Anda di halaman 1dari 15

NAMA MK : ASUHAN KOMUNITAS DAN PERAN

PENDIDIK BIDAN

DOSEN PENGAMPU : Hj. Sumarni, S.ST., SKM., M.Kes

“Metode PRA (Participatory Rural Appraisal) Dalam Pengembangan


Masyarakat”

OLEH :
KELOMPOK 2

1. SITI HARDIYANTI ( A1 B1 19 131 )


2. LUTHFIYAH SYAM ( A1 B1 19 130 )
3. MIRA SUGIARTI ( A1 B1 19 129 )
4. NOVIANTI RUKMANA ( A1 B1 19 133 )
5 KIKI ARISKA ( A1 B1 19 134 )
6. MULIYANI EKA PUTRI ( A1 B1 19 140 )
7. UMI SUTRA ( A1 B1 19 142 )
8. BARANG DAENG ( A1 B1 19 143 )
9. RISKY NOVIANTI ( A1 B1 19 144 )

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV KEBIDANAN


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2020
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT., atas


berkat rahmat, taufik dan hidayahnya. Sehingga makalah ini dapat
terselesaikan dengan hasil yang tertuang dalam tulisan ini. Makalah ini
membahas mengenai “ Metode PRA ( Participatory Rural Appraisal )
Dalam Pengembangan Masyarakat ”.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi kewajiban sebagai salah satu
tugas Mata Kuliah Asuhan Komunitas dan Peran Pendidik Bidan yang
diampu oleh Ibu Hj. Sumarni, S.ST., SKM., M.Kes di prodi DIV Kebidanan
Universitas Mega Rezky Makassar. Penulis menyadari bahwa dalam
penyelesaian makalah ini masih terdapat banyak kekurangan sehingga
jika kita menemukan kelebihannya maka sesungguhnya kelebihan itu
adalah rahmat dari Allah SWT. Penulis menyadari pula bahwa, penulis
tidak akan mampu menyelesaikan makalah ini tanpa sumbangsi dari
berbagai pihak. Untuk itu penulis menghanturkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu hingga makalah ini dapat
terselesaikan.
Akhir kata dengan segenap kerendahan hati kami
mempersembahkan Makalah ini dengan harapan semoga dapat
bermanfaat bagi para pembaca khususnya bagi pengembangan dunia
kesehatan.

Makassar, 30 Maret 2020

Kelompok 2

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................i
DAFTAR ISI...................................................................................................ii
BAB I Pendahuluan .....................................................................................1
A. Latar Belakang.......................................................................................1
B. Rumusan Masalah.................................................................................2
C. Tujuan Penulisan...................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................3
A. Defenisi Metode PRA............................................................................3
B. Tujuan PRA............................................................................................4
C. Prinsip-prinsip PRA................................................................................4
D. Tehnik Dalam Metode PRA...................................................................8
E. Kelebihan dan Kekurangan Metode PRA..............................................10
BAB III PENUTUP.........................................................................................11
A. Kesimpulan............................................................................................11
B. Saran.....................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
PRA adalah suatu metode pendekatan dalam proses
pemberdayaan dan peningkatan partisipasi masyarakat, yang
tekanannya pada keterlibatan masyarakat dalam keseluruhan
kegiatan pembangunan.
Robert Chambers menegaskan bahwa PRA memungkinkan
orang desa (baca: masyarakat) dapat mengungkapkan dan
menganalisis situasi mereka sendiri serta secara optimal
merencanakan dan melaksanakan tekat itu di desanya sendiri
(Mikkelsen, 2011:67). Dalam PRA, masyarakat desa berperan aktif
dalam pemetaaan masalah sosial dan penyebabnya, peta jalan untuk
memcahkan masalah, dan kemudian menuangkan menjadi program,
dukungan anggaran, serta implementasinya berbasis pada kerja
sama, keswadayaan, dan kemandirian masyarakat. PRA juga menjadi
instrumen yang tepat untuk penilaian atas kebutuhan masyarakat di
tingkat lokal (Mueller, 2010:1).
PRA merupakan metode yang sangat tepercaya untuk program
pemberdayaan masyarakat (Sinha, 1997; Mikkelson, 2011). Beberapa
studi telah menunjukkan efektivitas metode ini. Studi Olofson (1985),
misalnya, menunjukkan bahwa PRA dapat dipakai untuk program
pelestarian hutan berbasis komunitas. Das (2012) telah menggunakan
PRA untuk mewujudkan pengelolaan hutan secara partsipatoris
sehingga mewujudkan penghidupan masyarakat desa yang
berkelanjutan. PRA juga telah dipakai untuk program pengurangan
risiko bencana di Philipina (Pante dkk., 2013). Bahkan, metode ini
dapat dipakai untuk kepentingan penelitian ilmiah, misalnya
memetakan pengetahuan lokal dan kebutuhan untuk mengidentifikasi
masalah sosial.

1
2

Melalui metode PRA, masyarakat desa bukan lagi sebagai objek


yang menerima program dari atas (top-down), melainkan menjadi
subjek pembangunan yang merancang program pembangunan dari
bawah (bottom-up) dengan terus aktif dalam proses perencanaan,
penentuan skala prioritas program, penganggaran, pelaksanaan, dan
pemanfaatan hasil pembangunan yang dikendalikan di tingkat desa.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan PRA (Participatory Rural Appraisal) ?
2. Apa Tujuan PRA (Participatory Rural Appraisal) ?
3. Apa prinsip-prinsip PRA (Participatory Rural Appraisal) ?
4. Bagaimana tehnik dalam metode PRA (Participatory Rural
Appraisal) ?
5. Apa kelebihan dan kekurangan metode PRA (Participatory Rural
Appraisal) ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui defenisi metode PRA dalam pengembangan
masyarakat.
2. Untuk mengetahui tujuan PRA dalam pengembangan masyarakat.
3. Untuk mengetahui prinsip-prinsip PRA dalam pengembangan
masyarakat.
4. Untuk mengetahui tehnik PRA dalam pengembangan masyarakat.
5. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan metode PRA dalam
pengembangan masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Defenisi PRA (Participatory Rural Appraisal)


PRA ada antara lain dilatarbelakangi oleh kritik para aktivis
pengembangan dan pemberdayaan masyarakat terhadap penelitian
dahulu yang lebih banyak memposisikan masyarakat sekedar sebagai
obyek penelitian.
PRA adalah suatu metode pendekatan untuk mempelajari
kondisi dan kehidupan pedesaan dari, dengan dan oleh masyarakat
desa. Atau dengan kata lain dapat disebut sebagai kelompok metode
pendekatan yang memungkinkan masyarakat desa untuk saling
berbagi, meningkatkan, dan menganalisis pengetahuan mereka
tentang kondisi dan kehidupan desa, membuat rencana dan bertindak.
PRA merupakan metode penelitian aksi yang dikembangkan
untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
Melalui metode PRA, masyarakat desa bukan lagi sebagai objek yang
menerima program dari atas (top-down), melainkan menjadi subjek
pembangunan yang merancang program pembangunan dari bawah
(bottom-up) dengan terus aktif dalam proses perencanaan, penentuan
skala prioritas program, penganggaran, pelaksanaan, dan
pemanfaatan hasil pembangunan yang dikendalikan di tingkat desa.
Jadi, PRA adalah teknik yang memungkinkan masyarakat untuk
turut serta dalam membuat tindakan nyata rencana, pengawasan, dan
evaluasi kebijakan yang berpengaruh pada kehidupannya. PRA bukan
hanya terdiri dari riset, melainkan juga perencanaan (partisipatif),
monitoring, dan evaluasi. Dengan dilibatkannya masyarakat dalam
proses program, program itu akan lebih sesuai dengan kebutuhan
masyarakat dan tingkat kepedulian masyarakat  dalam menjalankan
program/kebijakan akan lebih tinggi.

3
4

B. Tujuan PRA (Participatory Rural Appraisal)


Konsep dasar pandangan PRA adalah pendekatan yang
tekanannya pada keterlibatan masyarakat dalam keseluruhan
kegiatan. Metode PRA bertujuan menjadikan warga masyarakat
sebagai peneliti, perencana, dan pelaksana program pembangunan
dan bukan sekedar obyek pembangunan.
Adapun beberapa tujuan PRA yaitu:
1. Perumusan masalah dan penetapan prioritas untuk memproleh
rumusan atas dasar masalah dan potensi setempat.
2. Pengenalan masalah atau kebutuhan dan potensi.
3. Pemilihan alternative pemecahan yang paling tepat sesuai dengan
kemampuan masyarakat dan sumber daya yang dimiliki.
4. Penyajian rencana kegiatan guna mendapatkan masukan untuk
penyempurnaan pada tingkat yang lebih besar.
5. Identifikasi alternative pemecahan masalah.
C. Prinsip-Prinsip PRA (Participatory Rural Appraisal)
1. Saling Belajar Dari Kesalahan dan Berbagi Pengalaman Dengan
Masyarakat
Prinsip dasar PRA bahwa PRA adalah dari, oleh, dan untuk
masyarakat. Prinsip ini merupakan pembalikan dari metode
pembelajaran konvensional yang bersifat mengajari masyarakat.
Kenyataan membuktikan bahwa dalam perkembangannya
pengalaman dan pengetahuan tradisional masyarakat tidak
sempat mengejar perubahan yang terjadi, sementara itu
pengetahuan modern yang diperkenalkan orang luar tidak juga
selalu memecahkan masalah. Oleh karenanya diperlukan ajang
dialog di antara ke duanya untuk melahirkan sesuatu program
yang lebih baik. PRA bukanlah suatu perangkat teknik tunggal
yang telah selesai, sempurna, dan pasti benar. Oleh karenanya
metode ini selalu harus dikembangkan yang disesuaikan dengan
kebutuhan setempat. Kesalahan yang dianggap tidak wajar, bisa
5

saja menjadi wajar dalam proses pengembangan PRA. Bukannya


kesempurnaan penerapan yang ingin dicapai, namun penerapan
sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan yang ada dan
mempelajari kekurangan yang terjadi agar berikutnya menjadi lebih
baik. Namun PRA bukan kegiatan coba-coba (trial and error) yang
tanpa perhitungan kritis untuk meminimalkan kesalahan.
2. Keterlibatan Semua Anggota Kelompok, Menghargai Perbedaan,
dan Informal
Masyarakat bukan kumpulan orang yang homogen, namun
terdiri dari berbagai individu yang mempunyai masalah dan
kepentingan sendiri. Oleh karenanya keterlibatan semua golongan
masyarakat adalah sangat penting. Golongan yang paling
diperhatikan justru yang paling sedikit memiliki akses dalam
kehidupan sosial komunitasnya (miskin, perempuan, anak-anak,
dll). Masyarakat heterogen memiliki pandangan pribadi dan
golongan yang berbeda. Oleh karenanya semangat untuk saling
menghargai perbedaan tersebut adalah penting artinya. Yang
terpenting adalah pengorganisasian massalah dan penyusunan
prioritas masalah yang akan diputuskan sendiri oleh masyarakat
sebagai pemiliknya. Kegiatan PRA dilaksanakan dalam suasana
yang luwes, terbuka, tidak memaksa, dan informal. Situasi santai
tersebut akan mendorong tumbuhnya hubungan akrab, karena
orang luar akan berproses masuk sebagai anggota bukan sebagai
tamu asing yang harus disambut secara protokoler. Dengan
demikian suasana kekeluargaan akan dapat mendorong kegiatan
PRA berjalan dengan baik.
3. Orang Luar Sebagai Fasilitator dan Masyarakat Sebagai Pelaku
Konsekuensi dari prinsip pertama, peran orang luar hanya
sebagai fasilitator, bukan sebagai pelaku, guru, penyuluh,
instruktur, dll. Perlu bersikap rendah hati untuk belajar dari
masyarakat dan menempatkannya sebagai nara sumber utama.
6

Bahkan dalam penerapannya, masyarakat dibiarkan mendominasi


kegiatan. Secara ideal sebaiknya penentuan dan penggunaan
teknik dan materi hendaknya dikaji bersama, dan seharusnya
banyak ditentukan oleh masyarakat.
4. Konsep Triangulasi
Untuk bisa mendapatkan informasi yang kedalamannya
dapat diandalkan, bisa digunakan konsep triangulasi yang
merupakan bentuk pemeriksaan dan pemeriksaan ulang (check
and recheck). Triangulasi dilakukan melalui penganekaragaman
keanggotaan tim (disiplin ilmu), sumber informasi (latar belakang
golongan masyarakat, tempat) dan variasi teknik.
a. Penggunaan variasi dan kombinasi berbagai teknik PRA, yaitu
bersama masyarakat bisa diputuskan variasi dan kombinasi
teknik PRA yang paling tepat sesuai dengan proses belajar
yang diinginkan dan cakupan informasi yang dibutuhkan dalam
pengembangan program.
b. Menggali berbagai jenis dan sumber informasi, dengan
mengusahakan kebenaran data dan informasi (terutama data
sekunder) harus dikaji ulang dan sumbernya dengan
menggunakan teknik lain.
c. Tim PRA yang multidisipliner, dengan maksud sudut pandang
yang berbeda dari anggota tim akan memberi gambaran yang
lebih menyeluruh terhadappenggalian informasi dan memberi
pengamatan mendalam dari berbagai sisi.
5. Optimalisasi Hasil
Pelaksanaan PRA memerlukan waktu, tenaga narasumber,
pelaksana yang terampil, partisipasi masyarakat yang semuanya
terkait dengan dana. Untuk itu optimalisasi hasil dengan pilihan
yang menguntungkan mutlak harus dipertimbangkan. Oleh
karenanya kuantitas dan akurasi informasi sangat diperlukan agar
7

jangan sampai kegiatan yang berskala besar namun biaya yang


tersedia tidak cukup.
6. Berorientasi Praktis
Orientasi PRA adalah pemecahan masalah dan
pengembangan program. Dengan demikian dibutuhkan penggalian
informasi yang tepat dan benar agar perkiraan yang tepat akan
lebih baik daripada kesimpulan yang pasti tetapi salah, atau lebih
baik mencapai perkiraan yang hampir salah daripada kesimpulan
yang hampir benar.
7. Keberlanjutan Program
Masalah dan kepentingan masyarakat selalu berkembang
sesuai dengan perkembangan masyarakat itu sendiri. Karenanya,
pengenalan masyarakat bukan usaha yang sekali kemudian
selesai, namun merupakan usaha yang berlanjut. Bagaimanapun
juga program yang mereka kembangkan dapat dipenuhi dari
prinsip dasar PRA yang digerakkan dari potensi masyarakat.
8. Mengutamakan Yang Terabaikan
Prinsip ini dimaksudkan agar masyarakat yang terabaikan
dapat memperoleh kesempatan untuk berperan dan mendapat
manfaat dalam kegiatan program pembangunan. Keperpihakan
pada pihak atau golongan masyarakat yang terabaikan bukan
berarti bahwa golongan masyarakat lainnya (elite masyarakat)
perlu mendapat giliran untuk diabaikan atau tidak diikutsertakan.
Keberpihakan ini lebih pada upaya untuk mencapai keseimbangan
perlakuan terhadap berbagai golongan dan lapisan yang ada di
masyarakat, dengan mengutamakan golongan paling miskin agar
kehidupannya dapat meningkat.
9. Pemberdayaan (Penguatan) Masyarakat
Kemampuan masyarakat ditingkatkan melalui proses
pengkajian keadaan, pengambilan keputusan, penentuan
kebijakan, peilaian dan koreksi terhadap kegiatan yang dilakukan.
8

Dengan demikian masyarakat memiliki akses peluang dan


kesempatan serta memiliki kemampuan memberikan keputusan
dan memilih berbagai keadaan yang terjadi. Dengan demikian
mereka dapat mengurangi ketergantungan terhadap bantuan
‘orang luar’
10. Santai dan Informal
Penyelenggaraan kegiatan PRA bersifat luwes, tidak
memaksa, dan informal sehingga antara orang luar dan
masyarakat setempat terjalin hubungan yang akarab, orang luar
akan berproses masuk sebagai anggota masyarakat. Dengan
demikian kedatangan orang luar tidak perlu disambut atau dijamu
secara adat oleh masyarakat dan tokohnya maupun oleh
pemerintah setempat. Orang luar yang masuk harus
memperhatikan jadwal atau waktu kegiatan masyarakat, sehingga
penerapan PRA tidak mengganggu kegiatan rutin masyarakat.
11. Keterbukaan
PRA sebagai metode dan perangkat teknik pendekatan
kepada masyarakat masih belum sempurna, dan belum selesai.
Berbagai teknik penerapannya di dalam praktik masih terus
dikembangkan dan disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan
masyarakat setempat. Oleh karena itu berbagai pengalaman
penerapan tersebut diharapkan dapat memberikan sumbangan
pemikiran untuk memperbaiki konsep dan pemikiran serta dalam
merancang teknik-teknik baru sehingga sangat berguna dalam
memperkaya metode ini.
D. Tehnik Dalam Melakukan PRA (Participatory Rural Appraisal)
1. Secondary Data Review (SDR)
Review Data Sekunder atau SDR merupakan cara
mengumpulkan sumber-sumber informasi yang telah diterbitkan
maupun yang belum disebarkan. Tujuan dari usaha ini adalah
9

untuk mengetahui data manakah yang telah ada sehingga tidak


perlu lagi dikumpulkan.
2. Direct Observation / Observasi Langsung
Direct Observation adalah kegiatan observasi secara
langsung pada obyek masyarakat atau komunitas. Tujuannya
adalah untuk melakukan cross-check terhadap jawaban yang
disebutkan oleh masyarakat.
3. Semi Structured Interviewing (SSI)
Wawancara Semi Terstruktur atau SSI adalah wawancara
yang mempergunakan panduan pertanyaan sistematis yang masih
mungkin untuk berkembang selama interview dilaksanakan,
karena pertanyaan bersifat memberikan umpan bagi responden
untuk memberikan jawaban yang lebih detail. SSI dapat dilakukan
kepada beberapa jenis responden yang dianggap mewakili
informasi, misalnya wanita, pria, anak-anak, pemuda, petani, dan
pejabat setempat.
4. Pemetaan Sosial
Teknik ini adalah suatu cara untuk membuat gambaran
kondisi sosial-ekonomi masyarakat, misalnya gambar posisi
pemukiman, sumber-sumber mata pencaharian, peternakan, jalan,
dan sarana-sarana umum. Hasil gambaran ini merupakan peta
umum sebuah lokasi yang menggambarkan keadaan masyarakat
maupun lingkungan fisik
5. Pencatatan Alur Sejarah.
Teknik pencatatan alur sejarah ini adalah suatu teknik yang
digunakan untuk mengetahui kejadian-kejadian dari suatu waktu
lampau sampai keadaan sekarang dengan persepsi dari
komunitas/masyarakat setempat. Tujuan dari teknik ini adalah
untuk memperoleh gambaran mengenai topik-topik penting di
masyarakat yang nantinya dapat dituangkan kedalam program.
10

6. Diagram Venn.
Teknik ini adalah untuk mengetahui hubungan institusional
dengan masyarakat. Tujuannya untuk mengetahui pengaruh
masing-masing institusi dalam kehidupan masyarakat serta untuk
mengetahui harapan-harapan apa dari masyarakat terhadap
institusi-institusi tersebut.
7. Focus Group Discussion
Diskusi Kelompok Terfokus. Teknik ini berupa diskusi antara
beberapa orang untuk membicarakan hal-hal bersifat khusus
secara mendalam. Tujuannya untuk memperoleh gambaran
terhadap suatu masalah dari misalnya program tertentu dengan
lebih rinci serta melakukan evaluasi terhadap program tersebut
E. Kelebihan dan Kekurangan PRA (Participatory Rural Appraisal)
1. Kelebihan PRA
a. Melibatkan seluruh kelompok masyarakat.
b. Keikutsertaan masyarakat miskin.
c. Rasa tanggung jawab masyarakat akan keberlangsungan
program lebih besar.
d. Melibatkan gender pada program.
e. Cocok diterapkan dimana saja.
2. Kelemahan PRA
a. Tidak semua fasilitator program memiliki kemampuan yang baik
dalam memfasilitasi masyarakat.
b. Pendekatan PRA identik dengan rapat-rapat, pertemuan-
pertemuan, dan musyawarah-musyawarah yang sifatnya
umum.
c. Sebagian fasilitator belum terampil dalam memfasilitasi
pengolahan dan analisis informasi.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
PRA ada antara lain dilatarbelakangi oleh kritik para aktivis
pengembangan dan pemberdayaan masyarakat terhadap penelitian
dahulu yang lebih banyak memposisikan masyarakat sekedar sebagai
obyek penelitian.
Jadi, PRA adalah teknik yang memungkinkan masyarakat untuk
turut serta dalam membuat tindakan nyata rencana, pengawasan, dan
evaluasi kebijakan yang berpengaruh pada kehidupannya. PRA bukan
hanya terdiri dari riset, melainkan juga perencanaan (partisipatif),
monitoring, dan evaluasi. Dengan dilibatkannya masyarakat dalam
proses program, program itu akan lebih sesuai dengan kebutuhan
masyarakat dan tingkat kepedulian masyarakat  dalam menjalankan
program/kebijakan akan lebih tinggi.
Konsep dasar pandangan PRA adalah pendekatan yang
tekanannya pada keterlibatan masyarakat dalam keseluruhan
kegiatan. Metode PRA bertujuan menjadikan warga masyarakat
sebagai peneliti, perencana, dan pelaksana program pembangunan
dan bukan sekedar obyek pembangunan.
B. Saran
Pentingnya mengetahui metode PRA (Participatory Rural
Appraisal) dalam pengembangan masyarakat, maka dari itu setelah
membaca dan memahami isi makalah ini kita dapat mengaplikasikan
ilmunya dalam kehidupan. Kami mengharapkan kritik dan saran dari
semua pihak baik dosen ataupun mahasiswa demi kesempurnaan
makalah yang kami buat.

11
DAFTAR PUSTAKA

Bambang Hudayana, Pande Made Kutanegara, Dkk. 2019. Participatory


Rural Appraisal (PRA) untuk Pengembangan Desa Wisata di
Pedukuhan Pucung, Desa Wukirsari, Bantul. Vol. 2 (2) (Diakses
tanggal 27 Maret 2020)

Huraerah Abu. 2014. Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat.


Yogyakarta: Humaniora.

Zubaedi. 2016. Pengembangan Masyarakat Wacana dan Praktik. Jakarta:


Kencana.

11