Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN MATERNITAS

HIPEREMESIS GRAVIDARUM

Oleh:

SALVINUS BULU TODING

113063J119043

PROGRAM PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SUAKA INSAN

BANJARMASIN

2020
LAPORAN PENDAHULUAN

I. Konsep Teori
1.1 Definisi
Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang hebat
dalam masa kehamilan yang dapat menyebabkan kekurangan cairan,
penurunan berat badan atau gangguan elektrolit sehingga mengganggu
aktivitas sehari – hari dan membahayakan janin didalam kandungan.
Pada umumnya terjadi pada minggu ke 6 – 12 masa kehamilan, yang
dapat berlanjut hingga minggu ke 16 – 20 masa kehamilan.
(Prawiharjo,2018)
Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah di masa
kehamilan dengan frekuensi serta gejala yang jauh lebih parah
daripada morning sickness. (Abramowitz, 2017).
Hiperemesis adalah mual dan muntah berlebihan pada wanita
hamil, sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena keadaan
umumnya menjadi buruk, sebagai akhirnya terjadi dehidrasi.
(Hidayati, 2016)

1.2 Etiologi
Faktor-faktor prespitasi yang dikemukakan :
Ada beberapa hal yang diyakini ahli berkaitan erat dengan
kemunculan hiperemesis gravidarum atau dalam kata lain dapat
meningkatkan risiko seorang wanita terkena kondisi ini.
a. Pernah mengalami hiperemesis gravidarum di kehamilan
sebelumnya.

b. Memiliki keluarga dekat (misalnya ibu, kakak, atau adik) yang


pernah menderita hiperemesis gravidarum.

c. Mengandung anak perempuan atau anak kembar.


d. Menderita mola hidatidosa (hamil anggur).

e. Usia dibawah 24 tahun.

Faktor-faktor predisposisi yang yang dikemukakan :

a.       Faktor organik, yaitu karena masuknya vili khriales dalam


sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat kehamilan serta
resustensi yang menurunkan dari pihak ibu terhadap perubahan-
perubahan ini serta adanya alergi, yaitu merupakan salah satu
respon dari jaringan ibu terhadap janin.
b.      Faktor psikologik.
Faktor ini memegang peranan penting pada penyakit ini. Rumah
tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan
dan persalinan, takut terhadap tanggungan sebagai ibu, dapat
menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan
muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keenggangan
manjadi hamil atau sebagai pelarian kesukaran hidup. 
c.      Faktor endokrin
Hopertiroid, diabetes, peningkatan kadar HCG dan lain-lain.

1.3 Manifestasi Klinis


Menurut berat ringannya gejala, hperemesis gravidarum dapat dibagi
dalam tiga tingkatan:
a.    Tingkat I
Muntah terus-menerus yang mempengaruhi keadaan umum.
Pada tingkatan ini klien merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat
badan menurun dan nyeri pada epigastrium. Nadi meningkat sekitar
100x/menit, tekanan darah sistol menurun, dapat disertai
peningkatan suhu tubuh, turgor kulit berkurang, lidah kering, dan
mata cekung.
b.    Tingkat II
Klien tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit lebih
menurun, lidah kering dan tampak kotor, nadi kecil dan cepat,
tekanan darah turun, sehu kadang-kadang naik, hemokonsentrasi,
oliguria, dan konstipasi.
c.    Tingkat III
Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran
menurun dari somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat, tekanan
darah menurun, serta suhu meningkat. Komplikasi fatal terjadi pada
susunan saraf yang dikenal sebagai wernicke ensefalopati. Gejala
yang dapat timbul seperti nistagmus, zat makanan, termasuk
vitamin B kompleks. Timbulnya ikterus menunjukkan terjadinya
payah hati. Pada tingkatan ini juga terjadi perdarahan dari
esophagus, lambung dan retina.(Runiari. N, 2019)

1.4 Patofisiologi
Perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen,
oleh karena keluhan ini terjadi trisemester pertama. Pengaruh fisiologik
hormon estrogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari sistem saraf pusat
akibat berkurangnya pengosongan lambung. (Wiknjosastro.hal 277).
Peningkatan hormon progesteron menyebabkan otot polos pada
sistem gastrointestinal mengalami relaksasi sehingga motilitas lambung
menurun dan pengosongan lambung melambat. Refluks egofagus,
penurunan motilitas lambung dan peningkatan sekresi asam hidroklorid
juga berkontribusi terhadap terjadinya mual dan muntah. Hal ini
diperberat dengan adanya penyebab lain berkaitan dengan faktor
psikologis, spiritual, lingkungan, dan social kultural.
Kekurangan intake dan kehilangan cairan karena muntah
menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan plasma
berkurang. Natrium dan klorida dalam darah maupun dalam urine
turun, selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi sehingga
menyebabkan aliran darah ke jaringan berkurang. Kekurangan kalium
sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal
berakibat frekuensi muntah bertambah banyak, sehingga dapat merusak
hati. (Runiari.hal 11)
Pencernaan serta absorpsi karbohidrat dan nutrisi lain yang
tidak adekuat mengakibatkan tubuh membakar lemak untuk
mempertahankan panas dan energi tubuh. Jika tidak ada karbohidrat
maka lemak digunakan untuk menghasilkan energi, akibatnya beberapa
hasil pembakaran dari metabolisme lemak terdapat dalam darah dan
urin (terdapat atau kelebihan keton dalam urin). (Runiari.hal 11)

1.5 Pemeriksaan Diagnostik


Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada penyakit hiperemesis
gravidarum adalah sebagai berikut:
1. Pemeriksaan urine
Urin diperiksa untuk mendeteksi keberadaan keton.
Pemeriksaan ini dilakukan saat bangun tidur dan setiap kali makan
atau cemilan tertunda. Apabila terjadi ketonuria, asupan karbohidrat
harus dengan hati-hati ditingkatkan atau cemilan lain dapt
ditambahkan kedalam rencana makanan sehari-hari. (Bobak. h; 711)
Ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum pada pencernaannya
yang tidak adekuat mengakibatkan tubuh membakar lemak untuk
mempertahankan panas dan energi tubuh. Sehingga hasil
pembakaran dari metabolisme lemak terdapat dalam darah dan urin
(terdapat atau kelebihan keton dalam urin). (Runiari. hal 11).
2. Darah rutin
Tujuan dilakukan pemeriksaan haemoglobin : pemeriksaan Hb
secara rutin selama kehamilan merupakan kegiatan rutin untuk
mendeksi anemia (Ai yeyeh,dkk.2017.h;149). Pada wanita hamil
yang kurang darah lebih sering terjadi hiperemesis gravidarum dapat
dimasukan. Dalam ruang lingkup faktor adaptasi adalah wanita
hamil dengan anemia (Manuaba.h; 230).
3. Uji glukosa
Uji glukosa darah merupakan metode yang dipilih untuk
memantau glukosa darah dan dapat dilakukan pengontrolan glikemia
wanita terutama pada wanita selama kehamilan (Bobak.2017.hal
709-711 dan 702).
Pada seorang wanita yang mengalami diabetes melitus, selama
trisemester pertama kadar glukosa darah meningkat dan glikemia
meningkat. Pada wanita yang mengalami diabetes melitus pada
trisemester pertama juga ditandai dengan nausea, vomitus. (Bobak.
h; 702)
4. Pemeriksaan tiroid (tiroksin dan TSH)
Kehamilan akan menyebabkan perubahan struktur dan fungsi
kelenjar tiroid ibu, sehingga kadang-kadang menyulitkan penegakan
dignosis penyakit atau menentukan adanya kelainan tiroid.
Gangguan kelenjar tiroid pada umumnya di dapatkan pada
perempuan muda, terdapat tiroid ibu dan janin yang dikandungnya.
Kehamilan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan tiroksin
yaitu sekitar sepertiganya dan kemungkinan akibat meningkatnya
produksi hormon estrogen (Prawirohardjo.hal 850).Pada bulan-bulan
pertama kehamilan terdapat perasaan enek (nausea). Mungkin ini
akibat hormon estrogen yang meningkat (Ai yeyeh, dkk.h; 46-48).
Faktor keturunan merupakan faktor resiko lainnya untuk terjadinya
kegagalan kelenjar tiroid adalah penyakit diabetes melitus tipe 1.
(Prawirohardjo.2018)
5. USG untuk memastikan mola
Pada hiperemesis gravidarum pemeriksaan USG dilakukan
untuk mengetahui kondisi kesehatan kehamilan juga untuk
mengetahui kemungkinan adanya kehamilan kembar atau pun
kehamilan molahidatidosa (Prawirohardjo.2018.h; 814-818).
Pada wanita dengan molahidatidosa uterus membesar lebih
cepat dari biasa, penderita mengeluh tentang mual dan muntah, tidak
jarang terjadi perdarahan pervaginam. Kadang-kadang pengeluaran
darah disertai dengan pengeluaran beberapa gelambung villus, yang
memastikan diagnosis molahidatidosa.

1.6 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan mual dan muntah pada kehamilan tergantung
pada beratnya gejala. Pengobatan dilakukan mulai dari yang paling
ringan dengan perubahan diet sampai pendekatan dengan pengobatan
antiemetik, rawat inap, atau pemberian nutrisi parenteral. Pengobatan
terdiri atas terapi secara farmakologi dan nonfarmakologi. Terapi
farmakologi dilakukan dengan pemberian antiemetik, antihistamin,
antikolinergik, dan kortikosteroid. Terapi nonfarmakologi dilakukan
dengan cara pemberian diet, dukungan emosional, akupuntur, dan jahe
(Quinland, et al., 2015). (Runiari. N, 2017)

II. Konsep Asuhan Keperawatan


2.1 Riwayat keperawatan
1.    Pengkajian Data Subjektif
a.    Riwayat kehamilan saat ini meliputi ada tidaknya gemeli,
riwayat pemeriksaan antenatal dan komplikasi.
b.    Riwayat diet, khususnya intake cairan.
c.    Pengobatan yang didapat saat ini.
d.   Riwayat pembedahan khususnya pembedahan pada umumnya.
e.    Riwayat medis sebelumnya seperti riwayat penyakit obstetri
dan ginekologi, kolelitiasis atau gangguan abdomen lainnya,
gangguan tiroid, dan ada tidaknya depresi.
f.     Riwayat sosial seperti terpapar penyakit yang mengganggu
komunikasi, terpapar dengan lingkungan, tercapainya
pelayanan antenatal, peran, tanggung jawab, pekerjaan,
ketidakhadiran di tempat bekerja, perubahan status kesehatan
atau stresor kehamilan, respons anggota keluarga yang dapat
bervariasi terhadap hospitalisasi dan kondisi sakit, serta
seistem pendukung.
g.    Integritas ego seperti konflik interpersonal keluarga, kesulitan
ekonomi, perubahan persepsi tentang kondisi, dan kehamilan
yang tidak direncanakan.
h.    Riwayat penyakit sebelumnya meliputi awal kejadian dan
lamanya. Jika mengalami muntah, kaji warna, volume,
frekuensi, dan kualitasnya. Kaji juga faktor yang
memperberat dan memperingan keadaan, serta pengobatan
yang dilakukan baik di fasilitas kesehatan atau pengobatan di
rumah.
i.      Gejala-gejala lain seperti bersendawa atau flatus, diare atau
konstipasi, serta nyeri pada abdomen. Riwayat nyeri abdomen
meliputi lokasi, derajat, kualitas, radiasi, serta faktor yang
memperingan dan memperberat nyeri.
j.      Pengkajian lain dapat dilakukan dengan
menggunakan Rhodes Index of Nausea and Vomiting yang
terdiri atas 8 pertanyaan untuk mengkaji frekuensi dan
beratnya mual dan muntah. Instrument ini telah di teliti valid
dan reliabel olehFamily Nurse Practitioner program, School
of Nursing, University of Texas at Austin. (Runiari. N, 2010)
II.2Pemeriksaan fisik: data focus
a.    TTV: ada tidaknya demam, takikardi, hipotensi, frekuensi nafas
meningkat, adanya nafas bau aseton
b.    Status Gizi: Berat Badan meningkat/menurun
c.    Status Kardiovaskuler: kualitas nadi, takikardi, hipotensi
d.   Status Hidrasi: Turgor kulit, keadaan membrane mukosa, oliguria
e.    Keadaan Abdomen: Suara Abdomen, adanya nyeri lepas/tekan,
adanya distensi, adanya hepatosplenomegali, tanda Murpy.
f.     Genitourinaria: nyeri kostovertebral dan suprapubik
g.    Status Eliminasi: Perubahan konstipasi feses, konstipasi dan
perubahan frekuensi berkemih
h.    Keadaan janin: Pemeriksaan DJJ, TFU, dan perkembangan janin
(apakah sesuai dengan usia kehamilan)

II.3Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium
b. USG
II.4Nursing Diagnosis dan Nursing Care Plan
No Diagnosa NOC Kriteria Hasil NIC
Keperawatan
1 Ketidakseimbangan 1. Nutritional 1. Adanya Nutrition Management
nutrisi kurang dari status peningkatan berat 1. Kaji adanya alergi makanan
kebutuhan tubuh 2. Nutritional badan sesuai 2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
status: food dengan tujuan menentukan jumlah kalori dan nutrisi
Definisi : and fluid 2. Berat badan ideal yang dibutuhkan pasien.
Asupan nutrisi tidak cukup intake sesuai dengan 3. Anjurkan pasien unutk meningkatkan
untuk memenuhi kebutuhan 3. Nutritional tinggi badan intake Fe
metabolik. status : nutrient 3. Mampu 4. Anjurkan pasien untuk meningkatkan
intake mengindetifikasi protein dan vitamin C
Faktor yang berhubungan 4. Weight control kebutuhan nutrisi 5. Berikan substansi gula
: 4. Tidak ada tanda- 6. Yakinkan diet yang dimakan mengandung
1. Faktor biologis tanda malnutrisi tinggi serat untuk mencegah konstipasi
2. Faktor ekonomi 5. Menunjukkan 7. Berikan makanan yang terpilih (sudah
3. Ketidakmampuan untuk peningkatan fungsi dikonsultasikan dengan ahli gizi)
mencerna makanan pengecapan dari 8. Ajarkan pasien bagaimana membuat
4. Ketidakmampuan untuk menelan catatan makanan harian
mengabsorbsi nutrein 6. Tidak terjadi 9. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan
5. Ketidakmampuan penurunan berat kalori
menelan makanan badan yang berarti 10. Berikan informasi tentang kebutuhan
6. Faktor psikologis nutrisi
11. Kaji kemampuan klien untuk
mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
Nutrition Monitoring
1. Kaji pasien dalam batas normal
2. Monitor adanya penurunan berat badan
3. Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang
biasa dilakukan
4. Monitor interaksi anak atau orangtua
selama makan
5. Monitor lingkungan selama makan
6. Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak
selama jam makan
7. Monitor kulit kering dan perubahan
pigmentasi
8. Monitor turgor kulit
9. Monitor kekeringan, rambut kusam, dan
mudah patah
10. Monitor mual dan muntah
11. Monitor kadar albumin, total protein, Hb
dan kadar Ht
12. Monitor pertumbuhan dan perkembangan
13. Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan jaringan konjungtiva
14. Monitor kalori dan intake nutrisi
15. Catat adanya edema, hiperemik,
hipertonik, papila lidah dan cavitas oral
16. Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet
2 Kekurangan Volume 1. Fluid balance 1. Mempertahankan Fluid Management
Cairan 2. Hydration urine output sesuai 1. Timbang popok/ pembalut jika diperlukan
3. Nutritional dengan usia dan 2. Pertahankan catatan intake dan output
Definisi: status: Food BB, BJ, urine yang akurat
Penurunan cairan and fluid intake normal, HT 3. Monitor status hidrasi (kelembapan
intravaskular, interstisial, normal membran mukosa, nadi adekuat, tekanan
dan/ atau intraseluler. Ini 2. Tekanan darah, darah ortostatik), jika diperlukan
mengacu pada dehidrasi, nadi, suhu tubuh 4. Monitor vital sign
kehilangan cairan pada saat dalam batas 5. Monitor masukan makanan/ cairan dan
perubahan natrium normal hitungan intake kalori harian
3. Tidak ada tanda- 6. Kolaborasi pemberian cairan IV
Faktor yang tanda dehidrasi, 7. Monitor status nutrisi
berhubungan: elastisititas turgor 8. Berikan cairan IV pada suhu ruangan
1. Kehilangan cairan aktif kulit baik, 9. Dorong masukan oral
2. Kegagalan mekanisme membran mukosa 10. Berikan penggantian nasogatrik sesuai
regulasi lembab, tidak ada output
rasa haus yang 11. Dorong keluarga untuk membantu pasien
berlebih makan
12. Tawarkan snack (jus buah, buah segar)
13. Kolaborasi dengan dokter
14. Atur kemungkinan transfusi
15. Persiapan untuk transfusi
Hypovolemia Management
1. Monitor status cairan termasuk intake dan
output cairan
2. Pelihara IV line
3. Monitor tingkat Hb dan Ht
4. Monitor tanda vital
5. Monitor respon pasien terhadap
penambahan cairan
6. Monitor berat badan
7. Dorong pasien untuk menambah intake
oral
8. Pemberian cairan IV monitor adanya
tanda dan gejala kelebihan volume cairan
9. Monitor adanya tanda gejala gagal ginjal
3 Intoleransi Aktivitas 1. Energy 1. Berpartisipasi Activity Therapy
conservation dalam aktivitas 1. Kolaborasikan dengan tenaga rehabilitasi
Definisi: 2. Activity fisik tanpa disertai medik dalam merencanakan program
Ketidakcukupan energi tolerance peningkatan terapi yang tepat
psikologis atau fisiologis 3. Self Care: tekanan darah, 2. Bantu klien untuk mengidentifikasi
untuk melanjutkan ADLs nadi dan RR aktivitas yang mampu dilakukan
atau menyelesaikan aktifitas 2. Mampu melakukan 3. Bantu untuk memilih aktivitas konsisten
kehidupan sehari-hari yang aktivitas sehari- yang sesuai dengan kemampuan fisik,
harus atau yang ingin hari (ADLs) secara psikologi dan social
dilakukan. mandiri 4. Bantu untuk mengidentifikasi dan
3. Tanda-tanda vital mendapatkan sumber yang diperlukan
Faktor yang normal untuk aktivitas yang diinginkan
berhubungan: 4. Energy psikomotor 5. Bantu untuk mendapatkan alat bantuan
1. Tirah Baring atau 5. Level kelemahan aktivitas seperti kursi roda, krek
imobilisasi 6. Mampu berpindah: 6. Bantu klien untuk membuat jadwal
2. Kelemahan umum dengan atau tanpa latihan diwaktu luang
3. Ketidakseimbangan 7. Bantu pasien/keluarga untuk
bantuan alat
antara suplai dan 7. Status mengidentifikasi kekurangan dalam
kebutuhan oksigen kardiopulmunari beraktivitas
4. Imobilitas adekuat 8. Sediakan penguatan positif bagi yang
5. Gaya hidup monoton
8. Sirkulasi status aktif beraktivitas
baik 9. Bantu pasien untuk mengembangkan
9. Status respirasi : motivasi diri dan penguatan
pertukaran gas dan 10. Monitor respon fisik, emosi, social dan
ventilasi adekuat spiritual
2.6  Implementasi/Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah inisiatf dari rencana tindakan untuk
mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah
rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk
membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu
rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi
faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien
(Nursalam, 2001) dan (Runiari. N, 2010).

2.7  Evaluasi
Hal-hal yang perlu dievaluasi pada asuhan keperawatan klien dengan
hiperemesis gravidarum.
1. Keseimbangan cairan dan elektrolit : Turgor kulit, Membrane
mukosa, Berat badan sesuai dengan umur kehamilan, Tanda-
tanda vital dan Pemeriksaan laboratorium: elektrolit serum, Hb
dan Ht, serta berat jenis urine
2. Frekuensi dan beratnya muntah.
3. Intake oral
4. Kemampuan dalam beraktivitas.
DAFTAR PUSTAKA

NANDA. 2012-2018, Nursing Diagnosis: Definitions and Classification,


Philadelphia, USA
Nugroho, Taufan. 2017. Kesehatan Wanita, Gender dan Permasalahannya.
Yogyakarta: Nuha Medika.
Oxorn Harry, dkk. 2018. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan (Human
Labor and Birth). Yogyakarta : YEM.
Rukiyah, Ai Yeyeh, dkk. 2018. Asuahan Kebidanan Patologi. Jakarta : Trans Info
Media
Runiari. N, 2018, Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Hiperemesis
Gravidarum: Penerapan Konsep dan Teori Keperawatan, Jakarta: Salemba
Medika
Wiknjosastro, H. 2017. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka, Sarwono
Prawirohardjo.
Wilkinson. J.M, dan Ahern. N.R, 2015-2020, Buku Saku Diagnosis Keperawatan :
diagnosis NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil NOC, ahli bahasa Esty
Wahyuningsih, Jakarta: EGC.
PATHWAY HIPEREMESIS GRAVIDARUM
Peningkatan hormone Menghambat ambang
estrogen dan HCG depolarisasi saraf enteric Penurunan pompa pylorus Peningkatan tekanan lambung

Hiperemesis gravidarum (mual muntah yang berlebih ) Emesis gravidarum

Refluks sebagian Hcl Kehilangan cairan berlebih

Dehidrasi hemokonsentrasi
Sensasi asam

Nafsu makan menurun Kekurangan Volume Penurunan aliran


Cairan darah ke jaringan

Anoreksia
Penurunan metabolisme

Ketidakseimbangan Penurunan ATP


nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
Intoleransi aktifitas