Anda di halaman 1dari 1

Nama : Salma Safitri

Nim : 170204072
Kelas : PSIK D3.1

HIV/AIDS

AIDS adalah singkatan dari acquired immune deficiency syndrome. AIDS merupakan tahapan
akir dari penyakit infeksi human immunodeficiency virus (HIV).  Namun, tidak semua pengidap
HIV akan menjadi HIV/AIDS.

AIDS merupakan sindrom atau kumpulan dari gejala yang muncul akibat sistem kekebalan tubuh
yang sangat lemah. Infeksi yang seharusnya tidak parah pada orang nomal, dapat saja menjadi
mematikan pada penderita HIV/AIDS. Hingga kini belum ada pengobatan yang dapat
menyembuhkan HIV/AIDS. Pengobatan HIV bertujuan mendukung sistem kekebalan tubuh agar
penderita dapat hidup normal dan sehat dan tidak menjadi AIDS.

Pencegahan HIV/AIDS

 Pencegahan Primer

Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya agar orang sehat tetap sehat atau mencegah
orang sehat menjadi sakit. Pencegahan primer merupakan hal yang paling penting, terutama
dalam merubah perilaku.
1. Melalui hubungan seksual.
HIV dapat menyebar melalui hubungan seks pria ke wanita, wanita ke pria maupun pria
ke pria. Hubungan melalui seks ini dapat tertular melalui cairan tubuh penderita HIV
yakni cairan mani, cairan vagina dan darah.
Upaya pencegahannya adalah dengan cara, tidak melakukan hubungan seksual bagi orang
yang belum menikah, dan melakukan hubungan seks hanya dengan satu pasangan saja
yang setia dan tidak terinfeksi HIV atau tidak berganti-ganti pasangan.
2. Melalui darah.
Penularan AIDS melalui darah terjadi dengan cara transfusi yang mengandung HIV,
penggunaan jarum suntik atau alat tusuk lainnya (akupuntur, tato, tindik) bekas
digunakan orang yang mengidap HIV tanpa disterilkan dengan baik. Juga penggunaan
pisau cukur, gunting kuku, atau sikat gigi bekas pakai orang yang mengidap virus HIV.
Upaya pencegahannya dengan cara, darah yang digunakan untuk transfusi diusahakan
terbebas dari HIV dengan memeriksa darah donor.
3. Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya.
Penularan dapat terjadi pada waktu bayi masih berada dalam kandungan, pada waktu
persalinan dan sesudah bayi dilahirkan serta pada saat menyusui. ASI juga dapat
menularkan HIV, tetapi bila wanita sudah terinfeksi pada saat mengandung maka ada
kemungkinan bayi yang dilahirkan sudah terinfeksi HIV. Maka dianjurkan agar seorang
ibu tetap menyusui anaknya sekalipun HIV.