Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

MASA TRANSISI NEONATUS


Disusun untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah Fisiologi
kehamilan, persalinan, Nifas, dan Bayi baru lahir
Dosen Pembimbing : Etty Nurkhayati, M.Keb

Disusun oleh : Kelompok 12

Ayu Fitriani (6019031006)


Ayuni Hartati (6019031008)
Elpia Siswanti (6019031014)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN S1 KEBIDANAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS FALETEHAN
Tahun 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat allah SWT yang sampai saat ini masih memberi
nikmat iman dan kesehatan, sholawat serta salam kita curahkan kepada
jungjungan Nabi besar kita Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan ilmu
dari zaman jahiliyah ke zaman yang sekarang ini. Sehingga kami diberikan
kesempatan untuk menyelesaikan makalah tentang “Masa Transisi Neonatus”.

Penulisan makalah ini salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah
Fisiologis kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir. Makalah ini berisi
tentang latar belakang dan pembahasan tentang masa transisi neonatus.

Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik
pada penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kamu miliki.
Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk makalah
ini,supaya makalah ini menjadi makalah yang lebih baik lagi. Semoga makalah ini
dapat berguna untuk menambah pengetahuan bagi para pembacca.

Sekian makalah yang dapat kami sampaiakn, kami ucapan Terima Kasih
kepada Dosen pembingbing yang telah membantu, memberi masukan dan
mendukung dalam penulisan makalah sehingga dapat terselesaikan dengan tepat
pada waktunya.

Serang, 10 Maret 2020

Tim Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
A. Latar Belakang............................................................................................1
B. Tujuan..........................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................3
A. Bayi Baru Lahir Normal...........................................................................3
1. Periode Transisional..................................................................................3
2. Periode pascatransisional..........................................................................4
B. Macam-macam Refleks Pada Bayi............................................................5
C. Perubahan Fisiologi Bayi Baru Lahir.......................................................6
D. Fisiologi Neonatus.......................................................................................7
BAB III KASUS DAN PEMBAHASAN KASUS..............................................10
A. Kasus..........................................................................................................10
B. Pembahasan Kasus...................................................................................10
BAB IV PENUTUP..............................................................................................12
A. Kesimpulan................................................................................................12
B. Saran..........................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................13

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bayi baru lahir normal adalah bayi lahir yang melewati masa
penyesuaian pada minggu pertama kehidupannya. Sedangkan waktu di
dalam uterus ibu bayi aman, hangat dan makan dengan baik. Setelah lahir
bayi harus menyesuaikan pada pola untuk makan, bernapas dan tetap
hangat (Asuhan Bayi Baru Lahir, 2000).
Dewasa ini penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 50%
kematian terjadi dalam periode neonatal. Oleh karena itu, upaya pemberian
kesehatan bayi dimulai dari pemenuhan BBL akan menyebabkan kelainan-
kelainan yang dapat berakibat fatal bagi bayi. Misalnya hipotermi pada
BBL yang menyebabkan hipotisemia dan hipoglikemia. Dan banyak tak
kurang pentingnya adalah pencegahan terhadap infeksi yang dapat terjadi
melalui tali pusat pada waktu memotong tali pusat.
Ditinjau dari pertumbuhan dan perkembangan bayi, periode
neonatal adalah periode yang paling rentan akan banyak hal, seperti infeksi
dan pengaturan tubuhnya, terutama pada bayi yang beratnya rendah saat
melahirkan. Sehingga perlu pemberian ASI atau PASI yang mencukupi
untuk membantu bayi dalam keadaan sehat dan menurunkan angka
kematian bayi. Manajemen yang baik pada waktu masih dalam kandungan,
selama persalinan segera sesudah melahirkan dan pemantauan
pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya akan menghasilkan bayi yang
sehat. (Syaifudin, 2006 : 133)
Menurut WHO, setiap tahunnya kira-kira 3% (3,6 juta) dari 120
juta bayi lahir mengalami asfiksia, hampir 1 juta bayi ini kemudian
meninggal. Di Indonesia, dari seluruh kematian bayi, sebanyak 57%
meninggal pada masa BBL (usia dibawah 1 bulan). Setiap 6 menit terdapat
satu bayi meninggal. Penyebab kematian BBL di indonesia adalah BBLR
29%, Asfiksia 27%, trauma lahir, Tetanus Neonatorum, infeksi lain dan
kelainan kongenital (JNPK-KR, 2008; h.145).
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui periode transisional dan pasca transisional pada
bayi baru lahir
2. Untuk mengetahui macam-macam refleks pada bayi baru lahir
3. Untuk mengetahui perubahan fisiologi pada bayi baru lahir
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Bayi Baru Lahir Normal
Bayi baru lahir normal adalah kemampuan sejumlah fungsi tubuh
bayi yang bersifat esensial dan kompleks untuk berlangsungnya kehidupan
bayi seperti pernafasan, denyut jantung, sirkulasi darah dan reflek-reflek
primitive seperti menghisap dan mencari putting susu (Sarwono, 2007).
Pada waktu kelahiran, tubuh bayi baru lahir mengalami sejumlah
adaptasi psikologik. Bayi memerlukan pemantauan ketat untuk
menentukan masa transisi kehidupannya ke kehidupan luar uterus
berlangsung baik. Bayi baru lahir juga membutuhkan asuhan yang dapat
meningkatkan kesempatan untuknya menjalani masa transisi dengan baik.
1. Periode Transisional
Periode transisional ini dibagi menjadi tiga periode, yaitu periode
pertama reaktivitas, fase tidur dan periode kedua reaktivitas.
Karakteristik masing-masing periodememperlihatkan kemajuan bayi
baru lahir kearah mandiri ( Muslihatun, 2010)
a. Periode pertama reaktivitas
Periode pertama reaktivits berakhir pada 30 menit pertama
setelah kelahiran. Karakteristik pada periode ini, antara lain:denyut
nadi apical berlangsung cepat dan irama tidak teratur, frekuensi
pernapasan mencapai 80 kali permenit, pernafasan cuping hidung,
ekspirasi mendengkur dan adanya retraksi.
Pada periode ini, bayi membutuhkan perawatan khusus,
antara lain: mengkaji dan memantau frekuensi jantung dan
pernafasan setip 30 menit pada 4 jam pertama setelah kelahiran,
menjaga bayi agar tetap hangat (suhu aksila 36,5-37,50C).
b. Fase tidur
Fase ini merupakan interval tidak responsive relative atau
fase tidur yang dimulai dari 30 menit setelah periode pertama
reaktivitas dan berakhir pada 2-4 jam. Karakteristik pada fase ini
adalah frekuensi pernafasan dan denyut jantung menurun kembali
ke nilai dasar, warna kulit cenderung stabil, terdapat akrosianosis
dan bisa terdengar bising usus.
c. Periode kedua reaktivitas
Periode kedua reaktivitas ini berakhir sekitar 4-6 jam setelah
kelahiran. Karakteristik pada periode ini adalah bayi memiliki
tingkat sensitivitas yang tinggi terhadap stimulus internal dan
lingkungan.
2. Periode pascatransisional
Setelah bayi melewati periode transisi, bayi dipindahkan ke ruang
rawat gabung bersama ibunya. Asuhan bayi baru lahir normal
umumnya mencakup pengkajian tanda-tanda vital setiap 4 jam,
pemeriksaan fisik setiap 8 jam, pemberian ASI on demand,
menggganti popok serta menimbang berat badan, selain asuhan
transisional dan pasca transisional asuhan bayi baru lahir juga
diberikan pada bayi berusia 2-6 hari, serta bayi berusia 6 minggu
pertama (Muslihatun, 2010.hlm.5)
a. Periode I (reaktivitas I): berlangsung selama 30 menit – 2
jam setelah bayi lahir
1) Bayi terjaga dengan mata terbuka
2) Memberikan respon terhadap stimulus
3) Mengisap dengan penuh semangat
4) Menangis
5) Respiration Rate = 82 x/mnt
6) Denyut jantung = 180 x/mnt
7) Bising usus aktif
8) Restfulness mengikuti fase awal reaktivitas berlangsung 2 – 4
jam, suhu tubuh, pernafasan, denyut jantung menurun.
b. Periode II (reaktivitas II)    : berlangsung 2 – 5 jam setelah bayi
lahir
1) Bayi bangun dari tidur nyenyak
2) Denyut jantung dan Respiration Rate meningkat
3) Reflek gag aktif
4) Mungkin bayi mengeluarkan mekoneum, urin dan menghisap
5) Periode ini berakhir ketika lendir pernafasan telah berkurang
c. Periode III (stabilisasi)    : berlangsung 12 – 24 jam setelah bayi
lahir
1) Bayi lebih mudah untuk tidur dan bangun
2) Tanda – tanda vital stabil
3) Kulit berwarna kemerahan dan hangat

B. Macam-macam Refleks Pada Bayi


1. Pada mata
Bagian pupil mata bila diberi cahaya normalnya akan mengecil.
Memeriksa mata dengan oftalmoskop untuk melihat reflek merah. Jika
tidak ada reflek tersebut, yaitu pupil berwarna putih ( katarak,
glaukoma, retino blastoma) maka rujuk bayi langsung ke ahli mata.
Periksa juga mata yang tampak normal. Misalnya untuk koloboma,
suatu defek berbentuk kunci pada iris. Yang paling sering adalah defek
berbentuk lubang kunci pada iris di bagian inferior. Juga dapat
mengenai koroid dan struktur lainnya Penglihatan dapat normal pada
kasus ringan, namun buruk jika saraf optikus terlibat.
2. Rooting reflek (reflek mencari puting susu)
Bayi akan menoleh kearah dimana terjadi sentuhan pada pipinya. bayi
akan membuka mulutnya apabila bibirnya disentuh dan berusaha untuk
menghisap benda yang disentuhkan tersebut.
3. Grasp reflek (reflek menggenggam)
Bila jari kita menyentuh telapak tangan, maka jari-jarinya akan
menggenggam dengan kuat.
4. Babinski reflek (pada anggota bawah telapak kaki, bila jari-jari yang
lain membeber dan membengkok kedepan).
5. Moro reflek (Reflek emosional)/ Startle reflek (reflek terkejut)
Bila bayi diangkat akan seolah-olah mengangkatkan tubuh pada orang
yang mendekatnya. Hentakan dan gerakan seperti mengenjang pada
lengan dan tangan disertai tangis yang kuat.
6. Tonick neck reflek
Gerakan spontan otot kuduk pada bayi normal, bila bayi
ditengkurapkan ia akan spontan memiringkan kepala.
7. Swallowing reflek (reflek menelan)
Kumpulan ASI di dalam mulut bayi mendesak otot-otot daerah mulut
dan faring untuk mengaktifkan reflek menelan dan mendorong ASI ke
dalam lambung bayi.(Tom Lissauer, 2008)
C. Perubahan Fisiologi Bayi Baru Lahir
1. Perubahan metabolisme karbohidrat
Dalam waktu 2 jam setelah lahir kadar gula darah tali pusat akan
menurun, energi tambahan yang diperlukan neonatus pada jam-jam
pertama sesudah lahir diambil dari hasil metabolisme asam lemak
sehingga kadar gula darah dapat mencapai 120 Mg/100. Bila ada
gangguan metabolisme akan lemah. Sehingga tidak dapat memenuhi
kebutuhan neonatus maka kemungkinan besar bayi akan menderita
hipoglikemia.
2. Perubahan suhu tubuh
Ketika bayi baru lahir, bayi berasa pada suhu lingkungan yang lebih
rendah dari suhu di dalam rahim. Apabila bayi dibiarkan dalam suhu
kamar maka akan kehilangan panas misal konveksi. Evaporasi
sebanyak 200 kal/kg/BB/menit. Sedangkan produksi yang dihasilkan
tubuh bayi hanya 1/100 nya, keadaan ini menyebabkan penurunan
suhu bayi sebanyak 20C dalam waktu 15 menit. Akibat suhu yang
rendah metabolisme jaringan meningkat dan kebutuhan O2 pun
meningkat.
3. Perubahan pernafasan
Selama dalam rahim ibu janin mendapat O2 dari pertukaran gas
melalui plasenta. Setelah bayi lahir pertukaran gas melalui paru-paru
bayi. Rangsangan gas melalui paru-paru untuk gerakan pernafasan
pertama:
a) Tekanan mekanik dari toraks pada saat melewati janin lahir.
b) Menurun kadar pH O2 dan meningkat kadar pH CO2 merangsang
kemoreseptor karohd.
c) Rangsangan dingin di daerah muka dapat merangsang pernapasan.
d) Pernafasan pertama pada BBL normal dalam waktu 30 detik
setelah persalinan. Dimana tekanan rongga dada bayi pada melalui
jalan lahir mengakibatkan cairan paru-paru kehilangan 1/3 dari
jumlah cairan tersebut. Sehingga cairan yang hilang tersebut
diganti dengan udara. Paru-paru mengembang menyebabkan
rongga dada tromboli pada bentuk semula.
4. Perubahan struktur
Dengan berkembangnya paru-paru mengakibatkan tekanan O2
meningkat tekanan CO2 menurun. Hal ini mengakibatkan turunnya
resistensi pembuluh darah paru-paru sebagian sehingga aliran darah ke
pembuluh darah tersebut meningkat. Hal ini menyebabkan darah dari
arteri pulmonalis mengalir ke paru-paru dan duktus arteriosus
menutup. Dan menciutnya arteri dan vena umbilikasis kemudian tali
pusat dipotong sehingga aliran darah dari plasenta melalui vena cava
inverior dan foramen oval atrium kiri terhenti sirkulasi darah bayi
sekarang berubah menjadi seperti semula.
5. Perubahaan lain
Alat-alat pencernaan, hati, ginjal dan alat-alat lain mulai berfungsi.
(Straight Barbara, 2004)
D. Fisiologi Neonatus
1. Sistem Pernafasan
a) Perkembangan Sistem Pulmoner
Umur Kehamilan Perkembangan

24 hari Bakal paru-paru terbentuk


24 – 26 hari 2 bronchi membesar
6 minggu Dibentuk segmen bronkus
12 minggu Differensial lobus
16 minggu Dibentuk lobus
24 minggu Dibentuk bronkiolus
28 minggu Dibentuk surfactant
34-36 minggu Maturasi struktur
b) Selama dalam uterus, janin mendapat O2 dari pertukaran gas
melalui plasenta, setelah bayi lahir pertukaran O2 terjadi pada paru-
paru (setelah tali pusat dipotong) .Tekanan mekanis pernafasan
pertama akibat adanya: Tekanan mekanis pada thorox sewaktu
melewati jalan lahir, penurunan tekanan O2 dan kenaikan
karbondioksida merangsang (chemoresptor pada sinus carotis).
c) Usaha bayi pertama kali untuk mempertahankan alveoli selain
adanya surfaktan adalah menarik nafas dan mengeluarkan nafas
dengan menjerit sehingga O2 tertinggal didalam.
2. Jantung dan Sirkulasi Darah
Didalam rahim, darah kaya akan nutrisi dari plasenta masuk ke
dalam tubuh janin, melalui umbilikus. Sebagian besar masuk ke dalam
cava inferior melalui duktus venosus arantii. Darah yang sel-sel tubuh
miskin O2 serta penuh sisa pembakaran akan dialiri ke plasenta melalui
arteri umbilicus dan seterusnya. Ketika janin dilahirkan segera bayi
menghirup udara dan menangis kuat dan paru-paru akan mengembang,
tekanan paru-paru mengecil dan darah mengalir ke paru-paru, maka
ductus arteriosus botalli tidak berfungsi lagi, foramen ovale tertutup.
3. Sistem Saluran Pernafasan
Pada kehamilan 4 bulan, pencernaan cukup terbentuk dan janin
telah dapat menelan air ketuban dalam jumlah yang cukup banyak.
Absorbsi air terjadi melalui hiucosa seluruh saluran pencernaan, janin
minum air ketuban dibuktikan dengan adanya mekonium.
4. Hepar
Pada kehamilan 4 bulan hepar mempunyai metabolisme hidrat
arang dan glikogen cepat terpakai, vitamin A dan D sudah tersimpan di
hepar. Berfungsi hepar janin dalam kandungan dan segera setelah lahir
masih dalam keadaan matur.
5. Metabolisme
Dibanding dengan ukuran tubuhnya. Luas permukaan neonatus
lebih besar dari pada orang dewasa, sehingga metabolisme
perkilogram berat badannya lebih besar. Pada jam pertama energi
didapatkan dari pembakaran karbohidrat dan pada akhir kedua berasal
dari pembakaran lemak.
6. Produksi Panas
Apabila mengalami hipotermi, bayi mengadakan penyesuaian suhu
yaitu dengan cara pembakaran cadangan lemak yang memberikan
lebih banyak energi daripada lemak biasa. Ketahanan tubuh
dipengaruhi oleh suhu tubuh bayi, umur kehamilan dan berat badan
bayi.
7. Kelenjar Endokrin
Ada neonatus kadang-kadang hormon yang didapatkan dari ibu masih
berfungsi, pengaruhnya dapat dilihat misalnya pembesaran kelenjar air
susu pada bayi laki-laki ataupun perempuan kadang-kadang adanya
pengeluaran darah dari vagina yang menyerupai haid pada bayi
perempuan.
8. Keseimbangan air fungsi ginjal
Tubuh neonatus mengandung relatif banyak air dan kadar natrium
relatif lebih dari kalium, bayi berumur 3 hari barulah ginjal mulai
memproses ari yang didapat setelah lahir.
9. Susunan Saraf
Pada triwulan terakhir hubungan antara syaraf dari fungsi otot-otot
menjadi lebih sempurna sehingga janin yang dilahirkan > 32 minggu
dapat hidup di luar kandungan.
10. Imunologi
Hanya terdapat imunologi semaglobin, dibentuk banyak dalam
bulan ke-2 setelah bayi dilahirkan. Imunologi gamaglobin pada janin
berasal dari ibunya melalui plasenta.( Sumarni, 1994:41-43 )
BAB III
KASUS DAN PEMBAHASAN KASUS
A. Kasus
Pada hari sabtu tanggal 21 Maret, Nyonya ”N” membawa anaknya yang
diketahui baru lahir sekitar 1 minggu yang lalu ke RS Islam. Nyonya ”N”
mengeluh tentang kondisi kesehatan bayinya seperti, tubuh bayi dingin
saat disentuh, bayi tampak lemah, kulit bayi tampak kemerahan. Setelah
diperiksa suhu tubuh bayi bidan. Hasil pemeriksaan suhu tubuhnya adalah
34,5 derajat celsius, bidan mengatakan bayi mengalami hipotermia.
B. Pembahasan Kasus
Hipotermia adalah kondisi dimana suhu tubuh kurang dari 36,5
derajat celsius. Kondisi hipotermia pada bayi baru lahir tiak boleh
dianggap sepele karena ada beberapa penyakit yang memilik gejala
hipotermia, diantaranya infeksi berat, radang selaput otak, radang paru,
dan hipoglikemi.
Suhu normal bayi adalah antara 36,5-37,5 derajat celsius.
Hipotermia dibagi menjadi tiga jenis yaitu stres dingin, hipotermia sedang
dan hipotermia berat. Batasan stres dingin adalah suhu antara 35,5°
celsius, hipoterimia sedang suhu tubuh bayi berkisar antara 32° hingga
35,4° Celsius. Hipotermia berat Bayi dinyatakan mengalami hipotermia
berat jika pengukuran suhu tubuhnya menunjukkan angka kurang dari 32°
Celsius di termometer. 
penyebabnya ternyata hal yang bisa jadi terlihat sederhana.
Beberapa di antaranya yaitu diakibatkan oleh popok yang basah yang
dibiarkan terlalu lama. Atau, bisa juga karena penyetelan suhu pendingin
ruangan yang terlalu rendah. Selain itu, stres dingin juga bisa terjadi
karena tubuh bayi masih basah karena ibu kurang cermat mengeringkan
tubuh bayi setelah mandi atau berendam di air yang dingin. Hipotermia
terjadi karena stres dingin dibiarkan terlalu lama, sehingga suhu tubuh
bayi semakin lama semakin menurun. 
Untuk penangana bisa dilakukan dengan cara, menjaga bayi dalam
keadaan hangat dilakukan dengan kontak kulit ke kulit, yaitu melekatkan
bayi di dada ibu sehingga kulit bayi menempel langsung pada kulit ibu,
dan ibu dan bayi berada dalam satu pakaian. Tutupi kepala bayi dengan
topi hangat. Selain itu, ibu harus menyusuinya, agar bayi mendapatkan
kehangatan dari ASI. 
Bayi dengan suhu kurang dari 35,4° Celsius atau mengalami
hipotermia berarti  mengalami kondisi berat yang harus segera mendapat
penanganan dokter. Tindakan yang dapat dilakukan oleh ibu sebelum dan
selama dalam perjalanan ke fasilitas kesehatan adalah terus memberikan
ASI dan menjaga kehangatan. Tetap memberikan ASI adalah hal yang
penting untuk mencegah agar kadar gula darah si Kecil tidak turun.
Apabila bayi masih mampu menyusu, bayi disusui langsung ke payudara
ibu. Namun, bila bayi tidak mampu menyusu tapi masih mampu menelan,
berikan ASI yang diperah dengan sendok atau cangkir.
 Pencegahan dapat dilakukan dengan cara, menutup kepala bayi
dengan topi hangat, memastikan pakaian bayi selalu kering, menyelimuti
bayi saat tidur, menjaga agar suhu ruangan selalu hangat (suhu kamar
tidak kurang dari 25°C),memastikan seluruh bagian tubuh bayi, termasuk
yang bersentuhan dengan popok, selalu dalam keadaan kering, tidak
menempatkan bayi di arah hembusan angin dari jendela, pintu, atau tepat
di depan pendingin ruangan, baju, handuk, dan air hangat perlu
dipersiapkan sebelum memandikan bayi, setelah dimandikan, segera
keringkan seluruh bagian tubuhnya dan dan kenakan baju pada bayi.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bayi baru lahir normal adalah bayi lahir yang melewati masa
penyesuaian pada minggu pertama kehidupannya. Ditinjau dari
pertumbuhan dan perkembangan bayi, periode neonatal adalah periode
yang paling rentan akan banyak hal, seperti infeksi dan pengaturan
tubuhnya, terutama pada bayi yang beratnya rendah saat melahirkan.
Sehingga perlu pemberian ASI atau PASI yang mencukupi untuk
membantu bayi dalam keadaan sehat dan menurunkan angka kematian
bayi. Bayi baru lahir juga membutuhkan asuhan yang dapat meningkatkan
kesempatan untuknya menjalani masa transisi dengan baik. Masa transisi
terbagi menjadi dua yaitu, periode transisional dan pasca transisional. Pada
masa transisi bayi baru lahir mengalami perubahan fisiologi yang meliputi,
perubahan metabolisme karbohidrat, perubahan suhu tubuh, perubahan
pernafasan dan perubahan struktur.
B. Saran
Untuk ibu yang memiliki bayi baru lahir diharapkan untuk lebih
memperhatikan suhu tubuh bayi dan mencari tahu informasi terkait bayi
baru lahir dengan bertanya pada bidan maupun petugas kesehatan lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
DepKes RI, 1992. Asuhan Kesehatan Anak dalam Konteks keluarga.
Saifudin Abdul Bahri. Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal
neonatal. Jakarta: YBP_SP. 2002.
JHPIEGO. Panduan pengajar asuhan kebidanan fisiologi bagi dosen diploma
III kebidanan. Buku 5 asuhan bayi baru lahir. Jakarta: Pusdiknakes 2003.
Depkes RI. 2007. Buku Acuan & Panduan Asuhan Persalinan Normal &
Inisiasi Menyusu
Burroughs A & Leifer G. (2001). Maternity Nursing an Introductory Text. 8 th
edition.
Gorrie T.M., McKinney E.S., & Murray S.S. (1998). 2nd edition. Foundation
of Maternal–Newborn Nursing. Philadelphia. W.B. Saunders Company.
Behrman, R.E. dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Volume 1.
Diterjemahkan oleh A.Samik Wahab. Jakarta : EGC.
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan
Kebidanan. Jakarta; Salemba Medika
Maryunani, Anik. 2010. Ilmu Kesehatan Anak Dalam Kebidanan. Jakarta;
Trans Info Media
Dewi, Vivian Nanny Lia. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak
Balita. Jakarta; Salemba Medika

Anda mungkin juga menyukai