Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Industri merupakan kumpulan perusahaan yg memproduksi barang dan jasa
dengan elastisitas silang (cross elasticities of demand) yg positif dan tinggi. Ekonomika
industri merupakan cabang ilmu ekonomi yg menjelaskan mengapa pasar diorganisasi
dan bagaimana pengorganisasiannya mempengaruhi cara kerja industri.
Ekonomi industri menelaah struktur pasar dan perusahaan yg secara relatif lebih
menekankan pada studi empiris faktor-faktor yg mempengaruhi struktur, perilaku dan
kinerja pasar. Perilaku industri dalam penelitian ini akan dianalisis secara deskriptif.
Perilaku industri menganalisis tingkah laku serta penerapan strategi yang digunakan oleh
perusahaan dalam suatu industri untuk merebut pangsa pasar dan mengalahkan
pesaingnya.
Dari hal ini dapat kita pahami betapa pentingnya Structure-Conduct-Performance
(SCP) dalam suatu industri. Serta dalam makalah ini akan membahas mengenai
keterkaitan antara SCP terhadap efisiensi suatu industri.

1.2 Rumusan Masalah


A. Jelaskan pengertian Industri serta ruang lingkupnya?
B. Jelaskan penafsiran para ahli mengenai Structure-Conduct-Performance (SCP)?
C. Jelaskan secara spesifik mengenai Structure-Conduct-Performance (SCP)?

1.3 Tujuan
A. Mengerti serta memahami pengertian Industri serta ruang lingkupnya.
B. Menelaah lebih mendalam mengenai SCP dari beberapa pendapat.
C. Memahami pengertian SCP serta faktor-faktor yang terkait.

1.4 Manfaat
Diharapkan pada pembahasan ini dapat menambah ilmu serta pengetahuan
mahasiswa mengenai Structure-Conduct-Performance (SCP). Kemudian dapat
menambah wawasan terhadap mata kuliah ekonomi industri itu sendiri.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Dan Ruang Lingkup Industri


Sempit : kumpulan perusahaan yg menghasilkan produk sejenis (atau
bersifat substitusi) dimana terdapat kesamaan bahan baku yg digunakan, proses,
bentuk produk akhir, dan konsumen akhir.
Luas : kumpulan perusahaan yg memproduksi barang dan jasa dg elastisitas
silang (cross elasticities of demand) yg positif dan tinggi. Ekonomika industri
merupakan cabang ilmu ekonomi yg menjelaskan mengapa pasar diorganisasi dan
bagaimana pengorganisasiannya mempengaruhi cara kerja industri.
Ekonomi industri menelaah struktur pasar dan perusahaan yg secara relatif
lebih menekankan pada studi empiris faktor-faktor yg mempengaruhi struktur,
perilaku dan kinerja pasar.
Ekonom Industri:
- Pokok bahasan: tingkah laku perusahaan-perusahaan yg ada di dalam suatu
industri.
- Dipelajari: langkah-langkah yg akan dilakukan oleh perusahaan terhadap para
pesaingnya dan terhadap para konsumennya: harga, promosi atau periklanan, serta
penelitian dan pengembangan (R&D).
- Menganalisis keterkaitan antara struktur pasar dan perilaku perusahaan dalam
penentuan kinerja perusahaan
Perbedaan dengan teori ekonomi mikro:
- Fokus analisis ekonomi mikro pada umumnya membahas struktur pasar yg
sederhana—persaingan dan monopoli. Sedangkan ekonomi industri membahas
aplikasi-aplikasi penting dari pasar oligopoli
- Secara fundamental, ekonomi industri sangat konsen dengan permasalahan
kebijakan pemerintah terhadap dunia bisnis (antimonopoli, regulasi, perijinan,
kepemilikan publik atau negara).
• Analisa ekonomi industri: Stucture-conduct-performance School danChicago
School.
• Stucture-conduct-performance School berargumen:
Monopoli adalah suatu fitur dari kebanyakan pasar:
- halangan paling serius untuk berfungsinya pasar secara efektif adalah perilaku
strategis oleh beberapa perusahaan untuk mencegah perusahaan lain untuk
bersaing.
- tujuannya: perusahaan dapat mencapai dan memelihara kekuatan untuk
mengendalikan harga dari produk-produk mereka.
- Implikasinya: pemerintah harus menerapkan satu kebijakan kompetisi untuk
membatasi perilaku strategis.

2.2 Penafsiran SCP Menurut Para Ahli


Salah satu kerangka dasar dalam analisis ekonomi industri adalah hubungan
antara Struktur-Perilaku-Kinerja atau Structure-Conduct-Performance (SCP).
Hubungan paling sederhana dari ketiga variabel tersebut adalah hubungan linier di
mana struktur mempengaruhi perilaku kemudian perilaku mempengaruhi kinerja.
Dalam SCP hubungan ketiga komponen tersebut saling mempengaruhi termasuk
adanya faktor-faktor lain seperti teknologi, progresivitas, strategi dan usaha-usaha
untuk mendorong penjualan (Martin, 2002).
Struktur (structure) suatu industri akan menentukan bagaimana perilaku para
pelaku industri (conduct) yang pada akhirnya menentukan kinerja (performance)
industri tersebut. Gambar 1 menunjukkan hubungan linier Struktur-Perilaku-
Kinerja (SCP) suatu perusahaan.

Sumber: Martin, 2002.

Gambar 1. Kerangka Struktur, Perilaku dan Kinerja Industri


Struktur sebuah pasar akan mempengaruhi perilaku perusahaan dalam pasar
tersebut yang secara bersama-sama menentukan kinerja sistem pasar secara
keseluruhan. Kinerja suatu industri diukur antara lain dari derajat inovasi, efisiensi
dan profitabilitas. Dalam struktur pasar terdapat tiga elemen pokok yaitu pangsa
pasar (market share), konsentrasi pasar (market contcentration) dan hambatan-
hambatan untuk masuk pasar (barrier to entry).
Penelitian ini Kuncoro (2007) bertujuan untuk mengetahui struktur-perilaku-
kinerja subsektor agroindustri di Indonesia, dengan menggunakan model Input-
Output. Tiga pendekatan digunakan yaitu, analisis keterkaitan ke depan dan ke
belakang untuk mengetahui struktur dalam subsektor agroindustri. Analisis
multiplier untuk mengetahui perilaku dalam sektor, mencakup angka pengganda
output, pendapatan dan tenaga kerja. Indikator multiplier ekspor dan derajat
ketergantungan ekspor digunakan untuk mengetahui kinerja subsektor agroindustri.
Temuan penelitian ini diantaranya, industri tekstil/pakaian jadi/kulit memiliki
kaitan ke belakang tinggi, namun kaitan ke depan rendah. Berdasarkan angka
penggandanya, industri ini memiliki angka pengganda output terbesar setelah
industri plastik-karet, angka pengganda pendapatan dan tenaga kerja lebih besar
dari dua. Sekitar 34,26 persen produksi industri ini diperuntukkan bagi pemenuhan
kebutuhan ekspor.
Perilaku industri dalam penelitian ini akan dianalisis secara deskriptif.
Perilaku industri menganalisis tingkah laku serta penerapan strategi yang
digunakan oleh perusahaan dalam suatu industri untuk merebut pangsa pasar dan
mengalahkan pesaingnya.
Analisis kinerja industri dilakukan dengan menggunakan analisis Price-
Cost-Margin (PCM). Analisis PCM digunakan untuk menganalisis hubungan
struktur pasar terhadap kinerja perusahaan. PCM merupakan salah satu indikator
kinerja yang digunakan sebagai perkiraan kasar dari keuntungan industri. Variabel
endogen yang digunakan adalah proksi dari keuntungan industri yaitu PCM
sedangkan variabel eksogennya adalah jumlah perusahaan, pengeluaran untuk
pekerja, pengeluaran untuk bahan bakar, pengeluaran untuk bahan baku dan nilai
keluaran. PCM dihitung dari (keuntungan penjualan – biaya material)/keuntungan
penjualan. Keuntungan diperoleh dari pengurangan antara nilai keluaran (output)
dengan seluruh biaya produksi. Metode analisis yang digunakan adalah panel data.
Periode estimasi yang digunakan dari tahun 2000-2005 pada industri ISIC 171
PPPT (pemintalan, pertenunan dan pengolahan akhir tekstil), ISIC 172/173 TPP
(barang jadi tekstil dan permadani serta perajutan) dan ISIC 181 PJNB (pakaian
jadi non berbulu).
Data panel merupakan kombinasi dari data runtut waktu (time series) dan
data silang tempat (cross section), lihat Gujarati (2003). Keunggulan dari
penggunaan data panel dalam suatu analisis regresi/estimasi sebagaimana telah
dirumuskan oleh Baltagi (dalam Gujarati, 2003), yaitu (1) Memunculkan
heterogenitas secara eksplisit ke dalam perhitungan dengan memasukkan variabel-
variabel individu-tertentu; (2) Kombinasi data runtut waktu dan silang tempat
dalam data panel akan mampu memberikan ―data yang lebih informatif, bervariasi,
mengurangi kollinieritas pada sejumlah variabel, menambah degree of freedom dan
lebih efisien‖; (3) Dengan melakukan pengulangan pada observasi silang tempat,
data panel lebih baik untuk mempelajari/mengestimasi perubahan dinamik; (4)
Data panel mampu mendeteksi dengan lebih baik dan mengukur dampak yang
tidak dapat dilakukan dengan menggunakan data silang tempat atau runtut waktu;
(5) Data panel memberikan informasi kepada penggunanya untuk mempelajari
model-model perilaku yang lebih kompleks; (6) Dengan jumlah data yang banyak
memungkinkan data panel mampu untuk mengurangi bias data pada waktu
dilakukan agregasi.
Metode-metode yang digunakan untuk mengestimasi data panel ada
beberapa jenis, yaitu: metode fixed effect dan random effect (lihat Gujarati, 2003
dan Widarjono, 2005). Estimasi data panel dengan menggunakan metode fixed
effect adalah; (1) diasumsikan seluruh koefisien (intersep dan slope) tetap
sepanjang waktu (time series) dan individu (cross section) atau disebut sebagai
estimasi common effect, (2) diasumsikan slope konstan tetapi intersep berbeda
antar individu (disebut juga estimasi fixed effect atau least square dummy variable
– LSDV), (3) diasumsikan intersep dan slope berbeda antar waktu dan individu,
dan (4) diasumsikan intersep dan slope berbeda antar individu.
Selain pola perdagangan, perilaku industri dapat dicermati melalui
produktivitas dan efisiensinya. Berdasarkan data industri tekstil dan pakaian jadi
skala besar dan sedang dapat dibandingkan perubahan rata-rata pengeluaran per
tenaga kerja (upah per tenaga kerja), efisiensi, dan produktivitas atau penggunaan
input per satu output tahun 2000 dan 2005. Perbandingan ini dilakukan untuk
melihat apakah industri ini semakin efisien atau tidak.

2.3 Kerangka Kerja Struktur-perilaku-kinerja


1. Struktur
Pengertian struktur (dalam konteks ekonomi industri) : sifat permintaan dan
penawaran barang dan jasa yg dipengaruhi oleh jenis barang yg dihasilkan, jumlah
dan ukuran distribusi penjual (perusahaan) dalam industri, jumlah dan ukuran
distribusi pembeli, diferensiasi produk serta mudah tidaknya (persyaratan) masuk
ke dalam industri.
 Struktur industri merupakan cerminan struktur pasar suatu industri.
 Pasar dalam arti sempit merupakan tempat bertemunya pembeli dan penjual.
Dalam arti luas, pasar adalah wujud abstrak suatu mekanisme ketika pihak pembeli
dan penjual bertemu untuk mengadakan transaksi yg melibatkan harga dan
kuantitas.
Jenis struktur pasar :
 Monopoli : produsen tunggal, produk tanpa barang substitusi yg dekat.
 Persaingan sempurna : produsen banyak, produk identik
 Persaingan tidak sempurna ;
 Oligopoli : produsen sedikit, sedikit perbedaan dlm produk.
 Persaingan monopolistik : produsen banyak,
produk terdiferensiasi.
Unsur-unsur struktrur pasar :
 Jumlah dan Ukuran Distribusi Penjual
 Jumlah dan Ukuran Distribusi Pembeli
 Diferensiasi Produk
 Persyaratan masuk

2. Prilaku
Dalam ekonomi industri, perilaku diartikan sbg cara yg dilakukan oleh
perusahaan agar mendapatkan pasar. Dengan kata lain, perilaku merupakan pola
tanggapan dan penyesuaian berbagai perusahaan yg terdapat dalam suatu industri
untuk mencapai tujuannya dan mengahadapi persaingan.
Perilaku dapat dilihat sebagai cara perusahaan menentukan harga jual,
promosi produk (iklan), koordinasi kegiatan di dalam pasar (kolusi, kartel, dsb),
serta penelitian dan pengembangan (R&D).
Perilaku perusahaan adalah satu hal yang menarik hanya ketika persaingan
adalah tak sempurna. Dalam suatu pasar persaingan sempurna, satu perusahaan
tidak dapat menentukan harga pasar. Dalam keadaan yang demikian suatu
perusahaan tidak memiliki perangsang untuk beriklan, untuk bereaksi pada
saingan-saingan, atau untuk berusaha mencegah terjadinya entry. Sekalipun
banyak perusahaan kecil dalam suatu industri kompetitif bisa mengkoordinir suatu
kartel, perusahaan baru akan masuk ke dalam pasar. Situasi ini adalah berbeda bila
kompetisi adalah tak sempurna.
• Unsur-unsur perilaku perusahaan :
• Kolusi/Kerjasama
• Perilaku Strategis
• Iklan / Penelitian dan Pengembangan

3. Kinerja
Kinerja merupakan hasil kerja yg dipengaruhi oleh struktur dan perilaku
industri dimana hasil biasa diidentikkan dg besarnya penguasaan pasar atau
besarnya keuntungan suatu perusahaan di dalam suatu industri.
Secara lebih rinci, kinerja dapat pula tercermin melalui efisiensi,
pertumbuhan (termasuk perluasan pasar), kesempatan kerja, kesejahteraan
personalia, serta kebanggaan kelompok.
Unsur-unsur kinerja pasar :
• Profitability
• Efficiency
• Progressiveness

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Ekonomi industri menelaah struktur pasar dan perusahaan yg secara relatif
lebih menekankan pada studi empiris faktor-faktor yg mempengaruhi struktur,
perilaku dan kinerja pasar.
Penelitian ini Kuncoro (2007) bertujuan untuk mengetahui struktur-perilaku-
kinerja subsektor agroindustri di Indonesia, dengan menggunakan model Input-
Output. Tiga pendekatan digunakan yaitu, analisis keterkaitan ke depan dan ke
belakang untuk mengetahui struktur dalam subsektor agroindustri. Analisis
multiplier untuk mengetahui perilaku dalam sektor, mencakup angka pengganda
output, pendapatan dan tenaga kerja. Indikator multiplier ekspor dan derajat
ketergantungan ekspor digunakan untuk mengetahui kinerja subsektor agroindustri.
Salah satu kerangka dasar dalam analisis ekonomi industri adalah hubungan
antara Struktur-Perilaku-Kinerja atau Structure-Conduct-Performance (SCP).
Hubungan paling sederhana dari ketiga variabel tersebut adalah hubungan linier di
mana struktur mempengaruhi perilaku kemudian perilaku mempengaruhi kinerja.
Dalam SCP hubungan ketiga komponen tersebut saling mempengaruhi termasuk
adanya faktor-faktor lain seperti teknologi, progresivitas, strategi dan usaha-usaha
untuk mendorong penjualan (Martin, 2002).
http://theo-education.blogspot.com/2013/03/ekonomi-industri.html EKONOMI INDUSTRI

Program Web Suplement ini akan membahas tentang organisasi industri dengan
menggunakan pendekatan Struktur, Perilaku, Kinerja atau SCP (Structure, Conduct,
Performance). Secara lebih terperinci, pembahasan meliputi hal-hal sebagai berikut : (1)
Struktur Pasar, yaitu menjelaskan tentang pentingnya mempelajari ekonomi Industri,
pengertian pasar, struktur pasar dan jenis-jenis struktur pasar; (2) Perilaku Industri, yaitu
membahas mengenai model-model perilaku perusahaan dalam industri, dalam hal ini
difokuskan pada perilaku harga pada perusahaan dalam struktur pasar oligopoli ; dan (3)
Kinerja Industri, yang diukur dengan beberapa indikator, yaitu efisiensi, produktifitas, profitability
dan penguasaan pasar (market share)
Pasar monopoli

Struktur pasar monopoli telah dikenal sejak zaman klasik bersamaan dengan
struktur pasar persaingan sempurna. Struktur pasar monopoli, struktur oligopoli dan
persaingan monopolistik merupakan struktur persaingan tidak sempurna (imperfect
competition). Definisi yang klasik tentang struktur pasar monopoli adalah satu-satunya
produsen atau penjual tunggal barang dan jasa dalam suatu pasar barang dan jasa.
Tetapi berdasarkan perkembangannya jumlah satu menjadi kurang relevan karena
dapat juga industri yang terdiri lebih dari satu perusahaan dapat mempunyai perilaku
seperti monopoli, Sehingga muncul istilah derajat monopoli. Dengan pengertian derajat
monopoli ini, maka pengertiannya sering berimpit dengan oligopoli penuh (full
oligopoly). Pengertian lain dari pasar monopoli adalah bentuk pasar dimana terdapat
perusahaan tunggal yang menjual komoditi yang tidak mempunyai subsitusi barang
subsitusi dekat (closed substitute) . Hal ini bukan berarti barang subsitusi tidak
mungkin ada dalam struktur pasar monopoli. Namun, artinya adalah harga produk lain
dapat turun secara signifikan tanpa menyebabkan produk monopolis menjadi tidak laku
karena penurunan harga berarti permintaan produk monopolis tidak dipengaruhi oleh
penurunan harga barang lain.
Dalam analisa yang konvensional, kasus monopoli diambil sebagai lawan dari
persaingan sempurna. Per definisi, kurva yang dihadapi oleh monopolis adalah kurva
permintaan industri yang miring ke bawah. Jadi, monopolis punya kekuatan yang
berarti terhadap harga yang dikenakan, yaitu sebagai penetap harga (price setter) dan
bukan sebagai pengambil harga (price taker)
Perbandingan monopoli dan persaingan sempurna menunjukkan bahwa monopolis
akan menetapkan harga yang lebih tinggi, menghasilkan output yang lebih rendah dan
memperoleh keuntungan diatas normal. Ini berarti konsumen akan menghadapi harga
yang lebih tinggi, yang membawa kerugian kesejahteraan (dead weigth loss).
Monopoli hanya bisa berlanjut keberadaannya apabila ada rintangan masuk (barrier
to entry). Rintangan masuk yang dipertahankan monopoli sering diasosiasilan dengan
perlindungan hukum yang diciptakan melalui paten dan franchise monopoli. Tetapi
beberapa monopoli diciptakan dan dipertahankan melalui sikap strategis atau
ekonomi. maksudnya adalah monopoli alamiah yang sering ditandai oleh biaya marjinal
dan biaya rata-rata yang berlangsung lama dan menurun dengan tajam dan ukuran
pasar sedemikian sehingga hanya cukup untuk satu perusahaan untuk melayani pasar
yang ada. Monopoli alamiah yang ada dalam industri misalnya adalah seperti listrik,
kereta api, gas alam dan telekomunikasi.
Ada beberapa penyebab yang mendorong hadirnya struktur pasar monopoli,
terutama dalam industri pengolahan.
Pertama, merjer, yaitu penggabungan dua atau lebih perusahaan menjadi satu atau
membentuk suatu perusahaan baru. Merjer adalah suatu cara perusahaan
dapat meningkatkan ukurannya yang menyebabkan pangsa pasar menjadi
semakin besar. Beberapa alasan melakukan merjer adalah untuk
meningkatkan efisiensi ekonomi, meningkatkan kekuatan pasar, memperluas
pasar pada geografis yang berbeda dan untuk mengejar tingkat keuntungan.
Kedua, skala ekonomi yang besar yang ditunjang efisiensi, dengan skala ekonomi
yang besar maka banyak aspek biaya yang dapat diturunkan, seperti harga
beli input, biaya pengangkutan, biaya penyimpanan, biaya pemasaran dan
sebagainya. Tetapi yang terjadi di negara-negara berkembang justru
sebaliknya, dan hal ini berkaitan dengan masalah eksternal industri tersebut
dan juga ketergantungan pada faktor luar, seperti impor bahan baku, public
utilities yang relatif mahal. Disamping itu faktor internal juga dapat
mendorong industri kurang efisien, misalnya pimpinan yang boros, under
capacity, dan disiplin tenaga kerja yang rendah.
Ketiga, efisiensi dan inovasi. Penelitian dan pengembangan membutuhkan waktu
yang yang lama dan dana yang sangat besar. Hal itulah yang menyebabkan
industri monopoli membutuhkan tingkat laba yang relatif besar dalam usaha
membiayai penelitian-penelitiannya. Dengan adanya barang-barang baru
yang diproduksi maka barang tersebut memerlukan paten, yang merupakan
hak untuk bagi monopolis untuk memperoduksi dalam jangka waktu tertentu
Keempat,fasilitas pemerintah, Hal ini kelihatannya agak aneh, karena pemerintah
sendiri kadang-kadang dan malahan pada umumnya kurang senang dengan
monopoli. Dalam hal ini yang dimaksud adalah monopoli alamiah (natural
monopoly), walaupun banyak petunjuk mengenai monopoli, dimana swasta
mendapat perlindungan sehingga mendapat hak-hak yang cenderung
monopoli. Beberapa contoh industri yang mempunyai struktur monopoli
alamiah adalah listrik, kereta api, gas alam dan telekomunikasi. Bentuk lain,
terjadinya penunjukkan untuk memperoduksi barang-barang tertentu, dan
tidak diberi izin bagi perusahaan lain, kecuali yang ditunjuk oleh pemerintah.
Kelima, terjadinya persaingan yang tidak sehat, yaitu mebuat rintangan masuk bagi
perusahaan lain, sehingga lawan yang menjadi saingan akan keluar dari
pasar (exit)
Keenam, perusahaan memperolah hak-hak istimewa dalam mengelola input yang
bagi perusahaan lain sukar memperolehnya. Oleh karena itu, perusahaan
yang monopoli mendapatkan efisiensi dalam sumber input. Dalam hal ini
dapat terjadi struktur yang memonopoli input atau yang sering disebut
monopsoni.
Pada masa sekarang, struktur monopoli sulit ditemui karena hampir di setiap
negara terdapat undang-undang anti monopoli (antitrust law). Di Amerika Serikat,
setiap orang yang bertindak sebagai monopoli atau mencoba untuk memonopoli atau
melakukan konspirasi dengan orang lain atau pihak lain dalam beberapa negara bagian
dapat dipersalahkan. Di Indonesia sendiri, jasa kereta api oleh PT KAI tergolong
monopoli, namun secara tidak langsung mendapat persaingan dari perusahaan
angkutan darat lain. Persaingan demikian biasa disebut �persaingan potensial�.
Karena adanya persaingan potensial, sebuah perusahaan yang sebenarnya merupakan
monopoli murni tidak dapat dikatakan lagi sebagai monopoli murni.
Pasar monopoli memiliki beberapa karakteristik yang terkait dengan struktur pasar.
Karakteristik tersebut dapat menurunkan profitabilitas pemain baru yang ingin
memasuki pasar. Dengan demikian pemain baru harus mengantisipasi kemungkinan
mengalami keuntungan negatif setelah memasuki pasar. Untuk menghadapi pemain
baru dalam trangka memaksimumkan keuntungan maka pemain lama harus bekerja
agresif dalam menjaga tingkat produksi dan memberikan harga yang rendah. Perilaku
agresif pemain lama dari segi profitabilitas dan kredibilitas dalam menjaga dominasinya
di pasar sangat dipengaruhi oleh kondisi struktural industri.
Ada empat karakteristik struktural yang menyebabkan halangan dalam memasuki
pasar, yaitu:
Pertama, skala ekonomi, jika skala ekonomi bersifat ekstensif dari basis yang
digunakan untuk memasuki pasar adalah basis biaya, maka pemain baru
harus menetapkan harga yang relatif rendah. Memasuki pasar dengan
pangsa pasar yang relatif kecil akan memberikan dampak yang kecil pada
harga, tetapi harga rata-rata pemain baru akan menjadi sangat tinggi.
Kedua, Sunk expenditure oleh pemain baru. Investasi yang harus dikeluarkan untuk
memasuki suatu pasar biasanya tidak dapat dikembalikan lagi. Beberapa
jenis biaya merupakan biaya tetap (fixed cost) yang sangat berpengaruh
pada skala ekonomi (economies of scale)
ketiga, keunggulan yang disebabkan oleh keunggulan biaya absolut (absolute
cost advantage). Pemain lama umumnya memiliki biaya produksi yang
lebih rendah dibandingkan dengan pemain baru. Pada hampir semua skala
operasi, pemain lama biasanya lebih efisien dibandingkan dengan pemain
baru. Hal ini disebabkan pemain lama memiliki akses untuk mendapatkan
faktor-faktor produksi atau teknologi produksi yang lebih murah dan efisien
dibandingkan pemain baru.
keempat, sunk expenditure oleh konsumen dan difrensiasi produk. Jika seorang
konsumen diharuskan mengeluarkan biaya dalam menggunakan sebuah
produk, maka ia akan keberatan pindah ke produk lain. Alasannya dengan
mengalihkan konsumsinya pada produk lain maka ia akan mengeluarkan
biaya tambahan baru. Keberadaan biaya tambahan akan menciptakan
loyalitas terhadap produk lama. Biaya dalam mengganti penggunaan ke
produk baru akan menimbulkan beberapa biaya, antara lain; (1) biaya dalam
pembelajaran mengenai cara menggunakan sebuah produk; (2) investasi
dalam membeli pelengkap bagi produk utama; (3) biaya karena kehilangan
jaringan; (4) biaya dalam mengetahui kualitas barang; serta (5) ketidak
cocokan antara selera dan preferensi konsumen dengan karakteristik
produk. Selain biaya-biaya di atas, ada hal lain yang mendorong seseorang
sulit mengganti konsumsinya ke produk lain, yaitu diferensiasi produk.
Diferensiasi produk berarti konsumen tidak memandang produk baru yang
ditawarkan di pasar sebagai subsitusi produk lama, sehingga sulit bagi
konsumen untuk beralih ke produk lain. Diferensiasi produk akan
meningkatkan halangan dalam memasuki pasar.

Berdasarkan batasan tentang monopoli diatas, monopoli tidak hanya diartikan


dalam bentuk satu-satunya penjual, tetapi lebih dari satu apabila mereka melakukan
kolusi maka dapat dikatakan sebagai monopoli. Machlup mengelompokkan monopoli
menjadi empat kategori, yaitu : (1) monopoli karena kolusi, kartelisasi dan kerja sama;
(2) monopoli yang timbul karena konsentrasi, merjer, dominasi dan tekanan
(depression); (3) monopoli karena adanya rintangan masuk, proteksi, lisensi dan
penyingkiran; dan (4) monopoli non kolusif, yaitu monopoli tanpa perlindungan dan juga
tanpa tekanan (natural monopoly).

Struktur industri oligopoli semakin penting untuk dipelajari karena struktur pasar ini
merupakan campuran antara struktur pasar persaingan sempurna dan monopoli. Pasar
oligopoli dapat dibagi dalam dua tipe, yaitu: Pertama, seorang oligopolis merupakan
salah seorang dari beberapa penjual yang memproduksi barang yang identik (atau
hampir identik), sehingga bila terdapat perubahan pada harga sekecil apapun, maka
akan dapat menyebabkan konsumen beralih kepada produsen lainnya. Walaupun
demikian, jika jumlah penjual sedikit, masing-masing penjual mempunyai pengaruh
pada harga pasar.
Tipe kedua, seorang oligopolis merupakan salah seorang dari beberapa penjual
yang memproduksi barang dengan diferensiasi produk (jadi bukan barang identik).
Dengan demikian, oligopoli adalah persaingan diantara penjual, tetapi persaingan bisa
menjadi sangat tajam.
Istilah oligopoli sangat bervariasi walaupun mempunyai pengertian yang hampir
sama, misalnya Cournot menyebut sebagai persaingan dua produsen, dan Machlup
memberi batasan oligopoli dengan penjual yang sedikit (few sellers). Beberapa istilah
lain tentang oligopoli adalah struktur persaingan terbatas (limited competition), monopoli
tidak lengkap (incomplete monopoly), monopoli ganda (multiple monopoly), dan
Chamberlin menyebutnya sebagai persaingan monopolistik.
Berbagai jenis oligopoli dapat muncul karena ciri-cirinya yang berlainan. Dilihat dari
jenis produk, apabila barang yang dihasilkan berbeda dinamakan differentiated
oligopoly, apabila jenis barang yang dihasilkan relatif homogen disebut pure oligopoly.
Kemudian ditinjau dari kondisi masuk (entry), apabila kondisi masuk pasar mudah
disebut open oligopoly, dan apabila kondisi masuk pasar sulit disebut closed oligopoly.
Disamping itu masih banyak istilah lain tentang oligopoli dilihat dari sudut pandang yang
juga berbeda.
Carl Keysan dan Donal F Turner (1959) merupakan tokoh yang membuat batasan
tentang jumlah perusahaan yang menguasai berapa bagian pasar. Menurut mereka,
ada tiga kelompok oligopoli, yaitu :
1. Oligopoli yang di dalamnya terdapat 8 perusahaan terbesar yang setidak-
tidaknya menguasai satu jenis industri atau 20 perusahaan yang menguasai
pangsa pasar 70%.
2. Oligopoli dengan 8 perusahaan yang menguasai sekurang-kurangnya 33%
suatu pasar industri atau sejumlah perusahaan yang memegang andil setidak-
tidaknya 75% pasar suatu industri.
3. Oligopoli dengan 8 perusahaan terbesar menguasai pasar kurang dari 33%
yang biasanya disebut industri tidak terkonsentrasi.

Pasar oligopoli terbagi menjadi dua, yaitu oligopoli ketat (tight oligopoly) dan
oligopoli longgar (loose oligopoly). Dalam konteks oligopoli ketat, kemiripan antar
perusahaan yang terdapat di pasar sangatlah kecil, sehingga dalam struktur tersebut
perusahaan yang terlibat memiliki banyak pilihan dalam mengimplementasikan
strateginya. Struktur pasar yang demikian memungkinkan pula terjadinya persaingan
yang sehat antar perusahaan. Pada struktur pasar ini, perusahaan-perusahaan yang
terlibat dapat bekerja sama dalam beberapa hal yang menyangkut kepentingan
bersama. Sebagai contoh adalah persaingan antara Pepsi Cola dan Coca Cola di
Amerika Serikat. Kedua perusahaan membuat iklan untuk produknya tanpa saling
menjatuhkan. Iklan yang saling menjatuhkan akan menimbulkan persepsi jelek di mata
konsumen terhadap pasar cola secara keseluruhan. Konsekuensinya, dalam struktur
pasar oligopoli ketat yang intensif dilakukan oleh perusahaan adalah pemasaran produk
mereka yang mengangkat kelebihan produk masing-masing dan mengurangi
melakukan strategi perang harga. Dalam struktur pasar ini, perusahaan harus lebih
sensitif dalam bereaksi terhadap strategi pesaingnya.
Bentuk lain pasar oligopoli adalah oligopoli longgar. Dalam struktur pasar tersebut,
ada dua strategi dalam mendapatkan keuntungan. Strategi pertama adalah strategi
diferensiasi produk dan yang kedua adalah membuat inovasi yang akan merubah
orientasi pasar. Strategi diferensiasi produk tidak selalu efektif dalam setiap industri.
Sebagai contoh, dferensiasi produk relatif efektif di industri rokok. Namun, strategi
tersebut menjadi tidak efektif jika diterapkan pada industri bahan bakar minyak.
Alasannya, industri bahan bakar minyak adalah industri yang memiliki regulasi ketat
menyangkut produknya.
Strategi lain dalam loose oligopoly adalah inovasi produk. Inovasi bertujuan
mengubah peta industri yang akan menyebabkan besarnya halangan perusahaan lain
untuk masuk ke industri tersebut (barrier to enty).
Dalam pasar persaingan monopolistik, ada sejumlah besar perusahaan yang
menghasilkan produk-produk terdiferensiasi. Struktur demikian mengandung
persaingan sempurna karena terdapat banyak penjual dan tidak ada satupun yang
mendapatkan pangsa pasar cukup besar. Perbedaan antara pasar monopolistik dan
pasar persaingan sempurna terletak pada diferensiasi produk (tidak identik).
Sementara itu pada pasar persaingan sempurna, produk yang diperjualbelikan adalah
identik (homogen) dan tidak memiliki diferensiasi.
Sebuah industri dikatakan memiliki struktur pasar persaingan monopolistik jika
memenuhi syarat-syarat berikut:
1. ada banyak penjual dan pembeli
2. Setiap perusahaan dalam industri menghasilkan produk yang terdiferensiasi
3. adanya kebebasan untuk keluar masuk industri
Syarat tersebut merupakan syarat pula bagi industri dengan struktur persaingan
sempurna. Namun, ada perbedaann antara kedua jenis struktur industri.
Perbedaannya adalah pada industri dengan struktur pasar persaingan monopolistik
setiap perusahaan menghasilkan produk yang agak mirip atau memiliki perbedaan yang
tidak signifikan. Namun, barang-barang tersebut tidak bisa saling mensubsitusi.
Sebagai contoh, ceteris paribus, perusahaan fast food seperti McDonald dan Wendy�s
memiliki produk hamburger yang masing-masing mempunyai pelanggan. Jika harga
hamburger di McDonald naik, maka akan meningkatkan permintaan hamburger di
Wendy�s. Namun, ada sebagian pelanggan yang mengkonsumsi burger MCDonald
karena kedua hamburger memiliki ciri yang membedakan satu sama lain.
Karena produk-produk yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan pada industri
dengan struktur persaingan monopolistik tidak bersifat suntitusi sempurna, maka setiap
perusahaan pada industri memiliki kurva permintaan yang memiliki kemiringan (slope)
negatif. Untuk menjual produk yang lebih banyak, perusahaan-perusahaan tersebut
harus menurunkan harga. Akibatnya, kurva permintaan yang dihadapi oleh
perusahaan-perusahaan kurang lebih seperti kurva permintaan monopolis dibandingkan
dengan kurva permintaan untuk produk perusahaan industri persaingan sempurna.
Pada industri dengan struktur persaingan monopolistik, produk yang dihasilkan
terdiferensiasi. Akibatnya, satu-satunya alasan mengapa perusahaan dalam industri
yang berstruktur persaingan monopolistik dapat mengontrol harga produk-produk
mereka hanyalah subyektifitas konsumen yang memandang produk-produknya
berbeda. Permintaan akan produk-produk tersebut pun menjadi tidak elastis.
Ketidakelastisan permintaan akan produk-produk membuka kesempatan perusahaan-
perusahaan produsen untuk menghasilkan keuntungan di atas normal.
Oleh sebab itu, perusahaan-perusahaan pada industri yang memiliki struktur
persaingan monopolistik berusaha meyakinkan konsumennya bahwa produk mereka
berbeda dan lebih baik dari perusahaan lain. Untuk meyakinan konsumennya,
perusahaan-perusahaan umumnya menjalankan dua strategi. Strategi pertama,
perusahaan-perusahaan akan mengeluarkan dana yang besar untuk mempromosikan
produknya. Strategi ini dijalankan dengan cara iklan komparatif (comparative
advertising), yaitu iklan yang didesain untuk menonjolkan perbedaan produk atau merek
perusahaannya terhadap produk atau merek lain. Iklan seperti demikian sering
ditemukan pada industri makanan siap saji, dimana perusahaan sepert McDonald
berupaya meningkatkan permintaan akan hamburgernya dengan melakukan
diferensiasi produk dibandingkan merek lain. Seberapa jauh iklan ini efektif akan
mendorong konsumen bersedia membayar premi harga atas suatu merek. Tambahan
nilai yang muncul akibat tambahan merek atas suatu produk disebut brand equity.
Strategi kedua, perusahaan-perusahaan tersebut memperkenalkan pula produk
baru yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Strategi seperti demikian disebut
pemasaran ceruk (niche marketing), yaitu produk atau jasa yang ditujukan pada
sekelompok konsumen tertentu. Sebagai contohnya adalah green marketing, yaitu
memperkenalkan produk ramah lingkungan pada konsumen. Oleh karena itu, seorang
manajer yang bergelut pada pasar persaingan monopolistik harus memperhatikan isu
lingkungan dalam melaksanakan strategi kedua. Misalnya, ditempelkannya label di
bungkus yang menunjukkan bahwa suatu mainan dibuat dari plastik yang didaur ulang;
suatu merek deterjen dibuat secara biodegradable.
Ketika sebuah perusahaan membangun lini produk yang baru dan menikmasti
keuntungan jangka pendek, maka akan mengundang banyak perusahaan masuk dalam
pasar tersebut dan meniru apa yang dilakukan oleh perusahaan yang lebih dahulu
masuk pasar. Akibatnya, dalam jangka panjang keuntungan yang diperoleh
perusahaan inovator akan menjadi nol.
Pasar persaingan sempurna (perfect competition) adalah struktur merupakan pasar
dimana banyak produsen dan banyak pembeli untuk barang yang bersifat sama.
Adapun karakteristik atau asumsi yang mendasari pasar persaingan sempurna adalah
sebagi berikut:
(1) Produk homogen (homogenous product). Produk yang homogen umumnya
disebabkan tidak adanya preferensi oleh konsumen terhadap produk di pasar
persaingan sempurna. Konsumen tidak menjadikan merek (brand) sebagai
pertimbangan dalam keputusannya untuk membeli atau tidaknya suatu produk.
Dengan kata lain, produk yang satu dengan produk yang lainnya dapat
disubstitusi dengan sempurna. Konsumen tidak merasakan perbedaan dalam
mengkonsumsi barang tersebut. Ini berarti, tidak ada perbedaan kualitas, input
yang digunakan, rasa, bentuk dan lain-lain untuk suatu produk dalam pasar
persaingan sempurna. Asumsi ini disebut asumsi homogenitas
(2) Jumlah penjual dan pembeli sangat banyak. Kondisi seperti ini akan
menyebabkan konsumen bertindak sebagai penerima harga (price taker)
karena barang yang dibeli hanya merupakan sebagian kecil dari seluruh
komoditas yang diperjualbelikan. Demikian juga dari sisi penjual, sebagaimana
pembeli penjual tidak dapat mempengaruhi harga. Hal ini dilatar belakangi
oleh barang yang dijual oleh penjual merupakan sebagian kecil dari
keseluruhan komoditas yang diperjualbelikan. Seseorang atau beberapa orang
penjual atau pembeli tidak mempunyai pengaruh dalam pasar. Banyaknya
jumlah penjual dan pembeli menyebabkan kolusi dalam pasar persaingan
sempurna sulit dilakukan.
(3) Informasi sempurna (perfect information). Setiap pembeli atau penjual
mempunyai informasi yang sangat lengkap tentang keadaan pasar barang dan
jasa. Informasi yang sempurna ini menyebabkan pembeli tidak akan membeli
produk dengan harga di atas harga pasar, ceteris paribus. Akibatnya,
perusahaan yang menjual barang di atas harga pasar tidak menjual apa pun,
karena tidak ada pembeli yang membelinya. Informasi yang sempurna
menyebabkan pelaku ekonomi tidak membutuhkan pengorbanan apapun untuk
mengakses informasi. Informasi yang sempurna menyebabkan harga tunggal
(single price) dalam suatu pasar dapat terjadi.
(4) Tidak ada halangan atau rintangan untuk masuk (entry) dan juga tidak ada
larangan untuk keluar (exit). Bila suatu perusahaan mengambil keputusan
untuk memasuki suatu usaha (industri) maka tidak ada larangan atau
rintangan. Begitu juga kalau perusahaan tidak mampu maka dia bisa keluar.
Tidak ada bantuan untuk tidak keluar (misalnya pemberian subsidi dan kredit)
karena pengusaha sangat rasional. Dia boleh masuk dan keluar dengan bebas
(free entry and free exit).
(5) Tidak ada regulasi pemerintah. Tidak ada larangan atau izin tertentu. Kalau
suatu perusahaan mau beroperasi, mendirikan pabrik, dan menjual produknya
ke pasar maka tindakannya dilakukan tanpa surat-surat izin. Demikian juga,
tidak ada tarif, subsidi dan kuota.
Dalam pasar persaingan sempurna, harga telah ditentukan pasar (harga cenderung
konstan), sehingga untuk mendapatkan keuntungan maksimum seorang produsen
hanya dapat mencapainya melalui keputusan banyaknya jumlah produk yang akan
dijual.

Gambar 1

Pasar Persaingan Sempurna

Dalam gambar terlihat kurva biaya marjinal (MC), biaya rata-rata (ATC), penerimaan
marjinal (MR), penerimaan rata-rata (AR) dan kurva permintaan (d). Syarat terjadinya
keseimbangan adalah MR = MC, sedangkan pada saat itu MC = P. Tingkat keuntungan
yang diperoleh tergantung pada tingkat harga dan biaya yang dikeluarkan. Kalau kurva
permintaan semakin tinggi letaknya dari titik terendah ATC maka keuntungan semakin
besar. Sepanjang kurva permintaan itu berada diatas kurva ATC maka diperoleh laba
bersih (excess profit). Keadaan ini akan menarik perusahaan untuk masuk ke dalam
industri tersebut. Apabila kurva permintaan berada pada titik terendah ATC, atau pada
saat keseimbangan stabil, tidak terjadi entry maupun exit. Dalam kondisi ini, semua
perusahaan memperoleh keuntungan yang sama

Kartel adalah suatu perjanjian diantara perusahaan-perusahaan dalam industri


oligopoli. Para perusahaan besar dalam strukur oligopoli melakukan perjanjian
langsung dan formal sifatnya untuk mengurangi risiko persaingan yang sebenarnya
mereka saling mengalami ketergantungan Anggota kartel mungkin sepakat tentang
hal-hal seperti tingkat harga, jumlah produksi, pangsa pasar, alokasi pelanggan,
alokasi daerah, pengaturan penawaran, pembentukan agen penjualan bersama, dan
pembagian keuntungan dan atau kombinasi dari semuanya. Kartel dalam arti yang
luas adalah sama dengan bentuk �eksplisit� dari kolusi. Kartel dibentuk dari
keuntungan bersama dari perusahaan-perusahaan anggota. Teori oligopoli
�kooperatif� memberikan dasar untuk menganalisa formasi dan efek ekonomi dari
kartel. Secara umum, kartel atau sikap kartel mencoba untuk menandingi monopoli
dengan cara membatasi output industri, menaikkan atau menetapkan harga untuk
memperoleh keuntungan yang besar.
Suatu perbedaan perlu dijelaskan antara kartel umum dan kartel pribadi. Dalam
kartel umum pemerintah dapat membentuk atau memberlakukan peraturan yang
berkaitan dengan harga, output dan hal-hal lain semacam itu. Kartel ekspor dan kartel
perkapalan adalah contoh-contoh bentuk kartel umum. Dalam banyak negara kartel
telah diizinkan pada industri yang dianggap memerlukan stabilitas harga dan produksi
dan atau mengizinkan rasionalisasi industri dan kapasitas lebih. Di Jepang , misalnya,
pengaturan semacam ini telah diizinkan dalam perusahaan baja, peleburan aluminium,
pembuatan kapal dan berbagai industri kimia. Kartel umum juga diizinkan di Amerika
Serikat selama masa depresi dalam tahun 1930-an dan terus ada sampai beberapa
waktu setelah Perang Dunia II dalam industri seperti tambang batubara dan produksi
minyak. Kartel juga telah memainkan peranan yang luas dalam ekonomi Jerman dalam
masa antar Perang Dunia. Perjanjian komoditi internasional yangmeliputi produk-
produk seperti kopi, gula, timah dan minyak (OPEC) adalah contoh-contoh kartel
internasional yang berbeda. Kartel pada saat krisis juga telah diorganisir oleh
pemerintah untuk berbagai industri atau produk dalam negara-negara yang berbeda
untuk menetapkan harga dan jatah produksi dan distribusi saat kekurangan persediaan.
Sebaliknya kartel pribadi mengakibatkan perjanjian dengan syarat-syarat dimana
anggota menarik keuntungan bersama tetapi yang tidak diketahui atau mungkin
terdeteksi oelh pihak luar. Kartel pribadi di hampir seluruh daerah hukum dipandang
ilegal danmelanggar undang-undang antitrust.
Kartel yang berhasil, apakah dalam bentuk kartel umum atau kartel pribadi,
memerlukan persetujuan, koordinasi, dan kesesuaian diantara para anggota. Ini berarti
anggota kartel perlu mendeteksi kapan pelanggaran perjanjian terjadi dan sanggup
untuk memberlakukan perjanjian itu dengan sangsi terhadap pelanggar. Kondisi ini
tidak mudah dipenuhi dan ini sering menjelaskan mengapa kartel cenderung untuk
berantakan dengan berjalannya waktu.
Kartel mempunyai pengurus yang resmi untuk mengatur kuota, alokasi produksi,
pasar dan keuntungan yang diperoleh. Salah satu kartel internasional yang terkenal
dalam industri perminyakan adalah OPEC, yaitu organisasi negara-negara pengekspor
minyak. Peranan penting OPEC dalam produksi minyak dunia sebelum tahun 1980-an
begitu sangat mempengaruhi harga minyak dunia, namun pada akhirnya karena
kekurang kompakan, organisasi ini akhirnya menjadi lemah karena diantara anggota
saling erbeda dalam menetapkan jumlah produksi, kuota dan harga
Kelemahan kartel yang sering menyebabkan organisasi ini sering bubar ditengah
jalan diantaranya adalah: (1) kekurang kompakan diantara anggota kartel itu sendiri, hal
ini bisa kita lihat dari pengalaman OPEC, baik dalam hal harga, jumlah produksi dan
kuota untuk masing-masing anggota; (2) adanya anggota kartel yang berbuat curang
untuk mendapatkan keuntungan, misalnya melakukan penurunan harga; (3) adanya
perbedaan biaya diantara anggota. Annota yang memiliki biaya tertinggi sebenarnya
telah diambang kebangkrutan, tetapi karena merupakan organisasi kartel maka dia
harus tunduk dengan ketentuan yang berlaku dalam kartel.
Di Indonesia, walaupun secara resmi tidak ada namun perilaku kartel dapat dilihat,
misalnya pada industri semen. Masing-masing perusahaan mempunyai daerah-daerah
pemasarannya sendiri, seperti semen Padang untuk wilayah Sumatera, semen Tiga
Roda untuk wilayah Jawa Barat, semen Gresik untuk wilayah Jawa Tengah dan Timur,
dan semen Tonasa untuk wilayah Sulawesi. Contoh industri lainnya yang berperilaku
seperti kartel di Indonesia adalah industri tepung terigu dan kaca lembaran.
Perilaku integrasi dan merjer ternyata bervariasi antar industri. Integrasi secara
umum didefinisikan sebagai penggabungan sumber-sumber produktif. Integrasi juga
dapat dilakukan melalui merjer, yang didefinisikan sebagai penggabungan antara dua
perusahaan atau lebih menjadi sebuah perusahaan yang lebih besar. Perbedaan
keduanya adalah terletak pada bidang usaha yang disatukan, dalam integrasi
penyatuan perusahaan adalah dalam bisnis yang sama sedangkan penggabungan
dalam bentuk merjer dapat berasal dari berbagai jenis usaha yang berbeda dan pada
tempat atau lokasi yang berbeda
Para ekonom membagi aktivitas integrasi menjadi tiga jenis, yaitu integrasi vertikal
(vertikal integration), integrasi horizontal (horizontal integration) dan merjer konglomerat
(conglomerate merger)
Efisiensi adalah salah satu cara untuk menilai efisiensi. Dalam pengertian yang
umum, suatu perusahaan yang efisien adalah suatu perusahaan yang dalam
produksinya menghasilkan barang atau jasa dengan cepat, lancar dan dengan
pemborosan yang minimum. Dalam hubungannya dengan organisasi industri, istilah
efisiensi berhubungan dengan cara yang paling produktif untuk memanfaatkan sumber-
sumber daya yang langka. Dalam hal ini, secara umum dikenal dua jenis efisiensi,
yaitu efisiensi teknik dan efisiensi ekonomi.
Efisiensi teknik menyangkut jumlah maksimum output yang dapat dihasikan
dengan penggunaan input tertentu, dan dengan teknologi tertentu. Suatu perusahaan
mungkin secara teknologi lebih efisien dari yang lain kalau perusahaan tersebut
memproduksi tingkat output yang sama dengan satu atau lebih sedikit input fisik.
Karena proses produksi yang berbeda tidak semua perusahaan efisien secara
teknologi.
Efisiensi ekonomi timbul bila input dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga suatu
tingkat output diproduksi dengan biaya yang lebih rendah dari yang lainnya.
Peningkatan efisiensi terjadi bila output yang ada atau tingkat output dihasilkan dengan
biaya yang lebih rendah. Tidak seperti efisiensi teknik atau teknologi, efisiensi ekonomi
memungkinkan membandingkan proses produksi yang berbeda. Persaingan biasanya
dipandang oleh ahli-ahli ekonomi untuk mendorong perusahaan individual atau agen-
agen ekonomi dalam mengejar efisiensi. Efisiensi meningkatkan kemungkinan bisnis
untuk bertahan dan berhasil, serta sumberdaya yang langka dipakai sebaik-baiknya.
Pada tingkat perusahaan, efisiensi dapat meningkat karena skala ekonomi dan
dalam jangka waktu yang lama melalui perubahan dan pembaharuan teknologi. Istilah
efisiensi dalam distribusi atau konsumsi dipakai untuk menggambarkan situasi ketika
suatu perangkat barang dan jasa tertentu dibagi diantara konsumen dengan cara
sedemikian rupa sehingga tidak seorangpun dapat dibuat lebih baik tanpa
menyebabkan ada yang menjadi lebih buruk. Kondisi ini disebut juga efisiensi alokatif
atau efisiensi pareto. Bila mengacu pada suatu keadaan efisiensi pareto, biasanya
diasumsikan bahwa produk itu diproduksi dengan cara yang amat efisien (biaya paling
rendah). Kerugian kesejahteraan (dead weigth loss) adalah ukuran inefisiensi alokatif
Jadi, perusahaan yang kurang efisien dalam suatu industri adalah kurang
diinginkan, karena mereka tidak mampu memanfaatkan sumber daya yang tersedia
dengan skala ekonomi yang tersedia. Disamping itu kita tentunya tidak menginginkan
industri yang mempunyai kapasitas lebih yang karena kapasitas lebih ini akan menjadi
mubazir.
Disamping kedua jenis efisiensi diatas, dalam ilmu ekonomi khususnya organisasi
industri dikenal juga istilah X-efficiency. Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh
Leibensten pada tahun 1966. X-efficiency dapat dijelaskan dengan menggunakan
kurva transformasi, apabila suatu perusahaan beroperasi tepat pada kurva transformasi
maka dikatakan X-efficiency, tetapi jika terjadi bukan pada kurva transformasi, misalnya
terjadi dibawahnya maka dikatakan X-inefficiency, dan ini pada umumnya terjadi pada
struktur pasar monopoli.
Disamping ukuran-ukuran efisiensi diatas, dalam ilmu ekonomi juga dikenal
beberapa ukuran efisiensi yang lain, seperti efisiensi alokatif (allocative efficiency),
efisiensi statik (static efficiency), dan efisiensi dinamik (dynamic efficiency). Konsep
efisiensi alokatif dikembangkan dalam kerangka Analisis Keseimbangan Umum
(General Equilibrium Analysis, GEA). Menurut konsep GEA sistem pasar yang
kompetitif akan mengakibatkan alokasi yang optimal dari sumber daya dan distribusi
pendapatan. Efisiensi statik menunjukkan efisiensi dalam produksi dan alokasi sumber
daya, dengan tingkat teknologi tertentu. Sedangkan efisiensi dinamis tergantung pada
perubahan teknologi
http://www.ut.ac.id/html/suplemen/espa4513/fD.4.Pangsa%20Pasar%20%28Market%20Sha
re%29.htm

Structur Conduct Performance (SCP)

Struktur

Struktur pasar menunjukkan karakteristik pasar seperti jumlah pembeli dan penjual, kedaan
produk perbedaan corak produk (produk differentiation), difersifikasi produk, hambatan masuk.

Struktur pada pasar persaingan sempurna ditandai dengan adanya sejumlah besat pembeli dan
penjual dan memiliki kekuatan yang relatif sama. Harga dan output menurut mekanisme pasar.
sedangkan monopoli jumlah penjual relatif tunggal. Keadaan pasar dikendalikan oleh monopolis.

Perbedaan Corak Produk (Product Differentiation)

memberikan keleluasan pada produsen guna mengatur strategi pasar. Produk yang unique
biasanya cenderung digemari kelompok konsumen tertentu. Melalui keunggulan produk
produsen industri memiliki kekuatan dalam mengendalikan pasar sehingga menjadi monopolis
diwilayah pasarnya sendiri. Sedangkan barang homogen memiliki lebih banyak barang subtitusi
bagi konsumen.

Hambatan Masuk (Entry and Exit Conditions)

Produsen yang efisien dalam berproduksi pada dasarnya memiliki kekuatan alamiah guna
merintangi pesaing masuk ke pasar. Produsen yang mapan (established firm) dapat menentukan
tingkat harga dan output. Perusahaan baru sering memerlukan perlindungan khusus dan
umumnya tidak efisien.

Perilaku (Conduct)

Kolusi (Collusion)

Perilaku kolusi umum terdapat pada pasar oligopoli. Meskipun demikian perilaku kolusi dapat
terjadi pada pasar monopoli. Setiap pesaing pada pasar berstruktur oligopoli menghadapi 2
pilihan berkolusi secara formal atau indormal. Kolusi formal ditandai dengan perjanjian-
perjanjian yang bersifat mengikat. contoh OPEC. Kolusi Informal (Tacit Colluction) yaitu setiap
anggota tidak mengenal langsung. Mereka tidak pernah melakukan perjanjian tertulis guna
menguasai pasar. Mereka bersekutu secara diam-diam guna menciptakan sutuasi aman bagi
anggota.

Kebijakan Harga (Pricing Policy)

Pada struktur oligopoli sangat peka terhadap kebijakan harga pesaing terkadang mamacu perang
harga. Semakin kuat suatu struktur perusahaan semakin mudah dalam menentukan harga.
Terutama dalam pasar monopoly.

Penelitian dan Pengembangan (Reseacrh and Development)

Penelitian dan Pengembangan Produk, Iklan, merupakan persaingan non harga antar perusahaan.

Merger

Horizontal Merger kerjasama antar perusahaan dengan menggunakan sumber daya yang sama.
Vertical Merger situasi dimana 2 perusahaa menggunakan sumberdaya yang berbeda tetapi
masih dalam proses produksi yang sama misalnya antara perusahaan kayu dengan
kertas.Conglomerate Merger 2 perusahaan atau lebih bergabung didalam industri yang tidak
berhubungan.

Kinerja (Performance)

Kinerja merupakan hasil dari tindakan pesaing yang menjalankan dengan berbagai strategi guna
bersaing dan menguasai keadaan pasar.
Keuntungan (profitability)

disetiap struktur industri pasar yang berbeda-beda terdapat corak perbedaan keuntungan. Pada
pasar persaingan sempurna keuntungan yang diterima setiap pesaing merupakan keuntungan
normal (normal Profit). Pada industri monopoli produsen memproduksi dengan tingkat harga
melebihi biaya rata-rata sehingga mendapatkan keuntungan extra profit.

Perkembangan Teknologi (Tecnological Progress)

adalah akibat dari Penelitian dan Pengembangan. Dalam jangka panjang perusahaan dengan
mengembangkan teknologi akan menghasilkan produk secara lebih efisien.

Productif dan allokatif effisiensi

Produktif efisiensi berkenaan dengan pengembangan perusahaan mencapai teknologi feasible


maksimum output dengan menggunakan kombinasi input yang efektif.

Interaksi Struktur Pasar-Perilaku-Kinerja

Ketidakharmonisan hubungan antar elemen didalam struktur pasar menyebabkan mekanisme


pasar menjadi tidak sempurna. Struktur pasar menentukan perilaku industri, Perilaku industri
menentukan kinerja. Misalya segala usaha penjualan pesaing akan meningkatkan output
perusahaan pesaing sehingga pada gilirannya akan meningkatkan keuntungan perusahaan
tersebut.

daftar pustaka :

Hilter, Ken.2002. The Economics of Industries and firms. Pearson Education.

Lipczinky, John, John Wilson & John Goddard.2005. Industrial Organitation :


Analysis of Competition Market. Second edition.Pearson Eduation

Teguh, Muhammad.2010.Ekonomi Industri.Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

http://candlelabra.wordpress.com/2011/12/14/structur-conduct-performance-scp/

Analisis Industri Pers: Pendekatan S-C-P


Posted on 13 October 2011
Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Struktur, perilaku, dan kinerja atau biasa disebut S-C-P (Structure-Conduct-Performance)


merupakan tiga pilar utama yang dapat digunakan untuk melihat kondisi struktur dan persaingan
di dunia industri, termasuk pasar media massa. Struktur pasar media yang kepemilikannya
terkonsentrasi sebagaimana indikasi adanya konglomerasi yang terjadi dalam peta persaingan
pers daerah di Indonesia dalam praktiknya mempengaruhi perilaku perusahaan media yang
secara bersama-sama menentukan kinerja sistem pasar media cetak di tanah air.

Dalam industri media, konglomerasi memiliki pengaruh yang cukup kuat, antara lain
ditunjukkan melalui pola-pola kerjasama yang dibangun dalam struktur jaringan, sentralisasi
sumber informasi dan distribusi, serta homogenisasi sistem keagenan dalam jaringan distribusi
dan sirkulasi. Pengaruh konglomerasi tersebut pada akhirnya membentuk karakteristik media
yang khas, menunjukkan output produk media dalam struktur pasar oligopoli.

Hoskins. dkk (2004), Hiebert. dkk (1991), McQuaill (1992) dan Albarran (1996)
mengemukakan 3 kerangka analisis yang dapat menjelaskan berbagai sisi kerja bisnis media.
Ketiga kerangka tersebut sekaligus merupakan indikator yang cukup relevan untuk menilai
karakteristik industri media karena menyajikan informasi pokok terkait dengan keunikan operasi
bisnis media massa. Ketiga kerangka analisis yang dimaksud meliputi struktur ekonomi
(structure), operasionalisasi perusahaan (conduct), dan kinerja perusahaan (performance).
Pendekatan SCP sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Mason (1939) yang kemudian
diaplikasikan oleh Bain (1951) melalui studi lintas disiplin (Wirth dan Bloch, 1995). Esensi
pendekatan SCP terhadap analisis organisasi industri adalah adanya hipotesis yang menyatakan
bahwa performance atau keberadaan pasar (atau industri) dipengaruhi oleh perilaku perusahaan
dalam pasar, sedangkan perusahaan dipengaruhi pula oleh berbagai variabel yang membentuk
struktur pasar (Wirth dan Bloch, 1995). Berikut akan dipaparkan masing-masing bagian:

a. Struktur (Structure)

Pengertian ―struktur‖ mengacu pada struktur pasar yang biasanya ditentukan oleh rasio
konsentrasi pasar. Rasio konsentrasi pasar adalah perbandingan yang mengukur distribusi pangsa
pasar dalam industri. Sebuah industri yang 70 % pangsa pasarnya dikuasai oleh hanya 2
perusahaan dalam industri misalnya, dapat disebut memiliki struktur pasar yang sangat
terkonsentrasi. Untuk menilai struktur pasar ini diperlukan sejumlah variabel, antara lain jumlah
penjual dan pembeli, tingkat diferensiasi produk, kemampuan perusahaan (khususnya bagaimana
perusahaan menciptakan pilihan-pilihan produk bagi konsumen), kemampuan perusahaan dalam
menembus pasar bebas, seperti memperoleh lisensi dari pemerintah, franchise, hak monopoli,
hak paten, dan hambatan yang terkait dengan biaya.

Menurut Hiebert, dkk (1991), untuk dapat memetakan lebih detail aspek-aspek struktur pasar,
perlu menyimak pemikiran David E. Porter. Tokoh manajemen strategik ini merinci elemen-
elemen dalam struktur yang mampu mempengaruhi kekuatan bersaing suatu industri.
Menurutnya, terdapat lima elemen dalam struktur pasar, yaitu (1) pendatang baru, (2) pemasok,
(3) pembeli, (4) produk pengganti, dan (5) pesaing.

b. Perilaku (Conduct)

Menurut Ferguson dan Ferguson(1994), istilah conduct mengacu pada perilaku perusahaan
terhadap pasar dalam menentukan harga (baik harga yang ditentukan secara independen ataupun
berdasarkan kesepakatan), strategi produk dan iklan, serta riset dan inovasi (Wirth dan Bloch,
1995). Penekanan hal ini adalah bagaimana perusahaan menentukan pilihan media iklan dan
menyusun anggaran belanja untuk riset/melakukan penelitian terhdap produk dalam masyarakat.
Scherer dan Ross (1990: 4) mengidentifikasi dua variabel lain dalam conduct: investasi dalam
fasilitas produksi (misalnya, bagaimana perusahaan menyusun anggaran) dan sesuai dengan
aturan hukum (yaitu penggunaan sistem hukum untuk menentukan posisi perusahaan dalam
pasar) (Wirth dan Bloch, 1995).

Secara sederhana, perilaku bisnis media utamanya mencakup kegiatan produksi dan konsumsi.
Kegiatan produksi dalam industri media mencakup 2 produk: (1) media goods; merupakan
produk fisik media,mislanya bentuk dan ukuran suratkabar, (2) media services; menunjuk pada
content media atau aktivitas-aktivitas pendukung yang memasok produk, misalnya berbentuk
berita atau artikel. Kegiatan konsumsi industri media mencakup pemenuhan kebutuhan media
goods dan media services untuk dua pasar sasaran (pasar dua sisi), yakni pembaca dan pengiklan.
Model bisnis media cetak adalah penjualan dua produk utama yaitu isi informasi yang dibaca
oleh pembacanya, dan akses ke pembaca itu, yang dijual kepada pengiklan. Keberadaan dua jenis
konsumen ini sangat menentukan kelangsungan hidup institusi media. Karenanya untuk
memaksimalkan keuntungan, pengelola media selau berorientasi pada kepentingan pembaca dan
pengiklan. Itulah sebabnya, selera kebanyakan konsumen akan menjadi tolok ukur utama proses
produksi media.

Dalam struktur pasar yang normal, operasi bisnis suratkabar dalam merespon harga dan kuantitas
produk selalu berdasarkan pada mekanisme supply and demand. Dalam mekanisme ini, audiens
atau pengguna media mengambil keputusan membeli media goods dan services. Demand adalah
hasrat menggunakan media dan kemampuan membeli produk media. Hasrat ini dipengaruhi oleh
keinginan atau kebutuhan konsumen pada produk media. Khusus bagi pengiklan, hasrat tersebut
terkait dengan kebutuhan akan space iklan. Di samping itu, consumer demand pun ditentukan
oleh kemampuan konsumen membeli produk media atau space iklan. Pembelian produk media
umumnya mengacu pada pembelian produk fisik media, sementara space iklan mengacu pada
pada pembelian ruang atau halam media untuk beriklan. Consumer demand dipengaruhi oleh 3
hal: (1) Produk; terkait dengan variasi dan content media yang ada dipasar; (2) Harga; terkait
dengan jumlah pengorbanan finansial yang menjadi beban konsumen untuk mengakses atau
mengkonsumsi media; dan (3) Karakteristik pasar; terkait dengan selera konsumen, daya beli,
perilaku pembelian media, presepsi tentang nilai media, prioritas kebutuhan, dan sebagainya.

Sementara itu, supply mencakup kuantitas barang (goods) yang memenuhi permintaan konsumen
dalam suatu rentang waktu tertentu dengan penawaran harga dan karakteristik produk yang
menarik. Perusahaan media dituntut dapat merespon kepentingan konsumen agar produk
medianya dapat diterima. Prasyarat inilah yang mendorong perusahaan selalu berupaya
memahami kebutuhan dan keinginan konsumen termasuk merancang spesifikasi produk
suratkabar yang berbeda dari pesaingnya.

c. Kinerja (Performance)

Terdapat beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk menilai kinerja ekonomi industri media,
antara lain: keuntungan perusahaan; alokasi dan efisiensi produksi (dalam hal ini bagaimana
caranya agar perusahaan tidak mengeluarkan sumber daya dengan percuma, dan bagaimana
perusahaan dapat menghasilkan produk yang tepat baik dalam kuantitas, dan kualitas untuk
memenuhi kepuasan konsumen); dan distribusi pendapatan yang sesuai. Lebih jauh, variabel
performance yang melengkapi pengambilan keputusan industri media mencakup bagaimana
perusahaan dalam pasar media memberikan kontribusi terhadap kesempatan yang sama bagi para
pegawainya. Untuk keperluan analisis, variabel-variabel tersebut dapat disederhakan menjadi 3
indikator: (1) efisiensi, (2) penggunaan teknologi, dan (3) kemampuan meningkatkan akses
audiens (pembaca/penonton/pengakses).

Kriteria pertama adalah efisiensi. Efisiensi dalam industri media identik dengan tujuan
perusahaan. Pentingnya efisiensi ini terkait dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki
perusahaan. Efisiensi merupakan karakteristik utama operasionalisasi bisnis yang berdampak
langsung pada maksimalisasi profit. Bertolak dari tujuan tersebut, proses produksi media
mengenal orientasi massal yang diasumsikan memperkecil biaya produksi untuk satu unit
produk. Itulah sebabnya ukuran-ukuran yang sifatnya kuantitatif menjadi tolak ukur penilaian
performance perusahaan media. Identifikasi performance perusahaan suratkabar, majalah dan
tabloid dikaitkan dengan oplah media, sementara penyiaran televisi dan radio dihubungkan
dengan perolehan rating, sedangkan VCD dan produk-produk rekaman dipautkan dengan jumlah
copy produk yang terjual. Sedangkan film dikaitkan dengan jumlah penjualan tiket. Semakin
besar kuantitas penjualan (atau terpaan media/media exposure) produk, perusahaan dinilai efektif
dari segi produksinya.

Kriteria kedua dalam menilai performance industri media berhubungan dengan penggunaan
teknologi. Perkembangan industri media dengan penggunaan teknologi informasi berjalan
sinergis. Semakin berkembang industri tersebut semakin intensif aplikasi teknologinya. Bahkan
Hiebert. dkk (1991) meyakinkan bahwa inovasi terhadap teknologi baru akan mendukung
perolehan profit serta memungkinkan perusahaan-perusahaan besar mempertahankan
keuntungan maksimal (highly profitable positions). Dalam banyak kasus, teknologi informasi
memberikan dukungan lebih besar bagi peningkatan efisiensi produksi dan distribusi produk.
Sebagai contoh, teknologi cetak jarak jauh telah berdampak besar pada proses produksi pesan
dan distribusi media. Teknologi satelit terbukti telah mempermudah perusahaan penyiaran
mendistribusikan program acaranya kepada audiens yang lebih luas. Juga teknologi komputer
dan internet telah mempengaruhi proses editing berita menjadi sangat mudah dan cepat.

Kriteria ketiga dalam menilai performance menyangkut kemampuan meningkatkan audiens.


Performance industri ini dikaitkan dengan kemampuan perusahaan menjangkau khalayak atau
konsumennya. Dalam konteks ini perusahaan didorong untuk membangun fasilitas-fasilitas yang
memudahkan khalayak mengaksesnya. Tingginya daya jangkau media dari segi eknonomi
akhirnya tidak hanya berdampak positif pada maksimalisasi pendapatan media cetak melalui
oplah, namun juga melalui peningkatan jumlah pengiklan. [Iwan Awaluddin Yusuf]

[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media &
Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta, dan aktivis Pemantau Regulasi dan Regulator media
(PR2MEDIA), Yogyakarta.

http://bincangmedia.wordpress.com/2011/10/13/analisis-industri-pers-pendekatan-s-c-p/