Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG

Latar belakang dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas
mata kuliah Ilmu Keperawatan Dasar ( IKD ). Sejak adanya sejarah kehidupan
manusia di bumi ini, manusia telah berusaha mengumpulkan fakta. Dari fakta ini
kemudian disusun dan disimpulkan menjadi berbagai teori, sesuai fakta yang di
kumpulkan tersebut. Teori – teori tersebut kemudian digunakan untuk memahami
gejala – gejala alam dan kemasyarakatan yang lain.
Sejalan dengan perkembangan kebudayaan, sosial, politik, ekonomi dan
teknologi umat manusia, teori – teori tersebut makin berkembang baik kualitas
maupun maupun kuantitasnya, seperti apa yang telah kita rasakan sekarang ini.
Makalah ini membahas tentang Teori Florence Nigthingale, yang didalamnya
berisi tentang isi dari teori Nightingale, pembahasan teori, dan contoh peran
perawat berdasarkan teori Nightingale. Apa yang berada dalam makalah ini sangat
bermanfaat dan berguna terutama bagi seorang perawat.
Teori Nightingale adalah teori yang mengemukakan tentang lingkungan.
Florence Noghtingale sendiri adalah perawat yang pertama kali ada di dunia dan
beliau di kenal sebagai wanita yang pantang menyerah dalam merawat pasien dan
memiliki jiwa penolong serta sangat berperan penting dalam perkembangan ilmu
keperawatan. Teori dari Florence nightingale sangatlah bermanfaat bagi para
perawat terutama pada saat kita merawat pasien. Mungkin pada saat kita merawat
pasien kita melupakan faktor lingkungan di sekitar pasien, padahal lingkungan
sangatlah berpengaruh dalam penyembuhan pasien. Pasien sangatlah
membutuhkan kenyamanan dan ketenangan pada saat dia di rawat. Semoga
dengan adanya makalah ini dapat menjadi bahan perhatian kita semua.

B.  MANFAAT
1. Menambah pengetahuan kita sebagai mahasiswa perawat tentang teori
Nightingale
2. Menjadi penyemangat dan menambah kinerja kita sebagai perawat agar seperti
Florence Nightingale yang tidak pantang menyerah dalam merawat pasien dan
memperjuangkan nasib perawat.
3. Dapat menjadi inspirasi kita dalam praktik keperawatan.
4. Menjadi dasar bagi mahasiswa perawat.
5. Untuk puskesmas, rumah sakit, posyandu dan lain- lain, makalah ini sangat
lah bermanfaat karena lingkungan merupakan hal yang harus di perhatikan
dalam perawatan pasien.

1
C.   Rumusan Masalah

1. Bagaimana Sejarah Perjalanan Hidup Florence Nightingale sampai Beliau


menghembuskan nafas terakhir ?
2. Bagaiman Teori Konsep Florence Nightingale tetang keperawaran ?

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Konsep Nightingale menempatkan lingkungan sebagai fokus asuhan


keperawatan dan perhatian di mana perawat tidak perlu memahami seluruh proses
penyakit merupakan upaya awal untuk memisahkan antara profesi keperawatan
dan kedokteran. Nightingale tidak memandang perawat secara sempit yang hanya
sibuk dengan masalah pemberian obat dan pengobatan, tetapi lebih berorientasi
pada pemberian udara, lampu, kenyamanan lingkungan, kebersihan, ketenangan
dan nutrisi yang adekuat ( Nightingale, 1860; Torres, 1986 ). Melalui observasi
dan pengumpulan data, Nightingale menghubungkan antara status kesehatan klien
dengan faktor lingkungan dan, sebagai hasil, yang menimbulkan perbaikan
kondisi higiene dan sanitasi selama perang Crimean.
Torres mencatat ( 1986 ) mencatat bahwa nightingale memberikan konsep
dan penawaran yang dapat divalidasi dan digunakan untuk menjalankan praktik
keperawatan. Nightingale dalam teori deskripsinya memberikan cara berpikir
tentang keperawatan dan kerangka rujukan yang berfokus pada klien dan
lingkungannya ( Torres, 1986). Surat Nightingale dan tulisannya tangannya
menuntun perawat untuk bekerja atas nama klien. Prinsipnya mencakup bidang
pelayanan, penelitian, dan pendidikan. Hal paling penting adalah konsep dan
prinsip yang membentuk dan melingkupi praktik keperawatan (marriner – tomey,
1994). Nightingale berpikir dan menggunakan proses keperawatan. Ia mencatat
bahwa observasi [pengkajian] bukan demi berbagai informasi atau fakta yang
mencurigakan, tetapi demi penyelamatan hidup dan meningkatkan kesehatan dan
keamanan.”

3
BAB III
PEMBAHASAN

A. Sejarah Kehidupan Florence Nightingele

1. Masa kecil
Florence Nightingale lahir di Firenze, Italia pada tanggal 12 Mei 1820 dan
dibesarkan dalam keluarga yang berada. Namanya diambil dari kota tempat ia
dilahirkan. Nama depannya, Florence merujuk kepada kota kelahirannya, Firenze
dalam bahasa Italia atau Florence dalam bahasa Inggris.
Semasa kecilnya ia tinggal di Lea Hurst, sebuah rumah besar dan mewah
milik ayahnya, William Nightingale yang merupakan seorang tuan tanah kaya di
Derbyshire, London, Inggris. Sementara ibunya adalah keturunan ningrat dan
keluarga Nightingale adalah keluarga terpandang. Florence Nightingale memiliki
seorang saudara perempuan bernama Parthenope.
Pada masa remaja mulai terlihat perilaku mereka yang kontras dan
Parthenope hidup sesuai dengan martabatnya sebagai putri seorang tuan tanah.
Pada masa itu wanita ningrat, kaya, dan berpendidikan aktivitasnya cenderung
bersenang-senang saja dan malas, sementara Florence lebih banyak keluar rumah
dan membantu warga sekitar yang membutuhkan.

2. Perjalanan ke Jerman
Pada tahun 1846 ia mengunjungi Kaiserswerth, Jerman, dan mengenal
lebih jauh tentang rumah sakit modern pionir yang dipelopori oleh Pendeta
Theodor Fliedner dan istrinya dan dikelola oleh biarawati Lutheran (Katolik). Di
sana Florence Nightingale terpesona akan komitmen dan kepedulian yang
dipraktekkan oleh para biarawati kepada pasien. Ia jatuh cinta pada pekerjaan
sosial keperawatan, serta pulang ke Inggris dengan membawa angan-angan
tersebut.

3. Belajar merawat
Pada usia dewasa Florence yang lebih cantik dari kakaknya, dan sebagai
seorang putri tuan tanah yang kaya, mendapat banyak lamaran untuk
menikah. Namun semua itu ia tolak, karena Florence merasa "terpanggil"
untuk mengurus hal-hal yang berkaitan dengan kemanusiaan.
Pada tahun 1851, kala menginjak usia 31 tahun, ia dilamar oleh Richard
Monckton Milnes seorang penyair dan seorang ningrat (Baron of Houghton),
lamaran inipun ia tolak karena ditahun itu ia sudah membulatkan tekad untuk
mengabdikan dirinya pada dunia keperawatan. Keinginan ini ditentang keras
oleh ibunya dan kakaknya. Hal ini dikarenakan pada masa itu di Inggris,
perawat adalah pekerjaan hina dan sebuah rumah sakit adalah tempat yang
jorok. Banyak orang memanggil dokter untuk datang ke rumah dan dirawat di
rumah.

4
Perawat pada masa itu hina karena:

 Perawat disamakan dengan wanita tuna susila atau "buntut"


(keluarga tentara yang miskin) yang mengikuti kemana tentara
pergi.
 Profesi perawat banyak berhadapan langsung dengan tubuh dalam
keadaan terbuka, sehingga dianggap profesi ini bukan profesi
sopan wanita baik-baik dan banyak pasien memperlakukan wanita
tidak berpendidikan yang berada di rumah sakit dengan tidak
senonoh
 Perawat di Inggris pada masa itu lebih banyak laki-laki daripada
perempuan karena alasan-alasan tersebut di atas.
 Perawat masa itu lebih sering berfungsi sebagai tukang masak.

Argumentasi Florence bahwa di Jerman perawatan bisa dilakukan dengan


baik tanpa merendahkan profesi perawat patah, karena saat itu di Jerman
perawat juga biarawati Katolik yang sudah disumpah untuk tidak menikah
dan hal ini juga secara langsung melindungi mereka dari perlakuan yang tidak
hormat dari pasiennya. Walaupun ayahnya setuju bila Florence membaktikan
diri untuk kemanusiaan, namun ia tidak setuju bila Florence menjadi perawat
di rumah sakit. Ia tidak dapat membayangkan anaknya bekerja di tempat yang
menjijikkan. Ia menganjurkan agar Florence pergi berjalan-jalan keluar negeri
untuk menenangkan pikiran.
Tetapi Florence berkeras dan tetap pergi ke Kaiserswerth, Jerman untuk
mendapatkan pelatihan bersama biarawati di sana. Selama empat bulan ia
belajar di Kaiserwerth, Jerman di bawah tekanan dari keluarganya yang takut
akan implikasi sosial yang timbul dari seorang gadis yang menjadi perawat
dan latar belakang rumah sakit yang Katolik sementara keluarga Florence
adalah Kristen Protestan.
Selain di Jerman, Florence Nightingale juga pernah bekerja di rumah sakit
untuk orang miskin di Perancis.

4. Kembali ke Inggris
Pada tanggal 12 Agustus 1853, Nightingale kembali ke London dan
mendapat pekerjaan sebagai pengawas bagian keperawatan di Institute for the
Care of Sick Gentlewomen, sebuah rumah sakit kecil yang terletak di Upper
Harley Street, London, posisi yang ia tekuni hingga bulan Oktober 1854.
Ayahnya memberinya ₤500 per tahun (setara dengan ₤ 25,000 atau Rp. 425
juta pada masa sekarang), sehingga Florence dapat hidup dengan nyaman dan
meniti karirnya.
Di sini ia beragumentasi sengit dengan Komite Rumah Sakit karena
mereka menolak pasien yang beragama Katolik. Florence mengancam akan
mengundurkan diri, kecuali bila komite ini mengubah peraturan tersebut dan
memberinya izin tertulis bahwa; rumah sakit akan menerima tidak saja pasien
yang beragama Katolik, tetapi juga Yahudi dan agama lainnya, serta

5
memperbolehkan mereka menerima kunjungan dari pendeta-pendeta mereka,
termasuk rabi, dan ulama untuk orang Islam
Komite Rumah Sakit pun mengubah peraturan tersebut sesuai permintaan
Florence.

5. Perang Krimea
Pada 1854 berkobarlah peperangan di Semenanjung Krimea. Tentara
Inggris bersama tentara Perancis berhadapan dengan tentara Rusia. Banyak
prajurit yang gugur dalam pertempuran, namun yang lebih menyedihkan lagi
adalah tidak adanya perawatan untuk para prajurit yang sakit dan luka-luka.
Keadaan memuncak ketika seorang wartawan bernama William Russel
pergi ke Krimea. Dalam tulisannya untuk harian TIME ia menuliskan
bagaimana prajurit-prajurit yang luka bergelimpangan di tanah tanpa diberi
perawatan sama sekali dan bertanya, "Apakah Inggris tidak memiliki wanita
yang mau mengabdikan dirinya dalam melakukan pekerjaan kemanusiaan
yang mulia ini?".
Hati rakyat Inggrispun tergugah oleh tulisan tersebut. Florence merasa
masanya telah tiba, ia pun menulis surat kepada menteri penerangan saat itu,
Sidney Herbert, untuk menjadi sukarelawan.
Pada pertemuan dengan Sidney Herbert terungkap bahwa Florence adalah
satu-satunya wanita yang mendaftarkan diri. Di Krimea prajurit-prajurit
banyak yang mati bukan karena peluru dan bom, namun karena tidak adanya
perawatan, dan perawat pria jumlahnya tidak memadai. Ia meminta Florence
untuk memimpin gadis-gadis sukarelawan dan Florence menyanggupi.
Pada tanggal 21 Oktober 1854 bersama 38 gadis sukarelawan yang dilatih
oleh Nightingale dan termasuk bibinya Mai Smith,[3] berangkat ke Turki
menumpang sebuah kapal. Pada tanggal November 1854 mereka mendarat di
sebuah rumah sakit pinggir pantai di Scutari. Saat tiba di sana kenyataan yang
mereka hadapi lebih mengerikan dari apa yang mereka bayangkan.
Beberapa gadis sukarelawan terguncang jiwanya dan tidak dapat langsung
bekerja karena cemas, semua ruangan penuh sesak dengan prajurit-prajurit
yang terluka, dan beratus-ratus prajurit bergelimpangan di halaman luar tanpa
tempat berteduh dan tanpa ada yang merawat.
Dokter-dokter bekerja cepat pada saat pembedahan, mereka memotong
tangan, kaki, dan mengamputasi apa saja yang membahayakan hidup pemilik,
potongan-potongan tubuh tersebut ditumpuk begitu saja diluar jendela dan
tidak ada tenaga untuk membuangnya jauh-jauh ke tempat lain. Bekas tangan
dan kaki yang berlumuran darah menggunung menjadi satu dan
mengeluarkan bau tak sedap. Florence diajak mengelilingi neraka tersebut
oleh Mayor Prince, dokter kepala rumah sakit tersebut dan menyanggupi
untuk membantu.
Florence melakukan perubahan-perubahan penting. Ia mengatur tempat-
tempat tidur para penderita di dalam rumah sakit, dan menyusun tempat para

6
penderita yang bergelimpangan di luar rumah sakit. Ia mengusahakan agar
penderita yang berada di luar paling tidak bernaung di bawah pohon dan
menugaskan pendirian tenda.

Penjagaan dilakukan secara teliti, perawatan dilakukan dengan cermat;

 Perban diganti secara berkala.


 Obat diberikan pada waktunya.
 Lantai rumah sakit dipel setiap hari.
 Meja kursi dibersihkan.
 Baju-baju kotor dicuci dengan mengerahkan tenaga bantuan dari
penduduk setempat.

Akhirnya gunungan potongan tubuh, daging, dan tulang-belulang


manusiapun selesai dibersihkan, mereka dibuang jauh-jauh atau ditanam.
Dalam waktu sebulan rumah sakit sudah berubah sama sekali, walaupun
baunya belum hilang seluruhnya namun jerit dan rintihan prajurit yang luka
sudah jauh berkurang. Para perawat sukarelawan bekerja tanpa kenal lelah
hilir-mudik di bawah pengawasan Florence Nightingale. Ia juga menangani
perawat-perawat lain dengan tangan besi, bahkan mengunci mereka dari luar
pada malam hari. Ini dilakukan untuk membuktikan pada orang tua mereka di
tingkat ekonomi menengah, bahwa dengan disiplin yang keras dan di bawah
kepemimpinan kuat seorang wanita, anak-anak mereka bisa dilindungi dari
kemungkinan serangan seksual.
Ketakutan akan hal inilah yang membuat ibu-ibu di Inggris menentang
anak perempuan mereka menjadi perawat, dan menyebabkan rumah sakit di
Inggris ketinggalan dibandingkan di benua Eropa lainnya dimana profesi
keperawatan dilakukan oleh biarawati dan biarawati-biarawati ini berada
dibawah pengawasan Biarawati Kepala.
Pada malam hari saat perawat lain beristirahat dan memulihkan diri,
Florence menuliskan pengalamannya dan cita-citanya tentang dunia
keperawatan, dan obat-obatan yang ia ketahui. Namun, kerja keras Florence
membersihkan rumah sakit tidak berpengaruh banyak pada jumlah kematian
prajurit, malah sebaliknya, angka kematian malah meningkat menjadi yang
terbanyak dibandingkan rumah sakit lainnya di daerah tersebut. Pada masa
musim dingin pertama Florence berada di sana sejumlah 4077 prajurit
meninggal dirumah sakit tersebut. Sebanyak 10 kali lipat prajurit malah
meninggal karena penyakit seperti; tipes, tifoid, kolera, dan disentri
dibandingkan dengan kematian akibat luka-luka saat perang. Kondisi di
rumah sakit tersebut menjadi sangat fatal karena jumlah pasien melimpah
lebih banyak dari yang mungkin bisa ditampung, hal ini menyebabkan sistem
pembuangan limbah dan ventilasi udara memburuk.
Pada bulan bulan Maret 1855, hampir enam bulan setelah Florence
Nightingale datang, komisi kebersihan Inggris datang dan memperbaiki
sistem pembuangan limbah dan sirkulasi udara, sejak saat itu tingkat
kematian menurun drastis. Namun Florence tetap percaya saat itu bahwa

7
tingkat kematian disebabkan oleh nutrisi yang kurang dari suplai makanan
dan beratnya beban pekerjaan tentara. Pemikiran ini baru berubah saat
Florence kembali ke Inggris dan mengumpulkan bukti dihadapan Komisi
Kerajaan untuk Kesehatan Tentara Inggris (Royal Commission on the Health
of the Army), akhirnya ia diyakinkan bahwa saat itu para prajurit di rumah
sakit meninggal akibat kondisi rumah sakit yang kotor dan memprihatinkan.
Hal ini berpengaruh pada karirnya di kemudian hari dimana ia gigih
mengkampanyekan kebersihan lingkungan sebagai hal yang utama.
Kampanye ini berhasil dinilai dari turunnya angka kematian prajurit pada saat
damai (tidak sedang berperang) dan menunjukkan betapa pentingnya disain
sistem pembuangan limbah dan ventilasi udara sebuah rumah sakit.

6. Bidadari berlampu
Pada suatu kali, saat pertempuran dahsyat di luar kota telah berlalu,
seorang bintara datang dan melapor pada Florence bahwa dari kedua belah
pihak korban yang berjatuhan banyak sekali.
Florence menanti rombongan pertama, namun ternyata jumlahnya sedikit,
ia bertanya pada bintara tersebut apa yang terjadi dengan korban lainnya.
Bintara tersebut mengatakan bahwa korban selanjutnya harus menunggu
sampai besok karena sudah terlanjur gelap.
Florence memaksa bintara tersebut untuk mengantarnya ke bekas medan
pertempuran untuk mengumpulkan korban yang masih bisa diselamatkan
karena bila mereka menunggu hingga esok hari korban-korban tersebut bisa
mati kehabisan darah.
Saat bintara tersebut terlihat enggan, Florence mengancam akan
melaporkannya kepada Mayor Prince.
Berangkatlah mereka berenam ke bekas medan pertempuran, semuanya
pria, hanya Florence satu-satunya wanita. Florence dengan berbekal lentera
membalik dan memeriksa tubuh-tubuh yang bergelimpangan, membawa siapa
saja yang masih hidup dan masih bisa diselamatkan, termasuk prajurit Rusia.
Malam itu mereka kembali dengan membawa lima belas prajurit, dua belas
prajurit Inggris dan tiga prajurit Rusia.
Semenjak saat itu setiap terjadi pertempuran, pada malam harinya
Florence berkeliling dengan lampu untuk mencari prajurit-prajurit yang masih
hidup dan mulailah ia terkenal sebagai bidadari berlampu yang menolong
di gelap gulita. Banyak nyawa tertolong yang seharusnya sudah meninggal.
Selama perang Krimea, Florence Nightingale mendapatkan nama "Bidadari
Berlampu".[4] Pada tahun 1857 Henry Longfellow, seorang penyair AS,
menulis puisi tentang Florence Nightingale berjudul "Santa Filomena", yang
melukiskan bagaimana ia menjaga prajurit-prajurit di rumah sakit tentara
pada malam hari, sendirian, dengan membawa lampu.
“Pada jam-jam penuh penderitaan itu, datanglah bidadari berlampu untukku.”

8
7. Pulang ke Inggris
Florence Nightingale kembali ke Inggris sebagai pahlawan pada tanggal 7
Agustus 1857, semua orang tahu siapa Florence Nightingale dan apa yang ia
lakukan ketika ia berada di medan pertempuran Krimea, dan menurut BBC, ia
merupakan salah satu tokoh yang paling terkenal setelah Ratu Victoria
sendiri. Nightingale pindah dari rumah keluarganya di Middle Claydon,
Buckinghamshire, ke Burlington Hotel di Piccadilly. Namun, ia terkena
demam, yang disebabkan oleh Bruselosis ("demam Krimea") yang
menyerangnya selama perang Krimea.[5] Dia memalangi ibu dan saudara
perempuannya dari kamarnya dan jarang meninggalkannya.
Sebagai respon pada sebuah undangan dari Ratu Victoria - dan meskipun
terdapat keterbatasan kurungan pada ruangannya - Nightingale memainkan
peran utama dalam pendirian Komisi Kerajaan untuk Kesehatan Tentara
Inggris, dengan Sidney Herbert menjadi ketua. Sebagai wanita, Nightingale
tidak dapat ditunjuk untuk Komisi Kerajaan, tetapi ia menulis laporan 1.000
halaman lebih yang termasuk laporan statistik mendetail, dan ia merupakan
alat implementasi rekomendasinya. Laporan Komisi Kerajaan membuat
adanya pemeriksaan tentara militer, dan didirikannya Sekolah Medis
Angkatan Bersenjata dan sistem rekam medik angkatan bersenjata.

8. Karier selanjutnya
Ketika ia masih di Turki, pada tanggal 29 November 1855, publik bertemu
untuk memberikan pengakuan pada Florence Nightingale untuk hasil
kerjanya pada perang yang membuat didirikannya Dana Nightingale untuk
pelatihan perawat. Sidney Herbert menjadi sekretaris honorari dana, dan
Adipati Cambridge menjadi ketua. Sekembalinya Florence ke London, ia
diundang oleh tokoh-tokoh masyarakat. Mereka mendirikan sebuah badan
bernama "Dana Nightingale", dimana Sidney Herbert menjadi Sekertaris
Kehormatan dan Adipati Cambridge menjadi Ketuanya. Badan tersebut
berhasil mengumpulkan dana yang besar sekali sejumlah ₤ 45.000 sebagai
rasa terima kasih orang-orang Inggris karena Florence Nightingale berhasil
menyeamatkan banyak jiwa dari kematian.
Florence menggunakan uang itu untuk membangun sebuah sekolah
perawat khusus untuk wanita yang pertama, saat itu bahkan perawat-perawat
pria pun jarang ada yang berpendidikan. Florence berargumen bahwa dengan
adanya sekolah perawat, maka profesi perawat akan menjadi lebih dihargai,
ibu-ibu dari keluarga baik-baik akan mengijinkan anak-anak perempuannya
untuk bersekolah di sana dan masyarakat akan lain sikapnya menghadapi
seseorang yang terdidik. Sekolah tersebut pun didirikan di lingkungan rumah
sakit St. Thomas Hospital, London. Dunia kesehatan pun menyambut baik
pembukaan sekolah perawat tersebut.
Saat dibuka pada tanggal 9 Juli 1860 berpuluh-puluh gadis dari kalangan
baik-baik mendaftarkan diri, perjuangan Florence di Semenanjung Krimea
telah menghilangkan gambaran lama tentang perempuan perawat. Dengan
didirikannya sekolah perawat tersebut telah diletakkan dasar baru tentang
perawat terdidik dan dimulailah masa baru dalam dunia perawatan orang

9
sakit. Kini sekolah tersebut dinamakan Sekolah Perawat dan Kebidanan
Florence Nightingale (Florence Nightingale School of Nursing and
Midwifery) dan merupakan bagian dari Akademi King College London.
Sebagai pimpinan sekolah Florence mengatur sekolah itu dengan sebaik
mungkin. Tulisannya mengenai dunia keperawatan dan cara mengaturnya
dijadikan bahan pelajaran di sekolah tersebut. Saat tiba waktunya anak-anak
didik pertama Florence menamatkan sekolahnya, berpuluh-puluh tenaga
pemudi habis diambil oleh rumah sakit sekitar, padahal rumah sakit yang lain
banyak meminta bagian.
Perawat lulusan sekolah Florence pertama kali bekerja pada Rumah Sakit
Liverpool Workhouse Infirmary. Ia juga berkampanye dan menggalang dana
untuk rumah sakit Royal Buckinghamshire di Aylesbury dekat rumah tinggal
keluarganya. Dengan perawat-perawat terdidik, era baru perawatan secara
modernpun diterapkan ditempat-tempat tersebut. Dunia menjadi tergugah dan
ingin meniru. Mereka mengirimkan gadis-gadis berbakat untuk dididik di
sekolah tersebut dan sesudah tamat mereka diharuskan mendirikan sekolah
serupa di negerinya masing-masing.
Pada tahun 1882 perawat-perawat yang lulus dari sekolah Florence telah
tumbuh dan mengembangkan pengaruh mereka pada awal-awal
pengembangan profesi keperawatan. Beberapa dari mereka telah diangkat
menjadi perawat senior (matron), termasuk di rumah sakit-rumah sakit
London seperti St. Mary's Hospital, Westminster Hospital, St Marylebone
Workhouse Infirmary dan the Hospital for Incurables (Putney); dan diseluruh
Inggris, seperti: Royal Victoria Hospital, Netley; Edinburgh Royal Infirmary;
Cumberland Infirmary; Liverpool Royal Infirmary dan juga di Sydney
Hospital, di New South Wales, Australia.
Orang sakit menjadi pihak yang paling beruntung di sini, disamping
mereka mendapatkan perawatan yang baik dan memuaskan, angka kematian
dapat ditekan serendah mungkin. Buku dan buah pikiran Florence
Nightingale menjadi sangat bermanfaat dalam hal ini.
Pada tahun 1860 Florence menulis buku Catatan tentang Keperawatan
(Notes on Nursing) buku setebal 136 halaman ini menjadi buku acuan pada
kurikulum di sekolah Florence dan sekolah keperawatan lainnya. Buku ini
juga menjadi populer di kalangan orang awam dan terjual jutaan eksemplar di
seluruh dunia. Pada tahun 1861 cetakan lanjutan buku ini terbit dengan
tambahan bagian tentang perawatan bayi. Pada tahun 1869, Nightingale dan
Elizabeth Blackwell mendirikan Universitas Medis Wanita.
Pada tahun 1870-an, Linda Richards, "perawat terlatih pertama Amerika",
berkonsultasi dengan Florence Nightingale di Inggris, dan membuat Linda
kembali ke Amerika Serikat dengan pelatihan dan pengetahuan memadai
untuk mendirikan sekolah perawat. Linda Richards menjadi pelopor perawat
di Amerika Serikat dan Jepang. Pada tahun 1883 Florence dianugrahkan
medali Palang Merah Kerajaan (The Royal Red Cross) oleh Ratu Victoria.
Pada tahun 1907 pada umurnya yang ke 87 tahun Raja Inggris, di hadapan
beratus-ratus undangan menganugerahkan Florence Nightingale dengan
bintang jasa The Order Of Merit dan Florence Nightingale menjadi wanita

10
pertama yang menerima bintang tanda jasa ini. Pada tahun 1908 ia
dianugrahkan Honorary Freedom of the City dari kota London. Nightingale
adalah seorang universalis Kristen.[6] Pada tanggal 7 Februari 1837 – tidak
lama sebelum ulang tahunnya ke-17 – sesuatu terjadi yang akan mengubah
hidupnya: ia menulis, "Tuhan berbicara padaku dan memanggilku untuk
melayani-Nya."[7]

9. Meninggal Dunia
Florence Nightingale meninggal dunia di usia 90 tahun pada tanggal 13
Agustus 1910. Keluarganya menolak untuk memakamkannya di Westminster
Abbey, dan ia dimakamkan di Gereja St. Margaret yang terletak di East
Wellow, Hampshire, Inggris.

B.    TEORI KONSEP FLORENCE NIGHTINGALE


Teori / model konsep Florence Nightingale memposisikan lingkungan
sebagai focus asuhan keperawatan, dan perawat tidak perlu memahami seluruh
proses penyakit, model dan konsep ini dalam upaya memisahkan antara profesi
keperawatan dangan kedokteran. Orientasi pemberian asuhan keperawatan /
tindakan keperawatan lebih diorientasikan pada pemberian udara, lampu,
kenyamanan, kebersihan, ketenangan dan nutrisi yang adequate, dengan dimulai
dari pengumpulan data dibandingkan dengan tindakan pengobatan semata, upaya
teori tersebut dalam rangka perawat mampu menjalankan praktik keperawatan
mandiri tanpa bergantung pada profesi lain.
Model dan konsep ini memberikan inspisi dalam perkembangan praktik
keperawatan, sehingga akhirnya dikembangkan secara luas, paradigma perawat
dalam tindakan keperawatan hanya memberikan kebersihan lingkungan kurang
benar, akan tetapi lingkungan dapat mempengaruhi proses perawatan pada
pasien, sehingga perlu diperhatikan.
Teori Nightingale memandang Pasien dalam kontek lingkungan keseluruhan :
a. Lingkunganfisik
b. Psikologis
c. Sosial

Nightingale tidak memandang perawat secara sempit yang hanya sibuk


dengan masalah pemberian obat dan pengobatan, tetapi lebih berorientasi pada
pemberian udara, lampu, kenyamanan lingkungan, kebersihan, ketenangan dan
nutrisi yang adekuat ( Nightingale, 1860; Torres, 1986 ). Pemberian nutrisi yang
adekuat pada pasien sangatlah penting. Pasien memerlukan nutsrisi untuk
mempertahankan fungsi tubuh dan untuk tumbuh. Pasien harus mendapatkan
kalori yang cukup, dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan protein untuk menyuplai
energi. Tubuh pasien juga memerlukan asam amino yang ditemukan dalam
protein untuk membangun dan mempertahankan struktur sel dan jaringan yang
lebih besar. Dan akhirnya pasien pun memerlukan vitamin dan mineral untuk
metabilisme dan untuk mengatur banyak proses tubuh pasien. Individu yang sakit

11
memerlukan banyak makanan daripada orang sehat dalam upaya penyembuhan
dan pemulihan. Sebagai contoh pasien yang menjalani pembedahan membutuhkan
diet yang mengandung banyak vitamin C dan protein karena ini dapat membantu
penyemabuhan. Protein juga secara khusus penting untuk melawan infeksi karena
antibodi yang digunakan tubuh untuk melawan infeksi adalah protein. Diet
adekuat juga penting. Namun, banayak penyakit membuat seseorang sulit makan,
atau memebuata pasien sulit untuk mencerna makanan.

Melalui observasi dan pengumpulan data, Nightingale menghubungkan


antara status kesehatan klien dengan faktor lingkungan dan, sebagai hasil, yang
menimbulkan perbaikan kondisi higiene dan sanitasi selama perang Crimean.
Kondisi higene penting untuk membantu pasien tetap bersih dan untuk merawat
kulit, mulut, rambut, mata, telinga, kuku. Di jaman sekarang ketika seseorang
sakit, akan sulit memikirkan tentang mandi atau menyikat gigi atau membersihkan
kuku; bernapas atau mengatasi nyeri tampak lebih penting. Oleh karenanya,
perawat perlu melihat apakah pasien dapat mebersihkan diri mereka sendiri dan
membantu mereka bila mungkin. Penting untuk menanyakan pasien apa yang
biasanya mereka lakukan dan bagaimana mereka menginginkan bantuan. Praktik
budaya dan agama dapat membedakan praktik higiene. Higiene adalah sangat
pribadi dan masing – masing individu mempunyai ide yang berbeda tentang apa
yang mereka ingin lakukan. Jika memungkinkan, perawat harus membantu pasien
memeniuhi kebutuhan pribadinya daripada melakukan standar rutin.

Perawat adalah orang yang membantu proses penyembuhan penyakit


tetapi tidak untuk menyembuhkan penyakit. Ini karena tugas seorang perawat
adalah merawat orang yang sakit dan dokter adalah orang yang berperan penting
dan sangat membantu dalam proses penyembuhan penyakit. Itulah beda perwat
dan dokter.perawta juga bukan hanya memberikan obat untuk menyembuhkan
penyakit kepada si pasien tetapi mereka juga harus bisa membuat lingkungan
fisik, psikologis, sosial pasien sembuh. Setelah mereka merasa sehat atau sembuh
dari penyakit baik lahir maupun batin mereka tenang dan nyaman. Pada saat
pasien berada di rumah sakit pun perawat di tuntut untuk memberikan
kenyamanan bagi pasien, artinya kita bisa meringankan penderitaan sakit si pasien
itu dan dalam perawatan pasien tidak dibedakan yang kaya dan miskin.

Kelebihan Teori Keperawatan Florence Nightingale :


1. Salah satu kisah fakta yang mencetuskan teori modern dalam dunia
keperawatan.
2. Pada zaman keperawatan Florence Nightingale memandang pasien dalam
kontek keseluruhan lingkungan yaitu lingkungan fisik, psikologis, sosial.
3. Florence Nightingale memandang perawat tidak hanya sibuk dengan masalah
pemberian obat dan pengobatan saja, tetapi lebih berorientasi pada pemberian

12
udara, lampu, kenyamanan lingkungan, kebersihan, ketenangan, dan nutrisi
adekuat.
4. Pengkajian atau observasi yang dilakukan Florence Nightingale bukan demi
berbagai informasi atau fakta yang mencurigakan, tetapi demi penyalamatan
hidup dan meningkatkan kesehatan dan keamanan.
5. Semua tindakan yang dilakukan penuh kasih sayang dan bekerja untuk Tuhan
Y.M.E.
6. Asuhan keperawatan yang diberikan penuh dengan semangat semata-mata
untuk kesembuhan pasien.

Kelemahan Teori Keperawatan Florence Nightingale :


1. Teori Keperawatan Florence Nightingale sempat diragukan
kemampuannya.
2. Perawat pada saat itu dianggap pekerjaan remeh dan disepelekan oleh
banyak orang.
3. Kurangnya dukungan dari perawat lain dalam proses pelayanan dan
perkembangannya saat itu.
4. Kurangnya sarana dan pra-sarana yang menunjang.

13
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Florence nigtingale merupakan seorang perawat yang perlu ditiru


dalam proses keperawatan dan proses penyembuhan penyakit. Dia
merupakan lady with the lamp bagi pasien yang sakit. Maka kita sebagai
perawat hasuslah sebagi penerang bagi pasien yang kita rawat. Marilah
kita sebagai perawat berusaha untuk meringankan penderitaan pasien yang
kita rawat. Rawatlah pasien seperti kita merawat orang yang paling kita
sayang. Agar pasien merasa nyaman pada saat di sakit bukan menderita
lagi. jangan pantang menyerah dan berputus asa dalam merawat pasien.
Menjadi perawat bukanlah pekerjaan yang mudah, tetapi kalau kita tidak
mencoba kita tidak akan pernah bisa. Di dunia ini tidak ada yang tidak
mungkin kalau kita mempunyai tekad untuk melakukannya dengan gigih
dan rajin.

14
DAFTAR PUSTAKA

 https://www.academia.edu/6283099/Makalah_Florence?auto=download
 https://mediaangkona.blogspot.com/2013/12/makalah-florence-
nightingale.html
 http://wulanagustina22.blogspot.com/2015/09/makalah-konsep-dasar-
keperawatan-teori.html
 https://internasional.kompas.com/read/2018/03/27/18130021/biografi-
tokoh-dunia-florence-nightingale-perawat-dan-bidadari-berlampu?
page=all

15