Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA

PERCOBAAN II

EKSTRAKSI
Dosen Pengampu : Muh. Yani Zamzam, S.Si. M.Farm., Apt

Disusun oleh :

Iis Sugiarti (12118017)

Ines Safitri (12118018)

Irfan Luqmanulhakim (12118019)

Julia Rahmadila (12118020)

Kaori Rosalina Yessa (12118021)

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI FARMASI MUHAMMADIYAH CIREBON
2020
1

A. PENDAHULUAN
Pemurnian suatu senyawa dapat dilakukan dengan ekstraksi. Ekstraksi cairan-
cairan merupakan suatu teknik dalam suatu larutan (biasanya dalam air) dibuat
bersentuhan dengan suatu pelarut kedua (biasanya organik), yang pada dasaranya tidak
saling bercampur dan menimbulkan perpindahan satu atau lebih zat terlarut (solut) ke
dalam pelarut kedua itu. Pemisahan itu dapat dilakukan dengan mengocok-ngocok
larutan dalam sebuah corong pemisah selama beberapa menit
Partisi zat-zat terlarut antara dua cairan yang tidak dapat tercampur
(immiscible) menawarkan banyak kemungkinan yang menarik untuk pemisahan
analitis. Bahkan di mana tujuan primernya adalah bukan analitis namun preparatif,
ekstraksi pelarut dapat merupakan suatu langkah penting dalam urutan yang menuju ke
suatu produk murninya dalam laboratorium organik, anorganik atau biokimia.
Pemisahan ekstraksi pelarut biasanya ‘bersih´ dalam arti tak ada analog, kopresipitasi
dengan sistem semacam itu.
Ekstraksi merupakan metode pemisahan yang baik dan popular dibanding
kebanyakan metode lain. Alasan utamanya adalah bahwa pemisahan ini dapat
dilakukan baik dalam tingkat makro maupun mikro. Seseorang tidak memerlukan alat
yang khusus atau canggih kecuali corong pemisah. Prinsip metode ini didasarkan pada
distribusi zat terlarut dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidak saling
bercampur seperti benzen, karbon tetraklorida atau kloroform. Batasannya adalah zat
terlarut dapat ditransfer dalam jumlah yang berbeda dalam kedua fase terlarut. Teknik
ini dapat digunakan untuk kegunaan preparatif, pemurnian, memperkaya pemisahan
serta analisis pada semua skala kerja. Mula-mula metode ini dikenal dalam kimia
analisis kemudian berkembang menjadi metode yang baik, sederhana, cepat dan dapat
digunakan untuk ion-ion logam yang bertindak sebagai pengotor dan ion-ion logam
dalam jumlah makrogram.
Untuk itu kami melakukan sebuah kegiatan praktikum untuk mengelola dan
memanfaatkan sebuah sumber daya alam yang ada sehingga dapat digunakan dalam
waktu jangka panjang. Praktikum yang dilakukan ialah mengekstrak tanaman Paku
Hata (Lygodium circinnatum) dengan metode maserasi, perkolasi, dan soxhlet. Ekstrak
2

yang dihasilkan akan dimanfaatkan untuk melihat ada tidaknya potensi untuk dijadikan
sebuah obat.

B. TUJUAN PERCOBAAN
Mahasiswa mengetahui cara-cara penyarian zat-zat berkhasiat dari suatu
simplisia dengan cara maserasi, perkolasi dan soxletasi.

C. DASAR TEORI
A. Ekstraksi
Ekstraksi didasarkan pada perpindahan massa komponen zat padat ke dalam
pelarut dimana perpindahan mulai terjadi pada lapisan antar muka, kemudian
berdifusi ke dalam pelarut dan setelah pelarut diuapkan maka zat aktifnya akan
diperoleh (Adrian, 2000).
Tujuan Ekstraksi yaitu penyarian komponen kimia atau zat-zat aktif dari bagian
tanaman obat, hewan dan beberapa jenis hewan termasuk biota laut. Komponen kimia
yang terdapat pada tanaman, hewan dan beberapa jenis ikan pada umumnya
mengandung senyawa-senyawa yang mudah larut dalam pelarut organik (Adrian,
2000).
Proses pengekstraksian komponen kimia dalam sel tanaman adalah pelarut
organik akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang
mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dalam pelarut organik di luar sel, maka
larutan terpekat akan berdifusi keluar sel dan proses ini akan berulang terus sampai
terjadi keseimbangan antara konsentrasi cairan zat aktif di dalam dan di luar sel
(Adrian, 2000).
Macam – macam cairan penyari (Rohman, 2007) :
a.    Air
Termasuk yang mudah dan murah dengan pemakaian yang luas, pada suhu
kamar adalah pelarut yang baik untuk bermacam-macam zat misalnya : garam-garam
alkaloida, glikosida, asam tumbuh-tumbuhan, zat warna dan garam-garam mineral.
Umumnya kenaikan suhu dapat menaikkan kelarutan dengan pengecualian
misalnya pada condurangin, Ca hidrat, garam glauber dll. Keburukan dari air adalah
3

banyak jenis zat-zat yang tertarik dimana zat-zat tersebut meripakan makanan yang
baik untuk jamur atau bakteri dan dapat menyebabkan mengembangkan simplisia
sedemikian rupa, sehingga akan menyulitkan penarikan pada perkolasi.
b.   Etanol
Etanol hanya dapat melarutkan zat-zat tertentu, Umumnya pelarut yang baik
untuk alkaloida, glikosida, damar-damar, minyak atsiri tetapi bukan untuk jenis-jenis
gom, gula dan albumin. Etanol juga menyebabkan enzym-enzym tidak bekerja
termasuk peragian dan menghalangi perutumbuhan jamur dan kebanyakan bakteri.
Sehingga disamping sebagai cairan penyari juga berguna sebagai pengawet.
Campuran air-etanol (hidroalkoholic menstrum) lebih baik dari pada air sendiri.
c.    Gycerinum (Gliserin)
Terutama dipergunakan sebagai cairan penambah pada cairan menstrum untuk
penarikan simplisia yang mengandung zat samak. Gliserin adalah pelarut yang baik
untuk tanin-tanin dan hasil-hasil oksidanya, jenis-jenis gom dan albumin juga larut
dalam gliserin. Karena cairan ini tidak atsiri, tidak sesuai untuk pembuatan ekstrak-
ekstrak kering.
d.   Eter
Sangat mudah menguap sehingga cairan ini kurang tepat untuk pembuatan
sediaan untuk obat dalam atau sediaan yang nantinya disimpan lama.
e.   Solvent Hexane
Cairan ini adalah salah satu hasil dari penyulingan minyak tanah kasar. Pelarut
yang baik untuk lemak-lemak dan minyak-minyak. Biasanya dipergunakan untuk
menghilangkan lemak dari simplisia yang mengandung lemak-lemak yang tidak
diperlukan, sebelum simplisia tersebut dibuat sediaan galenik, misalnya strychni,
secale cornutum.
f.     Acetonum
Tidak dipergunakan untuk sediaan galenik obat dalam, pelarut yang baik untuk
bermacam-macam lemak, minyak atsiri, damar. Baunya kurang enak dan sukar hilang
dari sediaan. Dipakai misalnya pada pembuatan Capsicum oleoresin (N.F.XI)
4

g.   Chloroform
Tidak dipergunakan untuk sediaan dalam, karena efek farmakologinya. Bahan
pelarut yang baik untuk basa alkaloida, damar, minyak lemak dan minyak atsiri.
h. Diklorometana
Diklorometana (CH2Cl2) adalah pelarut organik sering menggunakan untuk
mengekstrak senyawa organik dari sampel. Ini adalah racun tapi lebih sedikit
daripada kloroform.
Jenis ekstraksi bahan alam yang sering dilakukan adalah (Tobo, 2001) :
a. Secara panas seperti refluks dan destilasi uap air karena sampel langsung dipanaskan
dengan pelarut; dimana umumnya digunakan untuk sampel yang mempunyai bentuk
dan dinding sel yang tebal.
b. Secara dingin misalnya maserasi, perkolasi, dan soxhlet. Dimana untuk maserasi
dilakukan dengan cara merendam simplisia, sedangkan soxhlet dengan cara cairam
penyari dipanaskan dan uap cairan penyari naik ke kondensor kemudian terjadi
kondensasi dan turun menyari simplisia.
Adapun cara-cara ekstraksi adalah :
1. MASERASI
a. Pengertian
Maserasi istilah aslinya adalah macerare (bahasa latin, artinya merendam) :
adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi bahan nabati yaitu
direndam menggunakan pelarut bukan air (pelarut non polar) atau setengah air,
misalnya etanol encer, selama periode waktu tertebtu sesuai dengan aturan dalam
buku resmi kefarmasian (FI Ed. IV).
Maserasi merupakan cara ekstraksi yang sederhana. Istilah maceration berasal
dari bahasa latin macere, yang artinya “merendam”. Jadi maserasi dapat diartikan
sebagai proses dimana obat yang sudah halus memungkinkan untuk direndam dalam
menstruum sampai meresap dan melunakkan susunan sel, sehingga zat-zat yang
mudah larut akan melarut (Ansel, 1989).
Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan
dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari akan
menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat
5

aktif akan larut dan karena adanya perbedan konsentrasi antara larutan zat aktif di
dalam sel dengan yang di luar sel, maka larutan yang terpekat didesak keluar.
Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan
di luar sel dan di dalam sel (Depkes RI, 1986).
Maserasi adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi bahan
nabati yaitu direndam menggunakan pelarut bukan air (pelarut nonpolar) atau
setengah air, misalnya etanol encer, selama periode waktu tertentu sesuai dengan
aturan dalam buku resmi kefarmasian (Depkes RI, 1995).
b. Prinsip
Prinsip maserasi adalah ekstraksi zat aktif yang dilakukan dengan cara
merendam serbuk dalam pelarut yang sesuai selama beberapa hari pada temperatur
kamar terlindung dari cahaya, pelarut akan masuk ke dalam sel dari tanaman melewati
dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di
dalam sel dengan di luar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar
dan diganti oleh pelarut dengan konsentrasi rendah (proses difusi). Peristiwa tersebut
berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di
dalam sel. Selama proses maserasi (biasanya berkisar 2-14 hari) dilakukan
pengadukan / pengocokkan dan penggantian pelarut setiap hari. Pengocokkan
memungkinkan pelarut segar mengalir berulang-ulang masuk ke seluruh permukaan
simplisia yang sudah halus. Endapan yang diperoleh dipisahkan dan filtratnya
dipekatkan (Ansel, 1989).
Maserasi biasanya dilakukan pada temperatur 15º - 20º C dalam waktu selama
3 hari sampai bahan-bahan yang larut, melarut (Ansel, 1989).
Pada umumnya maserasi dilakukan dengan cara 10 bagian simplisia dengan
derajat kehalusan yang cocok, dimasukkan kedalam bejana kemudian dituangi dengan
75 bagian cairan penyari, ditutup dan dibiarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya,
sambil berulang-ulang diaduk. Setelah 5 hari diserkai, ampas diperas. Pada ampas
ditambahkan cairan penyari secukupnya, diaduk dan diserkai sehingga diperoleh
seluruh sari sebanyak 100 bagian. Bejana ditutup, dibiarkan ditempat sejuk, terlindung
dari cahaya, selama 2 hari kemudian endapan dipisahkan.
6

c. Keuntungan
Keuntungan metode maserasi adalah :
- Alat yang dipakai sederhana, hanya dibutuhkan bejana perendam.
- Biaya operasionalnya relatif rendah.
- Prosesnya relatif hemat penyari.
- Tanpa pemanasan.
- Proses maserasi ini menguntungkan dalam isolasi bahan alam karena selama
proses perendaman sampel akan terjadi proses pemecahan dinding dan membran
sel akibat perbedaan tekanan antara di dalam dan di luar selnya sehingga
metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut
organik dan senyawa akan terekstraksi sempurna karena dapat diatur lama
perendaman yang dilakukan.
d. Kelemahan
- Proses penyarian tidak sempurna, karena zat aktifnya hanya mampu terekstraksi
sebesar 50% saja
- Prosesnya lama, butuh waktu beberapa hari.
- Penyariannya kurang sempurna (dapat terjadi kejenuhan cairan penyari sehingga
kandungan kimia yang tersari terbatas).
e. Kerugian
Kerugian dari metode maserasi ini adalah : perlu dilakukannya pengadukan untuk
meratakan konsentrasi larutan diluar butir serbuk simplisia sehingga tetap terjaga
adanya derajat konsentrasi yang sekecil-kecilnya antara larutan didalam sel dengan
larutan diluar sel.
f. Metode Ekstraksi Maserasi
Maserasi termasuk metode ekstraksi cara dingin. Metode ini artinya tidak ada proses
pemanasan selama proses ekstraksi berlangsung, tujuannya untuk menghindari
rusaknya senyawa yang dimaksud akibat proses pemanasan.
Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut dengan
beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada tenperatur ruangan (kamar).
Maserasi bertujuan untuk menarik zat-zat berkhasiat yang tahan pemanasan maupun
7

yang tidak tahan pemanasan. Secara teknologi maserasi termasuk ekstraksi dengan
prinsip metode pencapaian konsentrasi pada kesetimbangan. Maserasi dilakukan
dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan atau
kamar (Depkes RI, 2000)

Maserasi merupakan cara ekstraksi yang paling sederhana. Dasar dari maserasi
adalah melarutnya bahan kandungan simplisia dari sel yang rusak, yang terbentuk
pada saat pengahalusan, ekstraksi (difusi) bahan kandungan dari sel yang masih utuh.
Setelah selesai waktu maserasi, artinya kesetimbangan antara bahan yang diekstraksi
pada bagian dalam sel dengan masuk kedalam cairan, telah tercapai maka proses
difusi segera berakhir. Selama maserasi atau proses perendaman dilakukan
pengocokan berulang-ulang. Upaya ini menjamin kesetimbangan konsentrasi bahan
ekstraksi yang lebih cepat di dalam cairan. Sedangkan keadaan diam selama maserasi
menyebabkan turunnya perpindahan bahan aktif. Secara teoritis pada suatu maserasi
tidak memungkinkan terjadinya ekstraksi absolut. Semakin besar perbandingan
simplisia terhadap cairan pengekstraksi, akan semakin banyak hasil yang diperoleh
(Voigh, 1994)

Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang
mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, stirak, dan bahan
sejenis yang mudah mengembang. Cairan penyari yang Bila cairan penyari digunakan
air maka untuk mencegah timbulnya kapang, dapat ditambahkan bahan pengawet
yang diberikan pada awal penyarian. Metode maserasi digunakan untuk menyari
simplisia yang mengandung komponen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari,
tidak mengandung benzoin, stirak dan lilin. Keuntungan cara penyarian dengan
maserasi adalah cara pengerjaan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan.
Sedangkan digunakan dapat berupa air, etanol, air-etanol, atau pelarut lain.
kerugiannya adalah pengerjaannya lama dan penyariannya kurang sempurna.
8

Maserasi dapat dilakukan modifikasi, seperti :


 Digesti
Digesti adalah cara maserasi dengan menggunakan pemanasan lemah, yaitu pada suhu
40º - 50ºC. Cara maserasi ini hanya dapat dilakukan untuk simplisia yang zat aktifnya
tahan terhadap pemanasan. Dengan pemanasan akan diperoleh keuntungan antara lain :
a. Kekentalan pelarut berkurang, yang dapat mengakibatkan berkurangnya lapisan-
lapisan batas.
b. Daya melarutkan cairan penyari akan meningkat, sehingga pemanasan tersebut
mempunyai pengaruh yang sama dengan pengadukan.
c. Koefisien difusi berbanding lurus dengan suhu absolut dan berbanding terbalik
dengan kekentalan, hingga kenaikan suhu akan berpengaruh pada kecepatan difusi.
Umumnya kelarutan zat aktif akan meningkat bila suhu dinaikkan.
 Maserasi dengan mesin pengaduk
Dengan penggunaan mesin pengaduk yang berputar terus-menerus, waktu proses
maserasi dapat dipersingkat menjadi 6 sampai 24 jam.
 Remaserasi
Cairan penyari dibagi dua, seluruh serbuk simplisia dimaserasi dengan cairan penyari
pertama, sesudah diendap, dituangkan dan diperas, ampas dimaserasi lagi dengan
cairan penyari yang kedua.
 Maserasi melingkar
Maserasi dapat diperbaiki dengan mengusahakan agar cairan penyari selalu bergerak
dan menyebar. Dengan cara ini penyari selalu mengalir kembali secara
berkesinambungan melalui serbuk simplisia dan melarutkan zat aktifnya. Keuntungan
cara ini :
a. Aliran cairan penyari mengurangi lapisan batas.
b. Cairan penyari akan didistribusikan secara seragam, sehingga akan memperkecil
kepekatan setempat.
c. Waktu yang diperlukan lebih pendek.
 Maserasi melingkar bertingkat
9

Pada maserasi melingkar penyarian tidak dapat dilaksanakan secara sempurna, karena
pemindahan massa akan berhenti bila keseimbangan telah terjadi. Masalah ini dapat
diatas dengan maserasi melingkar bertingkat.
Gambar Alat Maserasi

Pelarut yang Digunakan dalam Metode Maserasi


Ekstraksi tergantung pada tekstur dan kandungan bahan dalam tumbuhan.
Senyawa / kandungan dalam tumbuhan memiliki kelarutan yang berbeda-beda dalam
pelarut yang berbeda. Pelarut-pelarut yang biasa digunakan antara lain kloroform, eter,
alkohol, methanol, etanol, dan etilasetat. Ekstraksi iasanya dilakukan secara bertahap
dimulai dengan pelarut yang nonpolar (kloroform atau n-heksana), semipolar (etilasetat
atau dietil eter), dan pelarut polar (methanol atau etanol) (Harbone, 1996).
10

Pelarut yang dapat digunakan untuk ekstraksi harus memenuhi dua syarat, yaitu
pelarut tersebut harus merupakan pelarut yang terbaik untuk bahan yang diekstraksi
dan pelarut tersebut harus terpisah dengan cepat setelah pengocokkan.
Cairan penyari yang biasa digunakan dalam metode maserasi dapat berupa air,
etanol, air-etanol, atau pelarut lain. Bila cairan penyari digunakan air maka untuk
mencegah timbulnya kapang, dapat ditambahkan bahan pengawet, yang diberikan pada
awal penyarian (Depkes RI, 1986).
2. PERKOLASI
a. Pengertian
Istilah perkolasi berasal dari bahasa latin per yang artinya melalui dan colare yang
artinya merembes. Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan
mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Perkolasi
dilakukan dalam wadah silindris atau kerucut (perkolator), yang memiliki jalan masuk
dan keluar yang sesuai. Bahan ekstraksi yang dimasukkan secara kontinu dari atas
mengalir lambat melintasi jamu yang umumnya berupa serbuk kasar. Hasil ekstraksi
berupa bahan aktif yang tinggi, ekstraksi yang kaya ekstrak. Dengan demikian
keuntungan perkolasi adalah pemanfaatan jamu secara optimal serta memerlukan
waktu yang singkat (Ansel, 1989; Voight, 1994).
Sebagai cairan pengekstraksi, air atau etanol lebih di sukai penggunaannya.
Ekstraksi air dari suatu bagian tumbuhan dapat melarutkan gula, bahan lendir, amina,
tannin, vitamin, asam organik, garam organik serta bahan pengotor lain. Pada sediaan
ekstraksi ini (infusa), zat-zat yang tersaring ialah zat-zat yang bersifat polar saja.
Penyaringan dengan cara ini menghasilkan sari yang tidak stabil dan mudah tercemar
kuman dan kapang. Oleh karena itu, sari yang diperoleh tidak boleh disimpan lebih
dari 24 jam. Etanol dapat menyari zat yang tidak tersari oleh air yaitu lemak, terpenoid,
antrakinon, kumarin, flavonoid polimetil, resin, klorofil, isoflavon, alkaloid bebas,
kurkumin dan fenol lain. Etanol tidak menyebabkan pembengkakan membran sel,
sehingga memperbaiki stabilitas bahan obat terlarut. Dalam bentuk sediaan ekstrak
etanol, selain dapat disimpan lebih lama, ekstrak juga dapat dipakai berulang. (Voigt,
1994).
11

Dalam ekstraksi ini digunakan larutan penyari etanol 70% karena merupakan
pelarut semipolar sehingga dapat menarik saponin dan tannin (Harborne, 1987).
Dengan etanol kadar 70% volume dapat dihasilkan bahan aktif yang optimal, karena
bahan pengotor hanya larut dalam skala kecil (Voight, 1994).
Di dalam melakukan proses perkolasi proses difusi yang berlangsung
merupakan fungsi dari kecepatan perkolasi, kuantitas pelarut, dan konsanta difusi obat
pelarut. Karena mudah dilakukan, perkolasi merupakan prosedur pilihan untuk
kebanyakan ekstraksi tanaman, seperti halnya maserasi. Perkolasi dapat dilakukan baik
skala laboratorium maupun skala industri.
b. Prinsip Kerja
- Serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian bawahnya
diberi sekat berpori
- Cairan penyari dialirkan dari atas kebawah melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan
melarutkan zat aktif sel-sel yang dilalui sampai mencapai keadaan jenuh
- Gerak kebawah disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan cairan diatasnya,
dikurangi oleh daya kapiler yang cenderung untuk menahan. Kekuatan yang berperan
pada perkolasi antara lain: gaya berat, kekentalan, daya larut, tegangan permukaan,
difusi, osmosa, adesi, daya kapiler dan daya geseran (friksi).
c. Keuntungan
- Tidak memerlukan langkah tambahan yaitu sampel padat (marc) telah terpisah dari
ekstrak.
- Cara perkolasi yang digunakan lebih mudah dan sederhana dilakukan
- Perkolasi merupakan prosedur pilihan untuk kebanyakan ekstraksi tanaman, seperti
halnya maserasi.
- Perkolasi dapat dilakukan baik skala laboratorium maupun skala industri.
d. Kerugian
- Kontak antara sampel padat tidak merata atau terbatas dibandingkan dengan metode
refluks
- Pelarut menjadi dingin selama proses perkolasi sehingga tidak melarutkan komponen
secara efisien.
12

- Simplisia harus dibasahi terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam perkolator


- Massa simplisia dalam perkolator tergantung pada tinggi perkolator.
- Simplisia lebih memadat (kompak) sesudah beberapa kali terjadi proses ekstraksi awal
dan hal ini dapat menghalangi kelancaran aliran pelarut.
- Perolehan kembali pelarut yang tertahan di dalam ampas sering memerlukan proses
tambahan dan hal yang sama berlaku untuk mengeluarkan ampas dan menarik bahan
aktif dari ampas.

Secara umum proses perkolasi ini dilakukan pada temperatur ruang. Sedangkan


parameter berhentinya penambahan pelarut adalah perkolat sudah tidak mengandung
senyawa aktif lagi. Pengamatan secara fisik pada ekstraksi bahan alam terlihat pada
tetesan perkolat yang sudah tidak berwarna.
Cara perkolasi lebih baik dibandingkan dengan cara maserasi karena:
a.       Aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian larutan yang terjadi dengan
larutan yang konsentrasinya lebih rendah, sehingga meningkatkan derajat perbedaan
konsentrasi.
b.      Ruangan diantara serbuk-serbuk simplisia membentuk saluran tempat mengalir
cairan penyari. Karena kecilnya saluran kapiler tersebut, maka kecepatan pelarut cukup
untuk mengurangi lapisan batas,sehingga dapat meningkatkan perbedaan konsentrasi.

3. SOXHLETASI
Soxhletasi merupakan penyarian simplisia secara berkesinambungan, cairan
penyari dipanaskan hingga menguap, uap cairan penyari terkondensasi menjadi
molekul cairan oleh pendingin balik dan turun menyari simplisia di dalam klonsong
dan selanjutnya masuk kembali ke dalam labu alas bulat setelah melewati pipa siphon,
proses ini berlangsung hingga proses penyarian zat aktif sempurna yang ditandai
dengan beningnya cairan penyari yang melalui pipa siphon tersebut atau jika
diidentifikasi dengan KLT tidak memberikan noda lagi (Adrian, 2000).
Keuntungannya cairan penyari yang diperlukan lebih sedikit dan lebih pekat.
Penyarian dapat diteruskan sesuai dengan keperluan, tanpa menambah volume cairan
13

penyari. Kerugiannya : larutan dipanaskan terus-menerus, sehingga zat aktif yang tidak
tahan pemanasan kurang cocok (Adrian, 2000).
Metode soxhlet bila dilihat secara keseluruhan termasuk cara panas namun
proses ekstraksinya secara dingin, sehingga metode soxhlet digolongkan dalam cara
dingin (Tobo, 2001).
Keuntungan metode refluks (Adrian, 2000) :
a. Cairan penyari yang diperlukan lebih sedikit dan secara langsung diperoleh hasil yang
lebih pekat.
b. Serbuk simplisia disari oleh cairan penyari yang murni, sehingga dapat menyari zat
aktif lebih banyak.
Simplisia yang biasa diekstraksi dengan cara ini adalah simplisia yang
mempunyai komponen kimia yang tahan terhadap pemanasan dan mempunyai tekstur
yang keras seperti akar, batang, buah/biji dan herba (Adrian, 2000).

D. ALAT DAN BAHAN

Alat – alat yang digunakan Bahan yang digunakan


1. Mortir dan stemper 1. Etanol
2. Gelas kimia 250 mL, 1000 ml 2. Simplisia :
3. Gelas ukur 500 mL - Daun tapak dara (Canharanthus rosens)
4. Neraca - Daun seledri (Apium graveolens)
5. Bejana maserasi - Daun jambu biji (Psidium guajava)
6. Perkolator - Daun pepaya (carica papaya)
7. Alat soklet (Soxhlet) 3. Kapas
8. Tangas air 4. Kertas saring
9. Rotary evaporator 5. Tambahan: karet gelang, plastik, kain flanel
10. Cawan penguap
11. Batang pengaduk

E. CARA KERJA
14

1. Maserasi

Masukkan 10 bagian simplisia dengan derajat halus tertentu ke dalam sebuah


bejana, tuangi dengan 75 bagian cairan penyari, tutup, biarkan selama 5 hari terlindung
dari cahaya sambil sering diaduk, serkai, peras, cuci ampas dengan cairan penyari
secukupnya hingga diperoleh 100 bagian. Pindahkan ke dalam bejana tertutup, biarkan
di tempat sejuk, terlindung dari cahaya selama 2 hari enap tuangkan / saring.
( Farmakope Indonesia Edisi III ).

2. Perkolasi

Basahi 10 bagian simplisia dengan derajat halus yang cocok dengan 25 ml


bagian cairan penyari, masukkan ke dalam bejana tertutup minimal 20 menit.
Pindahkan massa sedikit demi sedikit ke dalam percolator sambil ditekan – tekan.
Tuangi dengan cairan penyari secukupnya sampai cairan terendam dan di atas simplisia
masih terdapat selapis cairan penyari. Tutup percolator, biarkan selama 24 jam.
Biarkan cairan menetes dengan kecepatan 5 ml per menit, tambahkan berulang – ulang
cairan penyari secukupnya hingga diperoleh 80 bagian perkolat. Peras massa,
campurkan cairan penyari perasan ke dalam perkolat, tambahkan cairan penyari hingga
500 bagian. Pindahkan ke dalam bejana, tutup biarkan selama 2 hari, saring.
( Farmakope Indonesia Edisi III).

3. Sokletasi
 Timbang sejumlah simplisia yang telah dihaluskan, basahi dengan cairan
penyari. Masukkan kedalam soklet (E).
 Isi labu ( A ) dengan cairan penyari secukupnya. Dengan pemanasan maka
cairan penyari akan menguap, uap naik melalui ( B ) dan terus ke ( D ).
 Sampai di ( D ) terjadi pendinginan sehingga uap pelarut akan berwujud cair
kembali dan akan trun melarutkan zat aktif di ( E ).
 Demikian proses berulang seterusnya hingga sampel terekstraksi sempurna.\

4. Pemekatan
15

Pemekatan ekstrak cair yang dihasilkan dari proses maserasi, perkolasi, atau
sokletasi dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama penguapan dilakukan dengan
menggunakan rotary evaporator, sehinga pelarut menguap pada suhu yang rendah. Hal
ini dilakukan untuk menghindari rusaknya bahan aktif karena panas akibat penguapan,
mengingat waktu yang lama untuk menguapkan banyak pelarut yang terdapat dalam
ekstrak cair. Pemekatan ini dilakukan hingga volume lebih kurang tinggal
sepertiganya.

Tahap berikutnya dilakukan di dalam cawan penguap yang telah ditara


sebelumnya yang diuapkan di atas tangas air. Proses ini tidak terlalu lama, mengingat
pelarut yang masih ada tinggal sedikit. Penguapan dilakukan hingga mendapatkan
ekstak yang kental.

Proses selanjutnya adalah perhitungan rendeman, untuk mengetahui seberapa


banyak ekstrak yang didapatkan dari proses ekstraksi yang dilakukan. Rendeman
dihitung dalam prosen. Selanjutnya ekstrak kental yang didapatkan dikemas dalam
botol kaca dan di beri label

F. HASIL PENGAMATAN

Daun Pepaya (Carica Papaya)


No Hasil Pengamatan
Metode Perkolasi
1. Bobot Simpisia 50,00 g
2. Bobot ekstrak kering 7,73 g
3. Presentasi ekstrak (%) Rendemen 15,46 %
4. Jumlah Cairan Penyari 500 ml
5. Jumlah Ekstrak Cair 500 ml

 Metode Perkolasi
- Bobot Cawan Kosong = 118,80 g
16

- Bobot Cawan kosong + Ekstrak = 126,53 g


Bobot ekstrak kering = (Bobot Cawan Kosong + Ekstrak) – Bobot Cawan Kosong
= 126,53 – 118,80
= 7,73 gram
Bobot ekstrak kering
% Rendamen = ×100 %
Bobot Simplisia
7,73 gram
= ×100 %
50 gram
= 15, 46 %

G. PEMBAHASAN
Ekstraksi adalah suatu cara yang dilakukan untuk menarik zat yang dapat larut
(kandungan kimia) dari bahan yang tidak dapat larut (serbuk simplisia) dengan
menggunakan pelarut cair tertentu dari tanaman yang dapat digunakan sebagai obat-
obatan.
Hasil dari ekstraksi disebut dengan ekstrak. Ekstrak adalah sediaan kental yang
diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia
hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut
diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian sehingga
memenuhi baku yang telah ditentukan. Sebagian besar ekstrak dibuat dengan
mengekstraksi bahan baku obat secara perkolasi. Seluruh perkolat biasanya dipekatkan
secara destilasi dengan menggunakan tekanan.
Adapun prinsip ekstraksi yaitu osmosis dan difusi. Dimana osmosis merupakan
proses perpindahan pelarut dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi melalui
membran semipermeabel, sedangkan difusi merupakan proses perpindahan zat terlarut
dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah.
Tujuan dilakukannya percobaan ini yaitu untuk mendapatkan ekstrak dari
sampel tanaman obat dengan menggunakan beberapa metode seperti perkolasi,
maserasi, soxhletasi.
Adapun metode yang dilakukan pada percobaan kali ini adalah dengan metode
perkolasi pada hal ini sampel sebanyak 50 gram direndam didalam sebuah alat
17

(Perkolator) selama kurang lebih 24 Jam lalu sambil disaring dan dibilas dengan
menggunakan cairan penyari hingga 500ml.
Pada percobaan ini didapatkan hasil %rendemen dari sampel daun pepaya
sebesar 15,46%, dan hasil dari setelah dilakukan pemekatan sampel sebesar 7,73gram.

H. KESIMPULAN
1. %Rendemen yang didapatkan pada percobaan ini sebesar 15,46%
2. Setelah dilakukan pemekatan 7,73gram.

Daftar Pustaka
18

Abdul, Rohman., 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.


Adrian, Peyne., 2000,Analisa Ekstraktif Tumbuhan Sebagai Sumber Bahan Obat, Pusat
Penelitian, Universitas Negeri Andalas.

Anonim., 2015,Penuntun dan Buku Kerja Praktikum Fitokmia I, Laboratorium Bahan Alam
Fakultas Farmasi, Makassar.

Voight, R. 1994. Buku pelajaran teknologi farmasi edisi V. Yogyakarta: Universitas Gajah
Mada Pres.
Departemen Kesehatan RI. 2000. Paramater Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta.
Diktorat Jendral POM-Depkes RI.
Ansel. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi 4. Jakarta : UI-press.
Depkes RI. 1986. Sedian Galenik. Jakarta : Depkes RI.
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi V. Jakarta : Depkes RI.
Harbone, J. B. 1987. Metode Fitokimia. Bandung : Penerbit ITB.
Tim Penyusun. 2011. Penuntun Praktikum Fitokimia I. Manado : F.MIPA Unsrat.