Anda di halaman 1dari 55

MAKALAH

KEGAWATDARURATAN PERNAPASAN

Dibuat untuk memenuhi tugas keperawatan gawat darurat 2

Disusun Oleh:

KELOMPOK 1

1. Dian Lestari
2. Elsi Audina Sari
3. Elsa Suprianti
4. Elvina
5. Fauziah Hariani
6. Fefrina Helda
7. Felya Elsa Pratiwi Kurnia
8. Jodi Prizaer
9. Pipit Hutria

Dosen Pembimbing: Ns. Tiur Maida Simandalahi, M. Kep

PROGAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN

STIKES SYEDZA SAINTIKA PADANG

2019/2020

1
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmaanirrahiim

Puji dan syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmatNya kelompok dapat menyelesaikan tugas keperawatan gawat darurat tentang
“kegawatdaruratan pernapasan” dalam bentuk makalah.

Kami mengucapkan terima kasih kepada ibu Ns. Tiur Maida Simandalahi, M. Kep. selaku
dosen pembimbing karena adanya tugas ini dapat menambah wawasan penulis.

Dalam Penulisan makalah ini kelompok merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik
pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki kelompok.
Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan
pembuatan makalah ini agar dapat bermanfaat bagi semua pihak di masa yang akan datang.

Padang, Maret 2020


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pelayanan gawat darurat merupakan bentuk pelayanan yang bertujuan untuk
menyelamatkan kehidupan penderita, mencegah kerusakan sebelum tindakan/perawatan
selanjutnya dan menyembuhkan penderita pada kondisi yang berguna bagi kehidupan.
Karena sifat pelayanan gawat daruarat yang cepat dan tepat, maka sering dimanfaatkan
untuk memperoleh pelayanan pertolongan pertama dan bahkan pelayanan rawat jalan
bagi penderita dan keluarga yang menginginkan pelayanan secara cepat. Oleh karena itu
diperlukan perawat yang mempunyai kemampuan yang bagus dalam mengaplikasikan
asuhan keperawatan gawat darurat untuk mengatasi berbagai permasalahan kesehatan
baik aktual atau potensial mengancam kehidupan tanpa atau terjadinya secara mendadak
atau tidak di perkirakan tanpa atau disertai kondisi lingkungan yang tidak dapat
dikendalikan.
Asuhan keperawatan gawat darurat adalah rangkaian kegiatan praktek
keperawatan gawat darurat yang diberikan kepada klien oleh perawat yang berkompeten
di ruang gawat darurat. Asuhan keperawatan yang diberikan meliputi biologis,
psikologis, dan sosial klien baik aktual yang timbul secara bertahap maupun mendadak,
maupun resiko tinggi. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi asuhan keperawatan
gawat darurat, yaitu : kondisi kegawatan seringkali tidak terprediksi baik kondisi klien
maupun jumlah klien yang datang ke ruang gawat darurat, keterbatasan sumber daya dan
waktu, adanya saling ketergantungan yang sangat tinggi diantara profesi kesehatan yang
bekerja di ruang gawat darurat, keperawatan diberikan untuk semua usia dan sering
dengan data dasar yang sangat mendasar, tindakan yang diberikan harus cepat dan
dengan ketepatan yang tinggi (Maryuani, 2009).
Mengingat sangat pentingnya pengumpulan data atau informasi yang mendasar
pada kasus gawat darurat, maka setiap perawat gawat darurat harus berkompeten dalam
melakukan pengkajian gawat darurat. Keberhasilan pertolongan terhadap penderita gawat
darurat sangat tergantung dari kecepatan dan ketepatan dalam melakukan pengkajian
awal yang akan menentukan bentuk pertolongan yang akan diberikan kepada pasien.

3
Semakin cepat pasien ditemukan maka semakin cepat pula dapat dilakukan pengkajian
awal sehingga pasien tersebut dapat segera mendapat pertolongan sehingga terhindar
dari kecacatan atau kematian.
Pengkajian pada kasus gawat darurat dibedakan menjadi dua, yaitu : pengkajian
primer dan pengkajian sekunder. Pertolongan kepada pasien gawat darurat dilakukan
dengan terlebih dahulu melakukan survei primer untuk mengidentifikasi masalah-
masalah yang mengancam hidup pasien, barulah selanjutnya dilakukan survei sekunder.
Tahapan pengkajian primer meliputi : A: Airway, mengecek jalan nafas dengan tujuan
menjaga jalan nafas disertai kontrol servikal; B: Breathing, mengecek pernafasan dengan
tujuan mengelola pernafasan agar oksigenasi adekuat; C: Circulation, mengecek sistem
sirkulasi disertai kontrol perdarahan; D: Disability, mengecek status neurologis; E:
Exposure, enviromental control, buka baju penderita tapi cegah hipotermia (Holder,
2002).
Pengkajian primer bertujuan mengetahui dengan segera kondisi yang mengancam
nyawa pasien. Pengkajian primer dilakukan secara sekuensial sesuai dengan prioritas.
Tetapi dalam prakteknya dilakukan secara bersamaan dalam tempo waktu yang singkat
(kurang dari 10 detik) difokuskan pada Airway Breathing Circulation (ABC). Karena
kondisi kekurangan oksigen merupakan penyebab kematian yang cepat. Kondisi ini dapat
diakibatkan karena masalah sistem pernafasan ataupun bersifat sekunder akibat dari
gangguan sistem tubuh yang lain. Pasien dengan kekurangan oksigen dapat jatuh dengan
cepat ke dalam kondisi gawat darurat sehingga memerlukan pertolongan segera. Apabila
terjadi kekurangan oksigen 6-8 menit akan menyebabkan kerusakan otak permanen, lebih
dari 10 menit akan menyebabkan kematian. Oleh karena itu pengkajian primer pada
penderita gawat darurat penting dilakukan secara efektif dan efisien (Mancini, 2011).
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian kegawatdaruratan pernapasan?
2. Bagaimana pengkajian kegawatdaruratan pernapasan?
3. Apa saja jenis kegawatdarurtan pernapasan?
4. Mengetahui asuhan keperawatan pada kegawatdaruratan pernapasan?

C. Tujuan
1. Menjelaskan pengertian kegawatdaruratan pernapasan.
2. Menjelaskan pengkajian kegawatdaruratan pernapasan.
3. Menjelaskan jenis kegawatdaruratan pernapasan.
4. Menjelaskan asuuhan keperawatan kegawatdaruratan pernapasan

5
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Kegawatdaruratan Pernapasan
Kegawatdaruratan pernapasan, mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks,
menjadi penyebab dari banyaknya kasus yang ada di ruang emergensi.Beberapa pasien
berespons baik terhadap obat obatan dan terapi, sementara yang lainnya membutuhkan
perawatan serta intervensi yang lebih lama.Sistem respirasi berfungsi untuk menjadikan
oksigen bagi darah untuk dikirimkan ke seluruh tubuh. Tujuan dari pengkajian
pernapasan adalah untuk menentukan kecukupan(adekuat atau tidaknya) pertukaran gas.
Pengkajian yang dilakukan di ruang emergensi merupakan awal dari evaluasi yang
dilakukan perawat terhadap pasien dan dapat secara cepat menentukan tingkat
acuity(keparahan/tingkat akut kondisi pasien) dan penetuan triase. Pengkajian yang tepat
dan adekuat pada pasien dapat mencegah terjadinya komplikasi yang dapat mengancam
jiwa. Sepertipada semua keadaan gawat darurat, prioritas pertama adalah untuk
mengevaluasi status airway, breathing, circulaion, dan disability(ABCD) pasien.

B. Pengkajian Pernapasan
1. Pengkajian fisik
a. Tanda tanda vital vital termasuk level saturasi oksigen (spo2) dan suhu tubuh
b. Tingkat kesadaran
a) Alert
b) Verbal
c) Pain
d) Unresponsive
c. Warna kulit, kelembapan, dan suhu
d. Suara napas
a) Ada, tidak ada, atau mengecil
b) Kesimetrisan
c) Adventitions
e. Pola dan laju pernapsan
a) Cepat atau lamat
b) Regular atau ireguler
f. Usaha bernapas
a) Kualitas
b) Darejat dari usaha
g. Ada persed-lip breathing
h. Penggunaan otot otot asesoris
a) Intercostal
b) Supraternal
c) Supraclaavicural
i. Posisi untuk kenyamanan
a) Dapat pasien mentolelir posisi suspine?
b) Apakah pasien mengambil posisi tripot?
j. Pola bicara
a) Apakah pasien mampu berbicara dalam kalimat lengkap?
k. Keberadaan indikator dari masalah pernapasan kronis
a) Peningkatan diameter anterior-posretior(AP) dada(barrel chest)
b) Noda nikotin pada jari
c) Tanki oksigen portable
d) Luka torakotomi
e) Kyphosis

2. Riwayat
a. Tentukan onset, durasi, dan kualitas dari gejala
b. Kaji riwayat kesehatan, termasuk hospitalisasi sebelumnya dan intubasi sebelumnya
karena masalah pernapasan
c. Dokumentasikan riwayat merokok dari pasien atau orang yang hidup bersama pasien
dan berbagai risiko kerja
d. Menanyakan tentang paparan penyakit menular baru baru ini
e. Faktor tambahan yang dapat memengaruhi status pernapasan pasien, termasuk
a) Distensi atau pembesaran abdomen

7
1) Kehamilan
2) Obesitas
3) Ascites
4) Peritoritis
b) Masalah sirkulasi, terutama riwayat dari:
1) Pulmonary edema
2) Anemia
3) Thorombophlebilitis
c) Pengaruh lingkungan
1) Polusi udara
2) Elergi musiman
3) Perubahan suhu
d) Trauma (saat ini atau masa lalu)
e) Alergi makanan atau obat

3. Prosedur diagnostic
a. Pulse oximotry
Pulse oximetry merupakan metode noninvansif untuk mengukur oksigenasi yang
terdapat pada hemoglobin pasien. Nilai normal adalah 95% sampai 100%, nilai 85%
atau kurang dapat mengidikasikan oksigenasi jaringan tidak adekuat. Pulse oximotry
berguna pada beberapa situasi diantaranya :
a. Pemantauan pasien selama prosedur (seperti sedasi sadar, pembedahan)
b. Pemantauan terus-menerus status pernafasan pasien
c. Pemantauan pasien yang berisiko desaturasi dan hipoksi
d. Mengetahui respon dari intervensi (pengobatan nyari).
Pembacaan pulse oximotry mungkin tidak dapat diandalkan pada keadaan :

 Cardiopulmonary arrast
 Syok
 Menggunakan obat-obatan vasokonstriktif
 Menggunakan pewarna intravena untuk keperluan diagnostik
 Anemia
 Tingkat karbon monoksida tinggi

b. Capnography
Capnography, pemantauan noninvansif dari karbon dioksida yang dihembuskan
(exhaled carbon dioxida/ ECO), berguna untuk mengevaluasi ventilasi. Secara
tradisional digunakan untuk memverifikasi penempatan endotrakeal tube, dengan
mengukur karbon dioksida yang dihembuskan pada akhir setiap nafas. Kegunaan lain
dari pemantauan capnography antara lain :
a. Memantau kesalahan letak dari endotrakeal tube atau adanya obstruktif pada
saat memidahkan pasien
b. Mengkaji kecukupan dari kompresi dada selama resusitasi kardiopumonal
c. Mamantau ventilasi selama prosedur sedasi
d. Mengkaji perfusi pada pasien yang terpasang yang terpasang ventilasi
mekanik
e. Menentukan keparahan dari eksaserbasi asma dan mengkaji efektifitas dari
intervensi
f. Memperifikasi penempatan yang benar dari gastrik tube
c. Pengkuran peak flow
Peak flow meter mengukur kecepatan ekspirasi maksimun pasien atau puncak laju
aliran eksirasi (peak expiratory) flow rate/ PEFR atau PEF). PEF ini adalah
pengukuran aliran darah yang melalui bronki dan menunjukkan derajat obstruksi
pada saluran nafas. Pembacaan peak flow biasanya diklasifikasi kedalam tiga zona

9
pengukuran (hijau,kuning, dan merah ) dan dapat digunakan untuk mengembangkan
perencanaan manajemen asma (tabel 18-1).

Tabel 18-1 MANAJEMEN ASMA


BERDASARKAN PEAK
EXPIRATORY FLOW

ZONA INTERPRESTASI DESKRIPSI


HIJAU 71% - 100% dari interperensi Interprestasikan pada zona
peak flow biasa atau normal hijau mengdentifikasikan
bahwa asma terkontrol dengan
baik
KUNING 50% - 70% dari interprestasi Mengidentifikasi perlu
peak flow biasa atau normal perhatian, jalan nafas
menyempit dan pengobatan
tambahan mungkin diperlukan
Merah < 50% dari interprestasi peak Mengidentifikasi emergensi
flow biasa atau normal medis penyempitan jlan nafas
yang parah mungkin muncul
dan perlu diberikan tindakan
dengan segera

d. Gas darah arteri


Nilai gas darah arteri atau arterial blood gas (ABG) berguna untuk mengkaji
status pernafasan dan keseimbangan asam basa : ABG adalah pengukuran pertukaran
gas secara sistemik, dengan membandingkan pH, PaCO, dan HCO, kemampuan
tubuh untuk mengkompensasi keseimbangan asam basa, dapat dikaji; nilai PO yang
mengidentifikasi ada atau tidak adanya hipoksemia. Tabel 18-2 menunjukkan daftar
nilai normal dan abnormal dari ABG.
Menginterprestasikan nilai ABG melibatkan tiga langkah :
a. Langkah 1 : kaji PH untuk menentukan ada asidosis atau alkalosis
b. Langkah 2 : kaji PaCO2 untuk menentukan penyebab dari ketidakseimbangan
asam basa apakah karena pernafasan (respiratory) atau metabolic. Jika nilai Ph
dan PaCO2 bergerak ke arah berlawanan (pH meningkat dan PaCO2 meurun
atau pH menurun dan PaCO2 meningkat), ketidakseimbangan terjadi secara
alamiah karena pernafasan
c. Langkah 3 : kaji HCO3 untuk menentukan penyebab dari ketidakseimbangan
asam basa adalah metabolik. Jika pH dan HCG, berpindah kearah yang sama
(pH meningkat dan HCO3 menurun), ketidakseimbangan terjadi secara
alamiah karena metabolic
Ketika terjadi ketdakseimbangan asam basa tubuh akan berusaha
untuk mengkompensasi dan membuat pH menjadi normal. Hasil dari upaya
ini bisa jadi tidak terkompensasi atau terkompensasi sebagian , terkompensasi
penuh. Tabel 18-3 menjelaskan berbagai abnormalitas asam basa berdasarkan
nilai ABG.

TABEL 18 – 2 NILAI NORMAL AND ABNOMAL DARI GAS DARAH ARTERI


NILAI DEFINISI BATAS NORMAL NILAI
ABNORMAL

11
pH Indikasi konsentrasi 7,35-7,45 <7,35 : asidosis
ion hidrogen <7,45 : alkalosis
PaCO2 Parameter pernapasan 35-45 <35 : alkalosis
indikasi dari >45 : asidosis
keadkuatan ventilasi
dan eliminasi karbon
dioksida
PaO2 Merefleksikan 80-100 <80 : hipokemia
kemampuan tubuh
untuk menggunakan
dan
mentransportasikan
oksigen melalui sistem
HCO3 Parameter metabolik, 22-26 <22 : asidosis
mengkaji kemampuan >26 : alkalosis
ginjal untuk menahan
atau mengereksikan
HCO3

HCO2 Bicarbonate PaCO2 partial pressure of arterial carbon dioxide: PaO2 partial pressure of
arterial oxygen . data dari selfridge thomas, J & Hoyt K. S (2007). Respiratory emergencies. In
emergency nursing core curriculum ( 6 th ed,. Pp 685-720) Philadelphia< PA Saunders Elsevier.

TABEL 18-3 ABNORMALITAS ASAM BASA YANG DITENTUKAN OLEH NILAI


DARAH ARTERI
Ph PACO2 HCO3 Kemungkinan penyebab
Asidosi Menurun meningkat normal Depresi CNS sebagai
respiratori akibat dari obat-obatan,
cidera atau penyakit,
asfiksia, hivopentilasi
Alkalosis Meningkat Menurun Normal Hivopentilasi, stimulasi
respiratori pernapasan (obat-obatan,
penyakit infeksi, demam)
bakteri gram negatif
Asidosis Menurun Meningkat Meningkat
respiratori
dengan
kompensasi
metabolik
Asidosis Menurun Normal Menurun Diare, eksresi asam yang
metabolik tidak adekuat pada
penyakit ginjal, penyakit
hati, kelainan endoktrin,
syok
Alkalosis Meningkat Normal Meningkat Muntah berkepanjanan
mrtabolik atau suction lambung
kehilagan potasium akibat
penyakit ginjal atau
penggunaan streoid
menelan akibat berlebihan
Alkalosis Meningkat Meningkat Meningkat
metabolik
dengan
kompensasi
respiratori
CNS, central nervous system , HCO3 bicarbonate PaCO2 partial pressure of arterial carbon
dioxide

C. EKSASERBASI ASMA
Asma mempengaruhi jutaan orang dewasa dan anak-anak dan dianggap penyakit
kronis anak-anak yang paling umum. Asma adalah penyakit kronis yang ditandai dengan
hiverreaktivitas jalan nafas, proses inflamasi, dan obstruksi aliran udara yang reversibel
{bronkospasme). Eksasebasi dari penyakit yang umum dapat mengancam jiwa.
Keparahan ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Intermiten

13
a. Adanya gejala dua kali seminggu atau kurang dan gekjala pada malam hari ke
dua kali sebulan atau kurang
b. Gejala yang timbul tidak menganggu aktivitas normal
c. Menggunakan short- acting beta- agonist (SASA) inhaler dua kali seminggu
atau kurang
2. Mild persistent
a. Ada gejala lebih dua kali seminggubtetapi karuang dari sekali sehari dengan
gejala pada malam hari tiga sampai empat kali dalam sebulan
b. Adanya minor keterbatasan pada aktivitas normal karena gejala yang timbul
c. Menggunkan SABA inhaler lebih dua hari dalam seminggu namun tidak
setiap hari
3. Moderate persisten
a. Adanya gejala sehar hari dan gejala pada malam hari lebih dari sekali
seminggu tetapi tidak setiap hari
b. Adanya beberapa keterbatasan pada aktivitas normal karena gejala yang
timbul
c. Penggunaan SABA inhaler setiap hari
f) Severe persistent
a. Adanya gejala yang terus menerus disiang hari dengan gejala yang sering
pada malam hari, sering terjadi sehari-hari
b. Adanya keterbatasan yang ekstrim pada aktivitas normal karena gejala yang
timbul
c. Kondisi yang buruk hingga tidak dapat mengontrol gejala
a. Pemicu asma
Berbagai macam stimulan dapat memicu eksaserbasi asma. Setiap inividu
cenderung memiliki pemicu tertentu. Pemicu eksaserbasi asma yang umum antara lain :
1. Alergi terhadap makanan atau inhaler (seperti serbuk sari, lateks,jamur,bulu
binatang)
2. Olahraga
3. Terpapar dingin ( menghirup udara dingin, makan es krim)
1) Menghisap tembakau
2) Menghirup bau-bauan yang menyengat
3) Infeksi saluran napas atas
4) Polusi udara
5) Sinusitis,
6) Obat-obatan, terutama aspirin obat-obatan anti radang
a. Non steroid
7) bahan tambahan pada makanan

b. Tanda dan gejala


a) Wheezing: lebih sering terjadi pada saat ekspirasi, namun bisa timbul pada saat
inspirasi atau tidak ada
b) Batuk: dapat timbul tanpa wheezing, terutama pada anak-anak
c) Pengunaan otot-otot asesoris pernapasan, terutama otot sternocleidomastoid pada
dewasa
d) Sesak dada dan hiperresonan pada pemeriksaan perkusi (akibat hiperinflasi)
e) Kecemasan atau gelisah
f) pembicaraan yang terhenti-henti (tidak mampu untuk berbicara satu kalimat penuh)
c. prosedur diagnostic
a) pemeriksaan laboratorium rutin, dan rongen dada biasanya tidak diperlukan, jangan
menunda memulai pengobatan, untuk mendapatkan data-data tersebut.
b) Gas darah arteri untuk menentukan derajat hipoksemia
c) peak expiratory flow rate kurang dari 50% dari nilai prediksi
d) Sebagai ukuran keterbatasan aliran udara, PEFR adalah indicator yang lebih handal
untuk keparahan eksaserbasi dari tingkat gejala
e) Pulse oximetry: nilai kurang dari 92% mengindikasikan kemungkinan kebutuhan
untuk dirawat inap
d. Interven terapeutik
a) Biarkan pasien mempertahankan posisi yang nyaman.
b) Kaji durasi serta keparahan dari gejala. Dokumentasikan pengobatan yang telah
didapat dalam upaya untuk mengelola eksaserbasi

15
c) Dapatkan akses intravena(pemasangan iv lines) pemberian obat dan hidrasi, dehidrasi
berkontrobusi terhadap terjadinya penyumbatan lendir dan pengeluaran katekolamin
d) Lakukan monitoring jantung dan pulse aximetry terus menerus
e) Berikan oksigen tambahan untuk menjaga pulse aximetry lebih besar dari 90%
f) Berikan inhaler SABA seperti albuterol melalui nebulizer atau metered dose inhaler
(MDI), sebaiknya dengan spacer.
g) Antikolinergik seperti ipratropium bromide sering dikombinasikan dengan SABA
h) Ukur PEFR sebelum dan sesudah intervensi. Mengukur PEFR secara serial selama
pasien mampu bekerja sama
i) Ketidakmampuan pasien untuk melakukan pemeriksaan PEFR merupakan indicator
keperahan penyakit
j) Kortikosteroid dapat diberikan untuk mengatasi komponen inflamasi dari asma
k) Magnesium sulfate dapat dipertimbangkan bila intervensi lain tidak efektif,
magnesium mereleksasi otot halus bronkial melalui mekanisme yang tidak pasti
l) Heliox, campuran helium dan oksigen, dapat meningkatkan pertukaran udara karena
densitas helium yang rendah
m) Intubasi endotrakeal dan perawat ruang intensif biasanya diperlukan pada pasien
dengan heni napas atau gagal napas

Status asmatikus merupakan eksasarbasi asma yang parah yang tidak berespon terhadap
terapi.tanda perburukan yang menunjukan kebutuhan untuk intubasi endotrakial
mencakup
 Silent chest mengindikasikan aliran udara yang minim
 Fatigue dan penurunan kesadaran
 Hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis metabolic

D. BRONCHITIS AKUT
Bronchitis akut adalah infeksi pernapasan yang dapat sembuh sendiri yang
ditandai dengan batuk dengan tanpa produksi sputum. Hal ini sering diakibatkan oleh
virus seperti influenza tipe A atau B atau respiratory syncytial virus (RSV) kurang dari
10% kasus disebabkan oleh bakteri. Diagnosis bronchitis akut diteggakkan setelah
mengesampingkan penyebab lain dari batuk seperti:
a) Pneumonia
b) Eksaserbasi akut dari bronchitis pada pasien dengan chronic obstructive pulmonary
disesase (COPD)
c) Asma akut
d) Batuk yang diinduksi oleh angiotensin-converting enzyme inhabitor
e) Gastroesophaguse reflux discase (GERD)
f) Infeksi bordetella pertussis (batuk rejan)

a. Tanda dan gejala


a) Batuk selalu menjadi gejala yang dominan dan dapat berlangsung lebih dari 3
minggu
b) Sputum bisa ada atau tidak ada
c) Wheezing
d) Nyeri dada atau pleuritie chest pain
e) Gejala seperti flu
b. Prosedur diagnostic
a) Diagnosis berdasarkan kepada keadaan klinis dan riwayat
b) Tidak ada temuan akut pada rontgen dada
c. Intervensi terapeutik
a) Pengobatan simtomatik, termasuk istirahat dan hidrasi oral
b) Dextromethorphan atau kodein dapat diberikan untuk meredakan batuk pada
jangka pendek
c) Bronchodilator dapat digunakan apabila terdapat wheezing
d) Penelitian tidak mendukung penggunaan dari ekspetoran atau mukolitik
e) Antibiotic tidak efektif atau sesuai untuk mengatasi bronchitis akut. Pendidikan
kesehatan pada pasien berkaitan denagn pengunaan antibiotic yang berlebihan dan
perkembangan dari organisme yang rentan antibiotic merupakan aspek yang
penting pada perawatan pasien ini

17
E. EKSASERBASI AKUT DARI PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS
Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) didefinisikan sebagai penyakit yang tidak
dapat dicegah dan ditangani, ditandai dengan keterbatasan aliran udara yang progresif.
Hal ini berhubungan dengan respons peradangan yang abnormal dari paru-paru yang
tidak sepenuhnya reversibel. Biasanya PPOK digambarkan terdiri dari bronchitis akut
(didefinisikan sebagai batuk dan produksi sputum setidaknya dalam 3 bulan selama 2
tahun berturut-turut) atau emfisime (yang melibatkan destruksi dari alveoli) kebanyakan
pasien memiliki beberapa tingkat dari kedua kondisi tersebut. Asma ditandai dengan
keterbatasan aliran udara reversible dan tidak termasuk dalam definisi PPOK.
Penyakit paru obstruktif kronis merupakan penyakit yang progresif dan
irreversible, tidak ada obatnya dan tujuannya adalah untuk mengelola gejala dan
membatasi perkembangan dari penyakit. Pasien sering datang keruang emergensi dengan
eksaserbasi akut atau saat tingkat pengobatan terakhir yang mereka dapat tidak lagi
adekuat.
a. Tanda dan gejala
a) Serangan akut, biasanya pada musim dingin, biasanya dipicu oleh infeksi
pernapasan akibat virus
b) Meningkatnya dyspnea, takipnea dan hipoksemia
c) Perubahana pada jumlah dan warna sputum
d) Suara napas yang menjauh, ronchi yang menyebar, mengi (wheezing) dan
crackles
e) Hiperresonan pada perkusi
f) Pursed-lip breathing, penggunaan otot-otot asesoris pernapasan
g) Kelelahan
h) Kemungkinan terjadi cor pulmunale (gagal jantung kanan akibat penyakit
pernapasan akibat penyakit pernapasan)
i) Ditandai dengan distensi vena jugular, hepatomegali
b. Prosedur diagnostic
a) Gas darah arteri (arterial blood gases) dapat diperoleh tetapi gambaran klinis
adalah panduan paling penting untuk manajemen kasus ini
b) Hitung darah lengkap untuk memeriksa eritrositosis
1. Eritrositosis sekunder polistemia terjadi karena tubuh memproduksi lebih
banyak erittrosit dengan maksud untuk mengkompensasi penurunan jumlah
oksigen didarah
c) Rontgen dada untuk mengesampingkan pneumotoraks
c. Intervensi terpeutik
a) Pulse eximetry untuk memantau respons terhadap terapi
b) Pemberian oksigen tambahan untuk mempertahankan saturasi oksigen 90%
sampai92%
c) Pasien dengan PPOK secara normal menggunakan level PaO2 minimal yang
acceptables, jangan pernah menahan pemberian oksigen dari pasien dengan
hipoksia. Pantau pasien yang mengalami penurunan laju pernapasan, yang
merupakan tanda adanya peningkatan tingkat oksigen serum
d) Masalah yang paling mengancam jiwa dari pasien ini adalah hipoksemia
e) Observasi pasien dengan hati-hati terkait penurunan status mental yang mungkin
menandai adanya hiperkapnia
f) Bronkhodilators-inhaled SABA seperti albuterol dan nebulized anticholinergics
seperti ipratropium bromide.

19
g) Tirah baring pada posisi high fowler, sebagai alternative pasien ini sering lebih
memilih untuk duduk disisi tempat tidur, kaki menjuntai, bersandar ke depan,
dengan siku disangga dimeja samping tempat tidur
h) Pasang intravenous line(IV Access/infus) dengan pertahankan dan berikan hidrasi
yang memadai
i) Pantau adanya disritmia jantung
j) Ventilasi tekanan positif non invasive dengan tujuan untuk mencegah intubasi
endotrakeal, karena seringkali sulit untuk menyapih pasien PPOK dari ventilasi
mekanik. Kortikosteroid dan antibiotic intravena dapat dipertimbangkan

Pasien dengan PPOK sering hadir dengan berbagai komorbiditas yang membuat stress
lebih lanjut pada sistem pernapasan dan memerlukan pengkajian serta pengelolaan
tambahan

F. COMMUNITY-ACQUIRED PNEUMONIA
Community-acquired pneumonia (CAP) merupaka infeksi akut pada alveoli, jalan
napas bagian bawah, dan intertisium paru,. Pneumonia paling sering disebabkan oleh
infeksi bakteri strepcocus pneumonia atau haemophilus infleenzae, penyebab yang
kurang umum termasuk virus mycoplasma , jamur, atau infeksi protozoa. Aspirasi
sekresiorofaringeal atau isi lambung jug adapt menyebakan pneumonia. Faktor risiko
CAP anatara lain:
 Usia ekstrim
 Ketergantungan alcohol
 Merokok
 Mempunyai penyakit jantung atau penyakit paru-paru
 Immunosupresi
 GERD
a. Tanda dan gejala
 Dyspnea, takipnea
 Demam dengan derajat yang bervariasi
 Batuk kering atau batuk produktif, sputum dapat berupa purulent atau bercak
darah
 Nyeri dada pleuritik
 Crackles, rhonchi, atau wheezing pada auskultasi
 Dullness pada perkusi jika terjadi konsolodasi atau efusi pleura
 Kelelahan
 Pada psien lanjut usia, serangan baru dapat meningkatkan lebingungan
b. Prosedur diagnostic
 Rontgen dada menunjukan infiltrate lobar dan konsolidasi, mungkin negative di
awal perjalan penyakit
 Sputum untuk pewarnaan gram dan kultur
 Hitung darah lengkap untuk menilai leukositosis
 Bronkoskopi diagnostic dengan bronchoalveolar lavage (BAL)
 Pemeriksaan gas darah arteri diperlukan hanya pada kasus yang berat
 Kultur darah sebelum diberikan antibiotic
c. Intervensi terpeutik
 Berikan oksigen tambahan, pantau tingkat saturasi oksigen
 Berikan hidrasi oral atau intravena
 Pertimbangkan manajemen gejala termasuk bronkodilator nebulasi dan
ekspektoran
 Berikan dosis antibiotic pertama sementara pasien masih di UGD
 Menilai risiko patogen yang tidak biasa (mis, tuberculosis, jamur, methicillin-
resistant staphylococcus aureus)
 Pasien mungkin memerlukan ventilasi mekanis atau pengelolaan sepsis berat
 Gunakan pneumonia severity index (sistem penilaian berdasarkan demografi
pasien, komorbditas, pemeriksaan fisik, dan temuan radiografi) untuk
menentukan kebutuhan rawat inap

G. EFUSI PLEURA

21
Efusi pleura merupakan pengumpulan abnormal cairan di rongga pleura. Efusi
pleura bukan merupakan penyakit melainkan sebuah manifestasi klinis dari masalah
utama yang mungkin berasal dari rongga pleura, sistem paru, atau ekstrapulmonal. Efusi
pleura, mungkin merupakan hasil dari patolofisiologi berikut ini:
 Peningkatan teankanan hidrostatik pembuluh darah paru(mis, gagal jantung)
 Penurunan tekanan onkotik akibat hipoalbuminemia (mis, sindroma nefritik,
malnutrisi)
 Peningkatan permeabilitas kapiler sekunder karena inflamasi (mis, pneumonia,
infeksi luka, abses paru)
 Gangguan atau drainase limfatik yang tersumbat (mis, tumor, fibrosis, trauma,
infeksi)
Efusis pleura dapat diklafikasikan berdasarkan komposis akumulasi cairan pleura.
Tabel18-4 mencatat patofisiologi dan contoh berbagai efusi pleura

a. Tanda dan gejala


 Dyspnea
 Batuk-produktif atau tidak produktif
 Nyeri dada
 Dullness pada perkusi di area efusi
 Penurunan suara napas pada sisi ynag terkena
 Pleural friction rub
 Penurunan ekspansi paru pada sisi efusi
 Egophony-peningkatan resonan pada auskultasi suara di dekat bagian atas garis cairan

Tabel 18-4 KLASIFIKASI EFUSIS PLEURA BERDASARKAN TIPE CAIRAN DI


PLEURAL SPACE
PATOFISIOLOGI CONTOH
Transudat Air kebocoran cairan bebas protein Kegagalan ventrikel kiri, sirosis
cairan dari kapiler karena peningkatan hati, hipoalbuminemia (sindrom
tekanan hidrostatik intravaskuler atau nefritik, malnutrisi) pericarditis
penurunan tekanan onkotik konstriktif
Eksudat Kebocoran cairan kaya protein dari Inflamasi
kapiler karena peningkatan Infeksi
permeabilitas kapiler Keganasan
Emboli paru
Pankreatitis
Paska bedah jantung
Pus (empyema) Pus atau debris sekunder dari infeksi Pneumonia
yang terkumulasi di rongga pleura Abses paru
Luka yang terinfeksi
Cairan limfatik Cairan berwarna putih susu dari Keganasan
(chylothorax) drainase limfatik yang terhambat Trauma
Infeksi
Tuberkulosis

b. Prosedur Diagnostik
1. Anterior-posterior dan lateral, foto rontgen dada sedikitnya 50 ml cairan di rongga
pleura dapat di deteksi oleh posterior atau kostofrenikus menumpul pada gambaran
lateralis.
2. Chest computed tomography (CT) atau transthoracic inderamography untuk
mengidentifikasi atau mengesampingkan kemungkinan penyebab.
3. Pleura aspirasi untuk memeriksa cairan pleura.

c. Intervensi Terapeutik
1. Berikan oksigen tambahan.
2. Berikan analgetik.
3. Identifikasi dan obati proses penyakit yang mendasari.

23
4. Jika efusi besar dan mengganggu respirasi, needle thoracentesis dapat mungkin
diindikasikan. Akumulasi efusi yang besar dan cepat memerlukan insersi chest tube.

H. PNEUMOTORAKS SPONTAN
Pneumotoraks mengacu pada akumulasi udara dalam rongga pleura. Saat udara
terakumulasi tekanan meningkat (atau hilangnya tekanan negatif) menyebabkan kolaps
sebagian atau seluruh paru-paru. Pneumotoraks spontan terjadi tanpa adanya penyebab
traumatis. Ini dapat terjadi pada individu tanpa penyakit paru-paru (primer) atau pada
mereka dengan penyakit paru yang mendasari (sekunder). Terlepas dari penyebabnya
pengembangan tension pneumotoraks merupakan masalah selanjutnya dari pneumotoraks
spontan. Tabel 18-5 menunjukkan perbandingan pneumotoraks spontan primer dan
sekunder.

TABEL 18-5 PERBANDINGAN PNEUMOTORAKS SPONTAN PRIMER DAN


SEKUNDER
PNEUMOTORAKS SPONTAN PNEUMOTORAKS
PRIMER SPONTAN SEKUNDER
Faktor resiko  Tidak ada penyakit paru-paru  Terdapat penyakit paru-
penyakit yang yang jelas. paru yang mendasari.
mendasari  Pasien biasanya seorang laki-laki  Insiden tinggi pada laki-
muda yang sehat yang tingginya laki
melebihi rata-rata.  COPD menyumbang
 Merokok hampir 70% dari kasus
 Perubahan pada tekanan atmosfer AIDS, keganasan paru,
 Penyakit katup mitral tuberkolosis, abses paru

 Sindrom marfan
Penyebab  Kemungkinan diturunkan dari  Penyakit paru yang
keluarga mendasari melemahkan
 Ruptur dari alveoli, biasanya intorface alveolar
pada apex paru pleura.

a. Tanda dan Gejala


1. Serangan tiba-tiba nyeri pada dada pleuritik (seringkali terlokalisasi pada sisi
pneumotoraks.
2. Dispnea dan takipnea
3. Batuk
4. Penurunan suara nafas pada sisi yang terkena.
5. Hiperesonan pada perfusi
6. Kurang umum, adanya enfisema subkutan dan gerakan dada asimetris.
b. Prosedur Diagnostik
1. Rontgen dada untuk diagnosis definitif.
c. Intervensi Terapeutik
1. Posisikan pasien pada posisihogt fowler.
2. Pantau tanda-tanda vital, termasuk saturasi oksigen.
3. Berikan oksigen tambahan untuk memperbaiki hipoksia.
4. Mulai dan pertahankan akses vaskular.
5. Berikan analgesik.

25
6. Pemasangan chest tube di intercostal space (ruang interkosta) kelima tau keenam,
digaris mid axilaris untuk mengembangkan kembali paru.
7. Needle thoracostomy diindikasikan hanya untuk penanganan keadaan darurat pada
tension pneumotoraks.

I. EMBOLI PARU
Sebuah kondisi yang berpotensi memayikan, emboli paru (Pulmonary Embolism
atau PE) terjadi ketika bahan asing menyumbat satu atau lebih pembuluh darah paru.
Emboli paling sering dihasilkan dari trombus vena, yang patah lepas dan berjalan
mengikuti aliran darah pada jantung kanan, masuk ke sirkulasi pulmonal. Emboli paru
dapat timbul dari mana saja di tubuh, tetapi yang paling sering berasal dari vena dalam di
ekstremitas bawah. Sumber lainnya termasuk :
1. Pelvis, ginjal, atau pembuluh darah di ektremitas atas.
2. Trombus dinding bagian kanan jantung.
3. Lemak, cairan ketuban, atau emboli udara.
4. Injeksi intravena dengan partikel terkait dengan penggunaan narkoba suntik.
5. Benda asing masuk ke dalam tubuh seperti peluru, triad virchow menjelaskan tiga
faktor risiko utama pembentukan tromboemboli, yaitu :
a. Statis vena
 Disebabkan oleh gagal jantung, insufiensi vena, imobilisasi anggota tubuh, tirah
baring berkepanjangan, obesitas, atau kehamilan.
b. Cedera
 Disebabkan oleh kerusakan intima dari trauma, luka bakar; pembedahan, atau
infeksi.
c. Keadaan hiperkoagulasi
 Disebabkan oleh periode post partum, operasi besar, keganasan, penggunaan
kontrasepsi, polisitemia vena, dan penyakit lainnya.

Diagnosis emboli paru sulit untuk ditegakkan dan sering terlewatkan karena tanda-tanda dan
gejala mungkin tidak jelas dan kurang spesifik serta mirip dengan beberapa kondisi lain. Sebuah
indeks kecurigaan yang tinggi diperlukan, terutama ketika terdapat pasien dengan faktor risiko
yang signifikan.
a. Faktor Resiko Signifikan
1. Tromboemboli vena sebelumnya.
2. Pembedahan dalam 4 minggu sebelumnya.
3. Penggunaan esterogen saat ini.
4. Kanker aktif atau metastasis.
5. Baru melakukan perjalanan dengan immobilitas yang relatif.
6. Penggunaan obat-obatan intravena.
7. Usia lanjut.
b. Tanda dan Gejala
1. Gejala PE sering tidak spersifik dan dapat meniru kondisi lain, termasuk pleuritis, infark
miokard dab serangan panik. Pasien mungkin mengalami gejala yang tidak jelas yang
mengganggu selama berminggu-minggu sebelum mendatangi ruang emergensi.
2. Dispnea dengan takipnea, kemungkinan hemoptisis.
3. Nyeri dada pleuritis (biasanya dengan onset mendadak)
4. Takikardi
5. Kecemasan, ketakutan, gelisah.
6. Pleural friction rub kadang-kadang didapat saat auskultasi.
7. Tanda dan gejala klinis dari trombosis vena dalam.
8. Gejala yang tidak khas, seperti :
a. Kejang
b. Nyeri di abdomen, panggul atau bahu.
c. Sinkop
d. Wheezing
e. Demam
f. Serangan baru atrial fibrilasi.
c. Prosedur Diagnostik
1. Rontgen dada anterior-posterior dan lateral tidak begitu sensitif untuk PE namun dapat
mengesampingkan kondisi lain seperti pneumotoraks.
2. Gas darah arteri penentuan umunya menunjukkan hipoksemia.
3. Pengukuran D-dimer meningkat hingga 500 ng/ml.
4. USG vena kaki dan panggul untuk mendeteksi trombosis vena sebagai sumber embolus.

27
5. CT scan helical (spiral)
6. Magnetic resonance imaging ataumagnetic resonance angiography.
7. 12-lead EKG untuk mengesampingkan miokard infark akut.
8. Panel dasar koagulasi.
d. Intervensi Terapeutik
1. Berikan oksigan tambahan dan dapatkan akses intravena.
2. Pantau tanda-tanda vital dan tingkat saturasi oksigen terus-menerus.
3. Lakukan terapi heparin (bolus berdasarkan berat badan diikuti dengan infus secara
berkelanjutan) memeriksa waktu tromboplastin parsial setiap 6 jam.
4. Pertimbankan terapi tromibolitik intravena (st-PA), terutama jika hemodinamik pasien
tidak stabil.

J. EDEMA PARU NONKARDIOGENIK


Edema paru mengacu pada akumulasi cairan dalam ruang ekstravaskular dari
paru-paru. Edema paru diklasifikasikan sebagai kardiogenik atau nonkardiogenik
berdasarkan penyebab yang mendasari. Perubahan patofisiologi utama dalam edema paru
nonkardiogenik adalah peningkatan pemeabilitas kapiler paru daripada peningkatan
tekanan vaskular paru seperti yang terlihat di edema paru kardiogenik. Penyebab umum
dari edema paru nonkardiogenik mencakup :
1. Acute respiratory distress syndrome (ARDS)
2. Gagal jantung yang mengakibatkan kelebiham cairan.
3. Cedera penyelaman
4. Trauma kepala atau kejang (edema paru neurogenik)
5. Re-ekspansi paru yang cepat (diikuti thoracentesis atau pemasangan chest tube untuk
pneumotoraks).
6. Edema paru akibat ketinggian
7. Inhalasi gas beracun (klorin, amonia anhidrat)
8. Heroin, kokain, atau overdosis metadon.
a. Tanda dan Gejala
1. Sesak nafas
2. Takipnea
3. Kecemasan, agitasi
4. Sensasi dari sufokasi
5. Ortopnea
6. Takikardi
7. Batuk
8. Crackles, wheezes
9. Diaporesis
10. Sputum berbusa berwarna merah muda.
b. Prosedur Diagnostik
1. Rontgen dada ditemukan mirip dengan edema paru kardiogenik.

c. Intervensi Terapeutik
1. Berikan oksigen konsentrasi tinggi.
2. Pemasangan akses intravena (pemasangan infus) untuk pemberian cairan dengan
hati-hati.
3. Bisa diberikan ventilasi tekanan positif non invasif.
4. Sering diperlukan ventilasi mekanik dengan tidal volume yang rendah (strategi
melindungi paru).
5. Terapi suportif spesifik akan bervariasi tergantung pada penyebab.

K. ACUTE RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME


Acute respiratory distress syndrome, suatu bentuk edema paru nonkardiogenik,
adalah sindrom inflamasi yang ditandai dengan cedera alveolar yang menyebar (diffuse).
Peningkatan permeabilitas dari penghalang alveolar-kapiler mungkinkan cairan kaya
protein masuk kedalam alveoli. Akibatnya adalah hipoksemia berat sering sulit
disembuhkan dengan konsentrasi tinggi oksigen inspirasi, terkait dengan hilangnya

29
surfaktan, kolaps alveolar, dan penurunan compliance paru (daya pengembangan paru-
paru).
Faktor pencetus dapat berupa cedera langsung ke paru-paru atau cedera tidak
langsung yang dihasilkan dari suatu penyakit sistemik. Tabel 18.6 menjelaskan penyebab
ARDS secara langsung dan tidak langsung.

TABEL 18-6 PENYEBAB ACUTE RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME


Mekanisme Langsung Mekanisme Tidak Langsung
 Aspirasi isi lambung  Sepsis
 Pneumonia  Trauma miltiple
 Menghirup gas beracun (seperti asap  Trauma masif
rokok)  Pankreatitis parah
 Kontusio paru  Overdosis obat-obatan.
 Cedera akibat tenggelam  Luka bakar
 Keracunan oksigen  Disseminated intravascular
 Cedera re-perfusi paska transplantasi coagulopathy (DIC)
paru.  Syok
 Radiasi

a. Tanda dan Gejala


1. Dispnea
2. Takipnea
3. Takikardia
4. Sianosis
5. Kecemasan, gelisah, agitasi
6. Penggunaan otot-otot asesoris
7. Demam atau hipotermia

b. Prosedur Diagnostik
1. Rontgen dada akan menunjukkan infiltrat paru bilateral.
2. Gas darah arteri akan menunjukkan hipoksemia berat.
3. Rasio PaO2, FiO2 kurang dari 200.
4. Hitung darah lengkap dapat menunjukkan leukositosis atau leukopenia.
5. Bronkoskopi dengan lavage bronchoalveolar.
6. Manfaat CT scan dada dipertanyakan.

c. Intervensi Terapeutik
1. Intubasi endotrakeal dan masuk ke ruang perawatan kritis.
a. Ventilasi mekanik dengan positive end expiratory pressure (PEEP).
 Untuk informasi yang lebih spesifik, lihat pada ventilasi mekanik di ruang
emergensi.
 Tidal volume rendah (6 to 8 ml/kg) sebagai strategi melindungi paru.
b. Sedasi dan blokade neuromaskular sering diperlukan.
2. Mengidentifikasi dan mengobati penyebab yang mendasari, terutama infeksi seperti
sepsis merupakan pencetus utama.
3. Manajemen cairan dengan hati-hati.
a. Pasien dengan hemodinamik yang tidak stabil dan sepsis kemungkinan
membutuhkan resusitasi cairan yang agresif.
b. Penggunaan pulmonary artery catheter, dapat membantu dalam manajemen cairan
pada pasien tertentu.
4. Pengkajian yang hati-hati dan sering pada komplikasi ARDS dan pengobatan modalitas.
a. Penambahan PEEP dapat meningkatkan tekanan intatoraks dan menurunkan aliran
balik vena ke jantung, sehingga menyebabkan hipotensi dan instabilitas
homodinamik.
b. Gagal ginjal akut adalah komplikasi umum; memonitor asupan dan output dan nilai
laboratorium dengan hati-hati.
c. Kaji dan tangani hipoglikemia dan hiperglikemia.

L. CEDERA AKIBAT TENGGELAM


World Health Organization (WHO) mendefinisikan tenggelam sebagai “proses
mengalami penurunan pernafasan dari terendam dalam cairan”. WHO lebih lanjut
melarang penggunaan istilah “basah” atau”kering” tenggelam dan “hampir tenggelam”.

31
Dalam 10% sampai 20% dari tenggelam, laringopasme mencegah aspirasi air. Jika
aspirasi terjadi, umumnya jumlah cairan kurang dari 4ml/kg atau sedikitnya 1 sampai 3
ml/kg dapat mengubah fungsi surfaktan dan mengganggu pertukaran gas. Kerusakan
paru-paru meningkat dengan kontaminan seperti lumpur, ganggang, dan klorin dalam air.
Meskipun air asin dan air tawar berbeda secara signifikan dalam komposisi, perbedaan
ini tidak mempengaruhi menajeman pasien.
Semakin cepat upaya resusitasi dimulai serta hipoksia, hiperkarbia, dan asidosis
diselesaikan, semakin baik kesempatan untuk bertahan hidup. Setidaknya sepertiga dari
korban tenggelam mengalami gejala sisa neurologis mulai dari moderat hingga berat.
Terendam dalam air dingin (dibawah 32o F (00 C)) dapat memperlambat perkembangan
cedera otak yang disebabkan oleh hipoksia, namun para korban ini juga mungkin
memerlukan pengobatan untuk hipotermia.

a. Faktor Risiko
a) Kurangnya pengetahuan .
b) Ketidakmampuan berenang.
c) Perilaku yang senang mengambil resiko.
d) Keracunan alcohol atau obat-obatan.
e) Kondisi medis yang mendasari seperti kejang, hipoglikemia, aritmia jantung, dan
strok.
b. Tanda dan gejala
a) Presentasi klinis bervarias dan secara langsung terkait dengan sejauh mana cedera
hipoksia yang dialami.
b) Riwayat tenggelam.
c) Henti nafas dan jantung.
d) Dispnea yang semakin memburuk dalam beberapa jam.
e) Sianosis.
f) Crackles, wheezing.
g) Batuk (terkadang dengan sputum berbusa bewarna merah muda).
h) Takikardi.
i) Kebingunggan mental, koma.
c. Prosedur diagnostic
Diagnosis berdasarkan riwayat dari kejadian dan keadaan klinis.
d. Intervensi terapeutik
a) Lakukan langkah-langkah bantuan hidup dasar dan lanjutan, termasuk intubasi
endotraktakeal, jika di perlukan.
b) Pertimbangkan cedera leher dan spinal yang terjadi bersamaan.
c) Membuat akses vascular.
d) Pantau analisa gas darah dan saturasi oksigen.
e) Cek suhu inti tubuh, hangatkan pasien jika dibutuhkan.
f) Penambahan positive airway pressure(BIPAP vs PEEP) akan membantu
memulihkan alveoli yang kolaps.
g) Perbaiki ketidakseimbangan asam-basa.
h) Pertimbangkan antibiotic profilaksis.
i) Masukkan gastric tube untuk dekompresi, distensi lambung dan muntah biasa
terjadi.
j) Rawat selama minimal 24 jam untuk observasi ; ARDS merupakan komplikasi
serius dari tenggelam.
e. Keracunan kakson monoksida
Karbon monoksida adalah gas yang tidak bewarna tidak berasa, tidak berbau
dengan afinitas untuk hemoglobin 200-250 kali dari oksigen dengan adanya gas ini
molekul hemoglobin dengan cepat menjadi jenuh dengan karbon monoksida dan tidak
dapat mengangkat oksigen. Karbon monoksida juga menggeser kurva disosiasi
oksihemoglobin kea rah kiri, merusak kemampuan hemoglobin untuk melepaskan
oksigen yang telah terikat. Kedua factor ini mengakibatkan hipoksia.
“keracunan karbon monoksida berasal dari menghirup asap yang mudah terbakar
seperti yang dihasilkan oleh generator, mesin bensin kecil,atau tungku rusak. Paparan
sering terjadi dalam ruang tertutup atau ruangan yang dibatasi. Karbon monoksida
dapat menjadi komponen cedera inhalasi , lihat bab 1 untuk informasi yang lebih
spesifik. Selain itu keracunan kronis terpapar karbon monoksida dapat terjadi dari
knalpot mobil, asap tembakau atau sumber-sumber industry”

33
f. Tanda dan gejala
a) Nausea
b) Nyeri kepala
c) Pusing
d) Gangguan penilaian
e) Lihat table 18-7 untuk gejala dari keracunan karbon monoksida berdasarkan
tingkat carboxy hemoglobin (COHb).
g. Prosedur diagnostic
a) Peningkatan COHb
b) Pulse oximetry (SpO2) tidak berguna dalam keracunan karbon monoksida. Pulse
oximetry mengukur persen dari hemoglobin jenuh, bukan apakah oksigen atau
karbon monoksida yang merupakan molekul jenuh.
c) Dapatkan gas darah arteri untuk memeriksa tingkat saturasi oksigen (SaO2)
h. Intervensi terapeutik
a) Berikan oksigen 100%. Oksigen adalah antibody untuk karbon monoksida mulai
dengan segera pemberiannya.
b) Pantau irama jantung dan tingkat COHb

Tabel 18-7 GEJALA KERACUNAN KARBON MONOKSIDA BERDASARKAN


TINGKAT CARBOXYHEMOGLOBIN

TINGKAT CARBOXYHEMOGLOBIN (COHb)


5%-10% 10%-20% 20%-40% 40%-60%
>60%
Nyeri kepala nyeri kepala kebingungan distritmia kulit
memerah
Pusing mual, muntah terapi kejang
kematian
Hilang koordinasi gangguan pengelihatan koma
Kulit memerah angins
dispnea
c) Terapi oksigen hiperbarik/ hyperharic oxygen therapy (HBO)melibatkan
menghirup oksigen dibawah tekanan atmosfer yang meningkat. Hal ini dapat
sangat efektif tetapi rumit secara logistic. Beberapa fasilitas memiliki ruang HBO
yang tesedia sehingga transfer interfasilitas munkin diperlukan. Menghirup
oksigen 100% mengurangi waktu paruh CO; karna ini , COHb sebenarnya bisa
diturunkan ketingkat yang dapat diterima dalam waktu kurang dari yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan transfer ke unit hiperbarik.

M. VENTILASI MEKANIK DI DEPARTEMEN EMERGENSI


Perawat emergensi sering merawat pasien sakit kritis yang membutuhkan
ventilasi mekanis. Beberapa konsep esensial, penting diketahui untuk memberikan
perawatan terampil untuk pasien ini. Bagian ini mengulas mode ventilasi, pengaturan
ventilator umum, alarm troubleshooting, dan prinsip-perinsip perawatan dasar untuk
pasien yang terpasang ventilasi.
Mode ventilasi mengacu pada metode untuk support inspirasi yang diberikan
oleh ventilator. Ventilator dapat menggunakan control volume atau pengaturan pressure.
a. Dengan ventilasi volume, volume tidal yang telah ditetapkan diberikan selama
fase inspirasi :tekanan yang dibutuhkan untuk memberikan volume tidal yang
telah ditetapkan akan bervariasi tergantung pada compliance dan resistensi paru-
paru.
b. Pressure ventilasi memastikan tekanan inspirasi komitan; namun, volume tidal
bervariasi dengan compliance dan resistensi paru-paru.
c. Tabel 18-8 mengulas metode umum penggunaan ventilasi mekanik.

35
Pengaturan ventilator tambahan akan ditemukan oleh status klinis pasien. Table
18-9 berisi daftar sebagai pengaturan ventilator beserta definisinya.

a. Perawatan Pada Pasien Dengan Ventilasi Mekanik


Perawatan pasien dengan ventilasi mekanik membutuhan pemantauan tanda-tanda
vital yang sering, status mental, sedasi, dan control nyeri. Informasi tambahan yang
berkaitan dengan manajemen jalan nafas dan ventilasi mekanik dapat ditemukan di
bab 9.
a. Kaji posisi chest tube dengan sering, terutama setelah memindahkan pasien.
b. Untuk mencegah aspirasi, elevasikan kepala 30 derajat dari tempat tidur kecuali ada
kontraindikasi.
c. Resposisi pasien, sisi ke sisi bila memungkinkan, setiap 2 jam atau lebih sering jika
diperlukan untuk kenyamanan.

TABEL 18-8 MODE VENTILASI

MODE DESKRIPSI INDIKASI


a. Memberikan per-set tidal a. Pasien apnea, pasien yang
volum untuk setiap nafas diberikan agen blockade
apakah di inisiasi oleh neuromuscular atau sadasi,
pasien atau ventilator. untuk pasien yang
b. Memberikan per-set tidal membutuhkan tidal volum
volume dan yang lebih besar dari yang
memungkinkan pasien dapat diambil sendiri.
untuk bernafas pada b. Memungkinkan pasien
kecepatan dan tidal untuk bernafas pada tingkat
volumenya sendiri, dan volume tidal sendiri,
disingkronkan dengan selain tingkat yang telah
usaha ventilasi pasien itu ditentukan sebelumnya dan
sendiri. volume tidal ventilator.
c. Memberikan takaran c. Memungkinkan pasien
positif dengan konstan untuk bernafas pada
pada airway. kecepatan sendiri sambil
d. Memberikanan tekanan memberikan tekanan positif
per-set dipilih waktu konstan.
serta laju inspirasi, d. Memungkinkan pasien
tekanan dan compliance untuk bernafas spontan
paru walaupun pre-sot waktu
e. Memilih jumblah inspirasi tetap konstan,
tekanan inspirasi yang pasien munkin butuh sedasi
dipertahankan sepanjang e. Memungkinkan pasien
siklus inspirasi; untuk memulai setiap siklus
digunskan untuk ventilator pada laju, waktu
mengatasi resistensi dan tidal volumenya
endotrakeal atau untuk sendiri, dapat digunakan
membantu penyapihan. dengan SIMv vs CPAP.
f. Ventilasi dicapai selama f. Cedera paru akut, acute
fase ekspirasi singkat respiratory distress

37
setelah fase inspirasi syndrome.
berkepanjangan, g. Mencegah kolaps elveoli,
membantu paru-paru meningkatkan oksigenasi
yang kolaps dengan pada tekanan tinggi
menggunakan tekanan berpotensi menurunkan
tinggi yang stabil selama curah jantung,
inspirasi. meningkatkan usaha
g. Memberikan tekanan bernafas dan meningkatkan
positif pada airway pada potensi beraotrauma.
akhir ekspirasi.

TABEL 18-9 PENGATURAN VENTILATOR

a. Respiratory rate a. Jumblah nafas yang ventilator akan


berikan per menit.
b. Tidal volume b. Jumblah udara yang dihirup dan
dihembuskan pada setiap nafas.
c. Flow rate c. Laju dimana tidal volume diberikan
d. Fraction of inspired oxygen (fio2) .
d. persentase dari oksigen yang
e. Inspiratory ratio diberikan
e. jumblah waktu untuk inspirasi
dibandingkan dengan jumlah waktu
f. Pressure limit yang diperlukan untuk ekspirasi.
f. Jumblah maksimum tekanan yang
dihasilkan olen ventilator untuk
memberikan tidal volum.

a) Suction mulut dan faring posterior jika diperlukan.


b) Auskultasi paru dengan sering suction endotracheal tube jika diperlukan, tidak rutin.
c) Gunakan teknik steril dengan system suction tertutup.
d) Hiperoksigenasi pasien sebelum dilakukan suction
e) Suction hanya pada sepanjang endoktrakeal tube untuk mencegah trauma pada saluran
udara yang lebih rendah.
f) Berkomunikasi sering dengan pasien yang diintubasi untuk memastikan pemahamannya
akan intervensi danuntuk menentukan kebutuhannya.
g) Jika blockade neuronmuskular diperlukan pastikan sadasi dan analgesic adekuat untuk
pasien pantau tingkat sedasi dan blockade otot.
h) Jangan pernah mematikan atau menonaktifkan alarm ventilator.mtabel 18-10 berisi
berbagai alarm dan potensi penyebabnya.
i) Jika penyebab alarm ventilator tidak dapat segera ditentukan, lepaskan pasien dari
ventilator dan mulai ventilasi manual.
j) Pertimbangkan restrain sesuai dengan kebijakan fasilitas untuk keselamatan pasiendan
perlindungan airway
k) Memberikan perawatan mulut setiap 2 sampai 4 jam, termasuk menyikat gigi setiap 12
jam.
l) Pertimbangkan ulkus pepikum dan profilaksis deep vein thrombosis.

Hafalan DOPE membantu dalam pemecahan masalah alarm ventilator :


a. D: displacement of endotracheal tube
b. O: obstruction of tubeor circuitry
c. P: check the patient and consider pneumothorax
d. E: equipment failure

39
N. PENCEGAHAN KONTAMINASI PERNAFASAN
Pada ruang emergency, etiket pernafasan diperlukan untuk mencegah penyebaran
penyakit pernafasan.berbagai pasien dan pengunjung dating ke ruang emergensi
sepanjang hari, memungkinkan terjadinya penyebaran pathogen pernafasan. Mulai dari
triase hingga discharge, staf ruang emergensi ditantang untuk menjaga diri mereka
sendiri, pasien, dan pengunjung, aman dari kontaminasi pernafasan .

Table 18-10 ALARM YANG SERING PADA VENTILATOR MEKANIK

ALARM KEMUNGKINAN PENYEBAB INTERVENSI


Alarm tekanan a. Penurunan compliance a. Kaji perubahan pada
tinggi paru akibat pneumotoraks, suara paru, tanda-
ateletaksis, ARDS, edema tanda vital, dan pulse
paru frindotracheal tube oximetry
yang terbelit. b. Kaji tube dari belitan,
b. Obstruksi pada selang reposisi jika
ventilator atau ada secret dibutuhkan reposition
pada airway as needed, kaji apakah
c. Bronkospasme/ batuk perlu dilakukan bile
d. Ketidaksingkronan pasien block
dengan ventilator- c. Kaji suara nafas dan
ventilator asyrichony lakukan suction jika
dibutuhkan
d. Cek posisi
endotracheal tube,
reposisi, dan amankan
jika diperlukan
e. Pertimbangan
pemberian
bronkodilator
f. Kaji pasien adanya
kecemasan, status
oksigenasi, tanda-
tanda vital
g. Berikan dukungan
emosional
Diskoneksi atau kebocoran h. Sadasi mungkin
Alarm tekanan endotracheal tube diperlukan
rendah i. Periksa semua
koneksi ventilator,
periksa penempatan
endotracheal tube atau
Pasien tidak bernafas dalam kebocoran pada cuff
Alarm apnea pengaturan pre-set ventilator j. Kaji adanya sleep
apnea, ovserdasi,
erubahan neurologic
k. Kaji kebutuhan
perubahan pengaturan
atau mode ventilator

Rekomendasi dari centers for disease control and preveration (CDC) menyorot strategi
untuk melindungi staf ruangan emergensi, pasien, dan pengunjung melalui etika pernafasan.
masalahED crowing (jumblah ED pasien yang banyak), boarding ( pasien yang masuk ke ED),
dan tidak adekuatnya jumblah staf semua berdampak pada masalah kesehatan masyarakat ini.
Semua staf UGD, termasuk dokter, perlu bekerja sama dalam inisiatif untuk melindungi diri dan
pasien mereka. Kebijakan, perencanaan, dan komunikasi merupakan komponen yang penting
dalam proses ini. Contoh tindakan yang dapat diambil untuk meminimalkan penyebaran
kontaminasi pernafasan termasuk:

a. Identifikasi awal, isolasi, dan intervensi, adalah kunci dalam mengelola risiko dari kedua
infeksi pernafasan baik yang tampak maupun tidak
b. Mencuci tangan tetap menjadi ukuran yang paling efektif untuk membatasi penyebaran
infeksi.

41
c. Pencuci tangan alcohol, tisu dan masker harus tersedia untuk semua pengunjung.
d. Pasien yang terindentifikasi dengan kemungkinan penyakit pernafasan pada triase harus
diberikan masker pribadi.
e. Jika kamar pribadi tidak tersedia, pasien dengan penyakit pernafasan harus
dikelompokkan.
f. Pasien harus memakai masker wajah selama transportasike area lain dari rumah sakit.
g. Perencanaan yang kuat selama musim puncak untuk penuakit pernafasan harus
berkelanjutan.
h. Staf harus merawat diri mereka sendiri dengan tinggal dirumah ketika sakit, melakukan
cuci tangan dengan teliti, dan menerima vaksinasi flu tahunan.

ALGORITMA
ASUHAN KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN PERNAPASAN

43
A. Pengkajian keperawatan asma
1. Identitias : Nama, Tanggal lahir, Jenis kelamin, Alamat, Pekerjaan, No Rm
2. Riwayat peyakit : keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu,
riwayat penyakit keluarga
3. Pengkajian Primer Asma
a.     Airway
Peningkatan sekresi pernafasan
Bunyi nafas krekles, ronchi, weezing
b.     Breathing
Distress pernafasan : pernafasan cuping hidung, takipneu/bradipneu, retraksi.
Menggunakan otot aksesoris pernafasan
Kesulitan bernafas : diaforesis, sianosis
c.      Circulation
Penurunan curah jantung : gelisah, latergi, takikardi
Sakit kepala
Gangguan tingkat kesadaran : ansietas, gelisah
Papiledema
Urin output meurun
d. Dissability
Mengetahui kondisi umum dengan pemeriksaan cepat status umum dan neurologi
dengan memeriksa atau cek kesadaran, reaksi pupil.
2.      Pengkajian Sekunder Asma
a.     Anamnesis
Anamnesis pada penderita asma sangat penting, berguna untuk mengumpulkan
berbagai informasi yang diperlukan untuk menyusun strategi pengobatan. Gejala
asma sangat bervariasi baik antar individu maupun pada diri individu itu sendiri
(pada saat berbeda), dari tidak ada gejala sama sekali sampai kepada sesak yang
hebat yang disertai gangguan kesadaran.
Keluhan dan gejala tergantung berat ringannya pada waktu serangan. Pada
serangan asma bronkial yang ringan dan tanpa adanya komplikasi, keluhan dan
gejala tak ada yang khas. Keluhan yang paling umum ialah : Napas berbunyi,
Sesak, Batuk, yang timbul secara tiba-tiba dan dapat hilang segera dengan spontan
atau dengan pengobatan, meskipun ada yang berlangsung terus untuk waktu yang
lama.
a. Pemeriksaan Fisik
Berguna selain untuk menemukan tanda-tanda fisik yang mendukung diagnosis
asma dan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain, juga berguna untuk
mengetahui penyakit yang mungkin menyertai asma, meliputi pemeriksaan :
1.     Status kesehatan umum
Perlu dikaji tentang kesadaran klien, kecemasan, gelisah, kelemahan suara
bicara, tekanan darah nadi, frekuensi pernapasan yang meningkatan,
penggunaan otot-otot pembantu pernapasan sianosis batuk dengan lendir dan
posisi istirahat klien.
2.     Integumen
Dikaji adanya permukaan yang kasar, kering, kelainan pigmentasi, turgor kulit,
kelembapan, mengelupas atau bersisik, perdarahan, pruritus, ensim, serta
adanya bekas atau tanda urtikaria atau dermatitis pada rambut di kaji warna
rambut, kelembaban dan kusam.
3.     Thorak
a. Inspeksi
Dada di inspeksi terutama postur bentuk dan kesemetrisan adanya peningkatan
diameter anteroposterior, retraksi otot-otot Interkostalis, sifat dan irama
pernafasan serta frekwensi peranfasan.
b   Palpasi.
Pada palpasi di kaji tentang kosimetrisan, ekspansi dan taktil fremitus.
c  Perkusi
Pada perkusi didapatkan suara normal sampai hipersonor sedangkan diafragma
menjadi datar dan rendah.
d    Auskultasi.
Terdapat suara vesikuler yang meningkat disertai dengan expirasi lebih dari 4
detik atau lebih dari 3x inspirasi, dengan bunyi pernafasan dan Wheezing.
4. Sistem pernafasan

45
a. Batuk mula-mula kering tidak produktif kemudian makin keras dan
seterusnya menjadi produktif yang mula-mula encer kemudian menjadi
kental. Warna dahak jernih atau putih tetapi juga bisa kekuningan atau
kehijauan terutama kalau terjadi infeksi sekunder.
b. Frekuensipernapasanmeningkat
c. Otot-otot bantu pernapasan hipertrofi.
d. Bunyi pernapasan mungkin melemah dengan ekspirasi yang memanjang
disertai ronchi kering dan wheezing.
e. Ekspirasi lebih daripada 4 detik atau 3x lebih panjang daripada inspirasi
bahkan mungkin lebih.
f. Pada pasien yang sesaknya hebat mungkin ditemukan: Hiperinflasi paru yang
terlihat dengan peningkatan diameter anteroposterior rongga dada yang pada
perkusi terdengar hipersonor. Pernapasan makin cepat dan susah, ditandai
dengan pengaktifan otot-otot bantu napas (antar iga, sternokleidomastoideus),
sehingga tampak retraksi suprasternal, supraclavikula dan sela iga serta
pernapasan cuping hidung.
g. Pada keadaan yang lebih berat dapat ditemukan pernapasan cepat dan dangkal
dengan bunyi pernapasan dan wheezing tidak terdengar(silent chest), sianosis.
5. Sistem kardiovaskuler
a. Tekanan darah meningkat, nadi juga meningkat
b. Pada pasien yang sesaknya hebat mungkin ditemukan: takhikardi makin hebat
disertai dehidrasi. Timbul Pulsus paradoksusdimana terjadi penurunan tekanan
darah sistolik lebih dari 10 mmHg pada waktu inspirasi. Normal tidak lebih
daripada 5 mmHg, pada asma yang berat bisa sampai 10 mmHg atau lebih.
c. Pada keadaan yang lebih berat tekanan darah menurun, gangguan irama jantung.

B. Diagnosa keperawatan  
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan asma
2. Ansietas berhubungan dengan stresor

C. Intervensi
Diagnosa Noc Nic
Ketidakefektifan bersihan 1. Status pernafasan : 1. Manajemen jalan
jalan nafas b.d asma kepatenan jalan nafas
nafas a. Buka jalan nafas
a. Frekuensi dengan teknik
pernafasan chin lift atau ja
b. Irama pernafasan thrust
c. Kedalaman b. Posisikan pasien
inspirasi untu
memaksimalkan
ventilasi
c. Identifikasi
kebutuhan
aktual/potensial
pasien untuk
memasukkan alat
membuka jalan
nafas
Ansietas b.d stresor 1. Tingkat kecemasan 1. Pengurangan
a. Tidak dapat kecemasan
beristirahat a. Gunakan
b. Perasaan gelisah pendekatan yang
c. Otot tegang tenang dan
meyakinkan
b. Berada disisi
kalien untuk
meningkatkan
rasa aman dan
mengurangi
ketakutan
c. Berikan objek

47
yang
menunjukkan
perasaan aman
d. Dengarkan pasien

ASUHAN KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN PERNAPASAN PADA PASIEN


“Ny.P”

A. Asuhan keperawatan kegawatdaruratan asma

1. Kasus
Ny. P berusia 68 tahun, masuk IGD RS X pada tanggal 4 maret 2015, pukul 09.00 WIB
dengan keluhan sesaknafas. Ny. P dating bersama keluarga, saat pemeriksaan TTV
didapatkan hasil, TD = 110/70 mmHg, N = 96 x/menit, RR = 36x/menit. Tingkat
kesadaran Ny. P Composmentis.
Pengkajian dilakukan pada tanggal 4 maret 2015 pukul 09.00 WIB
a. IdentitasPasien

Nama : Ny. P

Umur : 68 tahun

Jeniskelamin : Perempuan

Pekerjaan : Swasta

Pendidikan : SD

Agama : Islam

No RM : 247234

Alamat : Purwokerto

Tanggal Masuk : 4 maret 2015, pukul 09.00 WIB.

b. Riwayat Penyakit

Keluhan utama : sesaknapas.

Riwayat Penyakit Sekarang : pasien dating ke IGD dengan keluhan sesak napas sejak
tadi pagi karena udara yang dingin, ± 2 jam yang lalu pasien mendadak merasa sesak
napas, semakin lama napas terasa semakin sesak, napas cepat dan dangkal, kemudian
pasien dibawa ke rumah sakit. Riwayat penyakit dahulu: pasien sebelumnya ± 7 tahun
yang lalu pernah dirawat di rumah sakit dengan penyakit yang sama tetapi tidak
separah saat ini.

Riwayat penyakit keluarga : keluarga pasien mempunyai riwayat penyakit asma yaitu
ibu pasien.

49
c. Pengkajian Primer
1. Airway : tidak terdapat adanya sumbatan (secret ataupun darah), lidah tidak jatuh
ke belakang, pasien kesulitan bernapas, batuk-batuk, pasien kesulitan bersuara,
terdengar wheezing.
2. Breathing : terlihat pengembangan dada kanan dan kiri simetris, pasien kesulitan
saat bernapas, RR : 36x/menit, irama napas tidak teratur, napas cuping hidung,
terlihat adanya penggunaan otot bantu pernapasan (sternokleidomastoid), napas
cepat dan pendek.
3. Circulation : TD: 110/70 mmHg, N = 96 x/menit reguler, nadi teraba lemah,
terdengar suara jantung S1 dan S2 tunggal reguler, cappilaryrefille kembali<3
detik, tidak terdapat sianosis, akral hangat.
4. Disability : kesadaran pasien compos mentis dengan GCS (E4,M6,V5), pasien
mengatakan cemas tentang kondisinya saat ini, pasien gelisah, terlihat tidak
tenang, dan mengulang kata-kata.
5. Exposure : rambut beruban dan kulit kepala tampak bersih tidak terdapat
hematoma, tidak terdapat luka pada tubuh pasien dan keluar keringat banyak.
d. Pengkajian Sekunder
1. Tingkat kesadaran : CM
2. GCS : E4V5M6
3. Tanda – tanda vital : TD: 110/70 mmHg, N = 96 x/menit, RR= 36x/menit,
S=36̊ C
4. Pemeriksaan fisik :
a. Kepala : rambut beruban, kepala bersih, tidak ada hematom
b. Mata : ukuran pupil kanan/kiri (3mm/3mm), rangsangan cahaya
pupil kanan/kiri (+/+).
c. Mulut : sianosis, mukosa bibir kering.
d. Hidung : tidak ada polip, bersih, nafas cuping hidung.
e. Telinga : simetris, bersih, tidak ada serumen
f. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada peningkatan JVP
g. Dada : Paru – paru
I : pengembangan dada simetris, tampak penggunaan otot bantu pernafasan
Pal : vocal fremitus kanan-kiri
Per : Sonor
A : terdengar wheezing, ekspirasi memanjang
h. Ekstremitas :akral hangat
Ekstremitas atas : CRT <3 detik, tidak ada edema
Ekstremitas bawwah : tidak ada edema

e. Pengkajian AMPLE
1. Alergi: pasien memiliki alergi terhadap dingin
2. Medikasi :pasien sebelum dibawa ke RS sudah menggunakan obat pelega nafas
(vaporub) tapi tetap sesak.
3. Postilness : pasien sebelumnya pernah mengalami sakit seperti flu
4. Lastmeal : pasien makan tadi pagi ± 2 jam sebelum dibawa ke rumah sakit,
terakhir pasien mengkonsumsi nasi dengan sayur dan lauk pauk serta minum es
tawar.
5. Environment : pasien tinggal dengan suami dan kedua anaknya, pasien tinggal di
desa dekat dengan sawah dan lingkungan pasien cukup padat penduduk, keluarga
mengatakan sirkulasi dirumah cukup baik.
f. Analisa data

No Analisa Data Etiologi Problem

1 DS : - klien mengatakan sesak Bronkospasme Ketidakefektifan


nafas bersihan jalan nafas
DO :
- RR: 36 x/menit
- Pasien kesulitan
bernapas, batuk-batuk,
pasien kesulitan bersuara,
terdengar suara napas
wheezing
2 DS : pasien mengatakan cemas Perubahan status Ansietas

51
DO : kesehatan
- Pasien gelisah,
pasien keluar keringat
banyak, pasien mengulang
kata-kata, pasien terlihat
tidak tenang.

g. Diagnosa
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d asma
2. Ansietas b.d stresor

h. Intervensi

Diagnosa Noc Nic


Ketidakefektifan 2. Status pernafasan : 2. Manajemen jalan nafas
bersihan jalan nafas b.d kepatenan jalan nafas d. Buka jalan nafas
asma d. Frekuensi pernafasan dengan teknik chin
e. Irama pernafasan lift atau ja thrust
f. Kedalaman inspirasi e. Posisikan pasien untu
memaksimalkan
ventilasi
f. Identifikasi
kebutuhan
aktual/potensial
pasien untuk
memasukkan alat
membuka jalan nafas
Ansietas b.d stresor 2. Tingkat kecemasan 2. Pengurangan
d. Tidak dapat kecemasan
beristirahat e. Gunakan pendekatan
e. Perasaan gelisah yang tenang dan
f. Otot tegang meyakinkan
f. Berada disisi kalien
untuk meningkatkan
rasa aman dan
mengurangi ketakutan
g. Berikan objek yang
menunjukkan
perasaan aman
h. Dengarkan pasien

53
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Pengelolaan Airway dan Breathing mempertahankan oksigenasi otak dan bagian
tubuh lainnya merupakan bagian terpenting dalam penanganan penderita. Tanpa ini,
penderita akan meninggal dengan cepat.
Oleh karena itu diperlukan perawat yang mempunyai kemampuan yang bagus
dalam mengaplikasikan asuhan keperawatan gawat darurat untuk mengatasi berbagai
permasalahan kesehatan baik aktual atau potensial mengancam kehidupan tanpa atau
terjadinya secara mendadak atau tidak di perkirakan tanpa atau disertai kondisi
lingkungan yang tidak dapat dikendalikan.

B. Saran
Setelah membaca makalah ini semoga pembaca memahami isi makalah yang telah
disusun meskipun kami menyadari makalah ini kurang dari sempurna. Oleh karena itu
kami berharap pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang dapat membantu
menyempurnakan makalah yang selanjutnya.
55