kgBB/jam dengankecepatan 4 tetes/kgbb/menit kemudian
dievaluasi 12 jam lagi. Apabila terjadi distresspernafasan dan Ht naik maka berikan cairan koloid
20-30 ml/kgBB/jam dengan kecepatan 5-7 tetes/kgbb/menit, tetapi bila Ht turun, diberikan
transfusi darah segar 10 ml/kgBB/jamdengan 2-3 tetes/kgbb/menit. Bila keadaan klinis membaik
maka cairan disesuaikan.
2. Derajat III dan IV (dengan syok)a. Bila pasien berada pada derajat III maka segera beri infus
kristaloid (RL atau NaCl 0,9%)20 ml/kgBB secepatnya (berikan dalam bolus selama 30 menit) dan
oksigen 2 liter/menit.Sedangkan pada derajat IV cairan diguyur bila perlu dengan semprit 100-
200 ml. Observasitensi dan nadi tiap 15 menit, hematokrit dan trombosit tiap 4-6 jam. Periksa
elektrolit dangula darahb. Bila dalam waktu 30 menit syok belum teratasi, tetesan RL dilanjutkan
15-20 ml/kgBBdengan kecepatan 4-5 tetes/kgBB/menit ditambah plasma 10-20 ml/kgBB dengan
kecepatan2-5 tetes/kgBB/menit maksimal 30 ml/kgBB. Observasi keadaan umum, tekanan
darah, naditiap 15 menit dan periksa Ht tiap 4-6 jam.1) Apabila syok telah teratasi, cairan
dikurangi menjadi 10 ml/kgBB/jam dengan kecepatan2-3 tetes/kgbb/menit. Volume 10
ml/kgBB/jam dapat dipertahankan sampai 24 jam atausampai klinis stabil dan Ht menurun < 40
vol %. Selanjutnya cairan diturunkan 5 ml danseterusnya 3 ml/kgBB/jam. Dianjurkan pemberian
cairan tidak melebihi 48 jam setelah syok teratasi. Observasi klinis, tekanan darah, nadi, jumlah
urine tiap jam. Pemeriksaan Ht dantrombosit tiap 4-6 jam sampai keadaan umum baik. 2)
Apabila syok belum dapat teratasi,sedangkan kadar hematokrit menurun tetapi masih > 40 vol %
berikan darah dalam volumekecil 10ml/kg BB. Apabila tampak perdarahan masif, berikan darah
segar 20 ml/kgBB dandilanjutkan cairan kristaloid 10 ml/kgBB/jam.c. Apabila syok masih belun
teratasi pasang CVP untuk mengetahui kebutuhan cairan danpasang kateter urin untuk
mengetahui jumlah urin. 10 mmH2O) maka berikandopamin.

3. Diare

Diare adalah berak-berak encer lebih dari 3 kali (pada anak), lebih dari 4 kali (pada bayi)disertai/
tanpa disertai adanya darah atau lendir.Mula-mula bayi dan anak menjadi cengeng, gelisah ,suhu
tubuh bisanya meningkat, nafsumakan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja
cair dan mungkin disertaidarah atau lendir. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah
diare. Bila penderitatelah banyak kehilangan cairan dan elektrolit, maka gejala dehidrasi mulai
tampak.Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi menjadi dehidrasi ringan,
sedang danberat.Pemberian cairan melalui intravena diberikan pada penderita diare akut dengan
dehidrasiberat. Cairan yang diberikan adalah:‡Ringer Laktat atau garam normal, 100 mg/kgBB
mulai diberi segera. Bila penderita bisaminum berikan oralit sewaktu cairan iv dimulai.‡ Jumlah
pemberian cairannya sebagai berikut:‡ 1 bulan ± 1 tahun : 1 jam I = 30 ml/kgBB5 jam II = 70
ml/kgBB‡ >1 tahun : ½ jam I = 30 ml/kgBB2 ½ jam II = 70 ml/kgBBContoh :Seorang anak laki-
laki umur 2 tahun, BB= 10 kg menderita diare akutDengan dehidrasi berat. Kebutuhan cairannya
adalah:½ jam I = 30x 10x 151x 60= 75 tetes/menit.2½ jam II = 70x 10x 155x 60= 35 tetes/
menit.Catt : 1 cc = 15 tetes makro.Ulangi bila nadi masih lemah atau tidak teraba. Nilai kembali
penderita tiap 1-2 jam. Bilarehidrasi belum tercapai percepat tetesan iv. Juga berikan oralit
5ml/kgBB/jam bila penderitabisa minum untuk memberi tambahan kalium dan basa, biasanya
setelah 3-4 jam (bayi) atau1-2 jam (anak). Setelah 6 jam (bayi) atau 3 jam (anak) nilai lagi
keadaan penderita. Bilatanda-tanda rehidrasi masih belum berubah atau bertambah buruk dan
terutama bila penderitajuga mengeluarkan tinja cair beberapa kali, jumlah total cairan yang
diberikan untuk rehidrasiharus ditingkatkan.Kebutuhan cairan hari pertama pada dehidrasi berat :
3-10 kg = 205 ml/kgBB/ 24 jam ( 80+25+100)10-15 kg = 175 ml/kgBB/ 24 jam ( 70+25+80)10-
15 15-25 kg = 140 ml/kgBB/ 24 jam ( 50+25+65)Kebutuhan cairan hari kedua dan selanjutnya
(NWL+ CWL) :3-10 kg = 125 ml/kgBB/ 24 jam ( 25+100)10-15 kg = 105 ml/kgBB/ 24 jam
( 25+80)15-25 kg = 90 ml/kgBB/ 24 jam ( 25+65)Setelah teratasi dehidrasi berat penatalaksaan
dilanjutkan sesuai dengan tanda-tanda dehidrasiyang ada apakah dehidrasi sedang atau
ringan.Diare dengan beberapa komplikasi.

‡Malnutrisi energi protein ringan,sedang dan berat tipe marasmus dengan diare
dehidrasiberat.‡Jenis cairan : DD atau 2a + KCl 10 mEq/500 cc‡Jumlah cairan = PWL+ NWL+
CWL (dalil Darrow). Contoh :Seorang anak laki-laki umur 2 tahun BB=10 kg menderita
malnutrisi energi sedang tipemarasmus dengan diare dehidrasi berat, kebutuhan cairannya
adalah:- 4 jam I = 60 x 10x 154x 60= 38 tetes/menit.20 jam II = 190x 10x 1520x 60= 24
tetes/menit.Cara dan lama pemberian cairan sama dengan diare dengan dehidrasi
berat‡Malnutrisi energi protein berat tipe marasmik-kwaskoiskor atau tipe kwaskioskor
dengandiare dehidrasi berat.Jenis cairan : DG atau 2a + KCl 10 mEq/500 ccJumlah cairan : 4/5
(PWL+ NWL+ CWL)Contoh :Seorang anak laki-laki umur 2 tahun BB=10 kg menderita
malnutrisi energi berat tipemarasmik-kwaskioskor dan tipe kwaskioskor dengan diare dehidrasi
berat, kebutuhancairannya adalah:- 4 jam I = 60 x 10x 154x 60= 38 tetes/menit.20 jam II = 150x
10x 1520x 60= 7 tetes/menit.Cara dan lama pemberian cairan sama dengan penatalaksanaa diare
dengan dehidrasi berat‡Diare dehidrasi berat dengan bronkopneumoni tanpa disertai kelainan
jantung.Jenis cairan : DG atau 2a + KCl 10 mEq/500 ccJumlah cairan : PWL+ NWL+
CWLContoh :Seorang anak laki-laki umur 2 tahun BB=10 kg diare dehidrasi berat
denganbronkopneumoni tanpa disertai kelainan jantung , kebutuhan cairannya adalah:- 4 jam I =
60x 10x 154x 60= 38 tetes/menit.20 jam II = 190x 10x 1520x 60= 24 tetes/menit.Cara dan lama
pemberian cairan sama dengan penatalaksanaa diare dengan dehidrasi berat.‡Diare dehidrasi
berat dengan malnutrisi energi protein ringan, sedang, berat tipe marasmusdisertai
bronkopneumoni tanpa kelainan jantung.Jenis cairan : DG atau 2a + KCl 10 mEq/500 ccJumlah
cairan dan kecepatan pemberian sama seperti diare dehidrasi berat
denganbronkopneumoni.Contoh :Seorang anak laki-laki umur 2 tahun BB=10 kg diare dehidrasi
berat dengan malnutrisi energiprotein ringan, sedang, berat tipe marasmus disertai
bronkopneumoni tanpa kelainan jantung ,kebutuhan cairannya adalah:4 jam I = 60 x 10x 154x
60= 38 tetes/menit.20 jam II = 190x 10x 1520x 60= 24 tetes/menit.

‡ Diare dehidrasi berat dengan malnutrisi energi protein berat tipe marasmik-kwasioskor dantipe
kwaskoiskor yang disertai bronkopneumoni tanpa kelainan jantung.Jenis cairan : Dgaa atau 2a
+KCl 10 mEq/500ccJumlah cairan dan kecepatan pemberian sama seperti diare dehidrasi berat
dengan malnutrisienergi protein berat tipe marasmik-kwaskioskor dan tipe
kwashioskor Contoh :Seorang anak laki-laki umur 2 tahun BB=10 kg diare dehidrasi berat
dengan malnutrisi energiprotein berat tipe marasmik-kwaskioskor dan tipe kwaskoiskor disertai
bronkopneumonitanpa kelainan jantung , kebutuhan cairannya adalah:4 jam I = 60 x 10x 154x
60= 38 tetes/menit.20 jam II = 190x 10x 1520x 60= 24 tetes/menit.‡ Diare dehidrasi berat
dengan kelainan jantung bawaan.1. CHD dengan right to left shunt disertai dehidrasi berat.Jenis
cairan : DG atau 2a + KCl 10 mEq/500ccJumlah cairan : PWL+ NWL+ CWLContoh :Seorang
anak laki-laki umur 2 tahun BB=10 kg menderita CHD dengan right to left shuntdisertai
dehidrasi berat, kebutuhan cairannya adalah:4 jam I = 60 x 10x 154x 60= 38 tetes/menit.20 jam
II = 190x 10x 1520x 60= 24 tetes/menit.Cara dan lama pemberian cairan sama dengan
penatalaksanaa diare dengan dehidrasi berat2. CHD dengan left to right shunt disertai dehidrasi
berat.Jenis cairan : DG atau 2a + KCl 10 mEq/500 ccJumlah cairan : 4/5 (PWL+ NWL+
CWL)Contoh :Seorang anak laki-laki umur 2 tahun BB=10 kg CHD dengan left to right shunt
disertaidehidrasi berat, kebutuhan cairannya adalah:4 jam I = 60 x 10x 154x 60= 38
tetes/menit.20 jam II = 150x 10x 1520x 60= 24 tetes/menit.Cara dan lama pemberian cairan
sama dengan penatalaksanaa diare dengan dehidrasi berat3. CHD dengan gagal jantung.Jenis
cairan : DG atau 2a + KCl 10 mEq/500 ccJumlah cairan dan kecepatan pemberian sama seperti
dengan left to right shunt disertaidehidrasi berat.Contoh :Seorang anak laki-laki umur 2 tahun
BB=10, CHD dengan gagal jantung.kebutuhan cairannya adalah:4 jam I = 60 x 10x 154x 60= 38
tetes/menit.20 jam II = 150x 10x 1520x 60= 7 tetes/menit.

‡ Diare dehidrasi berat yang disertai kejang.Jenis cairan : DG atau 2a +KCL 10 mEq/500
ccJumlah cairan : PWL+ NWL+ CWLContoh :Seorang anak laki-laki umur 2 tahun BB=10 kg,
diare dehidrasi berat yang disertai kejang.kebutuhan cairannya adalah:4 jam I = 60 x 10x 154x
60= 38 tetes/menit.20 jam II = 190x 10x 1520x 60= 24 tetes/menit.3.3.3 KoleraMerupakan suatu
penyakit akut yang menyerang saluran pencernaan dan disebabkan bakteriajenis vibrio cholerae.
Ditandai dengan gejala diare dengan tinja seperti air cucian beras dankadang-kadang disertai
muntah dan turgor cepat berkurang, timbul asidosis dan tak jarangdisertai renjatan.Berbeda
dengan gastroenteritis akut lainnya, pada kolera dehidrasi berat dapat terjadi dalamwaktu kurang
dari 24 jam dengan concomitant loss berkisar antara 0-25% dari berat badandalam 24
jam.Guttman dan pierce (1969) telah menyelidiki tinja penderita kolera dan berpendapat
bahwapada tinja tersebut ditemukan lebih sedikit jumlah natrium dan lebih banyak ion kalium
padapenderita kolera anak dibandingkan dewasa.Akibat kehilangan cairan elektrolit yang
banyak yang dapat terjadi dalam waktu yang singkat, dapat timbul gangguan sirkulasi darah
beruparenjatan.Cairan yang diberikan yaitu:a. Cairan Ringer Laktat diberikan dengan
kecepatan:- 1 jam I = 10 tetes/ kgBB/ menit.- 7 jam berikut = 3 tetes/ kgBB/ menit.b. Bila
terdapat renjatan, cairan diberikan dengan diguyur, selanjutnyapemberian cairan seperti diatas.c.
4 jam kemudian hanya diberikan oralit saja, kemudian boleh pulang.Contoh :Seorang anak laki-
laki umur 2 tahun BB=10 kg, menderita kolera.kebutuhan cairannya adalah:-1 jam I = 10×10=
100 tetes.-7 jam berikut = 3 x 10= 30 tetes.3.3.4 BronkopneumoniBronkopneumoni biasanya
didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas Cselamabeberapa hari. Suhu dapat naik sangat
mendadak sampai 39-40 dan mungkin disertai dengankejang karena demam yang tinggi. Anak
sangat gelisah, dispnu, pernafasan cepat dan dangkaldisertai pernafasan cuping hidung dan
sianosis sekitar mulut dan hidung, kadang-kadangdisertai muntah dan diare.2Anak sangat sesak
nafasnya memerlukan pemberian cairan intravena dan oksigen.Cairan yang digunakan :‡ KaEn
1B (GZ 3:1) yaitu campuran Glukosa 5% dan NaCl 0,9% dalam perbandingan 3:1.Penggunaan
KaEn 1B ini biasanya disertai dengan pemberian KCl 10 mEg/ 500 ml botolinfus. Perhitungan
jumlah cairan berdasarkan rumus Darrow, yaitu :- BB 3-10 kg = 105 mg/kgBB/24 jam- BB 10-
15 kg = 85 mg/kgBB/24 jam.- BB 15-25 kg = 65 mg/kgBB/24jam.Cairan dihentikan secara
bertahap sesuai dengan keadaan klinis pasien.Contoh : Seorang anak laki-laki umur 2 tahun,
berat badan 10 kg datang dengan nafas sesak 60x/menitdan didiagnosa sebagai bronkopneumoni,
perhitungan cairannya adalah = 105x 10x 1524 x 60= 11 tetes/menit.Bronkopneumoni pada
neonatusCairan yang digunakan GB 4:1 (Glukosa 5-10% dengan natrium bikarbonas
dalamperbandingan 4 : 1).Kebutuhan cairan :- Umur 1 hari = 60 cc/kgBB/hari- Umur 2 hari = 70
cc/kgBB/hari- Umur 3 hari = 80 cc/kgBB/hari- Umur 4 hari = 90 cc/kgBB/hari- Umur 5 hari =
100 cc/kgBB/hari- Umur 6 hari = 110 cc/kgBB/hari- Umur 7 hari = 120 cc/kgBB/hari- Umur 8
hari = 130 cc/kgBB/hari- Umur 9 hari = 140 cc/kgBB/hari- Umur 10-14 hari = 150
cc/kgBB/hari- Umur 15-30 hari = 160 cc/kgBB/hariTetesan dibagi rata dalam 24 jam. Setiap
kenaikkan suhu 1 derajat celsius,kebutuhan cairanditambah 12 %. Cairan dihentikan secara
bertahap sesuai dengan keadaan klinis.Bronkopneumoni dengan dehidrasi karena intake
kurang.Cairan yang digunakan yaitu :‡ DG 10 % ( konsentrasi glukosa dalam larutan 5%) atau
2a 10%‡ Kebutuhan cairan dalam 24 jam : (PWL+NWL+CWL) x BB- Previous water loss =
defisit , 5-15% dari berat badan.- Normal water loss = urin + insensible water loss.- Concomitant
water loss : 25 ml/kgBB/hari.Cara pemberian :a. 4 jam I = ¼ kebutuhanb. 20 jam II = ¾
kebutuhan.Cara menghitung tetesan :a. 4 jam I = 250x BBx ¼ x 15 tetes makro/menit4x 60b. 20
jam II = 250xBBx 3/4 x 15 tetes makro/menit4x 60Contoh :Seorang anak laki-laki umur 2 tahun,
BB= 10kg dengan bronkopneumoni dengan dehidrasikarena intake kurang, Kebutuhan cairannya
adalah :- 4 jam I = 250x 10x 1/4x 15240= 39 tetes/menit.- 20 jam II = 250x 10×3/4x 151200= 23
tetes/ menit.Catatan : 1 cc= 15 tetes makro.Bronkopneumoni dengan Congestive Heart Failure
(Decompensatio Cordis)Cairan yang digunakan :Glukosa 10% + KCl 6 mEg/ 250 ccBila
dekompensatio kordis telah teratasi, jenis cairan diganti dengan cairan 2a-KCl. Jumlahcairan
yang digunakan ¾ BB x (maintanance + kenaikan suhu).Bronkopneumoni dengan CHD tanpa
heart failure.Cairan yang digunakan adalah :- Cairan 2a-KClBila ada dehidrasi bukan karena
GED, cairannya Dgaa.‡ Jumlah cairan :- Left to right shunt = ¾ xBB x ( maintenance + NWL +
PWL).- Right to left shunt = 1 x BB x (maintenance + NWL + PWL).- Bila disertai PEM berat =
¾ x BB (maintenance + NWL ).3.3.5 Status Asmatikus.Merupakan serangan asma yang sangat
berat atau tidak adanya respon terhadap pengobatandengan inhalasi bronkodilator ataupun
suntikan adrenalin.Gejala klinisnya :1. Setelah pemberian obat beta-2 agonis sebanyak 2 kali
atau lebih tidak berhasil mengatasisesak nafas.2. Walaupun sesak sudah dapat diatasi tetapi
dalam waktu kurang dari 1 jam sudah sesak kembali.Cairan yang digunakan :‡ Cairan GZ
3:1( KaEn 1B) + KCl 5 mEg/ kolf Bila ada dehidrasi hendaknya diberikan cairan hipertonik:-
Untuk BB 10-20 kg = 100-150 ml/jam.- Untuk BB >21 kg = 200 ml/jam.Cairan ini diberikan
sampai terjadi diuresis, bila sudah terjadi diuresis teruskan dengan cairanrumatan.3.3.6 Gagal
JantungGagal jantung adalah keadaan jantung yang tidak sanggup memompakan darah
secaraadekuat untuk memenuhi kebutuhan tubuh, sedangkan venous filling pressure cukup
baik.Dalam penatalaksanaan gagal jantung ini perlu pemberian cairan dan diet karena pada
pasiengagal jantung yang berat seringkali masukan cairan dan makanan peroral tidak memadai
ataudapat menyebabkan bahaya aspirasi. Oleh karena itu pada pasien tersebut
seringkalidiperlukan pemberian cairan intravena.Jenis cairan yang diberikan dipilih yaitu cairan
yang tanpa natrium karena terdapatnyakecenderungan terjadinya retensi cairan dan natrium pada
pasien gagal jantung. Jumlahcairan dapat dikurangi menjadi 75-80% dari kebutuhan rumatan.
atau dapat dibatasi sampai65 cc/kgBB/ hari, tapi bila anak dengan gizi kurang, pemberian
cairannya dapat diberikansebanyak 80-100 cc/kgBB/ hari dan maksimal 1500 cc/hari. Namun
pemberian cairan iniharus terus dipantau, mengingat kerja pernafasan yang meningkat akan
dapat menyebabkanmeningkatnya kebutuhan cairan. Pemantauan biasanya secara klinis ( turgor,
pola pernafasan,alance antara masukan dan keluar) serta laboratorik (analisa gas darah,
elektrolit).2,13,14Contoh :Seorang anak laki-laki umur 2 tahun, BB=10kg menderita VSD
dengan gagal jantung. Terapi cairan yang dipilih adalah : dextrose 5% Kebutuhannya : 65
cc/kgBB/hari. Jumlah tetesannya = 65x 10x 1524 x 60= 7 tetes/menit.3.3.7 Renjatan
Kardiogenik Gagalnya fungsi seluler akibat tidak mampunyai perfusi jantung ke jaringan vital.
Anak dengan renjatan kardiogenik akan menunjukkan hipotensi , tekanan darahnya kurang dari
5persentil untuk umurnya atau penurunan tekanan darah 30% dari sebelumnya. Hal ini
akanmenyebabkan takikardi, dingin pada ekstermitas,asidosis, oliguri dan dapat pula
disertaipenurunan kesadaran.Anak dengan ranjatan kardiogenik harus segera dilakukan
penatalaksanaan yang agresif danpemantauan yang invasive. Terapi renjatan ini ditujukan untuk
memperbaiki curah jantungdan menormalkan perfusi organ perifer.15Cairan yang dipilih adalah
cairan garam fisiologis seperti NaCl 0,9%, diberikan secaraperlahan-lahan untuk mengkoreksi
hipovolemia. Bila terdapat tanda-tanda perbaikan fungsimiokardium, teruskan infus hingga syok
teratasi. Untuk mencegah kelebihan cairan dan odemparu,perlu diakukan monitoring TVS atau
TBKP ( Tekanan Baji Kapiler Paru ). 16Jumlah cairan yang diberikan sebanyak 10 cc/kgBB
dengan kecepatan tetesan minimal.(protap). Pemberian cairan ini dapat memperbaiki fungsi
jantung sementara, tapi untuk selanjutnya harus diberikan dukungan inotropik untuk
memperbaiki kontraktilitasmiokardium. 153.3.8 Sindroma Nefrotik .Suatu penyakit dengan
gangguan keseimbangan cairan, elektrolit dan hormonal yang ditandaidengan gejala klinis
seperti proteinuria, hiponatremia, hiperkolesterolemia dan edema.Dengan adanya
hipoproteinemia yang berat dapat menimbulkan hipovolemia dan syok.Hipovolemia ini ditandai
dengan gangguan sirkulasi perifer, hipotensi dan ekstermitas yangdingin dan biru. Keadaan ini
merupakan keadaan yang gawat karena dapat timbul kematianyang mendadak.Keadaan
hipovolemia yang berat dengan kolaps sirkulasi, perlu expansi volume segeradengan plasma.
Keadaan gawat ini dapat dikenal secara dini dengan adanya gejala nyeriabdomen atau
peningkatan konsentrasi hemoglobin 1-2 gr/dl ( umumnya diatas 16 gr/dl)Cairan yang dipilih
adalah plasma segar, albumin, atau dextran. Bila hipovolemia disertaikomplikasi infeksi, plasma
segar dapat diberikan, tapi bila tidak ada albumin sebagai koloidpengganti sudah cukup
memadai.Jumlah cairan yang diberikan awalnya sejumlah 20 ml/kgBB/jam walaupun diperlukan
lebihbanyak lagi. Pemberian plasma ini perlu observasi ketat dan pengawasan terhadap
nadi,tekanan darah, tekana vena jugularis dan perbedaan suhu di sentral dan
perifer.Kontraindikasi pemberian plasma pada penyakit ini adalah tekanan vena yang
meninggi,kardiomegali dan adanya edema pulmonal.Contoh:Seorang anak laki-laki umur 2
tahun,BB= 10 kg dirawat dengan sindroma nefrotik. Cairan yang diberikan : plasma Jumlah
yang diberikan : 20 cc/kgBB/1 jam diberikan sampai syok teratasi. Jumlah tetesan yang
diberikan : 20x 10x 151x 60= 50 tetes/menit.3.3.9 Gagal Ginjal Akut 17Suatu sindroma yang
ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang mendadak dengan akibatterjadinya penimbunan
hasil-hasil metabolit, persenyawaan nitrogen seperti ureum dankreatinin.Gagal ginjal akut secara
klinis dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu:a. GGA oligurik b. GGA non oligurik Terapi konservatif
diberikan cairan dan kalori yang cukup. Balance cairan yang baik bilaberat badan tiap hari turun
0,1-0,2%.Jenis cairan yang dipakai adalah:- Pada penderita anuria diberikan glukosa 10-20%.-
Pada penderita oliguria diberikan glukosa 10% : NaCl 0,9% = 3:1.Bila dipakai vena sentral dapat
diberikan larutan glukosa 30-40%.Cairan diperhitungkan berdasarkan insensible water loss
(IWL)+ jumlah urin 1 harisebelumnya + cairan yang keluar dengan muntah, feses, slang
nasogastrik,dan lain-lain. Dandikoreksi dengan kenaikan suhu tubuh setiap 1 derajat selsius
sebanyak 12 % BB.Secara praktis dapat dipakai perkiraan perhitungan sebagai berikut- Anak <
5th = 30 ml/kgBB/hari. – Anak > 5 th = 20 ml/kgBB/hari.Cairan sebaiknya diberikan peroral
kecuali bila penderita sering muntah diberikan per infus.Contoh :Seorang anak laki-laki umur 2
tahun, BB= 10kg menderita GGA dengan oliguria. Cairan yang diberikan: Glukosa 10% :
NaCl 0,9 % =3:1 Kebutuhan : 30 ml/kgBB/hari. Jumlah tetesan = 30x 10x 1524x 60= 3
tetes/menitJadi pemberiannya : Glukosa 10 % =225 ccNaCl 0,9% = 75 cc3.3.10 Bayi Berat
Badan Lahir RendahBayi dengan berat badan lahir rendah biasanya tampak haus dan harus
diberikan cairan sedinimungkin, terutama ASI. Tapi bila pemberian oral belum memungkinkan
maka diberikancairan intravena Dextrosa 5% dan Natrium Bikarbonat 1,5% dengan
perbandingan 4:1dengan kebutuhan cairan berdasarkan umur yaitu:Umur 1 hari : 60
ml/kgbb/hari (2-3 tetes/kgbb/menit)Umur 2 hari : 80 ml/kgbb/hari ( 3 ± 4 tetes/kgbb/menit)Umur
3 hari : 90 ml/kgbb/hari ( 4 tetes/kgbb/menit)Umur 4 hari s/d 9 : 80 ml-100 ml/kgbb/hari ( 3-5
tts/kgbb/menit)Umur 10 hari dan lebih : 125 ±150 ml/kgbb/hari (5-6 tts/kgbb/menit)Bila pada
hari ke 3 makanan oral masih belum bisa, berikan protein yaitu cairan aminofusinpediatrik
dengan dosis 20 ml/kgbb/hari dengan kecepatan 1 tetes/kgbb/hari. Pemberian cairanintravena
dihentikan bila telah bisa makan secara oral yang dilakukan secara bertahap 11.Contoh:Seorang
bayi laki-laki cukup bulan berat badan saat lahir 2400 gram maka diberikan cairanDextrosa 5%
500 cc dicampur dengan larutan Natrium Bikarbonat 8,4% 25 cc sebanyak 144cc dengan
kecepatan 6 tetes/menit pada hari pertama dilanjutkan dengan 192 cc dengankecepatan 8
tetes/menit pada hari kedua.3.3.11 Sepsis Pada NeonatusInfeksi pada neonatus merupakan
masalah yang gawat oleh karena infeksi pada neonatuscepat sekali menjalar menjadi infeksi
umum atau sepsis. Bila telah terjadi sepsis biasanyabayi malas minum sehingga diperlukan
pemasukan cairan melalui intravena untuk pemenuhan kebutuhan serta koreksi terhadap
gangguan keseimbangan elektrolit dan asambasa. Pada keadaan ini diberikan larutan Dextrosa
5% dan Natrium Bikarbonat 1,5% denganperbandingan 4:1 dengan kebutuhan cairan
berdasarkan umur yaitu:Umur 1 hari : 60 ml/kgbb/hari (2-3 tetes/kgbb/menit)Umur 2 hari : 70
ml/kgbb/hari (3 tetes/kgbb/menit)Umur 3 hari : 80 ml/kgbb/hari ( 3-4 tetes/kgbb/menit)Umur 4
hari : 90 ml/kgbb/hari ( 4 tetes/kgbb/menit)Umur 5 hari : 100 ml/kgbb/hari ( 4-5
tetes/kgbb/menit)Umur 6 hari : 110 ml/kgbb/hari (5 tetes/kgbb/menit)Umur 7 hari : 120
ml/kgbb/hari (5-6 tetes/kgbb/menit)Umur 8 hari : 130 ml/kgbb/hari (6 tetes/kgbb/menit)Umur 9
hari : 140 ml/kgbb/hari (6-7 tetes/kgbb/menit)Umur 10-14 hari : 150 ml/kgbb/hari (7
tetes/kgbb/menit)Umur 15-30 hari : 160 ml/kgbb/hari (7-8 tetes/kgbb/menit)Bila pada hari ke 3
makanan oral masih belum bisa, berikan protein yaitu cairan aminofuhsinpediatrik dengan dosis
20 ml/kgbb/hari dengan kecepatan 1 tetes/kgbb/hari. Pemberian cairanintravena dihentikan bila
telah bisa makan secara oral yang dilakukan secara bertahap S.3.3.12 HipoglikemiHipoglikemi
pada bayi baru lahir cukup bulan bila kadar gula darah < 30 mg/dl sedangkanpada bayi berat
lahir rendah bila kadar gula darah < 20 mg/dl. Bayi yang menunjukkan tanda-tanda hipoglikemi
langsung periksa gula darah dan bila gula darah rendah mulai pemberiancairan untuk mengatasi
hipoglikemi. Kontrol dilakukan setelah 8 jam. Jika kadar gula darah >45 mg % setelah 3 ± 4 x
pemeriksaan makanan cukup diberi oral. Sedangkan pada bayi yangdicurigai adanya hipoglikemi
dilakukan pemeiksaan pada 6 jam pertama kehidupan dandilanjutkan 24 jam kemudian sampai
hari ke 3. Bila didapat kadar gula darah yang rendahberikan terapi cairan. Khusus pada bayi
dengan ibu penderita Diabetes Mellitus pemeriksaangula darah dilakukan selama 6 jam pertama
yaitu pada jan I, jam II dan jam IV kemudian tiap8 jam selama 2 x 24 jam.Hari pertama
diberikan glukosa 20% 2 ml/kgbb intravena kemudian dilanjutkan denganGlukosa 5-10% 75
ml/kgbb/24 jam dengan kecepatan 3 tetes/kgbb/menit. Hari ke 2dilanjutkan dengan Glukosa 5%
dan NaCl 0,9% dengan perbandingan 4:1 100 ml/kgbbdengan kecepatan 4 tetes/kgbb/menit. Hari
ketiga mulai pemberian makanan secara oral dancairan intravena dihentikan secara bertahap.
Bila pada 24 jam pertama kadar gula darahmasih dalam keadaan hipoglikemi beri kortison 5-10
mg/kgbb.3.3.13 Sindroma Gawat Nafas NeonatalSindroma gawat nafas neonatal merupakan
salah satu penyebab mortalitas dan morbiditas.Pada keadaan ini terjadi gangguan ambilan O2
dan pengeluaran CO2 yang menyebabkanasidosis respiratorik. Bila keadaan ini berlangsung
terus maka akan terjadi metabolismeanaerob berupa glikolisis glikogen tubuh. Asam organik
yang terbentuk akan menyebabkanasidosis metabolik. Selain itu pada bayi ini toleransi terhadap
makanan oral kurang baik sehingga diperlukan cairan intravena untuk sementara 1 .Cairan yang
digunakan adalah campuran larutan Glukosa 5% dan Natrium Bikarbonatdengan perbandingan
4:1. Cairan yang diberikan pada 24 jam pertama yaitu 68- 80 ml/kgbbdengan kecepatan 3-4
tetes/kgbb/menit kemudian dinaikkan secara bertahap sampai 150ml/kgbb/hari dengan kecepatan
6 tetes/kgbb/menit pada hari ketujuh. Bila ginjal telahberfungsi dan diuresis telah timbul maka
bayi harus diberikan elektrolit berupa natrium dankalium 3-2 mEg/kgbb. Bila terjadi asidosis
metabolik lakukan koreksi terhadap keadaan iniPKB.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kavanagh BP, Meyer LJ. Normalizing physiological variables in acute illness:five reasons for
caution. Intensive Care Med. 2005, 31:1161‐1167.
2. Adelman RD, Solhaug MJ Pathophysiology of body fluids and fluid therapy. In: Berhman RE,
Kliegman RM, Jenson HB. Nelson Textbook of Pediatrics, 16 th ed.Philadelphia : WB Saunders,
2000: 189‐227.

3. Paschall JA, Melvin T. Fluid and electrolyte therapy. Dalam: Holbrook PR.Textbook of pediatric
critical care. Philadelphia: WB Saunders, 1993: 653‐702.

4. Barkin RM, Rosen P. Emergency pediatrics: A guide to ambulatory care, 4 th ed. St Louis: Mosby,
1994: 69‐73.

5. Souid AK, Schneiderman H. Principles of pediatric fluid therapy. Diakses dari


http://www.ec.hscsyr.edu/peds/fluid_manual, tanggal 27 Nopember 2000.

6. Ambalavanan N. Fluid, electrolyte, and nutrition management of the newborn. Diakses dari
wysiwyg://213/http://www.emedicine.com/ped/topic2554, tanggal 23 Mei 2002.

7. Stewart PA. How to understand acid‐base. Diakses dari http://www.qldanaesthesia.com, 20 Mei


2003

8. Oh MS, Carroll HJ. Regulation of Intracellular and Extracellular Volume. Dalam: Arieff AI,
DeFronzo RA. Fluid, electrolyte, and acid‐base disorders, 2nd ed. New York: Churchill Livingstone,
1995: 1‐28.

9. Laiken N, Fanestil DD. Body fluids and renal function. Dalam: West JB. Bestandtaylor’s.
Physiological basis of medical practice, 12 th ed. Baltimore: Williams &Wilkins, 1990: 406‐418.

10. Badr K, Ichikawa L. Physical and biological properties of body fluid andelectrolytes. Dalam:
Ichikawa L. Pediatric textbook of fluids and electrolytes. Baltimore: Williams & Wilkins, 1990: 3‐
12.

11. Pearson GA. Handbook of Paediatric Intensive Care. London: WB Saunders,2002:83‐97.

12. Symons. Clinical fluid and electrolyte management Diakses dari


www.seattlechildrens.org/health_care_professionals/pdf/clinical_fluid.pdf, tanggal 20 Maret
2006.

13. Carcillo JA, Fields AI; American College of Critical Care Medicine Task Force Committee
Members. Clinical practice parameters for hemodynamic support of pediatric and neonatal
patients in septic shock. Crit Care Med 2002:30;1365‐78.
14. Zingarelli B. Shock and reperfusion. Dalam: Nichols DG, penyunting. Roger’stextbook of pediatric
intensive care. Edisi ke‐4. Philadelphia: LippincottWilliams & Wilkins; 2008. h. 252‐65
http://www.scribd.com/doc/13747207/Terapi-Cairan-Pada-Kegawat-Daruratan-Anak

Terapi Cairan
23 Feb

KEBUTUHAN CAIRAN (NWL) PERHARI

Umur                 BB > 2,5 kg                    BB  < 2,5 kg

1 Hr                 80 cc/kgbb/hr                        60 cc/kgbb/hr

2 Hr                 100 cc/kgbb/hr          90 cc/kgbb/hr

3 Hr                 120 cc/kgbb/hr          120 cc/kgbb/hr

4 Hr                 140 cc/kgbb/hr          150 cc/kgbb/hr

5 Hr                 150 cc/kgbb/hr          200 cc/kgbb/hr

6 Hr                 150 cc/kgbb/hr          200 cc/kgbb/hr

TRIWULAN      I                      150 – 175 cc/kgbb/hr

                                                II                      140 – 150 cc/kgbb/hr

                                                III                     125 – 140 cc/kgbb/hr

                                                IV                     110 – 125 cc/kgbb/hr

1 – 3 TH                       100 cc/kgbb/hr

4 – 6 TH                       90 cc/kgbb/hr

7 – 9 TH                       80 cc/kgbb/hr

10 – 12 TH                   70 cc/kgbb/hr

13 – 15 TH                   60 cc/kgbb/hr


16 – 18 TH                   50 cc/kgbb/hr

Setiap kenaikan suhu 1°C Water loss 2,5%

Defisit Cairan pada :

            Dehidrasi ringan        4-5% BB

            Dehidrasi sedang       6-9% BB

            Dehidrasi berat          >10% BB

Macrodrips :  1 cc 20 tts

Microdrips  :  1 cc 60 tts

Perhitungan tetesan infus :

Tts Macro

            Tts/mnt =   Jumlah cairan yang dimasukkan (cc)

                                Lamanya infus (jam) x 4

Tts Micro

            Tts/mnt =   Jumlah cairan yang dimasukkan (cc)

                                Lamanya infus (jam)

atau

            Tts/mnt =   Jml cairan yg dimasukkan (cc) x Jml tts/cc

                                            Lamanya infus diberikan (mnt)

Maintenance : rumus kebutuhan cairan / 24 jam 30-50 cc/kgbb

Cairan replacement / sequester :


            a. Operasi ringan 4 cc/kgbb/jam

            b. Operasi sedang 6 cc/kgbb/jam

            c. Operasi berat 8 cc/kgbb/jam

Cairan pengganti darah 3-4x jml perdarahan.

Transfusi darah.

Utk kenaikan 1 gr Hb :

1. Whole blood 6 cc/kgBB

2. PRC 3 cc/kgBB.

TBV :  70 cc/kgbb

Therapy Cairan Diare Dehidrasi

≤ 2 th :            Asering sist 24 jam

                        4 jam I (5 x BB)

                        20 jam II (3 x BB)

> 2 th :            RL sist 8 jam

                        1 jam I (10 x BB)

                        7 jam II (3 x BB)

Khusus diare hipertonis + PEM berat

            Cairan KaEn 3B sist 24 jam

            1 jam I (3 x BB)

            23 jam II (1½ x BB)

BERAT BADAN SEBENARNYA


            1 Bln                3,5 kg              7 Bln                7,1 kg

            2                                  4,5                               8                                  7,6

            3                                  5,2                               9                                  8,0

            4                                  5,8                               10                                8,4

            5                                  6,2                               11                                8,7

            6                                  6,7                               12                                9,0

PERKEMBANGAN NEUROLOGIK ANAK

01. Terlentang                                                                                    3-6 bl

02. Tengkurap dr posisi tltg                          4-8

03. Duduk ditopang                                                  6,3

04. Duduk tdk ditopang                                            6,7

05. Duduk sendiri                                                                  7,5

06. Merayap                                                                           7,8

07. Merangkak                                                                       8,8

08. Menarik diri dr posisi ddk                                  11,7

09. Berjalan                                                                            14,3

10. Jalan mundur                                                                   14,3

11. Berlari                                                                                           14,8

Variasi : duduk sp 16 bln      : normal

                  jalan sp 18 bln       : normal

KEBUTUHAN VITAMIN A
            0-6 bln            50.000

            >6 bln  100.000

            >1 th   200.000

Terapi Cairan dan Transfusi


PENILAIAN VOLUME INTRAVASKULER

Penilaian dan evaluasi  klinis volume intravascular biasanya dapat dipercaya, sebab pengukuran volume
cairan kompartemen belum ada. Volume cairan intravascular dapat ditaksir dengan menggunakan
pemeriksaan fisik atau laboratorium atau dengan bantuan monitoring hemodynamic yang canggih.
Dengan mengabaikan metoda yang ada, evaluasi serial diperlukan untuk mengkonfirmasikan kesan awal
dan panduan terapi cairan. Lebih dari itu,  perlu melengkapi satu sama lain, sebab semua parameter
tidak langsung, pengukuran volume nonspesifik, kepercayaan pada tiap parameter mungkin salah.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik preoperative adalah yang paling dapat dipercaya .Tanda- tanda hipovolemia meliputi
turgor kulit, hidrasi selaput lendir, denyut nadi yang kuat, denyut jantung dan tekanan darah dan
orthostatic berubah dari yang terlentang ke duduk atau posisi berdiri, dan mengukur pengeluaran urin.
Banyak obat yang pakai selama pembiusan, seperti halnya efek fisiologis dari stress pembedahan,
mengubah tanda-tanda ini dan memandang tak dapat dipercaya periode sesudah operasi. Selama
operasi, denyut nadi yang kuat (radial atau dorsalis pedis), pengeluaran urin, dan tanda tidak langsung,
seperti respon tekanan darah ke tekanan ventilasi yang positive dan vasodilatasi atau efek inotropic
negative dari anestesi, adalah yang paling sering digunakan.
Pitting edema-presacral pada pasien yang tidur atau pada pretibial pada pasien yang dapat berjalan-
peningkatan pengeluaran urin adalah tanda hypervolemia pada pasien dengan dengan jantung, hepar,
dan fungsi ginjal yang normal. Gejala lanjut dari hypervolemia yaitu tachycardia, pulmonary crackles,
wheezing, cyanosis, dan frothy pulmonary secretion.

Tabel. Tanda-Tanda Kehilangan Cairan (Hipovolemia)

Evaluasi Laboratorium
Beberapa pengukuran laboratorium digunakan untuk menilai volume intravascular dan ketercukupan
perfusi.jaringan Pengukuran ini meliputi serial hematocrits, seperti pH darah arteri, berat jenis atau
osmolalitas urin, konsentrasi klorida atau natrium dalam urin, Natrium dalam darah, dan creatinin
serum, ratio blood urea nitrogen (perbandingan BUN). Ini hanya pengukuran volume intravascular
secara tidak langsung dan sering tidak bisa dipercaya selama operasi sebab dipengaruhi oleh beberapa
variabel dan hasilnya sering terlambat. Tanda-tanda laboratorium dari dehidrasi yaitu peningkatan
hematocrit progresif acidosis metabolic yang progresif, berat jenis urin >1.010, Natrium dalam urin <10
mEq/L, osmolalitas > 450 mOsm/kg, hypernatremia, dan ratio BUN- -kreatinin >10:1. Tanda-tanda pada
foto roentgen adalah meningkatnya vaskularisasi paru dan interstitiel yang ditandai dengan ( Kerly " B")
atau infiltrasi difus pada alveolar adalah tanda-tanda dari overload cairan   

Pengukuran Hemodinamik  

Monitoring CVP diindikasikan pada pasien dengan jantung dan fungsi paru yang normal jika status
volume sukar untuk dinilai dengan alat lain atau jika diharapkan adanya perubahan yang cepat.
Pembacaan CVP harus diinterpretasikan nilai yang rendah(< 5 mm Hg) mungkin normal kecuali jika ada
tanda-tanda hypovolemia. Lebih dari itu, respon dari bolus cairan ( 250 mL) yang ditandai dengan:
sedikit peningkatan ( 1-2 mm Hg) merupakan indikasi penambahan cairan, sedangkan suatu peningkatan
yang besar (> 5 mm Hg) kebutuhan cairan cukup dan evaluasi kembali status volume cairan.. CVP yang
terbaca >12 mmHg dipertimbangkan. hypervolemia dalam disfungsi ventricular kanan, meningkatnya
tekanan intrathorakal, atau penyakit pericardial restriktif.

Monitoring tekanan arteri Pulmonary dimungkinkan jika CVP tidak berkorelasi dengan gejala klinis atau
jika pasien mempunyai kelainan primer atau sekunder dari fungsi ventrikel kanan, kelainan fungsi tubuh;
yang juga berhubungan dengan paru-paru atau penyakit pada ventrikel kiri. Pulmonary Artery Occlusion
Pressure (PAOP) <8 mmHg menunjukkan adanya hypovolemia ,dikonfirmasi dengan gejala klinis;
bagaimanapun, nilai <15 Mm Hg berhubungan dengan pasien yang hipovolemia relative dengan
compliance ventrikel lemah. Pengukuran PAOP >18 mmHg dan biasanya menandakan beban volume
ventrikel kiri yang berlebih. Adanya penyakit katup Mitral (stenosis), stenosis aorta yang berat, atau
myxoma atrium kiri atau thrombus mengubah hubungan yang normal antara PAOP dan volume diastolic
akhir ventrikel kiri. Peningkatan tekanan pada thorak dan tekanan pada jalan nafas paru terlihat adanya
kesalahan; sebagai konsekwensi, semua pengukuran tekanan selalu diperoleh pada waktu akhir
expirasi .
Teknik terbaru mengukur volume ventrikel dengan transesophageal echocardiography atau oleh
radioisotop dan lebih akurat tetapi belum banyak tersedia. 

 
CAIRAN INTRAVENA  

Terapi cairan intravena terdiri dari cairan kristaloid, koloid, atau suatu kombinasi kedua-duanya. Solusi
cairan kristaloid adalah larutan mengandung ion dengan berat molekul rendah (garam) dengan atau
tanpa glukosa, sedangkan cairan koloid berisi ion dengan berat molekul tinggi seperti protein atau
glukosa. Cairan koloid menjaga tekanan oncotic  plasma dan sebagian besar ada di intravascular,
sedangkan cairan kristaloid dengan cepat didistribusikan keseluruh ruang cairan extracellular.  
Ada kontroversi mengenai penggunaan cairan koloid dan kristaloid untuk pasien dg pembedahan. Para
ahli mengatakan bahwa koloid dapat menjaga plasma tekanan oncotic plasma, koloid lebih efektif dalam
mengembalikan volume intravascular dan curah jantung.Ahli yang lain mengatakan bahwa pemberian
cairan kristaloid efektif bila diberikan dalam jumlah yang cukup. Pendapat yang mengatakan bahwa
koloid dapat menimbulkan edema pulmoner pada pasien dengan peningkatan permeabilitas kapiler
paru adalah tak benar, sebab tekanan onkotik interstitial paru-paru sama dengan plasma ( lihat Bab 22).
Beberapa pernyataan dibawah ini yang mendukung : 

1. Kristaloid, jika diberikan dalam jumlah cukup sama efektifnya dengan koloid dalam
mengembalikan volume intravascular. 
2. Mengembalikan deficit volume intravascular dengan kristaloid biasanya memerlukan 3-4 kali
dari jumlah cairan jika menggunakan koloid. 

3. Kebanyakan pasien yang mengalami pembedahan mengalami deficit cairan extracellular


melebihi deficit cairan intravascular.. 

4. Defisit cairan intravascular yang berat dapat dikoreksi dengan cepat dengan menggunakan
cairan koloid. 

5. Pemberian cairan kristaloid dalam jumlah besar (> 4-5 L) dapat menimbulkan edema jaringan.
Beberapa kasus membuktikan bahwa, adanya edema jaringan mengganggu transport oksigen,
memperlambat penyembuhan luka dan memperlambat kembalinya fungsi pencernaan setelah
pembedahan.

Cairan Kristaloid

Cairan kristaloid merupakan cairan untuk resusitasi awal pada pasien dengan syok hemoragik dan septic
syok seperti pasien luka bakar, pasien dengan trauma kepala untuk menjaga tekanan perfusi otak, dan
pasien dengan plasmaphersis dan reseksi hepar. Jika 3-4 L cairan kristaloid telah diberikan, dan respon
hemodinamik tidak adekuat, cairan koloid dapat diberikan. 

Ada beberapa macam cairan kristaloid yang tersedia. Pemilihan cairan tergantung dari derajat dan
macam kehilangan cairan. Untuk kehilangan cairan hanya air, penggantiannya dengan cairan hipotonik
dan disebut juga maintenance type solution. Jika hehilangan cairannya air dan elektrolit,
penggantiannya dengan cairan isotonic dan disebut juga replacement type solution. Dalam cairan,
glukosa berfungsi menjaga tonisitas dari cairan atau menghindari ketosis dan hipoglikemia dengan
cepat. Anak- anak cenderung akan menjadi hypoglycemia(< 50 mg/dL) 4-8 jam puasa. Wanita mungkin
lebih cepat hypoglycemia jika puasa (> 24 h) disbanding pria. 

Kebanyakan jenis kehilangan cairan intraoperative adalah isotonik, maka yang biasa digunakan adalah
replacement type solution, tersering adalah Ringer Laktat. Walaupun sedikit hypotonic, kira-kira 100 mL
air per 1 liter mengandung Na serum 130 mEq/L, Ringer Laktat mempunyai komposisi yang mirip dengan
cairan extraselular dan paling sering dipakai sebagai larutan fisiologis. Laktat yang ada didalam larutan
ini dikonversi oleh hati sebagai bikarbonat. Jika larutan salin diberikan dalam jumlah besar, dapat
menyebabkan dilutional acidosis hyperchloremic oleh karena Na dan Cl yang tinggi (154 mEq/L):
konsentrasi bikarbonat plasma menurun dan konsentrasi Clorida meningkat. 

Larutan saline baik untuk alkalosis metabolic hipokloremik dan mengencerkan Packed Red Cell untuk
transfusi. Larutan D5W digunakan untuk megganti deficit air dan sebagai cairan pemeliharaan pada
pasien dengan restriksi Natrium. Cairan hipertonis 3% digunakan pada terapi hiponatremia simptomatik
yang berat (lihat Bab 28). Cairan 3 – 7,5% disarankan dipakai untuk resusitasi pada pasien dengan syok
hipovolemik. Cairan ini diberikan lambat karena dapat menyebabkan hemolisis. 

Cairan Koloid

Aktifitas osmotic dari molekul dengan berat jenis besar dari cairan koloid untuk menjaga cairan ini ada di
intravascular. Walaupun waktu paruh dari cairan kristaloid dalam intravascular 20-30 menit, kebanyakan
cairan koloid mempunyai waktu paruh dalam intravascular 3-6 jam. Biasanya indikasi pemakaian cairan
koloid adalah : 

1. Resusitasi cairan pada pasien dengan deficit cairan intravascular yang berat (misal: syok
hemoragik) sampai ada transfusi darah. 
2. Resusitasi cairan pada hipoalbuminemia berat atau keadaan dimana 

Kehilangan protein dalam jumlah besar seperti luka bakar. Pada pasien luka bakar, koloid diberikan jika
luka bakar >30% dari luas permukaan tubuh atau jika > 3-4 L larutan kristaloid telah diberikan lebih dari
18-24 jam setelah trauma. 

Beberapa klinisi menggunakan cairan koloid yang dikombinasi dengan kristaloid bila dibutuhkan cairan
pengganti lebih dari 3-4 L untuk transfuse. Harus dicatat bahwa cairan ini adalah normal saline ( Cl 145 –
154 mEq/L ) dan dapat juga menyebabkan asidosis metabolic hiperkloremik. 

Banyak cairan koloid kini telah tersedia. Semuanya berasal dari protein plasma atau polimer glukosa
sintetik. Koloid yang berasal dari darah termasuk albumin ( 5% dan 25 % ) dan fraksi plasma protein
(5%). Keduanya dipanaskan 60 derajat selama 10 jam untuk meminimalkan resiko dari hepatitis dan
penyakit virus lain. Fraksi plasma protein berisi alpha dan beta globulin yang ditambahkan pada albumin
dan menghasilkan reaksi hipotensi. Ini adalah reaksi alergi yang alami da melibatkan aktivasi dari
kalikrein. 

Koloid sintetik termasuk Dextrose starches dan gelatin. Gelatin berhubungan dengan histamine
mediated- allergic reaction dan tidak tersedia di United States.Dextran terdiri dari Dextran 70
( Macrodex ) dan Dextran 40, yang dapat meningkatkan aliran darah mikrosirkulasi dengan menurunkan
viskositas darah. Pada Dextran juga ada efek antiplatelet. Pemberian melebihi 20 ml/kg/hari dapat
menyebabkan masa perdarahan memanjang (Dextran 40) dan gagal ginjal. Dextran dapat juga bersifat
antigenic dan anafilaktoid ringan dan berat dan ada reaksi anafilaksis. Dextan 1 ( Promit ) sama dengan
Dextran 40 atau dextran 70 untuk mencegah reaksi anafilaxis berat.;bekerja seperti hapten dan
mengikat setiap antibody dextran di sirkulasi. 

Hetastarch (hydroxyetil starch) tersedia dalam cairan 6 % dengan berat molekul berkisar 450.000.
Molekul-molekul yang kecil akan dieliminasi oleh ginjal dan molekul besar dihancurkan pertama kali
oleh amylase. Hetastarch sangat efektif sebagai plasma expander dan lebih murah disbanding albumin..
Lebihjauh, Hetastarch bersifat nonantigenik dan reaksi anafilaxisnya jarang. Studi masa koagulasi dan
masa perdarahan umumnya tidak signifikan dengan infus 0.5 – 1 L. Pasien transplantasi ginjal yang
mendapat hetastarch masih controversial. Kontroversi ini dihubungkan juga dengan penggunaan
hetastarch pada pasien yang menjalani bypass kardiopulmoner. Pentastarch, cairan starch dengan berat
molekul rendah, sedikit efek tambahannya dan dapat menggantikan hetastarch.

TERAPI CAIRAN PERIOPERATIF

Terapi cairan perioperatif termasuk penggantian deficit cairan, kehilangan cairan normal dan kehilangan
cairan lewat luka operasi termasuk kehilangan darah.

Kebutuhan Pemeliharaan Normal    


Pada waktu intake oral tidak ada, deficit cairan dan elektrolit dapat terjadi dengan cepat karena adanya
pembentukan urin yang terus berlangsung,sekresi gastrointestinal, keringat dan insensible losses dari
kulit dan paru. Kebutuhan pemeliharaan normal dapat diestimasi dari tabel berikut:

Tabel Estimasi Kebutuhan Cairan Pemeliharaan


       Berat Badan                                                       Kebutuhan        

10 kg pertama                                                            4 ml/kg/jam

10-20 kg kedua                                                          2 ml/kg/jam

Masing-masing kg  > 20 kg                                       1 ml/kg/jam

Contoh: berapa kebutuhan cairan pemeliharaan untuk anak 25 kg? Jawab: 40+20+5=65 ml/jam

Preexisting Deficit    

Pasien yang akan dioperasi setelah semalam puasa tanpa intake cairan akan menyebabkan defisit cairan
sebanding dengan lamanya puasa. Defisit ini dapat diperkirakan dengan mengalikan normal
maintenance dengan lamanya puasa. Untuk 70 kg, puasa 8 jam, perhitingannya (40 + 20 + 50) ml / jam x
8 jam atau 880 ml. Pada kenyataannya, defisit ini dapat kurang sebagai hasil dari konservasi ginjal.
Kehilangan cairan abnormal sering dihubungkan dengan defisit preoperatif. Sering terdapat hubungan
antara perdarahan preoperatif, muntah, diuresis dan diare.

Penggantian Cairan Intraoperatif


Terapi cairan intraoperatif meliputi kebutuhan cairan dasar dan penggantian deficit cairan preoperative
seperti halnya kehilangan cairan intraoperative ( darah, redistribusi dari cairan, dan penguapan).
Pemilihan jenis cairan intravena tergantung dari prosedur pembedahan dan perkiraan kehilangan darah.
Pada kasus kehilangan darah minimal dan adanya pergeseran cairan, maka maintenance solution dapat
digunakan. Untuk semua prosedur yang lain Ringer Lactate biasa digunakan untuk pemeliharaan cairan.
Idealnya, kehilangan darah harus digantikan dengan cairan kristaloid atau koloid untuk memelihara
volume cairan intravascular ( normovolemia) sampai bahaya anemia berberat lebih (dibanding) resiko
transfusi. Pada kehilangan darah dapat diganti dengan transfuse sel darah merah. Transfusi dapat
diberikan pada Hb 7-8 g/dL (hematocrit 21 - 24%).
Hb < 7 g/dL cardiac output meningkat untuk menjaga agar transport Oksigen tetap normal. Hb 10 g/dL
biasanya pada pasien orang tua dan penyakit yang berhubungan dengan jantung dan paru-paru. Batas
lebih tinggi mungkin digunakan jika diperkirakan ada kehilangan darah yang terus menerus. Dalam
prakteknya, banyak dokter memberi Ringer Laktat kira-kira 3-4 kali dari banyaknya darah yang hilang,
dan cairan koloid dengan perbandingan 1:1 sampai dicapai Hb yang diharapkan.

Tabel. Perkiraan Volume Darah Rata-Rata (Average Blood Volumes) 


Umur                                          Volume Darah

NEONATES

     PREMATURE                            95 ML/KG

     FULL-TERM                             85 ML/KG

INFANTS                                       80 ML/KG

ADULTS

     MEN                                            75ML/KG

     WOMAN                                     65 ML/KG

Pada keadaan ini   kehilangan darah dapat diganti dengan Packed red blood cell .

Banyaknya transfusi dapat ditentukan dari hematocrit preoperatif dan dengan perkiraan volume darah.
Pasien dengan hematocrit normal biasanya ditransfusi hanya setelah kehilangan darah >10-20% dari
volume darah mereka. Sebenarnya tergantung daripada kondisi pasien] dan prosedur dari
pembedahan . Perlu diketahui jumlah darah yang hilang untuk penurunan hematocrit sampai 30%,
dapat dihitung sebagai berikut:

 Estimasi volume darah dari Tabel 29-5.


 Estimasi volume sel darah merah (RBCV) hematocrit preoperative (RBCV preop).

 Estimasi RBCV pada hematocrit 30% ( RBCV30%), untuk menjaga volume darah normal.

 Memperkirakan volume sel darah merah yang hilang ketika hematocrit 30% adalah RBCV lost =
RBCV preop - RBCV 30%.

 Perkiraan jumlah darah yang hilang = RBCV lost X 3

Contoh :
Seorang perempuan 85 kg mempunyai suatu hematocrit preoperatif 35%. Berapa banyak jumah darah
yang hilang untuk menurunkan hematocritnya sampai 30%?

Volume Darah yang diperkirakan = 65 mL/kg x 85 kg = 5525 ml.


RBCV 35 % =  5525 x 35 % = 1934 mL.
RBCV30% = 5525 x 30 % = 1658 mL
Kehilangan sel darah merah pada 30% = 1934 - 1658 = 276 mL.
Perkiraan jumlah darah yang hilang = 3 x 276 mL = 828 mL.
Oleh karena itu, transfusi harus dipertimbangkan hanya jika pasien kehilangan darah melebihi 800 ml.
Transfusi tidak direkomendasikan sampai terjadi penurunan hematocrit hingga 24% (hemoglobin < 8.0
g/dL), tetapi ini diperlukan untuk menghitung banyaknya darah yang hilang, contohnya pada penyakit
jantung dimana diberikan transfusi jika kehilangan darah 800 mL.

Tabel. Redistribusi dan evaporasi kehilangn cairan saat pembedahan


DERAJAT DARI TRAUMA JARINGAN               PENAMBAHAN CAIRAN

MINIMAL (contoh hernioraphy)                                        0 – 2 ml/Kg

SEDANG  ( contoh cholecystectomy)                               2 – 4 ml/Kg

BERAT (contohreseksi usus)                                               4 – 8 ml/Kg

Petunjuk lain yang biasa digunakan sebagai berikut:

1. Satu unit sel darah merah sel akan meningkatkan hemoglobin 1 g/dL dan hematocrit 2-3% (pada
orang dewasa); dan 
2. 10mL/kg transfusi sel darah merah akan meningkatkan hemoglobin 3g/dL dan hematocrit 10%.

Menggantikan Hilangnya Cairan Redistribusi dan Evaporasi

Sebab kehilangan cairan ini dihubungkan dengan ukuran luka dan tingkat manipulasi dan pembedahan,
dapat digolongkan menurut derajat trauma jaringan. Kehilangan cairan tambahan ini dapat digantikan
menurut tabel di atas, berdasar pada apakah trauma jaringan adalah minimal, moderat, atau berat. Ini
hanyalah petunjuk, dan kebutuhan yang sebenarnya bervariasi pada masing-masing pasien.   

TRANSFUSI
GOLONGAN DARAH
Membran sel darah merah berisi sedikitnya 300 faktor penentu antigenic berbeda. Sedikitnya 20 antigen
golongan darah terpisah dapat dikenal; tanda dari masing-masing adalah di bawah control genetic dari
chromosom loci. Kebetulan, hanya ABO dan Rh Sistem yang penting pada transfusi darah. Setiap orang
biasanya menghasilkan antibody ( alloantibodies). Antibodi bertanggung jawab untuk reaksi-reaksi dari
transfusi. Antibodi dapat menjadi “alami” atau sebagai respon atas sensitisasi dari suatu kehamilan atau
transfusi sebelumnya.
Sistem ABO

Kromosomal untuk sistem ABO ini menghasilkan dua alleles: A dan B. Masing-masing merepresentasikan
suatu enzim yang merupakan modifikasi dari suatu permukaan sel glycoprotein, menghasilkan antigen
yang berbeda. (Sebenarnya, ada berbagai varian A dan B.) Hampir semua individu tidak mempunyai A
atau B " natural" yang menghasilkan antibody [ sebagian besar immu-noglobulin M ( IgM)] melawan
antigens ( Tabel 29-7) di dalam tahun pertama kehidupan. Antigen H adalah precursor dari system ABO
tetapi diproduksi oleh suatu chromosom tempat berbeda. Tidak adanya  antigen H( hh genotype, juga
disebut Bombay pheno-type) mencegah munculny gen A atau B; individu dengan  kondisi sangat jarang
ini  akan mempunyai anti-A, anti-B, dan anti-H antibodi.

Sistem Rh

Sistem Rh ditandai oleh dua gen yang menempati chromosome. Ada sekitar 46 Rh-berhubungan dengan
antigens, tetapi secara klinis, ada lima antigen utama ( D, C, c, E, dan e) dan menyesuaikan dengan
antibody .Biasanya, ada atau tidak allele yang paling immunogenic dan umum, D antigen,
dipertimbangkan. Kira-Kira 80-85% tentang populasi orang kulit putih mempunyai antigen D. Individu
yang kekurangan allele ini disebut Rh-Negative dan biasanya antibodi akan melawan antigen D hanya
setelah terpapar oleh ( Rh-Positive) transfusi sebelumnya atau kehamilan ( seorang Ibu Rh-Negative
melahirkan bayi Rh-Positive).

Sistem Lain

Sistem lain ini meliputi antigen Lewis, P, li, MNS, Kidd, Kell, Duffy, Lutheran, Xg, Sid, Cartright, YK, dan
Chido Rodgers antigens. Kebetulan, dengan beberapa perkecualian ( Kell, Kidd, Duffy, Dan), alloantibodi
melawan sistem ini jarang menyebabkan reaksi hemolytic serius. 

TES KOMPATIBILITAS 

Tujuan tes ini adalah untuk memprediksi dan untuk mencegah reaksi antigen-antibody sebagai hasil
transfusi sel darah merah. Donor dan penerima donor darah harus di periksa adanya antibody yang tidak
baik.

Tabel. Golongan darah ABO

  TIPE                              Adanya antibodi dalam serum          Insidensi*

     A                                                anti– B                                    45%

     B                                                anti – A                                      8%

   AB                                                    -                                             4%


      O                                            anti A, anti–B                             43%

* angka rata-rata  pada orang di Eropa

Tes ABO-Rh

Reaksi Transfusi yang paling berat adalah yang berhubungan dengan inkompatibilitas ABO; antibody
yang didapat secara alami dapat bereaksi melawan antigen dari transfusi (asing), mengaktifkan
komplemen, dan mengakibatkan hemolisis intravascular. Sel darah merah pasien diuji dengan serum
yang dikenal mempunyai antibody melawan A dan B untuk menentukan jenis darah. Oleh karena
prevalensi secara umum antibodi ABO alami, konfirmasi jenis darah kemudian dibuat dengan menguji
serum pasien melawan sel darah merah dengan antigen yang dikenal.
Sel darah merah pasien juga diuji dengan antibody anti-D untuk menentukan Rh. Jika hasilnya adalah Rh-
Negative, adanya antibodi anti-D d dapat diuji dengan mencampur serum pasien dengan sel darah
merah Rh (+).Kemungkinan berkembangnya antibodi anti-D setelah paparan pertama pada antigen Rh
adalah 50-70%.

Crossmatching
Suatu crossmatch transfusi: sel donor dicampur dengan serum penerima. Crossmatch mempunyai tiga
fungsi: ( 1) Konfirmasi jenis ABO dan Rh ( kurang dari 5 menit), ( 2) mendeteksi antibodi pada golongan
darah lain , dan ( 3) mendeteksi antibody dengan titer rendah atau tidak terjadi aglutinasi mudah. Yang
dua terakhir memerlukan sedikitnya 45 menit.

Screening Antibodi
Tujuan test ini adalah untuk mendeteksi dalam serum adanya antibodi yang biasanya dihubungkan
dengan reaksi hemolitik non-ABO. Test ini ( dikenal juga Coombs Tes tidak langsung) memerlukan 45
menit dan dengan mencampur serum pasien dengan sel darah merah dari antigen yang dikenal; jika ada
antibodi spesifik, membran sel darah merah dilapisi, dan penambahan dari suatu antibodi antiglobulin
menghasilkan aglutinasi sel daraah. Screening ini rutin dilakukan pada seluruh donor darah dan
dilakukan untuk penerima donor sebagai ganti dari crossmatch .

Type & Crossmatch versus Type & Screen


Timbulnya suatu reaksi hemolytic yang serius setelah transfusi dari ABO- dan Rh-Compatible Transfusi
dengan screening negatif tetapi tanpa crossmatch kurang dari 1%. Crossmatching, bagaimanapun,
meyakinkan pentingnya kemanan yang optimal dan mendeteksi adanya antibody yang lain yang muncul
dalam screening. Crossmatch kini dilakukan hanya untuk prosedur operasi elektif dg kemungkinan
transfusi darah. Oleh karena waktunya sekitar 45 menit jika sebelumnya prosedur dua type dan screen
telah didokumentasikan, pada beberapa Center telah memulai crossmatch secara komputer.

Pemesanan Darah Untuk OperasiKebanyakan rumah sakit menyusun daftar operasi yang akan
dilakukan dan yang maksimum jumlah unit yang dapat dicrossmatch preoperati. Seperti pada praktek
mencegah berlebihan Crossmatching darah. Daftar pada umumnya didasarkan pada masing-masing
pengalaman institusi. Suatu crossmatch-to-transfusion perbandingan kurang dari 2.5:1 dipertimbangkan
bisa diterima. Hanya suatu type and screen dilakukan jika timbulnya transfusi untuk suatu prosedur
kurang dari 10%. Jika transfusi diperlukan, dilakukan cross-match . Pinjaman secara khas dibuat untuk
pasien anemic dan mereka yang mempunyai kelainan pembekuan.
TRANSFUSI DALAM KEADAAN DARURAT
Ketika pasien sedang exsanguinating, kebutuhan transfusi terjadi sebelum penyelesaian suatu
crossmatch, penyaringan , atau bahkan identifikasi tipe darah. Jika jenis darah pasien sudah dikenal,
dilakukan crossmatch kurang dari 5 menit, akan mengkonfirmasikan kompatibilitas ABO. Jika jenis darah
penerima tidak dikenal dan transfusi harus dimulai sebelum penentuan, jenis O Rh-Negative darah
mungkin bisa digunakan.

BANK DARAH
Darah dari pendonor disaring untuk mengeluarkan zat-zat yang dapat mempengaruhi kondisi medis
yang kurang baik bagi penerima donor. Hematocrit ditentukan, jika >37% untuk allogeneic atau 32%
untuk donor autologous, darah dikumpulkan, diidentifikasi, disaring untuk antibodi, dan dilakukan
pengujian adanya Hepatitis B, Hepatitis C, sipilis,human T cell leukemia virus ( HTLV)-1 dan HTLV-2, dan
Human immunodeficiency virus ( HIV)-1 dan HIV-2. Kebanyakan pusat penelitian sedang melakukan tes
terhadap asam nucleat virus RNA untuk mendeteksi Hepatitis B dan C dan virus HIV ,dan sedang
melakukan deteksi terhadap West Nile Virus. Ada test yang sangat sensitif, dan mereka perlu membatasi
virus dengan window positif tetapi test negatif.
Pertama, darah dikumpulkan kemudian tambahkan larutan anticoagulant. Larutan yang paling umum
digunakan adalah CPDA-1, yang berisi sitrat sebagai antikoagulan (berikatan dengan Calcium), fosfat
sebagai buffer, dextrose sebagai sumber energi sel darah merah, dan adenosine sebagai precursor dari
sintesa ATP.
Darah dengan CPDA-1- dapat disimpan untuk 35 hari, setelah kelangsungan hidup sel darah merah
dengan cepat berkurang. Sebagai alternatif, penggunaan AS-1 ( Adsol) atau AS-3 ( Nutrice) meluas umur
rata-rata 6 minggu.
Semua unit yang dikumpulkan dipisahkan ke masing-masing komponen, yang diberi nama, sel darah
merah, platelets, dan plasma.
Ketika disentrifuge, 1 unit Whole blood utuh menghasilkan sekitar 250 mL packed red blood cel
( hematocrit 70%); mengikuti penambahan larutan saline, volume suatu unit packed red cell sering
mencapai 350 mL. Sel darah merah secara normal disimpan pada 1-6°C. Sel darah merah dapat
dibekukan dalam larutan glycerol hypertonis sampai 10 tahun. Teknik yang belakangan pada umumnya
disediakan untuk penyimpanan darah dengan phenotypes jarang. Supernatant disentrifuge untuk
menghasilkan platelets dan plasma. 1 Unit platelets yang diperoleh biasanya berisi 50-70 mL plasma dan
dapat disimpan pada 20- 24°C untuk 5 hari. Sisa plasma supernatant diproses dan dibekukan untuk
menghasilkan Fresh frozen plasma; pembekuan cepat mencegah inaktifasi faktor pembekuan ( V dan
VIII). Pencairan yang lambat dari Fresh frozen plasma menghasilkan suatu gelatin presipitat (cryo-
precipitate) yang berisi faktor VIII dan fibrinogen dengan konsentrasi tinggi. Ketika dipisahkan,
cryoprecipitate ini dapat dibekukan kembali untuk disimpan. Satu unit darah menghasilkan sekitar 200
mL plasma, yang mana dapat dibekukan untuk disimpan; sekali ketika, harus ditransfusi dalam 24 jam.
Platelets boleh sebagai alternatif untuk mencapai plateletpheresis, yang ekuivalen dengan enam unit
reguler dari pasien .

TRANSFUSI INTRAOPERATIF  
Packed Red Blood Cells
Transfusi darah sebaiknya diberikan packed red cell, dan dapat mengoptimalkan penggunaan dan
pemanfaatan bank darah. Packed Red Blood Cell ideal untuk pasien yang memerlukan sel darah merah
tetapi tidak penggantian volume ( misalnya, pasien anemia dengan congestive heart failure). Pasien yang
dioperasi memerlukan cairan seperti halnya sel darah merah; kristaloid dapat diberikan dengan infuse
secara bersama-sama dengan jalur intravena yang kedua untuk penggantian volume cairan.
Sebelum transfusi, masing-masing unit harus diperiksa secara hati-hati dicek dengan kartu dari bank
darah dan identitas dari penerima donor darah. Tabung transfusi berisi 170-J.m untuk menyaring
gumpalan atau kotoran. Dengan ukuran sama dan saringan berbeda digunakan untuk mengurangi
leukocyte isi untuk mencegah febrile reaksi transfusi febrile pada pasien yang sensitif. Darah untuk
transfusi intraoperative harus dihangatkan sampai 37°C. terutama jika lebih dari 2-3 unit yang akan
ditransfusi; jika tidak akan menyebabkan hypothermia. Efek tambahan hypothermia dan secara khas
2,3-diphosphoglycerate ( 2,3-DPG) konsentrasi rendah dalam darah yang disimpan dapat menyebabkan
suatu pergeseran kekiri ditandai hemoglobin-oxygen kurva-disosiasi dan, menyebabkan hipoxia jaringan.
Penghangat darah harus bisa menjaga suhu darah > 30°C bahkan pada aliran rata-rata sampai 150
ml/menit

Fresh Frozen Plasma

Fresh Frozen Plasma ( FFP) berisi semua protein plasma, termasuk semua factor pembekuan. Transfusi
FFP ditandai penanganan defisiensi faktor terisolasi, pembalikan warfarin therapy, dan koreksi
coagulopathy berhubungan dengan penyakit hati. Masing-Masing unit FFP biasanya meningkatkan
faktor pembekuan 2-3% pada orang dewasa. Pada umumnya dosis awal 10-15 mL/kg. Tujuannya adalah
untuk mencapai 30% dari konsentrasi faktor pembekuan yang normal.
FFP boleh digunakan pada pasien yang sudah menerima transfusi darah masive. Pasien dengan
defisiensi ANTI-THROMBIN III atau purpura thrombocyto-penic thrombotic dapat diberikan FFP
transfusi.
Masing-Masing unit FFP membawa resiko cepat menyebar yang sama sebagai unit darah utuh. Sebagai
tambahan, pasien dapat menjadi peka terhadap protein plasma. ABO-COMPATIBLE biasanya diberi
tetapi tidak wajib. Seperti butir-butir darah merah, FFP biasanya dihangatkan 37°C sebelum transfusi.

Platelets
Transfusi Platelet harus diberikan kepada pasien dengan thrombocytopenia atau dysfunctional platelets
dengan pendarahan. Profilaxis Transfusi trombosit dapat diberikan pada pasien dengan hitung trombosit
10,000-20,000 oleh karena resiko perdarahan spontan.
Hitung trombosit kurang dari 50,000 x 109/L dihubungkan dengan peningkatan perdarahan selama
pembedahan. Pasien dengan thrombocytopenia yang mengalami pembedahan atau prosedur invasive
harus diberikan profilaxis transfusi trombosit sebelum operasi, hitung trombosit harus meningkat diatas
100,000 x 109/L. Persalinan pervaginam dan prosedur bedah minor dapat dilakukan pada pasien dengan
hitung trombosit yang agak rendah tapi fungsi trombosit normal dan hitung trombosit >50,000 x 109/L.
Masing-Masing unit platelets mungkin diharapkan untuk meningkatkan 10,000-20,000 x 109/L dari
trombosit. Plateletpheresis unit berisi yang sejenisnya enam unit donor tunggal. Peningkatan lebih
sedikit dapat diharapkan pasien dengan suatu sejarah platelet transfusi. Disfungsi dapat meningkatkan
perdarahan pada pembedahan bahkan ketika trombosit normal dan dapat didiagnosa preoperative
dengan memeriksa masa perdarahan. . Transfusi. Platelet diindikasikan pada pasien dengan disfungsi
trombosit dan meningkatkan perdarahan pada pembedahan. ABO-compatible platelet transfusi adalah
diinginkan tetapi tidak perlu. Transfused Platelets biasanya survive hanya 1-7 hari yang mengikuti
transfusi. ABO kompatibel dapat meningkatkan platelet survival. Rh sensitisasi dapat terjadi di Rh-
Negative donor dalam kaitan dengan adanyanit donor tunggal. Peningkatan lebih sedikit dapat
diharapkan pasien dengan suatu sejarah platelet transfusi. Disfungsi dapat meningkatkan perdarahan
pada pembedahan bahkan ketika trombosit normal dan dapat didiagnosa preoperative dengan
memeriksa masa perdarahan. . Transfusi. Platelet diindikasikan pada pasien dengan disfungsi trombosit
dan meningkatkan perdarahan pada pembedahan. ABO-compatible platelet transfusi adalah diinginkan
tetapi tidak perlu. Transfused Platelets biasanya survive hanya 1-7 hari yang mengikuti transfusi. ABO
kompatibel dapat meningkatkan platelet survival. Rh sensitisasi dapat terjadi di Rh-Negative donor
dalam kaitan dengan adanya beberapa butir-butir darah merah di (dalam) Rh-Positive platelet Unit.
Lebih dari itu, anti-A atau anti-B zat darah penyerang kuman di (dalam) yang 70 mL plasma pada setiap
platelet unit dapat menyebabkan suatu reaksi hemolytic melawan terhadap butir-butir darah merah
penerima ketika sejumlah besar ABO-incompatible platelet unit diberi. Administrasi Rh immuno-globulin
ke Rh-Negative Individu dapat melindungi dari Rh sensitisasi yang mengikuti Rh-Positive platelet
Transfusi. Pasien yang kembang;kan zat darah penyerang kuman melawan terhadap HLA antigens
lymphocytes di (dalam) platelet berkonsentrasi) atau platelet spesifik antigens memerlukan HLA-
COMPATIBLE atau single-donor unit. Penggunaan plateletpheresis transfusi boleh ber/kurang
kemungkinan sensitisasi.

Transfusi Granulosit
Transfusi Granulosit, yang dibuat dengan leukapheresis, diindikasikan pada pasien neutropenia dengan
infeksi bakteri yang tidak respon dengan antibiotik. Transfusi granulosit mempunyai masa hidup dalam
sirkulasi sangat pendek, sedemikian sehingga sehari-hari transfusi 1010 granulocytes pada umumnya
diperlukan. Iradiasi dari granulosit menurunkan insiden timbulnya reaksi graft-versus-host , kerusakan
endothelial berhubungan dengan paru-paru, dan lain permasalahan berhubungan dengan transfusi
leukosit (lihat di bawah), tetapi mempengaruhi fungsi granulosit. Ketersediaan filgrastim ( granulocyte
colony-stimulating faktor, atau G-CSF) dan sargramostim ( granulocyte-macrophage colony-stimulating
faktor, atau GM-CSF) telah sangat mengurangi penggunaan transfusi granulosit.

KOMPLIKASI TRANSFUSI

A. Komplikasi Imun   
Komplikasi imun setelah transfusi darah terutama berkaitan dengan sensitisasi donor ke sel darah
merah, lekosit, trombosit atau protein plasma.

1. Reaksi Hemolytic
Reaksi Hemolytic pada umumnya melibatkan destruksi spesifik dari sel darah merah yang ditransfusikan
oleh antibody resipien. Lebih sedikit biasanya, hemolysis sel darah merah resipien terjadi sebagai hasil
transfusi antibody sel darah merah.Trombosit konsentrat yang inkompatible, FFP, clotting faktor, atau
cryoprecipitate berisi sejumlah kecil plasma dengan anti-A atau anti-B ( atau kedua-duanya)
alloantibodies. Transfusi dalam jumlah besar dapat menyebabkan hemolisis intravascular.
Reaksi Hemolytic biasanya digolongkan akut ( intravascular) atau delayed ( extravascular).

Reaksi Hemolytic Akut


Hemolisis Intravascular akut pada umumnya berhubungan dengan Inkompatibilitas ABO dan frekwensi
yang dilaporkan kira-kira 1:38,000 transfusi. Penyebab yang paling umum adalah misidentifikasi suatu
pasien, spesimen darah, atau unit transfusi. Reaksi ini adalah yang terberat. Resiko suatu reaksi
hemolytic fatal terjadi 1 dalam 100,000 transfusi. Pada pasien yang sadar, gejala meliputi rasa dingin,
demam, nausea, dan sakit dada. Pada pasien yang dianestesi, manifestasi dari suatu reaksi hemolytic
akut adalah suhu meningkat, tachycardia tak dapat dijelaskan , hipotensi, hemoglobinuria, dan oozing
yang difus dari lapangan operasi. Disseminated Intravascular Coagulation, shock, dan penurunan fungsi
ginjal dapat berkembang dengan cepat. Beratnya suatu reaksi seringkali tergantung pada berapa banyak
darah yang inkompatibel yang sudah diberikan. Gejala yang berat dapat terjadi setelah infuse 10 – 15 ml
darah yang ABO inkompatibel. Manajemen reaksi hemoiytic dapat simpulkan sebagai berikut:

 Jika dicurigai suatu reaksi hemolytic, transfusi harus dihentikan dengan segera.
 Darah harus di cek ulang dengan slip darah dan identitas pasien.

 Kateter urin dipasang , dan urin harus dicek adanya hemoglobin.

 Osmotic diuresis harus diaktipkan dengan mannitol dan cairan kedalam pembuluh darah.

 Jika ada perdarahan akut, indikasi pemberian platelets dan FFP

Reaksi hemolytic lambat


Suatu reaksi hemolytic lambat biasanya disebut hemolysis extravascular biasanya ringan dan disebabkan
oleh antibody non D antigen Sistem Rh atau ke asing alleles di system lain seperti Kell, Duffy, atau Kidd
antigens. Berikut suatu transfusi ABO dan Rh D-compatible,pasien mempunyai 1-1.6% kesempatan
membentuk antibody untuk melawan antigen asing. Pada saat itu
Sejumlah antibody ini sudah terbentuk ( beberapa minggu sampai beberapa bulan), tranfusi sel darah
telah dibersihkan dari sirkulasi. Lebih dari itu, titer antibody menurun dan mungkin tidak terdeteksi.
Terpapar kembali dengan antigen asing yang sama selama transfuse sel darah, dapat mencetuskan
respon antibody melawan antigen asing. Peristiwa ini dilihat jelas dengan Sistem Kidd antigen. Reaksi
hemolytic pada tipe lambat terjadi 2-21 hari setelah transfusi, dan gejala biasanya ringan, terdiri dari
malaise, jaundice, dan demam. Hematocrit pasien tidak meningkat setelah transfusi dan tidak adanya
perdarahan. Serum bilirubin unconjugated meningkat sebagai hasil pemecahan hemoglobin.
Diagnosa antibody - reaksi hemolytic lambat mungkin difasilitasi oleh antiglobulin (Coombs) Test.
Coombs test mendeteksi adanya antibody di membrane sel darah. Test ini tidak bisa membedakan
antara membrane antibody resipien pada sel darah merah dengan membrane antibody donor pada sel
darah merah. Jadi, ini memerlukan suatu pemeriksaan ulang yang lebih terperinci pretransfusi pada
kedua spesimen : pasien dan donor.
Penanganan reaksi hemolytic lambat adalah suportif. Frekwensi reaksi transfusi hemolytic lambat
diperkirakan kira-kira 1:12,000 transfusi. Kehamilan ( terpapar sel darah merah janin) dapat juga
menyebabkan pembentukan alloan-tibodies pada seldarah merah.

2. Reaksi Imun Nonhemolitik


Reaksi imun Nonhemolytic adalah dalam kaitan dengan sensitisasi dari resipien ke donor lekosit,
platelets, atau protein plasma.

Febrile Reaksi
Sensitisasi lekosit atau Platelet secara khas manifestasinya adalah reaksi febrile. Reaksi ini umumnya ( 1-
3% tentang episode transfusi) dan ditandai oleh suatu peningkatan temperatur tanpa adanya hemolysis.
Pasien dengan suatu riwayat febrile berulang harus menerima tranfusi lekosit saja. Transfusi sarah
merahh dapat dibuat leukositnya kurang dengan sentrifuge, filtration, atau teknik freeze-thaw.

Reaksi Urtikaria     
Reaksi Urtikaria pada umumnya ditandai oleh erythema, penyakit gatal bintik merah dan bengkak, dan
menimbulkan rasa gatal tanpa demam. Pada umumnya ( 1% tentang transfusi) dan dipikirkan berkaitan
dengan sensitisasi pasien ke transfusi protein plasma. Reaksi Urticaria dapat diatasi dengan obat
antihistamine ( H, dan mungkin H2 blockers) dan steroids.

Reaksi Anafilaksis       
Reaksi anafilaksis jarang terjadi (kurang lebih 150,000 transfusi). Reaksi ini berat dan terjadi setelah
hanya beberapa mililiter darah ditranfusi, secara khas pada IgA- Pasien dengan Deficiensi anti-IgA yang
menerima tranfusi darah yang berisi IgA. Prevalensi defisiensi IgA diperkirakan 1:600-800 pada populasi
yang umum. Reaksi ini diatasi dengan pemberian epinephrine, cairan, corticosteroids, dan H1, dan H2
blockers. Pasien dengan defisiensi IgAperlu menerima Washed Packed Red Cells, deglycerolized frozen
red cells, atau IgA-Free blood Unit .

Edema Pulmonary Noncardiogenic  


Sindrom acute lung injury (Transfusion-Related Acute Lung Injury [ TRALI]) merupakan komplikasi yang
jarang terjadi(< 1:10,000). Ini berkaitan dengan transfusi antileukocytic atau anti-HLA antibodi yang
saling berhubungan dan menyebabkan sel darah putih pasien teragregasi di sirkulasi pulmoner.Tranfusi
sel darah putih dapat berinteraksi dengan leukoaglutinin. Perawatan Awal TRALI adalah sama dengan
Acute Respiratory distress syndrome ( ARDS), tetapi dapat sembuh dalam 12-48 jam dengan therapy
suportif.

Graft versus Host Disease 


Reaksi jenis ini dapat dilihat pada pasien immune-compromised. Produk sel darah berisi lymfosit mampu
mengaktifkan respon imun. Penggunaan filter leukosit khusus sendiri tidak dapat dipercaya mencegah
penyakit graft-versus-host; iradiasi ( 1500-3000 cGy) sel darah merah, granulocyte, dan transfusi platelet
secara efektif menginaktifasi lymfosit tanpa mengubahefikasi dari transfusi.

Purpura Posttransfusi
Thrombocytopenia jarang terjadi setelah transfusi darah dan ini berkaitan dengan berkembangnya
alloantibody trombosit. Karena alasan yang tidak jelas, antibodi menghancurkan trombosit. Hitung
trombosit secara jelas menurun 1 minggu setelah tranfusi. Plasmapheresis dalam hal ini dianjurkan.

Imun Supresi     
Transfusi leukosit-merupakan produk darah dapat sebagai immunosuppressi. Ini adalah terlihat jelas
pada penerima cangkok ginjal, di mana transfusi darah preoperatif nampak untuk meningkatkan survival
dari graft. Beberapa studi menyatakan bahwa rekurensi dari pertumbuhan malignan mungkin lebih mirip
pada pasien yang menerima transfusi darah selamapembedahan. Dari kejadian yang ada juga
menyatakan bahwa tranfusi leukocyte allogenic dapat mengaktifkan virus laten pada resipien. Pada
akhirnya, transfusi darah dapat meningkatkan timbulnya infeksi yang serius setelah pembedahan atau
trauma.

B. Komplikasi Infeksi 
1. Infeksi virus
Hepatitis
Sampai tes rutin untuk virus hepatitis telah diterapkan, insidensi timbulnya hepatitis setelah transfusi
darah 7-10%. Sedikitnya 90% tentang kasus ini adalah dalam kaitan dengan hepatitis C virus. Timbulnya
hepatitis posttransfusi antarab 1:63,000 dan 1:1,600,000; 75% tentang kasus ini adalah anicteric, dan
sedikitnya 50% berkembang;menjadi penyakit hati kronis. Lebih dari itu, tentang kelompok yang terakhir
ini, sedikitnya 10-20% berkembang menjadi cirrhosis.

Acquired Immunodeficiency Syndrome ( AIDS )


Virus yang bertanggung jawab untuk penyakit ini, HIV-1, ditularkan melalui transfusi darah. Semua darah
dites untuk mengetahui adanya anti-HIV-1 dan - 2 antibodi . Dengan adanya FDA yang menguji asam
nukleat memperkecil waktu kurang dari satu minggu dan menurunkan resiko dari penularan HIV melalui
tranfusi 1:1.900.000 tranfusi.

Infeksi Virus Lain


Cytomegalovirus (CMV) dan Epstein-Barr Virus umumnya menyebabkan penyakit sistemik ringan atau
asimptomatik.Yang kurang menguntungkan, pada beberapa individu menjadi pembawa infeksi
asimptomatik; lekosit dalam darah dari donor dapat menularkan virus. Pasien immunosupresi dan
Immunocompromise ( misalnya, bayi prematur dan penerima transplantasi organ ) peka terhadap
infeksi CMV berat setelah tranfusi. Idealnya, . pasien- pasien menerima hanya CMV negative.
Bagaimanapun, studi terbaru menunjukkan bahwa resiko transmisi CMV dari transfusi dari darah yang
leukositnya berkurang sama dengan tes darah yang CMV negative. Oleh karena itu, pemberian darah
dengan leukosit yang dikurangi secara klinis cocok diberikan pada pasien seperti itu. Human T sel virus
lymphotropic I dan II ( HTLV-1 dan HTLV-2) adalah leukemia dan lymphoma virus, kedua-duanya telah
dilaporkan ditularkan melalui transfusi darah; leukemia dihubungkan dengan myelopathy. Penularan
Parvovirus telah dilaporkan setelah transfusi faktor pembekuan. dan dapat mengakibatkan krisis
transient aplastic pada pasient immunocompromised. Penggunaan filter leukosit khusus nampaknya
mengurangi tetapi tidak mengeliminasi timbulnya komplikasi di atas.

2. Infeksi parasit
Penyakit parasit yang dapat ditularkan melalui transfusi seperti malaria, toxoplasmosis, dan Penyakit
Chagas'. Namun kasus-kasus tersebut jarang terjadi.
3. Infeksi Bakteri
Kontaminasi bakteri dalam adalah penyebab kedua kematian melalui transfusi. Prevalensi kultur positif
dari kantong darah berkisar dari 1/2000 trombosit sampai 1/7000 untuk pRBC. Prevalensi sepsis oleh
karena transfusi darah berkisar dari 1/25,000 tromobosit sampai 1/250,000 untuk pRBC. Angka-angka ini
secara relatif besar dibandingkan ke resiko HIV atau hepatitis, yang adalah di sekitar 1/1-2 juta. Baik
bakteri gram-positive ( Staphylococus) dan bakteri gram-negative ( Yersinia dan Citrobacter) jarang
mencemari transfusi darah dan menularkan penyakit. Untuk mencegah kemungkinan kontaminasi dari
bakteri, darah harus berikan dalam waktu kurang dari 4 jam. Penyakit bakteri yang ditularkan melalui
transfusi darah dari donor meliputi sifilis, brucellosis, salmonellosis, yersiniosis, dan berbagai macam
rickettsia.

C. Transfusi Darah Masif


Transfusi darah masif umumnya didefinisikan sebagai kebutuhan transfusi satu sampai dua kali volume
darah pasien. Pada kebanyakan pasien dewasa, equivalent dengan 10-20 unit.

Koagulopati
Penyebab utama perdarahan setelah transfusi darah masif adalah dilutional thrombocytopenia. Secara
klinis dilusi dari factor koagulasi tidak biasa terjadi pada pasien normal. Studi Koagulasi dan hitung
trombosit, jika tersedia, idealnya menjadi acuan transfusi trombosit dan FFP. Analisa Viscoelastic dari
pembekuan darah (thromboelastography dan Sonoclot Analisa) juga bermanfaat.

Keracunan Sitrat
Kalsium berikatan dengan bahan pengawet sitrat secara teoritis dapat menjadi penting setelah transfusi
darah dalam jumlah besar. Secara klinis hypocalcemia penting, karena menyebabkan depresi jantung,
tidak terjadi pada pasien normal kecuali jika transfusi melebihi 1 U tiap-tiap 5 menit. Sebab metabolisme
sitrat terutama di hepar, pasien dengan penyakit atau disfungsi hepar ( dan kemungkinan pada pasien
hipothermi) memerlukan infuse calcium selama transfusi massif ).

Hypothermia
Transfusi Darah massif adalah merupakan indikasi mutlak untuk semua produk darah cairan intravena
hangat ke temperatur badan normal. Arhitmia Ventricular dapat menjadi fibrilasi ,sering terjadi pada
temperatur sekitar 30°C. Hypothermia dapat menghambat resusitasi jantung. Penggunaan alat infus
cepat dengan pemindahan panas yang efisien sangat efisien telah sungguh mengurangi timbulnya
insiden hypothermia yang terkait dengan transfusi.

Keseimbangan asam basa


Walaupun darah yang disimpan adalah bersifat asam dalam kaitan dengan antikoagulan asam sitrat dan
akumulasi dari metabolit sel darah merahs (carbondioxida dan asam laktat), berkenaan dengan
metabolisme acidosis metabolik yang berkaitan dengan transfusi tidaklah umum. Yang terbanyak dari
kelainan asam basa setelah tranfusi darah massif adalah alkalosis metabolic postoperative.Ketika perfusi
normal diperbaiki, asidosis metabolic berakhir dan alkalosis metabolic progresif terjadi, sitrat dan laktat
yang ada dalam tranfusi dan cairan resusitasi diubah menjadi bikarbonat oleh hepar.
Konsentrasi Kalium Serum Konsentrasi kalium Extracellular dalam darah yang disimpan meningkat
dengan waktu. Jumlah kalium extracellular yang transfusi pada unit masing-msaing kurang dari 4 mEq
perunit. Hyperkalemia dapat berkembang dengan mengabaikan umur darah ketika transfusi melebihi
100 mL/min. Hypokalemia biasanya ditemui sesudah operasi, terutama sekali dihubungkan dengan
alkalosis metabolisme.

STRATEGI ALTERNATIF UNTUK PENAGANAN KEHILANGAN DARAH SELAMA


PEMBEDAHAN

Transfusi Autologous
Pasien yang mengalami prosedur pembedahan elektif dengan suatu kemungkinan tinggi untuk transfusi
dapat mendonorkan darah mereka sendiri untuk digunakan selama operasi. Darah ini dapat
dikumpulkan mulai 4-5 minggu sebelum operasi. Pasien diperbolehkan untuk mendonorkan satu
kantong darah sepanjang hematokrit kurang lebih 34% atau hemoglobin sekitar 11 g/dl. Kebutuhan
pemakaian darah minimum 72 jam antara mendonorkan darah dan membuat volume plasma kembali
normal. Dengan suplementasi besi dan terapi eritropoetin rekombinan ( 400 U perminggu), sedikitnya
tiga atau empat unit pada umumnya dikumpulkan sebelum operasi. Beberapa studi menyatakan bahwa
transfusi darah autologous tidak mempunyai efek tambahan yang mempengaruhi survival pada pasien
yang mengalami operasi untuk kanker. Walaupun transfusi autologous mungkin mengurangi resiko
infeksi dan reaksi transfusi, mereka tidaklah dengan sepenuhnya bebas dari resiko. Resiko meliputi
reaksi immunologi yang berhubungan dengan n kesalahan pekerjaan karyawan dalam pengumpulan dan
label, pencemaran, dan gudang/penyimpanan yang tidak benar. Reaksi alergi dapat terjadi dalam kaitan
dengan allergen (misalnya, ethylen oksida), dapat masuk kedalam darah dari tempat pengumpulan dan
gudang/penyimpanan. Pengumpulan darah preoperative autologous dilakukan dengan frekwensi
berkurang.

Penyimpanan Darah dan Pemberian Cairan Melalui Infus Berulang


Teknik ini umumnya digunakan pada bedah jantung, vascular dan bedah tulang. Darah di aspirasi
intraoperatif bersama-sama dengan suatu pencegah pembekuan darah ( heparin) ke dalam suatu
reservoir. Setelah jumlah darah cukup dikumpulkan, sel darah yang merah di konsentratkan dan dicuci
untuk dimurnikan dari kotoran dan zat pembeku kemudian di transfusikan kembali ke dalam pasien.
Konsentrat darah tersebut umumnya mempunyai hematocrits 50-60%. Untuk digunakan secara efektif,
teknik ini memerlukan kehilangan darah lebih besar dari 1000-1500 mL. Kontrainidikasi meliputi
pencemaran dari luka yang busuk dan tumor malignan, meskipun demikian kekhawatiran tentang
kemungkinan reinfusi sel malignan via teknik tills tidak dibenarkan. Sistem lebih modern dan sederhana
memungkinkan rein-fusion darah tanpa centrifugae.

Normovolemic Hemodilusi
Hemodilution normovolemic akut bergantung pada pendapat bahwa jika konsentrasi sel darah merah
dikurangi, total kehilangan sel darah merah dapat dikurangi apabila darah dalam jumlah besar
ditumpahkan; lebih dari itu, cardiac output tetap normal sebab volume intravascuiar terkontrol. Darah
umumnya dikeluarkan sebelum operasi melalui kateter intravena yang besar dan digantikan dengan
cairan kristaloid dan koloid, supaya pasien tetap normovolemic tetapi dengan hematocrit 21-25%. Darah
yang dikeluarkan disimpan dalam kantong CPD pada suhu sampai 6 jam untuk menjaga fungsi dari
trombosit; darah di transfusikan kembali ke pasien setelah kehilangan darah atau lebih cepat jika
diperlukan.

Donor - Transfusi Langsung


Pasien dapat meminta donor darah dari anggota keluarga atau teman yang mengandung ABO
kompatibilitas. Kebanyakan bank darah tidak menyarankan hal ini dan umumnya memerlukan donor
kurang lebih 7 hari sebelum operasi untuk memproses darah dan mengkonfirmasikan kompatibilitas.
Studi yang membandingkan keamanan dari pendonor-langsung dengan donor secara random tidak ada
perbedaan, ataupun bank darah lebih aman.

KONSEP UTAMA
1. Walaupun waktu paruh cairan kristaloid didalam intravascular adalah 20-30 menit, kebanyakan    
cairan koloid mempunyai waktu paruh antara 3-6 jam.
2. Pasien dengan hematocrit normal bisanya ditransfusi hanya setelah kehilangan darah lebih dari
10-20% dari volume darahnya. Ini berdasarkan kondisi medis pasien dan prosedur pembedahan.

3. Reaksi transfusi yang paling berat yaitu yang berhubungan dengan inkompatibilitas ABO,
antibody yang didapat secara alami dapat bereaksi melawan antigen dalam transfusi (asing),
mengaktifkan komplemen,dan mengakibatkan hemolysis intravascular.

4. Pada pasien yang dianestesi, manifestasi dari reaksi hemolytic akut adalah kenaikan temperatur,
tachycardia yang tak dapat dijelaskan,hypotensi, hemoglobinuria dan oozing difus dari lapangan
operasi.

5. Transfusi leukocit termasuk produk darah dapat menjadi immunosuppressive.

6. Pasien immunosupresi dan immunocompromised (misalnya, bayi premature dan  penerima


transplantasi organ) terutama  peka  terhadap infeksi cytomegalovirus  (CMV) melalui
transfusi. Seperti pasien yang hanya menerima unit CMV-NEGATIVE.

7. Penyebab tersering pendarahan dari transfusi darah yang massif adalah dilutional 
thrombocytopenia.

8. Secara klinis hypocalcemia, menyebabkan depresi jantung, tidak terjadi pada pasien   normal
kecuali jika transfusi melebihi 1 U tiap 5 menit.

9. Ketidakseimbangan asam basa yang paling sering setelah transfusi darah masif adalah  alkalosis
metabolic post operative.

REFERENSI
Morgan, G. Edward. 2005. Clinical Anesthesiology, 4th Edition. Mc Graw-Hill Companies, Inc. United
State.

Formula Enteral
TUJUAN

1. Untuk mempelajari pengelompokan formula enteral dan untuk menetukan gambaran dan
perbedaannya.
2. Untuk mengenali sumber-sumber gizi makro pada formula enteral.

3. Untuk dapat memilih formula enteral yang sesuai berdasarkan kondisi klinis atau status
penyakit, keperluan metabolik, fungsi gastrointestinal, dan lokasi masuknya tube dan
diameternya.

GARIS BESAR
 Untuk mencapai toleransi optimal dan keuntungan dari pemberian makanan melalui tube, maka
formula yang digunakan harus disesuaikan berdasarkan kebutuhan setiap individu pasien.
 Produk-produk yang diformulasikan secara khusus yang tersedia memiliki keunikan kandungan
gizi dan kebutuhan metabolik disesuaikan untuk  beberapa kondisi klinis akut dan kronis.

 Perbaikan berkelanjutan dalam hal komposisi formula telah memudahkan keberhasilan


pemberian makanan enteral  pada banyak situasi klinis terutama pada penyakit kritis dimana
pemberian makanan enteral yang pada awalnya tidak dapat ditoleransi, bahkan hampir tidak
mungkin.

IMPLIKASI KLINIS
Untuk mencapai keuntungan optimal dari pemberian makanan enteral dimulai dengan memilih formula
yang tepat. Pemilihan formula enteral didasarkan pada kondisi klinis pasien, status penyakit
sebelumnya, kebutuhan metabolik, fungsi gastrointestinal, lokasi masuknya tube dan diameternya.
Seorang dokter dapat memilih formula enteral yang paling sesuai dan efektif dari sisi biaya dari sejumlah
besar variasi produk komersial yang tersedia.

PENDAHULUAN

Pilihan formula amat penting untuk keberhasilan pemberian makanan enteral, baik dalam mendukung
kebutuhan metabolik maupun meningkatkan toleransi gastrointestinal. Saat memilih formula enteral,
dokter harus memperhatikan hal-hal berikut:

 Kebutuhan metabolik amat penting terhadap keberhasilan pemberian makanan enteral


berdasarkan kondisi klinis atau penyakit yang diderita antara lain :

1. Kilo kalori;

2. Volume cairan;
3. Densitas kalori;

4. Kebutuhan protein/ nitrogen,

5. Vitamin,

6. Mineral,

7. Zat gizi esensial sesuai kondisi.

 Kapasitas absorpsi dan digestif gastrointestinal.

 Tube / selang (lokasi dan diameternya)

KEBUTUHAN METABOLIK
Kilo kalori 
Kebutuhan energi dari kebanyakan pasien rawat inap dapat dipenuhi dengan memberikan kebutuhan
25-35 kcal/ kg/hr. Pengaturan eukalorik atau bahkan sedikit hipokalorik, menjadi tujuan terapeutik pada
pasien kritis akan mencegah timbulnya  stress metabolik yang terkait suplai gizi yang berlebihan.
Kelebihan pemberian makanan berhubungan dengan berbagai komplikasi metabolik antara lain; retensi
CO2, ventilasi meningkat, intoleransi glukosa, infiltrasi lemak hati, ketidakseimbangan elektrolit;
kelebihan cairan, dan intoleransi gastrointestinal. Jauh lebih mudah memulai pemberian makanan pada
tingkat kalori konservatif dan meningkatkan sesuai toleransi ketimbang memperbaiki gangguan
metabolik yang diakibatkan oleh pemberian makanan secara berlebihan.
Pemeriksaan secara hati-hati terhadap status hidrasi pasien dapat membantu dokter menghindari
kelebihan atau kekurangan dosis kalori (dan protein) yang terkait dengan timbulnya edema atau
dehidrasi. Parameter klinik dan laboratorium membantu dalam penilaian status hidrasi, termasuk
diantaranya sodium serum, rasio urea nitrogen terhadap kreatinin darah, berat badan, berat jenis urin,
dan turgor kulit. Untuk menghindari kelebihan makanan, dimana pasien yang berada dibawah berat
badan ideal, kebutuhan energi dan protein dasarnya harus melihat berat badan pasien sebelumnya.
Untuk menghindari kelebihan makanan pada pasien gemuk; dokter harus menghitung kebutuhan energi
dan protein berdasarkan acuan atau  berat badan untuk tinggi badan yang ideal.

Volume cairan dan densitas kalori 


Keseimbangan cairan didefinisikan sebagai volume asupan air dan dibandingkan dengan volume output
cairan. Keseimbangan cairan tiap individu tergantung pada variabel-variabel seperti umur, ukuran
tubuh, intake cairan, komposisi diet, kandungan ekskresi ginjal, fungsi ginjal, kecepatan metabolik dan
respiratorik, dan  suhu badan. Keseimbangan cairan juga dipengaruhi oleh ada dan luasnya kehilangan
cairan yang abnormal, seperti pada diare, drainase luka atau demam.
Sumber-sumber intake termasuk diantaranya air yang dikonsumsi dalam minuman dan makanan, serta
air yang diproduksi dalam metabolisme oksidatif dalam tubuh. Bentuk utama output air adalah urine,
keringat, ekskresi gastrointestinal dan kelembaban udara ekspirasi. Pasien yang menerima makanan
melalui tube/ selang umumnya membutuhkan air sebagai tambahan dari yang tersedia dalam formula.
Perkiraan kebutuhan cairan berdasarkan pada beberapa faktor antara lain intake kalori, luas permukaan
tubuh, berat badan, dan kondisi kesehatan. Bila intake kalori rendah, atau saat kehilangan cairan
meningkat (seperti keringat berlebih, poliuri, diare, atau penggunaan diuretik yang berlebihan), pasien
dapat memerlukan cairan ekstra. Oleh karena kebutuhan cairan bervariasi antar individu, dan bervariasi
dalam satu individu dalam waktu yang berbeda, maka setiap pasien perlu diawasi secara berkala, dan
intake cairan perlu diatur seperlunya. Salah satu cara termudah untuk mengukur ketidakcukupan cairan
adalah dengan mengukur berat badan harian. Perubahan cepat yang memburuk dari satu hari ke hari
lainnya kemungkinan oleh karena kekurangan atau kelebihan air.
Kandungan air dari formula enteral bergantung pada densitas kalorinya. Formula yang memiliki densitas
kalori terbesar dapat memberikan jumlah air yang paling sedikit. (tabel 1; merupakan daftar perkiraan
kandungan air untuk formula enteral dengan berbagai densitas kalorik).
Bila pasien memiliki cairan intake total yang harus dikontrol, dokter sering memilih formula dengan
densitas kalori yang lebih tinggi (1,5-2,0 kcal/ml), yang dapat memberi energi terbanyak dalam volume
yang kecil bagi pasien.

Protein
Pasien dengan luka terbuka, seperti pada ulkus , dan pasien hipermetabolik seperti sepsis, terbakar atau
udem traumatik biasanya mendapat keuntungan dari intake protein yang tinggi. Formula enteral yang di
buat dengan jumlah protein yang lebih besar, dirancang khusus penggunaannya dalam situasi klinis ini.
Bentuk protein yang digunakan ( intake atau dihidrolisis parsial ) akan bergantung pada fungsi
gastrointestinal dan apakah pasien tampak sakit berat atau tidak. Pasien-pasien dengan penyakit
gastrointestinal atau malabsopsi dapat diuntungkan dari sistem protein ganda ( seperti formula yang
menyediakan baik peptida dan asam amino ).
 

Vitamin dan Trace element.


Dokter perlu menyadari mengenai pentingnya vitamin, mineral, dan trace elemen dalam diet. Terdapat
tingginya insidensi difisiensi vitamin dan mineral diantara pasien-pasien malnutrisi. Sebagai tambahan,
difesiensi klinis telah didokumentasikan pada pasien yang menerima formula enteral yang mengalami
defisiensi trace mineral seperti selenium, chromium, dan molybdenum. Mineral-mineral ini,
sebagaimana halnya mangan terdapat dalam berbagai formula enteral. Meskipun demikian, beberapa
pasien gizi buruk dengan defisiensi sejumlah vitamin dan mineral gejala-gejala klinis dapat timbul ketika 
diberikan formula enteral. Hal ini berhubungan dengan peningkatan kebutuhan zat-zat gizi ini untuk
sintesis protein.
Jumlah zat gizi mikro yang disediakan dari pemberian makanan enteral bergantung pada volume total
makanan yang tersedia. Meskipun pasien menerima kalori dan protein dalam formula yang diberikan,
pasien kemungkinan tidak menerima 100% dari rekomendasi intake harian ( RDI ) dari vitamin dan
mineral maka formula harus diatur hingga sesuai.
Dokter perlu menentukan apakah kandungan vitamin dan mineral dalam formula yang diberikan sudah
cukup untuk menutupi RDI pasien dan bila tidak harus menyesuaikan formula bagi pasien.  
Formula enteral yang memberikan 100% RDI dalam volume yang relatif kecil terutama berguna bagi
pasien dengan penyakit kritis, pasien-pasien dengan pembatasan cairan dan pasien usia lanjut atau
pasien immobile yang umumnya memiliki kebutuhan kalori yang lebih rendah. Kebutuhan diet trace
element sangat kecil ( < 5 minggu 1 hari ). Namun, oleh karena banyak penyakit berhubungan dengan
kebutuhan gizi mikro lebih besar dari RDI, formula enteral khusus disusun bersama dan diperkuat
dengan vitamin dan mineral tertentu. Formula khusus ini dapat membantu pasien yang memiliki status
gizi dibawah optimal sebelum onset penyakit.
 

Zat-zat  gizi esensial khusus.


Glutamine, arginine, taurin dan carnitine dipandang sebagai zat gizi esensial khusus. Dalam diet normal,
zat-zat gizi ini terdapat dalam kadar rendah namun adekuat. Pada penyakit berat atau penyakit kronis,
perubahan jalur metabolik dapat membatasi zat-zat gizi ini. Dalam kasus ini, pemberian formula enteral
suplemen dengan zat gizi esensial khusus dapat menguntungkan pasien.
 
Glutamine. 
Disebut sebagai asam amino khusus untuk pasien-pasien kritis, glutamine merupakan bahan bakar
penting untuk pembelahan sel secara cepat seperti eritrosit,, colonosit dan limfosit. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa glutamin tambahan dapat mencegah perburukan permeabilitas usus dan
memperbaiki struktur mukosa. Kebutuhan glutamine tampaknya meningkat seiring beratnya cedera.
Kadar glutamin suplementasi yang disarankan (seperti L-glutamin) setelah trauma operasi besar tanpa
komplikasi  adalah 12-14 gr/hari.
 

Arginin. 
Arginin juga dipandang sebagai asam amino esenisal khusus, dan suplementasi arginin dikaitkan dengan
percepatan penyembuhan luka. Efeknya terhadap penyembuhan luka dapat berhubungan dengan
meningkatnya sintesis kolagen pada luka. Suplementasi arginin juga membantu fungsi kekebalan pada
manusia dan hewan. Suplementasi arginin harian dengan 30 gr dari arginin aspartat (17 gram arginin
bebas) dikomsumsi secara oral atau dengan 30 gram arginin hidroklorida pemberian intravena
berhubungan dengan meningkatkan retensi nitrogen baik pada orang sehat maupun pasien-pasien
bedah elektif. Dosis elektif minimal arginin dalam praktek klinik masih belum ditentukan.
 

Taurin. 
Taurin, sebuah asam amino mengandung sulfur terlibat dalam berbagai proses metabolik, termasuk
dalam sistem saraf pusat. Zat ini juga terlibat dalam konjugasi asam empedu, membantu regulasi
agregasi platelet, dan membantu fungsi netrofil. Kebutuhan taurin selama stress metabolik masih belum
ditentukan, namun taurin disintesis dari sistein dan beberapa penelitian menunjukkan bahwa konversi
metionin menjadi sistein dapat terbatas pada stress metabolik. Taurin juga merupakan  asam amino
esensial khusus bagi pasien pasien cedera.
 

Carnitin. 
Carnitin dibutuhkan untuk membawa asam amino rantai panjang ke dalam mitokondria untuk
mengasilkan energi. Ekskresi carnitin meningkat setelah cedera dan defisiensi carnitin selama terapi
antibiotik pernah dilaporkan. Penelitian ini menunjukkan bahwa carnitin merupakan zat yang penting
dan harus ada dalam formula enteral. Sintesis de novo carnitin ini memerlukan asam askorbat, niasin,
vitamin B6 dan besi sebagai kofaktor.

Orang-orang yang menerima hemodialisis, nutrisi parenteral jangka panjang atau pemberian enteral
jangka panjang tanpa carnitin beresiko muncul defisiensi carnitin. Meskipun kebutuhan diet carnitin
masih belum ditetapkan, diet campuran dapat memberi carnitin sebanyak 0.18 – 319  mg perharinya.
Kapasitas absorsi  dan digestif Gastrointestinal

Formula dengan zat gizi intake dapat digunakan untuk makanan melalui gaster  maupun duedonum dan
jejenum, kecuali ada kontraindikasi tertentu. Pasien dapat mengalami perubahan kapasitas absorpsi dan
digesti akibat trauma, penyakit kritis, penyakit usus kecil atau hipoalbuminemia. Penelitian
menunjukkan bahwa pasien dengan  disfungsi saluran cerna memiliki absorpsi  nitrogen yang lebih baik,
keseimbangan nitrogen dan toleransi terhadap pemberian makanan lebih baik bila diberikan formula
dengan sumber protein yang dihidrolisis parsial. Hipoalbuminemia terkait dengan berkurangnya tekanan
osmotik. Kondisi ini rentan terjadi pada pasien yang mengalami edema interstitial pada ususnya, yang
dapat menimbulkan gangguan absorpsi. Dalam kondisi ini, peptida rantai kecil dan sedang (medium)
dapat diabsorpsi lebih baik dibanding protein intake.
 

Diameter dan lokasi feeding tube.


Pemberian makanan ke dalam duodenum atau jejenum perlu dikontrol dengan menggunakan pompa
volumetrik, karena pemberian makanan pasca pilorus tidak dapat diregulasi oleh pengosongan lambung.
Para dokter biasanya menghindari penggunaan formula konsentrat/ formula kental atau formula
fortifikasi berserat dengan menggunakan selang jejenostomi berdiameter kecil karena seringkali
menimbulkan sumbatan selang. Namun Collier,dkk melaporkan bahwa dengan irigasi yang lebih sering
dan tak ada obat yang dimasukkan melalui selang tersebut, formula serat-fortifikasi dapat dimasukkan
melalui jejenostomi selang berdiameter kecil dengan baik.

Zat gizi makro dalam formula enteral


Formula enteral mengandung semua bentuk zat gizi makro/ makronutrien intake (formula polimer) atau
mungkin mencakup berbagai macam kombinasi dari  makronutrien yang terhidrolisis parsial (formula
oligomerik). Formula oligomerik kadang-kadang dianggap sebagai formula defenisi kimia atau formula
elemental (pelengkap).
Formula dengan nutrien intake lebih disukai oleh karena formula ini mendukung faal digesti dan absorsi
normal dan dapat memenuhi kebutuhan kebanyakan pasien.
 

KARBONHIDRAT
Karbohidrat merupakan makronutrien penting oleh karena siap didigesti dan diabsorpsi  sebagai sumber
energi. Konsentrasi karbohidrat yang tipikal dalam formula enteral berkisar antara 30-70% dari kalori
total. Karbohidrat yang terdapat dalam formula enteral sebagai starch/tepung, polimer glukosa,
disakarida dan monosakarida. Semakin tinggi karbohidrat dihidrolisis, osmolitas formula dan derajat
manisnya juga meningkat. Tabel 2 merupakan daftar tipe karbohidrat yang digunakan untuk formula
enteral. Karbohidrat dalam formula enteral merupakan polimer glukosa, sukrosa, laktosa dan fruktosa.
 

Polimer glukosa.  
Polimer glukosa dibentuk dari hidrolisis parsial dari tepung jagung dan meningkatkan baik osmolitas dan
kelarutan formula enteral. Formula ini muncul sebagai maltodekstrin, glukosa oligosakarida, glukosa
polisakarida, sirup jagung padat, dan sirup jagung. Polimer glukosa memerlukan kapasitas digestif yang
lebih sedikit dibanding tepung dan dihidrolisis cepat diusus halus. 

Sukrosa. 
Sukrosa berperan terhadap tingkat kemanisan dan osmolalitas formula. Ini merupakan sumber energi
yang siap pakai sehubungan dengan hidrolisis intestinal yang cepat terhadap terhadap molekul-molekul
glukosa dan fruktosa.
 

Laktosa. 
Laktosa dihidrolisis oleh laktase diusus halus menjadi glukosa dan galaktosa. Intoleransi laktosa
seringkali terjadi dan dapat terkait dengan defisiensi laktase primer. Hal ini juga dapat terjadi sekunder
pada cedera usus atau pada status penyakit lainnya. Gejala intoleransi berkisar antara flatulens dan rasa
tidak enak pada gastrointestinal yang ringan hingga diare osmotik yang berat. Untuk menghindari
potensi intoleransi laktosa, kebanyakan formula enteral umumnya bebas laktosa.
Fruktosa.   
Fruktosa memberikan lebih sedikit peningkatan kadar glukosa darah post prandial dibanding karbohidrat
lainnya. Pada tingkatan sedang, zat ini baik untuk penderita diabetes. Fruktosa juga penting untuk
pemanis yang meningkatkan “palatabilitas” oral dari produk yang menggunakan baik suplemen oral
maupun enteral yang bersumber tunggal.
 

PROTEIN DAN ASAM AMINO. 


Protein terdapat dalam formula enteral sebagai protein intake sebagai bentuk yang dihidrolisis parsial
oligo-  atau di- dan tripeptida, atau sebagai hidrolisat penuh bebas (kristalin) L-asam amino (Tabel 3).
Protein yang dihidrolisis penuh atau parsial dapat meningkatkan osmolitas formula. Meski kebanyakan
pasien merasa lebih baik dengan sumber protein intak, protein dalam bentuk di- atau tripeptida dapat
ditoleransi lebih baik oleh pasien kritis atau penderita disfungsi gastrointestinal atau hipoproteinemia
berat. Nitrogen dalam bentuk peptida diabsorpsi lebih cepat dan merata dibanding nitrogen yang
berasal dari asam amino bebas baik oleh usus yang sehat maupun usus yang sakit.
Valin, leusin dan isoleusin merupakan asam amino esensial rantai cabang (BCAAs) yang dimobilisasi dari
otot rangka selama stres metabolik. Meski telah diteliti secara luas, penggunaan formula enteral yang
difortifikasi dengan BCAAs pada kadar yang lebih tinggi dibanding yang berada dalam protein tidak serta
merta lebih baik secara klinis.

LEMAK
Lemak adalah sumber energi utama yang memberikan asam lemak esensial dan membawa vitamin larut
lemak. Sebagai sumber energi primer, lemak dan karbohidrat secara umum memiliki distribusi kalori
yang bersilangan terkait satu sama lain. Contohnya, formula enteral yang dirancang untuk mengatur
respons glukosa darah atau produksi CO2 memiliki prosentase yang lebih tinggi dari total kalori yang
diturunkan dari lemak relatif terhadap karbohidrat, sementara formula yang dirancang untuk disfungsi
gastrointestinal mengandung prosentase kalori total yang jauh lebih rendah dari lemak relatif terhadap
karbohidrat. Lemak tidak berperan secara bermakna terhadap osmolitas formula.
Komponen lemak dalam formula enteral biasanya terdiri dari berbagai kombinasi asam lemak
polyunsaturated (PUFAs), asam lemak monounsaturated (MUFA), trigliserida rantai sedang (MCTs),
produk lipid terstruktur, dan asam lemak n-3 (tabel 4). Asam lemak digambarkan secara lebih terinci
dalam BAB 4. “Karbohidrat, Protei dan Lemak”. 

Polyunsaturated fatty acid. 


PUFAs memiliki sedikitnya 14 karbon panjangnya dan termasuk asam lemak esensial linoleat,
arakhidonat (n-6), dan asam linolenat (n-3). Intake harian sedikitnya sebesar 4 – 5 % dari kalori sebagai
asam lemak esensial yang disarankan untuk mencegah defisiensi.

Trigliserida rantai sedang (MCTs). 


MCTs terdiri atas 3 molekul asam lemak rantai sedang (asam lemak tersaturasi dengan panjang 6 – 12
rantai karbon) yang melekat pada molekul glyserol. MTCs diabsorpsi secara cepat oleh mukosa usus dan
dibawa melalui  portal ketimbang sirkulasi limfatis. Karena absorsinya biasanya tidak tergantung pada
lipase pankreas atau garam-garam empedu, MCT bermanfaat bila terjadi gangguan absorpsi atau
transport lipid. MCTs juga dioksidasi secara cepat sehingga menjadi penting sebagai sumber energi.
 
Produk lemak terstruktur. 
Produk-produk lemak terstruktur dibuat melalui  transesterifikasi PUFA dan MCT menjadi molekul
gliserol yang sama. Berdasarkan penelitian tentang kinetika protein dan keseimbangan nitrogen,
kombinasi MCT dan  trigliserida rantai panjang (LCT) berkaitan dengan perbaikan protein sparing pada
manusia maupun hewan. Bila diberikan dalam bentuk campuran MCT 75 % / PUFA 25 %, perbaikan
protein sparing disertai peningkatan oksidasi lipid dan termogenesis.
 

SERAT 
Serat merupakan materi yang berasal dari tanaman yang resisten dicerna oleh enzim-enzim pada traktus
gastrointestinal manusia namun difermentasikan dalam kisaran tertentu oleh mikroflora kolon. Namun,
definisi ini tidak sepenuhnya benar karena didalamnya termasuk pula tepung, bagian yang dianggap
tidak secara normal dapat diserap diusus halus. Definisi yang lebih tepat dari diet total serat yang
merupakan gabungan dari selulosa, lignin, polisakarida non-seluloid (hemiselulose, pectin, getah dan
lendir) sangat bervariasi diantara sumber-sumber serat lainnya. Intake serat yang dianjurkan adalah
antara 10 – 13 gr/ 1000 kcal atau 20 – 35 gr/hari.
Serat juga dikelompokkan berdasarkan keunggulan fungsionalnya dapat larut maupun tak larut
(menunjukkan kelarutannya dalam traktus digestivus) atau dapat difermetasi dan tidak dapat
difermentasi. Pada kebanyakan kasus, serat yang dapat larut cenderung dapat difermentasi dan serat
yang tak dapat larut cenderung non fermentasi.    

Serat terlarut.

Serat terlarut seperti getah dan pectin terfermentasi dalam kolon membentuk asam lemak rantai
pendek (SCFAs) asetat, butirat dan propionat. SCFAs kurang dari 6 korban panjangnya dan menjadi
substrat energi yang disukai untuk kolonosit. SCFAs juga memiliki efek tropik melalui saluran intestinal.

SCFAs cepat diserap oleh mukosa kolon dan dimetabolisir untuk mendapatkan energi. Absorpsi
kolonosit SCFAs disertai oleh absorpsi natrium dan air, yang mana formula serat fortifikasi dapat
mengurangi insidens diare pada pasien yang diberi intake melalui tube. Diare juga dihindari oleh karena
serat dapat memperlambat waktu transit kolonik melalui proses yang dimediasi kolesistokinin.
Meskipun SCFAs yang dihasilkan melalui  fermentasi dapat menguntungkan, namun formula enteral
berisi serat perlu digunakan secara hati-hati pada pasien yang mengalami depresi motilitas
gastrointestinal.
 
Serat tak larut . 
Serat-serat  tak larut seperti soy polisakarida, serat kacang polong, dan serat teh yang banyak terdapat
dalam massa diet. Soy polisakarida awalnya merupakan sumber serat yang paling banyak digunakan
pada formula enteral. Serat ini dapat meningkatkan output feses dan berat feses. Juga dapat
memperbaiki konsistensi feses dengan memberi sumber massa (bulk). Tehnologi terkini telah
meningkatkan jumlah dan tipe serat yang tersedia untuk digunakan dalam formula enteral, sehingga
memungkinkan untuk mencampurkan antara serat larut dengan serat tak larut untuk mencapai efek
fisiologis yang diinginkan. Disarankan agar intake serat pada dewasa sehat terdiri atas 75 % tak larut dan
25 % larut.
 
Fruktooligosakarida (FOS). 
FOS merupakan karbohidrat yang tak dapat dicerna yang difermentasikan dalam kolon menjadi SCFA.
Secara alamiah  terdapat pada bawang merah, terigu (serealia), rumput-rumputan (barley), pisang,
tomat dan madu. FOS yang merupakan oligosakarida terdiri dari 1 molekul sukrosa yang berikatan
dengan satu, dua atau tiga unit fruktosa tambahan, tidak didegradasi oleh cairan lambung pH rendah
atau dicerna oleh enzim-enzim gastrointestinal. Serat ini tetap intak melewati usus halus dan masuk
kedalam usus besar dimana akan difermentasikan oleh bifido bakteria dan mikroorganisme lainnya
dalam kolon menjadi laktat dan SCFAs.
Bakteri bifido merupakan sekelompok bekteri yang menguntungkan yang penting dalam menjaga
keseimbangan ekologis secara optimal diusus bagian bawah. Bakteri ini mendominasi dalam usus bayi
dan bakteri terbanyak ketiga pada orang dewasa. Beberapa penelitian klinis menunjukkan bahwa diet
tambahan dengan FOS dapat meningkatkan jumlah bakteri bifido. Proliferasi spesies bakteri bifido
karena adanya FOS dan produksi zat fermentasi seperti laktat asetat dapat menurunkan pH usus besar
dan menimbulkan suasana yang buruk bagi bakteri patogen seperti Clostridium dificile. Selanjutnya, 
FOS tidak digunakan oleh bakteri patogen seperti Clostridium perfringens, Clostridium difficile dan
Escherechia coli.
 

Diet  serat dalam formula cair


Diantara manfaat potensial dari serat dalam formula enteral antara lain berkurangnya konstipasi dan
diare, mempertahankan mukosa usus, dan menurunkan angka kejadian hiperglikemia.
 

KLASIFIKASI FORMULA MAKANAN ENTERAL

Formula enteral dapat dikelompokkan berdasarkan kesesuaian penggunaannya dalam berbagai kondisi
klinis. Ada dua klasifikasi dasar antara lain;

1. Formula enteral standar yang sesuai bagi pasien yang memiliki fungsi gastrointestinal yang
normal.
2. Formula enteral formulasi khusus bagi pasien kritis yang membutuhkan protein yang banyak,
mengalami perubahan fungsi gastrointestinal, atau memiliki kebutuhan nutrisi yang spesifik 
terhadap penyakitnya.
Formula enteral standar
Formula enteral standar biasanya digunakan pada pasien dengan fungsi gastrointestinal yang normal.
Formula ini menyediakan nutrisi lengkap dan seimbang, dan diformulasikan sebagai sumber makanan
tunggal untuk jangka lama. Formula enteral standar memiliki keseimbangan antara protein, karbohidrat
( 50 % dari kalori total ) dan lemak ( 30 % dari kalori total ), dan kemungkinan dapat di fortifikasi serat
maupun tidak. Komponen protein biasanya merupakan protein intak ( utuh ), seperti kasein atau isolat
protein soy. Keuntungan lainnya dari formula enteral standar antara lain :
1. Profil zat gizi konsentrat yang sesuai bagi pasien yang memiliki kapasitas intake dan kebutuhan
kalori yang menurun seiring penyakit kronis atau penuaan.
2. Sedikitnya 100 % RDI untuk Vitamin dan mineral dalam 1200 – 1500 ml volume total.

3. Rasio kalori nitrogen 135 : 1 digunakan untuk meningkatkan keseimbangan nitrogen positif
untuk pasien yang menerima pemberian makanan dengan tube  jangka panjang.

4. Campuran asam lemak yang sesuai rekomendasi terbaru < 10 % dari kalori total dari lemak
tersaturasi dan 10 % dari kalori total dari lemak polyunsaturated, dan sisanya dari lemak
monounsaturated.

5. Campuran serat terlarut dan tidak larut yang sesuai dengan rekomendasi terbaru dari 10 – 13
gr/ 1000 kcal dan membantu mempertahankan keseimbangan mikroorganisme usus besar.

6. Fortifikasi dengan zat-zat gizi (β-carotene, carnitine, “ultra trace mineral”) dilaporkan mengalami
penurunan jumlah pasien dengan pemberian makanan feeding tube jangka panjang.

Beberapa pasien dapat diuntungkan dari formula enteral standar dengan konsentrasi protein yang lebih
tinggi ( 25 % dari kalori ) relatif terhadap kalori total ( seperti, rasio keseluruhan non protein terhadap
kalori yang lebih rendah). Pasien-pasien ini sering mengalami luka seperti ulkus tekanan atau
peningkatan kebutuhan protein terkait dengan penuaan. Meskipun kebutuhan kalori total pasien-pasien
ini kemungkinan tidak meningkat, kadar protein yang lebih tinggi perlu diberikan bersama dengan
mineral ultratrace, zat gizi esensial khusus, dan rasio potassium terhadap nitrogen yang sesuai dapat
membantu penyembuhan luka.
Formula yang dirancang untuk pasien kritis atau yang mengalami perubahan fungsi
gastrointestinal.     
Formula ini biasanya menyediakan sejumlah komponen protein dalam bentuk peptida rantai pendek
atau sedang karena lebih mudah diserap dibanding protein utuh (intak) atau asam amino bebas.
Sebagaimana halnya, sejumlah komponen lemak yang sering tersedia dalam bentuk MCT tidak
memerlukan lipase pankreas atau garam empedu untuk dapat diabsorpsi. Formula yang difortifikasi
dengan mineral ultra trace dan zat gizi esensial memiliki keuntungan tambahan.
 
Penyakit kritis dan stres metabolik.
Cedera berat dapat mnyebabkan perubahan buruk dalam metabolisme. Perubahan ini bervariasi sesuai
dengan jenis trauma, status kesehatan sebelumnya, dan perawatan medis. Hipermetabolisme yang
dimediasi oleh hormon dan percepatan katabolisme seringkali ditemukan setelah terjadi trauma.
Perubahan metabolik lainnya yang biasa diamati setelah cedera berat atau selama penyakit kritis antara
lain :

 Peningkatan laju metabolik basal dan ekskresi nitrogen


 Perubahan keseimbangan cairan & elektrolit

 Sintesis protein pada fase akut

 Respon inflamasi

 Imunosupresi

Traktus gastrointestinal seingkali dipengaruhi oleh cedera. Aliran darah dapat berkurang karena
perdarahan dan menyebabkan kehilangan oksigen dan zat-zat gizi yang dapat merusak sel mukosa.
Adanya nutrisi intraluminnal dapat membantu melindungi saluran cerna. Zat gizi spesifik seperti
glutamin dan arginin dapat memberi keuntungan tambahan karena terlibat dalam berbagai proses
metabolik termasuk diantaranya sistem kekebalan. Zat gizi enteral yang sangat penting selama kondisi
kritis maupaun saat terjadi stres metabolik antara lain beberapa jenis dan jumlah protein, lemak dan
karbihidrat, juga glutamin, arginin, β -caroten, taurin, canitin, vitamin E dan zinc (seng).
Idealnya  formula enteral yang digunakan untuk pasien kritis atau stres metabolik dapat diberikan
sejumlah komponen protein dalam bentuk hidrolisis di- atau tripeptida.
Syarat lainnya yang perlu diperhatikan ketika memilih formula pada pasien ini mencakup antara lain:
 Prosentase kilokalori total yang lebih rendah dari lemak, dengan bagian lemak disuplai dalam
benuk MCT
 Fortifikasi dengan ultratrace mineral dan zat-zat gizi esensial.

 Rasio potassium terhadap nitrogen yang sesuai.

Disfungsi gastrointestinal.
Pasien-pasien dengan disfungsi gastrointestinal biasanya tidak dapat mendigesti dan mengabsorpsi  zat
gizi intake, terutama protein dan lemak. Untuk alasan ini, formula enteral yang digunakan paling sering
pada disfungsi gastrointestinal oleh yang menyediakan protein dalm bentuk peptida dan asam amino
bebas, dan memberikan kilokalori total lemak yang rendah, dengan trigliserida rantai sedang sebagai
sumber lemak primernya.
Pertimbangan relevan lainnya saat memilih formula untuk pasien ini termasuk mamfaat potensial
sejumlah glutamin tambahan, yang merupakan substrat metabolik penting untuk sel-sel mukosa usus,
dan arginin untuk meningkatkan sintesis kolagen luka dan protein dan memperbaiki fungsi kekebalan
seluler.
 
Formula enteral untuk penyakit tertentu (spesifik)  
Formula untuk penyakit spesifik dirancang untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan metabolik dari suatu
kondisi kronik dan untuk mengkompensasi adanya disfungsi organ dengan memberikan kombinasi
makronutrien yang optimal, serta mikronutrien dan ultra trace mineral.
Formula untuk penyakit spesifik ini juga mengandung zat gizi seperti arginin, taurin, dan glutamin yang
penting pada berbagai status penyakit.
Kebanyakan formula untuk penyakit spesifik ini dapat digunakan dalam bentuk suplemen nutrisional
oral sebagaimana pemberian enteral lewat tube. Formula enteral untuk penyakit spesifik ini tersedia
untuk kondisi berikut :

Intoleransi glukosa. 
Tujuan utama terapi nutrisi bagi pasien dengan gangguan metabolisme insulin adalah untuk mencapai
dan mempertahankan kadar glukosa serum senormal mungkin. Karena cairan karbohidrat konsentrasi
tinggi lebih cepat diserap dibanding cairan yang berisi lemak sebagai karbohidrat, kontrol glikemik yang
lebih baik dicapai pada pasien dengan intoleransi glukosa dengan menggunakan formula yang rendah
karbohidrat dan tinggi lemak. Penelitian menunjukkan bahwa beberapa pasien memiliki respon glikemik
post prandial yang lebih rendah pada saat diberi nutrisi rendah karbohidrat dan tinggi lemak. Pasien-
pasien ini termasuk diantaranya pasien diabetes mellitus tipe 1 dan 2, begitu pula pasien hiperglikemia
terkait dengan kondisi medis lainnya (termasuk penyakit pankreas, stres, diabetes yang diinduksi oleh
zat kimiawi atau obat-obatan dan sindrom genetika tertentu).
 
Profil lemak. 
Kelainan sekresi atau metabolisme insulin juga menyebabkan dislipidemia pada pasien diabetes.
Kelainan lemak ini merupakan faktor resiko tingginya penyakit aterosklerotik vaskular yang cepat pada
pasien diabetik. Hal ini disarankan agar asam lemak tersaturasi menyuplai < 10 % dari energi total dan
asam lemak polyunsaturated memberi tidak lebih dari 10 %. Sisa energi disediakan oleh asam lemak
monounsaturated. Intake kolesterol harian sebaiknya < 300 mg. hal ini menunjukkan bahwa dengan
menggantikan beberapa karbohidrat dengan sumber lemak yang kaya akan asam lemak monosaturasi
dapat memberi kontrol glikemik yang lebih baik tanpa meningkatkan faktor resiko penyakit
kardiovaskular.
Serat dan myoinositol. Zat gizi lainnya yang membantu penatalaksanaan intoleransi glukosa antara lain
serat dan myoinositol. Formula dengan tambahan serat dapat membantu menjaga fungsi usus normal
dan penting bagi pasien dengan perubahan peristaltik saluran cerna akibat neuropati diabetik. Intake
serat yang disarankan adalah   10 – 13  gr / 1000 kcal.
Myoinositol merupakan alkohol siklik dengan struktur kimiawi yang menyerupai glukosa. Pertimbangan
myoinositol sebagai zat gizi esensial meningkat karena myoinositol trifosfat merupakan kurir kedua bagi
stimuli hormonal yang dimediasi reseptor dalam mobilisasi kalsium intraseluler. Myoinositol juga
merupakan substrat biosintesis phosphatidyl inositol dan polyphospoinositide yang merupakan
komponen esensial biomembran. Defisiensi myoinositol berdampak pada munculnya nefropati dan
neuropati diabetik. Fungsi myoinositol dalam konduksi saraf adalah dengan memodulasi enzim sodium-
potassium ATP-ase. Karena glukosa dan myoinositol memiliki struktur yang mirip, dua substansi ini
berkompetisi memperebutkan transport pembawa kedalam jaringan. Kompetisi ini berakibat munculnya
deplesi myoinositol selektif pada saraf perifer dan glomerulus ginjal. Selanjutnya, pasien dengan
diabetes melitus akan kehilangan myoinositol secara berlebihan melalui urine.
 
Kegagalan pernafasan akut. 

Kegagalan pernafasan akut dapat terjadi akibat adanya cedera langsung pada parenkim paru, seperti
kontusio, inhalasi zat toksik, atau trauma dada ; dapat pula disebabkan oleh cedera tidak langsung
seperti sepsis, shock, atau multipel trauma pada bagian lain dari tubuh.
Kerusakan paru-paru memiliki mekanisme kompleks dan mengakibatkan pelepasan sejumlah mediator
jaringan dan inflamasi. Aktifasi respons inflamasi melalui pelepasan produk seperti faktor nekrosis dan
tumor (TNF α), interleukin-8 (IL-8), leukotrin B4 (BT B4), oksidan-oksidan, lekosit, dan enzim yang
meningkatkan permeabilitas vaskuler, agregasi platelet, dan pembekuan intravaskuler.
Hal ini dapat menyebabkan buruknya perfusi vaskuler, edema alveolar, dan yang paling parah kegagalan
pernafasan. Pada saat yang sama perekrutan sel-sel inflamasi pada sirkulasi lokal meningkat, yang lebih
lanjut dapat menimbulkan resiko fungsional dan struktural terhadap jaringan paru.
 
Regulasi kerusakan paru melalui asam-asam lemak. 
Dalam model kerusakan paru akut yang berbeda, bukti menunjukkan bahwa diet berisi eicosapentaenoil
acid (EPA),  asam linoleat gamma (GLA) dan antioksidan dapat mengurangi permeabilitas mikrovaskuler
paru-paru, infiltrasi neutrofil dan sintesis eucasanoid. Selanjutnya,  hemodinamika kardiovaskuler,
pertukaran gas, dan fungsi makrofage alveolar membaik dengan diet tipe ini.
 
Suplementasi antioksidan. 
Inflamasi paru-paru dapat menghasilkan metabolik oksigen toksik termasuk anion superoksida, hidrogen
peroksida, radikal hidroksil, dan asam hipoklorat. Radikal-radikal oksigen toksik ini dapat merusak sel-sel
parenkim dan sel endotel, peroksidasi lemak inisiasi, dan meningkatkan permeabilitas vaskuler. Cedera
paru akibat radikal oksigen toksik normalnya dapat dicegah dengan antioksidan endogen yang berada
dalam epitel. Antioksidan-antioksidan ini antara lain protein serum  seruloplasmin dan tranferin, vitamin
C, vitamin E, β-caroten dan glutathion terededuksi. Beberapa penelitian terakhir telah
mendokumentasikan perubahan kadar seruloplasmin dan transferin, vitamin E, dan glutathion pada
cairan bilasan bronkoalveolar dan serum yang berasal dari pasien dengan cedera paru-paru. Temuan
dari penelitian ini menunjukkan bahwa beban oksidan diproduksi dari inflamasi paru-paru pada cedera
paru dan dapat melampaui antioksidan endogen dan berperan lebih jauh terhadap cedera.
Suplementasi dengan antioksidan eksogen termasuk dengan vitamin E, vit.c, β-caroten, taurin, selenium
dan molybenum dapat memperlambat cedera paru yang terjadi akibat adanya inflamasi pulmonal dan
kemudian terjadi pelepasan metabolit oksigen toksik. Fungsi taurin sebagai antioksidan utama menjaga
permeabilitas membran yang disebabkan oleh oksidasi dan kerusakan bronki yang disebabkan oleh NO2.
 
Modifikasi rasio karbohidrat / lipid. Beberapa pasien dengan kondisi serius dapat mengalami retensi
CO2. Pada kasus ini, disarankan untuk mengurangi kalori total dan rasio karbohidrat terhadap lemak
untuk menurunkan produksi CO2.

Air. 
Karena pasien dengan gagal pernapasan akut & COPD seringkali  memerlukan retriksi/pembatasan
cairan dan diuresis, formula enteral yang dapat membantu adalah tinggi kalori dan kandungan air yang
rendah. Untuk pasien dengan retriksi cairan, formula yang memberikan sedikitnya 100% RDI vitamin dan
mineral dalam volume total yang rendah (<1400 cc) amat berguna.
 
Fosfor. 
Pasien yang bergantung pada ventilator cenderung mengalami hipofosfotemia dan menimbulkan
reduksi terhadap transport oksigen. Karena penurunan 2,3- difosfogliserat dalam sel darah merah,
afinitas oksigen terhadap hemoglobin meningkat, menyebabkan hipoksia jaringan. Selanjutnya, ATP
jaringan , yang merupakan campuran fosfat mayor kaya energi untuk fungsi sel, menurun. Karena
hifofosfotemia dilaporkan dapat menyebabkan kegagalan pernafasan, perlu dilakukan perawatan untuk
memastikan intake  100% RDI fosfor, dengan tambahan suplementasi fosfor sesuai kebutuhan.
 
Pengalaman klinik. 
Suatu penelitian yang dilakukan multisentra, pada pasien dengan ARDS sekunder karena sepsis,
pneumonia, trauma, atau cedera aspirasi  menunjukkan bahwa penggunaan formula enteral dengan
EPA, GLA dan antioksidan dapat mereduksi waktu ventilasi mekanik dan munculnya kegagalan parenkim
yang baru, sebagai tambahan terhadap perubahan lain yang dapat memperbaiki fungsi pernapasan. 
Penggunaan jenis formula ini berhubungan dengan influx protein paru yang rendah, dan hitung netrofil
rendah, begitu pula kadar pada IL-8,  TNF α dan LT B4 dibanding  pasien-pasien yang menerima formula
konvensional. Temuan ini menunjukkan bahwa formula yang diperkaya dengan minyak tertentu dan
antioksidan menjadi adjuvan yang bermanfaat dalam penatalaksanaan pasien-pasien dengan inflamasi
paru.
 

Penyakit paru obstruksi kronik (COPD). 

Banyak pasien dengan COPD dan kegagalan pernapasan menimbulkan gejala malnutrisi bermakna yang
mengakibatkan gangguan pada otot-otot pernapasan. Banyak dari pasien ini terkena oleh karena retensi
CO2 dan oksigen darah tereduksi. Salah satu tujuan terapi nutrisi ini adalah untuk mereduksi kadar CO2
dalam darah. Serat  karbohidrat, protein dan lemak dimetabolisir, CO2 dihasilkan  dan O2 dikonsumsi.
Respiratory Quetient (RQ) menunjukkan rasio CO2 yang dihasilkan terhadap O2 yang dikonsumsi selama
proses tersebut. CO2 yang lebih banyak dihasilkan oleh metabolisme karbohidrat dibanding protein atau
metabolisme lemak. RQ untuk karbohidrat 1.0 , protein 0.8 dan lemak 0.7.
Diet dengan proporsi kalori lebih tinggi dari lemak dibanding kalori dari karbohidrat dapat mengurangi
produksi CO2 dan quotient pernapasan dapat menurunkan kebutuhan  oksigen jaringan. Fenomena ini
tampaknya hanya bermakan klinis pada saat pemberian sejumlah besar kalori. Jenis formula ini
diindikasikan untuk pasien yang memerlukan  sejumlah besar kalori, untuk pasien yang mengalami
hiperkapnia sehingga menimbulkan insufisiensi pernapasan, dan pada pasien dengan insufisiensi
pernapasan yang mengalami kesulitan lepas dari ventilator sehubungan dengan hiperkapnianya.
 

Penyakit ginjal. 

Pasien-pasien dengan penyakit, ginjal memerlukan evaluasi cermat mengenai kebutuhan nutrisinya yang
dapat dimodifikasi tidak hanya sehubungan dengan perkembangan penyakit, namun juga menjadi
terapi. Pada pasien yang menjalani dialisis, hilangnya protein yang disebabkan oleh metode ini juga
perlu dipertimbangkan.
Pasien sebelum dialisis seringkali mengalami retriksi intake protein lebih besar dibanding pasien yang
menjalani dialisis kronis. Sejalan dengan terganggunya fungsi ginjal, perlu reduksi dalam suplai fosfor,
cairan, potassium dan sodium untuk membatasi akumulasi mineral-mineral ini dan mencegah terjadinya
hipertensi.
 
Rasio kilokalori nonprotein terhadap nitrogen. 
Secara umum, pasien ginjal diuntungkan dengan formula padat kalori. Karena formula ini dapat
meminimalkan volume cairan, memberikan rasio kilokalori nonprotein terhadap nitrogen (NPK : N) yang
cukup untuk menyerap nitrogen secara optimal dan mencegah uremia. Pada pasien sebelum dialisis
biasanya dipertahankan pada protein rendah, diet padat kalori yang membatasi elektrolit dan cairan.
Untuk menggunakan nitrogen secara optimal pada pasien predialisis, rasio NPK : N yang sering
digunakan adalah > 350 : 1. Diet protein dapat dikurangi hingga  pada 1,2 gr/ kg/ hari saat pasien mulai
menjalani dialisis kronik. Meskipun intake protein ini biasanya dapat ditoleransi dengan baik, hal ini
masih penting bagi pasien dialisis kronis untuk menjaga rasio NPK : N ( 150 : 1 ) untuk optimalnya
penggunaan nitrogen.
 
Vitamin dan mineral. 
Vitamin dan mineral yang sering dibatasi pada pasien penyakit ginjal stadium akhir ESRD antara lain
fosfor, magnesium, vitamin A, dan vitamin D.  Sehubungan dengan potensi terjadinya oxalosis, vitamin C
sebaiknya tidak berlebihan.  Pasien  ESRD mendapat keuntungan dari peningkatan pemberian vitamin
B6 dan asam folat.
 
Elektrolit
Kebutuhan elektrolit pada pasien ESRD dipengaruhi oleh berbagai faktor-faktor klinis, antara lain
penyakit ginjal penyerta, kondisi penyerta lainnya, jumlah fungsi ginjal residual, dan pengobatan
sebelumnya. Untuk alasan ini, pemilihan formula makanan yang memiliki kandungan elektrolit rendah
dapat memudahkan tiap individu  mendapatkan suplementasi seperlunya.
 
Karbohidrat dan lemak. 
ESRD seringkali merupakan suatu penyakit sekunder terhadap DM yang lama. Oleh karena itu, penting
untuk mengevaluasi komponen karbohidrat dan lemak dalam formula feeding tube atau suplemen oral.
Pasien Diabetik dengan ESRD mendapatkan keuntungan dari formula yang mendistribusikan kilokalori
non protein yang sama antara karbohidrat dan lemak. Untuk menghindari peningkatan kadar lipid
serum, campuran lemak harus sesuai dengan rekomendasi sebelumnya.
 
Penyakit Hati. 
Malnutrisi sering terjadi diantara pasien dengan penyakir hati berat. Status gizi amat berhubungan
dengan perjalanan klinis, terutama terhadap mortalitas pembedahan pada pasien transplantasi. Fakta
terakhir ini membuat dukungan nutrisi yang adekuat menjadi penting pada pasien-pasien ini. Berbagai
mekanisme yang terlibat dalam malnutrisi, antara lain penurunan ingesti karena anorexia, merasa cepat
kenyang karena asites, retriksi sodium, diet asupan yang tidak diresepkan secara adekuat, efek samping
pengobatan, dan berbagai derajat malabsorbsi dan hipermetabolisme. Bila formula enteral polimer
standar dapat diberikan pada pasien dengan gagal hepar, maka ada beberapa kondisi yang dapat
membantu oleh pemberian formula ini.
 
Sindrom asitik edematosa. 
Sindrom ini secara signifikan dapat membatasi suplai sodium dan air, terutama pada saat sindrom tidak
merespon balik terhadap pengobatan. Oleh karena itu penting pada kasus-kasus ini untuk menggunakan
formula dengan konsentrasi kalori yang tinggi ( >1,5 kcal/ml ) dan kandungan sodium rendah.
 
Ensefalopati Portal-Sistemik (PSE). 
Pasien  dengan sirosis hati biasanya mengalami status hiperkatabolik dan memerlukan suplai protein
tinggi untuk mencapai keseimbangan nitrogen positif. Berbeda dengan perkiraan, kebanyakan pasien
dengan insufisiensi hepatik mentoleransi suplai diet protein tanpa munculnya PSE, terutama bila
proteinnya disertai jumlah kalori nonprotein yang cukup untuk mencegah katabolisme protein. Namun,
terdapat sekelompok kecil pasien dengan PSE yang tidak berespon terhadap terapi khusus atau timbul
PSE bila diet protein dinaikkan untuk meraih keseimbangan nitrogen positif. Peningkatan rasio kalori
nonprotein terhadap nitrogen dalam rangka untuk mengurangi pembentukan amonia dan urea dapat
memperbaiki PSE dengan menjaga protein diet dibawah kadar rekomendasi. Dalam situasi ini, formula
yang diperkaya dengan asam amino rantai cabang dapat digunakan meskipun manfaatnya masih
diperdebatkan. Kebanyakan pasien dengan insufisiensi hepar mengalami malabsorpsi pada derajat
tertentu menunjukkan ketidakcukupan sekresi garam empedu, pertumbuhan bakteri usus berlebihan,
atau insufisiensi pankreas. Absorpsi lemak dapat membaik dengan menggantikan sejumlah lemak dalam
formula dengan asam lemak rantai sedang.
 
Intoleransi glukosa. 
Pasien dengan penyakit hati biasanya mengalami intoleransi glukosa pada derajat tertentu yang
utamanya disebabkan oleh resistensi insulin perifer. Formula yang tepat dapat digunakan untuk
penyakit hati harus berisi kompleks karbohidrat dan serat tambahan untuk membantu regulasi gula
darah.
 
Vitamin dan trace elements. 
Defisiensi vitamin disebabkan oleh berbagai mekanisme dan seringkali terjadi sehingga penyediaan
vitamin dan mineral yang adekuat merupakan salah satu faktor dalam terapi nutrisi untuk penyakit
hepar. Pasien dengan kolestasis lama biasanya mengalami malabsorpsi vitamin larut lemak. Perlu dicatat
bahwa pasien alkoholik dapat muncul defisiensi thiamin akut dengan akibat gangguan neurologis yang
ireversibel, terutama pada saat infus glukosa atau pemberian makanan ulangan.
Defisiensi zink/ seng juga sering terjadi dan penggantian dapat menjadi kunci perbaikan klinis pasien.
Kolestasis menurunkan ekskresi tembaga dan disarankan agar memberi diet dengan membatasi
tembaga.
 
Serat. 
Serat dalam formula dapat membantu untuk mengurangi absorpsi amonia dalam colon dan mengurangi
frekuensi konstipasi atau diare.
 
HIV / AIDS. 
Pasien dengan HIV/ AIDS memiliki kebutuhan gizi spesifik sehubungan dengan proses penyakit   dan
terganggunya status gizi pada gangguan imun. Pasien-pasien ini beresiko tinggi untuk munculnya
malnutrisi kalori protein (PCM) dan berbagai defisiensi zat gizi spesifik seperti Vitamin E, vitamin C, asam
folat, vitamin B6, vitamin B12, zat besi, zink dan selenium.
 
Malnutrisi Kalori Protein (PCM) 
PCM sering terjadi pada pasien HIV / AIDS dan merupakan tipe malnutrisi terkait sindrom wasting yang
sering terlihat pada populasi pasien ini. PCM berhubungan   dengan :

 Berkurangnya ukuran thymus


 Hilangnya aktifitas sel NK

 Hilangnya sel T helper CD4+

 Berubahnya migrasi limfosit mukosa usus

 Hilangnya aktifitas sistem komplemen.

Kebutuhan protein meningkat saat intake kalori terbatas seperti pada anorexia, rasa cepat kenyang,
auatu kesulitan mengunyah atau menelan. Pasien dengan  HIV/ AIDS dapat dibantu dengan formula
enteral dengan banyak protein dan rasio NPK: N yang lebih rendah dari  produk enteral tinggi protein
standar yang biasa tersedia.
 
Asam lemak N-3. 
Asam α linolenat dan turunan rantai panjangnya, asam docosahexanoat (DHA) dan asam
eicosapentanoat (EPA) merupakan asam-asam lemak N-3. Meningkatnya kejadian menunjukkan bahwa
asam lemak penting ini dan memiliki metabolisme yang berbeda.
Meskipun EPA secara struktural mirip dengan asam arakhidonat n-6, EPA membentuk serangkaian 3
prostaglandin (tromboxan A3) dan 2 leukotrin, sementara asam arakhidonat membentuk 2 seri
prostaglandin (tromboxan A2) dan 4 seri lekotrin. Prostaglandin dan lekotrin yang dihasilkan oleh asam
lemak n-3 menimbulkan status anti agrgasi platelet dan netrofil yang lebih bersifat vasodilator dibanding
yang dihasilkan oleh asam lemak  n-6. Diet tambahan dengan asam lemak n-3 terkait dengan penurunan
produksi prostaglandin seri 2 yang bersifat imunosupresif dan memperbaiki respons imun yang
dimediasi oleh sel. Untuk alasan ini, formula yang berisi asam lemak n-3 dibanding n-6 bermanfaat bagi
pasien dengan gangguan sistem imun atau terhadap pasien yang mengalami respon inflamasi sistemik
terhadap cedera atau infeksi.(lihat BAB 4 untuk ulasan lengkap tentang asam lemak n-3 dan n-6).
 
Trigliserida rantai medium (MCT) 
MCT memberikan ketersediaan sumber energi tanpa efek imunosupresif dari trigliserida n-6 rantai
panjang.
MCT dapat dengan mudah diabsorpsi tanpa lipase pankreas atau garam empedu dan seringkali
digunakan untuk pasien dengan malabsorpsi dan maldigesti. MCT dapat berperan dalam berperan
dalam perbaikan pengosongan lambung dan absorpsi usus. Zat ini dapat dihidrolisis sempurna pada
mukosa usus dan lebih cepat dioksidasi dibanding asam lemak rantai panjang oleh berbagai jaringan
termasuk oleh hati, usus halus dan otot rangka.
 
Serat 
Diet serat berguna dalam meregulasi fungsi usus terutama pada pasien-pasien diare. Pasien   dengan
berak encer, jarang buang air, membentuk feses yang lebih baik dan waktu transit yang lebih lama bila
diet serat ditambahkan dalam makanan.
 
Vitamin dan mineral
HIV/ AIDS terkait dengan defisiensi vitamin E, Vitamin C, asam folat, Vitamin B6 dan vitamin B12, juga  
mineral besi, zink, dan selenium. Para dokter harus memastikan agar pasien HIV/ AIDS menerima
formula enteral yang ditambahkan dengan zat gizi ini. Pemberian makanan terhadap pasien-pasien ini
juga termasuk ultratrace mineral, dan zat gizi esensial lainnya.
 
Lipodistrofi yang terkait AIDS.
Patogenesis lipodistrofi yang terkait AIDS masih belum jelas. Digambarkan dengan adanya anomali
lemak serum dan redistribusi lemak tubuh. Lemak tubuh yang terdistribusi ini terdiri atas akumulasi
lemak dibagian bawah dan disamping perut, penurunan massa otot ekstremitas atas dan bawah,
pertumbuhan payudara pada wanita dan akumulasi lemak pada punggung bawah. Kelainan lipid
digambarkan dengan peninggian trigliserida, kolesterol total, VLDL dan LDL juga peningkatan HDL.
Sebagai  tambahan , pasien mengalami perubahan glukosa darah, resistensi terhadap insulin, dan
peningkatan peptida C.
Lipodistrofi ini juga disebut lipodistrofi Crix Bell karena banyak pasien dengan kelainan ini menjalani
pengobatan dengan MSD Crixivan. Bagaimanapun sekitar 78 % pasien yang mengalami gejala ini telah
diobati sedikitnya satu inhibitor protease virus. Secara umum gejalanya sangat mirip dengan sindrom
cushing.
Pasien perlu disarankan agar berhenti merokok, mengurangi konsumsi lemak tersaturasi dan olahraga
teratur. Penting untuk menambah diet dengan asam lemak n-3 dan antioksidan untuk mengurangi
trigliserida dan mencegah oksidasi yang dimediasi penyakit arterial. Saran untuk pengobatan rendah
lemak  bergantung penilaian medis dan perlu diberikan secara hati-hati untuk mencegah
ketidaksesuaian dengan obat lain.
 
Pertimbangan- pertimbangan untuk evaluasi formula enteral khusus. Saat memutuskan untuk
menggunakan tipe formula tertentu, perlu dipertimbangkan hal-hal dibawah ini  :
 Profil zat gizi perlu disesuaikan dengan anomali metabolik yang ada dengan kebutuhan nutrisi 
khusus untuk situasi klinis tertentu.
 Keputusan perlu didasarkan pada penelitian terkontrol, acak, dan perpektif (bukan studi kasus).

 Informasi yang diperoleh dari model hewan hanya dapat digunakan secara terbatas pada
manusia.

 Aplikasi klinis berdasarkan penelitian pada produk tertentu belum tentu baik untuk produk
lainnya.

 Informasi yang didapatkan pada penggunaan produk pada penyakit tertentu tidak dapat
disamakan dengan populasi lainnya (seperti hasil yang didapatkan dengan formula tertentu yang
diberikan terhadap pasien luka bakar tidak perlu diberikan pada pasien trauma).

 Saat mengevaluasi formula yang diberikan, diperlukan pengguanaan kriteria yang teliti dalam
penilaiannya.

Sistem terbuka dan tertutup


Pemberian nutrisi enteral dapat dilakukan melalui sistem terbuka maupun tertutup. Sistem terbuka
menggunakan kantung tempat formula. Hal ini memudahkan manipulasi kandungan zat gizi bila
diperlukan. Sistem tertutup merupakan sebuah unit tersegel yang berisi formula enteral yang tidak
dapat ditambah lagi. 
Keduanya memiliki keuntungan dan kerugian. Sistem terbuka lebih mudah terkontaminasi, karena
membutuhkan banyak penanganan dan formula harus dipersiapkan dalam jumlah kecil untuk mencegah
tergantung dalam waktu lama. Sehingga sistem terbuka memerlukan pengawasan lebih ketat. Sistem
tertutup tersegel pada saat proses pengepakan. Dan hal ini untuk menjaga mutunya. Sistem ini dapat
memengurangi kemungkinan manipulasi dan kontaminasi, juga mengurangi penanganan dan sampah
karena mudah digunakan. Namun, sistem tertutup perlu penanganan secara hati-hati dan perlu
mengikuti instruksi untuk mencegah kontaminasi saat membuka kontainer. Begitu sistem dihubungkan,
durasi pemberian makanan antara 24 – 48 jam, tergantung mereknya. Setelah melewati waktunya,
kontainer/ kantong tersebut harus dibuang. 
Keputusan penggunaan sistem yang mana bergantung pada evaluasi oleh institusi atau rumah sakit,
sumber dana yang tersedia, kuantitas dan tipe formula, ketersediaan waktu dan staf ahli gizi dan
perawat terlatih.
 
KESIMPULAN
Pemberian nutrisi enteral merupakan bentuk terapi nutrisi yang memuaskan dan bagian penting bagi
penatalaksanaan medis. Pemilihan formula penting untuk meningkatkan keuntungan nutrisi dan
toleransi terhadap makanan. Untuk memilih formula yang tepat, para dokter harus memperhatikan
kondisi klinis pasien termasuk diantaranya status penyakit yang ada sebelumnya, kebutuhan metabolik,
kapasitas pencernaan dan absorpsi  dan lokasi dan diameter feeding tube.
Formula enteral standar direkomendasikan pada pasien dengan fungsi gstrointestinal normal yang tidak
membutuhkan zat gizi tertentu. Untuk pasien dengan perubahan kebutuhan zat gizi makro dan mikro
akibat  penyakit akut atau kronis, perlu pemilihan formula khusus. Formula ini tersedia dalam bentuk
kadar protein yang tinggi, berbagai derajat hidrolisis zat gizi makro atau sejumlah zat gizi esensial yang
diketahui menguntungkan terhadap kondisi klinis tertentu. Kemajuan dalam formula enteral membantu
keberhasilan pemberian makanan enteral dalam berbagai kondisi klinis yang sebelumnya tidak dapat
ditoleransi atau tidak memungkinkan, terutama pada saat kritis.

REFERENSI

Program manual Total Nutritional Therapy - TNT. Chapter 14

Keseimbangan Cairan, Elektrolit dan Asam Basa


Pendahuluan      
Manusia sebagai organisme multiseluler dikelilingi oleh lingkungan luar (milieu exterior) dan sel-selnya
pun hidup dalam milieu interior yang berupa darah dan cairan tubuh lainnya. Cairan dalam tubuh,
termasuk darah, meliputi lebih kurang 60% dari total berat badan laki-laki dewasa. Dalam cairan tubuh
terlarut zat-zat makanan dan ion-ion yang diperlukan oleh sel untuk hidup, berkembang dan
menjalankan tugasnya.

Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya.
Semua pengaturan fisiologis untuk mempertahankan keadaan normal disebut homeostasis.
Homeostasis ini bergantung pada kemampuan tubuh mempertahankan keseimbangan antara subtansi-
subtansi yang ada di milieu interior.
Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu: volume cairan
ekstrasel dan osmolaritas cairan ektrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan
mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan
mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur
keluaran garam dan urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal
dari air dan garam tersebut.

Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan mengatur
keluaran ion hidrogen dan ion karbonat dalam urine sesuai kebutuhan. Selain ginjal, yang turut berperan
dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengekskresikan ion hidrogen dan CO2, dan
sistem dapar (buffer) kimi dalam cairan tubuh.

Komposisi Cairan Tubuh               


Telah disampaikan pada pendahuluan di atas bahwa cairan dalam tubuh meliputi lebih kurang 60% total
berat badan laki-laki dewasa. Prosentase cairan tubuh ini bervariasi antara individu, sesuai dengan jenis
kelamin dan umur individu tersebut. Pada wanita dewasa, cairan tubuh meliputi 50% dari total berat
badan. Pada bayi dan anak-anak, prosentase ini relatif lebih besar dibandingkan orang dewasa dan
lansia.

Cairan tubuh menempati kompartmen intrasel dan ekstrasel. 2/3 bagian dari cairan tubuh berada di
dalam sel (cairan intrasel/CIS) dan 1/3 bagian berada di luar sel (cairan ekstrasel/CES). CES dibagi cairan
intravaskuler atau plasma darah yang meliputi 20% CES atau 15% dari total berat badan; dan cairan
intersisial yang mencapai 80% CES atau 5% dari total berat badan. Selain kedua kompatmen tersebut,
ada kompartmen lain yang ditempati oleh cairan tubuh, yaitu cairan transel. Namun volumenya
diabaikan karena kecil, yaitu cairan sendi, cairan otak, cairan perikard, liur pencernaan, dll. Ion Na+ dan
Cl- terutama terdapat pada cairan ektrasel, sedangkan ion K+ di cairan intrasel. Anion protein tidak
tampak dalam cairan intersisial karena jumlahnya paling sedikit dibandingkan dengan intrasel dan
plasma.

Perbedaan komposisi cairan tubuh berbagai kompartmen terjadi karena adanya barier yang
memisahkan mereka. Membran sel memisahkan cairan intrasel dengan cairan intersisial, sedangkan
dinding kapiler memisahkan cairan intersisial dengan plasma. Dalam keadaan normal, terjadi
keseimbangan susunan dan volume cairan antar kompartmen. Bila terjadi perubahan konsentrasi atau
tekanan di salah satu kompartmen, maka akan terjadi perpindahan cairan atau ion antar kompartemen
sehingga terjadi keseimbangan kembali.

Perpindahan Substansi Antar Kompartmen             


Setiap kompartmen dipisahkan oleh barier atau membran yang membatasi mereka. Setiap zat yang akan
pindah harus dapat menembus barier atau membran tersebut. Bila substansi zat tersebut dapat melalui
membran, maka membran tersebut permeabel terhadap zat tersebut. Jika tidak dapat menembusnya,
maka membran tersebut tidak permeabel untuk substansi tersebut. Membran disebut semipermeable
(permeabel selektif) bila beberapa partikel dapat melaluinya tetapi partikel lain tidak dapat
menembusnya.

Perpindahan substansi melalui membran ada yang secara aktif atau pasif. Transport aktif membutuhkan
energi, sedangkan transport pasif tidak membutuhkan energi.

Difusi         
Partikel (ion atau molekul) suatu substansi yang terlarut selalu bergerak dan cenderung menyebar dari
daerah yang konsentrasinya tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah sehingga konsentrasi substansi
partikel tersebut merata. Perpindahan partikel seperti ini disebut difusi. Beberapa faktor yang
mempengaruhi laju difusi ditentukan sesuai dengan hukum Fick (Fick’s law of diffusion). Faktor-faktor
tersebut adalah:

1. Peningkatan perbedaan konsentrasi substansi.


2. Peningkatan permeabilitas.
3. Peningkatan luas permukaan difusi.
4. Berat molekul substansi.
5. Jarak yang ditempuh untuk difusi.

Osmosis
Bila suatu substansi larut dalam air, konsentrasi air dalam larutan tersebut lebih rendah dibandingkan
konsentrasi air dalam larutan air murni dengan volume yang sama. Hal ini karena tempat molekul air
telah ditempati oleh molekul substansi tersebut. Jadi bila konsentrasi zat yang terlarut meningkatkan,
konsentrasi air akan menurun.Bila suatu larutan dipisahkan oleh suatu membran yang semipermeabel
dengan larutan yang volumenya sama namun berbeda konsentrasi zat terlarut, maka terjadi
perpindahan air/zat pelarut dari larutan dengan konsentrasi zat terlarut lebih tinggi. Perpindahan seperti
ini disebut dengan osmosis.

Filtrasi
Filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara dua ruang yang dibatasi oleh membran. Cairan
akan keluar dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Jumlah cairan yang keluar
sebanding dengan besar perbedaan tekanan, luas permukaan membran dan permeabilitas membran.
Tekanan yang mempengaruhi filtrasi ini disebut tekanan hidrostatik.

Transport aktif              
Transport aktif diperlukan untuk mengembalikan partikel yang telah berdifusi secara pasif dari daerah
yang konsentrasinya rendah ke daerah yang konsentrasinya lebih tinggi. Perpindahan seperti ini
membutuhkan energi (ATP) untuk melawan perbedaan konsentrasi. Contoh: Pompa Na-K.

Keseimbangan Cairan dan Elektrolit        


Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu volume cairan
ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan
mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan
mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur
keluaran garam dan air dalam urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan
abnormal dari air dan garam tersebut.

1. Pengaturan volume cairan ekstrasel.      


Penurunan volume cairan ekstrasel menyebabkan penurunan tekanan darah arteri dengan menurunkan
volume plasma. Sebaliknya, peningkatan volume cairan ekstrasel dapat menyebabkan peningkatan
tekanan darah arteri dengan memperbanyak volume plasma. Pengontrolan volume cairan ekstrasel
penting untuk pengaturan tekanan darah jangka panjang.

 Mempertahankan keseimbangan asupan dan keluaran (intake dan output) air. Untuk
mempertahankan volume cairan tubuh kurang lebih tetap, maka harus ada keseimbangan
antara air yang ke luar dan yang masuk ke dalam tubuh. hal ini terjadi karena adanya pertukaran
cairan antar kompartmen dan antara tubuh dengan lingkungan luarnya. Water turnover dibagi
dalam: 1. eksternal fluid exchange, pertukaran antara tubuh dengan lingkungan luar; dan 2.
Internal fluid exchange, pertukaran cairan antar pelbagai kompartmen, seperti proses filtrasi
dan reabsorpsi di kapiler ginjal.
 Memeperhatikan keseimbangan garam. Seperti halnya keseimbangan air, keseimbangan garam
juga perlu dipertahankan sehingga asupan garam sama dengan keluarannya. Permasalahannya
adalah seseorang hampir tidak pernah memeprthatikan jumlah garam yang ia konsumsi
sehingga sesuai dengan kebutuhannya. Tetapi, seseorang mengkonsumsi garam sesuai dengan
seleranya dan cenderung lebih dari kebutuhan. Kelebihan garam yang dikonsumsi harus
diekskresikan dalam urine untuk mempertahankan keseimbangan garam.

Ginjal mengontrol jumlah garam yang dieksresi dengan cara:


1. Mengontrol jumlah garam (natrium) yang difiltrasi dengan pengaturan Laju Filtrasi Glomerulus
(LFG)/ Glomerulus Filtration Rate (GFR).
2. Mengontrol jumlah yang direabsorbsi di tubulus ginjal

Jumlah Na+ yang direasorbsi juga bergantung pada sistem yang berperan mengontrol tekanan darah.
Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron mengatur reabsorbsi Na+ dan retensi Na+ di tubulus distal dan
collecting. Retensi Na+ meningkatkan retensi air sehingga meningkatkan volume plasma dan
menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri.Selain sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron, Atrial
Natriuretic Peptide (ANP) atau hormon atriopeptin menurunkan reabsorbsi natrium dan air. Hormon ini
disekresi leh sel atrium jantung jika mengalami distensi peningkatan volume plasma. Penurunan
reabsorbsi natrium dan air di tubulus ginjal meningkatkan eksresi urine sehingga mengembalikan
volume darah kembali normal.

2. Pengaturan Osmolaritas cairan ekstrasel.             


Osmolaritas cairan adalah ukuran konsentrasi partikel solut (zat terlarut) dalam suatu larutan. semakin
tinggi osmolaritas, semakin tinggi konsentrasi solute atau semakin rendah konsentrasi solutnya lebih
rendah (konsentrasi air lebih tinggi) ke area yang konsentrasi solutnya lebih tinggi (konsentrasi air lebih
rendah).

Osmosis hanya terjadi jika terjadi perbedaan konsentrasi solut yang tidak dapat menmbus membran
plasma di intrasel dan ekstrasel. Ion natrium menrupakan solut yang banyak ditemukan di cairan
ekstrasel, dan ion utama yang berperan penting dalam menentukan aktivitas osmotik cairan ekstrasel.
sedangkan di dalam cairan intrasel, ion kalium bertanggung jawab dalam menentukan aktivitas osmotik
cairan intrasel. Distribusi yang tidak merata dari ion natrium dan kalium ini menyebabkan perubahan
kadar kedua ion ini bertanggung jawab dalam menetukan aktivitas osmotik di kedua kompartmen ini.
 
Pengaturan osmolaritas cairan ekstrasel oleh tubuh dilakukan dilakukan melalui:
 Perubahan osmolaritas di nefron 

Di sepanjang tubulus yang membentuk nefron ginjal, terjadi perubahan osmolaritas yang pada akhirnya
akan membentuk urine yang sesuai dengan keadaan cairan tubuh secara keseluruhan di dukstus koligen.
Glomerulus menghasilkan cairan yang isosmotik di tubulus proksimal (300 mOsm). Dinding tubulus ansa
Henle pars decending sangat permeable terhadap air, sehingga di bagian ini terjadi reabsorbsi cairan ke
kapiler peritubular atau vasa recta. Hal ini menyebabkan cairan di dalam lumen tubulus menjadi
hiperosmotik.
Dinding tubulus ansa henle pars acenden tidak permeable terhadap air dan secara aktif memindahkan
NaCl keluar tubulus. Hal ini menyebabkan reabsobsi garam tanpa osmosis air. Sehingga cairan yang
sampai ke tubulus distal dan duktus koligen menjadi hipoosmotik. Permeabilitas dinding tubulus distal
dan duktus koligen bervariasi bergantung pada ada tidaknya vasopresin (ADH). Sehingga urine yang
dibentuk di duktus koligen dan akhirnya di keluarkan ke pelvis ginjal dan ureter juga bergantung pada
ada tidaknya vasopresis (ADH).
 Mekanisme haus dan peranan vasopresin (antidiuretic hormone/ADH). 

Peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel (>280 mOsm) akan merangsang osmoreseptor di hypotalamus.
Rangsangan ini akan dihantarkan ke neuron hypotalamus yang mensintesis vasopresin. Vasopresin akan
dilepaskan oleh hipofisis posterior ke dalam darah dan akan berikatan dengan reseptornya di duktus
koligen. ikatan vasopresin dengan reseptornya di duktus koligen memicu terbentuknya aquaporin, yaitu
kanal air di membrane bagian apeks duktus koligen. Pembentukkan aquaporin ini memungkinkan
terjadinya reabsorbsi cairan ke vasa recta. Hal ini menyebabkan urine yang terbentuk di duktus koligen
menjadi sedikit dan hiperosmotik atau pekat, sehingga cairan di dalam tubuh tetap dipertahankan.
selain itu, rangsangan pada osmoreseptor di hypotalamus akibat peningkatan osmolaritas cairan
ekstrasel juga akan dihantarkan ke pusat haus di hypotalamus sehingga terbentuk perilaku untuk
membatasi haus, dan cairan di dalam tubuh kembali normal.

Pengaturan Neuroendokrin dalam Keseimbangan Cairan dan Elektrolit


Sebagai kesimpulan, pengaturan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit diperankan oleh
system saraf dan sistem endokrin. Sistem saraf mendapat informasi adanya perubahan keseimbangan
cairan dan elektrolit melalui baroreseptor di arkus aorta dan sinus karotikus, osmoreseptor di
hypotalamus, dan volume reseptor atau reseptor regang di atrium. Sedangkan dalam sistem endokrin,
hormon-hormon yang berperan saat tubuh mengalami kekurangan cairan adalah Angiotensin II,
Aldosteron, dan Vasopresin/ADH dengan meningkatkan reabsorbsi natrium dan air. Sementara, jika
terjadi peningkatan volume cairan tubuh, maka hormone atriopeptin (ANP) akan meningkatkan eksresi
volume natrium dan air.

perubahan volume dan osmolaritas cairan dapat terjadi pada beberapa keadaan.Faktor lain yang
mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit di antaranya ialah umur, suhu lingkungan, diet, stres,
dan penyakit.

Keseimbangan Asam-Basa        
Keseimbangan asam-basa terkait dengan pengaturan konsentrasi ion H bebas dalam cairan tubuh. pH
rata-rata darah adalah 7,4; pH darah arteri 7,45 dan darah vena 7,35. Jika pH <7,35>7,45 dikatakan
alkalosis. Ion H terutama diperoleh dari aktivitas metabolik dalam tubuh. Ion H secara normal dan
kontinyu akan ditambahkan ke cairan tubuh dari 3 sumber, yaitu:
1. Pembentukkan asam karbonat dan sebagian akan berdisosiasi menjadi ion H dan bikarbonat.
2. Katabolisme zat organik

3. Disosiasi asam organik pada metabolisme intermedia, misalnya pada metabolisme lemak
terbentuk asam lemak dan asam laktat, sebagian asam ini akan berdisosiasi melepaskan ion H.

Fluktuasi konsentrasi ion H dalam tubuh akan mempengaruhi fungsi normal sel, antara lain:
1. Perubahan eksitabilitas saraf dan otot; pada asidosis terjadi depresi susunan saraf pusat,
sebaliknya pada alkalosis terjadi hipereksitabilitas.
2. Mempengaruhi enzim-enzim dalam tubuh

3. Mempengaruhi konsentrasi ion K

bila terjadi perubahan konsentrasi ion H maka tubuh berusaha mempertahankan ion H seperti nilai
semula dengan cara:
1. Mengaktifkan sistem dapar kimia
2. Mekanisme pengontrolan pH oleh sistem pernafasan

3. Mekasnisme pengontrolan pH oleh sistem perkemihan

Ada 4 sistem dapar:


1. Dapar bikarbonat; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel terutama untuk perubahan yang
disebabkan oleh non-bikarbonat
2. Dapar protein; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel dan intrasel

3. Dapar hemoglobin; merupakan sistem dapar di dalam eritrosit untuk perubahan asam karbonat

4. Dapar fosfat; merupakan sistem dapar di sistem perkemihan dan cairan intrasel.

sistem dapat kimia hanya mengatasi ketidakseimbangan asam-basa sementara. Jika dengan dapar kimia
tidak cukup memperbaiki ketidakseimbangan, maka pengontrolan pH akan dilanjutkan oleh paru-paru
yang berespon secara cepat terhadap perubahan kadar ion H dalam darah akinat rangsangan pada
kemoreseptor dan pusat pernafasan, kemudian mempertahankan kadarnya sampai ginjal
menghilangkan ketidakseimbangan tersebut. Ginjal mampu meregulasi ketidakseimbangan ion H secara
lambat dengan menskresikan ion H dan menambahkan bikarbonat baru ke dalam darah karena memiliki
dapar fosfat dan amonia.

Ketidakseimbangan Asam-Basa        
Ada 4 kategori ketidakseimbangan asam-basa, yaitu:
1. Asidosis respiratori, disebabkan oleh retensi CO2 akibat hipoventilasi. Pembentukkan H2CO3
meningkat, dan disosiasi asam ini akan meningkatkan konsentrasi ion H.
2. Alkalosis metabolik, disebabkan oleh kehilangan CO2 yang berlebihan akibat hiperventilasi.
Pembentukan H2CO3 menurun sehingga pembentukkan ion H menurun.
3. Asidosis metabolik, asidosis yang bukan disebabkan oleh gangguan ventilasi paru, diare akut,
diabetes melitus, olahraga yang terlalu berat dan asidosis uremia akibat gagal ginjal akan
menyebabkan penurunan kadar bikarbonat sehingga kadar ion H bebas meningkat.

4. Alkalosis metabolik., terjadi penurunan kadar ion H dalam plasma karena defiensi asam non-
karbonat. Akibatnya konsentrasi bikarbonat meningkat. Hal ini terjadi karena kehilangan ion H
karena muntah-muntah dan minum obat-obat alkalis. Hilangnyaion H akan menyebabkan
berkurangnya kemampuan untuk menetralisir bikarbonat, sehingga kadar bikarbonat plasma
meningkat.

Untuk mengkompensasi gangguan keseimbangan asam-basa tersebut, fungsi pernapasan dan ginjal
sangat penting.

Kesimpulan      
Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan 2 parameter penting, yaitu: volume cairan
ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan
mempertahankan keseimbangan garan dan mengontrol osmolaritas ekstrasel dengan mempertahankan
keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan
air dalam urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan
garam tersebut. Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan
mengatur keluaran ion hidrogen dan ion bikarbonat dalam urine sesuai kebutuhan. Selain ginjal, yang
turut berperan dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengeksresikan ion hidrogen
dan CO2 dan sistem dapar (buffer) kimia dalam cairan tubuh.

REFERENSI
1. Sherwood, Lauralee. (2004). Human Physiology: From cells to system. 5th ed. California:
Brooks/Cole-Thomson Learning, Inc.
2. Silverthorn, D.U. (2004). Human Physiology: An Integrated approach. 3th ed. San Fransisco:
Pearson Education.

Nutrisi Parenteral
Pendahuluan

 Nutrisi parenteral tidak menggantikan fungsi alamiah usus, karena itu hanya merupakan jalan
pintas sementara sampai usus berfungsi normal kembali.
 Nutrisi parenteral di indikasikan sebagai  “ jalur subtistusi ” bagi penderita dengan saluran
digestif yang tidak dapat dapat menerima dan mencerna makanan . Sedang “ jalur suplemen “ di
indikasikan bagi kasus luka bakar yang luas, contusio cerebri, trauma ganda, dan sepsis dimana
peningkatan kebutuhan enersi dan nutrisi sangat tinggi dimana usus tidak dapat menampung
volume makanan yang sangat dibutuhkan untuk mengatasi katabolisme.     

Pertimbangan Umum Pemberian Nutrisi


 Bantuan nutrisi parenteral bisa diberikan secara sentral parenteral nutrisi atau secara perifer
parentral nutrisi . Pemilihan antara Total Parenteral Nutrisi ( TPN) dan Perifer parenteral Nutrisi
(PPN) sangat tergantung pada resiko pemasangan sentral kateter, lama pemberian sampai pada
ditoleransi pemberian secara oral atau enteral serta tergantung pada osmolaritas cairan nutrisi
parenteral yang akan diberikan.
 Pemberian bantuan nutrisi perifer hanya dapat mentolerir osmolaritas cairan nutrisi < 900 m
osmol/L. Akan tetapi bisa saja walaupun jalur enteral su- dah tersedia , tetapi terdapat
kontraindikasi relatif untuk memberikan nutrisi enteral, terutama pada fase-fae awal postpertif,
maka untuk pasien ini parenteral nutrisi umumnya digunakan sebagai bantuan nutrisi awal.
Perinsipnya adalah : “Start Slow, Go Slow” dengan tujuan akhir adalah pemberian secara
enteral.

Kebutuhan Cairan
 Penderita dewasa pada umumnya sekitar 30-50ml / KgBB / hari.
 Setiap kenaikan suhu 1 ° kebutuhan cairan bertambah 10 – 20 % dari kebutuhan harian.

 Penderita dengan oligouria cairan yang diperlukan adalah Insesible Water Lose (IWL) ditambah
produksi urine  perhari. (IWL = 15 cc x Berat Badan)

Kebutuhan Energi
Energi expanditure harus dihitung agar keseimbangan nitrogen yang lebih baik dapat dicapai dan
dipertahankan. Metode yang digunakan untuk menghitung kebutuhan energi ada dua cara yaitu:

1.  Rumus Harris-Benedict

Harris-Benedict mengkalkulasikan kebutuhan energy seseorang dalam keadaan istirahat, nonstres,


setelah puasa overnigt. Pada keadaan metabolic-stress, maka harus dikalikan stress faktor.

Rumus Harris – Benedict.

Pria            :   BEE = 66,47 + (13,75 x BB) +(5.0 x TB – (6,76 x U)

Wanita      :   BEE = 655,1 + (9,56 x BB) +(1,85 x TB – (4,68 x U)

BEE = K cal/ hari    BB: kg     TB: cm   U: Tahun

Koreksi kebutuhan energi (kkal/hari) :   Basal Energy Expenditure (BEE) x Factor stress

Faktor stress

Koreksi kebutuhan energi dihitung sesuai tingkat hipermetabolisme :

 Post operasi (tanpa komplikasi)                                            1,0    –  1,10


 Fraktur tulang panjang                                                           1,15   –  1,30

 Kanker                                                                                    1,10   –  1,30


 Peritonitis/sepsis                                                                  1,10   –  1,30

 Infeksi serius/ multiple trauma                                            1,20   –  1,40

 Sindrom kegagalan organ multiple                                      1,20   –  1,40

 Luka bakar                                                                              1,20   –  2,00

 Trauma Kapitis                                                                                1,6

2.  Rule of Thumb

Dalam menghitung kebutuhan awal kalori, Sejumlah ahli menggunakan perumusan sederhana Rule of
Thumb yaitu 25 – 30 kkal/kg/hari. Cara ini mudah digunakan tetapi tidak mengikuti faktor usia, jenis
kelamin atau komposisi tubuh sehingga kesalahan juga bisa terjadi.

3.  Indirect-calorimetry dengan expired gas analysis.

Walaupun memberi hasil yang lebih akurat tetapi oleh karena membutuhkan pemeriksaan
laboratorium, teknologi dan mahal maka jarang digunakan untuk perhitungan sehari-hari.

Sumber Kalori

 Karbohidrat (50 – 70%)


 Lemak (30 – 50%)

Karbohidrat Sebagai Sumber Energi


 Asupan karbohidrat di dalam diet pada pasien kritis sebaiknya berkisar 45% - 60% dari
kebutuhan kalori
 Setiap gram karbohidrat menghasilkan kurang lebih 4 kalori.

 Beberapa jenis karbohidrat yang lazim menjadi sumber energi dengan perbedaan jalur
metabolismenya adalah : glukosa, fruktosa, sorbitokl, maltose, xylitol.  

    Dosis aman dari masing-masing karbohidrat:


 Glikosa ( Dektrose )   : 6 gram / KgBB /Hari.
 Fruktosa / Sarbitol       : 3 gram / Kg BB/hari.

 Xylitol / maltose          : 1,5 gram / KgBB /hari.

   Campuran GFX ( Glukosa, Fruktosa – Xylitol ) yang ideal secara metabolik adalah dengan perban-dingan
GFX = 4:2:1.
Emulsi Lemak Intravena

 Lemak dapat diberikan dalam bentuk nutrisi enteral ataupun parenteral sebagai emulsi lemak.
 1 gram lemak menghasilkan 9 kalori, Pada pasien kritis sebaiknnya sekitar 20 – 35 % dari kalori
bersumber dari lemak.

 Pemberian lemak intravena selain sebagai sumber asam lemak esensial (terutama asam linoleat)
juga sebagai subtrat sumber energi pendamping karbohidrat terutama pada kasus stress berat

 Bila lemak tidak diberikan dalam program nutrisi parenteral total bersama subtrat lainnya maka
defisiensi asam lemak rantai panjang akan terjadi kira-kira pada hari ketujuh dengan gejala klinik
bertahan sekitar empat minggu. Untuk mencegah keadaan ini diberikan 500 ml emulsi lemak 10
ml paling edikit 2 kali seminggu.

 Asam lemak esensial berperan dalam fungsi platelet, penyembuhan luka, sintesa prostaglandin
dan immunocompetence. Oleh karena ada keuntungan bila  diberikan bersama-sama dengan
glukosa sebagai sumber energi dianjurkan 30 –40 % dari total kalori diberikan dari lemak.

 Ada bukti infus lemak merata 24 jam lebih baik dan lebih dipilih dibanding pemberian
intermitten.

 Direkomendasikan untuk tidak memberikan > 60% kalori total diambil dari subtrat lemak.
Sebagai pegangan jangan berikan porsi lemak > 2 gr / kg BB /hari.

 Sebaiknya lakukan pemeriksaan kadar triglised plasma sebelum pemberian emulsi lemak
intravena sebagai data dasar.

 Preparat emulsi lemak yang beredar ada dua jenis, konsetrasi 10% ( 1 k cal /ml ) dan 20 % ( 2 k
cal/ ml ) dengan osmolalityas 270 –340 m Osmol /L sehingga dapat diberikan  melalui perifer.

 Kontra indikasi  absolut infus emulsi lemak adalah trigliserit 500 mr/l ,Kolesterol 400 mg/l .
kontraindikasi relatif : Trigeliderit 300 – 500 mg/l, Kolesterol 300 – 400 mg/l, ganggguan berat
faal ginjal dan hepar

·       Keuntungan Lemak sebagai sumber kalori :


 Cepat Terhidrolisa
 Cepat Dieliminasi Dari Darah

 Mudah Diambil Oleh Jaringan

 Mudah Dioksidasi

 Lebih Mudah Menyebabkan Keseimbangan Nitrogen

 Keuntungan Imunologis

Kebutuhan Protein
 Kebutuhan protein pada pasien sakit kritis sangat diperlukan mengingat bahwa pemecahan
protein cukup tinggi. Namun pemberian protein tidak mungkin akan bisa menekan pemecahan
protein, walaupun diberikan sangat berlebihan. Bahkan akan merugikan dengan timbulnya
azotemia.
 Secara umum kebutuhan protein pada penderita sakit kritis 1,5 – 3,5 gr/ Kg BB/ hari yang terdiri
dari asam amino esensial dan sedikitnya mengandung 45 % asam amino rantai cabang (BCAA).
Tanpa BCAA pemberian 2,1 gram protein/ kg BB/ hari dan kalori 45 kcal/ kg BB/ hari masih
belum adekuat, terbukti dengan masih adanya pelepasan asam amino ke perifer terus menerus.

 Guidelines for Protein Intake in Adults

Clinical Condition Rekommended Intake (g/kg/day)

Healty adult, normal organ


O,8
fungtion

Post operative 1,0 – 1,5

Sepsis 1,2 – 1,5

Multiple trauma 1,3 – 1,7

Major burn 1,8 – 2,5

The ASPEN nutrition support practice manual. Silver Spring MD, 1998. American Society for Parenteral
and Enteral Nutrition   

Retensi nitrogen sebanding secara proporsional dengan pemberian BCAA, sehingga memper- baiki
keseimbangan nitrogen. Pemberian BCAA 1,0 – 1,5 gram/ KgBB/hari sudah memperbaiki keseimbangan
nitrogen, menaikkan jumlah limfosit, memulihkan energi, menstimulasi kemotaksis, meningkatkan
kadar transferin, menurunkan ekskresi 3 metil histidin. Lebih lanjut mengurangi kebutuhan oksigen dan
produksi laktat dan memperbaiki resistensi perifer .

Rasio Kalori Nitrogen

 Atas dasar pertimbangan adanya intoleransi glukosa, resistensi insulin, dan peningkatan
penggunaan protein sebagai sumber energi pada pasien sakit kritis yang berada dalam keadaan
hipermetabolik, maka rasio kalori nitrogen suatu nutrisi harus disesuaikan .
 Rasio NPC : Nitrogen pada pasien kritis adalah  80 – 120 : 1

 1 gr nitrogen setara dengan  6,25 gr protein

 Pemberian glukosa harus dikurangi 10 – 15 % ditambah insulin eksogen. Bila fungsi hati dan
ginjal masih baik maka protein diberikan 2,5 – 3,5 gram/ kg BB/ hari. Kombinasi ini akan
menghasilkan rasio kalori nitrogen berkisar 80 – 100 kcal/ gr N. standar nutrisi untuk pasien
yang tidak mengalami hiperkatabolisme biasanya 150 – 200 kcal/ gr N

 Mikronutrien
 Pasien sakit kritis membutuhkan vitamin A, E, K, B1 (tiamin), B3 (niasin), B6 (piridoksin), vitamin
C, asam pantotenat dan asam folat yang lebih banyak dibandingkan kebutuhan normal sehari-
harinya.
 Khusus tiamin, asam folat dan vitamin K mudah terjadi defisiensi pada TPN.

 Dialisis ginjal bisa menyebabkan kehilangan vitamin yang larut dalam air.

 Defisiensi besi, selenium, zinc, mangan dan copper sering terjadi pada pasien sakit kritis.

 Pemberian didasarkan kebutuhan setiap hari :

     -  Calcium                          :    0,2 – 0,3 meq / kg BB/ hari


     -  Magnesium                    :    0,35 – 0,45 meq / kg BB/ hari

     -  Fosfat                             :    30 – 40 mmol/ hari

     -  Zink                                :    3 – 10 mg/ hari

Immunonutrient

Perkembangan terbaru dalam tunjangan nutrisi diperkenalkannya immunonutrient .

Tiga grup nutrient utama yang termasuk dalam  immunonutrient adalah:

·   Amino acids (arginine, glutamin, glycin )

·   Fatty acid.

·   Nucleotide.

Nutrient – nutrient tersebut diatas adalah ingredients yang memegang peran penting dalam proses
“wound healing” peningkatan sistem immune dan mencegah proses inflamasi kesemuanya essenstial
untuk proses penyembuhan yang pada pasien-pasien critical ill sangat menurun.

Regimen, Pengaturan, dan Rumatan Nutrisi Parental

Pada hari-hari pertama pemberian nutrisi parental, volume, dan konsentrasi larutan nutrisi ditingkatkan
secara bertahap (gradual), bergantung pada toleransi tubuh terhadap volume cairan dan konsentrasi
glukose yang masuk.

A.    Dengan Larutan Dextrose Saja

HARI SUMBER JUMLAH NON PROTEIN ASAM MOsm/ L


KALORI AMINO
KE SUBSTRAT ml/ 24 jam
(k.cal/ 24 jam) (gr/ 24 jam)

I RINGER D 5% 1000 200 - 588

DEXTROSE 5% 1500 300 - 278

TOTAL 2500 500 -

II&III RINGER D 5% 1000 200 - 588

DEXTROSE 10% 1500 600 - 550

TOTAL 2500 800

VI RINGER D 5% 1000 200 - 588

Dst. DEXTROSE 20% 1000 800 - 1100

TOTAL 2000 1000 -

NB:  Osmolaritas ( 580 + 1100 ) = 840 mOSm ,masih dapat diberikan lewat vena perifer jika diteteskan bersama .

       Dextrose 20% dapat dicampur dengan Reguler insulin 20 unit/ 500 cc

  B.   Dengan Larutan Dextose Dan Asam Amino Lewat Perifer.

HARI SUMBER JUMLAH NON PROTEIN ASAM MOsm/ L

KE SUBSTRAT ml/ 24 jam KALORI AMINO

(k.cal/ 24 jam) (gr/ 24 jam)

I RINGER D 5% 1000 200 - 588

DEXTROSE 5% 1500 300 - 550

TOTAL 2500 500 -

II&III ASAM AMINO 2,5% +  KH 10 % 1000 300 25 772

DEXTROSE 10% 1500 600 - 550

TOTAL 2500 900 25

IVDst. ASAM  AMINO 2,5% + KH 10 % 1000 300 25 772

Nya DEXTROSE 20% 1000 800 - 1100

TOTAL 2000 1100 25 940

  NB: semua sumber substrat menetes bersama 24 jam, melalui vena perifer
  C.   Dengan Larutan Dextose , Asam Amino  Lewat Vena Sentral.
HARI NON PROTEIN ASAM
SUMBER JUMLAH
KE KALORI AMINO MOsm/ L
SUBSTRAT ml/ 24 jam
(k.cal/ 24 jam) (gr/ 24 jam)

RINGER D5% 1000 200 - 588


I
DEXTROSE 5% 1500 300 550

TOTAL 2500 500 -

ASAM AMINO 5% + KH 10% 1000 400 50 1330


II&III
DEXTROSE 10% 1500 600 - 1100

TOTAL 2500 1000 50 1215

IV ASAM AMINO 5% + KH 10% 1000 400 50 1330

Dst. DEXTOSE 20% 1000 800 - 1100

TOTAL 2000 1200 50 1215

  NB: Dextrose 20% dapat diganti dengan FRUKTOSE-GLUKOSE-XYLITOL (Triofusin) yang lebih jarang hiperglikemia dan tidak perlu tambahan
insulin.

  D.   Larutan Karbohidrat ( Fgx ), Asam Amino & Lemak. (Ini adalah sistem TPN terlengkap tetapi juga termahal )
HARI SUMBER JUMLAH NON PROTEIN ASAM Mosm/ L

KE SUBSTRAT ml/ 24 jam KALORI AMINO

(k.cal/ 24 jam) (gr/ 24 jam)

I GLUKOSE 10% 1500 600 - 555

ASAM AMINO 2.7% 1000 200 27 600

TOTAL 2500 800 27 716

II GLUKOSE 20% 1000 800 - 1110

LIPID 10% 500 500 - 300

ASAM AMINO 10% 500 - 50 900

TOTAL 2000 1300 50 855

III GFX – 421 1000 1667 - 2100

LIPID 10% 500 500 - 300

ASAM AMINO 10% 1000 - 100 900


TOTAL 2500 1667 100 1500

IV GFX – 421 1000 1167 - 2100

Dst. Nya LIPID 20% 500 1000 - 350

ASAM AMINO 10% 1500 - 150 900

TOTAL 3000 2167 150 1380

Pemantauan Penderita       

Kemajuan dan kemunduran keadaan umum penderita dipantau setiap harinya, termasuk keseimbangan
cairan dan elektrolitnya (bila fasilitas ada). Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan adalah :

1.     Darah

     a. Darah rutin:  pemeriksaan hemaglobin, hemetokrik, leukosit, mula-mula dua kali seminggu selanjutnya
sekali seminggu.

     b. Gula darah : setiap hari selama seminggu, kemudian dua kali seminggu.

     c. Protein dan albumin : mula-mula dua kali seminggu, kemudian sekali seminggu.

2.     Urine

    Volume urine diukur setiap hari.

Penyulit Tunjangan Nutrisi.

Secara garis besar penyulit tunjangan nutrisi dapat kita kelompokkan kedalam penyulit metabolik,
infeksi, tromboflebitis, penyulit mekanik dan penyulit gastrointestinal.

1. Penyulit metabolik.Gangguan metabolisme disebabkan karena masuknya subtrat (karbohidrat,


protein) secara langsung kedalam vena siatemik yang dalam keadaan normal lewat usus, 
subtrat ini ini melewati vena porta  lebih dahulu, masuk kehepar dan baru masuk ke sirkulasi
sistemik. Penyulit metabolik bahkan dapat menjadi serius apabila beban substrat melampaui
kemampuan “metabolik patway”  tubuh. Glukosa didalam sirkulasi sistemik membutuhkan
insulin untuk mencapai sel, sehingga pemberian glukosa intravena akan meningkat kadar gula
darah disamping merangsang sekresi insulin lebih banyak. Kelebihan beban glukosa
menyebabkan hiperglikemi dan hiperosmolaritas serum. Kedua hal ini dapat menyebabkan
kekacauan metabolisme yang biasa kita lihat pada koma hiperglikemia atau koma hperosmoler.
Disamping itu dapat terjadi “osmotik diuresis“ Yang akan mengacaukan keseimbangan cairan
dan elektrolit. Larutan karbohidrat pekat (20%) setiap botolnya dapat diberi insulin 1 ui setiap 5
gram dektose yang harus rajin digocok.
2. Penyulit infeksi. Merupakan penyakit yang amat ditakuti pada pemberian nutrisis parenteral.
Suhu tubuh meninggi, leukositosis yang kadang-kadang disertai degan glkosuria dapat
merupakan tanda dini akan adanya septikemia.

3. Penyulit sepsis. Terjadi sebanyak 3 % dari penderita yang menerima nutrisi parenteral yang
kateternya diperlihara dengan baik. Sedangkan pada mereka yang katerternya tidak dipelihara
dengan baik kejadian sepsis dapat sampai 20%.

4. Penyulit thromboplebitis. Tromboflebitis dapat terjadi karena iritasi cairan infus terhadap
dinding vena, melalui kontaminasi kuman dan karena proses peradangan biasa. Iritasi vena
karena cairan akan terjadi apabila osmolaritas cairan infus diatas 300 m Osmol / liter   dan makin
makin tinggi osmolaritas ini makin cepat terjadinya flebitis, trombosis atau tromflebitis

  Penyulit tromboflebitis dapat dikurangi dengan cara :


 Pemasangan katerter vena yang lebih kecil dari diameter vena.
 Pemberian larutan nutrisi bersamaan melalui set transfusi bercabang.

 Memindahkan infus setiap 3-4 hari ke vena yang berlawanan di lengan dan tidak ke kaki

 Tidak memberikan larutan nutrisi dengan osmolaritas diatas 800 mOsmol/ liter melalui vena
perifer.

     5.   Penyulit  mekanik. Emboli udara,perdarahan karena fungsi arteri, pneumotoraks dan hemotoraks.
 

Kesalahan Yang Sering Terjadi Pada Parenteral Nutrisi

1. Menggunakan vena perifer untuk cairan pekat. Osmolritas plasma  300 mOsmol . Vena perifer
dapat menerima sampai maksimal 900 mOsmol . Makin tinggi osmolaritas (makin hipertonis)
maka makin mudah terjadi tromphlebitis, bahkan tromboembli. Untuk cairan > 900 – 1000
mOsm, seharusnya digunakan vena setrral (vena cava, subclavia, jugularis) dimana aliran darah
besar dan dapat cepat dapat mengencerkan tetesan cairan NPE yang pekat hingga tidak dapat
sempat merusak dinding vena. Jika tidak tersedia kanula vena sentral maka sebaiknya dipilih
dosis rendah (larutan encer) lewat vena perifer. Vena kali tidak boleh dipakai karena sangat
mudah deep vein trombosis  dengan resiko teromboemboli yang tinggi.
2. Memberikan protein tanpa kalori karbohidrat yang cukup. Sumber kalori yang utama dan
harus selalu ada adalah dektrose. Otak dan eritrosit mutlak memerlukan glukosa setiap saat. Jika
tidak tersedia terjadi glukoneogenesis dari subtrat lain. Kalori mutlak dicukupi lebih dulu.
Diperlukan deksrose 6 gram /kg/hari (300 gr) untuk kebutuhan energi basal 25 kcal/kg. Asam
amino dibutuhkan untuk regenerasi sel, sintesis ensim dan viseral protein. Tetapi pemberian
asam amino harus dilindungi kalori, agar  asam amino  tersebut tidak  dibakar  menjadi  energi
(glukoneogenesis) Tiap gram Nitrogen harus dilindungi 150 kcal berupa karbohidrat. Satu gram
Nitrogen setara 6,25 gram protetin. Protein 50 gr memerlukan ( 50 : 6,25 ) x 150 k cal = 1200
kcal atau 300 gram karbohidrat. Kalori dari asam amino itu sendiri tidak ikut dalam perhitungan
kebutuhan kalori . “ Jangan memberikan asam amino jika kebutuhan kalori belum  dipenuhi”

3. Tidak melakukan perawatan aseptik. Penyulit trombplebitis karena iritasi vena sering diikuti
radang/ infeksi. Prevalensi infeksi berkisar antara 2-30 % Kuman sering ditemukan adalah flora
kulit yang terbawa masuk pada penyulit atau ganti penutup luka infus.
Penghentian  Nutrisi Parenteral.

Penghentian nutrisi parentral harus dilakukan dengan cara bertahap untuk mencegah terjadinya
rebound hipoglkemia. Cara yang kami anjurkan adalah melangkah mundur menuju regimen hari
pertama. Sementrara nutrisi enteral dinaikkan kandungan subtratnya. Sesudah tercapai nutrisi enteral
yang adekuat (2/3 dari jumlah kebutuhan energi total) nutrisi enteral baru dapat dihentikan.

Diposkan oleh Ivan-Atjeh Anestesi Tidak ada komentar: